Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelompok rentan juga disebut sebagai sub kelompok dari populasi yang lebih
mungkin untuk terkena masalah kesehatan yang beresiko dari pada populasi
lainnya. Populasi kelompok rentan lebih sensitive terhadap resiko. Resikonya bisa
saja berasal dari lingkungan yang berbahaya, bahaya social (kekerasan, tindakan
criminal), tingkah laku personal (kebiasaan olahraga, merokok), serta faktor
biologi (kondisi genetic ataupun status imun) (Marcia, 2006).

Kerentanan telah didefinisikan sebagai rentan terhadap cacat atau bahaya, atau
beresiko miskin sosial, psikologis, dan / atau hasil kesehatan fisik (Aday, 2001).
Istilah "rentan" berasal dari kata Latin yang berarti luka, dan rentan populasi
adalah kelompok yang memiliki risiko tinggi hasil kesehatan yang merugikan
(Leight, 2003). Mereka sering mengalami tingkat kematian yang lebih tinggi,
akses ke perawatan kesehatan yang lebih rendah (dan ketidakberpihakan dalam
kualitas layanan), tidak diasuransikan atau kurang diasuransikan, memiliki
harapan hidup yang lebih rendah, dan kualitas hidup yang berkurang secara
keseluruhan (Shi & Stevens, 2004; Universitas California Los Angeles [UCLA]
Pusat Penelitian Populasi Rentan, 2007).

Beberapa peneliti merasa bahwa kerentanan berasal dari “masalah pembangunan,


ketidakmampuan pribadi, kurang beruntung status sosial, tidak memadainya
jaringan dan dukungan antarpribadi, lingkungan dan lingkungan yang
terdegradasi, dan interaksi kompleks dari faktor-faktor ini selama perjalanan
hidup ” (Mechanic & Tanner, 2007, hal. 1220).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kelompok rentan?
2. Siapa saja yang termasuk kedalam kelompok rentan?
3. Bagaimana karakteristik kelompok rentan?
4. Apa saja faktor yang menyebabkan tejadinya kerentanan pada populasi?

1
5. Bagaimana strategi pemenuhan layanan kesehatan pada kelompok
rentan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kelompok rentan
2. Mengetahui siapa saja yang termasuk kedalam kelompok rentan
3. Mengetahui bagaimana karakteristik kelompok rentan
4. Mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan tejadinya kerentanan
pada populasi
5. Mengetahui bagaimana strategi pemenuhan layanan kesehatan pada
kelompok rentan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep dan Teori Kerentanan

Kerentanan telah didefinisikan sebagai rentan terhadap cacat atau bahaya, atau
beresiko miskin sosial, psikologis, dan / atau hasil kesehatan fisik (Aday, 2001).
Istilah "rentan" berasal dari kata Latin yang berarti luka, dan rentan populasi
adalah kelompok yang memiliki risiko tinggi hasil kesehatan yang merugikan
(Leight, 2003). Mereka sering mengalami tingkat kematian yang lebih tinggi,
akses ke perawatan kesehatan yang lebih rendah (dan ketidakberpihakan dalam
kualitas layanan), tidak diasuransikan atau kurang diasuransikan, memiliki
harapan hidup yang lebih rendah, dan kualitas hidup yang berkurang secara
keseluruhan (Shi & Stevens, 2004; Universitas California Los Angeles [UCLA]
Pusat Penelitian Populasi Rentan, 2007).

Beberapa peneliti merasa bahwa kerentanan berasal dari “masalah pembangunan,


ketidakmampuan pribadi, kurang beruntung status sosial, tidak memadainya
jaringan dan dukungan antarpribadi, lingkungan dan lingkungan yang
terdegradasi, dan interaksi kompleks dari faktor-faktor ini selama perjalanan
hidup ” (Mechanic & Tanner, 2007, hal. 1220).

Kerentanan didefinisikan sebagai kerentanan terhadap stresor aktual atau potensial


yang dapat menyebabkan efek buruk. Sebaliknya, itu di sebabkan dari efek
interaksi dari banyak faktor internal dan eksternal di mana orang memiliki banyak
kontrol sedikit atau tidak sama sekali. Misalnya, seseorang mungkin memiliki
beberapa batasan biologis yang dibuat lebih parah oleh polusi, cat berbasis timah,
kebisingan yang berlebihan, atau faktor eksternal lainnya (Marcia, 2006).

Populasi rentan merupakan populasi yang memilki kecenderungan lebih untuk


mengalami masalah kesehatan sebagai akibat terpajannya terhadap resiko atau
memperoleh hasil dari masalah kesehatan yang lebih buruk dari kelompok
populasi lain secara keseluruhan.

3
Populasi kelompok rentan lebih beresiko terkena penyakit dari pada kelompok
yang lain. Dalam segitiga epidemiologi, agen, host, dan lingkungan saling
berhubungan untuk menciptakan penyakit atau kesehatan yang buruk (Marcia,
2006).

Secara alamiah, dijelaskan betapa pentingnya aspek fisiologi dan lingkungan,


termasuk kebiasaan lingkungan social dan lingkungan fisik, membuat seoarang
lebih mungkin untuk terkena masalah kesehatan tertentu. Contohnya seorang
perokok beresiko terkena penyakit kanker paru karena terjadinya perubahan sel
akibat kebiasaan merokoknya. Bagaimana pun juga, tidak semua orang akan
terkena resiko dari masalah kesehatan. Beberapa orang akan lebih mungkin
terkena permasalah kesehatan yang beresiko. Orang-orang ini akan lebuh rentan
dari pada yang lainnya (Marcia, 2006).

Kelompok rentan juga disebut sebagai sub kelompok dari populasi yang lebih
mungkin untuk terkena masalah kesehatan yang beresiko dari pada populasi
lainnya. Populasi kelompok rentan lebih sensitive terhadap resiko. Resikonya bisa
saja berasal dari lingkungan yang berbahaya, bahaya social (kekerasan, tindakan
criminal), tingkah laku personal (kebiasaan olahraga, merokok), serta faktor
biologi (kondisi genetic ataupun status imun) (Marcia, 2006).

2.2 Jenis-Jenis Kelompok Rentan

Penyebab kerentanan atau peningkatan risiko kesehatan yang buruk adalah


pendapatan dan pendidikan dengan ras atau latar belakang etnis (Frist, 2005;
Williams & Jackson, 2005). Aday (2001) mencakup faktor-faktor berikut dan
populasi dalam deskripsinya tentang populasi rentan:

 Pendapatan dan pendidikan


 Usia dan jenis kelamin
 Ras dan etnis
 Penyakit kronis dan kecacatan
 Human immunodeficiency virus (HIV) / didapat sindrom defisiensi imun
(AIDS)
 Penyakit mental dan kecacatan

4
 Penyalahgunaan alkohol dan zat
 Kekerasan keluarga
 Tunawisma
 Risiko bunuh diri dan pembunuhan
 ibu dan bayi berisiko tinggi
 Imigran dan pengungsi

1. Tunawisma

Kemiskinan dapat menyebabkan tuna wisma. Tunawisma, seperti


kemiskinan, adalah konsep yang kompleks, meskipun orang yang tidak pernah
tunawisma tidak dapat benar-benar memahami apa artinya menjadi tunawisma,
perawat dapat meningkatkan sensitivitas mereka terhadap lebih sedikit klien dan
agregat dengan memeriksa kepercayaan pribadi mereka sendiri, nilai-nilai, dan
pengetahuan tentang tunawisma. Seorang tunawisma dapat menemukan tempat
tinggal di tempat yang umum bersama keluarga atau teman. Yang di lain waktu
mereka tinggal di jalanan.

Orang-orang yang hidup di jalanan adalah yang paling miskin di antara


yang miskin dan mereka mungkin dipandang sebagai entitas yang tidak berwajah,
tidak terlihat, dan tidak terdengar. Penting bagi perawat untuk menghormati
individualitas semua klien termasuk mereka yang tunawisma.

Menurut stewart b. Mckinney homeles, tahun 1994, seseorang dianggap sebagai


tunawisma ketika tidak memiliki tempat tinggal pada malam hari yang kurang
aman, tidak teratur, tidak memadai dan memiliki waktu malam yang primer yaitu:

a. Tempat penampungan yang diawasi secara publik atau dioperasikan


secara pribadi yang dirancang untuk menyediakan akomodasi tempat
tinggal sementara.

b. Sebuah lembaga yang menyediakan tempat tinggal sementara bagi


individu yang berada dalam sebuah institusi atau lembaga tertentu

5
c. Tempat publik atau pribadi yang tidak dirancang sebagai tempat
tidur yang biasa bagi manusia.

Sulit mengetahui persis berapa banyak orang yang kehilangan tempat tinggal.

Keakuratan dipersulit oleh beberapa fakta.

a) Para tunawisma sulit ditemukan, karena banyak yang tidur di gerbong-


gerbong, di atap gedung, di pintu, atau di bawah kereta. Yang lainnya tinggal
sementara dengan kerabat.

b) Beberapa orang mengalami masa gelandangan yang pendek atau memiliki


episode gelandangan yang pendek. Mereka lebih sulit diidentifikasi pada
waktu tertentu.

c) Sulit untuk digeneralisasi dari satu lokasi ke yang lain. Misalnya, pola
tunawisma berbeda di kota-kota kecil dan di kota versus daerah pedesaan.

Konsep tunawisma mencakup kategori luas berikut:

a. Kemiskinan krisis

 Kehidupan umumnya ditandai oleh kesulitan dan perjuangan,

 Tunawisma sering bersifat sementara atau episodik.

 Orang tunawisma dapat menggunakan penginapan singkat di


penampungan atau akomodasi sementara waktu.

 Tunawisma dapat disebabkan oleh kurangnya pendidikan atau pekerjaan,


keterampilan kerja yang kurang, atau kekerasan dalam rumah tangga.

b. Kemiskinan yang terus-menerus

 Laki-laki dan perempuan ini tunawisma kronis, dan banyak dari mereka
memiliki cacat mental atau fisik

 Kelompok ini paling sering diidentifikasi dengan kurang rumah.

6
 Kecacatan fisik dan mental sering hidup berdampingan dengan alkohol
dan penyalahgunaan obat-obatan lainnya, penyakit mental yang parah,
masalah kesehatan lainnya, dan / atau kesulitan keluarga kronis. Orang-
orang ini kekurangan uang dan dukungan keluarga.

 Kelompok ini seringkali berakhir di jalanan, dan mereka membutuhkan


bantuan ekonomi, rehabilitasi, dan dukungan yang selalu ada.

Efek tunawisma terhadap kesehatan

Tunawisma berkorelasi dengan penyakit akut dan kronis ucquired


immunoileficiency syndrome (aids). Trauma (o'conneil et al, 2005), dan dengan
kesulitan mengakses layanan kesehatan, perawatan kesehatan biasanya
berorientasi krisis dan dipikirkan di departemen darurat, dan mereka yang
mengakses perawatan kesehatan mengalami kesulitan mengikuti rejimen yang
ditentukan. Masalah kesehatan ini sering terkait langsung dengan buruknya akses
ke layanan perawatan kesehatan preventif. Para tunawisma mencurahkan
sebagian besar waktunya untuk bertahan hidup,sementara kegiatan promosi
kesehatan adalah kemewahan bagi mereka, bukan bagian dari kehidupan mereka.

Healthy people 2010 memiliki tujuan untuk meningkatkan kewaspadaan


dan penggunaan layanan kesehatan preventif, tetapi ini sangat sulit bagi para
tunawisma. Para tuna wisma sering memiliki masalah kesehatan berikut :

 Penyakit hipotermia

 Infestasi dan integritas kulit yang buruk

 Penyakit pembuluh darah perifer dan hipertensi

 Diabetes dan gangguan nutrisi

 Infeksi pernapasan dan penyakit paru obstruktif kronik

 Tuberkulosis (tb)

 Hiv / aids

7
 Trauma

 Penyakit mental

 Lise dan penyalahgunaan tembakau, alkohol, dan obat-obatan


terlarang

Tunawisma merupkan orang yang berdiri berjam-jam dan sering tidur di


posisi yang mengganggu sirkulasi periferal mereka. Hipertensi diperburuk oleh
tingginya tingkat penyalahgunaan alkohol dan kandungan natrium yang tinggi
dari makanan yang disajikan di restoran, tempat penampungan, dan tempat makan
lainnya. Kondisi hidup yang penuh & sesak membuat orang-orang tunawisma
bisa dijangkau oleh virus dan bakteri yang menyebabkan pneumonia dan tb. Aids
juga merupakan masalah yang berkembang di antara populasi tunawisma, infeksi
hiv pada tunawisma diperkirakan setidaknya dua kali lipat dari yang ditemukan
pada populasi umum. Penggunaan obat-obatan dan risiko terjadinya kekerasan
seksual merupakan faktor lain.

Trauma adalah penyebab utama kematian dan kecacatan bagi orang-orang


yang tidak memiliki rumah. Menjadi tunawisma berarti lebih dari kehilangan
rumah atau tempat tidur dan makan yang teratur: itu juga berarti kehilangan
teman, kepemilikan pribadi, dan lingkungan yang akrab. Para tunawisma hidup
dalam kebingungan, dan ketakutan. Banyak yang menggambarkan mengalami
harga diri rendah, kurangnya dukungan sosial, dan keputusasaan.

Resiko tunawisma dalam populasi

a. Wanita hamil

Wanita hamil tunawisma berisiko tinggi untuk masalah kesehatan yang kompleks.
Kehamilan mereka memiliki angka yang lebih tinggi melakukan hubungan
seksual yang tidak teratur, insiden kecanduan obat-obatan dan alkohol yang lebih
tinggi, status gizi yang lebih buruk, dan insiden yang lebih tinggi (mis., berat lahir
rendah dan apgar scores yang lebih rendah, meskipun wanita tunawisma yang
menayangkan kehamilan berisiko lebih tinggi)

8
b. Masalah kesehatan anak-anak tunawisma

Sering kali anak-anak tunawisma yang lebih serius memiliki kesehatan yang lebih
buruk masalah kesehatan anak-anak tunawisma lebih buruk daripada anak-anak
pada populasi umum, dan mereka mengalami lebih banyak gejala penyakit akut,
seperti demam, infeksi mobil, diare, dan asha daripada rekan-rekan mereka di
rumah (craft-rosenberg, powel , dan culp, 2000). Anak-anak tunawisma yang
hidup di jalananberada pada tingkat yang paling tinggi dari kesehatan yang buruk
karena gizi yang buruk, perawatan kesehatan yang tidak konsisten, tingkat
kecemasan yang tinggi, dan ketidakmampuan untuk mempraktikkan perilaku
kesehatan yang baik, anak-anak tunawisma juga memiliki tingkat ketidakhadiran
di sekolah yang lebih tinggi , kegagalan akademik, dan ketidakseimbangan
emosional. Stres tunawisma dapat dimanifestasikan dalam perilaku seperti
penarikan, depresi, kecemasan, agresi, regresi, dan mutilasi, anak-anak tunawisma
mungkin telah menunda komunikasi, lebih banyak masalah kesehatan mental, dan
sejarah abnormal. Juga, mereka cenderung tidak telah menghadiri sekolah
daripada rekan-rekan yang ditampung di sana (craft-rosenberg et al, 20000)
remaja tunawisma.

2. Tren dalam perilaku seksual dan kehamilan seksual muda

Kehamilan merupakan area masalah kesehatan masyarakat karena pengaruhnya


yang signifikan terhadap masyarakat. Banyak remaja yang menjadi hamil
terjebak dalam lingkaran kemiskinan, kegagalan sekolah, dan pilihan hidup yang
terbatas.

Faktor latar belakang

Banyak orang dewasa memiliki kesulitan memahami mengapa orang muda akan
membahayakan karier dan potensi pribadi mereka dengan hamil selama beberapa
tahun terakhir. Remaja, bagaimanapun, tidak memandang dunia seperti orang
dewasa. Remaja sering merasa tak terkalahkan dan tidak mengenali risiko yang
terkait dengan perilaku mereka atau tidak mempertimbangkan konsekuensinya.

9
Artinya, mereka mungkin tidak percaya bahwa aktivitas seksual akan mengarah
pada kehamilan. Ketika remaja mengalami kehamilan, banyak yang tidak berpikir
mereka akan mengalami efek negatif pada kehidupan mereka. Banyak yang
mengira mereka unik dan berbeda dan semuanya akan berjalan dengan baik.

3. Ruang lingkup ketentuan mental

Kesehatan mental didefinisikan dalam orang sehat 2010 (departemen kesehatan


dan layanan kemanusiaan as, 2000) sebagai orang yang mampu melakukan
kegiatan produktif dan memenuhi hubungan dengan orang lain untuk beradaptasi
dan untuk mengatasi kesulitan. Kesehatan mental adalah bagian integral dari
kesejahteraan pribadi, baik dari keluarga maupun hubungan antarpribadi, dan
kontribusinya bagi komunitas atau masyarakat. Gangguan mental dan kondisi
yang ditandai oleh perubahan dalam pemikiran inefisien. Suasana hati, atau
perilaku, yang terkait dengan kesusahan dan / atau gangguan fungsi (departemen
kesehatan dan layanan kemanusiaan as, 2000). Gangguan mental ini dialami
semua ras, budaya, jenis kelamin, dan pendidikan dan sosial-internasional.
Penyebab umum gangguan mental disebabkan seperti depresi, kecemasan,
penyalahgunaan zat, dan demensia, penyakit alzheimer, penyebab utama
demensia.

3. Populasi gangguan mental

a. Anak dan remaja

Anak-anak berisiko mengalami gangguan perkembangan mental oleh faktor


biologis, lingkungan, dan psikososial yang mempengaruhi mental mereka.
Kesehatan mental mengganggu pendidikan dan interaksi sosial (departemen
kesehatan dan hume amerika serikat, 2000). Sebagai contoh, anak-anak dapat
menjadi depresi setelah kehilangan atau mungkin tidak mampu mengembangkan
masalah dari kelalaian orangtua. Contoh-contoh faktor lingkungan termasuk
kondisi kehidupan seperti kekerasan, pemisahan dari orang tua dan pengasuh yang
konsisten.masalah-masalah ini menghalangi pertumbuhan dan perkembangan
serta memengaruhi kesehatan mental selama masa remaja.

10
b. Orang dewasa

Sumber stres pada orang dewasa ini berasal dari tanggung jawab yang multi-
peran, ketidakamanan kerja, kekurangan atau berkurangnya sumber daya, dan
hubungan yang tidak stabil. Kondisi-kondisi ini dan lainnya dapat merusak
kesehatan mental dan kontribusi terhadap penyakit mental yang serius, depresi,
gangguan kecemasan, dan penyalahgunaan zat.

Tingkat pencegahan dan perawatan dalam kesehatan masyarakat

Penting bagi perawat untuk memahami tingkat pencegahan yang terkait


dengan kemiskinan, tuna wisma, penyakit mental, dan kehamilan, perawat dapat
memengaruhi kebijakan dan program politik dan sosial seperti perumahan yang
terjangkau, layanan penjangkauan masyarakat, pencegahan layanan kesehatan,
dan program bantuan lainnya untuk klien mereka. Sulit untuk memisahkan
layanan untuk kelompok-kelompok berisiko tinggi ini ke tingkat pencegahan
tingkat kesuburan, tingkat kedua, dan tersier karena intervensi dapat ditugaskan ke
lebih dari satu tingkat. Perumahan yang terjangkau. Misalnya, mungkin
memenuhi syarat sebagai pencegahan primer, tetapi juga bisa menjadi intervensi
preventif sekunder atau tersier yang penting. Contoh layanan pencegahan utama
meliputi, perumahan yang mampu, subsidi perumahan, program pelatihan kerja
yang efektif, insentif pemberi kerja, layanan kesehatan preventif, manajemen
kasus multisystem, layanan pengendalian kelahiran, pendidikan seks yang aman,
program pertukaran jarum suntik. Program orang tua, dan konseling.

Sebagai pencegahan utama untuk masalah kesehatan mental, perawat


dapat memberikan pendidikan tentang teknik pengurangan stres kepada manula
yang menghadiri pameran kesehatan. Mereka juga dapat membentuk jaringan
dengan para profesional kesehatan lainnya untuk mendidik para pembuat
kebijakan dan masyarakat tentang nilai layanan pencegahan ini. Program-
program ini dapat memberikan pendidikan kesehatan dan bentuk perawatan lain
untuk memperkuat warga masyarakat dan akibatnya mencegah banyak gejala sisa
yang menghancurkan. Kegiatan pencegahan sekunder bertujuan untuk
mengurangi prevalensi atau sifat patologis suatu kondisi. Mereka melibatkan

11
diagnosis dini, peningkatan segera, dan keterbatasan kecacatan. Sebagai contoh,
alat ini mungkin. Target orang di ambang menjadi bocause risiko tinggi dari
ancaman tunawisma, serta mereka yang baru tunawisma.

Peran perawat

Perawat memiliki peran penting dalam pemberian kesehatan, tunawisma,


sakit mental, dan orang-orang berisiko tinggi lainnya. Agar efektif, perawat
memerlukan keterampilan penilaian fisik dan psikososial yang kuat, pengetahuan
terkini tentang sumber daya yang tersedia dan kemampuan menyampaikan rasa
hormat, martabat, dan nilai kepada orang lain. Perawat harus dapat bekerja
dengan mereka untuk mempromosikan, memelihara, dan memulihkan kesehatan.
Perawat harus diajak melihat keseluruhan gambar: orang, keluarga, dan komunitas
yang berinteraksi dengan lingkungan. Penilaian dapat dilakukan di rumah atau di
situs komunitas. Mengunjungi rumah memberikan banyak informasi berguna
tentang keluarga, sumber daya mereka, sistem pendukung, dan pengetahuan
tentang masalah rumah tangga dan kesehatan umum.

Strategi berikut ini penting untuk dipertimbangkan ketika bekerja dengan


individu, keluarga, dan kelompok agregasi yang berisiko: ciptakan lingkungan
yang dapat dipercaya. Kepercayaan sangat penting dalam pengembangan
hubungan terapeutik, banyak klien dan keluarga telah kecewa dengan interaksi
mereka dengan kesehatan dan hanya melihat sedikit harapan untuk perubahan.

2.3 Karakteristik kelompok rentan

Karakteristik kelompok rentan diantaranya :

Kelompok masyarakat berisiko tinggi, karena berada dalam situasi dan kondisi
yang kurang memiliki kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko
bencana atau ancaman bencana. Penekanan pada “berisiko tinggi” karena
kelompok jenis ini akan menanggung dampak terbesar dari munculnya risiko
bencana atau akan terdampak oleh sebuah ancaman bencana dibanding kelompok
masyarakat lain. Bahkan, dalam situasi normal saja, kelompok rentan sudah mesti

12
dilihat menghadapi risiko karena keterbatasan tertentu yang dimilikinya.
Kelompok rentan ini bisa ada di dalam setiap wilayah tertentu, suku, ras, dan
agama, yang eksistensinya bisa saja disebabkan oleh kebijakan pembangunan
yang tidak adil, kepercayaan terhadap tradisi, agama dan kepercayaan tertentu
yang mendskriminasikannya.

Diffabel

Mereka ini memiliki kemampuan yang berbeda karena adanya keterbatasan fisik
yang dimiliki, seperti keterbatasan karena mata tidak bisa melihat, kaki tidak bisa
berjalan, telinga tidak bisa mendengar, dan lain-lain. Keterbatasan fisik akan
menghalangi mereka untuk bisa melakukan aktivitas dan berkompetisi, sehingga
memerlukan perlakuan khusus, seperti diperlukan jalan dan tangga khusus untuk
kaum diffabel dalam bangunan-bangunan publik.

Perempuan

Mereka ini telah lama hidup dalam situasi dan sistem sosial patriarki, di mana
mereka yang berjenis kelamin laki-laki dianggap super dan memperoleh perlakuan
istimewa dengan meminggirkan kaum perempuan. Dalam jangka panjang,
perempuan telah mengalami marjinalisasi, bukan hanya oleh tradisi tertentu di
setiap masyarakat, tetapi juga kebijakan-kebijakan politik. Ibu Hamil dan
Menyusui. Secara lebih khusus di kalangan perempuan, ibu hamil dan ibu
menyusui, memiliki risiko lebih besar lagi, karena dia bukan hanya hidup sendiri,
tetapi juga membawa anak yang dikandung dan disusui itu. Peningkatan asupan
gizi yang seimbang diperlukan untuk menjamin kelayakan hidup keduanya, sang
ibu dan anak.

Anak-anak

Anak-anak adalah orang yang memerlukan kegembiraan, kasih sayang, perlakuan


yang santun, dan asupan gizi seimbang untuk memastikan potensi-potensi dalam
dirinya bisa tumbuh dengan baik. Bencana atau ancaman bencana akan bisa
merampas ini semua, sehingga kebijakan berkaitan dengan kebencanaan harus
memastikan bisa menjamin dan melindungi mereka.

13
Kaum miskin

Kaum miskin adalah kelompok rentan berikutnya, dilihat dari sudut ekonomi dan
kesejahteraan sosial. Dalam kehidupan normal saja, mereka selalu hidup dalam
kemiskinan. Terlebih lagi, ketika ada bencana atau ancaman bencana jelas akan
berdampak pada mata pencarian, kemampuan menghidupi keluarga, dan
keberlangsungan keseluruhan keluarga miskin.

Lansia

Manusia usia lanjut juga kelompok rentan. Keterbatasn fisik dalam diri mereka
adalah kelemahan fisik atau penurunan dari keadaan normal karena dimakan usia.
Penurunan kualitas fisik itu akan mempengaruhi indera-indera dan respon mereka
terhadap situasi sosial, termasuk berkaitan dengan kebencanaan.

Lain-lain

Di antaranya adalah kelompok minoritas suku, agama, ras, dan orientasi seksual.
Perlakuan yang tidak adil bisa saja dan mungkin terjadi karena jumlah mereka
sedikit yang hidup di tengah mayoritas masyarakat.

Jenis-jenis kelompok rentan ini, menunjukkan adanya keragaman penyebabnya,


tetapi kebijakan pembangunan yang tidak berorientasi dan tidak berpihak kepada
mereka, perlu memperoleh perhatian utama untuk dilihat; di samping factor
kepercayaan, tradisi, penafsiran agama, dan bawaan alam. Dalam jangka panjang
dan pendek kebijakan pembangunan yang tidak berpihak itu akan menempatkan
kelompok rentan terus menerus dalam situasi bahaya, sehingga dalam kondisi
bencana atau tidak,mereka berhak memperoleh perlindungan.

2.4 Faktor penyebab kerentanan

Penyebab kerentanan atau peningkatan risiko kesehatan yang buruk adalah


pendapatan dan pendidikan dengan ras atau latar belakang etnis (Frist, 2005;
Williams & Jackson, 2005). Aday (2001) mencakup faktor-faktor berikut :

14
 Pendapatan dan pendidikan
 Usia dan jenis kelamin
 Ras dan etnis
 Penyakit kronis dan kecacatan
 Human immunodeficiency virus (HIV) / didapat sindrom defisiensi imun
(AIDS)
 Penyakit mental dan kecacatan
 Penyalahgunaan alkohol dan zat
 Kekerasan keluarga

Faktor predisposisi (sosial dan faktor ekonomi) menurut marcia, 2006 yaitu :

- Orang-orang yang tidak memiliki kecukupan dalam finansial uttuk


membayar pengobatan, atau orang-orang yang kurang mampu
- Umur mempengaruhi bagaimana seseorang bisa beradaptasi dan mengatasi
stressor. Contohnya seorang bayi akan mudah terkena infeksi atau
seorangan dari beberapa penyakit serta dari pada orang dewasa.
- Perubahan fisik juga bisa menyebabkan seseorang mengalami kerentanan,
contohnya seseorang yang terkena penyakit hiv.
- Pengalaman hidup seseorang, contahnya seorang anak yang bertahan dari
bencana akan mengalami kesulitan untuk bertahan jika tidak mendapatkan
konseling.

Faktor penyebab kerentanan


1. Faktor Host
Menurut teori Achmadi, faktor host pada timbulnya suatu penyakit
sangat luas. Hubungan interaktif antara faktor penyebab, faktor lingkungan
penduduk berikut perilakunya dapat diukur dalam konsep yang diukur
sebagai perilaku pemajanan. Faktor host yang mempengaruhi kejadian
penyakit pada umumnya adalah umur, jenis kelamin, status imunisasi,
status gizi dan staus sosial ekonomi, juga perilaku.
2. Umur
Umur merupakan faktor host yang terpenting dalam munculnya
penyakit. Hal ini berhubungan dengan kerentanan yang ada pada host yang

15
dipengaruhi faktor umur. Ada beberapa penyakit yang dominan
menyerang pada kelompok anak-anak umur tertentu atau sebaliknya ada
yang hanya menyerang pada golongan umur lanjut usia. Menurut sejarah
difteri masih merupakan penyakit utama yang menyerang masa anak-anak,
populasi yang dipengaruhi adalah usia dibawah 12 tahun. Bayi akan
mudah terserang penyakit difteri antara usia 6 – 12 bulan setelah imunitas
bawaan dari ibu melalui transplasenta menurun.

3. Status Imunisasi
Sebagaimana kita mafhum, faktor imunitas sangat berpengaruh
pada timbulnya suatu penyakit, termasuk difteri. Sistem imunitas yang
terbentuk pada tubuh seseorang ada yang didaptkan secara alamiah atau
buatan. Untuk imunitas alamiah ada yang bersifat aktif yaitu imunitas
yang diperoleh karena tubuh pernah terinfeksi agent penyakit sehingga
tubuh memproduksi antibodi dan bersifat dan bersifat tahan lama. Imunitas
alamiah pasif adalah imunitas yang dimiliki bayi yang berasal dari ibu
yang masuk melalui plasenta, imunitas seperti ini tidak tahan lama dan
biasanya akan menghilang sebelum 6 bulan. Imunitas dapatan juga ada
yang bersifat aktif yaitu jika host telah mendapat vaksin atau toksoid,
sedangkan imunitas dapatan pasif jika host diberi gamma globulin dan
berlangsung hanya 4-5 minggu.
Vaksin dapat melindungi dari infeksi dan diberikan pada masa
bayi. Pemberian imunisasi pada sebagian besar komunitas akan
menurunkan penularan penyebab penyakit dan mengurangi peluang
kelompok rentan untuk terpajan agen tersebut. Imunisasi selain dapat
melindungi terhadap infeksi akan memperlambat laju akumulasi individu
yang rentan terhadap penyakit tersebut.
Terbentuknya tingkat imunitas di kelompok masyarakat sangat
mempengaruhi timbulnya penyakit di masyarakat, dengan terbentuknya
imunitas kelompok, anak yang belum diimunisasi akan tumbuh menjadi
besar atau dewasa tanpa pernah terpajan oleh agen infeksi tersebut.

16
Akibatnya bisa terjadi pergeseran umur rata-rata kejadian infeksi ke umur
yang lebih tua.
Faktor status gizi dan sosial ekonomi : Faktor sosial yang terkait
erat dan berkontribusi besar dalam penyebaran difteri adalah kemiskinan
yang terkait dengan aspek kepadatan hunian dan rendahnya hygiene
sanitasi kulit.

4. Faktor Perilaku
Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari yang dapat mempengaruhi
terjadinya penularan atau penyebaran penyakit difteri adalah sebagai
berikut : tidak menutup mulut bila batuk atau bersin sehingga
mempermudah penularan penyakit pada orang lain, membuang
ludah/dahak tidak pada tempatnya, tidak membuka jendela, mencuci alat
makan dengan bersih, memakai alat makan bergantian.

5. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian difteri
antara lain meliputi tingkat kepadatan hunian rumah, sanitasi rumah, serta
faktor pencahayaan dan ventilasi. Faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi munculnya penyakit seperti kita ketahui ada lingkungan
fisik biologi, social dan ekonomi. Faktor lingkungan fisik yang meliputi
kondisi geografi, udara, musim dan cuaca sangat mempengaruhi
kerentanan seseorang terhadap jenis penyakit tertentu. Hal ini berkaitan
dengan kebiasaan seseorang dalam adapatasi dengan lingkungannya
tersebut.
Lingkungan biologi terkait dengan vektor atau reservoir penyakit.
Sementara faktor lingkungan lain dapat diperankan oleh lingkungan sosial
ekonomi. Antara faktor sosial dan ekonomi saling berkaitan dan saling
mempengaruhi satu sama lain. Beberapa faktor lingkungan sosial ekonomi
berkaitan dengan penyakit adalah kepadatan hunian, stratifikasi sosial,
kemiskinan, ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan, perang,
bencana alam.

17
Kepadatan penduduk yang tidak seimbang dengan luas wilayah
memunculkan slum area dengan segala problem kesehatan
masyarakatnya. Sementara ditingkat rumah tangga, kepadatan hunian
rumah berpotensi melebihi syarat yang telah ditentukan. Ukuran kepadatan
hunian rumah ini antara lain bisa dilihat dari kepadatan hunian ruang tidur.
Standar yang dipersyaratkan sesuai Kepmenkes RI No.
829/MENKES/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan,
luas ruang tidur minimal 8 meter persegi dan tidak dianjurkan digunakan
oleh lebih dari 2 orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah
umur 5 tahun.
Sedangkan standar luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai dan
sebaiknya udara yang masuk adalah udara segar dan bersih. Selain aspek
tersebut, persyaratan rumah sehat lain adalah pencahayaan alami, yang
berfungsi sebagai penerangan juga mengurangi kelembaban ruangan, serta
membunuh kuman penyakit karena sinar ultra violet yang berasal dari
cahaya matahari.
Selain faktor kepadatan hunian, mobilitas penduduk yang tinggi
juga berpotensi meningkatkan resiko kejadian difteri. Moblitas tinggi
meningkatkan resiko kemungkinan membawa bibit penyakit dari satu
daerah ke daerah lainnya.

6. Interaksi Faktor Penyebab, Host dan Lingkungan


Interaksi antara faktor penyebab, host dan lingkungan adalah
keadaan yang saling mempengaruhi dalam menimbulkan suatu penyakit,
Sesuai teori John Gordon suatu penyakit dapat timbul karena terjadi
ketidak seimbangan antara penyebab penyakit dengan host, ketidak
seimbangan mana bergantung pada sifat alami dan karakteristik dari faktor
penyebab dan host baik secara individu maupun kelompok dan
karakteristik faktor penyebab dan host berikut interaksinya secara
langsung berhubungan dengan dan tergantung pada keadaan alami dari
lingkungan sosial, fisik, ekonomi dan biologis. Terjadinya penyakit difteri
juga disebabkan adanya perubahan keseimbangan yaitu adanya perubahan

18
pada faktor host, misalnya bertambahnya jumlah orang yang rentan
terhadap Corynebacterium diphtheria. Kerentanan dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti status imunisasi, status gizi, faktor sosial ekonomi
dan perilaku host.

2.5 Strategi Pemenuhan Layanan Kesehatan pada Kelompok Rentan

Anak

Bangsa Indonesia sudah selayaknya memberikan perhatian terhadap perlindungan


anak karena amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28b ayat 2 menyatakan
bahwa 'Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi'. Disisi lain,
perlindungan terhadap keberadaan anak ditegaskan secara eksplisit dalam 15 pasal
yang mengatur hak-hak anak sesuai Pasal 52 - Pasal 66 UU No.39 tahun 1999
tentang HAM.

Dalam hubungan ini, Pemerintah melalui Keppres No.88 tahun 2000 telah
menetapkan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak
serta menetapkan Gugusan Tugas untuk memerangi dan menghapus kejahatan
trafiking. Bidang garapan yang diimplementasikan mencakup perlindungan
dengan mewujudkan norma hukum terhadap pelaku traflking, rehabilitasi din
reintegrasi sosial bagi korban trafiking serta kerja sama dan koordinasi dalam
penanggulangan trafiking. Produk hukum yang paling menonjol dalam upaya
perlindungan terhadap anak yang belum tersosialisasi dengan baik adalah adanya
5 (lima) UU yang mengatur tentang anak, yaitu :

a. UU No.4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak


b. UU No.3 tahun 1997 tentang Pengadilan anak
c. UU No.20 tahun 1999 tentang pengesahan Konvensi ILO No.138
mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja
d. UU No.1 tahun 2000 tentang pengesahan Konvensi ILO No.182 mengenai
Pelarangan dan Tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan
terburuk untuk anak

19
Perempuan

Menyadari bahwa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat Internasional


yang terikat komitmen Internasional, maka kekerasan dalam bentuk apapun
terhadap perempuan harus dihentikan agar terciptanya rasa aman, damai, adil dan
sejahtera dengan memegang prinsip-prinsip keadilan yang mengedepankan dan
menjunjung HAM. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka Indonesia dapat
diasingkan dalam tata pergaulan mereka. Indonesia sebagai negara yang sudah
menandatangani CEDAW (Convention on Elimination of all Forum of
Discrimination Against Women), yaitu Konvensi PBB tentang penghapusan
terhadap semua bentuk diskriminasi terhadap perempuan, pada tanggal 24 Juli
1984, pemerintah Indonesia terikat dan tunduk pada konvensi tersebut.

Dengan demikian konvensi tersebut telah menjadi instrumen hukum nasional


yang sah dan mengikat sebagai bagian dari sistem hukum nasional yang dikenal
dengan Konvensi Perempuan. Lebih jauh lagi, dalam Pasal 5 Konvensi
Perempuan tersebut dinyatakan bahwa adanya jaminan persamaan tingkah laku,
baik sosial dan budaya, antara laki-Iaki dan kondisi perempuan untuk mencapai
penghapusan prasangka, kebiasaan dan segala praktek-praktek yang menimbulkan
penindasan salah satu jenis kelamin. Disamping itu, Pasal 15 juga menyatakan
bahwa negara juga menjamin dan mewajibkan persamaan laki-Iaki dan
perempuan dihadapan hukum.

Sedangkan untuk bidang kesehatan reproduksi, Pasal 12 menetapkan bahwa


negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk
menghapus diskriminasi terhadap wanita di bidang pemeliharaan kesehatan, dan
supaya menjamin diperolehnya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan yang
berhubungan dengan keluarga berencana, atas dasar persamaan antara pria dan
wanita.

Dalam kerangka kebijakan nasional yang berkaitan dengan tindak kekerasan


terhadap perempuan, perlu didasari oleh Zero Tolerance Policy artinya tidak ada
tindak kekerasan pada apapun yang dapat diterima. Hal ini berarti bahwa

20
kebijakan sosial (Social Policy) dan kebijakan penegakan hukum (Law
Enforcement Policy) yang menghormati dan melindungi harkat, martabat dan
kodrat perempuan adalah sarana guna memerangi tindak kekerasan terhadap
perempuan.

Penyandang Cacat

Salah satu masalah sosial yang dihadapi bangsa Indonesia pada saat ini antara lain
adalah masalah penyandang cacat. Penyandang cacat juga mempunyai hak dan
kewajiban yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan,
diantaranya adalah berhak memperoleh pekerjaan sesuai dengan jenis dan derajat
kecacatan yang ada pada mereka. Perhatian masyarakat akan keterbatasan yang
dimiliki Penyandang cacat masih sangat kurang, bahkan seringkali diabaikan dan
dianggap sebagai beban.

Tidak jarang ketersediaan lapangan pekerjaan yang layak sesuai dengan


kemampuan yang mereka miliki menjadi masalah tersendiri yang perlu mendapat
perhatian. Penyandang cacat diharapkan mampu mengembangkan dan
meningkatkan kemampuan fisik, mental dan sosialnya sehingga diharapkan yang
bersangkutan mampu bekerja sesuai dengan tingkat kemampuan, pendidikan dan
keterampilan yang dimiliki serta sesuai dengan minat dan pengalamannya,
sehingga mencapai kemandirian di tengah kehidupan masyarakat. Kendati perlu
dipertimbangkan jenis pekerjaan yang sesuai jenis dan tingkat kecacatan mereka,
sebagai tenaga kerja bukan cacat (normal), dan pekerjaan tersebut benar-benar
dapat dijadikan sumber mata pencaharian yang layak dalam masyarakat.

Alternatif penanganan kelompok rentan menurut Novianti Killing, 2019


yaitu :

Lembaga Swadaya Masyarakat memiliki pendekatan bertahap untuk melakukan


pengembangan masyarakat di dalam masyarakat. Salah satu tahap penting adalah
diskusi partisipatif dalam mengidentifikasi masalah dan prioritas. Kehadiran

21
sebuah kelompok awal.(terdiri dari mitra dan kader) sebagai kelompok yang
menggerakkan masyarakat sangat penting. Mereka berdialog bersama menentukan
prioritas-prioritas dalam pemenuhan kesejahteraan anak terutama anak-anak yang
paling rentan kondisinya.

Keterlibatan masyarakat rentan akan memperbesar kemungkinan mereka untuk


berpartisipasi di dalam aktivitas-aktivitas pemberdayaan masyarakat (WVI,2011)
dan akhirnya secara perlahan keluar dari status rentan seperti contoh kasus diIndia
(Swain & Floro, 2014). Membentuk kelompok anak atau forum anak
yangmemiliki anggota anak-anak dari kolom SS akan menjadi jembatan yang
memudahkan orang tua mereka agar ikut bergabung sebagai kader pemberdayaan
masyarakat.Langkah-langkah strategis yang bisa diterapkan petugas LSM untuk
menyusun kelompok/forum anak adalah sebagai berikut:

1) Petugas mengidentifikasi anak-anak yang berpotensi untuk memobilisasi


anak-anak lain di komunitasnya dengan cara menanyakan kepada guru,
kepala desa, atau pemimpin agama setempat. Anak-anak ini memiliki
karakteristik berani berbicara, memiliki inisiatif, aktif dan kemampuan social
lainnya.
2) Petugas mengidentifikasi kelompok-kelompok anak yang sudah ada di dalam
komunitas serta siapa anak-anak yang menjadi pemimpin kelompok-
kelompok tersebut.
3) Petugas mengidentifikasi anak-anak yang paling rentan di daerah layanan
dengan cara yang sama seperti ketika mengidentifikasi anak-anak yang
berpotensi memobilisasi. Karakteristiknya adalah kemiskinan materi,
mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual, diskriminasi sosial, serta
rentanbencana alam.
4) Anak-anak yang berpotensi serta anak-anak yang menjadi pemimpin-
pemimpin kelompok tersebut diajak untuk memobilisasi sesama anak-anak
di desanya terutama anak-anak yang paling rentan untuk mengikuti
pertemuan yang difasilitasi oleh petugas. Petugas harus terus memastikan
bahwa anak-anak yang paling rentan akan terlibat di dalam pertemuan yang
akan dilakukan.

22
5) Petugas memfasilitasi anak-anak di dalam pertemuan untuk mengerti siapa
orang yang paling mereka percayai dan yang membuat mereka nyaman di
dalam desa, lalu dalam merumuskan keinginan serta kebutuhan mereka.
Kelebihan kelompok anak terletak di usia mereka, mereka sering kali adalah
kelompok yang paling tahu mengenai siapa orang dewasa yang paling
berdampak (baik positif maupun negatif) bagi kualitas hidup anak, siapa
yang bisa dipercayai untuk bermitra dan siapa anak yang paling rentan.
Sebisamungkin petugas mengupayakan agar suara dari anak-anak yang
paling rentan bisa muncul dan diperhatikan oleh anak-anak yang lain. Anak-
anak lain diusahakan untuk belajar memperhatikan kebutuhan teman-
temannya yang paling rentan. Anak-anak yang lebih tua umurnya atau yang
sudah menginjak usia perkembangan remaja bisa diarahkan untuk memimpin
dan memfasilitasi anak-anak lain di dalam pertemuan ini. Pertemuan ini juga
akan memilih anggota kelompok/forum anak dan petugas harus memastikan
beberapa anak-anak yang paling rentan masuk menjadi anggota kelompok
tersebut.
6) Ketika kelompok/forum anak sudah dibentuk, sebaiknya petugas
menghindari untuk sering mempertemukan kelompok/forum anak dengan
kelompok kader dewasa. Kelompok/forum anak diharapkan bisa melahirkan
diskusi-diskusi untuk menemukan visi dan prioritas-prioritas anak-anak
untuk kesejahteraan mereka sendiri terutama untuk anak-anak yang paling
rentan. Hasil diskusi dalam kelompok/forum anak akan dibicarakan dengan
kelompok kader dewasa dengan media perantara petugas LSM.

2.6 Analisis Jurnal

A. Asuhan Keperawatan Ibu Hamil dengan HIV/AIDS

Kasus :

23
Disebuah daerah di DKI Jakarta dilakukan penelitian pada ibu hamil yang
terkena HIV/AIDS. Didapatkan 6 orang sample ibu hamil dengan HIV/AIDS
yang rata rata berusia 22-27 tahun. Satu orang ibu hamil pendidikan terakhir
adalah PGSD dan lima orang lainnya tamatan SMA. Usia rata-rata kehamilan
adalah 11-34 minggu.

Empat orang dari partisipan mengaku tidak pernah melakukan;’ seks bebas
dan mengkonsumsi narkoba, sedangkan dua orang lainnya mengaku pernah
melakukannya. Keenam partisipan diberi pertanyaan terkait dengan keadaan
kehamilan dengan HIV/AIDS. Ketika ditanya apakah khawatir dengan keadaan
kehamilan, keenam partisipan menjawab khawatir akan keadaan anak yang
sedang dikandung. Kemudian ketika ditanya apakah ibu hamil dengan HIV/AIDS
diperlakukan berbeda, keenam partisipan menjawab bahwa mereka diperlakukan
berbeda. Dari segi pengobatan, ibu dengan ibu hamil diberu obat khusus yaitu
ARV, dan nantinya tidak boleh memberikan ASI.

Bahkan dari pengalaman beberapa partisipan, didapatkan kejadian yang


tidak menyenangkan dari tenaga kesehatan ketika mereka mengantri untuk
melakukan pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil dengan HIV/AIDS diletakkan di
urutan terakhir ketika ingin memeriksakan kehamilannya. Salah satu ibu hamil
juga mengaku mendapat ungkapan yang kurang menyenangkan dari tenaga
kesehatan.

Keenam partisipan ketika ditanya apakah membutuhkan dukungan


keluarga, mereka menjawab memang membutuhkan dukungan dari keluarga dan
kerabat dekat mengenai keadaannya. Namun, dua dari enam ibu hamil dengan
HIV/AIDS mengaku tidak mendapatkan dukungan dari keluarga mengenai
kehamilannya.

PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Core
Demografi
 Nama : Ibu hamil dengan HIV/AIDS

24
 Usia : 22-27 Tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Urutan anak : -
 Tempat tinggal : DKI Jakarta
 Nama orang tua: -
 Pendidikan orang Tua: -
 Riwayat kesehatan : HIV/AIDS
Statistic vital : -
Karakteristik Agregat
Variabel karakteristik agregat ibu hamil dengan HIV/AIDS.
 Fisik : Ibu hamil dengan HIV/AIDS tidak memiliki masalah pada keadaan
fisik.
 Psikologis : ibu hamil dengan HIV/AIDS merasa takut, cemas, dan sedih
dengan keadaannya. Mereka cemas dengan keadaan anak yang
dikandungnya, apakah anak akan selamat dan lahir dengan sehat atau tidak.
 Sosial : di dalam masyarakata masih banyak bertebaran stigma mengenai
ODHA sehingga ibu hamil dengan HIV/AIDS mendapat perlakuan yang
berbeda, terlihat dari pengakuan dari beberapa partisipan ibu hamil dengan
HIV/AIDS yang diberi antrian terakhir untuk berobat di pelayanan
kesehatan.
 Perilaku : perilaku ibu hamil dengan HIV/AIDS dari beberapa partisipan
mengaku ada yang menyendiri dan tidak ingin berbaur dengan lingkungan
karena malu dengan keadannya.

b. Subsistem
1) Lingkungan Fisik : data tidak dijelaskan di dalam kasus.
2) Pendidikan : satu orang partisipan adalah tamatan PGSD, dan lima orang
lainnya tamatan SMA.
3) Sistem kesehatan : ibu hamil dengan HIV/AIDS dari kasus rutin
memeriksakan kehamilannya ke pelayanan kesehatan.
4) Ekonomi : empat dari partisipan penelitian mengaku kesulitan dalam biaya
pengobatan.

25
5) Keamanan dan transportasi : data tidak dijelaskan di dalam kasus.
6) Kebijakan dan pemerintahan : kebijakan pemerintah yaitu disediakannya
BPJS untuk pengobatan ibu hamil dengan HIV/AIDS.
7) Komunikasi :
a. Komunikasi formal
Media komunikasi tempat ibu hamil dengan HIV/AIDS menemukan
informasi mengenai penyakitnya didapatkan dari buku dan artikel-
artikel yang berada di internet.
b. Komunikasi Informal
Komunikasi/diskusi yang dilakukan ibu hamil dengan HIV/AIDS
dilakukan ibu hamil dengan tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan.
8) Rekreasi
Data tidak dijelaskan di dalam kasus.
c. Persepsi
Persepsi ibu hamil dengan HIV/AIDS tentang penyakitnya sudah
cukup baik. Dapat dilihat dari kesadaran ibu hamil dengan HIV/AIDS untuk
datang ke pelayanan kesehatan dengan tujuan untuk memeriksakan kesehatan
kehamilannya.
2. Diagnosa Keperawatan

Perumusan Perencanaan Keperawatan dengan menggunakan SDKI, SLKI,


SIKI dan NANDA, NOC, NIC

Diagnose Outcome Intervensi


1. Defisiensi Status kesehatan Pengembangan kesehatan
Kesehatan komunitas (L.12109) masyarakat (I.14548)
Komunitas pada Kriteria hasil : Aktivitas :
Agregat - Ketersediaan - Identifikasi masalah
kelompok rentan program promosi atau isu kesehatan dan
b/d terdapat kesehatan prioritasnya
factor risiko ditingkatkan dari (1) - Berikan kesempatan
fisologis menjadi (4) terhadap setiap
dan/psikologis - Ketersediaan anggota untuk

26
yang meybabkan program proteksi berpartisipasi sesuai
anggota kesehatan dengan asset yang
komunitas ditingkatkan dari dimilki
menjalani skala (1) menjadi (4) - Libatkan masyarakat
perawatan - Partisipasi dalam dalam musyawarah
program kesehatan mengenai isu
komunitas kesehatan dan
ditingkatkan dari mengembangkan
skala (1) menjadi (4) rencana kerjanya
- Keikutkansertaan - Libatkan masyarakat
asuransi/ jaminan dalam implementasi
kesehatan dan revisinya
ditingkatkan dari - Fasilitasi struktur
skala (1) menjadi (4) organisasi untuk
meningkatkan
Status koping kemampuan
komunitas (L.05089) berkomunikasi dan
Kriteria hasil : bernegosiasi
- Keberdayaan - Kembangkan strategi
komunitas dalam manajemen
ditingkatkan dari konflik
skala (1) menjadi (4) - Bangun komitmen
- Perencanaan antar anggota
komunitas - Kembangkan
ditingkatkan dari mekanisme keter
skala (1) menjadi (4) libatan tatanan local,
- Pemecahan masalah regional, bahkan
komunitas nasional terkait isu
ditingkatkan dari kesehatan.
skala (1) menjadi
skala (4)
- Partisipasi

27
masyarakat
ditingkatkan dari
skala (1) menjadi
skala (4)
- Kerentanan
komunitas menurun
- Tingkat stress
menurun
- Tanggung jawab
komunitas terhadap
penatalaksanaan
stress ditingkatkan
dari skala (1)
menjadi (4)
Ketidakefektifan Ketahanan komunitas Peningkatan ketahanan
koping komunitas (2704) (8340)
b.d merasakan Kriteria Hasil : Aktivitas :
ketidakberdayaan - Pelatihan 1. Fasilitasi kohesi
komunitas (00077) berkelanjutan keluarga
untuk kebutuhan 2. Dorong dukungan
komunikasi dari keluarga
skala (1) menjadi 3. dukung
skala (3) keuarga/komunitas
- Ketersediaan untuk menghargai
sumber daya kondisi kesehatan
untuk 4. dukung perilaku
mempertahankan mencari kesehatan
kebutuhan dasar yang sehat
dari skala (1) 5. fasilitasi
menjadi skaa (4) pengembangan dan
- Kolaborasi antar penggunaan sumber di
organisasi dalam lingkungan

28
komunitas (dari
skala 1 menjadi
skala 4)
- Kebijakan yang
memungkinkan
oranisasi rakyat
(dari skala 1
menjadi skala 4)
- Akses ke
sumberdaya
eksternal (dari
skala 1 menjadi
skala 4)
- Kerjasama
komunitas untuk
menghadapi
tantangan (dari
skala 1 menjadi
skala 4)
- Kelompok
dukungan
komunitas (dari
skala 1 menjadi
skala 4)
- Adaptasi
komunitas
terhadap
perubahan (dari
skala 1 menjadi
skala 4)

29
3. Implementasi

Implementasi di lakukan sesuai dengan rancangan perencanaan.

4. Evaluasi

 Setelah dilakukan intervensi ibu hamil dengan HIV/AIDS lebih berani


berhadapan dengan masyarakat dan tidak lagi sedih dan stress dalam
menghadapi keadaannya.

B. EBNP Ibu Hamil dengan HIV/AIDS

2.8.1 Analisis Jurnal

Judul : Stres dan koping perempuan hamil yang didiagnosis


HIV/AIDS di DKI Jakarta : studi grounded theory.
Kata kunci : grounded theory, HIV/AIDS, koping, perempuan hamil,
stres

Nama journal : Jurnal Keperawatan Indonesia

Volume : 12

Nomor : 2

Tahun : 2008

Penulis : Yulia Irvani Dewi, Setyowati, Yati Afiyanti.

Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat


stress dan koping ibu hamil dengan HIV/AIDS.
Metode penelitian : Penelitian ini menggunakan metode grounded theory.
Subjek di dalam penelitian adalah ibu hamil dengan
HIV/AIDS yang berdomisili dan melakukan pengobatan di
DKI Jakarta.
Hasil penelitian : keenam partisipan diberi beberapa pertanyaan mengenai
keadaannya sebagai ibu hamil dengan HIV/AIDS untuk
melihat bagaimana koping dan tingkat stresnya. Pertanyaan
pertama ditanya apakah mereka khawatir dengan

30
keselamatan janinnya, semua menjawab khawatir terhadap
janinnya. Pertanyaan selanjutnya apakah diperlakukan
berbeda dari ibu hamil lainnya, semua menjawab ya.
Kemudian pertanyaan tentang biaya pengobatan, empat dari
enam partisipan mengaku kesulitan dalam mengatasi biaya
pengobatan. Partisipan mengaku tidak nyaman dan stress
ketika mengetahui dirinya terkena HIV/AIDS. Ketika
ditanya apakah partisipan membutuhkan dukungan
keluarga dan teman, semuanya menjawab
membutuhkannya. Koping partisipan dalam menghadapi
kenyataan dari penyakitnya secara garis besar lima dari
enam partisipan memiliki koping adaptif. Ketika ditanya
harapan partisipan terhadap anak yang akan dilahirkan,
semua menjawab berharap anaknya akan lahir dengan
sehat.
Kesimpulan : berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan beberapa
stressor yang menyebabkan perempuan hamil dengan
HIV/AIDS menjadi stress adalah kekhawatiran terhadap
kesehatan janin, menjadi berbeda karena hamil dan
mengidap HIV/AIDS, biaya persalinan yang mahal, dan
dukungan keluarga. Stressor yang terlihat secara nyata
adalah diperlakukan berbeda karena mengidap HIV/AIDS
dan lamanya waktu telah didiagnosis HIV/AIDS.
Kelebihan : kelebihan dari jurnal ini yaitu memaparkan metode
penelitan yang jelas. Intervensi juga memiliki waktu yang
jelas berapa lama intervensi akan dilakukan. Hasil yang di
paparkan yaitu dijelaskan sebelum dan sesudah dilakukan
intervensi.
Kekurangan : Karena grounded research tidak menggunakan probability
sampling, maka generalisasi yang dibuat akan mengandung
banyak bias.

31
2.8.2 Evidence Based Nursing Practice
1. Uraian Masalah
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan
kumpulangejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh
virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia sebagai Sindrome cacat
kekebalan tubuh dapatan. Acquired (didapat) bukan penyakit keturunan.
Immune ( Sistem kekebalan tubuh. Deficiency (kekurangan). Syndrome
(kumpulan gejala-gejala penyakit).
AIDS adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular yang
ditularkan oleh infeksi HIV yang pada kasus besar bermanifestasi sebagai
depressi berat imunitas sluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu,
termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena,
penderita hemophilia dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan
seksual dari individu yang sudah terinfeksi virus tersebut (Kamus
Kedokteran Dorlan, 2002).

2. Pertanyaan Klinik
Apa saja yang menyebabkan stress pada ibu hamil dengan HIV/AIDS?

3. Menentukan PIO/PICO/PICOT

P : ibu hamil HIV/AIDS

I : koping

O : tingkat stress

4. Kata Kunci

Grounded theory, pregnan women, HIV/AIDS, stress coping

5. Pembahasan Artikel Jurnal

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi stress dan koping
pada perempuan hamil yang terdiagnosis HIV/AIDS. Jumlah partisipan pada

32
penelitian ini adalah enam orang, dengan teknik pengumpulan data menggunakan
teknik observasi, wawancara mendalam, dan telaah literature. Hasil analisis yang
berasal dari beberapa pertanyaan didapatkan tujuh tema permasalahan pada wanita
hamil dengan HIV/AIDS, yaitu : 1) khawatir terhadap keselamatan janin, 2)
diperlakukan berebeda dengan perempuan hamil lainnya, 3) banyak membutuhkan
biaya pengobatan, 4) tidak nyaman didiagnosis HIV/AIDS, 5) kebutuhan
dukungan dari keluarga dan teman, 6) koping, 7) harapan memiliki anak yang
sehat. Manfaat dari penelitian ini adalah kita dapat memahami stress yang dialami
oleh perempuan hamil yang menderita HIV/AIDS, sehingga dapat memberikan
asuhan keperawatan yang efektif dan optimal. Implikasi yang diberikan dari
peneitian ini adalah berupa informasi bagi pemerintah dan perawat yang bekerja
di area keperawatan maternitas mengenai kebijakan pengelolaan HIV/AIDS bagi
wanita hamil.

2.8.3 Critical Apraisal

1. Why was this study done ?

 Pemaparan masalah penelitian pada penelitian ini sudah dijelaskan pada


pendahuluan, bahwa penularan HIV/AIDS dari ibu hamil kepada anaknya
merupakan suatu ancaman yang akan berdampak tidak hanya secara fisik
namun juga secara psikologis. Karena ibu hamil yang mendderita
HIV/AIDS bisa saja mengalami depresi prenatal.
 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi stress dan koping
pada perempuan hamil yang terdiagnosis HIV/AIDS
 Kata kunci yang digunakan peneliti sudah sesuai
 Fakta dan teori dituliskan kutipannya, sehingga meningkatkan nilai
kebenarannya

2. What is the sample size ?

 Partisipan dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan rentang usia 22-27
tahun. Partisipan berjumlah enam orang. Proses analisis data
menggunakan grounded theory.

33
3. Are the Measurements of Major variables Valid and reliable ?

 Instrument yang digunakan untuk penelitian variable sudah valid/ tepat.


Instrument yang digunakan reliable/ mampu menmpilkan/ memberikan
makna yang sama ketika digunakan oleh semua responden
 Untuk mengetahui tingkat stress dan koping ibu hamil dengan HIV/AIDS
menggunakan teknik wawancara mendalam.

4. How The Data Analalyzed ?

 Tahapan analisis data pada penelitian ini adalah dengan observasi,


wawancara mendalam, catatan mendalam, dan studi literature. Pengkodean
dilakukan pada tiga tingkatan atau level, yaitu : level I kata-kata kunci,
level II pembentukan kategori-kategori, dan level III pembentukan tema.
Proses analisi dilanjutkan dengan pengembangan teori, pembentukan
variabel inti dan pembentukan hasil penelitian yang dikenal dengan
grounded theory.

5. Were There any untoward events during the conduct of the study ?

 Dalam mendapatkan informasi peneliti harus berpikit secara ekstra


bagaimana pendekatan dan komunikasi yang tepat yang diberikan kepada
ibu hamil dengan HIV/AIDS. Agar terjalinnya hubungan saling percaya
antara peneliti dan partisipan dalam penelitian.

6. How do the results fit with previous research in the area ?

 Hasil penelitian konsisten dengan dengan peenlitian sebelumnya sehingga


menunjukkan kelayakan penelitian
 Ibu yang menderita HIV/AIDS berisiko untuk menularkannya kepada
bayinya. Didiagnosis HIV/AIDS merupakan ancaman yang besar bagi
perempuan hamil yang juga akan mengancam keselamatan bayi dan
keluarganya (Kennedy, 2003). Dampak psikoogis yang dialami oleh ibu
hamil adalah terjadinya depresi prenatal (Blanney et.al, 2004). Beum lagi
stigma yang beredar di masyarakat serta diskriminasi yang diterima oleh
ibu hamil baik dari keluarga maupun tenaga kesehatan akan sangat

34
mempengaruhi tingkat stress bagi ibu hamil dengan HIV/AIDS (Fortinash
& Worreth, 2004).

7. What does this research mean for clinical practice ?

 Dari semua hal yang sudah di paparkan oleh peneliti dalam jurnal tersebut
dapat disimpulkan bahwa tingkat stress dan koping ibu hamil dengan
HIV/AIDS dapat dipengaruhi oleh : 1) khawatir terhadap keselamatan
janin, 2) diperlakukan berebeda dengan perempuan hamil lainnya, 3)
banyak membutuhkan biaya pengobatan, 4) tidak nyaman didiagnosis
HIV/AIDS, 5) kebutuhan dukungan dari keluarga dan teman, 6) koping,
7) harapan memiliki anak yang sehat.

35
BAB III
PENUTUP

2.7 Kesimpulan

Kerentanan telah didefinisikan sebagai rentan terhadap cacat atau bahaya, atau
beresiko miskin sosial, psikologis, dan / atau hasil kesehatan fisik (Aday, 2001).
Istilah "rentan" berasal dari kata Latin yang berarti luka, dan rentan populasi
adalah kelompok yang memiliki risiko tinggi hasil kesehatan yang merugikan
(Leight, 2003).

Beberapa faktor penyebab terjadinye kerentanan yaitu ekonomi, etnis, ras,


pendapatan, jenis kelamin, dan sebagainya. Yang termasuk kedalam kategori
kelompok rentan yaitu kelompok tuna wisma, kehamilan pada remaja, kelompok
gangguan jiwa, ibu hamil, dan bayi.

2.8 Saran

Dengan ditulisnya mekalah mengenai Komunitas II ini diharapkan mahasiswa


dapat lebih memahami dan mengerti mengenai bagaimana asuhan keperawatan
yang di berikan kepada kelompok rentan. Serta diharapkan mahasiswa dapat
mengaplikasikannya dalam perkuliahan.

36
DAFTAR PUSTAKA

Stahope, Marcia and Jeanette Lancaster. 2006. Foundation of Nursing in The


Community. USA : Mosby Elsevier

Allender, Judith Ann, dkk. 2010. Community Health Nursing, Promoting &
Protecting the Publics Health 7 Editions.Cina : Wolter Kluwer Health

Nies, Mary A and Melanie Mcewen. Community/ Public Health Nursin,


Promoting the Health of Populations, Sixth Edition. Elsevier

Bunga, Beatriks Novianti Killing dan Indra Yohanes Killing. 2019. Menjangkau
Kelompok Rentan di Desa Terpencil. Journal of Health and Behavioral Science.
No.3.Vol. 1. Hal 179-190.

37
Format Bukti Diskusi Mahasiswa

No Nama Pengalaman Simpulan Bacaan Tanda


Mahasiswa Diskusi diskusi Tangan
Mahasiswa
1 Weriska Pengalaman saya Pada diskusi ini,
Oktrivani dalam kesimpulan yang
1711311023 mengerjakan dapat saya ambil
diskusi ini yaitu yaitu kelompok
dengan rentan merupakan
mengerjakan kelompok yang
tugas secara beresiko dan lebih
berdiskusi kita mudah terkena
dapat lebih masalah kesehatan
memahami materi ari pada kelompok
yang kita bahas normal. Yang
serta kita bisa termasuk kedalam
saling bertukar kelompok rentan ini
pendapat dengan diantaraya kelompok
anggota tunawisma,
kelompok. kehamilan di usia
remaja,populasi
gangguan mental,
dan ibu serta bayi.
2 Sri Dinda Pengalaman yang Pada diskusi ini
Andriva saya dapat ketika dapat saya simpulkan
1711312009 mengerjakan bahwa kesehatan
tugas dengan komunitas kelompok
diskusi ini adalah rentan terdiri dari
bekerja sama dan beberapa jenis salah
saling satunya kelompok
mengeluarkan tunawisma. Karena

38
pemikiran. tunawisma
Sehingga dapat merupakan orang-
mudah orang yang hidup
memahami materi dijalanan tidak punya
yang rumah sehingga
didiskusikan. rentan terkena
Selain itu penyakit terutama
pengerjaan tugas penyakit menular.
juga lebih efisien Seperti TB,HIV-
dan cepat AIDS.
terselesaikan dan
paham dengan
materi.
3 Ulfa Putri Rahmi Dengan adanya Dari pembahasan
1711312021 diskusi ini saya materi mengenai
lebih memahami kelompok usia rentan
pembagian tugas ini, saya memahami
individu, bahwa kelompok
kemudian di mix usia rentan adalah
dengan teman kelompok yang
teman kelompok kurang mampu
sehingga kami menghadapi suatu
dapat saling resiko. Dan
bertukar ilmu dan kelompok ini
pemahaman memiliki treatment
mengenai materi khusus dalam
yang kami penanganannya pada
kerjakan. keperawatan
komunitas

4 Nisya Dwi Adila Pengalaman yang Pada diskusi


1711313031 saya dapatkan kesimpulan yang

39
dari mengerjakan saya dapatkan adalah
tugas dengan bahwa bahwa
berdiskusi adalah komunitas dengan
bisa memecahkan agregat kelompok
masalah yang rentan tentunya juga
awalnya susah dapat mengalami
untuk dipecahkan permasalahan di
sendiri menjadi komunitas. Apalagi
lebih mudah kelompok rentan
dengan berdiskusi yang memiliki
bersama teman- penyakit kronis
teman. Berdiskusi seperti HIV/AIDS
juga membantu dan TBC. Hal inilah
saya lebih yang seharusnya
memahami materi dapat diatasi oleh
yang sedang perawat komunitas,
kelompok kami sehingga kelompok
kerjakan. rentang yang
mengalami penyakit
tersebut dapat
merasakan
sejahteranya
kehidupan sama
seperti individu
lainnya.
5 Since Olivia Pengalaman yang Berdasarkan hasil
Rumatray saya dapatkan diskusi yang dibahas
1711319003 selama diskusi anggota kelompok
adalah, lebih yaitu tentang konsep
memahami materi praktik asuhan
yang di bahas, keperawatan
karena di komunitas pada

40
kerjakan bersama- kelompok rentan
sama. Sehingga maka dapat
jika ada yang disimpulakan bahwa
tidak saya pahami kelompok rentan
maka saya akan atau kelompok
menanyakan beresiko tinggi,
kepada anggota karena kurang
kelompok. memilikin
kemampuan
mempersiapkan diri
dalam menghadapi
suatu resiko. Contoh
kelompok beresiko
adalah diffabel,
perempuan, anak-
anak, kaum miskin,
lansia dll.

41
Foto Sesi Diskusi

42

Anda mungkin juga menyukai