Anda di halaman 1dari 43

LONG CASE

ILMU KESEHATAN MATA


GLAUKOMA

Pembimbing:
dr. Ululil Chusaida, Sp. M

Disusun oleh:
Kade Yuda Dwi Utama
20190420023

SMF MATA RSU HAJI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LONG CASE ILMU KESEHATAN MATA

Long case dengan judul “GLAUKOMA” telah diperiksa dan disetujui sebagai
salah satu tugas dalam rangka studi program pendidikan profesi dokter di bagian Ilmu
Kesehatan Mata pada Fakultas Kedokteran Universtitas Hang Tuah Surabaya yang
dilakukan di RSU Haji Surabaya.

Surabaya, 21 Agustus 2019


Mengetahui

dr. Ululil Chusaida, Sp.M

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas rahmatnya penulisan
long case ini dapat terselesaikan dengan baik. Long case yang berjudul
”GLAUKOMA” ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan program pendidikan
profesi dokter pada Fakultas Kedokteran Universtitas Hang Tuah Surabaya yang
dilakukan di RSU Haji Surabaya.

Penulis mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada dr. Ululil


Chusaida, Sp.M selaku dokter pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu,
tenaga, dan pikiran dalam membimbing penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan long case ini.
Penulis menyadari bahwa long case ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun agar long
case selanjutnya dapat lebih baik lagi. Akhir kata, semoga long case ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedokteran dan bagi semua pihak yang
membutuhkannya.

Surabaya,21 Agustus 2019

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan........................................................................................ ii
Kata Pengantar ............................................................................................... iii
Daftar Isi ......................................................................................................... iv
Daftar Gambar ................................................................................................. v
BAB 1 TINJAUAN KASUS ............................................................................. 1
I. Identitas Pasien ....................................................................................... 1
II. Anamnesis .............................................................................................. 1
III. Pemeriksaan.......................................................................................... 2
IV. Daftar Masalah ...................................................................................... 3
V. Diagnosis ............................................................................................... 3
VI. Planning ................................................................................................ 3
VII. Edukasi ................................................................................................ 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 5


2.1 Anatomi sudut filtrasi ......................................................................... 5
2.1.1 Fisiologi aquos humor ............................................................................... 6
2.2 Glaukoma ............................................................................................ 8
2.2.1 Definisi ...................................................................................................... 8
2.2.2 Faktor Risiko ............................................................................................. 8
2.2.3 Patofisiologi .............................................................................................. 9
2.2.4 klasifikasi………………………………………………………………………………...…10
2.25 diagnosis…………………………………………………………………………………….22
2.3 Penatalaksanaan .............................................................................. 31

BAB 3 PEMBAHASAN KASUS .................................................................... 37

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 38

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Anatomi sudut filtrasi ................................................................................. 5


Gambar 2 : Fisiologi Aliran humor Aquos .................................................................... 7
Gambar 3 : Glaukoma .................................................................................................... 8
Gambar 4 : Glaukoma sudut terbuka ........................................................................... 11
Gambar 5 : Glaukoma sudut tertutup ........................................................................... 13
Gambar 6 : aliran humor aquos .................................................................................... 16
Gambar 7 : Tonometri palpasi ..................................................................................... 24
Gambar 8 : Tonometri Schiotz ..................................................................................... 25
Gambar 9 : Tonometer aplanasi ................................................................................... 26
Gambar 10 : Pemeriksaan gonioskopi ......................................................................... 27
Gambar 11 : Skala penilaian gonioskopi ..................................................................... 28
Gambar 12 : Nervus optikus ........................................................................................ 29

v
BAB 1

TINJAUAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. J
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 70 th
Alamat : Surabaya
Pekerjaan : Pensiunan
Status : Menikah
Tanggal pemeriksaan : 15 Agustus 2019

II. Anamnesis
 Keluhan utama : mata kemeng sebelah kanan
 Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke Poli Mata RSU Haji Surabaya
dengan keluhan mata kemeng sebelah kanan sejak 4 tahun yang lalu. Pasien juga
mengeluh matanya kabur dengan cepat merah dan berair. Pasien juga merasakan
seperti melihat ada sumber cahaya seperti pelangi menjelang sore hari. Tidak
adanya mual, muntah.
 Riwayat penyakit dahulu : - Pasien mengatakan bahwa pernah operasi katarak
pada mata kiri pada tahun 2016
- Diabetes Mellitus (-)
- Hipertensi (-)
- Riwayat alergi obat : Penicilin
- Riwayat trauma (-)

1
III. Pemeriksaan
 VOD : 0,6 cc c-0,75 x 90 →0,9 f PH 1,0 f
 VOS : 0,1 cc s + 0,50 c-0,75 x 90 → 0.5 f PH 0,6 f

 Pergerakan bola mata:

OD OS
Baik segala arah Baik segala arah

 Tekanan Intra Okuler :


TOD : 8,5 mmHg ( sudah mengkonsumsi obat )
TOS : 17,3 mmHg ( sudah mengkonsumsi obat )

 Segmen anterior:

OD Keterangan OS

Edema (-),hiperemi (-) Palpebra Edema(-),hiperemi (-)

Hiperemi (-), sekret (-) Konjungtiva Hiperemi (-),sekret (-)


Jernih (+), Kornea Jernih (+),
Dalam BMD Dalam
Reguler (+), coklat Iris Reguler (+), coklat
Bulat (+), isokor, refleks Pupil Bulat (+), isokor,
pupil (+), refleks pupil (+),
Jernih Lensa Jernih

2
OD OS
 Segmen posterior:

OD Keterangan OS
Fundus
(+) Refleks (+)
CD ratio : 0,8 mm Papil CD ratio : 0,3-0,4 mm
N II
Sulit dievaluasi Retina Sulit dievaluasi
Pembuluh
Sulit dievaluasi darah Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi Makula Sulit dievaluasi

IV. Daftar masalah


- Laki laki 70 tahun
- Mata kanan terasa kemeng sejak 4 tahun yang lau
- Pasien juga mengeluh matanya kabur dengan cepat dan berair
- Melihat lampu silau seperti ada bayangan pelangi
- VOD : 0,6 cc c-0,75 x 90 →0,9 f PH 1,0 f
- VOS : 0,1 cc s+0,50 c-0,75 x 90→0,5f PH 0,6f
- segmen posterior :
CD rasio OD : 0.8 mm
CD rasio OS 0,3- 0,4 mm

3
V. Diagnosis / DD
ODS suspek glaucoma akut

VI. Planing
- Diagnostik : Pemeriksaan lapang pandang (Humpry test) dan gonioskopi
Medriatikum.

- Terapi :
 Cendo Lyteers 4 × 1 tetes / hari mata kanan dan kiri
 Timolol eyedrop 2x1 tetes/ hari mata kanan dan kiri
 Xalatan eyedrop 1x1 tetes/hari mata kanan dan kiri

- Monitoring
 Keluhan pasien
 TIO
 Kekeruhan lensa
 Segmen anterior
 Segmen posterior

VII. Edukasi
 Memberitahu keluarga bahwa kepatuhan pengobatan sangat penting
untuk keberhasilan pengobatan glaukoma
 Memberitahu pasien dan keluarga agar pasien dengan riwayat
glaukoma pada keluarga untuk memeriksakan matanya secara teratur
 Memberi tahu pasien untuk tetap mengontrol DM dan HT nya agar
terhindar dari komplikasi
 Apabila keluhan memburuk segera ke dokter

4
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Sudut Filtrasi

Gambar 2.1 Anatomi Sudut Filtrasi

Sudut filtrasi merupakan bagian yang penting dalam pengaturan cairan


bilik mata. Sudut ini terdapat di dalam limbus kornea. Limbus adalah bilik mata.
Sudut ini terdapat di dalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi
oleh garis yang menghubungkan akhir dari membrane descement dan membrane
Bowman. Akhir dari membrane Descement disebut garis Schwalbe.
Limbus terdiri dari 2 lapisan yaitu epitel dan stroma. Epitelnya 2 kali
ketebalan epitel kornea. Di dalam stroma terdapat serat-serat saraf dan cabang
akhir dari arteri siliaris anterior.
Bagian terpenting dari sudut filtrasi adalah trabecular, yang terdiri dari:
1. Trabekula korneoskleral
Serabutnya berasal dari lapisan stroma kornea, menuju ke belakang
mengelilingi Schlemm untuk berinsersi pada sclera
2. Trabekula uveal
Serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma kornea, menuju ke scleral
spur (insersi dari m. silliaris) dan sebagian ke m. silliaris meridional.

5
3. Serabut yang berasal dari akhir membrane descement (garis Schwalbe)
Serabut ini menuju ke jaringan pengikat m. silliaris radialis dan
sirkularis.
4. Ligamentum pektinatum rudimenter
Ligamentum ini berasal dari dataran depan iris menuju ke depan
trabekula
Trabekula terdiri dari jaringan kolagen, homogeny, elastis dan
seluruhnya diliputi oleh endotel. Keseluruhannya merupakan spons yang tembus
pandang, sehingga bila ada darah di dalam kanalis Schlemm, dapat terlihat dari
luar.
Kanalis Schlemm merupakan kapiler yang dimodifikasi, yang
mengelilingi kornea. Dindingnya terdiri dari satu lapisan sel, diameternya
0,5mm. Pada dinding sebelah dalam, terdapat lubang-lubang sehingga terdapat
hubungan langsung antara trabekula dan kanalis Schlemm. Dari kanalis
Schlemm keluar saluran kolektor, 20-30 buah, yang menuju ke pleksus vena di
dalam jaringan sclera dan episklera dan vena siliaris anterior di badan siliar.

2.1.2 Fisiologi Aquos Humor


Tekanan intraocular ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor
aqueous dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Humor aqueous
adalah suatu cairan jernih yang mengisi kamera okuli anterior dan posterior.
Volumenya adalah sekitar 250µL/menit. Tekanan osmotic sedikit lebih tinggi
daripada plasma. Komposisi humor aqueous serupa dengan plasma kecuali
bahwa cairan ini memiliki konsentrasi askrobat, piruvat dan laktar yang lebih
tinggi dan protein, urea dan glukosa yang lebih rendah.

6
Gambar 2.2 Fisiologi aliran humor aqueous

Humor aqueous diproduksi oleh korpus siliaris. Ultrafiltrat plasma yang


dihasilkan di stroma prosesus siliaris dimodifikasi oleh fungsi sawar dan
prosessus sekretorius epitel siliaris. Setelah masuk ke kamera okuli posterior,
humor aqueous mengalir melalui pupil ke kamera okuli anterior lalu ke
trabecular meshwork di sudut kamera okuli anterior. Selama periode ini, terjadi
pertukaran diferensial komponen-komponen dengan darah di iris. Peradangan
atau trauma intraocular dapat menyebabkan peningktan konsentrasi protein. Hal
ini disebut humor aqueous plasmoid dan sangat mirip dengan serum darah.
Trabekula meshwork terdiri dari berkas-berkas jaringan kolagen dan
elastic yang dibungkus oleh sel-sel trabekula yang membentuk suatu saringan
dengan ukuran pori-pori semakin mengecil sewaktu mendekati kanalis
Schlemm. Kontraksi otot siliaris melalui insersinya ke dalam jalinan trabekula
memperbesar ukuran pori-pori di jalinan tersebut sehingga kecepatan drainase
humor aqueous juga meningkat. Aliran humor aqueous ke dalam kanalis
Schlemm bergantung pada pembentukan saluran-saluran transelular siklik di
lapisan endotel. Saluran eferen dari kanalis Schlemm (sekitar 30 saluran
pengumpul dan 12 vena aqueous) menyalurkan airan ke dalam sistem vena.

7
Sejumlah kecil humpr aqueous keluar dari mata antara berkas otot siliaris dan
lewat sela-sela sclera (aliran uveoskleral).

2.2. Glaukoma

2.2.1 Definisi

Gambar 2.3 Glaukoma


Glaukoma adalah suatu neuropati optik (kerusakan saraf mata)
disebabkan oleh TIO yang tinggi (relative) ditandai oleh kelainan lapang
pandang dan berkurangnya serabut saraf optik. Tekanan intraocular ditentukan
oleh keceptan pembentukan humour aqueos dan tahanan terhadap aliran
keluarnya dari mata. Tekanan intraocular dianggap normal bila <20mmHg pada
pemeriksaan dengan tonometer.
Kelainan mata glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekanan bola
mata, atrofi papil saraf optik, dan defek lapang pandang.

2.2.2 Faktor Resiko


Beberapa faktor resiko yang dapat mengarah pada glaukoma adalah :
1. Tekanan TIO tinggi
2. Degenerasi primer sel ganglion
3. Usia diatas 45 tahun
4. Riwayat glaukoma pada keluarga
5. Miopia atau hipermetropia
6. Pasca bedah dengan hifema atau infeksi

8
Sedangkan beberapa hal yang memperberat resiko glaukoma adalah :
1. Tekanan bola mata, makin tinggi makin berat
2. Makin tua usia, makin berat
3. Hipertensi, resiko 6 kali lebih sering
4. Pekerja las, resiko 4 kali lebih sering
5. Riwayat keluarga dengan glaukoma, resiko 4 kali lebih sering
6. Merokok, resiko 4 kali lebih sering
7. Miopia, resiko 2 kali lebih sering
8. DM, resiko 2 kali lebih sering
2.2.3 Patofisiologi
Sudut bilik mata dibentuk dari jaringan korneosklera dengan pangkal iris.
Pada keadaan fisiologis bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata.
Berdekatan dengan sudut ini didapatkan trabecular meshwork, kanal Schlemm,
biji sclera, garis Schwalbe dan jonjot iris. Pada sudut filtrasi terdapat garis
Schwalbe yang merupakan akhir perifer endotel dan membrane desement, kanal
Schlemm yang menampung cairan mata kesalurannya.
Sudut filtrasi berbatas dengan akar iris berhubungan dengan sclera
kornea dan disini ditemukan scleral spur yang membuat cincin melingkar 360
derajat dan merupakan batas belakang sudut filtrasi serta tempat insersi otot siliar
longitudinal. Trabekular meshwork mengisi kelengkungan sudut filtrasi yang
mempunyai dua komponen yaitu badan siliar dan uvea.
Tekanan intraocular ditentukan oleh kecepatan terbentuknya cairan
(aqueous humor) bola mata oleh adan siliar dan hambatan yang terjadi pada
trabecular meshwork. Aqueous humor yang dihasilkan badan siliar masuk ke bilik
mata belakang, kemudian melalui pupil menuju bilik mata depan dan terus ke bilik
mata depan, tepatnya ke trabecular meshwork, mencapai kanal Schlemm dan
melalui saluran ini keluar dari bola mata. Pada glaukoma kronik sudut terbuka,
hambatannya terletak pada trabecular meshwork maka akan terjadi penimbunan
cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata meninggi. Pada
glaukoma akut hambatan terjadi karena iris perifer menutup sudut bilik depan,
hingga jaringan trabekulum tidak dapat dicapai oleh sarkus.
9
2.2.4 Klasifikasi
Klasifikasi glaukoma berdasarkan etiologinya : 12
A. Glaukoma Primer 1. Glaukoma sudut terbuka
2. Glaukoma sudut tertutup
B. Glaukoma Sekunder 1. Glaukoma pigmentasi
2. Sindrom eksfoliasi
3. Akibat kelainan lensa
(fakogenik)
4. Akibat kelainan traktus uvea
5. Sindrom iridokorneoendotelial
(ICE)
6. Trauma
7. Pascaoperasi
8. Glaukoma neovaskular
9. Peningkatan tekanan episklera
10. Akibat steroid
C. Glaukoma Kongenital 1. Glaukoma kongenital primer
2. Glaukoma yang berkaitan
dengan kelainan perkembangan
mata lain
3. Glaukoma yang berkaitan
dengan kelainan perkembangan
ekstraokular
D. Glaukoma Absolut Stadium akhir dari glaukoma apabila
tidak terkontrol
Tabel 2.1 Klasifikasi glaukoma berdasarkan etiologi

1. Glaukoma Primer6
Glaukoma dengan etiologi tidak pasti, dimana tidak didapatkan kelainan
yang merupakan penyebab glaukoma. Glaukoma ini didapatkan pada orang yang
telah memiliki bakat bawaan glaukoma, seperti :

10
a. Gangguan fasilitas pengeluaran cairan mata atau susunan anatomis
bilik mata menyempit
b. Kelainan pertumbuhan pada sudut bilik mata depan
(goniodisgenesis), berupa trubekulodisgenesis, iridodisgenesis dan
korneodisgenesis dan yang paling sering beripa trabekulodigenesis
dan goniodisgenesis.
Glaukoma primer bersifat bilateral yang tidak selsalu simetris dengan
sudut bilik mata tertutup ataupun terbuka, pengelompokkan ini berguna untuk
penatalaksanaan dan peneitian.

a. Glaukoma Sudut Terbuka (Glaukoma Kronis)

Gambar 2.4 Glaukoma Sudut Terbuka


Glaukoma sudut terbuka merupakan bentuk glaukoma yang umum
ditemukan, yaitu mencakup sebanyak 90% kasus dari semua kasus glaukoma.1
Glaukoma kronis atau glaukoma primer sudut terbuka biasanya bilateral tetapi
tidak selalu simetris, yaitu dimana proses perjalanan penyakit tidak sama pada
kedua mata. Karakteristik dari glaukoma primer sudut terbuka :
 Onset saat dewasa
 TIO >21 mmHg
 Ada gambaran sudut bilik mata depan terbuka
 Ada kerusakan papil nervus optikus glaukomatosa
 Gangguan lapang pandang

11
Gejala yang ditimbulkan biasanya bersifat progresif dan sering kali tidak
menimbulkan keluhan. Gejala yang mungkin timbul adalah:
 Glaukoma kronis biasanya baru menimbulkan gejala jika
terjadi penurunan lapang pandang yang nyata. Hal ini
disebabkan karena penurunan lapang pandang dimulai dari
daerah nasal yang biasanya sulit dideteksi karena terdapat
kompensasi dari mata sisi sebelahnya.
 Sakit kepala
 Sakit mata
 Adanya halo/pelangi disekitar lampu
 Riwayat penyakit mata seperti mata merah, gangguan
lapang pandang, katarak, uveitis, retinopati diabetic,
oklusi vascular dan trauma
 Riwayat penyakit dahulu seperti operasi mata
 Riwayat penggunaan obat seperti antihipertensi atau
steroid topical
 Riwayat keluarga menderita glaukoma, miopi, penyakit
CVS, DM, migraine, Hipertensi, vasospasme.
Pemeriksaan yang diperlukan pada pasien yang dicurigai
glaukoma kronis adalah :1,6
 pemeriksaan visus
 pemeriksaan pupil untuk melihat reflex cahaya langsung
dan tak langsung
 pemeriksaan Marcus Gunn Pupil untuk melihat defek
pupil aferan relative
 pemeriksaan gonioskopi untuk menunjukkan tidak ada
tanda glaukoma sekunder
 perimetri untuk memeriksa lapang pandang perifer dan
sentral

12
 pemeriksaan TIO dengan tonometri. Diduga glaukoma
jika TIO >21mmHg atau ada perbedaan 5mmHg antara
kedua mata.
 pemeriksaan diskus optikus dapat ditemukan tanda
penggaungan yang khas yaitu pinggir temporal menipis,
adanya ekskavasi melebar dan mendalam tergaung,
tampak bagian pembuluh darah di tengah papil tidak jelas,
tampak pembuluh darah seolah-olahh menggantung di
pinggir dan terdorong kearah nasal, dan jika tekanan
cukup tinggi akan terlihat pulsasi arteri.

b. Glaukoma Sudut Tertutup (Glaukoma Akut)

Gambar 2.5 Glaukoma Sudut Tertutup


Glaukoma primer sudut tertutup ditandai dengan sudut bilik mata depan
yang tertutup. Gejala yang dirasakan oleh pasien, seperti:
 tajam penglihatan kurang (kabur mendadak)
 nyeri hebat periorbita
 Pusing
 Mual muntah
 mata merah, bengkak, berair
 melihat halo (pelangi disekitar objek)
Pada pemeriksaan oftalmologi dapat ditemukan :

13
 Injeksi silier yang lebih hebat di dekat limbus kornea-
sklera dan berkurang kearah forniks
 Pembuluh darah tidak bergerak dengan konjungtiva
 Mid-dilatasi pupil dan reflex pupil negative
 Kornea tampak edema dan keruh
 Kamera okuli anterior sempit
 TIO meningkat
 Visus sangat turun hingga 1/300
 Lapang pandang menyempit
 Diskus optikus terlihat merah dan bengkak

2. Glaukoma Sekunder
Glaukoma sekunder adalah glaukoma yang diketahui penyebab
TIO meningkat atau karena manifestasi dari keadaan/penyakit lain.
Glaukoma sekunder dapat disebabkan oleh :
 Glaukoma pigmentasi
 Sindrom eksfoliasi
 Akibat kelainan lensa (fakogenik)
 Akibat kelainan traktus uvea
 Sindrom iridokorneoendotelial (ICE)
 Trauma
 Pascaoperasi
 Glaukoma neovaskular
 Peningkatan tekanan episklera
 Akibat steroid

3. Glaukoma Kongenital
Glaukoma kongenital timbul saat lahir atau dalam tahun pertama
dengan gejala klinis :
 mata berair berlebihan

14
 peningkatan diameter kornea (buftalmos)
 kornea berawan karena edema epitel, terpisah atau robeknya
membrane descement
 fotofobia sehingga bayi tidak tahan sinar matahari dan menjauhi
sinar dengan menyembunyikan mata
 peningkatan tekanan intraocular
 peningkatan kedalaman kamera anterior
 pencekungan diskus optikus

4. Glaukoma Absolut
Glaukoma absolut merupakan stadium akhir glaukoma
(sempit/terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata
memberikan gangguan fungsi lanjut. Pada glaukoma absolut dapat ditemukan :
 Kebutaan total
 Mata lelah
 Kornea keruh
 Bilik mata dangkal
 Papil atrofi dengan ekskavasi glaukomatosa
 Mata keras seperti batu
 Nyeri periorbita
 Timbul penyulit berupa neovaskularisasi iris

Pengobatan glaukoma abdolut dapat dengan memberikan sinar beta pada


badan sillier untuk menekan fungsi badan siliar, alcohol retrobulbar atau
melakukan pengangkatan bola mata karena mata lelah tidak berfungsi dan
memberikan rasa sakit.
5. Glaucoma normal tension
Low tension glaucoma atau disebut juga normal tension glaucoma adalah
suatu varian dari glaukoma sudut terbuka yang sekarang lebih sering dikenali
daripada dahulu. Diperkirakan disebabkan oleh aliran darah ke syaraf optik yang
berkurang. Kondisi ini dikarakteristikan oleh kerusakan syaraf optik yang

15
progresif dan kehilangan penglihatan samping/peripheral vision (visual field)
meskipun tekanan dalam mata (intraocular pressure) berada dibatas-batas
normal atau bahkan dibawah normal. Tipe glaukoma ini dapat didiagnosis
dengan pemeriksaan yang berulang-ulang oleh seorang dokter mata untuk
mendeteksi kerusakan syaraf atau kehilangan penglihatan bidang (visual field).
Sekarang ini, low tension glaucoma mendapat perhatian penelitian yang cukup
banyak karena penyebabnya dan perawatannya masih belum menentu.

6 .Etiopatogenesis
Korpus siliaris yang terletak dibelakang iris bertugas memproduksi
cairan yang disebut humour aqueous. Cairan ini akan mengalir menuju lubang
pupil dan akan meninggalkan bola mata melalui saluran kecil menuju pembuluh
darah. Normalnya antara produksi humour aquous dan aliran keluarnya adalah
seimbang.

Gambar 1. Aliran humor aqueous

Jika aliran keluarnya terhambat atau produksinya berlebihan, maka


tekanan bola mata akan meninggi. Cairan mata yang berada di belakang iris

16
tidak dapat mengalir melalui pupil sehingga mendorong iris ke depan, mencegah
keluarnya cairan mata melalui sudut bilik mata (mekanisme blokade pupil).
Tekanan bola mata ini gunanya untuk membentuk bola mata. Kalau
tekanannya normal, berarti bola mata itu terbentuk dengan baik. Kalau
tekanannya terlalu tinggi, berarti bola mata itu menjadi keras seperti kelereng.
Akibatnya, akan menekan saraf mata ke belakang dan menekan saraf papil N II
dan serabut-serabut saraf N II. Saraf-saraf yang tertekan itu dan yang menekan
saraf papil II ini terjadi penggaungan.
Glaukoma terjadi ketika produksi dari cairan bola mata meningkat atau
cairan bola mata tidak mengalir dengan sempurna sehingga tekanan bola mata
tinggi, serabut-serabut saraf di dalam saraf mata menjadi terjepit dan mengalami
kematian. Besarnya kerusakan tergantung pada besarnya dan lamanya tekanan,
maupun buruknya aliran darah disaraf optik.
Tekanan yang sangat tinggi akan menyebabkan kerusakan yang cepat,
sedangkan tekanan yang tidak tinggi akan menyebabkan kerusakan yang
perlahan-lahan dan akan menyebabkan kebutaan perlahan-lahan dan akan
menyebabkan kebutaan perlahan-lahan pula apabila tidak segera ditangani.
Tekanan intraokuler adalah keseimbangan antara produksi humor
aquous, hambatan terhadap aliran aqueous dan tekanan vena episklera.
Ketidakseimbangan antara ketiga hal tersebut diatas dapat menyebabkan
peningkatan TIO, akan tetapi hal ini lebih sering disebabkan oleh hambatan
terhadap aliran humor aqueous. Namun pada low tension glaukoma banyak
faktor yang mempengaruhi perkembangan tidak terjadinya peningkatan TIO
bahkan selalu normal. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan
glaukoma jenis ini, namun penyebab pastinya tidak diketahui. Ketidaknormalan
perfusi nervus optik akan meningkatkan terjadinya kerusakan pada nervus optik.
Tipe glaukoma ini diperkirakan ada hubungannya, meski kecil, dengan
kurangnya sirkulasi darah di syaraf/nervus opticus, yang mana mengakibatkan
kematian dari sel-sel yang bertugas membawa impuls/rangsang tersebut dari
retina menuju ke otak. Sebagai tambahan, kerusakan yang terjadi karena
hubungannya dengan tekanan dalam bola mata juga bisa terjadi pada yang masih
17
dalam batas normal tinggi (high normal), jadi tekanan yang lebih rendah dari
normal juga seringkali dibutuhkan untuk mencegah hilangnya penglihatan yang
lebih lanjut. Glaukoma bertekanan normal ini paling sering terjadi pada orang-
orang yang memiliki riwayat penyakit pembuluh darah, orang Jepang atau pada
wanita. Beberapa penelitian menebak peningkatan viskositas dan
hiperkoagubilitas darah, dan peningkatan TIO berada diatas normal dipengaruhi
oleh variasi diurnal postural sangat berpengaruh

6. Gejala klinis
Pasien dengan low tension glaucoma memperlihatkan peningkatan
perubahan glaukomatosa pada diskus optik dan defek lapangan pandang tanpa
peningkatan tekanan intraokular. Kamal dan Hitchings menetapkan beberapa
kriteria yaitu:
 Tekanan intraokular rata-rata adalah 21 mmHg dan tidak pernah melebihi 24
mmHg.
 Pada pemeriksaan gonioskopi didapatkan sudut bilik mata depan terbuka.
 Gambaran kerusakan diskus optikus dengan cupping glaumatosa yang disertai
defek lapangan pandang.
 Kerusakan glaumatosa yang progresif.
Pasien-pasien ini susah diterapi karena penanganan terapinya tidak
berfokus pada kontrol tekanan intraokular.
Dua keadaan yang memiliki kemiripian dengan low tension glaucoma
yaitu ischemic papillitis dan ischemic optic neuropathy. Ischemic papillitis
merupakaan keadaan akut yang memiliki karakteristik nervus optic yang tampak
bengkak dan pucat. Adanya defek lapang pandang sama seperti glaucoma.

7 .Pemeriksaan Ophtalmologi
A. Pengukuran Tekanan Intraokular
Rentang tekanan intraokular normal adalah 10-21 mmHg. Pada usia
lanjut, rerata tekanan intraokularnya lebih tinggi sehingga batas atasnya adalah
24 mmHg. Tekanan bola mata untuk satu mata tak selalu tetap, tetapi dapat
18
dipengaruhi seperti pada saat bernapas mengalami fluktuasi 1-2 mmHg dan pada
jam 5-7 pagi paling tinggi, siang hari menurun, malam hari naik lagi. Hal ini
dinamakan variasi diurnal dengan fluktuasi 3 mmHg.
Menurut Langley dan kawan-kawan, pada glaukoma primer sudut
terbuka terdapat empat tipe variasi diurnal yaitu 1) Flat type, TIO sama
sepanjang hari; 2) Falling type, puncak TIO terdapat pada waktu bangun tidur;
3) Rising type, puncak TIO didapat pada malam hari; 4) Double variation;
puncak TIO didapatkan pada jam 9 pagi dan malam hari. Menurut Downey, jika
pada sebuah mata didapatkan variasi diurnal melebihi 5 mmHg ataupun selalu
terdapat perbedaan TIO sebesar 4 mmHg atau lebih maka menunjukan
kemungkinan suatu glaukoma primer sudut terbuka, meskipun TIO normal.
Pada glaukoma sudut terbuka primer, 32-50% individu yang terkena ak
an memperlihatkan tekanan intraokular yang normal saat pertama kali diperiksa.
Sebaliknya, peningkatan tekanan intraokular semata tidak selalu diartikan bahwa
pasien mengedap glaukoma sudut terbuka primer; untuk menegakkan diagnosis
diperlukan bukti-bukti lain seperti adanya diskus optikus glaukomatosa atau
kelainan lapangan pandang. Apabila tekanan intraokular terus-menerus
meninggi sementara diskus optikus dan lapangan pandang normal (hipertensi
okular), pasien dapat diobservasi secara berkala sebagai tersangka glaukoma.
Ada empat macam tonometer yang dikenal yaitu tonometer schiotz,
tonometer digital, tonometer aplanasi dan tonometeri Mackay-Marg.
Pengukuran tekanan intraokular yang paling luas digunakan adalah tonometer
aplanasi Goldmann, yang dilekatkan ke slitlamp dan mengukur gaya yang
diperlukan untuk meratakan daerah kornea tertentu.
Tonometer aplanasi merupakan alat yang paling tepat untuk mengukur
tekanan bola mata dan tidak dipengaruhi oleh faktor kekakuan sklera.
Tonometer schiotz merupakan alat yang paling praktis sederhana. Pengukuran
tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu dengan melihat daya tekan
alat pada kornea, karna itu dinamakan juga tonometri indentasi schiotz. Dengan
tonometer ini dilakukan penekanan terhadap permukaan kornea menggunakan
sebuah beban tertentu. Makin rendah tekanan bola mata, makin mudah bola
19
mata ditekan, yang pada skala akan terlihat angka skala yang lebih besar.
Tansformasi pembacaan skala tonometer ke dalam tabel akan menunjukan
tekanan bola mata dalam mmHg. Kelemahan alat ini adalah mengabaikan faktor
kekakuan sklera.
Tonometer digital adalah cara yang paling buruk dalam penilaian
terhadap tekanan bola mata oleh karena bersifat subjektif. Dasar pemeriksaannya
adalah dengan merasakan reaksi kelenturan bola mata (balotement) pada saat
melakukan penekanan bergantian dengan kedua jari tangan. Tekanan bola mata
dengan cara digital dinyatakan dengan nilai N+1, N+2, N+3, dan sebaliknya N-1
sampai seterusnya.
Pada penderita tersangka glaukoma, harus dilakukan pemeriksaan serial
tonometri. Variasi diurnal tekanan intraokular pada pada orang normal berkisar
6 mmHg dan pada pasien glaukoma variasi dapat mencapai 30 mmHg.
B. Pemeriksaan Sudut Bilik Mata Depan
Merupakan suatu cara untuk menilai lebar dan sempitnya sudut bilik
mata depan. Lebar sudut bilik mata depan dapat diperkirakan dengan
pencahayaan oblik bilik mata depan, menggunakan sebuah senter atau dengan
pengamatan kedalaman bilik mata depan perifer menggunakan slitlamp, yang
umumnya digunakan yaitu teknik Van Herick. Dengan teknik ini, berkas cahaya
langsung diarahkan ke kornea perifer, menggunakan sinar biru untuk mencegah
penyinaran yang berlebihan dan terjadinya miosis. Pada teknik ini, kedalaman
sudut bilik mata depan (PAC) dibandingkan dengan ketebalan kornea (CT) pada
limbus kornea temporal dengan sinar sudut 60º.
Akan tetapi, sudut mata depan sebaiknya ditentukan dengan gonioskopi
yang memungkinkan visualisasi langsung struktur-struktur sudut. Dengan
gonioskopi juga dapat dibedakan glaukoma sudut tertutup dan glaukoma sudut
terbuka, selain itu juga dapat dilihat apakah terdapat perlekatan iris bagian
perifer ke bagian depan.
Apabila keseluruhan anyaman trabekular, taji sklera dan processus iris
dapat terlihat, sudut dinyatakan terbuka. Apabila hanya garis Schwalbe atau

20
sebagian kecil dari anyaman trabekular yang terlihat, sudut dinyatakan sempit.
Apabila garis Scwalbe tidak terlihat, sudut dinyatakan tertutup.
C. Penilaian Diskus Optikus
Diskus optikus normal memiliki cekungan di bagian tengahnya yang
ukurannya bervariasi bergantung pada jumlah relative serat yang menyusun
saraf optikus terhadap ukuran lubang sklera yang harus dilewati oleh serat-serat
tersebut.
Pada glaukoma mula-mula terjadi pembesaran konsentrik cekungan optik
yang diikuti oleh pencekungan superior dan inferior serta disertai pembentukan
takik (notching) fokal di tepi diskus optikus. Hasil akhir proses pencekungan
pada glaukoma adalah apa yang disebut sebagai cekungan “bean pot”, yang
tidak memperlihatkan jaringan saraf di bagian tepinya.
Rasio cekungan diskus adalah cara yang digunakan untuk mencatat
ukuran diskus optikus pada pasien glaukoma. Besaran tersebut adalah
perbandingan antara ukuran cekungan terhadap garis tengah diskus misalnya
cawan kecil rasionya 0,1 dan cawan besar 0,9. Apabila terdapat kehilangan
lapangan pandang atau peningkatan tekanan intraokular, rasio cawan diskus
lebih dari 0,5 atau terdapat asimetri yang bermakna antara kedua mata
diindikasikan adanya atrofi gluakomatosa.
D. Pemeriksaan Lapangan Pandang
Lapangan pandang adalah bagian ruangan yang terlihat oleh suatu mata
dalam sikap diam memandang lurus ke depan. Lapangan pandang normal adalah
90 derajat temporal, 50 derajat atas, 50 derajat nasal dan 65 derajat bawah.
Berbagai cara untuk memeriksa lapangan pandang pada glaukoma adalah
automated perimeter (misal Humphrey, Octopus, atau Henson), perimeter
Goldmann, Friedmann field analyzer, dan layar tangent.
Perimeter berupa alat berbentuk setengah bola dengan jari-jari 30 cm,
dan pada pusat parabola ini mata penderita diletakkan untuk diperiksa. Objek
digeser perlahan-lahan dari tepi ke arah titik tengah kemudian dicari batas-batas
pada seluruh lapangan pada saat benda mulai terlihat.

21
Penurunan lapangan akibat glaukoma sendiri tidak spesifik karena
gangguan ini terjadi akibat defek berkas serat saraf yang dapat dijumpai pada
semua penyakit saraf optikus. Gangguan lapangan pandang akibat glaukoma
terutama mengenai 30 derajat lapangan pandang bagian tengah. Perubahan
paling dini adalah semakin nyatanya skotoma relative atau absolut yang terletak
pada 30 derajat sentral.. Pada stadium akhir penyakit, ketajaman penglihatan
sentral mungkin normal tetapi hanya 5 derajat lapangan pandang di tiap-tiap
mata. Pada glaukoma lanjut, pasien mungkin memiliki ketajaman penglihatan
20/20 tetapi secara legal buta

2.2.5 Diagnosis

1. Anamnesis
Anamnesis pada pasien ditanyakan spesifik pada
a. Keluhan Utama
b. Keluhan Tambahan
c. Riwayat Penyakit Sekarang
 Glaukoma primer sudut terbuka : penurunan ketajaman
penglihatan progresif, sakit kepala, sakit mata,
halo/pelangi disekitar lampu.
 Glaukoma primer sudut tertutup : penurunan ketajaman
penglihatan mendadak, nyeri hebat periorbita, pusing,
mual muntah, mata merah, bengkak, berair, halo/pelangi
disekitar lampu.
 Glaukoma sekunder : keluhan mengarah pada
penyakit/keadaan lain yang dapat menjadi penyebab
peningkatan TIO.
 Glaukoma kongenital : mata berair berlebihan, bola mata
membesar, silau, bayi tidak tahan sinar matahari dan
menjauhi sinar dengan menyembunyikan mata.

22
 Glaukoma absolut : kebutaan total, mata lelah, mata keras
seperti batu, nyeri periorbita.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat penyakit mata seperti mata merah, gangguan
lapang pandang, katarak, uveitis, retinopati diabetic,
oklusi vascular dan trauma
 Riwayat penyakit dahulu seperti operasi mata
 Riwayat penyakit sistemik hipertensi, DM, penyakit CVS
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Glaukoma, miopi, penyakit CVS, DM, migraine,
Hipertensi, vasospasme.

f. Riwayat Pengobatan
Antihipertensi dan steroid topical
g. Riwayat Alergi

2. Pemeriksaan Fisik Oftamologis


a. Visus
Ketajaman penglihatan dapat normal atau menurun secara
progresif tetapi terjadi penurunan ketajaman penglihatan
mendadak pada glaukoma akut.
b. Kornea
Edema dan keruh
c. Kamera Okuli Anterior
 Glaukoma sudut terbuka : normal
 Glaukoma sudut tertutup : dangkal
 Glaukoma kongenital : dalam sekali
d. Pupil
Reflex cahaya pupil dapat poitif atau negative.
e. Lensa
Bisa keruh dan adanya iris shadow

23
3. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata


Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan
tonometer. Pemeriksaan tekanan yang dilakukan dengan tonometer pada bola
mata dinamakan tonometri. Tindakan ini dapat dilakukan oleh dokter umum dan
dokter spesialis lainnya. Pengukuran tekanan bola mata sebaiknya dilakukan
pada setiap orang berusia di atas 20 tahun pada saat pemeriksaan fisik medic
secara umum. Dikenal beberapa alat tonometer seperti alat tonometer Schiotz
dan tonometer aplanasi Goldman.
- Tonometri Palpasi

Gambar 2.6 Tonometri Palpasi


Pemeriksaan ini adalah untuk menentukan tekanan bola mata dengan
cepat yaitu dengan memakai ujung jari pemeriksa tanpa memakai alat khusus.
Dengan menekan bola mata dengan jari pemeriksa diperkirakan besarnya
tekanan di dalam bola mata. Pemeriksaan dilakukan dengan cara sebagai berikut.
 Penderita disuruh melihat ke bawah
 Kedua telunjuk pemeriksa diletakka pada kulit kelopak tarsus atas
penderita
 Jari-jari lain bersandar pada dahi penderita
 Satu telunjuk mengimbangi tekanan sedangkan telunjuk lain
menekan bola mata.

Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat


menyatakan tekanan mata N+1, N+2, N+3 atau N-1, N-2, N-3 yang menyatakan
lebih tinggi atau lebih rendah daripada normal. Cara ini sangat baik pada

24
kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau dinilai seperti pada
sikatrik kornea, kornea irregular dan infeksi kornea. Cara pemeriksaan ini
memerlukan pengalaman pemeriksaan karena terdapat faktor subyektif
- Tonometri Schiotz

Gambar 2.6 Tonometri Schiotz


Tonometri Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana. Pengukuran
bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu dengan teknik melihat daya tekan
alat pada kornea karena itu dinamakan juga tonometry indentasi Schiotz. Dengn
tonometer Schiotz dilakukan indentasi penekanan terhadap kornea.
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan posisi
horizontal dan mata ditetesi dengan obat anestesi topical atau pantokain 0,5%.
Penderita diminta melihat lurus ke jari jempol yang diacungkan ke atas.
Pemeriksa berdiri di sebelan kanan penderita. Kelopak mata dibuka lebar dengan
bantuan jari pemeriksa dan perlahan tonometer diletakkan di atas kornea.
Tonometer Schiotz kemudian diletakkan di atas permukaan kornea,
sedangkan mata yang lainnya berfiksasi pada satu titik. Jarum tonometer akan
menunjuk pada suatu angka di atas skala. Iap angka pada skalai disediakan pada
tiap tonometer. Apabila dengan beban 5,5gr (standar) terbaca angka 3 atau
kurang, perlu diambil beban 7,5 atau 10 gr. Untuk tiap beban memiliki kolom
tabel tersendiri

25
- Tonometer aplanasi

Gambar 2.7 Tonometer aplanasi


Cara mengukur tekanan intraocular yang lebih canggih dan lebih dapat
dipercaya dan cermat bisa dikerjakan dengan Goldman atau dengan tonometer
tentengan Draeger. Pasien duduk di depan slit lamp. Pemeriksa hanya
memerlukan waktu beberapa detik setelah diberi anastesi. Yang diukur adalah
gaya yang diperlukan untuk menampakkan daerah kornea yang sempit.
Setelah mata ditetesi anastesi dan flouresein, prisma tonometer aplanasi
di letakkan pada kornea. Mikrometer disetting untuk menaikkan tekanan pada
mata sehingga gambar sepasang setengah lingkaran simeteris berpendar karena
flouresein tersebut. Ini menunjukkan bahwa di semua bagian kornea yang
bersinggungan dengan alat ini sudah teraplanasi. Dengan melihat melalui
mikroskop slit lamp dan dengan memutar tombol, ujung dalam kedua setengah
lingkaran berpendar tersebut diatur agar bertemu yang menunjukkan besarnya
tekanan intraocular. Hasil pemeriksaan dapat dibaca langsung dari skala
micrometer dalam mmHg.

26
b. Gonioskopi

Gambar 2.8 Pemeriksaan Gonioskopi


Pemeriksaan gonioskoi adalah tindakan untuk melihat pertemuan iris
dengan kornea disudut bilik mata digunakan goniolens dengan suatu sistem
prisma dan penyinaran yang dapat menunjukkan keadaan sudut bilik mata.
Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut
bilik mata, juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata
seperti benda asing. Dengan gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaukoma
penderita apakah glaukoma terbuka atau glaukoma sudut tertutup dan dapat
menerangkan penyebab suatu glaukoma sekunder.

Dapat dinilai besar atau terbukanya sudut :


i. Derajat 0, bila tidak terlihat struktur sudut dan terdapat
kontak, kornea dengan iris, disebut sudut tertutup
ii. Derajat 1, bila tidakterlihat ½ bagian trabekulum sebelah
belakang, dan garis Schwalbe terlihat disebut sudut sangat
sempit. Sudut sangat smpit sangat mungkin menjadi sudut
tertutup

27
iii. Derajat 2, bila sebagian kanal Schlemm terlihat disebut
sudut sempit sedang kelainan ini mempunyai kemampuan
untuk tertutup
iv. Derajat 3, bila bagian belakang kanal Schlemm masih
terlihat termasuk scleral spur, disebut sudut terbuka. Pada
keadaan ini tidak akan terjadi sudut tertutup
v. Derajat 4, bila badan siliar terlihat, disebut sudut terbuka

Gambar 2.9 Skala penilaian gonioskopi

c. Oftalmoskopi
Oftalmoskopi adalah pemeriksaan ke mata bagian dalam dengan
memakai alat yang disebut oftalmoskop. Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf
optic di dalam mata dan akan dapat ditentukan apakah tekanan bola mata telah
mengganggu saraf optic. Saraf optic dapat dilihat secara langsung. Warna serta
bentuk dari mangkok saraf optic pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada
kerusakan akibat glaukoma yang sedang diderita.
Kelainan pada pemeriksaan oftalmoskopi dapat dilihat :
i. Kelainan papil saraf optic
 Saraf optic pucat atau atrofi
 Saraf optic bergaung
ii. Kelainan serabut retina, serat yang pucat atau atrofi akan
berwarna hijau
iii. Tanda lainnya seperti perdarahan peripapilar

28
Gambar 2.10 Nervus optikus normal dan lesi glaukoma
nervus optikus

d. Pemeriksaan Lapang Pandang


Pemeriksaan ini penting baik untuk menegakkan daignosa maupun untuk
meneliti perjalanan penyakitnya, juga bagi menetukan sikap pengobatan
selanjutnya. Harus selalu diteliti keadaan lapang pandangan perifer juga sentral.
Pada glaukoma yang masih dini, lapang pandang perifer belum menunjukkan
kelainan, tetapi lapang pandangan sentral sudah menunjukkan adanya
bermacam-macam skotoma. Jika glaukomanya sudah lanjut, lapang pandang
perifer juga memberikan kelainan berupa penyempitan yang dimula dari bagian
nasal atas. Yang kemudian akan bersatu dengan kelainan yang ada ditengah
yang dapat menimbulkan tunnel vision, seolah-olah lihat melalui teropong untuk
kemudian menjadi buta.

29
e. Tes Provokasi
i. Tes minum air
Penderita disuruh berpuasa, tanpa pengobatan
selama 24 jam. Kemudian disuruh minum 1L air dalam 5
menit. Lalu tekanan intraocular diukur setiap 15 menit
selama 1,5 jam. Kenaikan 8 mmHg atau lebih, dianggap
mengidap glaukoma.
ii. Pressure Congestive test
Pasang tensimeter pada ketinggian 50-60mmHg,
selama 1 menit. Kemudian ukur tensi intraokularnya.
Kenaikan 9 mmHg atau lebih mencurigakan, sedang bila
bila lebih dari 11 mmHg pasti patologis.
iii. Kombinasi tes air minum dengan pressure congestive test
Setengah jam setelah tes minum air dilakukan
pressure congestive test. Kenaikan 11mmHg dianggap
mencurigakan, sedangkan kenaikan 39mmHg atau lebih
pasti patologis.
iv. Tes steroid
Diteteskan larutan deksametason 3-4 dd gt 1, selama
2 minggu. Kenaikan TIO 8 mmHg menunjukkan
glaukoma

f. Pachymetry
Pachymetry adalah suatu tes untuk mengukur ketebalan dari kornea.
Setelah mata diberikan anestesi, ujung dari pachymeter disentuhkan dengan
ringan pada permukaan depan mata (kornea). Ketebalan kornea pusat dapat
mempengaruhi pengukuran tekanan intraocular. Kornea yang lebih tebal dapat
memberikan pembacaan tekanan mata yang tinggi secara salah dan kornea yang
lebih tipis dapat memberikan pembacaan tekanan yang rendah secara salah.
Lebih jauh, kornea-kornea tipis mungkin adalah suatu faktor risiko tambahan
untuk glaucoma.

30
2.2.8 Penatalaksaan

 Beta-adrenergic antagonists
Bekerja melawan, atau menghalangi, unsur-unsur yang menyerupai
adrenalin. Obat-obat tetes (drops) ini bekerja pada perawatan glaucoma dengan
mengurangi produksi dari aqueous humor. Bertahun-tahun, mereka adalah
standar emas (dibandingkan dengan bahan-bahan lain) untuk merawat glaucoma.
Obat-obatan ini termasuk timolol (Timoptic), levobunolol (Betagan), carteolol
(Ocupress), dan metipranolol (Optipranolol).
Dipakai satu atau dua kali dalam sehari, drops ini sangat efektif.
Bagaimanapun, efek-efek samping, seperti perburukan dari asma atau
emphysema, bradycardia (denyut jantung yang lambat), tekanan darah rendah,
kelelahan, dan impoten melarang pemakaiannya pada beberapa pasien-pasien.
Betaxolol (Betoptic) adalah suatu beta-adrenergic antagonist yang lebih selektif
kerjanya hanya pada mata dan, oleh karena itu, membawa lebih sedikit risiko
efek-efek samping terhadap jantung (cardiac) atau paru-paru (pulmonary) dari
pada drops lainnya dari tipe ini.

 Prostaglandin analogs
Adalah serupa dalam struktur kimianya dengan prostaglandin-
prostaglandin tubuh. Prostaglandin-prostaglandin adalah unsur-unsur yang
menyerupai hormon yang terlibat dalam suatu cakupan lebar dari fungsi-fungsi
di seluruh tubuh. Drops ini bekerja pada glacoma dengan meningkatkan
pengeluaran (drainage) cairan dari mata.
Prostaglandin analogs telah menggantikan timolol sebagai drops untuk
glaucoma yang paling umum diresepkan. Mereka dapat dipakai hanya satu kali
dalam sehari. Obat-obatan kelas ini mempunyai lebih sedikit efek-efek samping
sistemik (melibatkan sisa tubuh) dari pada timolol, namun dapat merubah warna
dari iris dan juga menebalkan dan menggelapkan bulu-bulu mata. Drops ini
rupanya juga menyebabkan kemerahan mata dibanding dengan obat-obat tetes
mata dari kelas-kelas lainnya. Pada beberapa pasien-pasien, mereka juga dapat

31
menyebabkan peradangan didalam mata. Obat-obatan ini termasuk latanoprost
(Xalatan), travoprost (Travatan), dan brimatoprost (Lumigan).

 Adrenergic agonists
Adalah suatu tipe dari drops yang bekerja seperti adrenalin. Mereka
bekerja pada glaucoma dengan kedua-duanya yaitu mengurangi produksi cairan
oleh mata dan meningkatkan pengeluarannya (drainage). Adrenergic agonist
yang paling populer adalah brimonidine (Alphagan). Bahan ini rupanya
melindungi syaraf optik dari kerusakan diluar hanya menurunkan tekanan
intraocular. Bagaimanapun, ada risiko sampai 12% dari reaksi-reaksi alergi lokal
(mata). Anggota-anggota lain dari obat-obat tetes kelas ini termasuk
epinephrine, dipivefrin (Propine), dan apraclonidine (Iopidine). Carbonic
anhydrase inhibitors bekerja pada glaucoma dengan mengurangi produksi cairan
didalam mata. Bentuk-bentuk tetes mata dari obat-obatan tipe ini termasuk
dorzolamide (Trusopt) dan brinzolamide (Azopt). Mereka dipakai dua atau tiga
kali dalam sehari.

 Carbonic anhydrase inhibitors


Dipakai dengan cara lain sebagai pil-pil (secara sistimatis) untuk
menghilangkan cairan dari tubuh pada pasien-pasien dengan pembengkakkan
(edema) yang disebabkan oleh penahanan cairan. Bentuk-bentuk oral dari obat-
obatan ini yang dipakai untuk glaucoma termasuk acetazolomide (Diamox) dan
methazolamide (Neptazane). Penggunaan mereka dalam kondisi ini,
bagaimanapun, dibatasi oleh efek-efek samping sistemik (keseluruh tubuh)
mereka, termasuk pengurangan dari potassium tubuh, batu-batu ginjal, sensasi-
sensasi kekebasan (mati rasa) atau rasa geli pada tangan-tangan dan kaki-kaki,
kelelahan, dan mual.

 Parasympathomimetic agents
Disebut miotics karena mereka menyempitkan pupil-pupil, bekerja
dengan melawan unsur-unsur yang menyerupai adrenalin. Mereka bekerja pada
32
glaucoma dengan meningkatkan pengeluaran aqueous dari mata. Drops-drops ini
termasuk pilocarpine, demecarium (Humorsol), echothiophate (Phospholine
Iodide), dan isoflurophate (Floropryl).
Parasympathomimetics telah digunakan bertahun-tahun untuk merawat
glaucoma, namun mereka sekarang ini tidak disukai karena mereka perlu
digunakan tiga sampai empat kali dalam sehari dan menghasilkan efek-efek
samping didalam mata. Efek-efek samping ini termasuk suatu pupil kecil,
penglihatan kabur, suatu kening yang sakit, dan suatu peningkatan risiko dari
pelepasan retina (retinal detachment). Pada saat ini, pilocarpine adalah satu-
satunya dari obat-obatan ini yang digunakan untuk glaucoma. Dipakai terutama
untuk menjaga pupil tetap kecil pada pasien-pasien dengan konfigurasi iris
tertentu (plateau iris) atau pada pasien-pasien dengan sudut sempit (narrow
angle) sebelum laser iridotomy.

 Osmotic agents
Adalah suatu kelas tambahan dari obat-obatan yang digunakan untuk
merawat bentuk-bentuk mendadak (akut) dari glaucoma dimana tekanan mata
tetap sangat tinggi walaupun dengan perawatan-perawatan lainnya. Obat-obatan
ini termasuk Isosorbide (diberikan melalui mulut) dan Mannitol (diberikan
melalui vena-vena). Obat-obatan ini harus digunakan secara hati-hati karena
mereka mempunyai efek-efek samping termasuk mual, akumulasi cairan pada
jantung dan/atau pada paru-paru (gagal jantung congestive dan/atau pulmonary
edema), perdarahan di otak, dan persoalan-persoalan ginjal. Penggunaan mereka
dilarang pada pasien-pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol, persoalan-
persoalan dengan jantung, ginjal, atau hati (hepar).
Beberapa kelas-kelas baru dari obat-obat tetes glaucoma pada saat ini
sedang dalam pengembangan atau menunggu persetujuan FDA.

33
Laser atau Operasi
Penatalaksanaan yang dapat digunakan untuk low tension glaucoma ialah
trabeculoplasty. Sebeneranya ada beberapa bentuk-bentuk terapi laser untuk
glaukoma. Laser iridotomy melibatkan pembuatan suatu lubang pada bagian
mata yang berwarna (iris) untuk mengizinkan cairan mengalir secara normal
pada mata dengan sudut sempit atau tertutup (narrow or closed angles). Laser
trabeculoplasty adalah suatu prosedur laser dilaksanakan hanya pada mata-
mata dengan sudut-sudut terbuka (open angles). Laser trabeculoplasty tidak
menyembuhkan glaucoma, namun sering dilakukan daripada meningkatkan
jumlah obat-obat tetes mata yang berbeda-beda. Pada beberapa kasus-kasus, dia
digunakan sebagai terapi permulaan atau terapi utama untuk open-angle
glaucoma. Prosedur ini adalah metode yang cepat, tidak sakit, dan relatif aman
untuk menurunkan tekanan intraocular. Dengan mata yang dibius dengan obat-
obat tetes bius, perawatan laser dilaksanakan melalui lens kontak yang berkaca
pada sudut mata (angle of the eye). Microscopic laser yang membakar sudut
mengizinkan cairan keluar lebih leluasa dari kanal-kanal pengaliran.

Laser trabeculoplasty sering dilaksanakan dalam dua sesi, minggu atau


bulan terpisah. Sayangnya, pengaliran yang diperbaiki sebagai hasil dari
perawatan mungkin berlangsung hanya kira-kira dua tahun, dimana saat itu
kanal-kanal pengaliran (drainage channels) bertendensi untuk tersumbat lagi.
Ada dua tipe dari laser trabeculoplasty: argon laser trabeculoplasty (ALT) dan
selective laser trabeculoplasty (SLT). ALT pada umumnya tidak diulang setelah
sesi kedua disebabkan oleh pembentukkan dari jaringan parut pada sudut
(angle). SLT kelihatannya tidak menghasilkan luka parut pada sudut, jadi, secara
teori, dia dapat diulang beberapa kali. Bagaimanapun, kemungkinan untuk
sukses dengan perawatan-perawatan tambahan tetap sangat kecil. Jadi, pilihan-
pilhan untuk pasien pada saat itu adalah untuk memulai lagi menggunakan obat-
obat tetes mata atau meneruskan pada operasi.

34
Laser cilioablation (juga dikenal sebagai penghancuran badan ciliary atau
cyclophotocoagulation) adalah bentuk lain dari perawatan yang umumnya
dicadangkan untuk pasien-pasien dengan bentuk-bentuk yang parah dari
glaucoma dengan potensi penglihatan yang miskin. Prosedur ini melibatkan
pelaksanaan pembakaran laser pada bagian mata yang membuat cairan aqueous
(ciliary body). Pembakaran laser ini menghancurkan sel-sel yang membuat
cairan, dengan demikian mengurangi tekanan mata. Tipe laser ini secara khas
dilaksanakan setelah terapi-terapi lain yang lebih tradisional gagal.

Operasi Glaucoma
Trabeculectomy adalah suatu prosedur operasi mikro yang sulit,
digunakan untuk merawat glaucoma. Pada operasi ini, suatu potongan kecil dari
trabecular meshwork yang tersumbat dihilangkan untuk menciptakan suatu
pembukaan dan suatu jalan kecil penyaringan yang baru dibuat untuk cairan
keluar dari mata. Untk jalan-jalan kecil baru, suatu bleb penyaringan kecil
diciptakan dari jaringan conjunctiva (conjunctival tissue). Conjunctiva adalah
penutup bening diatas putih mata. Filtering bleb adalah suatu area yang timbul
seperti bisul yang ditempatkan pada bagian atas mata dibawah kelopak atas.
Sistim pengaliran baru ini mengizinkan cairan untuk meninggalkan mata, masuk
ke bleb, dan kemudian lewat masuk kedalam sirkulasi darah kapiler (capillary
blood circulation) dengan demikian menurunkan tekanan mata. Trabeculectomy
adalah operasi glaucoma yang paling umum dilaksanakan. Jika sukses, dia
merupakan alat paling efektif menurunkan tekanan mata.

Aqueus shunt devices (Glaucoma implants or tubes) adalah alat-alat


pengaliran tiruan untuk menurunkan tekanan mata. Meraka pada dasarnya
adalah tabung-tabung mikroskopic yang dipasang pada suatu reservoir.
Reservoir ini ditempatkan dibawah jaringan conjunctiva (conjunctival tissue).
Tabung yang sesungguhnya (yang memanjang dari reservoir) ditempatkan
didalam mata untuk menciptakan suatu jalan kecil baru untuk cairan keluar dari
mata. Cairan ini berkumpul diatas reservoir dibawah conjunctiva menciptakan

35
suatu filtering bleb. Prosedur ini mungkin dilaksanakan sebagai suatu alternatif
dari trabeculectomy pada pasien-pasien dengan tipe-tipe tertentu glaucoma.

Viscocanalostomy adalah suatu prosedur operasi alternatif yang digunakan


untuk menurunkan tekanan mata. Dia melibatkan penghilangan suatu potongan
dari sclera (dinding mata) untuk meninggalkan hanya suatu membran yang tipis
dari jaringan melaluinya cairan aqueous dapat dengan lebih mudah mengalir.
Ketika dia lebih tidak invasiv dibanding trabeculectomy dan aqueous shunt
surgery, dia juga bertendensi lebih tidak efektif.
Ahli bedah kadangkala menciptakan tipe-tipe lain dari sistim pengaliran
(drainage systems). Ketika operasi glaucoma seringkali efektif, komplikasi-
komplikasi, seperti infeksi atau perdarahan, adalah mungkin. Maka, operasi
umumnya dicadangkan untuk kasus-kasus yang dengan cara lain tidak dapat
dikontrol.

36
BAB 3

PEMBAHASAN KASUS

Pasien datang ke Poli Mata RSU Haji Surabaya dengan keluhan mata kemeng
sebelah kanan sejak 4 tahun yang lalu. Pasien juga mengeluh matanya kabur dengan
cepat. Pasien juga mengeluh matanya merah dan berair. Pasien juga merasakan
seperti melihat ada sumber cahaya seperti pelangi menjelang sore hari. Tidak adanya
mual, muntah.
Berdasarkan teori, pasien dengan glaukoma mengalami penurunan ketajaman
penglihatan, mata merah, mata berair, sakit mata, halo/pelangi disekitar lampu,
sehingga sama dengan keluhan pasien pada kasus ini. Kemudian kalau melihat dari
umur pasien di atas 70 tahun, merupakan factor resiko terjadinya glaucoma.
Pada planing diagnosa di canangkan untuk di lakukan pemeriksaan lapang
pandang ( humpry test) untuk mengetahui kelainan-kelainan diskus optikus dan
gonioskopi untuk mengetahui sudut bilik mata depan dan juga akan di lakukan
medriatikum untuk melihat segmen posterior dari mata.
Terapi medikamentosa diberikan cendo lyteers 4x1 pada kedua mata, Timolol
eyedrop 2x1 tetes/ hari mata kanan dan kiri, Xalatan eyedrop 1x1 tetes/hari mata
kanan dan kiri dimana obat tetes ini mengandung ion kalium dan natrium dengan
benzalkonium dengan indikasi sebagai emolien/ pelembut dan pengganti air mata.

37
Daftar Pustaka

1. Vaughan DG, EVA RP, Asbury T., Oftalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika.
Jakarta. 2000.
2. American Health Assistance Foundation. How The Build Up of Aqueous Humor
Can Damage The Optic Nerve 2000; available at :
http://www.ahaf.org/glaucoma/about/understanding/build-up-of-aqueous.html,
2000.
3. Kanski J J. Atlas Bantu Oftalmologi. Hipokrates. Jakarta. 1992.
4. World Health Organization. Glaucoma; available at : http://who.int. 2002.
5. Riset Kesehatan Dasar. 2007.
6. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2001.
7. Epstein, DL. Chandler and Grant’s Glaucoma 3 ed. Philadelphia : Lea & Febiger,
1986.
8. Ilyas S, Tanzil M, Salamun, Azhar Z. Sari Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta. 2000.
9. Ilyas, Sidarta. Atlas Ilmu Penyakit Mata. Sagung Seto. Jakarta. 2001.
10. Ilyas, Sidarta. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta. 2000.
11. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi ed 9. Jakarta. EMS. 2005.
12. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 5 tahun 2014 tentang Panduang Praktik Klinis Bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta. Depkes RI. 2014.
13. Wijaya Nana. Ilmu Penyakit Mata. Abadi Tegal. Jakarta. 1993.
14. Gleadle, Jonathan. At A Glance : Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta EGC
Medical Series. 2005.
15. Ilyas, Sidarta. Glaukoma ed 3. Jakarta. Sagung Seto. 2007.

38