Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN

KAJIAN SISTEM UTILITAS PADA BANGUNAN TINGGI

DISUSUN OLEH :
Kelompok 2

Dzaky Al-wijdan Munthe (1804104010013)

Almer Rico Raihan (1804104010014)


Diky Hendrawan (1804104010016)

MATA KULIAH

TAR 209 UTILITAS BANGUNAN

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR JURUSAN


ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kami kekuatan
sehingga penyusunan laporan survei mata kuliah Utilitas Bangunan yang
berjudul “Kajian Sistem Utilitas Pada Bangunan Tinggi” dapat
diselesaikan. Laporan ini berisi penjelasan mengenai sistem Utilitas pada
suatu bangunan tinggi, dan juga informasi lainnya yang kami anggap perlu
diketahui oleh mahasiswa jurusan arsitektur dari Bangunan bangunan tinggi
mengenasi sitem utilitas. Dalam penyusunannya, kami merasa masih
banyak yang perlu ditambahkan. Karena itu, saran dan kritikannya sangat
kami perlukan demi kesempurnaan laporan ini kedepan.

Darussalam, 16 Desember 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Utilitas Bangunan .......................................................
2.2 Sistem Plumbing ..........................................................................
2.3

BAB III HASIL SURVEY


3.1 Data Survey ..................................................................................

BAB IV ANALISA HASIL SURVEY


4.1 Analisa Hasil Survey ....................................................................

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ..................................................................................
5.2 Saran .............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suatu bangunan atau ruang dirancang untuk menunjang kegiatan pemakaianya
sehingga orang tersebut bisa nyaman dalam ruang tersebut. Untuk menunjang itu
salah satu faktor yang harus dipenuhi adalah sistem utilitas pada bangunan tersebut.
Sistem utilitas harus direncanakan terlebih dahulu sebelum membangun bangunan,
sistem ini menyangkut masalah sistem plambing (seperti menyangkut masalah air
bersih, kotor, buangan, dan air hujan), sistem sampah (yaitu bagaimana masalah
sampah yang diselesaikan pada bangunan tersebut), pencahayaan alami,
penghawaan alami, pengkondisian udara (AC langsung), sistem tranportasi
bangunan (non mekanis)

Sistem utilitas sangat berpengaruh pada tingkat kenyamanan ruang, semakin baik
sistem utilitasnya maka semakin nyaman ruang tersebut untuk ditempati. Ini terjadi
karena sistem utilitas menyangkut pada masalah- masalah pokok yang harus ada
pada bangunan, seperti halnya sistem sampah, jika sistem sampah ini tidak
direncanakan/ dipikirkan terlebih dahulu maka bisa juga ruang tersebut tidak bisa
mendukung sistem sampah pada ruang tersebut seperti tidak ada lalu lintas/ jalur
pengangkutan sampah yang baik pada ruangan, tempat- tempat pengumpulan
sampah tidak strategis. Selain itu permasalahan akan timbul pada sistem utilitas
yang lain seperti masalah sistem plambing, pencahayaan, penghawaan, dan sistem
tranportasi bangunan yang dapat membuat masalah baru seperti penggadaan air,
pencahayaan yang tidak sesuai, tidak terdapat penghawaan yang maksimal, dan
lain- lain.

Pada kenyataannya banyak bangunan-bangunan dilapangan yang banyak tidak


memperhatikan sistem utilitasnya. Sehingga bangunan tersebut tidak dapat
menunjang kenyamanan penggunanya. Oleh karena itu Sistem Utilitas pada
Bangunan menarik untuk diteliti, khususnya pada sistem instalasi plumbing air

4
bersih dan kotor, instalasi sistem AC, serta instalasi sistem fire protection. Dengan
mengetahui sistem utilitas yang tepat pada bangunan akan membuat kita lebih
mudah dalam merancang suatu ruang yang nyaman bagi pengguna maupun
sekitarnya.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah berupa :


1. Bagaimana Sistem Instalasi Air Conditioning (AC) pada bangunan Tinggi?
2. Bagaimana Instalasi Plumbing Air Bersih dan Air kotor pada Bnagunan
tinggi?
3. Bagaimana system fire protection pada Bangunan tinggi?
4. Bagaimana mobilitas dalam gedung bangunan tinggi?

1.3. Tujuan Penelitian


Adapun Tujuan dari Mata Kuliah Utilitas yaitu memberikan pemahaman kepada
mahasiswa tentang kinerja bangunan tinggi khususnya sistem utilitas bangunan
yang mendukung aktifitas manusia di dalam dan di luar bangunan.
Adapun Tujuan dari analisis ini yaitu sebagai berikut :
1. Mengetahui Sistem Instalasi Air Conditioning (AC)
2 Mengetahui Instalasi Plumbing Air Bersih dan Air kotor
3 Mengetahui Instalasi system fire protection.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Bangunan Tinggi

High rise building atau bangunan tinggi merupakan istilah yang sering digunakan
merujuk kepada bangunan yang memiliki struktur menjulang tinggi atau bangunan
dengan jumlah tingkat yang banyak.

Sejatinya penambahan ketinggian sebuah bangunan dilakukan untuk memperluas


ruang fungsi dari bangunan tersebut. Beberapa tipologi bangunan tinggi
diantaranya adalah bangunan apartemen dan perkantoran. Hal ini karena dengan
penambahan jumlah lantai maka akan mengurangi luas bijak bangunan tersebut
sehingga lebih sedikit memakan lahan.

Bangunan tinggi akan ideal ditinggali jika ada lift atau elevator dan tentunya
didukung oleh struktur bangunan yang kuat dan tahan lama.Tanpa adanya live
otomatis ini maka akan sangat melelahkan bagi penghuni untuk naik ke lantai yang
paling tinggi.

Sebuah bangunan dapat disebut bangunan tinggi atau high rise building jika
bangunan tersebut memiliki ketinggian 23 meter hingga 150 meter di atas tanah.
Jika lebih dari 150 meter maka dapat disebut gedung pencakar langit atau yang
dikenal dengan istilah Skyscraper. Jika tinggi rata-rata sebuah tingkat lantai adalah
4 meter maka bangunan tinggi setidaknya memiliki 6 tingkat lantai.

Beberapa definisi mengenai bangunan tinggi dikutip dari Wikipedia adalah sebagai
berikut :
1. International Conference on Fire Safety in High-Rise Buildings mengartikan
bangunan tinggi sebagai "struktur apapun dimana tinggi dapat memiliki
dampak besar terhadap evakuasi"

6
2. New Shorter Oxford English Dictionary mengartikan bangunan tinggi
sebagai "bangunan yang memiliki banyak tingkat"
3. Massachusetts General Laws mengartikan bangunan tinggi lebih tinggi dari
70 kaki (21 m)
4. Banyak insinyus, inspektur, arsitek bangunan dan profesi sejenisnya
mengartikan bangunan tinggi sebagai bangunan yang memiliki tinggi
setidaknya 75 kaki (23 m).

Karakteristik High Rise Building


Bangunan tinggi tentunya memiliki karakter yang berbeda dengan bangunan yang
lebih rendah. Adapun karakteristik dari bangunan tinggi ini adalah sebagai berikut:
1. Tinggi Bangunan. Seperti yang disebutkan diatas sebuah bangunan disebut
bangunan tinggi atau high rise building apabila memiliki ketinggian
setidaknya 23 meter atau 6 lantai.bangunan semacam ini sudah banyak
ditemukan di kota-kota besar di indonesia.
2. Luas Per Lantai. Bangunan tinggi merupakan bangunan yang hemat lahan dan
biasanya memiliki luas tapak yang kecil karena titik umumnya luas pantai
berkisar antara 750 m2 hingga 1500 meter persegi.
3. Tipe Struktur. Sebuah bangunan tinggi harus didukung dengan struktur yang
kuat menahan beban bangunan maupun momen dari ketinggiannya. Ada tiga
macam struktur yaitu open frame, flat slab dan bearing wall system. Dari
ketiga tipe ini tipe yang paling banyak digunakan adalah open frame karena
lebih efisien dalam penggunaan material.
4. Tipikal. Umumnya denah lantai bangunan tinggi memiliki bentuk yang tipikal
lurus ke atas.dengan membuat lantai yang tipikal ke atas maka akan
memudahkan dalam perencanaan dan pelaksanaannya terutama dari segi
struktur. Biasanya ukuran lantai akan mengecil keatas untuk menekan
moment akibat ketinggian bangunan.
5. Keterbatasan Lahan. Bangunan tinggi merupakan salah satu solusi
menghadapi masalah keterbatasan lahan. Namun dengan keterbatasan lahan
ini biasanya bangunan tinggi akan menggunakan area parkir bertingkat.

7
Dengan keterbatasan lahan maka bangunan tinggi biasanya jarang yang
memiliki landscape yang baik kecuali menggunakan vertical garden atau sky
garden.
6. Risiko Angin Dan Gempa. Biasanya bangunan tinggi memiliki bentuk yang
langsing dan tinggi. Secara fisika maka bangunan ini akan sangat dipengaruhi
oleh adanya gempa maupun tekanan angin dari sekeliling bangunan. Untuk
itu biasanya bangunan tinggi memiliki sistem aerodinamika yang baik serta
struktur yang dapat bertahan dalam goncangan.
7. Resiko Roboh. Semakin tinggi sebuah bangunan maka semakin besar pula
resikonya untuk roboh. Berdasarkan hal ini maka pembangunan sebuah high
rise building memerlukan perencanaan yang matang dan antisipasi berbagai
kemungkinan yang dapat terjadi saat pelaksanaan konstruksi.
8. Kompleksitas Tinggi. Pembangunan sebuah high rise building merupakan
pekerjaan yang kompleks karena selain melibatkan banyak pihak, durasi
pelaksanaan yang panjang, melibatkan disiplin ilmu yang banyak, berdampak
besar kepada lingkungan, dan memiliki risiko yang sangat tinggi dari segi
keselamatan. Sehingga dari berbagai jenis bangunan, jenis high rise building
merupakan jenis bangunan yang paling kompleks.
9. Volume Pekerjaan Yang Besar. Bangunan tinggi dibuat dengan cara
menumpuk berbagai material hingga menjelang tinggi ke atas. Dengan
jumlah lantai yang banyak maka kebutuhan akan material tentunya sangat
banyak sehingga pekerjaan bangunan tinggi merupakan pekerjaan besar.
10. Kebutuhan Energi. Bangunan tinggi memiliki jumlah lantai yang banyak
otomatis jumlah penghuninya juga banyak. Hal ini menimbulkan kebutuhan
akan energi yang sangat besar. Selain energi listrik juga energi dari bahan
makanan bagi para penghuni bangunan. Sehingga tak jarang banyak tempat
makan yang berdiri untuk meladeni penghuni bangunan tinggi.
11. Nilai Arsitektural. Sebuah bangunan tinggi merupakan benda besar yang
berdiri diantara jutaan pasang mata di sekitarnya. Sehingga seringkali
bangunan tinggi memiliki nilai iconic dari sebuah kawasan. Untuk itu

8
diperlukan desain arsitektural yang baik sehingga bangunan terlihat menawan
dari segi estetika

2.2. Instalasi Sistem Plumbing Air Bersih dan Air Kotor

Sistem Plumbing merupakan suatu sistem penyediaan atau pengeluaran air (baik air
bersih maupun air kotor) yang dikehendaki tanpa ada gangguan atau pencemaran
terhadap daerah-daerah yang dilaluinya. Jenis peralatan plambing meliputi
peralatan untuk penyediaan air bersih, air panas, air kotor, pemadam kebakaran,
gas, oksigen, udara, dll.
Sistem Plumbing adalah sistem penyediaan air bersih dan sistem pembuangan air
kotor yang saling berkaitan serta merupakan paduan yang memenuhi syarat; yang
berupa peraturan dan perundangan, pedoman pelaksanaan, standar peralatan dan
standar instalasinya.
1. Jaringan Air Bersih
a. Perancangan kebutuhan Air Bersih
- Kebutuhan keseharian. Penggunaan air bersih pada tiap-tiap gedung
berbeda tergantung jumlah penghuninya dan luas dari bangunan
tersebut.berikut table kebutuhan keseharian air bersih.

9
- Sistem jaringan air bersih

SUMBER AIR
BERSIH

JARINGAN
TRANSMISI

PENYIMPANAN JALUR PENYIMPANAN


DISTRIBUSI

- Sistem distribusi air bersih


1) Up Feed System. Dalam sistem ini pipa distribusi langsung dari
tangki bawah tanah (ground tank) dengan pompa langsung
disambungkan dengan pipa utama penyediaan air bersih pada
bangunan, dalam hal ini menggunakan sepenuhnya kemampuan
pompa. Karena terbatasnya tekanan dalam pipa dan dibatasinya
ukuran pipa cabang dari pipa utama tersbut, sistem ini terutama dapat
diterapkan untuk perumahan dan gedunggedung kecil yang rendah.

10
2) Down Feed System. Dalam sistem ini, air ditampung terlebih dahulu
di tangki bawah (ground tank), kemudian dipompakan ke tangki atas
(upper tank) yang biasanya dipasang di atas atap atau di lantai
tertinggi bangunan. Dari sini air didistribusikan ke seluruh
bangunan.

- Pipa Distribusi

Pipa distribusi harus terbuat dari bahan-bahan tahan karat dengan jenis
sebagai berikut:
1) Logam (baja, besi atau tembaga yang digalvanis)
2) Plastik PE, PVC)

Pipa-pipa yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai


berikut:
1) Pipa yang dipakai tidak korosif pada permukaan aliran
2) Pipa mempunyai ketahanan terhadap tekanan air sesuai dnegan
desain jaringan dengan angka kenyamanan yang cukup
3) Kecepatan aliran dalam pipa tidak melebihi kecepatan standar
(berkaitan dnegan noise yang ditimbulkan) batas-batas kecepatan
tertinggi (biasanya 2m/detik atau kurang).

11
4) Pipa memenuhi syarat-syarat yang berkaitan dengan bahan dan
aspek encemaran, misalnya pipa tidak boleh bereaksi terhadap cairan
yang mengalir di dalamnya
5) Sistem yang dipilih pipa harus dirancang dan dipasang sedemikian
rupa sehingga udara maupun air kalau perlu dapat
dibuang/dikeluarkan dengan mudah (mudah diperbaiki dan diganti)
6) Pipa mendatar pada sistem pengaliran ke atas sebaiknya dibuat agak
miring ke atas (searah aliran) sedangkan pada sistem pengaliran ke
bawah dibuat agak miring ke bawah. Kemiringan sekitar 1/300
7) Pemipaan yang tidak merata, agak melengkung ke atas atau
melengkung ke bawah harus dihindarkan (misalnya ada erombakan
gedung) hendaknya dipasang katup pelepas udara.
8) Sambungan harus benar-benar tapat supaya air tidak dapat
merembes keluar/bocor
9) Pipa dan sambungannya harus mampu menahan kekuatan tekanan
air sebesar 10 kg/cm2
10) Bagian pipa melewati siar dilatasi bangunan harus diberi sambungan
fleksibel untuk menetralisir perubahan kedudukan pipa apabila
terjadi gempa.

2. Jaringan Air Kotor

Air kotor yang dibuang melalui alat-alat saniter, dialirkan melalui pipa
pembuangan air kotor ke tempat pengolahan air kotor (septic tank atau unit
pengolahan air kotor melalui riol kota). Pada umumnya air kotor
mengalirsecara gravitasi, penggunaan pompa hanya untuk memompa air
kotor dari bak periampung air kotor yang berlokasi di bagian bawah bangunan
(basement) ke unit pengolahan air kotor.

12
Jaringan air kotor dalam bangunan terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
1) Limbah cair, berupa air kotor yang berasal dari floor drain kamar
mandi, wastafel, dll.,
2) Limbah padat, yang berasal dari kloset kamar mandi,
3) Air hujan.
Pada penanganan limbah cair, air kotor yang berasal dari floor darain
kamar mandi, wastafel, tempat cuci piring dsb pada tiap lantai disalurkan ke
bawah melalui pipa menuju ke lantai dasar, lalu disalurkan menuju bak
kontrol. Kemudian air dialirkan menuju sumur resapan sebelum dibuang ke
saluran kota.
Pada penanganan limbah padat, kotoran yang berasal dari kloset tiap
lantai disalurkan melalui pipa limbah padat secara vertikal menuju ke lantai
dasar yang kemudian langsung disalurkan ke dalam septic tank. Pipa limbah
padat yang melintang secara horizontal harus memiliki kemiringan minimal
5% tiap 1 meter untuk meminimalkan resiko tersumbat. Karena hal ini,
penempatan septic tank juga perlu diperhatikan, apabila jaraknya semakin
jauh dari letak kloset lantai dasar, maka penempatan septic tank akan
membutuhkan kedalaman yang semakin besar. Pada septic tank, limbah
kemudian ditampung dan diendapkan, lalu air yang tersisa dialirkan ke
sumur resapan. Untuk penempatan septic tank beserta resapannya,
sebaiknya diletakkan berjauhan dengan sumur artesis maupun gorund water
tank, minimal berjarak 15 meter. Hal ini dilakukan agar jaringan air bersih
tidak tercemar limbah dari septic tank.
Untuk penanganan air hujan, digunakan talang yang disesuaikan
dengan bentuk atap, yang kemudian dialirkan secara vertikal melalui pipa
menuju ke bak kontrol yang sama dengan yang digunakan pada penanganan
limbah cair di lantai dasar.

13
2.3. Instalasi Sistem Air Conditioner

Sistem tata udara pada bangunan bertugas mengolah udara dan menghasilkan
kualitas udara yang baik (nyaman dan sehat) bagi penghuninya. Keberadaan sistem
tata udara sangat menunjang aktifitas dan produktifitas manusia. Sistem AC (air
Conditioning) atau sering disebut juga Sistem Tata Udara merupakan salah satu hal
yang penting sekarang ini, baik rumah, gedung perkantoran, mall, bandara dan lain
sebagainya. Diantara fungsi dari system tata udara adalah mengatur suhu udara,
mengatur sirkulasi udara, mengatur kelembaban (humidity) udara, mengatur
kebersihan udara. Dalam proses pendinginan udara, system pendingin udara dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu: mengunakan system direct cooling (system langsung), dan
system tidak langsung (indirect cooling).

Kenyamanan dalam suatu ruangan diperkantoran atau perumahan merupakan suatu


kebutuhan, terutama di Indonesia yang beriklim tropis (panas). Karena itu, sistem
pendingin udara atau sistem tata udara (sistem AC) telah menjadi suatu kebutuhan
di gedung-gedung, perkantoran, mall/plaza, bandara, dan perumahan. Secara umum
sistem tata udara berfungsi mempertahankan kondisi udara baik maupun
kelembaban agar udara terasa lebih nyaman. Diantara fungsi dari sistem tata udara
/ air conditioning yang lain adalah: Mengatur suhu udara, Mengatur sirkulasi udara,
Mengatur kelembaban udara, Mengatur kebersihan udara.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan pemasangan AC yaitu:
1. Penggunaan atau fungsi ruang
2. Ukuran Ruangan
3. Beban pendinginan
4. Banyaknya jendela kaca
5. Penempatan AC

Jenis dan Macam-Macam AC Pada Bangunan


2.3.1. AC Split Wall
AC Split Wall adalah jenis AC yang paling umum digunakan di rumah, kantor
maupun instansi di Indonesia, ini disebabkan beberapa faktor mulai dari

14
gampangnya perawatan dan support.
AC ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Indoor dan Outdoor. Indoor adalah
bagian yang mengeluarkan hawa dingin dan Outdoor adalah bagian tempat
dimana mesin berada. Acapkali outdoor ditempatkan diluar ruangan karena
mengeluarkan hawa yang panas dan kadangkala suaranya yang berisik.
Kelebihan AC Split Wall :
1) Bisa dipasang pada ruangan yang tidak berhubungan dengan udara luar,
misalnya pada ruangan yang posisinya ditengah pada bangunan Ruko,
karena condenser yang terpasang pada outdoor bisa ditempatkan
ditempat yang berhubungan dengan udara luar jauh dari ruangan yang
didinginkan.
2) Suara didalam ruangan tidak berisik.

Kekurangan AC Split Wall:


1) Pemasangan pertama maupun pembongkaran apabila akan dipindahkan
membutuhkan tenaga yang terlatih.
2) Pemeliharaan/perawatan membutuhkan peralatan khusus dan tenaga
yang terlatih.
3) Harganya lebih mahal.

2.3.2. AC Window
AC Window adalah AC yang berbentuk kotak dan dalam pengoperasiannya
tidak menggunakan remote. Karena tombol kontrol sudah terintegrasi dengan
AC ini. AC ini hanya terdiri dari satu bagian yaitu unit itu sendiri dan tidak
ada istilah outdoor dan indoor AC.

AC ini sudah tidak diproduksi lagi karena dianggap sudah ketinggalan jaman
dan karena tidak ada unit outdoor yang membuat AC ini tidak praktis.
Kapasitas AC ini mulai dari 0.5 pk - 2.5 pk.

15
2.3.3. AC Central
Pada AC jenis ini, udara dari ruangan/bangunan didinginkan pada cooling
plant diluar ruangan/bangunan tersebut kemudian udara yang telah dingin
dialirkan kembali kedalam ruangan/bangunan tersebut. AC jenis ini biasanya
dipergunakan di hotel atau mall. Cara kerja AC Central:
1. Air dari cooling tower masuk refrigerator melalui condensor,
refrigerator ini difungsikan untuk mendinginkan air panas dari AHU
2. Dalam refrigerator ini terjadi proses pendinginan air, air panas dari
AHU masuk chiller dalam refrigerator diubah menjadi air dingin, yang
kemudian air dingin tersebut disirkulasikan kembali ke dalam AHU
yang mana AHU digunakan untuk mengkondisikan/ mengubah udara
panas dalam ruang menjadi dingin
3. Udara panas dalam ruang akan dihisap kedalam AHU melalui lubang
register yang kemudian diubah menjadi udara dingin dengan
penambahan O2
4. Udara segar dari AHU ini akan didistribusikan kembali pada setiap
ruangan dengan tekanan velocity yang cukup

Pada AC jenis ini, udara dari ruangan/bangunan didinginkan pada cooling


plant diluar ruangan/bangunan tersebut kemudian udara yang telah dingin
dialirkan kembali kedalam ruangan/bangunan tersebut.

2.3.4. AC Standing Floor


AC Standing Floor adalah AC yang unit Indoonya berdiri dan mudah
dipindahkan. Karena kepraktisannya ini, AC ini sering digunakan dalam
acara-acara seperti acara ulang tahun, perkawinan, hajatan dan acara lainnya.
AC ini bisa dioperasikan dengan remote control. AC ini mempunyai bagian
Indoor dan bagian Outdoor. Kapasitas AC ini mulai dari 2pk - 5pk.

2.3.5. AC Cassette
Jenis AC Cassette ini, indoornya menempel di plafon. jenis AC Cassette
dengan berbagai ukuran mulai dari 1.5pk sampai dengan 6pk.

16
Cara pemasangan ac ini memerlukan keahlian khusus dan tenaga extra, tidak
seperti memasang ac rumah atau ac split, yang bisa dipasang sendirian.

2.3.6. AC Split Duct


AC Split Duct merupakan AC yang pendistribusian hawa dinginnya
menggunakan Sistem Ducting. Ini artinya, AC Split Duct tidak memiliki
pengatur suhu sendiri-sendiri melainkan dikontrol pada satu titik. Tipe AC ini
biasanya digunakan di Mall atau gedung-gedung yang memiliki ruangan luas.
AC Split Duct tidak pernah terlepas dari sistem Ducting yang merupakan
bagian penting dalam sistem AC sebagai alat penghantar udara yang telah
dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke ruang yang akan
dikondisikan. Perkembangan desain ducting untuk AC hingga saat ini sangat
dipengaruhi oleh tuntutan efisiensi, terutama efisiensi energi, material,
pemakaian ruang, dan perawatan.
Kelebihan AC Split Duct :
1) Suara didalam ruangan tidak berisik sama sekali.
2) Estetika ruangan terjaga, karena tidak ada unit indoor.
Kekurangan:
1) Perencanaan, instalasi, operasi dan pemeliharaan membutuhkan tenaga
yang betul-betul terlatih.
2) Apabila terjadi kerusakan pada waktu beroperasi, maka dampaknya
dirasakan pada seluruh ruangan.
3) Pengaturan temperatur udara hanya dapat dilakukan pada sentral
cooling plant. Biaya investasi awal serta biaya operasi dan
pemeliharaan tinggi.

2.3.7. AC Inverter
AC Inverter merupakan jenis AC Split yang menggunakan teknologi inverter.
Inverter yang terdapat di dalam unit AC merupakan alat / komponen untuk
mengatur kecepatan motor-motor listrik. Disini Inverternya terdiri dari
Rectivier dan Pulse-width modulator. Dengan menggunakan Inverter, motor

17
listrik menjadi variable speed, kecepatannya bisa diubah-ubah atau disetting
sesuai dengan kebutuhan. Jadi dibandingkan AC Split biasa, type AC Inverter
lebih hemat listrik ± 60%.

2.3.8. AC VRV
VRV = Variable Refrigerant Volume merupakan sistem kerja refrigerant
yang berubah-ubah. VRV system adalah sebuah teknologi yang sudah
dilengkapi dengan CPU dan kompresor inverter dan sudah terbukti menjadi
handal, efisiensi energi, melampaui banyak aspek dari sistem AC lama seperti
AC Sentral, AC Split, atau AC Split Duct. Jadi dengan VRV System, satu
outdoor bisa digunakan untuk lebih dari 2 indoor AC serta dapat mengatur
jadwal dan temperatur AC yang diinginkan secara terkomputerisasi

3.2.3. Instalasi Sistem Fire Protection

Indoor Fire protection merupakan salah satu utilitas dari sistem otomasi
bangunan (building automation system). Perusahaan maupun gedung komersial
saat ini membutuhkan sebuah sistem otomasi bangunan yang menunjang
kegiatan operasional dengan menuntut tingkat keandalan dan keamanan sistem
yang tinggi, salah satunya menggunakan indoor fire protection system.
Kebakaran merupakan bencana yang disebabkan oleh api yang tidak
dikehendaki yang dapat menimbulkan kerugian yang besar baik berupa harta
benda maupun jiwa manusia. Saat ini Kebakaran sudah menjadi masalah
nasional, karena bukan saja merugikan individual, melainkan meliputi instalasi
atau sarana vital yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti gedung
perkantoran, perusahaan, pabrik dan instalasi-instalasi lainnya.

Untuk menekan angka kebakaran dan jumlah korban yang terus meningkat, perlu
dilakukan suatu tindakan yang mengutamakan keselamatan. Peringatan dini
terhadap tanda-tanda kebakaran merupakan salah satu solusi dari bahaya
kebakaran. Untuk menanggulangi dari kebakaran tersebut terdapat beberapa

18
sarana untuk meminimalisir dampaknya yaitu dengan memakai fire alrm system,
outdoor fire protection system (hydrant), indoor fire protection system dan lain-
lain.

Kebakaran yang disebabkan oleh api yang tidak terdeteksi lebih awal adalah
penyebab kerugian materi yang dapat menyebabkan kematian. Permasalahannya
adalah informasi yang diterima oleh pihak pemadam kebakaran tidak dapat
dilakukan secara real time. Dalam hal ini diperlukan perancangan sistem yang
berbasis komputer/PC yang dapat dipantau setiap saat secara terpusat
menampilkan informasi letak lokasi kebakaran dengan tidak mengganggu proses
produksi. Dengan dibuatnya konsep perancangan sistem ini dapat membantu
para pekerja untuk meningkatkan pencegahan kebakaran.

19
BAB III

HASIL SURVEY

3.1. Data Survey

Hotel 88 adalah salah satu bagian hotel group dari PT. Waringin Hospitality
yang tersebar di beberapa kota besar Indonesia dan salah satunya terletak pada
jalan Embong Malang Surabaya. Sesuai dengan mottonya “Feel at home for
business”, Hotel 88 Embong Malang Surabaya memiliki fasilitas dan pola pelayanan
yang berbeda dengan hotel-hotel yang lainnya dalam melayani tamu hotel yaitu
pola pelayanan yang didasarkan pada mengedepankan kekeluargaan baik
terhadap tamu, karyawan, maupun pemilik perusahaan. Hotel 88 Embong
Malang memiliki 141 kamar dengan jenis kamar yaitu superior dan deluxe ukuran
queen dan twin. Fasilitas yang ada di Hotel 88 Embong Malang yaitu adanya 24
jam layanan kamar, pengamanan, resepsionis 24 jam, CCTV, sarapan, fasilitas
ruang pertemuan, area merokok, koran, penyimpanan bagasi, layanan laundry, dry
cleaning, wi-fi gratis di tempat umum dan di semua kamar serta adanya parkir valet.

Hotel ini memiliki luas bangunan sekitar ±240 m2, dengan jumlah lantai sebanyak
7 lantai. Lantai 1 difungsikan sebagai ruang publik dan semi-publik, dan lantai 2-7
difungsikan sebagai kamar pengunjung.

20
21
KANAN

22
23
24
BAB IV

ANALISA HASIL SURVEY

4.1. Instalasi Sistem Plumbing Air Bersih dan Air Kotor

Untuk sistem pemipaan/plumbing air bersih pada hotel ini menggunakan sistem
down feed water system. Dalam sistem ini, sistem air bersih ditampung terlebih
dahulu di tangki bawah (ground tank), kemudian dipompakan ke tangki atas (upper
tank) yang biasanya dipasang di atas atap atau di lantai tertinggi bangunan. Dari
upper tank tersebut air didistribusikan ke seluruh lantai yang ada didalam bangunan.
Untuk peletakan saluran pipa dalam banguann ini pipa-pipa yang mendistribusikan
air ke masing-masing lantai tersebut diletakkan pada bagian saf bangunan yang
terletak di beberapa bagian bangunan, untuk jumlah saf yang ada dalam bangunan
ini tiap lantainya terdapat 6 saft.

25
26
27
28
Sedangkan untuk sistem air kotornya hotel ini menggunakan sistem venstack dua
pipa, yang mana terdapat pembagian antara limbah padat seperti pembuangan di
closet dan juga limbah cair seperti pembuangan di saluran kamar mandi, westafle,
dan dapur. Yang mana limbah dari closet nanti akan disalurkan menuju septictank
dan limbah cair yang terdapat dalam saluran closet akan disalurkan menuju sanitasi
kota, sedangkan untuk limbah cair dari saluran kamar mandi, westafle, dan juga
dapur, akan langsung disalurkan menuju sanitasi kota.
Berikut merupakan rencana dari plumbing air kotor dari Hotel tersebut :

29
4.2. Instalasi Sistem Air Conditioner

Sitem air conditioner atau sistem penghawaan yang digunakan dalam gedung ini
adala sistem pemnghawaan air to air system jenis unit dan jenis AC yang digunakan
adalah jenis AC split.

Banyak sekali kelebihan AC split yang dapat dirasakan secara langsung oleh
penggunanya. Pertama, ac split lebih ringkas bentuknya sehingga tidak memakan
begitu banyak tempat. Sistem pemasangan ac split juga jauh lebih mudah jika
dibandingkan dengan ac sentral. AC split juga jauh lebih hemat energi serta hemat
biaya karena dibekali dengan teknologi yang mampu mendingingkan ruang-ruang
secara terpisah, AC split selalu dilengkapi dengan remote yang dapat memudahkan
untuk pengaturannya meskipun dari jarak jauh.

Komponen AC Split
1. Bagian Indoor, bagian indoor ini pada bangunan apartemen diletakkan pada
seluruh kamar yang ada dilantai tersebut.
a. Evaporator, Pada mesin pendingin AC Split, evaporator terbentuk dari
pipa tembaga dengan panjang dan diameter tertentu yang dibentuk
berlekuk-lekuk agar menghemat tempat. Sehingga, lebih efektif menyerap
panas dari udara ruangan yang bersirkulasi melaluinya. Karena pipa
evaporator dilewati refrigerant dengan suhu terendah, maka suhu
evaporator mencapai suhu 5°C. Dengan demikian, suhu udara ruangan
menjadi rendah (dingin) ketika melewati evaporator.
b. Motor Blower & Motor Pengatur Aliran Udara (motor stepper). Motor
blower berfungsi mensirkulasikan udara dalam ruangan, hingga udara
ruangan dapat bersirkulasi melewati evaporator. Setelah udara melewati
evaporator aliran udara menuju ke ruangan dengan pengatur aliran udara
(motor Stepper). Blower bekerja hingga temperatur udara mencapai
keinginan. Kesimpulannya, blower akan berhenti kerja (Off) ketika
temperatur udara ruangan mencapai suhu yang diinginkan (setting suhu
remote kontrol AC Split).

30
c. Saringan ( filter ) Udara. Pada Indoor AC Split saringan (filter udara)
berfungsi menyaring udara yang melewati evaporator. Sehingga udara
yang bersirkulasi dalam ruangan menjadi lebih bersih. Pada unit AC Split
model baru dilengkapi dengan filter anti bakteri atau anti racun untuk
membasmi bibit penyakit. Selain itu, dapat menyaring polutan berbahaya
bagi tubuh yang terbawa melalui udara di dalam ruangan.
d. Kontrol Panel Electric & Sensor Suhu (thermistor). Pada komponen indoor
AC Split terdapat kontrol panel electric dan sensor suhu (thermistor).
Berfungsi mengatur kerja mesin pendingin secara menyeluruh.
Diantaranya, mengatur kerja blower, motor pengatur aliran udara,
compressor, fan outdoor dan timer.

2. Bagian outdoor, bagian outdor pada bangunan ini diletakkan pada bangian
foid bangunan yang terdapat pada bangunan.
a. Kondensor. Ketika refrigeran muncul melewati komponen indoor AC Split
(evaporator), kalor (panas) udara ruangan yang terbawa akan dibawa
kondensor. Komponen ini terbuat dari pipa tembaga yang dibuat berkelok-
kelok dan dilengkapi sirip. Hal ini bertujuan untuk melepas kalor udara
terjadi secara efektif dan kalor (panas) udara yang terbawa oleh refrigerant
(Freon) lebih cepat dibawa atau dikeluarkan ke udara bebas (luar ruangan).
b. Kipas (fan). berfungsi membuang panas pada kondensor ke udara bebas.
c. Kompresor. Kompresor AC Split berfungsi mensirkulasikan aliran
refrigeran. Dari kompresor refrigerant (Freon) akan dipompa dan dialirkan
menuju komponen utama: kondensor, pipa kapiler, evaporator dan
kembali ke kompresor. Refrigeran secara terus menerus lewat empat
komponen utama AC.
d. Saringan Refrigeran (strainer). Setelah membawa kalor (panas) di
kondensor, refrigeran akan dipompa oleh kompresor mengarah menuju ke
filter (strainer). Supaya kotoran tidak sengaja terbawa refrigeran, tidak
masuk ke pipa kapiler. Jika kotoran (seperti karat atau serpihan logam)
terbawa ke dalam pipa kapiler, bisa menyebabkan rusaknya kompresor.

31
Bisa juga menyebabkan penyumbatan yang menyebabkan sistem
pendingin tidak bekerja optimal.

Berikut merupakan rencana instalasi sistem penghawaan dalam gedung apartemen


tersebut.

Indoor Unit

Outdoor Unit

32
4.3. Instalasi Sistem Fire Protection

Sistem Pemadam Kebakaran atau fire fighting system adalah suatu sistem yang di
sediakan dalam suatu bangunan untuk menanggulangi bahaya kebakaran. Sistem
pamadam kebakaran pada gedung bertingkat tinggi adalah wajib hukumnya untuk
di sediakan. Mengingat dalam suatu gedung bertingkat akan timbul keterbatasan
tindakan yang dapat di lakukan penghuni untuk menyelamatkan diri saat terjadi
kebakaran. Selain itu proses penyelamatan para penghuni pun juga akan sulit di
lakukan oleh dinas pemadam kebakaran di sebabkan tingginya lokasi.

Selain kedua hal di atas, sistem pemadam kebakaran pada gedung bertingkat tinggi
wajib ada mengingat efek dari kebakaran yang dapat melemahkan struktur gedung
jika kebakaran tidak segera di atasi.

Sistem pemadam kebakaran (Fire Fighting System) gedung bertingkat tinggi di bagi
menjadi beberapa system yang berdiri sendiri namun saling terkait satu dengan
lainnya. Di sini saya akan membagi sistem pemadam kebakaran pada gedung
bertingkat tinggi menjadi 3 system utama yaitu:
1. Fire Hydrant System
2. Fire Sprinkler System
3. Fire Alarm System

Pada gedung bertingkat tinggi, ke tiga system tersebut harus ada dan memenuhi
syarat yang di berlakukan oleh pemda. Ke tiga sistem utama dalam fire fighting
tersebut, di katakan berdiri sendiri sebab dari masing-masing system di dukung oleh
unit-unit yang di atur sedemikian rupa hingga mampu bekerja sama dalam
menanggulangi atau pada saat terjadinya kebakaran.
Selanjutnya adalah sekilas tentang ketiga sistem pemadam kebakaran pada gedung
bertingkat tinggi:
1. Fire Hydrant System

Fire Hydrant system atau pemadam sistem hydrant adalah suatu sistem
pemadam kebakaran yang di operasikan secara manual oleh tenaga manusia

33
dengan menggunakan media air sebagai alat pemadam api. Prinsip kerja dari
sistem hydrant pada gedung bertingkat tinggi adalah ketika hydrant valve
pada box hydrant di buka maka pompa akan mengalirkan air ke seluruh
instalasi pipa hydrant dalam gedung menuju ke titik valve terbuka.
Selengkapnya akan saya share di artikel lain.
2. Fire Sprinkler System

Fire Sprinkler System atau pemadam sistem sprinkler adalah suatu sistem
pemadam kebakaran yang dapat bekerja secara otomatis berdasarkan
berbedaan suhu. ‘Fire sprinkler system’ di bagi lagi menjadi 2 system
berdasarkan kesiapan air dalam pipa istalasi, yaitu Wet Riser Sprinkler
System dan Dry Riser Sprinkler System. Karena fire sprinkler ini sangat
kompleks, maka akan saya tulis pada artikel yang lain. Berlanjut ke
3. Fire Alarm System

Dari namanya tentu semua sudah tau, fire alarm system adalah suatu sistem
pendukung pemadam kebakaran gedung bertingkat tinggi. Sistem ini lebih
kompleks lagi di banding dengan fire Sprinkler system. Fire alarm system
akan berkaitan dengan sistem keamanan gedung, elevator, intake fan, exhaust
fan, detektor asap, detektor panas dan lain sebagainya yang tergabung dalam
‘General Fire’, Bahkan fire alarm system canggih dapat langsung
berhubungan dengan sudin damkar. Fire alarm system juga bertindak sebagai
ujung tombak seluruh system yang ada pada gedung bertingkat tinggi saat
terjadi kebakaran.

Selain ke tiga system di atas, masih terdapat sistem pemadam kebakaran gedung
bertingkat tinggi yang lain yaitu:
4. Portable Fire Extinguisher

Sebenarnya bukan merupakan suatu sistem, tetapi lebih tepat bila di


sebut alat pemadam api ringan. Kenapa saya sebut dengan sistem, hanya
untuk mempermudah pengelompokan dari berbagai jenis pemadam
kebakaran yang ada dan karena alat-alat pemadam kebakaran tersebut

34
berdiri sendiri tanpa ada kaitan langsung dengan ketiga system yang saya
sebutkan di atas.
Juga sesuai dengan namanya, portable fire extinguisher adalah suatu alat
pemadam api yang dapat di pindah dengan cepat dan flexible di gunakan di
segala medan sesuai peruntukannya. Di negara kita Indonesia portable fire
extingusher lebih di kenal dengan sebutan APAR atau dari Alat Pemadam
Api Ringan.

4.3.1. Sistem Kebakaran Aktif

Untuk sistem proteksi kebakaran yang bersifat aktif pada gedung Hotel 88
Malang ini dilengkapi dengan adanya hydrant. Hydrant Pemadam Kebakaran
adalah sebuah alat atau terminaI penghubung untuk bantuan darurat saat
terjadi kebakaran. Hydrant merupakan koneksi berupa alat yang terdapat di
atas tanah yang menyediakan akses pasokan air untuk tujuan memadamkan
kebakaran. Untuk di bagian gedung hotel ini hidrant tersebut pada masing
masing lantai diletakkan 1 hidrant.

Sistem rencana proteksi kebakaran aktif lainnya yang terdapat pada gedung
ini adalah fire extinguisher, yaitu merupakan pemadam api portabel yang
dapat mengeluarkan air, busa, gas, dan media lainnya yang mampu untuk
memadamkan api penyebab dari kebakaran. Alat ini diletakkan disamping
hidran yang lokasinya dekat dengan tangga darurat.

Selain itu rencana fire system yang akan diterapkan ialah sistem proteksi
kebakaran berupa fire alarm system. Fire Alarm System (Sistem Pengindera
Api) adalah Suatu sistem terintegrasi yang didesain untuk mendeteksi
adanya gejala kebakaran, untuk kemudian memberi peringatan (warning)
dalam sistem evakuasi dan ditindaklanjuti secara otomatis maupun manual
dengan sistem instalasi pemadam kebakaran (fire fighting System) yang
telah terinstall. Tujuan pemasangan atau keuntungan pemasangan Fire
Alarm System ini adalah untuk mendeteksi kebakaran seawal mungkin,
sehingga tindakan pengamanan yang diperlukan dapat segera dilakukan dan

35
meminimalisir dampak buruk dari kebakaran tersebut. Untuk Fire Alarm
System ini sendiri pada bangunan hotel ini diletakkan pada bagian koridor,
kamar pengunjung, dan tempat-tempat lainnya yang memiliki potensi
terhadap kebakaran.

4.3.2. Sitem Kebakaran Pasif


Sistem proteksi kebakaran pasif adalah sistem perlindungan terhadap
kebakaran yang dilaksanakan dengan melakukan pengaturan terhadap
komponen bangunan gedung dari aspek arsitektur dan struktur sedemikian
rupa sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan fisik
saat terjadi kebakaran.
1) Tanggal Darurat
Tangga darurat menjadi salah satu hal yang penting dalam evakuasi
penyelamatan saat terjadinya bencana. Oleh karena itu hotel ini
menyediakan tangga darurat yang ditempatkan pada bagian sudut kiri
bangunan. Hal tersebut tentunya dapat memudahkan akses saat
dilakukannya evakuasi saat terjadinya bencana.
2) Petunjuh Arah
Selain tangga darurat, tentunya sebuah hotel harus memiliki penunjuk
arah untuk jalur evakuasi, hal tersebut berguna saat terjadinya
bencana, karena orang-orang akan diarahkan oleh petunuk arah terbut.
3) Bukaan Pintu yang Cukup.
Untuk akses bukaan pintu pada bagian masuk gedung dalam bangunan
hotel ini menggunakan pintu berhahan kaca tebal dengan 2 daun pintu
dan arah bukaan pintu yang 2 arah. Sehingga memudahkan akses
untuk keluar dari gedung jika terjadinya bencana kebakaran atau
bencana lainnya

36
37
38
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari data survey dan analisa tersebut maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sistem Plumbing yang digunakan dalam hotel ini untuk air bersihnya ialah
sistem Down Feed, yang mana hal tersebut sudah tepat penerapannya pada
hotel, yang merupakan bangunan tinggi.
2. Sistem AC yang dalam hotel ini masih menggunakan model AC Split indoor-
outdoor.
3. Sistem kebakaran yang direncanakan dalam hotel ini berupa adanya hydrant
di setiap lantai hotel, serta penerapan fire protection aktif berupa alarm
kebakaran, heat detector, somoke detector, serta fire protection pasif seperti
tangga darurat yang ada didalam hotel

5.2. Saran

Kurang efektifnya penggunakaan AC Split pada hotel, sehingga perlu digantikan


dengan jenis AC yang cocok untuk bangunan berskala besar seperti AC Central.

39
DAFTAR PUSTAKA

Poerbo, Hartono. 2005. Utilitas Bangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Suroto Tomi. 2011. Sistem Pemadam Kebakaran (Fire Protection) Pada


Gedung Hotel Sahid Raya Yogyakarta. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas
Teknik.
Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta

http://eco.co.id/economie/definisi-fire-extinguisher-atau-alat-
pemadam- kebakaran/ (Diakses pada tanggal 24 November
2019)

https://www.bromindo.com/alat-pemadam-kebakaran-aktif-dan-pasif/
Diakses pada tanggal 24 November 201

40
41
42
43

Anda mungkin juga menyukai