Anda di halaman 1dari 13

MAKROFUNGI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Sistematika Tumbuhan yang Dibina


oleh Hafidha Asni Akmalia, M.Sc

Oleh:

Naufal Wima Al Fahri1708086033

Yuli Melinia 1908086007

Amin Syam 1908086012

Tahtihal Ankalawi 19080860

Intan Aprilia Pratiwi 1908086020

Ila Nabinya 1908086025

Maghfiratur Rif’ah 1908086028


Pendidikan Biologi 2 A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN WALISONGO SEMARANG

FEBRUARI 2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul MAKROFUNGI dengan baik.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi


tugas mata kuliah Sistematika Tumbuhan, serta untuk menambah
pengetahuan tentang makrofungi bagi para pembaca dan bagi penulis.

Kami ucapkan terima kasih kepada ibi Hafidha Asni Akmalia, M.Sc,
selaku dosen pengampu mata kuliah Sistematika Tumbuhan, yang telah
memberikan tugas ini sehingga kita dapat menambah pengetahuan.

Kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kami berharap adanya kritik dan saran yang membangun
bagi makalah ini.

Penulis

2|Page
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................4
A. Latar Belakang....................................................................................................4
B. Rumusan Masalah..............................................................................................4
C. Tujuan...................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................6
A. Pengertian Makrofungi......................................................................................6
B. Persamaan dan Perbedaan Makrofungi dengan Tumbuhan......................7
C. Persamaan dan Perbedaan Makrofungi dengan Hewan..............................7
D. Keanekaragaman Makrofungi..........................................................................8
E. Konservasi Makrofungi...................................................................................10
BAB III PENUTUP.........................................................................................................12
A. Kesimpulan........................................................................................................12
B. Saran...................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................13

3|Page
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jamur dikenal dan dapat digunakan sebagai bahan pangan,
obat, minuman, dan lain-lain. Jamur makroskopik atau makrofungi
sudah dihidangkan pada pesta raja atau kaisar pada zaman Yunani.
Jamur makroskopik sudah menjadi perhatian sebelum penemuan
mikroskop pada abad ke-17. Penemuan mikroskop telah
mengungakap bagian-bagian yang semula tidak terlihat sama sekali,
yang merupakan bagian penting makrofungi tersebut.
Kehadiran jamur makro di alam sangat penting dalam
menunjang kehidupan di lingkungan baik bagi tumbuhan, hewan dan
manusia. Di lingkungan jamur makro ini penting sebagai mengurai
(dekomposisi) senyawa komplek menjadi bentuk yang sederhana,
hasil penguraiannya sebagian kecil dimanfaatkan sebagai sumber
nutrisi untuk pertumbuhannya dan yang lainnya dimanfaatkan oleh
organisme di sekitarnya, terutama tumbuhan. Untuk jenis jamur
makro yang bersifat mikoriza, kehadirannya sangat dibutuhkan oleh
tumbuhan di sekitarnya terutama tumbuhan berkayu, untuk
membantu dalam penyerapan air dan mineral dari dalam tanah. Selain
dari itu jamur makro juga dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai
sumber bahan pangan dan bahan obat.
Studi Mikologi secara intensif pada awalnya dilakukan oleh Pier
Antonio Micheli, ahli botani Italia, pada tahun 1729. Ia menerbitkan
penelitiannya mengenai fungi dalam Nova Plantarum Genera.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari makrofungi?
2. Apa persamaan dan perbedaan makrofungi dengan tumbuhan?
3. Apa persamaan dan perbedaan makrofungi dengan hewan?
4. Apa saja keanekaragaman dari makrofungi?
5. Bagaimana cara konservasi makrofungi?

4|Page
C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari makrofungi.
2. Mahasiswa dapat mengetahui persamaan dan perbedaan
makrofungi dengan tumbuhan.
3. Mahasiwa dapat mengetahui persamaan dan perbedaan
makrofungi dengan hewan.
4. Mahasiswa dapat mengetahui keanekaragaman dari
makrofungi.
5. Mahasiswa dapat mengetahui cara konservasi makrofungi.

5|Page
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Makrofungi
Fungi merupakan organisme yang bersifat heterotrof.
Organisme ini mendapatkan nutrisi dengan menyerap zat-zat
makanan dari medium di sekitarnya. (Campbell, 2003)
Fungi atau jamur berperan sebagai salah satu dekomposer
yang membantu proses dekomposisi bahan organik untuk
mempercepat siklus materi dalam ekosistem hutan. (Suharna, 1993)
Fungi saprofit memperoleh makanan dengan menyerap nutrisi
dari bahan organik seperti tumbuhan dan sisa-sisa hewan yang telah
mati. sedangkan fungi parasit memperoleh nutrisi dengan menyerap
dari tumbuhan ataupun hewan yang masih hidup. Kelompok utama
fungi yang berperan sebagai pendegradasi ligniselulosa berasal dari
Basidiomycetes, karena mampu menghasilkan enzim pendegradasi
ligniselulose seperti selulose, ligninase, dan hemiselulose. (Munir,
2006)
Makrofungi merupakan produk hutan bukan kayu yang bernilai
ekonomi tinggi sebagai bahan pangan maupun bahan obat. Manfaat
langsung jamur adalah sifat edibilitasnya sebagai jamur yang bisa
dikonsumsi dan digunakan sebagai obat-obatan.
Fungi makroskopis memiliki badan buah yang dapat dilihat
dengan mata tanpa bantuan mikroskop, tubuh buah dapat dipetik
dengan tangan, dan sebagian jenis aman untuk dikonsumsi. Fungi ini
terdiri dari sebagian besar kelompok Basidiomycetes dan beberapa
Ascomycetes, sedangkan fungi mikroskopis umumnya berasal dari
kelompok Ascomycetes (Gunawan, 2005).
Kehidupan makrofungi umumnya bersifat spesifik. Masing-
masing makrofungi membutuhkan karakteristik faktor lingkungan
yang berbeda. Tipe vegetasi menjadi faktor determinan bagi
keberadaan dan pertumbuhan makrofungi. Vegetasi secara langsung

6|Page
berkontribusi sebagai substrat dan sumber materi organik bagi
pertumbuhan makrofungi. Iklim mikro yang diciptakan akan
menentukan kelembaban udara yang sangat berperan penting bagi
pertumbuhan makrofungi. (Prasetyaningsih & Rahardjo. 2015)

B. Persamaan dan Perbedaan Makrofungi dengan Tumbuhan


Perbedaan dengan kingdom plantae yaitu pada fungi memiliki
jumlah sel yang uniseluler dan multiseluler sedangkan pada kingdom
plantae hanya multiseluler. Pada kingdom fungi tidak memiliki klorofil
dan pada kingdom plantae memiliki klorofil. Pada zat penyusun
selnya, kindom fungi memiliki zat kitin yang menjadi zat penyusun
dinding selnya, sedangkan kingdom plantae yang menyusun selnya
yaitu selulosa. Dilihat dari aspek reproduksinya fungi memiliki
beberapa tahapan yaitu aseksual atau vegetatif, seksual, plasmogami
dan kariogami. Cara memperoleh makanannya pada fungi dengan cara
heterotof (saprofit dan parasit), sedangkan pada plantae dengan
fotoautotrof. Jika dilihat dari aspek tempat hidupnya pada fungi hidup
pada habitat saprofit dan parasit, sedangkan pada plantae habitat
hidupnya pada tanah, air atau di tempat lembab.
Pada beberapa hal fungi dan tumbuhan memiliki kesamaan
yaitu keduanya sama memiliki inti sel/nucleus, ada beberapa jenis
tumbuhan pada kingdom plantae berkembang biak dengan spora
seperti jamur, memiliki dinding sel, bersifat sesil (tidak bergerak
bebas).

C. Persamaan dan Perbedaan Makrofungi dengan Hewan


Jamur dan hewan adalah makhluk hidup yang terdiri dari sel
yang bersifat eukariotik. Hal ini berarti bahwa sel-sel jamur dan
hewan mengandung membran inti, yang membungkus inti sel
(nukelus) dan memisahkannya dengan sitoplasma di luar inti sel.

kesamaan yang lainya yang jelas diamatai antara jamur dan hewan
adalah baik jamur maupun hewan tidak bisa menjadi penghasil
makanan sendiri (heterotrof), berbeda dengan tanaman yang bisa
menghasilkan makanan sendiri (autotrof) melalui proses fotosintesis.

7|Page
Selain itu, jamur dengan hewan juga mempunyai perbedaan yaitu
jamur bersifat sesil (tidak dapat bergerak), sedangkan hewan dapat
bergerak.

D. Keanekaragaman Makrofungi
Bentuk pertumbuhan fungi yang termasuk kelompok true fungi
dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu khamir (yeast, sel ragi,
uniseluler), kapang (mold, mould, multiseluler), dan cendawan
(mushroom, berdaging, multiseluler). Contoh species yang termasuk
kelompok yeast adalah saccharomyces cerevisiae, candid albicans,
Yarrowia lipolytica, schizosaccharomyces pombe, dan lain-lain. Contoh
species yang termasuk kelompok kapang adalah Aspergillus niger, A.
Oryzae, Rhizopus oryzae, Trichoderma harzianum, dan lain
sebagainya. Sedangkan species yang termasuk cendawan misalnya
Volvariella volvacea, Agaricus bisporus, Amanita muscaria, dan lain-
lain.
1. Struktur Umum Khamir
Sel khamir mempunyai ukuran sel lebih besar daripada bakteri
yaitu berkisar antara 5-10µm. Koloni khamir sepintas seperti
koloni bakteri tetapi biasanya koloninya tidak mengkilat dan
warnanya seperti mentega. Bud scar dapat sebagai tanda berapa
kali sel tersebut pernah bertunas. Secara ultrastruktur, sel yeast
tidak berbeda secara fundamental dengan hifa. Setiap sel yeast
terdiri dari 1 nucleus dan organellaorganella. Pertunasan
(budding) dapat bersifat monopolar (1 kutub), bipolar (2 kutub)
ataupun multipolar (banyak kutub). Bentuk umum sel yeast dapat
bulat, oval, silinder, triangular, apikulat, maupun pseudomiselium
(miselium semu yaitu sebenarnya merupakan tunas-tunas yang
tidak memisahkan diri sehingga tampak seperti miselium). Sel
yeast dapat berupa sel uniseluler (budding yeast) hifa, maupun
dimorfik.
Beberapa sel yeast dapat mengalami dimorfik (dimorphic
fungi) yaitu dapat berubah antara fase yeast (Y) dan fase miselium
(M) atau filamen (F) karena respon terhadap perubahan

8|Page
lingkungan. Contoh yang paling umum ditemukan dimorfik adalah
Candida albicans yang dapat berupa yeast ketika tersebar di
lapisan air atau cairan tubuh, tetapi sebagai hifa ketika menginvasi
jaringan. Perubahan bentuk tersebut mendukung
perkembangbiakannya dalam sel inang. C. albicans merupakan
flora umum di membran mukosa manusia dan tidak
membahayakan tetapi ketika kondisi sekitarnya berubah maka
akan dapat memproduksi hifa yang menginvasi mukosa dan dapat
membahayakan. Contoh lain yaitu Mucor rouxii yang berbentuk
miselium ketika ada aerasi dan berbentuk yeast ketika suasana
anaerob.
2. Struktur Umum Kapang
Jamur benang atau Kapang (mold, mould) atau fungi
berfilamen merupakan fungi multiseluler yang banyak dijumpai di
lingkungan sekitar kita. Struktur umumnya yaitu berupa hifa
(filamen) yang berbentuk tabung, dinding sel rigid (kaku), dan
terlihat ada pergerakan protoplasma didalamnya. Kumpulan hifa
dinamakan miselium. Panjang hifa tidak terbatas tetapi
diameternya konstan berukuran umumnya berkisar antara 1-2 µm
atau 5-10 µm tetapi ada yang mencapai 30 µm. Hifa ada yang
mempunyai sekat (septa) atau tidak mempunyai sekat (senositik).
Phylum Ascomycota dan Basidiomycota mempunyai hifa
bersepta sedangkan Oomycota dan Zygomycota tidak bersepta.
Walaupun terdapat septa tetapi masih memungkinkan adanya
pergerakan protoplasma karena septa tersebut berpori. Septa akan
membagi hifa ke dalam kompartemen-kompartemen yang masih
bisa saling berhubungan. Hifa basidimycota khas yaitu dalam satu
kompartemen ada yang monokaryon (1 nucleus) ataupun dikaryon
(2 nucleus); mempunyai dolipore septum (septa khas dengan ciri
pori sentral sempit yatu 100-150nm, terdapat sayap yang
didominasi glukan mengelilingi pori, dan terdapat parenthosom
bermembran); dan mempunyai clamp connection (seperti kait yang
menghubungkan antar kompartemen)

9|Page
3. Struktur Umum Cendawan
Cendawan (mushroom) dapat banyak ditemukan terutama
pada musim penghujan. Habitatnya dapat bermacam-macam,
contohnya Crucibulum vulgare dapat ditemukan pada sarang
burung dan Amanita muscaria dapat ditemukan biasanya dekat
dengan akar tanaman. Cendawan termasuk multiseluler dan
mayoritas masuk dalam Phylum Basidiomycota.
Tubuh buah cendawan (basidiocarp) umumnya berdaging,
berbentuk seperti payung dengan warna yang beraneka macam.
Cendawan ada yang dapat dimakan dan ada yang beracun.
Perbedaan mana yang beracun atau tidak, sukar dilakukan tetapi
biasanya orang awam beranggapan bahwa cendawan yang
berwarna cerah biasanya beracun. Struktur umum cendawan
biasanya terdiri dari tudung (pileus), rongga-rongga pada tudung
(scales), insang (gills, merupakan tempat terdapat basidiospora),
cincin (annulus), tangkai (stipe), dan volva.

E. Konservasi Makrofungi
Untuk mencegah atau meminimalkan kerusakan lingkungan
dan ancaman kepunahan makrofungi maka perlu upaya untuk
melakukan konservasi. Pembangunan konservasi harus didasarkan
pada tiga pilar penting yang sering disebut “Stategi Konservasi”, yaitu
1. Perlindungan terhadap proses-proses ekologi yang esensial
dan sistem penyangga kehidupan.
2. Pengawetan keanekaragaman hayati pada tingkatan genetik,
spesies, dan ekosistem.
3. Pemanfaatan secara lestari terhadap sumberdaya alam hayati
beserta ekosistemnya. Hal tersebut merujuk pada hasil konggres
World Comission on Prorected Areas (WCPA) di Durban, Yordania
tahun 2003 menyatakan bahwa pengelolaan kawasan konservasi
harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para pihak yang
berkepentingan, termasuk masyarakat yang tinggal di dalam dan
sekitar kawasan konservasi. (Soekmadi, 2003)

10 | P a g e
Salah satu alternatif yang perlu diupayakan adalah pendekatan
konservasi secara in-situ. Konservasi secara in situ relative sulit untuk
diterapkan karena permasalahan bahwa tidak semua jenis ada dan
dapat tumbuh baik pada luasan area tertentu sehingga menyulitkan
pemilihan area yang akan di prioritaskan sebagai kawasan konservasi
makrofungi (Cannon 1997). Pemilihan daerah untuk konservasi
mungkin dapat mempertimbangkan luasan habitat yang tidak
terganggu yang menunjukkan keragaman tipe habitat, keragaman
jenis yang tinggi, terutama spesies tanaman (Ing 1996, Hawksworth
1990).

11 | P a g e
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Fungi merupakan organisme yang bersifat heterotroph yang
berperan sebagai salah satu decomposer. Fungi makroskopis memiliki
badan buah yang dapat dilihat dengan mata tanpa bantuan mikroskop.
Perbedaan dengan kingdom plantae yaitu fungi ada yang
uniseluler dan multiseluler, fungi bersifat heterotof, fungi tidak
memiliki klorofil, fungi memiliki zat kitin, fungi hidup pada habitat
saprofit dan parasite, fungi memiliki beberapa tahapan yaitu vegetatif,
generatif, plasmogami dan kariogami. sedangkan pada plantae habitat
hidupnya pada tanah, air atau di tempat lembab. Fungi dan tumbuhan
memiliki kesamaan yaitu memiliki inti sel/nucleus, berkembang biak
dengan spora, memiliki dinding sel, bersifat sesil (tidak bergerak
bebas).
Jamur dan hewan sama-sama bersifat eukariotik dan
heterotroph, dengan perbedaan yaitu jamur bersifat sesil (tidak dapat
bergerak), sedangkan hewan dapat bergerak. Terdapat 3 macam
keanekaragaman makrofungi yaitu khamir, kapang, dan cendawan.
Konservasi makrofungi perlu dilakukan untuk mencegah atau
meminimalkan kerusakan lingkungan.

B. Saran
Penulis menyarankan suatu hal terkait dengan materi
makrofungi di atas, yaitu di dalam suatu kehidupan terdapat makhluk
hidup yang beraneka ragam. Keanekaragaman tersebut memiliki
manfaat yang tentunya berbeda. Oleh karena itu, kita sebagai sesama
makhluk hidup tidak diperbolehkan untuk merusak kehidupan
makhluk hidup lainnya agar diperoleh kelestarian hidup.

12 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., Reece, J.B., & Mitchell, L.G. 2003. Biologi. Jilid 2. Edisi Kelima.
Alih Bahasa: Wasmen. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hawksworth, D.L. 1990. The fungal dimension of biodiversity: Magnitude,


significance and conservation. Mycological Research 95.

Ing, B. 1996. Red Data Lists and Decline in Fruiting of Macromycetes in


Relation to Pollution and Loss of Habitat. In: Frankland J.C., Magan N. and
Gadd G.M. (eds).

Munir, E. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: Suatu Teknologi


Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru
Besar Tetap dalam Bidang Mikrobiologi FMIPA USU. USU Repository.
Medan.

Prasetyaningsih, Aniek dan Djoko Rahardjo. 2015. Keanekaragaman dan


Potensi Makrofungi Taman Nasional Gunung Merapi. Jurnal The 2nd
University Research Coloquium.

Rakhmawati, Anna. 2010. Makalah PPM Olimpiade Biologi: Materi


Keanekaragaman Hayati. Yogyakarta: UNY

Soekmadi, R. 2003. Pergeseran Paradigma Pengelolaan Kawasan Konservasi:


Sebuah Wacana Baru Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi. Media
Konservasi. Jurnal Ilmiah Bidang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
dan Lingkungan. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Suharna, N. 1993. Keberadaan Basidiomycetes di Cagar Alam Bantimurung,


Karantea dan Sekitarnya, Maros Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Hasil
Litbang LIPI Indonesia.

13 | P a g e