Anda di halaman 1dari 5

BAB 4

PEMBAHASAN

Diagnosa aktual keperawatan pada penderita Gagal Nafas adalah Hambatan ventilasi
mekanik berhubungan dengan gangguan metabolisme
Fokus pembahasan pada asuhan keperawatan ini pada perbedaan intervensi dari
diagnosa hambatan ventilasi mekanik berhubungan dengan metabolisme
1. Intervensi keperawatan secara tinjauan pustaka untuk mempertahankan pernapasan
yang adekuat adalah posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat, sedangkan dalam
tinjauan kasus adalah menempatkan Klien pada posisi semifowler.
2. Intervensi keperawatan secara tinjauan pustaka untuk mempertahankan pernapasan
yang adekuat adalah dalam melakukan suction perlu mempertimbangkan tidal volume
pasien yang menggunakan ventilator, sedangkan dalam tinjauan kasus adalah
memberikan perawatan mulut secara rutin dengan kapas yang lunak dan basah,
antiseptik dan melakukan suction secara perlahan.
3. Intervensi keperawatan secara tinjauan pustaka untuk mempertahankan pernapasan
yang adekuat adalah setelah memposisikan pasien segera dilakukam fisioterapi dada
dan diajarkan batuk efektif, dan anjurkan pasien nafas dalam, sedangkan dalam tinjauan
kasus tidak bisa mengajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam karena kesadaran
pasien on sedasi.

Pembahasan pertama

Intervensi keperawatan secara tinjauan pustaka untuk mempertahankan pernapasan


yang adekuat adalah posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat, sedangkan dalam tinjauan
kasus adalah menempatkan Klien pada posisi semifowler.
Menurut Hawkins, Stone, dan Plummer (1999), pengaturan posisi pasien adalah
tindakan keperawatan dasar. Pada posisi ini perawat mempunyai peran yang penting karena
yang ada disamping pasien selama 24 jam ialah perawat. Peran perawat menggunakan posisi
terapi untuk mencegah komplikasi dan immobilitas, memonitor hemodinamik, kenyamanan
serta perubahan patologis selama reposisi. Diruang intensif perawat menyadari adanya
komplikasi karena perawatan yang lama pada pasien kritis, oleh karena itu perubahan posisi
sangat penting guna memperoleh hasil terbaik untuk pasien (Mahvar et al., 2012). Posisi yang
digunakan diruang intensif pada pasien yang terpasang ventilasi mekanik cenderung tidur
dengan posisi terlentang dimana semua pasien seharusnya posisi dengan elevasi kepala 30
derajat (Raoof, 2009). Perubahan posisi pasien rutin digunakan selama di unit perawatan
intensif untuk profilaksis, mengutamakan kenyamanan, mencegah pembentukan ulkus,
mengurangi kejadian deep vein thrombosis, emboli paru, atelektasis dan pneumonia (Banasik,
2001).

Namun untuk beberapa diutamakan untuk membantu meningkatkan fungsi fisiologis


dan bantuan pemulihan (Evans, 1994). Horne dan Swearingen (2001) menganjurkan untuk
merubah posisi pasien sedikitnya 2 jam untuk meminimalkan tekanan pada jaringan, seperti
tumit dan area lain diatas tonjolan tulang. Lamanya waktu dalam posisi terapi yang dipilih
dapat melampaui standar dua jam atau dapat dipersingkat (30 menit), didasarkan pada
efektivitas posisi yang dipilih dalam meningkatkan fungsi pernafasan. Namun posisi lateral
yang dilakukan secara rutin mugkin tidak cocok untuk semua pasien di ruang intensif, beberapa
kontraindikasi, seperti pasien spondilitis, fraktur cervikal dan harus digunakan hati-hati pada
pasien yang rentan terhadap disfungsi cardiopulmonary dan peredaran darah (Banasik, 2001).

Penelitian oleh Glanville dan Hewitt (2009) menyimpulkan bahwa meskipun posisi
lateral memberikan efek peningkatan perfusi untuk peningkatan tekanan parsial oksigen (pO2)
pada pasien dewasa yang sakit kritis dan terpasang ventilasi mekanik di ruang intensif.
Penelitian sebelumnya menemukan bahwa beberapa pasien sakit kritis mengalami perubahan
yang signifikan dalam variabel transportasi oksigen selama reposisi. Studi menggunakan isotop
ventilasi-perfusi scan pasien dengan kardiomegali dan kelainan paru telah menunjukkan
penurunan ventilasi 40% sampai 50% di lobus kiri bawah akibat posisi terlentang yang
berkepanjangan (Jonson, 2009). Posisi lateral kiri dapat meningkatkan ventilasi dimana
anatomi jantung berada pada sebelah kiri di antara bagian atas dan bawah paru membuat
tekanan paru meningkat, tekanan arteri di apex lebih rendah dari pada bagian basal paru.
Tekanan arteri yang rendah menyebabkan penurunan aliran darah pada kapiler di bagian apex,
sementara kapiler di bagian basal mengalami distensi dan aliran darahnya bertambah. Efek
gravitasi mempengaruhi ventilasi dan aliran darah dimana aliran darah dan udara meningkat
pada bagian basal paru (Rodney, 2001). Pada posisi ini aliran darah ke paru bagian bawah
menerima 60-65 % dari total aliran darah ke paru (Gullo, 2008). Pada pasien yang
menggunakan ventilator mekanik, efek gravitasi terhadap kapiler darah menyebabkan
peningkatan tekanan alveolar sehingga meningkatkan ventilasi (Rodney, 2001). Penelitian
Mahvar et al. (2012) tentang efektifitas 3 jenis posisi dengan selang waktu perubahan posisi 30
menit terhadap peningkatan nilai tekanan parsial oksigen (pO2) pada pasien bypass arteri
koroner menunjukkan hasil tekanan parsial oksigen (pO2) dan saturasi oksigen pada posisi
lateral kiri dan lateral kanan lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan posisi
terlentang dan posisi semi fowler, dimana posisi lateral kiri memperoleh peningkatan tekanan
parsial oksigen (pO2) yang lebih tinggi dibanding posisi lainnya. Pasien dengan ventilasi
mekanik membutuhkan oksigen untuk ventilasi (Potter dan Perry, 2005). Penerapan posisi
pasien di ruang intensif sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan drainase sekresi
pernafasan,mencegah gastro-esophageal refluk. (Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 April 2014: 59–65)

Jadi Posisi lateral kiri dengan elevasi kepala 30 derajat dapat meningkatkan tekanan
parsial oksigen (pO2) pada pasien yang terpasang ventilasi mekanik.

Pembahasan kedua

Intervensi keperawatan secara tinjauan pustaka untuk mempertahankan pernapasan


yang adekuat adalah dalam melakukan suction perlu mempertimbangkan tidal volume pasien
yang menggunakan ventilator, sedangkan dalam tinjauan kasus adalah memberikan perawatan
mulut secara rutin dengan kapas yang lunak dan basah, antiseptik dan melakukan suction secara
perlahan
Pengaruh Open Suction terhadap Tidal volume pada pasien yang terpasang ventilator
Penelitian ini di lakukan pada pasien-pasien ICU yang terpasang ventilator di ruang ICU RSUD
dr.Soedarso di mana ada 12 pasien yang memerlukan bantuan nafas menggunakan ventilasi
mekanik. Pada pasien-pasien ICU RSUD dr.Soedarso di mana yang terpasang ventilator
mengalami penurunan kesadaran, tirah baring yang lama tanpa ada gerak dengan pemasangan
ETT yang lama kurangnya reflek batuk pasien sehimgga mengakibatkan terjadinya akumulasi
sekret yang banyak sehingga pasien mengalami gangguan dalam sistem pernafasan yaitu terjadi
sesak nafas yang mengakibatkan pasien kekurangan oksigen sehingga tidal volume pasien
menurun, perlu dilakukan tindakan suction untuk mengeluarkan lendir tindakan suction di
berikan pada pasien yang mengalami sekret yang banyak, tindakan suction waktunya berbeda
beda tergantung jumlah lendir yang di alami oleh pasien, pada pasien dengan SOL mengalami
kesadaran yang menurun sehingga perlu di lakukan tindakan suction lebih sering. Di mana
menurut penelitian Wiyoto (2010), apabila tindakan suction tidak di lakukan pada pasien
dengan gangguan bersihan jalan nafas maka pasien tersebut akan mengalami kekurangan suplai
O2 (hipoksemia), dan apabila suplai O2 tidak terpenuhi dalam waktu 4 menit maka dapat
menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Tindakan suction memberikan patensi jalan
nafas yang dapat mengoptimakan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dan mencegah
pneumonia karena penumpukan sekret. Di lakukan sesuai dengan adanya penumpukan sekret
di jalan nafas pasien (Kozier & Erb, 2012) Setelah tindakan suction diberikan tidal volume
setiap pasien berbeda beda, tidal volume pasien mengalami penurunan di dapatkan nilai (p
0,000) saat di lakukan tindakan suction di mana selang suction di masukan ke dalam ETT dan
mulut pasien dengan melepaskan ventilator mekanik kemudian dilakukan
penarikan/pengeluaran sekret sehingga tidal volume pasien juga ikut tertarik hal ini yang
menyebabkan tidal volume pasien menurun dengan lama waktu kembali normal yang berbeda
pula, saat terjadinya penurunan otak merespon dan memerintah tubuh untuk segera
mendapatkan oksigen rata-rata kembali tidal volume normal 16 detik sesuai dengan setingan
ventilator yang di berikan perawat ICU di layar ventilator disesuai dengan kapasitas paru
pasien.

Jadi terdapat pengaruh perubahan tidal volume pasien yang di lakukan tindakan suction
sebelum dan sesudah tindakan yaitu terjadinya penurunan pada tidal volume pasien sebelum
tindakan tidal volume 382 sedangkan sesudah tindakan 286 Lama waktu kembali tidal volume
normal sekitar 16 detik, lama waktu tidal volume normal tergantung kapasitas paru seseorang
dan keadaan baik buruknya kondisi paru masing-masing individu.

Pembahasan Ketiga

Intervensi keperawatan secara tinjauan pustaka untuk mempertahankan pernapasan


yang adekuat adalah setelah memposisikan pasien segera dilakukam fisioterapi dada dan
diajarkan batuk efektif, dan anjurkan pasien nafas dalam, sedangkan dalam tinjauan kasus tidak
bisa mengajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam karena kesadaran pasien on sedasi.
Sedasi adalah pengurangan iritabilitas atau agitasi dengan pemberian obat penenang,
umumnya untuk memfasilitasi prosedur medis atau prosedur diagnostik. Sedasi biasa
digunakan di unit perawatan intensif sehingga pasien yang diventilasi tahan memiliki tabung
endotrakeal di trakea mereka. Ada penelitian yang mengklaim bahwa sedasi menyumbang 40
persen hingga 50 persen komplikasi terkait prosedur, itulah sebabnya proses ini telah menarik
perhatian. Obstruksi jalan nafas, apnea, dan hipotensi tidak jarang terjadi selama sedasi dan
membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan yang terlatih untuk mendeteksi dan menangani
masalah ini. (Wikipedia,”Sedasi”, https://en.m.wikipedia.org/wiki/sedation, diakses pada
tanggal 2 Maret 2020 pukul 12.26 WIB)
Dengan demikian pasien yang kesadarannya on sedasi tidak bisa untuk melakukan
batuk efektif dan nafas dalam. Seperti intervensi keperawatan yang terdapat pada tinjauan
pustaka.