Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

DHF (Dengue Haemorhagic Fever)

DISUSUN OLEH :

RATU PUTRI PERTIWI


NIM. P07120419016N

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES KEMENKES MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
2020
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini telah di setujui dan di sahkan pada :


Hari :
Tanggal :

Mengetahui :

Pembimbing Pendidikan, Pembimbing Lahan,

(____________________) (____________________)
NIP.

2
Laporan pendahuluan Dengue Haemorhagic Fever

A. Definisi

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue

haemorhagic fever//DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri

sendi yang disetai leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan

ditesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai

dengan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit) atau penumpukan

cairan dirongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock

syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan

atau syok (Sudoyo Aru, dkk 2009)

Dengue Haemorhagic Fever adalah penyakit yang menyerang anak

dan orang dewasa yang disebabkan oleh virus dengan manifestasi berupa

demam akut, perdarahan, nyeri otot dan sendi. Dengue adalah suatu

infeksi Arbovirus (Artropod Born Virus) yang akut ditularkan oleh nyamuk

Aedes Aegepty atau oleh Aedes Albopictus (Titik Lestari, 2016)

DHF adalah infeksi arbovirus( arthropoda-borne virus) akut,

ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005). Dengue

Hemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

dengue yang ditularkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes

albopictus. Virus ini akan mengganggu kinerja darah kapiler dan sistem

pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis, seperti Asia Tenggara,

1
India, Brazil, Amerika, termasuk diseluruh pelosok Indonesia, kecuali di

tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 m diatas permukaan air

laut. Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia

dengan manusia. Virus dengue sebagai penyebab demam berdarah

hanya dapat ditularkan melalui nyamuk (Prasetyono 2012).

B. Etiologi

Pada umumnya masyarakat kita mengetahui penyebab dari

Dengue Haemoragic Fever adalah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Virus Dengue mempunyai 4 tipe, yaitu : DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN

4, yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini biasanya

hidup dikawasan tropis dan berkembang biak pada sumber air yang

tergenang. Keempatnya ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotipe

terbanyak. Infeksi salah satu serotip akan menimbulkan antibodi yang

terbentuk terhadap serotipe yang lain sangat kurang, sehingga tidak dapat

memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe yang lain

tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat

terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus

dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia (Sudoyo dkk.

2010)
Virus Dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif

terhadap inaktivitas oleh distiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu

700C. Keempat tipe tersebut telah ditemukan pula di Indonesia dengan

tipe DEN 3 yang paling banyak ditemukan (Hendarwanto 2010).

C. Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ke tubuh akan menimbulkan

demam karena proses infeksi. Hal tersebut akan merangsang hipotalamus

sehingga terjadi termoregulasi yang akan meningkatkan reabsorsi Na dan

air sehingga terjadi hipovolemi, selain itu juga terjadi kebocoran plasma

karena terjadi peningkatan permeabilitas membran yang juga

mengakibatkan hipovolemi, syok dan jika tak teratasi akan terjadi hipoksia

jaringan yang dapat mengakibatkan kematian.

Selain itu kerusakan endotel juga dapat mengakibatkan

trombositopenia yang akan mengakibatkan perdarahan, dan jika virus

masuk ke usus akan mengakibatkan gastroenteritis sehingga terjadi mual

dan muntah.
D. Pathway

Derajat Dengue Haemorhagic Fever menurut WHO


1. Derajat 1 : demam disertai gejala tidak khas dan satu-

satunya manifestasi perdarahan adalah uji tourniquet positif


2. Derajat 2 : sama seperti derjat 1, disertai perdarahan spontan

dikulit atau perdarahan lain.


3. Derajat 3 : ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi

cepat dan lembut, tekanan darah menurun (< 20 mmHg) atau

hipotensi disertai kulit dingin, lembab, dan pasien menjadi

gelisah.
4. Derajat 4 : syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah

tidak dapat diukur.

F. Manifestasi Klinis

1. Demam dengue

Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua

lebih manifestasi klinis sebagai berikut :

- Nyeri kepala
- Nyeri retro-orbital
- Mialgia / artralgia
- Ruam kulit
- Manifestasi perdarahan(petekie atau uji bending positif)
- Leucopenia
- Pemeriksaan serologi dengue positif, atau ditemukan DD/DBD

yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama

2. Demam berdarah dengue

Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua

hal dibawah ini dipenuhi

a. Demam atau riwayat demam akut 2-7 hari, biasanya bersifat bifasik.

b. Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa :

- Uji tourniquet positif


- Petekie, ekimosis, atau purpura
- Perdarahan mukosa (epitaksis, perdarahan gusi), saluran

cerna,tempat bekas suntik.


- Hematemesis atau melena

c. Trombositopenia <100.00/ul

d. Kebocoran plasma yang ditandai dengan:

- Peningkatan nilai hematokrit ≥20% dari nilai baku sesuai umur dan

jenis kelamin.
- Penurunan nilai hematokrit ≥20% setelah pemberian cairan yang

adekuat

e. Tanda kebocoran plasma seperti :

- Hipoproteinemia
- Asites
- Efusi pleura

3. Sindrom syok dengue

Seluruh kriteria DBD diatas ditandai dengan tanda kegagalan sirkulasi

yaitu:

- Penurunan kesadaran, gelisah


- Nadi cepat, lemah
- Hipotensi
- Tekanan darah turun <20mmHg
- Perfusi perifer menurun
- Kulit dingin, lembab.
(Wiwik dan Hariwibowo, 2008)

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah
a. Pada kasus DHF yang dijadikann pemeriksaan penunjang yaitu

menggunakan darah atau disebut lab serial yang terdiri dari

hemoglobin, PCV, dan trombosit. Pemeriksaan menunjukkan

adanya tropositopenia (100.000 / ml atau kurang) dan hemotoksit

sebanyak 20% atau lebih dibandingkan dengan nilai hematoksit

pada masa konvaselen.


b. Hematokrit meningkat > 20 %, merupakan indikator akan timbulnya

renjatan. Kadar trombosit dan hematokrit dapat menjadi diagnosis

pasti pada DHF dengan dua kriteria tersebut ditambah terjadinya

trombositopenia, hemokonsentrasi serta dikonfirmasi secara uji

serologi hemaglutnasi (Brasier dkk 2012).


c. Leukosit menurun pada hari kedua atau ketiga
d. Hemoglobin meningkat lebih dari 20 %
e. Protein rendah
f. Natrium rendah (hiponatremi)
g. SGOT/SGPT bisa meningkat
h. Asidosis metabolic
i. Eritrosit dalam tinja hampir sering ditemukan
2. Urine

Kadar albumin urine positif (albuminuria) (Vasanwala, 2012) Sumsum

tulang pada awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian menjadi

hiperseluler pada hari ke 5 dengan gangguan maturasi dan pada hari ke

10 sudah kembali normal untuk semua system

3. Foto Thorax

Pada pemeriksaan foto torax dapat ditemukan efusi pleura. Umumnya

posisi lateral dekubitus kanan (pasien tidur disisi kanan) lebih baik dalam

mendeteksi cairan dibandingkan dengan posisi berdiri apalagi berbaring.

4. USG

Pemeriksaan USG biasanya lebih disukai dan dijadikan pertimbangan

karena tidak menggunakan sistem pengion (sinar X) dan dapat diperiksa

sekaligus berbagai organ pada abdomen. Adanya acites dan cairan pleura

pada pemeriksaan USG dapat digunakan sebagai alat menentukan

diagnosa penyakit yang mungkin muncul lebih berat misalnya dengan

melihat ketebalan dinding kandung empedu dan penebalan pankreas


5.Diagnosis Serologis

a. Uji Hemaglutinasi (Uji HI)


Tes ini adalah gold standart pada pemeriksaan serologis, sifatnya

sensitif namun tidak spesifik. Artinya tidak dapat menunjukkan tipe

virus yang menginfeksi. Antibodi HI bertahan dalam tubuh lama

sekali (<48 tahun) sehingga uji ini baik digunakan pada studi

serologi epidemiologi. Untuk diagnosis pasien, kenaikan titer

konvalesen 4x lipat dari titer serum akut atau tinggi (>1280) baik

pada serum akut atau konvalesen dianggap sebagai pesumtif (+)

atau diduga keras positif infeksi dengue yang baru terjadi

(Vasanwala dkk. 2012).


b. Uji komplemen Fiksasi (uji CF)
Jarang digunakan secara rutin karena prosedur pemeriksaannya

rumit dan butuh tenaga berpengalaman. Antibodi komplemen

fiksasi bertahan beberapa tahun saja (sekitar 2-3 tahun).


c. Uji Neutralisasi Uji ini paling sensitif dan spesifik untuk virus

dengue. Dan biasanya memakai cara Plaque Reduction

Neutralization Test (PNRT) (Vasanwala dkk. 2012)


d. IgM Elisa (Mac Elisa, IgM captured ELISA)
Banyak sekali dipakai, uji ini dilakukan pada hari ke 4-5 infeksi virus

dengue karena IgM sudah timbul kemudian akan diikuti IgG. Bila

IgM negatif maka uji harus diulang. Apabila sakit ke-6 IgM masih

negatif maka dilaporkan sebagai negatif. IgM dapat bertahan dalam

darah sampai 2-3 bulan setelah adanya infeksi (Vasanwala dkk.

2012)
e. Identifikasi Virus
Cara diagnostik baru dengan reverse transcriptase polymerase

chain reaction (RTPCR) sifatnya sangat sensitif dan spesifik


terhadap serotype tertentu, hasil cepat dan dapat diulang dengan

mudah. Cara ini dapat mendeteksi virus RNA dari specimen yang

berasal dari darah, jaringan tubuh manusia, dan nyamuk

(Vasanwala dkk. 2012).

F. Penatalaksanaan

1. Medis

a. Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien

dehidrasi dan haus. Pasien diberi banyak minum yaitu 1,5 – 2 liter

dalam 24 jam. Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat

antipiretik. Jika terjadi kejang diberikan antikonvulsan. Luminal

diberikan dengan dosis : anak umur < 12 bulan 50 mg IM, anak

umur > 1tahun 75 mg. Jika kejang lebih dari 15 menit belum

berhenti luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/kgBB. Infus

diberikan pada pasien DHF tanpa renjatan apabila pasien terus

menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga

mengancam terjadinya dehidrasi dan hematokrit yang cenderung

meningkat .
b. Pasien mengalami syok segera segera dipasang infus sebagai

pengganti cairan hilang akibat kebocoran plasma. Cairan yang

diberikan biasanya RL, jika pemberian cairan tersebut tidak ada

respon diberikan plasma atau plasma ekspander banyaknya 20 –

30 mL/kg BB. Pada pasien dengan renjatan berat pemberian infus

harus diguyur. Apabila syok telah teratasi, nadi sudah jelas teraba,

amplitude nadi sudah cukup besar, maka tetesan infus dikurangi

menjadi 10 mL/kg BB/jam (Ngastiyah 2005)


c. Cairan (Rekomendasi WHO, 2007)
1). Kristaloid

- Larutan Ringer Laktat (RL) atau Dextrose 5% dalam larutan

Ringer Laktat (D5/RL).


- Larutan Ringer Asetat (RA) atau Dextrose 5% dalam larutan

Ringer Asetat (D5/RA).


- Larutan Nacl 0,9% (Garal Faali + GF) atau Dextrose 5% dalam

larutan Faali (d5/GF).

2). Koloid

- a). Dextran 40
- b). Plasma

2. Keperawatan

a) Derajat I
Pasien istirahat, observasi tanda-tanda vital setiap 3 jam, periksa

Ht, Hb dan trombosit tiap 4 jam sekali. Berikan minum 1,5 – 2 liter

dalam 24 jam dan kompres hangat.


b) Derajat II
Segera dipasang infus, bila keadaan pasien sangat lemah sering

dipasang pada 2 tempat karena dalam keadaan renjatan walaupun

klem dibuka tetesan infus tetap tidak lancar maka jika 2 tempat

akan membantu memperlancar. Kadang-kadang 1 infus untuk

memberikan plasma darah dan yang lain cairan biasa.


c) Derajat III dan IV
- Penggantian plasma yang keluar dan memberikan cairan

elektrolit (RL) dengan cara diguyur kecepatan 20 ml/kgBB/jam.


- Dibaringkan dengan posisi semi fowler dan diberikan O2.
- Pengawasan tanda – tanda vital dilakukan setiap 15 menit.
- Pemeriksaan Ht, Hb dan Trombosit dilakukan secara periodik.
- Bila pasien muntah bercampur darah perlu diukur untuk

tindakan secepatnya baik obat – obatan maupun darah

yang diperlukan.
- Makanan dan minuman dihentikan, bila mengalami perdarahan

gastrointestinal biasanya dipasang NGT untuk membantu

pengeluaran darah dari lambung. NGT bisa dicabut apabila

perdarahan telah berhenti. Jika kesadaran telah membaik sudah

boleh diberikan makanan cair 2.6

Konsep asuhan keperawatan DHF

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh

perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat berguna untuk

menentukan masalah keperawatan yang muncul pada pasien. Konsep

keperawatan anak pada klien DHF menurut Ngastiyah (2005) yaitu :

a. Pengkajian

1. Identitas pasien Keluhan utama


2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat tumbuh kembang, penyakit yang pernah diderita, apakah

pernah dirawat sebelumnya.


5. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami kejang

demam, apakah ada riwayat penyakit keturunan, kardiovaskuler,

metabolik, dan sebagainya.


6. Riwayat psikososial
Bagaimana riwayat imunisasi, bagaimana pengetahuan keluarga

mengenai demam serta penanganannya.

a. Data subyektif

Merupakan data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien

atau keluarga pada pasien DHF, data subyektif yang sering ditemukan

antara lain :

1. Panas atau demam


2. Sakit kepala
3. Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.
4. Lemah
5. Nyeri ulu hati, otot dan sendi
6. Konstipasi

b. Data obyektif

Merupakan data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat

pada keadaan pasien. Data obyektif yang sering ditemukan pada

penderita DHF antara lain:

1. Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor


2. Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+),

epistaksis, ekimosis,hematoma, hematemesis, melena


3. Hiperemia pada tenggorokan
4. Nyeri tekan pada epigastrik
5. Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa
6. Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi,

ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.


7. Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan

.2.Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF

(Nanda, 2015).

a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas

terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, nyeri, hipoventilasi.


b. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
c. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan

kebocoran plasma darah.


d. Nyeri akut berhubungan dengan cidera biologis (penekanan intra

abdomen)
e. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan

intravaskuler ke ekstravaskuler.
f. Resiko syok (hipovolemik)
g. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual

dan nafsu makan yang menurun.


h. Resiko perdarahan

3. Rencana Keperawatan

Rencana keperawatan pada pasien anak dengan penyakit DHF

(Nanda, 2015)

DP TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


Peningkatan Suhu tubuh 1. Mengkaji saat 1. Untuk mengidentifikasi
suhu tubuh menurun, setelah timbulnya pola demam pasien.
(hipertermia) dilakukan demam.
berhubungan tindakan
dengan penyakit keperawatan 2. Mengobservasi 2. Tanda-tanda vital
(viremia). selama 1x24 jam tanda-tanda merupakan acuan untuk
dengan kriteria vital : suhu, mengetahui keadaan
hasil : nadi, tensi, umum klien.
 Suhu pernafasan
tubuh normal setiap 3 jam /
 Pasien lebih sering.
bebas dari
demam 3. Menganjurkan 3. Peningkatan suhu tubuh
pasien untuk mengakibatkan
banyak minum penguapan tubuh
 2,5 liter / 24 meningkat sehingga perlu
jam dan diimbangi dengan asupan
jelaskan cairan yang banyak.
manfaatnya
bagi pasien.

4. Memberikan 4. Kompres akan mambantu


kompres (pada menurunkan suhu tubuh.
daerah axilla
dan lipat paha).

5. Menganjurkan 5. Pakaian yang tipis akan


untuk tidak membantu mengurangi
memakai penguapan tubuh.
selimut dan
pakaian yang
tebal.

6. Memberikan 6. Pemberian cairan sangat


terapi cairan penting bagi pasien
intravena dan dengan suhu tinggi.
obat-obatan
sesuai dengan
program
(masalah
kolaborasi).
Potensial 1. Memonitor 1. Penurunan jumlah
terjadinya Tidak terjadi tanda-tanda trombosit merupakan
perdarahan perdarahan, penurunan tanda-tanda adanya
lebih lanjut setelah dilakukan trombosit yang kebocoran pembuluh
berhubungan tindakan disertai dengan darah yang pada tahap
dengan keperawatan tanda-tanda tertentu dapat
trombositopenia. selama 1x24 jam klinis. menimbulkan tanda-tanda
dengan kriteria klinis adanya perdarahan
hasil : (nyata) seperti epistaksis,
 Tidak ptekie, dll.
terjadi tanda-
tanda 2. Memberikan 2. Agar pasien / keluarga
perdarahan penjelasan mengetahui hal-hal yang
lebih lanjut tentang mungkin terjadi pada
(secara klinis). pengaruh pasien dan dapat
 Jumlah trombositopenia membantu mengantisipasi
trombosit pada pasien. terjadinya perdarahan
meningkat. karena trombositopenia.

3. Memonitor 3. Dengan jumlah trombosit


jumlah yang dipantau setiap hari,
trombosit setiap dapat diketahui tingkat
hari. kebocoran pembuluh
darah dan kemungkinan
perdarahan yang dapat
dialami pasien.

4. Menganjurkan 4. Aktivitas pasien yang


pasein untuk tidak terkontrol dapat
banyak menyebabkan terjadinya
beristirahat. perdarahan.

5. Memberikan 5. Keterlibatan keluarga


penjelasan dengan segera
pada pasein / melaporkan terjadinya
keluarga untuk perdarahan (nyata) akan
melapor jika membantu pasien
ada tanda- mendapatkan
tanda penanganan sedini
perdarahan mungkin.
lebih lanjut
seperti
hematemesis,
melena, dan
epistaksis.

Gangguan 6. Menjelaskan 6. Dengan mengetahui obat-


aktivitas sehari- obat-obatan obatan yang diminum dan
hari Aktivitas sehari- yang diberikan manfaatnya maka pasien
berhubungan hari tidak dan manfaatnya akan termotivasi untuk
dengan kondisi terganggu, serta akibat mau minum obat sesuai
tubuh yang setelah dilakukan bagi pasien. dengan dosis / jumlah
lemah. tindakan yang diberikan.
keperawatan
selama 1x24 jam 1. Mengkaji
dengan kriteria keluhan pasien 1. Untuk mmengidentifikasi
hasil : masalah-masalah pasien.
 Kebutuha
n aktivitas 2. Mengkaji hal- 2. Untuk mengetahui tingkat
sehari-hari hal yang ketergantungan pasien
terpenuhi. mampu / tidak dalam memenuhi
 Pasien mampu kebutuhannya.
dapat mandiri dilakukan oleh
setelah pasien
terbebas dari berhubungan
demam. dengan
kelemahan
fisiknya.

3. Membantu 3. Pemberian bantuan


pasien sangat diperlukan oleh
memenuhi pasien pada saat
kebutuhan kondisinya lemah dan
aktivitasnya perawat mempunyai
sehari-hari tanggung jawab dalam
berhubungan pemenuhan kebutuhan
dengan tingkat dan sehari-hari pasien
keterbatasan tanpa membuta pasien
pasien seperti mengalami
mandi, makan, ketergantungan pada
eliminasi. perawat.

4. Meletakkan 4. Akan membantu pasien


barang-barang untuk memenuhi
ditempat yang kebutuhan sendiri tanpa
mudah bantuan orang lain.
dijangkau oleh
pasien.

5. Menyiapkan bel 5. Agar pasien dapat segera


di dekat pasien. meminta bantuan perawat
saat membutuhkannya.

Gangguan rasa 1. Mengkaji 1. Untuk mengetahui berapa


nyaman (nyeri) tingkat nyeri berat nyeri yang dialami
berhubungan Rasa nyeri yang dialami pasien. Reaksi pasien
dengan berkurang / pasien dengan terhadap nyeri dapat
mekanisme hilang, setelah memberi dipengaruhi oleh berbagai
patologis dilakukan rentang nyeri (0 faktor dan dengan
(proses tindakan – 10). Biarkan mengetahui faktor-faktor
penyakit) keperawatan pasien tersebut maka perawat
selama 1x24 jam menentukan dapat menentukan
dengan kriteria tingkat nyeri intervensi yang sesuai
hasil : yang dialami dengan masalah pasien.
 Rasa pasien, respon
nyaman pasien terhadap
terpenuhi. nyeri yang
 Nyeri dialami.
berkurang 2. Respon individu terhadap
atau hilang. 2. Memberikan nyeri sangat berbeda atau
posisi yang bervariasi, sehingga
nyaman, perawat perlu mengkaji
usahakan lebih lanjut untuk
situasi ruangan menghindari kesalahan
yang tenang. persepsi terhadap kondisi
yang dialami pasien.

3. Menganjurkan 3. Untuk mengurangi rasa


pasien untuk nyeri. Dengan melakukan
membaca buku, aktivitas lain, pasien
mendengarkan dapat sedikit melipakan
musik, nonton perhatiannya terhadap
TV nyeri yang dialami.
(mengalihkan
perhatian).

4. Memberikan 4. Berhubungan dengan


kesempatan orang-orang terdekat /
pasien utnuk teman akan membuat
berkomunikasi pasien gembira / bahagia
dengan teman- dan dapat mengalihkan
temannya. perhatiannya terhadap
nyeri.
5. Memberikan
obat-obat 5. Obat-obat analgetik dapat
analgetik. membantu menekan atau
mengurangi rasa nyeri
pasien.

Kurangnya 1. Mengkaji 1. Untuk memberikan


pengetahuan tingkat informasi pada pasien /
tentang proses pengetahuan keluarga, perawat perlu
penyakit, diet, Pengetahuan pasien / mengetahui sejauh mana
perawatan dan Pasien / keluarga keluarga informasi / pengetahuan
obat-obatan meningkat, tentang tentang penyakit yang
pasien selama setelah dilakukan penyakit DHF. diketahui pasien serta
sakit tindakan kebenaran informasi yang
berhubungan keperawatan telah didapatkan
dengan selama 1x24 jam sebelumnya.
kurangnya dengan kriteria 2. Mengkaji latar 2. Agar perawat dapat
informasi. hasil : belakang memberikan penjelasan
 Pengetah pendidikan sesuai dengan tingkat
uan pasien / pasien / pendidikan mereka
keluarga keluarga. sehingga penjelasan
tentang dapat dipahami dan
proses tujuan yang direncanakan
penyakit, diat, tercapai.
perawatan 3. Menjelaskan 3. Agar informasi dapat
dan obat- tentang proses diterima dengan mudah
obatan bagi penyakit, diet, dan tepat sehingga tidak
penderita DHF perawatan dan menimbulkan
meningkat obat-obatan kesalahpahaman.
dan pasien / pada pasien
keluarga dengan bahasa
mampu dan kata-kata
menceritakan yang mudah
kembali. dimengerti
(dipahami).
4. Menjelaskan 4. Dengan mengetahui
semua semua prosedur /
prosedur yang tindakan yang akan
akan dilakukan dialami, pasien akan lebih
dan manfaatnya kooperatif dan
bagi pasien. mengurangi kecemasan.
5. Memberikan 5. Mengurangi kecemasan
kesempatan dan memotivasi pasien
pada pasien / untuk kooperatif salama
keluarga untuk masa perawatan /
menanyakan penyembuhan.
hal-hal yang
ingin diketahui
sehubungan
dengan
penyakit yang
dialami pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi


8. Jakarta : EGC
Effendi, Christantie. (1995). Ensiklopedia Demam Berdarah. Edisi Revisi.
Jakarta : Insan Utama.
Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi IV. Jakarta : EGC

Nelson. (1997). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi XII. Jakarta : EGC


Tjokronegoro Arjatmo, Utama Hendra. (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : FKUI