Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

KROMATOGRAFI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pemisahan Kimia dan Analisis Instrumentasi
Yang diampu oleh: - Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si.
- Dr. Irma Kartika Kusuma Ningrum, S.Si.
M.Si.

Disusun oleh : kelompok 4


Furqona Khairunnisa (180331616063)
Ion Wijaya (180331616101)
Mafazatun Nabila (180331616078)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
FEBRUARI 2020
DAFTAR ISI

Daftar Isi .................................................................................................................2


BAB I: Pendahuluan
A. Latar Belakang................................................................................................3
B. Rumusan Masalah ..........................................................................................4
C. Tujuan .............................................................................................................4
BAB II: Pembahasan
1. Pengertian Kromatografi ..............................................................................3
2. Jenis-jenis Kromatografi .............................................................................6
3. Teori dasar Komatografi ............................................................................10
BAB III: Penutup .....................................................................................................
Kesimpulan .........................................................................................................23
Saran ...................................................................................................................23
Daftar Pustaka ......................................................................................................24

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode kromatografi merupakan cara paling baik selama ini untuk
memisahkan komponen kimia yang bercampur dalam sampel. Banyak proses
ekstraksi yang berhasil dilakukan masih memerlukan metode pemisahan lebih
lanjuut karena ekstrak yang didapat masih mengandung beberapa senyawa
sejenis yang tidak dapat dipisahkan. Pemisahan dengan cara ekstraksi untuk
senyawa-senyawa yang sangat mirip juga tidak sederhana. Pemisahan dengan
“counter current” cara Craig juga sangat tidak walaupun memberikan hasil yang
tampak. Inilah yang membuat metode kromatografi menjadi sangat penting
dalam ilmu kimia karena sangat andal untuk memisahkan senyawa-senyawa
yang mirip sekalipun dengan mekanisme pemisahan yang melibatkan beberapa
fasa.
Kromatografi pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh Michael
Tswett pada tahun 1906 pada saat ahli botani ini hendak memisahkan beberapa
jenis klorofil dari ekstrak zat hijau daun dari beberapa jenis tumbuhan. Dalam
tumbuhan terdapat banyak sekali pemisahan secara alami untuk pigmen-
pigmennya, dan juga terjadi perubahan secara kimiawi sehingga menampakkan
perubahan warna, setelah ada kromatografi perubahan-perubahan kimia ini dapat
diikuti dengan baik.
Adapun percobaan Tswett, disiapkan ekstrak tanaman yang diambil dengan
cara biasa, misalnya lewat cara maserasi dengan etanol atau campuran etanol
dan methanol, bahkan air, n-heksana maupun senyawa nonpolar lain. Kemudian
dimasukkan dalam kolom yang sudah diisi serbuk CaCO3 dengan ukuran butiran
yang seragam dan kemudian dituanggi peralut petroleum eter sampai membasahi
seluruh permukaan penyerap. Pelarut tersebut akan turun dalam kolom yang
ditegakkan, sambil membawa serta komponen klorofil yang sudah diekstrak tadi
dalam bentuk pita hijau di kolom. Lama-kelamaan terjadi pemisahan pita
tersebut menjadi beberapa jenis yang lebih tipis dan turu ke ujung kolom dengan
kecepatan berbeda-beda selama proses elusi berlangsung. Dengan demikian,
beberapa komponen dalam senyawa hijau akhirnya dapat terpisah secara

3
sempurna jika waktunya mencukupi. Proses Tswett dapat dilihat seperti gambar
berikut :

Dalam praktiknya, pemisahan terjadi secara perlahan-lahan, bertahap dan


tidak mudah. Bisa tidaknya campuran dipisahkan akan bergantung kepada cocok
tidaknya kombinasi antara serbuk penyerap yang menjadi isi kolom dan pelarut
yang membawa larutan campuran turun. Jika pada awalnya Tswett dapat
menggunakan petroleum eter untuk memisahkan beberapa jenis klorofil dapat
dipastikan sudah banyak percobaan dengan berbagai jenis serbuk penyerap dan
pelarut yang dilakukan untuk memisahkan senyawa campuran dalam ekstrak.
Kombinasi serbuk CaCO3 dan petroleum eter merupakan pasangan penyerap dan
pelarut terbaik untuk pemisahan pigmen tanaman pada waktu itu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kromatografi?
2. Apa saja jenis-jenis kromatografi?
3. Apa saja teori dasar kromatografi?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut dapat diketahui bahwa tujuan
penulisan makalah ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian kromatografi
2. Menjelaskan macam-macam jenis kromatografi
3. Menjelaskan apa saja teori dasar kromatografi

4
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Hasil yang didapat dari proses Michael Tswett berupa pita-pita berwarna
yang terlihat sepanjang kolom sebagai hasil pemisahan komponen-komponen
dalam ekstrak tumbuhan. Dari pita-pita berwarna tersebut muncul istilah
kromatografi yang berasal dari kata “chroma”dan “graphein”. Dalam bahasa
Yunani kedua kata tersebut berarti “warna”dan “menulis”. Yang berarti menulis
warna, walaupun pada kenyataannya tidak semua senyawa komponen tumbuhan
tersebut berwarna setelah terpisah.
Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahan yang didasarkan
atas distribusi komponen sampel diantara dua fasa. Menurut pengertian ini
kromatografi selalu melibatkan dua fasa, yaitu fasa diam (stationary phase) dan
fasa gerak (mobile phase). Fasa diam adalah bagian yang tidak bergerak dalam
system kromatografi, sedangkan fasa gerak adalah bagian yang membasahi
sambil mengambil senyawa-senyawa yang berbeda. Hal ini mirip dengan
metode cara Craig yang dapat memisahkan campuran setelah melalui
serangkaian langkah dan mengandalkan perbedaan distribusi zat terlarut dalam
pelarut-plearut yang berbeda.
Prinsip dari metode kromatografi adalah distribusi komponen sampel antara
dua zat fasa tersebut, yaitu fasa gerak dan fasa diam. Setiap campuran akan
mempunyai cara mendistribusi diri di dalam fasa diam dan fasa gerak dalam
system yang sudah ditentukan. Campuran lain akan memiliki mekanisme
distribusi sendiri-sendiri dalam paduan fasa diam dan fasa gerak tersendiri. Pada
perkembangannya fasa diam dan fasa gerak dapat diubah-ubah dan diberi
perlakuan tertentu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemisahan,
selain itu dalam system modern, senyawa-senyawa yang terpisah ini dapat juga
diidentifikasi.
Fasa diam dalam praktiknya adalah cairan yang terikat pada permukaan
padatan sehingga tidak dapat bergerak atau padatan itu sendiri. Fasa diam dapat
berupa serbuk padatan hidrofilik yang dapat menyerap zat terlarut pada saat
tertentu. Biasanya fasa diam dikemas dala kolom yang akan dilalui oleh zat

5
terlarut bersama fasa gerak yang membawanya. Proses pemisahan akan terjadi di
fasa diam ini.
Fasa gerak adalah cairan atau pelarut atau gas pembawa yang tidak bereaksi
dengan senyawa-senyawa yang dipisahkann. Gerakan cairan ini membawa
migrasi komponen sampel sebelum terserap di fase diam. Fasa gerak sering
disebut juga sebagai eluen, yang akan meng-elusi sampel sepanjang kolom
kromatografi melewati fasa diamnya. Tindakan melewatkan eluen sepanjang
kolom sering disebut dengan mengelusi sampel. Sedangkan eluen yang sudah
mengelusi dan keluar lagi di ujung kolom yang kita sebut dengan istilah eluat.
Proses elusi biasanya berlangsung hanya sekali, tidak seperti ekstraksi kontinu
yang dapat diatur berlangsung terus-menerus selama diinginkan.
Keuntungan pemisahan dengan metode kromatografi dibandingkan dengan
metode pemisahan lainnya ialah
1. Dapat digunakan untuk sampel atau konstituen yang sangat kecil (semi
mikro dan mikro).
2. Cukup selektif terutama untuk senyawa-senyawa organic multi
komponen.
3. Proses pemisahan dapat dilakukan dalam waktu yang relative singkat.
4. Seringkali murah dan sederhana, karena pada umunya tidak
memerlukan alat yang mahal dan rumit.
2. Jenis-Jenis Kromatografi
Jenis-jenis pemisahan dengan metode kromatografi dapat diklasifikasikan
ke dalam beberapa cara, misalnya berdasarkan jenis fasa yang digunakan,
mekanisme pemisahannya, teknik dan pengembangan sampelnya. Tabel dibawah
akan memperjelas klasifikasi tersebut.
NO. Fasa gerak Fasa diam Mekanisme Teknik Pengembangan
Adsorpsi Kolom
1 Gas Cairan Elusi
Partisi Planar
2 Gas Padatan Adsorpsi Kolom Frontal
Partisi Pendesakan
3 Cairan Cairan Kolom
Eksklusi Elusi
4 Cairan padatan Penukar ion kolom Elusi

6
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa berdasarkan fasa geraknya,
kromatografi dapat diklasifikasikan menjadi kromatografi cair dan kromatografi
gas. Menurut pasangan fasa gerak dan fasa diamnya kromatografi
diklasifikasikan menjadi :
1. Kromatografi gas-padat.
2. Kromatografi gas-cair.
3. Kromatografi cair-padat.
4. Kromatografi cair-cari.
Berdasarkan mekanisme pemisahannnya dikenal 4 macam jenis
kromatografi, yaitu :
1. Kromatografi adsorpsi.
2. Kromatografi pertisi.
3. Kromatografi penukar ion.
4. Kromatografi eksklusi.
Ada metode klasifikasi yang lebih mudah untuk diingat, yakni berdasarkan
fasa geraknya seperti gambar berikut :

Kromatografi

Cair Gas

Planar Kolom IEC BC

TLC CZE PC LSC LLC BPC IEC BC

GPC GFC
Umumnya metode kromatografi diklasifikasikan atas jenis fasa yang
digunakan dan sebagian mekanisme pemisahannya. Berikut ini diberikan
pengertian beberapa metode kromatografi berdasarkan klasifikasi tersebut.
1. Kromatografi adsorpsi (cair-padat)

7
Ditemukan oleh Tswett dan dikenalkan kembali oleh Kuhn dan
Lederer pada tahun 1931,telah digunakan secara luas untuk analisis
organik dan biokimia. Pada umumnya sebagian isikolom adalah silika
gel atau alumina yang mempunyai angka banding luas
permukaanterhadap volume sangat besar. Sayangnya hanya ada
beberapa bahan penyerap, makapemilihannya sangat terbatas.
Keterbatasan yang lebih nyata pada kenyataan bahwakoefisien
distribusi untuk serapan kerap kali tergantung pada kadar total. Hal ini
akanmenyebabkan pemisahan tidak sempurna. Contohnya adalah
kromatografi orisinil Tswett dengan larutan eter petroleum dan padatan
CaCO3.
Kekurangan metode cair-padat ini antara lain ialah :
a) Pilihan fasa diam yang terbatas.
b) Koefisien distribusi untuk serapan seringkali tergantung pada
kadar total sehingga pemisahnnya kurang sempurna.
2. Kromatografi pertisi (cair-cair)
Dikenalkan ole Martin dan Synge pada tahun1941, dan kemudian
mendapatkan hadiah Nobel untuk hal itu. Fasa diam terdiri dari lapisan
tipis, cairan yang melapisi permukaan daripadatan inert yan berpori-
pori. Ada banyak jenis kombinasi cairan yang dapat digunakansehingga
metode ini sangat berguna. Lebih lanjut koefisien distribusi sistem ini
lebih tidakbergantung pada kadar, memberikan pemisahan lebih tajam.
Contohnya adalah kromatografi partisi pada kolom gel silica.
Keuntungan metode ini ialah :
a) Pilihan kombinasi cairang yang cukup banyak.
b) Koefisien distribusinya tidak tergantung pada konsentrasi
sehingga hasil pemisahannya lebih tajam.
3. Kromatografi gas-padat
Digunakan sebelum tahun 1800 untuk memurnikan gas. Pada
waktu dulu teknik tidakberkembang karena keterbatasannya sama
seperti halnya kromatografi cairan-padat, tetapipenelitian lebih lanjut
dengan macam fasa padat baru memperluas panggunaan teknik ini.

8
4. Kromatografi gas-cair
Merupakan metode pemisahan yang sangat efisien dan serba guna.
Teknik yang lebih menyebabkan revolusi dalam kimia organik, sejak
dikenalkan pertama kali oleh Jamesdan Marthin pada tahun 1952.
Hambatan yang paling utama ialah bahan cuplikanharusmempunyai
tekanan uap paling tidak beberapa liter pada suhu kolom, sistem ini
sangat baik sehingga dapat dikatakan sebagai metode pilihan dalam
kromatografi karenadapatmemisahkan dengan cepat dan peka.
5. Kromatografi pertukaran ion
Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti
namanya sistem ini khususdigunakan untuk spesies ion. Penemu resin
sintetik dengan sifat penukaran ion sebelum perang dunia II yang dapat
mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah dan asam amino.
6. Kromatografi kertas
Pada kromatografi kertas senyawa-senyawa yang dapat dipisahkan
dapat diambil darikertas dengan jalan memotong noda (spot) yang
kemudian melarutkan secara terpisah. Setetesdari larutan cupikan yang
mengandung sejumlah komponen yang dipisahkan
dengancaraditeteskan pada daerah yang diberi tanda diatas sepotong
kertas saring dimana ia akanmeluasmembentuk noda yang dibuat. Bila
noda telah kering, kertas dimasukkan dalam bejanatertutup yang telah
berisi pelarut sebagai fasa gerak dimana ujung yang
dengandengancuplikan tercelup (noda harus tidak tercelup, sedikit
diatas permukaan pelarut). Pelarut bergerak melalui serta-serta dari
kertas oleh gaya kapiler dan menggerakkan komponen-komponen dari
campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah aliranpelarut. Bila
permukaan pelarut telah bergerak sampai jarak yang cukup jauhnya
atau setelah waktu yangtelah ditentukan, maka kertas diambil dari
bejana dan kedudukan daripermukaan pelarutdiberi tanda dan lembaran
kertas dibiarkan kering. Jika senyawa-senyawa tidak berwarnamaka
harus dideteksi dengan metode kimia atau fisika. Cara yangbiasa adalah
menggunakansuatu pereaksi yang memberikan sebuah warna terhadap

9
beberapa atau semua dari senyawa-senyawa. Sering juga menggunakan
cara deteksi dengansinar ultra violet atau teknik radiokimia.
7. Kromatografi lapis tipis
Kromatografi jenis ini mirip dengan kromatografi kertas. Bedanya
kertas digantikan lembaran kaca atau plastic yang dilapisi dengan
lapisan tipis adsorben seperti alumina, silica gel, selulosa atau materi
lainnya. Kromatografi lapis tipis lebih bersifat reprodusibel (boleh
diulang) daripada kromatografi kertas.
8. Kromatografi filtrasi gel
Pada kromatografi jenis ini fasa diam berupa gel yang terbuat dari
dekstran, suatu bahan hasil ikatan silang molekul-molekul polisakarida.
Bahan bili dimasukkan dalam air akan menggembung membentuk
saringan berpori dengan ukuran pori-pori tertentu. Pori-pori akan
menahan molekul komponen-komponen berdasarkan ukurannya (berat
molekul). Molekul dengan berat molekul dari 100 sampai berapa juta
dapat dipisahkan dengan teknik ini.
9. Kromatografi elektroforesis kontinu
Kromatografi jenis ini merupakan bagian dari kromatografi kertas
dimana selama pengerjaannya diterapkan medan listrik tegak lurus pada
aliran pelarut. Arah aliran spesies ion akan menyimpang dari arah
semula tergantung atas muatan molekul dan gerakitasnya.
3. TEORI DASAR KROMATOGRAFI
Teori dasar kromatrografi pertama kali dikembangkan oleh Martin dan
Synge untuk kromatografi cair-cair. Teori dasar ini terus mengalami
perbaikan untuk dapat diterapkan pada kromatografi gas-cair. Namun
demikian, dasar teori ini diusahakan untuk dapat dipakai dalam berbagai
metode kromatografi lainnya.
1. Kesetimbangan Distribusi
Fase Gerak X

Gambar: Penampang melintang kolom kromatografi cair-cair

10
Jika suatu molekul cuplikan mengikuti proses kromatografi, dapat
diamati bahwa dalam fasa diam molekul-molekul tidak akan bergerak.
Molekul akan bergerak maju bila dialirkan fasa gerak. Didalam kolom,
aliran fasa gerak ini membawa serta komponen-komponen cuplikan
kebawah sepanjang kolom. Pada saat fasa bergerak mengalir sepanjang
kolom terjadi kesetimbangan dinamis antara komponen yang terlarut
pada fase gerak, dengan komponen yang terdapat pada fase diam.
Tetapan kesetimbangan nya disebut dengan koefisien distribusi (K).
Dapat dituliskan dalam rumus sebagai berikut:
𝐶𝑠
K=
𝐶𝑚
Dengan K= koefisien distribusi/ partisi
Cs = konsentrasi komponen dalam fasa diam
Cm = konsentrasi komponen dalam fasa gerak
Dalam keadaan ideal koefisien distribusi ini tetap dalam rentang
konsentrasi yang luas. Hubungan antara Cs dan Cm tergambar dalam
berbagai bentuk kurva adsorpsi isotermal, seperti pada gambar
dibawah ini: A
Cs

B
C
D

Cm
Menurut gambar diatas, hubungan ideal ditunjukkan pada kurva C. hal
ini terjadi karena kesetimbangan distribusi antara dua pelarut yang
tidak bercampur dantidak terjadi reaksi asosiasi atau disosiasi antara
zat terlarut dengan salah satu pelarutnya. Jika terjadi reaksi maka
hubungan antara Cs dan Cm tidak linear lagi, atau kurvanya akan
berbentuk seperti gambar B atau D. Contohnya, suatu asam organik
lemah (HA) dilarutkan dalam fasa diam air dan fasa gerak benzena,
maka kurva yang teramati adalah kurva B. Umumnya kurva B ini juga

11
terjadi pada fasa gas-cair dengan fasa geraknya adalah gas. Kurva D
akan terjadi jika fasa geraknya adalah air.
Kurva A merupakan jenis adsorpsi isotermal yang terkait erat dengan
banyaknya solut yang teradsorpsi pada permukaa padatan dimana
terjadi interaksi antara solut dengan fasa padat. Pada konsentrasi yang
tinggi semua permukaan teradsorpsi telah jenuh sehingga besarnya
tidak tergantung besarmya solut. Kurva ini dapat dinyatakan dalam
rumus:
Cs = KC
Dengan K dan n adalah konstanta. Untuk n = 1 sama dengan
persamaan:
𝐶𝑠
K=
𝐶𝑚
Jika harga K besar, maka populasi komponen didalam fasa diam lebih
besar daripada dalam fase gerak. Artinya, komponen-komponen
tersebut menghabiskan waktunya lebih banyak daripada fasa diam.
Untuk proses kesetimbangan yang beul-betul dinamis, maka fraksi
waktu total yang dihabiskan oleh molekul komponen didalam fasa
gerak berbanding lurus dengan fraksi populasi total molekul yang
ditemukan pada fasa gerak. Fraksi waktu yang dihabiskan molekul
dalam fasa gerak merupakan perbandingan antara jumlah molekul
dalam fasa gerak terhadap jumlah totla molekul. Hal ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
𝐶𝑚 . 𝑉𝑚
=
Cm . Vm + Cs . Vs
1
=
1 + K . Vs/Vm
1
=
1 + K′
2. Laju Migrasi Komponen
Keefektifan proses kromatografi adalah memisahkan campuran
komponen yang tergantung pada laju migrasi komponen, yang

12
berhubungan erat dengan koefisian distribusi kompoonen antara dua
fasa. Persamaan yang diperoleh yaitu:
1 1
= =u
1 + K′ 1 + K . Vs/Vm
Laju migrasi komponen ditentukan oleh:
a. Laju alir gas pembawa.
b. Perbandingan volum fasa diam terhadap fasa gerak.
c. Koefisie distribusi.
Teknik yang digunakan dalam proses ini adalah:
a. Pengamatan setelah eksperimen, contohnya kromatografi kertas
dimana pengamatan dilakukan setelah waktu yang ditentukan.
b. Pengamatan setelah melewati jarak tertentu, contohnya dalam
kromatografi kolom, pengamatan dilakukan setelah komponen
sampai ujung kolom. Pengamatan dapat dilakukan oleh detektor,
misalnya dalam gas kromatografi atau teknik manual lainnya.

3. Waktu Retensi (tR)

Merupakan waktu yang diperlukan solut untuk keluar dari kolom dan
mencapai detektor. Alur antara respon detektor terhadap waktu disebut
kromatogram.

tR A

Respon tM
detektor

Waktu
Gambar: Kromatografi Komponen A

Jika panjang kolom adalah L, maka dari batasan waktu retensi dan
persamaan laju migrasi diperoleh rumus:
𝐿 𝐿
tR= Laju migrasi = u (1 + K ′ ) = tm (1 + K ′ )

13
tm menggambarkan waktu retensi spesies yang tidak ditahan oleh
kolom atau waktu yang diperlukan fasa gerak untuk keluar olom.
4. Volume Retensi (VR)
Merupakan volume fasa gerak yang diperlukan untuk mengelusi
komponen sampel yang keluar kolom. Jika laju alir fasa gerak adalah F
yang harganya konstan, maka VR bisa dituliskan sebagai berikut:
VR= tR .F
Disubstitusi kedalam persamaan sebelumnya:
VR= Vm(1 + K’) =Vm+ K . Vs
Vm adalah volume fasa gerak yang ada dalam kolom pada waktu
tertentu. Vm disebut juga sebagai volume mati (tidak terisi fase diam).
Vs adalah fasa diam, bisa berupa luas permukaan adsorpsi, atau
kapasitas penukaran ion.
5. Faktor Kapasitas (K’)
Menggambarkan laju migrasi komponen di dalam kolom, karena
menurut definisi K’ adalah perbandingan mol solut didalam fasa diam
terhadap mol solut didalam fasa gerak. K’ dapat dirumuskan sebagai
berikut:
𝐶𝑠 . 𝑉𝑠 𝑉𝑠
K’ = Cm .Vm = K Vm

Besarkan faktor kapasitas menunjukkan laju elusi komponen. Jika K’


jauh lebih kecil daripada 1, elusi akan berlangsung cepat sehingga
penetuan tR menjadi sangat sulit. Sebaliknya K lebih besar 20 sampai
30 maka waktu elusi menjadi sangat panjang.
6. Faktor Selektivitas (Faktor pemisahan = alfa)
Faktor yang merupakan ukuran bagi distribusi relatif komponen
diantara fasa diam dan gerak. Faktor selektivitas untuk dua komponen
A dan B dinyatakan sebagai berikut:
Kb
a=
Ka
dimana Kb = komposisi partisi komponen B yang sukar terelui dan Ka
= koefisien partisi komponen A yang mudah terelusi. Berdasarkan

14
pengertian Ka dan Kb makan a harus lebih besar dari satu. Hubungan
antara a dengan K’ dinyatakan sebagai berikut:
Kb
a=
Ka
makan harga a dapat ditetukan dari kromatogram dengan rumus:
(tR)b − tm K′b
= =
(tR)a − tm K′a
7. Bentuk Pita dan Pelebaran Pita
Pada kromatografi ideal, bentuk pita (puncak) kromatogram yang
diperoleh berupa puncak-puncak yang sangat sempit, yang terpisah
satu sama lain. Hal ini bisa dicapai jika molekul-molekul berkelakuan
sama muali masuk kolom sampai keluar kolom. Dalam keadaan
demikian, jika sejumlah molekul masuk bersama-sama di ujung
kolom, maka akan keluar secara bersama-sama pula diujung yang lain.
Namun, kenyataannya puncak atau pita kromatogram umumnya
melebar, berbentuk kurva mirip kurva gauss.
Pelebaran pita tersebut diperoleh sebagai hasil penjumlahan
gerakan acak sejumlah besar partakel-partikel solut pada saat bergerak
sepanjang kolom. Perlu diketahui bahwa jika sebuah molekul bergerak
sepanjang kolom akan mengalami sejumlah besar perpindahan, yakni
perpindahan dari fasa gerak ke fasa diam dan sebaliknya. Waktu
keberadaan solut dalam setiap fasa tidak menentu, kadang-kadang
pendek dan kadang-kadang lama. Hasil acak masing-masing proses
menimbukan sebaran simetrik kecepatan di sekitar harga rata-rata.
Lebar pita berbanding lurus dengan waktu tinggal dalam kolom dan
berbanding terbalik dengan laju alir fasa gerak.
*gambaran bentuk pita ideal dan tak ideal dari suatu kroatogram

a) Kromatogram ideal; b) Kromatogram tak ideal

15
8. Efisiensi kolom kromatgrafi
Efisiensi kolom berhubungan dengan melebarnya puncak pada
waktu komponen bergerak sepanjang kolom. Semakin efisien suatu
kolom kromatografi, semakin sempit puncak yang dihasilkan.
Efisiensi kolom diukur sebagai jumlah pelat teoritis N, Height
equivalent of a theoretical plate (HETP) atau ketinggian ekivalen
terhadap pelat teoritis.
HETP = H = L / N
N= jumlah pelat teoritis dari suatu kolom
L= panjang kolom
Eifisiensi kolom teragantung pada pelarut (fasa diam), zat
terlarut (komponen),suhu,kecepatan aliran dari gas pembawa,ukuran
dari komponen.sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi N atau
HETP,tetapi secara kuantitatif teori yang menyatakan pengaruh
tersebut sangat sukar. Ada 2 teori yang berhubungan dengan efisiensi
kolom yang mempengaruhi N atau HETP , yaitu teori pelat (plate
theory) dan teori kelajuan atau kinetik. Kedua teori membicarakan
parameter-parameter yang menentukan efisiensi kolom.
i. Teori Pelat
Teori ini dikemukakan oleh Martin dan Synge (1941).
Menurut teori ini kolom kromatografi dibayangkan terdiri dari
segmen-segmen identik, yang disebut pelat teori. Konsep tentang pelat
adalah imajinasi, karena suatu kolom tidak memiliki pelat-pelat.
Tetapi merupakan gambaran dari partikel-partikel yang tertarik/terikat
fase cair.
Di dalam setiap pelat teori dianggap terjadi kesetimbangan
distribusi (kesetimbangan partisi komponen di antara fasa diam dan
fasa gerak). Semakin banyak jumlah pelat teori (N), suatu kolom
kromatografi, semakin baik kemampuan memisahkan atau efisiensi
kolom itu semakin baik. Untuk menghitung jumlah pelat teoritis N
dari kromatogram dapat ditentukan dari waktu retensi (tR) dan lebar
puncak (W).

16
Jumlah pelat teori suatu kolom dihitung berdasarkan rumus:

Dimana w = lebar pita yang dicari dengan cara membuat garis


singgung pada kromatogram hingga memotong garis dasar, lalu harga
W1/2 adalah lebar puncak pada separuh tinggi puncak dan tR adalah
waktu retensi.

(pita kromatogram)
ii. Teori Kelajuan
Pada teori ini mencangkup teori kelajuan, berdasarkan kinetika
pergerakan komponen sepanjang kolom. Berdasarkan teori kelajuan,
ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan pelebaran puncak, yaitu
faktor difusi eddy,difusi longitudinal, dan ketidaksetimbangan transfer
massa. Besarnya pengaruh masing-masing faktor ditentukan oleh
variabel-variabel yang dapat dikontrol, seperti laju alir fasa gerak,
ukuran partikel kemasan,laju difusi, dan ketebalan fasa diam.

Sejumlah persamaan telah dikembangkan untuk


menghubungkan efisiensi kolom dengan ketiga proses tersebut.
persamaan paling awal, dan paling sederhana dikenal sebagai
persamaan van deemter, yang diturunkan berdasarkan proses dalam
kromatografi gas. Persamaan van Deemter ini mengemukakan kaitan
antara parameter efisiensi kolom, yaitu HETP (H) dengan laju air
B
linier (flow rate) gas pembawa, menurut persamaan H=A+ +C.u
𝑢

17
Dalam hal ini kuantitas A berhubungan dengan difusi eddy, B
dengan difusi longitudinal, dan C dengan ketidakseimbangan transfer
massa.

iii. Resolusi kolom


Kemampuan kolom untuk memisahkan dua komponen atau
lebih merupakan tujuan utama dari kromatografi. Ukuran kuantitatif
untuk menyatakan kemampuan kolom dalam memisahkan ini disebut
resolusi (RS), yang didefisinikan sebagai:

Besarnya wx,wy,(tR)y,(tR)x, dapat dilihat dari kromatogram


dibawah ini dapat dilihat dari kromatogram dibawah ini

(pemisahan pada tiga harga resolusi)


Dalam gambar diatas juga tertera berbagai harga resolusi yang
menyatakan seberapa besar overlap dari puncak x dan y. dari gambar
diatas wx,wy adalah lebar puncak pada bagian alasnya (dalam unit
waktu), sedangkan AZ adalah perbedaan antara waktu retensi
komponen x dan y. jika harga w dicari sebagai rata-rata dari kedua
puncak, akan lebih sederhana persamaan 6.13 menjadi

Rumusan diatas berlaku juga bagi puncak yang ukuran lebar


alasannya hampir sama.

18
Dari gambar pemisahan pada tiga harga resolusi juga dapat
dilihat bahwa pada harga resolusi 1,5 memberikan pemisahan yang
sempurna antara x dan y, dan sebaliknya pada resolusi 0,75. Pada
resolusi 1,0 daerah x mengandung 4% y, atau sebaliknya, sedangkan
pada resolusi 1,5 tumpangsuh tersebut sekitar 0,3 %. Harga resolusi
1,5 ini disebut resolusi garis dasar. Untuk keperluan pemisahan yang
baik dari puncak dua komponen, nilai resolusi harus lebih besar dari
1,0.
Rumusan resolusi ini dapat dihubungkan dengan sifat-sifat
kolom seperti waktu retensi, faktor kapasitas, faktor selektivitas,
jumlah pelat teori, dan sebagainya. Bahasan berikut akan mencari
hubungan antara resolusi dengan sifat-sifat kolom tersebut, dengan
memperhatikan kromatogram pada gambar pemisahan tiga harga
resolusi .jika diasumsikan w = wy = wx, maka persamaan 6.13 sebagai
berikut

Dalam rumus menghitung jumlah pelat teori suatu kolom


memungkinkan untuk menyatakan wy dalam (tR)y dan N, sehingga
persamaan 6.15 dapat dituliskan sebagai

Bila persamaan waktu retensi: tR = tM(1+k’) dimasukkan ke


dalam persamaan 6.16 akan dapat dituliskan hubungan antara resolusi
dengan faktor kapasitas, k’, yaitu:

Bila rumusan faktor selektivitas 𝛼 untuk x dan


y,yaitu𝛼=k’y/k’x digunakan untuk mengeliminasi k’x dari rumusan
6.17,akan diperoleh persamaan:

19
Untuk menghitung jumlah pelat teori yang diperlukan untuk
mencapai harga resolusi tertentu. Persamaan 6.18 dari diatur kembali
dan menghasilkan:

iv. Kapasitas Sampel


Kapasitas sampel untuk fasa diam tertentu adalah banyaknya
sampel yang dapat diserap pada fasa diam tersebut, sebelum terjadi
muatan lebih (overloading). Kapasitas sampel ini dinyatakan dalam
mg sampel/gram fasa diam. Adanya muatan lebih ini mengakibatkan
terjadinya puncak yang tak simetris. Kapasitas sampel ini berbanding
lurus dengan volum fasa diam.

Kapasitas sampel ini memiliki hubungan berbentuk segitiga


dengan sifat-sifat retensi kolom, yaitu resolusi dan kecepatan analisis.

(Hubungan antara kapasitas sampel, kecepatan analisis, dan resolusi)

Arti diagram segitiga di atas adalah, jika diinginkan


memperbaiki salah satu unsur segitiga, hanya dapat dengan
mengorbankan dua unsur lainnya. Jika diinginkan memperbaiki dua
dari ketiga unsur akan mengorbankan unsur ketiga. Sebagai contoh
adalah, jika proses kromatografi itu untuk tujuan analisis, maka yang
diutamakan adalah resolusi dan kecepatan analisis.

Oleh karena itu jumlah sampel yang dimasukkan tidak boleh


banyak. Akan tetapi jika proses kromatografi itu untuk tujuan
preparatif, maka kapasitas sampel diutamakan, yang tentunya akan

20
mengobarkan kecepatan analisis dan resolusi. Dalam hal ini resolusi
yang ingin dicapai asal sesuai persyaratan preparat yang dihasilkan.
Contoh soal :
1. Zat A dan B mempunyai waktu retensi 16,40 menit dan 17,63 menit
pada kolom sepanjang 30 cm. spesies yang tak ditahan melewati
kolom dalam waktu 1,30 menit. Lebar kedua puncak adalah 1,11 menit
dan 1,21 menit. Hitunglah:
a. Resolusi kolom
b. Julmah pelat rata-rata di dalam kolom
c. Tinggi pelat teori
d. Panjang kolom yang diperlukan untuk mencapai resolusi 1,5
Penyelesaian:
a. Resolusi kolom: RS =

b. Jumlah pelat rata-rata di dalam kolom:

Nrata-rata di dalam kolom =

c. Tinggi pelat teori =

d. Persamaan yang digunakan:

Karena k’ dan 𝛼 tidak berubah dengan semakin besarnya N dan L,


maka berdasar persamaan di atas akan dapat dihitung:

dimana subskrip 1 menyatakan keadaan mula-mula, sedang


subskrip 2 keadaan akhir, sehingga:

21
Panjang kolom (L) = N×H
=6,90×103×8,71×10-3
=60,1 cm
v. Analisis kualitatif dan kuantitatif dengan kromatografi
Pada awalnya kromatografi berkembang sebagai cara
memisahkan spesies-spesies yang sifat kimianya mirip. Namun
demikian, cara ini berkembang untuk uji kualitatif dan kuantitatif bagi
spesies yang telah terpisah.
a. Analisis Kualitatif
Dari data kromatogram hanya akan dapat diperoleh
informasi besarnya waktu retensi atau posisinya dalam fasa diam.
Informasi lain mungkin bisa diperoleh jika fasa diam atau fasa
gerak diganti, atau temperatur kolom diubah. Namun demikian,
data kualitatif yang diperoleh dari kromatogram ini tidak serinci
data kualitatif dari analisis inframerah, NMR, atau spectrum
massa. Oleh karena itu umumnya analisis secara kromatografi
merupakan langkah awal sebelum dilakukan analisis secara
spektroskopi.
b. Analisis kuantitatif
Analiisis kuantitatif didasarkan atas perbadingan antara
tinggi puncak atau luas area punca-puncak analit terhadap
puncak satu atau lebih zat standar. Jika kondisi analisis benar-
benar terkontrol, maka parameter-parameter tersebut diatas akan
bervariasi secara linier dengan konsentrasi.
Ada beberapa macam cara analisis kuantitatif yang bisa
dituliskan secara garis besarnya, yaitu:

1)Analisis atas dasar tinggi puncak 3)Kalibrasi dengan standar


2)Analisis atas dasar luar area puncak 4)Metode standar dalam & Normalisasi

22
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahan yang didasarkan
atas distribusi komponen sampel diantara dua fasa. Menurut pengertian ini
kromatografi selalu melibatkan dua fasa, yaitu fasa diam (stationary phase) dan
fasa gerak (mobile phase).
Fasa diam adalah bagian yang tidak bergerak dalam system kromatografi,
sedangkan fasa gerak adalah bagian yang membasahi sambil mengambil
senyawa-senyawa yang berbeda. Hal ini mirip dengan metode cara Craig yang
dapat memisahkan campuran setelah melalui serangkaian langkah dan
mengandalkan perbedaan distribusi zat terlarut dalam pelarut-plearut yang
berbeda.
2. Saran
Pemisahan dengan cara kromatografi adalah salah satu cara pemisahan
analitik. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi
pembelajaran kimia bab analitik. Penulis juga siap menerima kritik dan saran
yang membangun mengenai materi yang dibahas pada makalah ini.

23
Daftar Pustaka

Mulja.Muhammad, Suharman,1995, Analisis Instrumental, Airlangga


University Press, Surabaya
Soebagio, dkk. 2005. Kimia Analitik II. Malang University Press, Malang.
Sastrohamidjojo,Harjono, 2005, Kromatografi, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta
Skoog,DA,Holler,FJ,and West DM,1994, Analytical Chemistry, Six
Edition,Hardcourt Grace College,Florida

24