Anda di halaman 1dari 3

Konsep Pragmatik

Konsep Programatik adalah konsep yang dikembangkan berkisar tentang persoalan-


persoalan yang pragmatis, yang diidentifikasi dari program sebuah bangunan. Konsep ini
dikenal sebagai tanggapan langsung dari pemecahan masalah suatu proyek dan
perancangannya. Jika Anda dihadapkan pada sebuah perancangan, hendaknya perlu dikenali
terlebih dahulu permasalahan yang ada. Setelah itu, identifikasi lebih detail kemudian
mencari solusi desain dengan pemecahan dari berbagai sumber. Hal inilah yang dimaksud
dengan programatik atau tanggapan langsung dari pemecahan masalah.

Membuat bentuk sesuai fungsi dan kebutuhan, susunan ruang, tanpa memperhatikan
bentuk atau tampak. Konsep yang dikembangkan seputar persoalan-persoalan yang
diidentifikasi dari program suatu bangunan
Contoh bangunan pragmatik :
1. Honai

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat
dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela
yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya
dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk
membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Honai dibangun denga prinsip arsitektur
pada zamannya yang telah diperhitungkan, dari sisi kebutuhan yaitu keterbatasan iklim
tanpa memikirkan bentuk dan tampak dari bangunan.

2. Nanyang Technological University di Singapura


Nanyang Technological University di Singapura disebut sebagai universitas paling bergengsi di
Asia. Singapura yang memang punya lahan terbatas memang harus pintar untuk berpikir bagaimana bisa
membangun gedung tanpa harus merusak lingkungan, dan salah satu contohnya dilakukan oleh Nanyang
Technological University yang dibangun oleh CPG Consultants Pte Ltd, mereka berhasil membuat sebuah gedung
di area yang seharusnya merupakan area hijau tanpa terlalu merusak area hijau yang sudah ada.

Desainnya yang futuristik menyatu dengan lingkungan hijau di sekelilingnya. Bagian yang paling
menarik dari semuanya adalah atap penghijauan pada bangunan. Bangunan cantik ini tidak hanya menjadi
sebagai tempat pertemuan bagi mahasiswanya, tetapi juga sebagai isolator natural dan memanfaatkan curah
hujan rutin di Singapura dengan mengairi bangunan itu sendiri melalui tampungan air hujan.

Kampus yang berada di Singapura ini menerapkan konsep hijau pada desain arsitekturnya. Konsep hijau
diperpadukan dengan lengkungan bangunan yang memberikan motif dan panorama yang segar.

Didalam kampus terdapat berbagai macam fasilitas, sedangkan pada atap kampus ditanami dengan tumbuhan
vegetasi getasi yang memberikan kesan hijau dan udara yang sejuk.

Sebuah gedung ramah lingkungan dengan atap hijau (Green Roof) yang terlihat menyatu dengan alam sekitar.
Desain bagian atapnya dibuat seperti sebuah bukit sehingga bisa berfungsi sebagai lantai untuk berjalan ke
bagian atas gedung yang punya lantai untuk berjalan ke bagian atas gedung yang punya 5 lantai. Dan untuk
memanfaatkan sinar matahari sebagai penerangan, semua dinding menggunakan material kaca.

3. Menara Mesiniaga, Kuala Lumpur


Kemajuan teknologi yang pesat memungkinkan manusia untuk berinovasi dalam
menemukan sejumlah temuan baru, termasuk bidang arsitektur. Bermula dari peradaban
manusia nomaden hingga menetap, kemudian berkembang menjadi permukiman tradisional
yang masih bertahan sampai saat ini. Kebutuhan manusia akan perlindungan terhadap alam
juga semakin berkembang seiring dengan perkembangan aktivitasnya. Kebutuhan ini
kemudian memunculkan bentukan baru dalam desain bangunan, diantaranya high rise
building. Bentukan ini merupakan salah satu alternatif bagi manusia untuk memanfaatkan
keterbatasan lahan dengan tingkat efisiensi penggunaan dan fungsi yang tinggi. Namun,
pemunculan high rise building menimbulkan kesetujuan dan ketidaksetujuan, terutama di
negara beriklim tropis. Bentukan ini bagaikan „kulkas‟ yang nyaman di dalamnya, namun
menghabiskan enerji yang tinggi dan merupakan pemborosan yang demikian mahalnya.
Beranjak dari hal tersebut, Kenneth Yeang, seorang arsitek Malaysia, membuat terobosan
baru dalam mendesain bangunan tinggi di daerah tropis yang ramah lingkungan dengan
melakukan penyimpangan terhadap tipe bangunan tinggi yang sangat tidak umum.
Desain ini memanfaatkan bukaan untuk mengoptimalkan pencahayaan dan penghawaan
alami, yang kemudian dikenal dengan istilah arsitektur bioklimatik. Adapun ide ini diilhami
dari bangunan tradisional di Asia Tenggara pada umumnya yang mampu menanggapi iklim
dengan memperhatikan posisi bangunan terhadap arah pergerakan matahari dan arah
angin. Tanggapan ini kemudian diterjemahkan ke dalam wujud arsitektur modern berupa
bangunan pencakar langit.

Konsep Utopia

Utopia atau cita-cita merupakan konsep ideal yang dibawa oleh arsitek
kepada masalah yang bersangkutan. Konsep yang tepat pada suatu
proyek akan dijadikan sebagai inspirasi dan cita-cita oleh sang arsitek.
Konsep cita-cita berkaitan erat dengan pengetahuan serta pengalaman
sang arsitek tentang perancangan tertentu yang diperoleh melalui proses
pembelajaran dan pengalaman panjang dalam mengerjakan perancangan
ataupun kasus proyek yang berbeda-beda.