Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

RUANG LINGKUP AJARAN ISLAM

DI SUSUN OLEH

KELOMPOK 2

1. PUTRI OKTAVIANI (18020012)


2. SUCI AULIA (18020008)
3. SRI AMBAR (18020011)
4. ROSA AMELIA (18020013)
5. RAHMI (18020006)

DOSEN: DR. YUSUTRIA, S.PDI., MA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PGRI
SUMATERA BARAT
PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahhirobbilalamin,

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunianya kepada kita semua berupa ilmu dan amal. Berkat rahmat dan karunianya
pula, penulis dapat menyelesaikan makalah pengantar studi pendidikan agama islam yang
InsyaAllah tepat pada waktunya yang berjudul “Ruang Lingkup Ajaran Islam”

Makalah ini berisikan tentang pembelajaran Ruang Lingkup Ajaran Islam akan kami
bahas secara lebih dalam , karena selain kita perlu memahami dan mengerti apa ituPengertian
Akhlak, Ruang Lingkup Akhlak, dan Ukhuwah Islamiyah

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih yang sedalam dalamnya kepada
terhormat: Bapak Dr. Yusutria ,S.Pd selaku dosen pengajar Pendidikan Agama islam yang
memberikan pengarahan kepada kami untuk menyusun makalah ini. Dan teman teman yang telah
membantu memberikan saran dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah untuk kedepannya. Akhir
kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari makalah ini, kita dapat menambah pengetahuan mengenai Ruang
Lingkup Ajaran Islam.

12 April 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................. i


Daftar Isi ............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………..…… 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………… 2
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Akhlak…………………………………………………………………… 3
2.2 Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak………………………………………….. 8
2.3 Ukhuwah Islamiyah……………………………………………………………….… 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………… 14
3.2 Saran…………………………………………………………………………….…… 15

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Secara umum akhlak di pahami sebagai sikap, tingkah laku, dan
performan dari sesorang. Istilah akhlak sering di sejajarkan dengan istilah
lain seperti etika, moral, susila, nilai, adat, dan lainnya. Akhlak merupakan
salah satu ajaran pokok agama islam. Akhlak yang baik akan menitik
beratkan timbangan kebaikan sesorang oada hari kiamat. Akhal mulia yang
di ajarkan oleh islam merupakan orientasi yang harus di pegang oleh setiap
muslim. Akhlak merupakan ukuran kemanusiaan yang hakiki dan bagian
yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, bahkan unutk membedakan
antara hewan dan manusia terletak pada akhlaknya. Tidak di pungkiri
bahwa kemerosotan akhlak terjadi merupakan akibat dari dampak negative
dari kemajuan teknilogi dan era globalisasi. Kemajuan tekniologi dan
derasny arus globalisasi menimbulkan dampak negative di karenakan tidak
di imbangi dan tidak di iringi dengan keimannan.
Berbagai fenomena menunjukkan gejala gejala yang menghawatirkan
terkait dengan akhlak generasi bangsa. Hal yang lebih menghawatirkan lagi
adalah bahwa anomaly akhlak tersebut yang tidak sedikit di dalam
lingkungan pendidikan itu sendiri, bahkan di lakukan oleh pelaku
pendidikanpendidikan merupakan factor penting yang memberikan
pembentukan akhlak. Akhlak merupakan factor mutlak dalam menegakkan
keluarega sejahtera, kerukunan antar tetangga dan juga dalam pergaulan
sehari-hari.pentingnya akhlak bukan hanya untuk lingkup keluarga atau
masyarakat saja tetapi juga sangat penting bagi kehidupan bangsa negara
dan dunia akhlak bertujuan untuk menciptakan manusia sebagai makhlik
yang tinggi dan sempurna serta membedakannya dari makhluk yang
lain.aklak dapat menjadikan manusia berkelakuan baik, bertindak baik
terhadap manusia,sesama mahkluk dan juga terhadap Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian akhlak?


2. Bagaimana ruang lingkup akhlak?
3. Bagaimana pengertian ukhuwah islamiyah?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui bagaimana pengertian akhlak
2. Untuk mengetahui bagaimana ruang lingkup akhlak
3. Untuk menegtahui bagaimana pengertian ukhuwah islamiyah
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akhlak

Untuk memberikan defenisi terhadap sesuatu, biasanya para ilmuwan


atau ahli menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan dari sudut bahasa
dan pendekatan dari segi peristilahan. Dari sudut bahasa, perkataan “akhlak”
berasal dari bahasa Arab yaitu “akhlakun” sebagai bentuk jamak dari kata
“khulqun” yang berarti: budi pekerti, perangai, kelakuan atau tingkah laku,
tabiat.1
Selanjutnya di dalam kitab “Dairatul Ma’arif” dikemukakan bahwa:

Artinya : “Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik”.


Dari arti kata secara bahasa di atas, para ahli mengemukakan
pengertian secara istilah tentang akhlak tersebut, seperti:2
1. Ibnu Miskawaih (seorang ahli pikir Islam, wafat tahun 241 H) dalam
bukunya: “Tahzib al-Akhlak” mengemukakan bahwa akhlak adalah:

1
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm. 1.
2
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm, 2.
Artinya : “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
2. Di dalam kitab al-Mu’jam al-Wasit, defenisi akhlak dikemukakan sebagai
berikut:

Artinya : “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya
lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan
pemikiran dan pertimabangan”
3. Imam al-Ghazali (yang dikenal sebagai al-Hujjatul Islam) dalam bukunya
Ihya’ Ululum al-Din seperti yang dikemukakan oleh Hamzah Yakub
mengemukakan bahwa akhlak itu ialah kebiasaan jiwa yang tetap yang
terdapat dalam diri manusia yang dengan mudah dan tak perlu berpikir
menumbuhkan perbuatan-perbuatan dan tingkah laku manusia. Apabila lahir
tingkah laku yang indah dan terpuji maka dinamakan akhlak yang baik, dan
apabila yang lahir itu tingkah laku yang keji, dinamakan akhlak yang buruk
(Hamzam Yakub, 1982: 92).
4. Dalam Ensiklopedia Pendidikan dikemukakan bahwa akhlak ialah budi
pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik
yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap Khaliqnya dan
terhadap sesamanya. (Soegarda Poebakawatja,1976: 9)
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat
yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya yang selalu
ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuaan baik, disebut akhlak yang
mulia, atau berbuatan buruk disebut akhlak yang tercela sesuai dengan
pembinaannya. (Asmaran, 1992: 1)3
Bila diperhatikan arti perkataan akhlak secara bahasa dan pengertian
secara istilah seperti yang dikemukakan di atas sepertinya ada perbedaan,
dimana secara bahasa arti kata “akhlak” itu menyangkut aspek perbuatan
atau tingkah laku sedangkan secara istilah para ahli mengemukakan akhlak
itu sebagai sifat jiwa atau hati atau bathin. Untuk meluruskan perbedaan itu,
al-Ghazali mengemukakan bahwa tingkah laku seseorang itu adalah lukisan
bathinnya, artinya sifat yang tumbuh di hati manusia akan memancar kepada
perilaku atau tingkah lakunya.4
Jadi dapat dipahami bahwa para ahli dalam memberikan pengertian
akhlak secara istilah tersebut lebih menitik beratkan pandangan mereka pada
aspek apa yang mendasari lahirnya perbuatan, yaitu sifat yang tertannam
dalam bathin manusia. Tetapi selanjutnya al-Ghazali mengatakan bahwa kita
tidak dapat melihat pada dasar-dasar jiwa ini, yang dapat dilihat hanyalah
bekasnya yaitu kelakuan, tingkah laku atau perbuatan yang ditumbuhkannya.
Jadi seperti dikemukakan Asmaran As (199: 3), pada hakikatnya khuluk
(budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang yang telah
meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah
berbadai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-

3
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm, 3.
4
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm, 4.
buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul
kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran,
maka ia dinamakan budi pekerti mulia dan sebaliknya apabila yang lahir
kelakuan buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela.5
Al-khulq disebut sebagai kondisi atau sifat yang telah meresap dan
terpatri dalam jiwa, karena seandainya ada seseorang yang mendermakan
hartanya dalam keadaan yang jarang sekali untuk suatu hajat dan secara tiba-
tiba, maka bukanlah orang yang demikian ini disebut orang yang dermawan
sebagai pantulan dari kepribadiannya.
Juga disyaratkan, suatu perbuatan dapat dinilai baik jika timbulnya
perbuatan itu dengan mudah sebagai suatu kebiasaan tanpa memerlukan
pemikiran. Sebab seandainya ada seseorang yang memaksa dirinya untuk
mendermakan hartanya atau memaksa hatinya untuk berdiam di waktu
timbul sesuatu yang menyebabkan kemarahan dan hal itu diusahakan dengan
sungguh-sungguh dan dipikir-pikir terlebih dahulu, maka bukanlah orang
yang semacam ini disebut sebagai orang yang dermawan.
Perkataan “akhlak” berkaitan erat dengan perkataan “khalqun” yang
berarti kejadian, serta erat pula hubungannya dengan kata “khaaliqun” yang
berarti pencipta dan juga dengan kata “makhluqun” yang berarti diciptakan.
Para ulama merumuskan artian “akhlak” dimaksudkan sebagai media yang
memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluq atau
sebaliknya dan hubungan baik antar sesama makhluk (Hamzah Yakub,1982:
11). Artinya melalui akhlak, tentunya akhlak yang baik akan terbangun
hubungan yang baik antara manusia dengan Sang Pencipta (Allah Swt) dan
antar sesama manusia termasuk lingkungan alam sekitar sebagai sesama

5
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm, 4.
makhluk Allah Swt.6 Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam al-
Qur’an Surat Ali Imran ayat 112 yang berbunyi:

Artinya : “Allah akan melimpahkan laknat kepada mereka dimana saja


berada, kecuali mereka yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan
Allah dan menjaga hubungan baik kepada sesama manusia”.
Itulah sebabnya salah satu fungsi dan tugas kerasulan Muhammad
Saw adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak umat manusia.
Dijelas dalam sabdanya yang berbunyi:

Artinya : “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus tiada lain adalah untuk


menyempurnakan akhlak” (HR.Ahmad).
Sebagai penyempurna akhlak manusia maka Muhammad SAW telah
memperlihatkan dalam perilakunya akhlak yang mulia dan agung, seperti
dikemukakan dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4:7
َ ‫َعظِ ٍيم ُخلُ ٍق لَ َعلَ ٰى َوإِ َّن‬
‫ك‬

6
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm, 5.
7
Referensi: https://tafsirweb.com/11092-surat-al-qalam-ayat-4.html
Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung”.
Perilaku akhlak Nabi yang mulia dan luhur tersebut tentunya didasari
oleh kesadaran mendalam bahwa untuk dapat berhasil memperbaiki akhlak
manusia tidak cukup dengan kata- kata teoritis saja tetapi, harus terlebih
dahulu mepraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar itu pula
Muhammad Saw dalam waktu yang singkat berhasil memperbaiki akhlak
manusia dari yang semua jahil dan zalim berubah menjadi manusia yang
beradab dan ber-peradaban. Dengan keberhasilanya itu pula, penulis barat
yang bernama Michael H. Hart ketika menulis tokoh-tokoh yang paling
berpengaruh dalam sejarah dunia, dia menempatkan Muhammad pada urutan
pertama. (lihat Michael H. Hart, 1982: 3) artinya menurut penulis Barat ini,
Muhammad adalah tokoh nomor satu yang paling berpengaruh dalam
sejarah dunia.8

2.2 Ruang Lingkup Akhlak


Adapun ruang lingkup Akhlak terbagi dalam beberapa bagian, yaitu:9
1) Akhlak terhadap Khaliq
Allah SWT menciptakan manusia bukan untuk meramaikan dan
menghiasi dunia saja, lebih dari itu Allah menciptakan manusia
sebagai makhluk dan hambanya. Allah SWT adalah Al-Khaliq
(Maha pencipta) dan manusia adalah makhluk (yang diciptakan).
Manusia wajib tunduk kepada peraturan Allah. Hal ini
menunjukkan kepada sifat manusia sebagai hamba. Kewajiban
manusia terhadap Allah SWT diantaranya dengan ibadah shalat,
8
Drs. H. Miswar, MA., dkk, AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami, hlm, 7.

9
Dr. H. Badrudin, M.Ag., AKHLAK TASAWUF, hlm, 37.
dzikir, dan do’a. Kewajiban keluarga kita terhadap Allah, adalah
dengan mendidik mereka, anak dan isteri agar dapat mengenal
Allah dan mampu berkomunikasi dan berdialog dengan Allah.
Kewajiban harta kita dengan Allah yaitu harta yang kita peroleh
adalah harta yang halal dan mampu menunjang ibadah kita kepada
Allah serta membelanjakan harta itu dijalan Allah.

2) Akhlak terhadap Makhluk


Prinsip hidup dalam Islam termasuk kewajiban memperhatikan
kehidupan antara sesama orang-orang beriman. Kedudukan
seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu jasad,
dimana satu anggota badan dengan anggota badan lainnya
mempunyai hubungan yang erat.
Hak orang Islam atas muslim lainnya ada 6 (enam) perkara:
(1) Apabila berjumpa maka ucapkanlah salam;
(2) Apabila ia mengundangmu maka penuhilah undangan itu;
(3) Apabila meminta nasihat maka berilah nasihat;
(4) Apabila ia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah;
(5) Apabila ia sakit maka tengoklah;
(6) Apabila ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.
Akhlak terhadap makhluk terbagi menjadi beberapa bagian:
(1) Akhlak terhadap diri sendiri. Manusia yang bertanggung jawab
ialah pribadi yang mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri,
bertanggung jawab atas tugas dan kewajiban yang dipikul di atas
pundaknya, kewajibannya-kewajibannya: tanggungjawab terhadap
kesehatannya, pakaiannya, minuman & makanannya dan bahkan
apapun yang menjadi miliknya;
(2) Akhlak terhadap ibu dan bapak. Seorang muslim wajib memberi
penghormatan terhadap ayah dan ibunya. Memelihara mereka di hari
tuanya, mencintai mereka dengan kasih sayang yang tulus serta
mendo’akan setelah mereka tiada;
(3)bersikap terhadap alam, binatang, tumbuh-tumbuhan, kepada
yang ghaib, dan semesta alam;
(4) Berakhlak terhadap sesama yang beragama Islam, dan antara
orang Islam dengan non-Islam; dan
(5) Bergaul dengan orang yang lebih tua umurnya, dengan orang
yang selevel (sepadan umur, kedudukan, dan tingkatannya), dan
dengan orang yang lebih rendah umurnya
Pada intinya ruang lingkup kajian Ilmu Akhlak menyangkut
perbuatan-perbuatan manusia menurut ukuran baik dan buruk,
objeknya adalah norma atau penilaian terhadap perbuatan tersebut.
kemudian perbuatan tersebut baik perbuatan individu maupun
kolektif.10
Pada pokoknya masalah yang dibahas dalam Ilmu Akhlak
adalah perbuatan manusia. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan
kriterianya apakah baik atau buruk. Adapun obyek Ilmu Akhlak
adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan
tersebut ditentukan oleh baik atau buruknya.11
Selanjutnya Ahmad Amin menyebutkan bahwa inti persoalan
akhlak adalah segala perbuatan yang timbul dari orang yang
melakukan dengan ikhtiar dan sengaja, dan ia mengetahui waktu
melakukannya dengan apa yang diperbuatnya. Inilah yang dapat kita

10
Dr. H. Badrudin, M.Ag., AKHLAK TASAWUF, hlm, 39.
11
Dr. H. Badrudin, M.Ag., AKHLAK TASAWUF, hlm, 39.
beri hukum ”baik dan buruk”, demikian juga segala perbuatan yang
timbul tidak dengan kehendak, tetapi dapat diikhtiarkan penjagaan
sewaktu sadar. Untuk itu apa yang timbul karena bukan kehendak dan
tidak dapat dijaga sebelumnya, maka ia bukan dari pokok persoalan
akhlak.12

2.3 Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah artinya persaudaraan , dan islamiyah maksudnya


persaudaraan sesama umat islam. Ukhuwah ini di dorong oleh
kekuatan iman dan spiritual dan melahirkan perasaan dan kasih
sayang. Ukhuwah islamiyah adalah sifat yang menyatu dengan iman
dan takwa. Tidak ada ukhuwah tanpa iman, dan tidan ada iman tanpa
ukhuwah. Begitu juda tidak ada persahabatan tanpa takwa dan tidak
ada takwa tanpa persahabatan, sebagai mana firman Allah yang
berbunyi:13

“sesungguhnya orang mukmin adalah bersaudara…” (QS. Al


hujurat : 10) “

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh


sebaguian yang lain, kecuali orang orang yang bertakwa. “(quran
surah az-zukhruh 67)

12
Dr. H. Badrudin, M.Ag., AKHLAK TASAWUF, hlm, 40.
13
Dr. H. Fuady Anwar, M.Ag, dkk. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, hlm, 122.
Rukun ukhuwah islamiyah:14

a. Ta’aruh yaitu saling kenal mengenal (QS.49 : 13) antara lain mengenal
nama, fisik, tempat tinggal, pekerjaan, hobi dan keluarga.
b. Tafahum, saling memahami yaitu saling, memahami kondisi mental,
sifat karakter dan lain lain
c. Ta’awun, saling tolong menolong dalam suka dan duka
dalammeninghkatkan ketakwaan
d. Takaful, saling mendukung program dalam rangka menegakkan tali
persaudaraan yang berlandaskan iman dan takwa.

Membina persaudaraan muslim:15


a. Taat kepada allah dan rasulnya (QS.4 : 59)
b. Tolong menolong dan kasih sayang ( QS.58 : 2)
c. Menjaga persaudara dengan cara :
-tidak berselisih (QS. 3 : 105 )
-tidak berpecah belah dalam golongan(QS. 30 : 31-32 )

d. menjaga kehormatan tidak mencela, (QS.49 : 11-12 )

-saling nasehat menasehati, membimbing dan mendidik, (QS. 103 : 3,


49: 12 )

14
Dr. H. Fuady Anwar, M.Ag, dkk. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, hlm,123.
15
Dr. H. Fuady Anwar, M.Ag, dkk. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, hlm,123.
Jenis-jenis ukhuwah:16
1. Ukhuwah islamiyah. Artinya persaudaraan sesama umat islam.
Persaudaraan ini meliputi seluruh negara yang ada orang islamnya.
Artinya selama seseorang adalah orang muslim walaupun berada
dinegara amerika dan eropa mereka tetap bersaudara begitupun
dengan negara lainnya.
2. Ukhuwah wadhaniay. Artinya persaudaraan sesame satu bangsa
atau negara persaudaraan ini terjadi karena kita satu wilayah.
Artinya sesame satu negara adalah saudara ,baik beragama islam
ataupun bukan. Mereka juga dalah saudara kita, karna sama-sama
sati bangsa (Indonesia)
3. Ukhuwah basyariah artinya persaudaaarn sesame manusia,
meliputi seluruh negara dan semua agam,a yang di pelik hal ini
karan kita sama-sama makhluk ciptaan alalh awt. Hidup di dunia
ini tidak bias sendiri-sendiri kita saling membutuhkan 1 sama lain.
Karna itu jauhkan rasa dan sifat hidup yang hanya mementingkan
keuntungan sendiri, sehingga mengorbankan kepentingan orang
lain. Agama islam sangat mencela sifat diri sendiri . islam
menanamkan rasa ukhuwah basyariah serta menuntun umatnya
bahwa kehidupan ini bukan hanya untuk diri sendiri.

16
Ali Ridho, JURNAL INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN UKHUWAH ISLAMIYAH, MENUJU PERDAMAIAN (SHULHU)
DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL PERSPEKTIF HADIS, VOL.01 NO. 02 Juli-Desember 2017, Hlm, 169.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bila disimpulkan arti dari akhlak secara bahasa dan pengertian
secara istilah seperti yang telah dikemukakan, secara bahasa arti
kata “akhlak” itu menyangkut aspek perbuatan atau tingkah laku
sedangkan secara istilah para ahli mengemukakan akhlak itu
sebagai sifat jiwa atau hati atau bathin. Untuk meluruskan
perbedaan itu, Al-Ghazali mengemukakan bahwa tingkah laku
seseorang itu adalah lukisan bathinnya, artinya sifat yang tumbuh
di hati manusia akan memancar kepada perilaku atau tingkah
lakunya.
Adapun ruang lingkup Akhlak terbagi dalam beberapa
bagian, yaitu:
1) Akhlak terhadap Khaliq
Allah SWT adalah Al-Khaliq (Maha pencipta) dan manusia adalah
makhluk (yang diciptakan). Manusia wajib tunduk kepada
peraturan Allah. Hal ini menunjukkan kepada sifat manusia
sebagai hamba. Kewajiban manusia terhadap Allah SWT
diantaranya dengan ibadah shalat, dzikir, dan do’a.
2) Akhlak terhadap Makhluk
Akhlak terhadap makhluk terbagi menjadi beberapa bagian:
(1) Akhlak terhadap diri sendiri.
(2) Akhlak terhadap ibu dan bapak.
(3)bersikap terhadap alam, binatang, tumbuh-tumbuhan, kepada
yang ghaib, dan semesta alam;
(4) Berakhlak terhadap sesama yang beragama Islam, dan antara
orang Islam dengan non-Islam; dan
(5) Bergaul dengan orang yang lebih tua umurnya, dengan orang
yang selevel (sepadan umur, kedudukan, dan tingkatannya), dan
dengan orang yang lebih rendah umurnya
Dan dapat disimpulkan juga ukhuwah artinya persaudaraan ,
dan islamiyah maksudnya persaudaraan sesama umat islam.
Ukhuwah ini di dorong oleh kekuatan iman dan spiritual dan
melahirkan perasaan dan kasih sayang. Ukhuwah islamiyah adalah
sifat yang menyatu dengan iman dan takwa. Tidak ada ukhuwah
tanpa iman, dan tidan ada iman tanpa ukhuwah.

3.2 Saran
Dengan keterbatasan pemikiran dan sumber materi yang menjadi
acuan dalam pembuatan makalah ini, maka kami harapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun dalam penyusunan makalah
selanjutnya.

Daftar Pustaka
Anwar, Rosihon. Aqidah Akhlak, Cet.II, Bandung: Pustaka Setia, 2014.

Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid. (2010). Ilmu Akhlak, Bandung: Pustaka Setia
Drs. H. Miswar, MA., dkk. 2015. AKHLAK TASAWUF: Membangun Karakter Islami.Medan:
Perdana Publishing.

Dr. H. Badrudin, M.Ag. 2015. AKHLAK TASAWUF. Banten: IAIB PRESS.

Dr. H. Fuady Anwar, M.Ag. 2008. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum untuk
Pengembangan Kepribadian. Padang: UNP PRESS.

Mustopa, Akhlak Tasawuf. Cet, V, Bandung: Pustaka Setia, 2010.

Muhammad Fauqi. (2011) Tasawuf Islam dan Akhlak, Jakarta : Amzah

Ritonga, A. Rahman, Akhlak, Merakit Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia, Surabaya:
Amelia, 2005.

Rosihon Anwar. (2010). Akhlak Tasawuf (Disusun Berdasarkan Kurikulum Terbaru Nasional
Perguruan Tinggi Agama Islam), Bandung : Pustaka Setia

Syafe‟i, Rahmat, 2003, Aqidah, Akhlak, Sosial dan Hukum, Bandung, Pustaka Setia, Cetakan II.