Anda di halaman 1dari 4

Kompartemen sindrom

A. Definisi

Sindroma kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan intertisial di
dalam ruangan yang terbatas, yaitu di dalam kompartemen osteofasial yang tertutup. Ruangan
tersebut berisi otot, saraf dan pembuluh darah. Ketika tekanan intrakompartemen meningkat,
perfusi darah ke jaringan akan berkurang dan otot di dalam kompartemen akan menjadi iskemik.
Tanda klinis yang umum adalah nyeri, parestesia, paresis, disertai denyut nadi yang hilang.

Sindroma kompartemen dapat diklasifikasikan menjadi akut dan kronik, tergantung dari penyebab
peningkatan tekanan kompartemen dan lamanya gejala. Penyebab umum terjadinya sindroma
kompartemen akut adalah fraktur, trauma jaringan lunak, kerusakan arteri, dan luka bakar.
Sedangkan sindroma kompartemen kronik dapat disebabkan oleh aktivitas yang berulang misalnya
lari.

B. Etiologi

Penyebab terjadinya sindroma kompartemen adalah tekanan di dalam kompartemen yang terlalu
tinggi, lebih dari 30 mmHg. Adapun penyebab terjadinya peningkatan tekanan intrakompartemen
adalah peningkatan volume cairan dalam kompartemen atau penurunan volume kompartemen.

Peningkatan volume cairan dalam kompartemen dapat disebabkan oleh :


 Peningkatan permeabilitas kapiler, akibat syok, luka bakar, trauma langsung
 Peningkatan tekanan kapiler, akibat latihan atau adanya obstruksi vena
 Hipertrofi otot
 Pendarahan
 Infus yang infiltrasi
Penurunan volume kompartemen dapat disebabkan oleh
 Balutan yang terlalu ketat.

C. Patofisiologi
Perkembangan sindroma kompartemen tergantung tidak hanya pada tekanan intrakompartemen tapi
juga tekanan sistemik darah. Patofisiologi sindroma kompartemen melibatkan hemostasis jaringan
lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran darah kapiler dan
nekrosis jaringan lokal akibat hipoksia.

Ketika tekanan dalam kompartemen melebihi tekanan darah dalam kapiler dan menyebabkan
kapiler kolaps, nutrisi tidak dapat mengalir keluar ke sel-sel dan hasil metabolisme tidak dapat
dikeluarkan. Hanya dalam beberapa jam, sel-sel yang tidak memperoleh makanan akan mengalami
kerusakan. Pertama-tama sel akan mengalami pembengkakan, kemudian sel akan berhenti
melepaskan zat-zat kimia sehingga menyebabkan terjadi pembengkakan lebih lanjut.
Pembengkakan yang terus bertambah menyebabkan tekanan meningkat. Aliran darah yang
melewati kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti.
Terjadinya hipoksia menyebabkan sel-sel akan melepaskan substansi vasoaktif (misal : histamin,
serotonin) yang meningkatkan permeabilitas endotel. Dalam kapiler-kapiler terjadi kehilangan
cairan sehingga terjadi peningkatan tekanan jaringan dan memperberat kerusakan disekitar jaringan
dan jaringan otot mengalami nekrosis.

D. Diagnosis

Sindroma kompartemen dapat didiagnosis berdasarkan pengetahuan tentang faktor resiko, keluhan
subjektif dan adanya suatu tanda-tanda fisik dan gejala klinis. Adapun faktor resiko pada sindroma
kompartemen meliputi fraktur yang berat dan trauma pada jaringan lunak, penggunaan bebat.

Gejala klinis yang umum ditemukan pada sindroma kompartemen meliputi 5 P, yaitu :
1. Pain : nyeri pada jari tangan atau jari kaki pada saat peregangan pasif pada otot-otot yang
terkena, ketika ada trauma langsung.
2. Pallor : kulit terasa dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya pucat, abu-abu atau keputihan.
3. Parestesia : biasanya memberikan gejala rasa panas dan gatal pada daerah lesi.
4. Paralisis : biasanya diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi, merupakan
tanda yang lambat diketahui.
5. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi) : akibat adanya gangguan perfusi arterial.
Pengukuran tekanan kompartemen adalah salah satu tambahan dalam membantu menegakkan
diagnosis. Biasanya pengukuran tekanan kompartemen dilakukan pada pasien dengan penurunan
kesadaran yang dari pemeriksaan fisik tidak memberi hasil yang memuaskan. Pengukuran tekanan
kompartemen dapat dilakukan dengan menggunakan teknik injeksi atau wick kateter.

Prosedur pengukuran tekanan kompartemen, antara lain :

a. Teknik injeksi
Jarum ukuran 18 dihubungkan dengan spoit 20 cc melalui saluran salin dan udara. Saluran ini
kemudian dihubungkan dengan manometer air raksa standar. Setelah jarum disuntikkan ke dalam
kompartemen, tekanan udara dalam spoit akan meningkat sehingga meniskus salin-udara tampak
bergerak. Kemudian tekanan dalam kompartemen dapat dibaca pada manometer air raksa.

b. Teknik Wick kateter.


Wick kateter dan sarung plastiknya dihubungkan ke transducer dan recorder. Kateter dan tabungnya
diisi oleh three-way yang dihubungkan dengan transducer. Sangat perlu untuk memastikan bahwa
tidak ada gelembung udara dalam sistem tersebut karena memberi hasil yang rendah atau
mengaburkan pengukuran. Ujung kateter harus dapat menghentikan suatu meniskus air sehingga
dapat dipastikan dan diketahui bahwa dalam jaringan tersebut dilewati suatu trocar besar, kemudian
jarumnya ditarik dan kateter dibalut ke kulit.

E. Terapi

Penanganan sindroma kompartemen meliputi :


1. Terapi medikal / non bedah
• Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang
minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat
iskemia.
• Pada kasus penurunan volume kompartemen, gips harus dibuka dan pembalut kontriksi dilepas.
• Mengoreksi hipoperfusi dengan cara kristaloid dan produk darah.
• Pemberian mannitol, vasodilator atau obat golongan penghambat simpatetik.

2. Terapi pembedahan / operatif.


Fasciotomi adalah pengobatan operatif pada sindroma kompartemen dengan stabilisasi fraktur dan
perbaikan pembuluh darah. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.
Terapi untuk sindroma kompartemen akut maupun kronik biasanya adalah operasi. Insisi panjang
dibuat pada fascia untuk menghilangkan tekanan yang meningkat di dalamnya. Luka tersebut
dibiarkan terbuka (ditutup dengan pembalut steril) dan ditutup pada operasi kedua, biasanya 5 hari
kemudian. kalau terdapat nekrosis otot, dapat dilakukan debridemen, kalau jaringan sehat, luka
dapat di jahit (tanpa regangan ), atau skin graft mungkin diperlukan untuk menutup luka ini

Adapun indikasi untuk melakukan fasciotomi adalah :


1. Ada tanda-tanda klinis dari sindroma kompartemen.
2. Tekanan intrakompartemen melebihi 30 mmHg.

F. Diagnosis Banding

Diferensial diagnosis dari sindroma kompartemen meliputi tendinitis, fatigue fraktur dan shin
splints. Keadaan ini dihubungkan berdasarkan nyeri pada tungkai bawah akibat latihan. Namun
memberikan gejala yang sama dengan sindroma kompartemen.
Gejala pada tendinitis biasanya muncul setelah latihan, nyeri sering diakibatkan oleh regangan pada
tendo. Pada fatigue fraktur, daerah tulang yang diserang meluas dari satu sisi tulang ke tulang yang
lain. Pada shin splints, nyeri biasanya hanya pada puncak belakang tibia medial, sering pada
pertemuan setengah dan sepertiga distal tibia.

G. Komplikasi

• Kegagalan dalam mengurangi tekanan intrakompartemen dapat menyebabkan nekrosis jaringan,


selama perfusi kapiler masih kurang dan menyebabkan hipoksia pada jaringan tersebut.
• Kontraktur volkmann adalah deformitas pada tungkai dan lengan yang merupakan kelanjutan dari
sindroma kompartemen akut yang tidak mendapat terapi selama lebih dari beberapa minggu atau
bulan.
• Infeksi.
• Hipestesia dan nyeri.
• Komplikasi sistemik yang dapat timbul dari sindroma kompartemen meliputi gagal ginjal akut,
sepsis, dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang fatal jika terjadi sepsis kegagalan
organ secara multisistem.

H. Prognosis

Sindroma kompartemen akut cenderung memiliki hasil akhir yang jelek. Toleransi otot untuk
terjadinya iskemia adalah 4 jam. Kerusakan irreversibel terjadi bila lebih dari 8 jam. Jika diagnosa
terlambat, dapat menyebabkan trauma saraf dan hilangnya fungsi otot. Walaupun fasciotomi
dilakukan dengan cepat dan awal, hampir 20% pasien mengalami defisit motorik dan sensorik yang
persisten.