Anda di halaman 1dari 41

Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –

Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

RANGKUMAN FILSAFAT HUKUM UNTUK UAS


Disclaimer: Masih harus ditambahkan dengan buku dan bahan bacaan lainnya.

NATURAL LAW (HUKUM KODRAT)


• Mazhab adalah pandangan sekelompok orang mengenai bidang tertentu. padangan
tersebut tumbuh dan berkembang dalam waktu yang cukup panjang sehingga memiliki
tradisi pemikiran, serta memiliki tokoh-tokoh pemikir dan terdapat kemungkinan dalam
suatu pemikiran kelompok terdapat perbedaan yang bersifat internal tanpa
menimbulkan pemisahan diri
• Kalau berbicara mahzab dalam filsafat hukum adalah pandangan tentang hukum
kemudian merumuskan apa relevansi dengan hukum Indonesia
• Mazhab hukum kodrat (natural law) pada dasarnya adalah konsepsi yang bersifat
idealistis. Hukum kodrat digambarkan sebagai suatu sistem ideal yang terdapat
dalam suatu tertib yang mengatasi, yang darinya hukum positif berasal, dimana
hukum positif tersebut sebagai suatu bentuk stimulasi yang tidak sempurna.
• Mazhab hukum kodrat mengakui hukum positif itu berasal, tetapi hukum positif yang
digunakan itu bukanlan bentuk simulasi yang sempurna. Yang sempurna adalah
gagasan yang ideal.
• Idealisme merupakan pandangan yang menempatkan gejala fisik dari dunia sebagai
wujud dari tertib yang lebih tinggi yang bersifat “mengatasi” dan harus dipelajari
dalam rangka memperoleh pemahaman dalam pola-pola yang utama. Dengan
demikian hukum kodrat meng-“atasi” hukum positif
• pemikiran hukum kodrat telah menduduki suatu peranan yang menentukan dalam
lingkup etika, politik, dan hukum sejak zaman dahulu
• pada zaman modern, hukum kodrat menjadi senjata penting dalam ideology politik
dan huku. hal ini terutama memberikan bantuan yang bernilai bagi kekuasaan yang
ada, bersifat pembenaran pada hukum yang berlaku serta sistem sosial dan ekonomi
yang terkait untuk menerima hukum positif yang berdasarkan pada suatu sistem
yang lebih tinggi yang ditetapkan Tuhan. Alasan yang Suci atau alasan yang bersifat
alamiah
• yang ideal bukan saja pandangan yang bersifat teologis, tetapi juga non teologis
• Misal di Amerika sendiri pada penggunaan US Dollar, penguasa tetap perlu
menambahkan bentuk ideal yang lain agar warga masyarakat percaya bahwa itu ideal.
Perlu alasan yang ideal untuk memberikan dasar legitimasi terhadap hukum
positif/berlakunya undang-undang keuangan/ memberikan kebenaran kepada
aturan-aturan. Agar masyarakat mau menggunakan uang sebagai alat tukar, yang

1
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

sebelumnya digunakan barang. Hukum kodrat dijadikan dasar pembenar. Maka di


uang AS terdapat tulisan “in God with trust” padahal tanpa adanya gagasan yang
ideal itu, UU tentang mata uang sudah berlaku sebagai hukum posiitif.
• Gagasan hukum kodrat biasanya tentang gagasan human rights. Hukum kodrat ini
penting untuk melegitimasi gagasan yang ideal ini menjadi hukum positif, karena
sebelum muncul gagasan human right, manusia berada dalam kelas-kelas/stratifikasi
sosial tertentu. Tapi diperlukan suatu ide untuk melegitimasi hukum positif,
mengubah keadaan manusia yang tidak setara menjadi manusia yang memiliki
kesamaan hak terlepas dari latar belakang ekonomi, sosial, politik.
• Bersifat transcendent terhadap hukum positif sehingga disebut transedentalisme
• padangan hukum kodrat sangat bervariaasi, secara garis besar dipisahkan pada 2
pendekatan:
1. Pendekatan Teologis (Religius)
seluruh alam semesta yang ada, diciptakan, dan diatur yang Maha Kuasa, ayitu
Tuhan. Kitab suci menjadi sumber dari pandangan ini
2. Pendekatan Sekuler
pandangan ini didasari keyakinan bahwa kemampuan akal budi manusia dan
dunianya (masyarakat) menjadi sumber tatanan moral yang ada
• Tatanan moral tidak satu-satunya berasal dari agama, namun dapat dibangun dari
yang lain yakni penggunaan akal budi manusia karena hidup dalam masyarakat.
Contoh: di Jepang meskipun banyakan orang-orangnya mengaku atheis tapi tetap
kalau melihat tatanan moralnya, di Jepang justru mempraktikkan ajaran-ajaran yang
dipercayai oleh orang-orang beragama di Indonesia misalnya. Artinya tatanan moral
masyarakat Jepang bukan berasal dari agama tetapi masyarakat itu sendiri yang
membentuknya. Misalnya orang jepang menjadi hakim maka ia tidak akan berani
menerima suap karena hakim dianggap sebagai wakil Tuhan atau orang yang suci.
Jadi orang jepang dapat mengatur tatanan moral dengan menggunakan akal budi
dan hidup bermasyarakatnya.

• Pemikiran Tokoh
1. Zaman klasik à menerima suatu hukum yang selalu berlaku dan tidak pernah
berubah dengan aturan alam (aristoteles)
2. Abad pertengahan à menerima hukum kodrat sebagi prinsip-prinsip segala
hukum positif yang berhubungan secara langsung dengan manusia dari duni
sebagai ciptaan Tuhan (Thomas Aquinas)

2
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

3. Zaman rasionalisme à hukum kodrat sebagai pernyataan akal budi praktis


manusia
4. Awal Abad XX à hukum kodrat merupakan prinsip dasar kehidupan sosial dari
individu (Messener), yakni: hukum kodrat primer yang mutlak; hak fundamental;
hukum kodrat sekunder.
• Tidak selalu hukum kodrat yang ideal berkaitan dengan mistis, tetapi juga bisa
sangat rasional.
• Thomas Aquinas à hukum berasal dari 2 tempat: wahyu illahi dan akal budi
manusia (ius natural/hukum kodrat, ius gentium/hukum bangsa-bangsa, dan ius
positivum/ hukum positif manusiawi).
Berdasar pada gagasan Aristoteles, Thomas Aquinas juga berpendapat bahwa
semua materi yang ada di dunia ini mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri, yang
berpuncak pada tujuan tertinggi, yakni Budi Ilahi. Apa yang jahat harus dihindarkan
dan apa yang sesuai dengan kepentingan alam adalah kebaikan. Itu merupakan aturan
alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan dalam hukum abadinya (lex aeterna).
Hukum alam yang bersifat abstrak harus dimanifestasikan kedalam bentuk peraturan
yang lebih konkrit (hukum positif), yang berada di bawah hukum kodrat (hierarki
sifatnya), namun hukum abadi dari Tuhan menjadi hukum tertinggi. Hukum positif kalah
dengan hukum kodrat, tetapi hukum alam hanya pedoman jadi tidak bersifat mengatur
jika ada pertentangan antara hukum positif dan hukum kodrat. Sumber hukum positif
adalah hukum kodrat. Akal budi ada karena tidak ada pengaturan ilahi terkait hal yang
diatur. Keadilan memiliki 3 bidang:
Ø Keadilan distributif: mengatur hal-hal umum
Ø Keadilan komutatif: terkait dengan tindakan tukar menukar
Ø Keadilan legal: mengatur keseluruhan kedua keadilan sebelumnya dalam
aturan hukum
Golongan hukum kodrat yang berasal dari akal budi:
• Hukum kodrat primer: aturan hukum yang mengatur kepentingan bersama
manusia; bersifat umum
• Hukum kodrat sekunder: bersumber dari hukum primer, namun dengan
pengecualian karena kondisi tertentu
• Lon Fuller à hubungan antara hukum dan moralitas adalah hal yang penting. Jadi,
tidak hanya teologis, tetapi ada juga moralitas yang berasal dari akal budi. Menurutnya
aturan-aturan dari suatu sistem hukum harus sesuai dengan persyaratan
substantif dari suatu moralitas atau patokan baku lainnya. Ia menyebarluaskan bahwa
aturan hukum tunduk pada moralitas.

3
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

o Moralitas kewajiban mengacu pada moralitas hukum yang bersifat eksternal.


Moralitas tersebut terdapat pada aturan-aturan fundamental yang tanpanya
masyarakat tidak akan ada. Gagasan moralitas ini mengenai relasi hukum
dengan moral. Fuller melihat hukum sebagai satu aktivitas yang bertujuan.
o Moralitas gagasan: hukum sebagai suatu aktivitas yang bertujuan, sehingga
moralitas gagasan ini mendorong manusia mencapai hal-hal lokal untuk
memenuhi kemampuannya.

• Kesamaan à hukum tunduk pada gagasan moralitas atau identik pada


moralitas, moralitasnya tidak hanya berasal dari hal mistis (teologis) tapi juga
hal lain yaitu rasio manusia. Hukum tidak dipisahkan dengan moralitas
• Moralitas itu bersifat subjektif, berbeda-beda setiap orang

Terdapat 8 ideal khusus atau kebajikan formal yang harus diusahakan suatu sistem hukum:

o Bersifat umum
o Penetapan/penyebaran
o Tiadanya perundang-undangan yang berlaku surut dan tidak adanya
penyalahgunaan undang-undang yang berlaku surut
o Tiadanya peraturan yang berlaku bertentangan à SK Dirjen dan kementerian
terkait perkebunan beda.
o Kesejajaran/kesebangunan/kesesuaian antara aturan-aturan sebagaimana
yang diumumkan dan pelaksanaannya seara actual
o Adanya kejelasan
o Penghindaran terhadap seringnya perubahan
o Tiadanya hukum yang menuntut hal yang tidak mungkin
Semakin 8 hal ini terpenuhi, maka aturan hukum tersebut semakin sempurna.

• KESIMPULAN: Dalam melihat hukum kodrat mereka tidak memisahkan ide, hukum,
dan moralitas. Bagi mereka hukum itu moralitas dan hukum itu tunduk pada gagasan
moralitas. Moralitas adalah konsep ideal yang dibangun dari kitab suci dan juga
dapat dibangun dari konsepsi akal budi manusia yang membuat ide tatanan hidup
moral dari kehidupan masyarakat yang dibuat sesuai dengan kita. Akal pikiran ini
bisa berbeda-beda. Contoh konsep hak waris dalam masyarakat adat Batak dimana
perempuan tidak mendapat bagian, bisa jadi moralitas yang berasal dari akal pikiran
bukan agama (teologis). Tradisi tertentu berasal dari ide atau gagasan akal pikiran
manusia.

4
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

CLASSICAL POSITIVISM & PURE THEORY OF LAW


Legal positivism: aliran yang paling banyak diikuti oleh hakim-hakim di Indonesia.
Oleh John Austin, dinyatakan bahwa hukum adalah perintah (command).
Ada beberapa pendapat terkait legal positivism yang dikumpulkan oleh Hart, yaitu:
Hart
• The contention that laws are commands of human beings à dari pendapat John
Austin
• The contention that there is no necessary connection between law and morals or law
as it is and ought to be
• The contention that the analysis or study of the meaning of legal concepts is (a)
worth pursuing and (b) to be distinguished from historical inquires into the causes or
origins of laws, from sociological inquires into the relation of law and other social
phenomena, and from the criticism or appraisal of law whether in term of morals, social
aims, “functions”, or otherwise
• The contention that a legal system is a “close logical system” in which correct legal
decisions can be deduced by logical means from predetermined legal rules without
reference to social aims, policies, moral standard
• The contention that moral judgment cannot be established or defended, as
statements of facts can, by rational argument, evidence or proof

(unsur-unsur non hukum disebut sebagai aliens elements / foreign elements)

Confusion: the meaning of “positivism”


• Olivecrona believes that much confusion over the meaning of “positivism” has been
caused by failure to distinguish twin-origins of the concept à makna positivism
berbeda antara teori dan filosofi
• Harus hati-hati dalam memilih terminology “positivism” yang digunakan untuk
berdiskusi
• Dispute: a) Substantive ß b) verbal Tidak bisa mencapai substantive dispute karena
baru sampai verbal dispute (istilah positivism mana yang digunakan)

Pure Theory of Law


Kelsen:
• Hukum adalah hierarki norma-norma

5
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Kajian hukum secara ilmiah harus dilakukan dengan cara membebaskan kajian
hukum itu tadi dari pengaruh disiplin-disiplin non-hukum. Kelsen memisahkan politik,
ekonomi, sosial à free the science of law from all foreign elements à ilmu
tentang hukum jangan sampai dicampuradukkan dengan pengaruh disiplin lain, yaitu
unsur-unsur non-hukum seperti sosiologi, antropologi, politik.
• A “pure” theory of law concern solely with that part of knowledge which deals with
law, excluding from such knowledge everything which does not strictly belong to the
subject-matter law
• The pure theory of law separates the concepts of the legal completely from that of
the moral norm and establishes the law as a specific system independent…
• Basic Assumption: If legal science is not to disappear into natural sciences, then
law must be distinguished in the plaines possible manner from nature
• Kajian natural science terikat pada causation (sebab akibat – suatu sebab akan
menimbulkan akibat, tapi akibat ini akan menjadi penyebab akibat berikutnya, dst.
Hubungan sebab akibat berantai yang tidak bisa dihitung. Hubungan sebab akibat ini
akan berlangsung independen dari campur tangan manusia. Dalam hubungan sebab
akibat, suatu peristiwa konkret timbul dari faktor-faktor), sedangkan legal science
terikat dengan imputation
• Kelsen konsisten dalam natural science dan legal science. Ia membatasi kajiannya
dan mengatasi kerancuannya dengan membebaskan natural science dan legal science
dari disiplin non hukum

Catatan Tambahan:

Separation of Moral and Law, dimana hukum merupakan hierarki norma-norma. Sepanjang
norma hukum sudah bersumber dari norma hukum yang lebih tinggi, maka tidak usah
dipermasalahkan lagi substansinya, asli atau tidak, sesuai dengan perintah Tuhan atau
tidak, sesuai dengan ajaran agama tertentu atau tidak. Mengapa? Kajian hukum berbeda
dengan kajian lainnya, misalnya dengan natural science yang pada waktu itu biologi sedang
berada dalam masa kejayaannya. Pada masa itu, sosiologi dipengaruhi oleh disiplin dalam
biologi à Evolusi dalam masyarakat tidak ada bedanya dengan evolusi dalam biologi,
sehingga pada waktu itu kajian terhadap manusia malah disamakan dengan kajian terhadap
benda.

Sosiologi dibagi menjadi dua, yaitu aliran positivis dan al-positivis. Aliran positivis berlaku
hukum KAUSALITAS.

Hukum:

6
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

- Tunduk pada imputation, bukan causation


- Keberlakuan ilmu hukum bergantung pada manusia; sementara natural science tidak
bergantung pada manusia (ada atau tidak manusia, besi akan tetap memuai).

Hans Kelsen melihat pengalaman ilmu sosiologi yang dipengaruhi oleh natural science
menjadi rancu.

Apa perbedaan causation dan imputation? (Karena Hans Kelsen menyatakan bahwa
natural science memiliki hubungan kausalitas dan legal science atau ilmu hukum tunduk
pada imputation)
Causation:

CAUSE EFFECT EFFECT EFFECT

dst

CAUSE CAUSE CAUSE

Peristiwa di atas terjadi secara independent dari campur tangan manusia (from human act).

Chain of effects is infinite à suatu penyebab yang menjadi efek, berikutnya efek tersebut
akan menjadi penyebab dari efek yang berikutnya, dan seterusnya. à “interaction of an
infinite number of lines of causality"

Peristiwa biasa / konkret à banyak faktor yang mempengaruhi.

Imputation:

Condition Consequences

Tidak infinite, hanya ada 2 links.

• Natural science (causality) x Legal Science (imputation)


The difference between causality and imputation is that the relation between the
condition, which the law of nature is presented as cause, and the consequence,
which is here presented as effect, is independent of a human or superhuman act;
whereas the relation between condition and consequence which a moral, religious, or
legal law asserts is established by acts of human or superhuman beings,… by law
creating act

7
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Another difference between causality and imputation is that each concrete cause
must be considered as the effect of another cause and each concrete effect as the
cause of another effect; so that the chain of effects is, by definition, infinite. Further,
each concrete event is the interaction of an infinite number of lines of causality… The
line of imputation has not, as the line of causality, an infinite number links, but only
two links
• Stufenbau kalau hukum positif itu adalah norms, hierarki norma-norma sampai
puncaknya diatas hukum positif tadi itu namanya Grundnorm
• Jika dalam 1 negara ada lebih dari 1 grundnorm, misal karena ada revolusi, menurut
Kelsen maka yang digunakan adalah Principle of Effectiveness.
• The principle of legitimacy of the Basic Norm is restricted by the principle of
effectiveness
• The efficacy of the entire legal order is a necessary condition for the validity of every
single norm of the order

• SWOT Pure Theory of Law


Kelebihan: dapat memisahkan natural science dan legal sciece.
Kelemahan: bias normative, sedemikian normatifnya tidak mampu melihat
kenyataan-kenyataan disiplin hukum
• British positivism is a blatant rejection of Natural Law in favor of the idea that law is
simply whatever the sovereign decrees and is willing to enforce
• Legal positivism berusaha mewujudkan kepastian hukum melalui perkembangannya
yang berbeda baik di Negara-Negara common law atau civil law.

• Gustav Radbruch’s
Suatu hukum yang ideal didalamnya harus mengandung 3 unsur, yaitu:
1) Justice (keadilan),
2) Expediency or suitability for purpose (kemanfaatan),
3) Legal certainty (kepastian hukum). Legal certainty paling penting karena untuk
menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Mutlak diperlukan bagi berkembangnya
sistem kapitalisme

• Legal Formalism adalah suatu teori yang menyatakan bahwa hukum adalah
serangkaian peraturan-peraturan dan prinsip yang terbebas dari lembaga-lembaga
social dan politik (is a theory that law is a set of rules and principles independent of

8
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

other political and social institutions). Legal formalism main objective is to provide
legal certainty.
• Kepastian hukum sangat dibutuhkan dalam sistem kapitalisme à legal certainty
is determinant factor for development of modern capitalism system à predictability
provided by “formalism”

9
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

HISTORICAL AND ANTHROPOLOGICAL JURISPRUDENCE

Catatan dari Bang Sofyan:

• Mazhab positivism adalah mazhab yang paling banyak digunakan karena banyak
negara yang mengklaim negara hukum. Sehingga mazhab positivism ini penting. Salah
satu bentuknya yang paling ekstrim adalah formalism (hukum baru berlaku apabila
dibentuk oleh kekuasaan yang memiliki kedaulatan) à banyak menuai kritik karena
sangat kaku. Mengalami perbaikan-perbaikan yang disebut Neo Positivisme (mereka
mulai mengakui adanya kaitan hukum dan moralitas).
• Terjadi proses dialektika, dimana setiap mazhab saling mengkritisi
• Mazhab Sejarah à Mengkritisi hukum kodrat dan positivism
• Peran positivism à peran ilmu pengetahuan, bisa diukur
• Latar belakang Mazhab Sejarah:
- munculnya masa romantisme, suatu gerakan reaktif atas zaman pencerahan
yang menekankan pada rasionalistis (akal budi) dan konsep universalitas à
Idenya dari mengalami kejenuhan dair ilmu pengetahuan
- romantisme melihat kekuatan-kekuatan kreatif dalam kesatuan komunitas
manusia, sumber kejiwaan kolektif ditemukan dalam sejarah masa lamapau
- Jerman baru lepas dari pendudukan Napoleon (Perancis), sehingga pemikiran
nasionalis memberi pengaruh para perkembangan pemikiran hukum pada waktu
tersebut
- penolakan atas ide kodifikasi jerman berdasarkan napoleon code (prancis) à
Dasar. Revolusi Perancis sangat penting di Eropa, banyak beberapa kalangan
di Perancis menghendaki sistem hukum perancis dikodifikasi, tetapi Sarjana
Hukum Jerman menolak ide kodifikasi tersebut karena tidak sesuai dengan
hakekat suatu bangsa. Kodifikasi perancis pada jaman itu sangat diagung-
agungkan pada masa itu.
• Teori Mazhab hukum sejarah adalah aliran hukum yang menempatkan kajian
diakronis sebagai benang merah setiap sistem hukum suatu negara. Mazhab sejarah
dengan demikian selalu memandang sistem hukum sebagai organisme yang hidup
yang terus tumbuh dari waktu ke waktu
• Banyak tokoh ahli hukum yang masuk dalam aliran ini, namun tokoh utama dalam
mazhab sejarah ini aadah Friedrich Karl Von Savigny. Savigny adalah seorang ahli
hukum Jerman yang diajui memiliki peran yang sangat penitng bagi perkembangan
pemikiran mazhab hukum sejarah

10
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Savigny, sistem hukum merupakan bagian dari budaya masyarakat. Beliau secara
tegas menolak aliran hukum kodrat yang mengedepankan universal hukum
• Menurut Savigny, setiap bangsa memiliki kesadaran hukum, kebiasaan, budaya
yang berbeda dengan bangsa lain yang ditentukan dalam jiwa bangsa (volkgeist) à
karena ia mencoba untuk menolak ide penyeragaman, karena sistem kodifikasi
hanya cocok untuk budaya perancis, tapi bagi Jerman belum tentu cocok,
• Sinkronis à melihat suatu berdasarkan strukturnya (biasanya ada dalam ilmu
sosiologi)
• Teori savigny sangat penting bagi Indonesia karena Van Vollenhouven tertarik
dengan gagasan savigny. Maka ketika pemerintah Belanda ingin menerapkan sistem
hukum Belanda di Indonesia, ia menolak karena sesuatu pendapat Savigny, bahwa
sistem hukum di Belanda tidak sesuai dengan kondisi masyarakat di Hindia Belanda.
Inilah yang menjadi awal munculnya Pasal 131 IS
• Gagasan Soepomo persis dengan Savigny, Soepomo mengatakan hukum positif
adalah hukum yang modern namun bersumber dari hukum adat
• Volkgeist menurut von Savigny, unik, tertinggi, dan realitas mistis. Volkgeist lahir
secara alamiah sebagai warisan bangsa (the biological heritage of people)
• Menurut Savigny, hukum bukanlah sesuatu yang dapat diciptakan dengan
sewenang-wenang oleh para pembuat hukum. Hukum adalah hasil proses yang
bersifat internal dan otonomi, serta diam-diam dalam diri masyarakat (rakyat).
Proses ii berakar dalam sebuah bangsa dengan dasar kepercayaan dan keyakinan
bangsa yang bersangkutan serta kesadaran komunal bangsa tersebut
• Hukum layaknya seperti bahasa yang tumbuh dan berkembang dalam relasi
kebangsaan dan menjadi milik bersama dan juga kesadaran bersama. Hukum
didasarkan pada karaker kebangsaaan dan jiwa kebangsaan yang bersangkutan
(volkgeist)
• Van vollenhouven menyatakan masyarakat hukum adat menggunakan adat sebagai
hukumnya.
• Savigny, hukum tidak boleh dilepaskan dari sejarahnya wlaupun hukum positif
adalah hukum modern
• Savigny berpandangan bahwa hukum yang ideal adalah pertama kali berangkat dari
hukum adat dan dikembangkan secara bertahap sehingga menjadi ilmu hukum yang
modern. Pemikiran savigny ini berangkat dari asumsi bahwa setiap orang memiliki
keinginan alami untuk berpegang teguh pada hukum adat dari adat istiadat sepeti
bahasa, dari nenek moyang mereka

11
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Konsep volkgeist ini hanya ditemui dalam masyarakat asli yang hidup bersama
dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga mempunya sistem nilai dan norma-
norma kebiasaan yang diakui. Dalam konteks masyarakat Indonesia, ciri masyarakat
tersebut kita dikenal dengan masyarakat hukum adat
• Richard Posner di artikel terkait Savigny mengakui bahwa dalam sistem hukum
Amerika konsep Volkgeist tidak memberi pengaruh yang signifikan karena Amerika
Serikat adalah sebuah negara yang berasal dari imigran berbagai negara. Para
pendirii bangsa Amerika telah bersepakat menerima sistem hukum yang berasal dari
sistem hukum Inggris, walaupun menolak menjadi bagian dari Inggris Raya.
• Soepomo memandang bahwa hukum asal bangsa Indonesia adalah hukum adat.
Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup, karena ia menjelmakan persasaan
hukum yang nyata dari rakyat
• Konsep Savigny yang dikembangkan oleh Savigny sangat nyata keberadaan dalam
sistem hukum Indonesia, terutama yang berasal dari sistem hukum adat
• Mengapa hukum itu bisa tidak efektif? karena aturan hukum itu tidak sesuai dengan
budaya atau masyarakat hukum. Contoh tentang haki, misalnya haki komunal.
• Hukum tumbuh dengan perkembangan dan memperkuat dengan kekuatan rakyat
dan akhirnya lenyap karena bangsa itu hilang kebangsaannya. Pertumbuhan hukum
pada dasarnya adalah proses yang tidak disadari dan organis. Oleh karena itu,
peraturan perundang-undangan adalah kurang penting dibandingkan dengan adat
kebiasaan
• Ajaran pemikiran ini juga menyerang mazhab positivism hukum dengan mengatakan
bahwa hukum bukan hanya yang dikeluarkan oleh penguasa dalam bentuk UU
namun hukkum adalah jiwa bangsa (volkgeist) dan substansinya adalah aturan
tentang kebiasaan hidup masyrakat.

perbedaan tajam antara mazhab sejarah hukum terhadap positivism hukum terletak pada
sumber dari bentuk hukum

Tambahan (Bang Nando):


Di Jerman: gerakan untuk menentang abad kegelapan (Middle Age) à why? Karena
apapun diasosiasikan dengan agama; semuanya diatur oleh gereja. Gereja Katolik yang
masih perkasa.

Keperkasaan Gereja Katolik pada masa kini: Vatikan (Holy See) – punya kedutaan

12
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

John Locke: mengaitkan hak asasi dengan properti. (hak asasi ada ketika orang punya
relasi langsung dengan propertinya) à mengapa? Karena pada masa itu, semua properti
adalah milik Gereja. Kita pun adalah property bagi tuan dan nyonya (majikan) à
perbudakan adalah bagian dari kepemilikan. Orang yang punya tanah, punya kebun à
orang yang punya hak asasi.

Enlightment: Abad Pencerahan à mulai bangkit, tidak lagi mau tunduk kepada agama (lebih
tepatnya orang-orang yang menggunakan agama)

Populism: melihat pemimpin bukan lagi bagian dari kontrak – mengikatkan diri dengan
teman-teman kita dengan membangun identitas bersama.
Contoh: orang-orang Eropa – anti-imigran à salah satu bentuk populisme.

Populisme ini juga muncul pada masa kegelapan à karena mereka dikekang.
Ciri zaman abad pencerahan: pemimpin berasal dari kontrak sosial – pemimpin bukan
karena Tuhan/gereja yang mengatakan mereka pemimpin à akhirnya bangkit dan
melawan. à pemimpin tidak punya charisma lagi.

1. Melawan tradisi mistis di abad kegelapan


2. Melawan tradisi rasional di abad pencerahan

Kalau sekarang disebutnya populisme, mereka menyebutnya “kembali kepada ‘nation’”.

Hukum ada bukan karena alasan mistik atau alasan rasional;


Tapi muncul karena adanya suatu bangsa.
CIri mencolok dari penganut historical jurisprudence : menganggap nyinyir kodifikasi hukum
perdata yang dibuat oleh Perancis à karena kodifikasi adalah wujud nyata dari
rasionalisme.
Menolak individualism ala abad pencerahan, mistisisme ala abad kegelapan.
Setiap manusia dianggap bebas karena pada dasarnya manusia adalah subyek yang rasional.
Hukum adalah manifestasi dari keberadaan suatu bangsa.
Elemen yang ada:
1. Sejarah
2. Antropologi

Otonomi hukum – fundamentalism: ada kaitannya

13
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Abad ke 20: adanya pembelajaran mengenai alternative dispute resolution. Karena


adanya populisme dsb itu, hukum tidak lagi berpokok pada penguasa maupun ahli-ahli hukum.
Mereka kembali ke masyarakat.
Pemikiran tersebut membongkar keyakinan di abad ke 19 bahwa hukum itu adalah susunan
yang sistematis. (Sistematis – muncul kesan monolitik / tunggal – seperti pandangan Hans
Kelsen) – muncul cara berpikir baru dalam melihat hukum: legal pluralism (bahwa hukum
itu merupakan sistem yang majemuk dan tidak sistematis)

Trias Politica
Mazhab antropologi hukum – mereka tidak lagi melihat bahwa penyelesaian sengketa ada di
yudikatif

Gerakan sejarah dan antropologis ini memiliki masa yang hampir sama dengan positivism.
Oleh karena itu, gerakan sejarah dan antropologis tidak hanya menolak abad kegelapan dan
abad pencerahan – namun juga positivism Kelsen. Mengapa? Because basically, positivism
derived from rationalism and individualism as the result of enlightment age.
(Sejarah dan antropologis belum tersebar di seluruh Eropa --- baru sebagian kecil dari
Inggris dan Jerman. Pada masa yang sama positivism Kelsen juga sedang berkembang).

Arbitrase bukan hasil dari rationalism, tapi hasil dari custom.

Tambahan:
Salah bentuk positivism: formalism à hukum berlaku ketika sudah ditetapkan oleh suatu
kedaulatan. Neo positivism mengakui ada kaitan hukum dan moralitas.

Kritik positivism: ektrimnya aliran ini melalui formalisme itu sendiri.

Peran ilmu pengetahuan sebagai alat penyelesaian masalah kemanusiaan.


Penyelesaiannya berasal dari perkembangan ilmu alam yang bisa di ukur. Kalau kita bisa
mengukur sesuatu itu akan menciptakan kepastian à basic positivisme. Pada masa itu, ilmu
pengetahuan sangat dominan. Semua harus berangkat dari knowledge. Itu berangkat pada
abad pencerahan. Terjadi suatu masa/tren yang menyebabkan kejenuhan. Kejenuhan ini yang
menimbulkan sebuah aliran romantisisme (suatu gerakan reaktif atas Zaman Pencerahan
yang menekankan pada rasionalitas/akal budi dan konsep universalitas/ide yang berangkat
dari hukum kodrat).

14
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Yang namanya romantisme melihat cerita hebat pada masa lalu/yang dianggap penting
pada masa lalu. Romantisme melihat kekuatan-kekuatan kreatif dalam kesatuan komunitas
manusia, sumber kejiwaan kolektif ditemukan dalam sejarah masa lampau.

Jerman baru lepas dari pendudukan napoleon, sehingga pemikiran nasionalis memberi
pengaruh para perkembangan pemikiran hukum pada waktu tersebut. Aliran ini lahir di
Jerman.
Penolakan atas ide kodifikasi Jerman berdasarkan Napoleon Code (Prancis). Karena di
jajah Prancis, ketika Jerman merdeka, punya bangga sama bangsanya sendiri à Kodifikasi
hukum Prancis (diagung-agungkan karena kekuasan raja menjadi tidak ada) ditolak oleh
sarjana Jerman karena bertentangan hakekat mereka sebagai suatu bangsa.

Penolakan tadi menjadi perdebatan yang kuat. Ada ahli Jerman yang ingin mengadopsi sistem
hukum Prancis yang di pandang lebih maju/modern. Sebagian lainnya menolak.

Teori Mazhab Hukum Sejarah adalah aliran hukum yang menempatkan kajian diakronis
sebagai benang merah setiap sistem hukum suatu Negara. Mahzab Sejarah, dengan
demikian selalu memandang sistem hukum sebagai organisme yang hidup yang terus berubah
dari waktu ke waktu. Banyak tokoh-tokoh ahli hukum yang masuk dalam aliran ini, namun
tokoh utama dalam mazhab sejarah ini adalah Friedrich Karl von Savigny. Savigny adalah
seorang ahli hukum Jerman yang diakui memiliki peran yang sangat penting bagi
perkembangan pemikiran mazhab hukum sejarah.

Hukum itu organ yang bergerak mengikuti zaman.

Perkembangan suatu masyarakat/hukum dari dulu sampai sekarang à diakronis.


Savigny sistem hukum merupakan bagian dari budaya masyarsakat. Beliau secara tegas
menolak aliran hukum kodrat yang mengedepankan universal hukum. Sistem hukum tidak
bisa lepas dari budaya suatu masyarakat karena ada perbedaan antara masyarakat yang
satu dengan yang lain.

Menurut Savigny, setiap bangsa memiliki kesadaran hukum, kebiasaan budaya yang erbeda
dengan bangsa lain yang ditemukan dalam jiwa bangsa (volksgeist). Ia menolak
penyeragaman hukum. Setiap orang memiliki jiwa bangsa yang berbeda. Hukum ditemukan
dalam jiwa bangsa. Gagasan ini penting di Indonesia, karena pembagian yang dilakukan
Van Vollen Hoven berasal dari ide Savigny. Sistem hukum Belanda beda dengan sistem

15
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Hindia Belanda. Karena penolakan tersebut, maka berlaku 131 IS à boleh menggunakan
hukum adatnya masing-masing.

Volkgeist unik, tertinggi dan realitas mistis. Ada bukan karena mistis, tetapi karena ada proses
yang berjalan dengan lama. Lahir secara alamiah sebagai warisan bangsa (the biological
heritage of people).

Menurut Savigny hukum bukanlah sesuatu yang dapat diciptakan dengan sewenang-
wenang oleh para pembuat hukum. Hukum adalah hasil proses yang bersifat internal dan
otonom, serta diam-diam dalam diri masyarakat. Proses ini berakar dalam sebuah bangsa
dengan dasar kepercayaan dan keyakinan bangsa yang bersangkutan serta kesadaran
kaunal bangsa tersebut. Hukum yang baik seharusnya melihat bagaimana proses dalam
masyarakat tersebut.

Hukum layaknya seperti bahasa yang tumbuh dan berkembang dalam relasi kebangsaan
dan menjadi miliki bersama dan juga kesadaran bersama. Hukum didasarkan pada karakter
kebangsaan dan jiwa kebangsaan yang bersangkutan.

Apakah savigny pendukung hukum adat? Sebenarnya ia positivism tetapi ia mau melihat
apa yang terjadi dalam masyarakat yang di jadikan dasar untuk hukum kodrat. Hukum tiak
boleh lepas dari sejarahnya. Soepomo di pengaruhi oleh paham ini.

Van Vollen Hoven membiarkan masyarakat menggunakan pakai hukum adat dan menolak
Hukum Belanda di terapkan saklek di Indonesia.. Soepomo menginginkan indonesia
menjadi negara modern tetapi tidak melupakan akar dari sistem hukum tersebut, yaitu
hukum adat. Jadi jelas berbeda.

Hukum adat yang dikembangkan mnejadi ilmu modern. Savigny berpandangan bahwa
hukum yang ideal pertama kali harus berangkat dari hukum adat dan dikembangkan secara
bertahap, sehingga menjadi ilmu hukum yang modern. Pemikiran Savigny ini bernagkat dari
asumsi bahwa setiap orang memiliki keinginan alami untuk berpegang teguh pada hukum
adat dan adat istiadat, seperti bahasa, dari nenek moyang mereka. Konsep Volksgeist ini
hanya ditemui dalam masyarakat asli yang hidup bersama dalam jangka waktu yang cukup
lama, sehingga mempunyai sistem nilai dan norma-orma kebiasaan yang diakui. Dalam
konteks masyarakat Indonesia, ciri masyarakat tersebut kita dikenal dengan masyarakat
hukum adat.

16
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Richard Posner di artikel terkait Savigny mengakui bahwa dalam sistem hukum Amerika
konsep Volkgeist tidak memberi pengaruh yang signifikan karena Amerika Serikat adalah
sebuah negara yang berasal dari imigran berbagai negara, sehingga tidak bisa ada jiwa
bangsa. Para pendiri Bangsa Amerika telah bersepakat menerima sistem hukum yang
berasal dari sistem hukum Inggris, walaupunmenolak menjadi bagian dari Inggris Raya.

Imigran di Indonesia berlaku 5000 tahun lalu, dalam proses menuju ke zaman ini maka ada
proses pembentukan jiwa bangsa itu.

Soepomo memandang bahwa hukum asli bangsa indoneisa adalah hukum adat yang
adalah suatu hukum yang hidup karena ia menjelmakan perasaan hukum yang nyata dari
rakyat. Konsep Volkgeist yang dikembangkan oleh Savigny sangat nyata keberadaan dalam
sistem hukum Indoneisa, terutasma yang berasal dari sistem hukum adat.

Konflik sekarang: negara vs hukum adat. Dalam perspektif negara à perlindungan untuk
anak. Bagi hukum adat bisa berbeda.

17
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE, SOCIO-LEGAL STUDIES, AND SOCIOLOGY OF


LAW

Tambahan (Bang Nando):


Kontrak Sosial – Perancis => JJ. Rousseau, Montesquieu, Voltaire,
Di Jerman, setelah abad pencerahan à mereka mengenalkan mazhab Sejarah; bahwa
hukum adalah refleksi dari spirit bangsa (Abad 19 dan 20)
Ada juga yang berpisah dan tidak mengikuti orang Jerman à walaupun basisnya sama,
yaitu pendekatan yang historis.
Sir Henry Maine: Historis dikaitkan dengan ide mistik.
Ada juga bentuk penyimpangan lain: Hukum bukan disebabkan oleh jiwa bangsa tapi
disebabkan oleh kapitalisme.
Abad ke-19 dan 20: puncak kapitalisme
Di Jerman, revolusi industri tidak impact that much.
Revolusi sosial: Perancis berdarah-darah. Inggris sedikit berdarah. Di Jerman tenang.
Setelah revolusi industri, filsuf yang terpengaruh dengan common law system dan
kebanyakan berbahasa Inggris melihat bahwa hukum berkembang secara historis tetapi
disebabkan oleh kapitalisme.

Herbert Spencer: salah satu pemikir di dalam sosiologi hukum mencoba mengaitkan bahwa
hukum adalah bagian dari teorinya Darwin (Tentang Evolusi).
Perkembangan masyarakat dilihat dari sejarahnya selalu bergerak secara teratur, namun tidak
evolusioner. Mengapa? Karena dipengaruhi oleh merkantilisme di masa itu.
Dipengaruhi oleh filsafat politik ekonomi yang disebut “?” (neoliberalisme).
Auguste Comte: sosiologi hukum tidak ada hubungannya dengan kapitalisme. Hukum
adalah bagian dari sebuah pengetahuan yang disebut ‘fisika sosial’ (hukum adalah suatu
obyek yang bisa diobservasi, bisa dieksperimentasi, bisa diperbandingkan, dan harus
dijelaskan secara historis). Comte merupakan orang yang menjadi inisiator bahwa hukum
adalah sesuatu yang historis tetapi tidak seperti historisme orang Jerman yang mistik – namun
bisa diobservasi dsb dsb.
Jerman: historis yang berkaitan dengan spirit bangsa.
Ketika hukum dilihat sebagai fakta sosial, Herbert menekankan bahwa itu adalah sesuatu
yang apriori (kesimpulan yang dipikirkan, tidak faktual; hanya muncul dibayangkan).
Perkembangan historis di masyarakat Barat:
1. Teologis
2. Metafisik

18
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

3. Scientific
Dia tidak melihat bahwa benar ada perkembangan sosiologis….. namun dia hanya
membayangkan.
Spencer: kalau mau melihat perkembangan hukum secara sosiologis – tidak bisa
menghindar dari faktor kapitalisme.
Max Weber: hukum itu adalah bagian dari fenomena sosial, dia pun berkembang secara
historis karena kapitalisme.
Kalau Spencer mengaitkan hukum dengan perdagangan merkantilisme, Weber mengamati
bahwa orang-orang Kristen di Eropa – hukum berkembang dari irasional menjadi rasional
karena adanya kapitalisme à namun Weber tidak membuktikan perkembangan tsb dengan
“kapitalisme”nya, namun ia membuktikannya dengan kemunculan lembaga birokrasi dan
profesi-profesi.

Setelah abad 19, hukum tidak bisa lagi dipisahkan dari fenomena sosial, terutama dari isu
kapitalisme.
Pemurnian hukum – tidak mungkin, itu hanya terjadi di pikiran saja.

Autopoesis:

Hukum adalah fakta sosial yang bersifat historis – Dalam kapitalisme ada persoalan yang
disebut ‘konflik’ – dalam pandangannya, hukum adalah konflik. Oleh karena itu, hukum
harus punya mekanisme à kebutuhan ekonomi bisa dipenuhi

Emile Durkheim : hukum adalah persoalan sosiologis à darimana diamati? Dari kegiatan
kapitalisme di masa itu yang melahirkan hukum tetapi memulainya dengan menjelaskan
bahwa masyarakat itu terbagi di dalam fungsi2 kerjanya.
Kapitalisme: ada division of labor. Kapitalisme membuat orang bekerja semakin
terspesialisasi. Pra-kapitalisme; tidak ada industry dsb, jadi tidak ada division of labor. Yang
ada hanyalah: bertani.

Bertani : tahap teologis dan metafisik.


Setelah industrialisasi: masyarakat harusnya menjadi scientific.
Durkheim berkata bahwa hukum itu harus ada 2 fungsi, 1) represif dan 2) restitutive.
Mengapa begitu? Karena, berdasarkan hasil pengamatannya, bahwa di masyarakat masa
itu, ada semacam ‘solidaritas’ yang muncul karena lahir dari division of labor tersebut.
2 model: 1) mekanikal , 2) organic
Mekanikal: masyarakat yang homogeny

19
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Organik: masyarakat heterogen


2 sifat hukum di atas itu harus ada di masyarakat yang organik, karena secara nyata mereka
punya division of labor.

Eugene Erlich: Living law muncul karena adanya kebiasaan dagang.


Hukum dagang = refleksi apa yang ada dalam UU dan apa yang ada dalam realitas.
Di masyarakat kapitalistik ada living law.
Karena ada yang disebut ‘hukum’ berkembang dari zaman Romawi dan di sektor hukum
dagang.

Roscoe Pound: orang AS, bukan sarjana hukum.


Sudah abad ke-20
Orang AS punya isu dengan kapitalisme: bagaimana membagi kekayaan kepada
masyarakat.
Ia melihat, law as a tool of social engineering – kalau kepentingan semua pihak masuk ke
dalam legislative proposal (RUU).
Di AS: hakim tidak terikat dengan UU, tp terikat pada putusan sebelumnya.
Yang dilihat oleh Roscoe Pound: kekayaan yang dimiliki AS karena adanya kapitalisme
yang tidak pernah rusak dan terus berkembang, hukum bisa membagi kekayaan tersebut
dengan membagi interest setiap orang.
Dasar interest tersebut darimana? Tidak melekat kepada individu-individu, tapi diambil dari
value masyarakat yang dianggap sebagai basic assumption (asumsi dasar) mengenai
‘masyarakat yang sejahtera itu bagaimana?’
Value à interest à legislative proposal / judicial decisions à law has become the tool of
social engineering.

Sociological jurisprudence: ga bisa melepaskan diri dari metode yang historis, obyek faktual
è bisa mengamati, membandingkan, menguji è tetapi tidak bisa dilepaskan dari urusan
ekonomi (uang).

Value bisa diterima sebagai basic assumption karena adanya consensus dalam masyarakat.
Hukum adalah bagian dari tata sosial yang kompleks.
Brian Tamanaha: mengenalkan socio-legal theory à realistic socio-legal theory à
mengemukakan bahwa hukum dalam masyarakat punya alasan-alasan filosofis.

Catatan Bang Sofyan:


Latar belakang:

20
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Di Amerika dikenal dengan istilah sociological jurisprudence. Di Eropa dikenal


dengan nama sociology of law. Pendekatan AS dan Eropa bergabung dalam sosio
legal (rumah besar)
• Sociological jurisprudence adalah kritik terhadap paham legisme/formalism yang
dijadikan sebagai dasar pembentukan hukum modern
• Formalism adalah bentuk ekstrem dari positivism
• Yang diserang aadalah salah satu bentuk ekstrem dari positivism bukan
positivismenya itu sendiri karena sebelumnya sociological jurisprudence dalam
gambaran besar termasuk sebagai bagian dari positivism karena berdasarkan pada
ilmu pengetahuan dan metode-metode ilmiah
• Perkembangan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah pada abad ke XIX
• Kritik terhadap paham legislme/formalism yang diartikan sebagai dasar
pembentukan hukum modern
• Hampir sebagian besar negara mendeklarasikan diri sebagai negara hukum, maka
aliran positivism sangat penting, bahwa semua itu ditetapkan oleh mereka yang
memiliki kedaulatan
• memberikan pengetahuan bagi seorang Juris, disamping penguasaan terhadap
hukum positif, juga dibekali penguasaan untuk melakukan sorotan terhadap aspek
perilaku dan kenyataan, yang mencakupi pendekatan sosiologis, antropologis,
historis, maupun psikologis (Soerjono Soekanto) à Kata Kunci adalah penguasaan
Hukum Positif, karena kalau tidak menggunakan hukum positif maka akan sama saja
seperti ilmu-ilmu sosial lainnya. Jadi, dalam sosiologi hukum kalau mau belajar ilmu
sosial harus menguasai hukum positif dulu à Dari hukum positif ini baru liat aspek
lainnya.

Bedanya sarjana hukum dengan ilmu sosial lainnya = mempelajari hukum positif. Jadi mau
belajar ilmu sosial, belajar hukum positif nya dulu. Dari hukum positif ini baru dilihat aspek
lainnya à Memberikan pengetahuan bagi seorang juris, disamping penguasana terhadap
hukum positif, juga dibekali penguasaan untuk melakukan sorotan terhadap aspek perilaku
dari kenyataan, yang mencakupi pendekatan sosiologis, antropologis, historis, mauun
psikologis (Soerjono Soekanto). Membaca regulasi = membaca historical dari regulasi
tersebut.

Mencari posisi hukum dan masyarakat?

21
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Pandangan legisme hukum: Bagi sebagaian besar positivisme klasik, hukum


adalah sama dengan masyarakat. Ingin tau masyarakat, maka lihat hukumnya
karena hukum adalah cermin dari masyarakat.
Asumsi: masyarakat homogeny, kalau beda pun ada consensus nilai dan norma.
Argumentasinya: hukum (UU) adalah hasil positivisasi atau formalisasi saja dari apa
yang selama ini dianggap telah berlaku sebagai norma-norma dan/atau moral
kebiasaan melalui badan-badan berwenang.
• Pendekatan pandangan non legisme hukum/socio legal: hukum tidak selalu
cermin dari masyarakat. Hukum bisa menjadi cermin dari suatu masyarakat, tetapi
hukum juga bisa menimbulkan konflik terhadap masyarakat. Contoh: UU Pornografi
à kemben biasa di Bali; tidak biasa di Sumatera Barat dan Aceh. Hukum tidak selalu
cermin masyarakat: hukum bisa juga konflik dengan masyarakat. Melihat hukum
dengan bijaksana.
Argumentasi:
1. Hukum/peraturan perUUan didoktrinkan agar memberi kepastian, padahal
2. Masyarakat adalahg realitas yang selalu berubah, lain dulu lain sekarang;
konflik selalu ada antara the conservative (berpegang teguh dengan nilai lama) dan
the progressive (mengedepankan ide tentang progresivitas). Bagaimana cara
menciptakan kepastian sementara masyarakat it uterus berubah/bergerak/tidak
statis?
3. Masyarakat adalah realitas yang berbeda daro tempat ke tempat; masalah
culturan dan legal gaps. Bagaimana cara ada kepastian hukum kalau ada
perbedaan pandangan tentang hukum dan perbedaan budaya karena lokasi?

Ide dasar pemikiran sosiologis:

1) Mencoba untuk membandingkan hukum dengan masyarakat (mencoba melihat


relasi hukum dan masyarakat, serta posisi hukum dalam konteks masyarakat) à
bagi sebagian besar negara yang mendeklair adalah positivism klasik bahwa
hukum itu adalah sama dengan produk, hukum itu sama dengan masyarakat.
Kalau mau tahu bagaimana sebuah masyarakat maka lihat hukumnya. Hukum
diyakini sebagai kaidah-kaidah atau pranata-pranata yang ada dalam masyarakat
à Bagi pendekatan sosio legal, hukum itu tidak sama dengan masyarakat,
hukum itu tidak selalu cermin dari masyarakat, hukum bisa saja menjadi cermin
masyarakat tapi hukum juga bisa menjadi konflik, padahal seperti diketahui
hukum itu untuk menciptakan harmonisasi dalam masyarakat. Misalnya
pengaturan-pengaturan yang tadinya bukan tindakan criminal, menjadi tindakan

22
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

criminal. Kebiasaan atau tradisi menjadi tindakan criminal à contoh penolakan


terhadap UU Pornografi karena perbedaan pornografi menurut sebagian
masyarakat. Awalnya tidak ada konflik, tetapi ketika diatur menjadi ada konflik
dan normanya berubah
• Pandangan terhadap hubungan hukum dan masyarakat (legisme hukum)
1) Pandangan Legisme Hukum à Hukum adalah (cermin) masyarakat à Asumsi:
Masyarakat homogeny, ada consensus nilai dan norma à Argumentasi: hukum
(=undang-undang) adalah hasil positivisasi atau formalisasi saja dar apa yang
selama ini deianggap telah berlaku sebagai norma dan/atau moral kebiasaan
melalui badan-badan berwenang à Hukum menciptakan kepastian
2) Pandangan Non Legisme Hukum à Hukum tidak (selalu cermin) masyarakat;
hukum bisa juga konflik dengan masyarakat.
Argumentasi:
- Hukum (=peraturan perundang-undangan) didoktrinkan agar memberi
kepastian, padahal;
- Masyarakat adalah realitas yang selalu berubah, lain dulu lain sekarang;
konflik selalu ada antara the conservative dan the progressive.
- Masyarakat adalah realitas yang berbeda; dari tempat ke tempat; masalah
cultural dan legal gaps.
- Kepastian itu hampir tidak pernah ada
• Idenya cuma satu, bagaimana menciptakan kepastian. Kuncinya tidak selalu pasti,
jadi ada satu titik pasti dimana hukum itu selalu mencerminkan masyarakat.
• Dalam hukum adat ada 4 yang pasti selalu ada dalam masyarakat:
- magis religius
- komunal
- kontan
- visual/konkrit

Tokoh Sosiologucal Jurisprudence/Sociology of Law:


1. Eugen Ehrlich (1862-1922)
Pusat gaya Tarik perkembangan hukum tidak terletak pada perundang-undangan,
tidak pada ilmu hukum, tetapi ada di dalam masyarakat. Untuk mengetahui bagaimana
hukum bekerja dan bagaimana pandangan masyarakat terhadap hukum, kita perlu
terjun secara langsung untuk mengetahui kehidupan di dalam masyarakat. Hukum
positif yang dibuat akan efektif apabila selaras dengan hukum yang hidup dalam
masyarakat (living law). Kalau mau tau bagaimana hukum bekerja, harus masuk ke
masyarakat.

23
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

2. Emile Durkheim
Karyanya The Division of Labor in Society: tipe solidaritas dala struktur sosial dalam
masyaraskat. Inti gagasannya tentang masyarakat. Pembagi masyaraskat modern dan
masyarakat tradisional. Dalam masyarakat tradisional hubungan sosial dan
solidaritasnya didasarkan oleh banyaknya persamaan (perasaan, pandangan hidup,
agama/ kepercayaan, dan adat istiadat) dari masyarakat tersebut. Sansksi untuk
menjaga keseimbangan (hukum adat). Jenis Solidaritas masyarakat ini adalah
Solidaritas Mekanis. Kesadaran di dalam masyarakat bersifat kolektif, sehingga
individualitas anggota masyarakat cenderung kecil. Jenis hukum yang berlaku
adalah ”hukum yang menindak” (repressive), yang merupakan ciri khas dari hukum
pidana yang memberikan hukum pemaksaan dan penderitaan bagi individu yang
melakukan pelanggaran. Masyarakat modern dicirikan sudah ada diferensiasi dan
spesialisasi fungsi dari masing-masing anggota msyarakat, diantaranya melalui
pembagian atau spesialisasi kerja anggota masyarakat. Jenis solidaritas masyarakat
ini adalah solidaritas organic. Fungsi hukum menggugat kesadaran bersama. Ketika
masyarakat sudah modern, hukum mengintegrasikan kepentingan masyarakat tadi.
Kesadaran masyarakat terbatas pada kepentingan kerja, sehingga individualism
berkembang dan kesadaran kolektif menjadi berkurang. Untuk tetap dapat
melangsungkan hidupnya, maka masyarakat harus saling bekerja sama. Hukum
merupakan mekanisme pengintegrasian sosial. Jenis hukum yang berlaku adalah
hukum yang menggantikan (restitutive). Hukum jenis ini memberi perbaikan,
penggantian dan penegakkan kebali seperti keadaan semula. Hukum berfungsi
utama untuk menegaksan lagi conscience collective di hadapan tindakan-tindakan
yang mempertanyakan kebenarannya.
3. Max Weber (1864-1920)
Suatu tatanan dapat disebut sebagai hukum, apabila secara eksternal ada jaminan
bahwa hukum tersebut dapat dipaksakan (fisik dan psikologi) yang diterapkan oleh
badan khusus. Adanya pengaruh politik, agama dan ekonomi terhadap
perkembangan hukum dan ilmu hukum. Tipe Otoritas:
• Otoritas Tradisional à Kepercayaan akan nilai-nilai yang sudah mapan dan
selalu ada;
• Otoritas Kharismatis à Dikendalikan oleh orang-orang yang mempunyai
kepribadian yang luar biasa (pemimpin pesantren contohnya);
• Otoritas Legal-Rasional à Otoritas yang bersumber pada sistem hukum;
Tipologi mengenai hukum
• Tipologi disusun berdasarkan; formal-substantif dan irasional-rasional

24
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Irasional Substantif à Didasarkan pada nilai-nilai emosional


• Irasional Formal à Didasarkan pada pewahyuan
• Rasional Substansif à Didasarkan pada kebijaksanaan dan ideologi penguasa
• Rasional Formal à Didasarkan pada konsep abstrak tentang jurisprudence
4. Roscoe Pound (1870-1964)
Hukum harus mengharmonisasikan konflik kepentingan yang ada dalam masyarakat.
Pembawa pendekatan ilmu eksakta dalam ilmu hukum. Dalam masyarakat terdapat
berbagai kepentingan (umum, sosial dan individu). Hukum adalah upaya untuk
meraih kepuasan, harmonisasi, penyesuaian terhadap berbagai konflik kepentingan
yang terjadi dalam masyarakat sehingga memberikan dampak luas bagi kepentingan
warga masyarakat (sosial) secara menyeluruh dengan minimal munculnya friksi.
Kepentingan di luar hak-hak dasar yang dapat dihapuskan (batasannya). Roscoe
Pound berpendapat agar ahli hukum lebih memusatkan perhatian pada hukum
dalam praktek (law in actions), dan jangan hanya sebagai ketentuan-ketentuan yang
ada dalam peraturan (law in books). Pandangan bahwa Hukum sebagai ”social
engineering” dilakukan melalui putusan hakim (dalam tradisi common law). Ketika
dikembangakan di Indonesia konsep ini diterjemahkan bahwa hukum-melalui para
pembuat peraturan (penguasa)-dijadikan alat untuk merekayasa masyarakat demi
tujuan pembangunan. Tujuan hukum menurut Pound adalah untuk mengawasi
berbagai kepentingan dan mempertahankan atau memelihara keharmonisan dan
integrasi masyarakat. Jadi putusan pengadilan yang mengubah masyarakat, bukan
hukum. Berbeda dengan pendapat Mochtar Kusumaadmaja, social engineering itu
lewat peraturan.

THEORIES OF JUSTICE
• Relasi hermeneuistik yang memungkinkan penafsiran itu muncul
• Kalau sudah berbicara keadilan maka berbicara problem solving dalam hukum à
dituntut untuk memperhatikan aspek pragmatis apa yang berguna bagi klien dan
masyarakat, tidak hanya bersifat politis tetapi juga bersifat etis
• Theories of justice menawarkan pada kearifan metodologi yang sifatnya teoritis
untuk memecahkan suatu masalah.
• Ketika berpikir ada objek subjek berarti ada konteks berpikir (episteme) yang mana
berpengaruh pada result. Result dipengaruhi oleh metodologi, posisi subjek dan
melihat objeknya bagaimana.
• Ketika belajar filsafat diingatkan untuk menjadi arif/bijaksana berkaitan bukan hanya
terkait materiil tapi juga posisi metodologis

25
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Perdebatan teori keadilan dapat dibedakan dalam 2 bentuk, yaitu liberal dan
komunitarian.
• Konteks epistemic bukan berbicara tentang konteks geografis atau territorial tetapi
konteksoemikiran. Bisa saja orang Indonesia memiliki pemikiran seperti orang Barat
• Nozick à libertarian bukan liberal
• Nozick sangat anarkis à negara tidak perlu berperan disitu karena persaingan
bebas harus dihargai
• Perspektif sangat berpengaruh. Pemahaman tentang stand poin itu menjadi penting,
yang mana merupakan bagian epistemic
• Kesadaran epistemic (melihat stand poin) itu menjadi penting bagi orang yang well-
educated. Jangan langsung membahas materiil suatu masalah
• Sandel à komunitarian (sangat menghargai individu)
• Negara harus mengatur karena manusia memiliki kecenderungan aiming the goal

26
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

MARXIST THEORY OF LAW AND STATE


• Karl Marx selalu bersudut pandang dari kacamata ekonomi. Masyarakat ideal tidak
ada lagi eksploitasi terhadap masyarakat. Tidak ada penindasan golongan masyarakat
berekonomi kecil.
• Marxism (1887) à the political, economic, and social principles and policies
advocated by Marx
• Materialism: doktrin segala sesuatu yang ada di alam semesta tidak lain dari benda
• Materialism Monistic: segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya benda, tidak ada
non-benda
• Materialism Daulistic: segala sesuatu yang non-benda masih tergantung dengan
yang materiil
• Hal-hal yang materiil à cara-cara berproduksi (kegiatan ekonomi) à “base’
• Karl Marx menggunakan tiga metode dalam kajian ilmiahnya, yaitu materialistic,
dualistic, dan historis
• Karl Marx memperkenalkan “surplus value” à masyarakat kapitalis mendapat
perhatian khusus dari Karl Marx karena terjadi perubahan drastic dari masyarakat yang
tidak ideal menjadi masyarakat ideal, dimana masyarakat yang lemah berusaha
membebaskan diri dari masyarakkat yang kuat untuk melakukan eksploitasi
• Surplus Value adalah hasil yang dikerjakan oleh buruh. Namun, buruh tidak
merasakan surplus value itu, buruh hanya digaji sampai batas kebutuhan fisik
minimum. Sebagian besar surplus value bukan dinikmati oleh value karena terjadi
proses yang dinamakan alienasi.
• Alienasi à surplus value “dirampok” oleh pemilik modal (kaum kapitalis).
• Pemilik modal dapat “merampok” surplus value yang dihasilkan oleh buruh karena ia
menguasai alat-alat berproduksi. Kapitaslis berada pada posisi ekonomi yang kuat,
posisi tawar yang tinggi, dan memiliki kemampuan untuk “merampok” surplus value
yang dihasilkan oleh buruh.
• Alienasi adalah suatu proses dimana terjadi pengasingan surplus value yang
dihasilkan oleh buruh yang dirampok oleh kaum kapitalis/pemilik modal. Si buruh
terasing dari surplus value yang ia hasilkan dan terasing dari produk yang ia
hasilkan, misalnya buruh bekerja di pabrik mobil tetapi belum tentu buruh mendapat
mobil. Bahkan terasing dari lingkungan kerjanya, misalnya buruh tidak kenal dengan
resepsionis yang bekerja di ruangan yang nyaman karena mereka bekerja di pabrik
yang panas. Si buruh juga terasing dari lingkungan masyarakat tempat tinggalnya,

27
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

karena ia hanya digaji dibawah standar minimum. Ketika buruh ingin menyekolahkan
anaknya, maka ia harus bekerja di luar pekerjaan utamanya untuk menambah
penghasilan, lembur sampai pada hari-hari libur. Sehingga pada hari libur tidak
memiliki kesempatan untuk bertemu dengan tetangganya. Buruh bahkan terasing
dari lingkungan keluarganya sekaligus. Buruh terasing dari dirinya sendiri.
• Upaya buruh untuk membebaskan diri dari eksploitasi pemilik modal, menurut Karl
Marx hanya akan berhasil apabila buruh dapat menguasai alat-alat berprooduksi itu
sendiri
• Masyarakat yang ideal menurut Karl Marx adalah tidak ada lagi eksploitasi dari kaum
yang kuat kepada kaumm yang lemah
• Menurut pendapat Karl Marx, ideologi yang ada memberikan justifikasi terhadap
kelompok yang kuat dari justifikasi ini diperoleh melalui hukum lewat rumusan hukum
yang ada di masyarakat. Di setiap rumusan hukum, ada ideologi-ideologi
tersembunyi yang dimasukkan oleh mereka yang memiliki posisi dominan di
masyarakat.
• Descartes à eksistensi seseorang ditentukan oleh kesadaran dirinya sendiri à
dibantah oleh Karl Marx à eksistensi sosial seseorang dalam masyarakat yang akan
membentuk kesadaran akan dirinya sendiri, akrena Karl Marx menganut perspektif
komunalistik
• Menurut Karl Marx, free will (kehendak bebas) tidak ada. Ketika terjadi kontrak
antara buruh dan kapitalis, kedudukan keduanya tidak setara. Kapitalis memiliki alat
produksi, sedangkan buruh tidak memiliki apa-apa. Kontrak terjadi bukan karena free
will buruh tetapi kondisi ekonomi buruh yang marjinal memaksa buruh untuk bekerja
pada kapitalis. Menurut Karl Marx, equality before the law adalah omong kosong
• Apakah teori surplus value dari Karl Marx masih relevan?
Ternyata sampai sekarang masih ada negara-negara yang belum mencapai
sosialisme secara murni. Negara-negara belum sepenuhnya mampu membebaskan
diri dari kapitalisme. Contohnya Uni Soviet yang sangat menentang kapitalisme,
mencoba mengingkari teori marxisme, dan untuk mencapai masyarakat sosialisme
harus melalui masyarakat kapitalisme berusaha dihindari, maka melompat langsung
pada komunisme. Uni Soviet hancur karena melawan teori marxisme atau mengikuti
teori marxisme tergantung ideology setiap orang masing-masing. Kapitalisme tidak
berdiam diri. Saat ini, pemilik modal memberikan sebagian saham kepada buruh.
Kapitalisme mengalami metamorfosa juga. Cina sudah belajar dari pengalaman Uni
Soviet, Cina tidak keberatan untuk memasuki sistem kapitalis, yang diterapkan dengan
ilmu tai chi. Cina mempelajari sistem kapitalisme untuk mengetahui

28
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

kekuarangan dan kelebihan, kemudian Cina menghancurkan sistem kapitalisme itu


dengan kekuatan kapitalisme itu sendiri.
• Efisiensi yang justru menyebabkan pabrik-pabrik di AS bangkrut.
• Buruh mengalami false consciousness (kepala dibawah kaki di atas)

CRITICAL LEGAL STUDIES


CLS: berdasarkan bagaimana praktek dari legal realism itu diterapkan.

Marxist mengkritik sistem yang mapan -- dipakai oleh beberapa akademisi dalam gagasan
ini. --> Golongan 'KIRI' dalam Liberalism.

CLS: muncul di AS pada akhir 1970an dengan rentetan konferensi di AS, Perancis, Inggris. -
-> mostly muncul dari mahasiswa.
Lahir dari ketidakpuasan (khususnya akademisi muda) terhadap keilmuan hukum di era
sistem liberal. --> mengapa tidak puas? Mempertanyakan bagaimana hukum telah jauh dari
esensi dasar fungsi hukum dalam sistem masyarakat.
Tokoh-tokoh CLS: Duncan Kennedy, Karl Klare, Mark Kelman dan Roberto Mangabeira
Unger.
CLS mengkritik legal liberalism (natural law, legal positivism)
Inti ajaran legal liberalism:
• Law is apolitical (netral dan murni)
• Law is autonomous (suatu sistem)
• Law is ahistorical (legal techniques dan metode tidak berubah)
• Determinate (jawaban yang pasti ada untuk semua masalah hukum)

Natural law: gagasannya adalah tentang universalisme. --> hukum berlaku universal tanpa
melihat bagaimana orang, dan bagaimana lokasinya.
Asumsi: hukum itu sama.
Aturan-aturan yang berlaku di AS harusnya bisa berlaku di Indonesia, namun kenyataannya
tidak.

Ide universalisme menjadi salah satu kritik dalam CLS

Legal positivism - ide2 tentang formalistik. Hukum baru ada ketika diformalkan (oleh orang-
orang yang punya kewenangan).

29
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Gagasan yang disampaikan oleh natural law dan legal positivism --> legal liberalism.

• Akademisi CLS Mendorong para teoritis hukum liberal untuk memeriksa kembali,
memperbaiki dan menghaluskan kembali pandangan mereka agar menyediakan
analisis-analisis hukum yang memuaskan dalam masyarakat yang sedang berubah
dengan cepat
• Pokok pemikiran Critical Legal Studies adalah hukum adalah politik, hukum
melembagakan politik
• Doktrin hukum yang selama ini terbentuk sebenarnya lebih berpihak pada mereka
yang mempunyai kekuatan (power)

Hukum bukannya menerapkan metode pengambilan keputusan yang obyektif dan netral,
tetapi merupakan kedok bagi isu-isu politik yang relevan bagi status quo.
Pemikiran liberal mengandung kontradiksi yang tak terpecahkan, yang merupakan dilema
mendasar bagi liberalisme adalah ingin melindungi keebebasan individu, tetapi pada saat yang
sama mengakui adanya ketergantungan timbal balik antar warga masyarakat. Penganut
liberalisme yang mengagungkan individualisme selalu berkhotbah tentang demokrasi yang
mengutamakan nilai komunalisme.

Metode CLS atas delegitimasi doktrin legal liberalism:


• Untuk melakukan proses delegitimasi terhadap doktrin hukum yang telah terbentuk,
aliran CLS menggunakan metode trashing, deconstruction dan genealogy.
• Trashing adalah teknik untuk mematahkan atau menolak pemikiran hukum yang
telah terbentuk. Trashing dilakukan untuk menunjukkan kontradiksi dan kesimpulan
yang bersifat sepihak berdasarkan asumsi yang meragukan.
• Deconstruction adalah membongkar pemikiran hukum yang telah terbentuk. Dengan
melakukan pembongkaran maka dapat dilakukan rekonstruksi pemikiran hukum.
• Wilayah bersama pada dimensi laut terletak pada sea-bed dan ocean floor yang
dikenal dengan istilah Area, sementara pada dimensi ruang angkasa, ruang angkasa
secara keseluruhan dinyatakan sebagai Wilayah Bersama
• Di wilayah bersama negara dilarang mengklaim kedaulatan walaupun tidak menutup
kemungkinan bagi mereka untuk mengambil keuntungan
• Dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi wilayah bersama secara tradisional
prinsip yang berlaku adalah prinsip res communis. Res communis hanya
memperkenankan proses eksploitasi bagi siapa saja tanpa didahului dengan klaim
kedaulatan

30
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Dalam prakteknya prinsip res communis akan memberi keuntungan bagi mereka
yang memiliki kemampuan bila dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki
kemampuan
• Bagi negara berkembang, prinsip res communis sama saja dengan tidak dapat
menikmati keuntungan (benefit) apapun dari wilayah bersama karena keterbatasan
modal dan teknologi
• Negara berkembang memperkenalkan prinsip common heritage of all mankind atau
warisan umat manusia bersama sebagai pengganti dari prinsip res communis
• Dalam prinsip common heritage of mankind yang berlaku adalah siapa yang dapat
mengeksploitasi wilayah bersama maka ia wajib membagi keuntungan yang
didapatkan kepada yang lain
• Negara berkembang telah melakukan trashing dengan mengatakan bahwa prinsip
res communis bukanlah prinsip yang universal yang diikuti oleh masyarakat
internasional modern. Prinsip res communis hanya berpihak pada negara maju yang
notabene adalah negara yang memiliki modal, keahlian, teknologi
• Selanjutnya, negara berkembang melakukan deconstruction terhadap prinsip res
communis dengan mengatakan bahwa prinsip tersebut hanya menguntungkan
negara maju saja. Dalam argumentasi negara berkembang, manfaat dari wilayah
bersama seharusnya tidak dinikmati terbatas pada mereka yang mempunyai
kemampuan untuk mengeksploitasi saja, melainkan oleh seluruh umat manusia.
Oleh karenanya, prinsip res communis sudah selayaknya ditinggalkan.

Tambahan:
CLS bukan hanya pemikiran yang pasti/semacam dogma, tetapi merupakan suatu gerakan
untuk berpikir kritis.
Manusia cenderung mencari sesuatu yang stabil, seperti orde baru. Stabilitas hanya ilusi
dan imajinasi yang mungkin diciptakan oleh kebanyakan orang normal à pemikiran saat
reformasi. Stabilitas tersebut tidak bisa dipastikan dengan kebiasaan saja. Norma menjadi
hukum ketika ada otoritas untuk menerapkan perintah, lalu sanksi baru ditentukan.
NORMA à OBJEKTIF
Internalisasi (sesuatu yang DI biasakan terus menerus; sanksi menurut kelsen bukan bagian
dari hukum, tetapi sanksi menjadi melekat, barulah terjadi proses pembatinan, internalisasi
terjadi) à eksternalisasi (ketika anda menampakan kebiasaan internalisasi tersebut keluar)
à objektivasi (aturan yang bersifat internal telah menjadi sesuatu yang mengendalikan
anda; bahkan ada pengawasnya, yang bukan sekedar pengawas secara fisik, tetapi bisa
juga berupa rasa bersalah yang ada dalam diri kita sendiri).

31
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

CLS berangkat dari sebuah pertanyaan yang sangat skeptic dari nilai-nilai yang dihasilkan dari
proses diatas. CLS yakin dengan berpikir kritis kita bisa mempertanyakan apa yang normal
dan objektif yang bahkan sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Jadi CSL membuat kita berpikir
kembali apakah suatu ukuran yang sifatya normal dapat dipertanyakan atau tidak, bukan
dalam rangka mendiskursuskan kembali suatu kebenaran, melainkan untuk mencari
kebenaran/bisa menjawab kemudian.
Orang hukum mempunyai hasrat untuk menormalkan orang-orang, tapi hasrat itu ada
objektifnya yang berasal dari luar à ini dipertanyakan CLS.
Kesangsian ideologis, kecurigaan bahwa sesuatu yang normal dibaliknya ada muatan
ideologis (sebuah sifat dari sebuah kekuasaan atau ide yang mau menancapkan kekuasaan
secara absolut dan ingin membuat menyeragamkan manusia) à CLS. Lebih tepat dikatakan
sebagai gerakan yang perihatin pada hukum yang legistik dan positivistic. Banyak orang
yang berbicara hukum yang memiliki kekuasaan untuk menormalkan, sehingga berpikir
untuk tidak bisa beda dari yang lain. CLS ingin membongkar hal-hal yang seperti itu.
Kebenaran dan hasrat untu kebenaran adalah ilusi yang membuat kita tidak membuat
berubah.

FEMINIST JURISPRUDENCE
• Suatu aliran pemikiran dalm filsafat hukum yang membahas teori hukum,
pendekatan hukum, dan legal issues terhadap perempuan dan kehidupannya
• Isu yang digunakan adalah isu tentang gender. Gender banyak disalahartikan
sebagai perbedaan kelamin laki-laki dan perempuan, padahal perbedaan tersebut
merupakan anugerah Tuhan yang memang diciptakan secara berbeda. Melalui
perempuan, Tuhan memastikan peradaban manusia. Tetapi dalam
perkembangannya perbedaan ini bukan berdasarkan konsep yang diciptakan Tuhan,
tetapi gender. Gender merupakan perbedaan yang dibuat berdasarkan sistem sosial,
bukan perbedaan secara lahiriah. Gender berangkat dari pandangan yang
menempatkan konsep bahwa dunia dikuasai oleh laki-laki (patriarki). Laki-laki
menjadi titik sentral.
• Dalam berbagai literatur, laki-laki tidak mungkin konsep sentral karena perempuan
memiliki rahim yang dapat melahirkan anak. Garis keturunan dulu ditarik dari
perempuan karena ia yang mengetahui anak yang dilahirkannya. Namun karena
perkembangan dari sistem sosial yang memberi pengaruh, akhirnya pandangan ini
berubah. Tradisi pandangan menempatkan laki-laki sebagai titik sentral. Hal inilah
yang dikritik oleh kaum feminist.

32
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

• Sistem sosial membalik fungsi perempuan menjadi kelas kedua dalam masyarakat.
Hal inilah yang ditolak oleh kaum feminist.
• Each strain of feminist jurisprudence evaluates and critiques the law by examing the
relationship between gender, sexuality, power, individual rights, and the judicial system
as a whole
• Aliran ini berkembang dari gerakan perempuan pada akhir 1960an dan awal 1970an
• Kajian ini mengalami kemajuan pesat terutama sejak banyak perempuan yang
belajar dan mengkaji ilmu hukum dan mempertanyakan secara kritis masalah-
masalah yang menjadi pusat perhatiannya, seperti rape, domestic violence,
reproduction, unequal pay, sex discrimination, sexual harassment à gagasan ini ada
ketika banyak wanita mempelajari hukum.
• Ya laki-laki dan perempuan itu berbeda, karena memang Tuhan menciptakan
berbeda. Tetapi dalam perkembangannya, perbedaan ini bukan berasal dari
perbedaan Tuhan tadi. Tetapi melainkan perbedaan atas sistem soaial, yakni
masalah gender. Gender berangkat dari pandangan yang menempatkan ide bahwa
konsep laki-laki di dunia ini yang menguasai, titik sentral nya laki-laki (konsep patriarki)
• Setiap ada kasus pemerkosaan, stigma sosial menempatkan perempuan bukan
sebagai korban tetapi sebagai penyebab terjadinya tindak pelecehan atau kekerasan
tersebut.
• Yang paling terasa saat bekerja adalah unequal pay. Biasanya pengusaha akan
cenderung memilih laki-laki ketimbang perempuan karena laki-laki bisa diajak lembur
dan dengan workload yang banyak laki-laki bisa menghandle tanpa memikirkan
keluarga, sedangkan perempuan dianggap waktunya lebih terbatas karena punya anak
dan memikirkan keluarga, sulit lembur atau pulang malam. Bos perempuan juga
lebih memilih bekerja dengan laki-laki sebagai anak buahnya karena lebih fleksibel
waktunya.
• Masih ada tradisi dimana perempuan kita ingin mengajukan kredit harus meminta
izin suaminya terlebih dahulu, sedangkan suami tidak perlu izin.
• Kita bisa melihat bahwa legislator lebih mendukung kepentingan laki-laki ketimbang
perempuan.
• Sistem sosial mendiskriminasi perempuan sebagai second layer atau membalik
fungsi perempuan menjadi kelas kedua dalam masyarakat. Inilah yang ditolak.oleh
gerakan feminis
• Dalam menganalisis cara kerja hukum dan perempuan, ahli feminist jurisprudence
melakukan kegiatan akademik dan gerakan dengan berbagai cara:

33
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

- Secara politik, mereka mencari kesetaraan antara pria dan wanita


- Secara analistik, mereka membuat katogeori berdasarkan jenis kelamin untuk
melakukan analisis atas praktek-praktek hukum yang telah dikeluarkan bagi
kepentingan perempuan
- Secara metodologis, mereka menggunakan pengalaman perempuan untuk
menggambarkan dunia dan untuk menunjukkan perlunya perubahan
- Mereka mengandalkan terutama pada wacana pengalaman untuk menganalisis
hirarki, jenis kelamin, objektifikasi seksual, dan struktur sosial

• Karena kita negara dengan sistem civil law, maka peran legislator sangat penting.
Legislator yang terlibat dalam politik umumnya didominasi oleh laki-laki. Struktur
sosial membuat perempuan tidak seimbang di parlemen, sekalipun tidak ada
larangan bagi perempuan untuk terlibat dalam politik. Kelompok feminist minta jatah
lebih bagi perempuan untuk menjadi legislator. Hal ini terjadi di India, dimana kaum
feminist meminta jatah 30% dan hukum yang harus memainkan peran dalam hal ini
karena tidak mungkin berubah hanya dengan berpegang pada struktur sosial. Kaum
feminist membuat aturan-aturan tentang kewajiban agar komposisi perempuan bisa
dinaikkan dalam keterlibatan politik. Di Indonesia, masih sebatas kewajiban bagi parpol
untuk memberikan jatah 30% bagi perempuan, namun pemilihannya akan diserahkan
pada pasar. Sedangkan pasar sendiri masih memiliki stigma sosial yang pro laki-laki.
à Hukum perlu untuk mengangkat agar perempuan dapat masuk ke dalam
legislator. Itu bentuk diskriminasi dalam bentuk positif, yang mana dapat
menampung 2 kepentingan itu. Contoh India

Empat Perbedaan Aliran Feminist Jurisprudence (By Cain)


Meskipun kaum feminis memiliki banyak kesamaan, mereka tidak seragam dalam
pendekatan mereka
1) Aliran Liberal
“Equality amounts to equal opportunity”
Aliran ini memandang wanita sebagai manusia individu dan didasarkan pada
keinginan untuk mempromosikan kesempatan yang sama. Mempekerjakan konsep
rasionalitas, hak, dan kesempatan yang sama. Aliran ini membuat argument yang
sama dengan yang menentang diskriminasi rasial. Ini menegaskan bahwa
perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk membuat pilihan mereka
sendiri.
Aliran ini menantang asumsi ototritas laki-laki, dan berusaha untuk menghapus
berbasis gender perbedaan yang diakui dalam hukum memungkinkan

34
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

perempuan untuk bersaing sama-sama di pasar. Aliran ini menekankan pentingnya


“penggunaan” hukum dan putusan pengadilan untuk melakukan perbaikan. Isu
sentralnya dalam aliran liberal adalah mengenai unequal pay karena ada unsur
pasar disitu. Melihat perempuan sebagai individu dan memang mengakui
ketidaksamaan laki-laki dan perempuan, jadi mengandalkan peran sistem hukum.
2) Aliran Radikal
“focus on differences between women and man and support affirmation
measures to challenge inequalities”
Feminisme radikal berfokus pada ketimpangan. Aliran ini memandang
perempuan sebagai kelas, bukan sebagai manusia individu. Ini menegaskan
bahwa laki-laki sebagai sebuah kelas, telah mendominasi perempuan,
menciptakan ketimpangan gender. Ketidaksetaraan ini adalah konsekuensi dari
subordinasi sistematis. Oleh karena itu, aliran ini tidak puas dengan menciptakan
kategori-kategori hukum yang menjanjikan kesempatan yang sama dan perlakuaan
yang adil. Ia melihat kategori-kategori sebagai palsu yang menutupi kekuatan
mengakar dari struktur laki-laki dominan. Apa yang dibutuhkan, berpendapat kaum
feminis radikal, adalah meninggalkan pendekatan tradisional yang mengambil
kelelakian sebagai titik referensi mereka; persamaan gender harus dibangun atas
dasar perbedaan wanita dari manusia bukan semata akomodasi perbedaan itu.
à Mereka tidak percaya instrument hukum dengan meninggalkan sistem sosial
yang menempatkan laki-laki sebagai dominan (pendekatan tradisional).
Persamaan gender harus dibangun atas dasar perbedaan wanita dalam gender.
Harus dibedakan dulu kelasnya baru kemudian hukum memberi legitimasi.

3) Aliran Kultural
Cultural feminist also emphasize difference, but view it more positively. The use
the rhetoric of equality to advocate change that supports the values of difference.
Tetapi perbedaan ini tidak boleh membuat yang satu merasa tidak setara dengan
yang lain. Perbedaan itu memang ada dan harus dilihat secara positif.

4) Aliran Postmodern
Postmodern feminism sees equality as a social construct and, since it a product
of patriarchy, one in need of feminist reconstruction (pemikiran dikontruksi
melalui metode CLS) à dengan cara tracing, rekonstruksi supaya ada konstruksi
yang baru secara sosial. Contohnya, dalam buku-buku pelajaran sd, perempuan

35
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

diposisikan selalu pergi ke pasar dan mengurus rumah. Kontruksi tersebut sudah
dibentuk sejak dulu. Maka solusinya adalah dikontruksi dengan mengubah
pandangan-pandangan pada sistem pendidikan bahwa perempuan dan laki-laki
memang sama. Dekonstruksi menggunakan pendekatan-pendekatan yang
dipakai dalam CLS.
Ideologi, hukum dan perempuan
• Ideologi, hukum dan perempuan (women’s choice) adalah salah satu
pembahasan yang paling penting dalam studi feminist jurisprudence
• Setiap pandangan tentang disiplin hukum dipengaruhi oleh apa yang disebut sebagai
ideology
• Dalam ilmu hukum, ideology adalah pandangan tentang bagaimana dunia
seharusnya berjalan
• Ideology sangat bersifat subjektif dan berpihak, minimal berpihak pada si penganut
pandangan atau si pembuat hukum atau kebijakan
• Ideology berisi nilai-nilai atau value
• Pada umumnya ideology dalam hukum bersifat tersirat daripada tersurat
• UU mengakomodasi ideology-ideology tersebut
• Dalam kajian feminist jurisprudence, kritik atas ideology patriarki yang menempatkan
posisi dominan laki-laki dalam segala aspek kehidupan sosial adalah kritik paling
penting
• Ideology partriarki dalam aliran ini dipandang sebagai bentuk penindasan terhadap
perempuan untuk melanggengkan kekuasaan (laki-laki)
• Pelanggengan kekuasaan (kaum laki-laki) salah satunya dilakukan dengan
penggunaan hukum dan sistem hukum
• Dominasi laki-laki atas hukum dan sistem hukum disebabkan laki-laki menguasai
sebagian besar kekuatan sosial, ekonomi dan politik
• Mereka (laki-laki) menggunakan hukum dan sistem hukum untuk mensubordinasikan
kaum perempuan baik di wilayah publik seperti kehidupan sosial, politik, dan
ekonomi, serta di wilayah private seperti kehidupan keluarga dan seks
• Bahasa, logika, dan struktur hukum juga diciptakan untuk memperkuat nilai-nilai
kelaki-lakian. Konsep-konsep dan nilai-nilai disajikan secara luas tersebut dianggap
netral dan objektif
• Contohnya pada masyarakat minang berkembang budaya rantau dimana laki-laki
keluar dari keluarganya dan mencari nafkah karena sistem sosial dipegang oleh
perempuan. Sehingga pada abad ke-16 laki-laki minang sudah mulai berdagang

36
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

dengan orang Malaysia sehingga banyak orang minang menguasai pasar-pasar di


Kuala Lumpur.
• Kaum feminis menantang determinasi biologis, keyakinan bahwa susunan biologis
pria dan wanita yang berbeda telah melahirkan perilaku tertentu yang dikaitkan atas
dasar seks
• Mereka berpendapat bahwa gender diciptakan secara sosial, bukan biologis. Seks
menentukan hal-hal seperti alat kelamin dan kemampuan reproduksi bukan
psikologis, moral, atau sosial
• Penekanan perbedaan antara pria dan wanita berdasarkan seks adalah cara
melemahkan kemampuan perempuan untuk mendapatkan akses ke hak dan
perlindungan sebagaimana yang laki-laki.

PANCASILA, PHILOSOPHY OF LAW, AND LEGAL TRANSPLANTATION


Peran Indonesian Legal Thought mengenai Globalisasi Hukum
Globalisasi Hukum:
• The First Wave: the role of Indonesian Adat Law on the origin, formation, and
establishment of modern international law
• Globalisasi adalah proses menyebarnya unsur-unsur kebudayaan (materiil dan
immateriil) ke segala penjuru globe (dunia).
o Globalisasi konvensional: penyebaran unsur-unsur kebudayaan tersebut
terjadi secara sektoral --> contoh: religions, politics, economics and law. -->
terjadinya satu per satu.
o Globalisasi modern: kemajuan luar biasa dalam ITE --> mempengaruhi
proses globalisasi --> terjadi secara bersama-sama secara sekaligus.
• Proses globalisasi dalam hukum:
Teori Von Savigny tentang perkembangan masyarakat: sekumpulan manusia yang hidup
bersama-sama --> membentuk intellectual communion --> melahirkan perasaan senasib dan
sepenanggungan --> mell. Bantuan bahasa, mereka membentuk kesatuan masyarakat -->
akan mengalami kemerdekaan.
Nusantara's (Indonesia's Societies; intellectual communion) ==> Nusantara's Legal Values
==> Nusantara's Legal Culture ==> Nusantara's Adat Law ==> Modern National and
International Law.
Between Nusantara's Legal Culture & Nusantara's Adat Law ada Language & Pancasila's
Values.
Hukum adat merpakan perwujudan nyata dari nilai-nilai Pancasila.

37
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

"adat law as sources of modern international law" (gambar segitiga) Legal Principles -->
Legal Values --> Legal Norms --> Legal Acts

ADAT:
• A: bukan
• Dato: sesuatu yang bersifat materiil
• Hukum adat: sesuatu yang sifatnya non-materiil
• Hukum adat (Prof. Amura): the set of cultural values, norms, customs and practices
found among specific ethnic groups
• Dalam adat: tidak dibedakan mana yang hukum dan mana yang bukan.
• Sifat dan hakekat dari hukum adat: Indonesian people are more adheres to
spiritualism than materialism values.
• The harmony among the Indonesian customary law exists in the legal culture which
more appreciated communalism than individualism values.
• Romanticism lebih berharga dari rationalism

Hugo Grotius: Kristen yang sangat ekstrim --> Arminianism & Sociasim/Ramism:
Rationalism Mode of Reasoning
Hugo Grotius mengkritik ajaran2 agama Kristen Protestan aliran Calvinist.
Aliran arminianism mengutamakan individualism.
Hugo Grotius mempengaruhi perkembangan modern international law
Bertolak belakang dengan sifat hukum adat Nusantara.

Sebagai konsekuensi dari ajaran Kristen Protestan yang sangat ekstrim, pemikiran Hugo
Grotius juga didominasi oleh "materialisme".

Sehinggaaa bertolak belakang dengan nilai-nilai hukum adat Indonesia.

TRIPs: materialism, individualism ==> bertolak belakang dengan sifat dan hakekat dari
hukum Adat.

Adat law does NOT recognize the legal incapacity of a married women, whereas
Western Law, such as the BW which was introduced to Indonesia in the middle of the
nineteenth century -- stipulates that married women incapable of independent legal
actions.

Free Trade: Adat Law's Foundation for Hugo Grotius' Mare Liberum.

38
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

Free Trade As the daily practice in the Nusantara is a foundation of Hugo Grotious "mare
liberum/freedom of the seas" legal doctrine;
The doctrine not only influenced the law of the sea establishment, but it also determined the
formation of international trade law, despite manipulation of the free trade spirit in the
(future) WTO rule.

Mare Clausum >< Mare Liberum


Mare clausum: a sea or other body of navigable water that is under jurisdiction of a particular
nation and is closed to other nations.
Mare Liberum: laut tak dapat dimiliki oleh negara (disampaikan oleh Hugo Grotius)

Perjanjian Breda (1667)


Inggris menguasai Pulau Run di Banda Islands;
Belanda menguasai Manhattan Islands (NY, New Jersey, Pennsylvania, Delaware)

Globalization of LAW (Second Wave)


Hukum Agraria (Agrarische Wet, 1870) --> memberikan keistimewaan untuk private
capitalists untuk berpartisipasi secara langsung dan bebas dalam mengeksploitasi tanah
subur Indonesia, abundant of natural resources and cheap labor.

Globalization of LAW (Third Wave)


The Non-Violence South China Sea Conflict Resolution Style: Republic of Indonesia vs
People Republic of China.
1937: China mengklaim teritorinya yang terdiri dari garis-garis putus yang jumlahnya 11
(eleven-dotted line) --> Termasuk south china sea, natuna. --> di bawah pemerintahan Cina
Nasionalis.
Klaim sepihak yang tidak ditentang menjadi customary international law.
Soekarno & Zhou Enlai: hubungannya sangat erat --> before KAA 1955
• The nine-dotted line: dua garis yang ada di Natuna sudah dihilangkan. 1953:
Indonesia dengan Cina tidak ada masalah apapun
• Non-violence conflict resolution.

Globalization of LAW (The Fifth Wave)


Javanese Adat Law as the Source of International Law

39
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

-PANCASILA: A SOURCE OF INDONESIAN’S LAW-


Indonesia adalah negara hukum. pertanyaannya: apakah benar bahwa Pancasila pantas
dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum? à harus diliat, ideologi dibalik norma
hukum yang dibuat oleh orang ybs. Seringkali, hukum dijadikan sebagai alat dominasi
penguasa.
PERATURAN à utk mewujudkan keserasian hidup di dalam masyarakat; disebut sebagai
keadilan, keharmonisan di dalam masyarakat. Harus mencakup tidak hanya kepentingan
individu, tapi juga kepentingan kelompok. Hukum diharapkan bisa menyerasikan hubungan
individu-individu; individu-kelompok; dan antarkelompok.
Jika Pancasila benar sebagai norma hukum, maka ia harus bisa memanfaatkan nilai2,
norma-norma, asas-asas untuk bisa menyerasikan hubungan antarkelompok. Pancasila
harus mengandung nilai-nilai, norma-norma, asas-asas, sikap tindak yang bisa membantu
mewujudkan keharmonisan dalam masyarakat.
SILA PERTAMA PANCASILA à sumber keharmonisan dari relasi antara Pencipta dengan
ciptaanNya maupun dengan sesama ciptaanNya.
SILA KEDUA PANCASILA à merupakan upaya untuk mewujudkan hubungan yang
harmonis/serasi di dalam hubungan antara individu dgn individu, antarkelompok, dan antara
individu-kelompok.
- Tidak saja harus bersifat adil, namun juga beradab.
o Sabenere (logis)
o Samestine (etik)
§ Sabutuhe
§ Sacukupe
§ Saperlune
o Sakepenake (estetik)
- Harus memiliki sikap mawas diri diatas supaya kedamaian dalam kehidupan
bersama bisa diwujudkan.

SILA KETIGA PANCASILA à menyatakan keharmonisan antara keberagaman (ras, agama,


dan etnis) dan persatuan (negara).
- Nasionalisme tanpa chauvinisme à keseragaman.
- Variasi etnis, ras, dan kelompok agama tanpa separatisme à pluralisme.
- Suku yang berbeda budaya dan berbeda bahasa pasti juga menghasilkan sistem
hukum yang berbeda.

SILA KEEMPAT PANCASILA à keharmonisan dalam hubungan vertikal dan horizontal


(kesetaraan dan perbedaan derajat); regulasi – hubungan masyarakat.

40
Disusun oleh Dominique Virgil – Jessica Petra Natasha –
Gleshya Regita - Priska Putri Andini – Alexis Nicolaas

- Adanya konsensus dalam hubungan bermasyarakat.

SILA KELIMA PANCASILA à harmoni di tingkat fisik dan lingkungan spiritual


- Lingkungan fisik: sandang, pangan, papan, kesehatan, dll.
- Lingkungan spiritual:
o Level natural à rasio (logis), hasrat (etis), rasa (estetis).
o Level kultural (awareness) à sains (legal, sosial, individual, religius), norma,
budaya.

Dapat disimpulkan, Pancasila memang pantas untuk dijadikan landasan bagi terwujudnya
hubungan masyarakat yang harmonis.
Nilai persatuan dan kesatuan tidak lahir secara “tiba-tiba” menjadi sila ketiga pancasila.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk akhirnya bisa seperti itu.
Bukti bahwa pancasila pantas dijadikan sumber dalam hukum nasional, hal ini terwujud dalam
hukum adat juga. Hukum adat yg diterapkan oleh nenek moyang kita yang menjadi praktek
hidup sehari2 dalam bermasyarakat. Ada upaya pemersatu nusantara dengan adanya
“wawasan nusantara” dalam deklarasi Djuanda (utk melawan rezim hukum laut bebas
dari Hugo Grotius).

41

Anda mungkin juga menyukai