Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN TONSILITIS

DENGAN TINDAKAN OPERATIF TONSILEKTOMI


DI RUANG IBS RSUD Dr. H SOEWONDO KENDAL

RIO AJI PRAYOGA


P1337420117081

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2020
I. JENIS KASUS (DIAGNOSA MEDIS)

Tonsilitis merupakan peradangan yang terjadi pada tonsil yang disebabkan oleh
virus atau bakteri. Tonsil atau amandel merupakan dua kelenjar kecil yang ada di
tenggorokan dan berfungsi untuk mencegah infeksi. Seseorang yang menderita
tonsilitis akan merasakan sulit atau sakit saat menelan, amandel menjadi bengkak
kemerahan, terkadang muncul bercak-bercak putih, demam, lemas, sakit kepala,
suara serak, batuk dan bau mulut (Willy, 2019). Pada kasus ini biasanya dilakukan
tindakan tonsilektomi yaitu pengangkatan tonsil dan struktur adenoid, bagian
jaringan limfoid yang mengelilingi faring melalui pembedahan (Nettina, 2006).

II. FOKUS ASSESMENT (PATHWAY)

Virus dan bakteri menginfeksi tonsil

Epitel terkikis

Inflamasi tonsil

nyeri saat Respon Pembengka Mulut bau,suara


menelan inflamasi kan tonsil parau

Anoreksia Rangsang sumbatan jalan fungsi tubuh


termoregulasi napas dan cerna
hipotalamus
Intake tidak
adekuat suhu tubuh tindakan
nyeri cemas
tonsilektomi

Hipertemi terputusnya
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari pembuluh darah
kebutuhan tubuh

penumpukkan terputusnya keutuhan luka terbuka


sekret jaringan

pendarahan pertahanan tubuh


Resiko tidak
efektif pemajanan
bersihan Resiko perdarahan mikroorganisme
jalan nafas

resiko infeksi
III. MASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre Operasi
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake tidak adekuat.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan respon inflamasi
3. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan respon inflamasi.
4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan akan dilakukannya
tonsilektomi.
b. Intra operasi
1. Resiko perdarahan berhubungan dengan cedera vaskuler akibat insisi bedah
c. Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, diskontinuitas jaringan.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan pemajanan mikroorganisme.
IV. INTERVENSI DAN RASIONALISASI
PRE OPERASI

NO DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL


KEPERAWATAN

1 Ketidakseimbangan Setelah diberikan tindakan keperawatan, 4. Kaji pemenuhan kebutuhan 1. Mengetahui kekurangan nutrisi
nutrisi kurang dari pasien tidak mengalami nutrisi klien klien
kebutuhan tubuh ketidakseimbangan nutrisi kurang dari 5. Kaji penurunan nafsu makan 2. Agar dapat menentukan
berhubungan dengan kebutuhan dengan kriteria hasil : klien intervensi yang sesuai dalam
intake tidak adekuat. 1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi klien 6. Jelaskan pentingnya makanan pemberian makan pada
adekuat bagi proses penyembuhan 3. Pengetahuan yang baik mengenai
2. Tidak ada tanda malnutrisi 7. Dokumentasikan masukan nutrisi akan memotivasi untuk
3. Mampu menghabiskan makanan oral selama 24 jam, riwayat meningkatkan pemenuhan nutrisi
sesuai porsi yang diberikan. makanan, jumlah kalori yang 4. Mengidentifkasi
tepat ketidakseimbangan kebutuhan
8. Ciptakan suasana makan nutrisi
yang menyenangkan 5. Untuk meningkatkan nafsu
9. Berikan diet nutrisi seimbang makan
(makanan cair atau halus) 6. Mempertahankan nutrisi yang
atau makanan selang sesuai seimbang
indikasi
2 Gangguan rasa nyaman Setelah diberikan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri, 1. Untuk mengetahui sejauh mana
nyeri berhubungan keperawatan,nyeri yang dirasakan pasien secara komprehensif tingkat nyeri dan merupakan
dengan respon inflamasi dapat teratasi dengan kriteria hasil : 2. Jelaskan pada pasien tentang indiaktor secara dini untuk dapat
1. Mampu mengenali nyeri penyebab nyeri memberikan tindakan selanjutnya
2. Mampu mengontrol nyeri 3. Ajarkan teknik napas dalam
3. Melaporkan bahwa nyeri 4. Observasi tanda-tanda vital 2. Informasi yang tepat dapat
berkurang 5. Kolaborasi dengan tim medis menurunkan tingkat kecemasan
dalam pemberian analgetik pasien dan menambah
pengetahuan pasien tentang
nyeri.
3. Napas dalam dapat menghirup
O2 secara adekuat dan membantu
otot-otot untuk relaksasi sehingga
dapat mengurangi rasa nyeri.
4. Deteksi dini terhadap
perkembangan kesehatan pasien
5. Perlu berkolaborasi dengan
dokter dalam pemberian
analgetik apabila nyeri tidak
dapat berkurang dengan tindakan
nonfarmakologi
3 Peningkatan suhu tubuh Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Pantau suhu tubuh, 1. Suhu 38,1°C-41,1°C
berhubungan dengan diharapkan suhu tubuh pasien normal perhatikan menggigil atau menunjukan infeksius
respon inflamasi. dengan kriteria hasil : diaphoresis 2. Suhu ruangan harus diubah untuk
1. Suhu tubuh dalam rentang normal 2. Pantau suhu lingkungan mempertahankan suhu
2. Nadi dan RR dalam rentang 3. Monitor TTV mendekati normal
normal 4. Berikan kompres hangat, 3. Untuk mengetahui kondisi pasien
3. Tidak ada perubahan warna kulit hindari penggunaan alkohol 4. Dapat membantu menurunkan
5. Berikan antipiretik suhu tubuh
5. Obat antipiretik sebagai obat
penurun demam
4 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Kaji tingkat cemas
dengan kurang diharapkan kecemasan pasien 2. Beri penyuluhan tentang
pengetahuan akan berkurang dengan kriteria hasil : penyakit klien
dilakukannya 1. Melaporkan ansietas menurun
3. Beri penyuluhan tentang
tonsilektomi. 2. Tampak rileks
tindakan pembedahan yang
akan dilakukan
4. Anjurkan keluarga untuk
selalu berada di samping
klien
5. Beri aktivitas hiburan atau
bahan bacaan yang
menyenangkan
6. Ingatkan klien untuk selalu
berdoa pada Tuhan sesuai
dengan agamanya
7. Kolaborasi untuk pemberian
obat penenang
INTRA OPERASI

NO DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL


KEPERAWATAN

Risiko perdarahan Setelah dilakukan asuhan keperawatan, 1. Monitor tanda-tanda 1. Mengantisipasi pasien terjadi syok
berhubungan dengan diharapkan tidak terjadi perdarahan perdarahan hipovolemik
cedera vaskuler akibat dengan kriteria hasil: 2. Monitor TTV 2. Mengetahui kestabilan pasien
insisi bedah 1. TTV dalam batas normal TD 3. Monitor input dan output 3. Mengetahui jumlah darah yang
(systole 110-130 mmHg, diastole keluar dari dalam tubuh sebagai
70-90 mmHg) pemantauan tanda kegawatan
2. Tidak terjadi perdarahan yang
berlebih pada saat operasi
berlangsung (perdarahan < 250 cc)

POST OPERASI
NO DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL
KEPERAWATAN

1 Nyeri akut berhubungan Setelah diberikan tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Sebagai dasar penentuan
dengan insisi bedah, nyeri yang dirasakan pasien dapat teratasi secara komprehensif intervensi berikutnya.
diskontinuitas jaringan. dengan keriteria hasil : 2. Ajarkan teknik non 2. Teknik distraksi atau latihan
1. Melaporkan nyeri berkurang farmakologi dengan distraksi nafas dalam dapat mengurangi
2. Ekspresi wajah tampak rileks. atau latihan nafas dalam nyeri
3. Tingkatkan istirahat klien 3. Istirahat dapat melupakan dari
4. Anjurkan klien untuk rasa nyeri
mengurangi nyeri dengan 4. Tindakan non farmakologi dapat
minum air dingin atau es, diberikan sebagai alternatif untuk
hindarkan makanan panas, mengurangi nyeri dan
pedas, keras dan melakukan menghilangkan ketidaknyamanan
teknik relaksasi 5. Menurunkan stres dan
5. Ciptakan lingkungan tenang rangsangan berlebihan,
dan nyaman meningkatkan istirahat.

2 Risiko infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Kaji adanya tanda-tanda 1. Dugaan adanya infeksi pada luka
berhubungan dengan diharapkan infeksi dapat diatasi dengan infeksi pada area insisi post op
pemajanan kriteria hasil : 2. Cuci tangan sebelum dan 2. Menurunkan risiko penyebaran
mikroorganisme. 1. Klien bebas dari tanda-tanda infeksi sesudah melakukan tindakan, bakteri
2. Menunjukkan kemampuan untuk perawatan luka aseptik 3. Antibiotik dapat menghentikan
mencegah timbulnya infeksi 3. Kolaborasi tim medis dalam perkembangan bakteri
pemberian antibiotik
V. BUKU SUMBER
Nettina, Sandra M. 2006. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC
Willy, Tjin. 2019. Radang Amandel. (https://www.alodokter.com/radang-amandel,
Diakses tanggal 27 Januari 2020)
Nuraif, A.H & Kusuma H. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis dan NANDA. Yogyakarta : Mediaction