Anda di halaman 1dari 9

Majas Perbandingan

Jenis majas perbandingan meliputi majas yang menggunakan gaya bahasa ungkapan dengan cara
menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek yang lainnya, yakni melalui
proses penyamaan, pelebihan, atau penggantian. Di dalam majas perbandingan ini pun masih
dapat dibagi ke dalam beberapa sub jenis, seperti :

1. Majas Personifikasi
Majas personifikasi menggunakan gaya bahasa yang ungkapannya seakan menggantikan fungsi
benda mati yang dapat bersikap seperti manusia. Majas ini membandingkan benda mati dan
manusia. Jadi, intinya adalah pada kata ‘person’ yang berarti orang, atau meng-orang-kan benda
mati.
Contoh: Pensil itu menari –nari di atas kertas untuk menghasilkan gambar yang begitu indah.
Keterangan: pensil adalah benda mati yang sudah pasti tidak bisa menari, tapi digambarkan
benda mati tersebut bisa menari layaknya manusia.
Contoh Majas Personifikasi:
1. Pena itu menari-nari di atas kertas.
2. Lia termenung menatap daun-daun yang berjoget diterpa angin.
3. Leptopku sedang kelelahan karena digunakan semalam suntuk.
4. Pepohonan di hutan itu tampak sedih karena musim kemarau panjang.
5. Lautan biru itu seolah menatapku dalam hening.
6. Aku bisa merasakan dinding-dinding di sekitarku mendengar pembicaraan kita.
7. Baju ini memelukku tubuhku yang kedinginan.
8. Bunga-bunga di taman bercengkerama riang di bawah terik hangat mentari.
9. Aku tidak bisa menemukan jam tanganku, mungkin dia melarikan diri.
10. Jam berjalan dengan sangat lambat.

2. Majas Metafora
Majas metafora adalah suatu majas yang menggunakan sebuah objek yang bersifat sama dengan
pesan yang ingin disampaikan, melalui suatu ungkapan. Jadi, satu objek dibandingkan dengan
objek lain yang serupa sifatnya, tetapi bukan manusia.
Contoh: Lily adalah anak emas di keluarga besar Pak Badar.
Keterangan: anak emas adalah ungkapan bagi orang yang dianggap kesayangan.
Contoh Majas Metafora:
1. Mila adalah bunga desa yang selalu mengagumkan.
2. Lia selalu menjadi buah bibir karena tingkah lakunya yang urakan.
3. Kita harus waspada dengan orang itu karena ia terkenal panjang tangan.
4. Raja hutan itu memiliki suara yang paling menggelegar.
5. Dodi senang sekali dengan buah tangan yang diberikan paman.
6. Ali berusaha keras untuk mengasilkan buah pena ini.
7. Tulisan ini adalah buah pikiran kawan sekelasku.
8. Sang Raja Siang memang selalu membawa kehangatan.
9. Dinda adalah buah hati pasangan yang fenomenal itu.
10. Budi hanya bisa pasrah dianggap sebagai sampah masyarakat.

3. Majas Asosiasi
Majas asosiasi adalah majas yang menggunakan ungkapan dengan membandingkan dua objek
berbeda, namun dianggap sama, yang dilakukan dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak,
atau seperti. Perbandingan dalam majas ini disampaikan secara implisit, sehingga pembaca harus
menganalisa sendiri arti dari perumpamaan yang digunakan.
Contoh: Meskipun bukan saudara kembar, tapi kakak beradik itu bak pinang dibelah dua.
Keterangan: bak pinang dibelah dua artinya kedua saudara itu memiliki wajah sangat mirip.
Contoh Majas Asosiasi:
1. Sita dan Siti bak pinang dibelah dua.
2. Harapan Lina akan beasiswa bak gayung bersambut.
3. Pendiriannya memang seperti air di daun talas.
4. Dia sudah lama tidak muncul bagaikan ditelan bumi.
5. Layaknya tiada gading yang tak retak, begitu juga manusia.
6. Nasib kita itu seperti roda yang berputar.
7. Memberi Heni hadiah sama saja seperti menabur garam di lautan.
8. Menasehati kakak beradik itu seperti berbicara dengan tembok.
9. Aku sangat kecewa dengan tindakanmu yang bagaikan duri dalam sekam.
10. Dia sungguh mengecewakan, sikapnya bak pagar makan tanaman.

4. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu dengan kesan yang berlebihan, dan
bahkan membandingkan sesuatu dengan cara yang hampir tidak masuk akal.
Contoh: Kakek itu bekerja banting tulang siang malam untuk menghidupi cucu –cucunya.
Keterangan: bekerja banting tulang siang malam menunjukkan kesan berlebihan dari tindakan
bekerja keras.
Contoh Majas Hiperbola:
1. Dia sudah terbiasa memeras keringat untuk menafkahi keluarga.
2. Luluk girang setengah mati karena mendapat lotre.
3. Dinda menangis sampai air matanya habis karena kehilangan dompet.
4. Lari marathon sungguh melelahkan sampai kakiku terasa mau lepas.
5. Suaranya hampir memecahkan gendang telingaku.
6. Gadis itu berbicara dengan lantang sampai suaranya memenuhi dunia.
7. Dia menguap sampai aku hampir tertelan.
8. Guruku sangat baik seperti malaikat.
9. Soal matematika ini sangat mudah bagiku, sampai bisa kuselesaikan dalam sekejap
mata.
10. Dia bisa berlari sangat cepat secepat kilat.

5. Majas Eufemisme
Majas eufemisme adalah majas dengan gaya bahasa yang menggantikan kata-kata yang
dianggap kurang baik ata kurang etis, dengan padanan kata yang lebih halus dan bermakna
sepadan.

Contoh: Perusahaan XYZ mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kuota pekerjaan khusus


bagi kaum difabel.
Keterangan: kata difabel menggantikan frasa yang dianggap kurang baik, yakni “orang cacat”.
Contoh Majas Eufemisme:
1. Dia adalah seorang tuna daksa.
2. Kita harus menolong orang yang tuna wisma.
3. Kasihan anak itu, ia terlahir tuna rungu.
4. Guru itu adalah seorang difabel, tapi ia sangat pandai mengajar.
5. Dia terpaksa mendekam di hotel prodeo karena kecelakaan itu.
6. Karena terjerat kasus korupsi, ia harus dihadapkan di meja hijau.
7. Orang tua itu sudah tidak memiliki sanak saudara, makanya ia diletakkan di panti
jompo.
8. Meskipun ia adalah kaum marginal, tapi ia memiliki semangat belajar tinggi.
9. Jika kita bertemu kaum fakir, kita tidak boleh menghinanya.
10. Dia mengalami gangguan jiwa karena kehilangan pekerjaan dan keluarga sekaligus.

6. Majas Simile
Majas Simile ini bisa dikatakan menyerupai majas asosiasi yang menggunakan kata hubung
berupa : bak, bagaikan, atau seperti. Hanya bedanya, pada majas simile ini tidak
membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan membandingkan kegiatan dengan
menggunakan ungkapan yang maknanya serupa dan disampaikan secara lebih lugas atau
eksplisit. Jadi pembaca langsung bisa menebak arti dari perumpamaan yang digunakan.

Contoh: Setelah kehilangan kakaknya, Dito bagaikan anak ayam kehilangan induknya, selalu
kebingungan.
Keterangan: bagaikan anak ayam kehilangan induknya menunjukkan adanya kegiatan yang
selalu dalam kebingunan tanpa arah dan tujuan.
Contoh Majas Simile:
1. Sering-seringlah bergaul, agar tidak kurang wawasan, seperti kura-kura dalam
tempurung.
2. Dia selalu saja patuh pada ketua geng itu, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.
3. Lili memang sudah terkenal sebagai pemalas, seperti beruang di musim dingin.
4. Adikmu tampak sangat lapar, jalannya seperti singa kelaparan.
5. Rapat hari ini sangat kacau, seperti hutan terserang angin ribut.
7. Majas Metonimia
Majas metonimia adalah majas yang menggunakan gaya bahasa dengan menyandingkan merek
atau istilah tertentu yang sudah populer, untuk merujuk benda yang sebenarnya lebih umum.
Contoh: Agar gigi bersih, kita harus rajin menggosok gigi dengan odol.
Keterangan: yang dimaksud dengan odol di sini adalah pasta gigi, karena odol sebetulnya
adalah merek dagang dari pasta gigi.
Contoh Majas Metonimia:
1. Ayah suka menghisap gudang garam.
2. Paman memintaku membeli djarum super.
3. Agar tidak mabuk perjalanan, minum dulu antimo sebelum berpergian.
4. Jika sedang akhir bulan, aku biasa makan supermi.
5. Tolong ambilkan aqua dingin, aku haus sekali.
6. Rasanya gerah sekali siang ini, aku ingin minum teh gelas saja.
7. Ayo kita pergi naik honda.
8. Aku ingin terbang naik garuda.
9. Tolong ambilkan nokia milik Kakak di dalam kamar.
10. Jika merasa lemas, Kamu bisa meminum sangobion.

8. Majas Alegori
Majas alegori adalah majas dengan gaya bahasa yang menyandingkan suatu objek dengan kata-
kata kiasan bermakna konotasi atau ungkapan.
Contoh: Dalam bahtera rumah tangga, suami adalah nakhodanya.
Keterangan: kata suami diungkapkan sebagai nahkoda, yang bermaksud sebagai pemimpin
keluarga.
Contoh Majas Alegori:
1. Jika sudah sampai pada dermaga kehidupan, pada anaklah kita akan berlabuh.
2. Ani sedang mencari pelabuhan cintanya, dan pada Adilah ia berlabuh.
3. Dalam pertarungan mencari jati diri, diri kita sendirilah petarungnya, dan orang tua
adalah pelatihnya.
4. Pertandingan politik ini, membutuhkan kapten yang tepat.
5. Di dalam perlombaan memenangkan hati, jurinya adalah perasaan.

9. Majas Sinekdok
Gaya bahasa sinekdok ini menunjukkan adanya perwakilan dalam mengungkapkan sesuatu.
Agar lebih jelas, kita bisa melihat pada pembagian majas sinekdok ini, di mana majas ini masih
terbagi lagi dalam dua macam, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte.

Sinekdok pars pro toto (part/ sebagian mewakili total) adalah gaya bahasa yang menyebutkan
sebagian unsur dengan maksud mewakili keseluruhan benda. Sedangkan sinekdok totem pro
parte (total mewakili part/ sebagian) adalah kebalikannya, yaitu berupa gaya bahasa yang
menunjukkan keseluruhan bagian yang mewakili hanya pada sebagian benda atau situasi saja.
Contoh:
Pars pro Toto: Selama seminggu ini, Riyan belum juga menampakkan batang hidungnya.
Keterangan: batang hidung adalah hanya sebagian dari Riyan, padahal yang dimaksud adalah
Riyan seluruhnya.
Totem pro Parte: Indonesia telah berhasil mendapatkan 11 medali emas Asian Games tahun ini.

Keterangan: Indonesia adalah seluruhnya, padahal yang dimaksud mendapat medali hanya


beberapa orang yang mewakili Indonesia saja.
Contoh Majas Sinekdok Pars Pro Toto:
1. Kita hanya perlu mewakilkan satu kepala saja dalam rapat ini.
2. Ibu membeli tiga ekor ayam untuk pesta nanti malam.
3. Dia hanya menampakkan batang hidungnya sebentar saja, lalu pergi.
Contoh Majas Sinekdok Totem Pro Parte :
1. Malaysia berhasil mengalahkan Thailand dalam pertandingan bola itu.
2. Amerika Serikat menyerang negara-negara yang dianggapnya berbahaya.
3. China menyatakan bahwa negaranya telah terbuka dalam hubungan internasional.
4. Jepang berhasil menerbangkan rudal tempur terbaru yang diklaim sangat canggih.
5. Sekolahku memenangkan lomba cerdas cermat di Semarang.

10. Majas Simbolik
Majas simbolik menggunakan gaya bahasa yang membandingkan antara manusia dengan sikap
makhluk hidup lain dalam bentuk ungkapan.
Contoh: Silvi adalah bunga desa yang banyak memiliki kelebihan.
Keterangan: bunga desa menunjukkan sosok yang banyak dikagumi.
Contoh Majas Simbolik:
1. Rian sangat berani seperti raja hutan.
2. Dina disebut-sebut sebagai kembang desa yang dikagumi semua pria.
3. Lisa seperti ratu lebah yang dipuja oleh banyak orang.
4. Dian yang masih menyendiri hingga sekarang memang layak dianggap bunga teratai,
indah tapi susah dijangkau.

Majas Pertentangan
Majas pertentangan merupakan suatu bentuk gaya bahasa dengan kata-kata kiasan yang
bertentangan dengan yang dimaksudkan sesungguhnya. Jenis majas pertentangan dapat dibagi
ke dalam beberapa subjenis, meliputi :

1. Majas Litotes
Majas litotes adalah majas yang berkebalikan dengan majas hiperbola, tetapi lebih sempit pada
ungkapan yang bertujuan untuk merendahkan diri, dan pada kenyataannya yang dimaksud tidak
seperti yang dikatakan.

Contoh: Jika ada waktu, sudilah kiranya mampir ke gubuk kami.


Keterangan: gubuk yang dimaksud adalah rumah, sekali pun sebetulnya bukan berbentuk
gubuk melainkan rumah yang sudah memiliki bangunan kokoh.
Contoh Majas Litotes:
1. Apalah daya kami hanya bisa menyediakan pondok sederhana ini untuk kalian.
2. Silahkan dinikmati makanan seadanya ini.
3. Ini uang tanda terima kasih sekedar untuk mengganti ongkos pulsa.
4. Ya, baru mobil butut ini yang bisa kami beli.
5. Semoga kalian bisa nyaman dengan alas sederhana ini.

2. Majas Paradoks
Majas paradoks adalah majas dengan ungkapan membandingkan situasi asli atau fakta dengan
situasi yang berkebalikan.
Contoh: Aku merasa sepi di tengah – tengah pesta yang ramai ini.
Keterangan: sepi dan ramai adalah sesuatu yang bertentangan.
Contoh Majas Paradoks:
1. Dia merasa lapar, padahal tinggal di pusat kuliner.
2. Dia tersenyum, meski hatinya sedih karena ditinggal sang kekasih.
3. Ani tetap saja menangis, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa.
4. Lia merasa malas di tengah kobaran semangat para relawan.
5. Didi merasa bising di ruangan kosong yang sepi ini.

3. Majas Antitesis
Majas antitesis adalah majas yang memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan.

Contoh: Baik buruk semua ada balasan yang setimpal.


Keterangan: kata baik dan buruk adalah dua makna yang bertentangan dan saling disandingkan.
Contoh Majas Antitesis:
1. Besar kecil kue ini tetap enak rasanya.
2. Tinggi rendah martabat kita tergantung pada tingkat laku kita.
3. Orang akan menilai baik buruk diri kita dari sikap kita kepada mereka.
4. Sangat penting untuk menilai orang berdasarkan benar salah perbuatan mereka.
5. Suka benci itu adalah hak kita untuk mengatur perasaan kita sendiri.
6. Kita harus selalu menyapa kawan kita, lupa atau ingat mereka pada kita.
7. Sehat sakit itu adalah anugerah yang harus kita syukuri.
8. Cepat lambat kita pasti akan mendapatkan rejeki.
9. Hidup mati manusia berada di tangah Tuhan.
10. Gemuk kurus bagiku semua wanita itu cantik selama ia memiliki sikap santun.
4. Majas Kontradiksi Interminis
Adalah gaya bahasa dengan ungkapan menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya,
dan biasanya diikuti konjungsi, seperti kata kecuali atau hanya saja.

Contoh Majas Kontradiksi Interminis:


1. Kota – kota besar ini semakin mewah, kecuali kota – kota pinggiran yang
semakin tersisih.
2. Pesta ini sangat meriah, hanya saja di sudut kolam itu terlihat sepi.
3. Burung-burung di sini sangat cantik, kecuali burung kecil yang sedang terluka itu
terlihat buruk.
4. Hewan ternak milik Pak Sugi sehat – sehat, hanya saja ada beberapa ternak yang sakit –
sakitan.
5. Mobil-mobil di dealer ini sangat modern, kecuali satu mobil yang ada di ujung sana
terlihat kuno.

Majas Sindiran
Majas sindiran adalah kelompok macam majas yang menggunakan kata-kata kiasan yang
tujuannya adalah untuk menyindir seseorang atau perilaku dan kondisi tertentu. Jenis majas
sindiran terbagi ke dalam tiga subjenis, meliputi :
1. Majas Ironi
Majas ironi adalah majas yang menggunakan kata-kata bertentangan dengan fakta yang ada
dengan maksud menyindir. Jadi, seperti memuji di awal, tapi menunjukkan maksud sebenarnya
(yakni menyindir) di akhir kalimat.

Contoh Majas Ironi:


1. Bersih sekali tempat ini, sampai –sampai bisa jadi sarang tikus.
2. Wangi sekali bajumu, sampai banyak lalat yang mengerubuti.
3. Besar sekali kadomu, sampai bisa dimasukkan dalam kantong celana.
4. Sepertinya dietmu sukses, berat badanmu naik hingga 10 kg.
5. Kakaknya baik sekali, mengantarkan adik ke sekolah saja enggan.
6. Santun sekali kamu, berbicara saja pakai membentak-bentak.
7. Pandai sekali kamu, matematika bisa mendpatkan nilai nol besar.
8. Rajin sekali adikku ini, matahari sudah di tengah kepala baru bangun.
9. Cepat sekali larimu, dibandingkan dengan kura-kura saja sama.
10. Pengertian sekali kamu, ada tamu tidak pernah dijamu.

2. Majas Sinisme
Majas sinisme ini menggunakan gaya bahasa yang menyampaikan sindiran secara langsung pada
hal yang disindir. Sinisme tidak menggunakan ungkapan untuk memperhalus sindiran seperti
ironi, namun sindiran juga tidak disampaikan secara kasar.

Contoh Majas Sinisme:


1. Kotor sekali kamarmu sampai debu debu bertebaran di mana -mana.
2. Apek sekali bantal ini seperti tidak pernah dicuci.
3. Kurus sekali kamu seperti orang yang sudah tidak makan setahun.
4. Kamu memang sangat malas, tidak pernah mau membersihkan rumah.
5. Dia itu sangat pelit, tidak pernah mau berbagi.

3. Majas Sarkasme
Majas ini menyampaikan sindiran secara langsung dan sifatnya kasar, sehingga cenderung
seperti hujatan.
Contoh Majas Sarkasme:
1. Dia hanyalah sampah masyarakat yang tak berguna!
2. Dia itu sangat dungu dan tidak tahu apa-apa.
3. Anak itu sangat tolol sehingga membuatku muak.
4. Masakan ini rasanya sungguh membuatku ingin muntah.
5. Pestanya sungguh kacau sehingga aku tidak bisa menikmatinya.
6. Burung itu memang buruk rupa sehingga tidak ada yang mau membelinya.
7. Dodo dikenal sebagai orang yang sangat jorok.
8. Bangunan ini sudah reot dan kumuh seperti tempat pembuangan sampah.
9. Suara penyanyi ini sangat jelek membuat telingaku sakit.
10. Buku ini jelek sekali, aku pusing dibuatnya.

Majas Penegasan
Majas penegasan adalah jenis gaya bahasa yang dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan
pengaruh kepada para pembaca atau pendengarnya agar menyetujui ujaran atau kejadian yang
diungkapkan. Majas penegasan dapat dibagi ke dalam tujuh subjenis, yang meliputi :

1. Majas Pleonasme
Majas ini menggunakan kata-kata yang maknanya sama, sehingga terkesan tidak efektif, namun
hal ini sengaja dilakukan untuk menegaskan suatu hal.

Contoh: Kita harus maju ke depan agar bisa menjelaskan pada teman sekelas.
Keterangan: maju pasti ke depan.
Contoh Majas Pleonasme:
1. Silahkan angkat tangan ke atas bagi yang setuju.
2. Bagi yang merasa mampu mengerjakan soal ini boleh maju ke depan.
3. Kita harus selalu mengingat sejarah di masa lalu.
4. Kita tidak boleh mundur ke belakang meninggalkan dia sendiria.
5. Bagi yang merasa sudah lengkap berkasnya, bisa masuk ke dalam.

2. Majas Repetisi
Gaya bahasa repetisi dilakukan dengan mengulang kata-kata yang ada dalam sebuah kalimat.

Contoh Majas Repetisi:


1. Dia adalah pelakunya, dia si pencuri itu, dialah yang mengambil jam tangan milikmu.
2. Saya ingin berubah, saya ingin rajin belajar, saya ingin pintar, saya ingin menjadi orang
sukses.
3. Lili adalah gadis cantik, Lili adalah gadis baik, Lili adalah gadis yang sempurna.
4. Siti begitu baik, Siti begitu mulia, Siti-lah yang selalu menolongku setiap kali aku ada
masalah.
5. Buku ini buku yang bagus, buku ini sangat istimewa, buku inilah yang mampu merubah
sudut pandangku.
6. Di tempat ini aku pertama kali bertemu dengannya, di tempat ini aku berkenalan, di
tempat ini aku selalu menunggunya, di tempat ini pula ia meninggalkanku.
7. Rumah ini adalah tempat paling nyaman, rumah ini adalah tempat paling
istimewa, rumah inilah tempat tinggalku satu-satunya.
8.  Gadis itu telah berhasil merayuku, gadis itu berhasil memikat hatiku, gadis itulah yang
selalu mengisi ingatanku.
9. Komputer inilah yang selalu menemaniku, komputer inilah yang mengatarkanku pada
kesuksesan, komputer ini sudah seperti saudaraku.
10. Kota ini adalah tempat kelahiranku, kota ini tempatku dibesarkan, dan di kota ini pula
aku akan mati.

3. Majas Retorika
Majas retorika dilakukan dengan memberikan penegasan dalam bentuk kalimat tanya, yang
sesungguhnya tidak perlu dijawab.
Contoh Majas Retorika:
1. Kapan Aku pernah memintamu untuk membohongiku?
2. Apa ada orang yang mau ditipu?
3. Siapa yang rela jika harus kehilangan orang yang dikasihinya?
4. Apa kita pernah meminta mendapatkan semua keberkahan ini?
5. Kapan Aku memintamu untuk iri kepadaku?
6. Siapa yang tidak ingin hidup makmur dan sejahtera?
7. Siapa yang senang bila keluarganya berantakan?
8. Siapa yang tidak berduka bila rumahnya kebakaran?
9. Apa kita pernah meminta seorang pemimpin yang hanya memikirkan diri sendiri?
10. Siapa yang tidak ingin mendapat pemimpin yang amanah?

4. Majas Klimaks
Majas ini mengurutkan sesuatu dari tingkatan yang rendah ke tinggi.

Contoh Majas Klimaks:


1. Bayi, anak kecil, remaja, hingga orang tua seharusnya memiliki kehidupan yang layak
dan sejahtera.
2. PAUD, TK, SD, SMP, SMA, kita harus bisa menyisipkan pendidikan karakter di setiap
tahapannya.
3. Kecil, sedang, besar, semua buah ini akan kubeli.
4. S, L, M, XL, XXL, kita semua memiliki ukuran pakaian itu.
5. Anak-anak, muda, tua, bisa menikmati fasilitas yang kami berikan ini.
6. Masyarakat di pelosok, desa, kota, sudah selayaknya mendapat kesejahteraan hidup
yang baik.

5. Majas Antiklimaks
Gaya bahasa ini berkebalikan dengan klimaks, yakni gaya bahasa yang menegaskan sesuatu
dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke tingkatan yang rendah.

Contoh Majas Antiklimaks:


1. Masyarakat modern, desa, hingga yang pelosok seharusnya memiliki akses kesehatan
yang layak.
2. Lansia, dewasa, remaja, anak-anak, juga bayi, boleh datang ke pesta yang kita
adakan.
3. Tua, muda, juga anak-anak punya hak yang sama untuk bahagia.
4. Ukuran jumbo, sedang, kecil, tersedia di toko kami.
5. S3, S2. S1. juga D3, boleh mendaftarkan diri di perusahaan ini.

6. Majas Pararelisme
Gaya bahasa paralelisme biasanya terdapat dalam puisi, yang dilakukan dengan mengulang-
ulang sebuah kata di dalam berbagai definisi berbeda. Jika pengulangan dilakukan di awal, maka
disebut sebagai anafora. Namun, jika kata yang diulang ada pada bagian akhir kalimat, maka
disebut epifora.
Contoh Majas Paralelisme:
Cinta itu sabar.
Cinta itu lemah lembut.
Cinta itu memaafkan.
Cinta itu tidak serakah.
Kasih itu penyabar.
Kasih itu tidak pernah marah.
Kasih itu selalu mengerti.
Yang terbaik itu cinta.
Yang terkasih itu cinta.
Yang paling sempurna itu cinta.
Perempuan paling hebat itulah ibuku.
Perempuan yang penuh kasih sayang itulah ibuku.
Perempuan yang penuh pengertian adalah ibuku.
Perempuan paling sempurna adalah ibuku.

7. Majas Tautologi
Majas ini menggunakan kata-kata yang memiliki sinonim untuk menegaskan kondisi atau ujaran
tertentu.

Contoh Majas Tautologi:


1. Hidup akan terasa aman, damai, dan tenteram, apabila kita semua bisa saling
menghormati.
2. Dia adalah gadis yang penuh dengan kasih, sayang, dan cinta.
3. Gadis di pelaminan itu adalah gadis yang cantik, manis, dan anggun.
4. Suasana di pesta ini sangat ramai, meriah, gegap gempita.
5. Kelas ini terasa begitu sepi, sunyi, senyap, tidak ada yang hadir.
6.  Aku menyukai anak yang ceria, gembira, riang, dan penuh suka cita itu.
7. Jika memilih baju, ia selalu memilih yang modis, elegan, modern, dan gaya.
8. Lili itu anak yang sangat rajin, disiplin, patuh, tidak pernah terlambat.
9. Cahaya bulan malam ini tampak terang benderang bercahaya.
10. Gerakan tarian itu tampak lemah lembut, gemulai, dan begitu meliuk.
11. Kita tidak bisa mempercayai penjahat, perampok, penjambret, dan pencuri, seperti
dia.