Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PENGAUDITAN SIKLUS PENJUALAN DAN PENGUMPULAN PIUTANG

Disusun oleh:

Luh Hita Purnamayanti (18.02.1.002)

Luh Dewi Suciastuti (18.02.1.003)

Luh Putu Purnami (18.02.1.006)

Sabat Rosalina Lete (18.02.1.009)

JURUSAN DIPLOMA III AKUNTANSI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SATYA DHARMA

School of Economic With Spiritual Insight

SINGARAJA

2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi
Wasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami semua . sehingga,kami
dapat menyelesaikan tugas makalah ini tentang ‘’ Pengauditan Siklus Penjualan Dan
Pengumpulan Piutang’’ dengan baik serta tepat pada waktunya.

Besar harapan saya makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak untuk dijadikan
pertimbangan dan koreksi selanjutnya. kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah
ini terdapat kesalahan ataupun kerancuan baik dalam bahasa ataupun tulisan. kami juga
menerima kritik dan saran dari pembaca yang nantinya akan berguna bagi kami.Terima Kasih.

Singaraja, 21 januari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................................ i

Daftar Isi..................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1. 1.................................................................................................................... Latar Belakang


...........................................................................................................................................1
1. 2............................................................................................................... Rumusan masalah
...........................................................................................................................................1
1. 3................................................................................................................................. Tujuan
...........................................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Akun dan Golongan Transaksi dalam Siklus Penjualan dan Pengumpulan Piutang........... 3
2.2 Fungsi-fungsi Bisnis dalam Siklus dan Dokumen serta Catatan terkait.............................. 3
2.3 Metodologi Untuk Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengunjian Substantif
Transaksi untuk Penjualan................................................................................................... 6
2.4 Retur Dan Pengurangan Harga Penjualan........................................................................... 9
2.5 Metodologi Perancangan Pengendalian Dan Substantif Penerimaan Kas.......................... 9
2.6 Pengauditan untuk Penghapusan Piutang............................................................................ 10
2.7 Pengendalian Internal Saldo Akun...................................................................................... 10
2.8 Pengaruh Hasil Pengujian Pengendalian Dan Pengujian Substantif Transaksi................... 11

BAB III PENUTUP

3. 1........................................................................................................................ Kesimpulan
.........................................................................................................................................12

ii
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Dalam sebuah proses audit terdapat proses pengujian, diantaranya adalah pengujian
pengendalian dan pengujian substansive atas transaksi pada siklus penjualan dan penagihan.
Kedua jenis pengujian tersebut merupakan bagian dari tahap II dalam proses audit. setelah
memahami kedua pengujian tersebut maka proses audit selanjutnya adalah melanjutkan ketahap
III dan berfokus pada prosedur analisis substantive dan pengujian perincian saldo dalam siklus
penjualan dan penagihan.
Dalam pembahasan ini akan mengilustrasikan betapa pentingnya bagi auditor untuk
mengetahui kelompok-kelompok transaksi dan saldo-saldo akun dalam siklus penjualan dan
penagihan pada sebuah perusahaan biasa. Karena sebagian besar audit atas transaksi-transaksi
dalam siklus penjualan dan penagihan melibatkan dokumentasi dan catatan-catatan, sangat
penting untuk memahami dokumen-dokumen dan catatan yang biasanya digunakan dalam siklus
tersebut.

1. 2 Rumusan Masalah

a. Bagaimanakah akun dan kelompok transaksi siklus penjualan dan penagihan ?


b. Bagaimanakah fungsi bisnis dalam siklus dan dokumen serta catatan terkait?
c. Bagaimanakah metodologi untuk merancang pengujian pengendalian dan pengujian
substansif atas transaksi penjualan?
d. Bagaimanakah retur dan pengurangan penjualan?
e. Bagaimanakah metodologi untuk merancang pengujian pengendalian dan pengujian
substansif atas transaksi penerimaan?
f. Bagaimanakah pengujian audit untuk menghapus piutang tak tertagih?
g. Bagaimanakah pengendalian internal saldo akun?
h. Bagaimana pengaruh hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi?

1. 3 Tujuan

Penulisan makalah ini juga dilakukan untuk memenuhi beberapa tujuan yang akan
dicapai dan diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Tujuan tersebut antara lain
adalah:
a. Mampu mengidentifikasikan akun-akun dan kelompok-kelompok transaksi dalam siklus
penjualan dan penagihan.
b. Mampu menggambarkan fungsi-fungsi bisnis serta dokumen dan catatan terkait dalam
siklus penjualan dan penagihan
c. Mampu memahami pengendaliian internal, merancang dan melakukan pengujian
pengendalian dan pengujian substantive transaksi untuk transaksi penjualan.

1
d. Mempu menerapkan metodologi untuk pengendalian terhadap transaksi penjualan untuk
retur penjualan pengurangan harga.
e. Mampu memahami pengendalian internal, dan perancangan dan pelaksanaan pengujian
pengendalian dan pengujian substansif transaksi penerimaan kas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Akun dan Golongan Transaksi dalam Siklus Penjualan dan Pengumpulan Piutang

Tujuan pengauditan atas siklus penjualan dan pengumpulan piutang adalah untuk
mengevaluasi apakah saldo akun-akun yang terpengaruh oleh siklus ini telah disajikan secara
wajar sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Empat kelompok transaksi dalam
siklus penjualan dan pengumpulan piutang, yaitu:
1. .Penjualan (tunai atau kredit)
2. .Penerimaan kas
3. Retur dan potongan penjualan
4. Penghapusan piutang tak tertagih

2.2 Fungsi-fungsi Bisnis dalam Siklus dan Dokumen serta Catatan terkait

Siklus penjualan dan pengumpulan piutang menyangkup keputusan dan proses


yang diperlukan untuk mentransfer kepemilikan barang dan jasa kepada konsumen setelah
barang dan jasa tersebut tersedia untuk dijual. Siklus ini dimulai dengan adanya permintaan dari
konsumen dan diakhiri dengan adanya perubahan dari barang atau jasa menjadi
piutang usaha, dan pada akhirnya menjadi kas. Fungsi-fungsi bisnis dan dokumen-dokumen
serta catatan yang digunakan dalam bisnis yaitu:

PENGOLAHAN PESANAN DARI PEMBELI


Pesanan merupakan suatu permintaan untuk membeli barang berdasarkan syarat-syarat
tertentu. Penerimaan pesanan dari pesanan pembeli biasanya disusul dengan terbitnya orde
penjualan.

Pesanan dari Pembeli


Pesanan dari pembeli adalah suatu permintaan untuk membeli barang atau jasa yang
dibuat oleh pembeli. Pesanan ini bisa diterima melalui telepon, surat, formulir cetakan
yang sebelumnya dikirimkan kepada calon pembeli atau pelanggan.

Order Penjualan
Order penjualan adalah suatu dokumen yang menerangkan deskripsi, kuantitas, dan
informasi lain tentang barang yang dipesan oleh konsumen. Dokumen ini seringkali
digunakan untuk menunjukkan persetujun kredit dan otorisasi untuk pengiriman
barang.

3
PERSETUJUAN KREDIT
Sebelum barang dikirimkan, penjabat yang berwenang memberi otoritas harus memberi
persetujuan kredit kepada konsumen untuk transaksi penjualan yang dilakukan secara kredit.
Pemberian persetujuan kredit ini seringkali juga menjadi petunjuk persetujuan pengiriman
barang.

PENGIRIMAN BARANG
Fungsi ini adalah fungsi yang kritikal dan merupakan saat pertama dalam siklus dimana
perusahaan melepaskan asetnya. Kebanyakan perusahaan mengaku terjadinya
penjualan ketika barang dikirimkan. Dokumen pengiriman dibuat pada saat barang
dikirimkan.

Dokumen Pengiriman
Dokumen pengirim dibuat untuk mengawali pengiriman barang yang berisi deskripsi
tentang barang yang dikirimkan, jumlah yang dikirimkan serta data lainnya yang
relevan. Dokumen pengiriman berfungsi sebagai isyarat untuk membuat faktur
tagihan kepada konsumen yang bisa berupa kertas atau elektronik.

PENAGIHAN KEPADA PEMBELI DAN PENCATATAN PENJUALAN


Oleh karena penagihan kepada pembeli adalah cara untuk member informasi kepada pembeli
tentang jumlah yang harus dibayar atas barang-barang yang telah dikirimkan kepadanya, maka
penagihan tersebut harus dilakukan dengan benar dan tepat waktu. Aspek-aspek terpenting dalam
penagihan adalah :
1.Semua pengiriman telah dibuat penagihannya (kelengkapannya).
2.Tidak ada pengiriman yang ditagih lebih dari sekali (keterjadian).
3.Setiap pengiriman ditagih dengan jumlah yang benar (ketelitian).

Faktur Penjualan.
Faktur penjualan adalah suatu dokumen atau catatan elektronik yang menunjukkan
deskripsi dan kualitas barang yang dijual, harga jual dan data relevan lainnya. Faktur
penjualan berfungsi untuk menunjukan kepada pembeli tentang jumlah dari suatu
penjualan dan kapan jatuh tempo.

File Transaksi Penjualan.


File transaksi penjualan adalah file yang dihasilkan komputer yang memuat semua
transaksi penjualan yang diproses oleh sistem akuntansi pada suatu periode. Informasi
dalam file transaksi penjualan digunakan untuk pembuatan berbagai catatan, daftar,
atau laporan, tergantung pada kebutuhan perusahaan.

Jurnal Penjualan atau Daftar Penjualan.


Merupakan suatu daftar atau laporan yang dihasilkan dari file transaksi penjualan
yang biasanya memuat nama pembeli, tanggal, jumlah, dan klasifikasi akun atau

4
kelompok untuk setiap transaksi.

Master File Piutang Usaha.


Master file piutang usaha adalah file komputer yang digunakan untuk mencatat setiap
penjualan, penerimaan kas, dan retur serta pengurangan harga untuk setiap pembeli
dan memutahirkan saldo piutang kepada pelanggan yang bersangkutan.

Daftar Saldo Piutang Usaha.


Daftar saldo piutang adalah daftar atau laporan yang menunjukkan jumlah saldo
piutang kepada setiap pelanggan pada suatu saat tertentu.

Laporan Piutang Bulanan.


Laporan piutang bulanan adalah suatu dokumen yang dikirimkan melalui pos atau
secara elektronik kepada setiap pelanggan menunjukkan saldo awal piutang kepada
pelanggan yang bersangkutan, jumlah dan tanggal setiap penjualan, pembayaran tunai
yang diterima, memo kredit yang diterbitkan, dan saldo akhir piutang.

PENGOLAHAN DAN PECATATAN PENERIMAAN KAS


Pengolahan dan pencatatan penerimaan kas meliputi penerimaan, penyetoran ke bank, dan
pencatatan kas. Hal yang penting dalam penanganan kas adalah mencegah terjadinya
pencurian. Hal terpenting lainnya adalah memastikan bahwa semua penerimaan kas harian
segera disetorkan ke bank dengan jumlah yang benar dan tepat waktu.

Surat Pengantar Pembayaran.


Surat pengantar pembayaran adalah suatu dokumen yang dikirim melalui pos kepada
pembeli dan selanjutnya dikembalikan kepada penjual beserta pembayaran kas.

Daftar Penerimaan Kas.


Daftar ini digunakan untuk memeriksa apakah kas yang diterima telah dicatat dan
disetorkan dalam jumlah yang benar ke bank serta tepat waktu.

File Transaksi Penerimaan Kas.


File ini dihasilkan oleh computer yang berisi semua transaksi penerimaan kas yang
diproses oleh sistem akuntansi untuk suatu periode waktu tertentu.

Jurnal Penerimaan Kas atau Daftar.


Daftar atau laporan ini dihasilkan dari file transaksi penerimaan kas dan meliputi
semua transaksi untuk periode waktu tertentu.

PENGOLAHAN DAN PENCATATAN RETUR DAN PENGURANGAN HARGA


PENJUALAN

Apabila pelanggan tidak puas dengan barang yang diterimanya, penjual bisa menyetujui
pengembalian barang atau memberikan pengurangan harga. Retur dan pengurangan harga

5
dicatat dalam file transaksi retur dan pengurangan harga, dan juga master file piutang usaha.
Memo kredit diterbitkan untuk memudahkan pengawasan dan sebagai dasar pencatatan.
Memo Kredit
Memo kredit menunjukan pengurangan terhadap jumlah yang akan diterima pembeli
karena adanya retur atau pengurangan harga.

Jurnal Retur dan Pengurangan Harga.


Jurnal ini digunakan untuk mencatat retur dan pengurangan harga penjualan. Fungsi
jurnal ini sama dengan jurnal penjualan.

PENGHAPUSAN PIUTANG
Setelah menyimpulkan bahwa piutang kepada pelanggan tertentu tidak dapat ditagih,
perusahaan harus menghapus piutang tersebut.

Formulir Otoritas Penghapusan Piutang


Formulir ini merupakan dokumen yang digunakan secara internal untuk menyatakan
perintah untuk menghapus piutang yang sudah tidak dapat tertagih.

PENCADANGAN KERUGIAN PIUTANG


Karena perusahaan tidak dapat diharapkan untuk bisa menagih seluruh hutangnya 100%,
prinsip akuntansi mewajibkan untuk mencatat beban kerugian piutang sejumlah piutang yang
diperkirakan tidak tertagih.

2.3. Metodologi Untuk Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengunjian


Substantif Transaksi untuk Penjualan

PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERNAL-PEMBELIAN


Cara auditor mendapatkan pemahaman tentang pengendalian internal ialah auditor
mempelajari bagan alir yang telah dibuat klien, mengajukan pertanyaan kepada klien dengan
menggunakan daftar pertanyaan pengendalian internal dan melakukan Transaction
walkthrough untuk penjualan.

PENETAPAN RISIKO PENGENDALIAN DIRENCANAKAN-PENJUALAN


Ada 4 tahap penting dalam penetapan risiko yaitu:
1. Auditor memerlukan kerangka kerja untuk menetapkan risiko pengendalian.
2. Auditor harus mengidentifikasi pengendalian internal kunci dan defisiensi yang ada
pada penjualan
3. Setelah mengidentifikasi pengendalian beserta defisiensinya, auditor
menghubungkan hal tersebut dengan tujuannya.
4. Auditor menetapkan risiko pengendalian untuk setiap tujuan dengan mengevaluasi
pengendalian dan defisiensinya untuk setiap tujuan.

Pemisahan Tugas yang Memadai


Pemisahan tugas yang tepat akan membantu dalam mencegah berbagai jenis
kesalahan penyajian yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan misalnya

6
fungsi pemberian persetujuan kredit harus dipisahkan dari fungsi penjualan.

Pengotorisasi yang Tepat


Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam pengotorisasian transaksi penjualan yaitu:
1. Persetujuan kredit yang tepat harus diberikan sebelum penjualan terjadi.
2. Barang yang bisa dikirimkan hanya setelah otorisasi pengiriman diberikan.
3. Harga, termasuk syarat penjualan, pengangkutan, dan potongan harus diotorisasi.

Dokumen dan Catatan yang Memadai.


Karena setiap perusahaan memiliki sistem yang berbeda dengan perusahaan lainnya
dalam melaksanakan, mengelola, dan mencatat transaksi, auditor sering menghadapi
kesulitan dalam mengevaluasi apakah setiap prosedur klien dirancang untuk mencapai
pengendalian maksimum. Meskipun demikian, prosedur pencaatan yang memadai
harus ada sebelum tujuan audit transaksi bisa dipenuhi.

Dokumen Bernomor-urut Tercetak (Prenumbered).


Pemberian nomor-urut tercetak dimaksudkan untuk mencegah kesalahan dalam
pembuatan faktur atau pencatatan penjualan dan terjadinya penagihan atau pencatatan
ganda.

Laporan Piutang Bulanan.


Pengiriman laporan bulanan kepada konsumen berguna untuk pengawasan karena
mendorong konsumen untuk memberi komentar apabila saldo yang tercantum dalam
laporan tidak sesuai dengan saldo menurut pembukuan konsumen.

Prosedur Verifikasi Internal.


Program computer atau personil yang independen haru memeriksa bahwa pengolahan
dan pencatatan transaksi penjualan memenuhi keenam tujuan audit transaksi.

PENENTUAN LUAS PENGUJIAN PENGENDALIAN


Luas pengujian pengendalian tergantung pada efektivitas pengendalian dan berbagai hal
lain yang auditor yakini akan dapat mengurangi risiko pengendalian. Dalam
menentukan seberapa jauh pengendalian bisa diandalkan, auditor juga mempertimbangkan
kenaikan biaya penyelenggaraan pengujian pengendalian dibandingkan dengan penurunan
potensi dalam pengujian substantif.

PERANCANGAN PENGUJIAN PENGENDALIAN UNTUK PENJUALAN


Untuk setiap pengendalian kunci, harus dirancang satu atau lebih pengujian pengendalian
untuk memeriksa efektivitasnya. Pengujian yang dilakukan berdasarkan asersi manajemen
yang berkaitan dengan transaksi.

PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TRANSAKSI PENJUALAN


Dalam memutuskan pengujian substantif transaksi, auditor biasanya menggunakan
sejumlah prosedur yang berlaku untuk setiap audit tanpa memperhatikan keadaan tertentu,
sedangkan prosedur yang lain akan diterapkan tergantung pada baik-buruknya pengendalian dan

7
hasil dari pengujian pengendalian. Prosedur audit yang digunakan tergantung pada
pengendalian internal dan hasil pengendalian internal atas tujuan tersebut.
Penjualan yang Tercantum dalam Pembukuan Sungguh-sungguh Terjadi.
Untuk tujuan ini auditor mencurahkan perhatiannya pada kemungkinan terjadinya tiga
jenis kesalahan penyajian berikut:
1. Penjualan yang tercatat dalam jurnal tidak ada pengiriman barangnya.
2. Penjualan dicatat lebih dari satu kali.
3. Pengiriman dilakukan pada konsumen fiktif dan dicatat sebagai penjualan.

Penjualan Dicatat dalam Pembukuan Tanpa Pengiriman Barang.


Auditor dapat memilih suatu sampel ayat jurnal dalam jurnal penjualan dan
mencocokannya ke dokumen pengiriman barang serta dokumen pendukung lainnya
(vouching ) untuk memastikan bahwa penjualan sungguh – sungguh terjadi.

Penjualan Dicatat Lebih dari Sekali.


Pencatatan dobel penjualan dapat ditemukan dengan mereview daftar penjualan yang
telah dicatat dengan memperhatikan nomor dokumennya untuk memastikan tidak ada
nomor yang muncul dua kali.

Pengiriman Dilakukan pada Konsumen Fiktif.


Untuk menguji ada tidaknya konsumen fiktif, auditor bisa menelusur informasi
tentang konsumen dalam faktur penjualan ke master file konsumen.

Transaksi Penjualan yang Terjadi Telah Dicatat.


Untuk menguji pengiriman barang yang tidak dibuat fakturnya, auditor bisa
menelusur suatu sampel dokumen pengiriman yang disimpan di bagian pengiriman ke
duplikat faktur penjualan yang bersangkutan dan ke jurnal penjualan.

Penjualan Telah Dicatat dengan Teliti.


Ketelitian pencatatan transaksi penjualan berkaitan dengan hal-hal berikut :
a.Jumlah barang yang dikirimkan sesuai dengan jumlah yang dipesan.
b.Jumlah yang ditagih dalam faktur sesuai dengan jumlah barang yang dikirimkan.
c.Jumlah tagihan dalam faktur dicatat dengan benar dan dalam catatan akuntansi.

Auditor biasanya melakukan pengujian substantive transaksi pada setiap audit,


untuk memastikan baahwa ketiga aspek ketelitian diatas dilakukan dengan benar dengan
melakukan perhitungan ulanf informasi yang tercantum dalam catatan akuntansi dan
membandingkannya dengan informasi yang tercantum dalam dokumen yang lain.

Transaksi Penjualan Telah Dimasukkan ke dalam Master File dan


Diikhtisarkan dengan Benar.
Pada audit tertentu, auditor melakukan sejumlah pengujian ketelitian klerikal, seperti
misalnya pemeriksaan kebenaran penjumlahan pada kolom rupiah dalam jurnal
( footing ) dan kemudian menelusur ( tracing ) jumlah totalnya ke buku besar dan detailnya

8
ditelusur ke buku pembantu piutang, untuk memeriksa ada tidaknya
kesalahan atau penyimpangan dalam pengolahan transaksi penjualan.

Penjualan Dikelompokkan dengan Benar.


Auditor biasanya menguji kebenaran pengelompokkan penjualan sebagai bagian dari
pengujian ketelitian. Auditor memeriksa dokumen pendukung untuk memastikan
ketelitian pengelompokkan dari suatu transaksi dan membandingkannya dengan akun
yang sesungguhnya digunakan dalam pencatatan.

Penjualan Dicatat pada Tanggal yang Benar.


Penjualan harus ditagih dan dicatat sesegera mungkin setelah pengiriman barang
dilakukan, untuk mencegah terjadinya kekeliruan tak disengaja, misalnya lupa tidak
dibukukan, dan untuk memastikan bahwa penjualan dicatat pada periode yang benar.

PROSEDUR-PROSEDUR AUDIT FORMAT RANCANGAN DAN FORMAT UNTUK


DILAKSANAKAN

Dalam mengubah dari program audit format rancangan menjadi format audit untuk dilaksanakan,
prosedur-prosedur digabung. Hal ini dilakukan dengan maksud :

1. Menghilangkan pengulangan prosedur.


2. Memastikan bahwa apabila suatu dokumen diperiksa, semua prosedur diterapkan
atas dokumen tersebut pada saat itu juga.
3. Membuat auditor bisa melaksanakan prosedur dengan urutan yang paling efektif.

2.4. Retur Dan Pengurangan Harga Penjualan

Untuk retur dan pengurangan harga penjualan, auditor biasanya memberi penekanan
pada pengujian atas pencatatan transaksi untuk mengungkapkan pencurian kas yang berasal dari
pengumpulan piutang sebelumnya telah diciptakan transaksi retur dan pengurangan
harga penjualan fiktif.

2.5 Metodologi Perancangan Pengendalian Dan Substantif Penerimaan Kas


Untuk penerimaan kas, auditor menggunakan metodologi perancangan pengujian
pengendalian dan pengujian substantive transaksi yang sama seperti yang digunakan untuk
penjualan. Berlandaskan tujuan audit transaksi, auditor mengikuti proses berikut :
1. Menentukan pengendalian internal kunci untuk setiap tujuan audit.
2. Merancang pengujian pengendalian untuk setiap pengendalian guna mendukung
pengurangan risiko pengendalian.
3. Merancang pengujian substantive transaksi untuk menguji kesalahan penyajian moneter
untuk setiap tujuan.

9
Prosedur-Prosedur Audit Yang Dirancang Untuk Menemukan Penyelewengan:

MENENTUKAN APAKAH PENERIMAAN KAS TELAH DICATAT


Praktir yang lazim dilakukan auditor adalah untuk menelusur dai pengantar pembayaran
bernomor urut tercetak atau daftar penerimaan kas ke jurnal penerimaan kas dan
buku pembantu piutang usaha sebagai pengujian substantive atas pencatatan penerimaan kas
yang terjadi. Pengujian ini akan efektif hanya apabila pita pencatat dalam register kas atau daftar
penerimaan kas lainnya dibuat pada saat kas diterima.

PENGUJIAN PENERIMAAN KAS


Dalam pengujian ini jumlah penerimaan kas sebagaimana tercantum dalam jurnal
penerimaan kas untuk suatu periode, direkonsiliasi dengan setoran yang
sesungguhnya dilakukan ke bank pada periode yang sama. Selisih diantara keduanya mungkin
disebabkan oleh adanya setoran dalam perjalanan (deposit in transit) atau hal lain, tapi jumlah
selisih tersebut dapat direkonsiliasi. Prosedur ini tidak dapat digunakan untuk
menemukan
penerimaan kas yang belum dicatat dalam jurnal penerimaan kas atau ada kesenjangan waktu
dalam melakukan penyetoran ke bank, tetapi bisa mengungkapkan penerimaan kas yang telah
dicatat teteapi belum disetor ke bank, pinjaman yang tidak atau belum dicatat, dan kesalahan
penyajian semacam itu.

PENGUJIAN UNTUK MENEMUKAN LAPPING PIUTANG USAHA


Lapping piutang usaha adalah pengunduran waktu pencatatan penerimaan
pengumpulan piutang dengan maksud untuk menutupi kekurangan kas. Penggelapan
dilakukan oleh orang yang melakukan penerimaan kas dan selanjutnya ia juga yang
mencatatnya dalam sistem computer. Penggelapan semacam ini akan dapat dicegah dengan
mudah melalui pembagian tugas atau memberlakukan kebijakan kewajiban berlibur
bagi pegawai yang menangani penerimaan kas dan sekaligus pula mencatatnya dalam
sistem computer.

2.6. Pengauditan untuk Penghapusan Piutang

Seperti halnya untuk retur dan pengurangan harga penjualan, kekhawatiran utama auditor
dalam penghapusan piutang usaha adalah kemungkinan pegawai perusahaan klien melakukan
penggelapan kas dengan cara menghapuskan piutang yang telah diterima (tujuan
audit transaksi-keterjadian). Pengendalian utama untuk mencegah penyelewengan
semacam ini adalah dengan menetapkan otorisasi yang tepat bagi setiap penghapusan
piutang dengan menunjuk pejabat perusahaan tertentu setelah sebelumnya melakukan
penyelidikan yang cermat tentang alasan mengapa debitur tidak membayar.

2.7. Pengendalian Internal Saldo Akun

10
Pengendalian internal yang berkaitan langsung dengan pengendalian internal serta
penyajian dan pengungkapan bisa juga diadakan, bahkan bila belum terindentifikasi atau diuji
sebagai bagian dari pengujian pengendalian atau pengujian substantive transaksi.
Untuk siklus penjualan dan pengumpulan piutang, hal ini mungkin sekali mempengaruhi nilai
bersih bisa direalisasi dan tujuan audit saldo tentang hak dan kewajiban serta tujuan audit
penyajian dan pengungkapan. Nilai bersih bisa direalisasi adalah tujuan audit saldo untuk
piutang usaha yang penting sekali karena kolektibilitas piutang sering mencerminkan bagian
yang cukup besar dalam laporan keuangan.Idealnya klien menetapkan beberapa
pengendalian untuk mengurangi kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Dua pengendalian
lainnya adalah:
a. Pembuatan daftar umur piutang sebagai dasar untuk review dan ditindaklanjuti oleh
personil manajemen yang tepat
b. Menetapkan suatu kebijakan penghapusan piutang apabila sudah tidak ada kemungkinan
ditagih

2.8 Pengaruh Hasil Pengujian Pengendalian Dan Pengujian Substantif Transaksi


Hasil dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap pengujian rinci substant8if atas saldo.Bagian dari audit yang banyak
dipengaruhi oleh pengujian pengendalian dan pengujian substantive transaksi adalah saldo akun
piutang usaha, kas,,beban kerugian piutang,dan cadangan kerugian piutang.
Selain itu, apabila hasil pengujian tidak memuaskan, diperlukan pengujian substantif tambahan
untuk penjualan, retur dan pengurangan harga penjualan, penghapusan piutang , dan pengolahan
penerimaan kas.
Setelah selesai melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif , auditor harus
memeriksa setiap penyimpangan untuk menentukan penyebab dan implikasi penyimpangan
terhadap penetapan risiko pengendalian yang bisa mempengaruhi risiko deteksi dan pengujian
substantif.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa perancangan pengujian pengendalian dan
pengujian substansif atas transaksi untuk lima kelas transaksi dalam siklus penjualan dan
penagihan, termasuk penjualan, penerimaan kas, retur dan pengurangan penjualan, penghapusan
piutang usaha tak tertagih, serta beban piutang tak tertagih. Secara konseptual, metodologi untuk
merancang pengujian pengendalian dan pengujian substansif atas transaksi adalah sama bagi
kelima kelas transaksi dan mencakup langkah langkah berikut :

1. Memahami pengendalian internal


2. Menilai resiko pengendalian yang direncanakan
3. Menentukanluas pengujian pengendalian
4. Merancang pengujian pengendalian dan pengujian substansif atas transaksi untuk
memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi.

Dalam merancang pengujian pengendalian untuk setiap kelas transaksi, auditor berfokus pada
pengujian pengendalian internal yang dimaksudkan sebagai senjata untuk mengurangi resiko
pengendalian. Pertama, auditor mengidentifikasi pengendalan internal, jika ada, untuk setiap
tujuan, auditor kemudian menentukan luas pengujian pengendalian yang harus dilakukan.  

Auditor juga merancang pengujian substansif atas transaksi bagi setiap kelas transaksi untuk
menentukan apakah jumlah moneter transaksi telah dicatat dengan benar. Seperti pengujian
pengendalian, pengujian substansif, atas transaksi juga dirancang untuk setiap tujuan audit yang
berkaitan dengan transaksi.  Setelah perancangan pengujian pengendalian dan pengujian
substansif atas transkasi bagi setiap tujuan audit dan kelas transaksi selesai, auditor
mengorganisasikan prosedur audit ke dalam program audit format kerja.

12
DAFTAR PUSTAKA

Al Haryono Jusup.2014. Auditing (pengauditan berbasis ISA). Yoyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Manajemen YPKN.

13