Anda di halaman 1dari 42

Peringatan Malam Nisfu Sya'ban

06.21 Baru Belajar Sabar

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah -


rahimahullah – bahwasannya ketika ia menafsirkan firman Allah ta’ala
:

* َ‫ة إِنَّا ُك َّنا ُم ْن ِذ ِرين‬


ٍ ‫ة ُمبَار ََك‬ٍ َ‫إِنَّا أَ ْنز َْلنَا ُه فِي لَ ْيل‬
‫يم‬
ٍ ِ‫حك‬ َ ‫ل أَ ْم ٍر‬ ُّ ‫َق ُك‬
ُ ‫فِيهَا ُي ْفر‬

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang


diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada
malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” [QS. Ad-
Dukhaan : 3 – 4] – ia berkata :

‫ وينسخ األحياء من‬، ‫ يبرم فيها أمر السنة‬، ‫أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان‬
‫ وال ينقص منهم أحد‬، ‫ ويكتب الحاج فال يزاد فيهم أحد‬، ‫األموات‬
”Bahwasannya yang dimaksud malam dalam ayat tersebut adalah
malam Nishfu Sya’ban; dibentangkan padanya perkara sunnah,
dihapuskannya kematian dari kehidupan, dan diwajibkannya haji (dari
Allah kepada manusia). Maka tidaklah ditambah padanya atau
dikurangi darinya seorangpun” [Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an oleh Al-
Qurthubi 16/126].

Adapun Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat yang sama


berkata :

‫ وهي ليلةة القةدر ك ةا ةال‬، ‫يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة‬
‫ وكان ذلك في شةهر رماةان ك ةا ةال تبةار وتعةالى‬،}‫ة ْال َق ْدر‬ ِ َ‫{ إِنَّا أَ ْنز َْلنَا ُه فِي لَ ْيل‬: ‫عز وجل‬
ُ ‫ه ْال ُقر‬
.} ‫ْآن‬ ِ ‫ل فِي‬ َ ‫ان ال َّ ِذي ُأ ْن ِز‬
َ ‫ا‬ َ ‫{ش ْه ُر َر َم‬:
َ

‫و د ذكرنا األحاديث الواردة في ذلك في سورة البقرة ب ا أغنى عن إعادته‬

”Allah ta’ala telah berfirman ketika menjelaskan Al-Qur’an Al-’Adhim


bahwasannya Dia menurunkannya di malam yang diberkahi. Malam
tersebut adalah Lailatul-Qadar sebagaimana firman Allah ta’ala :
”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam
kemuliaan” (QS. Al-Qadr : 1). Malam tersebut berada di bulan
Ramadlan sebagaimana firman Allah ta’ala : ”(Beberapa hari yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an” (QS. Al-Baqarah : 185). Kami telah
menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut
dalam (pembahasan) QS. Al-Baqarah sehingga telah mencukupi dan
tidak perlu diulangi kembali” [Tafsir Ibni Katsir 1/215,216].

Beliau berkata pula :

‫ فإن نص القرآن‬، ‫ومن ال إنها ليلة النصف من شعبان ك ا روي عن عكرمة فقد أبعد النجعة‬
. ‫هة‬.‫في رماان ا‬
”Barangsiapa yang berkata bahwasannya malam tersebut adalah
malam Nishfu Sya’ban sebagaimana diriwayatkan dari ’Ikrimah,
sungguh hal ini sangat jauh (dari pengertian yang benar). Karena Al-
Qur’an telah menetapkannya bahwa hal itu terjadi di bulan Ramadlan”
[idem, 4/570 - selesai].

Dalam menetapkan makna firman Allah ta’ala : ” pada suatu malam


yang diberkahi” , para ulama terbagi menjadi dua pendapat :

1. Malam dimaksud adalah Lailatul-Qadr – dan ini adalah pendapat


jumhur ’ulama’.
2. Malam dimaksud adalah malam Nishfu Sya’ban – dan ini adalah
pendapat ’Ikrimah.

Yang rajih - wallaahu a’lam - adalah pendapat jumhur ulama yang


mengatakan bahwa yang dimaksud malam yang diberkahi pada ayat
tersebut adalah Lailatul-Qadr. Bukan malam Nishfu Sya’ban. Hal
tersebut dikarenakan Allah ta’ala telah menyatakannya dalam bentuk
global : ”pada suatu malam yang diberkahi” ; dan kemudian
menjelaskannya (makna global/umum itu) dalam ayat : ” (Beberapa
hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an” ; dan juga firman Allah :
” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam
kemuliaan” [lihat Fathul-Qadir 4/137].

Maka dengan ini, anggapan yang menyatakan bahwa malam tersebut


adalah malam Nishfu Sya’ban – tidak diragukan lagi – merupakan
angapan yang bathil yang menyelisihi nash Al-Qur’an yang sharih
(jelas). Dan tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu yang
menyelisihi kebenaran maka hal itu adalah kebathilan. Adapun
beberapa hadits yang menjelaskan bahwa malam dimaksud adalah
malam Nishfu Sya’ban, maka hadits tersebut telah menyelisihi
kejelasan makna yang ditetapkan Al-Qur’an sehingga tidak berdasar,
tidak shahih sanadnya sedikitpun – sebagaimana dijelaskan oleh Al-
’Araby dan yang lainnya dari kalangan muhaqqiqiin. Sungguh sangat
menakjubkan jika ada seorang yang mengaku muslim menyelisihi
nash Al-Qur’an yang sharih tanpa adanya sandaran Al-Qur’an dan
Sunnah yang shahih [lihat Adlwaaul-Bayaan 7/319].

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah (di sela-sela penjelasannya tentang


waktu-waktu yang mempunyai keutamaan yang sering dianggap
mempunyai keutamaan, padahal tidak benar bahkan terlarang)
berkata :

‫ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان فقد روي في فالها من األحاديةث ال رفوعةة واارةار‬
‫ وصوم شةهر شةعبان‬، ‫ وأن من السلف من كان يخصها بالصالة‬، ‫ما يقتاي أنها ليلة مفالة‬
. ‫د جاءت فيه أحاديث صحيحة‬

‫ ونعةن فةي‬، ‫ومن العل اء من السلف من أهل ال دينة وغيرهم من الخلف من أنكةر فاةلها‬
‫ و ةال ال فةرق بينهةا‬، ‫األحاديث الواردة فيها كحديث إن هللا يغفر ألكثر من عةدد غةنم كلةب‬
. ‫وبين غيرها‬

‫ وعليه يدل‬، ‫ أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم على تفايلها‬، ‫لكن الذي عليه أكثر أهل العلم‬
‫ و د روي بعة‬،‫ وما يصدق ذلك من اارار السلفية‬، ‫ لتعدد األحاديث الواردة فيها‬،‫نص أح د‬
‫هة‬.‫فاائلها في ال سانيد والسننوإن كان د وضع فيها أشياء أخر ا‬

”Dalam bab ini, yaitu tentang malam Nishfu Sya’ban, maka telah
diriwayatkan padanya keutamaan yang datang dari hadits-hadits
marfu’ dan atsar-atsar yang menunjukkan bahwa malam tersebut
adalah malam yang utama/mulia. Beberapa ulama salaf ada yang
mengkhususkan padanya shalat dan juga puasa Sya’ban sebagaimana
tertera dalam hadits-hadits yang shahih.

Di antara ulama salaf dari kalangan penduduk Madinah dan yang


lainnya dari kalangan ulama khalaf mengingkari tentang
keutamaannya dan mencela (mendla’ifklan) hadits-hadits yang
menjelaskan tentangnya, seperti hadits : ”Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa lebih banyak dari jumlah domba Bani Kalb”.1[1]

1[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 739 dengan lafadh :


‫إن هللا عز وجل ينزل ليلة النصف من شعبان إلى الس اء الدنيا فيغفر ألكثر من عدد شعر‬
‫غنم كلب‬
”Sesungguhnya Allah ’azza wa jalla turun ke langit dunia pada malam
Nishfu Sya’ban, dimana pada malam itu Allah mengampuni (dosa)
yang jumlahnya lebih banyak dari bulu domba milik Bani Kalb” .
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ahmad (6/238 no. 26060), ’Abdun
bin Humaid (no. 1509), Ibnu Majah (no. 1389), dan Ath-Thabarani
dalam Al-Ausath (no. 199). Sanad hadits ini adalah dla’if sebagaimana
diterangkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dan Syaikh Al-Albani.
Letak kedla’ifannya adalah pada Hajjaaj bin Arthaah. Ia seorang
mudallis yang telah meriwayatkan secara ‘an’anah. Akan tetapi, hadits
ini adalah shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana
disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no.
1144. Beliau menyebutkan sekurangnya ada delapan shahabat yang
meriwayatkan hadits tersebut yang masing-masing jalannya saling
menguatkan satu sama lain. Wallaahu a’lam. – Abul-Jauzaa’

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa keutamaan yang tertera
pada hadits tersebut bukanlah keutamaan yang khusus dimiliki oleh
malam Nishfu Sya’ban tanpa dimiliki oleh malam-malam yang lain.
Tidak ada perbedaan antara malam tersebut dengan malam yang
lainnya.

Akan tetapi kebanyakan ulama atau kebanyakan dari shahabat kami


dan yang lainnya menganggapnya sebagai malam mulia. Hal tersebut
telah ditunjukkan oleh nash Ahmad karena banyaknya hadits-haidts
dan atsar-atsar kaum salaf yang menjelaskan tentang keutamaan
malam Nishfu Sya’ban. Telah diriwayatkan sebagaian keutamaan
malam Nishfu Sya’ban dalam kitab-kitab musnad, sunan. Jika riwayat-
riwayat tersebut adalah lemah/palsu, tentu perkaranya adalah lain”
[lihat Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim 3/626-627, Majmu’
Fataawaa 23/123, dan Al-Ikhtiyaaraat Al-Fiqhiyyah hal. 65].

Telah shahih dari hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam yang


menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban sehingga kita

Bahkan keutamaan yang dimiliki oleh malam Nishfu Sya’ban telah


tercakup pada keumuman hadits :
‫وتعالى كل ليلة إلى الس اء الدنيا حين يبقى رلث الليل ااخر يقول من‬ ‫ينزل ربنا تبار‬
‫يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له‬
”Rabb kami tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap
malam ketika sepertiga malam yang terakhir, seraya
berfirman : ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan
mengabulkan doanya. Dan barangsiapa yang meminta, maka aku akan
memberinya. Dan barangsiapa yang meminta ampunan dari-Ku, maka
Aku akan mengampuninya” [HR. Al-Bukhari no. 1094 dan Muslim no.
758 dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu].
Dengan kalimat ringkas dapat dikatakan : Keutamaan yang dimiliki
malam Nishfu Sya’ban juga dimiliki oleh malam-malam yang lainnya,
terutama pada waktu sepertiga malam yang terakhir.
tidak perlu berdalam-dalam dalam membahasnya.2[2] Akan tetapi,
jika keutamaan tersebut dihubungkan dengan amalan-amalan
khusus tertentu, maka pendapat ini perlu dikaji lebih lanjut.3[3].

Menurut para peneliti, hadits-hadits yang menjelaskan amalan-amalan


khusus di waktu Nishfu Sya’ban semuanya bukan merupakan hadits
yang shahih. Di antara hadits-hadits tersebut adalah :

1. Hadits ’Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ’anhu secara marfu’ :

‫إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها‬

”Apabila datang malam Nishfu Sya’ban, maka lakukanlah shalat di


waktu malamnya dan puasa di waktu siangnya”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1378, Ibnul-Jauzi dalam Al-’Ilal


2/561 serta Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman 3/378-379 dan Fadlaailul-
Auqaat hal. 24. Status hadits ini adalah sangat lemah atau bahkan
palsu. Letak kepalsuan hadits ini terletak pada rawi yang bernama
Ibnu Abi Sabrah (Abu Bakr bin ’Abdillah bin Muhammad bin Abi

2[2] Sebagaimana telah dituliskan penjelasannya pada catatan kaki no.


1.
3[3] Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa tidak dimakruhkan shalat seseorang di rumahnya
atau berjama’ah (di masjid) secara khusus di malam Nishfu Sya’ban
sebagaimana pendapat Al-Auza’i, Ibnu Rajab, dan Ibnu Taimiyyah.
Kebalikannya, ’Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, Abu Syammah Al-Maqdisi,
dan jumhur ulama Malikiyyah mengatakan bid’ahnya amalan tersebut
di malam Nishfu Sya’ban [Al-Bida’ Al-Hauliyyah hal. 148; Maktabah
Ash-Shaid].
Sabrah). Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata tentangnya :
”Seorang yang memalsukan hadits”. Lihat selengkapnya dalam Silsilah
Adl-Dla’iifah no. 2132.

2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu secara marfu’ :

‫من صلى ليلة النصف من شعبان رنتى عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة ةل هةو هللا أحةد‬
‫ لم يخرج حتى يرى مقعده من الجنةة ويشةفع فةي عشةرة مةن أهةل بيتةه‬، ‫رالرين مرة‬
‫كلهم وجبت له النار‬

”Barangsiapa yang melakukan shalat di malam Nishfu Sya’ban


sebanyak 12 raka’at, dimana setiap raka’atnya membaca ”Qul
Huwallaahu Ahad” sebanyak 30 kali, tidaklah ia keluar hingga ia
melihat tempat duduknya di surga dan memberikan syafa’at terhadap
10 orang anggota keluarganya yang telah ditentukan nasibnya di
neraka”.

Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh Ibnul-Jauzai dalam Al-


Maudlu’aat 2/129. Sanadnya gelap yang terdiri dari para perawi yang
tidak diketahui identitasnya (majhul). Lihat juga Al-Manaarul-Munif
karya Ibnul-Qayyim hadits no. 177.

3. Hadits ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu secara marfu’:

‫رأيت رسول هللا صلى هللا عليه وسلم ليلة النصف من شعبان ام فصلى أربع عشرة ركعة‬
‫رم جلس بعد الفراغ فقرأ بأم القرآن أربع عشرة مرة و ل هو هللا أحد أربع عشرة مرة و ل‬
‫أعوذ برب الفلق أربع عشرة مرة و ل أعوذ برب الناس أربع عشرة مرة وآية الكرسي مرة‬
‫ من صنع‬: ‫ فل ا فرغ من صالته سألت ع ا رأيت من صنيعه فقال‬، ‫ولقد جاءكم رسول ااية‬
‫ فإن أصبح في‬، ‫مثل الذى رأيت كان له كعشرين حجة مبرورة وكصيام عشرين سنة مقبولة‬
‫ذلك اليوم صائ ا كان كصيام ستين سنة ماضية وسنة مستقبلة‬
”Aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pada malam Nishfu
Sya’ban. Beliau berdiri dan kemudian shalat sebanyak 14 raka’at.
Kemudian beliau duduk setelah selesai dan membaca Al-Fatihah
sebanyak 14 kali, Qul- Huwallaahu Ahad sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu
bi Rabbil-Falaq sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi Rabbin-Naas
sebanyak 14 kali, dan ayat Kursi sekali; sungguh akan mendatangi
kalian utusan dari ayat-ayat tadi. Ketika beliau telah menyelesaikan
shalatnya, aku bertanya tentang apa yang aku lihat dari yang beliau
lakukan. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab :
”Barangsiapa yang mengerjakan seperti yang yang engkau lihat tadi,
maka baginya seperti 20 kali haji mabrur, puasa yang diterima selama
20 tahun. Apabila di keesokan harinya dia berpuasa, maka puasanya
itu sama dengan puasa 60 tahun lamanya pada masa lampau atau
masa yang akan datang”.

Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh Ibnul-Jauzi dalam Al-


Maudlu’aat 2/131.

4. Dan yang lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu.

Oleh karena itu Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz berkata
:

‫ واختيةار الحةافن ابةن‬، ‫ من استحباب يامهةا لففةراد‬-‫رح ه هللا‬- ‫وأما ما اختاره األوزاعي‬
‫ألن كةل شةيء لةم يثبةت باألدلةة الشةرعية كونةه‬،‫رجب لهذا القول فهةو غريةب وضةعيف‬
، ‫ سةواء فعلةه مفةرداً أو فةي ج اعةة‬،‫مشروعاً لم يجز لل سلم أن يحدره فةي ديةن هللا‬
‫((من ع ةل ع ةال ً لةيس عليةه‬:‫وسواء أسره أو أعلنه لع وم وله صلى هللا عليه وسةلم‬
‫ وغيره من األدلة الدالة على إنكار البدع والتحذير منها‬. ‫أمرنا فهو رد‬

”Adapun pendapat yang dipilih oleh Al-Auza’i – rahimahullah – bahwa


disunnahkannya shalat malam sendirian pada malam Nishfu Sya’ban –
dan didukung oleh Al-Hafidh Ibnu Rajab – maka hal itu sangatlah aneh
dan lemah, karena segala sesuatu yang tidak ditetapkan oleh dalil
syar’i yang disyari’atkan, maka tidak diperbolehkan bagi seseorang
untuk mengatakan sebagai bagian dari agama. Walaupun dikerjakan
secara individu atau kelompok, baik dirahasiakan atau diumumkan
kepada orang banyak. Hal ini sesuai dengan makna umum dari sabda
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mengerjakan
satu amalan yang bukan berasal perintah kami, maka ia tertolak”. Dan
yang lainnya dari dalil-dalil yang menunjukan pengingkaran bid’ah dan
menyuruhnya agar berhati-hati darinya” [At-Tahdzir minal-Bida’ hal
13].

Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’].
Home » Ustadz Menjawab » Hukum Nisfu Sya’ban

Hukum Nisfu Sya’ban

Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print More


Sharing Services

Ashriyati Ishak – Rabu, 13 Sya'ban 1435 H / 11 Juni 2014 16:40 WIB

Berita Terkait

 Tata Cara Acara Pernikahan yang Sesuai Islam


 Bayang-bayang Perasaan Murtad
 Hukum Suap Menyuap
 Istri Minta Cerai setelah Suami Melirik Wanita Lain
 Bolehkah karena Ada Acara, Melewatkan Waktu Adzan Di Masjid

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustadz YTH,
Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan Nisfu Sya’ban ? Adakah
Sirah yang melatar-belakangi istilah ini dan apakah amalan yang dilakukan
Rasulullah SAW dalam menyambutnya ?

Terima kasih, Jazakumullah……

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ashriyati yang dimuliakan Allah

Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan sya’ban. Adapun didalam sejarah


kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa pada saat itu terjadi
pemindahan kiblat kaum muslimin dari baitul maqdis kearah masjidil haram,
seperti yang diungkapkan Al Qurthubi didalam menafsirkan firman Allah
swt :

ُ ‫علَ ْي َها قُل ِ ل لِلِ ْال َم ْش ِر ُق َو ْال َم ْغ ِر‬


‫ب يَ ْهدِي َمن‬ َ ْ‫عن قِ ْبلَتِ ِه ُم الَّتِي َكانُوا‬
َ ‫اس َما َوالَّ ُه ْم‬
ِ َّ‫سفَ َهاء ِمنَ الن‬ ُّ ‫سيَقُو ُل ال‬
َ
ِ ‫يَشَاء ِإلَى‬
‫ص َراطٍ ُّم ْست َ ِق ٍيم‬

Artinya : “Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata:


“Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul
Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah:
“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS. Al Baqoroh : 142)

Al Qurthubi mengatakan bahwa telah terjadi perbedaan waktu tentang


pemindahan kiblat setelah kedatangannya saw ke Madinah. Ada yang
mengatakan bahwa pemindahan itu terjadi setelah 16 atau 17 bulan,
sebagaimana disebutkan didalam (shahih) Bukhori. Sedangkan Daruquthni
meriwayatkan dari al Barro yang mengatakan,”Kami melaksanakan shalat
bersama Rasulullah saw setelah kedatangannya ke Madinah selama 16 bulan
menghadap Baitul Maqdis, lalu Allah swt mengetahui keinginan nabi-Nya,
maka turunlah firman-Nya,”Sungguh kami (sering) melihat mukamu
menengadah ke langit.”. Didalam riwayat ini disebutkan 16 bulan, tanpa ada
keraguan tentangnya.

Imam Malik meriwayatkan dari Yahya bin Said dari Said bin al Musayyib
bahwa pemindahan itu terjadi dua bulan sebelum peperangan badar. Ibrahim
bin Ishaq mengatakan bahwa itu terjadi di bulan Rajab tahun ke-2 H.
Abu Hatim al Bistiy mengatakan bahwa kaum muslimin melaksanakan
shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari. Kedatangan Rasul
saw ke Madinah adalah pada hari senin, di malam ke 12 dari bulan Rabi’ul
Awal. Lalu Allah swt memerintahkannya untuk menghadap ke arah ka’bah
pada hari selasa di pertengahan bulan sya’ban. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an
jilid I hal 554)

Kemudian apakah Nabi saw melakukan ibadah-ibadah tertentu didalam


malam nisfu sya’ban ? terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw banyak
melakukan puasa didalam bulan sya’ban, seperti yang diriwayatkan oleh
Bukhori Muslim dari Aisyah berkata,”Tidaklah aku melihat Rasulullah saw
menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku
menyaksikan bulan yang paling banyak beliau saw berpuasa (selain
ramadhan, pen) adalah sya’ban. Beliau saw berpuasa (selama) bulan sya’ban
kecuali hanya sedikit (hari saja yang beliau tidak berpuasa, pen).”

Adapun shalat malam maka sessungguhnya Rasulullah saw banyak


melakukannya pada setiap bulan. Shalat malamnya pada pertengahan bulan
sama dengan shalat malamnya pada malam-malam lainnya. Hal ini diperkuat
oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah didalam Sunannya dengan
sanad yang lemah,”Apabila malam nisfu sya’ban maka shalatlah di malam
harinya dan berpuasalah di siang harinya.

Sesungguhnya Allah swt turun hingga langit dunia pada saat tenggelam
matahari dan mengatakan,”Ketahuilah wahai orang yang memohon
ampunan maka Aku telah mengampuninya. Ketahuilah wahai orang yang
meminta rezeki Aku berikan rezeki, ketahuilah wahai orang yang sedang
terkena musibah maka Aku selamatkan, ketahuilah ini ketahuilah itu hingga
terbit fajar.”

Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan,”Walaupun hadits-hadits itu lemah


namun bisa dipakai dalam hal keutamaan amal.” Itu semua dilakukan
dengan sendiri-sendiri dan tidak dilakukan secara berjama’ah (bersama-
sama).

Al Qasthalani menyebutkan didalam kitabnya “al Mawahib Liddiniyah” juz


II hal 259 bahwa para tabi’in dari ahli Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan
Makhul bersungguh-sungguh dengan ibadah pada malam nisfu sya’ban.
Manusia kemudian mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu.
Disebutkan pula bahwa yang sampai kepada mereka adalah berita-berita
israiliyat. Tatkala hal ini tersebar maka terjadilah perselisihan di masyarakat
dan diantara mereka ada yang menerimanya.

Ada juga para ulama yang mengingkari, yaitu para ulama dari Hijaz, seperti
Atho’, Ibnu Abi Malikah serta para fuqoha Ahli Madinah sebagaimana
dinukil dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ini adalah pendapat para
ulama Maliki dan yang lainnya, mereka mengatakan bahwa hal itu adalah
bid’ah.

Kemudian al Qasthalani mengatakan bahwa para ulama Syam telah


berselisih tentang menghidupkan malam itu kedalam dua pendapat. Pertama
: Dianjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah di masjid.
Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan yang lainnya mengenakan
pakaian terbaiknya, menggunakan wangi-wangian dan menghidupkan
malamnya di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rohawaih. Dia
mengatakan bahwa menghidupkan malam itu di masjid dengan cara
berjama’ah tidaklah bid’ah, dinukil dari Harab al Karmaniy didalam kitab
Masa’ilnya. Kedua : Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melaksanakan
shalat, berdoa akan tetapi tidak dimakruhkan apabila seseorang
melaksanakan shalat sendirian, ini adalah pendapat al Auza’i seorang imam
dan orang faqih dari Ahli Syam.

Tidak diketahui pendapat Imam Ahmad tentang malam nisfu sya’ban ini,
terdapat dua riwayat darinya tentang anjuran melakukan shalat pada malam
itu. Dua riwayat itu adalah tentang melakukan shalat di dua malam hari raya.
Satu riwayat tidak menganjurkan untuk melakukannya dengan berjama’ah.
Hal itu dikarenakan tidaklah berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya.
Dan satu riwayat yang menganjurkannya berdasarkan perbuatan
Abdurrahman bin Zaid al Aswad dan dia dari kalangan tabi’in.

Demikian pula didalam melakukan shalat dimalam nisfu sya’ban tidaklah


sedikit pun berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Perbuatan ini
berasal dari sekelompok tabi’in khususnya para fuqaha Ahli Syam. (Fatawa
al Azhar juz X hal 31)

Sementara itu al Hafizh ibnu Rajab mengatakan bahwa perkataan ini adalah
aneh dan lemah karena segala sesuatu yang tidak berasal dari dalil-dalil
syar’i yang menyatakan bahwa hal itu disyariatkan maka tidak
diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menceritakannya didalam agama
Allah baik dilakukan sendirian maupun berjama’ah, sembunyi-sembunyi
maupun terang-terangan berdasarkan keumuman sabda Rasulullah
saw,”Barangsiapa yang mengamalkan suatu amal yang tidak kami
perintahkan maka ia tertolak.” Juga dalil-dalil lain yang menunjukkan
pelarangan bid’ah dan meminta agar waspada terhadapnya.

Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa
jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu
sya’ban, ini adalah pendapat para ulama Hanafi dan Maliki. Dan mereka
menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah
menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu
Malikah.

Sementara itu al Auza’i berpendapat berkumpul di masjid-masjid untuk


melaksanakan shalat (menghidupkan malam nisfu sya’ban, pen) adalah
makruh karena menghidupkan malam itu tidaklah berasal dari Rasul saw dan
tidak juga dilakukan oleh seorang pun dari sahabatnya.

Sementara itu Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin ‘Amir serta Ishaq bin
Rohawaih menganjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan
berjama’ah.”

Dengan demikian diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan


malam nisfu sya’ban dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, berdzikir
maupun berdoa kepada Allah swt yang dilakukan secara sendiri-sendiri.
Adapun apabila hal itu dilakukan dengan brjama’ah maka telah terjadi
perselisihan dikalangan para ulama seperti penjelasan diatas.

Hendaklah ketika seseorang menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan


ibadah-ibadah diatas tetap semata-mata karena Allah dan tidak
melakukannya dengan cara-cara yang tidak diperintahkan oleh Rasul-Nya
saw. Janganlah seseorang melakukan shalat dimalam itu dengan niat panjang
umur, bertambah rezeki dan yang lainnya karena hal ini tidak ada dasarnya
akan tetapi niatkanlah semata-mata karena Allah dan untuk mendekatkan
diri kepada-Nya. Begitu pula dengan dzikir-dzikir dan doa-doa yang
dipanjatkan hendaklah tidak bertentangan dengan dalil-dalil shahih didalam
aqidah dan hukum.

Dan hendaklah setiap muslim menyikapi permasalahan ini dengan bijak


tanpa harus menentang atau bahkan menyalahkan pendapat yang lainnya
karena bagaimanapun permasalahan ini masih diperselisihkan oleh para
ulama meskipun hanya dilakukan oleh para tabi’in.
Wallahu A’lam

 20 komentar
 Eramuslim
 Masuk
 1

 Recommend 47
 Bagikan
 Urut dari yang Terlama


o
o

Fauzan Andriyani • 4 tahun yang lalu

Assalamu'alaikum.
Afwan ustadz, ana mau memberikan tanggapan tentang jawaban
ustadz.
ana menganggap bahwa apa yang sudah ustadz jelaskan sangat baik,
bahwa perbuatan menghidupkan malam nishfu sya'ban adalah
perbuatan bid'ah yang tidak ada dasar tuntunannya dari Allah, Rasul-
Nya, atau dari atsar sahabat beliau saw.
oleh karena itu, ana sungguh berharap agar ustadz berpijak di atas
landasan yang haq dan tegas menyatakan bahwa jika itu sunnah maka
katakan sunnah, jika itu bid'ah maka katakan bid'ah. Islam telah Allah
sempurnakan dengan sangat terang benderang melalui lisan Nabi-Nya,
sehingga kita tidak boleh melakukan tindakan apapun dalam urusan
agama apalagi yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, dan syariah,
kecuali melandasinya dengan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.
afwan jika ana terkesan menggurui, ana tidak punya kapasitas itu, dan
ana tsiqah bahwa ustadz lebih memahami dan mengetahui daripada
ana. syukran jazakallahu khairan katsiran.
o 25
o •
o Bagikan ›



o

o
o

Anwari Abdul Hakim • 4 tahun yang lalu

assalamu'alaikum wr. wb.


ane punya pendapat bahwa ada qaidah yang menyatakan : ‫البدعة في‬
‫ العبادة ليست في العادة‬, (Bi'dah hanya ada dalam masalah ibadah mahdoh,
bukan masuk dalam perkara adat/tradisi dan kebiasaan yang ada
dalam suatu masyarakat). jika memang malam nisfu sya'ban itu
merupakan sebuah tradisi dan adat yang ada dalam sebagian
masyarakan muslim, maka hal itu tidak mengapa. karena tidak
menambah-nambah atau mengurangi dalam masalah ibadah yang
memang jelas aturannya dari ALlah dan Rasul-Nya. sebab jika
masalah bi'dah maka ada dua jenisnya: bid'ah dolalah (menyesatkan)
dan bid'ah hasanah ( yang baik dan maslahat), masa membaca surat
yasin 3 x, di setiap ahir pembacaannya berdoa kepada Allah, apakah
itu salah? bukankah kita dianjurkan untuk membaca alqur'an dan
banyak berdoa!!! lantas dimana bid'ahnya? jika memang membaca
qur'an dan berdoa itu salah ??? lantas yang tidak bid'ah itu yang
bagaimana.
syukron.
wassalamu'alaikum wr. wb.

o 10
o •
o Bagikan ›



o
o

Merz MeLcie Anwari Abdul Hakim • 4 tahun yang lalu

ingat saudaraku, HUKUM ASAL IBADAH ITU


HARAM/TERLARANG, KECUALI ADA DALIL YANG
MEMERINTAHKAN.

membaca yasin3x atau 100x sekalipun boleh saja, bahkan


sangat baik.
berdo'a, beribadah, membaca al-Qur'an, justru diperintahkan
oleh Alloh dan Rosul-NYA.

namun yang dikatakan bid'ah disini adalah, mengkhususkan


perbuatan2 tsb pada malam nisfu sya'ban.

jadi pahamilah.

jika antum melakukan perbuatan tsb di malam nisfu sya'ban


dengan niat untuk beribadah, maka tidak mengapa.
tapi jika tujuan antum adalah untuk mendapatkan keutamaan
malam nisfu sya'ban, maka itu bid'ah. dan antum tidak akan
mendapatkan keutamaan tsb, bahkan amal antum tertolak.

maka, beribadahlah di setiap waktu, bukan hanya pada waktu2


khusus.

dan jika memang hukum mengkhususkan malam nisfu sya'ban


itu belum jelas, maka langkah terbaik adalah
MENINGGALKANNYA, karena itu hanya perkara sunnah
yang kita tidak akan berdosa jika meninggalkannya.

masih banyak ibadah2 sunnah lain yang jelas keutamaannya


seperti puasa daud, puasa senin kamis, sholat malam, sholat
dhuha.

wallohu ta'ala a'lam.

 28
 •
 Bagikan ›






Ojik Kang Merz MeLcie • 4 tahun yang lalu

lana a'maluna wa lakum a' malukum....

 1
 •
 Bagikan ›




o


irwan Anwari Abdul Hakim • 4 tahun yang lalu

Maaf saya orang awam yg mau menambhkan..jika landasan


ibadah didasari dengan kata "apa salahnya?" maka hal ini akan
menyesatkan..karena melakukan ibadah itu harus dengan apa yg
dicontohkan rosul..kalau rumusnya "apa salahnya" berarti
sholat subuh dua raka'at terus kita tambah menjada empat
raka'at syah-syah saja dong..dg alasan dua raka'at saja bagus
apalagi empat raka'at lantas kita bisa bilang "apa salahnya"..nah
rumus ini dipastikan sangat menyesatkan..kalau mau
beribadah..lihat dulu apa yang telah Rosul contohkan..maaf
tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada yg telah menulis
komentar ini..Terima Kasih

 17
 •
 Bagikan ›






ohmysap irwan • 4 tahun yang lalu

banyak orang nentang tahlil, malam nisfu sya'ban, dll


gw mau tanya, apakah ada orang2 tersebut mencapai
maqam waliyullah??
apakah anda yakin tidak ada hadist nya?
hadist yg sekarang ada sudah berkurang, dan apa anda
tau, kenapa hadist ada dhoif dan batil?
kalau memang hadist tersebut memang salah, kenapa
pangkatnya hanya sampai dhoif? karena mereka tidak
berani membatilkan sesuatu yang tidak pasti,,,
semua ulama salafu sholeh, dan waliyullah menjalankan
amalan2 ini,,,

 8
 •
 Bagikan ›






muh utomo ohmysap • 4 tahun yang lalu

intinya kalau amalan itu berdasarkan hadits lemah,


jangan meyakini bahwa itu sunnah rasul.
bagaimana kita bisa meyakini bahwa hadits itu
datang dari rasul sementara kebenaranya
diragukan? ”Barangsiapa yang berdusta atas
namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia
mengambil tempat duduknya di neraka”. (HR.
Bukhari & Muslim). Dari hadits ini terlihat jelas
seseorang yang menyandarkan sesuatu kepada
Rasul tanpa mengetahui keshohihannya, dia
terancam masuk neraka.

 9
 •
 Bagikan ›




o

Avant Ramadhan Anwari Abdul Hakim • 4 tahun yang lalu

ok sip aque seneng dengan komentar qm,,,, bid'ahnya di sebelah


mana?????????? tolong jelaskan,,,, terus siapa yg
mengkhususkan baca surat yasin 3x pada bulan sya'ban
saja???? ALLAH lebih mengetahi apa yg TIDAK kamu
ketahui,,, wallahu alam?????

 3
 •
 Bagikan ›





o
o

yahoo-L6OCPL7RO7K3H3AY3WMRQ46ELY • 4 tahun yang lalu


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya ingin bertanya, berdasarkan penjelasan Bapak, apakah puasa


pada jumat dan sabtu ini tidak menjadi sunnah karena berdasar hadits
yang dhoif? Terima kasih Bapak.

Wassalam Wr. Wb.

o 3
o •
o Bagikan ›



o

o
o

febby • 4 tahun yang lalu

saya malah baru tahu tahun ini kalo ada amalan yg namanya nisfu
sya'ban.. :|

o 2
o •
o Bagikan ›



o

o
o
Fariz Ghazzan • 4 tahun yang lalu

salam super !! Dan selamat berdebat..! saya permisi dulu, mau tanyak
ke tempat lain..
Wassalam..

o 2
o •
o Bagikan ›



o

o
o

Fauzan Andriyani • 4 tahun yang lalu

Ketika memasuki pertengahan bulan Sya’ban, sebagian besar


masyarakat Muslim, berduyun-duyun ke masjid untuk melaksanakan
perayaan malam Nishfu Sya’ban. Jika kita bertanya kepada yang
melaksanakan kegiatan tersebut, apa landasan hukumnya atau dalil
naqli-nya, maka yang sudah pasti kita temukan adalah jawaban yang
gamang, kabur dan tidak ada penjelasan. Karena memang mayoritas
umat Islam ini menjalankan ibadah dan syariat agama karena ikut-
ikutan dan atau karena warisan yang diterimanya secara turun
temurun dan atau taqlid buta tanpa mau tahu dasar atau landasan
hukum terhadap pelaksanaan suatu ibadah.
Kebiasaan berkumpul dan melaksanakan shalat yang dinamakan
shalat Nishfu Sya’ban ini tampaknya telah menjadi suatu sunnah baru
dalam tubuh umat Islam. Lalu, bagaimana sebenarnya kedudukan dan
keabsahan dari ibadah ini? Adakah Rasulullah saw.,
melaksanakannya?
Muhammad bin Wadhdhah al-Qurthubi dengan sanadnya, dari
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, bahwasanya beliau menyatakan:
“Kami belum pernah mendapatkan seorangpun dari Syaikh kami, atau
Ahli Fiqh di kalangan kami yang memandang sebelah mata kepada
kebiasaan perayaan malam Nishfu Sya’ban. Kami juga tidak pernah
mendapatkan seorang di antara mereka yang menyebutkan hadits dari
Makhul. Mereka tidak berpandangan bahwa malam itu memiliki
kelebihan dibandingkan malam-malam lain” (al-Bida’ Wannahyu
‘anha, Imam Ibnu Wadhdhah, hlm. 100, no. 119).
Abu Bakar ath-Thurthusi menyebutkan bahwa kebiasaan shalat
Nishfu Sya’ban itu baru pertama kali dilakukan pada tahun 448 H,
ketika seorang laki-laki dari Napolis yang dikenal dengan nama Ibnul
Hamraa, melaksanakan shalat pada malam itu di Baitul Maqdis.
Pernyataan ini beliau sandarkan pada ucapan Abu Muhammad al-
Maqdisi (al-Hawadits wa al-Bida’, Abu Bakar ath-Thurthusi, hlm.
266, no. 238).
Dengan sanadnya sendiri, Imam Ibnu Wadhdhah menceritakan bahwa
Ibnu Abi Mulaikah pernah mendengar bahwa Ziyad an-Numairi
menyatakan bahwa malam Nishfu Sya’ban itu pahalanya seperti
malam Lailatul Qadr. Ibnu Abi Mulaikah menanggapinya dengan
ucapan yang keras: “Kalau aku mendengarnya langsung darinya, dan
aku sedang memegang tongkat, pasti kupukul ia (Ziyad an-Numairi)
dengan tongkat itu” (al-Hawadits wa al-Bida’, hlm. 263 no. 235).
Imam Abu Syamah asy-Syafi’i menyatakan: “Adapun sebab
dinamakannya shalat Nishfu Sya’ban sebagai shalat Alfiyyah (seribu),
karena dalam shalat tersebut dibaca QS. Al-Ikhlas seribu kali. Jumlah
rakaatnya adalah seratus. Sementara pada masing-masing rakaat
dibaca QS. Al-Fatihah sekali dan QS. Al-Ikhlas sepuluh kali. Shalat
itu sangat panjang dan berat sekali, sementara tidak ada satupun
riwayat yang men-shahihkannya, atau sekedar Atsar atau riwayat
lemah atau palsu sekalipun. Bahkan pelaksanaan shalat ini menuai
bencana dan kemaksiatan serta kefasikan di dalamnya. Kalangan
awam yang gemar mengamalkan ibadah ini memiliki keyakinan yang
kokoh, karena syaitan telah menghiasi hati-hati mereka, bahkan
menjadikannya bagaikan pondasi ajaran Islam” (al-Ba’its ‘ala Inkaril
Bida’i wa al-Hawadits, oleh Abdurrahman bin Ismail atau yang
dikenal dengan nama Imam Abu Syamah asy-Syafi’i, hlm. 124).
Benar, malam Nishfu Sya’ban itu memang ada, karena sesuai dengan
hadits marfu’ (Nabi saw., sebagai sumber matan hadits), yang
diriwayatkan oleh banyak sahabat, di antaranya Mu’adz bin Jabal,
Abu Tsa’labah al-Khusyani, Abdullah bin Amru, Abu Musa al-
‘Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Auf bin Malik,
‘Aisyah, dan lain-lain, dimana hadits itu berbunyi: “Allah melihat
kepada hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu
memberikan kepada mereka (apa yang diminta/dimohon), kecuali
orang musyrik atau orang-orang yang dengki” (HR. Ibnu Abi Ashim
dalam as-Sunnah, no. 512, Ibnu Hibban, no. 5665 (XII: 481), ath-
Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, XX: 109, no. 215, Abu Nu’aim
dalam al-Hilyah V: 191, Baihaqy dalam Syu’abul Iman V: 272, no.
6628; al-Mubarakfuri dalam Tuhfah al-Ahwadzi mennyatakan bahwa
hadits ini munqathi’ –terputus sanadnya).
Asy-Syaikh Albani setelah mengomentari hadits ini dalam Kitabnya
Silsilah Ahadits ash-Shahihah sebanyak empat halaman, beliau
menyimpulkan: “Kalaupun shahih hadits ini tentang keutamaan
malam Nishfu Sya’ban, tidak lantas merupakan suatu dalil yang
menunjukkan dikhususkannya malam itu untuk shalat malam dan
berpuasa di siang harinya, kecuali bagi yang sudah biasa dilakukan
seorang muslim. Karena ibadah adalah persoalan yang sudah baku”.
Pendapat beliau ini selaras dengan kebanyakan ulama seperti Atha’
bin Abi Rabah, Ibnu Abi Mulaikah, Abdurrahman bin Zaid bin
Aslam, dan seluruh Ahli Fiqh Madinah yang menolaknya dengan
pernyataan bahwa: “Semua itu adalah bid’ah, sebab pelaksanaan
shalat malam Nishfu Sya’ban itu berasal dari kisah Israiliyat yang
tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebagian lagi
menyatakan bahwa shalat Nishfu Sya’ban ini tidak ada riwayat yang
shahih dari Rasulullah saw., dan para sahabat beliau. Hanya riwayat
dari sebagian Tabi’in, itupun dari kalangan Ahli Fiqh negeri Syam
yang baru dikenal pelaksanaannya pada tahun 448 H” (Lathaa-iful
Ma’arif oleh Ibnu Rajab, hlm. 263).
Adapun hadits tentang shalat Nishfu Sya’ban yang selama ini dikenal
dan dilaksanakan oleh sebagian besar umat Islam bersumber dari
Sunan Ibnu Majah, jilid I, hlm. 442-444, no. hadits 1388 dan 1389.
untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan secara lengkap dibawah ini:
A. Sanad Hadits Nishfu Sya’ban dalam Sunan Ibnu Majah, Jilid I,
hlm. 444 no. hadits 1388: Ibnu Majah dari Hasan bin Ali Al-Khalal
dari Abdurrazaq dari Ibnu Abi Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad
dari Mu’awiyah bin ‘Abdullah bin Ja’far dari Abdullah bin Ja’far dari
Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah saw. Ada 8 (delapan) sanad yang
menghubungkan antara Ibnu Majah sebagai perawi hadits sampai
kepada Rasulullah saw. Bunyi hadits itu:
“Jika tiba saatnya malam Nishfu Sya’ban, maka shalatlah kamu
sekalian pada malamnya dan berpuasalah kamu sekalian pada
siangnya. Maka sesungguhnya Allah SWT turun ke langit dunia sejak
terbenamnya matahari. Allah berfirman: “Siapapun yang meminta
ampun pada-KU maka Aku mengampuninya, siapa yang meminta
rezeki maka Aku akan memberikan rezeki, siapa yang meminta maaf
akan Aku maafkan, apapun yang diminta Aku akan kabulkan sampai
terbit fajar”.

B. Sanad Hadits Nishfu Sya’ban yang bersumber dari kitab yang sama
dengan no. hadits 1389: Ibnu Majah dari ‘Abdah bin Abdillah Al-
Khuza’i dari Muhammad bin Abdul Malik dari Abu Bakar dari Yazid
bin Harun dari Hajaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Kasir dari ‘Urwah
dari ‘Aisyah dan dari Rasulullah saw. Ada 9 (sembilan) sanad yang
menghubungkan antara Ibnu Majah sebagai perawi sampai kepada
Rasulullah saw. Bunyi hadits tersebut:
“Sungguh aku telah mengetahui Nabi saw., keluar pada malam hari,
akupun keluar untuk mengikutinya. Pada waktu sampai di Baqi’
(nama kuburan di Madinah), Nabi saw., menengadahkan kepala beliau
ke langit seraya bersabda: “”Wahai ‘Aisyah, apakah engkau khawatir
Allah dan Rasul-Nya akan menyia-nyiakanmu?” Lalu aku menjawab:
“Sungguh bukan begitu maksudku, tetapi aku mengira sesungguhnya
engkau pergi mendatangi sebagian lain dari istri-istrimu”. Maka Nabi
saw., bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala turun ke langit dunia di
malam Nishfu Sya’ban, maka diampuni (hamba-Nya), meskipun
dosanya sebanyak bulu domba atau bulu anjing”.
Tetapi banyak ulama-ulama Muhaditsin setelah meneliti kedua hadits
tersebut menyatakan KELEMAHANNYA, karena dalam kedua hadits
itu terdapat sanad yang lemah, yakni Ibnu Abi Sabrah (Abu Bakar bin
Abdillah bin Muhammad bin Abi Sabrah) yang dicela dengan istilah
Yadha’ul Haditsu (haditsnya diletakkan) alias tidak boleh dijadikan
sebagai hujjah atau dalil dalam beribadah; dan Hajaj bin Arthah (Hajaj
bin Arthah al-Faqihi yang biasa dipanggil Abu Arthah an-Nakha’i),
yang dicela oleh ulama-ulama Muhaditsin.
Imam Ahmad Ibnu Utsman Adz-Dzahabi menyebutkan: Hajaj bin
Arthah Ahadul ‘alam ‘ala Layyinin fi Haditsin (Hajaj bin Arthah
adalah seorang sanad yang telah diumumkan kelemahan haditsnya);
Imam Ibnu Ma’in menyatakan: Hajaj bin Arthah huwa Laisa bil
Qawiy (Hajaj bin Arthah adalah sanad yang tidak kuat); Imam an-
Nasa’i menegaskan: Hajaj bin Arthah Dha’if Jiddan (Hajaj bin Arthah
lemah sekali sebagai sanad); dan Imam ad-Daraquthny menyebutkan:
Hajaj bin Arthah Laa Yahtaju bihi (Hajaj bin Arthah tidak dapat
dijadikan hujjah atau dalil ibadah). Untuk lebih jelasnya, baca Kitab
Mizanul ‘Itidal fi Naqli ar-Rijal, Imam adz-Dzahabi, jilid I hlm. 455,
no. Sanad 1726, Darul Ma’rifah Beirut-Lebanon, 748 H.
Hadits tentang shalat Tasbih hanya ada pada dua Kitab Kutubus-
Sittah, yakni dalam Kitab Sunan at-Tirimidzi, jilid I, juz. 1 hlm. 299-
301, dan Kitab Sunan Ibnu Majah, jilid I, hlm. 442-444, no. hadits
1388 dan 1389. Dalam Kitab Fiqh yang Mu’tabar (representatif) yang
diakui oleh banyak ulama, shalat Tasbih terdapat dalam Kitab al-
Adzkar karya Imam an-Nawawi, yang dikenal dengan gelar Imam
Nawawi al-Damsyiqi asy-Syafi’i, hlm. 167-169, Darul Fikr, Beirut,
276 H. Dalam kitab tersebut, shalat Tasbih dilaksanakan dengan dua
model atau dua tatacara.
Pertama, tatacara Shalat Tasbih menurut Abdullah bin Mubarak,
dengan cara shalat tasbih dilakukan empat rakaat, setiap rakaat 75 kali
tasbih, tasbih pertama 15 kali, dan tasbih berikutnya 10 kali. Jika
dikerjakan pada malam hari empat rakaat dengan dua kali salam. Jika
dikerjakan siang hari, empat rakaat boleh dikerjakan dua kali salam,
boleh juga dengan satu kali salam (lihat Sunan at-Tirmidzi, Jilid I
hlm. 300). Menurut Abdullah bin Mubarak, shalat Tasbih ini dapat
menghapuskan dosa walaupun dosanya seperti kumpulan pasir, Allah
SWT akan mengampuninya.
Kedua, tatacara Shalat Tasbih menurut Abi Rafi’, dengan cara empat
rakaat, setiap rakaat 75 kali tasbih, sehingga total tasbih dalam empat
rakaat ada 300 kali (lihat Sunan at-Tirmidzi, Jilid I, hlm. 299; juga
Mizanul ‘Itidal fi Naqli ar-Rijal, Imam Adz-Dzahabi, Jilid IV, hlm.
213, no. sanad 8895). Dalam hadits tersebut ada seorang rawi yang
bernama Musa bin Ubaidah, seorang rawi yang dilemahkan dan
diingkari oleh para ulama Muhaditsin, seperti Imam Ahmad (laa
yaktabu haditsuhu–jangan tulis haditsnya); Imam an-Nasa’i (dha’ifun
hadits–haditsnya dha’if); Ibnu ‘Adiy (adh-dha’ifu ‘ala riwayati
bainun–kedha’ifan riwayatnya sangat jelas); Imam Murrah (laa
yahtaju bihaditsihi–jangan berhujjah dengan haditsnya); Yahya bin
Sa’id (kafa nutqa haditsuhu–kami mencampakkan haditsnya).
Berdasarkan riwayat tersebut, ada beberapa kelemahan yang patut kita
ungkapkan disini. Pertama, tatacara shalat Tasbih ada dua model,
model Abdullah bin Mubarak dan model Abi Rafi’. Nah, yang
menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin shalat Tasbih dikerjakan
dengan dua model yang berbeda? Mungkinkah Rasulullah saw., yang
mulia dan terjaga dari kesalahan itu melahirkan shalat dengan dua
model yang saling bertolak belakang? Dalam ilmu Musthalahul
Hadits, kedua hadits tentang shalat tasbih ini masuk dalam kategori
Mudhtarib fil Matan, hadits yang saling berlawanan antara satu matan
dengan matan yang lain. Dan hadits Mudhtarib digolongkan hadits
dha’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan dalil untuk beribadah.
Kedua, pada bagian akhir matan hadits itu tertulis bagaimana
mengerjakan shalat tasbih, yang berbunyi: “Maka jika aku shalat di
malam hari, aku (Abdullah bin Mubarak) lebih menyukai salam tiap
dua rakaat dari empat rakaat shalat tasbih. Dan jika shalat tasbih
dilakukan siang hari jika ingin salam tiap dua rakaat boleh jika tidak
ingin salam tiap dua rakaat juga boleh”.
Dalam matan hadits ini, yang menentukan hukum cara shalat tasbih
bukan Rasulullah saw., tetapi Abdullah bin Mubarak menurut
versinya sendiri. Ini terlihat pada kata-kata: “Fa-ahabbu ilayya” (maka
yang lebih aku sukai). Sedangkan kaedah umum hadits menyatakan
bahwa: “Shallu kamaa ra-aitumuuni ushalli (shalatlah kalian
sebagaimana aku (Nabi saw., –pen.) shalat” (HR. Bukhari, Muslim,
Ahmad. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 213).
Benar, Abdullah bin Mubarak adalah seorang Tabi’in, yang umat ini
berterima kasih atas ilmu dan usahanya dalam menjelaskan Islam.
Tetapi harus dipahami juga bahwa beliaupun berbuat khilaf, bukan
berarti kami mencela kekhilafan beliau dengan ucapan: “menurut
versinya sendiri”. Bahkan beliau sendiri telah mengklarifikasi
kekeliruannya ini sebagaimana terungkap dalam I’tiqad Ahli as-
Sunnah, Abu Utsman ash-Shabuni, hlm. 92, yakni ketika beliau
ditanyakan tentang turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban,
beliau menjawab tegas, “Wahai orang yang lemah, yang engkau
maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban? Perlu engkau ketahui,
bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan malam Nishfu Sya’ban
saja –pen.)”.
Imam Abu Bakar ibn ‘Arabi berkata: “Ibnul Mubarak Laisa bi
Hujjatin (Ibnul Mubarak tidak dapat dijadikan hujjah)” (al-Ahwadzi fi
Syarh at-Tirmidzi, untuk lebih jelasnya baca Kitab al-Adzkar, Imam
an-Nawawi, hlm. 168). Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Mubarak (Sunan at-Tirmidzi, I/300) juga ada sanad yang dha’if
bahkan majhul, yakni Abu Wahab (mubham nasab dan mastur-tidak
diketahui ihwalnya). Bisa diperiksa lagi dengan lebih teliti pada
Mizanul ‘Itidal fi Naqli ar-Rijal, jilid IV, hlm. 212, no. sanad 8893,
Imam adz-Dzahabi, dan lain-lain.
Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak halal atas seorangpun mengambil
perkataan kami selama dia tidak tahu darimana kami mengambilnya”
(Ibnu Abidin, Hasyiyah ‘ala Bahru Raiq, 6/293; Sya’raniy, al-Mizan,
1/55). Imam Malik berkata: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang
bisa benar dan bisa keliru...setiap pendapatku yang sesuai dengan
Kitab dan Sunnah, maka ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan
Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah” (Ibnu Abdil Barr, al-Jami’,
2/32).
Imam asy-Syafi’i berkata: “Jika kalian menjumpai Sunnah Rasulullah
saw., ittiba’lah kepadanya, jangan kalian menoleh perkataan
siapapun” (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’, 9/107; Abu Hatim, Adab
asy-Syafi’i, hlm. 93). Imam Ahmad berkata: “Jangan engkau taqlid
dalam agama pada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari
Nabi dan para sahabat, ambillah” (Abu Daud, al-Masaail al-Imam
Ahmad, hlm. 276-277).
Ketiga, matan shalat tasbih melalui Ikrimah dari Abi Rafi’ juga
memiliki kelemahan. Disebutkan bahwa shalat tasbih mampu
membuat Allah SWT memberikan ampunan terhadap dosa awal, dosa
akhir, dosa masa lalu, dosa sekarang, dosa kecil, dan dosa besar. Ini
lebih menggelikan dan aneh lagi, karena manusia yang berbuat dosa
besar tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dengan TAUBATAN
NASUHA, BUKAN DENGAN SHALAT TASBIH. Bahkan shalat
fardhu lima waktu saja pun fadhillahnya tidak sebesar fadhillah shalat
tasbih yang selama ini digembar-gemborkan oleh banyak
da’i/muballigh jahil. Apalagi jika dikatakan bahwa shalat tasbih itu
bisa mengampuni dosa akhir, lalu apa gunanya Allah SWT
memerintahkan shalat fardhu, ibadah puasa Ramadhan dan lainnya?
Dari beberapa hadits dan pernyataan ulama-ulama Muhaditsin dan
para Ahli Fiqh yang masih berpijak pada landasan kebenaran, menjadi
jelas bahwa mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat
tasbih dan ibadah lainnya adalah TIDAK DISYARIATKAN DAN
MERUPAKAN PERBUATAN BID’AH yang tidak ada asalnya dari
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw., juga tidak pernah dikerjakan
oleh seorang Sahabat pun.
Mari kita berlindung kepada Allah dari kebodohan kita dalam beramal
shalih, semoga kita tetap mendapatkan petunjuk yang benar dalam
hidup dan kehidupan kita dalam ridha Allah SWT. Semoga ketika
memasuki bulan Ramadhan, kita benar-benar telah mensucikan hati,
suci aqidah, suci ibadah, suci dalam amal shalih dan juga suci dalam
akhlaq. Wallahu a’lam bish-shawwab.

lainnya

o 14
o •
o Bagikan ›



o
o

Riyad Solihin Fauzan Andriyani • 4 tahun yang lalu

...ekstrim banget..yang baca alquran aja sama solat tasbish di


sebut bidah,... TV yang tiap hari penuh di dengan kemaksiatan
di tonton dn malah diam saja.inilah dunia...

 6
 •
 Bagikan ›





o
o
Aziz Thamara • 4 tahun yang lalu

Bagaimana dengan Hadits dibawah ini :

Keutamaan malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana dijelaskan dalam


hadits shahih dari Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda
Rasulullah Saw. yang artinya: “Allah menjenguk datang kepada
semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampuni segala
dosa makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang
yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)

o 3
o •
o Bagikan ›



o

o
o

Aziz Thamara • 4 tahun yang lalu

Bagaimana pendapat antum mengenai ini : Ulama lain seperti Imam


al-Ghazali dalam kitabnya al-Ihyaa’ (Juz 1 hal. 210) menyatakan
bahwa shalat malam nisfu sya’ban adalah sunat dan hal itu dilakukan
pula oleh para ulama salaf. Bahkan para ulama salaf menamakan
shalat tersebut sebagai shalat khair (shalat yang baik). Begitu juga
ulama-ulama lain seperti al-Allamah al-Kurdi. Selain dalam kitab al-
Ihyaa’ juga dalam kitab-kitab lain seperti Khaziinah al-Asraar (hal.
36), al-’Iaanah (Juz 1 hal. 210), al-Hawaasyi al-Madaniyyah (Juz 1
hal. 223), dan al-Tarsyiih al-Mustafiidiin (hal. 101).

o
o •
o Bagikan ›



o
o

Arief Man Aziz Thamara • 4 tahun yang lalu

hendaknya jangan sembarangan menukil dari kitab ihya gan,,

 5
 •
 Bagikan ›





o
o
Aziz Thamara • 4 tahun yang lalu

Apa pandangan anda mengenai dibawah ini :


Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA., beliau
berkata: "Suatu malam Rasulullah Saw shalat, kemudian beliau
bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah Saw
telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan
ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat beliau
berkata: "Hai ‘Aisyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku
menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-
tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud
begitu lama". Lalu Rasulullah Saw. bertanya: "Tahukah engkau,
malam apa sekarang ini?”. "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku.
"Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya
pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan,
memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan
menyingkirkan orang-orang yang dengki" (HR. Baihaqi).

o 3
o •
o Bagikan ›



o

o
o

Deby Afandi • 4 tahun yang lalu

Apakah kita lebih mulia dari Rasulullah?


Kalau ajaran, tuntunan sudah sempurna.. apakah masih perlu
ditambah?
Apakah kita masih bisa menelusuri sohih dan lemahnya hadist?
Hadist lemah lebih digemari kenapa?

o 1
o •
o Bagikan ›



o

o
o

Indramansyah Hulu • 4 tahun yang lalu

Pencerahan... terima kasih...

o 1
o •
o Bagikan ›



o

o
o

Mohamad Amin Rizal • 4 tahun yang lalu


Jgn merasa diri paling suci paling ngerti hukum islam Kapan Islam di
Indonesia mau maju. Yang jelas jelas MURTAD spt AHMADIYAH
antum diem aza. ... kumaha atuh ??? Masalah kilafiyah di omongin
terus. Gampang amat ANTUM kasih vonis Bid'ah kepada kami yang
pake Nisfu syaban, Maulid atau tahlilan. Setahu sy bid'ah itu ada 3
golongan salah satunya spt Nisfu Syaban.adalah bid'ah yang
HASANAH (Baik) artinya boleh dikerjakan wong itu pekerjaan yang
baik koq.
Klo antum ga MAU PAKE ya SILAHKAN SAJA.
Jangan ganggu kami.

Rabu, 21 Agustus 2013


SEPUTAR MALAM NISFU SYA'BAN

Copas dari status pewaris MBAW.


Yaitu akun yg bernama
Abu Rumaisha
:: Ada Apa Dengan Nisfu Sya'ban
Tampaknya malam ini (nisfu sya'ban) menjadi malam yg di nanti2 oleh
orang yg kepingin masuk surga secara instan, & malam yg di katakan
sebagai malam penghapusan dosa. Oleh karenanya pada malam ini (nisfu
sya'ban) diperkirakan sebagian kaum muslimin yg kepingin dosanya
terhapus akan tumpah ruah di berbagai masjid yg mengadakan acara
penghapusqn dosa ini.

Di Banjarmasin, berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun kalau


memasuki malam nisfu sya'ban, jalan2 pada lengang, orang jualan hampir
tidak ada karena mereka pada sibuk menjalankan ritualnya di berbagai
masjid, begitu juga siang harinya orang jualan, seperti warung makan
semuanya tutup, makanya bagi yg tidak berpuasa pada hari tersebut niscaya
akan kesulitan mencari tempat makan, kecuali pulang kerumah.

Sekarang kita bandingkan dengan bulan mulia "Ramadhan", dibulan


ramadhan mereka tidak seperti nisfu sya'ban, warung makan tetap buka
dengan alasan untuk melayani para musafir, padahal yg makan banyak
penduduk lokal, terus di bulan ramadhan mereka yg ikut ritual nisfu sya'ban
tadi ada yg tidak berpuasa, dengan anggapan dosa mereka selama setahun
penuh telah di hapuskan, & setelah ritual tersebut mereka kembali
melakukan berbagai kemaksiatan, baik yg besar maupun yg kecil karena
mereka berpikir tahun depan juga kembali dihapuskan dengan melakukan
ritual malam nisfu sya'ban tersebut.

Sungguh aneh memang, tatkala bulan ramadhan tiba mereka seakan tidak
begitu antusiasnya menyambut kedatangan bulan yg mulia tersebut,
berbanding terbalik dengan menyambut kedatangan malam nisfu sya'ban.
Apalagi kalau kita lihat di malam2 datangnya lailatul qodar mereka tidak
begitu antusias untuk mendapatkan malam tersebut, malahan di malam 2
ganjil tersebut mereka sibuk di mall & pusat perbelanjaan untuk menyiapkan
keperluan di hari raya id.
Dan direncanakan acara malam nisfu sya'ban dibanjarmasin, pihak pengelola
masjid Raya Sabilal Muhtadin (Masjid kebanggaan Kal-Sel)
melaksanakannya di halaman masjid, sama seperti tahun sebelumnya, di
karenakan ruang induk masjid tersebut tidak mampu menampung banyaknya
masyarakat yg mengikuti acara tersebut. Padahal kalau dihari2 biasa jumlah
kaum muslimin yg ada di jalan pada saat shalat magrib lebih banyak
dibandingkan yg ada di masjid, yg ada di mall, di tempat kuliner, di pusat
perbelanjaan lebih banyak, seakan panggilan adzan magrib tersebut mereka
anggap sebagai angin lalu saja, tidak ada niat untuk mendatanginya.

Kini saatnya kita menengok sejarah perayaan malam nisfu sya'ban, orang yg
pertama kali menghidupkan shalat pada malam nisfu sya’ban adalah
seseorang yg dikenal dengan Babin Abul Hamroo'. Dia tinggal di Baitul
Maqdis pada tahun 448 H. Dia memiliki bacaan Qur’an yg bagus. Suatu saat
di malam nisfu sya’ban dia melaksanakan shalat di Masjidil Aqsho.
Kemudian ketika itu ikut pula di belakangnya seorang pria. Kemudian
datang lagi 3 atau 4 orang bermakmum di belakangnya. Lalu akhirnya
jama'ah yg ikut di belakangnya bertambah banyak.
Ketika datang tahun berikutnya, semakin banyak yg shalat bersamanya pada
malam nisfu sya’ban.
Kemudian amalan yg dia lakukan tersebarlah di Masjidil Aqsho dan di
rumah2 kaum muslimin, sehingga shalat tersebut seakan-akan menjadi
sunnah Nabi. (Al Bida' Al Hawliyah, 299)

Adapun alasan mereka melakukan rituan penyucian dosa tersebut karena


termotivasi oleh hadits2 yg tidak sahih datangnya dari Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, diantaranya:

Hadist Ali ra, Rasulullah saw bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka
hidupkanlah dengan salat & puasalah pada siang harinya, sesungguhnya
Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: "Orang yg
meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yg meminta rizqi akan Aku beri
dia rizqi, orang2 yg mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar
menyingsing."

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau bersabda: "Aku pernah kehilangan Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian aku keluar, ternyata beliau di Baqi,
sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi bertanya: "Kamu khawatir
Allah & Rasul-Nya akan menipumu?" (maksudnya, Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai
Rasulullah, saya hanya menyangka anda mendatangi istri yg lain.
Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya
Allah turun ke langit dunia pada malam nisfu sya'ban, kemudian Dia
mengampuni lebih dari jumlah bulu domba bani kalb."

**Sumber hadits diambil dari linknya aswaja

Itulah diantara hadits2 yg menjadikan mereka termotivasi untuk


mengerjakannya. Seperti yg ana bilang dalam status sebelumnya kok bisa yg
bid'ah mengalahkan yg sunnah bahkan yg wajib sekalipun, padahal kalau
kita lihat diantara keutamaan puasa sunnah yg syar'i (puasa arafah) besar
sekali keutamaannya, kenapa tidak mereka syi'arkan.

Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa


Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yg lalu & setahun akan datang.
Puasa Asyuro (10
Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yg lalu.” (HR. Muslim)
Kan aneh yg bid'ah mereka semarakkan & yg benar2 ada perintahnya malah
di tinggalkan. Bahkan yg anehnya diantara ke ajib-an nisfu sya'ban ini yg ga
pernah / yg jarang ke masjid ikut hadir, karena mereka ingin memutihkan
dosa2 mereka. Dan kalau memang kalian mau jujur harusnya puasa di bulan
sya'ban ini jangan hanya sehari saja, mestinya malah di perbanyak, sebab
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak puasanya di bulan
sya'ban ini.

Sungguh yg bid'ah mengalahkan yg sunnah, memang dunia sudah terbalik.


===============
TANGGAPAN:
Inilah salah satu status wahabi dunia maya yg hampir 100% menguasai
warisan dari MBAW, ysitu dgn mudahnya melontarkan kata2 yg
menyalahkan amalan yg jelas2 ada sunnah rosul.!

Coba lihat dakwah warisan MBAW berikut:

‫ هـ في كتابه “السحب‬1225 ‫قال مفتي الحنابلة الشيخ محمد بن عبد هللا بن حميد النجدي المتوفى سنة‬
‫”فإنّه كان إذا باينه أحد وردَّ عليه‬: ‫ عن محمد بن عبد الوهاب‬276 ‫الوابلة على ضرائح الحنابلة” ص‬
‫ولم يقدر على قتله مجاهرة ً يرسل إليه من يغتاله في فراشه أو في السوق ليالً لقوله بتكفير من خالفه‬
‫واستحالله قتله” انتهى‬.
Seorang mufti madzhab Hanbali Syaikh Muhammaad bin Abdullah bin
Humaid an-Najdi (w.1225 H) dalam kitabnya al-Suhubu al-Wabilah ‘ala
Dhara-ih al-Hanabilah berkata tentang Muhammad bin Abdul Wahhab:
“Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) apabila berselisih
dengan seseorang dan tidak bisa membunuhnya terang-terangan maka ia
mengutus seseorang untuk membunuhnya ketika dia tidur atau ketika ia
berada di pasar pada malam hari. Ini semua dia lakukan karena ia
mengkafirkan orang yang menentangnya dan halal untuk dibunuh.”
(Muhammad al-Najdi, al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah,
Maktabah al-Imam Ahmad, hal. 276).
‫وكان محمد بن عبد الوهاب وجماعته يحكمون على الناس )أي المسلمين( بالكفر واستباحوا دماءهم‬
‫ي بارتكابهم أنواع التحقير له وكانوا يصرحون بتكفير األمة منذ ستمائة‬
ّ ‫وأموالهم وانتهكوا حرمة النب‬
‫ وكان يعتقد أن‬.‫صرح بذلك محمد بن عبد الوهاب وكان يقول إني أتيتكم بدين جديد‬ َّ ‫سنة وأول من‬
‫ وما‬42 ‫منحصر فيه وفيمن تبعه وأن الناس سواهم كلهم مشركون )انظر “الدرر السنية” ص‬ ٌ ‫اإلسالم‬
‫)بعدها‬

Mari kita perhatikan dan baca dgn seksama tentang keutamaan bulan sya'ban
dan nisfu sya'ban berikut ini.!

Al-Imam As-Subkiy.rhm berkata, bahwa malam Nishfu Sya’ban menghapus


dosa setahun, malam Jum’at menghapus dosa seminggu, dan Lailatul Qodr
menghapus dosa seumur hidup.

Diriwayatkan kapadaku bahwa Sahabat Nabi Usamah bin Zaid.ra berkata


kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau
berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.”

Kata Nabi, “Bulan itu sering dilupakan orang, karena diapit oleh bulan Rajab
dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan
dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar
sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.” (HR Ahmad dan
Nasai – Sunah Abu Dawud).

Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-
hadis berikut:

Hadis Pertama

Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam dia kehilangan Rasulullah


SAW, ia keluar mencari dan akhirnya menemukan beliau di pekuburan
Baqi’, sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata,
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam
Nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah
bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis Kedua

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW


bersabda, “ “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi
seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau
orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Hadis Ketiga

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan
berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah
matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang
beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon
rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku
menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga
terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita


manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon
sebanyak-banyaknya kepada Allah.

Amalan di Malam Nishfu Sya’ban

Mengenai doa dimalam nisfu sya’ban adalah sunnah Rasul saw,


sebagaimana hadits2 berikut :

Sabda Rasulullah saw : “Allah mengawasi dan memandang hamba hamba


Nya di malam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya
kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn
Hibban hadits no.5755)

Berkata Aisyah ra : disuatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan


kutemukan beliau saw sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat
kepalanya kearah langit, seraya bersabda : “Sungguh Allah turun ke langit
bumi di malam nisfu sya’ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya
sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba” (Musnad Imam Ahmad
hadits no.24825)

Berkata Imam Syafii rahimahullah : “Doa mustajab adalah pada 5 malam,


yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama
bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz
3 hal 319).

Dengan fatwa ini maka kita memperbanyak doa di malam itu, jelas pula
bahwa doa tak bisa dilarang kapanpun dan dimanapun, bila mereka melarang
doa maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya?

Bila mereka meminta riwayat cara berdoa, maka alangkah bodohnya mereka
tak memahami caranya doa, karena caranya adalah meminta kepada Allah.

Pelarangan akan hal ini merupakan perbuatan mungkar dan sesat,


sebagaimana sabda Rasulullah saw : “sungguh sebesar besarnya dosa
muslimin dg muslim lainnya adalah pertanyaan yg membuat hal yg halal
dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim)

Mana selogan untuk mengajak ummat kembali pada al-qur an dan


assunnah.?