Anda di halaman 1dari 7

Februari 1896,Inggris juga mengirimkan ekspedisi dengan tujuan yang

sama dan berangkat dari Afrika timur maka Liotard dipanggil kembali oleh
pemerintahannya dan digantikan oleh Kapten J.B.Marchand.Ia diberikan
pengikut kecil yaitu 213 orang Afrika dan 21 orang Prancis.Meski ekspedisi ini
tidak bersifat militer,namun Marchand diperintahkan untuk mengibarkan
bendera “Tricolore(bendera prancis)” di wilayah Sudan.Prancis menganggap
bahwa sejak Mesir melapaskan Sudan untuk Kaum Mahdi daerah tersebut
merupakan daerah yang tak bertuan.
Pemerintah Inggris dan Mesir kembali ingin menguasai Sudan,namun
karena alasan financial,Lord Cromer mulanya belum dapat menerima
pengiriman ekspedisi kedaerah Sudan itu.Barulah ketika Lord Salisbury dan
Chamberlain meyakinkannya,bahwa untuk menentukan nasib Sudan itu
Prancis telah mengadakan hubungan dengan Negus Ethiopia dan juga telah
mengirimkan ekspedisi,maka Cromer mau menerima saran tersebut.
Februari 1896 Lord Kitchener seorang Sirdar(Kepala Komandan
pasukan Inggris di Mesir),dikirim ke Selatan untuk memimpin ekspedisi
Inggris-Mesir.September 1896,ekspedisi ini sudah mencapai Dongola.Kota ini
dapat direbut tanpa pertempuran.Namun Dongola bukanlah tujuan akhirnya
melainkan baru tahapan pertama.
1897 Kitchener berangkar ke Selatan sambil memperpanjang
pemasangan jalan kereta api.Tindakan ini merupakan sumbangan kepada
realisasi proyek pembangunan jalan kereta api “Cape Cairo” yang diimpikan
oleh Cecil Rhodes.
April 1898 ia bersama tentaranya mengalahkan kaum Derwish di
Atbara.Serangan diteruskan ke Omdurman,salah satu benteng kaum
Mahdi.Setelah melakukan perlawanan akhirnta Omdurman jatuh ke tangan
Inggris Mesir.Khalifa beserta para pengikutnya melarikan diri menuju selatan
dan menyelinap kea rah barat.Sehingga jalan ke Khartoum terbuka.Lord
Cromer memerintahkan agar bendera Inggris dan Mesir dikibarkan
berdampingan (September 1898)
Kemudian mereka menuju ke Selatan,ketika Ktichener telah mendekati
Fashoda,ia menerima surat dari Mayor Marchand.Surat yang berisi selamat
atas kemenagannya di Omdurman dan Marchand juga mengatakan bahwa
“atas perintah kami,kami harus menduduki Bahr-el-Ghazal,Meshra-er-Req
dan daerah pertemuan Sungai Bahr el Jebel dan Nil Putih,kemudian daerah
Shilluk sampai Fashoda,dimana kota ini telah kami capai pada tanggal 10 Juli
lalu..”
Dinyatakan pula bahwa ia telah membuat perjanjian dengan kepala
daerah Shilluk dan menempatkan daerah itu dibawah perlindungan Prancis.
Ekspedisi Marchand itu telah berlangsung selama dua tahun.Ia
meninggalkan Marseille pada 1896 dan mendarat di Loango di Afrika
Barat.ditempat ini ia tertahan selama 6 bulan karena ada pemberontakan
suku-suku bumiputera.Kemudian ia sampai di Congo dan melanjutkan
perjalanannya itu sampai ke Bahr-el-Ghazal.Disini ia mendirikan pos-pos
untuk dijadikan markas.Dari tempat ini akhirnya ia sampai di Fashoda(pada
10 Juli 1898).Ia mengibarkan benderanya dan melawan serangan pengikut
Mahdi.
Ketika Kitchener sampai di Fashoda pada 19 September 1898,terjadilah
suatu krisis.Inggris dan Prancis adalah pesaing lama dilembah Sungai Nil dan
pada waktu itu kedua wakil Negara itu bertemu disekita Fashoda.Kemudian
Kitchener berkata kepada Marchand bahwa berkibarnya bendera Parncis di
Fashoda itu adalah pelecehan langsung terhadap kekuasaan Mesir karena
daerah itu adalah milik yang mulia Khedive.Marchand pun menjawab bahwa
ia sebagai seorang prajurit kecil dan harus tunduk kepada Pemerintah yang
menyuruhnya untuk menduduki Bahr-el-Ghazal dan Fashoda.Ia menolak
perintah Kitchener untuk menurunkan bendera kebangsaannya yang telah
berkibar.Karena tidak ada yang mau mengalah,maka akhirnya penyelesaian
diserahkan pada pemerintahan masing-masing yang mana mereka menanti
keputusan dari London dan Paris.Kitchener kembali ke Khartoum sedangan
Marchand tetap di Fashoda.

2.3 Bahaya Krisis Inggris-Prancis dalam perebutan


daerah Fashoda
Bahaya perang mengancam Inggris dan Prancis.Bagi Inggris masalah
daerah Sudan adalah masalah yang gawat.Pada saat itu Inggris masih berpijak
pada politik isolasi sedang Prancis sejak 1893 telah bergabung dalam Dual
Alliance bersama Rusia.Keadaan yang sangat kritis bagi Inggris akan
dipergunakan Jerman untuk menguatkan aliansinya.
Sejak 1895 Jerman ingin menyeret Inggris dalam Triple
Alliance,berhubung dengan kegagalannya mendekati Rusia.Oleh sebab itu
ketika pemerintahan Salisbury terancam bahaya perang karena masalah
Venezuela(1895),pers Jerman dengan sengaja memuat artikel tentang
kedudukan Inggris yang “isolated” itu.Kemudian menyusul tulisan pers
Negara lain di kontinen yang memberikan komentar bahwa politik isolasi
Inggris itu berarti suatu kedudukan yang lemah,bukan hanya tidak
mempunyai sekutu tetapi tidak mempunyai kawan satupun didunia.
Antara Salisbury (perdana menteri) dan menteri tanh jajahan,yaitu
J.Chamberlain,terdapat perbedaan paham dalam menghadapi masalah
“splendid isolation”.Chamberlain yang menganggap bahwa politik isolasi itu
sangat berbahaya,pada13 Mei 1898 mengadakan pidato yang isinya senada
dengan suara pers di kontinen.
Chamberlain merasa bahwa politik isolasi tersebut tidak lagi dapat
dipertahankan.Ia berpendapa bahwa telah tiba masanya bagi Inggris untuk
memilih pihak : Triple Alliance atau Dual Alliance.
Tetapi sebenarnya amat sukarlah bagi Inggris untuk menentukan
pilihannya,sebab negeri tersebut memusuhi ketiga negara besar anggota-
anggota dua persekutuan itu.Dengan Rusia berselisih karena bersaingan
mendapatkan daerah pengaruh di Persia,Afganistan dan Asia Timur.Dengan
Jerman karena masalah Afrika Selatan serta bersaingan dalam dunia
perdagangan dan perindustrian juga karena berebutan kekuasaan di
lautan.Dengan Prancis karena berebutan daerah di Afrika,terutama di lembah
sungai Nil.
Menurut perhitungan Jerman,Inggris tidak mungkin dapat mengadakan
hubungan baik dengan Prancis karena kedua negeri tersebut telah
bermusuhan berabad-abad lamanya.Kecurigaan Inggris terhadap Prancis
makin bertamba ketika pada 1893 terbentuk Dual Alliance.Tahun 1898
merupakan saat yang nampaknya sangat menguntungkan bagi
Jerman.Inggris diharapkan akan meminta bantuan Jerman untuk
menghadapi Prancis,demikian pula Prancis juga akan membutuhkan bantuan
Jerman untuk menghadapi Inggris.Dalam kesempatan inilah kaisar Wilhelm
II akan merealisasi cita-citanya membentuk “Liga Kontinental” yang
beranggotakan Prancis,Rusia dan Jerman.Liga ini dimaksudkan untuk
menghadapi Inggris.
Chamberlain lebig condong pada Jerman daripada Prancis atau
Rusia.Sebab bersama dengan Jerman,mereka akan menghadapi lawannya di
Tiongkok dan daerah-daerah lain.Kemudian diajukan sebuah usul kepada
Jerman yang isinya antara lain:”Jika aliansi Jerman-Inggris berperang
menghadapi Rusia.Jerman harus menanggung serangan musuh itu sebagai
ganti Jerman akan menerima konsesi-kensesi dari Inggris di Afrika dan di
Tiongkok”.Akan tetapi Jerman menolak usulan tersebut.
Bagi Prancis masalah Fashoda juga merupakan masalah yang
pelik.Baginya ada dua jalan untu mengatasi insiden itu yaitu : menerima
usulan Jerman atau memenuhi tuntutan Inggris,ialah penarikan kembali
ekspedisi yang dipimpin oleh Marchand.Jika usulan Jerman diterima,yaitu
bergabung dalam satu aliansi dengan Jerman,berarti bahwa Prancis harus
melepas cita-cita revanche terhadap Jerman dan kemungkinan besar harus
melakukan perang dengan Inggris.Berdasarkan kenyataan bahwa di Prancis
pada waktu itu sedang menghadapi keruwetan di dalam negeri karena Dreyfus
affair dan sebagainya,ditambah lagi suara publik menghendaki agar cita-cita
revanche terhadap Jerman itu dipegang teguh,maka Diplomat Prancis yaitu
Theopile Delcasse,memutuskan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan
Inggris.Juga karena Prancis saat itu tidak siap untuk berperang,sedang
bantuan dari sekutunya belum dapat diharapkan.Akhirnya pada 3November
1898 Marchand diperintahkan untuk meninggalkan Fashoda .Dengan ini
krisis yang mengancam perdamaian Eropa dapat diatasi.

2.4. Penyelesaian Perebutan Daerah Fashoda


Penyelesaian insiden tersebut bagi prancis merupakan suatu hinaan
besar. Akan tetapi disamping kehancuran itu nampak pula segi positif bagi
kepentingan Prancis di kemudian hari,Prancis tetap memegang teguh citacita
revanche nya ,harapan untuk memperoleh kembali daerah Sungai Rhine tetap
dimiliki.Pendekatan kepada Inggris mulai nampak,sehingga menunjukkan
adanya tanda-tanda yang memungkinkan tercapainya hubungan baik antara
kedua negara yang tradisionil bermusuhan itu.
Sebaliknya penyelesaian masalah Fashoda tersebut meruapakan
kemenangan gemilang bagi pemerintahan Salisbury.Namun untuk Jerman
penyelesaian tersebut berarti kegagalan besar dalam usaha mencapai cita-
citanya.
Sesedah tentara Prancis dievakuasikan,timbulah kesukaran.Bila Sudan
masuk menjadi milik Mesir , hal ini pasti akan memuaskan pemerintahan
Mesir,Turki dan juga negara-negara lainnya di Eropa selain Inggris.Prancis
yang mengalami kekalahan besar dalam insiden Fashoda itu menyambut
dengan perasaan lega terhadap penyerahan Sudan kepada Mesir.Sebaliknya
apabila Sudan menjadi milik Inggris,Inggris akan merasa puas sekali,sedang
hak-hak bangsa Eropa di Sudan akan terjamin.Tetapi disamping itu
penguasaan Inggris terhadap Sudan berarti pelecehan terhadap Mesir dan
juga akan menciptakan kesukaran-kesukaran politik dengan Prancis.
Akhirnya tercapailah persetujuan dengan Mesir.Pada Januari 1899
ditandantangani perjanjian yang disebut Condominium Agreement.Perjanjian
ini diadakan berdasarkan saran Salisbury yang disampaikan kepada Lord
Cromer pada 2 Agustus 1898.
Dengan perjanjian itu,Sudan diperintah oleh Mesir dan Inggris,Lord
Kitchener ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal di Anglo Egyptian Sudan
itu.Pemberontakan di beberapa tempat masih tetap berlangsung,Baru pada
akhir 1899,sesudah Kahlifah “Abd Allahi meninggal,seluruh Sudan dapat
dikuasai oleh Kitchener.
Diantara negara-negara besar di Eropa,hanya Prancis sajalah yang tidak
mau mengakui kekuasaan Inggris di Sudan.Akhirnya Prancis pun mengakui
kekuasaan Condominium Inggris Mesir di Sudan berdasarkan perjanjian
bahwa : Prancis melepaskan seluruh pengaruhnya disekitar Bahr el
Ghazal,batasa antara daerah Sudan dan Congo Prancis diputuskan;Prancis
menerima Kerajaan Wadai sehingga dapat menghubungkan Congo Prancis
dengan daerah jajahannya disebelah barat laut.

  

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari dari makalah yang dibahas di atas yaitu mengenai Krisi
Fashoda, dimana Krsis Fashoda ini merupakan akibat dari sengketa dua
Negara Imperialis yaitu Inggris dan Prancis ini tidak begitu jelas. Dikarenakan
penyelesaiannya tidtak di terima oleh prancis. Sebab bagi Prancis penyelesain
Krisis ini merupakan hinaan yang besar bagi Prancis.
Hal ini terjadi karena adanya pertimbangan yang lebih mendahulukan
“Revance” terhadap Jerman dan adanya Kasus “Drayfus” maka Prancis
memilih mundur guna menghindarkan konflik yang lebih besar. Da

B. Politik Kolonial Barat di Afrika.

Ada bermacam corak ragam politik kolonial barat di Afrika, akan tetapi pada
dasarnya tujuan mereka adalah sama yaitu politik pecah belah atau adu domba. Hal ini
dilakukan untuk mempermudah didalam usaha untuk tetap menguasai tanah jajahan.
Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan politik kolonial yang dilakukan oleh
Inggris dan Prancis di Afrika. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kedua negara
tersebut yang berhasil mendominasi negara-negara di Afrika.
Politik kolonial yang dilakukan Pranci di Afrika diantaranya :

1. Politik Asimilasi/Percampuran

Dalam hal ini orang-orang pribumi di Afrika diperlakukan sama dengan orang
Prancis, perlakuan yang sama ini diberikan disegala bidang kehidupan antara lain:
Pendidikan, hukum, Sosial ekonomi maupun hak yang sama dalam Parlemen.

1. Politik Asosiasi

Pada politik ini maka Prancis melebur orang pribumi dan mencetak kembali menjadi
orang orang yang berjiwa Prancis.

1. Politik Devide At Impera

Politik ini dilakukan dengan memecah belah penduduk pribumi sehingga lebih mudah
untuk dikuasai.

1. Politik Conversion au Cristianisme

Politik ini dilakukan dengan cara mengadakan Kristenisasi terhadap penduduk


pribumi.
Sedangkan politik yang dilakukan Inggris antara lain adalah:
1.   Pola Politik C. Khodes
Politik kolonial ini dilakukan dengan penekanan kepada kepentingan imperium
Inggris atau kepentingan kaum kolonis di koloni.
2.   Pola Politik D. Livingstone.
Pada politik ini menekankan kepada pertanggungan jawab sebagai pembimbing untuk
bumi putera.
3.   Sistem pemerintahan In Direct rule
Dalam system pemerintahan ini adalah system pemerintahan tidak langsung yaitu
melalui birokrasi-birokrasi yang ada.
4.  Membiarkan tetap berlangsungnya kebiasaan-kebiasaan yang telah berlaku di
tanah jajahan.

1. Membimbing penduduk di tanah jajahan kearah pemerintahan sendiri yang


mandiri secara pelan pelan dan Evolusioner.

Jadi apabila kita bandingkan Politik kolonial dari kedua negara tersebut memang
mengalami perbedaan corak, akan tetapi pada dasarnya adalah sama yaitu sama sama
dilakukan untuk tetap bisa menguasai wilayah jajahan.
Berbeda dengan di Asia, di Afrika sebagian besar jatuh ke kaum kolonialis dan
imperialis tanpa disertai perlawanan yang hebat, walaupun ada juga yang disertai oleh
sebuah perlawanan yang hebat yang dilakukan oleh kaum nasionalis yang ada. Akan
tetapi sebagian besar negara Afrika jatuh ketanah jajahan akibat dari perjanjian
perjanjian yang diadakan antara kaum imperialis sendiri atau kaum imperialis dengan
kepala kepala suku yang ada di Afrika.
Bangsawan Britania (Inggris) memaksa raja John (1167-1216),
menandatangani MAGNA CARTA pernyataan tentang hak pribadi, yang
merupakan embrio demokrasi modern. Magna Carta atau The Great
Charter of English Liberties yang dikeluarkan guna mencegah ancaman
perang saudara, mengalami tiga kali perubahan yaitu pada tahun 1216,
1217, dan 1225. Pada masanya piagam ini belum banyak memberikan
perubahan yang berarti, namun sangat berpengaruh untuk generasi
berikutnya. Magna Carta menjadi simbol perjuangan melawan penindasan
terhadap kebebasan, Petition of Right (1628) dan Habeas Corpus Act
(1679) keduanya merujuk langsung pada pasal 39 dari Magna Carta yang
berbunyi: “no free man shall be…imprisoned or disseised [dispossessed]…
except by the lawful judgment of his peers or by the law of the land.”.
KonsitusiUSAmemperlihatkan pemikiran yang langsung berasal dari
piagam ini. (Brittanica Ensiclopoedia)