Anda di halaman 1dari 20

Modul WPPE | Pengetahuan Tentang Efek

PENGETAHUAN TENTANG EFEK


EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL

Didukung

Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower II Lantai 1, Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53,
Jakarta Selatan 12190 | Telp (021) 515 2318
www.ticmi.co.id
0
Modul Pengetahuan Tentang Efek WPPE | Edisi 2016
Modul WPPE | PTE

DAFTAR ISI

EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL

I. PASAR UANG ............................................................................................

II. PASAR MODAL .........................................................................................

II.1. Saham ........................................................................................... 1

II.2. Obligasi.......................................................................................... 5

II.3. Reksa Dana .................................................................................... 9

II.4. EXCHANGE TRADED FUND (ETF) ..................................................... 11

II.5. DANA INVESTASI REAL ESTATE (DIRE/REITs)................................... 12

II.6. Derivatif ....................................................................................... 15

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 i


Modul WPPE | PTE

EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL

UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal (UUPM), menyebutkan bahwa Pasar Modal
merupakan wadah untuk melakukan transaksi perdagangan berbagai instrumen
keuangan jangka panjang, seperti:surat utang (obligasi), ekuitas (saham), reksa
dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya.

Transaksi jual beli efek pasar modal dilakukan di Bursa Efek, yaitu pihak yang
menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan
penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek
diantara mereka.

Berdasarkan UUPM, Efek adalah surat berharga berbentuk surat pengakuan utang,
surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan,
kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap bentuk derivatif
atas efek.

Adapun Efek-efek yang ditransaksikan di Pasar Modal di Indonesia adalah sebagai


berikut:
1) Saham:
2) Obligasi
3) Unit penyertaan Reksa Dana
4) Exchange Traded Fund (ETF)
5) Efek Beragun Aset (EBA)/ABS
6) Dana Investasi Real Estate (DIRE)/REITs
7) Derivatif (rights, waran, options, futures)

II.1. SAHAM
Merupakan jenis efek yang paling sering dipergunakan oleh emiten untuk memperoleh
dana dari masyarakat dan juga merupakan jenis yang paling populer di Pasar Modal.

Jenis Saham Berdasarkan Hak Klaim


1) Saham Biasa (Common Stock)
a. Dividen hanya akan diterima jika disetujui dalam RUPS
b. Memiliki hak suara (voting rights) dalam RUPS
c. Memiliki hak terakhir (junior) atas pembagian dividen serta aset perusahaan
saat likuidasi
d. Memiliki hak untuk mengalihkan kepemilikannya kepada pihak lain
2) Saham Preferen (Preferred Stock)
a. Tidak memiliki hak suara (voting rights) dalam RUPS
b. Memiliki hak untuk menerima dividen dalam jumlah yang tetap setiap tahun
c. Memiliki hak terlebih dahulu (utama) atas pembagian dividen serta aset
perusahaan saat likuidasi
d. Memiliki hak untuk mengkonversi kepemilikannya menjadi saham biasa

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 1


Modul WPPE | PTE

Adapun jenis-jenis saham preferen adalah sebagai berikut:


1) Participating preferred (saham preferen partisipasi).
Pemegang saham memperoleh partisipasi atas sisa laba setelah
dibagikan kepada pemegang saham preferen dan saham biasa.
2) Participating Non preferred.
Pemegang saham tidak memperoleh partisipasi atas sisa laba setelah
dibagikan kepada pemegang saham preferen dan saham biasa.
3) Cummulative preferred (saham preferen kumulatif).
Dividen yang tidak dibayar dalam suatu tahun harus dibayar dalam
tahun berikutnya sebelum laba dapat dibagikan kepada pemegang
saham biasa. Jika direktur tidak mengumumkan dividen pada tanggal
pembagian dividen yang biasa, maka dividen itu disebut sebagai
“passed” (terlewat). Setiap dividen yang terlewat atas saham preferen
kumulatif merupakan dividen tertunggak (dividen in arrears).
4) Non cumulative preferred (saham preferen nonkumulatif)
Saham preferen nonkumulatif jarang diterbitkan karena dividen yang
terlewat akan hilang selamanya bagi pemegang saham preferen dan
penerbitan saham ini tidak dapat dipasarkan.
5) Convertible preferred (saham preferen konvertibel).
Pemegang saham dapat, menurut opsinya, menukar saham preferen
menjadi saham biasa pada rasio yang telah ditentukan sebelumnya.

Jenis Saham berdasarkan Bentuk Kepemilikan


1) Saham atas unjuk (Bearer Stock)
a. Pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah
dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya.
b. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui
sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

2) Saham atas nama (Registered Stock)


a. Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana
cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
b. Seluruh saham saat ini merupakan saham atas nama

Imbal Hasil Investasi Saham


Pada dasarnya, ada tiga keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau
memiliki saham:

1) Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan
berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah
mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal
ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham
tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham
tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang
berhak mendapatkan dividen.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 2


Modul WPPE | PTE

Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa:


a. Dividen tunai
Jika emiten membagikan hasil keuntungan perusahaan kepada setiap
pemegang saham dalam bentuk uang tunai untuk setiap lembar saham yang
dimiliki
b. Dividen Saham
Jika emiten membagikan hasil keuntungan perusahaan kepada setiap
pemegang saham dalam bentuk saham perusahaansesuai proporsi
kepemilikannya, sehingga jumlah saham yang dimiliki investor akan
bertambah setelah pembagian dividen saham tersebut. Dividen saham yang
dikeluarkan diambil dari pos Laba Ditahan perusahaan

2) Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain
terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.
Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000
kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal
tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang
dijualnya.

3) Saham Bonus
Saham Bonus adalah saham yang dibagikan secara cuma-cuma kepada para
pemegang saham, sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya.Bonus saham
yang dibagikan, diambil dari agio saham. Agio saham adalah selisih antara harga
jual saham terhadap harga nominalnya saat penawaran umum dipasar perdana.

Risiko Investasi Saham


Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:

1) Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor
menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli
dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus
mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga
Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.

2) Risiko Kebangkrutan
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau
perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham
mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi
(dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil
penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara
proporsional kepada seluruh pemegang saham.Namun jika tidak terdapat sisa
kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari
likuidasi tersebut.

3) Risiko Likuiditas Aset


Saham dikatakan likuid apabila mudah sekali untuk diperjual-belikan. Saham tidur
adalah istilah bagi saham yang tidak banyak diperdagangkan akibat tidak adanya
investor yang berminat untuk membeli saham karena dianggap tidak layak beli,

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 3


Modul WPPE | PTE

ataupun sebaliknya akibat tidak adanya investor yang ingin menjualnya karena
saham dianggap sangat berharga.

4) Risiko Delisting
Risiko jika saham perusahaan dikeluarkan dari papan perdagangan diBursa Efek
(delist). Suatu saham perusahaan akandi-delistingkarena kinerja perusahaan yang
buruk, seperti: kerugian besar dan/atau tidak membagikan deviden selama
beberapa tahun berturut-turut dan berbagai kondisi lainnya seperti pelanggaran
terhadap peraturan pencatatan di bursa. Adapula perusahaan yang keluar dari
bursa dengan tujuan Go Private, tidak akan merugikan investor karena perusahaan
masih tetap beroperasi dan dapat melakukan pembelian kembali saham-saham yg
diterbitkan kepada publik (Buy Back).

5) Risiko Suspending
Jika suatu saham disuspend atau diberhentikan perdagangannya oleh otoritas
bursa efek, maka investor tidak dapat melakukan perdagangan hingga status
suspend dicabut. Suspend dapat berlangsung dalam waktu singkat misalnya dalam
1 sesi perdagangan, 1 hari perdagangan namun dapat pula berlangsung dalam
kurun waktu beberapa hari perdagangan. Hal yang dapat menyebabkan
suspending adalah jika:
 Suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa,
 Suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya
 Berbagai kondisi lainnya yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan
sementara perdagangan saham tersebut untuk dimintakan konfirmasi lainnya.
Sedemikian hingga informasi yang belum jelas tersebut tidak menjadi ajang
spekulasi

6) Risiko Unik (unsystematic risk) dan Risiko Pasar (systematic risk)


Dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami
fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Harga saham terbentuk
sebagai akibatdari interaksi antara permintaan dan penawaran atas saham,
sebagai reaksi atas informasi yang diterima oleh pasar. Informasi dapat berupa
informasi yang unik dan spesifik perusahaan, seperti: kinerja perusahaan serta
kondisi industri dimana perusahaan tersebut bergerak ataupun informasi ekonomi
yang sistematik dan bersifat makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar
juga faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, budaya dan faktor
sistematik non ekonomi lainnya.

Beberapa Istilah bagi Saham dalam Mekanisme Perdagangan

Saham likuid
Saham yang dapat segera dikonversi menjadi uang, artinya ketika ingin dijual segera
ada yang membeli, dan harganya relatif stabil. Dengan kata lain saham likuid adalah
saham yang sering diperdagangkan. Bursa Efek Indonesia memiliki daftar saham
LQ45 yang terdiri dari 45 saham yang memiliki likuiditas yang tinggi, dengan
mempertimbangkan kapitalisasi pasarnya. Berdasarkan buku panduan Indeks Harga
Saham BEI, kriteria pemilihan saham yang termasuk dalam daftar saham LQ45 adalah
sebagai berikut:

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 4


Modul WPPE | PTE

a. Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan.


b. Aktivitas transaksi di pasar reguler, yaitu nilai, volume, dan frekuensi transaksi.
c. Jumlah hari perdagangan di pasar reguler.
d. Kapitalisasi pasar pada periode waktu tertentu.
e. Keadaan keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan

Saham blue chip


Saham yang menjadi buruan para investor, karena dianggap akan menghasilkan
keuntungan yang tinggi. Ciri-cirinya adalah kinerja keuangannya sehat, likuiditas
saham di pasar tinggi, ditransaksikan pada harga yang wajar, dan pergerakan atau
fluktuasi harga saham di pasar berlangsung secara wajar.

Undervalued stock
Saham dikatakan undervalued jika nilai pasarnya (market value) lebih rendah
daripada nilai bukunya (book value). Dengan kata lain, harganya lebih rendah
daripada nilai intrinsiknya.

Overvalued stock
Berlawanan dengan undervalued stock, overvalued stock adalah saham yang nilai
pasarnya (market value) lebih tinggi daripada nilai bukunya (book value).

II.2. Obligasi
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat
dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar
imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu
yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.

Jenis obligasi berdasarkan penerbitan


Corporate Bonds
Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik
negara (BUMN), atau badan usaha swasta.

Government Bonds
Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.

Municipal Bond
Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untut membiayai proyek-proyek
yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).

Foreign Bonds
Diterbitkan oleh badan hukum asing di pasar domestik dalam mata uang lokal.
contoh: Bank Mandiri menerbitkan obligasi di Amerika dalam mata uang dolar (Yankee
Bond). Istilah lain: Bulldog bond (Inggris), Samurai bond (Jepang), Matador bond
(Spanyol), Komodo bond (Indonesia).

Eurobonds
Didenominasikan dalam mata uang dolar atau mata uang lain dan dijual di luar
negara asal mata uang tersebut. Contoh: Bank Mandiri menawarkan obligasi dalam
mata uang Yen di negara selain Jepang.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 5


Modul WPPE | PTE

Jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunga


Zero Coupon Bonds
Obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga
dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo
Coupon Bonds
Obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan
ketentuan penerbitnya.
a. Fixed Coupon Bonds
Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa
penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.

b. Floating Coupon Bonds


Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu
tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time
deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari
bank pemerintah dan swasta.

Jenis obligasi berdasarkan hak penukaran/opsi


Convertible Bonds
Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan
obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.

Exchangeable Bonds
Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham
perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.

Callable Bonds
Obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada
harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut. v

Putable Bonds
Obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk
membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

Jenis obligasi berdasarkan jaminan atau kolateralnya


a. Guaranteed Bonds
Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penangguangan
dari pihak ketiga.

b. Mortgage Bonds
Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik
atas properti atau asset tetap.

c. Collateral Trust Bonds


Obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya,
misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 6


Modul WPPE | PTE

Karakteristik Obligasi
1) Memiliki Nilai Nominal (Face Value):
Nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada
saat obligasi tersebut jatuh tempo.

2) Kupon (the Interest Rate):


Nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman
pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi
dinyatakan dalam annual prosentase.

3) Waktu Jatuh Tempo (Maturity):


Tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok
atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi
mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo
dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko
yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo
dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi,
semakin tinggi Kupon / bunga nya.

Manfaat Berinvestasi Obligasi


Bagi emiten (issuer)
a) Alternatif pendanaan yang relatif murah dibandingkan pinjaman di Bank.
b) Dibandingkan menerbitkan saham, posisi kepemilikan perusahaan tidak akan
mengalami perubahan.
c) Sifat utang dalam bentuk jangka panjang memberikan fleksibilitas yang tinggi bagi
manajemen emiten dalam penggunaan dana.

Bagi investor
a) Alternatif investasi yang aman
b) Berpotensi mendapatkan capital gain
c) Kedudukan investor obligasi lebih senior dibandingkan saham
d) Mendapatkan kupon secara periodik dan pelunasan pokok diakhir umur obligasi.
e) Memperoleh penghasilan secara periodik dalam jangka waktu yang panjang.
f) Memperoleh yield yang lebih tinggi dibandingkan instrumen jangka pendek,
misalnya deposito

Imbal Hasil Investasi di Obligasi


1) Bunga
Dibayar secara reguler sampai jatuh tempo danditetapkan dalam persentase dari
nilai nominal.
Biasanya pembayaran bunga terjadi setiap 3 atau 6 bulan sekali.

2) Capital Gain
Sebelum jatuh tempo biasanya obligasi diperdagangkan di pasar sekunder,
sehingga investor mempunyai kesempatan untuk memperoleh capital gain.
Capital gain juga dapat diperoleh jika investor membeli obligasi dengan diskon

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 7


Modul WPPE | PTE

yaitu dengan nilai lebih rendah dari nilai nominalnya, kemudian pada saat jatuh
tempo ia akan memperoleh pembayaran senilai dengan harga nominal.

3) Hak klaim pertama


Jika emiten bangkrut atau dilikuidasi, pemegang obligasi sebagai kreditur
memiliki hak klaim pertama atas aktiva perusahaan.

4) Hak konversi menjadi saham untuk pemegang Obligasi Konversi


Investor dapat mengkonversikan obligasi menjadi saham pada harga yang telah
ditetapkan, dan kemudian berhak untuk memperoleh manfaat atas saham.

Risiko Investasi pada Obligasi


1) Inflation Risk: Risiko inflasi yang mendorong turunnya daya beli masyarakat
2) Political Risk: Kemungkinan terjadi nasionalisasi atau tindakan pemerintah yang
merugikan
3) Credit Risk/ Default Risk: Risiko dimana penerbit tidak dapat memenuhi
kewajibannya pada saat jatuh tempo
4) Rating Risk: Penurunan harga pasar obligasi karena lembaga pemeringkat efek
menurunkan rating/bobot nilainya.
5) Likuiditas: Risiko yang dihadapi saat investor tidak dapat menjual obligasinya
sebelum jatuh tempo, pada saat investor membutuhkan dana.
6) Interest rate risk: Risiko yang muncul akibat pergerakan suku bunga
7) Call risk: Risiko yang muncul akibat penerbit obligasi menarik kembali seluruh
atau sebagian obligasi sebelum jatuh tempo
8) Yield curve risk: Risiko yang terjadi sebagai dampak perubahan bentuk yield
curve
9) Prepayment Risk (mirip dengan call risk): Risiko yang timbul sebagai dampak
adanya pelunasan pokok obligasi yang tidak terjadwal. Biasanya pada residential
mortgage.
10) Reinvestment Risk: Risiko yang terjadi akibat bunga yang diperoleh
diinvestasikan kembali, dan memperoleh suku bunga yang lebih rendah.
11) Foreign Exchange Risk: Risiko yang terjadi akibat perubahan nilai tukar mata
uang internasional terhadap mata uang suratberharga. Risiko ini dialami jika kita
memegang obligasi dalam valuta asing.
12) Volatility Risk: Risiko yang timbul sebagai dampak dari opsi (option) yang
melekat pada obligasi (call, prepayment or put)
13) Event Risk: Risiko yang terjadi diluar pasar keuangan seperti bencana alam
maupun pengambilalihan perusahaan.
14) Public Policy Risk: Risiko akibat perubahan kebijakan pemerintah yang
mempengaruhi sektor usaha penerbit surat berharga sehingga mempengaruhi
pendapatan.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 8


Modul WPPE | PTE

Peringkat Obligasi
Untuk menentukan kualitas dan risiko dari sebuah obligasi, maka investor dapat
menggunakan peringkat atau rating obligasi. Semakin tinggi rating-nya, semakin
aman pula obligasi tersebut. Sebaliknya, semakin rendah peringkatnya, semakin
tinggi risikonya. Untuk lebih mudah dalam menyeleksi obligasi, investor bisa
memanfaatkan peringkat atau rating obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan
pemeringkat atau rating agency.

Di pasar internasional, ada beberapa lembaga pemeringkat yang selalu menjadi acuan
pelaku pasar, yakni Moody's, Standard & Poors (S&P), dan Fitch Rating. Sedangkan
lembaga pemeringkat lokal di Indonesia adalah Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

II.3. REKSA DANA


Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal,
khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian
untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana
untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai
keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan
yang terbatas. Selain itu Reksa dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran
pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Jenis Reksa Dana Berdasarkan Isi Portofolio

Reksa Dana Reksa Dana Reksa Dana Reksa Dana


Saham Campuran Pendapatan Pasar Uang
Tetap
Portofolio Min 80% Max 79% Min 80% Min 80%
saham instumen obligasi instrumen
pasar uang pasar uang
Risiko & Tinggi Moderat Moderat Rendah
Return
Tujuan Jangka panjang Jangka Jangka Jangka pendek
Investasi (min 5 tahun) menengah menengah (max 1 tahun)
(1-3 tahun) (1-3 tahun)

Reksa Dana Terstruktur


Adalah reksa dana yang hanya dapat dibeli atau dijual kembali oleh investor pada
saat tertentu yang ditentukan oleh Manajer Investasi. Reksa dana ini terdiri dari:

1) Reksa Dana Terproteksi (Capital Protected Fund)


a. Reksa Dana yang memberikan proteksi atas investasi awal melalui
mekanisme pengelolaan portofolio pada efek bersifat utang yang masuk
dalam kategori layak investasi (investment grade)
b. Nilai pokok yang diinvestasikan tidak akan berkurang walaupun NABnya
negative
c. Investor tetap akan mendapatkan imbal hasil jika dana yang dikelola
memberikan keuntungan

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 9


Modul WPPE | PTE

2) Reksa Dana Penjaminan (Guaranted Fund)


a. Reksa Dana ini mirip dengan RD Terproteksi yang minimum 80% dari
aktivanya ditempatkan pada efek bersifat utang yang masuk dalam kategori
layak investasi (investment grade)
b. Bedanya adalah terdapat lembaga yang akan menjadi penjamin investasi
(biasanya asuransi)

3) Reksa Dana Indeks (Index Fund):


a. Reksa Dana yang portofolio Efeknya terdiri atas Efek yang menjadi konstituen
pada suatu indeks yang menjadi acuannya. Sekurang-kurangnya 80% dari
nilai aktivanya wajib diinvestasikan pada efek yang merupakan bagian dari
kumpulan Efek yang ada dalam indeks tersebut
b. Hasil investasi reksadana indeks ini akan mengikuti pergerakan indeks yang
menjadi acuannya sehingga termasuk jenis RD yang memiliki risiko tinggi.

Nilai Aktiva Bersih (NAB)


NAB adalah nilai total aktiva bersih yang dihitung dari nilai pasar setiap jenis aset
investasi dalam Reksa Dana (saham, obligasi, surat berharga pasar uang, serta
deposito) ditambah dividen saham dan bunga kupon obligasi, kemudian dikurangi
biaya operasional reksa dana seperti biaya MI, biaya Bank Kustodian, dan lain-lain.

Contoh Cara Menghitung Pembelian Unit Penyertaan (Subscription)


Tanggal 1 Agustus 2009 Pak Agus membeli Reksa Dana Saham “ABC “sejumlah Rp.
100.000.000,- dimana saat itu NAB Reksa Dana Rp. 1.250,- dan besarnya biaya
pembelian adalah 1%. Berapa besar unit penyertaan yang diperoleh?

Unit Penyertaan (UP) = Jumlah Pemesanan x (1 - SF)


NAB
= 100.000.000 X (1 – 0,01)
1.250
= 79.200 Unit Penyertaan

Contoh Cara Menghitung Penjualan kembali Unit Penyertaan (Redemption)


Tanggal 25 September 2010 pak Agus menjual kembali unit penyertaan yang
dimilikinya sejumlah 79.200 UP, saat penjualan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana yang
dimiliki Rp. 1.325,- per unit. Biaya penjualan kembali (Redemption) sebesar 1 %,
berapa besar nilai pencairan yang diperoleh pak Agus?

Nilai Pencairan = (UP x NAB) – F (UP x NAB)


= (79.200 x 1.325) – 1 %(79.200 x 1.325)
= 103.890.600
Contoh lain :
Tanggal 24 September 2011 Pak Aswin menjual kembali unit penyertaan yang
dimilikinya sejumlah 10.000 UP, saat penjualan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana yang
dimiliki Rp. 5.000 per unit. Biaya penjualan kembali (Redemption) sebesar 1 %,
berapa besar nilai pencairan yang diperoleh pak Aswin?

Nilai Pencairan = (UP x NAB) – F (UP x NAB)


= (10.000 x 5.000) – 1 %(10.000 x 5.000)
= 49.500.000

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 10


Modul WPPE | PTE

II.4. EXCHANGE TRADED FUND (ETF)


ETF atau Exchange Traded Fund secara sederhana dapat diartikan sebagai Reksa
Dana yang diperdagangkan di Bursa. Sama seperti reksa dana konvensional, ETF
merupakan Kontrak Investasi Kolektif, perbedaannya adalah unit penyertaan ETF
dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa seperti saham. Sebagaimana halnya reksa
dana konvensional, dalam ETF terdapat pula manajer investasi dan bank kustodian.
Akan tetapi, ETF juga mengenal satu pihak lagi yang memiliki peran penting dalam
perdagangan, yaitu market maker. Market maker adalah broker yang ditunjuk oleh
manajer investasi untuk bertanggung jawab dalam menyediakan likuiditas ETF,
sehingga ETF bisa dibeli dengan harga dan jumlah yang diinginkan oleh pasar.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara ETF dengan reksa dana
saham dan saham.

Gambar 1 – Perbandingan Saham, Reksa Dana Saham, ETF

Saham Reksa Dana ETF


Saham
Perdagangan Via Bursa Efek Via Manajer Via Bursa Efek
Investasi
Agen penjual Broker • Manajer Broker
Investasi
• Bank
• WAPERD
Minimum 1 lot (100 lembar) 1 unit Pasar primer:
pembelian Creation unit ( =
1000 lot = 100.000
unit)
Pasar sekunder: 1
Lot (100 unit)
Harga Real time Akhir hari Real time
Underlying Tidak ada Saham Underlying Index

Market Tidak ada Tidak ada Ada


maker

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 11


Modul WPPE | PTE

Gambar 2 - Mekanisme Perdagangan ETF (Pembelian)

II.5. DANA INVESTASI REAL ESTATE (DIRE/REITs)


DIRE atau dikenal juga sebagai Real Estate Investment Trust adalah salah satu sarana
investasi baru yang secara hukum di Indonesia akan berbentuk KIK. DIRE diartikan
sebagai kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan investasi akan diinvestasikan
ke bentuk aset properti baik secara langsung seperti membeli gedung maupun tidak
langsung dengan membeli saham/obligasi perusahaan properti. DIRE merupakan
sebuah alternative pendanaan real estate/properti yang efisien. Selama ini
perusahaan properti di Indonesia masih menggunakan dana segar melalui skema IPO.

DIRE adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat
pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan kembali pada aset real estat, aset yang
berkaitan dengan real estat atau kas dan setara kas, dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Minimal 50% dari Nilai Aktiva Bersih diinvestasikan pada aset real estat
2. Minimal 80% dari Nilai Aktiva Bersih diinvestasikan pada aset real estat dan aset
yang berkaitan dengan real estate, dengan tetap memperhatikan ketentuan pada
poin 1 di atas
3. Maksimal 20% dari NAB diinvestasikan pada kas dan setara kas
4. Dilarang berinvestasi pada tanah kosong atau property yang masih dalam tahap
pembangunan

Karakteristik DIRE
 Investasi dilakukan pada aset Real Estate, yaitu tanah secara fisik termasuk
bangunan yang ada di atasnya
 Memiliki pendapatan yang relatif stabil
 Aset yang berkaitan dengan real estat adalah efek perusahaan real estat
yang tercatat di Bursa Efek dan atau diterbitkan oleh perusahaan real estat
 Aset yang menjadi portofolio dana investasi real estat berbentuk KIK harus
memiliki hukum yang kuat, sah dan mudah ditransaksikan
 Seluruh atau sebagian besar Pendapatan (minimal 90% dari laba bersih)
wajib didistribusikan kepada investor

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 12


Modul WPPE | PTE

Gambar 3 - Struktur DIRE dengan skema Direct Investment

Gambar 4 - Struktur DIRE dengan skema melalui Special Purpose Company


(SPC)

II.6. EFEK BERAGUN ASET (EBA)


Menurut Peraturan Bapepam LK No.IX.K.1, Efek Beragun Aset adalah Efek yang
portofolionya terdiri dari aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat
berharga komersial, tagihan kartu kredit, tagihan yang timbul di kemudian hari
(future receivables), pemberian kredit termasuk kredit pemilikan rumah atau
apartemen, Efek bersifat hutang yang dijamin oleh Pemerintah, Sarana Peningkatan
Kredit (Credit Enhancement)/Arus Kas (Cash Flow), serta aset keuangan setara dan
aset keuangan lain yang berkaitan dengan aset keuangan tersebut.

EBA merupakan salah satu bentuk efek pendapatan tetap (fixed income) yang
memberikan imbal hasil rutin seperti obligasi pada umumnya. Di pasar modal
internasional, EBA dikenal dengan istilah Asset Backed Securities (ABS).

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 13


Modul WPPE | PTE

Karena yang diagunkan merupakan aset-aset yang tidak likuid, maka EBA
membutuhkan proses yang dinamakan sekuritisasi agar aset tersebut menjadi likuid.
Ada beberapa prinsip sekuritisasi yang perlu diperhatikan:

 True sale
Terjadinya jual putus (true sale) aset keuangan dari kreditur asal kepada
investor. Aset keuangan tersebut dikeluarkan (derecognized) dari neraca
kreditur asal, sehingga transaksi sekuritisasi sering dinamakan juga off-
balance sheet financing.

 Bankruptcy remoteness
Merupakan perlindungan bagi investor dimana aset keuangan yang menjadi
underlying EBA tidak dapat dikenakan sita umum sebagai akibat dari adanya
pernyataan pailit.

 Perfection of the security interest


Melalui pengikatan legal yang dilakukan, aset yang menjadi underlying
transaksi sekuritisasi akan sepenuhnya menjadi hak investor dan tidak bisa
diklaim oleh pihak lain.

Terdapat setidaknya dua jenis EBA yaitu EBA berbentuk Kontrak Investasi Kolektif
(KIK) dan EBA berbentuk Surat Partisipasi (SP), dimana perbedaannya dapat dilihat
pada proses penerbitan & transaksi EBA berikut.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 14


Modul WPPE | PTE

II.7. DERIVATIF
Efek derivatif merupakan Efek turunan dari Efek “utama” baik yang bersifat
penyertaan maupun utang. Efek turunan dapat berarti turunan langsung dari Efek
“utama” maupun turunan selanjutnya. Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian
yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini
disebut sebagai underlying assets.

Dalam pengertian yang lebih khusus, derivatif merupakan kontrak finansial antara 2
(dua) atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual
assets/commodities yang dijadikan sebagai obyek yang diperdagangkan pada waktu
dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak
pembeli. Adapun nilai di masa mendatang dari obyek yang diperdagangkan tersebut
sangat dipengaruhi oleh instrumen induknya yang ada di spot market.

Instrument derivatif yang terdapat di Bursa Efek adalah derivatif keuangan (financial
derivative). Derivatif keuangan merupakan instrumen derivatif, di mana variabel-
variabel yang mendasarinya adalah instrumen-instrumen keuangan, yang dapat
berupa saham, obligasi, indeks saham, indeks obligasi, mata uang (currency), tingkat
suku bunga dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.

Instrumen-instrumen derivatif sering digunakan oleh para pelaku pasar (pemodal dan
perusahaan efek) sebagai sarana untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas
portofolio yang mereka miliki.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 15


Modul WPPE | PTE

Futures

Futures adalah kontrak untuk membeli atau menjual suatu efek (dapat berupa indeks,
saham, obligasi, dll) di masa mendatang dengan harga dan waktu yang telah
disepakati. Index futures misalnya, merupakan kontrak berjangka yang
menggunakan underlying berupa indeks saham. Salah satu aplikasi konsep futures
yang sudah lama digunakan di Indonesia adalah sistem ijon, dimana penjual membuat
kesepakatan kepada pembeli untuk menjual produk dalam harga tertentu di waktu
yang telah ditentukan, berapapun harga pasar yang berlaku saat itu. Untung/ruginya
penjual maupun pembeli akan diketahui ketika mereka mengetahui harga tersebut
nantinya. Futures memiliki karakteristik yang mirip dengan forward, namun salah satu
perbedaannya adalah futures diperdagangkan di bursa efek, sehingga transaksinya
melibatkan banyak pihak.

Keuntungan futures:

• Sarana Lindung Nilai (Hedging)


Dengan index futures, kerugian investasi pada saham yang memiliki beta
mendekati beta portofolio dapat di kompensasi dengan keuntungan pada
kontrak.

• Leveraging
Dengan modal terbatas, mampu menghasilkan potensi keuntungan yang sama
bahkan lebih besar daripada investasi pada saham.

• Bullish, Bearish Potensi Untung


Jika investor memperkirakan harga berpotensi naik, maka investor dapat
mengambil posisi buy, sebaliknya apabila perkiraan harga akan berpotensi
turun maka investor dapat mengambil posisi sell.

Dalam index futures, pembeli futures harus memperhatikan harga indeks yang
berlaku saat itu, harga indeks yang diprediksi, margin awal, dan harga penyelesaian
harian (HPH) yang ditetapkan di akhir hari. Marjin awal akan dikembalikan ketika
pembeli menjual futuresnya. Marjin awal yang ditetapkan BEI untuk LQ45 futures
adalah sebesar adalah 4% x harga indeks x Rp500.000 x jumlah kontrak.

Contoh aplikasi index futures:

Pada 23 Januari, Pak Jimmi membeli 1 kontrak LQ45 futures ketika indeks LQ45
berada di angka 752,55 karena diprediksi harga indeks akan naik. HPH pada saat itu
adalah 753,55. Pada 24 Januari, berapa profit/loss yang dihasilkan apabila indeks
berada di level 758,55?

23 Jan
Margin awal: (4% x 752,55 x Rp500.000,00 x 1 kontrak) = Rp15.051.000
HPH (profit): (753,55 – 752,55) x Rp500.000,00 = Rp500.000,00

24 Jan
Trading profit: Profit HPH + (758,55 – 753,55) x Rp500.000,00 = Rp3.000.000,00
Total profit: Marjin awal + trading profit
Rp15.051.000 + Rp3.000.000 = Rp18.031.000

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 16


Modul WPPE | PTE

CONTOH SOAL
Pada 24 April, Bu Grace membeli 1 kontrak LQ45 futures ketika indeks LQ45 berada
di angka 800 karena diprediksi harga indeks akan naik. HPH pada saat itu adalah 801.
Pada 25 April, berapa profit/loss yang dihasilkan apabila indeks berada di level 805?

Jawaban
24 Apr
Margin awal: (4% x 800 x Rp500.000,00 x 1 kontrak) = Rp16.000.000
HPH (profit): (801 – 800) x Rp500.000,00 = Rp500.000,00

25 Apr
Trading profit: Profit HPH + (805-801) x Rp500.000,00 = Rp2.500.000
Total profit: Marjin awal + trading profit
Rp16.000.000 + Rp2.500.000 = Rp18.500.000

Options

Options adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk
membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu yang ditetapkan (strike
price) dalam jangka waktu tertentu. Biaya penjualan/pembelian dari options dari
tersebut dikenal dengan istilah premium.

Jenis Opsi:
a) Call Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi
(taker) untuk membeli sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang
menjadi dasar kontrak tersebut.
b) Put Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi
(taker) untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang
menjadi dasar kontrak tersebut.

Options diperdagangkan dengan dua metode, yaitu American style dan European
Style. American style memberikan kesempatan kepada pemegang options (taker)
untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo. Sedangkan
European style hanya memberikan kesempatan kepada taker untuk meng-exercise
haknya pada saat waktu jatuh tempo.

Contoh aplikasi options:

Pak Banyu membeli call options saham ASII (1 kontrak = 10.000 saham) dengan
jatuh tempo dengan harga pelaksanaan Rp6.000, ditransaksikan pada harga Rp120
per saham. Premium yang dibayarkan sebesar Rp1.200.000 (Rp120 x 10.000 saham).

Pak Banyu dapat atau tidak melaksanakan haknya, tergantung pada harga ASII di
pasar spot.

 Dalam hal harga spot ASII Rp6.000 atau lebih rendah, maka sebaiknya
pembeli call tidak melaksanakan (exercise) hak sampai dengan jatuh tempo.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 17


Modul WPPE | PTE

 Jika harga spot ASII Rp6.120, pembeli call dapat melaksanakan haknya pada
strike price Rp6,000 dan menjualnya di pasar spot pada harga Rp6.120, maka
profit yang diperoleh pembeli call sebesar Rp0 : (Rp6.120 - Rp6.000) x 10.000)
– Rp1.200.000 (premium yang dibayarkan).
 Jika harga spot ASII Rp6.240, pembeli call dapat melaksanakan haknya pada
strike price Rp6.000 dan menjualnya di pasar spot pada harga Rp6.240, maka
profit yang diperoleh pembeli call sebesar Rp1.200.000 : (Rp6.240 – Rp6.000)
x 10.000) – Rp1.200.000 (premium yang dibayarkan).
 Jika harga spot ASII Rp10.000, pembeli call dapat melaksanakan haknya pada
strike price Rp6.000 dan menjualnya di pasar spot pada harga Rp10.000, maka
profit yang diperoleh pembeli call sebesar Rp38.800.000 : (Rp10.000 –
Rp6.000) x 10.000) – Rp1.200.000 (premium yang dibayarkan).

CONTOH SOAL

Bu Heidy membeli call options saham BNBR dengan jatuh tempo dengan harga
pelaksanaan Rp5.000, ditransaksikan pada harga Rp100 per saham. Premium yang
dibayarkan sebesar Rp1.000.000 (Rp100 x 10.000 saham). Berapakah
keuntungan/kerugian yang diterima apabila harga BNBR yang berlaku pada saat itu
adalah Rp5.500?

Jawaban : (Rp5.500 – Rp5.000) x 10.000) – Rp1.000.000 = Profit Rp4.000.000.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2018 18