Anda di halaman 1dari 32

PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA

SAINTIKA] 2019/2020

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumor mammae merupakan kelainan mammae yang sering terjadi pada wanita.

Tumor terbagi memjadi dua, tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak memiliki ciri-ciri

tumbuh secara terbatas, memiliki selubung, tidak menyebar dan bila dioperasi dapat

dikeluarkan secara utuh sehingga dapat sembuh sempurna, sedangkan tumor ganas

memiliki ciri-ciri yaitu dapat menyusup ke jaringan sekitarnya, dan sel kanker dapat

ditemukan pada pertumbuhan tumor tersebut. Fibroadenoma merupakan tumor jinak yang

sering ditemukan, pada kelainan ini terjadi pertumbuhan jaringan ikat maupun kelenjar,

yang banyak ditemukan pada wanita usia muda 10-30 tahun (www.depkes.go.id). Di

seluruh dunia 8,2 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat kanker. Diperkirakan

pada tahun 2025 jumlah orang meninggal dunia akibat kanker meningkat menjadi 11,5 juta

bila tidak dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian yang efektif. Berdasarkan

estimasi Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012,

kanker mammae adalah kanker dengan persentase kasus baru tertinggi (43,3%) dan

persentase kematian tertinggi (12,9%) pada perempuan di dunia. Di Indonesia berdasarkan

data sensus tahun 2014- 2015 jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Selain

itu BPS menunjukkan dari total tersebut penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa dan

perempuan sebanyak 126, 8 juta jiwa. Ketua Yayasan Kanker Mammae Indonesia

(YLKPI), Linda Gumelar mengatakan kanker mammae merupakan jenis kanker tertinggi

pada klien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh RS di Indonesia. Pada tahun 2010

jumlah klien kanker mammae 28,7 persen dari total penderita kanker. Secara umum

prevalensi penyakit kanker di Indonesia cukup tinggi.

Menurut data riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi kanker di Indonesia adalah

1,4% dari 1000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Di Indonesia kasus baru kanker

mammae menjadi kasus kematian tertinggi dengan angka 21,5% pada setiap 100.000

penduduk, sekitar 70% kasus klien kanker mammae baru datang ke fasilitas kesehatan pada

stadium lanjut. Di RSUD Arosuka pada tahun 2020 operasi tumor mammae dengan jumlah
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

kasus sebanyak 10 kasus. (konsul ni Lusi).

Dengan semakin banyaknya kasus tumor mammae maka penting bagi kita sebagai

perawat untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Berdasarkan

hal-hal yang dikemukakan di atas penulis ingin menyusun seminar kasus yang berjudul

Asuhan Keperawatan Pada Klien Nn. Y dengan Post Op Tumor Mammae Bilateral Di

Ruang Bedah RSUD Arosuka.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Melakukan asuhan keperawatan pada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae di Ruang

Bedah RSUD Arosuka.

2. Tujuan Khusus

Melakukan pengkajian kepada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae Bilateral

a. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae

Bilateral

b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien Nn. Y dengan Tumor Mammae

Bilateral

c. Melakukan tindakan keperawatan, evaluasi tindakan dan evaluasi hasil pada klien

Nn. Y dengan Tumor Mammae Bilateral


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Tumor Mammae

1. Defenisi

Tumor mammae adalah adalah karsinoma yang berasal dari parenkim, stroma,

areola dan papilla mammae (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010). Tumor mammae adalah

gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae di mana sel abnormal timbul dari

sel-sel normal, berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah.

(Kusuma, 2015).

2. Etiologi

Menurut Iskandar (2010) sampai saat ini, penyebab pasti tumor mammae belum

diketahui. Namun, ada beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi, yaitu :

a. Jenis kelamin

Wanita lebih beresiko menderita tumor mammae dibandingkan dengan pria.

Prevalensi tumor mammae pada pria hanya 1% dari seluruh tumor mammae.

b. Riwayat keluarga

Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor mammae beresiko tiga

kali lebih besar untuk menderita tumor mammae.

c. Faktor genetik

Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13 dapat

meningkatkan resiko tumor mammae sampai 85%. Selain itu, gen p53, BARD1,

BRCA3, dan noey2 juga diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker mammae.

d. Faktor usia

Resiko tumor mammae meningkat seiring dengan pertambahan usia.

e. Faktor hormonal

Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya

tumor mammae.

f. Usia saat kehamilan pertama

Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan hamil

pada usia kurang dari 20 tahun.

g. Terpapar radiasi

h. Intake alkohol

i. Pemakaian kontrasepsi oral

Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor mammae. Penggunaan

pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan

penggunaan pada usia lebih tua.

3. Patofisiologi

Tumor merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri-ciri: proliferasi sel yang

berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur jaringan

sekitarnya.Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan

proliferasi yang tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan

menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ

yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya.

Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi transformasi

maligna dan berubah menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal.

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:

a. Fase induksi: 15-30 tahun

Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi faktor lingkungan

mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.Kontak

dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah

jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan

konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya

terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko- karsinogen lain, kerentanan jaringan dan

individu.
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

b. Fase in situ: 1-5 tahun

Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre- cancerous yang bisa

ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru- paru, saluran cerna, kandung kemih,

kulit dan akhirnya ditemukan di mammae.

c. Fase invasi

Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi melalui membrane sel ke

jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe. Waktu antara fase ke 3 dan ke 4

berlangsung antara beberapa minggu sampai beberapa tahun.

d. Fase diseminasi: 1-5 tahun

Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain

bertambah.

4. Tanda dan Gejala

Penemuan tanda-tanda dan gejala sebagai indikasi tumor mammae masih sulit

ditemukan secara dini. Kebanyakan dari kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh

wanita itu sendiri.

a. Terdapat massa utuh (kenyal) biasanya pada kuadran atas dan bagian dalam, di bawah

lengan, bentuknya tidak beraturan dan terfiksasi (tidak dapat digerakkan).

b. Nyeri pada daerah massa

c. Adanya lekukan ke dalam/dimping, tarikan dan retraksi pada area mammae.Dimpling

terjadi karena fiksasi tumor pada kulit atau akibat distorsi ligamentum cooper. Cara

pemeriksaan: kulit area mammae dipegang antara ibu jari dan jari telunjuk tangan

pemeriksa lalu didekatkan untuk menimbulkan dimpling.

d. Edema dengan Peaut d’orange skin (kulit di atas tumor berkeriput seperti kulit jeruk)

e. Pengelupasan papilla mammae

f. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting susu serta keluarnya cairan secara

spontan kadang disertai darah.

g. Ditemukan lesi atau massa pada pemeriksaan mamografi.

5. Pemeriksaan penunjang

a. Laboratorium meliputi:

1) Morfologi sel darah


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

2) Laju endap darah

3) Tes faal hati

4) Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma

b. Pemeriksaan sitologik

Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang keluarspontan dari

putting mammae, cairan kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi.

c. Mammagrafi

Pengujian mammae dengan menggunakan sinar untuk mendeteksi secara dini.

Memperlihatkan struktur internal mammae untuk mendeteksi kanker yang tidak teraba

atau tumor yang terjadi pada tahap awal. Mammografi pada masa menopause kurang

bermanfaat karena gambaran kanker di antara jaringan kelenjar kurang tampak.

d. Ultrasonografi

Biasanya digunakan untuk mendeteksi luka-luka pada daerah padat pada mammae

ultrasonography berguna untuk membedakan tumor sulit dengan kista. Kadang-kadang

tampak kista sebesar sampai 2 cm.

e. Thermography

Mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal dari mammae atau mengidentifikasi

pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena peningkatan suplai darah dan

penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.

f. Xerodiography

Memberikan dan memasukkan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-pembuluh darah

dan jaringan yang padat. Menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi tumor.

g. Biopsi

Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atau ganas, dengan cara

pengambilan massa. Memberikan diagnosa definitif terhadap massa dan berguna

sebagai klasifikasi histologi, pentahapan dan seleksi terapi

h. CT-Scan

Dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma mammae pada organ lain.

i. Pemeriksaan hematologi

Yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan

sendimental dan sentrifugis darah.


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

6. Penatalaksanaan

Ada beberapa penanganan tumor mammae, antara lain:

a. Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis mastektomi, yaitu:

1) Modified radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae,

jaringan mammae di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga serta benjolan di

sekitar ketiak.

2) Total (simple) mastectomy, yaitu pengangkatan di seluruh mammae saja, tetapi

bukan kelenjar ketiak.

3) Radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian darimammae. Biasanya

disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada bagian yang mengandung

sel kanker, bukan seluruh mammae.

b. Radiasi

c. Kemoterapi

7. Pencegahan

Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di

mammaenya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan

dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, mammae agak

membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai

berikut:

a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada mammae.

Biasanya kedua mammae tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian

yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke

dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu,

segeralah pergi ke dokter.

b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua mammae.

c. Bungkukkan badan hingga mammae tergantung ke bawah, dan periksa lagi.

d. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah

bantal di bawah bahu kiri. Rabalah mammae kiri dengan telapak jari-jari kanan.

Periksalah apakah ada benjolan pada mammae. Kemudian periksa juga apakah ada

benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri. Periksa dan rabalah puting susu dan
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan

akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras

dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada

sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini

penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan

hal yang sama untuk mammae dan ketiak kanan.

8. WOC

Faktor predisposisi
dan resiko tinggi Mendesak sel syaraf Interupsi sel
hiperplasi syaraf
pada sel maame Gangguan pola tidur (D.0055) Nyeri (D.0077)

Mendesak jaringan sekitar Mensuplai nutrisi Mendesak pembuluh


ke darah
Menekan jaringan jaringan Ca
Hipermetabolisme ke Aliran darah
pada maame
jaringan terhambat Hipoksia
Peningkatan Nekrosis jaringan
Penurunan
konsistensi maame
hipermetabolisme Bakteri patogen
jaringan
Penurunan berat badan
Resiko infeksi
Defisit nutrisi (D.0019) (D.0142)

Peningkatan konsistensi Kesulitan dalam bergerak


Ukuran maame abnormal
maame
Massa tumor mendesak Mamae ansimetris
kejaringan Gangguan citraDefisit pengetahuan
(D.0111)
tubuh (D.0083)Ansietas (D.0080)

Perfusi jaringan Infiltrasi pleura


terganggu peritalr
ulkus Ekspansi paru
menurun
Kerusakan integritas Hambatan mobilitas fisik
Pola nafas tidak efektif
kulit /jaringan (D.0054)
(D.0129) (D.0005)
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

B. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang

menekan mammae, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras,

bengkak dan nyeri.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu

Adanya riwayat tumor mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae,

kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada

sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu klien juga mengalami tumor mammae berpengaruh pada kemungkinan klien

mengalami tumor mammae.

d. Pemeriksaan Fisik

1) Kepala : Normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya


bulat dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian
posterior.
2) Rambut : Biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak
terlalu berminyak.

3) Mata : Biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata.


Mata anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
4) Telinga : Normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-
tanda infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
5) Hidung : Bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri
tekan.
6) Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
7) Leher : Biasanya terjadi pembesaran KGB.
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

8) Dada : Adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling,


ulserasi atau tanda-tanda radang.
9) Hepar : Biasanya tidak ada pembesaran hepar.
10) Ekstremitas : Biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

2. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon

a. Persepsi dan Manajemen

Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada

mammaenya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.

1. Nutrisi – Metabolik

Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah

dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi

makanan mengandung MSG.

2. Eliminasi

Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena,

nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.

3. Aktivitas dan Latihan

Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan latihan klien

terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.

4. Kognitif dan Persepsi

Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga

kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.

5. Istirahat dan Tidur

Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.

6. Persepsi dan Konsep Diri

Mammae merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan

akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan

kehilangan haknya sebagai wanita normal.


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

7. Peran dan Hubungan

Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam

melakukan perannya dalam berinteraksi sosial.

8. Reproduksi dan Seksual

Biasanya akan ada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat

kepuasan.

9. Koping dan Toleransi Stress

Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan

keputusasaan.

10. Nilai dan Keyakinan

Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan

lapang dada.

b. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisiologis

2. Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan prosedur bedah

3. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan prosedur bedah

4. Gangguan pola tidur

5. Hambatan Mobilitas Fisik

6. Resiko Infeksi

c. Rencana Keperawatan
Diagnosa
NOC Intervensi
Keperawatan
Nyeri Akut Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
berhubungan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
dengan agen 2 x 12 jam masalah keperawatan dapat komprehensif termasuk lokasi ,
injuri fisiologis teratasi dengan kriteria hasil : karakteristik, durasi, frekuensi,
a. Mengenali kapan nyeri terjadi di kualitas, intensitas dan faktor
tingkatkan dari kadang-kadang pencetus nyeri
menunjukkan (3) ke sering 2. Berikan informasi mengenai
menunjukkan (4). nyeri seperti penyebab, berapa
b. Menggambarkan faktor penyebab lama nyeri dan antisipasi
nyeri ditingkatkan dari kadang- ketidaknyamanan akibat
kadang menujukkan (3) ke sering prosedur
menunjukkan (4) 3. Kontrol lingkungan yang dapat
c. Melaporkan nyeri yang terkontrol mempengaruhi nyeri (misal :
ditingkatkan dari kadang – kadang suhu ruangan, pencahayaan , dan
menunjukkan (3) ke sering
kebisingan)
menunjukkan (4)
4. Ajarkan prinsp-prinsip
d. Mengenali apa yang terkait dengan manajemen nyeri
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

nyeri ditingkatkan dari kadang- 5. Ajarkan teknik nonfarmakologis


kadang menunjukkan (3) ke sering (misal : hipnosis, relaksasi,
menunjukkan (4) akupresur, pijatan, sensasi
dingin/panas, distraksi, terapi
bermain, terapi aktivitas, terapi
musik) baik sebelum, setelah,
bahkan selama terjadi nyeri bila
memungkinkan
6. Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
pengurangan nyeri
7. Dorong klien untuk
mengungkapkan pengalaman
nyerinya

Pemberian Analgesik
1. Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, keparahan nyeri
sebelum mengobati pasien
2. Cek perintah pengobatan
meliputi, obat, dosis, dan
frekuensi obat analgetik yang
diresepkan.
3. Cek adanya alergi obat.
4. Berikan analgesik sesuai waktu
paruhnya terutama pada nyeri
yang berat
5. Dokumentasikan respon terhadap
analgetik dan adanya efek
samping
Kerusakan Penyembuhan Luka Primer Perawatan Luka
Integritas Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Angkat balutan dan plester
Jaringan b.d 2 x 12 jam masalah keperawatan dapat perekat
prosedur teratasi, dengan kriteria hasil : 2. Monitor karakteristik luka,
bedah termasuk drainase, aroma dan
a. Memperkirakan kondisi kulit dari
bau.
sedang (3) ditingkatkan ke sangat
3. Ukur luas luka yang sesuai
besar (5).
4. Bersihkan dengan normal salin
b. Memperkirakan kondisi tepi luka
atau pembersih yang tidak
dari sedang (3) ditingkatkan ke
beracun dengan tepat
sangat besar (5).
5. Berikan rawatan insisi pada luka,
c. Pembentukan bekas luka dari
yang diperlukan
sedang (3) ditingkatkan ke sangat
6. Berikan balutan yagn sesuai,
besar (5).
dengan jenis luka
7. Perkuat balutan luka sesuai
kebutuhan
8. Pertahankan teknik balutan steril
ketika melakukan perawatan luka
dengan tepat
9. Periksa luka setiap kali
perubahan balutan
10.Bandingkan dan catat setiap
perubahan luka
11.Anjurkan pasien dan keluarga
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

untuk mengenal tanda dan gejala


infeksi

Perlindungan Infeksi
1. Monitor adanya tanda dan gejala
infeksi sistemik dan local
2. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
3. Batasi jumlah pengunjung yang
sesuai
4. Periksa kondisi sayatan bedah
atau luka
5. Tingkatkan asupan nutrisi
6. Jaga penggunaan antibiotic
dengan bijaksana
7. Ajarkan pasien dan keluarga
bagaimana cara menghindari
infeksi
Gangguan Citra Diri Peningkatan Citra Tubuh
Citra Tubuh Setelah dilakukan 2 x 12 jam 1. Tentukan harapan citra diri
b.d Prosedur masalah keperawatan dapat teratasi pasien didasarkan pada tahap
Bedah perkembangan
dengan kriteria hasil :
1. Gambaran internal diri ditingkatkan 2. Gunakan bimbingan antisipatif
pada kadang-kadang positif (3) ke menyiapkan pasien terkait
konsisten positif (5) dengan perubahan-perubahan
citra tubuh yang (telah)
2. Penyesuaian terhadap perubahan diprediksikan
status kesehatan ditingkatkan dari
kadang-kadang positif (3) ke konsisten 3. Monitor frekuensi dari
posistif (5) pernyataan mengkritisi diri
3. Penyesuaian terhadap perubahan 4. Bantu pasien untuk
tubuh akibat pembedahan ditingkatkan mendiskusikan stressor yang
dari kadang-kadang positif (3) ke mempengaruhi citra diri terkait
konsisten positif (5) dengan pembedahan
5. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi bagian dari
tubuhnya yang memiliki persepsi
positif terkait dengan tubuhnya
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

BAB III

KASUS DAN PEMBAHASAN

KASUS

Hari/Tanggal : Jum’at, 07 Februari 2020

Jam : 09.00 WIB

Tempat : Ruang Bedah RSUD Arosuka

Oleh : Kelompok 15 D Profesi Ners STIKES Syedza

Sumber data : Klien dan status Rekam Medis

Metode : Wawancara dan Pemeriksaan Fisik

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

a. Klien

1) Nama Klien : Nn. Y

2) Tempat Tgl Lahir : 18 tahun

3) Jenis Kelamin : Perempuan

4) Agama : Islam

5) Pendidikan : SMA

6) Pekerjaan : Pelajar

7) Status Perkawinan : Belum Kawin

8) Suku/ Bangsa : Minang

9) Alamat : Simpang Tanjung Nan Ampek


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

10) Diagnosa Medis : Tumor Mammae Bilateral

11) No. MR : 731220

12) Tanggal Masuk RS : 04 Februari 2020

b. Penanggung Jawab/ Keluarga

1) Nama : Tn. E

2) Pekerjaan : Petani

3) Alamat : Simpang Tanjung Nan Ampek

2. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Klien

1) Riwayat Kesehatan Sekarang

Saat dilakukan pengkajian pasien post op hari ketiga atas indikasi tumor

mamme bilateral. Dengan kondisi luka tidak terdapat pus, tidak ada tanda

kemerahan di area luka. Panjang luka kiri dan kanan ± 3 cm.

Pasien juga mengeluhkan nyeri di area operasi. Nyeri yang dirasakan seperti

tertusuk-tusuk diarea payudara kiri dan kanan. Skala nyeri 5 dan pasien sudah

diberikan terapi analgesik.

Pasien juga mengatakan dia malu dengan kondisinya saat ini.

2) Riwayat Kesehatan Dahulu

Selama ini klien belum pernah operasi dan dirawat di RS. Klien juga tidak

mempunyai riwayat penyakit keturunan seperti Diabetes Melitus, Hipertensi,

ataupun Jantung Koroner.

b. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan ibu dan neneknya juga memiliki riwayat penyakit yang sama.

1) Genogram
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

Keterangan Gambar :

: Laki-laki

: Perempuan

: Klien

: Meninggal

: Garis pernikahan

: Garis keturunan
: Tinggal satu rumah

3. Kesehatan Fungsional

a. Aspek Psikososial

1) Psikologis

Klien lebih cenderung diam

2) Konsep diri

Klien merasa ada yang kurang dengan dirinya setelah menjalani operasi di

kedua mammae.

b. Aspek Sosial

Klien lebih dekat dengan ibunya.

c. Aspek Spiritual

Klien percaya dengan Allah swt, namun selama sakit klien tidak dapat

menjalankan ibadah dengan sempurna kadang shalat sambil berbaring.

d. Pola Kesehatan Fungsional

1) Nutrisi

a) Sehat

Klien mengatakan biasanya makan 3 kali sehari pagi, siang dan sore

(nasi, sayur dan lauk),. Minum 8 – 10 gelas sehari dan keluarga tidak

minum minuman yang mengandung bahan pengawet atau pemanis

buatan.

b) Sakit

Klien mengatakan makan 3 kali habisnya hanya setengah porsi dan


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

minum 6 - 8 gelas air putih

2) Pola Eliminasi

a) Sehat

Klien mengatakan BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lembek dan

warna kuning.

Klien mengatakan BAK 4 – 5 kali sehari dengan warna urin jernih.

b) Sakit

Klien mengatakan setelah operasi belum ada BAB.

BAK sudah 4-5 kali sehari

3) Pola Aktivitas

a) Sehat

Pola aktivitas sehari-hari : klien menjalani aktivitas sehari-hari sebagai

seorang pelajar.

b) Sakit

Klien selama dirawat lebih banyak tirah baring dan beraktivitas disekitar

kamar.

4) Pola Istirahat

a) Sehat

Klien mengatakan tidak ada keluhan untuk kebiasaan tidurnya. Biasanya

tidur 6 – 7 jam sehari.

b) Sakit

Klien mengatakan istirahat/tidur 7 – 8 jam sehari.

5) Personal Hygiene

a) Sehat :

 Mandi 2 x sehari

 Menggosok gigi 2 x sehari

 Mencuci rambut 3 x seminggu

 Potong kuku 1 x seminggu

b) Sakit :
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

Klien mengatakan hanya di lap badannya.

4. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum

1) Kesadaran : Compos Mentis

TB = 150 cm

BB = 40 Kg

2) Tanda Vital :

TD = 101/60 mmHg

Nadi = 61 x/mnt

Suhu = 36,6 °C

RR = 19 x/mnt

Nyeri :

P : Nyeri pada luka post operasi

Q : terasa tertusuk-tusuk

R : nyeri dirasakan pada kedua mammae

S : Skala nyeri 5 dan klien sudah diberikan terapi analgesic

T : nyeri hilang timbul

3) Kulit

Kulit bersih warna kuning langsa, tidak ada jaringan parut, ada luka operasi di

area mammae dengan panjang ± 3 cm.

4) Kuku

Kuku klien tampak normal

5) Kepala

Tidak ada benjolan, rambut panjang, hitam dan bersih.

6) Wajah

Bentuk oval, simetris

7) Mata

Normal

8) Hidung dan sinus

Normal
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

9) Leher

Tak ada benjolan, tak ada pembesaran kelenjar tyroid

10) Thoraks/Dada dan Paru-Paru

a) Inspeksi : Bentuk dada simetris,

b) Palpasi : Normal

c) Perkusi : Resonan

d) Auskultasi : bunyi nafas vesikuler

11) Mammae

a) Inspeksi

Kedua mammae simetris dan puting menonjol, diatas aerola mammae

tertutup kassa.

b) Palpasi

Nyeri tekan pada area luka setelah operasi

12) Kardiovaskuler

a) Inspeksi : pulpasi aplika terlihat

b) Palpasi : irama jantung teratur

c) Perkusi : redup

d) Auskultasi : tidak ada murmur

13) Abdomen

a) Inspeksi

Warna kulit sawo matang, tidak ada kemerahan dan kekuningan.

b) Auskultasi

Bising usus 16x / menit.

c) Perkusi

Terdengar redup, tidak ada hepatomegali

d) Palpasi

Tidak ada benjolan, tidak nyeri tekan

14) Genetalia

Tidak dilakukan pemeriksaan

15) Persarafan/neurologi
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

GCS : 15

Atensi baik

Berbicara normal

Penciuman baik

Pengecap baik

Mengunyah mampu

Menelan mampu

Berjalan mampu

5. Pemeriksaan Penunjang

Tabel 3.4 Pemeriksaan laboratorium Nn. Y di Ruang Bedah RSUD Arosuka Tanggal 07

Februari 2020

Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Normal

Pemeriksaan (satuan)

07 – 02- 2020 Leukosit 9.100 4,4-11,3

12,1
Haemoglo 12,3-15,3

bin 113.000 150-450

2’3”
Tromb <6 menit

osit 8’30” <12 menit

Masa 113 70-140

21
perdar <31

ahan 10 <32

Masa 23 10-50

Penjen
0,9 <1,1

daan Negatif

GDR

SGOT

SGPT

Ureum Creatinin
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

HbsAg
(Sumber Data Sekunder : RM Klien )

6. Terapi

Tabel 3.6 Pemberian Terapi Klien Nn. Y di Ruang Bedah RSUD Arosuka

Hari/ Obat Dosis dan Satuan Rute


Tanggal
07-02 Injeksi Cefotaxime 2 x 1 gram IV jam 06.00

08-02 Injeksi Ketorolac 1A/12 jam 2 x 1 ampul IV

Injeksi Asam Tranexamat 500 mg IV


(Sumber Data Sekunder : RM Klien)

ANALISA DATA

Nama Pasien : Nn. Y Dx medis : Tumor Mamae Bilateral

No. MR : 581706 Ruangan : Bedah

Data Fokus
No Masalah Keperawatan Pathway
(Data Subjektif dan Objektif)
1 Data Subjektif : Nyeri Akut Faktor predisposisi
Pasien mengatakan nyeri dan faktor fungsi
P : nyeri post op hiperplasia pada sel
Q : terasa menusuk-nusuk mamae
R : pada payudara kiri dan kanan
S : Skala Nyeri 5, pasien
mendapatkan terapi analgesik Mendesak sel saraf
T : Saat disentuh/ditekan, saat
menggerakkan tangan
Interupsi sel saraf
Data Objektif :
TD : 113/81 mmhg
N : 80 x/menit Nyeri
P : 20 x/menit
S : 36 ℃
 Pasien tampak meringis saat GU
dan ditekan luka operasi
2 Data Subjektif : Kerusakan Integritas Faktor predisposisi
 Pasien mengatakan sekarang Jaringan dan resiko tinggi
tidak ada terasa apa pun, tapi bila hiperplasia pada sel
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

menggerakkan tangan dengan mamae


cepat terasa agak sakit ke
payudara Merusak jaringan
sekitar
Data Objektif :
 Post op hari kedua Menekan jaringan
 Luka post op tertutup kassa, pada mamae
kering, dan tidak ada rembesan
 Luas luka 12 x 12 cm2 Peningkatan
konsisten mamae

Mamae
membengkak

Masa tumor
mendesak ke
jaringan luar

Perfusi jaringan
terganggu

Ulkus

Gangguan integritas
jaringan
3 Data Subjektif : Gangguan Citra Faktor predisposisi
Pasien mengatakan malu dengan Tubuh dan resiko tinggi
kondisinya saat ini. hiperplasia pada sel
Pasien mengatakan takut dengan mamae
masa depannya.
Mendesak jaringan
Data Objektif : sekitar
 Pasien tampak sering menutup-
nutup area post operasi Menekan jaringan
pada mammae

Peningkatan
konsisten mamae

Ukuran mammae
abnormal

Mammae asimetris

Gangguan Citra
Tubuh
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA
SAINTIKA] 2019/2020

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TANDA
NO DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGAN
1 Nyeri Akut b.d Agen Cidera Fisiologis
2 Kerusakan Intergritas Jaringan b.d prosedur bedah
3 Gangguan Citra Tubuh b.d prosedur bedah
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Nn. Y Dx medis : Tumor Mamae Bilateral


No. MR : 581706 Ruangan : Bedah
DIAGNOSA
NO TGL NOC NIC AKTIFITAS
KEPERAWATAN
1 07/02 Nyeri Akut b.d agen Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
cedera fisiologis Setelah dilakukan asuhan keperawatan termasuk lokasi , karakteristik, durasi, frekuensi,
2 x 12 jam klien dapat menurunkan kualitas, intensitas dan faktor pencetus nyeri
nyeri dengan kriteria hasil : 2. Berikan informasi mengenai nyeri seperti penyebab,
1. Mengenali kapan nyeri terjadi brapa lama nyeri dan antisipasi ketidaknyamanan akibat
ditingkatkan dari kadang-kadang prosedur
menunjukkan (3) ke sering 3. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
menunjukkan (4). (misal : suhu ruangan, pencahayaan , dan kebisingan)
2. Menggambarkan faktor penyebab 4. Observasi reaksi nonverbal dari nyeri
nyeri ditingkatkan dari kadang- 5. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
kadang menujukkan (3) ke sering 6. Ajarkan teknik nonfarmakologis (misal : hipnosis,
menunjukkan (4) relaksasi, akupresur, pijatan, sensasi dingin/panas,
3. Melaporkan nyeri yang terkontrol distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas, terapi musik, )
ditingkatkan dari kadang-kadang baik sebelum, setelah, bahkan selama terjadi nyeri bila
menunjukkan (3) ke sering memungkinkan
menunjukkan (4) 7. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu
4. Mengenali apa yang terkait dengan pengurangan nyeri
nyeri ditingkatkan dari kadang- 8. Dorong klien untuk mengungkapkan pengalaman
kadang menunjukkan (3) ke sering Penggunaan nyerinya
menunjukkan (4) 9. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, keparaham
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

5. Melaporkan nyeri yang terkontrol Analgesik nyeri sebelum mengobati pasien


ditingkatkan dari kadang-kadang 10. Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan
menunjukkan (3) ke sering frekuensi obat analgetik yang diresepkan
menunjukkan (4) 11. Cek adanya alergi obat
12. Berikan analgesic sesuai waktu paruhnya terutama pada
Tingkat Nyeri nyeri yang berat
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 13. Dokumentasikan respon terhadap analgetik dan adanya
selama 2 x 12 jam masalah efek samping
keperawatan dapat teratasi dengan
kriteria hasil:
1. Nyeri yang dilaporkan ditingkatkan
dari sedang (3) ke ringan (4)
2. Panjang episode nyeri ditingkatkan
dari sedang (3) ke ringan (4)
3. Tekanan Darah ditingkatkan dari
sedang (3) ke ringan (4)
2 07/02 Kerusakan Integritas Penyembuhan Luka Primer Perawatan Luka 1. Angkat balutan dan plester perekat
Jaringan b.d prosedur Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2. Monitor karakteristik luka, termasuk drainase, aroma
bedah
2 x 12 jam masalah keperawatan dapat dan bau.
teratasi, dengan kriteria hasil : 3. Ukur luas luka yang sesuai
4. Bersihkan dengan normal salin atau pembersih yang
1. Memperkirakan kondisi kulit dari
tidak beracun dengan tepat
terbatas (2) ditingkatkan ke besar
5. Berikan rawatan insisi pada luka, yang diperlukan
(4).
6. Berikan balutan yagn sesuai, dengan jenis luka
2. Memperkirakan kondisi tepi luka 7. Perkuat balutan luka sesuai kebutuhan
dari terbatas (2) ditingkatkan ke 8. Pertahankan teknik balutan steril ketika melakukan
besar (4). perawatan luka dengan tepat
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

9. Periksa luka setiap kali perubahan balutan\


3. Pembentukan bekas luka dari
10. Bandingkan dan catat setiap perubahan luka
terbatas (2) ditingkatkan ke besar
11. Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengenal tanda
(4).
dan gejala infeksi
3 07/02 Gangguan Citra Gambaran Diri Promosi Citra 1)
Tubuh b.d perubahan Setelah dilakukan 2 x 12 jam Tubuh dan Koping 2)
struktur/bentuk tubuh sendiri
masalah keperawatan dapat teratasi 3)
dengan kriteria hasil : 4)
a.
b.
personal
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN


Nama Pasien : Nn. Y Dx medis : Tumor Mamae Bilateral
No. MR : 581706 Ruangan : Bedah

JA DIAGNOSA
TGL IMPLEMENTASI EVALUASI PARAF
M KEPERAWATAN
07/02 09.0 1 1. Mengangkat balutan dan plester perekat 17.00
0 2. Memonitor karakteristik, termasuk drainase, aroma, S : Klien mengatakan keluhan yang dirasakan tidak ada
ukuran dan bau O:
3. Mengukur luas luka yang sesuai 
4. Membersihkan dengan normal salin atau pembersih 
yang tidak beracun dengan tepat 
5. Memberikan rawatan insisi pada luka yang diperlukan 
6. Memberikan balutan sesuai jenis luka A : masalah keperawatan tidak teratasi
P : intervensi dilanjutkan ( 3,4,5,6)
11.0 2 1. 17.00
0 2. S : Klien mengatakan nyeri masih terasa di daerah payudara,
mengenai ketidaknyamanan sebelah kiri dan kanan apabila beraktivitas. Skala nyeri 4
3. O:
mengetahui pengalaman nyeri 
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

4. 
mengenai nyeri 
5. 
menurunkan/memperberat nyeri 
6. 
7. A : masalah keperawatan tidak teratasi
8. P : Intervensi dilanjutkan (1,5,6,7,8)
pengontrolan nyeri yang dipakai selama pengkajian
nyeri
08/02 08:3 1 1. Mengukur luas luka yang sesuai 17.00
0 2. Membersihkan dengan normal salin atau pembersih S:
yang tidak beracun dengan tepat -
3. Memberikan rawatan insisi pada luka yang diperlukan -
4. Memberikan balutan sesuai jenis luka benar
O:
-
-
cm
-
-
sekitar luka
A : Masalah keperawatan teratasi
P : Intervensi dihentikan. Pasien pulang.
-
2 1. 17.00
2. S:
menurunkan/memperberat nyeri -
3. ke atas
4. -
5. -
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

nyeri yang dipakai selama pengkajian nyeri -


3
-

O:
- Klien terlihat tenang dan sering tersenyum
A: Masalah Nyeri Kronis teratasi
P: Intervensi dihentikan. Pasien pulang
-
PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

AB IV KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

a. Telah dilakukan asuhan keperawatan pada klien Nn. Y dengan tumor

mammae dekstra dan sinistra selama 2 hari, yang meliputi pengkajian, analisa data, menetapkan diagnosa keperawatan, membuat rencana asuhan, melaksanaan

implementasi dan melakukan evaluasi.

b. Proses pelaksanaan asuhan keperawatan melibatkan peran antar perawat,

keluarga klien dan tim kesehatan yang lain.

c. Dokumentasi asuhan keperawatan dilakukan sesuai dengan format.


PROGRAM PROFESI NERS STIKES SYEDZA SAINTIKA] 2019/2020

2. Saran

a. Untuk Rumah Sakit

Menyediakan sarana dan prasarana yang lebih lengkap kerjasama dengan tim, pasien dan keluarga lebih ditingkatkan.

b. Untuk Perawat

Agar mampu melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standar asuhan keperawatan (SAK) dan melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan SPO.

c. Untuk ilmu keperawatan

Sebagai sumber referensi bagaimana melaksanakan asuhan keperawatan pada klien tumor mammae.
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo Sulistyo. 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Balitbang kemenkes RI. 2014. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Balitbang Kemenkes

RI

Eva Agustina, Fariani Syahrul. 2017. Pengaruh Prosedur Operasi Terhadap Infeksi

pada Klien Operasi Bersih Terkontaminasi. Fakultas kesehatan masyarakat

Fitria Nita. 2011. Terapi Psikospiritual. Http: //arsipnitafitria.wordpress. diakses 17

Juli 2018

Grece Frida Rasubala, Lucky Tommy Kumaat, Mulyadi. 2017. Pengaruh Teknik

Relaksasi Benson Terhadap Skala Nyeri Pada Klien Post Operasi di RSUP Prof.

Dr. D. Kandau dan RS TK III R. W. Mongisidi Teling Manado. Jurnal Keperawatan

Volume 5 no. 1 Februari 2017

Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pusat Data dan Informasi. Jakarta Selatan

Kusuma Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis

dan NANDA NIC NOC. Penerbit Mediaction

Mawei, Nikita Mayumi. 2012. Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Perubahan

Intensitas Nyeri pada Klien Post Operasi Apendiktomi. Skripsi Manado: Program

Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi

Moh. Alimansur, Agung Setiawan. 2013. Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada

Klien Pre dan Post Operasi di Ruang Seruni RSUD Pare. Jurnal ilmu kesehatan,

Vol. 1 no. 2. Mei 2013

Solehati Tetti & Kokasih Cecep Eli. 2015. Konsep dan Aplikasi Relaksasi Dalam

Keperawatan Maternitas. Bandung: PT Refika Aditama