Anda di halaman 1dari 55

c cc

 
c c c 
 c ccc  c cc 
c c c  c ccc c 
 cc c  c 
 cc c  cc

APAKAH AJARAN KHOMEiNi WAJiB DiPATUHi ????????????????????????

PERTANYAAN :

Pertanyaan dari wahabi salafi :


salafi wahabi membaca buku khomeini lalu memotong kalimat sehingga mereka mengklaim
khomeini membuat ajaran aneh aneh«.

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

tidak pernah ada dalam ajaran syi¶ah untuk bertaklid buta pada ulama tertentu, bertaklid hanya
berlaku bilamana yang ditaklid itu benar !!! dalam syi¶ah pintu ijtihad terbuka sampai kiamat..
Sementara ijtihad dan ijma¶ nya hanya berlaku pada periode ijtihad itu disepakati sampai sejauh
mana ijtihad itu benar, bila ijtihad tersebut dikemudian hari ternyata keliru atau tidak ³up to
date´ lagi maka yang berlaku adalah ijtihad baru yang lebih benar dst«dst..

Anda pelajari dulu konstitusi Iran tentang ³´´´Majelis Ahli´´´

Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui Pemilu
setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember 2006 dan
diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.

Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya.
Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang konsep
Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik.

Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan Leader
sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga senantiasa menerima
kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang sedang berkunjung ke Tehran.

Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan Pendiri
Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah meninggalnya Khomeini
pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.
Jadi jelaslah bagaiman fungsi khomeini !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1. Syi¶ah tidak pernah menyatakan wajib taat ( TAKLiD) pada Khomeini « Hanya saja aturan
Imam Khomeini dan majelis ulama pada zaman beliau dalam kapasitas sebagai RAHBAR wajib
ditaati karena ATURAN iTU MERUPAKAN ATURAN RESMi DAN BERSiFAT
³KONTEMPORER´.. Khomeini hanya wajib ditaati PADA MASANYA«Hasil pemahaman
Khomeini terhadap nash HANYA BERLAKU DALAM KONTEKS YANG SESUAi DENGAN
KEBUTUHAN HUKUM SAAT iTU ( KONTEMPORER )

2. Sementara zaman sekarang (tahun 2010) Aturan Ayatullah Ali Khamenei dan Majelis Ulama
Sekarang adalah aturan resmi KONTEMPORER..

Logikanya begini : Hal ini sama halnya dengan aturan Presiden dalam satu negara seperti
Indonesia, semasa Presiden memerintah maka aturannya wajib diikuti jika tidak melanggar
NASH..Kalau tidak wajib diikuti maka AKAN MERUSAK TATANAN MASYARAKAT DAN
KETERATURAN NEGARA AKAN KACAU KARENA TiDAK ADA UNDANG UNDANG
RESMi

AYATULLAH Ruhollah Khomeini pada 1979 memproklamasikan Republik Islam Iran (RII). Ia
menggerakkan revolusi yang menggetarkan, sehingga tahta Syah Reza Pahlevi runtuh

Khomeini meninggal , Maka, naiklah Hojatolislam Ali Khamenei sebagai pengganti mandataris
wilayat al-faqih atau kekuasaan hukum. Wewenangnya lebih hebat dari presiden yang juga
sekarang dijabatnya. Sejak proklamasi RII berdengung, harapan dunia Islam bangkit, karena
ajarannya menjadi rujukan kepemimpinan dan kenegaraan ² terutama dalam konsep wilayat al-
faqih.

pemimpin wilayat al-faqih setelah Khomeini dipilih Dewan Ahli Agama yang beranggota 36
orang. Khamenei dapat suara terbanyak. Ia seorang tokoh penengah dan fakih ² mirip kiai di
Indonesia yang otomatis diakui. Tapi Khamenei selaku mandataris wilayat al-faqih yang baru
belum terdengar mengguncang-guncang meniru pendahulunya. Cuma, ia masih memberlakukan
vonis mati dari Khomeini untuk Novelis Salman Rushdie. Sebab, The Satanic Verses yang
ditulis Salman menghujat Islam.

²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²-

PERTANYAAN :

Bukankah pemikiran Khomeini ada beda dengan pemikiran KHAMENEi padahal keduanya
adalah sama sama RAHBAR ????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

- Pasti ada perbedaan secara detil dalam ijtihad


- Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya
belum diketahui

- Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah diketahui )

- Fungsi rahbar adalah sebagaimana fungsi pemimpin dalam suatu organisasi

- apakah ajaran syafi¶i , hambali, hanafi dan maliki wajib ditaati ??? padahal ajaran mereka beda
dalam fikih
²²²²²²²±

PERTANYAAN :
Sebutkan contoh ijtihad ulama syi¶ah zaman dulu yang dibatalkan ulama zaman sekarang
!!!!!!!!!!!!!

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :


Minoritas ulama syi¶ah meyakini Nabi Isa akan turun kebumi diakhir zaman.. Ulama syi¶ah
zaman dulu juga ada yang mengakuinya «

Mereka mengakuinya karena BELUM ADA PENELiTiAN TENTANG iTU..Tapi setelah


penelitian memberikan jawaban ilmiah MAKA KEBANYAKAN MEREKA TiDAK
MENGAKUi LAGi imam Nabi Isa turun di akhir zaman karena ayat Quran menyatakan semua
manusia sebelum Muhammad SAW sudah wafat

²²²²²²²²²±

PERTANYAAN :

1.Kata anda YANG KITA PEGANG ADALAH PENDAPAT TERAKHIR YANG SUDAH
DITELITI ?????

2.ARTiNYA BiSA SAJA ULAMA BESAR SYi¶AH ZAMAN DULU SEPERTi AL MAJLiSi
dan SYAiKH SHADUQ MENGELUARKAN PENDAPAT YANG SALAH LALU ULAMA
ZAMAN SEKARANG MENGELUARKAN PENDAPAT YANG BENAR ?????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

1.Ya, karena dalam semua kasus penelitian, penelitian terakhirlah yang kesimpulannya paling
baik«.Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah
diketahui )

2. yA, FAKTANYA MEMANG demikian


contoh sederhana Perbedaan ijtihadi ULAMA MASA LAMPAU DAN ULAMA MASA kini
karena samarnya istinbath hukum pada masa lampau tapi TERANG PADA MASA KiNi, contoh
: Ulama zaman dulu bilang merokok makruh karena mereka tidak tau mudharat rokok, tiba tiba
dikemudian hari setelah dilakukan penelitian ternyata rokok membawa mudharat, maka ULAMA
ZAMAN SEKARANG mengharamkan rokok

Jadi kesimpulan ???????????????????????????????????:


Khomeini sebagai RAHBAR hanya wajib ditaati pada masanya dan tidak wajib pada masa
berikutnya !!!!!!!!!!!!! Itupun dengan catatan apa yang disampaikan Khomeini sesuai dengan
nash dan tidak menyimpang dari nash!!!!!!!!!!!!!!!! Zaman Khomeini persoalan yang muncul
pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya belum diketahui

contoh lain :ulama ulama klasik syi¶ah seperti Al khawarizmi, Ibnu sina, Nashiruddin Ath thusi
pakar fikih dan tatanegara, Asy syaukani, Sufyan bin Uyainah guru fikih/ hadis imam syafi¶i,
juga Jabir bin Hayyan pakar matematika : mereka semua adalah ulama legendaris syi¶ah klasik
yang menghasilkan banyak karya untuk Islam !!!!!!!!!!!! Mereka semua merupakan pemikir
intelektual islam yang karya nya banyak diminati !!!!!!! Mereka ulama yang cerdas !!!!!!! Nah,
dizaman sekarang jika anda menemukan sedikit kesalahan pada karya karya mereka ????? Ya
wajar namanya juga manusia« Demikian juga halnya dengan Khomeini, kalaupun khomeini
berbuat salah maka itu wajar«.

Masa sekarang RAHBAR yang wajib diikuti adalah YANG BERWENANG DAN
KEWENANGANNYA SAH SECARA HUKUM DAN SYARi¶AT !!!!! yaitu Ayatullah Ali
Khamenei

²²²²²²²²
PERTANYAAN : Jadi intinya syi¶ah tidak fanatik taklid buta pada pendapat ulama syi¶ah tempo
dulu ???

Jawaban :
Ya, tidak pernah ada dalam syi¶ah untuk bertaklid buta pada ulama tertentu, bertaklid hanya
berlaku bilamana yang ditaklid itu benar !!!

²²²²²²²²-

PERTANYAAN : Artinya pintu ijtihad untuk mencari hakikat kebenaran masih terbuka ???

Jawaban :
Selalu terbuka, dalam syi¶ah pintu ijtihad terbuka sampai kiamat.. Sementara ijtihad dan ijma¶
nya hanya berlaku pada periode ijtihad itu disepakati sampai sejauh mana ijtihad itu benar, bila
ijtihad tersebut dikemudian hari ternyata keliru atau tidak ³up to date´ lagi maka yang berlaku
adalah ijtihad baru yang lebih benar dst«dst..

Yang dikatakan ³up to date´ adalah ajaran yang memiliki dalil yang kokoh, sehingga dengan
melakukan ijtihad yang berlandaskan dalil tersebut ditemukan istinbath hukum ( syari¶at ) yang
dapat dipakai disetiap zaman ketika ia dibutuhkan«

²²²²²²²²-
PERTANYAAN : Kenapa ulama syi¶ah pada masa Presiden Ahmadinejad dan Rahbar Khameini
sangat unggul ????

Jawaban :
Ulama syi¶ah modern sangat unggul karena terbimbing dengan baik oleh ajaran ahlul bait..
Ulama syi¶ah memahami agama sangat detil karena mereka memang memahami ilmu mulai dari
ilmu tafsir Al Quran, ilmu hadis, fikih hingga ilmu alam

Biasanya ulama syi¶ah memahami hadis dan sumber sumbernya baik hadis syi¶ah maupun hadis
sunni sehingga mereka mampu menggali hukum yang dapat diterapkan di segala situasi dan
didukung lagi oleh kehandalan mereka dalam ilmu sains dan logika

Pengantar
23/07/2008
Benar atau tidaknya amalan seseorang bergantung pada pengetahuannya akan masalah-masalah
agama (syar¶i) dan mengamalkannya. Salah satu cara untuk mengetahui hukum agama adalah
dengan mengikuti fatwa atau taqlid kepada mujtahid yang memenuhi seluruh persyaratan
ijtihad.Untuk memperoleh informasi tentang fatwa seorang h    (mujtahid yang
fatwanya diikuti) kita bisa merujuk ke buku
   h  (Kumpulan Fatwa) yang diyakini
mewakili fatwanya.Berdasarkan realitas, dimana banyak para mukallaf setelah wafatnya
Ayatullah Al-Udhma Syaikh Ali Arakiy ingin bertaqlid kepada Ayatollah Al-Udhma Khamenei,
pada saat yang sama hingga saat ini kumpulan fatwa beliau sedang dalam penyusunan dan belum
diterbitkan, sementara buku µAjwibah Al-Istifaat¶ (Jawaban atas Pertanyaan Fatwa) tidak
mnecakup semua masalah keseharian, maka kami memandang perlu untuk menyusun perbedaan
yang ada antara fatwa beliau dan fatwa Imam Khomeini dengan berpijak pada buku Ajwibah Al-
Istifaat dan beberapa sumber lainnya, sehingga setiap mukallaf dapat dengan mudah mengetahui
masalah ini.
CATATAN:

1. Para mukallid Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa melaksanakan fatwa beliau dengan
memperhatikan perbedaan yang ada. Jika masih ada yang tidak jelas bisa menyampaikan
pertanyaan guna memperjelas hal itu.
2. Dalam sebagian kasus, tidak terdapat perbedaan, tetapi yang ada adalah penjelasan atau
penambahan keterangan.
3. Fatwa Imam Khomeini diambil dari kitab Tahrir Al Wasilah, Taudhih Al Masail dan Al
µUrwatul Wutsqa.
4. Untuk mempersingkat pembahasan kami sengaja tidak mencantumkan referensi fatwa,
bagi yang menginginkannya bisa merujuk ke edisi cetak yang telah diterbitkan.
5. Fatwa Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa Anda bisa dapatkan di kolom sebelah kanan
sementara fatwa Imam Khomeini dicantumkan di sebelah kiri.

Imam Khomeini Imam Ali Khamenei


Mujtahid yang bisa dijadikan rujukan dalam 1. Jika para mujtahid yang memenuhi syarat
fatwa haruslah seorang laki-laki yang sudah untuk diikuti berjumlah banyak dan fatwa
baligh, berakal sehat, penganut Syiah 12 mereka berbeda-beda, maka sesuai dengan
Imam, anak halal, hidup dan adil. prinsip ihtiyat seorang mukallaf wajib
Sebagaimana sesuai dengan prinsip ihtiyat mengikuti (bertaqlid) kepada yang paling
wajib, bertaqlid harus pada seorang yang unggul dalam keilmuan (a¶lam), kecuali jika
tidak rakus pada dunia dan paling tinggi fatwanya bertentangan dengan ihtiyat
ilmunya (a¶lam) di antara para mujtahid di sementara fatwa mujtahid yang tidak a¶lam
zamannya. sesuai dengan prinsip ihtiyat, maka dalam
hal ini tidak wajib untuk mengikuti fatwa
mujtahid yang a¶lam.
2. A¶lam adalah orang yang lebih baik dalam 2. A¶lam adalah seorang mujtahid yang lebih
memahami kaidah ijtihad dan sumber pijakan bisa dari pada yang lainnya dalam hal
permasalahan syar¶i serta memiliki wawasan menyimpulkan hukum Allah dari dalil-
yang lebih luas pada masalah-masalah yang dalilnya. Begitu juga ia memiliki
berkaitan dengannya. Begitu juga lebih baik pengetahuan yang cukup akan situasi dan
dalam memahami (kandungan) teks hadis. kondisi zamannya yang berpengaruh pada
Secara ringkas a¶lam adalah orang yang lebih proses identifikasi obyek hukum dan tugas
jeli dan cermat dalam menyimpulkan hukum. syar¶i.
3. Tidak boleh memulai taqlid kepada 3. Memulai taqlid kepada mujtahid yang
mujtahid yang sudah meninggal. sudah meninggal tidak boleh berdasarkan
prinsip ihtiyat wajib.Soal:Seorang remaja
yang baru mencapai usia baligh dan bertaqlid
kepada Anda (Ayatollah Al-Udhma
Khamenei), namun karena di awal taklif dia
perlu membaca dan mengenal seluruh
masalah fikih, bolehkan ia menelaah
kumpulan fatwa Imam Khomeini r.a?Jawab:

Dalam masalah-masalah umum yang


dibutuhkan oleh para remaja tercinta,
silahkan merujuk kumpulan fatwa Imam
Khomeini. Dan jika mereka tidak
mendapatkan jawaban dari permasalahan
yang dihadapi dalam buku tersebut silahkan
mengajukan pertanyaan!

1. Ukuran air |  kurang lebih 377/419 1. Kurang lebih 384 liter.


kilogram
2. Soal:Bagaimana kita menghukumi orang- 2. Soal:Apakah orang-orang Ahlul Kitab itu
orang Ahlul Kitab dari sisi kesucian?Jawab: suci atau najis?Jawab:Tidak ada kejelasan
Semua non muslim dari agama dan aliran bahwa mereka najis dzatiy. Menurut
apapun dihukumi najis. pandangan kami mereka dihukumi suci.

Orang-orang Ahlul Kitab itu adalah orang-


orang yang beragama Kristen, Yahudi,
Zoroaster dan Shabiin.
3. Kotoran burung yang haram dimakan, 3. Kotoran burung yang haram dimakan,
hukumnya najis. tidak najis.
4. Darah yang ada pada telur ayam tidak 4. Darah yang ada pada telur ayam dihukumi
najis, namun berdasarkan ihtiyat wajib, suci namun haram untuk dikonsumsi.
hendaknya tidak dikonsumsi. Dan bila
diaduk dengan kuningnya hingga merahnya
menghilang (melebur) maka tidak ada
larangan untuk mengkonsumsinya.
5. Soal:Apakah kulit yang diimpor dari luar 5. Soal: Kami mohon penjelasan Anda
(negeri) untuk membuat sepatu dan tentang daging, kulit dan anggota badan
sejenisnya dihukumi suci?Jawab:Kulit yang binatang lainnya yang diimpor dari negara-
diimpor dari negeri-negeri Islam dihukumi negara non muslim?Jawab:Jika ada indikasi
suci, kecuali jika dipastikan bahwa bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai
sembelihannya tidak sesuai syariat. Adapun dengan aturan syariat Islam, maka dihukumi
kulit yang diimpor dari negeri-negeri non suci, jika yakin bahwa binatang itu tidak
muslim dihukumi najis, kecuali jika disembelih secara sya¶i maka hukumnya
dipastikan disembelih sesuai aturan syariat, najis.
atau ada kemungkinan pengimpornya adalah
seorang muslim yang telah memastikan
(keabsahan) proses penyembelihannya secara
syar¶i dan dengan itu dia memasarkannya di
tengah umat Islam.
6. Arak dan setiap minuman memabukkan 6. Minuman yang memabukkan berdasarkan
yang dari asalnya berbentuk cair, najis ihtiyat, najis.
hukumnya.
7. Sesuatu yang bersentuhan dengan barang 7. Sesuatu yang bersentuhan dengan benda
najis akan menjadi najis. Jika kemudian ia najis dan menjadi najis jika bersentuhan lagi
bersentuhan dengan barang lain maka ia dengan sesuatu yang lain dalam keadaan
membuatnya najis. Begitu juga jika basah, maka ia juga menjadi najis. Begitu
bersentuhan dengan barang ke tiga. Setelah juga sesuatu yang menjadi najis tersebut jika
itu tidak lagi menajiskan (barang ke empat bersentuhan dengan sesuatu yang lain, maka
dan seterusnya). ia pun berdasarkan prinsip ihtiyat menjadi
najis. Namun benda najis yang ke tiga ini
tidak lagi membuat najis benda lain
berikutnya.
8. Jika yakin akan kenajisan tubuh, baju, 8. Jika kita meyakini, bahwa badan seorang
bejana, karpet atau barang lain yang ada pada muslim najis atau suatu barang yang ia miliki
seorang muslim, kemudian orang muslim najis, kemudian untuk beberapa waktu kita
tersebut menghilang dari kita, jika ada tidak menjumpainya, maka di saat kita
prediksi dan sangkaan bahwa dia telah berjumpa lagi dengannya dan kita
mensucikannya dengan air atau masuk ke menyaksikannya memperlakukan barang-
aliran air dan menjadi suci karenanya, maka barang najis tersebut layaknya barang yang
tidak ada kewajiban bagi kita untuk suci, maka kita (bisa) memperlakukannya
menghindarinya. layaknya barang yang suci dengan syarat
orang tersebut mengetahui kondisi awal
bahwa barang-barang tersebut najis dan kita
mengetahui, bahwa orang tersebut
memahami hukum-hukum najis dan
kesucian.
9. Tempat keluarnya air kencing tidak bisa 9. Soal:Di saat membuang air kecil, berapa
suci kecuali dengan air. Orang laki-laki kali harus dituangkan air kepadanya hingga
cukup membasuhnya dengan air satu kali. bisa dihukumi suci?Jawab:Tempat keluarnya
Sedangkan perempuan dan orang yang keluar air kencing, sesuai prinsip ihtiyat menjadi
kencing bukan dari tempatnya yang wajar, suci dengan dua kali dibasuh.
berdasarkan prinsip ihtiyat wajib, hendaknya
membasuhnya dua kali.
10. Mensucikan tempat keluarnya kotoran 10. Tempat keluarnya kotoran (dubur) bisa
(dubur) dengan selain air masih disucikan dengan salah satu dari dua cara: 1)
dipertimbangkan. Namun setelah najisnya dengan air sampai najisnya hilang (setelah itu
hilang, diperbolehkan melakukan shalat tidak perlu lagi ada pengulangan). 2) dengan
(walaupun tanpa membasuhnya dengan air tiga batu, kain atau benda sejenisnya. Jika
terlebih dahulu) dengan tiga batu belum hilang, maka wajib
diulang hingga bersih. Boleh juga dengan
satu batu atau kain dan sejenisnya tapi diusap
(dipoles) dengan tiga tempat (bagian) yang
berbeda.

1. Ukuran air |  kurang lebih 377/419 1. Kurang lebih 384 liter.


kilogram
2. Soal:Bagaimana kita menghukumi orang- 2. Soal:Apakah orang-orang Ahlul Kitab itu
orang Ahlul Kitab dari sisi kesucian?Jawab: suci atau najis?Jawab:Tidak ada kejelasan
Semua non muslim dari agama dan aliran bahwa mereka najis dzatiy. Menurut
apapun dihukumi najis. pandangan kami mereka dihukumi suci.

Orang-orang Ahlul Kitab itu adalah orang-


orang yang beragama Kristen, Yahudi,
Zoroaster dan Shabiin.
3. Kotoran burung yang haram dimakan, 3. Kotoran burung yang haram dimakan,
hukumnya najis. tidak najis.
4. Darah yang ada pada telur ayam tidak 4. Darah yang ada pada telur ayam dihukumi
najis, namun berdasarkan ihtiyat wajib, suci namun haram untuk dikonsumsi.
hendaknya tidak dikonsumsi. Dan bila
diaduk dengan kuningnya hingga merahnya
menghilang (melebur) maka tidak ada
larangan untuk mengkonsumsinya.
5. Soal:Apakah kulit yang diimpor dari luar 5. Soal: Kami mohon penjelasan Anda
(negeri) untuk membuat sepatu dan tentang daging, kulit dan anggota badan
sejenisnya dihukumi suci?Jawab:Kulit yang binatang lainnya yang diimpor dari negara-
diimpor dari negeri-negeri Islam dihukumi negara non muslim?Jawab:Jika ada indikasi
suci, kecuali jika dipastikan bahwa bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai
sembelihannya tidak sesuai syariat. Adapun dengan aturan syariat Islam, maka dihukumi
kulit yang diimpor dari negeri-negeri non suci, jika yakin bahwa binatang itu tidak
muslim dihukumi najis, kecuali jika disembelih secara sya¶i maka hukumnya
dipastikan disembelih sesuai aturan syariat, najis.
atau ada kemungkinan pengimpornya adalah
seorang muslim yang telah memastikan
(keabsahan) proses penyembelihannya secara
syar¶i dan dengan itu dia memasarkannya di
tengah umat Islam.
6. Arak dan setiap minuman memabukkan 6. Minuman yang memabukkan berdasarkan
yang dari asalnya berbentuk cair, najis ihtiyat, najis.
hukumnya.
7. Sesuatu yang bersentuhan dengan barang 7. Sesuatu yang bersentuhan dengan benda
najis akan menjadi najis. Jika kemudian ia najis dan menjadi najis jika bersentuhan lagi
bersentuhan dengan barang lain maka ia dengan sesuatu yang lain dalam keadaan
membuatnya najis. Begitu juga jika basah, maka ia juga menjadi najis. Begitu
bersentuhan dengan barang ke tiga. Setelah juga sesuatu yang menjadi najis tersebut jika
itu tidak lagi menajiskan (barang ke empat bersentuhan dengan sesuatu yang lain, maka
dan seterusnya). ia pun berdasarkan prinsip ihtiyat menjadi
najis. Namun benda najis yang ke tiga ini
tidak lagi membuat najis benda lain
berikutnya.
8. Jika yakin akan kenajisan tubuh, baju, 8. Jika kita meyakini, bahwa badan seorang
bejana, karpet atau barang lain yang ada pada muslim najis atau suatu barang yang ia miliki
seorang muslim, kemudian orang muslim najis, kemudian untuk beberapa waktu kita
tersebut menghilang dari kita, jika ada tidak menjumpainya, maka di saat kita
prediksi dan sangkaan bahwa dia telah berjumpa lagi dengannya dan kita
mensucikannya dengan air atau masuk ke menyaksikannya memperlakukan barang-
aliran air dan menjadi suci karenanya, maka barang najis tersebut layaknya barang yang
tidak ada kewajiban bagi kita untuk suci, maka kita (bisa) memperlakukannya
menghindarinya. layaknya barang yang suci dengan syarat
orang tersebut mengetahui kondisi awal
bahwa barang-barang tersebut najis dan kita
mengetahui, bahwa orang tersebut
memahami hukum-hukum najis dan
kesucian.
9. Tempat keluarnya air kencing tidak bisa 9. Soal:Di saat membuang air kecil, berapa
suci kecuali dengan air. Orang laki-laki kali harus dituangkan air kepadanya hingga
cukup membasuhnya dengan air satu kali. bisa dihukumi suci?Jawab:Tempat keluarnya
Sedangkan perempuan dan orang yang keluar air kencing, sesuai prinsip ihtiyat menjadi
kencing bukan dari tempatnya yang wajar, suci dengan dua kali dibasuh.
berdasarkan prinsip ihtiyat wajib, hendaknya
membasuhnya dua kali.
10. Mensucikan tempat keluarnya kotoran 10. Tempat keluarnya kotoran (dubur) bisa
(dubur) dengan selain air masih disucikan dengan salah satu dari dua cara: 1)
dipertimbangkan. Namun setelah najisnya dengan air sampai najisnya hilang (setelah itu
hilang, diperbolehkan melakukan shalat tidak perlu lagi ada pengulangan). 2) dengan
(walaupun tanpa membasuhnya dengan air tiga batu, kain atau benda sejenisnya. Jika
terlebih dahulu) dengan tiga batu belum hilang, maka wajib
diulang hingga bersih. Boleh juga dengan
satu batu atau kain dan sejenisnya tapi diusap
(dipoles) dengan tiga tempat (bagian) yang
berbeda.

=====================================================================
=====================================================================
=======================

²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²

AJARAN Ayatullah Sayyid Ali Khamenei ( pengganti ayatullah Khomeini )

Kelahiran hingga sekolah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei

Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra
almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada
tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar
1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad
Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri
dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik
berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan,
³Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami
cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu
saya dengan susah payah menyiapkan makan malam« hidangan makan malam itu adalah roti
dan kismis´.

³Rumah ayah tempat saya dilahirkan -hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran
60 ± 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan
sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena
ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan
tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang
menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah
kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar´.
Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang
bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar
membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di
sekolah Islam yang saat itu baru dibangun ³Daar At-Ta¶lim Diyanati´.
Di Hauzah Ilmiah

Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah
serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. ³Faktor dan
alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang
selalu mendukung saya.´
Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di
madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau
perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku
Ma¶alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai¶ Al Islam dan Syarh Lum¶ah dari sang ayah dan
sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau
menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang
fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu
sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan
sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum
Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah
Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi.

Di Hauzah Ilmiah Najaf

Sejak usia 18 tahun Ayatullah Khamenei mulai belajar tingkat darsul kharij (tingkat tinggi) ilmu
fiqih dan ushul di kota Mashad dari seorang marji¶ almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Pada
tahun 1336 hijriah syamsiah (1957) beliau pergi menuju kota Najaf di Irak untuk berziarah.
Setelah menyaksikan dan ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf
termasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher Zanjani,
Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi, Sayid Ali Khamenei sangat menyukai kondisi
belajar, mengajar, dan penelaahan di hauzah ilmiah Najaf. Beliau pun lantas memberitahukan
niatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak menyetujui hal ini.
Setelah beberapa waktu, beliau kembali ke Mashad.

Di Hauzah Ilmiah Qom

Pada tahun 1337 hingga 1343 Hijriah Syamsiah (1958-1964), Ayatullah Khamenei belajar ilmu
tingkat tinggi di bidang fiqih, ushul, dan filsafat, di hauzah ilmiah Qom dari para guru besar
termasuk di antaranya almarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh
Murtadha Hairi Yazdi, dan Allamah Taba¶tabai. Pada tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964),
Sayid Ali Khamenei sangat sedih karena dalam surat menyurat dengan ayahnya, beliau
mengetahui bahwa satu mata ayahnya tidak dapat melihat lagi akibat terserang penyakit katarak.
Saat itu beliau bimbang antara tinggal di Qom untuk melanjutkan studi atau pulang ke Mashad.
Akhirnya demi keridhoan Allah swt, beliau memutuskan pulang ke Mashad dan merawat sang
ayah.

Di Masyhad

Dalam hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan, ³Saya pulang ke Mashad dan Allah swt telah
melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas
dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya
untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya´.

Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei memutuskan pilihan yang tepat.
Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat
meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika beliau tinggal sedikit lebih
lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian« Namun fakta di masa depan
membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang
ditetapkan oleh Allah swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan.
Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini,
yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian
diangkat menjadi pemimpin umat?

Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak menginggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada
waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih
dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1768) dari para guru besar hauzah Mashad
khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah
Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan
pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.

Perjuangan Politik

Ayatullah Khamenei menurut keterangan beliau sendiri adalah termasuk salah satu murid Imam
Khomeini dalam pelajaran fiqih, ushul, politik, dan revolusi. Namun percikan pertama aktivitas
politik dan perjuangan beliau terhadap pemerintahan dzalim, dipantik oleh seorang pejuang besar
yang gugur syahid di jalan Islam, Sayyid Mujtaba Navvab Safavi. Ketika itu, Navvab Safavi dan
sejumlah pejuang Islam lainnya dari kelompok Fedaiyan-e Islam (Pembela Islam) pada tahun
1331 Hijriah Syamsiah (1952) pergi ke kota kota Mashad untuk menyampaikan pidatonya yang
berapi-api di madrasah Sulaiman Khan soal kebangkitan Islam dan penerapan hukum Allah,
serta membongkar tipu daya Rezim Syah dan Inggris terhadap bangsa Iran. Pada masa itu,
Ayatullah Khamenei termasuk pelajar madrasah Sulaiman Khan dan beliau benar-benar terkesan
oleh pidato Navvab. Dalam hal ini beliau mengatakan, ³Saat itu juga percikan semangat revolusi
Islam dibangkitkan pada jiwa saya oleh Navvab dan saya tidak ragu lagi bahwa saat itulah
Navvab telah menyalakan api perjuangan dalam hati saya´.

Bersama Gerakan Imam Khomeini r.a

Ayatullah Khamenai pada tahun 1341 Hijriah Syamsiah (1962), tinggal di kota suci Qom dan
saat itu beliau masuk di medan perjuangan politik Imam Khomeini melawan politik anti-Islam
ala Amerika Serikat (AS) yang digulirkan oleh Rezim Syah Pahlevi. Selama 16 tahun beliau
berjuang dan harus melalui berbagai kondisi termasuk penjara dan pengasingan. Selama itu pula
beliau tidak gentar menghadapi segala bentuk ancaman bahaya. Untuk pertama kalinya pada
tahun 1338 Hijirah Syamsiah (1959), beliau diinstruksikan oleh Imam Khomeini untuk
menyampaikan pesannya kepada Ayatullah Milani dan para ulama lainnya di Propinsi Khorasan
soal mekanisme program dakwah para ulama dan ruhaniwan di bulan Muharram dan
penyingkapan kebobrokan politik Rezim Syah dan AS, serta menyangkut kondisi Iran dan kota
suci Qom. Misi itu dijalankannya dengan baik dan beliau melaksanakan tugas dakwah bulan
Muharram di kota Birjand. Dalam dakwahnya, seperti yang telah dimandatkan oleh Imam
Khomeini, Ayatollah Khamenei mengungkap kebobrokan Rezim Syah dan politik AS. Oleh
sebab itu, pada tanggal 9 Muharram bertepatan dengan tanggal 12 Khordad 1342 (2 Juni 1963),
beliau ditangkap dan ditahan semalam. Keesokan harinya beliau dibebaskan dengan syarat tidak
lagi berpidato di atas mimbar. Gerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat. Menyusul terjadinya
peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni 1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke
penjara militer di kota Mashad. Beliau mendekam selama 10 hari dalam penjara tersebut dan
selama itu pula beliau menjadi mangsa aksi penyiksaan sadis.

Penahanan Kedua

Pada bulan Bahman tahun 1342 Hijriah Syamsiah (Februari 1963) atau Ramadhan 1383 Hijriah,
Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan beliau pergi menuju Kerman dengan perencanaan
yang matang. Setelah dua atau tiga hari berpidato dan bertemu dengan ulama dan para pelajar
agama di Kerman, beliau melanjutkan perjalanannya menuju kota Zahedan. Pidato beliau yang
penuh semangat khususnya pada tanggal 6 Bahman (26 Januari) hari ulang tahun pemilihan
umum dan referendum palsu yang digelar Rezim Syah- mendapat sambutan hangat dari
masyarakat. Pada tanggal 15 Ramadhan yang bertepatan dengan hari kelahiran Imam Hasan as,
ketegasan dan keberanian serta semangat revolusi Ayatullah Khamenei dalam mengungkap
politik setan dan ala AS Rezim Syah Pahlevi, sampai pada puncaknya. Sebab itu, para agen
intelejen Rezim Syah atau SAVAK, menangkap beliau pada malam hari dan mengirim beliau ke
Tehran dengan menggunakan pesawat. Beliau dijebloskan ke dalam sel perorangan di penjara
Qezel Qal¶eh selama kurang lebih dua bulan. Selama itu pula beliau bersabar menahan segala
macam penyiksaan.

Penahanan Ketiga dan Keempat

Kelas pelajaran tafsir, hadis, dan pemikiran Islami beliau di kota Mashad dan Tehran, mendapat
perhatian yang luar biasa dari para pelajar muda revolusioner. Hal inilah yang kembali membuat
para agen SAVAK geram dan selalu mengawasi aktivitas Ayatullah Khamenei. Karena diawasi,
pada tahun 1345 Hijriah Syamsiah (1966) Ayatollah Khamenei beraktivitas secara sembunyi-
sembunyi. Setahun kemudian, beliau ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1349 Hijriah Syamsiah
(1970), untuk keempat kalinya beliau ditangkap oleh SAVAK karena berbagai aktivitas ilmiah
dan perjuangan beliau terhadap Rezim Syah.

Penangkapan Kelima

Mengenai penangkapan kelimanya, Ayatullah Khamenei menulis, ³Pada tahun 1348 Hijriah
Syamsiah (1969), terbuka peluang untuk melakukan perlawanan bersenjata di Iran. Sensitifitas
dan kekerasan agen-agen Rezim Syah saat itu terhadap pribadi saya juga semakin meningkat
mengingat gerakan perlawanan bersenjata tersebut tidak mungkin terlepas dari orang-orang
seperti saya. Pada tahun 1350 Hijriah Syamsiah (1971), saya kembali dipenjara. Tindakan
kekerasan yang dilakukan SAVAK di penjara secara jelas menunjukkan kekhawatiran mereka
terhadap menyatunya gerakan perlawanan bersenjata dengan pusat-pusat pemikiran Islam. Dan
mereka tidak dapat menerima fakta bahwa aktivitas ilmiah dan dakwah saya di Mashad dan
Tehran tak ada kaitannya dengan gerakan perlawanan bersenjata itu. Setelah bebas dari penjara,
pelajaran tafsir untuk umum dan kelas-kelas ideologi dan lain-lain, semakin meluas.´

Penangkapan Keenam

Antara tahun 1350 hingga 1353 Hijriah Syamsiah (1971-1974), pelajaran tafsir dan ideologi
Ayatullah Khamenei digelar di tiga masjid yaitu masjid Karamat, masjid Imam Hasan as, dan
masjid Mirza Ja¶far, di kota Mashad. Ribuan warga khususnya para pemuda revolusioner
memenuhi ketiga masjid tersebut untuk mendengarkan pemikiran dan pelajaran Ayatullah
Khamenei. Pelajaran Nahjul Balaghah beliau juga sangat diminati. Penjelasan Nahjul Balaghah
beliau yang ditulis dalam bentuk diktat berjudul ³Partuee az Nahjul Balaghah´ (Seberkas cahaya
dari Nahjul Balaghah) diperbanyak dan disebar luas oleh para pemuda revolusioner. Mereka
yang menimba pelajaran tentang hakikat dan perjuangan dari Ayatullah Khamenei, lantas
menyebar ke seluruh penjuru di Iran dan menjelaskan tentang hakikat serta mempersiapkan
mental warga bagi membela gerakan revolusi besar Islam.

Pada bulan Dey 1353 Hijriah Syamsiah (Januari 1975), SAVAK menyerbu rumah Ayatullah
Khamenei. Selain menangkap beliau, para agen SAVAK juga merampas seluruh artikel maupun
catatan beliau. Ini merupakan penangkapan keenam dan masa penahanan yang paling sulit.
Ayatollah Khamenei disekap dalam penjara Komite Gabungan Kepolisian hingga musim gugur
tahun 1354 Hijriah Syamsiah (mendekati bulan-bulan akhir tahun 1975). Selama masa
penahanan, beliau diperlakukan dengan sangat keji. Kepedihan yang dialami Ayatullah
Khamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh orang-orang
yang pernah merasakan kondisi yang sama. Setelah bebas, Ayatullah Khamenei kembali ke kota
Mashad dan tetap melanjutkan aktivitas ilmiah dan revolusionernya. Namun kali ini beliau tidak
dapat membuka kelas-kelas terbuka seperti sebelumnya.

Di Pengasingan

Rezim Syah Pahalevi pada akhir tahun 1356 Hijriah Syamsiah (1978), menangkap dan
mengasingkan Ayatullah Khamenei ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Pada pertengahan tahun
1357 (akhir 1978), menyusul semakin tajamnya perjuangan warga muslim revolusioner Iran,
Ayatullah Khamenei dibebaskan dari pengasingan dan kembali ke kota Mashad. Beliau berada di
barisan terdepan perjuangan rakyat Iran melawan Rezim Pahlevi dan SAVAK. Setelah 15 tahun
berjuang di jalan Allah swt secara ksatria serta ketabahan dalam menghadapi segala kesulitan,
akhirnya beliau dapat merasakan hasil dari perjuangan dan perlawanan tersebut yaitu
kemenangan Revolusi Islam Iran dan tumbangnya rezim despotik Syah Pahlevi, serta
terbentuknya kedaulatan Islam di negeri ini.

Detik Menjelang Kemenangan

Menjelang kemenangan Revolusi Islam, sebelum kepulangan Imam Khomeini r.a dari Paris ke
Tehran, sesuai instruksi Imam, dibentuklah Dewan Revolusi Islam yang dianggotai oleh
sejumlah tokoh pejuang seperti Ayatullah (Syahid) Mutahhari, Ayatullah (Syahid) Beheshti,
Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain. Imam Khomeini juga merekomendasikan Ayatullah
Khamenei untuk menjadi anggota dewan. Pesan Imam Khomeini r.a itu disampaikan kepada
Ayatullah Khamenei oleh Syahid Muthahhari, dan setelah itu Ayatullah Khamenei berangkat
dari Mashad menuju Tehran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran

Ayatullah Khamenei tetap melanjutkan aktivitas dan kerja keras untuk merealisasikan cita-cita
revolusi. Aktivitas dan jabatan yang beliau emban sangat penting khususnya jika dilihat dengan
memandang kondisi saat itu. Berikut ini adalah ringkasan aktivitas penting beliau:

Ikut mendirikan Partai Republik Islam pada bulan Esfand tahun 1357 Hijriah Syamsiah (Maret
1979) dengan kerjasama sejumlah ulama pejuang seperti Syahid Beheshti, Syahid Bahonar,
Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain.

Menjabat sebagai Deputi Menteri Pertahanan Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Imam Jum¶at Tehran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Wakil Imam Khomeini r.a di Dewan Tinggi Pertahanan, tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980).

Wakil warga Tehran di Majles Shura Islami (Parlemen Iran), tahun 1358 Hijriah Syamsiah
(1979).

Partisipasi aktif beliau dengan mengenakan seragam militer di medan perang µpertahanan suci¶
melawan Irak pada tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980), menyusul invasi pasukan Irak terhadap
wilayah Iran. Dalam perang ini Irak diprovokasi dan dipersenjatai oleh kekuatan arogan dunia
termasuk AS dan Uni Soviet.

Gagalnya percobaan teror terhadap beliau oleh kelompok munafiqin di masjid Abu Dzar Tehran,
tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, menyusul gugur syahidnya Muhammad Ali
Rajaee, Presiden kedua Republik Islam Iran. Pada bulan Mehr tahun 1360 Hijriah Syamsiah
(1981), Ayatullah Khamenei memperoleh lebih dari 16 juta suara warga, dan dilantik sebagai
Presiden Republik Islam Iran setelah mendapat pengukuhan dari Imam Khomeini r.a. Beliau juga
terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 1364 hingga 1368 Hijriah Syamsiah (1985).

Ketua Dewan Revolusi Kebudayaan, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara, tahun 1366 Hijriah Syamsiah (1987).

Ketua Dewan Revisi Konstitusi, tahun 1368 Hijriah Syamsiah (1989).

Ditunjuk oleh Dewan Ahli untuk menjadi Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran,
yang dimulai sejak 14 Khordad, sepeninggal Imam Khomeini r.a. Pilihan ini sangat tepat, karena
beliau memiliki kelayakan sepenuhnya untuk bukan saja membimbing warga Muslim Iran,
melainkan umat Islam di seluruh dunia (1989).

Karya Tulis

Tarh-e Kulli-e Andishe-e Eslami dar Qor¶an (Program Komprehensif Pemikiran Islami Dalam
AlQuran).

Az Jarfha-ye Namaz (Dari Kedalaman Shalat)

Goftari dar Bab-e Sabr (Pembahasan tentang Kesabaran)

Chahar Ketab-e Asli-e Elm-e Rejal (Empat Buku Utama Ilmu Rijal)

Wilayat (Kepemimpinan).

Gozaresh az Sabeqe-e Tarikhi va Auza-e Konouni-e Hauze-e Elmiye-e Mashhad (Laporan


Mengenai Sejarah dan Kondisi Terkini Hauzah Ilmiah Mashad).

Zendeginame-e Aimme-e Tashayyo¶ (Riwayat Hidup Para Imam Syiah) -belum dicetak.

Pishvaye Sadeq (Pemimpin yang Jujur)

Vahdat va Tahazzob (Persatuan dan Kepartaian)

Honar az Didgah-e Ayatollah Khamenei (Seni Menurut Ayatullah Khamenei)

Dorost Fahmidan-e Din (Pemahaman Benar Tentang Agama)

Onsor-e Mobarezeh dar Zendegiy-e Aimmeh (Unsur Perjuangan Dalam Kehidupan Para Imam
a.s

Ruh-e Tauhid, Nafy-e Obudiyyate Gheire Khoda (Ruh Ketauhidan, Penafian Penghambaan
Selain Allah swt)

Zarurat-e Bazgasht be Qor¶an (Urgensi Kembali Kepada AlQuran)

Sire-ye Emam-e Sajjad (Sejarah Imam Sajjad a.s)

Imam Ridha as va Velayatahdi (Imam Ridha a.s dan Posisi Putra Mahkota)

Tahajom-e Farhangi (Serangan Budaya), disusun dari kumpulan pidato dan pesan Rahbar.

Hadis-e Velayat (Hadis Kepemimpinan), kumpulan pidato dan pesan Rahbar yang hingga kini
telah dicetak sebanyak sembilan jilid.
=====================================================================
=====================================================================
======================

PROFIL NEGARA REPUBLIK ISLAM IRAN TAHUN 2010

UMUM

Nama Resmi: Islamic Republic of Iran (Jomhori-e Islami-e Iran)


Ibukota: Tehran

Berdiri Tahun: 1 April 1979

Hari Nasional: 10 Februari (Hari Revolusi Islam Iran tahun 1979)

Lagu Kebangsaan: Sorud-e Melli-e Iran

Bendera: Hijau-Putih-Merah dengan tulisan Allah berwarna merah dan berbentuk tulip ditengah-
tengah. Tulisan Allahu Akbar berwarna putih, masing-masing sebanyak 11 kali di bagian bawah
sepanjang warna hijau dan di bagian atas sepanjang warna merah

Kepala Negara/Pemimpin Tertinggi Agama (Supreme Leader): Ayatollah Seyed Ali Khamenei

Kepala Pemerintahan: Presiden Mahmoud Ahmadinejad (sejak 2005); terpilih kembali melalui
pemilu 12 Juni 2009

Ketua Parlemen: Ali Larijani

Menteri Luar Negeri: Manouchehr Mottaki

Bahasa Nasional: Farsi

Agama: Islam 98% (Shiah 91%, Sunni 7%), Yahudi 0,7%, Kristen 0,7%, Zoroaster 0,1% serta
Armenian dan Assyria

Penduduk: 70,4 juta (sensus Maret 2007 dengan pertumbuhan 0.86%)

Etnis/Suku: Persia 51%, Azeri 24%, Kurdi 7%, Mazandarani 8% dan 10% etnis lainnya

Ekonomi
Sumber daya alam: Minyak bumi, gas alam, batu bara, timah hitam, tembaga, biji besi, bahan
baku semen, chrom, seng, marmer

Ekspor Utama: Minyak mentah dan gas alam


Mata Uang: Rials (US$ 1 = Rls. 9960) (Juli 2009)
GDP (PPP): US$ 824 miliar (perkiraan 2008)
GDP (Real Growth Rate): 6,5% (perkiraan 2008)
GDP Per Kapita: US$ 12.800 (2008)

Laju Inflasi: 28% (consumer price)

Hutang luar negeri: US$. 21,77 milyar (2008)

Mitra Dagang Utama: Ekspor: Cina 15%, Jepang 14,3%, Turki 7.4%, Korea Selatan 7,3%, Italia
6,4%. Impor: Cina 14,2%, Jerman 9,6%, UAE 9,1%, Korea Selatan 6.3%, Rusia 5,7%, Italia 5%
, (2007)

Geografi
Luas Wilayah: 1.648.195 Km

Topografi: Sebagian besar pegunungan/dataran tinggi Tehran terletak pada ketinggian 1100-
1700 m

Koordinat geografis: 25°-40° LU dan 44°-46° BT

Iklim: 4 musim, perbedaan suhu sangat ekstrim. Musim panas 46°C, musim dingin ± 5°C

Kota Besar / Wisata: Isfahan (Ibukota lama, arsitektur Islam), Mashad (Makam Imam Reza,
Imam ke-8 Shiah), Shiraz (Persepolis, sebelum Masehi)

SEJARAH SINGKAT
Bangsa Iran berasal dari Ras Arya yang merupakan salah satu ras Indo-European. Migrasi
bangsa Arya ke berbagai belahan bumi seperti ke Asia kecil dan India dimulai pada 2.500
Sebelum Masehi (SM). Peradaban di dataran tinggi Iran dimulai 600 tahun SM di mana saat itu
terdapat 2 kerajaan yakni Parsa di sebelah Selatan dan Medes di Timur Laut Iran.

Pada tahun 550 SM, Cyrus the Great berhasil merebut 2 kerajaan Persia tersebut, namun tidak
berhasil memperpanjang kekuasaannya. Pada 521 SM Raja Darius mendirikan Dinasti
Achaemenid hingga Darius III. Pada 323 SM, Alexander the Great berhasil menaklukan Dinasti
Achaemenid. Di masa Dinasti Parthian (Raja Mirthridates II) berhasil menjalin hubungan dengan
Cina dan Roma yang dikenal dengan perdagangan sutranya (Silk Road). Pada 220 SM, Dinasti
Sassanid mengakhiri kejayaan Dinasti Parthian.

Setelah peperangan selama 4 abad, seiring memudarnya Kerajaan Romawi, Kerajaan Persia
hancur dan diinvasi oleh Kerajaan Mesir dan Arab lainnya dan berhasil menyebarkan agama
Islam.

Dari abad 7 hingga abad 16 Masehi, berbagai Dinasti keturunan Arab, Turki dan Mongol saling
berkuasa yakni Dinasti Abbasid, Dinasti Saffarian, Dinasti Samanid. Pada abad ke 16 khususnya
pada masa Kerajaan Savafid, tercapai masa kejayaan dalam bidang kerajinan dan pembuatan
karpet. Pada abad 17 Dinasti Afshar berkuasa, namun kemudian digantikan oleh Karim Khan
Zand yang mendirikan Dinasti Zand di Selatan. Di sebelah Utara Suku Qajar berhasil
mematahkan Dinasti Zand dan mendirikan Dinasti Qajar hingga abad 19 dengan Rajanya yang
terakhir bernama Ahmad Shah.

Pada tahun 1921, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Reza Shah Pahlevi yang kemudian
menjatuhkan Ahmad Shah dan mengangkat dirinya sebagai Raja Iran. Pada 1941, anaknya
bernama Mohammad Reza Shah naik tahta hingga terjadi Revolusi Islam yang dipimpin oleh
Ayatollah Imam Khomeini pada 1979. Berbagai peristiwa menonjol sejak itu adalah pendudukan
Kedubes Amerika Serikat, 1979-1981, Invasi Irak terhadap Iran pada 1980 yang menimbulkan
perang selama 8 tahun (1980-1988) dan sanksi ekonomi (energi) Amerika sejak 1996.

SISTEM PEMERINTAHAN

Ideologi
Ideologi negara berdasarkan kepada Agama Islam Madzhab Shiah Imam 12 (Ja¶fari). Untuk
melaksanakan prinsip ini maka diciptakan sistem Velayat-e Faqih (Supremasi kaum ulama) di
mana seorang pemimpin agama memiliki hak untuk memberikan fatwa keagamaan dan sekaligus
memegang kekuasaan tertinggi dalam masalah ketatanegaraan.

Marja-e Taqlid (ulama senior) memiliki wewenang untuk memberikan fatwa hukum kepada
masa penganut ajarannya yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah Marja-e Taqlid di Iran
sebanyak 8 orang. Tetapi Imam Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi Islam Iran 1979
kemudian dikukuhkan dalam Konstitusi sebagai Ayatollah Uzma yang berkedudukan sebagai
Rahbar yang berkuasa di bidang politik sekaligus bidang keagamaan (sebagai Marja-e Taqlid).

Agama resmi Negara adalah Islam beraliran Ja¶fari (Shiah Imam ke 12). Aliran Islam lainnya
yang bermadzhab Syafi¶I, Hambali, Hanafi dan Maliki serta Shiah Zaidiyah diakui dan
pelaksanaan syariat-syariatnya dilindungi oleh UU.

Konstitusi
Hukum tertinggi adalah Konstitusi Republik Islam Iran yang disahkan pertama kali oleh Majelis
Ahli tanggal 15 November 1979 dan diamandemen pada Juli 1989.

Lembaga Eksekutif
Kepala pemerintahan dijabat seorang Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat untuk
masa jabatan 4 tahun, dapat dapat dipilih kembali maksimal satu kali. Presiden dibantu oleh 9
orang wakil presiden yang membidangi tugas masing-masing serta 21 menteri anggota kabinet.
Sistem pemerintahan Iran menganut sistem presidensiil dan parlementer, di mana anggota
kabinet ditunjuk/diangkat oleh Presiden tetapi harus mendapat persetujuan dari Majelis serta
bertanggungjawab kepada Presiden dan Majelis.

Presiden harus bertanggungjawab kepada rakyat, Leader dan Parlemen (Majelis). Jika Presiden
berhalangan selama dua bulan lebih, maka Wakil Presiden I akan menjalankan fungsi
pemerintahan atas persetujuan Leader. Secara administratif, Iran terbagi menjadi 28 Propinsi dan
114 tingkat kabupaten. Setiap Propinsi dipimpin seorang Gubernur Jenderal sedangkan
kabupaten/kotamadya dipimpin Gubernur. Sejak terbentuknya Islamic Council tingkat Daerah
(DPRD) hasil Pemilu Februari 1999 pengangkatan para Gubernur Jenderal dan Gubernur
didilakukan oleh DPRD.

Lembaga Legislatif
Parlemen Iran (Majelis-e Syura-e Islami) merupakan lembaga legislatif yang beranggotakan 290
orang. Anggota Majelis dipilih melalui Pemilu setiap 4 tahun sekali dengan sistem distrik. Setiap
10 tahun rasio anggota Majelis ditinjau kembali sesuai dengan jumlah penduduk. Parlemen saat
ini merupakan hasil pemilu tahun 2008. Ketua Parlemen saat ini adalah Ali Larijani.

Majelis secara tidak langsung dapat menjatuhkan Presiden dan menteri-menteri Kabinet melalui
mosi tidak percaya. Hearing terhadap menteri diajukan sekurangnya oleh 10 anggota dan menteri
yang bersangkutan mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Presiden, hasil sidang disampaikan
kepada Leader untuk memecat Presiden.

Lembaga Judikatif
Kekuasaan tertinggi lembaga peradilan dijabat oleh Ketua Justisi yang diangkat langsung oleh
Leader untuk masa jabatan 5 tahun. Ia haruslah seorang Ulama Ahli Fiqih (Mujtahid).

Ketua Lembaga Judikatif (Chief of Judiciary) saat ini adalah Ayatollah Hashemi Shahroudi.
Fungsi utamanya adalah mengangkat dan memberhentikan ketua dan anggota Mahkamah Agung
dan Jaksa Agung serta menyusun RUU. Ia juga mengusulkan calon Menteri Kehakiman kepada
Presiden. Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan lembaga-lembaga Judikatif,
sementara Kementerian Kehakiman mengatur koordinasi antara lembaga judikatif dan lembaga-
lembaga Eksekutif dan Legislatif serta bertugas di bidang organisasi pemerintahan dan anggaran.

Sistem peradilan Iran mempunyai dua bentuk yaitu peradilan umum dan khusus. Peradilan
umum meliputi Pengadilan Tinggi Pidana, Pengadilan Rendah Pidana, Pengadilan Tinggi
Perdata, Pengadilan Rendah Perdata dan Pengadilan Perdata Khusus. Sedangkan Pengadilan
Khusus terdiri dari Pengadilan Revolusi Islam, Pengadilan Khusus Ulama dan Pengadilan Pers.

Sesuai dengan Konstitusi terdapat beberapa institusi lain yang berada di bawah Lembaga
Judikatif seperti Peradilan Militer yang merupakan bagian dari Lembaga Peradilan yang
menangani kasus-kasus pidana yang melibatkan anggota Angkatan Bersenjata, Polisi dan
Pasdaran; Peradilan Tinggi Administrasi yang menangani kasus-kasus yang terkait dengan
administrasi pemerintah; dan Kepala Inspektur Negara yang bertugas mengawasi kinerja
kementerian.

Lembaga Tinggi Negara Lainnya

Majelis Ahli

Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui Pemilu
setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember 2006 dan
diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.
Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya.
Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang konsep
Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik.
Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan Leader
sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga senantiasa menerima
kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang sedang berkunjung ke Tehran.
Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan Pendiri
Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah meninggalnya Khomeini
pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.

Dewan Pengawas Konstitusi

Guna menjamin kesesuaian setiap RUU dengan Konstitusi (Shura-e Negahban-e Qanun-e
Assassi) yang beranggotakan 12 orang (6 ahli hukum agama yang ditunjuk oleh Leader dan 6
ahli dari berbagai disiplin ilmu hukum umum yang dipilih oleh Majelis). Masa jabatan 6 tahun
dan setiap 3 tahun diadakan pemilihan bagi 6 orang anggotanya.

Kekuasaan Dewan Pengawas Konstitusi meliputi mengesahkan UU yang dibuat Majelis,


menafsirkan Konstitusi dan bertindak sebagai badan yang melitsus semua calon anggota Majelis
Ahli, Presiden, Majelis, dan referendum.

Dewan Kebijaksanaan Nasional

Dewan Kebijaksanaan Nasional (Majma-e Mashlahat-e Nezam) merupakan Dewan yang


bertugas untuk menengahi perbedaan antara Majelis dengan Dewan Pengawasan. Namun dalam
prakteknya, Dewan ini telah diberi tugas oleh Leader untuk membahas isu lainnya yang penting
seperti RAPBN,Repelita dan Kawasan Perdagangan Bebas. Jumlah anggota Dewan ini sebanyak
25 orang yang dipilih oleh Leader.

Dewan Keamanan Nasional

Sesuai dengan Konstitusi, Presiden juga merangkap sebagai Ketua Dewan Keamanan Nasional.
Dewan ini berwenang membuat kebijakan pertahanan nasional sesuai dengan yang telah
digariskan oleh Leader, mengkoordinasikan kegiatan politik, intelijen, sosial budaya dan
ekonomi yang terkait dengan kebijakan keamanan nasional, serta mengkaji sumber-sumber
materi dan non materi dalam menghadapi ancaman dari dalam maupun luar negeri. Anggota
Dewan terdiri dari para pimpinan Legislatif, Eksekutif dan Judikatif, Kepala Staf AB, Pejabat
Badan Perencanaan dan Anggaran Negara, dua Wakil yang ditunjuk Leader, Menlu, Mendagri,
Menteri Intelijen dan sejumlah menteri terkait.

Partai Politik dan Interest Groups


Konstitusi Iran memberikan kebebasan adanya partai-partai politik, namun dalam kenyataannya
pernah dihapuskan pada masa Imam Khomeini pada 1989 dengan alasan telah menyebabkan
perpecahan di kalangan keluarga besar Revolusi.
Orsospol terbagi kedalam koalisi parpol right wing (garis keras), left wing (konservatif/reformis)
dan independen. Adapun orsospol yang dikenal secara umum, yakni:

The Coalition of Harmonious Croup yang dimotori Jame-e Ruhaniat-e Mubarez/JRM (the
Society of Combatant Clergy), sebuah kelompok mullah garis keras (right wing) didirikan pada
1979.
The Coordinating Council of the May 23 Front (tanggal kemenangan Khatami pada Pemilu
Presiden 23 Mei 1997) yang dimotori Majma Ruhaniyat-e Mobarez/MRM (the Assembly of
Combatant Clerics), sebuah kelompok mullah konservatif (left wing) yang didirikan pada 1988.

Independence Group yang tidak mempunyai persamaan pandangan terhadap dua kelompok di
atas yakni the Moderation & Development Front (MDF), Green Party (GP) dan perorangan.
Selain kelompok-kelompok di atas, terdapat pula kelompok yang dikenal sebagai Ansar-e
Hizbullah yang merupakan pembela setia Republik Islam.

Sebaliknya, kelompok oposisi bersenjata yang pernah ada, seperti ³Mojahedin-e Khalq
Organization´ (MKO), People¶s Fedayeen, dan Democratic Party of Iranian Kurdistan, kini
sudah sangat lemah dan tidak lagi mempunyai kemampuan untuk ³mengganggu´ pemerintah.

=====================================================================
=====================================================================
========================

APAKAH AJARAN KHOMEiNi WAJiB DiPATUHi ????????????????????????

TANYA JAWAB : TANYA JAWAB : TANYA JAWAB :

Pertanyaan dari wahabi salafi :


salafi wahabi membaca buku khomeini lalu memotong kalimat sehingga mereka mengklaim
khomeini membuat ajaran aneh aneh«.

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Anda pelajari dulu konstitusi Iran tentang ³´´´Majelis Ahli´´´

Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui Pemilu
setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember 2006 dan
diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.

Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya.
Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang konsep
Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik.

Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan Leader
sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga senantiasa menerima
kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang sedang berkunjung ke Tehran.
Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan Pendiri
Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah meninggalnya Khomeini
pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.

Jadi jelaslah bagaiman fungsi khomeini !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1. Syi¶ah tidak pernah menyatakan wajib taat ( TAKLiD) pada Khomeini « Hanya saja aturan
Imam Khomeini dan majelis ulama pada zaman beliau dalam kapasitas sebagai RAHBAR wajib
ditaati karena ATURAN iTU MERUPAKAN ATURAN RESMi DAN BERSiFAT
³KONTEMPORER´.. Khomeini hanya wajib ditaati PADA MASANYA«Hasil pemahaman
Khomeini terhadap nash HANYA BERLAKU DALAM KONTEKS YANG SESUAi DENGAN
KEBUTUHAN HUKUM SAAT iTU ( KONTEMPORER )

2. Sementara zaman sekarang (tahun 2010) Aturan Ayatullah Ali Khamenei dan Majelis Ulama
Sekarang adalah aturan resmi KONTEMPORER..

Logikanya begini : Hal ini sama halnya dengan aturan Presiden dalam satu negara seperti
Indonesia, semasa Presiden memerintah maka aturannya wajib diikuti jika tidak melanggar
NASH..Kalau tidak wajib diikuti maka AKAN MERUSAK TATANAN MASYARAKAT DAN
KETERATURAN NEGARA AKAN KACAU KARENA TiDAK ADA UNDANG UNDANG
RESMi

AYATULLAH Ruhollah Khomeini pada 1979 memproklamasikan Republik Islam Iran (RII). Ia
menggerakkan revolusi yang menggetarkan, sehingga tahta Syah Reza Pahlevi runtuh (lihat
Selingan).

Khomeini meninggal , Maka, naiklah Hojatolislam Ali Khamenei sebagai pengganti mandataris
wilayat al-faqih atau kekuasaan hukum. Wewenangnya lebih hebat dari presiden yang juga
sekarang dijabatnya. Sejak proklamasi RII berdengung, harapan dunia Islam bangkit, karena
ajarannya menjadi rujukan kepemimpinan dan kenegaraan ² terutama dalam konsep wilayat al-
faqih.

pemimpin wilayat al-faqih setelah Khomeini dipilih Dewan Ahli Agama yang beranggota 36
orang. Khamenei dapat suara terbanyak. Ia seorang tokoh penengah dan fakih ² mirip kiai di
Indonesia yang otomatis diakui. Tapi Khamenei selaku mandataris wilayat al-faqih yang baru
belum terdengar mengguncang-guncang meniru pendahulunya. Cuma, ia masih memberlakukan
vonis mati dari Khomeini untuk Novelis Salman Rushdie. Sebab, The Satanic Verses yang
ditulis Salman menghujat Islam.

²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²

AJARAN Ayatullah Sayyid Ali Khamenei ( pengganti ayatullah Khomeini )

Kelahiran hingga sekolah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei


Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra
almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada
tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar
1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad
Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri
dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik
berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan,
³Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami
cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu
saya dengan susah payah menyiapkan makan malam« hidangan makan malam itu adalah roti
dan kismis´.

³Rumah ayah tempat saya dilahirkan -hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran
60 ± 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan
sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena
ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan
tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang
menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah
kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar´.
Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang
bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar
membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di
sekolah Islam yang saat itu baru dibangun ³Daar At-Ta¶lim Diyanati´.

Di Hauzah Ilmiah

Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah
serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. ³Faktor dan
alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang
selalu mendukung saya.´
Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di
madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau
perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku
Ma¶alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai¶ Al Islam dan Syarh Lum¶ah dari sang ayah dan
sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau
menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang
fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu
sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan
sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum
Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah
Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi.

Di Hauzah Ilmiah Najaf

Sejak usia 18 tahun Ayatullah Khamenei mulai belajar tingkat darsul kharij (tingkat tinggi) ilmu
fiqih dan ushul di kota Mashad dari seorang marji¶ almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Pada
tahun 1336 hijriah syamsiah (1957) beliau pergi menuju kota Najaf di Irak untuk berziarah.
Setelah menyaksikan dan ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf
termasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher Zanjani,
Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi, Sayid Ali Khamenei sangat menyukai kondisi
belajar, mengajar, dan penelaahan di hauzah ilmiah Najaf. Beliau pun lantas memberitahukan
niatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak menyetujui hal ini.
Setelah beberapa waktu, beliau kembali ke Mashad.

Di Hauzah Ilmiah Qom

Pada tahun 1337 hingga 1343 Hijriah Syamsiah (1958-1964), Ayatullah Khamenei belajar ilmu
tingkat tinggi di bidang fiqih, ushul, dan filsafat, di hauzah ilmiah Qom dari para guru besar
termasuk di antaranya almarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh
Murtadha Hairi Yazdi, dan Allamah Taba¶tabai. Pada tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964),
Sayid Ali Khamenei sangat sedih karena dalam surat menyurat dengan ayahnya, beliau
mengetahui bahwa satu mata ayahnya tidak dapat melihat lagi akibat terserang penyakit katarak.
Saat itu beliau bimbang antara tinggal di Qom untuk melanjutkan studi atau pulang ke Mashad.
Akhirnya demi keridhoan Allah swt, beliau memutuskan pulang ke Mashad dan merawat sang
ayah.

Di Masyhad

Dalam hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan, ³Saya pulang ke Mashad dan Allah swt telah
melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas
dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya
untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya´.

Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei memutuskan pilihan yang tepat.
Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat
meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika beliau tinggal sedikit lebih
lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian« Namun fakta di masa depan
membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang
ditetapkan oleh Allah swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan.
Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini,
yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian
diangkat menjadi pemimpin umat?

Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak menginggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada
waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih
dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1768) dari para guru besar hauzah Mashad
khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah
Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan
pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.

Perjuangan Politik
Ayatullah Khamenei menurut keterangan beliau sendiri adalah termasuk salah satu murid Imam
Khomeini dalam pelajaran fiqih, ushul, politik, dan revolusi. Namun percikan pertama aktivitas
politik dan perjuangan beliau terhadap pemerintahan dzalim, dipantik oleh seorang pejuang besar
yang gugur syahid di jalan Islam, Sayyid Mujtaba Navvab Safavi. Ketika itu, Navvab Safavi dan
sejumlah pejuang Islam lainnya dari kelompok Fedaiyan-e Islam (Pembela Islam) pada tahun
1331 Hijriah Syamsiah (1952) pergi ke kota kota Mashad untuk menyampaikan pidatonya yang
berapi-api di madrasah Sulaiman Khan soal kebangkitan Islam dan penerapan hukum Allah,
serta membongkar tipu daya Rezim Syah dan Inggris terhadap bangsa Iran. Pada masa itu,
Ayatullah Khamenei termasuk pelajar madrasah Sulaiman Khan dan beliau benar-benar terkesan
oleh pidato Navvab. Dalam hal ini beliau mengatakan, ³Saat itu juga percikan semangat revolusi
Islam dibangkitkan pada jiwa saya oleh Navvab dan saya tidak ragu lagi bahwa saat itulah
Navvab telah menyalakan api perjuangan dalam hati saya´.

Bersama Gerakan Imam Khomeini r.a

Ayatullah Khamenai pada tahun 1341 Hijriah Syamsiah (1962), tinggal di kota suci Qom dan
saat itu beliau masuk di medan perjuangan politik Imam Khomeini melawan politik anti-Islam
ala Amerika Serikat (AS) yang digulirkan oleh Rezim Syah Pahlevi. Selama 16 tahun beliau
berjuang dan harus melalui berbagai kondisi termasuk penjara dan pengasingan. Selama itu pula
beliau tidak gentar menghadapi segala bentuk ancaman bahaya. Untuk pertama kalinya pada
tahun 1338 Hijirah Syamsiah (1959), beliau diinstruksikan oleh Imam Khomeini untuk
menyampaikan pesannya kepada Ayatullah Milani dan para ulama lainnya di Propinsi Khorasan
soal mekanisme program dakwah para ulama dan ruhaniwan di bulan Muharram dan
penyingkapan kebobrokan politik Rezim Syah dan AS, serta menyangkut kondisi Iran dan kota
suci Qom. Misi itu dijalankannya dengan baik dan beliau melaksanakan tugas dakwah bulan
Muharram di kota Birjand. Dalam dakwahnya, seperti yang telah dimandatkan oleh Imam
Khomeini, Ayatollah Khamenei mengungkap kebobrokan Rezim Syah dan politik AS. Oleh
sebab itu, pada tanggal 9 Muharram bertepatan dengan tanggal 12 Khordad 1342 (2 Juni 1963),
beliau ditangkap dan ditahan semalam. Keesokan harinya beliau dibebaskan dengan syarat tidak
lagi berpidato di atas mimbar. Gerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat. Menyusul terjadinya
peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni 1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke
penjara militer di kota Mashad. Beliau mendekam selama 10 hari dalam penjara tersebut dan
selama itu pula beliau menjadi mangsa aksi penyiksaan sadis.

Penahanan Kedua

Pada bulan Bahman tahun 1342 Hijriah Syamsiah (Februari 1963) atau Ramadhan 1383 Hijriah,
Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan beliau pergi menuju Kerman dengan perencanaan
yang matang. Setelah dua atau tiga hari berpidato dan bertemu dengan ulama dan para pelajar
agama di Kerman, beliau melanjutkan perjalanannya menuju kota Zahedan. Pidato beliau yang
penuh semangat khususnya pada tanggal 6 Bahman (26 Januari) hari ulang tahun pemilihan
umum dan referendum palsu yang digelar Rezim Syah- mendapat sambutan hangat dari
masyarakat. Pada tanggal 15 Ramadhan yang bertepatan dengan hari kelahiran Imam Hasan as,
ketegasan dan keberanian serta semangat revolusi Ayatullah Khamenei dalam mengungkap
politik setan dan ala AS Rezim Syah Pahlevi, sampai pada puncaknya. Sebab itu, para agen
intelejen Rezim Syah atau SAVAK, menangkap beliau pada malam hari dan mengirim beliau ke
Tehran dengan menggunakan pesawat. Beliau dijebloskan ke dalam sel perorangan di penjara
Qezel Qal¶eh selama kurang lebih dua bulan. Selama itu pula beliau bersabar menahan segala
macam penyiksaan.

Penahanan Ketiga dan Keempat

Kelas pelajaran tafsir, hadis, dan pemikiran Islami beliau di kota Mashad dan Tehran, mendapat
perhatian yang luar biasa dari para pelajar muda revolusioner. Hal inilah yang kembali membuat
para agen SAVAK geram dan selalu mengawasi aktivitas Ayatullah Khamenei. Karena diawasi,
pada tahun 1345 Hijriah Syamsiah (1966) Ayatollah Khamenei beraktivitas secara sembunyi-
sembunyi. Setahun kemudian, beliau ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1349 Hijriah Syamsiah
(1970), untuk keempat kalinya beliau ditangkap oleh SAVAK karena berbagai aktivitas ilmiah
dan perjuangan beliau terhadap Rezim Syah.

Penangkapan Kelima

Mengenai penangkapan kelimanya, Ayatullah Khamenei menulis, ³Pada tahun 1348 Hijriah
Syamsiah (1969), terbuka peluang untuk melakukan perlawanan bersenjata di Iran. Sensitifitas
dan kekerasan agen-agen Rezim Syah saat itu terhadap pribadi saya juga semakin meningkat
mengingat gerakan perlawanan bersenjata tersebut tidak mungkin terlepas dari orang-orang
seperti saya. Pada tahun 1350 Hijriah Syamsiah (1971), saya kembali dipenjara. Tindakan
kekerasan yang dilakukan SAVAK di penjara secara jelas menunjukkan kekhawatiran mereka
terhadap menyatunya gerakan perlawanan bersenjata dengan pusat-pusat pemikiran Islam. Dan
mereka tidak dapat menerima fakta bahwa aktivitas ilmiah dan dakwah saya di Mashad dan
Tehran tak ada kaitannya dengan gerakan perlawanan bersenjata itu. Setelah bebas dari penjara,
pelajaran tafsir untuk umum dan kelas-kelas ideologi dan lain-lain, semakin meluas.´

Penangkapan Keenam

Antara tahun 1350 hingga 1353 Hijriah Syamsiah (1971-1974), pelajaran tafsir dan ideologi
Ayatullah Khamenei digelar di tiga masjid yaitu masjid Karamat, masjid Imam Hasan as, dan
masjid Mirza Ja¶far, di kota Mashad. Ribuan warga khususnya para pemuda revolusioner
memenuhi ketiga masjid tersebut untuk mendengarkan pemikiran dan pelajaran Ayatullah
Khamenei. Pelajaran Nahjul Balaghah beliau juga sangat diminati. Penjelasan Nahjul Balaghah
beliau yang ditulis dalam bentuk diktat berjudul ³Partuee az Nahjul Balaghah´ (Seberkas cahaya
dari Nahjul Balaghah) diperbanyak dan disebar luas oleh para pemuda revolusioner. Mereka
yang menimba pelajaran tentang hakikat dan perjuangan dari Ayatullah Khamenei, lantas
menyebar ke seluruh penjuru di Iran dan menjelaskan tentang hakikat serta mempersiapkan
mental warga bagi membela gerakan revolusi besar Islam.

Pada bulan Dey 1353 Hijriah Syamsiah (Januari 1975), SAVAK menyerbu rumah Ayatullah
Khamenei. Selain menangkap beliau, para agen SAVAK juga merampas seluruh artikel maupun
catatan beliau. Ini merupakan penangkapan keenam dan masa penahanan yang paling sulit.
Ayatollah Khamenei disekap dalam penjara Komite Gabungan Kepolisian hingga musim gugur
tahun 1354 Hijriah Syamsiah (mendekati bulan-bulan akhir tahun 1975). Selama masa
penahanan, beliau diperlakukan dengan sangat keji. Kepedihan yang dialami Ayatullah
Khamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh orang-orang
yang pernah merasakan kondisi yang sama. Setelah bebas, Ayatullah Khamenei kembali ke kota
Mashad dan tetap melanjutkan aktivitas ilmiah dan revolusionernya. Namun kali ini beliau tidak
dapat membuka kelas-kelas terbuka seperti sebelumnya.

Di Pengasingan

Rezim Syah Pahalevi pada akhir tahun 1356 Hijriah Syamsiah (1978), menangkap dan
mengasingkan Ayatullah Khamenei ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Pada pertengahan tahun
1357 (akhir 1978), menyusul semakin tajamnya perjuangan warga muslim revolusioner Iran,
Ayatullah Khamenei dibebaskan dari pengasingan dan kembali ke kota Mashad. Beliau berada di
barisan terdepan perjuangan rakyat Iran melawan Rezim Pahlevi dan SAVAK. Setelah 15 tahun
berjuang di jalan Allah swt secara ksatria serta ketabahan dalam menghadapi segala kesulitan,
akhirnya beliau dapat merasakan hasil dari perjuangan dan perlawanan tersebut yaitu
kemenangan Revolusi Islam Iran dan tumbangnya rezim despotik Syah Pahlevi, serta
terbentuknya kedaulatan Islam di negeri ini.

Detik Menjelang Kemenangan

Menjelang kemenangan Revolusi Islam, sebelum kepulangan Imam Khomeini r.a dari Paris ke
Tehran, sesuai instruksi Imam, dibentuklah Dewan Revolusi Islam yang dianggotai oleh
sejumlah tokoh pejuang seperti Ayatullah (Syahid) Mutahhari, Ayatullah (Syahid) Beheshti,
Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain. Imam Khomeini juga merekomendasikan Ayatullah
Khamenei untuk menjadi anggota dewan. Pesan Imam Khomeini r.a itu disampaikan kepada
Ayatullah Khamenei oleh Syahid Muthahhari, dan setelah itu Ayatullah Khamenei berangkat
dari Mashad menuju Tehran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran

Ayatullah Khamenei tetap melanjutkan aktivitas dan kerja keras untuk merealisasikan cita-cita
revolusi. Aktivitas dan jabatan yang beliau emban sangat penting khususnya jika dilihat dengan
memandang kondisi saat itu. Berikut ini adalah ringkasan aktivitas penting beliau:

Ikut mendirikan Partai Republik Islam pada bulan Esfand tahun 1357 Hijriah Syamsiah (Maret
1979) dengan kerjasama sejumlah ulama pejuang seperti Syahid Beheshti, Syahid Bahonar,
Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain.

Menjabat sebagai Deputi Menteri Pertahanan Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Imam Jum¶at Tehran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Wakil Imam Khomeini r.a di Dewan Tinggi Pertahanan, tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980).
Wakil warga Tehran di Majles Shura Islami (Parlemen Iran), tahun 1358 Hijriah Syamsiah
(1979).

Partisipasi aktif beliau dengan mengenakan seragam militer di medan perang µpertahanan suci¶
melawan Irak pada tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980), menyusul invasi pasukan Irak terhadap
wilayah Iran. Dalam perang ini Irak diprovokasi dan dipersenjatai oleh kekuatan arogan dunia
termasuk AS dan Uni Soviet.

Gagalnya percobaan teror terhadap beliau oleh kelompok munafiqin di masjid Abu Dzar Tehran,
tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, menyusul gugur syahidnya Muhammad Ali
Rajaee, Presiden kedua Republik Islam Iran. Pada bulan Mehr tahun 1360 Hijriah Syamsiah
(1981), Ayatullah Khamenei memperoleh lebih dari 16 juta suara warga, dan dilantik sebagai
Presiden Republik Islam Iran setelah mendapat pengukuhan dari Imam Khomeini r.a. Beliau juga
terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 1364 hingga 1368 Hijriah Syamsiah (1985).

Ketua Dewan Revolusi Kebudayaan, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara, tahun 1366 Hijriah Syamsiah (1987).

Ketua Dewan Revisi Konstitusi, tahun 1368 Hijriah Syamsiah (1989).

Ditunjuk oleh Dewan Ahli untuk menjadi Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran,
yang dimulai sejak 14 Khordad, sepeninggal Imam Khomeini r.a. Pilihan ini sangat tepat, karena
beliau memiliki kelayakan sepenuhnya untuk bukan saja membimbing warga Muslim Iran,
melainkan umat Islam di seluruh dunia (1989).

Karya Tulis

Tarh-e Kulli-e Andishe-e Eslami dar Qor¶an (Program Komprehensif Pemikiran Islami Dalam
AlQuran).

Az Jarfha-ye Namaz (Dari Kedalaman Shalat)

Goftari dar Bab-e Sabr (Pembahasan tentang Kesabaran)

Chahar Ketab-e Asli-e Elm-e Rejal (Empat Buku Utama Ilmu Rijal)

Wilayat (Kepemimpinan).

Gozaresh az Sabeqe-e Tarikhi va Auza-e Konouni-e Hauze-e Elmiye-e Mashhad (Laporan


Mengenai Sejarah dan Kondisi Terkini Hauzah Ilmiah Mashad).

Zendeginame-e Aimme-e Tashayyo¶ (Riwayat Hidup Para Imam Syiah) -belum dicetak.
Pishvaye Sadeq (Pemimpin yang Jujur)

Vahdat va Tahazzob (Persatuan dan Kepartaian)

Honar az Didgah-e Ayatollah Khamenei (Seni Menurut Ayatullah Khamenei)

Dorost Fahmidan-e Din (Pemahaman Benar Tentang Agama)

Onsor-e Mobarezeh dar Zendegiy-e Aimmeh (Unsur Perjuangan Dalam Kehidupan Para Imam
a.s

Ruh-e Tauhid, Nafy-e Obudiyyate Gheire Khoda (Ruh Ketauhidan, Penafian Penghambaan
Selain Allah swt)

Zarurat-e Bazgasht be Qor¶an (Urgensi Kembali Kepada AlQuran)

Sire-ye Emam-e Sajjad (Sejarah Imam Sajjad a.s)

Imam Ridha as va Velayatahdi (Imam Ridha a.s dan Posisi Putra Mahkota)

Tahajom-e Farhangi (Serangan Budaya), disusun dari kumpulan pidato dan pesan Rahbar.

Hadis-e Velayat (Hadis Kepemimpinan), kumpulan pidato dan pesan Rahbar yang hingga kini
telah dicetak sebanyak sembilan jilid.

²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²-

PERTANYAAN :

Bukankah pemikiran Khomeini ada beda dengan pemikiran KHAMENEi padahal keduanya
adalah sama sama RAHBAR ????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

- Pasti ada perbedaan secara detil dalam ijtihad

- Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya
belum diketahui

- Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah diketahui )

- Fungsi rahbar adalah sebagaimana fungsi pemimpin dalam suatu organisasi

- apakah ajaran syafi¶i , hambali, hanafi dan maliki wajib ditaati ??? padahal ajaran mereka beda
dalam fikih
²²²²²²²±
PERTANYAAN :
Sebutkan contoh ijtihad ulama syi¶ah zaman dulu yang dibatalkan ulama zaman sekarang
!!!!!!!!!!!!!

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :


Minoritas ulama syi¶ah meyakini Nabi Isa akan turun kebumi diakhir zaman.. Ulama syi¶ah
zaman dulu juga ada yang mengakuinya «

Mereka mengakuinya karena BELUM ADA PENELiTiAN TENTANG iTU..Tapi setelah


penelitian memberikan jawaban ilmiah MAKA KEBANYAKAN MEREKA TiDAK
MENGAKUi LAGi imam Nabi Isa turun di akhir zaman karena ayat Quran menyatakan semua
manusia sebelum Muhammad SAW sudah wafat
²²²²²²²²²±

PERTANYAAN :

1.Kata anda YANG KITA PEGANG ADALAH PENDAPAT TERAKHIR YANG SUDAH
DITELITI ?????

2.ARTiNYA BiSA SAJA ULAMA BESAR SYi¶AH ZAMAN DULU SEPERTi AL MAJLiSi
dan SYAiKH SHADUQ MENGELUARKAN PENDAPAT YANG SALAH LALU ULAMA
ZAMAN SEKARANG MENGELUARKAN PENDAPAT YANG BENAR ?????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

1.Ya, karena dalam semua kasus penelitian, penelitian terakhirlah yang kesimpulannya paling
baik«.Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah
diketahui )

2. yA, FAKTANYA MEMANG demikian


contoh sederhana Perbedaan ijtihadi ULAMA MASA LAMPAU DAN ULAMA MASA kini
karena samarnya istinbath hukum pada masa lampau tapi TERANG PADA MASA KiNi, contoh
: Ulama zaman dulu bilang merokok makruh karena mereka tidak tau mudharat rokok, tiba tiba
dikemudian hari setelah dilakukan penelitian ternyata rokok membawa mudharat, maka ULAMA
ZAMAN SEKARANG mengharamkan rokok

Jadi kesimpulan ???????????????????????????????????:


Ajaran Khomeini wajib ditaati hanya pada masanya dan tidak wajib pada masa berikutnya
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum
ada, atau hakikatnya belum diketahui

Masa sekarang yang wajib diikuti adalah YANG BERWENANG DAN KEWENANGANNYA
SAH SECARA HUKUM DAN SYARi¶AT !!!!! yaitu Ayatullah Ali Khamenei
²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²
²²²²²²²²²²²²±
²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²-

Taqlid dalam Ajaran Syiah Imamiah

Agama Islam ± sebagaimana maklum ± meliputi masalah-masalah aqidah, fiqih dan akhlak. Di
dalam masalah akidah ( ushuluddin ), khususnya menurut ajaran madzhab Ahlul Bait as tidak
dibenarkan bertaqlid buta dan mengikuti akidah orang lain tanpa memahami dalil-dalil dan
argumen-argumennya. Misalnya dalam masalah menetapkan dan meyakini adanya Tuhan Sang
Pencipta alam semesta ini, adanya hari pembalasan, mengenai keesan Tuhan dan lain-lain, dalam
hal ini kita tidak boleh ikut-ikutan dan bertaqlid buta kepada orang lain, sekali pun kepada guru
atau orang tua kita sendiri, artinya kita harus mencari atau memahami dengan baik dan benar
akan dalil-dalil dan argumen-argumen yang berhubungan dengan masalah tersebut. Sehingga
ketika kita ditanya orang; Apakah Tuhan itu ada? Kalau Tuhan itu ada, apakah Dia itu esa, satu
ataukah ada tiga? Apakah hari kiamat itu pasti terjadi? Dan pertanyaan-pertanyaan akidah
lainnya, kita dapat menjawabnya sekali pun dengan argumen-argumen yang sangat sederhana
sekali; seperti bahwa Tuhan Pencipta itu ada, dalilnya adalah adanya kita dan alam semesta ini.

Berbeda halnya dengan masalah fiqih atau furu¶uddin (cabang-cabang agama). Sehubungan
dengan masalah ini, khususnya dalam hal-hal yang sifatnya bukan ³darûriyyatuddin´ seperti
kewajiban shalat dll, kaum muslimin secara umum dan apa pun madzhab dan alirannya dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok µUlama Mujtahid, kelompok muqallid dan
kelompok muhtath.baca selanjutnya

Sebelum kami menjelaskan masing-masing definisi Mujtahid, Muqallid dan Muhtât, dan demi
memperjelas pengertian ³darûriyyatuddin³, baiklah akan kami jelaskan pembagian ³Ahkam
Syari¶ah³.

Hukum-hukum syari¶at (ajaran Islam) ditinjau dari sudut pandang upaya mengenal dan
mengetahuinya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

Ahkam Daruriah, yaitu hukum-hukum darûriyah yang biasa juga disebut darûriyy atuddîn artinya
adalah hukum-hukum yang sudah jelas, gamblang dan ma¶ruf serta telah menjadi keyakinan
seluruh kaum musliminin. Karena untuk menget ahuinya tidak perlu menguras tenaga dan
kemampuan untuk mengkaji, meneliti dan menggunakan kaidah-kaidah ushul, dengan kata lain
untuk mengetahui hukum-hukum darûriah itu tidak memerlukan ijtihad, contohnya seperti
wajibnya salat, zakat, haji dan lain-lain atau seperti haramnya berzina, membunuh dan lain-lain
yang mana seluruh kaum musliminin telah meyakini dan mengetahui dengan jelas tanpa
berijtihad atau berlajar lama di Hawzah (pesantren).
Hukum-hukum syari¶at yang bukan dlaruri, artinya hukum-hukum yang tidak gamblang bagi
setiap muslim yang biasa juga disebut ³Ahkam Ghairu Daruriyyah³ yaitu selain hukum-hukum
daruriyyah. Ahkam ghairu darûriyah ini menuntut segenap kemampuan dan kerja keras untuk
dapat mengetahuinya, yaitu dengan cara menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqih dan ilmu-ilmu
alat lainnya (seperti, tata bahasa arab, ilmu hadits, tafsir, dll) agaar dapat menentukan hukum-
hukum tersebut, seperti perincian hukum-hukum ibadat dan muamalat pada umumnya. Sudah
tentu tidak setiap muslim mampu melakukan pekerjaan berat semacam ini, bahkan tidak juga
setiap µUlama mampu melakukannya. Pekerjaan seperti ini dinamakan ijtihad yang hanya dapat
dilakukan oleh para Mujtahid. Untuk dapat mencapai tingkat ijtihad ini diperlukan keseriusan
dalam belajar di tingkat Bahtsul Kharij, yaitu peringkat tinggi dalam pelajaran fiqih dan ushul.

Tingkat Bahtsul Kharij ini dapat dimasuki oleh seorang santri/thalabeh setelah melewati
peringkat suthuh. Setidaknya Menurut hemat kami, mereka yang duduk dalam tingkat Bahtsul
Kharij ini menghabiskan waktu kurang lebih selama lima belas tahun untuk dapat melakukan
ijtihad. Sedang peringkat suthuh itu dapat ditempuh secara normal selama delapan tahun, setelah
itu barulah ia dapat memasuki pelajaran fiqih dan ushul pada tingkat Bahtsul Kharij.
Seorang Mujtahid Mutlak untuk dapat mencapai tingkat marja¶iah (menjadi marja¶ dan nara
sumber hukum bagi masyarakat umum) biasanya ada syarat-syarat khusus yang ia harus ia
tempuh, seperti adanya kesaksian dari beberapa orang ulama dan telah menulis Risâlah
µAmaliah. Seorang µUlama Syi¶ah Imamiyah yang merupakan seorang mujtahid dan telah
mencapai tingkat marja¶ berkata : ´ Mengingat ijtihad itu memerlukan ilmu yang ³canggih´,
keseriusan dan kerja keras yang istiqomah, oleh karena itu sedikit sekali orang-orang yang
mampu mencapai peringkat mulia dan terpuji ini. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan
mayoritas kaum muslimin harus merujuk kepada seorang mujtahid sebagai nara sumber dalam
masalah-masalah fiqih. Dan inilah yang disebut dengan ³taqlid ³.

Definisi Mujtahid, Muqallid dan Muhtât

Mujtahid ialah : Orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali
dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur¶an dan
Hadits. Mujtahid inilah yang menjadi rujukan (marja¶) bagi orang-orang awam dan kelompok
muqallid.

Muqallid ialah : orang-orang awam yang belum atau tidak sampai kepada derajat ijtihad. Mereka
ini diwajibkan ber-taqlid kepada seorang Mujtahid atau Marja¶ yang telah memenuhi syarat.
Pendeknya bahwa muqallid adalah orang yang ber-taqlid atau mengikuti seorang Mujtahid.
Sedang arti taqlid itu sendiri adalah beramal ibadah, ber-mu¶amalah, bermasyarakat dan
bertingkah laku sesuai dengan fatwa-fatwa seorang Mujtahid atau marja¶.

Muhtât ialah : Orang yang juga belum mencapai peringkat ijtihad, tetapi lebih tinggi derajatnya
dari mukallid karena ia telah mampu mengkaji dan membandingkan antara fatwa-fawa seorang
Marja¶ dengan fawa-fatwa Marja¶ lainnya, sehingga ia dapat memilih fatwa yang lebih hati-hati
dan lebih berat untuk diamalkan. Singkatnya definisi muhtât adalah orang yang berhati-hati
dalam segala amal ibadah dan perbuatannya. Kelompok muhtât jumlahnya sangat sedikit sekali,
karena ber-ihtiyât adalah termasuk pekerjaan yang berat. Oleh karena itu, kelompok ini pun
dibolehkan ber-taqlid kepada seorang marja¶.

Kewajiban Bertaqlid Bagi Setiap Muslim

Apabila Anda ditanya orang; Mengapa dalam agama Islam dan khususnya dalam madzhab
Syi¶ah Imamiah (Ahlul Bait As) setiap muslim dilarang bertaqlid -dalam masalah ushuluddin-
kepada orang lain sekali pun kepada µUlama dan para mujtahid, tetapi dalam masalah-masalah
fiqih yang bukan ³daruriyyatuddin´ -setiap muslim yang awam- diwajibkan bertaqlid kepada
salah seorang mujtahid atau marja¶ ?

Jawabnya adalah : Karena setiap muslim yang berakal sehat pasti mampu untuk mencari atau
memahami argumen-argumen ushuluddin/aqidah dengan menggunakan akal pikirannya,
sehingga dalam masalah-masalah aqidah tidak perlu dan tidak dibolehkan bertaqlid kepada orang
lain, tetapi dalam masalah-masalah fiqih /furu¶uddin tidaklah demikian, artinya tidak semua
orang -bahkan sedikit sekali- yang mampu menggali hukum dari sumbernya yang asli yaitu Al-
Qur¶an dan hadits. Hanya para Mujtahidlah yang mampu melakukan pekerjaan (ijtihad) ini. Oleh
karena itu, dalam masalah fiqih orang awam (yang belum mencapai peringkat ijtihad) diwajibkan
bertaqlid kepada seorang marja¶.

Dalam masalah pengetahuan umum saja, kalau kita perhatikan kehidupan dan kemajuan zaman
sekarang ini, diperlukan adanya spesialisasi-spesialisasi dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya
kedokteran, filsafat, ekonomi, politik, tehnik dan lain-lain. Bahkan ilmu kedokteran saja
bercabang-cabang lagi, nah apalagi dalam masalah agama dan hukum-hukum dalam Islam,
sudah tentu sangat diperlukan adanya para mujtahid dan marja¶ agar orang-orang awam tidak
tersesat dan tidak berani menyimpulkan dan mengeluarkan hukum sendiri. Sebagaimana dalam
masalah penyakit dan pengobatannya orang-orang awam diharuskan merujuk kepada dokter
spesialisasi, maka begitu pula dalam masalah-masalah fiqih dan ahkam, yaitu orang-orang awam
diharuskan merujuk kepada para mujtahid dan marja¶ yang telah memenuhi syarat. Tentu saja
taqlid semacam ini jauh berbeda dengan taqlid kepada orang-orang asing dalam masalah budaya
dan adat istiadat, karena bertaqlid kepada mereka dalam masalah ini akan menyebabkan
hancurnya akidah, iman dan akhlak Islami seorang muslim. Seorang muslim haruslah senantiasa
menjaga akhlak, iman dan adat istiadat atau budayanya yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Dalil-Dalil Keharusan Bertaqlid

Paling tidak ada lima argumen yang bisa dijadikan sebagai dasar kebolehan dan keharusan
bertaqlid bagi orang-orang awam ± dalam masalah-masalah fiqih ± kepada seorang mujtahid atau
marja¶. Lima buah argumen itu ialah :

1. Sirah al-¶uqala (Tingkah laku orang-orang yang berakal)

Argumen terpenting sehubungan dengan masalah ini adalah argumen prilaku µuqala sepanjang
sejarah kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari kita saksikan bahwa mayoritas masyarakat
umum senantiasa mengikuti, bertaqlid dan merujuk kepada para ahli di bidangnya masing-
masing. Misalnya mereka yang bukan ahli dalam bidang elektronik ketika TV mereka rusak,
mereka akan merujuk tempat-tempat servis TV dimana tenaga ahli terdapat disitu dan bahkan
mereka siap mengikuti dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh para ahli
tersebut.

Janganlah coba-coba apabila Anda bukan ahli dibidangnya untuk memperbaiki TV, membongkar
mesin mobil atau pun menservis komputer, karena pasti Anda tidak akan berhasil dan mayarakat
umum pun akan mencaci maki Anda. Tetapi, rujuklah para ahli di bidangnya masing-masing.
Kalau dalam urusan materi dan dunia saja harus demikian, apalagi dalam hal-hal yang
berhubungan erat dengan kehidupan alam akhirat yang kekal dan abadi. Logiskah apabila Anda
menanyakan apa hukumnya bekerja di bank, bagaimana cara melakukan ibadah haji dan lain-lain
kepada penjual sayuran di pasar ? atau kepada ahli bangunan ?

2. Al-Qur¶an,

Artinya: ´ Hendaklah ada sekelompok dari orang-orang yang beriman yang mendalami masalah-
masalah agama untuk memberikan peringatan kepada kaumnya´.(Qs. at-Taubah: 122)

Penjelasan :

Ayat tersebut menunjukkan wajibnya melakukan ³indzar´ (memberikan dan menyampaikan


peringatan kepada umat manusia akan adanya siksa Allah Swt ketika mereka tidak mentaati dan
melanggar hukum-hukum-Nya). Sudah barang tentu tidak semua orang mampu menentukan,
menetapkan dan menjelaskan hukum-hukum Allah Swt tersebut selain para µulama dan mujtahid
yang telah mengkaji masalah-masalah agama puluhan tahun. Dengan demikian, ayat tersebut
tidak secara langsung mewajibkan orang-orang muslim yang awam untuk bertaqlid kepada para
µulama, maraji¶ dan mujtahidin yang telah memenuhi syarat. Sehubungan dengan ayat tersebut
sebagian µUlama Ahli Sunnah berkata: ³Maka dengan demikian Allah Swt telah mewjibkan
kaum muslimin untuk menerima ³indzar´ dan peringatan yang disampaikan oleh para µUlama,
dan hal itu berarti ³taqlid´ kepada mereka´.

3. Al-Qur¶an.

Artinya: ³Maka hendaklah kalian bertanya kepada ³Ahli Dzikir´ ( para µUlama ) jika memang
kalian tidak tahu´. (Qs.an-Nahl : 43)

Penjelasan:

Sangat jelas, bahwa ayat tersebut menunjukkan kewajiban bertaqlid bagi orang-orang awam
yang belum mencapai peringkat mujtahid. Nampaknya ayat ini lebih jelas tekanannya
dibandingkan dengan ayat sebelumnya, karena ayat ini menjelaskan tugas si mukallid, hanya saja
yang menjadi masalah adalah siapakah ahli dzikir yang dimaksud oleh ayat tersebut?

Sehubungan dengan pengertian ahli dzikir, ada beberapa jawaban dan pandangan yang perlu
diperhatikan baik-baik

1. Ahli ilmu dan ahli Al-Qur¶anul al- Karim

2. Ibnu Qayyim al-Jauzi berpendapat ´ bahwa yang dimaksud dengan ahli dzikir ialah ahli tafsir
dan ahli hadits´ .

3. Ibn Hazm berkata ´ ahli dzikir adalah para perawi hadits Nabi dan para µulama tentang
hukum-hukum al-Qur¶an ´ .
Dari beberapa jawaban dan pandangan tersebut dapat kita simpulkan bahwa seluruh umat Islam
yang awam yaitu yang belum mencapai derajat ijtihad, diwajibkan untuk bertanya, mengikuti
dan bertaqlid kepada Ahli Dzikir, yaitu para µUlama yang betul-betul telah mendalam
pengetahuannya tentang al-Qur¶an dan hadits-hadits Nabi. Hal ini sesuai dengan penafsiran
secara umum dan sesuai pula dengan kondisi sekarang ini, dimana kita hidup pada masa
³ghaibah kubra³nya Imam Zaman As. Sedang ³ahli dzikir´ menurut pandangan yang lebih
dalam, lebih luas dan khusus yang ditopang oleh ayat-ayat lainnya dan berbagai riwayat adalah:
para Imam Ma¶shum yang jumlahnya ada dua belas orang. Ma¶af, kami tidak dapat
menyinggung masalah yang luas ini dalam risalah yang sederhana ini.

4. Al-Qur¶an

Artinya: ³Katakanlah pada mereka: µTaatilah Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri dari kalian¶³.
(Qs.an-Nisa ayat : 59)

Penjelasan:

Sebagian µUlama Ahli Sunnah menjadikan ayat ini sebagai dalil atas wajibnya bertaqlid, mereka
mengatakan : ´ Sesungguhnya Allah Swt -dalam ayat ini- telah memerintahkan hamba-Nya agar
mentaati-Nya, mentaati Rasul-Nya dan µUlil Amri¶ yaitu para µUlama atau para µUlama dan
Umara. Dan taat kepada mereka berarti mentaqlidi mereka atas segala apa yang mereka
fatwakan, karena sesungguhnya jika tidak ada taqlid, tidak akan ada ketaatan yang khusus
kepada mereka´.

Para µUlama Syi¶ah Imamiah ± berdasarkan riwayat-riwayat yang juga bersumber dari kitab-
kitab Ahli Sunnah ± mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ³Ulil Amri´ dalam ayat tersebut
adalah : ³Para Imam Dua Belas´ setelah wafatnya Rasulullâh saw dari mulai Imâm µAlî bin Abî
Tâlib As sampai kepada Imâm Zaman al-Mahdi As. Dengan demikian ayat tersebut berarti : ´
Hendaknya kalian senantiasa mentaati Allah Swt, Rasul-Nya dan para Imam Ma¶sum yang 12
orang´. Sedang pada masa ghaibah kubra Imam yang ke 12 sekarang ini, kalian wajib mentaati
³Wali Faqih³ yaitu Imam Ali Khamene¶i Hf dan marja¶ kalian masing-masing yang telah
memenuhi syarat.

5. Riwayat Imam Hasan al-Askari As

Artinya: ³Adapun terhadap seorang faqih yang senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan dosa,
selalu menjaga agamanya, melawan hawa nafsunya dan selalu mentaati perintah-perintah
³Maula³nya, maka diwajibkan bagi semua orang awam untuk bertaqlid kepadanya´.

Penjelasan

Telah jelas dan masyhur bahwa riwayat ini menunjukkan dan menjelaskan kewajiban bertaqlid
bagi semua orang awam -pada masa sekarang ini- kepada seorang marja¶ dan mujtahid yang
sebagian syarat-syaratnya telah disebutkan dalam riwayat tersebut.
Kalau kita perhatikan para pengikut madzhab Ahli Sunnah di seluruh dunia pada masa sekarang
ini ± di dalam masalah fiqih ± sebagian mereka bertaqlid kepada Imam Syafi¶i, sebagian lainnya
bertaqlid kepada Imam Maliki, Hanafi dan Hanbali. Terlepas mereka itu paham atau pun tidak
akan masalah taqlid, mereka sadari atau pun tidak, yang jelas mereka itu -dalam masalah
furu¶uddin- bertaqlid dan mengamalkan fatwa-fatwa salah seorang dari para mujtahid dan marja¶
tersebut.

Sedang para pengikut madzhab Syi¶ah Imamiah diwajibkan untuk bertaqlid ± dalam masalah
furu¶uddin yang bukan daruriyyatuddîn dan pada masa ghaib kubra sekarang ini ± kepada
seorang mujtahid dan marja¶ yang telah memenuhi syarat. Dan mayoritas mujtahidin itu kini
berada di Negara Republik Islam Iran, khususnya di kota Qum al-Muqaddasah.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid dan marja¶ yang bisa ditaqlidi,
sebagaimana telah dijelaskan oleh para µUlama di dalam kitab-kitab fiqih mereka ialah:.

1. Telah mencapai peringkat mujtahid.

2. Adil.

3. Laki-laki.

4. Beriman ( Syi¶i Imami ).

5. Bukan anak hasil zina.

6. Wara¶.

7. Lebih alim dari mujtahid lainnya.

8. Dll.

Apabila terdapat beberapa orang yang telah memenuhi syarat-syarat tersebut, sebagaimana
kenyataan sekarang ini, maka si muqallid -untuk dapat memilih dan mentaqlidi salah seorang
dari mereka- haruslah dengan bantuan dan perantara ³Ahli Khibrah ³. Ahli Khibrah ialah: Orang-
orang yang telah lama (kira-kira lebih dari 20 tahun) mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu
agama sehingga mereka telah mampu menilai, menentukan dan membedakan antara Mujtahid
dengan yang bukan/belum Mujtahid dan antara yang a¶lam dengan yang tidak.

Menurut Imâm Khomeini Ra, Sayyid al-Qâid Hf, dll. Minimalnya harus melalui perantara dua
orang Ahli Khibrah untuk dapat memilih, menentukan dan mentaqlidi seorang mujtahid atau
marja¶. Dengan demikian si mukallaf atau mukallid yang awam tidak dibenarkan memilih dan
menentukan marja¶nya dengan penilaiannya sendiri, apalagi jika penilaian dan pemilihannya atas
seorang marja¶ itu didasari oleh sifat rakus dan tamaknya terhadap materi dan dunia, seperti -
misalnya- jika marja¶ yang ia pilih itu lebih dekat dan lebih banyak memberikan bantuan
kepadanya daripada marja¶ lainnya. Nah, dasar penilaian dan pemilihan seperti ini jelas
kebatilannya, karena satu-satunya tolok ukur a¶lamiah seorang marja¶ adalah: kelebih
pandaiannya dalam beristinbat dan menetapkan suatu hukum dari sumber-sumbernya, dan sama
sekali bukan yang lebih pandai dalam masalah-masalah sosial, politik apalagi materinya.

Pembagian Taqlid

Taqlid seseorang kepada orang lain -dalam hal apa pun dan secara rasional- tidak keluar dari
empat macam,yaitu:

Taqlid seorang alim kepada alim lainnya.


Taqlid seorang jahil kepada jahil lainnya.
Taqlid seorang alim kepada orang yang jahil.
Taqlid seorang yang jahil kepada orang alim.
Bagian pertama, yaitu taqlid seorang yang alim kepada orang alim lainnya, menurut penilaian
akal sehat adalah suatu perbuatan yang jelek dan tidak terpuji, karena tidak ada alasan bagi orang
yang telah mengetahui ( alim ) tentang suatu masalah bertaqlid kepada orang lain yang juga
mengetahui permasalahan yang sama. Oleh karena itu, seorang mujtahid tidak dibenarkan dan
tidak dibolehkan bertaqlid kepada mujtahid lainnya.

Bagian kedua, yaitu taqlid seorang jahil, bodoh dan tidak mempunyai ilmu pengetahuan kepada
orang jahil yang sama. Sudah tentu akal sehat menilai perbuatan semacam ini sangat buruk dan
tidak logis. Bagaimana mungkin orang yang bodoh bertaqlid kepada orang yang bodoh pula. Hal
ini tidak ada bedanya dengan orang buta yang berkata kepada kawannya yang juga buta pula:
³peganglah tanganku dan tuntunlah aku menuju ke suatu tempat di sana´.

Bagian ketiga, yaitu taqlid seorang µalim kepada orang jahil. Taqlid semacam ini adalah paling
buruk dan hinanya perbuatan di mata masyarakat umum dan bahkan menurut penilaian anak
kecil sekali pun. Mana mungkin orang yang dapat melihat dengan baik minta bantuan untuk
dituntun ke suatu tempat kepada orang yang buta matanya.

Bagian keempat adalah: taqlid seorang jahil kepada orang alim dan pandai (ahli ilmu). Hal ini
sangatlah wajar dan logis. Bahkan menurut akal sehat memang begitulah seharusnya, yaitu orang
yang awam dan bodoh diharuskan bertaqlid dan mengikuti saran-saran, nasihat-nasihat, fatwa-
fatwa dan jejak langkah ahli ilmu. Dalam hal ini, agama pun -terutama madzhab Ahlul Bait As-
sangat menekankan dan mewajibkannya. Taqlid semacam ini tidaklah dikategorikan sebagai
³taqlid buta´ yang memang sangat dicela oleh akal sehat dan Al-Qur¶an al-Karim. Contoh taqlid
keempat ini tidak ada bedanya dengan seorang awam yang terkena penyakit tertentu
berkonsultasi dan berobat kepada seorang dokter spesialisasi di bidangnya.

´Taqlid buta´ adalah satu sifat yang sangat buruk, rendah dan tercela, yaitu ketika seseorang
mengikuti orang lain tanpa dalil dan argumen yang jelas, kuat dan logis, baik dalam hal ibadat,
maupun dalam hal adat istiadat. Baik yang diikuti itu masih hidup, atau pun sudah mati. Baik
kepada orang tua dan nenek moyang, maupun kepada bangsa lain. Sifat inilah yang disandang
oleh orang-orang kafir dan dungu, dari dahulu kala hingga pada zaman kita sekarang ini, dimana
mereka menjalankan ibadah mereka sehari-hari berdasarkan taqlid buta dan mengikuti lampah
dan perbuatan nenek-nenek moyang mereka yang tidak mempunyai dalil dan argumen sama
sekali. Allah Swt berfirman: ³Dan apabila dikatakan kepada mereka ( orang-orang kafir dan yang
menyekutukan Allah ): ³ikutilah semua ajaran dan petunjuk yang telah Allah turunkan´. Mereka
menjawab: ³Kami hanya mengikuti segala apa yang telah dilakukan oleh nenek-nenek moyang
kami´. Padahal nenek-nenek moyang mereka itu tidak mengerti apa-apa dan tidak juga mendapat
hidayah ( dari Allah Swt )´ (Qs.Al-Baqarah : 170).

Dengan kata lain, bahwa nenek-nenek moyang mereka itu adalah orang-orang yang bodoh dan
tersesat, tetapi walau pun demikian mereka tetap mengikuti dan mentaqlidinya. Mereka menolak
bertaqlid kepada orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah Swt, ma¶sum (terjaga) dari
segala kesalahan dan dosa dan ahli ilmu pengetahuan, yang sifat-sifatnya telah jelas disebutkan
oleh Allah Swt di dalam Al-Qur¶an al-Karim, yaitu para Nabi, Rasul, Imam-Imam suci dan para
µulama yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah kami singgung di atas.

Para pembaca yang budiman, mengingat risalah ini sengaja dibuat seringkas mungkin, maka
kami kira bukan pada tempatnya untuk menjelaskan masalah taqlid yang lebih luas lagi, terutama
yang berhubungan dengan masalah ³marja¶iah´ dan ³a¶lamiah³.

Secara singkat kami katakan, bagi Anda yang baru baligh atau baru masuk/pindah ke madzhab
Syi¶ah Imamiah pada masa sekarang ini, dimana tidak ada kata sepakat dari para Ahli Khibrah
tentang a¶lamiah seorang mujtahid atau marja¶, jika ingin bertaqlid kepada seorang mujtahid atau
marja¶, maka carilah dua orang Ahli Khibrah yang menyaksikan dan menyatakan a¶lamiahnya.
Di samping itu pula, tentunya Anda dituntut untuk mengenal dan memeperhatikan Ahli Khibrah
tersebut, baik dari sisi akhlak, pengetahuan, zuhud, dll. Baik melalui cerita-cerita orang-orang
yang mengenalnya, membaca biografi dan karangan-karangannya, atau dengan cara-cara lainnya.
Karena Ahli Khibrah itulah yang menyampaikan Anda kepada seorang mujtahid atau Marja¶
Taqlid. Sedang Marja¶ Taqlid itu menyampaikan dan menyambung tali hubungan Anda dengan
Imam Zaman Ajf. Dan Imam Zaman Ajf adalah sebagai tali penghubung dan ³Al-Urwah al-
Wustqa´ kepada Allah Swt bagi setiap mukallid, bahkan secara umum bagi setiap insan dan jin
yang berusaha mencari dan menelusuri jalan menuju al-Haq. Bahkan lebih dari itu, Imam Zaman
Ajf yang berperan sebagai ³al-Hujjah´ di muka bumi pana ini, adalah sebagai tonggak dan poros
utama bagi keteraturan alam semesta ini dengan segala aktivitasnya, ³Lawlal Hujjah Lasaakhatil
ardlu biahlihaa´, tanpa adanya ³al-Hujjah´ (Imam Zaman Ajf sebagai Imam Maksum yang ke
12), akan hancur luluhlah bumi ini dengan segenap penduduk dan isinya. Pembahasan tentang
Imam Zaman ajf sebagai µal-Hujjah³, ³Wasilah´ dan ³Al-¶Urwah al-Wutsqa´ ini, berhubungan
erat dengan pembahasan ³hukum kausalitas, sebab akibat dan ³Sunnatullah´ di dalam pelajaran
dan kajian filsafat. Hal ini tidak dapat kami bahas dalam risalah sederahana ini. Namun Anda
dapat menanyakannya kepada seorang Ustadz yang telah mempelajari dan mengkaji akidah
Syi¶ah Imamiyah dengan baik dan mendalam.

Dengan ungkapan lain yang lebih jelas sehubungan dengan peran penting kehadiran seorang
marja¶ dan Imam Zaman Ajf dalam kehidupan kita sehari-hari, kami katakan bahwa kita tidak
akan dapat mencapai makam ³mardlatillah´ yang murni dan sempurna tanpa mengenal Imam
Zaman Ajf dan menapaki jalan-jalan syari¶at dan bimbingan beliau. Sebagaimana pula kita yang
awam ini tidak mungkin akan dapat mentaati dan melaksanakan segala perintah, syari¶at dan
bimbingan beliau tanpa menjalankan berbagai aturan dan tata cara beribadah, bermu¶amalah,
bermasyarakat dst yang telah dirangkum dalam ³Risâlah µAmaliah´ seorang mujtahid/marja¶.
Dengan demikian, betapa urgen dan pentinganya kehadiran sebuah ³Risâlah µAmaliah´ Marja¶
Taqlid Anda di sisi Anda. Bila hal ini dapat Anda pahami dengan baik dan benar, sehubungan
dengan ³Hablumminallah´ dan ³Hablumminannas³, maka tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk
mengabaikan dan membiarkan ³Risâlah µAmaliah´ jauh keberadaannya dari sisi Anda, dan tidak
mungkin pula Anda akan lebih mengutamakan membaca koran-koran, majalah-majalah dan
media lainnya hanya sekedar untuk mengorek-ngorek informnasi dan berita-berita dunia yang
tidak ada hubungannya dengan peningkatan keimanan Anda dan tidak ada kaitannya pula dengan
nasib Anda di alam akhirat yang kekal abadi.

Tidaklah mengherankan apabila terdengar adanya satu dua orang yang dengan sengaja
mengabaikan dan tidak mempedulikan kehadiran sebuah ³Risâlah µAmaliah´ dalam peraktek
kehidupannya sehari-hari, dan mereka itu lebih mengutamakan sisi afkar (pemikiran) dan aqidah
global dalam madzhab Syi¶ah Imamiah, lantaran mereka belum dapat memahami dengan baik
bagaimana menggapai keridlaan Imam Zaman Ajf sebagai langkah ³wasilah´ menuju titik
sasaran utama dan terakhir ³Mardlatillah Swt³.

Harapan dan do¶a kami, semoga kini tidak terdengar lagi ungkapan-ungkapan seperti: ³Yang
penting kan pemikiran, fiqih itu tidak perlu´, atau ³Untuk memjadi Syi¶ah cukup dengan
mempercayai dua belas Imam, dan tidak perlu mempraktikkan fiqih Syi¶ah sebelum akidah kita
mantap´. Padahal, sekedar mengkaji dan meyakini adanya dua belas Imam tidaklah ada artinya
sama sekali, apabila dalam beramal ibadah masih meyakini dan mengikuti aturan-aturan yang
datang dari selain meraka.

Demi untuk mempermudah para pecinta dan pengikut setia ajaran Ahlul Bait As di Tanah Air
tercinta yang ingin bertaqlid kepada Imam Khamene¶i Hf (?yatullâh al-¶Uzma Sayyid Ali al-
Khamene¶i Hf), maka kini kami tunjukkan dua orang Ahli Khibrah yang telah menyaksikan dan
menyatakan a¶lamiah beliau. Dua orang Ahli Khibrah itu ialah: 1.?yatullâh Syaîkh Muhammad
Yazdi Hf. 2.?yatullâh Sayyid Ja¶far al-Karimi Hf. Informasi tentang dua orang Ahli Khibrah ini
kami peroleh langsung dari kantor Sayyid al-Qa¶id Hf pada tanggal 21 Rabi¶ul Awwal Th. 1421
H. Isi surat yang kami ajukan dengan bahasa arab tersebut kurang lebih demikian isinya:

Assalamu¶alaikum Wr. Wb.

Bismihi Ta¶ala

Dengan ini kami kabarkan kepada Antum (Petugas istiftaat) yang mulia ± sesuai dengan
pengetahuan kami yang dangkal ± bahwa mayoritas mutasyayyi¶in di negeri kami (Indonesia)
bertaqlid kepada yang mulia ?yatullâh al-¶Uzma Sayyid Ali Khamene¶i Hf.. Hal itu demi
menghimpun pada pribadi beliau yang mulia antara Marja¶iah dan Qiyadah atau Wilayah, dan
nyatanya memang maslahat menuntut demikian. Disamping itu pula bahwa beliau telah masyhur
dengan predikat a¶lam dari sisi politik, bahkan lebih dari itu, Imam Khomeini ra yang agung
telah memberikan isyarat tentang kelayakan beliau dalam hal tersebut. Dan para mutasyayyi¶in
tersebut bertaqlid kepada beliau yang mulia tanpa muroja¶ah terlebih dahulu kepada Ahli
Khibrah . Dan apabila Antum berpendapat bahwa taqlid semacam ini tidak dianggap sah, artinya:
mereka itu harus muroja¶ah terlebih dahulu kepada Ahli Khibrah untuk mengokohkan a¶lamiah
beliau, maka hal itu merupakan tugas yang sulit buat mereka dan taklif yang tidak mampu untuk
dipikul ( Lâ Yukallifullâhu nafsan illâ wus¶ahaa ).

Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kepada Antum yang terhormat agar kiranya dapat
menunjukkan kami atau menyebutkan nama-nama Ahli Khibrah yang mendukung a¶lamiah
?yatullâh al-¶Uzma Sayyid Ali Khamene¶i Hf. Karena terus terang, kami sendiri tidak mampu
untuk meneliti dan mohon penjelasan tentang a¶lamiah beliau secara langsung dari Ahli Khibrah
. Oleh karena itulah kami bertawassul kepada Antum untuk dapat bertaqlid kepada beliau yang
mulia. Semoga Antum mendapatkan ganjaran yang besar dari sisi Allah Swt. Amin««

²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²
²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²²±
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.´
(Al-Quran Surah Al-Qalam ayat 10-11)

Di antara propaganda busuk yang selama ini disebarkan melalui mulut dan situs-situs kotor kaum
Wahabi adalah tuduhan bahwa akidah 12 Imam (pemimpin) yang dianut Muslim Syiah berasal
dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Dengan panjang lebar mereka memfitnah bahwa keyakinan 12
imam yang dianut Muslim Syiah diambil dari keyakinan Yahudi dan Nasrani. Benarkah? Jika
Anda membaca tulisan dan tuduhan-tuduhan mereka itu, Anda akan segera melihat kedangkalan
pemikiran kaum Wahabi. Argumen-argumen yang mereka gunakan untuk menyebar fitnah keji
tersebut terlihat sedemikian naif dan rapuh. Saya akan bertanya kepada mereka: Apakah jika
kaum Yahudi meyakini bahwa khitan itu wajib lalu dengan serta merta Anda menuduh bahwa
keyakinan Islam atas kewajiban khitan (atas laki-laki) juga merupakan peniruan dari keyakinan
kaum Yahudi dan Nasrani?Baca selanjutnya

Apakah jika kaum Nasrani mengajarkan agar mengasihi orang-orang miskin dan kaum Muslim
juga melakukan hal yang sama, maka berarti kaum Muslim mengambil ajaran seperti ini dari
kaum Nasrani? Tentu saja tidak! Dan cara berpikir seperti ini makin memperjelas kebodohan dan
kedunguan kaum Wahabi. Lalu darimanakah sebenarnya ajaran berimam dengan 12 imam itu
berasal?

HADIS HADIS TENTANG 12 IMAM


Walaupun Muslim Syiah tidak menggunakan dasar-dasar keyakinan mereka dengan hadis-hadis
yang biasa digunakan saudara mereka Muslim Sunni, namun ternyata hal itu pun tercatat pada
banyak hadis-hadis Sunni. Yang sering saya herankan adalah tingkah ³ustadz-ustadz´ Wahabi
yang sok tahu tentang keyakinan Muslim Syiah tanpa mempelajari terlebih dahulu apa yang
mendasari keyakinan Muslim Syiah. Begitu pun terhadap muslim lainnya, dengan gegabah dan
serampangan mereka melancarkan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Seperti keyakinan atas 12
imam yang dianut Muslim Syiah, seharusnya mereka mengetahui bahwa hadis-hadis tentang 12
imam atau khalifah itu ternyata juga terdapat di dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah yang diyakini
berasal dari Rasulullah saw. Hadis-hadis ini terdapat diriwayatkan di dalam berbagai kitab Sunni
seperti : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Tirmidzi, Sunan Abu Dawud dan Musnad
Ahmad bin Hanbal.
Jika mereka tidak mengetahui hal ini, mengapa begitu cepat dan mudahnya tuduhan-tuduhan keji
dilemparkan kepada saudara Muslim mereka sendiri? Jika mereka mengetahui hal ini, bukankah
berarti mereka telah menyebarkan kebohongan di antara umat Muslim lainnya? Kami berlindung
kepada Allah Swt dari perbuatan-perbuatan semacam ini!

Sekarang kita lihat dari mana sebenarnya sumber pemikiran Muslim Syiah tentang 12 Imam
berasal?

1. Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Jabir bin Samrah, ia berkata:
Aku bersama ayahku menemui Rasulullah Saw, lalu aku mendengar beliau bersabda:
³Sesungguhnya urusan ini tidak akan berakhir sebelum 12 orang khalifah (pemimpin)
memerintah mereka.´ Kemudian beliau berbicara dengan suara perlahan sehingga aku tidak
dapat mendengarnya. Lalu aku bertanya kepada ayahku: Apakah yang beliau katakan? Ayahku
menjawab: Semua khalifah itu berasal dari kaum Quraisy. 1]
Memang ada perbedaan kata imam dan khalifah di sini, namun jika kita teliti ternyata kedua-
duanya bermakna : pemimpin. 2]

2. Dengan teks yang berbeda Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya yang juga dari Jabir
bin Samurah, yang mengatakan : aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : ³Islam akan tetap
jaya sampai ada 12 khalifah.´ Kemudian Rasulullah Saw mengatakan sesuatu yang tidak
kumengerti. Lalu aku bertanya kepada ayahku : Apa yang beliau katakan? Ayahku mengatakan :
mereka (ke-12 khalifah) itu berasal dari kaum Quraisy. 3]
3. Diriwayatkan dari Amir bin Sa¶ad bin Abu Waqqas yang mengatakan : Aku menulis (sebuah
surat) untuk Jabir bin Samurah dan mengirimkannya melalui pelayanku, Nafi¶, untuk meminta
kepadanya (Jabir bin Samurah) agar memberitahu kepadaku sesuatu yang pernah ia dengar dari
Rasulullah Saw. Dia (Jabir) menulis (surat jawaban) kepadaku : Aku telah mendengar Rasulullah
Saw, pada Jumat malam, pada hari al-Aslami dihukum rajam sampai mati (karena berzina):
(Rasulullah Saw bersabda) : Islam akan tetap tegak sampai Hari Kiamat, atau kalian akan
diperintah oleh 12 khalifah, mereka semua berasal dari Quraisy«´ 4]
4. Juga diriwayatkan dari Jabir bin Samurah yang mengatakan : Aku pergi bersama ayahku
menemui Rasulullah Saw dan kudengar beliau bersabda: Agama ini akan tetap bertahan, kokoh
dan jaya sampai berlangsung 12 khalifah. Kemudian beliau menambahkan kata-kata yang tak
dapat kutangkap karena suara berisik banyak orang. Lalu kutanyakan kepada ayahku: Apa yang
beliau katakan? Ayahku menjawab: Beliau mengatakan semua khalifah itu berasal dari Quraisy.
5]
5. Dengan teks yang hampir sama. 6]
6. Idem 7]
Hadis-hadis yang diungkapkan di atas belumlah seluruhnya. Masih banyak hadis lainnya yang
bernada serupa namun karena keterbnatasan waktu dan ruang di sini maka saya kira semua
informasi itu sudah lebih dari cukup. Lalu pertanyaan saya : Apakah hadis-hadsi yang
sedemikian banyak dan shahih ini tidak pernah dibaca oleh ³ustadz-ustadz´ Wahabi itu? Jika
belum, maka saya sarankan mereka untuk lebih banyak memperdalam terlebih dahulu ketimbang
berfatwa serampangan dan melakukan adu domba antar umat Islam. Ingatlah hadis Nabi Saw
yang dirwayatkan oleh syaikhan : ³Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba
(al-Nammâm)´ 8]
Seperti sudah kita yakini bersama bahwa jika seseorang benar-benar memperdalam pengetahuan
agamanya dengan cara yang benar, mestinya dia akan menjadi semakin arif dan semakin toleran
terhadap pemikiran dan keyakinan orang lain. Namun jika seseorang ³memperdalam´ agamanya
lalu dia menjadi sedemikian fanatik dan tidak toleran maka bisa dipastikan telah terjadi
penyimpangan di dalam penanaman ³pengetahuan´. Seperti yang saya ketahui, bahwa umumnya
penyimpangan terjadi karena pengetahuan agama yag diajarkan tidak secara alami, yaitu dengan
cara indoktrinasi atau brain-washing; atau dengan kata lain doktrin-doktrin ³agama´ dijejalkan
secara paksa dan sistematis. 9]
Akhirnya dari sebagian hadis shahih yang saya ungkapkan di atas dapat kita ketahui bahwa
keyakinan 12 imam yang dianut oleh Muslim Syiah bukanlah berasal dari Yahudi maupun
Nasrani seperti yang disebarkan oleh kaum Wahabi yang kita yakini adalah antek-antek AS dan
Zionis Israel. Mereka inilah cikal bakal kaum teroris al-Qaeda yang tersebar di seluruh dunia.
Mereka didoktrin, dicuci otak dan pikiran mereka dimanipulasi untuk menyebarkan teror dan adu
domba antar kaum Muslim di dunia. Kita melihat sendiri bahwa hadis-hadis yang diungkapkan
di atas adalah sabda-sabda Rasul Saw yang memang benar-benar terdapat di dalam literatur
Islam. Akhirnya tulisan ini saya tutup dengan doa: semoga mereka, kaum Wahabi yang
membaca tulisan ini segera merekonstruksi pemikiran mereka.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah
jua!

Catatan kaki :
1. Hadis ini sudah tidak asing lagi bagi mereka yang sering mengkaji hadis-hadis Bukhari
Muslim, namun anehnya para ³ustadz´ Wahabi seolah-olah tidak pernah mendengar hadis ini
sehingga dengan nekadnya mencerca Muslim Syiah bahwa mereka (Muslim Syiah) mengambil
akidah 12 imam dari Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu saya persilahkan pembaca membuka
kitab hadis :
- Shahih Bukhari, hadis no. 6682.
- Shahih Muslim, Bab Imarah, hadis no. 3393
- Al-Tirmidzi, hadis no. 2149
- Abu Dawud, Bab al-Mahdi, hadis no. 3731
- Ahmad bin Hanbal, Bab 5, hlm. 87, 90, 92, 95, 97, 99, 100, 101, 106, 107, 108.
Hadis di atas saya kutip dari situs Kerajaan Saudi yang bermazhab Wahabi dan insya Allah Anda
bisa langsung mengkliknya :

http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1060

2. Kata al-khilafah bermakna al-niyabah µan al-ghayr atau pengggantian juga berarti : al-imamah
al-µuzhma atau kekhalifahan atau kepemimpinan yang agung. Lihat Kamus al-Munawwir hlm.
393, Catakan th. 1984. Contoh faktualnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diangkat
sebagai khalifah. Dan di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda :
³Inilah dia saudaraku, penerima wasiatku (al-washî) dan khalifahku (khalîfatî)«´ Rujukan :
- Târikh al-Thabarî Jil. 2, hlm. 319, dan
- al-Kâmil fî al-Târikh li Ibni al-Atsîr Jil. 2 hlm. 63.
Sementara itu dikalangan Muslim Syiah, Sayyidina Ali juga dianggap sebagai salah seorang dari
12 imam mereka.
3. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4480
4. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4483
5. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4482
6. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4481
7. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4477
8. Shahih Bukhari, Muslim, Abu dawud dan Tirmidzi dari sahabat Hudzaifah al-Yamani. Al-
Dzahabi memasukkan dosa nammâm atau namîmah (mengadu domba) sebagai salah satu dari
dosa-dosa besar. Lihat kitab al-Kabâir karangan Muhammad bin µUtsman al-Dzhaby.
9. Metode inilah yang digunakan CIA di dalam menyuci otak para teroris al-Qaeda di kamp-
kamp mereka yang tersebar di seluruh dunia termasuk di Guantanamo. Begitulah yang terjadi di
Afghanistan, Pakistan, dan di Philipina. Yang sangat aneh, ketika tempat-tempat pelatihan
senjata para teroris sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, namun AS justru menyerang ke
tempat-tempat lain yang bukan tempat latihan perang para teroris. Terakhir terungkap bahwa
pihak Australia mengakui bahwa motif Amerika Serikat menyerang Irak bukanlah teroris atau
Saddam tetapi minyak. Inilah bukti kebusukkan dan kejahatan AS dan sekutu-sekutunya

===================================================

====================================================

Imam
Khomeini
23/07/2008
 ! "#$  $ !%%
&'
Ruhullah Musavi Khomeini lahir pada tanggal 20 Jumadis-Tsani 1320 H (24 September 1902) di
kota Khomein, provinsi Markazi, Iran tengah. Ia terlahir di tengah keluarga agamis, ahli ilmu,
dan pejuang, keluarga terhormat yang masih menyimpan darah keturunan Sayidah Fatimah Az-
Zahra as, putri Rasulullah saw. Ruhullah adalah pribadi agung yang menjadi pewaris kemuliaan
para bapak dan datuknya yang selalu mengabdikan diri untuk membimbing umat dan menuntut
makrifat ilahi dari suatu generasi ke generasi lainnya.
Ayah Imam Khomeini adalah Al-Marhum Ayatollah Sayid Mostafa Musavi. Beliau hiudp
sezaman dengan Al-Marhum Ayatollah Al-Udzma Mirza-e Shirazi. Setelah bertahun-tahun
menuntut ilmu agama di kota suci Najaf dan berhasil meraih gelar mujtahid, Ayatollah Sayid
Mostafa Musavi kembali ke Iran dan menetap di Khomein. Di kota kecil inilah beliau
mendermakan umurnya untuk mengabdi kepada masyarakat dan menjadi pembimbing mereka
dalam urusan agama.
Hanya selang 5 bulan setelah kelahiran Ruhullah, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi, gugur syahid
akibat serangan teror pembunuh bayaran para tuan tanah Khomein di waktu itu. Beliau meneguk
manisnya madu syahadah setelah peluruh panas bersarang ke tubuhnya saat menempuh
perjalanan dari kota Khomein menuju Arak. Di masa itu, ayah Ruhullah memang dikenal sebagai
seorang pejuang yang senantiasa menentang kezaliman para penguasa. Tak lama kemudian,
sanak famili Ayatollah Musavi bertandang ke pemerintah pusat Tehran, guna menuntut
diterapkannya hukum Qishash terhadap para pelaku teror.
Sejak kecil Ruhullah memang sudah terbiasa dengan derita anak yatim dan mengenal arti syahid.
Di masa kecil dan remajanya, Ruhullah berada di bawah asuhan ibunya, bernama Hajar. Ibunya
sendiri adalah putri keluarga ulama. Ia adalah cucu Al-Marhum Ayatollah Khounsari, penulis
kitab Zubdah Al-Tasanif. Bersama ibunya, Ruhullah juga diasuh oleh bibinya yang dikenal
sebagai seorang perempuan pejuang, bernama Sahebah. Namun menginjak usia 15 tahun,
Ruhullah pun kehilangan belaian kasih ibu dan bibinya.
 ($) *
Tak lama setelah kepindahan Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi, ke
Qom pada Rajab 1340 H (Sekitar bulan Maret 1921), Imam Khomeini pun akhirnya turut hijrah
ke Hauzah Ilmiah Qom dan dengan segera ia menyelesaikan pendidikan tingkat akhirnya di sana.
Imam Khomeini mempelajari bagian akhir kitab Al-Muthawwal di bidang ilmu ma¶ani dan
bayan (sastra Arab) di bawah bimbingan Agha Mirza Muhammad Ali Adib Tehrani. Sebagian
besar pelajaran tingkat menengah hauzahnya ia tamatkan di bawah asuhan Ayatollah Sayid Ali
Yatsribi Kashani, dan juga Ayatollah Sayid Muhammad Taqi Khounsari. Sementara pelajaran
Fiqih dan Ushul Fiqih beliau pelajari dari Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi
Yazdi, pendiri Hauzah Ilmiah Qom.
Setelah wafatnya Ayatollah Hairi Yazdi, berkat upaya Imam Khomeini dan para ulama besar
Hauzah Ilmiah Qom lainnya, Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi akhirnya dikukuhkan sebagai
pengasuh Hauzah Ilmiah Qom. Di masa itu, Imam Khomeini terpilih sebagai salah satu pengajar
Hauzah dan dikenal sebagai mujtahid di bidang Fiqih, Ushul Fiqih, Filsafat, Irfan, dan Akhlak.
Selama bertahun-tahun menjadi pengajar di Hauzah, Imam Khomeini mengajar di madrasah
Faiziyah, masjid A¶zam, masjid Muhammadiyah, madrasah Haj Molla Shadiq, masjid Salmasi
dan beberapa tempat lainnya.
Sementara itu, selama 14 tahun di Hauzah Ilmiah Najaf, Irak, Imam Khomeini mengajar ilmu-
ilmu Ahlul Bait as dan fiqih pada peringkat tertinggi Hauzah, di masjid Syeikh A¶zam Ansari. Di
kota Najaf inilah, Imam Khomeini untuk pertama kalinya mengungkapkan dasar-dasar teori
pemerintahan Islam dalam rangkaian pelajaran wilayatul-faqihnya.
$(+!%!#! ,!%) '! ! 
Semangat perjuangan dan jihad Imam Khomeini, berakar pada pandangan akidah, pendidikan,
lingkungan keluarga, dan situasi politik dan sosial di sepanjang masa hidupnya. Perjuangan
beliau dimulai sejak masa remajanya, lantas berkembang kian matang seiring dengan
perkembangan psikologis dan ilmiah Imam Khomeini di satu sisi, dan transformasi politik dan
sosial di Iran dan dunia Islam di sisi lain.
Pada tahun 1340 hingga 1341 HS (1961-1962), rezim Pahlevi mengesahkan aturan yang dikenal
dengan nama Anjomanha-ye Eyalati va Velayati (Lembaga Lokal dan Federasi). Peristiwa ini
merupakan kesempatan bagi Imam Khomeini untuk memimpin kebangkitan para ulama.
Sehingga kebangkitan massal para ulama dan rakyat Iran pada tanggal 15 Khordad 1342 HS (5
Juni 1963) meletus. Kebangkitan 15 Khordad memiliki dua ciri utama: kepemimpinan tunggal
Imam Khomeini dan keIslaman motif, tujuan, dan slogan kebangkitan. Kebangkitan ini
merupakan babak baru perjuangan bangsa Iran yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Islam.
Saat Perang Dunia I berlangsung, Imam Khomeini masih berusia 12 tahun. Terkait hal ini, Imam
Khomeini menuturkan, ³Saya masih ingat terjadinya dua perang dunia. Kala itu saya masih kecil
tapi tetap pergi sekolah. Saya melihat para tentara Uni Soviet yang saat itu tengah berada di
Khomein. Kami pun menjadi bulan-bulanan kekejaman mereka di era Perang Dunia I´.
Di bagian lain kenangannya, Imam Khomeini pernah menyebut nama-nama sejumlah penjahat
bayaran yang berlindung di bawah penguasa wilayah Markazi, Iran. Mereka adalah para
pengganas yang kerap merampas harta dan harga diri warga Markazi. Mengenai hal ini, Imam
Khomeini mengungkapkan, ³Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang. Kami menjadi
sasaran kejahatan kelompok Zalaqi dan Rajab Ali. Namun kami punya senjata sendiri. Pernah di
suatu hari, saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh, saya mengawasi
kantong-kantong perlindungan di kampung kami dan turut menjaga benteng pertahanan.
Sementara para penjahat bayaran hendak menyerang dan merampok´.
Pada tanggal 3 Esfand tahun 1299 HS (22 Februari 1921), Reza Khan menggelar aksi kudeta.
Berdasarkan data-data dan bukti sejarah yang valid, kudeta tersebut didalangi dan diorganisir
oleh Inggris. Meski kudeta Reza Khan berhasil mengakhiri era kekuasaan dinasti Qajar, dan
mampu meminimalisir gerak para penguasa lokal yang zalim, namun kudeta tersebut
memunculkan diktator baru. Diktator baru ini lantas mendirikan dinasti Pahlevi sebagai penguasa
tunggal Iran.
Pasca meletusnya Revolusi Konstitusional dan tekanan bertubi-tubi pemerintah dan konspirasi
Inggris di satu sisi, serta perselisihan kaum elite dan intelektual kebarat-baratan di sisi lain,
mendorong kalangan ulama yang ditekan untuk bangkit berjuang membela Islam. Atas
permintaan para ulama Qom, Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi dari
Arak hijrah ke Qom. Tak lama setelah itu, Imam Khomeini pun dengan segera menyelesaikan
pelajaran tingkat dasar dan menengah Hauzahnya di Khomein dan Arak, lantas menyusul ke
Qom. Beliau juga turut aktif dalam memperkuat posisi Hauzah Ilmiah Qom yang baru saja
berdiri. Dalam waktu yang relatif singkat, Imam Khomeini pun lantas dikenal sebagai ulama
terkemuka di bidang irfan, filsafat, fiqih, dan ushul fiqih.
Dengan wafatnya Ayatollah Al-Udzma Hairi Yazdi, pada tanggal 10 Bahman 1315 (30 Januari
1937), Hauzah Ilmiah Qom yang baru saja didirikan terancam bubar. Namun demikian, para
ulama Hauzah pun segera mencari solusi. Selama delapan tahun, Hauzah Ilmiah Qom diasuh
oleh Ayatollah Al-Udzma Sayid Mohammad Hojjat, Ayatollah Al-Udzma Sadruddin Sadr, dan
Ayatollah Al-Udzma Sayid Muhammad Taqi Khounsari. Selang masa itu, khususnya setelah
tumbangnya Reza Khan, situasi untuk memunculkan marjaiyat yang besar mulai terbuka.
Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi, merupakan figur ulama besar, yang layak untuk menggantikan
posisi Al-Marhum Ayatollah Al-Udzma Hairi Yazdi. Karena itu para murid Ayatollah Hairi
Yazdi termasuk Imam Khomeini segera mengusulkan untuk memilih Ayatollah Boroujerdi
sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah Qom. Dengan penuh kesungguhan, Imam Khomeini
mengundang Ayatollah Boroujerdi untuk berhijrah ke Qom dan menerima tanggung jawab besar
sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah di kota ini.
Dengan begitu teliti dan cermat, Imam Khomeini selalu memantau situasi politik Iran dan
kondisi Hauzah. Pelbagai informasi dan data beliau peroleh lewat telaah tak kenal lelah buku-
buku sejarah kontemporer, beragam majalah, dan koran. Imam Khomeini juga kerap pergi ke
Tehran dan berhubungan dengan para tokoh politik Islam, seperti Ayatollah Modarres. Imam
Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan
penguasa dikatotar dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan
berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah. Tentu saja sebelum kebangkitan
itu dilancarkan, upaya menjamin keberadaan Hauzah Ilmiah dan hubungan spritual masyarakat
dengan ulama harus terealisasikan terlebih dahulu.
Guna mencapai tujuan luhurnya, pada tahun 1328 HS (1949), Imam Khomeini bersama
Ayatollah Morteza Hairi merancang program reformasi mendasar struktur Hauzah Ilmiah dan
mengusulkannya kepada Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi. Usulan tersebut mendapat sambutan
positif dan dukungan para ulama dan pelajar Hauzah yang berpikiran reformis.
Di sisi lain, politik rezim Syah mengalami kegagalan. Rancangan Anjomanha-ye Eyalati va
Velayati yang mencabut syarat status keislaman, sumpah dengan Al-Quran, dan berjenis kelamin
pria bagi para pemilih dan kandidat pemilihan umum, disahkan oleh kabinet PM Amir Asadollah
Alam pada tanggal 16 Mehr 1341 HS (8 Oktober 1962). Kebebasan memilih bagi perempuan,
sejatinya merupakan kedok untuk menyembunyikan agenda tersembunyi rezim Syah.
Penghapusan dan perubahan dua syarat pertama di atas merupakan upaya untuk melegalkan
kehadiran oknum-oknum Bahaism di pemerintahan.
Sebelum itu, AS mengumumkan bahwa pihaknya akan membela Syah jika rezim ini mendukung
rezim zionis Israel dan meningkatkan hubungan kerjasama Tehran-Tel Aviv. Pengaruh kubu
Bahai yang didukung kekuatan penjajah Inggris, baik di kalangan pemerintah, parlemen, maupun
yudikatif Iran berhasil merealisasikan syarat yang diinginkan oleh AS.
Segera setelah disahkannya rancangan tersebut, Imam Khomeini bersama para ulama besar Qom
dan Tehran mengadakan pertemuan, lantas diteruskan dengan menggelar aksi protes massal.
Peran pencerahan Imam Khomeini dalam mengungkap agenda gelap rezim Syah dan
mengingatkan tugas berat para ulama dan Hauzah Ilmiah amat berperan penting dalam situasi
kritis saat itu. Pelbagai telegram dan surat protes terbuka para ulama kepada Syah dan Perdana
Menteri Asadollah Alam memantik dukungan luas rakyat Iran. Nada bicara surat protes Imam
Khomeini kepada Syah dan Perdana Menteri begitu pedas dan keras. Dalam salah satu surat
protes ini dinyatakan, ³Saya kembali menesehati Anda untuk taat kepada Allah swt dan
konsititusi. Takutlah kalian pada akibat buruk dari melanggar Al-Quran, hukum para ulama dan
pemimpin kaum muslimin, serta undang-undang dasar. Janganlah kalian sengaja dan tanpa sebab
menyeret negara ke dalam kondisi bahaya. Karena jika tidak, para ulama Islam tidak akan
berdiam diri melontarkan pandangannya mengenai kalian´.
Dengan demikian, peristiwa Anjomanha-ye Eyalati va Velayati merupakan pengalaman
kemenangan yang sangat berharga bagi rakyat Iran. Terlebih, kemenangan tersebut merupakan
kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengenal figur pemimpin umat Islam yang layak dari
berbagai dimensi, semacam Imam Khomeini. Namun demikian, meski skenario politik Syah
mengalami kegagalan dalam kasus Anjomanha, tekanan AS untuk melakukan reformasi terus
berlangsung. Akhirnya pada bulan Dey 1341 (Januari 1963), Syah mengajukan enam prinsip
reformasinya yang dikenal sebagai Revolusi Putih, dan menghendaki digelarnya referendum.
Kebijakan reformasi rancangan AS ini mendapat tanggapan serius para ulama. Untuk kesekian
kalinya Imam Khomeini mengajak para marji dan ulama Qom untuk mencari solusi dan langkah
bersama. Imam Khomeini mengusulkan untuk memboikot pesta perayaan tahun baru tradisional
(Nouruz) Iran 1341 HS (Maret 1963) sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Syah. Dalam
statemennya, Imam Khomeini menyebut Revolusi Putih rancangan AS sebagai revolusi hitam
dan beliau membongkar tujuan AS dan rezim zionis Israel di balik program revolusi tersebut.
Tentu saja gelombang protes para ulama benar-benar memukul posisi Syah. Dalam berbagai
pertemuan terbukanya dengan masyarakat, Imam Khomeini mengajak rakyat Iran untuk bangkit
dan secara terang-terangan menyebut Syah sebagai pelaku utama kejahatan dan sekutu rezim
zionis. Imam Khomeini dalam pidatonya pada tanggal 12 Farvardin 1342 (1 April 1963)
mengkritik keras sikap bungkam para ulama Qom dan Najaf serta negara-negara muslim lainnya
di hadapan kejahatan rezim zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Dalam pidatonya itu, Imam
menyatakan, ³Hari ini, sikap membisu sama artinya dengan mendukung penguasa zalim´.
Sehari setelah itu, 13 Farvardin 1342 (2 April 1963), Imam Khomeini mengeluarkan statemen
tertulisnya yang terkenal dengan tajuk ³Bersahabat dengan Syah Berarti Penjarahan´. Sejatinya,
rahasia pengaruh besar pesan dan pernyataan Imam Khomeini terhadap jiwa pendengarnya
hingga mereka rela berkorban, terletak pada kemurnian pemikiran, kekuatan pandangan, dan
kejujuran Imam Khomeini kepada masyarakat.
Tahun 1342 HS (1963) diawali dengan boikot pesta perayaan tahun baru tradisional (Nouruz)
Iran dan peristiwa berdarah di madrasah Faiziyah Qom. Satu sisi, Syah begitu berhasrat untuk
menerapkan Revolusi Putih sebagaimana yang diinginkan oleh AS, namun di sisi lain Imam
Khomeini terus berjuang menyadarkan rakyat dan bangkit menentang campur tangan AS dan
pengkhianatan Syah terhadap bangsanya sendiri.
Pada tanggal 14 Farvardin 1342 (3 April 1963), Ayatollah Al-Udzma Hakim di Najaf, Irak,
mengirim telegram kepada para ulama dan maraji Iran yang berisi ajakan untuk hijrah ke Najaf
secara massal. Usulan ini merupakan upaya untuk menyelamatkan para ulama dan tokoh hauzah.
Namun demikian, tanpa mempedulikan ancaman dan tekanan Syah, Imam Khomeini membalas
telegram Ayatollah Hakim. Dalam telegramnya itu, Imam Khomeini menilai bukan maslahat jika
para ulama hijrah secara massal ke Najaf dan membiarkan Hauzah Ilmiah Qom dalam keadaan
kosong. Imam Khomeini dalam pesannya tertanggal 12 Ordibehesht 1342 HS (2 Mei 1963)
memperingati 40 hari terjadinya tragedi Faiziyah menegaskan perlunya ulama dan rakyat Iran
untuk bersama-sama mendukung para pemimpin negara-negara Islam dan pemerintahan Arab
menentang rezim zionis Israel serta mengutuk persekutuan Syah dengan rezim
zionis. ,!%) '!-.$##
Bulan Muharram datang bersamaan dengan bulan Khordad 1342 HS. Imam Khomeini
memanfaatkan moment tersebut untuk menggerakkan rakyat Iran bangkit melawan rezim
diktator Syah Pahlevi. Pada sore Asyura 13 Khordad 1342 HS (3 Juni 1963) Imam Khomeini
menyampaikan pidato bersejarahnya di madrasah Faiziyah Qom. Pidato ini merupakan titik awal
kebangkitan 15 Khordad. Dalam pidatonya ini, Imam secara lantang berbicara kepada Syah dan
menyatakan, ³Tuan, saya menasehati Anda. Wahai Syah! Wahai yang terhormat Syah! Saya
menasehati Anda agar meninggalkan seluruh upaya yang membuat Anda menjadi lalai. Saya tak
ingin, suatu hari jika Anda hendak pergi justru disyukuri oleh semua pihak«Jika engkau didikte
dan diperintah membaca, berpikirlah pada sekelilingmu«Dengarlah nasehat saya. Apa
sebenarnya hubungan Syah dengan Israel, sehingga pihak keamanan melarang untuk tidak
angkat bicara soal Israel«Apakah Syah adalah orang Israel?´
Syah mengeluarkan perintah untuk menumpas gerakan kebangkitan rakyat. Mulanya, pihak
keamanan menangkap banyak sahabat dan pendukung Imam Khomeini pada malam 14 Khordad
(4 Juni 1963). Kemudian, pada pukul 3 pagi, 15 Khordad 1342 HS (5 Juni 1963), ratusan tentara
Syah mengepung rumah Imam Khomeini. Mereka menangkap Imam saat beliau sedang
menjalankan shalat malam dan segera membawanya ke Tehran. Beliau dijebloskan di penjara
Bashgah-e Afsaran. Sore harinya, beliau dipindahkan ke penjara Ghasr. Pagi tanggal 15 Khordad
berita penangkapan Imam Khomeini pun menyebar ke kota-kota besar Iran, seperti Qom,
Tehran, Mashhad, Shiraz, dan kota-kota lainnya.
Jenderal Hossein Fardust, orang kepercayaan Syah, dalam kesaksiannya menuturkan bahwa
upaya penumpasan gerak kebangkitan 15 Khordad dilakukan dengan memanfaatkan pelbagai
pengalaman dan bekerjasama dengan para politisi dan petugas intelijen paling handal AS.
Fardust juga mengungkapkan betapa terguncangnya Syah, kalangan istana, para petinggi militer
dan agen mata-mata Iran (SAVAK) saat terjadinya aksi kebangkitan 15 Khordad. Ia juga
membeberkan bagaimana Syah dan para jenderal arogan mengeluarkan perintah penumpasan
gerakan rakyat.
Setelah 19 hari mendekam di penjara Ghasr, Imam Khomeini dipindahkan ke sebuah penjara di
pangkalan militer Eshrat Abad. Dengan ditangkapnya pemimpin revolusi, Imam Khomeini, dan
dilancarkannya pembantaian massal pada peristiwa 15 Khordad, tampaknya gerak revolusi sudah
berhasil dipadamkan.
Di penjara, Imam Khomeini dengan beraninya menolak seluruh pertanyaan yang diajukan dalam
proses intrograsi. Beliau dengan lantang menyatakan bahwa pemerintah dan lembaga yudikatif
Iran adalah penguasa yang ilegal dan tidak sah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, pada malam
18 Farvardin 1343 HS (7 April 1964), Imam Khomeini akhirnya dibebaskan dan dipindahkan ke
Qom. Kabar pembebasan Imam pun menyebar luas dan disambut gembira oleh rakyat.
Peringatan tahun pertama hari Kebangkitan 15 Khordad pada tahun 1343 HS (5 Juni 1964)
diperingati dengan dirilisnya statemen bersama Imam Khomeini dan para marji taqlid lainnya
serta pernyataan terpisah Hauzah Ilmiah. Hari itu dinyatakan sebagai hari duka. Pada tanggal 4
Aban 1343 HS (26 Oktober 1964) Imam Khomeini mengeluarkan statemen revolusioner dan
menyatakan, ³Dunia harus tahu, setiap musibah yang menimpa bangsa Iran dan bangsa-bangsa
muslim lainnya bersumber dari pihak asing, dari AS. Secara umum, bangsa-bangsa Islam
membenci pihak asing, khususnya AS. Amerikalah yang mendukung rezim zionis Israel dan para
sekutunya. Amerikalah yang memberi kekuatan pada Israel hingga membuat warga muslim Arab
terlantar´.
Penentangan Imam Khomeini dan terungkapnya agenda AS di balik rencana disahkannya
rancangan Kapitulasi, mendorong rakyat Iran untuk bangkit kembali. Dini hari 13 Aban 1343 HS
(4 November 1964), pihak keamanan dari Tehran kembali datang ke Qom dan mengepung
rumah Imam Khomeini. Anehnya, seperti tahun sebelumnya, Imam ditangkap saat beliau tengah
menunaikan shalat malam. Imam pun ditangkap dan langsung di bawa menuju bandara
Mehrabad, Tehran. Di bawah kawalan ketat pihak keamanan Imam diboyong ke Ankara, Turki
dengan sebuah pesawat militer yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Sore harinya agen intelijen Iran (SAVAK) mengumumkan berita pengasingan Imam Khomeini
di koran-koran Iran dengan tuduhan merongrong keamanan negara. Meski situasi Iran berada di
bawah tekanan pemerintah, namun gelombang protes dan demo tetap marak. Gelombang protes
itu diwujudkan dalam bentuk aksi unjuk rasa warga di pasar besar Tehran, diliburkannya aktifitas
Hauzah Ilmiah untuk jangka panjang, pengiriman kumpulan tanda tangan dan surat protes
kepada lembaga-lembaga internasional dan para marji taqlid.
Pengasingan Imam khomeini di Turki berlangsung selama 11 bulan. Selang masa itu, rezim syah
dengan otoriternya berusaha menumpas total gerakan kebangkitan rakyat Iran yang masih tersisa
dan dengan segera menerapkan rencana reformasi sebagaimana yang dirancang oleh AS. Masa
pengasingan Imam Khomeini di Turki merupakan juga kesempatan bagi beliau untuk memulai
penulisan buku Tahrirul-Wasilah.
!%/ !%! ! #$ +$) ) $)
Tanggal 13 Mehr 1343 (5 Oktober 1965) Imam Khomeini bersama putranya, Ayatollah Haj
Agha Mostafa dipindahkan dari Turki dan diasingkan ke Irak. Setelah memasuki Baghdad, Imam
Khomeini segera memanfaatkan waktu yang ada untuk berziarah ke makam para Imam Ahlul
Bait as seperti di Kadzimain, Samarra, dan Karbala. Seminggu setelahnya, Imam pergi ke tempat
pengasingannya di Najaf.
Meski selama di Irak, Imam Khomeini relatif lebih bebas ketimbang di Iran atau Turki, namun
masa pengasingan di Najaf selama 13 tahun dimulai dengan maraknya penentangan, hasutan, dan
fitnah musuh-musuh Imam, bahkan beliau juga mendapat penentangan keras dari kalangan yang
berkedok ulama. Imam bahkan menyebut masa pengasingan di Irak sebagai babak perjuangan
yang begitu pahit. Namun begitu, beliau tetap sabar menghadapi segala tantangan yang ada dan
terus melanjutkan perjuangannya.
Di bawah tekanan para penentangnya, Imam Khomeini mulai mengajar rangkaian pelajaran fiqih
tingkat tingginya di masjid Syeikh Anshari, Najaf pada bulan Aban 1344 HS (sekitar November
1965). Kegiatan mengajar tersebut beliau lanjutkan hingga akhirnya beliau pindah ke Paris.
Pelajaran fiqih Imam terkenal sebagai salah satu kelas Hauzah Ilmiah Najaf paling berbobot dan
diminati.
Hubungan Imam Khomeini dengan kawan-kawan seperjuangannya di Iran masih beliau jalin
lewat pengiriman surat dan utusan. Imam Khomeini selalu memandu mereka dan mengajak
mereka untuk tetap bertahan memperjuangkan cita-cita Kebangkitan 15 Khordad.
Di masa-masa pasca pengasingan, Imam Khomeini tak pernah menyerah untuk berhenti berjuang
meski didera berbagai tekanan dan ancaman. Ceramah-ceramah dan pesan-pesan tertulis Imam
Khomeini selalu mengobarkan harapan kemenangan di hati setiap rakyat Iran.
Pada tanggal 19 Mehr 1347 HS (11 Oktober 1968), dalam dialognya dengan utusan gerakan
Fatah, Palestina, Imam Khomeini memaparkan pandangannya tentang persoalan dunia Islam dan
perjuangan rakyat Palestina. Dalam dialog ini pula, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa yang
mewajibkan untuk menyisihkan sebagian harta zakat bagi kepentingan para pejuang Palestina.
Pada awal tahun 1348 HS (1969), perselisihan antara rezim Syah dan partai Ba¶ath yang
berkuasa di Irak soal perbatasan air Iran-Irak makin memuncak. Pemerintah Irak mengusir
banyak warga Iran yang bermukim di Irak. Mereka juga berupaya memanfaatkan permusuhan
Imam Khomeini dengan rezim Syah. Setelah 4 tahun mengajar di Hauzah Najaf dan berjuang
keras mencerahkan masyarakat di sekitarnya, Imam Khomeini relatif berhasil mengubah situasi
Hauzah Ilmiah Najaf. Akhirnya pada tahun 1348 HS (1969) Imam Khomeini tidak hanya
berhasil menjaring dukungan dari dalam negeri Iran, tapi juga berhasil menarik dukungan
masyarakat muslim lainnya seperti dari Irak, Lebanon dan negara-negara Islam yang lain.
Paradigma perjuangan Imam Khomeini mereka jadikan sebagai model perjuangan mereka.
$(+!%!) !0 !1 $ ! 2-.34-.56
Paruh kedua tahun 1350 (menjelang akhir tahun 1971), perselisihan antara rezim Ba¶ast Irak dan
Syah Iran makin memanas. Perselisihan itu diikuti dengan diusirnya warga Iran yang bermukim
di Irak. Dalam telegramnya kepada Presiden Irak di masa itu, Imam Khomeini mengecam keras
aksi pengusiran tersebut. Dalam situasi semacam itu, Imam Khomeini bertekad untuk segera
keluar dari Irak. Namun pemerintah Baghad tanggap dengan dampak dari keluarnya Imam
Khomeini dari Irak sehingga Imam pun dilarang meninggalkan Irak.
Pada tahun 1354 HS (Juni 1975) bersamaan dengan peringatan hari Kebangkitan 15 Khordad,
madrasah Faiziyah kembali menjadi pentas kebangkitan para santri revolusioner Iran. Yel-yel
µHidup Khomeini dan matilah dinasti Pahlevi¶ terus membahana selama dua hari berturut-turut.
Padahal, sebelum peristiwa ini, banyak organisasai-organisasi perjuangan rakyat yang telah
dilumpuhkan, para tokoh keagamaan dan politik yang aktif berjuang ramai yang dijebloskan ke
penjara.
Di sisi lain, Syah terus melanjutkan politik anti-Islamnya. Kebijakan anti-Islamnya itu ditandai
dengan diubahnya dasar kalender nasional Iran pada bulan Esfand 1354 HS (Maret 1976).
Selama ini, dasar kalender nasional Iran dihitung sejak dimulainya hijrah Nabi Muhammad saw.
Namun dasar tersebut diubah oleh Syah dengan menetapkan masa dimulainya kekuasaan dinasti
Achemanid sebagai dasar perhitungan kalender nasional Iran. Mereaksi hal itu, Imam Khomeini
mengeluarkan fatwa yang mengharamkan penggunaan kalender nasional Iran versi Syah. Rakyat
Iran pun mendukung penuh fatwa Imam Khomeini tersebut, mereka juga turut mendukung
diboikotnya Partai Rastakhiz (Kebangkitan). Kedua masalah ini merupakan pukulan berat bagi
rezim Syah hingga akhirnya pada tahun 1357 (1978), Syah terpaksa melangkah mundur dan
membatalkan penggunaan kalender nasional versi pemerintah.
7 0 ' 80+/ /0#! ,!%) '!)1'
Dengan begitu teliti dan cermat, Imam Khomeini terus memantau perkembangan terbaru di Iran
maupun dunia internasional. Beliau juga amat tanggap dalam memanfaatkan secara maksimal
kesempatan yang muncul. Imam Khomeini pada bulan Mordad 1356 HS (Agustus 1977) dalam
pesan tertulisnya menyatakan, ³Kini, lewat situasi dalam dan luar negeri yang ada, serta dengan
terungkapnya kejahatan rezim Syah di mata publik dan media asing merupakan kesempatan bagi
kalangan ilmuan, budayawan, tokoh nasionalis, mahasiswa dalam dan luar negeri, dan
organisasi-organisasi Islam di mana pun berada untuk tanggap memanfaatkan peluang yang ada
dan bangkit secara terbuka´.
Gugur syahidnya, putra Imam Khomeini, Ayatollah Haj Agha Mostafa Khomeini, pada awal
bulan Aban 1356 HS (23 Oktober 1977) merupakan titik tolak gerakan kebangkitan kembali
komunitas Hauzah dan masyarakat muslim Iran. Imam Khomeini bahkan menyebut peristiwa itu
sebagai anugrah tersembunyi ilahi.
Sementara itu rezim Syah membalas aksi Imam Khomeini dengan melansir sebuah artikel di
koran Ettela¶at . Artikel ini berisi hinaan terhadap Imam Khomeini. Protes luas rakyat Iran
terhadap artikel tersebut berujung dengan melutusnya peristiwa Kebangkitan 19 Dey 1356 HS (9
Januari 1978) di Qom. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah santri pendukung revolusi gugur
syahid akibat tindak represif pihak keamanan. Meski Syah melancarkan aksi pembantaian massal
untuk melumpuhkan gejolak kebangkitan rakyat, namun ia tetap gagal memadamkannya.
$ (&)  $ /
Pertemuan para menteri luar negeri Iran dan Irak di New York memutuskan untuk mengeluarkan
Imam Khomeini dari Irak. Hari kedua bulan Mehr 1357 HS (24 September 1978) rumah Imam
Khomeini di Najaf di epung oleh tentara Ba¶ath Irak. Tersebarnya berita ini menyulut kemarahan
luas umat Islam di Iran, Irak, dn negara-negara lainnya. Pada tanggal 12 Mehr 1357 HS (4
Oktober 1978), Imam Khomeini berencana meninggalkan Najaf menuju perbatasan Kuwait.
Namun pemerintah Kuwait atas desakan rezim Syah menolak Imam Khomeini memasuki negara
ini. Rencana hijrah ke Lebanon dan Syria pun sempat dibicarakan, namun setelah
bermusyawarah dengan putranya, Hojjatul Islam Haj Sayed Ahmad Khomeini, Imam khomeini
akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Paris.
Tanggal 14 Mehr 1357 HS (6 Oktober 1978), Imam Khomeini memasuki Paris. Dua hari
setelahnya, Imam Khomeini tinggal di kediaman salah seorang warga Iran mukim Perancis di
Nofel Loshato, sebuah kota kecil di pinggiran Paris. Para pejabat Perancis menyampaikan
pandangan presiden negaranya kepada Imam Khomeini yang berisi desakan untuk menjauhi
segala bentuk aktifitas politik selama tinggal di Perancis. Mereaksi desakan tersebut, Imam
Khomeini secara lantang menegaskan bahwa pembatasan semacam itu bertentangan nyata
dengan slogan demokrasi yang selama ini didengung-dengungkan oleh Perancis. Beliau bahkan
menyatakan tidak akan berhenti memperjuangkan cita-citanya meski harus berpindah-pindah
dari satu airport ke airport lainnya.
Pada bulan Dey 1357 HS (Januari 1979), Imam Khomeini membentuk Dewan Revolusi Islam.
Sementara Syah Iran kabur meninggalkan Iran pada tanggal 26 Dey 1357 HS (16 Januari 1979)
setelah terbentuknya Dewan Kerajaan dan pengambilan mosi kepercayaan atas kabinet PM
Bakhtiar. Berita kepergian Syah pun menyebar ke Tehran dan akhirnya ke seluruh pelosok
negeri. Berita pun ini disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat Iran.
 !  ,0 ) $!
Awal bulan Bahman 1357 HS (akhir Januari 1979), kabar tentang keputusan Imam Khomeini
untuk kembali ke tanah airnya tersebar luas. Bagi rakyat Iran, kabar tersebut merupakan berita
gembira yang paling dinanti-nantikan. Sekitar 14 tahun rakyat Iran merindukan kembalinya
Imam Khomeini ke negerinya. Meski demikian, mereka juga amat mengkhawatirkan
keselamatan jiwa pemimpin revolusi itu. Sebab hingga saat itu, pemerintah buatan Syah masih
bercokol dan Iran berada di bawah kendali militer.
Kendati situasi di Iran masih begitu kritis dan berbahaya, namun Imam Khomeini bertekad untuk
kembali ke tanah airnya. Dalam pesannya kepada rakyat Iran, beliau menyatakan bahwa dirinya
ingin bersama rakyat di saat-saat yang paling menentukan dan kritis.
PM Bakhtiar bersama pihak militer menutup seluruh bandar udara negara untuk penerbangan
asing. Namun setelah beberapa hari, pemerintah Bakhtiar tak sanggup bertahan dan terpaksa
memenuhi desakan rakyat. Akhirnya pagi 12 Bahman 1357 (1 Februari 1979) setelah 14 tahun
hidup di pengasingan, Imam Khomeini kembali ke tanah air tercintannya. Rakyat Iran
menyambut kedatangan Imam Khomeini secara besar-besaran dan penuh suka cita. Menurut
pengakuan media-media Barat, warga yang menyambut kedatangan Imam Khomeini di jalan-
jalan kota Tehran mencapai sekitar 4 sampai 6 juta orang.
 0' 0!!
Imam Khomeini telah menyampaikan seluruh tujuan dan cita-cita perjuangan yang mesti
diungkapkan. Dalam prakteknya pun, beliau mengerahkan seluruh daya dan upaya yang
dimilikinya untuk merealisasikan cita-cita tersebut. Kini menjelang paruh kedua bulan Khordad
1368 (Juni 1989), Imam Khomeini seakan tengah mempersiapkan dirinya untuk menemui Sang
Kekasih, Dzat Maha Suci yang selama ini seluruh perjuangan Imam senantiasa ditujukan untuk
mengabdi kepada-Nya. Seluruh rintihan dan puisi sufistik Imam Khomeini merupakan jelmaan
dari derita perpisahannya dengan Sang Kekasih dan kerinduannya untuk bertemu dengan Dia.
Dan kini, saat-saat perpisahan Imam Khomeini dengan rakyatnya pun telah tiba. Dalam surat
wasiatnya beliau menulis, ³Dengan hati yang damai, kalbu yang tenang, jiwa yang bahagia dan
diri yang penuh harapan kepada karunia ilahi, saya mohon pamit kepada Saudari dan Saudara
sekalian menempuh perjalanan menuju tempat keabadian. Saya sangat memerlukan doa baik
kalian. Kepada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang saya meminta maaf atas segala
kekurangan dan kesalahan saya dalam berkhidmat. Saya juga berharap bangsa Iran bisa
menerima maaf saya atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Saya berharap bangsa Iran
bisa terus melangkah maju dengan teguh, tekad, dan kehendak´. Yang menakjubkan beberapa
tahun sebelum beliau wafat, Imam Khomeini dalam salah satu puisinya pernah menuturkan:
c  
 
        
    
   
Sabtu 13 Khordad 1367 HS, pukul 22.20 adalah saat-saat
perpisahan. Sebuah jantung yang menghidupkan jutaan jantung-jantung lainnya dengan sinaran
ilahi dan spiritualitas, berhenti berdetak. Lewat kamera tersembunyi yang terpasang di ruang
perawatan Imam Khomeini, di sebuah rumah sakit di Tehran, masa-masa operasi jantung dan
detik-detik kepergian sang pemimpin revolusi, seluruhnya terekam sebagai dokumen sejarah.
Menjelang masa-masa akhir, kondisi ruhani dan jasmani Imam Khomeini ditayangkan lewat
televisi. Tangis dan duka rakyat Iran pun tak bisa ditahan.

Bibir Imam Khomeini selalu mengisyaratkan rangkaian dzikir yang tak putus-putusnya. Di
malam terakhir hidupnya, setelah menjalani operasi jantung yang sangat berat dan melelahkan di
usianya yang ke-87 tahun, beliau masih menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat
malam meski kedua tangannya masih dipenuhi serum dan infus. Beliau masih meluangkan
dirinya untuk membaca kalam suci Al-Quran.

Saat detik-detik akhir mulai menjelang, raut muka Imam Khomeini terlihat seperti diliputi aura
ketenangan dan penuh damai. Lidahnya tak pernah putus mengucap syahadat atas keesaan Allah
dan risalah Rasulullah. Dalam suasana yang begitu pekat dengan cahaya surgawi inilah, jiwa
Imam Khomeini terbang menuju keharibaan ilahi.

Iran seakan terguncang hebat, saat berita wafatnya Imam Khomeini diumumkan. Seantero Iran
dan seluruh sudut dunia yang mengenal pesan dan perjuangan Imam Khomeini tenggelam dalam
duka. Tak ada ungkapan dan tulisan yang bisa melukiskan betapa sedihnya rakyat dan umat
revolusioner saat melepas kepergian sang Imam, pemimpin agung yang berhasil melepaskan
negerinya dari jeratan kezaliman penguasa yang diktator dan campur tangan asing, sosok yang
berhasil menghidupkan kembali Islam, mengembalikan kemuliaan umat Islam, mendirikan
Republik Islam, seorang ulama besar yang tak gentar menghadapi dua kekuatan adidaya dunia,
Timur dan Barat.

Selama 10 tahun Imam Khomeini bertahan menghadapi segala bentuk konspirasi penggulingan,
kudeta, kerusuhan, dan pelbagai fitnah. Selama delapan tahun, beliau tetap teguh memimpin
jihad pertahanan suci menghadapi agresi militer rezim Ba¶ath Irak yang didukung oleh dua
adidaya dunia, Timur dan Barat. Rakyat benar-benar kehilangan seorang pemimpin tercinta,
ulama besar, dan pejuang Islam yang sejati.
Mungkin tak ada siapapun yang kuasa untuk menafsirkan perpisahan ini, ketika mereka
mendengar betapa banyak pecinta Imam Khomeini yang meninggal dunia lantaran tak mampu
menahan pedihnya perpisahan, ketika mereka melihat betapa banyak rakyat yang kehilangan
kesadarannya saat melihat jenazah Imam Khomeini disemayamkan, dan ketika menyaksikan
jutaan pengagum sang pemimpin revolusi tenggelam dalam tangis dan duka yang mendalam.
Namun bagi mereka yang pernah merasakan manisnya cinta, tentu mudah memahami hakikat
semua ini.

Benar, rakyat Iran sungguh jatuh cinta kepada Imam Khomeini. Dalam selarik puisi yang begitu
indah, rakyat Iran menuturkan, ³Cinta kepada Khomeini adalah cinta kepada seluruh kebaikan´.

Tanggal 14 Khordad 1368 HS (4 Juni 1989), Dewan Ahli Kepemimpinan Revolusi Islam
menggelar sidang. Setelah dibacakannya wasiat Imam Khomeini oleh Ayatollah Ali Khamenei
yang berlangsung selama dua setengah jam, pembahasan mengenai calon pengganti Imam
Khomeini dan pemimpin tertinggi revolusi dimulai. Setelah beberapa jam berlalu, presiden Iran
saat itu, Ayatollah Sayid Ali Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi revolusi Islam.
Beliau adalah salah satu murid dekat Imam Khomeini, tokoh terkemuka pejuang revolusi, dan
sahabat seperjuangan yang selalu menyertai Imam di segala keadaaan.

Selama bertahun-tahun, Barat dan anasir bonekanya di dalam negeri Iran merasa putus asa untuk
menumbangkan Imam Khomeini dan mereka selalu menantikan wafatnya beliau. Namun rakyat
Iran begitu waspada dan tanggap. Dengan segera rakyat mendukung keputusan Dewan Ahli yang
memilih Ayatollah Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin revolusi sehingga konspirasi musuh
pun gagal kembali.

Selama ini musuh mengira dengan wafatnya Imam Khomeini , Revolusi Islam pun berakhir.
Namun nyatanya, kepergian Imam justru menempatkan era Khomeini ke ranah yang lebih luas
dari sebelumnya. Sebab, apakah mungkin pemikiran luhur, kebaikan, spritualitas, dan hakikat
bisa musnah?
Siang dan malam 15 Khordad 1368 HS (5 Juni 1989), jutaan warga Iran yang datang dari
pelbagai kota dan desa datang ke Tehran, memenuhi Mushalla Besar Tehran, untuk melepas
kepergian Imam Khomeini yang terakhir kalinya. Dalam upacara pemakamam agung itu, tak
terlihat suasana upacara resmi kenegaraan sebagaiman yang biasa dilakukan dalam prosesi
pemakaman seorang pemimpin negara. Yang terlihat hanya suasana kerakyatan dan penuh cinta
sebuah bangsa revolusioner yang berduka dan menangis melepas pemimpinnya menuju ke
haribaan ilahi.

Dari kejauhan terlihat jenazah Imam yang terbaring damai di tengah lautan pecintanya yang
berduka. Setiap orang berbicara kepada Imamnya dengan bahasa masing-masing sembari
menetaskan air mata. Seluruh jalanan yang menuju Mushalla Besar Tehran penuh dengan lautan
manusia berbusana hitam, yang mengisyaratkan betapa pedihnya sebuah perpisahan. Bendera-
bendera tanda duka terpasang di sudut-sudut kota, lantunan kalam suci Al-Quran terdengar
bersahutan di masjid-masjid, rumah-rumah dan perkantoran. Saat malam tiba, ribuan lilin di
sekeliling Mushalla Besar Tehran dinyalakan untuk mengenang kobaran revolusi yang
dinyalakan Imam.

Malam itu, mata seluruh rakyat yang berduka menatapi nyala lilin, seakan mengenang seluruh
pengorbanan yang diberikan Imam Khomeini kepada bangsanya. Teriakan ³Ya«Husein´ para
pecinta Imam Khomeini yang merasa menjadi yatim, mengubah malam penuh duka itu menjadi
seperti malam-malam Asyura, malam yang begitu tragis saat Imam Husein as, cucu Rasulullah
saw dibantai di padang Karbala oleh para durjana. Mereka sadar, suara lembut Imam Khomeini
tak akan terdengar lagi di Huseiniyeh Jamaran, tempat di mana Imam biasa mengutarakan
cermah-ceramahnya kepada rakyat Iran. Rakyat terus mendampingi jenazah Imam hingga pagi
tiba.

Awal pagi 16 Khordad 1368 HS (6 Juni 1989), sembari meneteskan air mata jutaan manusia
menggelar shalat jenazah yang diimami oleh Ayatollah Al-Udzma Golpaygani. Lautan manusia
di saat itu mengingatkan kembali pada peristiwa penyambutan besar-besaran rakyat Iran yang
menyambut kedatangan Imam Khomeini dari pengasingan pada tanggal 12 Bahman 1357 HS (1
Februari 1979). Dua peristiwa besar yang akan senantiasa diingat oleh sejarah.

Media-media massa dunia memperkirakan, lautan pelayat Imam Khomeini saat itu sekitar 9 juta
orang, sementara pada peristiwa penyambutan 12 Bahman, diperkirakan sekitar 6 juta orang.
Padahal selama 11 tahun lebih kepemimpinan Imam Khomeini di Iran, beragam fitnah,
konspirasi, tekanan dan ancaman negara-negara adidaya, tak pernah berhenti mendera rakyat
Iran. Melihat kondisi yang demikian itu, semestinya rakyat Iran sudah letih dengan pelbagai
kesulitan yang ada. Namun ajaibnya, justru di tengah pelbagai cobaan dan ujian berat tersebut,
rakyat Iran semakin matang dan tegar. Generasi hasil didikan ideologi ilahi Imam Khomeini
benar-benar memegang teguh ajaran beliau yang berbunyi, ³Beban menahan kerja keras,
kesusahan, pengorbanan, kesyahidan, dan derita di dunia sebanding dengan besarnya tujuan,
kebernilaian dan ketinggian peringkat tersebut´.

Setelah melihat bahwa prosesi pemakaman tak mungkin dilanjutkan di tengah emosi penuh duka
rakyat Iran, pemerintah mengumumkan untuk menunda pemakaman dan meminta para pelayat
kembali ke rumahnya masing-masing sampai pengumuman berikutnya. Namun di sisi lain,
mengingat bahwa penundaan prosesi pemakaman bisa menambah jumlah pelayat yang makin
banyak berdatangan dari kota-kota lainnya, maka pemerintah pun memutuskan untuk
mengebumikan jenazah Imam Khomeini selepas dzuhur hari itu juga.

Prosesi pemakaman pun berlangsung di tengah himpitan lautan manusia yang tenggelam dalam
tangis dan duka. Lewat siaran pelbagai media massa, seluruh dunia juga turut menyaksikan
prosesi pemakaman seorang pemimpin agung Revolusi Islam ini. Dengan demikian seperti
halnya masa-masa hidup Imam Khomeini yang menjadi sumber perjuangan dan kebangkitan,
saat-saat kepergian beliau pun seperti itu juga. Semoga abadilah dia. Karena dia adalah hakikat
dan hakikat akan senantiasa abadi dan tak kenal fana!

===================================================

Pengantar
23/07/2008
Benar atau tidaknya amalan seseorang bergantung pada pengetahuannya akan masalah-masalah
agama (syar¶i) dan mengamalkannya. Salah satu cara untuk mengetahui hukum agama adalah
dengan mengikuti fatwa atau taqlid kepada mujtahid yang memenuhi seluruh persyaratan
ijtihad.Untuk memperoleh informasi tentang fatwa seorang h    (mujtahid yang
fatwanya diikuti) kita bisa merujuk ke buku
   h  (Kumpulan Fatwa) yang diyakini
mewakili fatwanya.Berdasarkan realitas, dimana banyak para mukallaf setelah wafatnya
Ayatullah Al-Udhma Syaikh Ali Arakiy ingin bertaqlid kepada Ayatollah Al-Udhma Khamenei,
pada saat yang sama hingga saat ini kumpulan fatwa beliau sedang dalam penyusunan dan belum
diterbitkan, sementara buku µAjwibah Al-Istifaat¶ (Jawaban atas Pertanyaan Fatwa) tidak
mnecakup semua masalah keseharian, maka kami memandang perlu untuk menyusun perbedaan
yang ada antara fatwa beliau dan fatwa Imam Khomeini dengan berpijak pada buku Ajwibah Al-
Istifaat dan beberapa sumber lainnya, sehingga setiap mukallaf dapat dengan mudah mengetahui
masalah ini.
CATATAN:

1. Para mukallid Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa melaksanakan fatwa beliau dengan
memperhatikan perbedaan yang ada. Jika masih ada yang tidak jelas bisa menyampaikan
pertanyaan guna memperjelas hal itu.
2. Dalam sebagian kasus, tidak terdapat perbedaan, tetapi yang ada adalah penjelasan atau
penambahan keterangan.
3. Fatwa Imam Khomeini diambil dari kitab Tahrir Al Wasilah, Taudhih Al Masail dan Al
µUrwatul Wutsqa.
4. Untuk mempersingkat pembahasan kami sengaja tidak mencantumkan referensi fatwa,
bagi yang menginginkannya bisa merujuk ke edisi cetak yang telah diterbitkan.
5. Fatwa Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa Anda bisa dapatkan di kolom sebelah kanan
sementara fatwa Imam Khomeini dicantumkan di sebelah kiri.