Anda di halaman 1dari 19

Dapatkan hosting murah dan domain gratis di IdeBagus.

com

* Home
* Profil
* Terms and Conditions
* Contact
* Donate
* Tanya Jawab
* Report Abuse

Home
IMPLEMENTASI KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 80 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN
PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH DI RSUP Dr.

* View
* clicks

Posted November 12th, 2008 by klicit

* Administrasi Negara

abstraks:

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Keputusan Presiden nomor 80 tahun
2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / jasa Pemerintah di RSUP Dr. Soeradji
Tirtonegoro. Disamping itu juga untuik mengetahui hambatan yang timbul dalam pelaksanaan
Keppres tersebut.
Peneliltian ini didesain dalam bentuk penenltian implementasi dengan menekankan pada konsep
implementasi dari Ripley dan Franklin (1985). Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif
kualitatif. Data diambil dari narasumber yang ditentukan berdasarkan tehnik Purposive sampling.
Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik wawancara mendalam, observasi dan studi
dokumen. Untuk keperluan analisis data digunakan tehnik analisis interaktif dari Miles dan
Huberman, dengan uji validitas menggunakan triangulasi data.
Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003 di RSUP Dr.
Soeradji Tirtonegoro Klaten telah dilaksanakn sesuai dengan petunjuk pelaksanaannya.
Keseluruhan tahapan telah dilalui dengan baik mulai dari perencanaan hingga evaluasinya.
Serjumlah faktor diidentifikasi sebagai yang mempengaruhi proses implementasi, diantaranya
adalah sikap pelaksana, sumber daya dan sistem komunikasi yang dibangun. Meskipun
pelaksanaannya telah sesuai dengan juklaknya akan tetapi masih ditemukan hambatan dalam
poelaksanaan keppres tersebut. Hambatan itu adalah hambatan yang bersumber dari kinerja
panitia Pengadaan dan hambatan sistem.
Untuk itu maka saran yang penenlti ajukan antara lain adalah perlunya langkah kongkrit untuk
menunjukkan adnya transparansi dalam pengadaan baranag, menguirangi mekanisme
penunjukan rekanan dengan cara-cara yang lebih obyektif serta mengupauyaklan komunikasi
yang intensif antara pelaksana dari petahap perencanaan hingga evaluasinya.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam sebuah organisasi apapun bentuknya dalam melaksanakan kegiatan memerlukan sarana
dan prasarana pendukung, baik berupa dana, barang maupun sumber daya manusia. Kegiatan
atau aktivitas suatu entitas / organisasi, baik entitas swasta maupun entitas pemerintah, yang
sehari-harinya melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi),
akan selalu dijumpai suatu kegiatan yang aktivitasnya melakukan pengadaan (procurement).
Pengadaan atau pembelanjaan barang kebutuhan suatu organisasi perlu dilakukan untuk
mendukung pekerjaan sehari-hari yang bersifat rutin (operasional, pemeliharaan, atau
pemenuhan kebutuhan kerja setiap hari), maupun pekerjaan yang bersifat sementara (temporary)
yang bersifat investasi, penambahan kapasitas terpasang, atau proyek, yang dilakukan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditargetkan (Depkeu, 2007).
Selama ini sudah akrab ditelinga kita berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam kaitan
dengan pengadaan barang. Ada istilah mark up, manipulasi, pengadaan yang tak ditenderkan,
ketidaksesuaian barang yang dibeli dengan harga, dan sebagainya, yang sarat dengan berbagai
penyelewengan. Kenyataan ini banyak terjadi pada instansi-instansi pemerintah.
Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang tidak diketahui oleh pemerintah. Untuk itu dalam
rangka mengurangi kecenderungan tersebut dan agar pengadaan barang/jasa pemerintah
dilaksanakan dengan efektif dan efisien dengan prinsip persaingan sehat, transparan, terbuka
dan perlakuan adil pada semua pihak sekaligus untuk menghapus praktek kartel pelelangan yang
kerap mewarnai tender di sejumlah instansi pemerintah, pemerintah telah mengeluarkan
kebijakan baru pengadaan barang / jasa pemerintah melalui Keppres No. 80/2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah sebagai pengganti Keppres
sebelumnya yaitu Keppres No. 18/2000 (Perpres No. 32 Tahun 2005, 2007). Melalui penerapan
Keppres yang baru tersebut diharapkan proses pengadaan barang / jasa oleh instansi
pemerintah bisa memberikan hasil yang lebih menguntungkan bagi negara dan bisa menghindari
kerugian negara akibat pelaksanaan yang tidak benar.
Secara umum proses pengadaan barang / jasa selama ini masih belum dapat menghasilkan
harga yang kompetitif dan cenderung berharga lebih tinggi dibandingkan pembelian langsung
oleh swasta. Hal ini menjadi indikator bahwa proses pengadaan cenderung menciptakan biaya
ekonomi tinggi dan menciptakan biaya-biaya yang menambah harga penawaran. Harga yang
tidak kompetitif pada akhirnya akan merugikan negara dan masyarakat pada umumnya karena
berkurangnya manfaat dari belanja negara. Inefisiensi menjadi semakin bertambah besar ketika
proses pelelangan juga tidak jujur. Perilaku ini menciptakan nilai proyek yang menggelembung
dan kemudian diikuti dengan pelaksanaan pengadaan yang tidak jujur dan ada unsur Kolusi,
Korusi dan Nepotisme (KKN).
Sebagai sebuah institusi pemerintah yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan, RSUP Dr.
Soeradji Tirtonegoro Klaten juga tidak terlepas dari kegiatan pengadaan barang/ jasa untuk
memenuhi kebutuhan operasional dalam pelayanan kesehatan pada setiap tahun. Berbagai
kegiatan pengadaan diselenggarakan di rumah sakit ini, mulai dari kebutuhan barang yang
langsung terkait dengan pelayanan kesehatan, juga kebutuhan-kebutuhan lain yang sifatnya
sebagai penunjang maupun pelengkap dari kebutuhan pokok pada pelayanan kesehatan
tersebut.
Terkait dengan pelaksanaan pembelanjaan di rumah sakit, sebagai bentuk pertanggungjawaban
atas pengelolaan uang negara, setiap kurun waktu tertentu (tribulan, semester dan tahunan)
disusun laporan realisasi pelaksanaan anggaran. Namun laporan yang dimaksud baru sebatas
pada besaran penyerapan dana dan pencapaian prestasi pekerjaan, kalaupun ada monitoring
dari instansi yang lebih atas waktunya sudah lewat dan biasanya tidak bisa berbuat lebih jauh.
Kondisi ini menyebabkan pada saat dilakukan pemeriksaan / pengawasan oleh Aparat Pengawas
Fungsional (APF) baik Inspektorat Jenderal Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Itjen-
Depkes. RI), Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) maupun Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) didapatkan prosedur pengadaan barang dan jasa yang tidak sesuai dengan
ketentuan Keppres Nomor 80 Tahun 2003, baik yang bersifat adminsitratif maupun teknis.
Bersifat administratif misalnya tidak dilakukannya pengumuman di media masa dan kesalahan
dalam pencantuman persyaratan pendaftaran, sedangkan yang bersifat teknis seperti kesalahan
penghitungan volume dan kemahalan harga serta ketidaksesuaian antara barang yang dikirim
dengan spesifikasi barang yang ditetapkan.
Sebagai Rumah sakit terbesar di Kabupaten Klaten, RSUP Soeradji Tirtonegoro mempunyai
jumlah karyawan yang cukup besar, dengan pasien yang sangat padat. Ini tentu saja
memerlukan sarana dan prasarana pendukung yang besar pula. Dengan demikian Rumah Sakit
Umum Pusat Soeradji Tirtonegoro ini merupakan salah satu instansi pemerrintah yang sarat
dengan pengadaan barang. Hal ini disebabkan karena rumah sakit ini memberikan jasa
pelayanan kesehatan yang didalamnya memerlukan berbagai barang untuk melayani pasien.
Barang itu bisa berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan untuk medis maupun untuk kebutuhan
rutin/ operasional rumah sakit.
Mengingat jumlahnya yang relatif cukup banyak apalagi dengan statusnya yang swadana tentu
saja Rumah sakit ini perlu lebih berhati-hati dalam hal pengadaan barang kebutuhannya. Ini
untuk menjaga kepuasan pelanggan maupun untuk tertib adminitrasi dan kelancaran proses
pelayanan kesehatan sendiri. Hal yang cukup penting juga berkaitan dengan upaya
penghematan yang harus dilakukan dengan status swadananya.
Menarik untuk dijadikan sebagai sebuah bahan kajian ilmiah, maka dalam rangka penyusunan
skripsi untuk menyelesaikan pendidikan strata satu di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Madani,
penulis tertarik untuk meneliti tentang implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/ jasa Pemerintah di RSUP Soeradji Tirtonegoro
Klaten, khususnya barang-barang untuk kebutuhan rutin/ operasional rumah sakit yang bersifat
non medis (di luar obat-obatan). Untuk itu maka peneliti mengambil judul penelitian
”Implementasi Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan apa yang diuraikan dalam latar belakang masalah diatas maka permasalahan yang
ada dalam penenltian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimanakah implementasi Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten ?
b. Hambatan apa yang muncul dalam implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003 tersebut ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok yaitu tujuan fungsional dan
tujuan individual. Penjabaran dari masing-masing tujuan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tujuan Fungsional
a. Mengetahui implementasi Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
b. Mengetahui kendala / permasalahan yang terdapat pada proses pengadaan barang / jasa di
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
2. Tujuan Individual
Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna meraih sarjana S1 pada Program Studi Ilmu
Administrasi Negara Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) MADANI Klaten.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Secara teoritis melalui penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
Administrasi Negara khususnya dalam bidang studi kebijakan publik dengan pokok kajian tentang
implementasi kebijakan.
b. Menambah pemahaman peneliti dan sebagai bahan pustaka ilmu administrasi negara
khususnya tentang hasil-hasil penelitian implementasi kebijakan publik.
2. Manfaat Praktis
a. Menambah wawasan peneliti dalam bidang ilmu adminsitrasi negara khususnya tentang
implementasi Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
b. Sebagai informasi dan sekaligus menjadi salah satu bahan untuk melakukan evaluasi atas
implementasi Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian
Dalam penelitian ilmiah, metode penelitian diperlukan sebagai frame dalam melakukan research,
analisa data, dan penyajian data sehingga terintegrasi dalam satu garis pemikiran dan tidak bias.
Beberapa tipe penelitian antara lain penelitian deskriptif, eksplanatif dan eksploratif. Disamping
itu ada beberapa jenis penelitian, antara lain penelitian survei, eksperimen, grounded research,
kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan analisa data sekunder (Singarimbun dan
Effendi : 1999:13).
Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan atau melukiskan proses implementasi Keputusan
Presiden RI Nomor 80 tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/ jasa
pemerintah, dengan berbagai aspek kajian yang telah ditentukan. Penelitian ini didesain dalam
bentuk penelitian implementasi.
Untuk itu dalam rangka menggambarkan proses pelaksanaan dan menggali informasi yang
dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana telah diformulasikan dalam
rumusan masalah, penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif, dengan mengkombinasikan
pendekatan kualitatif, analisis data sekunder dan wawancara mendalam secara langsung
(Indepth Interview) untuk menggali data-data primer.
Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
menggambarkan / melukiskan keadaan subyek / obyek penelitian (seorang, lembaga,
masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya (Hadari Nawawi 1998 : 63). Penelitian deskriptif ini akan dipadukan dengan
pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2000: 5), bahwa penelitian deskriptif kualitatif digunakan
berdasarkan pertimbangan : 1) Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan
dengan kenyataan 2) Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peniliti
dengan responden dan 3) Metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan
banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
Sementara itu berdasarkan tipologi tujuannya penelitian ini digolongkan dalam penelitian
implementasi. Hal ini disebabkan karena penenltian ini dilakukan pada saat implementasi
kebijakan sedang berlangsung, sehingga lebih menekankan pada proses yang terjadi. Acuan
yang digunakan dalam penelitian adalah mengacu pada konsep Ripley & Franklin (1985) dimana
dalam penelitian implementasi yang ingin dilihat adalah tingkat kepatuhan pelaksana dan
berbagai hal yang terjadi selama proses pelaksanaan tersebut. Hasil yang diharapkan dalam
penelitian semacam ini adalah generalisasi mengenai bagaimana intervensi (program/ kebijakan)
tersebut berjalan dan bagaimana kondisi yang dapat membuat program tersebut efektif. (Patton
1990:160-161).
Dari sisi sumber datanya, penelitian yang dilakukan ini lebih menekankan pada penelitian
lapangan (field study).

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, yang beralamat di jalan
KRT. Suraji Tirtonegoro No. 1 Klaten. Pemilihan lokasi ini didasari oleh pertimbangan :
a. RSUP Dr. Soeradji Tironegoro Klaten sebagai unit pelaksana teknis (UPT) pemerintah yang
mempunyai keharusan menerapkan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 dalam proses pengadaan
barang dan jasa yang jumlah kegiatannya terus meningkat sejalan dengan bertambahnya volume
kegiatan pelayanan di rumah sakit.
b. Semua kebutuhan barang / bahan untuk operasionalisasi kegiatan pelayanan rumah sakit
dilakukan melalui pengadaan barang / jasa berdasarkan Keppres No. 80 Tahun 2003.

C. Data dan Sumber data


Data dalam penelitian ini dikelompokkan kedalam dua jenis data yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan yang akan
diwawancarai. Sedangkan data sekunder adalah data yang bersumber dari dokumen-dokumen
yang sudah ada, sehingga peneliti tinggal mengutip dan menganalisanya.
Data primer dalam hal ini akan dikumpulkan dari informan yang ada di RSUP Suradji Tirtonegro.
Sementara itu data sekunder diperoleh dengan melihat arsip, dokumen yang berhubungan
dengan pelaksaan pengadaan barang dan jasa Pemerintah di RSUP Soeradji Tirtonegoro seperti
berita acara pembelian, rapat-rapat yang diadakan , bukti-bukti pembayaran dan sebagainya.
D. Tehnik pengambilan sample
Data primer diperoleh dari sumber data atau informan yang penentuannya didasarkan pada
tehnik purposive sampling atau sample bertujuan. Hal ini disebabkan karena penentuan informan
dilakukan dengan pertimbangan tertentu (HB Sutopo, 2002:56) Dalam hal ini peneliti mengambil
informan dari pihak-pihak yang dianggap mengetahui tentang fenomena yang diteliti secara
mendalam dan dapat dipercaya.
Informan yang dipilih yaitu :
1. Kepala Subag Penyusunan Program yang mengetahui perencanaan pembelanjaan di rumah
sakit.
2. Kepala Subag Anggaran dan Perbendaharaan yang memahami tentang pendanaan dalam
pengadaan barang / jasa kebutuhan rumah sakit.
3. Panitia pengadaan dan penerima
4. Petugas yang membelanjakan

E. Tehnik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan berbagai


pertimbangan berdasarkan konsep tehnis yang digunakan, keingintahuan pribadi, karakteristik
empiris dan sebagainya. Dalam hal ini digunakan tehnik yang bersifat interaktif dan non interaktif.
Oleh karena itu untuk memperoleh data yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti,
maka peneliti menggunakan alat pengumpulan data penelitian sebagai berikut :
1. Wawancara mendalam/ indeph interview
Wawancara ini tidak dilakukan secara terstruktur ketat dan dengan pertanyaan yang tertutup
akan tetapi lebih bersifat “open ended” dan mengarah pada kedalaman informasi serta dengan
cara yang tidak secara formal tersturktur (HB Sutopo, 2002:59). Tehnik ini dilakukan dengan
mengadakan tanya jawab secara langsung dan mendalam dengan responden atau narasumber
yang dianggap berkompeten terhadap permasalahan yang akan diteliti.
Guna memperoleh data yang lengkap maka wawancara dengan informan bisa dilakukan lebih
dari satu kali tergantung pada kebutuhan akan data yang diperlukan. Untuk melakukan
wawancara mendalam maka instrument yang digunakan adalah kuesioner guide (panduan
wawancara)

2. Pengamatan/observasi.
Tehnik ini digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau
lokasi dasn benda serta rekaman gambar. Observasi merupakan kegiatan pengamatan langsung
terhadap objek yang akan diteliti sehingga gambaran objek yang didapat akan menjadi lebih
konkret. Dalam kaitan dengan pengamatan ini bisa dilakukan terutama terhadap berbagai hal
yang berkaiatan dengan aktivitas pengadaan baranag, barang yang dibeli dan sebagainya.
3. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan jalan menyelidiki benda-benda tertulis
seperti buku-buku, peraturan-peraturan, dokumen, majalah, notulen rapat, catatan harian dan
sebagainya. Ini merupakan salah satu tehnik non interaktif. Dalam kaitan dengan persoalan
pengadaan barang, maka dokumen yang diperlukan antara lain tentang MOU kontrak
pengadaan, kuitansi pembayran, berita acara proses tender dsb. Dalam penggunaan tehnik ini
peneliti berusaha mengkritisi dokumen-dokumen yang ada guna menangkap maknanya. Untuk
itu juga dilakukan pembandingan antar dokumen satu dengan dokumen yang lain.

F. Tehnik Analisa data


Analisis Data adalah proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan, untuk selanjutnya ditarik
kesimpulan. . Data yang terkumpul dalam penelitian ini akan dianalisis dengan metode analisis
deskriptif kualitatif, yaitu dengan menggambarkan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang,
lembaga, masyarakat dan lain-lain, pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta sebagaimana
adanya. Dalam kaitan dengan ini maka peneliti menggunakan model analisis interaktif dari Miles
& Huberman (1988). Dalam model analisis data terdiri atas tiga komponen yaitu Reduksi data,
sajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasinya. (HB Sutopo, 2002:91) Ketiga
komponen tersebut aktivitasnya berbentuk interaksi dengan prose pengumpulan data yang
menggunakan proses siklus. Tiga komponen tersebut terlibnat dalam proses analisis dan saling
berkaitan serta menentukan hasil akhir analisis.
Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan dan penyederhanaan dan abstraksi data
kasar yang dilakukan selama berlangsungnya proses penelitian. Sajian data merupakan
rangkaian informasi untuk mempermudah pemahaman yang disusun secara sistematis berdasar
reduksi yang dilakukan sebelumnya. Sajian data selain bisa dilakukan dalam bentuk narasi
kalimat, juga dapat meliputi berbagai jenis matriks, gambar/skema, jaringan kerja kaitan
kegioatan dan juga table pendukung narasinya (HB Sutopo, 2002:92). Sementara itu kesimpulan
merupakan proses akhir dalam analisis data guna memperoleh jawaban atas pertanyaan
penelitian. Dalam hal ini perlu dilakukan verifikasi agar mantap dan bisa dipertanggungjawabkan.
Verifikasi ini bisa dilakukan dengan pengulangan untuk tujuan pemantapan, penenlusuran data
kembali dengan cepat. Disamping itu juga dimungkinkan melalui diskusi.
Adapun bagan dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :

Bagan III : Tehnik Analisa Interaktif

(HB Sutopo, 2002:96)

Selanjutnya untuk menguji keabsahan data yang diperoleh, peneliti menggunakan tehnik
triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di
luar data, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut
(Moleong, 1994:178). Dalam kaitan dengan triangulasi ini dibedakan empat macam triangulasi
yaitu triangulasi sumber, metode, penyidik dan teori. Dalam penelitian ini digunakan tehnik
triangulasi sumber guna menguji keabsahan datanya. Ini berarti bahwa pengecekan keabsahan
atau validitas data dilakukan dengan membandingkan dan mengecek balik derajad kepercayaan
suatu informasi yang diperoleh dengan sumber yang berbeda.

BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Perkembangan RSUP Soeradji Tirtonegoro


RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro semula bernama RSUP Tegalyoso Klaten didirikan pada tanggal
27 Desember 1927 secara bersama-sama oleh beberapa perkebunan (onderneming) milik
pemerintah dengan nama rumah sakit Dr. SCHEURER HOSPITAL. Pada tahun 1942 wilayah
Indonesia dikuasai Jepang, dengan demikian rumah sakit ini juga dikuasai Jepang. Selama
dikuasai oleh Jepang, rumah sakit ini dipimpin Dr. Maeda dan Dr. Suruta. Setelah Jepang kalah
pada tahun 1945, rumah sakit ini diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dan nama
rumah sakit diganti menjadi Rumah Sakit Umum TEGALYOSO, dipimpin oleh Dr. Soenoesmo.
Nama rumah sakit diambil dari nama desa di mana rumah sakit ini berkedudukan yaitu desa
Tegalyoso.
Dalam masa peralihan dari rumah sakit di bawah pengelolaan Zending menjadi rumah sakit
Pemerintah RI masih terdapat beberapa tenaga dokter asing antara lain Dr. Horner dan Dr.
Bakker Muda. Selama masa itu, semua karyawan RSU Tegalyoso Klaten diberi kesempatan
untuk memilih, tetap bekerja di RSU Tegalyoso untuk kemudian diangkat menjadi pegawai negeri
atau pindah ke rumah sakit Zending yang lain yaitu RS Bethesda Yogyakarta atau RS Jebres
Surakarta.
Selama kurun waktu yang panjang dan setelah melalui berbagai perubahan ke arah manajemen
rumah sakit yang sesuai dengan perkembangan jaman maka berdasarkan SK Menteri Kesehatan
RI No. 1442 A/Menkes/SK/XII/1997 tertanggal 20 Desember 1997 nama RSUP Tegalyoso diganti
menjadi RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro. Nama tersebut diambil dari salah seorang tokoh
pergerakan pada perkumpulan BOEDI OETOMO yang mengabdi sebagai dokter di wilayah
Klaten.
Hubungan historis antara RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro dengan Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada sangat mendalam. Hal ini ditunjukkan dengan dibukanya Perguruan
Tinggi Kedokteran bagian pre-klinik di RSU Tegalyoso Klaten (nama rumah sakit saat itu) pada
tanggal 5 Maret 1946 yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran UGM di
Yogyakarta.
Hubungan dan kerjasama RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro dengan Fakultas Kedokteran UGM
masih tetap dipertahankan sampai saat ini karena kerjasama itu membawa manfaat sangat besar
bagi kedua belah pihak. Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran UGM secara resmi dikukuhkan
secara tertulis pada tahun 1975 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI yang antara
lain menetapkan RSUP Tegalyoso Klaten bersama-sama dengan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
sebagai tempat pendidikan bagi mahasiswa Fakultas kedokteran UGM. Sehubungan telah
melakukan fungsi pendidikan dan digunakan sebagai lahan prakter bagi calon tenaga kesehatan,
Departemen Kesehatan memandang status RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro perlu disesuaikan
dari non pendidikan menjadi rumah sakit pendidikan.
Pada tanggal 5 Maret 2001 dengan surat bernomor 934/Menkes/IX/2001 Menteri Kesehatan RI
menyetujui RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro sebagai RS Pendidikan FK UGM. Meskipun demikian
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro belum dikategorikan sebagai RS Pendidikan dalam arti yang
sebenarnya pada saat itu. Baru pada 1 Maret 2003 RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro diresmikan
sebagai Rumah Sakit Kelas B Pendidikan oleh Menteri Kesehatan RI dengan Surat
Keputusannya nomor 1594/MenKes/SK/XII/2002. Saat ini struktur organisasi dan tata kerja
(SOTK) sebagai rumah sakit pendidikan tengah diproses di Depkes untuk ditetapkan.
Tahapan sejarah perkembangan kelembagaan RSUP Dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten secara
garis besar adalah sebagai berikut :
1. Tahun 1978, ditetapkan sebagai Rumah Sakit Kelas C.
2. Tahun 1992, ditetapkan sebagai Rumah Sakit Unit Swadana Dengan Syarat. (Rumah Sakit
Unit Swadana Periode Pertama di Indonesia sebagai Pilot Project)
3. Tahun 1993, ditetapkan sebagai Rumah Sakit Kelas B Non Pendidikan.
4. Tahun 1994, ditetapkan sebagai Rumah Sakit Unit Swadana Tanpa Syarat
5. Tahun 1997, ditetapkan sebagai Rumah Sakit pengguna PNBP.
6. Tahun 1997, terakreditasi secara penuh oleh Depkes RI untuk Akreditasi Tingkat Dasar (5
standar pelayanan)
7. Tahun 2001, terakreditasi secara penuh oleh Depkes RI untuk Akreditasi Tingkat Lanjut (12
standar pelayanan)
8. Tahun 2003, ditetapkan sebagai Rumah Sakit Kelas B Pendidikan
9. Tahun 2007, ditetapkan sebagai rumah sakit yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum (PPK-BLU)
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro sebagai sarana pelayanan kesehatan Pemerintah yang padat
karya, padat pakar, padat modal dan padat teknologi perlu dikelola secara efektif, efisien dan
produktif agar dapat menjalankan fungsinya sesuai harapan seluruh masyarakat dengan tarif
yang terjangkau serta mutu pelayanan kesehatan yang prima dan terus meningkat seiring
dengan perubahan pola penyakit dan perkembangan iptekdok yang melaju dengan cepat dan
terutama tuntutan masyarakat yang makin meningkat. Untuk itu meskipun tidak for profit, Rumah
Sakit harus dikelola dengan mengacu kepada prinsip-prinsip ekonomi, karena biaya investasi,
gaji (termasuk insentif), biaya operasional dan pemeliharaan, dan lain-lain sangat besar.
Sementara kemampuan Pemerintah untuk membiayai seluruh pelayanan publiknya dari hasil
pajak dan usaha negara selalu terbatas, sehingga subsidi Pemerintah untuk Rumah Sakit
semakin menurun secara persentase terhadap total biaya Rumah Sakit yang seharusnya.
Dengan demikian maka semua masalah yang bersangkut paut dengan manajemen keuangan,
sumber daya manusia, teknologi yang ada, proses produksi jasa, sistem informasi dan
sebagainya yang merupakan kondisi internal rumah sakit perlu dikaji kekuatan dan
kelemahannya. Begitupun semua masalah yang merupakan dampak globalisasi, terjadinya
perubahan manajemen, arus informasi yang tak terbatas, kemampuan keuangan negara,
perubahan sosial politik dan kebijakan pemerintah, epidemiologi, perkembangan iptek, dukungan
pemasok/supplier, perubahan sikap dan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan, peta
persaingan, dan lain-lain perlu dicermati peluang dan ancamannya bagi organisasi rumah sakit.
B. Keadaan Pegawai
Sebagai Rumah Sakit Pemerintah yang terbesar di Kabupaten Klaten, RSUP Soeradji
Tirtonegoro memerlukan sumberdaya manusia (pegawai) yang sesuai dengan apa yang
dibutuhkan oleh sebuah rumah sakit. Jumlah keseluruhan tenaga/ pegawai yang ada di RS
adalah 815 pegawai yang terdiri atas 457 tenaga kesehatan, 207 tenaga non kesehatan dan 151
tenaga kontrak. Sebagai gambaran tentang Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, berikut kami
informasikan data tentang keadaan pegawai di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro selengkapnya
berdasarkan data base tahun 2006 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1.
Keadaan pegawai RSUP Soeradji Tirtonegoro Kabupaten Klaten
No. Jenis Pegawai Jumlah
1. Tenaga medis 51 orang
2. Tenaga Perawat 323 orang
3. Farmasi 14 orang
4.. Kesehatan masyarakat 7 orang
5 Gizi 8 orang
6. Keterapian fisik 12 orang
7. Keteknisan medis 42 orang
8. Non kesehatan 207 orang
9. Tenaga honorer 151 orang
Jumlah 815 orang
Sumber : Bagian Kepegawaian RSUP Soeradji Tirtonegoro th 2006
C. Visi Rumah Sakit
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, sebagai Rumah sakit swadana bukan saja
menyelenggarakan kegiatan jasa pelayanan kesehatan, akan tetapi juga jasa pendidikan dan
jasa penelitian di bidang kesehatan. Sifat jasa yang diselenggarakan adalah berfungsi sosial,
profesional dan etis dengan pengelolaan yang ekonomis. Ini selaras dengan visi rumah sakit
yang menjadi dasar terselenggaranya kegiatan. Adapun visi dari RSUP Soeradji Tirtonegoro
adalah :
“Menjadi rumah sakit yang berkualitas dan mandiri dalam pelayanan, pendidikan dan penelitian di
bidang kesehatan tingkat nasional”.

D. Misi Rumah Sakit


Untuk mewujudkan visi tersebut maka misi yang diemban oleh Rumah sakit adalah sebagai
berikut :
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna, berkualitas dan terjangkau.
2. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan ilmu bidang
kesehatan dengan standar mutu yang tinggi.
3. Mewujudkan kepuasan pelanggan untuk mencapai kemandirian rumah sakit.
4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan

E. Tujuan/ sasaran RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro


Dalam rangka melaksanakan misi tersebut maka semua kegiatan di RSUP Soeradji Tirtonegoro
diarahkan pada beberapa tujuan atau sasaran, antara lain yaitu :
1. Terciptanya produk pelayanan kesehatan yang berkualitas unggul dan sesuai kebutuhan
masyarakat.
2. Terselenggaranya pendidikan, penelitian dan pengembangan sehingga dihasilkan SDM yang
profesional dan mampu melakukan penapisan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.
3. Terwujudnya kepuasan seluruh pelanggan dengan pengelolaan yang efektif dan efisien.
4. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan karyawan.
Untuk mewujudkan sasaran tersebut maka ada beberapa nilai yang ditanamkan sebagai dasar
melaksanakan tugas pekerjaan. Nilai-nilai itu diantaranya adalah :
1. Karyawan yang berkualitas dan berkomitmen tinggi kepada rumah sakit adalah aset yang
paling berharga.
2. Kepuasan dan kesetiaan pelanggan adalah dasar kelangsungan hidup rumah sakit.
3. Mutu pelayanan rumah sakit sebagai pengikat kesetiaan pelanggan.
4. Kebersamaan adalah kunci utama dalam mencapai kesuksesan

F. Kegiatan Rumah Sakit


Dalam menyelenggarakan tugas, RSUP Dr. Soeradji Tirtongeoro mempunyai fungsi :
1. Menyelenggarakan pelayanan medis
2. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis
3. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan
4. Menyelenggarakan pelayanan rujukan
5. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
6. Menyelenggarakan pelayanan penelitian dan pengembangan
7. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan
Selanjutnya bisa disampaikan di sini bahwa sampai saat ini terdapat beberapa institusi
pendidikan yang telah menjalin kerjasama dengan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro dan sudah
berjalan dengan baik yaitu :
1. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta
2. Fakultas Farmasi Universitas Setya Budi Surakarta
3. Akademi Fisioterapi Surakarta
4. Pendidikan Ahli Madya Keperawatan Yogyakarta
5. Akademi Gizi Yogyakarta
6. Akademi Gizi Semarang
7. Akademi Teknik Elektromedik Surabaya
8. Akademi Teknik Elektromedik Jakarta
9. Akademi Teknik Radiodiagnostik Semarang
10. Akademi Kebidanan Klaten
11. Akademi Perekam dan Informatika Kesehatan Lintang Nuswantoro Semarang
12. Akademi Perekam dan Informatika Kesehatan Mandala Waluya Semarang
13. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Klaten
14. Akademi Gizi Muhammadiyah Surakarta
15. Akademi Teknik Radiologi Citra Bangsa Yogyakarta
16. Beberapa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)

H. Susunan Organisasi dan Dewan Pengawas


1. Susunan Organisasi Rumah Sakit
Sampai saat ini struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) yang dipergunakan di Dr. Soeradji
Tirtonegoro masih mengacu pada Surat Keputusan Menteri Keseharan RI Nomor 545 / Menkes /
SK / VI / 1994 tanggal 13 Juni 1994, namun untuk kepentingan Rencana Bisnis dan Anggaran
Tahun 2008 ini kami menyusunnya berdasarkan proyeksi tata kelola rumah sakit PPK-BLU yang
saat ini telah selesai dirumuskan dan tinggal menunggu pengesahannya. Adapun susunan SOTK
yang dimaksud terdiri atas : (struktur selengkapnya terlampir)
1. Direktur Utama
2. Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan
Dibawah Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan ini terdapat tiga Bidang, yaitu :
a. Bidang Pelayanan Medik
b. Bidang Pelayanan Keperawatan
c. Bidang Fasilitas Medik dan Keperawatan
Masing-masing Bidang di atas mempunyai satu Seksi Perencenaan dan pengembangan serta
satu Seksi Monitoring dan Evaluasi.
Direktorat medik dan keperawatan mempunyai beberapa instalasi yang berfungsi sebagai sentral
unit bisnis.
a. Instalasi Rawat Jalan
b. Instalasi Rawat Darurat
c. Instalasi Rawat Inap
d. Instalasi Rawat Intensif
e. Instalasi Bedah Sentral
f. Instalasi Farmasi
g. Instalasi Rehabilitasi Medik
h. Instalasi Patologi Kilnik
i. Instalasi Patologi Anatomi
j. Instalasi Radiologi
k. Instalasi Rekam Medik
l. Instalasi Persalinan
3. Direktur Umum, SDM dan Pendidikan
Dibawah Direktur Umum, SDM dan Pendidikan terdapat dua Bagian, yaitu :
a. Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia
Pada bagian ini terdapat tiga Sub Bagian, yaitu :
1). Sub Bagian Tata Usaha
2). Sub Bagian Rumah Tangga
3). Sub Bagian Sumber Daya Manusia
b. Bagian Pendidikan dan Penelitian
Terdapat dua Sub Bagian pada Bagian ini, yaitu :
1). Sub Bagian Pendidikan dan Pelatihan
2). Sub Bagian Penelitian dan Pengembangan
Beberapa Instalasi yang berada di bawah koordinasi Direktur Umum, SDM dan Pendidikan
adalah :
a. Instalasi Gizi
b. Instalasi Sterilisasi Sentral
c. Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah
d. Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
e. Instalasi Sanitasi
4. Direktur Keuangan
Terdapat tiga Bagian di bawah Direktur Keuangan ini, yaitu :
a. Bagian Perencanaan dan Anggaran
1). Sub Bagian Penyusunan Program dan Anggaran
2). Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan
b. Bagian Perbendaharaan dan Mobilisasi Dana
1). Sub Bagian Perbendaharaan
2). Sub Bagian Mobilisasi Dana
c. Bagian Akuntansi
1). Sub Bagian Akuntansi Keuangan
2). Sub Bagian Akuntansi Manajemen dan verifikasi
Beberapa Instalasi yang berada di lingkungan Direktorat Keuangan adalah :
a. Instalasi Tata Usaha Rawat Pasien
b. Instalasi Penyelesaian Piutang Pasien
c. Instalasi Pemasaran dan Hubungan Masyarakat
d. Instalasi Sistem Informasi Rumah Sakit
Selanjutnya unit-unit non struktural yang ada adalah :
1. Komite Medis
2. Komite Etik dan Hukum
3. Komite Pengembangan dan Unggulan
4. Satuan Pengawas Intern
2. Dewan Pengawas
Saat ini Dewan Pengawas belum dibentuk dan akan segera ditindaklanjuti setelah Surat
Pengesahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) PPK-BLU untuk RSUP Dr. Soeradji
Tirtonegoro ditetapkan.

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dikemukakan hasil penelitian yang dilakukan beserta pembahasannya.
Uraian akan diawali dengan menjelaskan implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003, factor-
faktor yang mempengaruhi dan hambatan yang dirasakan dalam proses implementasi.
Selanjutnya di bagian akhir akan dilakukan pembahasan hasil penelitian dibandingkan dengan
teori yang digunakan. Untuk lebih jelasnya dikemukakan masing-masing sebagai berikut :

A. Implementasi Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 tahun 2003 tentang


Pedoman Pengadaan Barang/ jasa Pemerintah di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Sebagai sebuah organisasi Pemerintah, RSUP Soeradji Tirtonegoro dalam rangka pengadaan
barang dan jasa, pelaksanaannya mengacu pada ketentuan Keppres Nomor 80 tahun 2003.
Untuk itu dalam melihat proses implementasinya maka uraian akan diawali dengan deskripsi
mengenai proses pengadaan barang/ jasa itu sendiri. Menurut Kepala Sub Bagian Penyusunan
Program Rumah Sakit Umum Pusat Suradji Tirtonegoro, proses pengadaan barang/ jasa melalui
beberapa tahap. Ini seperti apa yang dikemukakannya sebagai berikut :
Selayaknya ketentuan dalam Keppres nomor 80 tahun 2003 maka proses pengadaan barang di
RSUP Soeradji Tirtonegoro, dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan pengadaan dan tahap penilaian. (wawancara bulan juli 2007)

Untuk memperjelas tentang hal tersebut berikut ini dikemukakan tahapan-tahapan nya sebagai
berikut :
1. Tahap Persiapan pengadaan barang/ jasa Pemerintah
Menurut Kasubag Penyusunan program, pada tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan
yaitu :
a). Perencanaan Pengadaan barang/ jasa
Dalam hal perencanaan pengadaan barang/ jasa untuk kebutuhan Rumah sakit, pelaksanaannya
dilakukan oleh masing-masing unit kerja dan dikoordinir di Sub Bagian Perencanaan, Hal ini
seperti dikemukakan oleh Kasubag Perencannan RSUP Soeradji Tirtonegoro sebagai berikut :
Untuk masalah pengadaan barang/ jasa di RSUP Soeraji Tirtonegoro, identifikasi kebutuhan
biasanya dilakukan oleh masing-masing unit kerja, dan dikoordinir dan dikumpulkan di Sub
Bagian Perencanaan. Proses ini dilakukan biasanya pada awal tahun. Sub Bagian Perencanaan
menerima masukan atau usulan dari masing-masing unit kerja tersebut (wawancara juni 2007) .

Apa yang dikemukakan oleh Kasubag Perencanaan Program tersebut dibenarkan oleh Kepala
Bagian Kepegawaian RSUP sebagai berikut :
Memang untuk kebutuhan akan peralatan rutin seperti ATK , maupun alat-alat rumah tangga,
kami dari masing-masing unit mengajukan melalui Sub Bagian Perencanaan. Dan sub Bgain
perencanaanlah yang pada akhirnya akan menyusun sebagai suatu perencanana tahunan untuk
kebutuhan barang dan jasanya. Hal ini biasanya dilakukan pada awal tahun anggaran yaitu pada
bulan januari. (wawancara juli 2007).

b). Pembentukan Panitia Pengadaan/ penunjukan pejabat pengadaan Barang/ jasa


Setelah perencanaan untuk pengadaan barang dibuat, maka selanjutnya dibentuk panitia yang
akan menangani pengadaannya. Ini seperti dikatakan oleh Wakil Direktur bidang administrasi
sebagai berikut :
Kita Di RSUP, setelah masing-masing unit kerja mengusulkan kebutuhannya, maka persoalan
pengadaan kita serahkan pada Panitia Pengadaan barang/ jasa. Panitia ini dibentuk dengan SK
Direktur. (wawancara juni 2007)

Hal itu dibenarkan oleh Kasubag Perencanaan Program RSUP dengan menyatakan sebagai
berikut :
Kami di bagian Perencanaan hanya membuat dan menampung kebutuhan-kebutuhan masing-
masing unit. Untuk pengadaannya, biasanya Direktur membentuk panitia yang dibentuk dengan
Surat keputusan Direktur Rumah Sakit Panitia tersebut berbeda antara pengadaan barang yang
non medik dan yang medik.(wawancara juni 2007)

Adapun Panitia Pengadaan Barang Non medis dan pekerjaan (jasa) Perbaikan/ Pemeliharaan
Alat-alat non medis tahun 2006 berdasarkan Keputusan Direktur RSUP Soeradji Tirtonegoro,
Klaten nomor : PL.00.06.01.03E.03A, tanggal 2 januari 2006 terdiri atas :
1. Ketua : Mustaqim S.IP, M. Si
2. Sekretaris I : Muslimah
Sekretaris II : Sri Asih Wulandari, SH
3. Anggota : Ririn Yuliati, S. SiT
: Triyono.
Dalam melaksanakan kegiatannya, panitia Pengadaan barang / jasa non medis ini bertugas
sebagai berikut:
1. Menyusun rencana dan menetapkan :
a). Rencana kerja dan syarat-syarat pengadaan
b). Tata cara pengadaan
c). Syarat-syarat peserta penunjukkan langsung/ pemilihan langsung/ pelelangan untuk diajukan
kepada Direktur guna mendapatkan persetujuan/ pengesahan.
2. Melaksanakan proses pengadaan barang dan pelaksanaan pekerjaan sesuai prosedur/ aturan
yang berlaku
3. Membuat laporan pertanggungjawaban kepada Direktur.

c). Penetapan sistem pengadaan


Dalam tahap perencanaan ini setelah Panitia terbentuk maka selanjutnya Panitia Pengadaan
akan menetapkan sistem pengadaan yang akan dilakukan. Menurut Ketua Panitia Pengadaan
barang/ jasa di RSUP Soeradji Tirtonegoro, system pengadaan yang dilakukan dalam hal ini
berbeda-beda tergantung spesfikasinya. Ini seperti diungkapkan sebagai berikut :
Untuk system pengadaan, kita tetap mengacu pada Keppres nomor 80 tahun 2003. Sistem yang
kita gunakan bervariasi sesuai dengan besar kacilnya danaatau anggaran yang akan digunakan (
wawancara juni 2007)

Adapun ketentuan yang dimaksud diantaranya adalah :


1). Untuk anggaran diatas Rp. 100 juta maka dilakukan lelang secara terbuka
2). Untuk Rp. 10 juta sampai Rp. 100 juta dilakukan melalui penunjukan rekanan secara
langsung
3). Untuk anggaran yang berada pada level dibawah Rp.10 juta biasanya dilakukan pembelian
secara tunai, langsung oleh unit kerja yang bersangkutan, dengan rekomendasi dari Panitia.
Ketentuan diatas digunakan sebagai pedoman oleh pihak Rumah sakit. Namun demikian dalam
prakteknya banyak terjadi hal-hal yang tak seperti diharapkan. Menurut Panitia Pengadaan
Barang dan jasa non medik, hal ini disebabkan karena kebiasaaan yang sudah ada. Misalnya
untuk lelang jarang diadakan karena sudah ada rekomendasi dari pusat tentang rekanan yang
akan ditunjuk. Demikian pula untuk penunjukan rekanan, biasanya mengacu pada pengalaman
yang sudah ada.

d). Penyusunan jadual pelaksanaan pengadaan


Penentuan jadual pengadaan barang/ jasa yang ada di RSUP Suradji Tirtonegoro Klaten,
biasanya dilakukan setiap triwulan. Hal ini seperti dikemukakan oleh Ketua Panitia Pengadaan
barang dan jasa RSUP sebagai berikut :
Untuk jadual biasanya kita buat setiap triwulan. Hal itu untuk lebih memudahkan pencairan
dananya. Jadual biasanya berisi tentang berbagai pewrsiapn yang akan dilaklukan dalam kaitan
dengan pengadaan, hingga terbitnya Surat perintah Kerja. (wawancara juni 2007)

Pernyataan diatas dibenarkan oleh Kasubag Anggaran dan Perbendaharaan RSUP Suradji
Tirtonegoro yang menyatakan sebagai berikut :
Untuk memudahkan pencairan dananya, biasanya kita lakukan penjadualan kegiatan pengadaan
pada setiap triwulan. Oleh karena itu masing-masing unit kerja harus bisa memprioritaskan
kebutuhan yang harus dipenuhinya terlebih dahulu (wawancara juni 2007)

Dalam jadual tersebut dicantumkan agenda kegiatan beserta tanggal pelaksanaannya. Berikut ini
ditampilkan salah satu contoh jadual pengadaan kebutuhan gudang perlengkapan untuk triwulan
I tahunh 2006.

Tabel 5.1.
Jadual Kegiatan Pengadaan Gudang perlengkapan Triwulan I tahun 2006
No Kegiatan Tanggal No. Agenda
1. Pemberian undangan 1/2/06 PL..06.01.03E.03B500A
2. Pengambilan dokumen Prakualifikasi 4/2/06 -
3. Pakta integritas 4/2/06 PL.06.01.03E.03B.608B
4. Pengembalian dokumen prakualifikasi 7/2/06 PL.06.01.03E.03B.675A
5. Evaluasi dokumen 9/2/06 PL.06.01.03E.03B.675A
6. Pengumuman hasil prakualifikasi 11/2/06 PL.06.01.03E.03B.709A
7. Penjelasan Pekerjaan 13/2/06 PL.06.01.03E.03B.726A
8. Pemasukan Penawaran 15/2/06 -
9. Evaluasi dokumen penawaran 17/2/06 PL.06.01.03E o3B 806A
10. Negosiasi teknik dan biaya 20/2/06 PL.06.01.03E.03B.880A
11. Laporan dan usul persetujuan penetapa harga dan penujukan pelaksana pekerjaan 22/02/06
PL.06.01/03E.03B.914A
12 Persetujuan Penetapan harga 24/2/06 PL.06.01.03E.03B.945A
13. Penunjukan pelaksana 25/2/06 PL.06.01.03E.03B.954A
14. Surat Perintah Kerja (SPK) 27/2/06 PL.06.01.03E.03B.972A
Sumber : Laporan Panitia Pengadaan Barang jasa triwulan I, tahun 2006.

Dari tabel diatas nampak bahwa tahap perencanaan pengadaan barang/ jasa hanya dilakukan
dalam waktu satu bulan. Sebenarnya hal itu akan sangat efektif jika dalam prakteknya dilakukan
sesuai dengan jadual waktu yang ditentukan. Akan tetapi dalam kenyataanya jadual tersebut
sering mundur dan tak tepat waktu. Hal ini seperti diungkapkan salah seorang staff di Sub bagian
Anggaran sebagai berikut ;
Sebenarnya dari sisi penjadualan telah dilakukan dengan baik. Akan tetapi kenyataannya sering
tidak ditepati. Ketidaktepatan itu biasanya disebabkan karena kesibukan tugas rutin yang
diemban oleh Panitia Pengadaan barang/ jasa, dan ketergantungannya pada unsure pimpinan.
(wawancara juni 2007)

Ini dibenarkan oleh sekretaris panitia pengadaan barang/ jasa sebagai berikut ;
Memang dalam kenyataanya semua tak bisa berjalan sesuai jadual yang dibuat. Ini disebabkan
karena kesibukan pekerjaan rutin dari panitia. Hal itu m,emang seharusnya dimaklumi, mengingat
barang yang harus dibeli juga tidak harus seketika itu ada. Disamping itu ada kecenderungan
senantiasa menghadirkan pimpinan dalam rapat atau pertemuan yang diadakan. Padahal posisi
pimpinan atau direktur sering tak ada di tempat (wawancara juni 2007).

e). Penyusunan dokumen Pengadaan barang/ jasa


Kegiatan terakhir yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah menyusun dokumen
pengadaan barang. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh Panitia Pengadaan Barang/ jasa
Pemerintah yang ditunjuk. Diantara dokumen-dokuemn yang harus dibuat antara lain adalah :
1. Formulir Penilaian Kualifikasi Pekerjaan (Surat Pernyataan minat untuk mengikuti pengadaan).
2. Pakta Integritas. Dokumen ini ditanda tangani oleh Pengguna Barang/ jasa yaitu Direktur
Rumah skit, Panitia Pengadaan dan Penyedia barang/ jasa. Adapun isinya antara lain tentang ;
a). kesediaan untuk tidak melakukan KKN.
b). Melaporkan pada pihak yang berwenang jika mengetahui ada indikasi KKN
c). Berjanji melaksanakan tugas dengan bersid, transparan dan professional
d). sangsi jika melanggar
3. Berita Acara Evaluasi dokumen Prakualifikasi, yang dibuat oleh Panitia Pengadaan barang dan
jasa.
4. Berita acara penjelasan pekerjaan, yang berisi tentang waktu, tempat dan undangan yang
dihadirkan dalam acara penjelasan pekerjaan beserta kaulifikasinya.
5. Berita Acara evaluasi penawaran, yang berisi tentang evaluasi penawaran yang masuk.
Adapaun proses evaluasi ini terdiri atas ;
a) Penilaian administrasi penawaran
b) Uraian barang yang ditawarkan sesuai dengan spesifikasi
c) Harga yang ditawarkan

6. Berita acara negosiasi. Proses negosiasi meliputi negosiasi atas berbagai hal yaitu :
a) jenis / item barang/ pekerjaan
b) Volume atau spesifikasi barang/ pekerjaan
c) Ketentuan pembayaran dan juga pekerjaan
d) Penawaran harga
7. Persetujuan penetapan harga
8. Penunjukan pelaksana Pekerjaan
9. Pembuatan Surat perintah kerja

2. Tahap Pelaksanaan pengadaan barang/ jasa Pemerintah


Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan diantaranya adalah penentuan perusahaan rekanan
yang ditunjuk, penyusunan kontrak, dan pelaksanaan kontrak. Tahap pelaksanaan pekerjaan
dimulai ketika sudah ditentukan siapa yang menjadi pelaksana kegiatan pengadaan barang. Hal
ini akan nampak setalah diterbitkannya Surat perintah Kerja oleh Panitia Pengadaan barang/
jasa. Dalam hal penentuan pelaksana kegiatan diatur dengan ketentuan sebagai berikut ;
1. Pengadaan diatas Rp. 100 juta dilakukan lelang secara terbuka. Akan tetapi untuk tahun 2006
kegiatan ini tidak dilakukan mengingat pada tahun ini tak ada pengadaan barang non medik
dengan nominal diatas Rp. 100 juta tersebut. Disamping itu dalam kenyataannya pada tahun-
tahun sebelumnya pengadaan dengan nominal diatas Rp. 100 juta, pelaksananya ditentukan
oleh Pusat. Dengan demikian pihak RSUP hanya tinggal membuat SPK untuk rekanan yang
ditunjuk. Ini seperti dikemukakan oleh ketua Panitia Pengadaan sebagai berikut :
Memang dalam ketentuan dinyatakan bahwa pengadaan diatas Rp. 100 juta harus dilakukan
lelang secara terbuka. Namun demikian biasanya lelang itu tidak kita lakukan secara terang-
terangan. Ini mengingat semuanya sudah ditentukan oleh Departemen Kesehatan Pusat. Kami
hanya tinggal melaksanakannya saja. Untuk tahun 2006 di RSUP tidak ada pengadaan barang
kebutuhan rutin seharga diatas Rp 100 juta tersebut ( wawancara juli 2007).

Pernyataan ketua Panitia tersebut dibenarkan oleh anggota Panitia Pengadaan yang lain dengan
menyatakan pendapatnya sebagai berikut ;
Tahun 2006 kebetulan di RSUP tidak ada pengadaan barang kebutuhan rutin non medik yang
berada di leveldiatas RP. 100 juta. Jika pun ada biasanya itu berdasarkan penunjukan langsung
dari Pusat. Kita hanya tinggal membuat Surat perintah kerja untuk pelaksanannya saja
(wawancara juni 2007).

2. Untuk pengadaan diatas Rp. 10 juta sampai dengan Rp. 100 juta biasanya digunakan
penunjukan secara langsung, atas dasar penawaran yang diajukan oleh rekanan. Ini sesuai
dengan pernyataan Sekretaris Panitia pengadaan yang menyatakan sebagai berikut :
Pembelian diantara Rp. 10 juta hingga Rp. 100 juta dilakukan dengan mekanisme penunjukan
secara langsung terhadap penawaran-penawaran dari rekanan yang masuk. Dalam hal ini
biasanya kita menggunakan rekanan yang selama ini sudah diajak bekerjasama dan hasilnya
tidak mengecewakan. (wawancara juni 2007)

Untuk tahun 2006 beberapa rekanan yang ditunjuk adalah sebagai berikut :
Tabel 5.2.
Nama-nama rekanan RSUP untuk pengadaan barang kebutuhan rutin non medik
No. Nama rekanan Alamat Jenis barang
1. CV Pandulu Seto Klaten Barang kewbutuhan poko, makanan dsb
2. UD Saudara Klaten ATK, barang cetakan
3. PT Bhakti Kurnia Tama Klaten Peralatan Rumah Tangga
4. CV Dian Rana Klaten Barang kebutuhan rumah tangga
Sumber : Panitia Pengadaan barang/ jasa RSUP th 2006.

3). Sedangkan ketentuan untuk pelaksanaan pekerjaan pengadaan dengan anggaran dibawah
Rp. 10 juta biasanya dilakukan secara langsung dengan rekomendasi dari Panitia Pengadaan,
Adapaun pelaksana pengadaannya adalah pelaksanan di tingkat unit kerja.
Setelah penunjukan dilakukan maka selanjutnya dibuat kontrak kerja dengan pihak rekanan Ini
dilakukan setelah diterbitkannya surat keterangan penunjukan pelaksana pekerjaan. Dalam
kontrak kerja tersebut tertulis berbagai hal antara lain :

a). Nomor dan tanggal sumber anggaran


b). Kode kegiatan
c). Nomor dan tanggal SPK Kontrak
d) Nama dan alamat rekanan
e). Nilai kontrak
f). Uraian dan volume pekerjaan
g). Cara pembayaran
h). Jangka waktu pelaksanaan peekrjaan
i). Tanggal penyelesaian pekerjaan
j). Ketentuan sanksi
Dengan ditandatanganinya kontrak maka berarti bahwa proses pelaksanan pekerjaan pengadaan
tinggal menunggu realisasinya. Pelaksanaan kegiatan ini tentunya mengacu pada kontrak yang
telah disepakati.

3. Tahap evaluasi/ penilaian dan pencocokan barang yang dipesan


Penilaian atas barang yang dipesan adalah tanggung jawab pada pihak gudang. Pihak gudang
akan mencocokan barang yang diterima dengan barang yang dipesan. Dalam hal ini biasanya di
RSUP dibentuk Tim kecil yang diketuai oleh Kepala gudang perlengkapan RSUP Soeradji
Tirtonegoro. Ini seperti diungkapkan oleh Panitia Pengadaan barang sebagai berikut ;
Setelah kontrak ditandatangani dan direalisasikan maka selanjutnya untuk penerimaan dan
pencocokan barang dipercayakan kepada panitia kecil yang diketuai oleh kepala gudang
perlengkapan RSUP. Panitia ini sering disebut dengan Tim pembantu Direktur Untuk menerima
Barang dan jasa. Tugas pokok Panitia/ tim ini adalah mencocokan barang yang dipesan dengan
yang diteriam, baik kualitas maupun kuantitasnya ( wawancara juni 2007)

Adapun anggota Tim Pembantu Direktur untuk menerima barang non medis untuk tahun 2006
adalah sebagai berikut ;
a) . Ketua : Dra Nining Setyawati, M. Si
b). Sekretaris I : Ririn Yuliati, SD.So.T
c.). Sekretaris II : Muslimah
d). Anggota ; 1. Triyono
2. CH. Suryati, AMK
Pemeriksanaan atas barang yang diterima dilakukan dengan diterbitkannya Berita acara
penerimaan barang. Dalam berita acara tersebut tercantum hari, tanggal dan tempat
diserahkannya barang-barang yang dipesan, serta kesimpulan Tim atas barang-barang yang
dipesan tersebut. Dalam pelaksanaan tahun 2006 proses penerimaan berjalan baik. Ini berarti
bahwa tidak ada barang pesnan yang datang yang tak sesuai dengan ketentuan yang tertuang
dalam kontrak dan SPK. Ini dinyatakan oleh Ketua Tim sebagai berikut :
Hasil pemeriksaan yang kami mlakukan untuk tahun 2006 tidak ada barang yang dikembalikan
pada rekanan karena tak sesuai dengan ketentuan pemesanan. Hampir semua dapat dilakukan
dengan baik dan sesuai pesanan RSUP (wawancara juni 2007)

Dari semua uraian diatas jika kita melihat proses implementasinya nampak bahwa prtoses
implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003 di RSUP Soeradji Tirtonegoro telah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan. Keseluruhan tahapan-tahapan yang seharusnya dilaksanakan telah
direalisasikan dengan baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses implementasi telah
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dari keppres Nomor 80 tahun 2003 tentang pedoman
pengadaan barang/ jasa pemerintah.
Dengan demikian dari sisi kepatuhan pada aturan pelaksanaan dapat dikatakan bahwa para
pelaksana di RSUP Suradji Tirtonegoro telah mematuhi apa yang tertuang dalam pedoman
pelaksanaan yaitu Keppres nomor 80 tahun 2003 tersebut. Para pelaksana mematuhi apa yang
ada dalam ketentuan tersebut. Dampaknya adalah bahwa proses berhjalan seperti yang
diharapkan.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003 di RSUP


Soeradji Tirtonegoro Klaten
Berdasarkan definisi operasional yang dikemukakan dibagian depan maka dalam penenlitian ini
diidentifikasi sejumlah factor yang mempengaruhi proses implementasi Keppres nomor 80 tahun
2003 di RSUP Soeradji Tirtonegoro. Adapun factor tersebut adalah :

1). Sikap pelaksana


Dari sisi sikap pelaksana nampak bahwa para pelaksana di RSUP konsisten dalam upayanya
melaksanakan ketentuan pengadaan barang/ jasa sesuai dengan Keppres tersbut. Konsistensi
ini dapat dilihat dari keseluruhan tahapan-tahapan yang dilakukan beserta persyaratan
administrasi yang disediakan. Para pelaksana nampak sangat menguasai pedoman
pelaksanaannya dengan baik sehingga tidak terjadi upaya saling menyalahkan dalam hal
pengadaan barang/ jasa pemerintah tersebut. Komitmen yang tinggi dari Panitia Pengadaan dan
Tim Pembantu Direktur untuk menerima barang non medis terlihat cukup baik. Mereka telah
bekerja secara optimal disela-sela pekerjaan rutin mereka. Namun demikian kecenderungan
pelaksana untuk senantiasa menunggu petunjuk dari atasan telah menyebabkan pelaksanaan
pekerjaan yang agak terlambat dan tak sesuai dengan penjadualan yang dilakukan.
Kecenderungan pihak Panitia untuk senantiasa menghadirkan Direktur atau Wakil Direktur RSUP
sering menjadi hambatan dalam upaya menepati jadual yang telah ditetapkan. Ini disebabkan
karena padatnya jadwal kegiatan dari Direktur dan wakil direktur tersebut.

2). Sumber daya


Dari sisi sumber daya, baik berupa sumber daya manusia maupun sumber dananya, sangat
mempengaruhi implementasi keppres tersebut. Keanggotaan Panitia yang pada umumnya telah
berpendidikan dan cukup pengalaman serta telah menduduki jabatan tertentu di RSUP telah
menyebabkan proses implementasi dapat dengan baik dilaksanakan. Pengalaman mereka
sebagai pegawai ditopang dengan kualitas dan kemaun mereka telah menghasilkan kinerja
implementasi pengadaan barang/ jasa yang sesuai dengan ketentuan. Hal itu didukung dengan
tersedianya dana yang akan digunakan. Keseluruahan dana uantuk pembelanjaan pengadaan
barang tak pernah terlambat, sehingga pihak rekananpun menjadi lebih serius dalam menjalin
kerjasama pengadaan barang/ jasa.

3). Sistem komunikasi yang dibangun


Meskipun implementasi telah dilakukan dengan baik akan tetapi implmentasi akan dapat
dilakukan dengan lebih baik jika komunikasi antar pelaksana khususnya antara unit kerja (user)
dengan panitia berjalan harmonis. Selama ini komunikasi secara intensif antara user dan Panitia
jarang dilakukan. User hanya mengajukan permohonan poengadaan pada Panitia dan Panitia
tinggal melaksanakan pengadaannya. Dengan demikian yang terjadi justru semuanya saling
menunggu. Kenyataan ini juga sebagai salah satu penyebab ketidaksesuaian pelaksanaan
dengan agenda yang dijadwalkan.

C. Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam proses implementasi Keppres nomor 80 tahun


2003
Dalam pelaksanaan pengadaan barang/ jasa di RSUP Soeradji Tirtonegoro ditemukan sejumlah
hambatan. Diantaranya adalah :
1). Hambatan yang bersumber dari kinerja Panitia, dinataranya adalah persoalan ketidaktepatan
waktu pelaksnaan dengan jadual yang telah ditetapkan. Disamping itu juga kurangnya
komunikasi antara user dengan panitia. Otoritas yang dimiliki oleh Panitia cenderung
meneybabkan Panitia bekerja kurang terkoordinasi dengan user. Akibatnya sering terjadi
ketidaksinkronan akan keperluan yang harus segera dihadapi pada saat iutu. Seringkali user
merasa bahwa pengadaan terlambat. Sebagai contoh misalnya adalah pengadaan untuk tI,
barang baru diterima akhir triwulan II. Hal ini sedikit banyak tentu akan berpengaruh terhadap
proses pelaksnaan pekerjaan. Hambatan yang lain yang dirasakan dalam kaitannya dengan
kinerja panitia adalah kurang adanya trasparansi dalam pengadaan barang/ jasa. Ini disebabkan
kecenderungan Panitia untuk senantiasa menunggu petunjuk dan memuaskan pimpinan.
Dampak yang terjadi adalah tidak mengetahuinya user tentang seluk beluk dan proses
pengadaan barang dan jasa tersebut.
2. Hambatan yang bersumber dari system yang sudah ada. Hambatan ini berkaitan dengan
kecenderungan melakukan penunjukan langsung atas rekanan dengan kurang memperhatikan
aspek inovasi atau mencoba rekanan baru dalam hal pengadaan. Barang dan jasa pemerintah.
Dalam kenyataannya proses lelang juga tidak dilakukan. Mekanisme penunjukan langsung baik
dari Departemen kesehatan Pusat maupun dari pejabat lokal menjadi salah satu hambatan
peningkatan efektivitas pelaksanaan Keppres tersebut.

D. Pembahasan
Berdasarkan semua uraian diatas jika kita mengacu pada konsep implementasi dari Ripley dan
Franklin (1986) maka dapat dikatakan bahwa dari sisi kepatuhan, pelaksanaan Keputusan
presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman pelaksanan Pengadan barang/ jasa
Pemerintah di RSUP Soeradji Tirtonegro Klaten telah dilaksanakan sesuai dengan standar aturan
yang ada. Keseluruhan tahapan-tahapan mulai dari perencanaan hingga evaluasi telah dilakukan
sesuai ketentuan.
Menurut Ripley dan Franklin (1986) untuk melakukan penelitian implementasi maka yang harus
dilakuklan adalah memberikan penjelasan atas dua aspek yaitu aspek kepatuhan (compliance)
dan menguraiakn apa yang terjadi sela aproses itu berlangsung (what’s happened).
Dari sisi kepatuhan, para pelaksana sudah cukup optimal dalam pelaksanaan tugasnya. Mereka
mempunyai komitmen yang tinggi dalam pelaksanana Keppres tersebut. Hal ini mempngaruhi
kerbhasilan implementasinya. Meskipun demikian berbagai kekurangan, khususnya dalam hal
komunikasi, transparansi dan kecenderungan menunggu petunjuk masih terjadi.
Sementara itu untuk menjelaskan apa yang terjadi (what’s happened), selain dijelaskan proses
yang berlangsung, dapat dilakukan identifikasi berbagai hal yang terjadi selama proses
implementasi dengan mengambil beberapa indicator yang mungkin bisa berperanan
mempengaruhi dalam proses implementasi program. Diantara factor-faktor yang diidentifikasi
tersebut antara lain sikap pelaksana, komunikasi yang dibangun, sumber daya yang digunakan.
Faktor-faktor tersebut diadopsi dari beberapa model Topdown yang dikemukakan seperti Grindle,
Van meter dan Van Horn, serta Sabatier & Mazmanian.
Dari beberapa faktor diatas semuanya mempengaruhi proses pelaksanaan Kepmendiknas
tersebut. Dari sisi sikap pelaksana, pemahaman yang baik tentang petunjuk pelaksanaan dan
petunjuk tehnis telah menyebabkan kinerja implementasi yang optimal dari pelaksana. Menurut
Samodra Wibawa (1994 : 21) bahwa sikap pelaksana merupakan kognisi, netralitas, dan
obyektivitas para individu pelaksana yang dapat memahami kondisi dan menerima sasaran agar
mau melaksanakan aturan-aturan yang telah disepakati akan memberikan dukungan positif
terhadap keberhasilan implementasi. Ketidakpahaman mereka akan juklak dan juknis
menyebabkan proses pelaksanaanya seperti sesuatu yang tak ada kepastiannya.
Komunikasi yang dilakukan meskipun agak tersendat namun masih mampu menjadikan
pelaksanaan program berjalan seperti yang diharapkan. Faktor sumber daya manusia khusunya
pelaksana kebijakan juga merupakan factor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi.
Namun demikian juga masih ditemukasn berbagai hal yang dirasa kurang dalam hal
implermentasi. Keppres tersebut
Hal ini berarti bahwa masih ada hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan Kepmendiknas
tersebut. Jika diidentifikasi maka hambatan tersebut berupa hambatan system, hambatan
komunikasi serta hambatan yang bersumber dari sisi kinerja Panitia Pengadaan barang/ jasa. .
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa secara umum implementasi
Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan
barang/ jasa Pemerintah di Rumah Sakit Umum Pusat Suradji Tirtonegoro telah dilaksanakan
sesuai dengan petunjuk pelaksanaannya. Keseluruhan tahapan-tahapan dalam proses
implementasi telah dilakukan dengan baik. Namun demikian dari hasil penelitian juga masih
ditemukan berbagai hambatan dalam implementasi Keppres tersebut. Secara lebih terperinci
kesimpulan tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Proses implementasi Keppres nomor 80 tahun 2003 telah dilakukan mulai tahap perencanaan,
pelaksanaan hingga tahap evaluasi. Dalam tahap perencanaan sudah dilakuakn berbagai upaya
seperti identifikasi kebutuhan masing-masing unit kerja, pembentukan Panitia Pengadaan
barang/ jasa, hingga penyiapan segala berkas administrasi dan dokumen untuk pengadaan..
2. Tahap pelaksanaan, dimulai setalah berhasil memilih rekanan untuk pengadaan hingga
dibuatnya kontrak kerja sama dan terbitnya Surat perintah Kerja bagi rekanan yang ditunjuk.
Dalam hal ini sejumlah rekanan diambil dari potensi lokal/ daerah yang ada.
3. Tahap evaluasi dilakukan dengan pencocokan barang yang dibeli dengan pesanan yang
datang dari rekanan. Untuk keperluan ini ditangani oleh Tim pembantu Direktur untuk menerima
barang / jasa yang dipesan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa selama tahun 2006 semua
pesanan yang diajukan oleh rekanan telah memenuhi persyaratan seperti yang dipesan, baik dari
sisi kualitas mapun kauntitas.
4. Dari sisi kepatuhan disimpulkan bahwa para pelaksana telah mematuhi Keppres tersebut,
sehingga proses implementasi bisa berjalan seperti yang diharapkan. Pelaksana cukup
mempunyai komitmen untuk mengimplementasikan Keppres tersebut. Mereka telah memahani
substansi Kepprer dengan baik dan benar.
5. Berdasarakan hasil penelitian juga dapat disimpulkan bahwa sejumlah factor diidentifikasi
sebagai factor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi. Faktor tersebut antara lain
adalah sikap pelaksana, sumber daya yang digunakan serta system komunikasi yang dibangun.
6. Hambatan yang ditemukan dalam implementasi keppres tersebut diantaranya adalah
hambatan yang bersumber dari kinerja panitia, dan hambatan system. Yang bersumber dari
kinerja Panitia lebih disebabkan karena kecenderungan panitia menunggu pimpinan dalam setiap
kegiatan, dan karena kesibukan panitia melaksanakan tugas rutinnya. Sedangkan yang
bersumber dari system lebih berupa penunjukan langsung rekanan dan kebiasaan mengikuti hal-
hal yang sudah ada dan dilakukan sejak dahulu. Ini berdampak pada kurangnya kreativitas dan
transparansi dari pelaksana dalam hal pengadaan barang dan jasa di RSUP Suradji Tirtonegoro

B. Saran-saran
Sejumlah saran yang peneliti rekomendasikan dalam penelitian ini antara lain adalah :
1. Perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit untuk lebih menunjukkan adanya transparansi dalam
hal pengadaan barang dan jasa di RSUP, sebab selama ini berbagai pihak termasuk unit kerja
tidak mengetahui proses pengadaan itu sendiri.
2. Mekanisme penunjukan langsung mestinya sudah dikurangi, dan diganti dengan cara-cara
yang lebih obyektif melihat penawaran yang menguntungkan pihak RSUP Suradji Tirtonegoro.
3. Perlu diupayakan komunikasi yang intensif antara pelaksana dari persncanaan hingga
evaluasinya. Denagn demikian ada keharmonisan dalam upaya memenuhi kebutha barang jasa
pada masing-masing unit kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Abdulwahab, Solichin, 1990, Pengantar Analisis Kebijakasanaan Negara, Rineka Cipta, Malang.

__________, 1991, Analisa Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi kebijakan, Bumi Aksarea,
Jakarta.

Darwin, Muhajir, 1994, Kebijaksanaan Publik, Buku Pegagan Kuliah, UNS Press, Surakarta,
1994.

Dunn, William N, 1995, Analisis Kebijakan Publik, edisi terjemahan, Gajahmada University Press,
Yogyakarta.

Grindle, Merilee S., 1980, Politics and Policy Implementation in The Thirrd World, Princeton
Universitty Press, New Yersey.

Moleong, Lexy J, 1994, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rudakarya, Bandung.

Islamy, Irfan M., 1997, Perumusan kebijakasanaan Negara, Bina Aksara, Jakarta.

Matthew B Miles & A Michael Huberman, 1992, Analisis Data Kualitatif, UI Press, Jakarta.

Meter, Donald S Van and Carl E, Van Horn, 1975, The Policy Implementation Process; A
Conceptual Framework, Sage publication, Beverly Hills.

Ripley, Randall B & Franklyn, Grace A., 1986, Policy Implementation and Bureaucracy, The
Dorcey Press, Chicago.

Sutopo, HB 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Sebelas Maret University Press, Surakarta.

Wibowo, Samodra, 1994, Evaluasi Kebijakan, PT Grafindo Persada Jakarta.

Sumber-sumber lain :

Keputusan Presiden RI nomor 80 Tahun 2003 dan Perubahannya Tentang Pedoman


Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, CV Minijaya Abadi, Jakarta.

Keputusan Presiden RI nomor 80 Tahun 2003 dan Perubahannya Tentang Pedoman


Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, Fokus Media, 2006, Jakarta.

Panduan Wawancara :

1. Pedoman apa yang digunakan dalam rangka Pengadaan barang/ jasa di RSUP ?
2. Bagiaman langkah-langkah yang dilakukan pihak RSUP dalam rangka pengadaan barang dan
jasa ?
3. Apakah dalam hal pengadaan dibentuk kepanitiaan? Siapa saja anggotanya? Apa tugasnya ?
4. Apakah panitia tersebut telah diberikan pendidikan dan pelatihan khusus tentang pengadaan
barang dan jasa ?
5. Apakah dokumen-dokumen administratsi yang berhubungan dengan pengadaan barang dan
jasa tersimpan dengan baik ? Pada siapa/
6. Dalam hal pengadaan barang dan jasa di RSUP bagaimana tehnik dan system
pengadaannya ?
7. Selama ini apakah leang pernah dilakukan untuk meemnuhi kebutuhan akan pengadaan
barang dan jasa non medik ? Kalau iya kapan ?
8. Siapa saja yang dilibatkan dalam lelang ? Apakah beesifat terbuka dan transparan ?
9. Apakah dalam penentuan rekanan juga sering dilakuakn dengan penunjukan langsung ? Siapa
yang melakukan ? Atasa dasar apa itu dilakukan ?
10. Apakah dalam pelaksanaan pengadaan barang telah dilaksanakan sesuai dengan jadwal
yang ada ? Pernahkah terjadi ketyerlambatan ? Kalau ya mengapa itu terjadi ?
11. Apakah pelaksanan diberi kewenangan untuk menafsirkan isi keppres tersebut untuk
kemudian dicarikan jalan yang terbaik ataukah semuanya sudah ditentukan oleh pimpinan ?
12. Untuk keperluan kontrak, apakah itu dilakukan langsung oleh Direktur atau hanya oleh Panitia
? mengapa demikian ?
13. Siapa yang bertugas mencocokkan barang yang dipesan dengan spesifikasi yang diminta
dalam penjelasan pekerjaan pengadaan ?
14. Apakah semua berkas administrasi untuk keperluan pengadaan disediakan oleh pihak
Rumah sakit ?
15. Dengan rekanan darimana saja pihak Rumah sakit bekerja sama ?
16. Apakah system yang digunakan dalam pengadaan sudah cukup transparan ? apa buktinya ?
17. Hambatan apa yang dirasakan dalam rangka pengadaan barang dan jasa sesuai Keppres
nomor 80 tahun 2003?
18. Apakah pelaksana cukup konsisten dalam hal melaksanakan ketentuan dalam Keppres?

* click link
* 2023 clic