Anda di halaman 1dari 10

Posted June 12th, 2008 by keisha

• Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:

ABSTRAK

KORELASI ANTARA KEBIASAAN MEMBACA DENGAN KEMAMPUAN


MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS XI SMA TAMAN ISLAM
CIBUNGBULANG BOGOR.

Skripsi, Jakarta: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, April 2007.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi kebiasaan membaca dengan
kemampuan membaca pemahaman siswa kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang
Bogor. Penelitian dilakukan di SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor pada bulan
Januari – Maret 2007 dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA Taman Islam
sebanyak 166 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling dan
sampel penelitian sejumlah 50 siswa. Instrumen penelitian menggunakan angket
kebiasaan membaca dan tes kemampuan membaca pemahaman.

Metode penelitian yaitu analisis korelasional. Data dianalisis dengan menggunakan


rumus korelasi product moment, sehingga diperoleh hasil r hitung sebesar 0,619 lebih
besar dari r tabel yakni 0,288 dengan batas signifikasi 5%. Dengan demikian hipotesis
penelitian (H1) dinyatakan diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat dinyatakan bahwa terdapat korelasi
yang positif antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat,
terutama dalam teknologi percetakan maka semakin banyak informasi yang tersimpan di
dalam buku. Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala
prioritas yang harus dikuasai siswa. Dengan membaca siswa akan memperoleh berbagai
informasi yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca
semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, membaca merupakan
jendela dunia, siapa pun yang membuka jendela tersebut dapat melihat dan mengetahui
segala sesuatu yang terjadi. Baik peristiwa yang terjadi pada masa lampau, sekarang,
bahkan yang akan datang.
Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca. Oleh karena itu, sepantasnyalah
siswa harus melakukannya atas dasar kebutuhan, bukan karena suatu paksaan. Jika siswa
membaca atas dasar kebutuhan, maka ia akan mendapatkan segala informasi yang ia
inginkan. Namun sebaliknya, jika siswa membaca atas dasar paksaan, maka informasi
yang ia peroleh tidak akan maksimal.
Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan
memandangi lambang-lambang yang tertulis semata. Bermacam-macam kemampuan
dikerahkan oleh seorang pembaca, agar dia mampu memahami materi yang dibacanya.
Pembaca berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang
yang bermakna baginya.
Kegiatan membaca juga merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat aktif reseptif.
Dikatakan aktif, karena di dalam kegiatan membaca sesungguhnya terjadi interaksi antara
pembaca dan penulisnya, dan dikatakan reseptif, karena si pembaca bertindak selaku
penerima pesan dalam suatu korelasi komunikasi antara penulis dan pembaca yang
bersifat langsung.
Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi yang
dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui berbagai macam
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Melalui membaca,
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui dan dipahami sebelum dapat
diaplikasikan.
Membaca merupakan satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu
bagian atau komponen dari komunikasi tulisan1.
Adapun kemampuan bahasa pokok atau keterampilan berbahasa dalam kurikulum di
sekolah mencakup empat segi, yaitu :
a. Keterampilan menyimak/mendengarkan (Listening Skills)
b. Keterampilan berbicara (Speaking Skills)
c. Keterampilan membaca (Reading Skills)
d. Keterampilan Menulis (Writing Skills)2
Empat keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama
lain, dan saling berkorelasi. Seorang bayi pada tahap awal, ia hanya dapat mendengar,
dan menyimak apa yang di katakan orang di sekitarnya. Kemudian karena seringnya
mendengar dan menyimak secara berangsur ia akan menirukan suara atau kata-kata yang
didengarnya dengan belajar berbicara. Setelah memasuki usia sekolah, ia akan belajar
membaca mulai dari mengenal huruf sampai merangkai huruf-huruf tersebut menjadi
sebuah kata bahkan menjadi sebuah kalimat. Kemudian ia akan mulai belajar menulis
huruf, kata, dan kalimat.
Keterampilan berbahasa berkorelasi dengan proses-proses berpikir yang mendasari
bahasa. sehingga ada sebuah ungkapan, “bahasa seseorang mencerminkan pikirannya”.
Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya.
Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak dini, yakni mulai dari anak mengenal huruf.
Jadikanlah kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan dan menjadi hal yang
menyenangkan bagi siswa. Membaca dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
asalkan ada keinginan, semangat, dan motivasi. Jika hal ini terwujud, diharapkan
membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan seperti
sebuah slogan yang mengatakan “tiada hari tanpa membaca”.
Tentunya ini memerlukan ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih
kebiasaan membaca agar kemampuan membaca, khususnya membaca pemahaman dapat
dicapai. Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara
keseluruhan3.
Keluhan tentang rendahnya kebiasaan membaca dan kemampuan membaca di tingkat
Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), tidak bisa dikatakan sebagai kelalaian guru
pada sekolah yang bersangkutan. Namun hal ini harus dikembalikan lagi pada
pembiasaan membaca ketika siswa masih kecil. Peranan orang tualah yang lebih dominan
dalam membentuk kebiasaan membaca anak. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki
kebiasaan membaca yang tinggi sedangkan orang tuanya tidak pernah memberikan
contoh dan mengarahkan anaknya agar terbiasa membaca. Karena seorang anak akan
lebih tertarik dan termotivasi melakukan sesuatu kalau disertai dengan pemberian contoh,
bukan hanya sekedar teori atau memberi tahu saja. Ketika anak memasuki usia sekolah,
barulah guru memiliki peran dalam mengembangkan minat baca yang kemudian dapat
meningkatkan kebiasaan membaca siswa. Dengan demikian, orang tua dan guru sama-
sama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan
kebiasaan membaca anak.
Kenyataan menunjukkan soal-soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) sebagian besar menuntut
pemahaman siswa dalam mencari dan menentukan pikiran pokok, kalimat utama,
membaca grafik, alur/plot, amanat, setting, dan sebagainya. Tanpa kemampuan membaca
pemahaman yang tinggi, mustahil siswa dapat menjawab soal-soal tersebut. Di sinilah
peran penting membaca pemahaman untuk menentukan jawaban yang benar. Belum lagi
dengan adanya standar nilai kelulusan, hal ini memicu guru bahasa Indonesia khususnya
untuk dapat mencapai target nilai tersebut.
Inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian guna mengetahui
bagaimana kebiasaan membaca dan pemahaman siswa di Sekolah Menengah Tingkat
Atas. Penulis akan menuangkannya dalam skripsi ini dengan judul “Korelasi Antara
Kebiasaan Membaca dengan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas XI SMA
Taman Islam Cibungbulang Bogor”.

B. Identifikasi Masalah
Adapun masalah yang akan dikemukakan dalam penelitian ini adalah :
a. Bagaimana kebiasaan membaca siswa kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang
Bogor ?
b. Hal apa saja yang dapat menghambat kebiasaan membaca siswa kelas XI SMA Taman
Islam Cibungbulang Bogor ?
c. Hal apa yang dapat menunjang kebiasaan membaca siswa kelas XI SMA Taman Islam
Cibungbulang Bogor ?
d. Bagaimana kemampuan membaca pemahaman siswa kelas XI SMA Taman Islam
Cibungbulang Bogor
e. Adakah korelasi antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman
siswa kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor ?

C. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi menjadi :
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah pada
“Korelasi antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman siswa
kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor”.
D. Perumusan Masalah
Setelah dilakukan pembatasan masalah, dalam penelitian ini masalah dirumuskan
menjadi : Adakah korelasi antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca
pemahaman siswa kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor ?

E. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna bagi siswa, guru bahasa indonesia, orang tua, dan
penulis sendiri khususnya dalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca agar
terbentuk budaya baca di masyarakat dengan harapan agar dapat meningkatkan
kemampuan membaca pemahaman.

Pendidikan Bahasa Indonesia


kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong
Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng
menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa
Posted September 3rd, 2009 by achmad mk

• Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:

Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan siswa
kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng
menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia ?. Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh data dan informasi mengenai kemampuan siswa kelas VI SD Inpres
Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam
kalimat bahasa Indonesia. Hasil analisis data menunjukkan bahwa skor tertinggi siswa
adalah 19 dengan nilai 9,5 sedangkan skor terendah siswa adalah 12 dengan nilai 6,0.
Rata- rata skor siswa adalah 15 dengan nilai 7,5. Siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas
sebanyak 29 orang siswa (97%) sedangkan siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5
sebanyak 1 orang siswa (3%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampun menyimak siswa
kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng memadai.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi (2004) ini diharapkan pengajaran
bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif, yakni meningkatkan keterampilan
siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa. Sejalan dengan itu, tujuan pengajaran bahasa
ialah membantu anak didik mengembangkan kemampuan berkomunikasi baik secara
lisan maupun secara tertulis. Siswa bukan sekedar belajar bahasa, melainkan belajar
berkomunikasi.

• click link
• 224 clicks
• Read more

KOMPETENSI DAN PERFORMANSI BERBICARA


ANAK USIA 5 TAHUN (SUATU KAJIAN
PEMEROLEHAN SINTAKSIS BAHASA
INDONESIA)
Posted August 14th, 2009 by Mas Ephy

• Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:

KOMPETENSI DAN PERFORMANSI BERBICARA ANAK USIA 5 TAHUN


(SUATU KAJIAN PEMEROLEHAN SINTAKSIS BAHASA INDONESIA)
Oleh Mahmud Saefi, S.Pd

ABSTRAK
Penelitian ini mendeskripsikan pemerolehan frase, klausa, dan kalimat pada anak usia
lima tahun. Pengumpulan data dengan metode simak dan metode cakap dengan teknik
sadap dan simak libat cakap teknik pancing. Analisis data dengan metode padan
translasional. Penyajian data digunakan metode deskriptif yakni memaparkan realita
bahasa yang ada. Populasi penelitian berupa tuturan anak yang ada atau sudah diadakan,
baik yang kemudian terpilih sebagai sampel maupun tidak, tuturan hasil pemakaian itu
diambil sebagian sebagai sampel yang dipandang cukup mewakili bagi keseluruhannya.
Tuturan tersebut diperoleh melalui lima informan berjenis kelamin laki-laki dan masing-
masing sudah bersekolah di Taman Kanak-Kanak dan informan tambahan diambil secara
acak yang sesuai dengan persyaratan informan tertentu. Data tersebut diperoleh dengan
menggunakan instrumen Alat rekam (Hand Phone), (2) Kartu data .
Hasil penelitian sebagai berikut. Pemerolehan frase yang dominan ditemukan Frase
Verba, frase Nominal , frase preposisional, dan frase Adjektiva; Pemerolehan Klausa dan
Kalimat yang dihasilkan dari tuturan anak paling dominan berbentuk kalimat deklaretif
( kalimat berita) dan sudah mempunyai pola tertentu; Pemerolehan Sintaksis 2 Konstituen
mempunyai pola P-O, P-Ket, S-P; Pemerolehan Sintaksis 3 Konstituen mempunyai pola
(S)-P-O-Ket; Ket-(S)-P-O. Fungsi S baik yang dilesapkan maupun yang tampak diisi oleh
pronomina dengan peran agentif atau pelaku, sedangkan fungsi P diisi oleh verba dan
berperan sebagai tindakan aktif. Peletakan fungsi keterangan letak kiri maupun letak
kanan P; Pemerolehan Sintaksis 4 Konstituen sangat bervariasi dan masih terdapat
pelesapan salah satu fungsi (S) subjeknya. Polanya : (1)Ket.1-S-K2-P; (2) Ket.1-(S)-P -O
-Ket.2-Ket.3; (3) S –Ket.1-P -Ket.2-Ket.3 - Ket.4. pola-pola tersebut mempunyai unsur
inti S-P yang diperluas dengan tiga sampai empat buah keterangan, Fungsi P dan O
tersusun secara linear dengan tambahan fungsi Ket.hingga tiga buah. Fungsi S yang
dilesapkan diisi pronomina, fungsi P diisi Frase Verbal yang berperan aktif dengan Objek
berupa nomina dengan peran pasien atau yang dikenai tindakan.

Kata Kunci: Pemerolehan bahasa, kompetensi, performansi

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran atau suatu
ungkapan dalam bentuk bunyi ujaran. Bahasa merupakan alat komunikasi dan interaksi
yang sangat penting bagi manusia. Melalui bahasa kita mendapatkan beberapa informasi
penting. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, dan
perasaan. Oleh karena itu, bahasa sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia.

• click link
• 269 clicks
• Read more

ANALISIS STRUKTURAL TEMA DAN TOKOH


CERITA DALAM KUMPULAN NASKAH
SANDIWARA TVRI TAHUN 1978 KARYA
PEDRO SUDJONO
Posted June 23rd, 2009 by bunayya

• Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:

ABSTRAK
Karya sastra dapat tercipta setiap saat, karena karya sastra merupakan kreativitas dan
rekaan pengarang berdasarkan pengalaman jiwa yang diperolehnya dari lingkungan
kehidupan di sekitarnya. Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 dipilih sebagai
bahan penelitian karena Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 merupakan
naskah yang mengandung makna religius, dan cocok dikaji dari sudut struktural. Selain
itu, untuk memahami karya sastra tidak cukup hanya mengerti jalan ceritanya saja, tetapi
dibutuhkan pengetahuan tentang struktural untuk mengetahui jalan cerita. Tujuan
penelitian adalah: 1) Mendeskripsikan tema cerita dalam Kumpulan Naskah Sandiwara
TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono, 2) Mendeskripsikan tokoh cerita dalam
Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono, 3)
Mendeskripsikan penokohan dan perwatakan dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI
tahun 1978 karya Pedro Sudjono.
Subjek penelitian ini yaitu Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro
Sudjono. Objek penelitian berupa tema dan tokoh cerita Kumpulan Naskah Sandiwara
TVRI tahun 1978 karya Pedro Sudjono. Metode pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini berupa teknik baca catat. Instrumen yang dipakai dalam penelitian
ini ialah kartu-kartu pencatat data yang digunakan untuk mencatat tema dan tokoh cerita.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskriptif
kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan 1) Tema Cerita dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI
Tahun 1978 karya Pedro Sudjono sebagai berikut (a) naskah “Keris” termasuk jenis tema
beraliran realisme psikologis, (b) naskah “Tanpa Pamrih” termasuk jenis tema yang
beraliran realisme sosial, (c) naskah “Ibu Mertua” termasuk jenis tema yang beraliran
realisme sosial, (d) naskah “Tangan Terkutuk” termasuk jenis tema yang beraliran
romantik, dan (e) naskah “Sebuah Novel” termasuk jenis tema yang beraliran realisme
sosial

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………. i
HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………….. iii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………... iv
PERNYATAAN……………………………………………………………… v
HALAMAN MOTTO………………………………………………………... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………………………... vii

• click link
• 829 clicks
• Read more

PENERAPAN METODE KONTEKSTUAL DALAM


PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN SISWA
KELAS 1 SMPN 5 BANJARMASIN TAHUN
AJARAN 2006/2007
Posted May 27th, 2009 by s4ndi_irawan

• Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:
ABSTRAK
Nita, Sri Silvia. 2007. Penerapan Metode Kontekstual Dalam Pembelajaran Menulis
Cerpen Siswa Kelas 1 SMPN 5 Banjarmasin. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia dan Daerah. FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing:
(1) Dra. Hj. Sunarti dan (2) Dra. Maria LAS, M.Pd.
Kata kunci: Metode Kontekstual, Pembelajaran, Menulis Cerpen.
Metode kontekstual sangat cocok diterapkan dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa
dan sastra Indonesia, karena bahasa dan sastra sangat erat kaitannya dengan masyarakat,
lingkungan, dan konteksnya. Pada kesempatan ini peneliti akan menitikberatkan pada
pembelajaran sastra khususnya dalam hal menulis cerpen.
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa, menulis memerlukan kesabaran,
keuletan, dan kejelian sendiri. Disamping itu, menulis bukanlah kemampuan yang dapat
dikuasai dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses pembelajaran sehingga
diperlukan waktu yang panjang untuk menumbuhkan tradisi menulis. Melalui
kemampuan menulis siswa harus mempunyai ide untuk menuangkan dalam bentuk karya
sastra. Salah satu jenis karya sastra itu adalah cerpen.
Melihat kenyataan seperti itulah peneliti ingin memberikan kemudahan kepada siswa,
diantaranya peneliti ingin menerapkan penggunaan metode kontekstual untuk
meningkatkan hasil menulis cerpen, terutama dikalangan siswa kelas 1 SMPN 5
Banjarmasin.
Berkaitan dengan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah Bagaimana penerapan metode kontekstual dalam pembelajaran menulis cerpen
siswa kelas 1 SMPN 5 Banjarmasin? Sejalan dengan itu, tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui penerapan metode kontekstual dalam pembelajaran menulis cerpen
siswa kelas 1 SMPN 5 Banjarmasin. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah
metode deskriftif kualitatif.
Dari penelitian yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
(1) Kemampuan menulis cerpen tiap-tiap siswa berbeda.
(2) Kemampuan menulis cerpen siswa sudah cukup baik.
(3) Proses pembelajaran menulis cerpen siswa kelas 1 SMPN 5 Banjarmasin dengan
metode kontekstual telah berjalan dengan cukup baik
(4) Kemampuan menulis cerpen siswa dengan metode kontekstual berjalan sesuai dengan
prosedur pembelajaran.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbicara tentang proses pembelajaran di sekolah kita sering merasa kecewa, apalagi jika
dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Walaupun kita
mengetahui bahwa banyak siswa yang mampu menyajikan hafalan yang baik terhadap
materi yang diterimanya, pada kenyataannya mereka betul-betul tidak memahami secara
mendalam pengetahuan yang bersifat hafalan.

• click link
• 1046 clicks
• Read more
Kajian Feature pada media massa cetak terbitan
Palembang: sebuah analisis wacana kritis
Posted May 6th, 2009 by dian eko prabowo

• Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:

Analisis wacana kritis (AWK) adalah salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk
menganalisis teks media. Dalam makalahnya, Purnomo (2006:3) menyatakan, “Apabila
analisis wacana yang hanya difokuskan pada penggunaan bahasa alamiah dengan analisis
semata-mata bersifat linguitis, AWK berusaha menjelaskan penggunaan bahasa dikaitkan
dengan perspektif disiplin lain, seperti politik, gender, dan faktor sosilogis lain”.
Faktanya, AWK merupakan pengembangan dari analisis wacana (biasa) yang melihat
lebih dalam makna yang tersembunyi dari suatu teks.
Penelitian mengenai analisis wacana pada media massa telah dilakukan sebelumnya oleh
beberapa mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Unsri, di antaranya
Nauval dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Teks Berita di Sumatera
Ekspres Edisi Januari—Maret 2003” dan Risnawati yang pada tahun 2006 lalu
mengangkat judul “Analisis Wacana Berita Kriminal terhadap Wanita pada Sumatera
Ekspres Periode September—Desember 2005: Kajian Stilistik”. Perbedaan keduanya
terletak objek yang diteliti. Risnawati membahas analisis wacana secara lebih spesifik
dengan memfokuskan kajiannya mengenai kasus kejahatan terhadap kaum perempuan,
sedangkan Nauval cenderung mengamati topik berita kekerasan terhadap wanita dengan
segala permasalahan yang kompleks seperti, kekerasan seksual, fisik, ekonomi, dan
psikis. Namun demikian, keduanya menggunakan harian lokal Sumatera Ekspres sebagai
media kajiannya.

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ideologi yang tersembunyi dalam karangan
khas (feature) dan strategi penulis menyembunyikan ideologinya dilihat dari struktur
makro, superstruktur, dan struktur mikro.

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat mengukuhkan pandangan analisis wacana
kritis tentang karakteristik media massa dalam kaitannya dengan pihak-pihak lain yang
berkepentingan dengannya. Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi
pembinaan pengetahuan dan kepekaan mahasiswa dalam menganalisis wacana media
massa secara kritis dalam kajian analisis wacana ataupun dalam kajian wacana bahasa
Indonesia.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa merupakan alat komunikasi terpenting dalam kehidupan manusia. Keraf (1993:4)
mengemukakan bahwa bahasa merupakan saluran perumusan maksud, melahirkan
perasaan, dan memungkinkan menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Dengan
demikian, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan alat berupa bahasa untuk
mengungkapakan pikiran, berinteraksi, bekerja sama dan berkomunikasi dengan manusia
di sekitarnya.