Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PERANCANGAN TAPAK – TAR208

“Faktor Alam, Kultur, dan Estetika dalam Pemilihan Tapak. Konsep Ruang Luar.
Serta Hubungan Antara Ruang Luar dan Dalam”

Dosen Pembimbing :
Laila Qadri, S.T,. M.T.

Disusun Oleh :
Dzaky Al-wijdan Munthe – 1804104010013
Fahri Muhamad – 1804104010060

PRODI S-1 ARSITEKTUR


JURUSAN ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2020
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya serta memberikan kami kekuatan sehingga pengerjaan makalah pada mata
kuliah Perancangan Tapak yang berjudul “Faktor Alam, Kultur, dan Estetika dalam
Pemilihan Tapak. Konsep Ruang Luar. Serta Hubungan Antara Ruang Luar dan
Dalam”dapat diselesaikan.

Dalam penyusunannya, kami merasa masih banyak yang perlu ditambahkan. Karena itu,
saran dan kritikannya sangat kami perlukan demi kesempurnaan laporan ini kedepan.

Akhirnya, kami ucapkan terima kasih kepada seluruh anggota team bekerja dan
membantu mengerjakan makalah ini hingga selesai. Dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pihak yang membutuhkan. Kepada dosen kelas kami ucapkan
terima kasih atas kesempatan yang diberikan dan pengajaran mengenai perancangan pada
tapak, sehingga kami dapat memperoleh informasi dan pengetahuan yang lebih baik.

Banda Aceh, 29 Febtuari 2020

Penulis

ii
Daftar Isi

Halaman Judul....................................................................................................................i

Kata Pengantar..................................................................................................................ii

Daftar isi...........................................................................................................................iii

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah....................................................................................1


1.2. Rumusan Masalah.............................................................................................1
1.3. Tujuan Penelitian..............................................................................................1

Bab II Pembahasan

2.1. Faktor Alam, Kultur, dan Estetika dalam Pemilihan Tapak............................2


2.2. Konsep Ruang Luar.........................................................................................6
2.3. Hubungan Ruang Luar dan Dalam...................................................................8

Bab III Penutup

3.1. Kesimpulan .......................................................................................................10

Daftar Pustaka..................................................................................................................11

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Sebuah bangunan menjadi tidak bernilai arsitektural bila tidak memiliki ruang luar
yg dapat mendukung bangunan tersebut.
Untuk itu seorang arsitek dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai
tentang ruang luar.
Dalam hal mendesain ruang luar. Arsitek harus dapat mengetahui faktor-faktor apa
saja yang dapat mempengaruhi analisis tapak beserta lingkungan sekitar nya.
Dasar pengetahuan tersebut kemudian diaplikasikan dalam membuat konsep ruang
luar untuk mendapatkan ruang luar yang sesuai dengan prinsip prinsip arsitektur.
Konsep ruang luar tidak terbatas hanya pada ruang luar saja, tetapi juga harus
memperhatikan akibat yang ditimbulkan terhadap terhadap kenyamanan ruang dalam.
Ruang luar sendiri memiliki pengaruh yang besar tehadap kenyamanan ruang dalam.
Dengan beberapa aspek tersebut diharapkan seorang arsitek dapat mendesain
dengan tidak hanya memikirkan ruang dalam saja, tetapi juga memikirkan tentang
ruang luar yang memiliki pengaruh besar terhadap ruang dalam itu sendiri serta dengan
lingkungan sekitarnya

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaimana faktor alam, kultur serta estetika dapat mempengaruhi pemilihan
tapak?
1.2.2. Apa yang dimaksud dengan konsep ruang luar?
1.2.3. Bagaimana keterkaitan atau hubungan antara ruang luar dan ruang dalam?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Untuk mengetahui faktor alam, kultur serta estetika dapat mempengaruhi
pemilihan tapak.
1.3.2. Untuk mengetahui maksud dari konsep ruang luar.
1.3.3. Untuk mengetahui keterkaitan atau hubungan ruang luar dengan ruang dalam.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.4. Faktor Alam, Kultur, dan Estetika dalam Pemilihan Tapak


2.4.1. Pengertian Tapak

Tapak merupakan sebidang lahan atau sepetak tanah dengan batas-batas yang
jelas, dengan kondisi permukaan serta ciri-ciri istimewa yang dimiliki oleh lahan
tersebut. sebuah tapak tidak pernah tidak berdaya tetapi merupakan sekumpulan
jaringan yang sangat aktif yang terus berkembng yang jalin-menjalin alam
perhubungan-perhubungan yang rumit. Sedangkan perencanaan tapak adalah
pengolahan fisik tapak untuk meletakkan seluruh kebutuhan rancangan di dalam tapak.
Perencanaan tapak dilakukan dengan memperhatikan kondisi tapak dan dampak yang
muncul akibat perubahan fisik diatasnya.

Tapak dalam perspektif Ilmu Arsitetur adalah alahan atau tempat dimana
bangunan yang direncanakan akan didirikan. Perencanaan tapak dimaksudkan untuk
meletakkan bangunan atau kelompok bangunan pada tapak yang ditentukan dengan
tepat, maka perlu dilakukan analisis terhadap kondisi rona awal tapak dalam kelebihan
dan kekurangannya. Perencanaan tapak dalam ilmu Arsitektur lebih diprioritaskan
kedalam keindahan, keserasian dan keestetikaan objek bangunan yang akan
menempati jarak.

Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam proses pengerjaan tapak dilakukan
sebuah proses yang dinamakan analisis tapak. Titik fokus perencanaan tapak dalam
ilmu arsitektur antara lain lebih berproporsi pada lokasi objek bangunan yang akan
menempati tapak, sirkulasi dan pencapaian, zoning, KDB (Koefisien Dasar
Bangunan), KLB (Koefisien Lantai Bangunan), GSB (Garis Sempadan Bangunan) dan
GSP (Garis Sempadan Pagar).

1) Lokasi Sekitar Objek Bangunan Yang Menempati Jarak, Lokasi merupakan


hal paling utama diidentifikasi oleh arsitek sebelum melakukan
pengkoderasian bangunan. Lokasi memegang peranan penting dalam
terpenuhinya beberapa syarat pembuatan bangunan hunian yang memuaskan
dan nyaman

2
2) Sirkulasi dan Pencapaian, Sirkulasi yang dimaksud adalah kemudahan orang-
orang di dalamnya mengakses baik bagi pejalan kaki atau kendaraan.
3) Orientasi Arah Angin, mencakup Ventilasi udara baik dengan pengudaraan
alami ataupun buatan.
4) Orientasi Matahari, mempengaruhi suhu dalam bangunan.
5) Tautan Lingkungan, lingkungan sekeliling tapak juga berpengaruh pada
perletakan bangunan.
6) Kontur, kontur menantang arsitek untuk membuat bangunan yang
menyesuaikan dengan kondisi tanah. Perbaikan kontur dan tanah harus
dilakukan sesedikit mungkin. Perataran tanah besar-besaransebaiknya
dihindari.
7) KDB (Koefisien Dasar Bangunan), adalah angka yang digunakan untuk
menghitung luas lantai dasar bangunan maksimum yang didirikan diatas
lahan.
8) KLB (Koefisien Lantai Bangunan), adalah angka yang digunakan untuk
menghitung luas maksimum lantai bangunan yang didirikan pada lahan.
9) GSB (Garis Sempadan Jalan), adalah batas dinding terluar bangunan yang
didirikan.
10) Kenampakan Bangunan.
11) Kebisingan.
12) Bangunan (Material, Bentuk dan Pola Massa).

2.4.2. Faktor Pemilihan Tapak


a. Faktor Alam
1) Iklim
Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk
suatu lokasi di bumi. Iklim di suatu tempat di bumi dipengaruhi oleh
letak geografis dan topografi tempat tersebut. Berikut karakteristik iklim
secara umum :
• Berlaku untuk waktu yang lama
• Meliputi daerah yang luas
• Merupakan hasil rata-rata cuaca, bukan pencatatan baru
• Iklim disuatu daerah berhubungan satu sama lainnya

3
2) Hidrografi
Pola drainase pada tapak dapat berpengaruh besar pada perancangan tapak.
Unsur hidrografis mempunyai peranan utama dalam pembuatan sistem
drainase tapak dengan memanfaatkan pola drainase daerah aliran air yang
ada.
3) Topografi
Kecuraman atau kedataran Keseragaman Perhubungan terhadap permukaan-
permukaan disekitarnya. Elemen-elemen yang ada yang permukaannya
tidak dapat diubah-tempat-tempat dimana pembentukan permukaan baru
harus memenuhi karakter yang ada Erosi Orientasi kelandaian / lereng.
4) Tanah
Hal yang perlu diperhatikan dalam parancangan tapak terkain tanah ialah
 Kecocokan bagi landasan struktur,
 bahan-bahan tumbuh-tumbuhan yang menunjang. T
 ipe dan kondisi : tanah lempung, pasir, lumpur, berat atau ringan,
kompak atau berpori.
 Perubahan-perubahan pada tipe tanah diseluruh tapak
 Keasaman atau kebasaan
 Lapisan humus pada tapak
 Kemampuan tanah untuk menyerap air
 Kemampuan tanah untuk mencegah erosi
5) Vegetasi
Analisis vegetasi adalah suatu analisis dalam satuan ekologi tumbuhan,
tujuannya ialah membuat suatu deskripsi dan mendokumentasikan kondisi
atau karakter masyarakat tumbuhan suatu ekosistem dalam hubungannya
faktor – faktor ekologi seperti biotik dan klimatik. Hal tersebut untuk
mengetahui dan memahamai bagaimana kondisi berbagai jenis vegetasi
dalam suatu komunitas atau populasi tumbuhan bereaksi dan berkembang
dalam tatanan suatu ruang dan waktu.n
6) Flora dan Fauna

4
Keanekaragaman flora dan fauna di suatu wilayah tidak terlepas dari
dukungan kondisi diwilayah ituDukungan kondisi suatu wilayah
terhadap keberadaan flora dan fauna berupa faktor – faktor fisik (abiotik)
dan non fisik (biotik). Kehidupan binatang liar harus dipertimbangkan
khususnya dalam pemilihan tapak untuk kebun raya atau daerah rekreasi.
Binatang-binatang liar juga dapat menambah warna yang semarak, bentuk
serta gerakan-gerakan pada lansekap.

b. Faktor Kultur
1) Tata Guna Lahan yang Ada
Pola tata guna lahan yang ada perlu ditandai secara khusus, yaitu Fasilitas
lingkungan publik maupun semipublik seperti perumahan, perdagangan,
industri, GSB perlu diinventarisasi untuk mengetahui arah
pengembangannya secara menyeluruh.
2) Gangguan dari Luar
Gangguan-gangguan di luar tapak yang bersifat visual, pendengaran dan
bau serta menyangkut resiko keamanan dan keselamatan harus diperhatikan.

c. Faktor Estetika
1) Bentuk-bentu Alam
Bentuk – bentuk lahan, batu karang, cadas yang menjorok ke depan, batu –
batu, danau, sungai, kolam, atau hutan, sering mempunyai pemandangan
yang bagus dan mungkin dapat disatukan dengan bentuk arsitektur dalam
suatu pengembangan tapak.
2) Pemandangan dan Vista
Vista adalah pemandangan yang terbatasi, biasanya diarahkan kepada suatu
ruang / halaman elemen terminal dan di kendalikan keseluruhannya oleh
perancang. Vista dapat berupa bagian dari suatu pemandangan keseluruhan,
mungkin dialami oleh suatu skala yang lebih kecil, jika vista tidak
mengagumkan, mengesankan, atau didominasi tapak vista dapat dirancang
pada suatu skala yang lebih kecil. (Taman).

5
2.5. Konsep Ruang Luar
Dalam perencanaan arsitektur, komponen ruang luar atau yang sering akrab di telinga
sebagai “lansekap”, adalah hal yang tak kalah penting daripada perencanaan bangunan
itu sendiri. Perencanaan lansekap yang kurang baik akan mengurangi nilai dari
bangunan secara fungsi dan estetis. Beberapa aspek ruang luar diantaranya adalah
sebagai berikut :
2.5.1. Tata hijau
Tanaman tidak hanya mengandung/mempunyai nilai estetis saja, tapi juga
berfungsi untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Berbagai fungsi tanaman
dapat dikategorikan sebagai berikut.
 Kontrol pandangan (Visual control)
 Pembatas fisik (Physical barriers)
 Pengendali iklim (Dimate control)
 Pencegah erosi (Erosion control)
 Habitat satwa (Wildlife habitats)
 Nilai estetis (Aesthetic values)
2.5.2. Fasilitas Parkir
Parkir adalah tempat pemberhentian kendaraan dalam jangka waktu yang lama
atau sebentar tergantung pads kendaraan dan kebutuhannya (Peraturan Lalu
Lintas). Ditinjau dari sudut perancangannya (desain) maka kriteria dan prinsip
tempat parkir secara garis besar harus memperhatikan faktor berikut.

 Waktu penggunaan dan pemanfaatan tempat parkir.


 Banyaknya kebutuhan jumlah kendaraan untuk menentukan lugs tempat
parkir.
 Ukuran dari jenis kendaraan yang
akan ditampung.
 Mempunyai keamanan yang balk dan terlindung dari pangs pancaran
sinar matahari.
 Cukup penerangan cahaya di malam hari.

6
 Tersedianya sarana penunjang parkir, misal tempat tunggu sopir, tempat
sampah.

2.5.3. Pencahayaan
Fungsi cahaya penerangan di malam hari dalam Arsitektur Landsekap sebagai
berikut.
 penerangan cahaya untuk ruang tempat kegiatan (parkir, plaza, dan
pedestrian)
 penerangan cahaya untuk sirkulasi
 Penerangan cahaya untuk tanaman/pepohonan.
 Penerangan cahaya untuk perabot lansekap (landscape furniture)
 Penerangan cahaya untuk kolam/air mancur
 Penerangan cahaya bagi benda seni (patung, ornamen lansekap)
2.5.4. Pola Lantai
Fungsi dan penerapan pola lantai perkerasan adalah:
 Memberi kesan batasan ruang maya.
 Memperkecil skala ruang lantai.
 Menambah nilai keindahan lingkungan.
 Membuat lantai tidak terlalu polos.
 Memberikan kesan intim dan atraktif.
 Memberikan pengarahan menuju suatu objek.
2.5.5. Kenyamanan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan antara lain:
 Sirkulasi
 lklim atau kekuatan alam
 Bising
 Aroma (bau-bauan)
 Bentuk
 Keamanan
 Kebersihan
 Keindahan

7
2.6. Hubungan Ruang Luar dan Dalam
2.6.1. Ruang Luar
Ruang luar, biasanya merujuk pada segala hal yang berada diluar bangunan,
biasanya bila dalam perancangan akan merujuk pada taman diluar bangunan
beserta dengan perkerasan seperti jalan setapak, jalan mobil, dan sebagainya.
Bahkan ruang luar juga merujuk pada jalan diluar bangunan, pohon-pohon, kota,
negara bahkan semesta alam secara keseluruhan. Sebenarnya, ruang luar
bukanlah benar-benar 'ruang' seperti yang biasa dipahami orang awam, karena
ruang luar dalam benak arsitek biasanya merupakan area disekeliling atau diluar
bangunan yang bisa dirancang dengan prinsip-prinsip arsitektur landscape (ini
jenis arsitektur khusus untuk ruang luar yang mengatur taman, jalan setapak,
jalan mobil, pencahayaan taman, bangunan taman dan sebagainya). Bila arsitek
merancang bangunan rumah atau yang lain, maka biasanya ia akan merujuk
'ruang luar' sebagai diluar bangunan.
2.6.2. Ruang Dalam
Ruang dalam adalah ruang arsitektural yang terdiri dari elemen-elemen
pembentuk ruang berupa alas, dinding dan atap. Expresi dari ruang dalam
banyak diwarnai oleh keramik, batu bata , batu-batuan terolah dan semacamnya.
Ruang dalam juga yang biasa kita kenal sebagai ruangan. Ini bisa berarti ruang
kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu dan sebagainya yang keberadaannya
tertutup dengan baik oleh pelindung atap dan dinding. Dalam ruang dalam
biasanya orang berkegiatan dan melakukan aktivitas sehari-hari.
2.6.3. Hubungan Ruang Luar dan Dalam
Ruang luar selalu erat kaitannya dengan ruang dalam, mengingat fungsi dari
ruang itu sendiri tidak jauh berbeda, hanya di bedakan dengan aktivitas nya saja.
Ruang dalam dapat dikatakan sebagai ruang di dalam ruang (yaitu ruang luar),
sehingga ruang luar mengambil peran penting dalam hal nyaman atau tidaknya
ruang dalam. Hal ini juga terkait dengan pengaruh dari kodisi tapak atau site
tempat ruangan itu berada serta penyesuaian arsitektur ruangan itu terhadap

8
tanggapan dari dari kondisi tapak tersebut. Namun kondisi dari ruang dalam
tidak terlalu berpengaruh terhadap ruang luar.
Ruang luar sendiri berfungsi sebagai pelindung ruang dalam dari
ketidaknyamanan kondisi lingkungan sekitar atau bisa juga sebagai penerus
kenyamanan kondisi lingkungan sekitar nya.

9
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tapak merupakan sebidang lahan atau sepetak tanah dengan batas-batas yang jelas,
dengan kondisi permukaan serta ciri-ciri istimewa yang dimiliki oleh lahan tersebut.
sebuah tapak tidak pernah tidak berdaya tetapi merupakan sekumpulan jaringan yang
sangat aktif yang terus berkembng yang jalin-menjalin alam perhubungan-perhubungan
yang rumit. Sedangkan perencanaan tapak adalah pengolahan fisik tapak untuk meletakkan
seluruh kebutuhan rancangan di dalam tapak. Perencanaan tapak dilakukan dengan
memperhatikan kondisi tapak dan dampak yang muncul akibat perubahan fisik diatasnya.
Faktor-faktor yang mempegaruhi pemilihan tapak ialah : 1) Faktor Alam : Iklim,
Hidrografi, Topografi, Tanah, Vegetasi, Flora dan Fauna. 2) Faktor Kultur : Tata Guna
Lahan yang Ada, Gangguan dari Luar. 3)Faktor Estetika : Bentuk-bentu Alam,
Pemandangan dan Vista

Konsep Ruang Luar terkait dengan tata hijau suatu tempat, fasilitas parkir,
pencahayaan, pola lantai serta kenyamanannya.

Ruang luar selalu erat kaitannya dengan ruang dalam, mengingat fungsi dari ruang
itu sendiri tidak jauh berbeda, hanya di bedakan dengan aktivitas nya saja. Ruang dalam
dapat dikatakan sebagai ruang di dalam ruang (yaitu ruang luar), sehingga ruang luar
mengambil peran penting dalam hal nyaman atau tidaknya ruang dalam. Hal ini juga
terkait dengan pengaruh dari kodisi tapak atau site tempat ruangan itu berada serta
penyesuaian arsitektur ruangan itu terhadap tanggapan dari dari kondisi tapak tersebut.
Namun kondisi dari ruang dalam tidak terlalu berpengaruh terhadap ruang luar. Ruang luar
sendiri berfungsi sebagai pelindung ruang dalam dari ketidaknyamanan kondisi lingkungan
sekitar atau bisa juga sebagai penerus kenyamanan kondisi lingkungan sekitar nya.

10
DAFTAR PUSTAKA

https://www.arsitur.com/2018/09/ruang-luar-atau-ruang-outdoor.html, Diakses tanggal 27


Februari 2020, pukul 14:35 WIB.

https://www.google.co.id/amp/s/bondanprihastomo.wordpress.com/2016/12/28/arsitek-
jogja-komponen-ruang-luar/amp/, Diakses tanggal 27 Februari 2020, pukul 15:00
WIB.

http://www.astudioarchitect.com/2014/02/perbedaan-ruang-dalam-ruang-antara-dan.html,
Diakses tanggal 27 Februari 2020, pukul 15:30 WIB.

11