Anda di halaman 1dari 9

Kelompok 4 S1AK16A :

Sulis Agustin (16080694011)

Annisa Firdausy (16080694021)

Rima Rifana (16080694057)

Anggun Viamar (16080694081)

Mata Kuliah : Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya

ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA

Basel Core Principles

Pertumbuhan jumlah bank swasta yang sangat cepat mulai dari tahun 1980an
ternyata membawa perekonomian Indonesia ke suatu tahapan baru dalam
perkembangannya. Perkembangan yang pesat tersebut sayangnya tidak diikuti oleh
perkembangan prinsip kehati-hatian yang seimbang.

Bank for International Settlement (BSI) telah lama mencari tahu praktik-praktik
perbankan yang dianggap dapat menciptakan dunia perbankan yang lebih efisien dan
efektif. Dengan adanya prinsip-prinsip yang telah digagaskan oleh BSI serta perlunya
merancang ulang sektor perbankan untuk jangka panjang maka dibuatnya Arsitektur
Perbankan Indonesia (API). Dengan adanya API Bank Indonesia memiliki keinginan
secara bertahap untuk melakukan 25 Prinsip Pokok Basel sehingga dalam jangka waktu
lima tahun kedepan diharapkan Indonesia telah sejajar dengan negara-negara yang sudah
sejak dulu menerpakan prinsip-prinsip tersebut.

Pengawasan ditujukan untuk memastikan bahwa perbankan beroperasi dengan


cara yang benar dan aman sehingga mereka memiliki modal yang cukup untuk
mengantisipasi resiko bisnis.

The Basel Committee on Banking Supervision adalah komite pengawas


perbankan yang didirikan Gubernur Bank Sentral. Komite ini telah menyusun dua jenis
dokumen yaitu yang pertama Paket Lengkap Core Principles for Effective Banking
Supervision (The Basel Core Principles) dan yang kedua adalah Compendium yang akan
diperbarui secara periodik terhadap semua rekomendasi, pedoman dan standar yang
dikeluarkan oleh Basel Committee yang sebagian besar saling berkaitan dengan core
principles.

Fungsi Basel Core Principle adalah sebagai acuan dasar bagi perngawas
perbankan di semua negara.

The Basel Core Principles terdiri atas dua puluh lima prinsip dasar. Prinsip-
prinsip tersebut berkaitan dengan :

- Prasayarat bagi pengawasan perbankan yang efektif (Prinsip ke-1)


- Perizinan dan struktur (Prinsip ke-2 hingga ke-5)
- Peraturan prinsip kehati-hatian (Prinsip ke-6 hingga ke-15)
- Metode pengawasan perbankan terus menerus (Prinsip ke-16 hingga ke-20)
- Informasi (Prinsip ke-21)
- Wewenang formal pengawas (Prinsip ke-22)
- Perbankan lintas negara (Prinsip ke-23 hingga ke-25)

Pengertian API

Bertujuan untuk memperkuat fundamental industri perbankan di Indonesia. Mulai


tahun 2004 Indonesia mulai menerapkan API. API meruoakan suatu kerangkadasar dalam
pengembangan sistem perbankan Indonesia yang sifatnya meneyeluruh untuk waktu lima
tahun sampai sepuluh tahun kedepan.

Visi API :

- Menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien


- Menciptakan kestabilan sistem keuangan
- Mendorong kemampuan pertumbuhan ekonomi nasional

Sasaran enam pilar API :

- Struktur perbankan domestik yang sehar, mampu memenuhi kebutuhan


masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional
- Sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif sesuai standar internasional
- Indsutri perbankan yang kuat dan berdaya saing tinggi serta memiliki ketahanan
menghadapi resiko
- Good corporate governmence dalam kondisi internal perbankan nasional
- Infrastruktur lengkap untuk terciptanya perbankan yang sehat
- Perlindungan konsumen.

Enam Pilar API

1) Struktur perbankan yang sehat

Menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat yang mampu memenuhi


kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional yang
berkesinambungan

2) Sistem pengaturan yang efektif

Menciptakan sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif dan


mengacu pada standar internasional

3) Sistem pengawasan independen dan efektif

Menciptakan good corporate governance dalam rangka memperkuatkuat


perbankan nasional.

4) Industri perbankan yang kuat

Menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi
serta memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko.

5) Infrastruktur pendukung yang mencukupi

Wejudukan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri


perbankan yang sehat.

6) Perlindungan konsumen

Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan.


Tantangan Ke Depan

1) Pertumbuhan Kredit yang Masih Rendah

Kemampuan permodalan perbankan Indonesia tergolong masih rendah


sehingga sulit untuk mencapai pertumbuhan kredit yang cukup tinggi. Hal
tersebut akan menjadi masalah yang berkelanjutan jika perbankan nasional tidak
memperbaiki kondisi permodalannya.

2) Struktur Perbankan yang Belum Optimal

Belum optimalnya struktur permodalan di Indonesia ditandai dengan


terkonsentrasinya stuktur perbankan hanya pada 11 bank besar (yang menguasai
75% aset perbankan Indonesia.

3) Pemenuhan Kebutuhan Pelayanan Perbankan yang Masih Kurang

Kuranggnya pemenuhan kebutuhan masyarakat atas pelayanan ditandai


dengan seringnya tedengar keluhan dari masyarakat mengenai kurangnya akses
terhadap kredit dan tingginya suku bunga kerdit.

4) Pengawasan Bank yang Masih Perlu Ditingkatkan

Hal ini disebabkan oleh masih terdapatnya beberapa prinsip prudensial yang
belum ditetapkan secara baik, koordinasi pengawasan yang masih perlu
ditingkatkan, kemampuan SDM pengawasan yang belum optimal, dan
pelaksanaan law-enforcement pengawasan yang belum efektif.

5) Kapabilitas Perbankan yang Masih Lemah

Hal ini ditandai dengan kurangnya corporate governance dan core banking
skills pada sebagian besar perbankan sehingga diperlikan perbaikan yang cukup
mendasar pada dua hal tersebut.

6) Profitabilitas dan Efisiensi Operasional Bank yang Tidak Mampu Bertahan


Faktor tidak mampu bertahannya profitabilitas dan efisiensi karena lemahnya
srtuktur aset produktif bank-bank dan sebagian pendapatan perbankan berasal dari
aktivitastrading yang fluktuasi serta rendahnya rasio aset per nasabah

7) Perlindungan Nasabah yang Masih Harus Ditingkatkan

Perlindungan terhadap nasabah merupakan tantangan perbankan yang


berpengaruh terhadap sebagiam masyarakat kita.

8) Perkembangan Teknologi Informasi

Perkembangan tekhnologi informasi menyebabklan makin pesatnya


perkembangan jenis dan kompleksitas produk dan jasa bank sehingga resiko-
resiko yang muncul menjadi lebih besar dan bervariasi.

Program kegiatan API

Guna mewujudkan visi API dan sasaran yang ditetapkan, serta mengacu kepada
tantangan – tantangan yang dihadapi perbankan, maka ke-enam pilar API sebagaimana
diuraikan di depan akan dilaksanakan melalui beberapa program kegiatan sebagai berikut:

1. Program penguatan struktur perbankan nasional

Program ini bertujuan untuk memperkuat permodalan bank umum


(konvensional dan syariah)dalam rangka meningkatkan kemampuan bank
mengelola usaha maupun risiko, mengembangkan teknologi informasi, maupun
meningkatkan skala usahanya guna mendukung peningkatan kapasitas
pertumbuhan kredit perbankan. Implementasi program penguatan permodalan
bank dilaksanakan secara bertahap. Upaya peningkatan modal bank-bank tersebut
dapat dilakukan dengan membuat business plan yang memuat target waktu, cara
dan tahap pencapaian.

2. Program peningkatan kualitas pengaturan Perbankan


Program ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengaturan serta
memenuhi standar pengaturan yang mengacu pada international best practices.
3. Program peningkatan fungsi pengawasan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan independensi dan efektivitas
pengawasan perbankan yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
4. Program peningkatan kualitas manajemen dan operasional Perbankan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan good corporate governance
(GCG), kualitas manajemen resiko dan kemampuan operasional manajemen.
Semakin tingginya standar GCG dengan didukung oleh kemampuan operasional
(termasuk manajemen risiko) yang handal diharapkan dapat meningkatkan kinerja
operasional perbankan. Dalam waktu dua sampai lima tahun ke depan diharapkan
kondisi internal perbankan nasional menjadi semakin kuat.
5. Program pengembangan infrastruktur Perbankan
Program ini bertujuan untuk mengembangkan sarana pendukung operasional
perbankan yang efektif seperti credit bureau, lembaga pemeringkat kredit
domestik, dan pengembangan skim penjaminan kredit. Pengembangan credit
bureau akan membantu perbankan dalam meningkatkan kualitas keputusan
kreditnya.
6. Program peningkatan perlindungan nasabah
Program ini bertujuan untuk memberdayakan nasabah melalui penetapan standar
penyusunan mekanisme pengaduan nasabah, pendirian lembaga mediasi
ndependen, peningkatan transparansi informasi produk perbankan dan edukasi
bagi nasabah. Dalam waktu dua sampai lima tahun ke depan diharapkan program-
program tersebut dapat meningkatkan kepercayaan nasabah pada sistem
perbankan.
Tahap-tahap Implementasi Arsitektur perbankan Indoesia (API).
Arsitektur perbankan Indonesia di rancang untuk diterapkan dalam kurun
waktu sekitar sepuluh tahun. Program implementasi API di laksanakan secara
bertahap dan di mulai tahun 2004 dengan perincian sebagai berikut :

a. Program Penguatan struktur perbankan nasioanal


1. Memperkuat permodalan bank
2. Memperkuat daya saing BPR
3. Menimgkatkan akses kredit
b. Program Peningkatan kualitas pengaturan perbanka
1. Memformalkan proses sindikasi daalm membuat kebijakan
perbankan.
2. Implementasi secara bertahap 25 Basel Core Principles for Effective
Banking Supervision
c. Tahap Peningkatan fungsi pengawasan
1. Menimgkatkan koordinasi antar lembaga pengawas.
2. Melakukan konsolidasi sektor perbankan bank Indonesia
3. Meningkatkan kompetensi pemeriksa bank
4. Mengembangkan sistem pengawasan berbaris resiko
5. Meningktakan efektivitas enforcement
d. Program Peningkatan kualitas manajemen dan operasional perbankan
1. Meningkatkan good Corporate Governance
2. Meningkatkan kualitas manajemen resiko perbankan
3. Meningkatkan kemampuan Operasional bank.
e. Program Pengembangan Infrastruktur perbankan
1. Mengembangkan biro kredit
2. Mengoptimalkan penggunaan badan pemeringkat kredit.
f. Program peningkatan perlindungan nasabah.
1. Menyusun standar mekanisme pengaduan nasabah
2. Membentuk lembaga Mediasi independen
3. Menyusun transparasi informasi produk
4. Mempromosikan edukasi untuk konsumen.

Basel II

Basel II adalah rekomendasi hukum dan ketentuan perbankan kedua,


sebagai penyempurnaan Basel I, yang diterbitkan oleh Komite Basel.
Rekomendasi ini ditujukan untuk menciptakan suatu standar internasional yang
dapat digunakan regulator perbankan untuk membuat ketentuan berapa banyak
modal yang harus disisihkan bank sebagai perlindungan terhadap risiko keuangan
dan operasional yang mungkin dihadapi bank.
Pendukung Basel II percaya bahwa standar internasional seperti ini dapat
membantu melindungi sistem keuangan internasional terhadap masalah yang
mungkin timbul sewaktu runtuhnya bank-bank utama atau serangkaian bank.
Dalam praktiknya, Basel II berupaya mencapai hal ini dengan menyiapkan
persyaratan manajemen risiko dan modal yang ketat yang dirancang untuk
meyakinkan bahwa suatu bank memiliki cadangan modal yang cukup untuk risiko
yang dihadapinya karena praktik pemberian kredit dan investasi yang
dilakukannya. Secara umum, aturan-aturan ini menegaskan bahwa semakin besar
risiko yang dihadapi bank, semakin besar pula jumlah modal yang dibutuhkan
bank untuk menjaga likuiditas bank tersebut serta stabilitas ekonomi pada
umumnya.

Ada 3 Pilar Basel II yaitu :

1. Persyaratan modal minimum (Minimum Capital)


2. Tinjauan pengawasan (Supervisor Review)
3. Pengungkapan informasi (Market Discipline)

Basel I sebelumnya hanya memperhatikan sebagian dari masing-masing


pilar ini. Misalnya, Basel I hanya memperhitungkan risiko kredit secara
sederhana, mempertimbangkan sedikit risiko pasar, serta sama sekali tidak
menangani risiko operasional.

Pilar pertama berkaitan dengan pemeliharaan persyaratan modal


(regulatory capital) yang diperhitungkan untuk tiga komponen utama risiko yang
dihadapi bank: risiko kredit, risiko pasar, serta risiko operasional. Jenis risiko lain
tidak dianggap layak diperhitungkan pada tahap ini.

Pilar kedua menangani tanggapan pengawasan terhadap pilar pertama


yang memberikan perkakas lanjut bagi pengawas. Pilar ini juga memberikan suatu
kerangka kerja untuk menangani semua risiko lain yang mungkin dihadapi bank,
seperti risiko sistemik, risiko pensiun, risiko konsentrasi, risiko strategik, risiko
reputasi, risiko likuiditas, serta risiko hukum, yang digabungkan menjadi risiko
residu.
Pilar ketiga memperbesar pengungkapan yang harus dilakukan bank. Ini
dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih baik bagi pasar mengenai
posisi risiko menyeluruh bank dan untuk memberikan kesempatan bagi pihak
terkait dari bank untuk memberikan harga dan menangani risiko tersebut dengan
sepantasnya.

Stabilitas Sistem Keuangan

Stabilitas sistem keuangan adalah upaya yang dilakukan saat suatu sistem
keuangan memasuki tahap tidak stabil. Suatu sistem keuangan dikatakan tidak
stabil adalah pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan menghambat
kegiatan ekonomi. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat disebabkan oleh
berbagai macam hal dan umumnya merupakan kombinasi kegagalan pasar karena
faktor struktural maupun perilaku.

Sistem keuangan tidak stabil dan tidak berfungsi secara efisien


menyebabkan pengalokasian dana tidak berjalan dengan baik sehingga dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi. Misalnya, pertumbuhan ekonomi dapat
terhambat karena fungsi intermediasi tidak dapat berjalan dengan baik dalam
mengalokasi dana. Oleh karena itu, kerangka stabilitas sistem keuangan harus
dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai negara agar gesekan
kepentingan dapat dihindari dan bisa terbentuk kerja sama yang saling
mendukung.