Anda di halaman 1dari 4

Akuntansi: Basis Akkrual, Kas, dan Kontinjensi

Sofyan Syafri Harahap

Akuntansi adalah sistem informasi. Ia memberikan informasi melalui angka angka


kuantitatif. Akunatnsi adalah alat ukur atau measurement. Diharapkan angka kuantitatif
inilah yang menjadi dasar atau media untuk melihat kinerja suatu lembaga yang
dilaporkannya. Angka ini bisa menggamarkan kondisi keuangan dari lembaga yang
dilaporkan. Informasi ini dapat menjadi dasar dalam proses pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan akan semakin tepat jika infomasi yang disajikan akurat dan juga
relevan. Tanpa akurasi dan relevansi maka dapat dikhawatirkan keputusan yang diambil
akan meleset. Kata orang GIGO, garbage in garbage out, data sampah yang masuk maka
keputusan sampah lah yang keluar.

Proses melahirkan infomasi ini dilalui melalui siklus akuntansi. Siklus akuntransi dimulai
dari transaksi dan dasarnya di olah melalui proses pencatatan baik manual, mekanis, atau
computerized. Hasil akhirnya adalah Laporan keuangan. Dengan perkembangan
teknologi komputer beban tugas seorang akuntan terbantu dan semakin menjamin
kecepatan dan keakuratan infomasi yang disajikan. Kendatipun dalam konteks ini
akuntan bertambah kewajiban karena dituntut untuk bisa memasuki wilayah pemahaman
teknologi komputer jika ia tidak ingin ketinggalan dalam perkembangan professi yang
demikian cepat dan multi dimensi. Informasi akuntansi itu

Informasi yang dihasilkan akuntansi dapat dibagi 3 golongan besar. Neraca yang
menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu, Laporan laba rugi
yang menghasilkan informasi mengenai hasil dan biaya, dan informasi arus kas baik
penerimaan kas dan kemana kas digunakan. Dilkuar ini ada informasi pendukung seperti
laporan perubahan modal, perubahan laba ditahan, laporan harga pokok produksi , catatan
atas laporan keuangan dan lampiran lainnya. Dalam industri perbankan dikenal laporan
kontinjensi untuk menyampaikan informasi yang bersifat off balance sheet atau yang
belum jautuh hak dan kewajiban dan menunggu situasi atau kejadian dikemudian hari.
Dalam akuntansi isu basis akrual dan kas ini sudah lama dibicarakan dan pada akhirnya
yang diterapkan adalah dominan dasar akrual (accrual basis) dan untuk transaksi tertentu
dapat menggunakan dasar kas (accrual basis). Biasanya dasar kas itu digunakan jika
kemungkinan realisasi dari transaksi itu masih bersifat fifty fifty atau “remote” agak jauh
kemungkinannya. Namun diluar “mainstream” pemikiran akuntansi sebutlah misalnya
T.A. Lee atau Thomas, mereka menganjurkan penerapan “dasar kas” atau “bebas
alokasi” sehingga akuntansi lebih bersifat sain dan pasti tidak ada alokasi, taksiran.
penyusutan, dan berbagai taksiran penyisihan. Dalam sistem akrual mau tidak mau harus
diterapkan sistem alokasi yang umumnya dilakukan secara subjektif arbitrer karena
pembebanan biaya, pengakuan pendapatan, dan prinsip “matching”nya harus mematuhi
prinsip “time period”. Artinya jika beban biaya adalah untuk mendapatkan penghasilan
atau pada periode tahun buku yang dilaporkan maka kendatipun belum dibayar harus
diperhitungkan karena memang sudah merupakan hak atau kewajiban entitas. Jadi dalam
basis akrual yang menjadi dasar pencatatan transaksi adalah isu “title” atau hak dan
kewajiban tanpa melihat apakah sudah diterima atau dibayar melalui transaksi kas atau
tidak. Dalam basis kas murni maka pembelian aktiva tetap misalnya Bangunan harus
dianggap sebagai “beban” pada saat dikeluarkan sehingga tidak ada alokasi depresiasi
selama sisa umur penggunaannya. Dalam basis kas seandainya laba hanya diukur dari
transaksi kas ini maka dapat dikatakan bahwa perhitungan laba rugi “tidak wajar” karena
ada biaya yang merupakan kewajiban atau hasil yang merupakan hak yang belum
dicatat.

Akuntansi sebagai media pengukuran mengukur laba, posisi keuangan (Harta, kewajiban
dan Modal) disamping melaporakan transaksi atau arus kas. Akuntansi membedakan
antara “transaksi kas” dengan “pengakuan laba”. Dan laporannyapun berbeda Laporan
Laba Rugi dan Laporan Arus Kas. Tetapi kedua laporan ini bisa dikaitkan misalnya
dalam hal kita menggunakan metode indirect dalam penyusunan laporan arus kas. Arus
kas bisa dihitung dari Laba Rugi dengan melakukan penyesuaian disana sini. Kedua
informasi ini memiliki tempat dan tujuan masing masing. Arus kas mejelaskan berapa
dan darimana uang kas masuk dan kemana dikeluarkan. Sedangkan laba rugi menjelaskan
dari mana penghasilan (pendapatan) berasal dan berapa biaya yang dibebankan (yang
sudah dibayar dan yang akan dibayar) untuk mendapatkannya. Oleh karena itu
manyandingkan kedua basis ini tidak akan tepat sama dengan membandingkan antara dua
fungsi dan tujuan yang berbeda.

Informasi Laba rugi melaporkan kemampuan perusahaan dalam mencapai laba atau
rentabilitas, profitabilitas atau disebut juga earning power. Informasi ini penting bagi
pembaca, investor dalam berhubungan dengan perusahaan baik sebagai kreditor atau
investor jangka pendek dan panjang. Bahkan pengukuran kinerja perusahaan atau
manajemen dilihat dari angka laba ini. Informasi Kas juga penting untuk mengetahui arus
kas darimana dan kemana dialirkan. Informasi ini penting untuk mengetahui likuiditas
perusahaan atau untuk melihat sejauhmana kemampuan perusahaan memanaj atau
memenuhi kebutuhan kas baik jangka pendek atau jangka panjang.

Isu akuntansi berbasis kas atau berbasis akkrual memang sudah lama dan sebenarnya
tidak begitu relevan dipertentangkan. Keduanya adalah saling mengisi atau
komplementer. Basis kas akan melahirkan informasi tentang likuiditas yang sangat perlu
bagi para pengambil keputusan. Akuntansi berbasis akkrual sangat perlu untuk
menyusun laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan (Neraca). Bahkan laporan
kontinjensi yang berbasis risiko masa depan juga perlu disajikan apalagi dalam situasi
ekonomi yang semakin tidak pasti seperti yang jelas dipraktekkan dalam industri
perbankan.

Manajemen risiko saat ini sangat popular untuk menjaga perusahaan dari kesalahan fatal
yang ditimbulkan oleh kejadian yang sebenarnya bisa diduga, dihitung, dan diprediksi.
Akuntansi sebaiknya harus memberikan peran dalam bidang ini. Risiko adalah sesuatu
yang mungkin dialami dimasa yang akan datang disebabkan kondisi tertentu yang akan
muncul. Risiko tidak mungkin dieliminasi, ia hanya mungkin dihindari atau diminimisasi.
Untuk memanaj risiko itu kita perlu melakukan identifikasi, pengukuran, analisa, dan
perlindungan. Dalam situasi bisnis modern saat ini akuntansi harus bisa memberikan
sumbangsih terhadap kebutuhan perusahaan baik dalam skala nasional maupun
internasional, skala makro atau mikro. Dan kalau hal ini menjadi sorotan akuntansi maka
diperlukan standar standar khusus untuk bisa menyajikan informasi kontinjensi ini.
Masyarakat peduli akuntansi, baik akuntan, akademisi, investor, manajemen dan
regulator perlu melakukan upaya untuk bisa merumuskan ini. Pendapat mantan Menteri
Negara BUMN Sugiharto tentang perlunya BUMN melakukan analisa risiko khususnya
fungis Komisaris perlu mendapat perhatian kita semua sehingga penerapan good
corporate government di bidang yang berkaitan dengan kepentingan publik seperti
BUMN ini dapat dilaksanakan dengan sebaik baiknya.

Sofyan S Harahap