Anda di halaman 1dari 12

NAMA : TONI OKTA FIYANSAH

NIM : 061740421555
KELAS : 5 KIA

SOAL 1 : DEFINISI MUTU

Mutu (kualitas) didefinisikan sebagai “ciri dan karakter menyeluruh dari


suatu produk atau jasa yang mempengaruhi kemampuan produk tersebut untuk
memuaskan kebutuhan tertentu”. Hal ini berarti bahwa kita harus dapat
mengidentifikasikan ciri dan karkter produk yang berhubungan dengan mutu dan
kemudian membuat suatu dasar tolok ukur dan cara pengendaliannya.
Definisi ini jelas menekankan pada kepuasan pelanggan atau pemakai
produk. Dalam suatu proyek gedung, pelanggan dapat berarti pemberi tugas,
penyewa gedung atau masyarakat pemakai. Misalnya dari segi disain, kepuasan
dapat diukur dari segi estetika, pemenuhan fungsi, keawetan bahan, keamanan,
dan ketepatan waktu. Sedangkan dari segi pelaksanaan, ukurannya adalah pada
kerapihan penyelesaian, integritas (sesuai gambar dan spesifikasi) pelaksanaan,
tepatnya waktu penyerahan dan biaya, serta bebas cacat.
Manajemen Mutu adalah aspek-aspek dari fungsi manajemen keseluruhan
yang menetapkan dan menjalankan kebijakan mutu suatu perusahaan/organisasi.
Dalam rangka mencukupkan kebutuhan pelanggan dan ketepatan waktu dengan
anggaran yang hemat dan ekonomis, seorang manager proyek harus memasukkan
dan mengadakan pelatihan management kualitas. Hal hal yang menyangkut
kualitas yang di maksud diatas adalah :
· Produk / pelayanan / proses pelaksanaan.
· Proses management proyek itu sendiri.

Didalam tuntutan zaman , dan dalam era persaingan bebas, kita harus
banyak belajar tentang hal hal yang menyangkut proses manajemen dalam
lingkungan kerja, terutama tentang pentingnya sistem dan realisasinya dalam
proyek di lapangan.
SOAL 2 : PENTINGNYA MUTU

Istilah mutu sangat penting bagi suatu organisasi atau perusahaan, karena:

1. Reputasi perusahaan
Perusahaan atau organisasi yang telah menghasilkan suatu produk
atau jasa yang bermutu atau berkualitas akan mendapat predikat
sebagai organisasi yang mengutamakan mutu.
Oleh karena itu, perusahaan atau organisasi tersebut dikenal oleh
masyarakat luas dan mendapat nilai "LEBIH" dimata masyarakat.
Karena nilai "lebih" itulah maka perusahaan atau organisasi
mendapat kepercayaan dari masyarakat.
2. Penurunan Biaya
Paradigma lama bila kita ingin menghasilkan produk yang bermutu maka
selalu membawa dampak pada peningkatan biaya.
Suatu produk yang bermutu selalu identik dengan harga mahal.
Padahal pada era saat ini, tuntutan pasar sudah berbeda,
masyarakat hanya akan membeli produk yang memang sesuai
dengan kebutuhan dan berharga murah, namun tidak mengurangi
mutu.
Paradigma baru produk atau jasa yang dihasilkan tidak perlu
mengeluarkan biaya tinggi, tetapi dapat menghasilkan produk yang bermutu,
maka dapat dikatakan perusahaan tersebut sudah berorientasi pada
”CUSTOMER SATISFACTION” produk yang dihasilkan sesuai dengan
kebutuhan dan harapan pelanggan. Dengan demikian tidak ada pemborosan
yang terjadi yang harus dibayar mahal oleh perusahaan
Sehingga pendapat "Quality Has No Cost" dapat dicapai dengan tidak
menghasilkan produk yang tidak dibutuhkan oleh pelanggan.
3. Peningkatan pasar
Pangsa pasar akan meningkat bila minimasi biaya tercapai, sehingga
harga dapat ditekan, dengan mutu tetap menjadi yang utama. Hal-
hal ini yang kemudian mendorong konsumen untuk membeli dan
membeli lagi produk tersebut sehingga pangsa pasar meningkat.

4. Pertanggung jawaban produk


Dengan selalu menjaga minimasi biaya dengan mutu yang tetap terjaga,
maka perusahaan akan tampak semakin bertanggung jawab terhadap proses
dan hasil produksi tersebut untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Pelanggan akan menaruh rasa percaya dan semakin menanti produk2 yang
dihasilkan oleh perusahaan tersebut.

SOAL 3: DIMENSI MUTU


1. Dimensi Kompetensi Teknis
Dimensi kompetensi teknis menyangkut keterampilan,
kemampuan, penampilan atau kinerja pemberi layanan kesehatan. Dimensi
ini berhubungan dengan bagaimana pemberi layanan kesehatan mengikuti
standar layanan kesehatan yang telah disepakati, yang meliputi ketepatan,
kepatuhan, kebenaran dan konsistensi. Tidak dipenuhinya dimensi
kompetensi teknis dapat mengakibatkan berbagai hal, mulai dari
penyimpangan kecil terhadap standar layanan kesehatan, sampai pada
kesalahan fatal yang dapat menurunkan mutu layanan kesehatan dan
membahayakan jiwa pasien.
2. Dimensi Keterjangkauan atau Akses
Artinya layanan kesehatan harus dapat dicapai oleh masyarakat,
tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi, organisasi dan
bahasa. Akses geografis diukur dengan jarak, lamanya perjalanan, biaya
perjalanan, jenis transportasi, dan/atau hambatan fisik lain yang dapat
menghalangi seseorang memperoleh layanan kesehatan. Akses sosial atau
budaya berhubungan dengan dapat diterima atau tidaknya layanan
kesehatan itu secara sosial atau nilai budaya, kepercayaan dan prilaku.
Akses ekonomi berkaitan dengan kemampuan membayar biaya layanan
kesehatan. Akses organisasi ialah sejauh mana layanan kesehatan itu diatur
hingga dapat memberikan kemudahan/kenyamanan kepada pasien atau
konsumen. Akses bahasa, artinya pasien harus dilayani dengan
menggunakan bahasa atau dialek yang dapat dipahami oleh pasien.
3. Dimensi Efektivitas
Layanan kesehatan harus efektif, artinya harus mampu mengobati
atau mengurangi keluhan yang ada, mencegah terjadinya penyakit dan
berkembang/meluasnya penyakit yang ada. Efektifitas layanan kesehatan
ini bergantung pada bagaimana standar layanan kesehatan itu digunakan
dengan tepat, konsisten dan sesuai dengan situasi setempat. Umumnya
standar layanan kesehatan disusun pada tingkat organisasi yang lebih
tinggi, sementara pada tingkat pelaksana, standar layanan kesehatan itu
harus dibahas agar dapat digunakan sesuai dengan kondisi. Dimensi
efektivitas berhubungan erat dengan dimensi kompetensi teknis terutama
dalam pemilihan alternatif dalam menghadapi relative risk dan
ketrampilan dalam mengikuti prosedur yang terdapat dalam standar
layanan kesehatan.
4. Dimensi Efisiensi
Sumber daya kesehatan sangat terbatas. Oleh karena itu dimensi
efisiensi kesehatan sangat penting dalam layanan kesehatan. Layanan
kesehatan yang efisien dapat melayani lebih banyak pasien dan
masyarakat. Layanan kesehatan yang tidak efisien umumnya berbiaya
mahal, kurang nyaman bagi pasien, memerlukan waktu lama, dan
menimbulkan resiko yang lebih besar pada pasien. Dengan melakukan
analisis efisiensi dan efektivitas kita dapat memilih intervensi yang paling
efisien.
5. Dimensi Kesinambungan
Dimensi kesinambungan layanan kesehatan artinya pasien harus
dapat dilayani sesuai dengan kebutuhannya, termasuk rujukan jika
diperlukan tanpa mengulangi prosedur diagnosis dan terapi yang tidak
perlu. Pasien harus selalu mempunyai akses ke layanan kesehatan yang
dibutuhkannya. Karena riwayat penyakit pasien terdokumentasi dengan
lengkap, akurat dan terkini, layanan kesehatan rujukan yang diperlukan
pasien dapat terlaksana dengan tepat, waktu dan tempatnya.
6. Dimensi Keamanan
Dimensi keamanan maksudnya layanan kesehatan harus aman,
baik bagi pasien, pemberi layanan maupun masyarakat sekitarnya.
Layanan kesehatan yang bermutu harus aman dari risiko cidera, infeksi,
efek samping, aatau bahaya lain. Oleh karena itu harus disusun suatu
prosedur yang akan menjamin keamanan kedua belah pihak.
7. Dimensi Kenyamanan
Dimensi kenyamanan tidak berpengaruh langsung dengan
efektivitas layanan kesehatan, tetapi mempengaruhi kepuasan
pasien/konsumen sehingga mendorong pasien untuk datang berobat
kembali ke tempat tersebut. Kenyamanan dan kenikmatan dapat
menimbulkan kepercayaan pasien terhadap organisasi layanan kesehatan.
8. Dimensi Informasi
Layanan kesehatan yang bermutu harus mampu memberikan
informasi yang jelas tentang apa. Siapa, kapan, dimana dan bagaimana
layanan kesehatan itu akan atau telah dilaksanakan. Dimensi informasi ini
sangat penting pada tingkat puskesmas dan rumah sakit.
9. Dimensi Ketepatan Waktu
Agar berhasil, layanan kesehatan harus dilakukan dalam waktu dan
cara yang tepat, oleh pemberi layanan yang tepat, menggunakan peralatan
dan obat yang tepat, serta biaya yang tepat (efisien).
10. Dimensi Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia adalah hubungan antara pemberi layanan
kesehatan (provider) dengan pasien atau masyarakat (konsumen), antar
sesama pemberi layanan kesehatan, antar atasan-bawahan, dinas
kesehatan, rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah, LSM, masyarakat
dan lain-lain. Hubungan antarmanusia yang baik akan menimbulkan
kepercayaan dan kredibilitas dengan cara saling menghargai, menjaga
rahasia, saling menghormati, responsif, memberi perhatian, dan lain-lain.

SOAL 4 : PERSPEKTIF MUTU

1. Transcendental Approach
Kualitas dalam pendekatan ini dapat dirasakan atau

diketahui, tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan.

Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalam seni musik,

drama, seni tari, dan seni rupa. Selain itu perusahaan dapat
mempromosikan produknya dengan pernyataan-pernyataan

seperti tempat belanja yang menyenangkan (supermarket),

elegan (mobil), kecantikan wajah (kosmetik), kelembutan dan

kehalusan kulit (sabun mandi), dan lain-lain. Jika demikian,

fungsi perencanaan, produksi, dan pelayanan suatu

perusahaan sulit sekali menggunakan definisi seperti ini

sebagai dasar manajemen kualitas.


2. Product-based Approach
Pendekatan ini menganggap kualitas sebagai

karakteristik atau atribut yang dapat dikuantifikasikan dan

dapat diukur. Perbedaan dalam kualitas mencerminkan

perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut yang

dimiliki produk. Pandangan ini bersifat sangat objektif, maka

tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan,

dan preferensi individual.


3. User-based Approach
Pendekatan didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas

tergantung pada orang yang memandangnya, dan produk

yang paling memuaskan preferensi seseorang (perceived

quality) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.

Perspektif yang subjektif dan demand-oriented ini juga

menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki

kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula, sehingga

kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan

maksimum yang dirasakannya.


4. Manufacturing-based Approach
Perspektif ini bersifat supply-based dan terutama

memerhatikan praktek-praktek perekayasaan dan

pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai sama

dengan persyaratannya (conformance to requirements).

Bagian sektor jasa, dapat dikatakan bahwa kualitasnya

bersifat operations-driven. Pendekatan ini berfokus pada

penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal,

yang seringkali didorong oleh tujuan peningkatan

produktifitas dan penekanan biaya. Jadi yang menentukan

kualitas adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan,

bukan konsumen yang menggunakannya. Maka, dalam

konteks ini konsumen dipandang sebagai pihak yang harus

menerima standar-standar yang ditetapkan oleh produsen tau

penghasil produk.
5. Value-based Approach
Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan

harga. Dengan mempertimbangkan trade-off antara kinerja

dan harga, kualitas didefinisikan sebagai affordable

excellence. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif,

sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum

tentu produk yang paling bernilai, akan tetapi yang paling

bernilai adalah produk atau jasa yang paling tepat dibeli

(best-buy).
SOAL 5: SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MANAJEMEN
MUTU

Proses perkembangan menuju era mutu merupakan proses yang cukup panjang
dengan melewati berbagai pengalaman dan pendekatan metode yang bermacam-
macam. Perkembangan mutu yang terjadi tidak lepas dari awal perubahan era
menuju era industri dimana mulai dipergunakannya mesin-mesin untuk membantu
proses produksi. Secara garis besar perkembangan atau evalusi mutu adalah
sebagai berikut

a. Era tanpa mutu


Merupakan era dimana persaingan belum terjadi oleh karena produsen
atau pemberi pelayanan belum banyak, sehingga pelanggan pun belum diberi
kesempatan untuk memilih. Hal ini terjadi pula pada organisasi pemberi
pelayanan publik. Pada lembaga pelayanan publik yang dikelola oleh
pemerintah, masyarakat sebagai pelanggan tidak diberikan hak untuk
menuntut mutu pelayanan yang lebih baik atau yang diharapkan. Keadaan ini
menyebabkan mutu pelayanan organisasi publik belum menjadi penilaian
pengguna hanya mengutamakan yang penting ada dan dapat dipergunakan
saja.
b. Era Inspeksi
Era ini dimulai oleh perusahaan – perusahaan yang memproduksi barang,
hal ini terjadi karena mulai adanya persaingan antar produsen. Dengan
demikian tiap perusahaan mulai melakukan pengawasan terhadap produknya.
Pada era ini juga mulai dilakukan pemilahan mutu barang yang dilakukan
melalui inspeksi. Namun mutu produk hanya pada atribut yang melekat pada
produk. Oleh karena itu mutu hanya dipandang produk yang rusak, cacat atau
hanya pada penyimpangan dari atribut yang sehartusnya melekat pada produk
tersebut. Era ini menekankan pada deteksi masalah, keseragaman produk serta
pengukuran dengan alat ukur yang dilaukan oleh yang berfungsi menginpeksi
Fokus perusahaan terhadap mutu belum besar dan terbatas pada produk akhir
yaitu dilihat yang cacat atau rusak yang dibuang sedang yang baik yang
dilepas ke konsumen.
Era inspeksi ditandai dengan perhatian yang rendah dari pihak manajemen
terhadap mutu produk. Tanggung jawab terhadap mutu produk didelegasikan
pada departemen inspeksi yang bertugas hanya pada pendeteksian dan
penyisihan produk yang tidak memnuhi sysrat kualitas dari produk yang baik.
Pada era ini belum ada perhatian terhadap kualitas proses dan sistem untuk
merealisasikan produk tersebut.
c. Era Pengendalian Mutu
Era Pengendalian Mutu dimulai sekitar tahun 1930 an. Era ini disebut juga
era stastical control, yang lebih menekankan pada pengendalian, keseragaman
produk dan pengurangan aktivitas inspeksi serta dilakukan Departemen Teknis
dan Departemen Inspeksi. Pada era ini pula diperkenalkan pandangan baru
terhadap konsep Walter A Shewart, .Menurut pandangan ini mutu produk
merupakan serangkaian karakteristik yang melekat pada produk yang dapat
diukur secara kuantitatif.
Di Era statitical quality control atau jaman pengendalian mutu, manajemen
telah mulai memperhatikan pentingnya pendeteksian yaitu dengan cara
departemen inspeksi sudah mulai dilengkapi dengan alat dan metode statistik
di dalam mendeteksi penyimpangan yang terjadi dalam atribut produk yang
dihasilkan dari proses produksi. Terdapat perubahan dalam penanganan mutu
produk yaitu hasil detetksi yang secara statistikal dari penyimpangann mulai
dipergunakan oleh departemen produksi untuk memperbaiki proses dan sistem
produksi
d. Era Jaminan Mutu (Quality assurance)
Era jaminan mutu ini dimulai pada sekitar tahun 1960-an yang
menekankan pada koordinasi, pemecahan masalah secara proaktif.. Pada era
ini mulai dikenal adanya konsep total Quality Control (TQC) yang
diperekenalkan oleh Armand F pada tahun 1950.
Jaminan mutu merupakan seluruh perencanaan dan kegiatan sistimatik yang
diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa suatu
barang atau jasa dapat memenuhi persyaratan mutu. Jaminan mutu merupakan
bagian dari manajemen mutu yang difokuskan pada peningkatan kemampuan
untuk memenuhi persyaratan mutu.
Oleh karena itu jaminan mutu dilaksanakan secara berkesinambungan
sistimatis, objektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab,
masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetpakan dan
selanjutnya menetapkan serta melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai
dengan kemampuan yang tersedia, menilai hasil yang dicapai dan menyusun
saran tindak lanjut untuj lebih meningkatkan mutu pelayanan. (Azwar, 200) .
Sejak era inilah peran manajemen mulai diperhitungkan untuk terlibat dalam
penentuan dan penanganan mutu produk. Selain itu dalam era jaminan mutu
ini pula mulai diterapkan bukan hanya pada industri manufaktur, tetapi juga
pada industri jasa.
Di Indonesia era ini berkembang ditandai dengan dibentuknya Gugus
Kendali Mutu (GKM) di masing - masing bagian atau divisi pada setiap
organisasi. Kegiatan GKM ini diprakarsai oleh Departemen Perindustrian dan
Departemen Tenaga Kerja, kemudian diikuti oleh Departemen Kesehatan dan
Departemen Lainnya. Pada era ini GKM digalakkan bukan hanya secara
parsial, tetapi lebih bersifat nasional. Hal ini terlihat dengan dilakukannya
konvensi GKM tingkat kabupaten, tingkat provinsi dan tingkat nasional.
Menyimak konsep era Statistical Control ini dapat diterapkan tidak hanya
pada parusahaan manufaktur, maka sejak era ini pula Manajemen Mutu mulai
diterapkan pada organisasi non barang atau organisasi jasa, seperti pada
Rumah Sakit, Puskesmas dan organisasi jasa lainnya.
e. Era Management Mutu Terpadu atau Total Quality Management
Total Quality Management (TQM) dimulai pada tahun 1980 – an, era ini
menekankan pada manajemen stratejik. TQM merupakan suatu sistem yang
berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara
berkesinambungan kepuasan pelanggan pada titik penekanan biaya agar sama
dengan biaya yang sesungguhnya untuk menghasilkan dan memberikan
pelayanan. TQM juga sebuah upaya untuk mencapai keunggulan kompetitif
serta mengutamakan kebutuhan pasar dan konsumen yang dilakukan oleh
setiap orang dalam organisasi dengan leadership yang kuat dari pimpinan.
Management mutu terpadu atau Total Quality Management disebut pula
Continous Quality Improvemnt (CQI). Total Quality yang berarti komitmen
dan pendekatan yang digunakan secara terus menerus untuk meningkatkan
setiap proses pada setiap bagian organisasi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk
memenuhi bahkan melampui harapan dan outcome dari customer.
Tujuan dari diterapkan TQM perlu adanya perubahan budaya serta komitmen
dari seluruh jajaran mulai pimpinan puncak sampai level terbawah. Agar TQM
dapat berkelanjutan maka organisasi harus didukung oleh budaya yang
mendukung yang menekankan pada kerja kelompok, pemberdayaan dan
partisipasi karyawan, peningkatan terus menerus fokus pada pelanggan serta
kepemimpinan yang tepat. Prinsip TQM secara keseluruhan proses produk
maka titik beratnya pada penanganan kualitas pada seluruh aspek organisasi
(gambar )
f. Era Sitem Manajemen Mutu
Era ini dimulai pada sekitar tahun 1943 yaitu pada masa perang dunia II,
dimana sekutu mulai mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan peledak
Hal ini terkait dengan mutu bahan peledak untuk keperluan militer terutama
oleh pasukan Inggris. Berdasarkan keadaan tersebut pihak militer Inggris
mengembangkan serangkaian standar yang secara umum dapat menunjukkan
kemampuan suatu perusahaan dalam menyediakan produk bermutu tinggi
serta konsisten bagi kepentingan bahan militer . Pada akhir tahun 1960,
disusun standar sistem mutu AQAP (Allied Quality Assurance Publicators)
yaitu pengembangan standar yang sudah ada sebagai sistem kendali dengan
tujuan utamanya adalah untuk mengendalikan pemasok dalam pemenuhan
persyaratan.
Pada tahun 1979 anggota ISO untuk Inggris yaitu Britihs Standard Institute,
menyerahkan proposal kepada ISO agar dibentuk suatu komite teknis baru
untuk menyiapkan standar internasional yang berkaitan dengan teknik dan
praktik penjaminan mutu, maka dibentuklah komite teknis baru dengan nomor
ISO/TC 176. Sebagai hasil kerja ISO/TC 176, pada tahun 1987 dipublikasikan
seri standar ISO 9000 yaitu sistem manajemen mutu yang merangkum
sebagian besar standar sebelumnya disamping peningkatan dan penjelasan
standar baru.

DAFTAR PUSTAKA
http://syamsisite.blogspot.com/2010/11/sejarah-perkembangan-manajemen-
mutu.html (diakses tanggal 2 Maret 2020. Pukul 09:31)

http://dksteknik.blogspot.com/2016/09/jenis-jenis-mutu-menurut-
perspektif.html (diakses tanggal 2 Maret 2020. Pukul 09:27)

http://industripedia.blogspot.com/2015/10/pengertian-mutu-dalam-teknik-
industri.html (diakses tanggal 2 Maret 2020. Pukul 09:20)

http://standarkerja-produksi.blogspot.com/2009/05/mengapa-mutu-itu-penting-
istilah-mutu.html(diakses tanggal 2 Maret 2020. Pukul 09:10)

http://akoepoenya94.blogspot.com/2014/01/makalah-dimensi-mutu.html
(diakses tanggal 2 Maret 2020. Pukul 09:05)