Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN

“HIPERTENSI”

Disusun Oleh:
dr. Anggun Anggraini Wibisana

Pembimbing:
dr. Emmi Wijayanti

UPT PUSKESMAS BUGUL KIDUL


DINAS KESEHATAN KOTA PASURUAN
2015
LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN

TEMA : HIPERTENSI
TANGGAL : 19 AGUSTUS 2015
TEMPAT : RT 01 RW 01 KELURAHAN BLANDONGAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH


Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskular setiap tahun menjadi
masalah utama di negara berkembang dan negara maju. Berdasarkan data Global
Burden of Disease (GBD) tahun 2010, 50% dari penyakit kardiovaskuler
disebabkan oleh hipertensi.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Kearney et al (2005) dalam
Chockalingam et al (2006), dilaporkan bahwa sekitar 972 juta jiwa pada tahun
2000 di seluruh dunia menderita hipertensi dan negara berkembang di seluruh
dunia menyumbang hampir dua kali lipat dibandingkan dengan negara maju
(sekitar 639 juta jiwa di negara berkembang dan sekitar 333 juta jiwa di negara
maju) sehingga prevalensi kejadian hipertensi di seluruh dunia adalah sekitar
26,4% dari seluruh populasi di dunia. Selain itu, diprediksi juga bahwa pada
tahun 2025, kejadian hipertensi akan meningkat menjadi 60% dari seluruh
populasi, yaitu sekitar 1,56 milliar jiwa.
Prevalensi kejadian hipertensi berkisar antara 5-35 % di berbagai negara di
Asia sedangkan di daerah Asia Pasifik, prevalensi kejadiannya berkisar antara 5-
47% pada pria dan 7-38% pada wanita. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
2007 menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum
terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18
tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%,
dimana hanya 7,2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan
hanya 0,4% kasus yang minum obat hipertensi.
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang menetap yang penyebabnya
mungkin tidak diketahui (hipertensi esensial, idiopatik, atau primer) maupun
yang berhubungan dengan penyakit yang lain (hipertensi sekunder). Tekanan
darah adalah kekuatan darah untuk melawan tekanan dinding arteri ketika darah
tersebut melewatinya (Dorland, 2009).
Faktor risiko hipertensi antara lain adalah: faktor genetik, umur, jenis
kelamin, etnis, stress, obesitas, asupan garam, dan kebiasaan merokok. Hipertensi
bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Individu dengan riwayat keluarga
hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi.
Berdasarkan data di atas, penyuluh tertarik untuk melakukan promosi
kesehatan mengenai hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Bugul Kidul.

2. PERMASALAHAN DI KELUARGA, MASYARAKAT, MAUPUN


KASUS
a. Prevalensi Hipertensi di Indonesia cukup tinggi. Selain itu, akibat yang
ditimbulkannya menjadi masalah kesehatan masyarakat.
b. Sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis atau
masyarakat belum mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi.
c. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang hipertensi

3. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


a. Metode penyuluhan: penyuluhan dengan dialog dua arah yang
memungkinkan peserta untuk bertanya bebas kepada penyuluh.
b. Prioritas masalah:
 Pemahaman peserta tentang pengertian hipertensi
 Pemahaman peserta tentang penyebab dan gejala hipertensi
 Pemahaman peserta tentang komplikasi hipertensi
 Pemahaman peserta tentang cara pencegahan hipertensi
c. Intervensi masalah:
 Melakukan penyuluhan tentang pengertian hipertensi
 Melakukan penyuluhan tentang penyebab dan gejala hipertensi
 Melakukan penyuluhan tentang komplikasi hipertensi
 Melakukan penyuluhan tentang cara pencegahan hipertensi

4. PELAKSANAAN
Penyuluhan kesehatan mengenai hipertensi dilakukan pada tanggal 19
Agustus 2015 di RT 01 RW 01 Kelurahan Blandongan yang ada dalam wilayah
kerja Puskesmas Bugul Kidul. Peserta merupakan warga kelurahan Blandongan
yaitu dengan rentang usia 20 tahun hingga 60 tahun, baik wanita maupun pria
dengan jumlah peserta 22 orang. Penyuluhan ini menggunakan metode diskusi
dua arah karena dianggap lebih dapat dimengerti oleh peserta, dimana sebelumnya
telah disampaikan terlebih dahulu mengenai materi tentang hipertensi dan
membagikan leaflet yang berisi informasi singkat mengenai hipertensi. Setelah
penyampaian materi, ada sesi tanya jawab antar penyuluh dengan peserta.

5. MONITORING DAN EVALUASI TERMASUK DI DALAMNYA


PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pada sesi terakhir penyuluh mengkaji ulang apakah materi penyuluhan
sudah dapat diterima dengan baik oleh peserta. Setelah itu penyuluh
mendiskusikan ulang beberapa hal yang belum dipahami oleh peserta. Beberapa
peserta menanyakan keluhan-keluhan yang sering dirasakan seperti pusing atau
nyeri kepala apakah berhubungan dengan hipertensi, dan bagaimana pola
pengaturan diet yang baik untuk mencegah atau mengontrol hipertensi.
Selanjutnya diambil kesimpulan dari materi penyuluhan.

Pasuruan, Agustus 2015

Penyuluh, Pembimbing,

dr. Anggun A.W. dr. Emmi Wijayanti


MATERI PENYULUHAN

1. DEFINISI HIPERTENSI
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Hipertensi
didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 /
90 mmHg.

2. FAKTOR RISIKO HIPERTENSI


Faktor resiko terjadinya hipertensi antara lain:
1) Usia
Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Pada laki-
laki meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita
meningkat pada usia lebih dari 55 tahun.
2) Ras/etnik
Hipertensi bisa mengenai siapa saja. Bagaimanapun, biasa sering muncul
pada etnik Afrika Amerika dewasa daripada Kaukasia atau Amerika
Hispanik.
3) Jenis Kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada
wanita.
4) Kebiasaan/Gaya Hidup tidak Sehat
Gaya hidup tidak sehat yang dapat meningkatkan hipertensi, antara lain
minum minuman beralkohol, kurang berolahraga, dan merokok.
a. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan
hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok
menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-
paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Di otak, nikotin akan
memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau
adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi.
b. Kurangnya aktifitas fisik
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang
yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai
frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan
otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras usaha
otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan yang
dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer
yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas fisik
juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan
menyebabkan risiko hipertensi meningkat.

3. TANDA DAN GEJALA HIPERTENSI


Hipertensi pada tingkat awal, sesungguhnya asimtomatis (tanpa gejala).
Namun ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa bila ada gejala-gejala itu
terjadi pada tekanan darah yang tidak terkontrol dan penyakit sudah berlanjut pada
tahap berikutnya yaitu terdiri dari :
a. Sakit kepala atau rasa berat di tengkuk
b. Vertigo dan muka merah
c. Sulit tidur
d. Kelelahan dan mudah lemas
e. Sulit bernapas atau sesak napas
f. Kebingungan atau gelisah
g. Telinga berdenging
h. Penglihatan kabur atau scotoma dengan perubahan retina
i. Kekerapan nokturia akibat peningkatan tekanan darah dan bukan karena
gangguan ginjal
4. KOMPLIKASI HIPERTENSI
Tekanan darah tinggi dapat menimbulkan komplikasi pada organ-organ
tubuh yaitu sebagai berikut :
a. Komplikasi pada otak ( stroke ).
Aliran darah di arteri terganggu dengan mekanisme yang mirip dengan
gangguan aliran darah di arteri koroner saat serangan jantung atau
angina. Apabila otak kekurangan oksigen dan nutrisi akibat pembuluh
darah di otak tersumbat, maka akan mengakibatkan terjadinya stroke.
b. Komplikasi pada mata
Hipertensi dapat mempersempit dan menyumbat arteri dimata, sehingga
menyebabkan kerusakkan pada retina. Keadan ini disebut penyakit
vaskuler retina. Jika berkepanjangan dapat menyebabkan retinopati dan
berdampak kebutaan.
c. Komplikasi pada jantung.
Suatu keadaan dimana secara progresif jantung tidak dapat memompa
darah keseluruh tubuh secara efisien. Jika fungsi semakin memburuk,
maka akan timbul tekanan balik dalam system sirkulasi yang
menyebabkan kebocoran dari kapiler terkecil paru. Hal ini akan
menimbulkan sesak napas dan menimbulkan pembengakkan di kaki dan
pergelangan kaki.
d. Komplikasi pada ginjal.
Hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah pada ginjal mengkerut
(vasokontriksi) sehingga aliran nutrisi ke ginjal terganggu dan
menyebabkan kerusakan sel-sel ginjal yang pada akhirnya terjadi
gangguan fungsi ginjal. Apabila tidak segera ditangani dapat
menyebabkan gagal ginjal kronik atau bahkan gagal ginjal terminal
e. Kematian

5. PENATALAKSANAAN HIPERTENSI
Hipertensi tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan, dengan
diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Pengendalian
hipertensi bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih lanjut dan
upaya pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Dalam upaya meningkatkan status kesehatan dengan cara meningkatkan
kemampuan menyampaikan informasi yang jelas pada penderita mengenai
penyakit yang diderita serta cara pengobatan, keterlibatan dan cara pendekatan
yang dilakukan. Secara umum indikator keberhasilan pengobatan dan
pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi dapat digambarkan sebagai
berikut:
a. Tekanan darah terkendali atau terkontrol.
b. Tidak terjadi komplikasi pada penderita.
c. Kualitas kesehatan hidup menjadi lebih baik dan tetap produktif.
Penatalaksanaan pasien hipertensi dapat dilakukan dengan dua pendekatan
yaitu secara nonfarmakologis dan farmakologis yang akan dijelaskan sebagai
berikut. Penatalaksanaan nonfarmakologis antara lain sebagai berikut:
1) Mengurangi konsumsi garam.
Pembatasan konsumsi garam sangat dianjurkan, maksimal 2 gr garam
dapur perhari. Dan menghindari makanan yang kandungan garamnya
tinggi. Misalnya telur asin, ikan asin, terasi, minuman dan makanan
yang mengandung ikatan natrium.
2) Menghindari kegemukan (obesitas).
Menghindarkan kegemukan dengan menjaga berat badan tetap normal
atau tidak berlebihan.
3) Membatasi konsumsi lemak
Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak
terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang terlalu tinggi dapat
mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh
darah. Lama-kelamaan jika endapan kolesterol bertambah akan
menyumbat pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah. Dengan
demikian, akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung
memperparah hipertensi. Kadar kolesterol normal dalam darah dibatasi
maksimal 200 mg – 250 mg per 100 cc serum darah.
4) Olahraga teratur.
Olahraga secara teratur dapat menyerap atau menghilangkan endapan
kolestrol pada pembuluh nadi. Olahraga yang dimaksudkan adalah olah
raga yang ringan, seperti: gerak jalan, senam, berenang, naik sepeda.
Tidak diajurkan melakukan olahraga yang menegangkan seperti tinju,
gulat atau angkat besi, karena latihan yang berat bahkan dapat
menimbulkan hipertensi.
5) Makan banyak buah dan sayuran segar.
Buah dan sayuran segar mengandung banyak vitamin dan mineral.
Buah yang banyak mengandung mineral kalium dapat membantu
menurunkan tekanan darah yang ringan. Contoh buah yang baik untuk
dikonsumsi yaitu: apel, jeruk, tomat, pisang, kentang,mentimun, dll.
6) Tidak merokok.
Merokok merangsang meningkatkan tekanan darah. Nikotin yang
dihisap seorang perokok mampu mengeluarkan catecholamines dari
tubuh, yakni kumpulan zat kimiawi yang sangat dibutuhkan tubuh
diantaranya adalah hormon adrenalin. Keluarnya adrenalin dalam 14
jumlah besar ini mampu mempengaruhi kerja darah diantaranya
berdampak pada meningkatnya tekanan darah (hipertensi) sekitar 10- 20
jenjang. Merokok juga dapat menyebabkan penyempitan dan kekakuan
pembuluh darah.
7) Tidak minum alkohol atau bersoda.
Kurangi alkohol dan minuman bersoda karena dapat menaikkan laju
tekanan pembuluh darah di jantung. Alkohol dapat mengganggu system
kerja saraf pusat maupun saraf tepi. Jika kerja saraf simpatis terganggu,
maka akan terjadi gangguan pula pada pengaturan darah. Orang yang
gemar mengkonsumsi alkohol dengan kadar tinggi akan memiliki
tekanan darah yang cepat berubah dan cenderung meningkat tinggi.
8) Pemeriksaan tekanan darah secara teratur.
Pemeriksaan tekanan darah secara teratur minimal 2 minggu sekali
sangat perlu dilakukan, hal ini dimaksudkan untuk mengontrol tekanan
darah dan mempertahankan tekanan darahnya dalam ambang batas
normal. Tekanan darah tinggi tidak dapat di turunkan hingga normal
seperti semula, akan tetapi pengontrolan ini dimaksudkan hanya untuk
mempertahankan tekanan darahnya agar tidak meningkat.
9) Latihan relaksasi atau meditasi.
Relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stres atau
ketegangan jiwa. Relaksasi dilaksanakan dengan mengencangkan dan
mengendorkan otot tubuh juga dengan latihan nafas dalam. Relaksasi
dapat pula dilakukan dengan mendengarkan musik atau bernyanyi.
10) Berusaha membina hidup yang positif. Beberapa cara untuk membina
hidup yang positif adalah sebagai berikut :
a. Mengeluarka isi hati dan memecahkan masalah.
b. Membuat jadwal kerja, menyediakan waktu istirahat atau
kegiatan santai.
c. Menyelesaikan satu tugas pada satu saat saja, biarkan orang lain
menyelesaikan bagiannya.
d. Menolong orang lain.
LAPORAN PENYULUHAN

Nama Peserta Tanda Tangan


dr. Anggun A.W.

Nama Pendamping Tanda Tangan


dr. Emmi Wijayanti

Nama Wahana Kota Pasuruan (Puskesmas Bugul Kidul)


Tema Penyuluhan Hipertensi
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat
Tujuan Penyuluhan
mengenai hipertensi
Hari/Tanggal Rabu, 19 Agustus 2015
Waktu 10.00 WIB
Tempat RT 01 RW 01 Kelurahan Blandongan
Jumlah Peserta 22 orang
LAMPIRAN