Anda di halaman 1dari 13

PANDUAN

PERSETUJUAN TINDAKAN KHUSUS


(INFORMED CONSENT)

RUMAH SAKIT SANDI KARSA


MAKASSAR
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang menciptakan manusia dan menambah
ilmu pengetahuan bagi mereka yang berusaha mendapatkannya. Salawat dan salam
senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW, penghulu dan mahaguru bagi kita semua.
Alhamdulillah Panduan Pelayanan Pemberian Informed Consend di Rumah Sakit Sandi
Karsa telah kita miliki. Pedoman ini diharapkan menjadi acuan dalam peningkatan
mutu pelayanan di lingkungan Rumah Sakit Sandi Karsa yang kita cintai.
Ucapan terimakasih kepada seluruh bidang yang terkait yang telah medukung
penyusunan dan menyelesaikan Penduan Pelayanan Pemberian Informed Concent
diRumah Sakit Sandi Karsa ini. Kami percaya bahwa tidak ada yang sempurna kecuali
Allah SWT, saran dan masukan dari kita sangat diharapkan untuk kesempurnaan panduan
ini untuk masa yang akan datang.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan diperlukan pengembangan kebijakan,
Pedoman, Panduan Dan Standar Prosedur Oprasional ( SPO ). Untuk tujuan ini akan kami
evaluasi setidaknya setiap 2 tahun sekali. Masukan ,kritik, dan saran yang konstruktif
untuk pengembanhan panduan ini sangant kami harapkan dari para pembaca.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ………………………………………………………… i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………….. ii

BAB I DEFINISI ………………………………………………………….. 1

BAB II RUANG LINGKUP ………………………………………........... 3

BAB III TATA LAKSANA ………………………………………………… 5

BAB IV DOKUMENTASI ………………………………………………… 8

ii
Lampiran Keputusan Direktur RS Sandi Karsa
Nomor : 003/01.05/XII/2019
Tanggal : 06 Desember 2019
Tentang : Panduan persetujuan Tindakan khusus / Tindakan kedokteran
(informed concent)

BAB I
DEFINISI

A. PENGERTIAN :

1. Informed consent adalah pernyataan setuju ( concent ) atau ijin dari seseorang
(pasien) yang diberikan secara bebas, rasional, tanpa paksaan (Voluntary)
terhadap tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadapnya sesudah mendapat
informasi yang cukup tentang tindakan kedokteran yang dimaksud.
2. Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan
pribadinya, sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas.
3. Pasien adalah penerimaan jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit baik dalam
keadaan sehat maupun sakit
4. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan, memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang memerlukan kewenangan dalam menjalankan pelayanan
kesehatan
5. Dokter dan Dokter Gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi
spesialis lulusan pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi baik didalam maupun
diluar negeri yang diakui Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan perundang-
undangan.
6. DPJP adalah seorang dokter yang bertanggung jawab mengelola rangakaian
asuahan medis pasien.
7. Keluarga adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak kandung,
saudara-saudra kandung atau pengampunya.
a. Ayah :
Ayah kandung
Termasuk ayah adalah ayah angkat yang ditetapkan berdasarkan penetapan
pengadilan atau berdasarkan hukum adat
b. Ibu :
Ibu kandung
Termasuk ibu adalah ibu angkat yang ditetapkan berdasarkan penetapan
pengadilan atau berdasarkan hukum adat.
c. Suami :
Seorang laki-laki yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang perempuan
berdasarkan perarutan perundang-undangan yang berlaku
d. Istri :

1
Seorang perempuan yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang laki-laki
berdasarkan hukum peraturan perundang-undangan yang berlaku

2
BAB II

RUANG LINGKUP

Dalam menetapkan persetujuan tindakan kedokteran harus memperhatikan ketentuan-


ketentuan sebagai berikut:
1. Memperoleh informasi dan penjelasan merupakn hak pasien
2. Memberikan informasi dan penjelasan adalah kewajiban atau dokter gigi.
3. Pelaksanaan persetujuan tindakan Kedokteran dianggap benar jika memenuhi
persyaratan dibawah ini:
a. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan untuk tindakan
kedokteran yang dinyatakan secara spesifik ( the concesnt must be for what will
be actually performed )
b. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan tanpa paksaan
(voluntary )
c. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan oleh seseorang
(pasien) yang sehat mental dan yang memang berhak memberikannya dari segi
hukum.
d. Persetujuan dan Penolakan Tindakan Kedokteran diberi setelah diberi cukup
(adekuat) informasi dan penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan
kedokteran dilakukan.
4. Informasi dan penjelasan dianggap cukup (adekuat) jika sekurang-kurangnya
mencakup :
a. diagnosis dan tindakan kedokteran yang akan dilakukan.
b. Tujuan atau manfaat tindakn kedokteran yang akan dilakukan
c. Alternatif tindakan lain, dan risikonya ( alternative medical procedures and risk )
d. Berdasarkan risiko ( risk inherent in such medical procedures) dan komplikasi yang
mungkin terjadi
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan ( prognosis whit and without medical
procedure )
f. Risiko atau akibat pasti jika tindakan kedokteran yang direncanakan tidak dilakukan
g. Informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan
kedokteran yang dilakukan
h. Informasi akibat ikutan yang iasanya terjadi sesudah tindakan kedokteran

Landasan Hukum
a. Undang-undang RI No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
b. Kementrian Kesehatan RI satandar Akreditasi Rumah Sakit. Tahun 2011
c. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan
d. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dan Peraturan
e. Peraturan Menrti Kesehatan Republik Indonesia Nomor
585/Menkes/Per/IX/1989 Tentang Tersetujuan Tindakan Medik

3
f. Konsil kedokteran Indonesia, Buku Penyelenggara Prektik Kedokteran Yang
Baik, Jakarta, 2006
g. Konsil Kedokteran Indonesia, Buku Kemitraan Dalam Hubungan Dokter –
Pasien, Jakarta, 2006
h. Konsil Kedokteran Indonesia, Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran, 2006
b. Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008, maka semua tindakan medis/kedokteran
harus mendapatkan persetujuan dari pasien, jadi sifatnya adalah non-selective.
Hanya disebutkan bahwa tindakan medis yang berisiko tinggi harus mendapatkan
informed consent secara tertulis ( written consent). Pada keadaan emergensi atau
penyelamatan jiwa maka tidak diperlukan informed consent.

Dalam konteks praktik dilapangan informed consent tetap merupakan hal yang
penting, namun tidak boleh menjadi penghalang bagi tindakan penyelamatan jiwa.
Sedangkan pada kasus pasien anak-anak, tindakan medis tetap dapat dilakukan oleh
dokter walaupun tanpa persetujuan orang tua dengan syarat :
1. Tindakan medis yang akan dilakukan harus merupakan tindakan medis
terapetik, bukan eksperimental.
2. Tanpa tindakan medis tersebut, anak akan mati
3. Tindakan medis tersebut memberikan harapan atau peluang pada anak untuk
4. hidup normal, sehat dan bermanfaat.
Tanggung jawab memberikan informasi harus difahami sungguh-sungguh, bahwa:
1. Tanggung jawab memberikan informasi sebenarnya berada pada dokter yang
akan melakukan tindakan medis, karena hanya dia sendiri yang tahu persis
tentang masalah kesehatan pasien, hal-hal yang berkaitan dengan tindakan
medis tersebut, dan tahu jawabannya apabila pasien bertanya.
2. Tanggung jawab tersebut memang dapat didelegasikan kepada dokter lain,
perawat, atau bidan, hanya saja apabila terjadi kesalahan dalam memberikan
informasi oleh yang diberidelegasi, maka tanggung jawabnya tetap pada dokter
yang memberikan delegasi. Oleh karena itu, hendaknya para dokter hanya
mendelegasikan jika sangat terpaksa. Dan itu punhanya kepada tenaga kesehatan
yang tahu betul tentang problem kesehatan pasien,sehingga dapat memberikan
jawaban yang tepat apabila ada pertanyaan dari pasien. Materi/isi informasi
yang harus disampaikan :
1. Diagnosis
2. Dasar dignostik
3. Tindakan kedokteran
4. Indikasi tindakan
5. Tata cara tindakan medis/kedokteran tersebut
6. Tujuan tindakan medis/kedokteran yang akan dilakukan.
7. Risiko yang mungkin terjadi
8. komplikasi yang mungkin terjadi
9. Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan
10. Alternatif tindakan lain, dan risikonya.
11. Lain-lain (perkiraan biaya)

4
BAB III

TATA LAKSANA

1. Pemberian Informasi
a. Dari pihak Rumah Sakit
b. DPJP sebagai dokter yang akan melakukan tindakan medic mempunyai
tanggung jawab utama memberikan informasi dan penjelasan yang diperlukan.
Apabila berhalangan, informasi dan penjelasan yang harus diberikan dapat
diwakili kepada dokter atau dokter gigi lain dengan sepengetahuan DPJP yang
bersangkutan. Bila terjadi kesalahan dalam memberikan informasi tanggung
jawab berada ditangan DPJP yang memberikan delegasi.
Penjelasan harus diberikan secara lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti
atau cara lain yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman. Penjelasan
tersebut dicatat dan didokumentasikan dalam format rekam medis oleh dokter
atau dokter gigi yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan :
1) Tempat
2) Tanggal
3) Waktu
4) Nama saksi dan nama yang menyatakan
5) Tanda tangan saksi dan tanda tangan yang menyatakan
Dalam hal DPJP menilai bahwa penjelasan yang akan diberikan dapat merugikan
kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan penjelasan, maka
DPJP dapat memberikan penjelasan kepada keluarga terdekat dengan didampingi
oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi.
Hal-hal yang disampaikan pada penjelasan:
1. Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat meliputi :
a. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut
b. Diagnosis penyakit, atau dalam hal belum dapat ditegakkan, maka
sekurang-kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding
c. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membuthkan tindakan
d. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan
tindakan
2. Penjelasan tentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi:
a. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif,
diagnositik, terapeutik, ataupun rehabilitas
b. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama
dan sesudah tindakan, serta efek samping atau ketidak nyamanan yang
mungkin terjadi
c. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya
dibandingkan dengan tindakan yang direncanakan

5
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing
alternative tindakan
e. Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan
darurat akibat ririko dan kpmplikasi tersebut atau keadaan tak terduga
lainnya.
3. Penjelasan tentang risiko dak komplikasi tindakan kedokteran adalah semua
risiko dan komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran yang
dilakukan, kecuali :
a. Risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum
b. Risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau dampaknya
sangat ringan
c. Risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya
(unfoereseeable).
4. penjelasan tentang prognosis meliputi :
a. Prognosis tentang hidup matinya
b. Prognosis tentang fungsinya
c. Prognosis tentang kesembuhan
Dalam hal DPJP yang merawatnya berhalangan untuk meberikan penjelasan secara
langsung, maka pemberian penjelasan harus didelegasikan kepada DPJP lain yang
kompeten. Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu memberikan penjelasan sesuai
dengan kewenangannya. Tenaga kesehatan tersebut adalah tenaga kesehatan yang
ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien.
Demi kepentingan pasien, persetujuan tindakan kedokteran tidak diperlukan bagi
pasien sawat darurat dalam keadaan tidak sadar dan tidak didampingi oleh keluarga
pasien yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan kedokteran.

2. Dari Pihak Pasien Dan Keluarga


Yang berhak untuk memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi adalah :
1) Paisen sendiri, yaitu apabila telah berumur 18 tahun atau berumur kurang 18
tahun tapi telah menikah
2) Bagi pasien dibawah umur 18 tahun, persetujuan tindakan medis (informed concent)
atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai
berikut:
a) Ayah/Ibu kandung
b) Saudara-saudara kandung
3) Bagi pasien dibawah umur 18 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang
tuanya berhalangan hadir, persetujuan tindakan medis ( informed Concent) atau
penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka hak sebagai berikut:
a) Ayah/Ibu adopsi
b) Saudara-saudara kandung
c) Wali
4) Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, perstujuan tindakan medis (nformed
concent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut hak
sebagai berikut:

6
a) Ayah/ibu kandung
b) Wali yang sah
c) Saudara-saudara kandung
5) Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatella) persetujuan
atau penolakan tindakan medis diberikan menurut hal tersebut
a) Wali
b) Curator
6) Bagi pasien dewasa yang telah menikah/ orang tua, persetujuanatau menolak
tindakan medic diberikan oleh mereka menurut urutan hal tersebut
a) Suami/istri
b) Ayah/ ibu kandung
c) Anak-anak kandung
d) Saudara-saudra kandung

3. Pemberian Informed Consent


Tata cara pasien menyatakan persetujuan dapat dilakukan secara terucap (oral
consent), tersurat ( written consent), atau tersirat (impled consent).setiap tindakan
kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis
yang ditanda tangani oleh yang berhak memberi persetujuan. Persetujuan tertulisdibuat
dalam bnetuk pertanyaan yang tertuang dalam Formulir Persetujuan Tindakan
Kedokteran.
Sebelim ditanda tangani atau dibubuhkan cap ibu jari tangan kiri, formulir
tersebut sudah diisis lengkap oleh DPJP yang akan melakuakn tindakan kedokteranatau
oleh tenaga medis lain yang diberi delegasi, untuk kemudian yang bersangkutan
dipersilahkan untuk membaca, atau jika dipandang perlu dibacakan dihadapanya.
Persetujuan secara lisan diperlakukan pada tindakan kedokteran yang tidak
mengandung ririko tinggi. Dalam hal persetujuan yang diberikan dianggap
meragukan, maka dapat diminta persetujuan tertulis.
Pada keadaan khusus perlu adanya tindakan penghentuan atau prnundaan
bantuan hidup dasar pada seorang pasien harus mendapat persetujuan keluarga terdekat
pasien. Persetujuan penghentian/pennundaan bantuan hidup oleh keluarga terdekat
pasien diberikan setelah keluarga mendapat penjelasan dari DPJP yang bersangkutan.
Persetujuan harus diberikan secara tertulis.

7
BAB IV

DOKUMENTASI

Semua rangkaina pelayanan pada pasien dalam memberikan asuhan medic diperlukan
adanya persetujuan Tindakan Khusus ( Infirmed Consend ) secara terkoordinir dan
terintegrasi dalam suatu rekam medis agar asuhan yang diterima oleh pasien / keluarga
terencana dengan baik, terpantau sengga pelayanan yang diberikan secara optimal dan
sesuai kebutuhan asuhan pasien

Untuk mempermudah dan sebagai bukti dokumentasi proses asuhan diatas dilakukan
dengan menggunakan instrument yang telah disediakan sebagai mana terlampir dalam
panduan ini.

1. Format Informed Consent ( persetujuan Tindakan ) terlampir