Anda di halaman 1dari 24

SAP 10

10.1 TAHAPAN PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA


Pengolahan data adalah kegiatan pikiran dengan bantuan tangan atau suatu peralatan, dan
mengikuti serangkaian langkah, perumusan atau pola tertentu untuk mengubah data, sehingga
data tersebut, bentuk, susunan, sifat, atau isinya menjadi lebih berguna. Tujuan pengolahan data
adalah sebagai dasar untuk mengadakan generalisasi dari kondisi yang bersifat khusus sehingga
diperoleh kondisi yang bersifat umum.
Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil penelitian
yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang
diinginkan.Penyajian data ini bertujuan memudahkan pengolahan data dan pembaca memahami
data sebagai dasar pengambilan keputusan. Penyajian data dalam sebuah tabel ataupun gambar
grafik memiliki maksud tertentu, seperti halnya pepatah yang mengatakan “satu gambar sama
halnya dengan seribu kata,” yang bermakna bahwa penyajian data dalam bentuk gambar akan
lebih cepat bisa ditangkap atau dimengerti daripada kata-kata yang puitis sifatnya.

10.2 EDITING
Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah dikumpulkan, karena
kemungkinan data yang masuk (raw data) atau data terkumpul itu tidak logis dan meragukan.
Tujuan editing adalah untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan
di lapangan dan bersifat koreksi. Pada kesempatan ini, kekurangan data atau kesalahan data
dapat dilengkapi atau diperbaiki baik dengan pengumpulan data ulang atau pun dengan
interpolasi (penyisipan). Hal-hal yang perlu diedit pada data masuk adalah sebagai berikut:
1. Dipenuhi tidaknya instruksi sampling
2. Dapat dibaca atau tidaknya data yang masuk
3. Kelengkapan pengisian
4. Keserasian(consistency)
5. Apakah isi jawaban dapat dipahami
10.3 CODING
Coding adalah pemberian atau pembuatan kode-kode pada tiap-tiap data yang termasuk
dalam kategori yang sama. Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk angka-angka atau
huruf-huruf yang memberikan petunjuk, atau identitas pada suatu informasi atau data yang akan
dianalisis. Contoh kode pendidikan, kode daerah (kabupaten, kecamatan, dan desa).
Pemberian kode pada data adalah menterjemahkan data kedalam kode-kode yang
biasanya dalam bentuk angka. Tujuannya ialah untuk dapat dipindahkan kedalam sarana
penyimpanan, misalnya komputer dan analisa berikutnya. Dengan data sudah diubah dalam
bentuk angka-angka, maka peneliti akan lebih mudah mentransfer kedalam komputer dan
mencari program perangkat lunak yang sesuai dengan data untuk digunakan sebagai sarana
analisa, misalnya apakah data tersebut dapat dianalisa dengan menggunakan software SPSS.
10.4 TABULASI YANG DIDAHULUI OLEH TAHAPAN ENTRY DATA
Jika data telah selesai di-edit dan di-coding, maka data siap untuk ditabulasikan. Tabulasi
adalah proses menempatkan data dalam bentuk tabel dengan cara membuat tabel yang berisikan
data sesuai dengan kebutuhan analisis. Tabel yang dibuat sebaiknya mampu meringkas semua
data yang akan dianalisis. Pemisahan tabel akan menyulitkan peneliti dalam proses analisis data.
Tabulasi dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu tabulasi langsung dan tabulasi data tidak
langsung. Tabulasi langsung digunakan hanya jika data bersifat sangat sederhana. Sedangkan
tabulasi yang digunakan para peneliti adalah tabulasi tidak langsung, Dengan cara tabulasi ini,
penulis tidak langsung menghitung data-data yang diterima dari kuesioner yang telah diisi, tetapi
harus melalui beberapa tahapan. Ada satu tahapan dalam sistem tabulasi tidak langsung, yaitu
pembuatan matriks tabulasi dan data entry.
Matriks tabulasi adalah tabel yang terdiri dari kolom-kolom dan baris-baris, yang akan
diisi dengan data-data. Data entry adalah proses “pemindahan” data dari instrumen ke dalam
matriks tabulasi. Instrumen yang dimaksud adalah kuesioner.Data entry bersifat teknis dan
klirikal, tetapi sangat penting artinya. Meskipun instrumen bagus dan proses pengumpulan data
juga bagus, namun bila data entry banyak cacat dan salah, maka hasil penelitian akan banyak
kehilangan validitasnya.
Untuk penghitungan data dalam proses tabulasi, penulis melakukannya dengan
menggunakan rumus presentase:
𝑓
𝑃= 𝑥100%
𝑛

Keterangan:
P = persentase, f = frekuensi, n = jumlah sampel yang diolah
11 PENYAJIAN DATA (TABEL, GRAFIK)
Agar publik lebih mudah memahami dan mengartikandata yang sudah diolah
tersebut.Secara umum ada beberapa cara penyajian data statistik yangsering digunakan. Menurut
Sudjana di dalam bukunya yang berjudul “Metoda Statistika”, secara garis besar penyajian data
yang sering dipakaiadalah tabel atau daftar dan grafik atau diagram. Menurut pendapat lain,
Riduwan dalam bukunya yang berjudul “Dasar – Dasar Statistika”cara penyajian data yang
sering dipakai adalah, tabel, grafik, diagram, pengukuran terdentensi sentral dan ukuran
penempatan serta pengukuran penyimpangan.
1. Tabel
Tabel dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu: tabel biasa, tabel kontingensi, dan tabel
distribusi frekeunsi. Secara garis besar ada beberapa cara dan aturan dalam pembuatan tabel,
yakni:
a. Judul tabel, ditulis ditengah-tengah bagian teratas, dalam beberapa baris, semuanya dalam
huruf besar.
b. Secara singkat dan jelas dicantumkan meliputi: apa, macam, dan klasifikasi, dimana, bila
dansatuan atau unit data yang digunakan.
c. Tiap baris hendaknyamenuliskan sebuah pernyataan lengkap, dan sebaiknya
jangandilakukan pemisahan bagian kata dan/atau kalimat.
d. Judul kolom ditulis dengan singkat dan jelas, bisa dalam beberapa baris. Usahakan jangan
melakukan pemutusan kata. Demikian halnyadengan judul baris.
e. Sel tabel adalah tempat nilai-nilai dituliskan.Dikiri bawah tabel terdapat bagian untuk
catatan-catatan yang perluatau biasa diberikan. Biasanya dari mana data didapatkan
(sumber data). Jika sumber data tidak ada, berarti penulis yang membuat datasendiri (data
karangan atau data fiktif).
Selain hal-hal diatas ada juga beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan yaitu:
1) Nama-nama sebaiknya disusun berdasarkan abjad.
2) Waktu disusun secara berurut atau kronologis.
3) Kategori dicatat menurut kebiasaan, misalnya: laki-laki terlebih dulu kemudian
perempuan, besar terlebih dulu kemudian kecil, untung terlebih dulu kemudian rugi.
Selanjutnya berikut ini akan dijabarkan jenis-jenis tabel:
a. Tabel Biasa
Tabel biasa sering digunakan untuk bermacam keperluan baik bidang ekonomi, sosial,
budaya dan lain-lain untuk menginformasikandata dari hasil penelitian atau hasil penyelidikan.
Tabel biasa ini biasanyamasih dalam bentuk tabel yang sederhana, yang mudah untuk dipahami
oleh pembaca atau publik. Contoh:
b. Tabel Kontingensi
Tabel Kontigensi khusus data yang terletak antara baris dan kolom berjenis variabel
kategori.Maksudnya untuk data yang terdiri atas dua faktor atau dua variabel faktor yang satu
terdiri atas b kategori dan lainnya terdiri atas k kategori, maka dapat dibuat tabel kontingensi
berukuran b*k dengan b menyatakan baris dan k menyatakan kolom. Contoh tabel kontingensi
yang terdiri atas dua baris dan dua kolom:
c. Tabel Distribusi Frekuensi
Jika ada data kuantitatif dibuat menjadi beberapa kelompok maka akan diperoleh daftar
distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi adalah penyusunan suatu data mulai dari terkecil sampai
dengan terbesar yang membagi banyaknya data dalam beberapa kelas.Dalam distribusi frekeunsi,
banyak obyek dikumpulkan dalam kelompok-kelompok berbentuk a-b, yang disebut kelas
interval.
Distribusi frekuensi terdiri dari dua yaitu distribusi frekensi kategori dan distribusi
numerik.Distribusi frekuensi kategori ialah distribusi pengelompokkan datanya disusun
berbentuk kata-kata atau didasarkan pada kategori.Distribusi numerik adalah distribusi frekuensi
yang penyatuan kelas-kelasnya didasarkan pada angka-angka.
2. Grafik
Grafik adalah lukisan pasang surutnya suatu keadaan dengan garis atau gambar (tentang
turun naiknya suatu statistik).Beberapa bentuk grafik yang umunya dikenal adalah histogram,
poligon frekuensi, dan ogive.
a. Histogram
Histogram adalah grafik yang menggambarkan suatu distribusi frekuensi dengan
berbentuk beberapa segiempat.Yang dituliskan pada sumbu datar pada histogram adalah
batas-batas kelas interval.Bentuk histogram hampir menyerupai diagaram batang hanya
disisi-sisi batang yang berhimpitan.
b. Poligon Frekuensi
Poligon frekuensi ialah grafik garis yang menghubungi nilai tengah tiap sisi atas yang
berdekatan dengan nilai tengah jarak frekuensi mutlak masing-masing. Jika tabel
distribusi frekeunsi mempunyai kelas-kelas interval yang panjangnya berlainan,maka
tinggi diagram tiap kelas harus disesuaikan .Oleh karena itu ambil panjang kelas yang
sama yang terbanyak terjadi sebagai satuan pokok. Tinggi untuk kelas-kelas lainnya
digambarkan sebagai kebalikan dari panjang kelas dikalikan dengan frekuensi yang
diberikan.
c. Ogive
Ogive ialah distribusi frekuensi kumulatif yang menggambarkan diagramnya dalam
sumbu tegak dan mendatar atau eksponensial.
SAP 11

11.1 Macam-Macam Metode Analisis Data

Secara umum terdapat dua metode yang digunakan dalam menganalisis data yaitu :
Analisis data secara kualitatif, metode ini digunakan pada penelitian yang bersifat kualitatif.
Pada metode ini, analisis statisttik tidak digunakan, tetapi membaca tabel, grafik, atau angka
yang tersedia kemuadian melakukan uraian dan penafsiran. Analisis data secara kuantitatif,
merupakan metode yang digunakan pada penelitian dengan pendektan kuantitatif, pada
pendekatan ini, menggunakan alat-alat statstik. Bila pendekatan menggunakan alat statistik
berarti analisis data dilakukan menurut dasar-dasar statistic. Ada dua macam statistik yang
digunakan yaitu :

1. Statistik deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku
untuk umum atau generalisasi. Termasuk dalam statistik deskriptif adalah penyajian data melalui
table, grafik, diagram lingkaran, pictogram, pengukuran tendensi sentral, perhitungan desil,
persentil, perhitungan penyebaran data melalui rata-rata dan standar deviasi, perhitungan
prosentase.
a) Frekuensi, merupakan salah satu ukuran dalam statistik deskriptif yang menunjukkan
nilai sidtribusi data penelitian yang memiliki kesatuan kategori. Frekuensi suatu distribusi
data penelitian dinyatakan dengan ukuran absolut (f) atau proporsi (%).
b) Tendensi Sentral, merupakan ukuran dalam statistik deskriptif yang menunjukkan nilai
sentral dari distribusi data penelitian. Tendensi sentral dapat dinyatakan dalam tiga
ukuran, yaitu rata-rata (mean), median, dan modus.
c) Dispersi, mengukur variasi data yang diteliti dari angka rata-ratanya. Perbedaan antara
nilai data yang diteliti dengan nilai rata-ratanya disebut dengan deviasi.

2. Statistik inferensial
Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data
sampel dengan maksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. statistik ini disebut
sebagai statistik probabilitas, karena kesimpulan yang diberlakukan untuk populasi berdasarkan
data sampel itu kebenarannya bersibat peluang (probability). Statistik inferensial meliputi
statistik parametris dan statistik nonparametris.
a) Statistik parametrik, digunakan untuk menguji parameter pupulasi melalui statistik atau
menguji ukuran populasi melalui data sampel. Penggunaan statisktik parametrik jika data
data penelitian diukur dengan skala interval dan skala rasio dan asumsi bahwa distribusi
data populasi yang digunakan untuk memilih sampel adalah normal.
b) Statistik nonparametrik, digunakan jika data penelitian diukur dengan skala nominal dan
skala ordinal, sehingga tidak memerlukan asumsi data populasi yang distribusinya
normal.
Jumlah variabel yang diteliti merupakan factor lain yang dipertimbangkan dalam pemilihan
metode statistik. Jika dilihat dari jumlah variabel yang dianalisis ada 3 jenis analisis data yaitu:
1) Analisis data univariate, terdiri atas metode-metode statistik deskriptif dan statistic
inferensial yang digunakan untuk menganalisis data satu variabel penelitian. Tujuannya
untuk mendeskripsikan distribusi satu variabel penelitian dan uji perbedaan antara data
yang diteliti dengan ekspektasi atau hipotesis peneliti.
2) Analisis data bivariate, terdiri atas metode-metode statistik deskriptif dan statistic
inferensial yang digunakan untuk menganalisis data dua variabel penelitian. Tujuannya
untuk mendeskripsikan distribusi data, menguji perbedaan dan mengukur hubungan
antara dua variabel yang lain diteliti.
3) Analisis data multivariate, terdiri atas metode-metode statistik deskriptif dan statistik
inferensial yang digunakan untuk menganalisis data lebih dari dua variabel penelitian.
Tujuannya, disamping untuk mendeskripsikan distribusi data, juga menguji dependensi
dan interdependensi antar variabel yang diteliti.

11.2 Pemilihan Metode Analisis Data


Pemilihan metode analisis data menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif.
Dalam pendekatan kuantitatif persyaratan pertama yang harus terpenuhi adalah alat uji statistik
yang akan digunakan harus sesuai. Pertimbangan utama dalam memilih alat uji statistik
ditentukan oleh pertanyaan untuk apa penelitian tersebut dilakukan dan ditentukan oleh
tingkat/skala, distribusi dan penyebaran data. Pertimbangan kedua dalam memilih alat uji
statistik ini adalah luasnya pengetahuan statistik yang dimiliki serta ketersediaan sumber-sumber
dalam hubungannya dengan perhitungan dan penafsiran data (Rahyuda, 2016).
Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif berbeda dengan pendekatan kuantitatif,
dalam pendekatan kualitatif perhatian dipusatkan kepada prinsip umum yang mendasari
perwujudan dan satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia atau pola yang ada. Analisis
yang dilakukan adalah gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat
yang bersangkutan untuk memperoleh pola yang berlaku, dan pola tersebut dianalisis dengan
teori yang objektif.
Penelitian kualitatif mampu mengungkapkan gejala yang ada di masyarakat secara
sistematis. Oleh karena itu urutan atau sistimatika yang ada dalam penelitian memberikan urutan
serta pola berfikir secara sistematis dan komplek. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini
mampu mengungkap gejala yang ada di masyarakat secara sistematis secara mampu
mengungkapkan kejadian yang sebenarnya sehingga akan sulit ditolak kebenarannya. Dalam
memilih metode analisis perlu dipertimbangkan:
1) Kecocokan/kesesuaian metode.
2) Kehandalan/ketangguhan.
3) Kepekaan.
4) Kecepatan/kemudahan.
5) Kepraktisan / fleksibel.
6) Keamanan.
Cara menentukan metode analisis yang akan digunakan:
1) Menetapkan tujuan.
2) Jenis metode.
3) Kemungkinan penggunaan metode.
4) Macam atribut metode yang digunakan.
5) Pemilihan metode alternatif.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode analisis adalah:
1) Apakah analisis dilakukan untuk 1 sampel, jarang atau sering dengan contoh yang sama.
2) Pereaksi apa saja yang harus tersedia.
3) Berapa lama waktu yang diperlukan.
4) Apa jenis matriks sampel yang dianalisis.
5) Berapa tingkat ketelitian yang diharapkan.
6) Apa ada zat pengganggu.
7) Apa ada badan khusus atau persyaratan peraturan, batas tindakan, atau batas pelaporan.
8) Apakah diperlukan prosedur yang mampu menseleksi,mendeteksi, dan identifikasi untuk
campuran.
9) Berapa biaya yang harus dibayar pelanggan.
Jika menggunakan metode yang dikembangkan sendiri harus:
1) Merupakan kegiatan yang direncanakan.
2) Ditugaskan kepada personil yang memenuhi persyaratan.
3) Dilengkapi dengan sumber daya laboratorium yang memadai.
Apabila menggunakan metode non standar, maka harus :
1) Mendapat persetujuan pemilik sampel.
2) Memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemilik sampel.
3) Sesuai dengan tujuan analisis.

11.3 Pemilihan Metode Statistik Menurut Skala Pengukuran


Pemilihan terhadap alat statistika dalam penelitian kuantitatif sangat tergantung pada
skala pengukuran dari variabel yang digunakan. Dalam analisis nantinya apakah menggunakan
statistik parametrik atau statistik non parametrik. Bila dalam analisis kuantitatif tersebut dimana
skala ukuran variabel adalah nominal atau ordinal umumnya menggunakan statistik non
parametrik. Apabila skala ukuran variabel yang digunakan adalah interval atau rasio maka
statistik yang digunakan adalah statistik parametrik. Walaupun demikian untuk skala interval
atau rasio dapat juga menggunakan alat statistik non parametrik namun banyak sekali kehilangan
informasi yang dimiliki oleh data dengan skala interval dan rasio tersebut.
Penggunaan statistik parametrik dan non parametrik untuk menganalisis data khususnya
menguji hipotesis yang diajukan. Contoh statistik parametrik antara lain korelasi product
moment, korelasi parsial, korelasi ganda, regresi, analisis varian dan sebagainya. Contoh statistik
non parametrik adalah Chi kuadrat, Mann Whitney, Mc Memar, Cochran, Coefisien contingency,
korelasi Rank Spearman, Kruskal Wallis, dan sebagainya.
Menurut Sugiono (2003:147), hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik
parametrik merupakan dugaan terhadap nilai dalam satu sampel dibandingkan dengan standar,
sedangkan hipotesis deskriftif yang akan diuji dengan statistik non parametrik merupakan
dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai antar kelompok dalam satu sampel.
Hipotesis komparatif merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai-nilai 2
kelompok atau lebih. Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap ada tidaknya hubungan secara
signifikan antara dua variabel atau lebih.
Dibawah ini diberikan tabel yang berisi tentang penggunaan statistik parametrik dan non
parametrik untuk menguji hipotesis.
Macam Bentuk Hipotesis
data Deskriptif Komparatif (2 sampel) Komparatif (lebih dari Asosiatif
(satu dua sampel)
variabel Relatif Independen Relatif Independen
atau satu
sample)
Nominal Binomial Mc Fisher Exact Cochran Q X2 untuk k Contingency
X2 satu Memar Probability sampel Coefficient
sampel X2 dua
sampel
Ordinal Run Test Sign Test Median Test Priedman Median Spearman
Wilcoxon Mann Two Way Extension Rank
Matched Whitney Anova Kruskal Correlation
Pairs Test Wallis one Kendall
Kormogorov Way Anova Tahu
Semmirnov
Wald
Wolfowitz
Macam Bentuk Hipotesis
data Deskriptif Komparatif (2 sampel) Komparatif (lebih dari Asosiatif
(satu dua sampel)
variabel Relatif Independen Relatif Independen
atau satu
sample)
Interval t-test t-test of t-test One-Way One-Way Korelasi
Rasio relative independent Anova Anova product
moment
Two- Two-Way Korelasi
Way Anova Anova parsial
Korelasi
ganda
Regresi
sederhana
dan ganda

Pemilihan metode statistik juga dipengaruhi oleh tipe skala pengukuran yang digunakan
(skala nominal, skala ordinal, skala interval, skala rasio). Tipe skala pengukuran menjadi
pertimbangan peneliti untuk menetukan pemilihan metode parametrik dan non parametrik dalam
statistik inferensial. Jika suatu penelitian menggunakan skala interval dan skala rasio dengan
ukuran sampel relative besar (n>30) statistik parametrik merupakan metode analisis data yang
tepat, dengan asumsi bahwa distribusi populasi datanya normal. Jika peneliti tidak menggunakan
asumsi normalitas, penggunaan statistik non parametrik merupakan metode analisis yang tepat.

11.4 Interpretasi Hasil-Hasil Analisis Data


Untuk interpretasi yang didasarkan atas statistik deskriptif khususnya tabulasi silang ada
ketentuan atau aturan yang perlu diperhatikan. Jika diasumsikan ada satu variabel yang bertindak
sebagai variabel pengaruh dan satunya lagi sebagai variabel terpengaruh maka arah perhitungan
untuk tabulasi silang selalu dihitung searah dengan variabel pengaruhnya. Dalam
menginterpretasikan tabulasi silang tersebut dengan membandingkan angka persen pada sel tabel
searah dengan variabel pengaruhnya.
Interpretasi hasil penelitian dilakukan untuk mencari makna dan implikasi yang lebih luas
dari hasil-hasil penelitian. Interpretasi hasil analisis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
sebagai berikut:
1. Interpretasi secara terbatas karena peneliti hanya melakukan interpretasi atas data dan
hubungan yang ada dalam penelitiannya.
2. Peneliti mencoba mencari pengertian yang lebih luas tentang hasil-hasil yang telah
didapatkannya dari analisis.
Interpretasi secara terbatas karena peneliti hanya melakukan interpretasi atas data dan
hubungan yang ada dalam penelitiannya. Interpretasi ini dalam pengertian sempit tetapi paling
sering dilakukan. Pada waktu menganalisis data penelitian, secara otomatis peneliti membuat
interpretasi dimana analisis dan interpretasi yang dilakukan sangat erat hubungannya karena
keduanya dilakukan hampir bersamaan. Apabila peneliti mencoba mencari pengertian yang lebih
luas tentang hasil-hasil yang telah didapatkannya dari analisis. Hal ini dilakukan oleh peneliti
dengan cara membandingkan hasil analisis dengan kesimpulan peneliti lain dan dengan
menghubungkan kembali interpretasinya dengan teori. Tahap ini sangat penting dilakukan,
namun sering tidak dilakukan oleh peneliti sosial. Misalnya suatu penelitian menggunakan teknik
korelasi untuk mencari hubungan dua variabel. Setelah dihitung diperoleh hasil
koefisien korelasi yang cukup tinggi (r = 0,85) dengan tingkat signifikansi 0,001, tahap inilah
yang dinamakan analisa. Proses analisa kemudian dilanjutkan dengan menginterpretasikan
koefisien korelasi yang diperoleh tersebut. Dalam proses interpretasi ada serangkaian pertanyaan
yang harus dijawab oleh seorang peneliti yaitu sebagai berikut ini:
1. Apakah arti koefisien korelasi 0,85 tersebut?
2. Apakah arti yang lebih luas dari penemuan tersebut bila dibandingkan dengan hasil
penelitian-penelitian terdahulu?
Arti koefisien korelasi 0,85 ini adalah karena nilainya tinggi dan signifikan dapat
dikatakan bahwa korelasi yang tinggi dapat disimpulkan bahwa hubungan yang tinggi antara
variabel yang satu dengan variabel yang lainnya bukan terjadi secara kebetulan tetapi secara
sistematis. Maka dapat dikatakan hipotesis tersebut didukung oleh observasi atau realitas, dengan
demikian hasil ini dapat dikatakan mendukung teori dengan konsisten.
SAP 12
12.1. TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN
Langkah terakhir dari suatu kegiatan penelitian adalah menyusun laporan. Bagaimanapun
baiknya pelaksanaan suatu penelitian, bagaimanapun bermutunya model-model yang sudah
dibangun dari penelitian tersebut, belumlah dianggap benar-benar berhasil jika laporan penelitian
belum dibuat. Hasil kegiatan harus ditulis dan dilaporkan, karena laporan merupakan media
komunikasi antara penyusun/lembaga pelaksanaan kegiatan dengan badan-badan atau pihak lain
yang berkepentingan dengan laporan tersebut. Lebih-lebih laporan tersebut merupakan hasil
evaluasi, baik terhadap input, proses, output, atau dampak dari suatu kegiatan, sehingga akan
sangat bermanfaat bagi pihak yang berwenangan untuk dijadikan dasar pengambilan kebijakan.
Tanpa ada laporan penelitian akan sulit untuk diketahui apakah suatu kegiatan penelitian telah
sesuai dengan apa yang ingin dituju. Apabila telah sesuai, faktor-faktor kekuatan apa yang
mendukung keberhasilan kegiatan tersebut, apabila tidak sesuai di bagian mana/faktor-faktor apa
yang menyebabkan kegiatan tersebut tidak mencapai sasaran.
Kesemua ini tidak hanya perlu diketahui oleh para penyelenggara kegiatan, tetapi juga
pengambil kebijakan sehingga segera dapat diambil langkah-langkah perbaikan. Penyusunan
laporan penelitian lebih merupakan sent, sehingga pengalaman penulis lebih banyak berperan
dalam menambah keindahan penulisan. Bentuk laporan penelitian sangat tergantung pada siapa
pembaca yang ditargetkan, apakah masyarakat luas, akademisi, atasan sendiri atau lainnya.
bahasa yang digunakan, gaya bahasa yang dipakai serta istilah-istilah yang dipilih dimaksudkan
supaya pembaca dapat mencerna isi laporan tersebut dan dapat memahami penemuan-penemuan
yang disepakati.
Karena itu sistematika penyusunan laporan, cara penyampaian temuan, alat-alat yang
digunakan serta penafsiran yang diberikan harus menemui sasaran. Walaupun pekerjaan
penulisan laporan penelitian seringkali kurang mengasikkan, tetapi laporan harus dibuat, karena
segala kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan, lebih-lebih melibatkan dana masyarakat,
harus dipertanggung jawabkan.
Penulisan laporan harus menyadari bahwa laporan yang dibuatnya mengemban fungsi
komunikasi. Laporan penelitian yang dibuat bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi sebagai alat
komunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu pembaca yang dituju sangat menentukan corak
laporan penelitian yang dibuat. Laporan penelitian yang dibuat untuk kalangan ilmuan akan
sangat berbeda dengan laporan yang ingin disampaikan pada pembuat keputusan. Laporan juga
akan berbeda dalam bentuk dan cara pengungkapannya jika laporan tersebut ditujukan kepada
masyrakat awam.

12.2. FORMAT LAPORAN PENELITIAN


Dalam penyusuanan laporan, Sugiyono (1999) menyarankan sebaiknya peneliti berperan
sebagai pembaca, sehingga laporan yang disajikan dapat dinilai apakah sudah baik atau belum.
Laporan penelitian sebaiknya dibuat bertahap, tahap pertama berupa laporan pendahuluan, dan
tahap kedua berupa laporan akhir.
Laporan pendahuluan sifatnya adalah draft yang masih perlu disempurnakan.
Penyempurnaan dapat dilakukan dengan cara menyeminarkan hasil penelitian, atau
mengkonsultasikannya dengan dosen pembimbing. Melalui seminar dan konsultasi kekurangan-
kekurangan akan dapat diperbaiki.
Laporan penelitian adalah merupakan laporan ilmiah, untuk itu maka harus dibuat secara
sistematis dan logis pada setiap bagian sehingga pembaca mudah memahami langkah-langkah
yang telah ditempuh dalam penelitian dan hasilnya. Karena sifatnya alamiah, maka harus
replicable, yaitu harus bisa diulangi oleh orang lain yang akan membuktikan hasil atau temuan
dalam penelitian itu.
Titik tolak dalam penyusunan laporan penelitian adalah rancangan penelitian yang telah
dibuat. Dalam hal tersebut kedudukan rancangan penelitian menjadi sangat penting. Kalau dalam
rancangan penelitian berisi tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian, maka
dalam laporan penelitian berisi laporan pelaksanaan dari hasil rancangan penelitian.
Laporan umumnya terdiri dari tiga (3) bagian besar yaitu bagian awal, bagian utama,
dan bagian akhir. Bab-bab pada bagian utama laporan dalam pembahasan mengenai etika
penelitian bisnis telah disampaikan bahwa salah satu fungsi dari rancangan penelitian adalah
sebagai alat evaluasi keberhasilan penelitian, hubungan yang erat satu dengan lainnya, bahkan
bab-bab berikutnya merupakan jawaban pada bab-bab sebelumnya.

Bagian Awal
Pada umumnya bagian awal berisikan:
1. Judul kegiatan, ditulis dengan kalimat yang jelas dan padat
2. Prakata, berisi pernyataan-pernyataan tentang tujuan penulisan laporan, hubungan dengan
sponsor (bila ada), dan ucapan terima kasih
3. Daftar isi, diperlukan agar pembaca dapat mengetahui bagian-bagian dari laporan dan
dapat melihat hubungan yang terjadi antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.
Daftar isi berisi judul-judul masing-masing bab, bagian, sub bagian, dan seterusnya.
4. Daftar tabel, diperlukan apabila dalam teks terdapat cukup banyak tabel (lima
tabel/lebih). Daftar tabel memudahkan pembaca menemukan tabel-tabel tertentu yang
diperlukan.
5. Daftar gambar, penyediaan daftar gambar tersendiri dalam satu halaman memudahkan
pembaca menemukan di halaman mana gambar tersebut ada.

Bagian Utama
Tidak ada standar tertentu untuk bagian utama. Pada umumnya bagian utama terdiri atas
beberapa bagian yaitu sebagai berikut ini:
1. Pendahuluan, antara lain berisi latar belakang penelitian, permasalahan, tujuan, dan
manfaat penelitian.
2. Kajian pustaka, memuat landasan teori yaitu teori-teori yang relevan yang dapat
digunakan untuk menjelaskan variabel yang diteliti dan sebagai dasar untuk memberi
jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis), dan penyusunan
instrument. Disini juga diperlukan dukungan hasil-hasil penelitian yang telah ada
sebelumnya yang ada kaitannya dengan variabel yang diteliti. Setelah dibuat landasan
teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu, selanjutnya direkonstruksi ke dalam kerangka
pemikiran. Kerangka pemikiran ini dapat dijadikan tuntunan dalam perumusan hipotesis
berdasarkan atas kajian pustaka yang telah disusun.
3. Metode penelitian, meliputi hipotesis dan rancangan penelitian. Hipotesis merupakan
jawaban sementara atas permasalahan yang telah dirumuskan. Rancangan penelitian
meliputi identifikasi variabel, definisi operasional variabel, penentuan sampel, teknik
pengumpulan data, dan teknis analisis data.
4. Hasil penelitian, berisi analisis data penelitian dan pembahasan. Analisis data dan
pembahasan bersifat terpadu, dan penyajiannya dapat disertai label, grafik, atau bentuk
lain. Pembahasan tentang hasil yang diperoleh berupa penjelasan teoritis, baik secara
kualitatif, kuantitatif, maupun statistik. Hasil penelitian sebaiknya dibandingkan dengan
hasil penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data mengambil proporsi yang paling
besar dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya. analisis data dapat dilakukan melalui
dua (2) tahap yaitu tahap pertama analisis deskriptif, dan kedua analisis statistic infrensial
yang tertuju pada pengujian hipoteis penelitian.
5. Kesimpulan, berisikan kesimpulan dan saran. Kesimpulan penelitian merupakan jawaban
dari tujuan penelitian. Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Saran
yang diberikan pada laporan harus didasarkan pada data hasil penelitian, dan didasarkan
pada kesimpulan.

Bagian Akhir
Pada bagian akhir laporan biasanya berisikan daftar bacaan, serta lampiran-lampiran dan
lainnya bila ada.

12.3. JENIS-JENIS LAPORAN


Ada beberapa jenis laporan penelitian diantaranya adalah laporan ringkas atau sumir
(summary report), laporan lengkap atau monograf, dan laporan untuk pengambil kebijakan.
Secara ringkas masing-masing laporan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Laporan Ringkas (Summary Report)


Laporan ringkas diarahkan pada temuan-temuan utama saja, tanpa memasukkan desain
dan metode yang dipakai dalam melakukan penelitian. Laporan penelitian ringkas dibuat sekitar
lima halaman. Pada bagian awal harus terdapat pernyataan singkat tentang pentingnya penelitian,
masalah yang dipelajari, dan luas serta kedalaman pembahasan. Kemudian ditulis kesimpulan
dan rekomendasi yang diusul oleh temuan yang mendukungnya. Dalam laporan ringkas
dihindarkan penggunaan istilah-istilah teknis.

Laporan Lengkap (Monograf) atau Laporan Panjang


Laporan dalam bentuk monograf perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Laporan harus berisi proses kegiatan secara menyeluruh dengan mengutarakan semua
teknik dan pengalaman yang diperoleh selama melakukan penelitian.
2. Penulisan laporan harus sesuai dengan kelompok target pembaca laporan. Materi serta
keterangan yang diberikan harus disampaikan secara integratif, dimana kesinambungan
antara satu diskusi dengan diskusi lainnya, ataupun antara satu materi dengan materi
lainnya yang tidak terputus-putus.
3. Laporan harus menjelaskan hal-hal yang sebenarnya terjadi di setiap tingkatan analisa.
Alternatif-alternatif pemecahan yang dilakukan perlu disampaikan dengan jelas.
Janganlah dilaporkan perasaan-perasaan penulis atau hayalan-hayalan penulis tentang apa
yang akan terjadi, kecuali ramalan-ramalan tersebut didasarkan fakta-fakta. Dengan kata
lain laporan harus berisi rencana-rencana yang telah dibuat secara logis, bukti-bukti yang
ditemukan, dan pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan selama masa itu.
4. Jika diperoleh pengalaman-pengalaman atau penemuan-penemuan yang tidak ada
hubungan dengan tujuan kegiatan, janganlah temuan tersebut dibuang, sebab ada
kemungkinan hasil penemuan tersebut dapat merupakan kata kunci dalam memberi
makna kegiatan lain di kemudian hari.
5. Dalam laporan juga harus disampaikan kegagalan-kegagalan serta keterbatasan-
keterbatasan yang dialami disamping sukses yang diperoleh. Dengan melaporkan
kegagalan dan alasan-alasan kuat mengapa kegagalan tersebut terjadi akan amat berguna
bagi pengambil kebijakan dalam mewaspadakan terhadap kegagalan tersebut.
6. Sebelum penulisan laporan penelitian, terlebih dahulu perlu dibuat outline (kerangka)
laporan dan baru kemudian outline tersebut dikembangkan menjadi laporan yang
terperinci.
7. Laporan penelitian harus dibagi dalam bab-bab, atau bagian-bagian, sub-sub bagian
dengan judul-judul yang padat, sehingga pembaca dapat lebih mudah memilih materi
yang relevan baginya.

Laporan untuk Manajemen atau Pembuat Keputusan


Laporan penelitian yang disampaikan kepada manajemen atau pengambil kebijakan
disebabkan penelitian yang disusun laporannya berkenaan dengan implikasi yang diperlukan
dalam pengambilan kebijakan. Atau dapat juga penelitian yang dilakukan disponsori oleh badan-
badan tertentu yang berkehendak untuk mengadakan diagnosa terhadap situasi ataupun dalam
rangka mengadakan evaluasi terhadap suatu program kegiatan.
Laporan yang ditujukan untuk pengambilan kebijakan harus mempunyai bentuk
tersendiri. Laporan yang dibuat tidak perlu dalam bentuk lengkap, karena pembuat kebijakan
tidak memerlukan laporan demikian.
Program kegiatan berkehendak memecahkan masalah-masalah yang sangat menarik
perhatian pembuat kebijakan berdasarkan tujuan kegiatan yang telah mereka gariskan. Karena itu
laporan harus diarahkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan usulan kegiatan yang telah
disetujui bersama. Yang diperlukan dalam laporan tersebut adalah penjelasan serta diagnosa
terhadap masalah. Rekomendasi ini akan dipergunakan, baik untuk meneruskan program-
program yang ada, ataupun dalam rangka mengadakan beberapa perubahan, sehingga kegiatan
yang akan datang dapat dilaksanakan secara baik.
Gaya laporan untuk manajemen atau pengambil kebijakan harus mendorong membaca
cepat, pemahaman menyeluruh atas temuan-temuan utama dengan cepat, dan pemahaman yang
tepat tentang implikasi dan kesimpulan. Nada laporan bersifat jurnalistik dan harus akurat. Judul-
judul besar dan garis bawah untuk penekanan sangat membantu. Gambar-gambar dan grafik-
grafik seringkali digunakan untuk menggantikan tabel. Kalimat-kalimat dan paragraph-paragraf
harus pendek-pendek dan langsung.
Laporan penelitian untuk manajemen atau pengambil kebijakan biasanya terdiri atas dua
bagian yaitu:
a. Uraian mengenai latar belakang penelitian, masalah-masalah yang timbul, tujuan
penelitian sesuai dengan usulan penelitian, serta ringkasan dari penemuan dengan
rekomendasi-rekomendasi.
b. Rincian dari pelaksanaan penelitian, sumber-sumber keterangan, prosedur-prosedur yang
digunakan serta rekomendasi-rekomendasi. Hal-hal yang bersifat teknis dapat
dilampirkan pada bagian kedua laporan.
Pembagian laporan menjadi dua tersebut amat diperlakukan agar sasaran yang ingin
dituju dapat dicapai dengan baik. Pihak manajemen atau pengambil keputusan biasanya hanya
membaca bagian pertama dari laporan, sedangkan bagian kedua yang berisi laporan yang lebih
lengkap dibaca oleh staf bawahannya.
Laporan untuk pembuat kebijakan perlu ditulis dengan bahasa yang dapat dimengerti
oleh mereka. Istilah-istilah teknis jika digunakan haruslah yang sesuai dengan penerapan di
lapangan. Kata-kata yang digunakan hendaknya jangan membuat para pembuat keputusan
tersebut menjadi tersinggung atau merasa tersudut.
Rekomendasi yang diberikan haruslah berdasarkan studi yang cermat, jangan sekali-
sekali memasukkan rekomendasi yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran tanpa dasar fakta.
Sebelum laporan dibuat, penulis laporan perlu mengadakan diskusi terlebih dahulu
dengan pembuat keputusan tersebut. Dengan begitu sebelum memberikan rekomendasi penyusun
laporan telah mempunyai kesempatan untuk memperoleh penimbang terhadap rekomendasi-
rekomendasi yang akan diberikan dalam laporan.
12.4. ATURAN PENULISAN
Terkait dengan aturan penulisan, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan
laporan adalah sebagai berikut:

Fokus Laporan,
Sebuah laporan harus didasarkan pada satu/dua pertanyaan pokok, bukan serangkaian
pertanyaan, ada kecenderungan bahwa para penyusun laporan ingin melaporkan semua hasil
kegiatannya seperti juga ingin memasukkan semua tabel yang dimiliki serta data sebanyak-
banyaknya, termasuk data yang tidak dibutuhkan untuk topik yang sedang dibahas.

Alinea (Paragraf)
Pada dasarnya sebuah laporan penelitian merupakan kumpulan alinea.alinea berperan
penting karena alinea menunjukkan organisasi, pikiran dan gaya pelaporan seseorang. Alinea
yang baik dan efektif hanya mengandung satu tema dan harus pula memenuhi syarat kesatuan
pikiran dan kesatuan susunan. Kalimat-kalimat dalam alinea harus berkaitan satu sama lain, dan
bersama-sama membentuk suatu bagian yang berpautan. Alinea yang baik harus menenuhi tiga
syarat utama yaitu sebagai berikut:
a. Alinea harus memperlihatkan dengan jelas suatu maksud atau suatu tema tertentu.
Maksud atau tema itu biasanya didukung oleh sebuah kalimat pokok atau kalimat topik.
b. Hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain harus kompak (koheren).
Suatu alinea yang tidak koheren akan menghadapkan pembaca dengan loncatan-loncatan
pikiran yang membingungkan, urut-urutan waktu dan fakta-fakta yang tidak teratur, atau
perkembangan pokok-pokok tambahan tidak lagi berorientasi pada topic utama.
c. Setelah meletakan inti alinea dalam kalimat topic, ide pokok itu harus dijelaskan lebih
lanjut/dikembangkan dengan mengajukan contoh-contoh dan perincian untuk
mengonkritkannya. Kegagalan dalam mengembangkan alinea akan menghasilkan
fragmen-fragmen yang pendek.
Secara umum ada tiga (3) jenis alinea, yaitu:
1. Alinea deskriptif, merupakan alinea yang berisi deskripsi atas suatu hal yang dibicarakan.
Alinea diskripsi hanya bersifat mendeskripsikan agar pembaca menjadi lebih jelas
informasi yang disampaikan.
Contoh: Wanita banyak terlibat dalam pekerjaan seperti rumah pabrik, pedagang kecil,
pembantu rumah tangga, pekerja jasa, pembersih gedung, pramuniaga, dan pekerjaan-
pekerjaan sekretariat. Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, seperti
operator dan teknisi, cenderung dikuasai ole laki-laki. Meskipun demikian, pergeseran
sedang terjadi dalam bidang tertentu yang menunjukkan bahwa wanita semakin memiliki
akses untuk terlibat dalam pekerjaan yang semua dimonopoli oleh laki-laki.
2. Alinea induktif, merupakan alinea yang dimulai dengan paparan data atau deskripsi dan
diakhiri dengan kesimpulan/abstraksi. Kesimpulan yang dibuat dalam alinea induksi
dapat pula berupa tipologi yang dihasilkan dari drskripsi pada bagian awal alinea.
Contoh: Wanita semakin terlibat dalam berbagai pekerjaan di luar rumah. Demikian pula
mereka semakin memiliki kesempatan untuk memasuki pekerjaan-pekerjaan yang
sebelumnya dimonopoli oleh laki-laki. Jabatan-jabatan penting telah pula dapat oleh
kaum wanita. Dalam bidang politik kesempatan wanita juga semakin terbuka. Gejala ini
menunjukkan tidak hanya pergeseran status dan peran kaum wanita, tetapi juga
memp[erlihatkan transformasi sosial yang sedang terjadi dalam masyarakat kita.
3. Alinea deduktif, alinea yang dimulai dengan pernyatan umum atau dimulai dengan
konsep dan diikuti dengan kalimat-kalimat yang berisi penjelasan atau penjabaran dari
konsep tersebut. Penjelasan selanjutnya dalam kalimat dapat berupa argumen untuk
memperkuat pernyataan yang disampaikan pada bagian awal alinea, dapat juga
merupakan kategori yang menjelaskan maksud.
Contoh: Para pekerja wanita merupakan kelompok masyarakat yang mengalami proses
marginalisasi. Hal ini dapat diamati dari struktur upah, kesempatan pelatihan, dan
promosi jabatan. Wanita cenderung mendapat upah yang lebih rendah dibandingkan
dengan pekerja laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Dalam banyak kasus, kaum wanita
juga cenderung memiliki kesempatan yang terbatas dalam pelatihan-pelatihan yang dapat
meningkatkan kapasitasnya sebagai pekerja. Keterbatasan akses semacam ini
menyebabkan prospek pekerja wanita untuk dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi
terbatas.

12.5. TEKNIK PRESENTASI

Pengertian
Presentasi dapat dipahami sebagai sebuah kegiatan penyampaian informasi kepada public
melalui sebuah orasi, baik secara langsung (face to face) ataupun melalui media. Presentasi
memiliki dua (2) tujuan yaitu:
1) Presentasi informatif, bertujuan untuk memperkenalkan hal baru pada khalayak.
Presentasi ini lebih ditujukan pada aspek kognisi khalayak. Proses ini lebih dikenal
sebagai sosialisasi.
2) Presentasi persuasif, ditujukan untuk mempengaruhi sikap (attitude) dan prilaku
(behavior) khalayak sebagaimana yang diinginkan presenter.
Dalam komunikasi, ada lima (5) unsur yang harus diperhatikan. Kelima unsure tersebut
adalah sebagai berikut ini:
a) Pengirim pesan (sender)
b) Pesan yang dikirimkan (massage)
c) Bagaimana pesab tersebut dikirimkan (delivery channel medium)
d) Penerima pesan (receiver)
e) Umpan balik (feedback)

Hukum Komunikasi
Lima (5) komunikasi yang efektif (The 5 Inevitable Laws of Effektive Communication)
yaitu REACH sebagai berikut ini:
a) Respect, sikap hormat dan sikap menghargai terhadap khalayak atau hadirin.
b) Empaty, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi
yang dihadapi orang lain. Rasa empaty akan memampukan kita untuk dapat
menyampaikan pesan dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan
menerimanya. Empaty juga bisa berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap
perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik dengan sikap yang positif.
c) Audible, dapar didengarkan atau dimengerti dengan baik
d) Clarity, kejelasan dari pesan yang akan disampaikan sehingga tidak membingungkan si
penerima pesan
e) Sikap rendah hati, yaitu untuk membangun rasa menghargai orang lain.

Persiapan
Hal yang terpenting dalam persiapan presentasi adalah membangun rasa percaya diri dan
mengendalikan rasa takut dan emosi kita, kualitas suara, bahasa dan kata-kata yang digunakan,
dan komunikasi non-verbal, yaitu kontak mata, ekspresi wajah, penampilan fisik, nada suara,
gerakan tubuh, pakaian dan aksesoris yang digunakan akan memberikan efek atau pengaruh yang
cukup besar terhadap penyampaian pesan.
Dalam komunikasi perlu dipegang beberapa prinsip khususnya dalam persiapan mental
yaitu sebagai berikut:
a. Berbicara di depan public bukanlah hal yang sangat menegangkan.
b. Kita tidak perlu menjadi orang yang sempurna, cerdas ataupun brilian untuk tampil di
depan publik.
c. Siapkan 2-3 poin pembicaraan/pertanyaan, karena audien akan sulit untuk mengingat
lebih dari tiga hal dalam suatu waktu.
d. Kita harus memiliki tujuan dan sasaran yang jelas dan terarah.
e. Kita tak perlu menganggap diri kita adalah seorang pembicara publik.
f. Kita tidak perlu harus dapat sepenuhnya menguasai seluruh hadirin
g. Kita harus ingat bahwa sebagian besar hadirin menginginkan kita berhasil dalam
presentasi atau penyampaian pesan kita.
Beberapa hal penting lain yang perlu dipersiapan yaitu sebagai berikut ini:
1. Durasi, yaitu panjangnya sebuah presentasi
2. Analisis khalayak, yaitu mengenali komunikan
3. Perencanaan presentasi, yaitu bagaimana mengorganisasi pesan dan informasi yang
akan disampaikan. Misalnya diawali dengan persoalan dan diakhiri dengan
penyampaian solusi terbaik.
4. Penggunaan alat bantu visual, yaitu dengan prinsip mudah dibaca, memberikan
penekanan dan kejelasan, dan sederhana.
Beberapa alat bantu yang dapat dipakai anatara lain papan tulis, Flip Charts, Overhead
proyektor, Slide proyektor, LCD proyektor

Penyampaian
Beberapa pertimbangan dalam penyampaian presentasi:
 Komunikasi verbal, terkait dengan penggunaan bahasa yang tepat, suara, dan kecepatan
dalam penyampaian presentasi dengan mempertimbangkan daya tangkap khalayak.
 Komunikasi non-verbal, aspek penampilan non-verbal perlu mendapat perhatian.
Kontak mata, ekpresi wajah, postur, dan gerakan tubuh sedapat mungkin menunjang
proses presentasi.
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D).
Bandung: Alfabeta
Rahyuda. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University Press.

Fred N. Kerlinger. 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral (Edisi Ketiga). Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press

Moleong. 2001. Metode Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Donald R. Cooper & C. W Emory. 1998. Business Research Methods (5th ed). USA: Richard D.
Irwin Inc.