Anda di halaman 1dari 78

PENILAIAN KINERJA PUSKESMAS

PUSKESMAS TRETEP
2019
HALAMAN PENGESAHAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan dan pembinaan kesehatan
masyarakat telah di bangun puskesmas. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas
kesehatan kabupaten / kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas berfungsi sebagai :
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan .
b. Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
Untuk menunjang pelaksanaan fungsi dan penyelenggaraan upayanya,
puskesmas dilengkapi dengan instrumen manajemen yang terdiri dari :
1. Perencanaan tingkat Puskesmas
2. Lokakarya Mini Puskesmas
3. Penilaian Kinerja Puskesmas Dan Manajemen Sumber Daya termasuk alat, obat,
keuangan dan Tenaga serta didukung dengan manajemen sistem pencatatan
dan pelaporan disebut sistem informasi manajemen Puskesmas (SIMPUS) dan
upaya peningkatan mutu pelayanan ( antara lain melalui penerapan quality
assurance ).
Mempertimbangkan rumusan pokok-pokok program dan program-program
unggulan sebagaimana disebutkan dalam Rencana Strategis Departemen Kesehatan
dan program spesifik daerah, maka area program yang akan menjadi prioritas di suatu
daerah, perlu dirumuskan secara spesifik oleh daerah sendiri demikian pula strategi
dalam pencapaian tujuannya, yang harus disesuaikan dengan masalah, kebutuhan
serta potensi setempat.
Puskesmas merupakan ujung tombak terdepan dalam pembangunan kesehatan,
mempunyai peran cukup besar dalam upaya mencapai pembangunan kesehatan. Untuk
mengetahui tingkat kinerja Puskesmas, perlu diadakan Penilaian Kinerja Puskesmas.
Puskesmas Tretep merupakan salah satu puskesmas yang ada di wilayah
Kabupaten Temanggung. Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal,
Puskesmas Tretep selalu berusaha melakukan perbaikan dan peningkatan kinerja
setiap program. Untuk itu penting untuk dilaksanakan Penilaian Kinerja Puskesmas
Tretep sebagai bahan kajian dan evaluasi kinerja puskesmas dalam rangka menjaga
dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

1.2 Pengertian Penilaian Kinerja Puskesmas


Penilaian kinerja Puskesmas adalah suatu upaya untuk melakukan penilaian
hasil kerja / prestasi Puskesmas. Pelaksanaan penilaian dimulai dari tingkat Puskesmas
sebagai instrumen mawas diri karena setiap Puskesmas melakukan penilaian kinerjanya
secara mandiri, kemudian Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota melakukan verifikasi
hasilnya. Adapun aspek penilaian meliputi hasil pencapaian cakupan dan manajemen
kegiatan termasuk mutu pelayanan (khusus bagi Puskesmas yang telah
mengembangkan mutu pelayanan) atas perhitungan seluruh Puskesmas. Berdasarkan
hasil verifikasi, dinas kesehatan kabupaten / kota bersama Puskesmas dapat
menetapkan Puskesmas kedalam kelompok (I,II,III) sesuai dengan pencapaian
kinerjanya. Pada setiap kelompok tersebut, dinas kesehatan kabupaten/kota dapat
melakukan analisa tingkat kinerja puskesmas berdasarkan rincian nilainya, sehingga
urutan pencapian kinerjanya dapat diketahui, serta dapat dilakukan pembinaan secara
lebih mendalam dan terfokus

1.3 Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Puskesmas


1.3.1 Tujuan Umum
Tercapainya tingkat kinerja puskesmas yang berkualitas secara optimal
dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan kesehatan kabupaten/kota.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mendapatkan gambaran tingkat pencapaian hasil cakupan dan mutu
kegiatan serta manajemen puskesmas pada akhir tahun kegiatan.
b. Mengetahui tingkat kinerja puskesmas pada akhir tahun berdasarkan
urutan peringkat katagori kelompok Puskesmas.
c. Mendapatkan informasi analisis kinerja puskesmas dan bahan masukan
dalam penyusunan rencana kegiatan puskesmas dan dinas kesehatan
kabupaten/kota untuk tahun yang akan datang.
1.3.3 Manfaat Penilaian Kinerja Puskesmas
a. Puskesmas mengetahui tingkat pencapaian (prestasi) kunjungan
dibandingkan dengan target yang harus dicapainya.
b. Puskesmas dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari
penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah kesehatan di
wilayah kerjanya berdasarkan adanya kesenjangan pencapaian kinerja
puskesmas (out put dan out come).
c. Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan
tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada tahun
yang akan datang berdasarkan prioritasnya.
d. Dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan dan mendukung
kebutuhan sumber daya puskesmas dan urgensi pembinaan puskesmas.

1.4 Ruang Lingkup Penilaian Kinerja Puskesmas


Ruang lingkup penilaian kinerja Puskesmas meliputi penilaian pencapaian hasil
pelaksanaan pelayanan kesehatan, manajemen Puskesmas dan mutu pelayanan.
Penilaian terhadap kegiatan upaya kesehatan wajib Puskesmas yang telah ditetapkan di
tingkat kabupaten/kota dan kegiatan upaya kesehatan pengembangan dalam rangka
penerapan ketiga fungsi puskesmas yang diselenggarakan melalui pendekatan
kesehatan masyarakat, dengan tetap mengacu pada kebijakan dan strategi.
Secara garis besar lingkup penilaian kinerja puskesmas berdasarkan pada
upaya-upaya puskesmas dalam menyelenggarakan:
a. Pelayanan kesehatan yang meliputi:
1) Upaya Kesehatan Wajib sesuai dengan kebijakan nasional, dimana
penetapan jenis pelayanannya disusun oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota.
2) Upaya Kesehatan Pengembangan antara lain penambahan upaya kesehatan
atau penerapan pendekatan baru (inovasi) upaya kesehatan dalam
pelaksanaan pengembangan program kesehatan yang dilaksanakan di
puskesmas.
b. Pelaksanaan manajemen puskesmas dalam penyelengaraan kegiatan, meliputi:
1) Proses penyusunan perencanaan, pelaksanaan lokakarya mini dan
pelaksanaan penilaian kinerja.
2) Manajemen sumber daya termasuk manajemen alat, obat, keuangan, dll.
c. Mutu pelayanan Puskesmas, meliputi:
1) Penilaian input pelayanan berdasarkan standar yang ditetapkan.
2) Penilaian proses pelayanan dengan menilai tingkat kepatuhannya terhadap
standar pelayanan yang telah ditetapkan.
3) Penilaian output pelayanan berdasarkan upaya kesehatan yang
diselenggarakan. Dimana masing-masing program/kegiatan mempunyai
indikator mutu tersendiri.
4) Penilaian outcome pelayanan antara lain melalui pengukuran tingkat
kepuasan pengguna jasa pelayanan puskesmas.
Hasil kegiatan puskesmas yang diperhitungkan meliputi kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan oleh puskesmas dan jaringannya di wilayah kerja puskesmas, baik
kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung maupun di luar gedung.
BAB II
PELAKSANAAN PENILAIAN KINERJA

Pelaksanaan Penilaian Kinerja Puskesmas Tretep meliputi serangkaian kegiatan


yang dimulai sejak awal tahun anggaran pada saat penyusunan rencana pelaksanaan
kegiatan puskesmas. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data yang dipantau dan
dibahas melalui forum Lokakarya Mini Puskesmas baik bulanan dengan lintas program
di dalam Puskesmas maupun Lokakarya Mini tribulanan yang melibatkan lintas sektor
kecamatan.
Penilaian kinerja Puskesmas Tretep meliputi puskesmas dan jaringannya yaitu
Puskesmas, Puskesmas Pembantu, bidan di desa serta berbagai UKBM dan upaya
pemberdayaan masyarakat lainnya.

2.1 Bahan dan Pedoman


Bahan yang dipakai pada penilaian kinerja puskesmas adalah hasil pelaksanaan
pelayanan kesehatan, manajemen puskesmas, dan mutu pelayanan. Sedangkan dalam
pelaksanaannya mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, analisis hasil/masalah
sampai dengan penyusunan laporan berpedoman pada Buku Pedoman Penilaian
Kinerja Puskesmas dari Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen
Kesehatan R.I. Tahun 2006.

2.2 Pelaksanaan Penilaian


Pelaksanaan Penilaian Kinerja Puskesmas Tretep dilakukan melalui beberapa
kegiatan sebagai berikut:
a. Kepala Puskesmas membentuk tim kecil puskesmas untuk melakukan kompilasi
hasil pencapaian (output dan outcome)
b. Masing-masing penanggung jawab kegiatan melakukan pengumpulan data
pencapaian/hasil kegiatan.
Periode waktu penilaian adalah dari Bulan Januari sampai dengan Bulan
Desember 2019 sesuai dengan periode waktu perencanaan, mengingat penilaian
kinerja puskesmas adalah kegiatan untuk menilai kinerja puskesmas berdasarkan
rencana kegiatan yang telah disusun.
Data untuk menghitung hasil kegiatan diperoleh dari SP2TP dan pencatatan hasil
kegiatan yang ada/dibuat puskesmas (tidak hanya terbatas pada laporan SP2TP
yang dikirim ke dinas kesehatan kabupaten/kota).
c. Pengolahan data
Cakupan hasil (output) dan hasil mutu dari kegiatan yang telah ditetapkan
selanjutnya dibandingkan dengan target standar yang telah ditetapkan
sebelumnya pada masing-masing kegiatan. Teknis pengolahan data dilakukan
sebagai berikut:
1) Penilaian Cakupan Kegiatan Pelayanan Kesehatan
Cakupan Sub variable ( SV ) dihitung dengan membagi hasil pencapaian (H)
dengan target sasaran (T) dikalikan 100% atau

SV (%) = H x 100 %
T
* untuk sub variabel yang berbanding terbalik dengan pertambahan nilai
(semakin tinggi pencapaian,semakin kecil nilainya) perhitungannya:

SV (%) = T x 100 %
H

Cakupan variable (V) dihitung dengan menjumlahkan seluruh nilai sub


variabel
(∑ SV ) kemudian dibagi dengan jumlah variabel (N) atau

V (%) = ∑ SV
N

Jadi nilai cakupan kegiatan Pelayanan Kesehatan adalah rerata per jenis
kegiatan.
Selanjutnya, kinerja cakupan pelayanan dikelompokan sebagai berikut:
 Kelompok I (kinerja baik), dengan tingkat pencapaian hasil ≥ 90 %
 Kelompok II (kinerja cukup), dengan tingkat pencapaian hasil 80-89 %
 Kelompok III (kinerja kurang), dengan tingkat pencapaian hasil < 80 %

2) Penilaian Kegiatan Manajemen Puskesmas.


Penilaian kegiatan menajemen puskesmas dikelompokkan menjadi 4
kelompok:
a. Manajemen operasional puskesmas
b. Manajemen alat dan obat
c. Manajemen keuangan
d. Manajemen ketenagaan
Penilaian kegiatan manajemen puskesmas dengan mempergunakan skala
nilai
sebagai berikut :
 Skala 1 nilai 4
 Skala 2 nilai 7
 Skala 3 nilai 10
Nilai masing-masing kelompok manajemen adalah rata-rata nilai kegiatan
masing-masing kelompok manajemen.
Sedangkan nilai manajemen puskesmas adalah rata-rata nilai kelompok
manajemen atau:
“Nilai manajemen operasional + nilai manajemen alat dan obat + nilai
manajemen keuangan + nilai manajemen ketenagaan dibagi empat”
Kinerja kegiatan manajemen puskesmas sebagai berikut:
 Kelompok I (kinerja baik) : nilai ≥ 8,5
 Kelompok II (kinerja cukup) : nilai 5,5 – 8,4
 Kelompok III (kinerja kurang): nilai < 5,5

3) Penilaian Mutu Pelayanan


Penilaian mutu puskesmas dikelompokkan menjadi 4 kelompok:
a. Upaya Kesehatan Perorangan
b. Admen
c. Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial
d. Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan

Cakupan Sub variable ( SV ) dihitung dengan membagi hasil pencapaian (H)


dengan target sasaran (T) dikalikan 100% atau

SV (%) = H x 100 %
T
* untuk sub variabel yang berbanding terbalik dengan pertambahan nilai
(semakin tinggi pencapaian,semakin kecil nilainya) perhitungannya:

SV (%) = T x 100 %
H

Cakupan variable (V) dihitung dengan menjumlahkan seluruh nilai sub


variabel
(∑ SV ) kemudian dibagi dengan jumlah variabel (N) atau

V (%) = ∑ SV
N

Jadi nilai cakupan Penilaian Mutu Pelayanan adalah rerata per jenis indikator.

Selanjutnya, kinerja Penilaian Mutu Pelayanan dikelompokan sebagai berikut:


 Kelompok I (kinerja baik), dengan tingkat pencapaian hasil ≥ 90 %
 Kelompok II (kinerja cukup), dengan tingkat pencapaian hasil 80-89 %
 Kelompok III (kinerja kurang), dengan tingkat pencapaian hasil < 80 %
d. Analisis hasil
Masing-masing penanggung jawab kegiatan melakukan analisis terhadap hasil
kegiatan, meliputi analisis masalah, identifikasi kendala/hambatan, mencari
penyebab dan latar belakangnya, serta mengenali faktor-faktor pendukung dan
penghambat.
e. Mencari alternatif pemecahan masalah
Bersama-sama tim kecil puskesmas menyusun rencana pemecahan masalah
dengan mempertimbangkan kecenderungan timbulnya masalah (ancaman)
ataupun kecenderungan untuk perbaikan (peluang).
f. Penyusunan Laporan
Hasil perhitungan, analisis data, dan hasil penilaian disusun dalam bentuk
Laporan Kinerja Puskesmas yang kemudian dilaporkan ke dinas kesehatan
kabupaten/kota.
BAB III
HASIL KINERJA PUSKESMAS TRETEP TAHUN 2019
Tabel 1 Hasil Penilaian Cakupan Kegiatan Pelayanan Kesehatan
NO UPAYA INDIKATOR SATUAN TARGET PENCA GAP
PAIAN
MANAJEMEN
1 Pelayanan rawat Cakupan kunjungan rawat jalan % minimal 41,5 41,1 0,4
jalan
2 Pelayanan gigi dan Cakupan pelayanan gigi dan mulut % minimal 9 9 0
mulut
3 Pelayanan Klinik Cakupan kunjungan klinik sanitasi % minimal 2 0,1 1,9
sanitasi
4 Pelayanan Klinik Cakupan kunjungan klinik gizi % minimal 5 0,1 4,9
gizi
5 Pelayanan Cakupan pelayanan laboratorium % minimal 10 11,7 0
Laboratorium Puskesmas
6 Pelayanan IVA Cakupan pemeriksaan leher Rahim % minimal 50 5,7 44,3
dan payudara pada perempuan usia
30-50 tahun
7 Pelayanan PTM Penemuan penderita hipertensi % minimal 35,5 24,6 10,9
Cakupan penderita hipertensi % minimal 100 24,6 75,4
mendapatkn pelayanan kesehatan
sesuai standart
Penemuan penderita Diabetes % minimal 1,7 60,7 0
Melitus (DM)
Cakupan penderita diabetes Melitus % minimal 100 60,7 39,3
mendapatkan pelayanan kesehatan
sesuai standart
Cakupan orang degan gangguan % minimal 100 68 32
jiwa (ODGJ) berat mendapatkan
pelayanan kesehatan sesuai
standart
8 Pelayanan Cakupan kunjungan Bayi % minimal 100 100 0
kesehatan Anak
Cakupan neonatal dengan % minimal 65 100 0
komplikasi yang ditangani
Cakupan bayi berat badan lahir % minimal 100 0 0
rendah ditangani
Cakupan bayi baru lahir % minimal 100 100 0
mendapatkan pelayanan kesehatan
sesuai standar
Cakupan balita mendapatkan % minimal 100 100 0
pelayanan kesehatan sesua
standart
Cakupan anak pada usia pendidikan % minimal 100 100 0
dasar mendapatkan skrining
kesehatan sesuai standart
9 Pelayanan Cakupan pertolongan persalinan % minimal 100 100 0
Kebidanan oleh bidan atau tenaga kesehatan
yang memiliki kompetensi
kebidanan
Cakupan pertolongan persalinan di % minimal 100 99,7 0,3
fasilitas kesehatan
Cakupan komplikasi kebidanan % minimal 100 100 0
yang ditangani
Cakupan pelayanan nifas % minimal 100 100 0
Cakupan ibu hamil mendapatkan % minimal 100 100 10
pelayanan kesehatan antenatal
sesuai standar
Cakupan ibu bersalin mendapatkan % minimal 100 100 0
pelayanan persalinan sesuai
standar
Cakupan ibu hamil risiko tinggi yang % minimal 100 100 0
ditangani
Cakupan ibu hamil resiko tinggi % minimal 100 100 0
yang dirujuk
10 Pelayanan Cakupan warga Negara Indonesia % minimal 100 84,2 15,8
kesehatan usia usia 15 s.d 59 tahun mendapatkan
produktif skrining kesehatan sesuai standart
11 Pelayanan Cakupan warga Negara Indonesia % minimal 100 91,1 8,9
kesehatan usia usia 60 tahun ke atas mendapatkan
lanjut skrining kesehatan sesuai standart
12 Pelayanan Cakupan ketersediaan obat sesuai % minimal 97 98,7 0
kefarmasian kebutuhan
Cakupan penulisan resep dari obat % minimal 97 98,9 0
generic
Cakupan puskesmas dengan % minimal 85 100 0
ketersediaan obat dan vaksin
essensial
Cakupan pemberian obat rasional % minimal 70 100 0
(POR) di Puskesmas
B UKM
1 Gizi Masyarakat Prevalensi Gizi Kurang % minimal 15,5 1,9 0
(underweight) pada anak balita (0-
59 bulan)
Prevalensi gizi buruk pada anak % minimal 0,5 0,1 0
balita (0-59 bulan)
Prevalensi stunting(pendek dan % minimal 30 100 0
sangat pendek) pada anak balita (0-
59 bulan)
Cakupan pemberian makanan % minimal 100
pendamping ASI pada anak usia
<24 bulan dari keluarga miskin
Cakupan balita gizi buruk mendapat % minimal 100 100 0
perawatan
Cakupan bayi umur 6 bulan % minimal 80 100 0
mendapat ASI eksklusif
Cakupan pemberian makanan % minimal 100 100 0
pendamping ASI pada bayi bawah
garis merah dari keluarga miskin
Cakupan pertumbuhan balita % minimal 100 100 0
dipantau
Cakupan baduta yang datang dan % minimal 80 90,1 0
ditimbang (D/S)
Cakupan balita yang dating dan % minimal 80 88,6 0
ditimbang (D/S)
Cakupan balita bawah garis merah % minimal 5 0,5 0
(BGM)
Cakupan keluarga sadar gizi % minimal 80 87,8 0
Cakupan desa bebas rawan gizi % minimal 100 100 0
Cakupan bayi (6-11 % minimal 100 100 0
bulan)mendapat kapsul vit A 1 kali
Cakupan balita (12-59 bulan) % minimal 100 100 0
mendapat kapsul vit A 2 kali
Cakupan ibu nifas mendapat kapsul % minimal 100 100 0
vit A
Cakupan ibu hamil mendapat tablet % minimal 100 86,6 13,4
Fe 90
Cakupan ibu hamil kurang energy % minimal 11 16,3 0
kronik (KEK)
Cakupan RT dengan garam % minimal 80 95,2 0
beryodium cukup
2 Pemberdayaan Cakupan desa siaga aktif % minimal 100 100 0
masyarakat
Cakupan desa siaga aktif mandiri % minimal 11 18,2 0
Cakupan posyandu purnama dan % minimal 83,8 78,8 5
mandiri
Cakupan perilaku hidup bersih dan % minimal 83 84,8 0
sehat (PHBS) Rumah Tangga (RT)
strata utama dan pari purna
Cakupan sekolah sehat (PHBS % minimal 31,24 100 0
institusi Pendidikan dasar)
Cakupan anggota keluarga menjadi % minimal 100 67,2 32,8
peserta JKN
3 Promosi Kesehatan Cakupan penyuluhan kesehatan % minimal 100 99,4 0,6
Cakupan penyuluhan P3 Napza/P3 % minimal 10 10,1 0
Narkoba oleh petugas kesehatan
Cakupan anggota keluarga tidak % minimal 70 67,2 2,8
ada yang merokok
4 Penyehatan Proporsi Rumah Tangga dengan % minimal 75 100 0
Lingkungan Akses Berkelanjutan terhadap
Sanitasi Dasar Pedesaan
Cakupan keluarga memiliki % minimal 100 100 0
akses/menggunakan air bersih
Cakupan Rumah Tangga dengan % minimal 70 87,7 0
Akses Terhadap Air Bersih yang
Layak di Pedesaan
Cakupan rumah yang memiliki % minimal 75 53,1 21.9
SPAL
Cakupan penduduk yang % minimal 100 100 0
akses/memanfaatkan jamban
Cakupan desa stop buang air besar % minimal 90 100 0
sembarangan (ODF)
Cakupan desa melaksanakan % minimal 15,6 18,2 0
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Cakupan Tempat Tempat Umum % minimal 80 91 0
(TTU) yang memenuhi syarat
Cakupan Tempat Pengolahan % minimal 75 100 0
Makanan (TPM) yang memenuhi
syarat
Cakupan rumah sehat % minimal 80 56,3 23,7
5 Kesehatan olah Cakupan Kelompok Masyarakat % minimal 11,5 81,8 0
raga yang melaksanakan Kegiatan OR
Cakupan jamaah haji yang diukur % minimal 100 100 0
kebugarannya
6 Pencegahan dan Angka Keberhasilan Pengobatan % minimal 90 100 0
Penanggulangan Semua Kasus TB (Treatment
Penyakit Menular Succes Rate/TSR)
Angka Penemuan semua Kasus % minimal 70 38,5 31,5
TBC (Case Detection Rate/CDR)
Cakupan orang dengan TB % 100 100 0
maximal
mendapatkan pelayanan TB sesuai
standar
Prevalensi penduduk dengan HIV % minimal 0,5 0 0
Setiap orang berisiko terinfeksi HIV % minimal 100 79,5 20,5
(ibu hamil, pasien TB, pasien IMS,
waria/transgender, pengguna
napza, dan warga binaan lembaga
pemasyarakatan) mendapatkan
pelayanan kesehatan
Proporsi Penduduk Usia 15 - 24 % minimal 60 54,1 5,9
Tahun yang Memiliki Pengetahuan
tentang HIV/AIDS
Cakupan Penemuan Penderita % minimal 60 60 0
Pneumonia Balita
Cakupan Penemuan Penderita % minimal 90 91,8 0
Diare
CFR (Angka Kematian) Diare per Maximal 1 0 1
per 10000
10.000 Penduduk)
Cakupan Penderita diare Yang % minimal 100 100 0
ditangani
Angka Penemuan Kasus Malaria Maximal 0 0 0
per 1000
per 1.000 Penduduk
Inciden Rate DBD (Demam Maximal 0 0 0
per
Berdarah Dengue) per 100.000
100000
Penduduk
CFR atau Angka Kematian DBD % 0 0 0
maximal
(Demam Berdarah Dengue)
Penderita DBD (Demam Berdarah % minimal 0 0 0
Dengue) yang Ditangani
Rumah/bangunan bebas jentik % minimal 95 100 0
nyamuk aedes
7 Imunisasi Cakupan Desa atau Kelurahan % minimal 100 90,9 17,9
Universal Child Immunisation (UCI)
Cakupan anak mendapat imunisasi % minimal 100 94,2 4.8
dasar lengkap
Cakupan desa/kelurahan Universal % minimal 80 100 0
Mother Imunisation (UMI)
Persentase Anak Umur 1 Tahun % minimal 95 94,2 0,8
diimunisasi Campak
Cakupan anak sekolah pada anak % minimal 100 99,4 0,6
SD/sederajat mendapat pelayanan
imunisasi DT-TT
Cakupan anak sekolah pada anak % minimal 100 99,8 0,2
SD/sederajat mendapat pelayanan
imunisasi campak
8 Surveilan Penyakit Cakupan desa/kelurahan % minimal 100 0
mengalami KLB yang dilakukan
penyelidikan epidemiologi < 24 jam
Cakupan pembinaan & pelayanan % minimal 100 100 0
kesehatan haji sesuai standart
9 Pencegahan dan Cakupan desa melaksanakan % minimal 100 100 0
Penanggulangan Posbindu
Penyakit Tidak
Menular
Cakupan penderita hipertensi yang % minimal 100 24,6 75,4
berobat teratur
10 Kesehatan cakupan pembinaan penyehat % minimal 65 Tidak Tidak
tradisional tradisional terdaftar ada ada
11 Perkesmas Cakupan kunjungan perkesmas % minimal 80 98,8 0
Indek Keluarga Sehat % minimal 80 3,8 76,2
12 Kesehatan anak Angka Kelangsungan Hidup Bayi jiwa 0,992 1 0
Angka Kematian Neonatal per 1.000 % 7 4 0
maximal
Kelahiran Hidup
Angka Kematian Bayi per 1.000 % 12 5 0
maximal
Kelahiran Hidup
Angka Kematian Balita per 1.000 % 14 5 0
maximal
Kelahiran Hidup
Cakupan deteksi dini tumbuh % minimal 100 100 0
kembang anak balita dan pra
sekolah
Cakupan pemeriksaan kesehatan % minimal 100 100 0
siswa SD dan setingkat oleh tenaga
kesehatan atau tenaga terlatih /guru
UKS/dokter kecil
Cakupan pemeriksaan kesehatan % minimal 100 99,4 0,6
siswa TK, SLTP,SLTA dan setingkat
oleh tenaga kesehatan atau tenaga
terlatih/guru UKS/kader kesehatan
sekolah
13 Kesehatan IBU Angka Kematian Ibu per 100.000 % 100 100 0
maximal
Kelahiran Hidup
per
100000
Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 % minimal 100 100 0
Cakupan Keluarga mengikuti % minimal 65 100 0
program KB
Cakupan Kunjungan Neonatus % minimal 100 100 0
(KN1)
14 Kesehatan Usia Cakupan desa dengan posyandu % minimal 80 100 0
Lanjut lansia aktif
15 Kesehatan makan Cakupan Kantin Sehat di Sekolah % minimal 10 50 0
minum anak
sekolah
C MANAJEMEN % minimal
1 Mutu Pelayanan Akreditasi Puskesmas puskesma 1 0 0
s
Cakupan mutu pelayanan % minimal 90 91,5 0
Puskesmas
Cakupan Kepuasan pelayanan di % minimal 90 78,3 11,7
Puskesmas
2 Sumber Daya Cakupan tenaga kesehatan yang % minimal 90 100 0
Kesehatan memenuhi standar kompetensi
Puskesmas melaksanakan SIK % minimal 100 100 0
berbasis Teknologi Informasi
Ketersediaan dokumen profil dokumen 100 100 0
kesehatan di puskesmas
3 Manajemen Ketersediaan Dokumen dokumen 100 100 0
Puskesmas Perencanaan Tingkat Puskesmas
(PTP)
Cakupan pelaksanaan Loka Karya % minimal 100 100 0
Mini di Puskesmas
Ketersediaan Dokumen Penilaian dokumen 100 100 0
Kinerja Puskesmas (PKP)
4 Manajemen Cakupan Laporan Realisasi % minimal 100 100 0
keuangan Anggaran (LRA)
Ketersediaan dokumen Neraca dokumen 100 100 0
Keuangan
Ketersediaan Laporan Operasional dokumen 100 100 0
Ketersediaan Laporan Arus Kas dokumen 100 100 0
Ketersediaan laporan Catatan Atas dokumen 100 100 0
Laporan Keuangan (CALK)
5 Kedisiplinan Cakupan kehadiran pegawai sesuai % minimal 100 98,2 1,8
jam kerja
6 Manajemen Aset Kelengkapan ASPAK Puskesmas % minimal 100 100 0
Kelengkapan SIMBADA Puskesmas % minimal 100 100 0
TOTAL 91,0
Tabel 2. Rekapitulasi Perhitungan Cakupan Kinerja Puskesmas Tretep

NO KOMPONEN KEGIATAN HASIL CAKUPAN TINGKAT


(%) KINERJA

1 Upaya Kesehatan Ibu, Anak dan 95,16 Baik


Keluarga Berencana

2 Perbaikan Gizi Masyarakat 97,71 Baik

3 Upaya Pemberantasan dan 81,6 Cukup


Pencegahan Penyakit Menular dan
tidak Menular

4 Upaya Kesehatan Lingkungan 95,1 Baik

5 Promosi Kesehatan, Pemberdayaan 98,4 Baik


Masyarakat

6 Upaya Kesehatan Perorangan 61,8 Kurang

7 Obat dan Perbekalan 100 Baik

8 Upaya Kesehatan Sekolah 99,4 Baik

9 Upaya Kesehatan Remaja 82,2 Cukup

10 Manajemen Puskesmas 99,88 Baik


Tabel 3. Capaian Kinerja Managemen Puskesmas Tretep
SKALA1 SKALA 2 SKALA 3 NILAI
JENIS VARIABEL
NILAI = 4 NILAI = 7 NILAI = 10 HASIL
MANAJEMEN OPERASIONAL
I 4.43
PUSKESMAS
1. Membuat data pencapaian /
Sebagian < Sebagian 50 Semuanya
cakupan kegiatan pokok tahun 4.00
50 % - 80 % 100%
lalu
Ya, Ya,
2. Menyusun RUK melalui analisa Ya, sebagian
beberapa seluruhnya
dan perumusan masalah ada analisa 4.00
ada analisa ada analisa
berdasarkan prioritas perumusan
perumusan perumusan
3. Menyusun RPK secara terinci Ya, terinci Ya, terinci
Ya, terinci
dan lengkap sebagian sebagian 4.00
semuanya
kecil besar
4. Melaksanakan Mini Lokakarya < 5 kali / 5 - 8 kali / 9 - 12 kali /
7.00
bulanan tahun tahun tahun
5. Melaksanakan Mini Lokakarya < 2 kali / 2-3 kali / 4 kali /
4.00
tribulanan (lintas sektor) tahun tahun tahun
6. Membuat dan mengirimkan
6 - 9 kali / 10 - 12 kali /
laporan bulanan ke < 6 kali 4.00
tahun tahun
Kabupaten/Kota tepat waktu
7. Membuat data 10 penyakit 6 - 8 kali / 9 - 12 kali /
< 6 kali 4.00
terbanyak setiap bulan tahun tahun
II MANAJEMEN ALAT DAN OBAT 10
1. Membuat kartu inventaris dan
< 60 % 61-80 % 81-100%
menempatkan di masing-masing 10.00
ruangan ruangan ruangan
ruangan
2. Melaksanakan up dating daftar <3
4-6 kali/tahun tiap bulan 10.00
inventaris alat kali/tahun
3. Mencatat penerimaan dan Ya,
Ya, sebagian Ya, seluruh
pengeluaran obat di setiap unit beberapa 10.00
besar unit unit
pelayanan unit
Ya,
4. Membuat kartu stok untuk setiap Ya, sebagian
beberapa Ya, seluruh
jenis obat / bahan di gudang besar item 10.00
item obat item obat
obat secara rutin obat
Ya, Ya, sebagian
Ya, seluruh
5. Menerapkan FIFO dan FEFO beberapa besar item 10.00
item obat
item obat obat
SKALA1 SKALA 2 SKALA 3 NILAI
JENIS VARIABEL NILAI = 4 NILAI = 7 NILAI = 10 HASIL
III MANAJEMEN KEUANGAN 7.00
1. Membuat catatan bulanan uang Ya, tidak Ya, setiap Ya, setiap
10.00
masuk-keluar dalam buku kas tentu tiga bulan bulan
2. Kepala Puskesmas melakukan
Ya, tidak Ya, setiap Ya, setiap
pemeriksaan keuangan secara 4.00
tentu tiga bulan bulan
berkala
IV MANAJEMEN KETENAGAAN 7.75
Ada,
Ada,
1. Membuat daftar / catatan sebagian Ada, semua
beberapa 6.00
kepegawaian petugas besar pegawai
pegawai
pegawai
2. Membuat uraian tugas dan Ada, Ada, Ada,
10.00
tanggung jawab setiap petugas beberapa sebagian seluruh
petugas besar petugas
petugas
3. Membuat rencana kerja bulanan Ada,
Ada, Ada,
bagi setiap petugas sesuai sebagian
beberapa seluruh 8.00
dengan tugas, wewenang dan besar
petugas petugas
tanggung jawab petugas
Ada,
Ada, Ada,
4. Membuat penilaian DP3 tepat sebagian
beberapa seluruh 7.00
waktu besar
petugas petugas
petugas
Total =29,18
Hasil akhir (rata-rata) 7,295

Tabel 4. Hasil Penilaian Mutu Pelayanan


CAKUPAN
TARGET
SASARAN
PENCAPAIAN
NO JENIS PELAYANAN SUB VARIABEL VARIABEL (V)
(T) (H)
(SV) (%) (%)

I UPAYA KESEHATAN PERORANGAN 93,77%

A. PELAYANAN RAWAT JALAN 92,98% 94,56%


1. Pemberi pelayanan di Pendaftaran 100% 100% 100%
2. Pemberi pelayanan di poli umum 100% 100% 100%
3. Pemberi pelayanan di poli gigi 100% 100% 100%
4. Pemberi pelayanan di KIA 100% 100% 100%
5. Jam buka pelayanan 100% 100% 100%
6. Kepatuhan hand hygiene 100% 80% 80%
7. Waktu tunggu rawat jalan 100% 100% 100%
8. Peresapan obat sesuai formularium nasional 100% 100% 100%
9. Kepuasan pelanggan pada rawat jalan ≥80 menit 56,89% 71,11%

INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN


87,5% 90,8%
B. PASIEN
1. Ketepatan Identifikasi Pasien
Identifikasi pasien yang tepat dan mendetail
meliputi : Nama, Umur, Alamat, Nomor 100% 85% 85%
Rekam Medis Pasien
2. Meningkatkan Komunikasi yang Efektif
Pelaksanaan write down terhadap instruksi
100% 90% 90%
hasil konsultasi pasien per telepon
3. Ketepatan Pemberian Obat Kepada Pasien
Tidak terjadi kesalahan pemberian obat 100% 90% 90%
4. Ketepatan Prosedur Tindakan Medis dan
Keperawatan
Bekerja sesuai SPO 80% 80% 100%
5. Pengurangan Terjadinya Risiko Infeksi
Kepatuhan CTPS 7 langkah dan 5 momen 90% 90% 90%
6. Pengurangan Terjadinya Risiko Infeksi
Pemakaian ABD 100% 90% 90%
D. INDIKATOR MUTU LAYANAN KLINIS 76% 95,97%
1. Pendaftaran
Waktu tunggu pelayanan di pendaftaran
90% 80% 88,88%
sampai poli yang dituju kurang dari 20 menit
2. Ruang Obat
Waktu tunggu pelayanan pemberian
a. Obat jadi ≤15 menit 90% 80% 88,88%
b. Racikan ≤ 30 menit 90% 80% 88,88%
3. Ruang tindakan
Respon time petugas kurang dari 5 menit 100% 95% 95%
4. Ruang Pelayanan Umum
Waktu tungggu rawat jalan kurang dari 60
100 % 90% 90%
menit
5. Ruang Pelayanan Gigi dan Mulut
Angka ketidaklengkapan assesment awal
100% 100% 100%
medis < 30 %
6. Ruang Laboratorium
Waktu tunggu pemeriksaan laboratorium < 30
100% 100% 100%
menit (kecuali pemeriksaan BTA sputum
7. Ruang Pelayanan KIA
Waktu pelayanan ANC ibu hamil K1 sesuai
80% 80% 100%
standar <30 menit
8. Ruang Persalinan 24 jam
Melakukan IMD pada BBL 80 persen 100% 100% 100%
9. Ruang Pelayanan imunisasi
Waktu pelayanan imunisasi kurang dari 15
100% 100% 100%
menit
10. Ruang Konseling Gizi
Waktu konsultasi gizi pasien baru kurang
5% 5% 100%
dari 15 menit
11. Ruang konseling Sanitasi
Waktu konsultasi sanitasi pasien baru
2% 2% 100%
kurang dari 15 menit

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


73,08% 90,01%
II ESENSIAL
1. Gizi
ASI eksklusif 80% 90% 85,4% 94,88%
2. Sanitasi
Jamban sehat 100% 100% 100% 100%
3. Promkes
Penyuluhan NAPZA 30% 30% 30% 100%
4. KIA
Persalinan di Puskesmas 100% 100% 100% 100%
5. P2P
Penemuan kasus TB 90% 50% 55,55%

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


100% 100%
III PENGEMBANGAN
1. UKS
Pembinaan dokter kecil 80% 100% 100% 100%
2. Lansia
Pemeriksaan kepada Lansia 80% 100% 100%
3. Remaja
Pemeriksaan pada Remaja 80% 80% 100%

IV ADMEN 100% 100%


1. Laporan kepegawaian dan barang 100% 100% 100%
2. Arsip surat masuk dan surat keluar 100% 100% 100%
3. Keikutsertaan pegawai dalam rapat internal 100% 100% 100%
4. SPJ laporan keuangan 100% 100% 100%

Tabel 5. Rekapitulasi Perhitungan Cakupan Mutu Pelayanan Puskesmas Tretep

NO KOMPONEN UPAYA HASIL CAKUPAN TINGKAT


MUTU(%) KINERJA(%)

1 Upaya Kesehatan Perorangan 92,98% 93,77%

2 Admen 100% 100%

3 Upaya Kesehatan Masyarakat 73,08% 90,01%


Esensial

4 Upaya Kesehatan Masyarakat 100% 100%


Pengembangan

BAB IV
ANALISIS HASIL KINERJA
4.1 Analisis Hasil Kinerja Kegiatan Puskesmas Tretep Tahun 2019

Capaian Kinerja Puskesmas Tretep


120
100
80
60
40
20
0

Cakupan Column1 Column2

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Pengawasan Obat dan makanan mencapai nilai
100. Diikuti dengan Upaya KIA, Promosi Kesehatan, Pemberdayaan Masyarakat, dan
UKS, Manajemen Puskesmas, dan Upaya Kesling yang mencapai nilai ≥ 90 dengan
kategori Baik. Untuk nilai cukup (80-89) adalah kegiatan Upaya Pemberantasan dan
Pencegahan Penyakit Menular dan dan Upaya Remaja. Sedangkan yang mendapat
nilai kurang yaitu UKP dengan nilai dibawah 70. Keadaan tersebut mungkin dapat
disebabkan karena masih belum berjalannya konsultasi kesling dan gizi di puskesmas
tretep, sehingga perlu diperbaiki lagi dan ditingkatkan.
Kemudian dapat kita jabarkan lagi kedalam pencapaian kinerja perkegiatan,
sebagai berikut :
Analisa Output Pelayanan Kesehatan
A Pelayanan Kesehatan Ibu DanAnak
1. Cakupan K1
Indikator K1 murni adalah kunjungan Ibu hamil pertama kali pada petugas
kesehatan yang dilakukan pada trimester pertama kehamilan. Indikator K1 akses
adalah kunjungan ibu hamil pertama kali pada petugas kesehatan tanpa melihat
usia kehamilan. Indikator ini untuk melihat keterjangkauan masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan.
Tabel 2.1 Cakupan K1
No Nama Jumlah K1 %
Desa Ibu Hamil
1 Tretep 51 51 100
2 Donorojo 30 30 100
3 Nglarangan 20 20 100
4 Sigedong 40 40 100
5 Bonjor 37 37 100
6 Tempelsari 34 34 100
7 Campurejo 88 88 100
8 Bojong 25 25 100
9 Bendungan 25 25 100
10 Simpar 16 16 100
11 Tlogo 8 8 100
Jumlah 374 374 100
Sumber : unit Kesga Puskesmas Tretep 2019

Tabel 2.1 menunjukkan capaian puskesmas Tretep tahun 2019 adalah sebesar
100% sehingga telah mencapai target yang ditentukan. Tercapainya target
cakupan K1 ini menunjukkan bahwa keterjangkauan masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan maksimal karena semua desa telah memiliki bidan desa/
pengampu sebagai ujung tombak pelayanan. Meskipun demikian pemberian
pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan perlu dipertahankan
dan ditingkatkan melalui kelas ibu hamil dan juga melibatkan peran tenaga kerja
dan tokoh masyarakat.
2. Cakupan K4
Indikator K4 adalah jumlah kunjungan ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan
(1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada
trimester ketiga). Indikator ini menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di
suatu wilayah. Standar waktu tersebut ditentukan juga untuk menjamin mutu
pelayanan khususnya dalam memberi kesempatan yang cukup dalam
menangani kasus resiko tinggi yang ditemukan.
Tabel 2.2 Cakupan K4
No Nama Jumlah K4 %
Desa Ibu Hamil
1 Tretep 51 44 86,2
7
2 Donorojo 30 25 83,3
3
3 Nglarangan 20 18 90
4 Sigedong 40 30 75
5 Bonjor 37 32 86,4
9
6 Tempelsari 34 34 100
7 Campurejo 88 70 79,5
5
8 Bojong 25 22 88
9 Bendungan 25 19 76
10 Simpar 16 15 93,7
5
11 Tlogo 8 8 100
Jumlah 374 317 84,7
6
Sumber : unit Kesga Puskesmas Tretep 2019
Dari tabel 2.2 dapat diketahui bahwa cakupan K4 ibu hamil di wilayah
Puskesmas Tretep tahun 2019 adalah sebesar 84,76%. Capaian tersebut belum
memenuhi target yang ditentukan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu ada 13 yang abortus sebelum K4, 2 prematur sebelum K4 dan faktor yang
satu lagi karena terdapat 5 ibu hamil yang pindah tempat tinggalnya (unit Kesga
Puskesmas Tretep 2019).
Pengaktifkan kelas ibu hamil untuk semua ibu hamil dan kunjungan rumah
terhadap ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ulang sesuai jadwal yang
ditentukan bisa dipertahankan dan ditingkatkan.
3. Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan adalah persentase ibu
hamil di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, yang persalinannya ditolong
oleh tenaga kesehatan tanpa tergantung tempat pelayanan. Indikator ini
menggambarkan kemampuan managemen program KIA dalam pertolongan
persalinan secara profesional.
Grafik 2.1 Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
65
65

70
60
50
36
36

35
35

40
30
30

Ibu Bersalin
27
27

30
24
24

22
22
22

22
15
15

15
15

20
Persalinan Oleh Tenaga
9
9

10 Kesehatan
0

Sumber : unit Kesga Puskesmas Tretep

Interpretasi grafik 2.1 di atas adalah pencapaian persalinan oleh tenaga


kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tretep tahun 2019 telah mencapai target
yang ditetapkan sebesar 100%. Penyebab telah tercapainya cakupan linakes
kemungkinan karena sasaran penduduk lebih mendekati riil. Diperlukan
pendataan sasaran di awal tahun agar sasaran penduduk lebih mendekati riil
pada tahun berikutnya. Persalinan dukun tidak lagi ditemukan di wilayah kerja
Puskesmas Tretep. Hal ini menunjukkan hubungan kemitraan bidan dan dukun
telah berjalan cukup baik.
4. Penanganan komplikasi obstetri
Jumlah bumil yang beresiko diperkirakan 20% dari seluruh ibu hamil yang ada.
Dengan indikator ini dapat diukur tingkat kemampuan dan peran serta
masyarakat dalam mendeteksi ibu hamil resiko tinggi disuatu wilayah. Deteksi ini
selanjutnya membutuhkan tindak lanjut/penanganan secara intensif.
Grafik 2.2 Cakupan Penanganan Komplikasi Obstetri Wilayah Kerja Puskesmas
Tretep Tahun 2019

Persentase Cakupan Pelayanan Penanganan Komplikasi Obstetri


TRETEP
100
TLOGO DONOROJO
80
60
SIMPAR 40 NGLARANGAN
20 Persentase Cakupan
0 Pelayanan Penanganan
BENDUNGAN SIGEDONG Komplikasi Obstetri

BOJONG BONJOR

CAMPUREJO TEMPELSARI

Pencapaian penanganan komplikasi bumil resiko tinggi Puskesmas Tretep pada


tahun 2019 sudah mencapai 100%.Hasil analisis ini mengindikasikan bahwa
kualitas pemeriksaan kehamilan sudah memenuhi standar yang mampu
mendeteksi ibu hamil resti yang selanjutnya berpengaruh terhadap penanganan
yang diberikan. Meskipun demikian, ketelitian pemeriksaan melalui pemeriksaan
ANC 10 T, kunjungan rumah bumil resti dan penyuluhan pada bumil dan
keluarga tentang tanda-tanda bumil resti dan akibat yang ditimbulkan melalui
kelas ibu hamil dan aktifasi forum masayarakat desa untuk melaksanakan P4K
(Program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi) sangat perlu
ditingkatkan.
5. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Grafik 2.3 Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas

70
65
65

60

50
36
36

40
35
35
30
30

27
27

30
24
24

Ibu Bersalin
22
22
22
22

20 Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas


15
15

15
15
9
9

10

0
Grafik pemberian pelayanan pada ibu nifas menunjukkan bahaea cakupan Kf
lengkap telah mencapai target dengan capaian 100%. Ini menunjukkan bahwa
penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya pemeriksaan ibu nifas memiliki
kontribusi capaian pelayanan ibu nifas secara lengkap.
6. Cakupan KB aktif
Peserta KB aktif adalah peserta KB baru dan lama yang masih aktif memakai
alat kontrasepsi terus menerus hingga saat ini untuk menjarangkan kehamilan
atau yang mengakhiri kesuburan.
Grafik 2.4 Persentase KB aktif

Persentase KB Aktif

78.39 78.10 TRETEP


81.68 82.45
DONOROJO
85.09 80.77
NGLARANGAN
83.58 84.94
SIGEDONG
85.06 84.80
75.36 BONJOR
TEMPELSARI
CAMPUREJO

Sumber : laporan KB Puskesmas Tretep 2019


Interpretasi dari grafik diatas menunjukkan bahwa pasangan usia subur yang
berpotensi hamil yang terlindung dari kejadian kehamilan sebesar 82%. Cakupan
tersebut juga masih didominasi oleh kontrasepsi non MKJP. Capaian ini telah
mencapai target kabupaten sebesar 65%. Perlu tetap dilakukan penyuluhan
yang intensif tentang pentingnya ber-KB pada PUS yang tidak menginginkan
kehamilan lagi.
7. Cakupan KN1 dan KN lengkap
Cakupan kunjungan neonatal pertama untuk melihat akses atau jangkauan
pelayanan kesehatan neonatal. Cakupankunjungan neonatus lengkap untuk
melihat keberlangsungan program yankes neonatus.
Grafik 2.5 Kunjungan Neonatus 1 dan KN Lengkap

Persentase KN 1
TRETEP
100 100
100 100 DONOROJO

100 100 NGLARANGAN


100 100 SIGEDONG
BONJOR
100 100
100 100 TEMPELSARI
Sumber : Data Program Kesehatan Anak Puskesmas Tretep 2019

Grafik diatas menunjukkan terjadi drop out Kn lengkap cukup kecil yaitu 1,35%.
Meskipun demikian hal tersebut menjadikan cakupan KN lengkap tidak mencapai
target 100%. Di tahun depan diharapkan untuk deteksi resti neonatus lebih
ditingkatkan agar meminimalisir kematian bayi yang ada.
8. Penanganan Komplikasi Neonatal Risiko Tinggi
Kualitas kunjungan neonatal yang baik akan dapat mendeteksi keberadaan
neonatal risti yang selanjutnya juga berhubungan dengan penanganan yang
diberikan.
Grafik 2.6 Grafik KN Lengkap dibandingkan dengan Penanganan Komplikasi
Neonatal Risiko Tinggi

102 100 100 100 100 100 100 100 100


100
98
95.45
96 94.59
94
92 Persentase KN lengkap
90 88.89
88
persentase neonatus
86 komplikasi yang dilayani
84
82

Interpretasi Grafik diatas bahwa cakupan Kn lengkap sebesar 98,65%,


sedangkan cakupan penanganan komplikasi neonatal risti mencapai 100%. KN
yang dilakukan sudah berkualitas karena mampu mendeteksi keberadaan
neonatal risti secara maksimal yang selanjutnya memberikan kontribusi terhadap
penanganan neonatal risti. Kualitas pelayanan Kn hendaknya dapat ditingkatkan
dengan selalu menerapkan/menggunakan formulir MTBM untuk mendeteksi
keberadaan neonatal resti pada setiap pemeriksaan KN.
9. Kunjungan Bayi
Cakupan kunjungan adalah indikator untuk menunjukkan berapa banyak bayi
yang mendapatkan pelayanan kesehatan standar yaitu minimal 4x kunjungan
pada usia 29 hari sampai dengan < 1 tahun. Kebijakan pemerintah menetapkan
waktu untuk kunjungan bayi adalah kunjungan satu kali pada umur 29 hari – 2
bulan, kunjungan satu kali pada umur 3-5 bulan, kunjungan satu kali pada umur
6-8 bulan, kunjungan satu kali pada umur 9-11 bulan.
Pemberian pelayanan untuk menghitung cakupan kunjungan bayi adalah pada
pemberian imunisasi dasar lengkap, DDTK, pemberian vit A, konseling asi
eksklusif, penanganan dan rujuka kasus. Indikator ini untuk mengetahui
jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan untuk bayi.

Grafik 2.7 Kunjungan Bayi di Wilayah Puskesmas Tretep 2019

Persentase Kunjungan Bayi

TRETEP

100 100 DONOROJO


100 100 NGLARANGAN
SIGEDONG
100 100
BONJOR
TEMPELSARI
100 100
CAMPUREJO
100 100
100 BOJONG
BENDUNGAN

Sember : Laporan Program anak Puskesmas Tretep 2019


Interpretasi grafik diatas adalah cakupan kunjungan bayi tahun 2019 adalah
sebesar 100% sehingga sudah mencapai target yang ada. Data ini
menggambarkan bahwa jangakuan dan kualitas pelayanan kesehatan standar
pada bayi sudah sangat baik. Perlu peningkatan kerjasama dengan lintas
pogram terkait (imunisasi-gizi-pengobatan) agar pencatatan dalam kohort
yankes bayi menjadi rapi. Penurunan cakupan bisa saja terjadi karena
pencatatan dan pelaporan antar program yang kurang tertib.
10. Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Grafik 2.8 Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Wilayah Puskesmas Tretep
Tahun 2019

Persentase Cakupan Pelayanan Anak Balita

TRETEP
100
TLOGO 80 DONOROJO
60 NGLARANGA
SIMPAR 40 N
20 Persentase Cakupan
0 Pelayanan Anak dan
BENDUNGAN SIGEDONG Balita

BOJONG BONJOR
CAMPUREJO TEMPELSARI
Dari grafik 2.8 di atas dapat dilihat bahwa cakupan pelayanan terhadap anak
balita pada tahun 2019 telah mencapai target yaitu sebesar 100%.
Analisis grafik di atas adalah DDTK merupakan salah satu kegiatan pada
pelayanan kesehatan anak balita sudah berjalan dengan baik. Perlu tetap
diadakannya sosialisasi mengenai DDTK dari nakes yang sudah mendapat
pelatihan DDTK pada nakes/bidan desa yang belum mendapat pelatihan
tersebut. Pemeriksaan juga diharapkan lebih intensif di posyandu, PAUD
ataupun TK. Dibutuhkan juga ketersediaan sarana pelayanan kesehatan berupa
formulir pemeriksaan dan paket mainan DDTK. Pencatatan kegiatan pemberian
vitamin A dalam kohort diharapkan dapat meningkatkan cakupan yankes balita.

B Program Imunisasi
1. Desa UCI (Universal Child Immunization)
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada
bayi meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1
dosis Campak. 4 jenis imunisasi yang menjadi indikator UCI adalah BCG, DPT3,
Polio 4, dan campak.
Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan
proksi terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11
bulan). Desa UCI merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥80% jumlah
bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap
dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2014 adalah 92%. Sedangkan
standar pelayanan minimal menetapkan target 95% desa/kelurahan UCI pada
tahun 2019 untuk setiap kabupaten/kota.
Tabel 2.3 Cakupan Imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Tretep 2019
No. Nama Antigen Cakupan Imunisasi
ABS %
1 BCG 308 104,1
2 DPT-HB1 316 105,5
3 DPT-HB2 290 99,7
4 DPT-HB3 308 105,8
5 POLIO1 308 104,1
6 POLIO2 316 108,6
7 POLIO3 290 99,7
8 POLIO4 299 102,7
9 CAMPAK 269 92,4
10 HB<24 jam 308 104,1

C Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


1. Prevalensi Gizi Kurang
Gizi kurang adalah keadaan kurang zat gizi tingkat sedang yang disebabkan
oleh rendahnya asupan energi dan protein dalam waktu cukup lama
yang ditandai dengan berat badan menurut umur (BB/U).
grafik 2.9

% Balita Gizi Kurang

0.2 0.1
0.1
0.1 0.1 0.1
0.1
0.1
0.1 % Balita Gizi Kurang
0.03
0.0
0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
0.0

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa prevalensi gizi kurang sebesar 0,03%
tidak melampaui target maksimal yaitu sebesar 15,5%. Meskipun demikian
diharapkan prevalensi balita dengan gizi kurang dapat lebih ditekan menjadi 0%,
oleh karena itu penyuluhan tentang gizi bagi balita harus terus dilakukan.
2. Prevalensi Gizi Buruk
Gizi buruk: adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan
indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3 SD dan atau ditemukan
tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor. (depkes
RI, 2008)

% Balita Gizi Buruk

1
0.8
0.6
0.4
% Balita Gizi Buruk
0.2
0
Tretep

Tempelsari

Simpar
Nglarangan
Sigedong
Bonjor

Tlogo
Donorojo

Bojong
Campurejo

Jumlah
Bendungan

Grafik di atas menunjukkan bahwa tidak terdapat kasus gizi buruk di wilayah
kerja Puskesmas Tretep tahun 2019.
3. Prevalensi Stunting
Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan
yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Balita stunting termasuk masalah
gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi,
gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi.
Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam
mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. (Buletin Kemenkes,
2018)

% Balita Stunting
0.4
0.5
0.4
0.4
0.3
0.3 0.2
0.2
0.2 % Balita Stunting
0.1 0.1
0.1
0.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
0.0
Tretep

Simpar
Sigedong

Tempelsari
Bonjor

Tlogo
Nglarangan
Donorojo

Bojong

Jumlah
Campurejo

Bendungan

Grafik di atas menunjukkan bahwa angka stunting di wilayah Puskesmas Tretep


tahun 2019 adalah sebesar 0,1%. Jauh di bawah batas maksimal yang
ditentukan yaitu sebesar 30%. Akan tetapi angka stunting harus diupayakan agar
menjadi 0%. Oleh sebab itu pemberian pengetahuan kepada masyarakat
tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stunting ini harus terus
dilakukan.
4. Asi Eksklusif
ASI eksklusif menurut World Health Organization (WHO, 2011) adalah
memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain
kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin.

% Asi Eksklusif
180.0 168.8
160.0
140.0
120.0
100.0 90.2 90.5
78.8 75.7
80.0 69.4 60.7 58.7 67.3
59.3
60.0 50.0 % Asi Eksklusif
42.6
40.0
20.0
0.0
Grafik di atas menunjukkan cakupan anak umur 6 bulan yang mendapatkan asi
ekslusif adalah sebesar 75,7% masih di bawah target yaitu sebesar 80%. Untuk
itu maka perlu lebih digiatkan dan ditingkatkan lagi penyuluhan tentang
pentingnya pemberian asi ekslusif ini dengan melibatkan lintas program dan
lintas sektor.

5. Cakupan Bayi dan Balita Mendapat Vitamin A

Bayi dan Balita mendapat Vitamin A

100.0 100.0 100.0


100.0 100.0 100.0
100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0

% Bayi Mendapat Vitamin A % Balita Mendapat Vitamin A

Di wilayah Puskesmas Tretep sudah semua bayi dan balita mendapatkan


vitamin A. Hal ini dapat dilihat dari grafik di atas.

6. Balita Ditimbang(D/S)

% (D/S)
Tretep
100.0
Jumlah 93.3 Nglarangan
88.2 80.0 92.4
60.0
Tlogo96.7 Donorojo
40.0 81.6
20.0
Simpar 94.6 0.0 84.3 Sigedong % (D/S)

93.4 65.7
Bendungan Bonjor

90.5
Bojong 91.8 Tempelsari
91.4
Campurejo
Ukuran Indikator ini adalah penimbangan balita (0-59 bulan) yang ditimbang
berat badannya dinilai baik bila persentase D/S setiap bulannya sesuai target.
Hasil pemantauan status gizi balita diwilayah Puskesmas Tretep berdasarkan
balita yang ditimbang berat badannya,diperoleh cakupan D/S sebesar 88,2%
pada tahun 2019. Hasil ini masih dibawah target kabupaten 100%. Hal tersebut
disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan
pentingnya penimbangan terhadap anak balita. Untuk itu penyuluhan tentang
tumbuh kembang anak balita harus lebih ditingkatkan.
D Upaya Pemberdayaan Masyarakat
1. Cakupan Desa Siaga Aktif
Tabel 2.4 Cakupan Desa Siaga Aktif
DESA SIAGA AKTIF
NAMA JML % PRATAM MADYA PURNAM MANDIRI
NO
DESA DES DESI A A
I JML % JML % JML % JML %
1 TRETEP 1 100 - 1 100 - -
2 DONOROJO 1 100 - 1 100 - -
3 SIGEDONG 1 100 - 1 100 - -
4 NGLARANGAN 1 100 - 1 100 - -
5 BONJOR 1 100 - 1 100 - -
6 TEMPELSARI 1 100 - 1 100 - -
7 CAMPUREJO 1 100 - 1 100 - -
8 BOJONG 1 100 - 1 100 - -
9 BENDUNGAN 1 100 - 1 100 - -
10 SIMPAR 1 100 - 1 100 - -
11 TLOGO 1 100 - 1 100 - -
JUMLAH 11 100 - - 11 100 - - - -

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa semua desa telah memiliki desa siaga.
Meskipun demikian dari semua desa siaga yang ada, semuanya masih berstrata
madya, sehingga belum ada yang dikategorikan desa siaga aktif. Oleh karena itu
pertemuan –pertemuan harus selalu dilakukan untuk mengungkit strata desa
siaga dari madya menuju purnama dan jika memungkinkan berakselerasi
langsung menuju desa siaga mandiri.
2. Cakupan Posyandu Purnama Mandiri

% Posyandu Purnama dan Mandiri


100.0
100.0
100.0

100.0
100.0
100.0

100.0
100.0

120.0
78.8

100.0
66.7

80.0
60.0
40.0 % Posyandu Purnama dan
0.0

0.0

20.0 Mandiri
0.0
3. Cakupan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga Strata Utama dan
Paripurna

% PHBS Strata utama dan paripurna


% PHBS Strata…
TRETEP
100.00
JUMLAH DONOROJO
80.00 79.25 64.94
87.54
60.00
TLOGO NGLARANGAN
100.00
85.71 40.00
20.00
SIMPAR 78.08 0.00 52.90 SIGEDONG

97.38 77.88
BENDUNGAN BONJOR
90.64
100.00 91.77
BOJONG TEMPELSARI
CAMPUREJO

Grafik diatas menunjukkan bahwa cakupan PHBS strata utama dan paripurna
adalaha sebesar 87,54%. Capaian ini telah memenuhi target yang telah
ditentukan yaitu sebesar 83%. Meskipun demikian penyuluhan dan pemicuan
tentang perilaku hidup bersih harus selalu dilakukan untuk mempertahankan dan
menaikkan cakupan.
4. Cakupan Kepesertaan JKN

% Kepesertaan JKN
TRETEP
70.0
JUMLAH DONOROJO
60.0
50.0
TLOGO 40.0 NGLARANGAN
30.0
20.0
10.0
SIMPAR 0.0 SIGEDONG % Kepesertaan JKN

BENDUNGAN BONJOR

BOJONG TEMPELSARI

CAMPUREJO

Grafik tersebut menunjukkan bahwa tinkat kepesertaan masyarakat wilayah


Puskesmas Tretep adalah sebesar 46,4%. Masih jauh dari target 100%. Untuk
itu sosialisasi tentang pentingnya jaminan kesehatan harus selalu dilakukan
dengan mengajak pihak terkait untuk terlibat dalam mensosialisai hal tersebut.
E Upaya Program Promosi Kesehatan
1. Cakupan Penyuluhan Kesehatan

% Cakupan Penyuluhan Kesehatan


TRETEP
100
TLOGO DONOROJO

SIMPAR 50 NGLARANGAN
% Cakupan
0 Penyuluhan
BENDUNGAN SIGEDONG
Kesehatan

BOJONG BONJOR

CAMPUREJO TEMPELSARI

2. Cakupan Penyuluhan Napza


% jumlah Penyuluhan Napza
14.81

14.29
11.43

11.32

16.00
11.11

10.06
10.00

10.00

14.00
9.09
8.82

12.00
6.90

10.00
8.00
3.13

6.00
4.00 % jumlah Penyuluhan
2.00 Napza
0.00
Tretep

Sigedong

Tempelsari

Simpar
Bonjor

Tlogo
Bojong
Donorojo
Nglarangan

Jumlah
Campurejo

Bendungan

3. Cakupan Anggota Keluarga Tidak Merokok

% Rumah Tangga Tidak Merokok


40.0 38.1
35.0 30.5
30.0
24.4 24.4
25.0
20.0 15.6 14.8
13.8
15.0
8.1 8.5 % Rumah Tangga Tidak
10.0 5.2 5.6
1.9 Merokok
5.0
0.0
JUMLAH
DONOROJO
NGLARANGAN

TEMPELSARI

SIMPAR
TRETEP

SIGEDONG
BONJOR

CAMPUREJO
BOJONG
BENDUNGAN

TLOGO

Capaian rumah tangga tidak merokok dalam grafik tersebut adalah 14,8%.
Sangat jauh dari target yang menginginkan 70% rumah tangga tidak merokok.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh keadaan masyarakat Desa Tretep adalah
mayoritas petani tembakau, sehingga memang sulit untuk merubah kebiasaan
tersebut. meskipun demikian usaha penyuluhan tentang bahaya merokok harus
terus ditingkatkan.

Upaya Kesehatan Lingkungan


1. Rumah Sehat
Grafik Rumah Sehat

Persentase Rumah Sehat


Persentase Rumah Sehat
TRETEP
80.0
Jumlah 69.1 DONOROJO
56.3 60.0 54.8

TLOGO 72.2 40.0 NGLARANGAN


59.2
20.0

SIMPAR 61.8 0.0 52.0 SIGEDONG

40.4
55.2
BENDUNGAN BONJOR
43.1
58.9
BOJONG 58.3 TEMPELSARI
CAMPUREJO

Cakupan rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas Tretep adalah sebesar 56,3%
masih di bawah target sebesar 75%. Beberapa faktor sangat mempengaruhi
antara lain faktor ekonomi dan pengetahuan. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan
pengetahuan warga dengan penyuluhan dan mengajak dinas lain untuk ikut
berperan terutama dalam faktor ekonominya.
2. Tempat Tempat Umum (TTU)Sehat
Grafik TTU

Persentase Tempat-tempat Umum Memenuhi Syarat


Persentase Tempat-tempat Umum

TRETEP
100.0 100.0
Jumlah DONOROJO
80.0 75.0
91.0
100.0 60.0 100.0
TLOGO NGLARANGAN
40.0
20.0 90.9
SIMPAR - SIGEDONG
100.0
81.0
BENDUNGAN BONJOR
100.0

BOJONG 86.4 TEMPELSARI


100.0 100.0
CAMPUREJO
Hasil kegiatan pemeriksaan tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan di
Puskesmas Tretep pada tahun 2019 persentase tempat yang memenuhi syarat
kesehatan sebesar 91% dan sudah mencapai target. Namun tetap perlu adanya
kegiatan seperti penyuluhan atau syarat-syarat izin tempat usaha yang
mengharuskan memenuhi kriteria sehat tempat usaha.
3. Keluarga memiliki Akses Air Bersih
Akses terhadap air bersih diperoleh penduduk Wilayah Puskesmas Tretep dari
mata air dan ada sedikit warga dengan sumur gali. Persentase penduduk
pengguna sumur gali sangat kecil yaitu sebesar 2,2%. Sedangkan sebagian
besar menggunakan mata air sebesar 97,8%.
Persentase Keluarga yang memiliki akses Air Bersih yang memenuhi syarat
kesehatan tahun 2019 cakupan mencapai 100%. Cakupan ini sudah mencapai
target 100 % yang ditentukan kabupaten. Kepemilikan akses air bersih dapat
dilihat pada grafik di bawah ini.

Grafik Akses Air Bersih Berdasarkan Sumber Air


120.0
100.0
% Sumur Gali
80.0
60.0
%

40.0 % Mata Air


20.0
-
Persentase
NGLARANGAN

SIMPAR
TRETEP

SIGEDONG
BONJOR

CAMPUREJO
TEMPELSARI

BOJONG
BENDUNGAN

TLOGO
Jumlah
DONOROJO

Kepemilikan Akses Air


Bersih

4. Institusi yang diBina

Institusi Dibina
120

100

80

60
% Institusi Dibina
40

20

0
Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan Perkantoran
Hasil kegiatan pembinaan Institusi yang ada di Puskesmas Tretep pada tahun
2019, dari total32 Institusi yang ada dibina sebanyak 32 tempat (100 %).
5. Kepemilikan JambanSehat
Grafik Jamban Sehat

Persentase Akses Jamban Berdasarkan Jenis yang Digunakan


120.00
100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
100.00

68.61

64.79
62.26
61.72

61.08

61.06
59.37
58.61
55.07

80.00
50.90
46.27

44.21
42.07
39.71

39.42
36.68

36.30
60.00

34.30

31.67
31.40

30.19

28.91
40.00
13.72

7.55

7.09
6.88
5.22

3.54
2.84

2.64
2.48

2.23

1.22
20.00
0.00

Sharing Jamban Sehat Semi Permanen Jamban Sehat Permanen Total

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa masyarakat di wilayah puskesmas


Tretep sudah 100% mengakses jamban sehat sehingga bisa dikatakan wilayah
puskesmas Tretep sudah dapat dikatakan bebas buang air besar sembarangan
(ODF). Meskipun demikian pengguna jenis jamban sehat semi permanen masih
paling banyak digunakan oleh masyarakat. Oleh sebab itu penyuluhan tentang
jamban sehat harus terus dilakukan untuk merubah dari jamban semi permanen
menjadi jamban sehat permanen.
6. Kepemilikan SPAL Sehat
Grafik SPAL

Persentase SPAL Sehat


80.0
68.9
70.0 60.8
58.8
60.0 53.1
49.7
54.5
51.0 50.9 52.9 51.0 53.1
46.6
50.0
40.0
30.0
20.0 Persentase SPAL Sehat
10.0
0.0
BENDUNGAN
NGLARANGAN

SIMPAR
TRETEP

SIGEDONG
BONJOR
TEMPELSARI
CAMPUREJO
BOJONG

TLOGO
Jumlah
DONOROJO

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa SPAL yang sehat masih dibawah target
yang ada. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan seperti penyuluhan tentang
SPAL yang memenuhi syarat kesehatan melalui kegiatan kunjungan
rumah/Inspeksi Sarana Sanitasi Dasar.

7. Rumah/bangunan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Aegepty


Pada Puskesmas Tretep tidak terdapat jentik nyamuk (100%)

8. Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)Sehat

TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM) MEMENUHI


SYARAT KESEHATAN
120.0
100.0
% Depot Air Minum Sehat
80.0
60.0
%

40.0 % MAKANAN
20.0 JAJANAN/KANTIN/SENTR
0.0 A MAKANAN JAJANAN
NGLARANGAN

BOJONG
TRETEP

SIGEDONG

SIMPAR
TEMPELSARI
BONJOR

CAMPUREJO

BENDUNGAN

TLOGO
DONOROJO

% JUMLAH TPM
MEMENUHI SYARAT
KESEHATAN

Hasil kegiatan pemeriksaan tempat pengelolaan makanan di Puskesmas Tretep


pada tahun 2019 baru mencapai 41,2%, belum mencapai target sebesar 75%.
Oleh karena itu masih tetap perlu adanya peningkatan pemeriksaan Tempat
Pengelolaan Makanan secara rutin.

Upaya Program LANSIA


Persentase Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia

TRETEP
100
TLOGO DONOROJO
80
60
SIMPAR 40 NGLARANGAN
20
Persentase Pelayanan
0
BENDUNGAN SIGEDONG Kesehatan Lanjut Usia

BOJONG BONJOR

CAMPUREJO TEMPELSARI
Setiap bulan dilakukan pemeriksaan kesehatan lansia. Pemeriksaan meliputi
tensi, penimbangan berat badan, penanganan keluhan sesuai gejala dan senam
bersama. Cakupan pemeriksaan kesehatan lansia pada tahun 2019 sudah
mencapai target yaitu sudah sebesar 100%. Jumlah lansia yang lebih banyak
berkunjung adalah lansia perempuan. Penambahanjumlah posyandu lansia,
penyebaran informasi tentang jadwal pelaksanaan posyandu lansia melalui
masjid dan kelompok pengajian, pemberian PMT, peningkatan peran kader dan
tokoh masyarakat serta lebih aktifnya dilakukan penyuluhan kesehatan lansia
diharapkan dapat meningkatkan cakupan.

d. Upaya Kesehatan Perorangan

250%

200%

150%

100%

50%

0% Series 1 Column1
Rawat jalan Kesgilut laborat kesling Gizi

Dari grafik di atas terlihat bahwa semua kegiatan Upaya Kesehatan Perorangan
sudah mencapai 100% kecuali untuk konsultasi kesling dan gizi.

4.2 Analisis Hasil Kinerja Manajemen


Kinerja manajemen dibagi menjadi empat variable, yaitu manajemen operasional
Puskesmas, manajemen alat dan obat, manajemen keuangan dan manajemen
ketenagaan.
Berikut ini gambaran pencapaian kinerja manajemen di Puskesmas Tretep :

Kinerja Manajemen
Series 1 Column1 Column2

12
10
10
7.75
8 7

6 4.43
4
2
0
Manajemen operasional Manajemen alat dan Manajemen Keuangan Manajemen ketenagaan
PKM obat
Dari grafik di atas terlihat bahwa kinerja manajemen alat sudah dalam kategori
baik namun untuk manajemen operasional Puskesmas,manajemen ketenagaan dan
manajemen keuangan masih kurang.

4.3 Analisis Hasil Kinerja Mutu Pelayanan

Kinerja Mutu
0
UKM PENGEMBANGAN
100

0
UKP
93.77

0
UKM ESSENSIIL
90.01

0
UPAYA ADMEN
100

0 20 40 60 80 100 120

Series 2 Series 1

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Upaya Kesehatan Masyarakat Essensiil dan
Admen mempunyai nilai kinerja tertinggi, yaitu mencapai 100% yang termasuk dalam
kategori kinerja baik, diikuti oleh Upaya UKP yaitu 93,77%, dan Upaya Kesehatan
Perorangan yang mencapai 90,01%.
4.4 Analisis Hasil Capaian SPM
Berdasarkan tabel 3.1 Hasil Penilaian Cakupan Kegiatan Pelayanan Kesehatan
Puskesmas Tretep berdasarkan SPM Tahun 2019 maka ada 23 indikator yang belum
mencapai target SPM, yaitu :
1. Cakupan kunjungan klinik sanitasi di Puskesmas 0,1%
2. Cakupan kunjungan klinik gizi di Puskesmas 0,1%
3. Cakupan pemeriksaan leher rahim dan payudara pada perempuan usia 30-50
tahun 5,7%
4. Penemuan penderita hipertensi 24,6%
5. Cakupan penderita hipertensi mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai
standart 24,6%
6. Cakupan penderita Diabetes Melitus mendapatkan pelayanan kesehatan
sesuai standar 60,7%
7. Cakupan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat mendapatkan pelayanan
kesehatan sesuai standar 68%
8. Cakupan desa siaga aktif mandiri 18,2%
9. Cakupan anggota keluarga menjadi peserta JKN 67,2%
10. Cakupan rumah yang memiliki SPAL 53,1%
11. Cakupan rumah sehat 70,4%
12. Angka penemuan semua kasus TBC (Case Detection Rate/CDR) 38,5%
13. Cakupan orang dengan TB mendapatkan pelayanan TB sesuai standart
18,1%
14. Cakupan penderita hipertensi yang berobat teratur 24,6%
15. Indeks Keluarga sehat 3,8%

BAB V
ANALISA ORGANISASI DAN RENCANA PERBAIKAN

5.1 HASIL PENILAIAN


Hasil penilaian kinerja Puskesmas Tretep dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Hasil penilaian kegiatan pelayanan kesehatan
1) Kelompok I/kinerja baik (tingkat pencapaian 100 %)
Adalah Obat dan Perbekalan
2) Kelompok I/kinerja baik (tingkat pencapaian  90 %)
a) Upaya Kesehatan Ibu, Anak dan Keluarga berencana
b) Perbaikan Gizi Masyarakat
c) Upaya Kesehatan Lingkungan
d) Promosi Kesehatan, Pemberdayaan Masyarakat
e) Upaya Kesehatan Sekolah
f) Manajemen Puskesmas
2) Kelompok II/kinerja cukup (tingkat pencapaian 80-89%)
a) Upaya Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular dan tidak Menular
b) Upaya Kesehatan Remaja
3) Kelompok III/kinerja kurang (tingkat pencapaian  79 %)
a) Upaya Kesehatan Perorangan
Berdasarkan data tersebut, maka nilai rata-rata cakupan kegiatan pelayanan
kesehatan Puskesmas Tretep masuk ke dalam kelompok II atau kinerja BAIK
dengan rata-rata nilai 90,3
b. Hasil Penilaian Kegiatan Manajemen
1) Kelompok I/kinerja baik (nilai  8,5)
a. Manajemen alat dan obat
2) Kelompok II/kinerja cukup (nilai 5,5-8,4)
a. Manajemen Keuangan
b. Manajemen Ketenagaan
3) Kelompok III/kinerja kurang (nilai <5,5)
a. Manajemen operasional puskesmas
Kegiatan Manajemen Puskesmas Tretep termasuk ke dalam kelompok I atau kinerja
CUKUP dengan rata-rata nilai 7,295
c. Hasil Penilaian Mutu Pelayanan
1) Kelompok I/kinerja baik (tingkat pencapaian  90 %)
a) Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial
b) Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan
c) Admen
d) UKP
2) Kelompok II/kinerja cukup (tingkat pencapaian 80-89%)
Tidak ada
3) Kelompok III/kinerja kurang (tingkat pencapaian  79 %)
Tidak ada
Mutu Pelayanan Puskesmas Tretep termasuk dalam kelompok I atau
kinerja BAIK dengan rata-rata nilai 95,945
d. Hasil Penilaian PIS PK
1. IKS wilayah secara keseluruhan adalah 0,56% masuk kepada golongan pra sehat.
2. Jumlah keluarga tidak sehat ada 2287 keluarga
3. Jumlah keluarga pra sehat ada sebanyak 3298 keluarga
4. Jumlah keluarga sehat ada 223 keluarga
5. Ibu hamil dan bersalin mendapatkan pelayanan Faskes di wilayah yang di lakukan
kunjungan rumah mencapai angka 100 %
6. Akses Air Bersih di wilayah yang di lakukan kunjungan rumah mencapai angka
96,36 %
7. Jumlah balita yang mendapat Pemantauan pertumbuhan 82,57%
8. Terdapat 80,54 % keluarga yang mengikuti program KB
5.2 PERUMUSAN MASALAH

NO INDIKATOR TARGET CAKUPAN KINERJA MASALAH DASAR MASALAH


1. Cakupan 2% 0,1% 7,3% Kurangnya Kurangnya
kunjungan klinik rujukan pasien koordinasi
sanitasi di dengan penyakit petugas di BP
Puskesmas berbasis Umum
lingkungan
2. Cakupan 5% 0,1% 1,7% Kurangnya Kurangnya
Kunjungan klinik rujukan pasien koorinasi
gizi di dengan penyakit petugas di BP
Puskesmas berbasis gizi Umum
3. Cakupan 50% 5,7% 11,4% Kurangnya tenaga Tenaga yang
pemeriksaan dan kunjungan kurang
leher Rahim dan sasaran Sasaran malu
payudara pada
perempuan usia
30-50 tahun
4. Penemuan 35,5% 24,6% 69,4% Screening masih Kurangnya
penderita kurang petugas untuk
hipertensi menemukan
penderita
5. Cakupan 100% 24,6% 24,6% Kurangnya Keengganan
penderita kemauan untuk berobat
hipertensi penderita untuk
mendapatkan mengontrol
pelayanan penyakitnya
kesehatan
sesuai standart
6. Cakupan 100% 60,7% 60,7% Kurangnya Keengganan
penderita kemauan untuk berobat
Diabetes Melitus penderita untuk
mendapatkan mengontrol
pelayanan penyakitnya
kesehatan
sesuai standart
7. Cakupan orang 100% 68% 68% Kunjungan Kurangnya
dengan kerumah kurang petugas
gangguan jiwa
(ODGJ) berat
mendapatkan
pelayanan
kesehatan
sesuai standart
8. Cakupan Desa 100% 18,2% 18,2% Desa belum bisa Koordinasi
siaga aktif memenuhi linsek kurang
mandiri standart
9. Cakupan 100% 67,2% 67,2% Kemampuan Warga merasa
anggota ekonomi rugi dgn
keluarga masyarakat yang pelayanan
menjadi peserta kurang kesehatan,dan
JKN belum tentu
terpakai
10. Cakupan rumah 75% 53,1% 70,8% Karena factor Lokasi yang
yang memiliki geografis tinggi dan
SPAL curam,rentan
longsor
11. Cakupan rumah 80% 56,3% 70,4% Karena factor Lokasi padat
sehat geografis, penduduk,tata
ekonomi kelola rumah
kurang
12. Angka 70% 38,5% 54,9% Screening yang Kurangnya
penemuan kurang tenaga untuk
semua kasus melakukan
TBC (case screening
detection
rate/CDR)
13. Cakupan orang 100% 18,1% 18,1% Pasien kurang Karena
dengan TB kooperatif pemahaman
mendapatkan tentang penyakit
pelayanan TB TBC kurang
sesuai standart
14. Cakupan 100% 24,6% 24,6% Ketidakdisiplinan Malas berobat
penderita pasien
hipertensi yang
berobat teratur
15. Indeks keluarga 80% 3,8% 4,7% Sebagian besar Karena budaya
sehat warga masih merokok
merokok

5.3. URUTAN PRIORITAS MASALAH CAPAIAN INDIKATOR SPM TAHUN 2019

NO. MASALAH URGENCY SERIOUSNESS GROWTH TOTAL URUTAN


PRIORITAS
Cakupan
1. 3 1 1 5 14
kunjungan klinik
sanitasi di
Puskesmas
Cakupan
2. 4 3 3 10 4
Kunjungan klinik
gizi di
Puskesmas
Cakupan
3. 3 5 3 11 3
pemeriksaan
leher Rahim dan
payudara pada
perempuan usia
30-50 tahun
Penemuan
4. 1 4 4 9 6
penderita
hipertensi
Cakupan
5. 2 3 2 7 9
penderita
hipertensi
mendapatkan
pelayanan
kesehatan
sesuai standart
Cakupan
6. 1 4 3 8 8
penderita
Diabetes Melitus
mendapatkan
pelayanan
kesehatan
sesuai standart
Cakupan orang
7. 1 3 2 6 13
dengan
gangguan jiwa
(ODGJ) berat
mendapatkan
pelayanan
kesehatan
sesuai standart
Cakupan Desa
8. 2 2 1 5 15
siaga aktif
mandiri
Cakupan
9. 1 5 1 7 11
anggota
keluarga
menjadi peserta
JKN
Cakupan rumah
10. 1 4 1 6 12
yang memiliki
SPAL
Cakupan rumah
11. 1 5 3 9 7
sehat
Angka
12. 2 5 5 12 1
penemuan
semua kasus
TBC (case
detection
rate/CDR)
Cakupan orang
13 2 4 5 11 2
dengan TB
mendapatkan
pelayanan TB
sesuai standart
Cakupan
14. 2 3 2 7 10
penderita
hipertensi yang
berobat teratur
Indeks keluarga
15. 4 3 3 10 5
sehat
AKAR MASALAH
1. Angka penemuan semua kasus TBC (case detection rate/CDR)

METODE MAN Masyarakat


Screening pasien masih malu Masyarakat masih kurang
masih kurang mengakui bahwa pengetahuan tentang penyakit TBC
itu penyakit yang
menularkan
Kurangnya
sosilisasi tentang Pasien beranggapan batuk
Belum ada penyakiit TBC yang lama masih seperti
bilik dahak di batuk biasa jadi tidak mau
Puskesmas diperiksa dahaknya

Pasien kesulitan mengeluarkan Pasien perlu diajari


dahaknya untuk diperiksa cara mengeluarkan
Perlu
dahak
penambahan
bilik dahak pada
tatagraha
Terdapat 38,5% angka penemuan
semua kasus TBC (case detection
rate/CDR) di Puskesmas Tretep
tahun 2019
Masyarakat masih
mengganggap Sebagian masyarakat
penyakit TBC, sebagai beranggapan pemeriksaan
Masyarakat masih penyakit yang dan pengobatan TBC
kurang peduli akan memalukan dan membutuhkan biaya yang
kesehatan menularkan besar

LINGKUNGAN
ALAT
AKAR MASALAH
2. Cakupan orang dengan TB mendapatkan pelayanan TB sesuai standart

METODE Pot dahak yang MAN Masyarakat masih


diberikan tidak kembali malu mengakui Masyarakat masih
ke Puskesmas bahwa itu penyakit kurang pengetahuan
yang menularkan tentang penyakit TBC

Pot dahak harus


Kurang diserahkan ke Perlu koordinasai
sosialisasi Laboratorium kader untuk Pasien kesulitan
tentang TBC Puskesmas mengingatkan mengeluarkan Pasien perlu diajari
penderita dahaknya untuk cara mengeluarkan
diperiksa dahak

Kurang leaflet
dan banner
tentang TBC

Terdapat 18,1% cakupan orang dengan


TB mendapatkan pelayanan TB sesuai
standart di Puskesmas Tretep tahun
2019
Masyarakat kurang
peduli tentang Sebagian masyarakat
Masyarakat masih kesehatan beranggapan pemeriksaan
mengganggap dan pengobatan TBC
penyakit TBC, sebagai membutuhkan biaya yang
penyakit yang besar
memalukan dan
menularkan

LINGKUNGAN
Money
AKAR MASALAH
3. Cakupan pemeriksaan leher Rahim dan payudara pada perempuan usia 30-50 tahun

METODE MAN
Informasi masih belum sampai
kesemua sasaran karena Minat dari
Petugas kurang petugas untuk
keterbatasaan petugas
Sarana masih kurang untuk ibu dengan mengikuti
lengkap karena pada keluhan reproduksi pelatihan iva
kasus iva positif di takut untuk periksa kurang
rujuk ke puskesmas Kurang sosialisasi dan karena khawatir
lain kerjasama dari Linsek dengan
diagnosayang akan
Ibu2 merasa aman karena
Belum tersedia sarana
Malu untuk melakukan tidak ada keluhan seputar
untuk therapy
pemeriksaan ke reproduksi
krioterapi
puskesmas
Alat dan logistic serta sarana yang
terlalu banyak membutuhkan tempat
khusus(privasi & luas)
Terdapat 5,7% cakupan pemeriksaan leher
Rahim dan payudara pada perempuan usia
30-50 tahun di Puskesmas Tretep tahun
2019
Stigma masyarakat akan
Masih banyak ibu dengan meledek kepada warga yang Masyarakat beranggapan bahwa
usia menikah dini sehingga positif dan beranggapan hal pemeriksaan dan pengobatan akan
beresiko >besar tersebut adalah memalukan mengeluarkan biaya yang besar
dan merugikan serta
dianggap negatif Kurangnya informasi
tentang pelaksanaan iva

BUDAYA
BIAYA
AKAR MASALAH
4. Cakupan Kunjungan klinik gizi di Puskesmas

METODE MAN

Belum ada rujukan


penyakit berbasis gizi ke
kurangnya koordinasi
belum maksimalnya klinik gizi
antar unit pelayanan
system promosi
mengenai klinik gizi
pskesmas

Terdapat 0,1% cakupan Kunjungan klinik


gizi di Puskesmas Tretep tahun 2019

Masyarakat kurang
memperhatikan Terbtasnya
informasi tetang gizi
alat edukasi
LINGKUNGAN gizi kepada
ALAT
masyarakat
AKAR MASALAH
5. Indeks keluarga sehat

METODE MAN
Masih kurang
Kondisi SPAL dan jamban yang
banyak peserta
belum memenuhi syarat kesehatan JKN mandiri
Masih banyak
warga yang
Karena daerah merokok
sulit air Karena tidak
mau iuran jika
tidak sering sakit
Karena rokok
adalah penghasilan
utama temanggung

Terdapat 3,8% Indeks keluarga sehat


di Kecamatan Tretep tahun 2019
Masyarakat merasa mahal
untuk pembuatan SPAL
Temanggung dan jamban
wilayahnya berbukit Penghasilan
jadi jadi akses air sulit masih belum
stabil
Temanggung
merupakan daerah
penghasil tembakau

LINGKUNGAN
Dana
AKAR MASALAH
6. Penemuan Penderita hipertensi

METODE MAN
Kurang tenaga
Petugas kurang Petugas merangkap
untuk skrining
Pasien kurang pekerjaan lain
hipertensi kurang memperhatikan
kondisi kesehatannya
Belum ada pro aktif
dari kader untuk Karena ABK nya
membantu memang kurang
Karena malas
penemuan
dating berobat,
penderita hpertensi
tidak ada yang
mengantar

Belum ada
koordinasi
dengan kader
Terdapat 24,6% Penemuan penderita
hipertensi di Pusesmas Tretep tahun
2019

Desa kurang
mendukung upaya Perbedaan hasil jika
kesehatan yang tidak menggunakan tensi
berkaitan dengan KLB digital/manual

Alat belum dicek


sebelum dipakai

LINGKUNGAN
ALAT
AKAR MASALAH
7. Cakupan rumah sehat

METODE MAN
Kerjasama hanya
Persalinan dengan kader Peran petugas
dilakukan
kesling kurang
di PKD kesehatan kurang
Peran linsek
kader
kurang
kesling kurang
Penyuluhan
danMedia Keterbatasan
promosi kurang tenaga kesling
Data dasar
Metode
rujukanbelum
kesling
kurang cepat
akurat Koordinasi lintas
sektoral kurang

Sarana PHBS
kurang

Terdapat 70,4% Cakupan rumah sehat di


Puskesmas Tretep tahun 2019

Tingkat pendidikan
kurang Sarana rujukan
Media
Tingkat (mobil/ambula
Penyuluhan
ekonomi nce) kurang
kurang
rendah

LINGKUNGAN
ALAT
AKAR MASALAH
8. Cakupan penderita Diabetes Melitus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standart

METODE MAN
Tenaga screening kurang Petugas kurang
Pasien kurang
memperhatikan
kondisi kesehatannya
Petugas
Sistem merangkap
Kerjasama
pencatatan di pekerjaan lain
dengan kader
Simpus masih kurang
kurang Karena malas
sistematis dating berobat,
tidak ada yang Karena ABK nya
mengantar memang kurang

Terdapat 60,7% Cakupan penderita Diabetes


Melitus mendapatkan pelayanan kesehatan
sesuai standart di Puskesmas Tretep tahun
2019

Alat GDS tidak


sebanding
dengan jumlah
sasaran
Masyarakat takut
diperiksa GDS takut
terdeteksi

LINGKUNGAN
ALAT
AKAR MASALAH
9. Cakupan penderita hipertensi mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standart

METODE MAN Kesadaran untuk


Belum semua masyarakat
mengetahui bahaya penyakit periksa masih kurang
hipertensi

Pemahaman berobat itu


adalah ketika sakit
Belum adanya leaflet parah
tentang penyakit
hipertensi

Kurang pemahaman
dari intern masyarakat
atau perangkat desa

Terdapat 24,6% Cakupan penderita


hipertensi mendapatkan pelayanan
kesehatan sesuai standart di Puskesmas
Tretep tahun 2019

Simpus belum
mendukung
pelaporan bagi
penderita khusus
hipertensi

ALAT
AKAR MASALAH
10. Cakupan penderita hipertensi yang berobat teratur

METODE MAN
Kegiatan prolanis berjalan namun Kesadaran
belum 100% mengenai sasaran masyarakat akan
kesehatan kurang

Sudah
dilakukan Pengetahuan
kunjungan masyarakat tentang
Metode bahaya hipertensi
pencarian rumah
kurang
sulit

Simpus tidak
mendata semua
pasien hipertensi

Terdapat 24,6% Cakupan penderita hipertensi


yang berobat teratur di Puskesmas Tretep
tahun 2019

Masyarakat kurang
mendukung untuk Alat terbatas
pelaporan penderita
TB

LINGKUNGAN
ALAT
AKAR MASALAH
11. Cakupan anggota keluarga menjadi peserta JKN

METODE MAN
Keluarga tetap Masyarakat kurang
menolak meski memahami
sudah dikunjungi informasi tentang
BPJS
Karena stigma
iuran bpjs itu
memberatkan Kurang informasi dan
bagi mereka sosialisasi BPJS melalui
leaflet dan banner

Terdapat 67,2% Cakupan anggota keluarga


menjadi peserta JKN di Puskesmas Tretep
tahun 2019

Masyarakat
Berat iuran
beranggapan pasien
Masyarakat yang merasa tiap
umum dan pasien
sehat merasa berat jika bulannya
bpjs itu berbeda
iuran untuk menyumbang
penderita lain

LINGKUNGAN
MONEY
AKAR MASALAH
12. Cakupan rumah yang memiliki SPAL

METODE MAN
Peran kader masih Keterbatasan tenaga
kurang kesling

Protap kurang
Kerjasama
petugas dan Karena petugas sering
Data dasar kader kurang rapat dan mengampu
kurang akurat tugas lain

Media promosi Peran linsek


kurang ABK kurang
kurang

Terdapat 53,1% Cakupan rumah yang


memiliki SPAL di Puskesmas Tretep tahun
2019
Tingkat ekonomi
rendah yang rendah
Tingkat pendidikan
yang rendah Dana intervensi
tidak ada

Kondisi geografis yg Mahalnya biaya untuk


curam dan berbukit2 pembuatan SPAL

LINGKUNGAN
MONEY
AKAR MASALAH
13. Cakupan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standart

METODE MAN
Pengalaman Penderita malu jika
petugas kurang diketahui ada keluarga
menderita ODGJ

Belum ada Petugas


pelatihan tentang kurang
penanganan ODGJ jumlahnya Kurangnya kedekatan
Metode
tenaga kesehatan / kader
pengantaran
kesehatan dengan
sulit
keluarga

ABK kurang
Belum ada
koordinasi mobil
dari desa
Terdapat 68% Cakupan orang dengan
gangguan jiwa (ODGJ) berat mendapatkan
pelayanan kesehatan sesuai standart di
Puskesmas Tretep tahun 2019
Masyarakat takut
Jenis obat
terhadap
belum
penderita ODGJ
lengkap

LINGKUNGAN
ALAT
AKAR MASALAH
14. Cakupan kunjungan klinik sanitasi di Puskesmas

METODE Rujukan konsultasi penyakit MAN Masyarakat kurang


berbasis lingkungan kadang memperdulikan Kesadaran masyarakat
tidak dilakukan penyebab penyakit untuk bertanya tentang
berbasis lingkungan sanitasi kurang

Koordinasi antara
petugas BP Umum
dan Petugas Sanitasi Petugas Sanitasi
kurang sering keluar
lapangan serta
membantu program
lain, sehingga waktu
untuk konsultasi
kurang

Terdapat 0,1% Cakupan kunjungan


klinik sanitasi di Puskesmas Tretep
tahun 2019
Kurangnya informasi
jenis-jenis pelayanan

Masyarakat tidak Belum ada anggaran


mengetahui bila ada untuk penmbahan
pelayanan konsultasi ruangan khusus konsultasi
penyakit yang berbasis sanitasi
lingkungan
Anggaran BLUD
LINGKUNGAN belum teralokasi
Money untuk perehab
gedung
AKAR MASALAH
15. Cakupan Desa siaga aktif mandiri

METODE MAN
Pengetahuan
Informasi masih
kurang Petugas masih
kurang
Masyarakat
kurang peduli
Kurangnya
akan kesehatan
sosialisasi dan
Perlu pelatihan petugas
Belum tersedianya kurang
dan desa setempat
sarana prasarana kerjasama
tentang desa siaga aktif
yang memadai dari dengan linsek
mandiri
masyarakat

Terdapat 18,2% Cakupan Desa siaga


aktif mandiri di Puskesmas Tretep tahun
2019

Masyarakat kurang
Keterbatasan
peduli tentang
dana desa untuk
pentingnya
membuat desa
kesehatan
siaga

LINGKUNGAN
BIAYA
PENETAPAN CARA PEMECAHAN MASALAH

N PRIORITAS PENYEBAB ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH KE


O MASALAH MASALAH PEMECAHAN TERPILIH T
MASALAH
Terdapat 38,5% Masih 1. Perlunya leaflet 1. Cetak leaflet
1.
angka kurangnya dan banner
penemuan pengetahuan tentang penyakit
semua kasus tentang TBC di fasilitas
TBC (case penyakit TBC umum
detection 2. Pentingnya update
rate/CDR) di pengetahuan
Pusk Tretep mengenai TBC
tahun 2019 Pasien perlu bagi kader
briefing cara
mengeluarkan 1.Refhreshing kader
dahak 1.petugas khusus
dibentuk untuk
Kurang melayani
sosialisasi pengambilan dahak
tentang 2.membentuk tim
penyakit TBC kader TBC
1. Rapat Linsek
Perlu
penambahan 1. Sosialisasi TBC
bilik dahak pada saat linsek
pada tata graha 2. Pembagian leaflet
ke masyarakat
1.usulan bilik dahak pada
RKA 2021
1.Penambahan
anggaran
pembangunan bilik
dahak di Puskesmas

Masyarakat 1.Sosialisasi TBC 1. Pelatihan penyuluhan TBC


2. Terdapat 18,1 %
masih kurang melalui kader pada kader
Cakupan orang
pengetahuan
dengan TB
tentang
mendapatkan
pelayanan TB penyakit TBC 1. petugas khusus 1.Pelatihan tim khusus
dibentuk untuk pengambilan dahak pasien
sesuai standart Pasien perlu melayani berisikoTBC
di Puskesmas diajari cara
Tretep 2019 pengambilan dahak
mengeluarkan 1.Refhreshing kader
dahak 1.membentuk tim
kader TBC untuk 1.Linsek
Pot dahak yang
mendata pot dahak
diberikan tidak
yang masuk dan
kembali ke
keluar 1. Penyuluhan tentang jenis
Puskesmas
pelayanan
1.perlunya sosialisasi 2. Penyebaran leaflet
pelayanan dan
pelayanan
pengobatan TBC baik
itu kelinsek maupun
Sebagian pendekatan ke desa-
masyarakat desa
beranggapan 1.Rapat Linsek tentang TBC
pemeriksaan
dan 1.Sosialisasi tentang
pengobatan penyakit TBC
TBC 2.menggunakan 1
membutuhkan ruangan konsultasi
biaya yang untuk penderita TBC
besar .1.Rapat Linsek tentang TBC

1.Sosialisasi penyakit 1. m
TBC kepada linsek
Masyarakat
kurang peduli
tentang
kesehatan

Masyarakat
masih
menganggap
penyakit TBC
sebagai
penyakit yang
memalukan
dan menular

1. Minat dari 1.pelatihan di waktu 1. jadwal pelatihan petugas


3. Terdapat 5,7%
petugas untuk yang terbatas di jadwalkan lebih
cakupan
mengikuti disesuaikan
pemeriksaan
pelatihan iva
leher Rahim dan
kurang 1.kelas iva ditiap desa
payudara pada
2. Masih
perempuan usia
dilakukan 1.perjadin dan makmin
30-50 tahun di
pemeriksaan kegiatan iva
Puskesmas
secara
Tretep 2019
berkelompok 1.dilakukan
perhitungan ABK
1.pengusulan tenaga kerja ke
3. kurang 1.pelatihan dinas kesehatan
nakes penyuluhan pada
kader 1.kelas kader

4. kurangnya 1.pembuatan leaflet


penyuluhan 1.cetak leaflet
kepada
masyarakat

5. Perlu media
promosi
bahwa
pemeriksaa
n sudah
bisa di PKM
1. kurangnya 1.lokmin 1.lokmin
4. Terdapat 0,1%
koordinasi
cakupan
antar unit
kunjungan klinik
pelayanan 1.koordinasi lintas 1.koordinasi lintas pelayanan
gizi di
2.Belum ada pelayanan
Puskesmas
rujukan
Tretep 2019
penyakit 1.leaflet tentang jenis 1.leaflet tentang jenis
berbasis gizi ke pelayanan pelayanan
klinik gizi
3.belum
maksimalnya 1.penyuluhan dalam
system promosi gedung 1.penyuluhan dalam gedung
mengenai klinik
gizi
4. Masyarakat 1.penyuluhan oleh 1.penyuluhan oleh kader
kurang kader didesa didesa
memperhatikan
informasi
tentang gizi
5. Terbatasnya
alat edukasi
gizi kepada
masyarakat
1.Ketidak 1.menambah 1.informasi dibantu kader
5. Terdapat 3,8%
mauan iuran pengetahuan tentang
indeks keluarga
BPJS jika tidak pentingnya BPJS 1.kunjungan sehat
sehat di
sering sakit 1.kunjungan rumah
Kecamatan
2.Kondisi
Tretep di tahun
geografis yang 1.surat pengajuan dana
2019
sulit air 1.pengajuan dana ke
3.Masyarakat dinas kesehatan
merasa mahal
untuk
pembuatan 1.kunjungan sehat
SPAL dan 1.kunjungan rumah
jamban
4.Medan yang
terjal
Terdapat 24,6% 1.Pasien 1.penyuluhan dalam .penyuluhan dalam gedung
6.
penemuan kurang gedung
penderita memperhatikan
hipertensi di kondisi 1.pengusulan tenaga 1.pengusulan tenaga kerja
Puskesmas kesehatannya kerja
tretep tahun 2.Perhitungan 1.kelas kader perdesa
2019 ABK belum 1.kelas kader perdesa
sesuai
3.Koordinasi 1.linsek 1.linsek
kader kurang
4.Desa kurang 1.evaluasi alat tiap 1.evaluasi alat tiap bulan
mendukung bulan
upaya
kesehatan
5.Alat belum
dicek sebelum
dipakai
1. 1.pengelolaan ABK 1. pengelolaan ABK
7. Terdapat 70,4%
Keterbatasan
Cakupan rumah
tenaga kesling 1.linsek 1.linsek
sehat di
2. Koordinasi
Puskesmas
lintas sektoral 1.kader 1.kader
Tretep tahun
kurang
2019
3. Kerjasama 1.pembuatan banner 1.pembuatan banner dan
dengan kader dan leaflet leaflet
kesling kurang
4. Penyuluhan 1.koordinasi dengan
dan media disdukcapil 1.koordinasi dengan
promosi kurang disdukcapil
5. Data dasar 1.usulan anggran
kesling belum RKA 2021 1.usulan anggran RKA 2021
akurat 1.usulan meda
6. Sarana penyuluhan ditiap 1.usulan meda penyuluhan
PHBS kurang desa dan penyulhan ditiap desa dan penyulhan
7. Sarana dalam gedung dalam gedung
Penyuluhan 1.pelatihan kepada 1.pelatihan kepada warga
kurang warga desa utk kasus desa utk kasus tertentu
tertentu
8. Tingkat
pendidikan
kurang
1.ABK yang 1.pengusulan tenaga 1.pengusulan tenaga kerja ke
8. Terdapat 60,7%
belum sesuai kerja ke dinas dinas kesehatan
cakupan
kesehatan
penderita
2.Kurang 1.kelas kader
diabetes mellitus
koordinasi 1.kelas kader
mendapatkan
dengan kader
pelayanan
3.Sistem 1.penggolongan 1.penggolongan simpus yang
kesehatan
pencatatan di simpus yang lebih lebih sitematis
sesuai standart
simpus masih sitematis
di Puskesmas
kurang
Tretep tahun
sistematis 1.pengadaan alat GDs
2019
4.Alat GDs 1.pengadaan alat
tidak sebanding GDs
dengan jumlah
sasaran

1.Kurang 1.pemaparan tentang pemaparan tentang penyakit


9. Terdapat 24,6%
pemahaman penyakit hipertensi hipertensi
cakupan
dari intern
penderita
masyarakat
hipertensi
atau perangkat 1.pembuatan leaflet 1.pembuatan leaflet
mendapatkan
desa
pelayanan
2.Belum
kesehatan di
adanya leaflet 1.upgrade simpus
Puskesmas
tentang
Tretep tahun
penyakit
2019
hipertensi
3.Simpus
belum
mendukung
pelaporan bagi
penderita
khusus
hipertensi

Pengetahuan 1.pemaparan tentang pemaparan tentang penyakit


10 Terdapat 24,6%
masyarakat penyakit hipertensi hipertensi
. cakupan
tentang bahaya
penderita
hipertensi
hipertensi yang
kurang
berobat teratur
1.membuat 1.membuat pencatatan
di Puskesmas
Simpus tidak pencatatan tersendiri tersendiri
Tretep tahun
mendata
2019
semua pasien
hipertensi
Sudah
dilakukan 1.pelatihan 1.pelatihan pencatatan
kunjungan pencatatan
rumah tapi
masih belum
ada kesadaran 1.usulan angaran RKA
Masyarakat 1.usulan angaran
kurang RKA
mendukung
untuk
pelaporan
penderita
hipertensi
Alat terbatas
Kurang 1.pembuatan leaflet pembuatan leaflet dan
11 Terdapat 67,2%
informasi dan dan banner banner
cakupan
sosialisasi
anggota
BPJS melalui
keluarga
leaflet dan 1.penyuluhan tentang
menjadi peserta
banner keuntungan BPJS 1.penyuluhan tentang
JKN di
Karena stigma 2.peningkatan mutu keuntungan BPJS
Puskesmas
iuran BPJS itu pelayanan 2.peningkatan mutu
Tretep 2019
memberatkan pelayanan
bagi mereka
1.leaflet tentang
Berat iuran tiap informasi BPJS 1.leaflet tentang informasi
bulannya BPJS
Masyarakat
beranggapan 1.penyuluhan dalam
pasien umum gedung
dan pasien bpjs 2.pembelian media 1.penyuluhan dalam gedung
itu berbeda penyuluhan dalam
Masyarakat gedung
yang merasa
sehat merasa
berat jika iuran
untuk
menyumbang
penderita lain
Perhitungan 1.pengusulan tenaga 1.pengusulan tenaga dan
12 Terdapat 53,1%
ABK yang dan pembagian job pembagian job yang adil
cakupan rumah
masih kurang yang adil
yang memiliki
sesuai 1.koordinasi linsek 1.koordinasi linsek yang lebih
SPAL di
Peran linsek yang lebih intens intens
Puskesmas kurang 1.pembuatan media 1.pembuatan media promosi
Tretep tahun Media promosi promosi yang menarik yang menarik
2019 kurang 1.usulan dana 1.usulan dana intervensi
Dana intervensi intervensi pada rka pada rka 2021 dan
tidak ada 2021 dan 2.permohonan dana desa
2.permohonan dana pada linsek
desa pada linsek
Mahalnya biaya
untuk 1.anggaran 1.anggaran pembuatan SPAL
pembuatan pembuatan SPAL 2.permohonan bantuan dana
SPAL 2.permohonan desa
bantuan dana desa
Kondisi
geografis yang
curam dan
berbukit-bukit
1.Kurangnya 1.penyuluhan ODGJ
13 Terdapat 68%
penyuluhan
ODGJ belum
tentang kasus
mendapatkan
ODGJ 1.penjelasan pada
pelayanan
2.Tidak ada linsek tentang ODGJ
kesehatan
sesuai standar di kader atau
toma yang
Puskesmas
memberikan 1.pelatihan petugas
Tretep 2019
pendekatan tentang penanganan
3.Pengalaman ODGK
petugas kurang

4.Kurangnya
pengetahuan
dokter umum 1.Intervensi
tentang penanganan pasien
pengobatan ODGJ
ODGJ
5.Masyarakat
sering main
hakim sendiri
dalam
penanganan
ODGJ
Petugas 1.pembagian kerja pembagian kerja yang lebih
14 Terdapat 0,1%
sanitasi sering yang lebih merata merata
cakupan
keluar
kunjungan klinik
lapangan serta
sanitasi di
membantu
Puskesmas
program lain,
Tretep tahun
sehingga waktu 1.ada rapat koordinasi 1.ada rapat koordinasi UKP
2019
untuk UKP
konsultasi
kurang
Koordinasi 1.leaflet jenis-jenis 1.leaflet jenis-jenis pelayanan
antara petugas pelayanan
BP Umum dan
petugas 1.rehab gedung 1.rehab gedung
sanitasi kurang
Kurangnya
informasi jenis-
jenis pelayanan
Anggaran
BLUD belum
teralokasi untuk
rehab gedung
Perlu pelatihan 1.pelatihan tim desa .pelatihan tim desa siaga aktif
15 Terdapat 18,2%
petugas dan siaga aktif mandiri mandiri
cakupan desa
desa setempat
siaga aktif
tentang desa
mandiri di
siaga aktif
Puskesmas
mandiri 1.media promosi 1.media promosi leaflet
Tretep tahun
Masyarakat leaflet 2.koordinasi kader dan
2019
kurang peduli 2.koordinasi kader perangkat desa untuk
akan dan perangkat desa membudayakan hidup sehat
kesehatan untuk membudayakan
hidup sehat

1.kerjasama linsek 1.kerjasama linsek


Kurangnya
sosialisasi dan
kurang 1.permintaan bantuan 1.permintaan bantuan dana
kerjasama dana desa dari linsek desa dari linsek
dengan linsek 2.anggaran dana 2.anggaran dana desa siaga
Keterbatasan desa siaga
dana desa
untuk membuat
desa siaga
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
a. Hasil penilaian terhadap cakupan kegiatan Pelayanan Kesehatan Puskesmas
Tretep adalah kategori BAIK, namun masih banyak kekurangan di sana sini
yang membutuhkan perbaikan terutama UKP.
b. Masih terdapat beberapa variabel dalam cakupan kegiatan pelayanan kesehatan
Puskesmas Tretep yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penilaian karena
tidak/belum adanya target sasaran dari variabel tersebut.
c. Masih ada beberapa kegiatan program yang tidak bisa dilaksanakan petugas
karena keterbatasan alkes dan bahan di puskesmas.
d. Kegiatan Manajemen Puskesmas Tretep termasuk dalam katagori kinerja
CUKUP, dan masih perlu peningkatan.
e. Penilaian terhadap Mutu Pelayanan Puskesmas diperoleh nilai rata-rata Baik,
namun masih banyak kekurangan. Sehingga kedepan masih perlu diperbaiki.
f. Pentingnya koordinasi dengan linsek untuk setiap kegiatan di Puskesmas
g. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat setiap kegiatan yang akan
dikerjakan setiap tahunnya
h. Perlu kegiatan yang berupa koordinasi kader
i. Perlu dipertimbangkan kesejahteraan kader
j. Perlu dilakukan penghitungan ABK yang tepat
k. Perlu koordinasi yang baik dengan dinas kesehatan

6.2 Saran
a. Cakupan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Puskesmas Tretep hendaknya lebih
ditingkatkan terutama untuk program-program yang hasil pencapaian
kegiatannya masih di bawah target sasaran melalui pelaksanaan dari alternatif
pemecahan masalah yang telah dirumuskan dengan menggunakan anggaran
BOK ataupun dana BLUD secara optimal.
b. Masing-masing pemegang program kegiatan pelayanan kesehatan hendaknya
mengetahui target sasaran dalam bekerja sehingga dapat dijadikan acuan dalam
melaksanakan kegiatan serta akan dapat memudahkan proses penilaian kinerja
tahun berikutnya.
c. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor serta berbagai upaya
untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat.
d. Meningkatkan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten untuk
kelengkapan alkes dan sarana serta bimbingan dalam meningkatkan capaian
program.