Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era globalisasi, khususnya dalam tatanan perekonomian dunia, telah mendorong


lahirnya organisasi-organisasi pasar bersama (pasar bebas), artinya setiap negara akan
bersaing dengan negara lain. Untuk dapat bersaing diperlukan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang memiliki keahlian profesional. Keahlian profesional yang harus diakui pada
dasarnya mengandung unsur ilmu pengetahun, teknik dan kiat. Unsur kiat yang menjadi
faktor utama penentu kadar keprofesinalan seseorang hanya dapat dikuasai melalui cara
mengerjakan langsung pekerjaan pada bidang profesi itu sendiri. Karena itulah tumbuh
suatu ukuran keahlian profesional berdasarkan jumlah pengalaman kerja. Untuk
menciptakan SDM yang lebih beprofesional dan mampu bersaing di pasar bebas
diperlukan adanya sebuah pelatihan kerja sebelum terjun ke persaingan yang lebih tinggi.
Maka dari itu diperlukan sebuah kurikulum praktek kerja lapangan yang akan
meningkatkan SDM yang lebih professional dan mampu bersaing secara global.

Praktek Kerja Lapangan adalah kegiatan magangan bagi mahasiswa di dunia kerja
baik di bidang industri maupun pemerintahan dan merupakan mata kuliah yang wajib
untuk ditempuh oleh seluruh mahasiswa Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas
Warmadewa. Kegiatan ini memiliki tujuan yaitu mahasiswa mendapatkan pengalaman
sebelum mereka memasuki dunia kerja. Pengalaman tersebut berupa keterampilan dan
pengetahuan, permasalahan, dan strategi menghadapi permasalahan yang terkait bidang
teknik dan perencanaan.

Berdasarkan kurikulum Fakultas Teknik dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur,


Universitas Warmadewa, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengadakan
pengamatan langsung dalam kegiatan evaluasi proyek-proyek pelaksanaan konstruksi
bangunan. Kegiatan evaluasi tersebut terangkum dalam mata kuliah Praktek Kerja
Lapangan (PKL). Luaran akhir dari pengamatan tersebut adalah sebuah laporan akhir yang
berisikan sebuah laporan dari hasil pengamatan langsung di lapangan terhadap sebuah
proyek, yang dalam hal ini mengambil bidang peninjauan sebagai pembantu pengawas dan
pelaksana. Dengan demikian, mahasiswa yang mengikuti Praktek Kerja Lapangan
pelaksanaan akan terlibat langsung selama 4 bulan terhitung dari tanggal 11 Maret 2019
s/d 11 Juli 2019, sesuai Surat Keputusan (SK) yang disebutkan. Diharapkan mampu
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 1
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
menciptakan lulusan mahasiswa yang dapat menjadi sumber daya manusia yang benar-
benar berkompeten, berkualitas, professional, memiliki mental yang baik dan mampu
bersaing di dunia kerja.

Proyek yang menjadi obyek peninjauan praktek kerja lapangan adalah pada proyek
pembangunan Pasar Phula Kerti yang berlokasi di Jalan Sema Made Pil, Sanglah,
Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar – Bali. Pembangunan Pasar Phula Kerti,
Sanglah merupakan bentuk kerjasama antara pihak owner yaitu Banjar Kaja, Sesetan
dengan PT. Adi Murti sebagai Kontror Pelaksana dan CV. Bali Chandra Lestari yang
bertindak sebagai Konsultan Perencanaan dan Pengawasan. Sedangkan mahasiswa yang
praktek kerja lapangan yaitu 3 mahasiswa dari Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik dan
Perencanaan, Universitas Warmadewa yang melakukan pengamatan dan terlibat langsung
dalam kegiatan pada proyek tersebut. Pengamatan yang dilakukan selama proses PKL ini
berlangsung dengan terjun langsung ke lapangan dan mewawancarai pegawai dan staff PT.
Adi Murti dan staff CV. Bali Chandra Lestari yang sedang bekerja untuk mendapatkan
informasi, pengarahan dan masukan.

1.2 Tujuan, Sasaran, dan Manfaat

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana tujuan, sasaran, dan manfaat
dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul Pelaksanaan Pembangunan Pasar Phula
Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali.

Tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini yaitu untuk memenuhi
persyaratan kurikulum mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan memberi
kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja dan berinteraksi
dengan perusahaan atau instansi calon pengguna lulusan dengan cara mengamati,
mengenal dan menganalisis permasalahan yang dijumpai di perusahaan tempat praktek
kerja lapangan. Analisis yang dilakukan terkait pengaplikasian teori-teori yang didapatkan
dibangku kuliah dengan apa yang ada di lapangan pada pekerjaan suatu bangunan.

Sasaran dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini antara lain untuk
mengamati atau meninjau sebuah proyek langsung, dimana proyek tersebut akan
direalisasikan dan disusun dalam sebuah laporan dengan bidang pengamatan di lapangan
sebagai pelaksana. Adapun sasaran-sasaran lainnya yaitu untuk mengetahui bagaimana
pelaksanaan dan penyelesaian suatu proyek, untuk mengetahui bagaimana sistem kerja
suatu kontraktor, konsultan atau manajemen konstruksi dalam pelaksanaan dan mengatasi
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 2
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
masalah-masalah yang timbul di lapangan dan untuk mengetahui kebijaksanaan-
kebijaksanaan yang ditempuh oleh konsultan perencana dan manajemen konstruksi dalam
pelaksanaan pekerjaan.

Manfaat bagi Universitas dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah
terciptanya kerjaama antara Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa
dengan PT. Adi Murti dan CV. Bali Chandra Lestari sehingga Fakultas Teknik dan
Perencanaan, Universitas Warmadewa dapat meningkatkan kualitas lulusannya melalui
pengalaman praktek kerja lapangan.

Manfaat bagi mahasiswa dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini antara
lain dapat dapat mengetahui perkembangan teknologi yang kini berkembang didunia kerja,
mengetahui mekanisme kerja suatu proyek terutama pada tahap pelaksanaan di lapangan,
mengetahui pengaplikasian teori-teori yang diperoleh dibangku kuliah melalui kerja
praktek pelaksana di proyek, lebih mendalami serta memantapkan pengetahuan tentang
teori yang didapat di perkuliahan serta mengetahui pemecahan masalah pekerjaan di
lapangan sehingga ketika lulus dari Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas
Warmadewa mahasiswa diharapkan mampu bersaing dan meningkatkan sikap profesional
ketika memasuki lapangan pekerjaan.

Manfaat bagi kontraktor dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini antara
lain perusahaan dapat terbantu oleh tenaga mahasiswa- mahasiswa yang melakukan
praktek kerja lapangan yaitu dengan membantu kinerja pengawasan proses pekerjaan
konstruksi bangunan proyek secara menyeluruh, membantu melakukan audit perusahaan
dengan dibuatnya laporan harian pekerjaan yang ada di lapangan, serta terciptanya
kerjaama antara Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa dengan PT.
Adi Murti dan CV. Bali Chandra Lestari sehingga dua perusahaan tersebut dikenal oleh
kalangan akademis dan dunia pendidikan.

1.3 Batasan Waktu dan Lingkup Pembahasan

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana batasan waktu dan lingkup
pembahasan dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) Pelaksanaan Pembangunan Pasar Phula
Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali.

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) bidang pelaksanaan ini berlangsung dari
tanggal 11 Maret 2019 sampai dengan 11 Juni 2019 dan pada tanggal 11 Juni sampai

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 3


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
dengan 11 Juli (penyusunan laporan) dengan ketentuan bimbingan minimal sebanyak enam
kali. Lingkup Praktek Kerja Lapangan, dibatasi dalam bidang pengawasan di lapangan
pada suatu proyek, di mana praktek terjun langsung ke proyek melalui biro kontraktor,
dalam hal ini menyangkut bagaimana dapat turut serta melaksanakan dan menyelesaikan
pekerjaan teknis maupun non-teknis mengenai pelaksanaan proyek di lapangan,
pemahaman gambar-gambar kerja, dan pengamatan lapangan. Lingkup pembahasan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini meliputi pelaksanaan Pembangunan Pasar Phula Kerti
Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali, pengelolaan biaya, mutu dan waktu pelaksanaan
baik aspek non teknis maupun aspek teknis pelaksanaan, laporan harian, kendala serta
solusi untuk setiap kendala yang dihadapi.

1.4 Metodologi

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana metode pengumpulan data,
metode penyusunan data, dan metode analisis data dari Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pelaksanaan Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali.

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam laporan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) ini adalah Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan
langsung di lokasi pelaksanaan proyek kemudian melapor kepada pengawas utama di
lapangan untuk meminta ijin melakukan pengamatan. Pengamatan secara langsung
dilakukan di lapangan, mengenai cara kerja dan proses pekerjaan pelaksanaan proyek
pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, yang meliputi tahap persiapan
sampai tahapan pelaksanaan di lapangan. Studi literatur yaitu pengumpulan data melalui
buku manajemen suatu proyek kontruksi, buku refrensi untuk kontraktor, dan data – data
yang didapat di internet dengan kesesuaian mengenai pelaksanaan proyek kontruksi. Selain
itu literatur dapat berupa laporan-laporan dan jurnal sebagai program pelaksanaan yang
terkait dengan pembuatan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Dokumentasi, metode
pengumpulan data dengan cara mengambil gambar menggunakan kamera handphone
tentang kegiatan proyek di lapangan beberapa diantaranya struktur, arsitekur dan utilitas
yang nantinya akan berguna untuk memperjelas pembahasan dan analisa.

Adapun metode penyusunan data yang digunakan dalam laporan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) ini adalah klasifikasi data, yaitu pengumpulan data sesuai dengan tingkat
kegunaannya, data yang di klasifikasikan adalah data yang bersifat teknis pelaksanaan
seperti foto di lapangan yaitu proses pekerjaan yaitu berupa foto/gambar serta perhitungan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 4


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
berupa sketsa yang kemudian data tersebut di klasifikasikan sebagai data lapangan. Data
yang di kompilasikan yang selanjutnya adalah data yang berupa jadwal serta ketentuan
yang di keluarkan oleh pihak perusahaan yaitu PT. Adi Murti, data ini berupa gambar
kerja, time schedule yang semuanya di kumpulkan dalam satu folder data, proses kompilasi
data spesifikasinya di lakukan di dalam proses analisa kompilasi data, penggabungan data
yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian deskripsi, tabel, grafik, sketsa, gambar dan
foto.

Adapun metode analisis data dengan menggunakan analisis–analisis sebagai berikut


antara lain deskriptif, yaitu hasil pengamatan diuraikan secara deskripsi menggunakan
bahasa verbal dan grafik sesuai dengan proses pelaksanaan proyek konstruksi di lapangan,
selanjutnya data tersebut akan dianalisis dengan metode komparatif. Dalam metode
komparatif, data yang sudah diperoleh kemudian dikomparasikan untuk memudahkan
dalam penyusunan selanjutnya dimana data-data tersebut berupa perbandingan terhadap
teori yang di dapat di bangku perkuliahan atau yang bersumber dari buku yang saling
berhubungan satu dengan yang lain. Analisa dimana data yang sudah dikomparasikan
kemudian dianalisa untuk diketahui permasalahanya, penyebab dan akibat yang mungkin
ditimbulkan untuk kemudian dicarikan alternatif pemecahannya. Sintesa dimana
mengintegrasi dari setiap unsur beserta faktor-faktor pengaruhnya dengan tujuan memilih
alternatif terbaik bagi penyelesaian program kerja kemudian menarik suatu kesimpulan.

1.5 Sistematika Penulisan

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana sistematika penulisan dari
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang tersusun atas 5 bab yaitu pendahuluan,
tinjauan pustaka, tinjauan proyek, pembahasan dan pelaksanaan proyek, serta penutup.

BAB I merupakan pendahuluan yang menguraikan dan membahas tentang latar


belakang, tujuan, sasaran, dan manfaat, ruang lingkup pembahasan, metodologi, serta
sistematika penulisan.

BAB II merupakan tinjauan pustaka yang menguraikan dan membahas tentang


tinjauan proyek yang dikerjakan, tinjauan proyek kontruksi, pengertian proyek, pengertian
kontruksi, tujuan proyek, macam-macam proyek, pelaksanaan proyek kontruksi dan
manajemen proyek konstruksi.

BAB III. Tinjauan Proyek

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 5


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
BAB III merupakan tinjauan proyek yang menguraikan dan membahas tentang
gambaran umum proyek yang mencakup spesifikasi proyek, ruang lingkup dan jenis
pekerjaan. Gambaran umum pelaksanaan pekerjaan yang mencakup identifikasi proyek,
proses mendapatkan proyek, hak, kewajiban, dan tanggung jawab kontraktor, struktur
organisasi dan pembagian kerja.

BAB IV merupakan pembahasan dan pelaksanaan proyek yang menguraikan dan


membahas tentang pedoman pelaksanaan pekerjaan, perencanaan kontruksi yang
mencakup time schedule pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pelaksanaan
pekerjaan, rencana sumber daya, gambar kerja, pelaporan dan prestasi kerja. Pengelolaan
site, pengelolaan bahan, pengelolaan alat, pengelolaan tenaga kerja, koordinasi
pelaksanaan, pengendaliaan pelaksanaan, pelaksanaan pekerjaan.

BAB V merupakan penutup yang membahas tentang manajemen perencanaan dan


pelaksanaan konstruksi pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di
Sanglah, Denpasar - Bali. Serta saran berupa masukan hasil dari Praktek Kerja Lapangan
(PKL) untuk kepentingan perusahaan PT. Adi Murti.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 6


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Fungsi Proyek Yang Dikerjakan

Pada sub bab tinjauan fungsi proyek yang dikerjakan, akan membahas tentang pasar
tradisional, perilaku pengguna pasar tradisional, dan prinsip penataan pasar tradisional.

2.1.1 Pasar Tradisional

Indriati dan Widyatmoko (2008) mendefinisikan pasar tradisional sebagai tempat


bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya interaksi secara langsung
antara penjual dan pembeli berupa transaksi tawar-menawar. Biasanya pasar ini terdiri dari
kios, los maupun dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun pengelola pasar. Di
pasar ini dapat ditemukan banyak jenis barang dagangan seperti buah-buahan, sayur-
mayur, ikan, daging, pakaian serta barang loak. Indriati dan Widyatmoko (2008) juga
menjelaskan bahwa pasar tradisional menempati ruang tersendiri di hati para konsumennya
dengan keramahtamahan yang khas, otentik, dan tanpa dibuat-buat. Dalam pasar ini,
interaksi antara penjual dan pembeli bukan hanya tindakan untuk memenuhi kebutuhan
dalam hal ekonomis, namun juga untuk memenuhi kebutuhan sosial. Berlangsungnya
interaksi antara penjual dan pembeli di pasar ini menunjukkan bahwa manusia adalah
homo socius, makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Di sini dapat terlihat bahwa
pasar bukan hanya institusi yang mengutamakan keuntungan, tetapi juga memiliki makna
sosial.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007 tentang
Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern pasar
tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama
dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola
oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala
kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar.
Pasar tradisional juga dapat berarti sebagai tempat berlangsungnya kegiatan jual-beli yang

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 7


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
dilakukan secara langsung oleh para penjual dan pembeli dalam bentuk eceran dengan
tingkat pelayanan yang terbatas (Nurhadi dalam Rizal, 2009).

2.1.2 Perilaku Pengguna Pasar Tradisional

Menurut Marlina (2008), perilaku pengguna pasar tradisional berbeda-beda


tergantung pada kelas sosial-ekonomi, latar budaya, usia dan tujuan kedatangannya.
Tujuan pengunjung mendatangi pasar tradisional dibedakan menjadi dua, yaitu berbelanja
dan berekreasi. Sudut pendekatan pada studi perilaku ini memandang pasar tradisional
sebagai sistem perilaku yang terdiri atas bentuk kegiatan, pelaku kegiatan dan sifat
kegiatan.

a. Bentuk kegiatan
Bentuk kegiatan di pasar tradisional dikategorikan menjadi kegiatan transaksi jual
beli dan kegiatan pengelolaan. Kegiatan transaksi dan distribusi meliputi kegiaan
jual beli, penyimpanan dan penyediaan barang. Kegiatan pengelolaan meliputi
kegiatan manajemen, operasional serta pemeliharaan.
b. Pelaku Kegiatan
Pelaku kegiatan pada pasar tradisional diantaranya ialah :
 Pemilik/investor
Pemilik/investor melakukan kegiatan yang bersifat temporer hanya untuk
melihat, mencermati kegiatan maupun keadaan bangunan serta
berkoordinasi dengan pengelola.
 Tenant
Tenant adalah penyewa unit retail atau pedagang yang merupakan individu
maupun kelompok yang menyewa dan menggunakan ruang serta fasilitas
yang disediakan untuk usaha komersial. Kegiatan utama mereka adalah
mempersiapkan dan menjaga barang yang dijual. Tenant bertujuan
memperoleh keuntungan maksimal dari aktivitas jual beli yang dilakukan.
Oleh karena itu, terdapat kecenderungan permintaan sebagai berikut :
- Pihak penyewa menuntut setiap unit ruang yang disewakan memiliki
nilai jual yang sama.
- Harga sewa ruang disesuaikan dengan kondisi bangunan dan standar
pemasaran.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 8


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
- Ungkapan fisik ruang/bangunan yang menarik calon pembeli.
- Efektivitas ruang untuk melakukan aktivitas.
 Konsumen
Konsumen adalah masyarakat atau obyek pelaku kegiatan yang
membutuhkan pelayanan barang, jasa dan rekreasi. Kondisi sosial
konsumen sangat mempengaruhi jumlah dan jenis kebutuhannya.
Pengunjung sebagai calon konsumen menginginkan banyak pilihan barang,
pelayanan dalam transaksi maupun parkir dan menikmati ruang yang
rekreatif. Tujuan utama konsumen mendatangi pasar adalah untuk
berbelanja dan menikmati sensasi suasana. Kegiatan berbelanja bertujuan
memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan membandingkan harga, kualitas,
variasi desain, jenis, pelayanan dan kemudian membeli jika berminat.
Dengan adanya kedua tujuan tersebut, konsumen cenderung menginginkan
kelengkapan pilihan jenis dan jumlah barang, pelayanan maksimal dalam
bertransaksi, kenyamanan dan kemudahan berbelanja.
 Pengelola
Pengelola bertugas memberikan pelayanan dan menyediakan fasilitas yang
mewadahi agar pedagang mau menyewa retail yang ditawarkan. Pengelola
terdiri dari building manager, divisi keuangan, divisi operasional, divisi
marketing dan promosi. Tujuan pengelola adalah mengusahakan semua
ruang usaha tersewa agar memperoleh keuntungan. Untuk itu, pengelola
berusaha menyediakan fasilitas yang memadai, ruang yang efektif dan
pelayanan yang baik.
 Supplier
Pemasok barang (supplier) yaitu pengisi atau penghantar barang yang
diperlukan pedagang. Kegiatan utamanya ialah bongkar muat barang dan
jam kerjanya dilakukan di luar jam operasional. Kecenderungan permintaan
supplier adalah kemudahan bongkar muat dan sirkulasi bagi kendaraan
pengangkut barang.
c. Sifat Kegiatan
Kegiatan konsumen bersifat rutin, insidentil dan bergerak/melakukan perpindahan.
Demikian pula tenant dan tenaga pendukung yang rutin dan melakukan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 9


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
perpindahan. Adapun kegiatan pengelola bersifat rutin tanpa berpindah dan
insidentil dengan perpindahan.

2.1.3 Prinsip Penataan Pasar Tradisional

Prinsip penataan pasar tradisional terbagi menjadi empat, antara lain penataan letak
retail, dimensi dan penggunaan material pada pasar tradisional, pencahayaan, serta elemen-
elemen arsitektural pada pasar tradisional.

a. Penataan letak retail


Retail ialah ruang-ruang yang disewakan di pasar tradisional. Retail di pasar
tradisional biasanya berbentuk kios dan los. Marlina (2008) memaparkan bahwa
seluruh kios dan los harus memiliki nilai komersial yang sama. Untuk meraih nilai
komersial yang sama pada setiap kios dan los, dapat dilakukan penataan kios dan
los dengan prinsip design control zone. Control zone bertujuan untuk mencapai
kontinuitas arus pengunjung melalui efek pingpong sehingga semua kios dan los
bernilai strategis sama, tidak terdapat daerah yang mati, sehingga efektivitas
komersial dapat tercapai. Design control zone dapat dilakukan dengan mendukung
terjadinya aliran pengunjung yang merata dengan mengkomposisikan jumlah kios
dan los. Komposisi yang paling baik ialah 50% kios dan 50% los.
Marlina (2008) juga memaparkan pentingnya pengelompokan tenant dalam
menata letak retail. Pengelompokan tenant ialah strategi pengelompokan penyewa
ruang (pedagang) berdasarkan jenis dagangan yang sama. Hal ini sesuai dengan
keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 tahun 2008 tentang
pedoman penyelenggaraan pasar sehat, penataan letak kios dan los harus
dikelompokkan (zoning) sesuai dengan jenis komoditi, sesuai dengan sifat dan
klasifikasinya seperti : basah, kering, penjualan unggas hidup, pemotongan unggas
dan lain-lain. Setiap kios dan los yang ditata berdasarkan zoning tersebut juga harus
dilengkapi dengan papan identitas yaitu nomor dan nama pemilik yang mudah
dilihat. Dalam penataan kios dan los harus memperhatikan elemen terpenting dalam
perancangan bangunan pasar yaitu sirkulasi. Sirkulasi merupakan elemen yang
menghubungkan setiap ruang di pasar. Hal ini sesuai dengan teori yang dipaparkan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 10


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
oleh Ching (2000) bahwa sifat sirkulasi mempengaruhi atau sebaliknya dipengaruhi
oleh pola organisasi ruang yang terhubung oleh sirkulasi. Jalur sirkulasi di pasar
tradisional yang berupa koridor atau lorong sangat penting untuk diperhatikan
karena setiap kegiatan jual beli di pasar dilakukan di area tersebut. Pasar
membutuhkan sirkulasi yang dapat mengarahkan pengunjung untuk melewati
seluruh kios dan los yang ada di pasar.
b. Dimensi dan penggunaan material pada pasar tradisional
Hubungan antara lebar dan tinggi pasar sangat penting karena kedua unsur
tersebut mempunyai pengaruh psikologis yang kuat terhadap pengunjung.
Pengaturan panjang, lebar, dan tinggi pasar harus mempertimbangkan jarak
pandang pengunjung agar terbentuk pasar yang nyaman. Terdapat beberapa elemen
di pasar yang telah diatur dimensinya diantaranya yaitu :
 Koridor
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519
tahun 2008 tentang pedoman penyelenggaraan pasar sehat, koridor di setiap
los harus memiliki lebar minimal 1,5 m. Pengaturan dimensi koridor di
pasar juga terdapat di teori retail spaces oleh Chiara (1992). Dapat dilihat
pada Gambar 6, public circulation zone (A) dan customer activity zone (B)
diasumsikan sebagai koridor setiap los di pasar tradisional. Pada Gambar 6,
dimensi public circulation zone ditetapkan 91,4 cm dimensi customer
activity zone ditetapkan antara 66,0 - 76,2 cm. Total dimensi koridor setiap
los berdasarkan teori Chiara (1992) ialah antara 157,4 - 167,6 cm.

Gambar 2.1 Dimensi Koridor Area Penjualan


Sumber : (Chiara, 1992)

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 11


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 tahun 2008
tentang pedoman penyelenggaraan pasar sehat juga mengatur mengenai
penggunaan material dinding dan lantai pada koridor. Material dinding pada
koridor harus bersih, tidak lembab dan berwarna terang. Lantai koridor
harus memiliki permukaan yang rata, tidak licin, tidak retak dan mudah
dibersihkan. Kriteria penggunaan material tersebut sependapat dengan teori
Marlina (2008) tentang design criteria pasar tradisional. Marlina (2008)
memaparkan bahwa pada penawaran ruang sewa, perancangan dari masing-
masing unit sewa telah ditentukan sebelumnya kepada tenant, menyangkut
perwujudan fisik seperti ketentuan mengenai material, warna, dan lain-lain
yang mengutamakan kesatuan, bukan keseragaman.
 Lapak
Lapak ialah meja tempat penjualan barang dagangan di pasar tradisional.
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519
tahun 2008 tentang pedoman penyelenggaraan pasar sehat, lapak terbagi
menjadi tiga yaitu lapak pangan basah, lapak pangan kering serta lapak
makanan siap saji. Kriteria penggunaan material pada lapak pangan basah
ditetapkan harus memiliki permukaan yang terbuat dari bahan tahan karat
namun bukan kayu. Permukaan lapak juga harus rata dengan kemiringan
yang cukup sehingga tidak menimbulkan genangan air. Selain itu, lapak
harus tersedia lubang pembuangan air. Setiap sisi juga harus memiliki sekat
pembatas dan mudah dibersihkan. Untuk lapak pangan kering dan makanan
siap saji, ditetapkan permukaan lapak harus terbuat dari bahan yang tahan
karat namun bukan kayu. Permukaan lapak juga harus rata dan mudah
dibersihkan. Mengenai dimensi, setiap jenis lapak harus memiliki tinggi
minimal 88.9 cm dari lantai. Pengaturan dimensi lapak juga dijelaskan oleh
Chiara dkk (1992) yang dapat dilihat pada Gambar 2.2. Diasumsikan lapak
sebagai display counter dengan keterangan J berdimensi 88,9 – 96,5 cm.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 12


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Gambar 2.2 Meja Tempat Penjualan/Lapak
Sumber : (Chiara, 1992)

c. Pencahayaan
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 tahun
2008 tentang pedoman penyelenggaraan pasar sehat, intensitas pencahayaan setiap
ruangan harus cukup untuk melakukan pekerjaan pengelolaan dan pembersihan
barang dagangan seperti bahan makanan secara efektif. Intensitas pencahayaan
harus cukup terang agar dapat melihat barang dagangan dengan jelas minimal 100
lux. Menurut Marlina (2008) untuk memperoleh intensitas pencahayaan dengan
jumlah tersebut dapat diterapkan skylight pada bagian atap pasar. Skylight
berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari ke dalam bangunan pasar pada siang
hari. Penggunaan skylight juga berfungsi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
tenaga listrik untuk pencahayaan buatan pada siang hari. Selain itu, penggunaan
skylight juga dapat menunjang konsep ruang yang menerus (continous space).
Cahaya yang masuk dapat menjadi pengarah sirkulasi yang membantu pengunjung
memfokuskan orientasi ke dalam bangunan.
d. Elemen-elemen arsitektural pada pasar tradisional
Elemen-elemen arsitektural yang dapat ditempatkan di pasar ialah bangku, arena
bermain, kios, kotak telepon, tempat sampah, penunjuk arah, jam, dan sebagainya.
Elemen-elemen ini berfungsi untuk menambah kenyamanan pengguna pasar.\

2.2 Tinjauan Proyek Konstruksi

Pada sub bab tinjauan proyek konstruksi, akan membahas tentang pengertian proyek,
pengertian konstruksi, pengertian proyek konstruksi, jenis-jenis proyek, tipe-tipe proyek,
dan karakteristik proyek konstruksi.
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 13
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
2.2.1 Pengertian Proyek

Menurut kamus besar bahasa Indonesia proyek adalah rancangan pembangunan yang
telah atau sedang dilaksanakan, disediakan uang untuk menyelesaikan. (W. J. S.
Poerwadarminta, 1987). Proyek merupakan gabungan dari sumber – sumber daya seperti
manusia, material, peralatan dan modal/biaya yang dihimpun dalam suatu wadah
organisasi sementara untuk mencapai sasaran dan tujuan. (Abrar Husen, 2009) . Proyek
adalah setiap usaha yang direncanakan sebelumnya yang memerlukan sejumlah
pembiayaan serta penggunaan masukan lain yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu
dan dalam waktu tertentu. (Sutrisno dalam Triton, 2005 : 13). Sedangkan menurut kamus
besar bahasa Indonesia proyek adalah rancangan pembangunan yang telah atau sedang
dilaksanakan dan disediakan uang untuk menyelesaikan. (Poerwadarminta, 1987).

Jadi proyek adalah sebuah pekerjaan yang berbentuk fisik maupun non fisik yang di
rencanakan maupun di laksanakan oleh orang tertentu dan membutuhkan sebuah dana
untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Untuk suatu proyek bangunan, pihak – pihak yang berperan dalam pelaksanaan
proyek berdasarkan atas prosedur yang berlaku sesuai dengan Keputusan Dirjen
Ciptakarya Departemen Pekerjaan Umum No.025/KPTS/CK 1993 tentang organisasi
pelaksana proyek adalah Konsultan Perencana, Konsultan Manajemen Konstruksi,
Konsultan Pengawas, Pelaksana Value Engineering, dan Pelaksana Konstruksi Fisik.

2.2.2 Pengertian Konstruksi

Konstruksi adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan


membangun suatu bangunan. Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana
maupun prasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi
juga dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada
beberapa area. Berdasarkan pengertian diatas, maka yang dimaksud dengan pelaksanaan
proyek konstruksi adalah mulai dari tahap perencanaan yang meliputi pengumpulan data,
penelitian/penyelidikan, studi kelayakan (feasibility study), perencanaan fisik (pembuatan
gambar-gambar rencana dan penyusunan peraturan serta persyaratan) sampai dengan tahap
pelaksanaan konstruksi actual construction di lapangan dan pengawasan pekerjaan
(Djojowirono, 2005).

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 14


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Jadi konstruksi adalah sebuah kegiatan yang di rencanakan oleh arsitek maupun
teknik sipil yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan membangun suatu bangunan yang
terdiri dari berbagi proses penyusunan serta pembangunan menggunakan bahan bangunan
dan alat bantu membangun pada suatu area atau beberapa area.

2.2.3 Pengertian Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi merupakan proyek yang berkaitan dengan pembangunan suatu


bangunan dan infrastruktur yang umumnya mencakup pekerjaan pokok yang termasuk
dalam bidang Teknik Sipil dan Arsitektur. Selain itu, juga melibatkan bidang ilmu lainnya
seperti Teknik Industri, Mesin, Elektro, Geoteknik, dan Lanskap (Irika Widiasanti, 2013).

Di dalam suatu proyek konstruksi terdapat berbagai kegiatan, kegiatan proyek


merupakan suatu kegiatan sementara dan berlangsung dalam jangka waktu terbatas,
dengan alokasi sumber dana tertentu untuk melaksanakan tugas dengan sasaran yang telah
ditetapkan. (Suharto, 1999). Banyak kegiatan dan pihak-pihak yang terlibat di dalam
pelaksanaan proyek konstruksi menimbulkan banyak permasalahan yang bersifat
kompleks.

Kompleksitas proyek tergantung dari :

a. Jumlah macam kegiatan di dalam proyek


b. Macam dan jumlah hubungan antar kelompok (organisasi) di dalam proyek itu
sendiri
c. Macam dan jumlah hubungan antar kegiatan (organisasi) di dalam proyek dengan
pihak luar

Kompleksitas ini tergantung pada besar kecilnya ukuran suatu proyek. Proyek kecil
dapat saja bersifat lebih kompleks dari pada proyek dengan ukuran yang lebih besar.
Kompleksitas memerlukan pengaturan dan pengendalian yang sedemikian rupa sehingga
tidak terjadi benturan-benturan dalam pelaksanaan proyek, maka diperlukan adanya
manajemen proyek yang handal dan tangguh untuk menopang pelaksanaan proyek.
(Ismael, 2013).

2.2.4 Jenis - Jenis Proyek Konstruksi

Menurut (Rani, 2016) secara umum proyek konstruksi dapat dibedakan menjadi 2
macam yaitu :

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 15


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
a. Konstruksi Bangunan Gedung, terdiri atas: bangunan gedung, perumahan, hotel dan
lain-lain
b. Konstruksi Bangunan Sipil, seperti jembatan, jalan, lapangan terbang, terowongan,
irigasi, bendungan dan lain-lain.

Tabel 2.1 Perbedaan Konstruksi Bangunan Gedung dan Bangunan Sipil

Konstruksi Bangunan Gedung Konstruksi Bangunan Sipil

 Menghasilkan tempat orang  Proyek konstruksi yang


bekerja (kantor, gudang, dan mengendalikan alam untuk
lain-lain). kepentingan manusia.

 Tempat kerja pada lokasi  Pekerjaan berlangsung pada


yang relatif kecil. lokasi yang luas dan panjang.

 Kondisi pondasi pada lokasi  Kondisi pondasi (geologi)


yang relatif kecil. pada setiap lokasi sangat
berbeda satu dengan yang
lainnya.

 Manajemen dibutuhkan  Manajemen dibutuhkan untuk


untuk progressing pekerjaan. memecahkan permasalahan,
bukan timbul progress.

Sumber : (Rani, 2016)

2.2.5 Tipe - Tipe Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, antara lain konstruksi
pemukiman (residential construction), konstruksi gedung (building construction),
konstruksi rekayasa berat (heavy engineering construction), serta konstruksi industry
(insdustrial construction).

a. Konstruksi pemukiman (Residental Construction)


I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 16
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Termasuk dalam konstruksi ini antara lain: hunian, rumah tinggal, komplek
pemukiman. Penataan yang diperlukan di sini adalah bagaimana menata ruang
(lingkungan) dengan mempertimbangkan perkembangan pada masa yang akan
datang (20 tahun mendatang), penata sistem saluran pembuangan dan lain-lain.
Adanya permasalahan seperti terjadinya genangan air di dalam kompleks pada
hujan menandakan bahwa manajemen konstruksi pada pembangunan kompleks itu
tidak bagus.
b. Konstruksi gedung (Building Construction)
Termasuk di sini gedung perkantoran, gedung kuliah, gedung perbankan dan lain-
lain. Penataan yang diperlukan umumnya penataan fasilitas-fasilitas yang
disediakan, seperti hidrant, perlunya lift untuk gedung kuliah lebih dari 2 lantai
(biasanya yang menggunakan gedung kuliah bukan saja mahasiswa, tetapi dosen
yang umumnya berusia tua), sistem pengamanan kebakaran dan lain-lain. Adanya
gangguan suara ribut dari atap pada saat angin kencang pada suatu gedung kuliah
menandakan bahwa manajemen konstruksi pada gedung tersebut juta tidak bagus.
c. Konstruksi rekayasa berat (Heavy Engineering Construction)
Biasanya pada konstruksi ini, banyak bekerja alat-alat berat sehingga memerlukan
penataan sehingga tidak terjadi alat-alat terbengkalai di lokasi karena tidak
digunakan, sedangkan biaya sewa peralatan berat umumnya mahal. Terjadinya
pengangguran alat-alat berat dan lain-lainnya menandakan manajemen
konstruksinya tidak bagus.
d. Konstruksi industri (Industrial Construction)
Termasuk dalam konstruksi industri ini antara lain pabrikpabrik dan lain-lain.
Penataan yang diperlukan terutama terhadap pengaruh yang ditimbulkannya
terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar seperti limbah, polusi dan lain-lain.
Untuk itu harus disediakan suatu fasilitas yang dapat mengatasi pengaruh tersebut.
Dan fasilitas-fasilitas ini harus ditata sedemikian sehingga dapat berfungsi dengan
baik.
2.2.6 Karakteristik Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi memiliki beberapa karakteristik antara lain bersifat unik,


membutuhkan sumber daya (resources), serta membutuhkan organisasi dalam mencapai
tujuan dari proyek konstruksi.

a. Proyek bersifat unik

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 17


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Keunikan dari proyek konstruksi adalah tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan
yang sama persis (tidak ada proyek identik, yang ada proyek sejenis), proyek
bersifat sementara, dan selalu melibatkan grup pekerja yang berbeda-beda.
b. Membutuhkan sumber daya (resources)
Setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber daya dalam proses
penyelesaiannya, yaitu uang dan sesuatu (uang, mesin, metoda, material).
Pengorganisasian semua sumber daya tersebut dilakukan oleh manajer proyek.
Dalam kenyataannya, mengorganisasikan pekerja lebih sulit dibandingkan sumber
daya lainnya. Apalagi, pengetahuan yang dipelajari seorang manajer proyek
bersifat teknis, seperti mekanika rekayasa, fisika bangunan, computer science,
construction management. Jadi, seorang manajer proyek secara tidak langsung
membutuhkan pengetahuan tentang teori kepemimpinan yang harus ia pelajari
sendiri.
c. Membutuhkan organisasi
Setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan dimana di dalamnya terlibat
sejumlah individu dengan ragam keahlian, ketertarikan, kepribadian, dan juga
ketidakpastian. Langkah awal yang harus dilakukan oleh manajer proyek adalah
menyatukan visi menjadi satu tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
2.3 Pelaksanaan Proyek Konstruksi

Pada sub bab pelaksanaan proyek konstruksi memuat penjelasan tentang bagaimana
tahap pelaksanaan proyek kontruksi dari tahap persiapan hingga tahap pelaksanaan
konstruksi dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) proyek pembangunan Pasar Phula Kerti
Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali.

2.3.1 Tahap Persiapan Proyek Konstruksi

Adapun tahapan persiapan dari penyusunan rencana kerja proyek konstruksi,


penyusunan rencana lapangan proyek konstruksi sampai dengan tahapan pelaksanaan
proyek konstruksi yaitu sebagai berikut :

a. Persiapan Penyusunan Rencana Kerja Proyek Konstruksi


Dalam menyusun rencana kerja, perlu dipertimbangkan beberapa hal sebagai
berikut:
 Keadaan lapangan lokasi proyek, hal ini dilakukan untuk memperkirakan
hambatan yang mungkin timbul selama pelaksanaan pekerjaan.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 18


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
 Kemampuan tenaga kerja, informasi detail tentang jenis dan macam
kegiatan yang berguna untuk memperkirakan jumlah dan jenis tenaga kerja
yang harus disediakan.
 Pengadaan material konstruksi, harus diketahui dengan pasti macam, jenis
dan jumlah material yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan.
 Pengadaan alat pembangunan, untuk kegiatan yang memerlukan peralatan
pendukung pembangunan harus dapat dideteksi secara jelas.
 Gambar kerja, selain gambar rencana, pelaksanaan proyek konstruksi
memerlukan gambar kerja untuk bagian-bagian tertentu atau khusus.
 Komunitas pelaksanaan pekerjaan, dalam penyusunan rencana kerja, faktor
penting yang harus dijamin oleh pengelola proyek adalah kelangsungan dari
susunan rencana kegiatan setiap item pekerjaan.

Adapun manfaat dan kegunaan penyusunan rencana kerja antara lain :

 Alat koordinasi bagi pimpinan, dengan menggunakan rencana kerja


pimpinan pelaksanaan pembangunan dapat melakukan koordinasi semua
kegiatan yang ada di lapangan.
 Sebagai pedoman kerja para pelaksana, rencana kerja merupakan pedoman
terutama dalam kaitannya dengan batas waktu yang telah ditetapkan untuk
setiap item kegiatan.
 Sebagai penilaian kemajuan pekerjaan, ketetapan waktu dari setiap item
kegiatan di lapangan dapat dipantau dari rencana pelaksanaan dengan
realisasi pelaksanaa di lapangan.
 Sebagai evaluasi pekerjaan, variasi yang ditimbulkan dari pembandingan
rencana dan realisasi dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk
menentukan rencana selanjutnya.
b. Persiapan Penyusunan Rencana Lapangan Proyek Konstruksi
Yang dimaksud dengan rencana lapangan adalah suatu rencana peletakkan
bangunan-bangunan pembantu yang bersifat temporal yang diperlukan sebagai
saran pendukung untuk pelaksanaan pekerjaan. (Ervianto, 2003)
Dalam menyusun rencana lapangan, perlu dipertimbangkan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Penyelidikan Lapangan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 19


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Tujuan site investigation adalah mengidentifikasi dan mencatat data yang
diperlukan untuk kepentingan proses desain maupun proses konstruksi.
2. Pertimbangan Tata Letak
Tata letak di lokasi proyek sangat berpengaruh terhadap efesiensi selama proses
konstruksi. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum pelaksana
konstruksi memulai pekerjaannya :
 Pertimbangan umum, sebelum memutuskan tata letak di lokasi proyek,
sudah seharusnya hasil site investigation diuji atau diplotkan lebih dahulu
dalam gambar rencana.
 Pertimbangan jalan masuk, pengaturan jalan masuk menuju lokasi proyek
dan jalan keluarnya membutuhkan pemikiran tersendiri yang berkaitan
dengan tindakan efesiensi. Jalur jalan dalam lokasi proyek harus
direncanakan sedemikian rupa sehingga peralatan atau material yang diluar
dapat ditempatkan dalam lokasi yang efesien sehingga tidak banyak waktu
terbuang untuk menggunakannya.
 Pertimbangan penyimpanan bahan, jumlah dan jenis material yang harus
ditumpuk atau stok, faktor keamanan serta cara peyimpanan terutama
perlindungan dari pengaruh cuaca, lokasi penyimpanan, ruang kerja yang
memadai diantara tempat penyimpanan material.
 Pertimbangan akomodasi, jumlah dan klasifikasi dari karyawan yang akan
terlibat dalam kegiatan konstruksi harus diidentifikasi terlebih dahulu.
Pemenuhan persyaratan minimum yang harus disediakan sesuai peraturan
kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
 Pertimbangan fasilitas sementara, untuk memenuhi fasilitas sementara,
dilakukan terlebih dahulu jenis kegiatan yang membutuhkannya, kapan
fasilitas tersebut digukanakan dan di mana dibutuhkannya.
 Pertimbangan peralatan, identifikasi jenis peralatan, kapan akan digunakan
dan di mana dibutuhkannya, apakah sistem peralatan tersebut statik atau
mobile? Jika statik, persiapkan lokasi penempatan serta alas/pondasi yang
dibutuhkan. Jika peralatan tersebut bersifat mobile, cek tentang rute
sirkulasi untuk mendapatkan efisiensi yang optimum.
 Pagar lokasi, pagar lokasi harus dibuat untuk mencegah hal hal yang tidak
diinginkan (pencurian, keamanan). Jenis pagar lokasi ini disesuaikan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 20


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
dengan kebutuhan, misalnya untuk pagar luar sebaiknya digunakan material
yang tertutup untuk menghindarkan pemandangan yang tidak sedap dilihat
dari luar.
 Kesehatan dan keselamatan kerja, pemenuhan peralatan standar minimum
untuk kepentingan kesehatan dan keselamatan pekerja sesuai peraturan yang
berlaku.
c. Keamanan Lokasi Proyek
Tujuan utama site security adalah sebagai berikut :
1. Keamanan dari pencuri
2. Keamanan dari perampokan
3. Keamanan dari penyalahgunaan

Pada umumnya, sistem keamanan yang harus digunakan adalah pagar lokasi
proyek, pagar pengaman didalam lokasi proyek dan penjaga malam.

d. Penerangan Lokasi Proyek


Penerangan dibutuhkan jika hendak melanjutkan pekerjaan (lembur) pada malam
hari atau jika sinar matahari tidak cukup terang sebagai pendukung untuk
melakukan kegiatan.
e. Kantor Proyek
Kantor proyek akan di gunakan sebagai tempat meting para pegawai maupun
tempat sebagai tempat. Pemilihan bentuk serta material untuk keperluan kantor
proyek ditentukan oleh kontraktor, dan tentunya sesuai dengan spesifikasi dalam
kontrak.
f. Penyimpanan Material
Kegiatan penyimpanan material dibedakan menjadi beberapa kelompok
berdasarkan karakteristik setiap jenis material, baik sifat fisik, ukuran fisik. Hal
yang dapat digunakan sebagai pertimbangan, antara lain :
1. Ukuran material, ukuran, bentuk, berat, sistem transportasi, serta cara
penimbunan di lapangan harus terdifinisi dengan jelas sehingga biaya yang
dibutuhkan dapat diestimasi dengan baik.
2. Organisai, tujuan utamanya adalah merencanakan atau menjamin bahwa semua
material yang dibutuhkan dapat dikirim ke lapangantepat waktu (sesuai
kesepakatan bersama), jumlah sesuai dengan pemesanan serta kualitas sesuai
dengan persyaratan.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 21


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
3. Perlindungan, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi jenis
material yang terpengaruh dengan cuaca. Jenis material tertentu yang rawan
terhadap pengaruh cuaca harus dilindungi sedemikian rupa sehingga material
atau komponen tersebut tetap layak digunakan.
4. Keamanan, beberapa jenis material yang bernilai/berharga mahal harus dijamin
keamanannya, terutama penyalahgunaan serta pencurian.
5. Biaya, pertimbangan ekonomi dalam melakukan penyimpanan yang harus
memperhatikan hal sebagai berikut Area penyimpanan, pagar, kotak dan rak,
persyaratan keamanan, handling, transportasi dan syarat penimbunan, gaji/upah
karyawan yang terlibat dalampenyimpanan material, penerangan, biaya
keamanan terhadap perampokan dan sejenisnya.
6. Kontrol, pemilikan tentang kualitas dan kuantitas material/komponen selama
pengiriman dan penyimpanan, serta sistem inventory yang diterapkan.
7. Kebutuhan ruang yang diperlukan untuk penyimpanan material proyek maupun
alat alat yang membantu proses pembangunan.
8. Penentuan lokasi serta luas area yang dibutuhkan untuk penyimpanan material
harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dihasilkan suatu keadaan
optimum. Proses transportasi handling material harus dapat pemikiran
tersendiri, dengan harapan tidak terjadi beberapa pemindahan sebelum material
tersebut dimanfaatkan.
9. Penempatan lokasi penyimpanan dalam proyek tergantung dari beberapa hal
berikut :
 Ruang yang masih tersedia setelah akomodasi kantor ditentukan.
 Jalur transportasi dalam lokasi proyek guna pemindahan bahan.
 Kemudahan pemindahan dari lokasi penyimpanan ke lokasi pemakaian
bahan.
 Jarak yang terdekat antara keduanya sehingga dapat mereduksi waktu serta
biaya yang dikeluarkan.
 Keamanan saat proses penggunaan bahan (transportasi) serta aman dari
perampokan/pencurian.
 Sistem inventory, yang digunakan, tempat penyimapanan yang terlalu kecil
dapat berakibat kekurangan bahan/tertundanya pekerjaan karena menunggu
pengiriman material ke lokasi proyek.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 22


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
g. Setting Out
Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan titik-titik acuan sebagai langkah awal
dari proses konstruksi. Setting out dimulai setelah seluruh/sebagian lokasi proyek
bersih dari sesuatu yang dapat menghambat proses ini termasuk juga pekerjaan
penggalian. Untuk meyakinkan hasil setting out tersebut sebaiknya dicek oleh
pekerja lain yang berpengalaman pula.
h. Perhitungan Kebutuhan Sumber Daya
1. Kebutuhan Listrik Kerja
Merupakan jumlah daya yang diperlukan oleh kontraktor untuk melaksanakan
pekerjaan konstruksi selama pelaksanaan proyek. Sumber daya proyek
diperoleh dari PLN atau penyediaan genzet sendiri.
2. Kebutuhan Air Kerja
Kebutuhan air kerja untuk pekerjaan proyek diperoleh dari sumur atau PAM,
didalam memenuhi kebutuhan toilet di kantor proyek, barak pekerja, perawatan
beton, batching plant untuk pembuatan mortar (beton molen), pengetesan
peralatan mekanikal (hydrant, sprinkler), perawatan plesteran dinding dan lain-
lain.
3. Pengadaan Material untuk Pekerjaan Persiapan
Material yang dibutuhkan untuk tahap persiapan hanya untuk kebutuhan
pembuatan perakitan kantor proyek, gudang, barak pekerja, dan bangunan yang
bersifat sementara lainnya.
4. Mobilisasi Peralatan
Peralatan yang dimobilisasikan pada tahap awal, adalah peralatan yang
diperlukan untuk membangun fasilitas proyek seperti : kantor proyek, gudang
dan bangunan sementara lainnya. Peralatan yang dibutuhkan pada tahap ini
merupakan peralatan ringan seperti alat-alat pengukuran, sedangkan mobilisasi
alat berat untuk pekerjaan pondasi dilakukan setelah tahapan persiapan selesai
dan penentuan titik-titik pondasi telah ditetapkan.
5. Pelaksanaan di Lapangan
Pekerjaan persiapan di lapangan dimulai dengan melakukan pengukuran dan
membuat patok ukur tetap yang akan menjadi pedoman bagi pengukuran
selanjutnya. Tahap akhir pekerjaan pengukuran ini, dilakukan pengecekan
kembali kebenarannya bersama-sama konsultant pengawas dan perencana,
setelah itu barulah dibuatkan semua fasilitas proyek yang akan diperlukan.
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 23
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
(Warda, Musdalifa, dkk (2004) Laporan Kerja Praktik I Bidang Pelaksanaan
dan Pengawasan. Makassar: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin)
2.3.2 Tahap Pelaksanaan Proyek Konstruksi

Kegiatan konstruksi adalah kegiatan yang harus melalui suatu proses yang panjang
dan didalamnya dijumpai banyak masalah yang harus diselesaikan. Di samping itu, dalam
kegiatan konstruksi terdapat suatu rangkaian yang berurutan dan berkaitan. Biasanya
dimulai dari lahirnya suatu gagasan yang muncul dari suatu kebutuhan (need), pemikiran
keterlaksanaannya (feasibilty study), keputusan untuk membangun dan membuat
penjelasan (penjabaran) yang lebih rinci tentang rumusan kebutuhan (briefing),
menuangkan dalam bentuk rancangan awal (preliminary design), membuat rancangan yang
lebih rinci dan pasti (design development dan detail design) melakukan persiapan
administrasi untuk pelaksanaan pembangunan dengan memilih calon pelaksana
(procurement). Kemudian melaksanakan pembangunan dalam lokasi yang telah disediakan
(construction), serta melakukan pemeliharaan dan mempersiapkan penggunaan bangunan
(maintenance, start-up dan implementation).

Berbagai aspek yang harus dikaji dalam setiap tahap merupakan kerangka dasar dari
proses konstruksi. Aspek ini terbagi menjadi empat kelompok utama, yaitu : (Ervianto,
2003)

1. Aspek fungsional : konsep umum, pola operasional, program tata ruang, dan lain
sebagainya.
2. Aspek lokasi dan lapangan : iklim, topografi, jalan masuk, prasarana, formalitas
hukum, dan lain sebagainya.
3. Aspek konstruksi : prinsip rancangan, standar teknis, ketersediaan bahan bangunan,
metode membangun, dan keselamatan operasi.
4. Aspek operasional : administrasi proyek, arus kas, kebutuhan perawatan, kesehatan,
dan keselamatan kerja.

Berikut ini merupakan penjelasan tentang bagaimana tahap pelaksanaan proyek


kontruksi dari praktek kerja lapangan (PKL) proyek pembangunan Pasar Phula Kerti Grid
4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali.

a. Tahap Studi Kelayakan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 24


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Tujuan dari tahap ini adalah meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi
yang diusulkan layak untuk dilaksanakan, baik dari aspek perencanaan dan
perancangan, aspek ekonomi (biaya dan sumber pendanaan), maupun aspek
lingkungan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap studi kelayakan ini adalah :
1. Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya yang
diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
2. Meramalkan manfaat yang akan diperoleh jika proyek tersebut dilaksanakan,
baik manfaat langsung (manfaat ekonomis) maupun manfaat tidak langsung
(manfaat sosial).
3. Menyusun analisis kelayakan proyek, baik secara ekonimis maupun finansial.
4. Menganalisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi apabila proyek tersebut
dilaksanakan.
b. Tahap Penjelasan (Briefing)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk memungkinkan pemilik proyek menjelaskan
fungsi proyek dan biaya yang diizinkan sehingga konsultan perencana dapat secara
tepat menafsirkan keinginan pemilik proyek dan membuat tafsiran biaya yang
diperlukan.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1. Menyusun rencana kerja dan menunjuk para perencana dan tenaga ahli.
2. Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi, dan lapangan,
merencanakan rancangan, taksiran biaya, persyaratan mutu.
3. Mempersiapkan ruang lingkup kerja, jadwal waktu, taksiran biaya, dan
implikasinya serta rencana pelaksanaan.
4. Mempersiapkan sketsa dengan skala tertentu, sehingga dapat menggambarkan
denah dan batas-batas proyek.
c. Tahap Perencanaan (Design)
Tujuan tahap ini adalah untuk melengkapi penjelasan proyek dan menentukan tata
letak, rancangan, metode konstruksi dan taksiran biaya agar mendapatkan
persetujuan dari pemilik proyek dan pihak berwenang yang terlibat, untuk
mempersiapkan informasi pelaksanaan yang diperlukan, termasuk gambar rencana
dan spesifikasi serta untuk melengkapi semua dokumen tender.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah :
1. Mengembangkan ikhtisar proyek menjadi penyelesaian akhir.
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 25
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
2. Memeriksa masalah teknis.
3. Meminta persetujuan akhir ikhtisar dari pemilik proyek.
4. Mempersiapkan : Rancangan skema (pra-rancangan) termasuk taksiran biaya,
Rancangan terinci, Gambar kerja spesifikasi, jadwal, Data kuantitas, Taksiran
biaya akhir, Program pelaksanaan pendahuluan termasuk jadwal waktu.
d. Tahap Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menunjuk kontraktor sebagai pelaksana atau
sejumlah kontraktor sebagai sub-kontraktor yang akan melaksanakan konstruksi di
lapangan.Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah prakualifikasi, dokumen
kontrak.
e. Tahap Pelaksanaan (Construction)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh
pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan
biaya dan waktu yang telah disepakati serta dengan mutu yang telah disyaratkan.

Kegiatan yang dilakukan adalah merencanakan, mengkoordinasi, serta


mengendalikan semua operasional di lapangan. Kegiatan perencanaan dan
pengendalian adalah perencanaan dan pengendalian jadwal waktu pelaksanaan,
perencanaan dan pengendalian organisasi lapangan, perencanaan dan pengendalian
tenaga kerja dan perencanaan dan pengendalian peralatan dan material.

Kegiatan koordinasi adalah mengkoordinasikan seluruh kegiatan pembangunan,


baik untuk bangunan sementara maupun bangunan permanen, serta semua fasilitas
dan perlengkapan yang terpasang, mengkoordinasikan kepada sub-kontraktor-
kontraktor dan penyediaan umum.

Selain dari tahapan pelaksanaan di atas, adapun beberapa jenis pengerjaan yang
akan di jumpai pada pengerjaan di lapangan untuk mewujudkan sebuah bangunan
diantaranya :
1. Pelaksanaan Pad Foundation (Pondasi Tapak)
Pondasi tapak (pad foundation) digunakan untuk mendukung beban titik
individual seperti kolom struktural. Pondasi pad ini dapat dibuat dalam bentuk
bukatan (melingkar), persegi atau rectangular. Jenis pondasi ini biasanya
terdiri dari lapisan beton bertulang dengan ketebalan yang seragam, tetapi
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 26
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
pondasi pad dapat juga dibuat dalam bentuk bertingkat atau haunched jika
pondasi ini dibutuhkan untuk menyebarkan beban dari kolom berat. Pondasi
tapak disamping diterapkan dalam pondasi dangkal dapat juga digunakan
untuk pondasi dalam.
2. Pelaksanaan Soldier Pile
Pembuatan dinding basement ini pada dasarnya adalah juga merupakan dinding
penahan tanah, yang sekaligus dapat berfungsi untuk deckwatering dan penahan
gaya horizontal untuk pelat lantai basement. Pembuatan dinding basement
dengan bored-pile dari beton yang diselingi dengan boredpile dari bentonite,
yang disebut contiguous-pile atau ada yang menyebut soldier-pile, atau dapat
juga dengan cara seperti pelaksanaan diaphragm-wall. (Amien Sajekti dalam
bukunya Metode Kerja Bangunan Sipil)
Pembuatan dinding basement dengan bored-pile beton dan bentonite, dengan
cara selang-seling. Bored-pile diisi dengan bentonite, sebelum bentonitenya
terlalu keras, di antaranya harus segera dibor untuk diselingi dengan bored-pile
yang diisi dengan beton. Untuk menghindari longsornya tanah yang terlalu
banyak sewaktu pengeboran, cara pengeboran dari bored-pile yang sejenis,
dibuat dengan cara loncat selang satu titik bored-pile yang sejenis pula.
Kedalaman dan diameter dari bored-pile tergantung dari perhitungan kekuatan,
berdasarkan ketinggian basement, jenis tanah, dan perkiraan beban horizontal
yang ada dari bangunan disebelahnya.
3. Pelaksanaan Pemasangan Bekisting Kayu untuk Kolom
 Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang telah
ditetapkan atau yang diperlukan dalam gambar.
 Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan
perkuatan,sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan
kedudukannya selama pengecoran dilakukan.
 Acuan harus rapat (tidak bocor), permukaannya licin, bebas kotorankotoran
(tahi gergaji), potongan kayu, tanah/ lumpur dan sebagainya, sebelum
pengecoran dilakukan dan harus mudah dibongkar tanpa merusak
permukaan beton.
 Papan Bekisting (cetakan beton) yang dipakai adalah dari bahan kayu kelas
II dengan tebal 2 cm atau playwood tebal 9 mm dan apabila oleh Pengawas

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 27


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Lapangan dinyatakan rusak, maka tidak boleh dipakai lagi untuk pekerjaan
berikutnya.
 Tiang - tiang Bekisting dapat dibuat dari kayu kelas II dengan ukuran 5/7
cm atau galam diameter 8 - 10 cm dengan jarak mak-simun 0,5 meter.
 Konstruksi Bekisting harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak mudah
bergerak dan kuat menahan beban diatasnya.
 Pada Bekisting kolom yang tinggi, maka setiap tinggi 2 meter harus diberi
pintu untuk memasukkan spesi beton, sehingga terhindar terjadinya sarang-
sarang kerikil.
 Pada Bekisting kolom, dinding dan balok tinggi, harus diadakan
perlengkapan pintu untuk membersihkan kotoran-kotoran, serbuk gergaji,
potongan kayu, kawat pengikat dan lain- lain.

4. Persyaratan Beton
Beton merupakan campuran bahan semen, bahan pasir dan kerikil dengan air
secukupnya tentunya dengan perbandingan 1Pc : 2Ps : 3 Kr.
 Plat lantai sekurang - kurangnya tebal 12 cm, dan untuk plat atap sekurang-
kurangnya 7 cm.
 Agar pembesian di tambahkan tulangan silang minimum menggunakan besi
Ǿ 8.
 Jika tebal plat lebih dari 25 cm misalnya untuk dermaga dipelabuhan
pemasangan tulangan rangkap atas dan bawah.
 Pada tinggi balok di atas 40 cm agar di pasangkan tulangan pinggang
(montage).
 Jarak pembesian untuk tulangan pokok yang sejajar di pasang antara 2,5 cm
- 20 cm.
 Semua pembesian pada plat lantai harus terbungkus dengan beton minimal 1
cm atau sebelum di lakukan pengecoran agar di siapkan beton dekingnya.

(Warda, Musdalifa, dkk (2004) Laporan Kerja Praktik I Bidang Pelaksanaan


dan Pengawasan. Makassar: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin)

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 28


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
f. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah selesai
sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya.
Selain itu, pada tahap ini juga dibuat suatu catatan mengenai konstruksi berikut
petunjuk operasinya dan melatih staf dalam menggunakan fasilitas yang
tersedia.Kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan catatan pelaksanaan, baik
berupa data-data selama pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as built
drawing), meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan-kerusakan
yang terjadi, mempersiapkan petunjuk operasional atau pelaksanaan serta pedoman
pemeliharaannya, melatih staf untuk melaksanakan pemeliharaan.
Untuk lebih lengkapnya, kegiatan yang di lakukan adalah :
1. Mempersiapkan catatan pelaksana, berupa data - data selama pelaksana.
2. Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan yang terjadi.
3. Mempersiapkan petunjuk operasional/pelaksanaan pedoman pemeliharaan.
4. Serah terima kunci bangunan kepada pemakainya. (Buku Referensi untuk
Kontraktor Bangunan Gedung dan Sipil. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama,
2003 :160 – 420)
2.4 Manajemen Proyek Konstruksi

Pada sub bab manajemen proyek konstruksi, akan membahas tentang pengertian
manajemen proyek konstruksi, kegiatan manajemen proyek konstruksi, serta manajemen
pembelian, prosedur pengadaan bahan dan peralatan.

2.4.1 Pengertian Manajemen Proyek Konstruksi

Manajemen proyek konstruksi adalah merencakan,mengorganisir, memimpin, dan


mengendalikan sumber daya untuk mencapai jangka pendek yang telah ditentukan.
(Suharto 1999). Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa konsep manajemen proyek
konstruksi mengandung maksud sebagai berikut :

a. Manajemen berdasarkan fungsinya yaitu, merencanakan, mengorganisir, memimpin


dan mengedalikan sumber daya perusahaan seperti manusia, keuangan, material
dan peralatan.
b. Manajemen proyek mempunyai waktu kegiatan yang dikelola berjangka pendek
dengan sasaran yang telah ditentukan secara spesifik pelaksanaanya memerlukan
teknik dan metoda pengelolaan yang khusus.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 29


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
c. Memakai pendeketan sistem (System Approach to Management).
d. Harus mempunyai hirarki (arus kegiatan) horizontal dan vertikal.

Keberhasilan dalam proses penyelesaian proyek harus berpegang pada tiga kendala
(triple constrain) yaitu spesifikasi yang ditentukan (mutu), sesuai waktu, sesuai biaya yang
ditetapkan.keterkaitan waktu dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung perlu mendapat
perhatian serius untuk menghindari keterlambatan proyek, sehingga diperlukan pengkajian
khusus dalam proses pelaksanaan konstruksi.

2.4.2 Kegiatan - Kegiatan Manajemen Proyek Konstruksi


a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan berarti menetapkan tujuan berdasarkan perkiraan apa yang akan
terjadi dalam waktu yang akan datang, dengan mempertimbangkan kemungkinan
terjadinya perubahan dan masalah pada waktu tersebut.

b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian ialah penentuan, pengelompokkan, dan pengaturan berbagai
kegiatan untuk mencapai tujuan meliputi penugasan orang-orang dalam kegiatan
dan wewenang yang dituangkan dalam bentuk struktur formal.
c. Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan merupakan tindakan agar semua anggota dengan kesadaran berusaha
untuk mencapai tujuan berpedoman pada perencanaan organisasi.
d. Pengawasan (Controlling)
Ialah suatu proses penilaian selama proses kegiatan dengan tujuan hasil pekerjaan
sesuai dengan rencana, serta mengadakan tindakan korektif dan perbaikan atau
penyesuaian bila terjadi penyimpangan.
e. Pengarahan (Directing)
Meliputi kegiatan pembinaan dan kepemimpinan oleh atasan kepada bawahan,
yang dilaksanakan terus menerus dan kedua belah pihak telah saling mengetahui
akan tugas kewajiban, tanggung jawab dan wewenangnya.
f. Penyusunan Pegawai (Staffing)
Ialah penempatan orang-orang yang sesuai dengan keahliannya pada jabatan
tertentu dari organisasi, berdasarkan struktur organisasi yang telah ditetapkan.
g. Pengumpulan Sumber (Assembling Resources)

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 30


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Bertujuan menghimpun dan mengatur penggunaan sumber yang meliputi tenaga
kerja, uang/modal, peralatan/fasilitas dan lain-lain.
h. Pengendalian (Supervising)
Ialah kegiatan bimbingan, pemberian instruksi, dorongan dan mengadakan
koordinasi antara berbagai kegiatan oleh atasan kepada bawahan dengan maksud
pelaksanaan tugas dapat berjalan lancar.
i. Pengkoordinasian (Coordinating)
Suatu proes kegiatan pimpinan dalam mengembangkan pola usaha kelompok
secara teratur di antara bawahan.
j. Pelaporan (Reporting)
Merupakan kegiatan pencatatan, penelitian dan pemeriksaan terhadap kegiatan
yang sedang dalam pelaksanaan yang diperlukan baik bagi pimpinan maupun
bawahan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
k. Anggaran (Budgeting)
Anggaran ialah sarana pelaksanaan kegiatan dalam bentuk perhitungan.

Menurut (Djojowirono, soegeng. Manajemen Konstruksi I. Ed.4. Yogyakarta : Biro


Penerbit KMTS FT UGM, 2005 : 31 - 43) Secara umum, unsur-unsur pelaksana
pembangunan atau proyek konstruksi dimaksud terdiri atas :

a. Pemberi Tugas (owner, employer, client, bouwheer)


Pemberi tugas ialah orang/badan yang memberikan/menyuruh pekerjaan bangunan
dan yang membayar biaya pekerjaan pembangunan. Pemberi tugas dapat berupa
perseorangan, badan/instansi/lembaga baik pemerintah maupun lembaga swasta.
Pada umumnya untuk bangunan-bangunan/proyekproyek pemerintah, pemberi
tugas menerima penunjukkan/keputusan dari atasan pemberi tugas tersebut.
Penerimaan dan persetujuan dapat dilakukan apabila pekerjaan bangunan telah
selesai secara keseluruhan atau dapat dilakukan per bagian pekerjaan sesuai dengan
perjanjian yang dibuat antara pemberi tugas dan kontraktor.
b. Konsultan Perencana
Konsultan Perencana ialah orang atau badan yang membuat perencanaan lengkap
dari pengerjaan suatu bangunan. Konsultan perencana dapat berupa perseorangan
yang berbadan hukum, atau badan hukum yang bergerak dalam bidang perencanaan
pekerjaan bangunan. Sebagai konsultan perencana pekerjaan / bangunan (designer),

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 31


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Konsultan perencana sebagai perencana pekerjaan / bangunan mempunyai tugas
dan kewajiban sebagai berikut :
1. Sketsa Gagasan
Suatu sketsa dalam skala kecil berupa gagasan yang memberikan gambaran
pola pembagian ruang, bentuk bangunan, tujuan perencanaan, pemikiran yang
mendasari konsultan perencana pada gagasan tersebut. Gambar tersebut
digunakan untuk mengadakan pembicaraan dengan pemberi tugas guna
mendapatkan persetujuannya.
2. Pra Rancangan / Rencana
Terdiri dari gambar-gambar dalam skala kecil denah serta penampang
terpenting yang memperlihatkan sistem struktural bangunan dengan/tanpa
gambar perspektif. Yang akan menjadi bagian dokumen guna permohonan
memperoleh ijin mendirikan bangunan dari pemerintah setempat.
3. Rancangan / Rencana Pelaksanaan
Adalah gambar uraian lanjutan pra rancangan dan beberapa gambar detail
pokok dengan skala yang lebih besar.
4. Gambar Detail Lengkap
Menggambarkan lebih jelas dan lengkap seluruh pekerjaan yang diperlukan
untuk pelaksanaan pekerjaan.
5. Rencana Biaya / Anggaran Biaya
Ialah perhitungan banyaknya biaya perkiraan anggaran yang diperlukan untuk
bahan dan upah serta biaya lain berhubungan dengan pelaksanaan.
6. Pelelangan
7. Pengawasan Berkala, mewakili pemberi tugas dalam :
 Lingkup pekerjaan pelengkap
Kegiatan yang mendukung perancangan : pembuatan maket, gambar
perspektif, penyelidikan tanah, pemetaan tapak, pencarian dan pengadaan
data.
 Lingkup pekerjaan khusus
Pekerjaan yang memerlukan keahlian-keahlian khusus selain arsitektur
seperti gambar dan perhitungan untuk konstruksi beton bertulang/baja/kayu.
c. Konsultan Pengawas Pekerjaan/Bangunan
Konsultant pengawas pekerjaan/bangunan mempunyai tugas dan kewajiban dari
konsultan pengawas pekerjaan yakni :
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 32
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
1. Membimbing atau memimpin dan mengadakan pengawasan utama dalam
pelaksanaan pekerjaan/bangunan.
2. Menyelenggarakan dalam surat menyurat yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan atau bangunan.
3. Mengatur, meneliti, dan mensahkan pembayaran angsuran biaya pelaksanaan
pekerjaan/bangunan.
4. Membuat gambar-gambar tambahan bila perlu, memeriksa memperbaiki
gambar kerja yang dibuat kontraktor, serta membuat gambar revisi.
5. Menyususn laporan-laporan kemajuan pekerjaan baik harian, mingguan,
maupun bulanan.
6. Menyiapkan dan menghitung kemungkinan adanya pekerjaan tambahan dan
pekerjaan kurang.
7. Mengawasi dan menguji kualitas/mutu bahan-bahan bangunan. Menyiapkan
dan menyusun berita-berita acara pekerjaan.

d. Kontraktor
1. Hak Kontraktor
 Kontraktor berhak melarang siapapun yang tidak berkepentingan untuk
memasuki tempat pekerjaan dan dengan tegas memberikan perintah
demikian terhadap staf pelaksana yang bertugas dan penjaga.
 Bahan-bahan dan barang-barang jadi
 Kontraktor diperbolehkan mengganti bahan-bahan tersebut dengan kualitas
setara/sama jika disetujui oleh pemberi tugas atau wakilnya.
2. Kewajiban Kontraktor
Kontraktor berkewajiban memagari daerah operasinya disekitar tempat
pekerjaan dan harus mencegah para pekerjanya melanggar wilayah orang lain
yang berdekatan.
3. Perlindungan Terhadap Milik Umum
 Kontraktor harus menjaga agar jalan umum, jalan kecil dan hak pemakai
jalan bersih dari alat-alat dan memelihara kelancaran lalu lintas, baik bagi
kendaraan maupun pejalan kaki.
 Kontraktor juga bertanggung jawab atas gangguan dan pemindahan yang
terjadi terhadap utilitas (perlengkapan umum) seperti saluran air, telpon,

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 33


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
listrik dan sebagainya yang disebabkan oleh operasi-operasi kontraktor, juga
gangguan terhadap lalu lintas dan hak milik yang berdekatan. Segala ongkos
yang berhubungan dengan pemasangan kembali beserta perbaikannya
ditanggung kontraktor.
 Kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan pada jalan raya atau jembatan
yang menghubungkan proyek sebagai akibat lalu lalang kendaraan yang
dipergunakanuntuk mengangkut bahan/material untuk keperluan operasi-
operasi kontraktor.
 Apabila kontraktor memindahkan alat-alat peaksanaan seperti mesin berat
atau unit alat berat lainnya dari bagian pekerjaan, melalui jalan raya atau
jembatan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan, maka kontraktor
harus membuat perkuatan-perkuatan di atasnya.
4. Perlindungan Terhadap Bangunan Yang Ada
 Selama masa-masa pelaksanaan kontrak, kontraktor bertanggung jawab
terhadap segala kerusakan bangunan yang ada, utilitas, jalan, saluran dsb di
tempat pekerjaan dan kerusakan sejenis yang disebabkan karena operasi
kontraktor dalam arti yang luas.
 Semua harus diperbaiki oleh kontraktor hingga dapat diterima pemberi
tugas.
5. Penjagaan
Kontraktor bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan perlindungan
terhadap pekerjaan yang dianggap penting selama pelaksanaan kontrak siang
dan malam.
6. Perlindungan Pekerjaan
 Kontraktor bertanggung jawab atas keamanan seluruh pekerjaan termasuk
bahan-bahan bangunan dan perlengkapan instalasi di tempat pekerjaan,
hingga kontrak selesai dan diterima oleh pemberi tugas.
 Kontraktor harus melindungi perlengkapan dan bahan-bahan dari segala
kemungkinan kerusakan pada seluruh pekerjaan, termasuk bagian-bagian
yang dilaksanakan oleh sub-kontraktor dan melindungi agar pekerjaan bebas
dari air kalau hujan lebat atau banjir. Jika terjadi kerusakan dan kehilangan
pada pekerjaan sementara, kontraktor atas biaya sendiri harus mengadakan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 34


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
perbaikan sehingga pada saat penyelesaiannya pekerjaan harus sudah berada
dalam kondisi yang baik.
7. Kesejahteraan, Keamanan dan Pertolongan Pertama
 Kontraktor harus mengadakan dan memelihara fasilitas kesejahteraan dan
tindakan pengamanan yang layak untuk melindungi para pekerja dan tamu
ke lokasi proyek.
 Kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang ada di
daerahnya tentang.
 Kerusakan yang timbul akibat kelalaian/kecerobohan, penggunaan sesuatu
yang keliru, kehilangan alat/bahan yang ada di daerahnya.
 Kontraktor wajib mengadakan perlengkapan yang cukup untuk pertolongan
pertama, yang mudah dicapai. Selain itu perlu ditempatkan paling sedikit
seorang petugas yang terlatih soal pertolongan pertama.
8. Kebersihan dan Kerapian
Kontraktor harus menjaga kebersihan di sekitar proyek, dan kontraktor harus
mengangkut semua sampah secara teratur jika sudah bertumpuk dan pada waktu
penyelesaian pekerjaan, sehingga membuat seluruh lapangan serta pekerjaan
rapi dan bersih.
9. Gangguan Pada Tetangga
Kontraktor harus menyiapkan surat ijin tertulis untuk para tetangga dan
memohon ijin dari mereka yang berdekatan dengan lokasi pekerjaan.
2.4.3 Manajemen Pembelian, Prosedur Pengadaan Bahan dan Peralatan
a. Pembelian
Untuk mendapatkan kegiatan utama dari tahap pembelian maka perlu diketahui
prinsip dasar dan rumusan aktifitas pembelian, yaitu :
1. Mendapatkan bahan dengan kualitas yang sesuai, kuantitas yang efisien, harga
yang wajar, pada waktu yang tepat, dari produser atau pemasok yang dapat
dipercaya, sehingga mampu menjamin persediaan bahan di lapangan.
2. Mengelola persediaan bahan (inventory) yang efisien.
Hal-hal yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh seorang pembeli sebelum
melakukan pembelian adalah :
 Menetapkan kapan harus mulai membeli.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 35


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Tahap ini pembeli harus memperhatikan lead time (tenggang waktu dari
dipesannya bahan samapi diterimanya di lapangan) dari masing-masing
bahan.
 Menentukan jumlah bahan yang akan dibeli
Didasarkan kepada: kuantitas persediaan yang paling efisien adalah dengan
menjamin kontinuitas produksi di lapangan, seperti terhambat karena tidak
tersedianya bahan di lapangan, atau penumpukan bahan yang berlebihan
yang dapat mengakibatkan rusak, kehilangan, membutuhkan biaya
inventory (penyimpanan stok bahan). Ketersediaan fasilitas penyimpanan
dan handling, adanya gudang tertutup, gudang terbuka, gudang khusus
peralatan handling. Lokasi proyek menentukan kebijakan pengaaan bahan.
 Menerapkan prinsif hubungan kerjasama dengan mitra kerja
Seperti berorientasi pada mutu, menerapkan prinsip saling menguntungkan,
tidak berkonfrontasi, partnership, saling membagi keuntungan dan resiko,
saling memberikan informasi yang jelas, terperinci, terbuka, dan dapat
dipercaya, profesional dan saling membuka peluang untuk negosiasi.

b. Prosedur Pengadaan Bahan


1. Perencanaan
Menyusun dan menguraikan jenis produk yang akan dipesan seperti volume
dan waktu pengiriman/penerimaan bahan, serta nama barang, merek dan
spesifikasi bahan yang digunakan.
2. Seleksi
Meliputi mencari penawaran harga dari beberapa pemasok berdasarkan
spesifikasi oleh unit peminta, kemudian melakukan klarifikasi, negosiasi harga
atas penawaran dari calon pemasok, untuk memperoleh jaminan dari produser
atau suplier agar mampu memproduksi dan menyerahkan bahan sesuai kualitas
dan kuantitas.
3. Pembelian
Pimpinan unit pembelian (logistik) memutuskan harga final yang dituangkan
dalam berita acara negosiasi yang disetujui oleh kedua belah pihak,
berdasarkan ; kemampuan delivery, kualitas bahan, harga yang wajar.
4. Penerimaan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 36


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Tahapan ini meliputi kedatangan bahan, penerimaan, penyimpanan,
pemeliharaan, pencatatan atau administrasi, pengiriman atau distribusi ke
pemakai.
5. Pembayaran
Tahapan pembayaran kepada suplier atau pemasok dilaksanakan berdasarkan
kesepakatan yang tercantum dalam SP/PO/Kontrak. Cara pembayaran yang
berlaku adalah sebagai berikut : Pembayaran diproses, Pembayaran dengan L/C
(Lester Of Credit).
6. Evaluasi
Tujuannya adalah untuk menjamin agar bahan yang dipasok sesuai persyaratan
yang disepakati.
c. Peralatan
1. Umum
Peralatan dalam hal ini adalah peralatan yang digunakan dalam rangka
pelaksanaan proyek konstruksi. Berdasarkan kapasitasnya, peralatan dibagi
menjadi peralatan berat dan peralatan ringan. Pengelolaan peralatan selain
ditujukan untuk mendapatkan efisiensi juga menunjang produktivitas kemajuan
perusahaan.Sumber peralatan dapat diperoleh dengan cara/sistem, yaitu sebagai
berikut: Milik sendiri, Sewa dari perusahaan persewaan peralatan.,
Diborongkan kepada subkontraktor spesialis.
2. Jenis Kapasitas Alat
Berdasarkan fungsinya, jenis peralatan dapat digolongkan menjadi : peralatan
untuk pekerjaan gedung, peralatan umum untuk pekerjaan gedung dan sipil.
Dalam menentukan pemakaian peralatan (jenis dan jumlah) sangat ditentukan
oleh kapasitas dan produktivitas alat tersebut. Kapasitas alat adalah
kemampuan alat secara teoritis dengan asumsi efisiensi alat sempurna (100 %)
yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat. Produktivitas alat adalah kemampuan
untuk berproduksi di lapangan.
3. Investasi
Kebijakan investasi alat didasarkan atas pertimbangan- pertimbangan sebagai
berikut : keadaan keuangan perusahaan memungkinkan, kontinuitas proyeksi
pemakaian, jenis alat yang melebihi standar, ada kebutuhan mendesak dan di
pasaran sewa tidak ada. Sumber dana investasi : dari penanaman laba tahun
lalu yang tidak dibagikan, dari pinjaman atau leasing janka panjang.
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 37
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
4. Pemeliharaan dan Perbaikan
Dalam perencanaan pembiayaan peralatan milik sendiri, perkiraan biaya
pemeliharaan dan perbaikan dihitung dengan memperhatikan faktor-faktor
yaitu : jenis alat, medan kerja, umur dan kondisi alat, serta lokasi.

BAB III

TINJAUAN PROYEK

3.1 Gambaran Umum Proyek

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana gambaran umum proyek
dari
Praktek Kerja Lapangan (PKL) pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah,
Denpasar - Bali yang akan membahas tentang spesifikasi proyek, ruang lingkup pekerjaan
dan jenis pekerjaan.

3.1.1 Spesifikasi Proyek


Nama Proyek : Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali
Lokasi Proyek : Jl. Serma Made Pil no. 55, Sanglah, Denpasar - Bali
Jenis Bangunan : Pasar Tradisional
Jumlah Lantai : 2 Lantai dan 1 Basement
Struktur Utama : Beton Bertulang
Pondasi : Bored Pile
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 38
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Konstruksi Dinding : Batako dan Beton Bertulang
Konstruksi Atap : Baja WF
Paket Pekerjaan : Struktur, MEP, dan Arsitektur
Waktu Pelaksanaan : 10 November 2018 s/d 10 Juli 2019
Nilai Kontrak : Rp. 13.736.971.000,- (Tiga Belas Miliar Tujuh Ratus Tiga
Puluh Enam Juta Sembilan Ratus Tujuh Puluh Satu Ribu
Rupiah).

Nomor Kontrak : 09/BK-DAPS/XI/2016

Pemilik : Banjar Kaja Desa Pakraman Sesetan, Denpasar - Bali

Kontraktor Pelaksana : PT. Adi Murti

Konsultan Struktur : CV. Bali Candra Lestari

Konsultan MEP : CV. Bali Candra Lestari

Konsultan Arsitektur : CV. Bali Candra Lestari

Luas Lahan : 2900 m²

Luas Bangunan Pasar : 2200 m²

Gambar 3.1 Situasi Proyek Pembanguan Pasar Phula Kerti, Sanglah


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

Proyek Pasar Phula Kerti adalah salah satu proyek dengan fungsi bangunan komersil.
Dimana menjadi suatu fungsi bangunan pasar tradisional yang berperan dalam mendukung
sektor perekonomian di Kota Denpasar. Pasar Phula Kerti dengan sama halnya dengan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 39


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
pasar tradisional lainnya yang menjual berbagai kebutuhan pangan, pakaian, dan sarana
upacara umat hindu. Fasade bangunan Pasar Phula Kerti merupakan kombinasi
penggunaan finishing cat dengan warna cream dan penggunaan pasangan bata merah.

Pada desain, bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 2900 m² dengan luasan dasar
bangunan 2200 m² , memiliki satu massa bangunan yang cukup besar untuk sebuah
bangunan fungsi pasar tradisional, yang terdiri dari beberapa tingkatan atau lantai,
bangunan ini terdiri dari satu lantai basement , kemudian terdapat Lantai 1 , dan Lantai 2 di
bagian paling atas. Pada struktur bangunan ini dominan menggunakan struktur jenis beton
bertulang untuk struktur utamanaya, jenis pondasi boredpile sebagai sub struktur, dan
penggunaan baja WF sebagai upper strukturnya.

Pada pembahasan fungsi bangunan yang dimana bangunan ini memiliki 3 fungsi
yang pertama sebagai area dagang untuk kebutuhan pangan, baik yang berupa daging,
sayur mayur, ikan, jajanan, dan rempah-rempah. Yang kedua sebagai area dagang pakaian
yang menjual kebutuhan fashion seperti kemeja, kaos, celana, dan aksesoris. Kemudian
fungsi ketiga adalah pedagang sarana upacara umat hindu seperti banten, kain upacara,
serta kelengkapan upacara lain. Kemudian untuk media transportasi vertikal di dalam
bangunan terdiri dari tangga, dan ramp yang menghubungkan lantai basement sampai ke
lantai 2.

Gambar 3.2 Lokasi Proyek Pembanguan Pasar Phula Kerti, Sanglah


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

Lokasi dari Pasar Phula Kerti terletak di lokasi yang sangat strategis untuk suatu
fungsi bangunan komersil, proyek ini terletak di kecamatan Denpasar Barat, yang
merupakan salah satu pusat kegiatan komersil di Kota Denpasar. Tepatnya bangunan ini
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 40
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
berada di Jl. Serma Made Pil No. 55A, Sanglah, Denpasar - Bali. Letak bangunan terbilang
central dengan fasilitas-fasilitas vital lainnya seperti Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah,
dan berbagai fasilitas pendidikan baik SD, SMP, SMA, serta perguruan tinggi sehingga
ditinjau dari segi tata letak sangat menguntungkan.

Pada saat pertama kali melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di proyek ini,
progress pelaksanaannya baru mencapai 20 % yaitu baru menyelesaikan pekerjaan lantai
basement dan sudah mulai masuk ke tahap pekerjaan balok dan plat lantai 1. Dimana
pengerjaan proyek Pasar Phula Kerti dijadwalkan sudah selesai pada tanggal 10 Juli
2019.

3.1.2 Ruang Lingkup Dan Jenis Pekerjaan

Ruang lingkup pekerjaan dari proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah,
Denpasar – Bali dibagi menjadi dua jenis pekerjaan yaitu pekerjaan pasar dan pekerjaan
eksternal. Pekerjaan pasar dibagi menjadi lima tahap pekerjaan yaitu pekerjaan lantai
basement, pekerjaan lantai 1, pekerjaan lantai 2, pekerjaan lantai atap, dan pekerjaan MEP.
Sementara itu pekerjaan eksternal dibagi menjadi tiga bagian yaitu pekerjaan ruang genset,
ground tank, dan ruang pompa.

Tabel 3.1 Ruang Lingkup Pekerjaan Proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti

NO NAMA PEKERJAAN SUB PEKERJAAN


.
A PEKERJAAN PASAR
A.1. PEK. LANTAI BASEMENT
I PEK. PERSIAPAN Pek. Pembersihan Lokasi Kegiatan
Pek. Pengukuran dan Pasang Bowplang
Pek. Pagar Pengaman Seng Gelombang
Pek. Papan Nama Kegiatan

II PEK. PONDASI Pek. Galian Tanah


Pek. Galian Tanah Cut and Fill
Pek. Urugan Tanah Kembali
Pek. Urugan Tanah Peninggian Lantai
Pek. Urugan Pasir
Pek. Pondasi Batu Kosong
Pek. Pondasi Batu Kali 1Pc : 5Ps

III PEK. BETON, PASANGAN, Pek. Beton Rabat 1Pc : 3Ps : 5Kr

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 41


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
PLESTERAN & ACIAN Pek. Bor File Ø300mm P=600
Pek. Beton Pile Cap P1 (180x180x50)
Pek. Beton Pile Cap P2 (90x180x50)
Pek. Beton Pile Cap P3 (90x90x50)
Pek. Beton Sloof TB1 (25/40)
Pek. Beton Sloof TB3 (15/20)
Pek. Beton Kolom K1 (50/50)
Pek. Beton Kolom K2 (40/40)
Pek. Beton Kolom K3 (30/30)
Pek. Beton Lantai Basement
Pek. Beton Tangga
Pek. Beton Ramp
Pek. Beton Dinding
Pek. Beton Kolom Praktis
Pek. Beton Meja Wastafel
Pek. Dinding Batako 1Pc : 5Ps
Pek. Plesteran 1Pc : 5Ps
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps
Pek. Acian 1Pc : 2Ps

IV PEK. KERAMIK LANTAI & Pek. Keramik Lantai 30/30 (Asia Tile)
DINDING Pek. Keramik Lantai Km/Wc 20/20 (Asia Tile)
Pek. Keramik Dinding Km/Wc 20/20 (Asia Tile)
Pek. Keramik Tangga 30/30 (Asia Tile)
Pek. Railling Tangga Gavanized

V PEK. KUSEN, PINTU, Pek. Pintu P3 PVC


JENDELA, Pek. Kusen PJ2
PENGGANTUNG Pek. Kusen PJ3
Pek. Kusen J3

Tabel 3.1 Lanjutan

VI PEK. PLAFOND & Pek. Plafond Gypsum Rangka Holow


PENGECATAN Pek. List Plafond Gipsum
Pek. Cat Dinding, Pelat, Balok & Kolom
Pek. Cat Plafond
Pek. Cat Marka Parkir

VII PEK. SANITASI Pek. Kloset Duduk CW 660 NJ/SW 660J


Pek. Urinoir Parttition A 100 With
Pek. Sholder
Pek. Floor Drain
Wastafel setara TOTO
Pek. Kran Km/Wc
Pek. Kloset Jongkok

VIII SEPTIKTANK Pek. Galian Tanah


Pek. Urugan Tanah Kembali

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 42


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Pek. Urugan Pasir
Pek. Beton rabat 1Pc : 3Ps : 5Kr
Pek. Beton Sloof
Pek. Beton Lantai
Pek. Dinding Beton
Pek. Beton Kolom
Pek. Beton Balok
Pek. Beton Pelat Atap

A.2. PEKERJAAN LANTAI 1


I PEK. BETON, PASANGAN, Pek. Beton Balok B1 (30/60)
PLESTERAN & ACIAN Pek. Beton Balok B2 (25/40)
Pek. Beton Balok B3 (15/40)
Pek. Beton Kolom K1 (50/50)
Pek. Beton Kolom K2 (40/40)
Pek. Beton Lantai 1
Pek. Beton Tangga
Pek. Beton Kolom Praktis
Pek. Beton Meja Los
Pek. Dinding Batako 1Pc : 5Ps
Pek. Plesteran 1Pc : 5Ps
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps
Pek. Acian 1Pc : 2Ps

II PEK. KERAMIK LANTAI & Pek. Keramik Lantai 30/30


DINDING Pek. Keramik Lantai Km/Wc 20/20
Pek. Keramik Dinding Km/Wc 20/20
Pek. Keramik Meja Los 30/30
Pek. Keramik Tangga 30/30
Pek. Railling Tangga Gavanized

Tabel 3.1 Lanjutan

III PEK. KUSEN, PINTU, Pek. Kusen P2


JENDELA, Pek. Pintu P3 PVC
PENGGANTUNG Pek. Kusen Meja Los
Pek. Rolling Dor

IV PEK. PLAFOND & Pek. Plafond Gypsum Rangka Holow


PENGECATAN Pek. List Plafond Gipsum
Pek. Cat Dinding
Pek. Cat Plafond

V PEK. SANITASI Pek. Kran Km/Wc


Pek. Kran Lapak
Pek. Zing
Pek. Kran Taman

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 43


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
A.3. PEKERJAAN LANTAI 2
I PEK. BETON, PASANGAN, Pek. Beton Balok B1 (30/60)
PLESTERAN & ACIAN Pek. Beton Balok B2 (25/40)
Pek. Beton Balok B3 (15/40)
Pek. Beton Balok RB1 (30/50)
Pek. Beton Balok RB2 (20/30)
Pek. Beton Kolom K1 (50/50)
Pek. Beton Kolom K2 (40/40)
Pek. Beton Kolom K3 (30/30)
Pek. Beton Lantai 2
Pek. Beton Kolom Praktis
Pek. Dinding Batako 1Pc : 5Ps
Pek. Plesteran 1Pc : 5Ps
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps
Pek. Acian 1Pc : 2Ps

II PEK. KERAMIK LANTAI & Pek. Keramik Lantai 30/30


DINDING Pek. Keramik Lantai Km/Wc 20/20
Pek. Keramik Dinding Km/Wc 20/20

III PEK. KUSEN, PINTU, Pek. Kusen P1


JENDELA, Pek. Kusen P2
PENGGANTUNG Pek. Pintu P3 PVC
Pek. Kusen PJ1
Pek. Kusen J2

IV PEK. PLAFOND & Pek. Plafond Gypsum Rangka Holow


PENGECATAN Pek. List Plafond Gipsum
Pek. Cat Dinding
Pek. Cat Plafond

Tabel 3.1 Lanjutan

V PEK. SANITASI Pek. Kloset Duduk CW 660 NJ/SW 660J


Pek. Sholder
Pek. Floor Drain
Wastafel Type L 52 V!A
Pek. Kran Wastafel

A.4. PEKERJAAN LANTAI


ATAP
I PEK. BETON Pek. Beton RB1 (30/50) EL. +11.80
Pek. Beton RB2 (20/30) EL. +11.80
Pek. Beton RB3 (15/30) EL. +11.80
Pek. Beton Pelat Atap EL. +11.80
Pek. Beton Tower
Pek. Water Proofing Sika
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 44


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
II PEK. KUDA-KUDA & Pek. Kuda-kuda baja WF + asesories
ATAP Pek. Atap Spandek tebal 0,3mm
Pek. Bubungan
Pek. Papan List Plank Woodplang
Pek. Ikut Celedu Paras
Pek. Murda Paras
Pek. Raam

III PEK. PENGECATAN Pek. Cat kuda-kuda Baja


Pek. Cat List Plank

A.5. PEKERJAAN MEP


I PEKERJAAN AIR BERSIH, Pekerjaan Sumur
AIR KOTOR DAN AIR Pekerjaan Pompa dan Perlengkapan
HUJAN Pipa Air Kotor
Pipa Air Hujan

B PEKERJAAN EXTERNAL
B.1. R. GENSET
I PEK. GALIAN DAN Pek. Galian Tanah
URUGAN Pek. Urugan Tanah Kembali
Pek. Urugan Pasir

II PEK. BETON, PLESTERAN, Pek. Beton rabat 1Pc : 3Ps : 5Kr


ACIAN DAN Pek. Beton Sloof
PENGECATAN Pek. Beton Lantai Ruang Genzet
Pek. Dinding Beton
Pek. Beton Kolom
Pek. Beton Balok
Pek. Beton Pelat Atap Genzet
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps
Tabel 3.1 Lanjutan

Pek Acian
Pek. Cat Dinding dan Pelat Atap
Pek. Waterproofing
B.2. GROUND TANK
I PEK. GALIAN DAN Pek. Galian Tanah
URUGAN Pek. Urugan Tanah Kembali
Pek. Urugan Pasir

II PEK. BETON, PLESTERAN, Pek. Beton rabat 1Pc : 3Ps : 5Kr


ACIAN DAN Pek. Beton Sloof
PENGECATAN Pek. Beton Lantai Ground Tank
Pek. Dinding Beton
Pek. Beton Kolom
Pek. Beton Balok
Pek. Beton Pelat Atap Ground Tank
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 45


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Pek. Acian
Pek. Waterproofing

B.3. R. POMPA
I PEK. GALIAN DAN Pek. Galian Tanah
URUGAN Pek. Urugan Tanah Kembali
Pek. Urugan Pasir

II PEK. BETON, PLESTERAN, Pek. Beton rabat 1Pc : 3Ps : 5Kr


ACIAN DAN Pek. Beton Sloof
PENGECATAN Pek. Beton Lantai Ruang Pompa
Pek. Dinding Beton
Pek. Beton Kolom
Pek. Beton Balok
Pek. Beton Pelat Atap R. Pompa
Pek. Plesteran 1Pc : 2Ps
Pek. Acian
Pek. Waterproofing

Sumber : PT. Adi Murti, 2019

3.2 Gambaran Umum Pelaksanaan Pekerjaan

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana gambaran umum
pelaksanaan pekerjaan dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) pembangunan Pasar Phula
Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali yang akan membahas tentang identifikasi,
proses mendapatkan pekerjaan, hak, kewajiban dan tanggung jawab kontraktor, serta
struktur organisasi dan pembagian kerja.

3.2.1 Identifikasi

Gambar 3.3 Logo PT. Adi Murti


Sumber : https://www.google.com/search?pt+adi+murti

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 46


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
PT. Adi Murti adalah salah satu kontraktor terkemuka di Indonesia yang berdiri pada
11 April 1974. Pendiri dari PT. Adi Murti sendiri bernama Ir. I Made Palayuta yang
lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain menjadi kontraktor, PT. Adi Murti
juga menerima jasa penyewaan alat-alat proyek seperti : Alat Ukur Teodolith, Water
Pump, Dump Truck, Laser Cross Line, Compressor, Bar Cutter dan Barbender, Concrete
Vibratorelectric. Pada bagian pengalaman mendapatkan proyek PT. Adi Murti
mendapatkan berbagai proyek pembangunan atau proyek renovasi antara lain :
Pembangunan Pura Jagat Tirta Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali,
Pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) Di Kota Kupang, serta Renovasi Lobby dan
Executive Office Senggigi Beach Hotel - Lombok. Perusahaan telah melakukan
reimproved dan memperoleh Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001: 2008 dari
Garuda Sertifikasi Indonesia, juga sudah mendapatkan ijin melaksanakan kegiatan usaha
perdagangan (SITU) dari Pemerintah Kota Denpasar dan Perusahaan telah memperoleh
Sertifikat OHSAS 18001: 2007.

Gambar 3.4 Lokasi Kantor PT. Adi Murti


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

Kantor PT. Adi Murti beralamat di Jl. Plawa No. 37, Sumerta Kauh, Kecamatan
Denpasar Timur, Kota Denpasar - Bali.

3.2.2 Proses Mendapatkan Pekerjaan

Proses mendapatkan proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar -


Bali dengan melalui proses tender yang diikuti oleh 7 rekanan kontraktor - kontraktor
termasuk PT. Adi Murti pada tanggal 27 Mei 2018. Berdasarkan hasil evaluasi yang
dilakukan seperti administrasi, teknis, harga dan kualifikasi, maka I Made Sukadana, SH.
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 47
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
MT selaku (Pihak Pertama) dan selaku sebagai owner memutuskan untuk menentapkan
bahwa peserta yang memenuhi syarat untuk ditunjuk sebagai pemenang adalah PT. Adi
Murti dilihat dari harga penawaran yang paling rendah.

I Made Sukadana, SH. MT selaku (Pihak Pertama) mempercayakan proyek Pasar


Phula Kerti Sanglah Denpasar Bali kepada PT. Adi Murti dengan perjanjian yang telah
disetujui untuk melaksanakan dan menyelesaikan Pekerjaan Struktur, MEP, dan Arsitektur
dengan biaya pekerjaan Rp. 13.736.971.000,- (Tiga Belas Miliyar Tujuh Ratus Tiga Puluh
Enam Juta Sembilan Ratus Tujuh Puluh Satu Ribu Rupiah).

3.2.3 Hak, Kewajiban, dan Tanggung Jawab Konstraktor

Mengacu pada Surat Perjanjian Kerja yang telah disepakati oleh kedua belah pihak
dalam hal ini pihak kontraktor (PT. Adi Murti) dan owner (Banjar Kaja Desa Pakraman
Sesetan), adapun hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang dimiliki oleh kontraktor dalam
proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali ini adalah sebagai
berikut.

a. Hak Kontraktor
Hak yang dimiliki oleh PT. Adi Murti (Pihak Kedua) selaku kontraktor pelaksana
pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali ini
adalah sebagai berikut :
1. Behak menerima pembayaran untuk pelaksanaan pekejaan sesuai dengan harga
yang telah ditentukan dalam kontrak;
2. Berhak meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk sarana dan prasarana dari Pihak
Pertama untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan kontrak;
3. Berhak melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada Pihak
Pertama;
4. Berhak melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam kontrak;
5. Berhak melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara cermat, akurat dan
penuh tanggung jawab dengan menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan, angkutan ke lapangan, dan segala pekerjaan permanen maupun
sementara yang diperlukan untuk pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan
pekerjaan yang dirinci dalam kontrak;

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 48


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
6. Berhak memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk pemeriksaan
pelaksanaan yang dilakukan Pihak Pertama;
7. Berhak menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan
pekerjaan yang telah ditetapkan dalam kontrak dan mengambil langkah-langkah
yang cukup memadai untuk melindungi lingkungan tempat kerja dan membatasi
perusakan dan ganngguan kepada masyarakat maupun miliknya akibat kegiatan
penyedia.
b. Kewajiban Kontraktor
Kewajiban yang dimiliki oleh PT. Adi Murti (Pihak Kedua) selaku kontraktor
pelaksana pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali
ini adalah sebagai berikut :
 Penanggungan Resiko
1. Pihak Kedua berkewajiban untuk melindungi, membebaskan, dan
menanggung tanpa batas Pihak Pertama beserta instansinya terhadap semua
bentuk tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, kehilangan, kerugian, denda,
gugatan atau tuntutan hukum, dan biaya yang dikenakan terhadap Pihak
Pertama beserta instansinya (kecuali kerugian yang mendasari tuntutan
tersebut disebabkan kesalahan atau kelalaian berat Pihak Pertama)
sehubungan dengan klaim yang timbul dari hal-hal berikut terhitung sejak
Tanggang Mulai Kerja sampai dengan tanggal penandatanganan berita acara
penyerahan akhir.
- Kehilangan atau kerusakan peralatan dan harta benda Pihak Kedua, Sub-
Pihak Kedua (jika ada) dan Personil
- Cidera tubuh, sakit, atau kematian Personil
- Kehilangan atau kerusakan harta benda, dan cidera tubuh, sakit, atau
kematian pihak ketiga
2. Terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja sampai dengan tanggal
penandatanganan berita acara penyerahan awal, semua resiko kehilangan
atau kerusakan Hasil Pekerjaan ini, Bahan, dan Perlengkapan merupakan
resiko Pihak Kedua, kecuali kerugian atau kerusakan tersebut diakibatkan
oleh kesalahan atau kelalaian Pihak Pertama.
3. Pertanggungan Asuransi yang dimiliki oleh penyedia tidak membatasi
kewajiban penanggungan dalam pasal ini

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 49


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
4. Kehilangan atau kerusakan Hasil Pekerjaan atau Bahan yang menyatu
dengan Hasil Pekerjaan selama Masa Pemeliharaan harus diganti atau
diperbaiki oleh Pihak Kedua atas tanggungannya sendiri jika kehilangan atau
kerusakan tersebut terjadi akibat tindakan atau keleleian Pihak Kedua
 Perlindungan Tenaga Kerja
1. Pihak Kedua dan Sub-Pihak Kedua berkewajiban atas biaya sendiri untuk
mengikutsertakan Personilnya pada program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(Jamsostek) sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
2. Pihak Kedua berkewajiban untuk mematuhi dna memerintah Personilnya
untuk mematuhi peraturan keselamatan kerja. Pada waktu pelaksanaan
pekerjaan, Pihak Kedua beserta Personilnya dianggap telah membaca dan
memahami peraturan keselamatan kerja tersebut.
3. Pihak Kedua berkewajiban atas biaya sendiri untuk menyediakan kepada
setiap Personilnya (termasuk Personil Sub-Penyedia, jika ada) perlengkapan
keselamatan kerja yang sesuai dan memadai.
4. Tanpa mengurangi kewajiban Pihak Kedua untuk melaporkan kecelakaan
berdasarkan hukum yang berlaku, Pihak Kedua melaporkan kepada Pihak
Pertama mengenai setiap kecelakaan yang timbul sehubungan dengan
pelaksanaan Kontrak ini dalam waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah
kejadian.
 Pemeliharaan Lingkungan
Pihak Kedua berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang memadai
untuk melindungi lingkungan baik di dalam maupun di luar tempat kerja dan
membatasi gangguan lingkungan terhadap pihak ketiga dan harta bendanya
sehubungan dengan pelaksanaan Kontrak ini.
 Asuransi
Pihak Kedua wajib menyediakan asuransi sejak SPMK sampai dengan tanggal
selesainya pemeliharaan untuk :
1. Semua barang dan peralatan yang mempunyai resiko tinggi terjadinya
kecelakaan, pelaksanaan pekerjaan, serta pekerja untuk pelaksanaan
pekerjaan, atas segala resiko terhadap kecelakaan, kerusakan, kehilangan,
serta resiko lain yang tidak dapat diduga.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 50


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
2. Pihak ketiga sebagai akibat kecelakaan di tempat kerjanya dan perlindungan
terhagap kegagalan bangunan.
3. Besarnya asuransi sudah diperhitungkan dalam penawaran dan termasuk
dalam nilai kontrak.
4. Masa berlaku asuransi sampai dengan berita acara serah terima pertama.
 Tindakan Pihak Kedua yang Mensyaratkan Persetujuan Pihak Pertama atau
Pengawas Pekerjaan
Pihak Kedua berkewajiban untuk mendapatkan lebih dahulu persetujuan tertulis
Pihak Pertama sebelum melakukan tindakan-tindakan berikut :
1. Mensubkontrakkan sebagian pekerjaan
2. Menunjuk Personil yang namanya tidak tercantum dalam Lampiran
Dokumen Tender
3. Mengubah atau memutahirkan program mutu, tindakan lain yang diatur
dalam Tender

c. Tanggung Jawab Kontraktor


Tanggung jawab yang dimiliki oleh PT. Adi Murti (Pihak Kedua) selaku kontraktor
pelaksana pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali
ini adalah sebagai berikut :
 Laporan Hasil Pekerjaan
1. Pemeriksaan pekerjaan dilakukan selama pelaksanaan kontrak, Pihak Kedua
wajib untuk menetapkan volume pekerjaan atau kegiatan yang telah
dilaksanakan. Hasil pemeriksaan pekerjaan dituangkan dalam laporan
kemajuan hasil pekerjaan.
2. Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan,
seluruh aktivitas kegiatan pelaksanaan di lokasi pekerjaan dicatat dalam
buku harian sebagai bahan laporan harian pekerjaan yang berisi rencana dan
realisasi pekerjaan harian.
3. Laporan harian berisi :
- Jenis dan kualitas bahan yang berada di lokasi pekerjaan
- Penempatan tenaga kerja untuk tiap macam tugasnya

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 51


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
- Jenis, jumlah, dan kondisi peralatan
- Jenis dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan
- Keadaan cuaca termasuk hujan, banjir dan peristiwa alam lainnya yang
berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan, dan catatan-catatan lain
yang berkenaan dengan pelaksanaan.
4. Laporan harian dibuat oleh Pihak Kedua, apabila diperlukan diperiksa oleh
konsultan dan disetujui oleh Pengawas Lapangan Pihak Pertama.
5. Laporan mingguan terdiri dari rangkuman laporan harian dan berisi hasil
kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu minggu, serta hal-hal penting
yang perlu ditonjolkan.
6. Laporan bulanan terdiri dari rangkuman laporan mingguan dan berisi hasil
kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu bulan, serta hal-hal penting
yang perlu ditonjolkan. Untuk merekam kegiatan pelaksanaan proyek, Pihak
Kedua membuat foto-foto dokumentasi pelaksanaan pekerjaan di lokasi
pekerjaan.
 Jaminan Pelaksanaan
1. Jaminan Pelaksanaan Pekerjaan diberikan oleh Pihak Kedua kepada Pihak
Pertama selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah
diterbitkannya Surat Penunjukan Pemenang Kontraktor sebelum dilakukan
penandatanganan kontrak dengan besar 5% (lima perseratus) dari nilai
kontrak.
2. Masa berlakunya Jaminan Pelaksanaan pekerjaan sekurang-kurangnya sejak
tanggal penandatanganan kontrak sampai dengan serah terima pertama
pekerjaan (Provisional Hand Over/PHO).
3. Jaminan Pelaksanaan pekerjaan dikembalikan setelah pekerjaan dinyatakan
selesai 100% (seratus perseratus) dan diganti dengan menahan uang retensi
sebesar 5% (lima perseratus) dari nilai kontrak.
4. Jamninan Uang Muka diberikan kepada Pihak Pertama dalam rangka
pengambilan uang muka dengan nilai 100% (seratus perseratus) dari
besarnya uang muka.
5. Nilai Jaminan Uang Muka dapat dikurangi secara proporsional sesuai dengan
pencapaian prestasi kerja.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 52


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
6. Masa berlakunya Jaminan Uang Muka sekurang-kurangnya sejak tanggal
persetujuan pemberian uang muka sampai dengan tanggal penyerahan
pertama kerja (PHO).
7. Retensi sebagai Jaminan Pemeliharaan diberikan oleh Pihak Kedua kepada
Pihak Pertama setelah pekerjaan dinyatakan selesai 100% (seratus
perseratus).
8. Pengambilan Retensi dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
setelah masa pemeliharaan selesai dan pekerjaan diterima dengan baik sesuai
dengan ketentuan kontrak.
9. Masa berlakunya Jaminan Pemeliharaan sekurang-kurangnya sejak tanggal
serah terima pertama pekerjaan (PHO) sampai dengan tanggal penyerahan
akhir pekerjaan (Final Hand Over/FHO).
3.2.4 Struktur Organisasi dan Pembagian Kerja

Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan yang kompleks, memiliki keterbatasan


terhadap waktu, anggaran dan sumber daya serta memiliki spesifikasi tersendiri terhadap
hasil yang dicapi dari proses proyek konstruksi tersebut. Hal ini tentu memerlukan suatu
organisasi dan pembagian kerja untuk mengatur jalannya seluruh kegiatan konstruksi agar
sinkron dan sesuai harapan. Dengan dibentuknya struktur organisasi dan pembagian kerja
diharapkan suatu proyek dapat berjalan sesuai dengan perencanaan awal agar efisiensi,
efektifitas waktu, dan biaya dapat tercapai.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 53


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Gambar 3.5 Struktur Organisasi Proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Hasil Wawancara, 2019
a. Direktur Utama
Pada sebuah perusahaan Direktur Utama adalah jenjang tertinggi dalam perusahaan
(eksekutif) atau administrator yang diberi tanggung jawab untuk mengatur
keseluruhan suatu organisasi. Seseorang yang ditunjuk sebagai CEO dalam sebuah
korporasi, perusahaan, organisasi, atau lembaga biasanya melapor pada dewan
direktur. Umumnya, direktur utama bertugas sebagai seorang komunikator,
pengambil keputusan, pemimpin, pengelola (manager), dan eksekutor.
b. Project Manager
Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pelaksanaan konstruksi, dengan
wewenang antara lain memimpin tim untuk melaksanakan proyek, bertanggung
jawab terhadap proyek yang dilaksanakan, bertanggung jawab terhadap biaya yang
dikeluarkan, bertanggung jawab terhadap schedule pelaksanaan proyek di lapangan,
bertanggung jawab terhadap cash flow (pemasukan/pengeluaran uang),
bertanggung jawab terhadap laporan intern dan ekstern perusahaan.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 54


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
c. Site Manager
Memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk memeriksa detail pekerjaan di
lapangan dan mengeluarkan intruksi di lapangan sesuai dengan rencana kerja dan
mutu yang telah disetujui untuk membantu kelancaran pekerjaan yang sedang
berlangsung di lapangan. Site Manager bertanggung jawab langsung kepada
Project Manager.
d. Kepala Pelaksana
Kepala Pelaksana berfungsi sebagai jembatan antara Site Manager dengan staf
pelaksana. Kepala pelaksana bertanggung jawab mengatur dan mengevaluasi
pekerjaan agar sesuai dengan target yang dimuat dalam time schedule.
e. Pelaksana
Hampir serupa dengan tanggung jawab Kepala Pelaksana, seorang Pelaksana
bertanggung jawab mengatur pekerjaan sesuai dengan arahan dari Kepala
Pelaksana agar sesuai dengan target yang dimuat dalam time schedule, yang
selanjutnya temuan mengenai kendala di lapangan akan dilaporkan langsung
kepada Kepala Pelaksana.
f. Quantity Surveyor
Quantity Surveyor membantu menganalisis dan membuat harga satuan pelaksanaan
pekerjaan berdasarkan syarat-syarat umum kontrak, spesifikasi teknis, metoda
kerja, persyaratan khusus pelaksanaan pekerjaan; memberi pertimbangan terhadap
harga satuan pada setiap komponen pelaksanaan pekerjaan, permasalahan yang
timbul dalam administrasi kontrak dalam proses penangihan pembayaran.
g. Site Logistic
Site Logistic bertanggung jawab kepada manajer proyek mengenai pengadaan
bahan, alat serta pengelolaannya, bertanggung jawab atas operasi alat-alat, serta
mendukung operasi dari pelaksanaan lapangan.
h. Team Leader Konsultan
Team Leader Konsultan bertugas mengontrol dan bertanggung jawab seluruh
kegiatan yang berkaitan dengan engineering dan berkonsultasi langsung dengan
Project Manager mengenai semua progress maupun perbaikan engineering.
i. Inspektur Konsultan
Inspektur lapangan dari konsultan bertugas mengawasi kegiatan atau pekerjaan
yang sedang berlangsung di lapangan agar sesuai dengan gambar rencana yang
menjadi acuan kerja suatu proyek pembangunan. Segala bentuk kendala yang
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 55
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
ditemui, dilaporkan langsung kepada Team Leader Konsultan sebagai pertanggung
jawaban.
j. Mandor
Mandor adalah sebutan bagi orang yang mengepalai, mengawasi, dan bertanggung
jawab terhadap sekelompok orang atau pekerja. Mandor berwenang untuk
mengawasi dan mengeluarkan intuksi kepada pekerja mengenai target suatu
pekerjaan di lapangan. Mandor bertanggung jawab kepada Pelaksana lapangan.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 56


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
BAB IV

PEMBAHASAN PELAKSANAAN PROYEK

4.1 Pedoman Pelaksanaan Pekerjaan

PT. Adi Murti dalam pelaksanaan proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti di
Sanglah, Denpasar - Bali, memiliki pedoman yang tergolong atas beberapa dokumen
antara lain surat perjanjian pekerjaan pembangunan (kontrak), gambar kerja, rencana kerja
dan syarat-syarat (RKS) yang menjadi acuan dalam pelaksanaan proyek konstruksi.

4.1.1 Surat Perjanjian Pekerjaan Pembangunan

PT. Radha Krisna Bali selaku pemberi pekerjaan pada pembangunan proyek Pasar
Phula Kerti yang terletak di Jl. Serma Made Pil, Sanglah, Denpasar - Bali yang dibangun di
atas lahan seluas 2900 m² dan dengan luas bangunan 2200 m². Hal tersebut tercantum pada
surat perjanjian yang di dalamnya menerangkan bahwa I Made Sukadana, S.H., M.T.
selaku ketua panitia pembangunan proyek Pasar Phula Kerti, menetapkan PT. Adi Murti
sebagai kontraktor pelaksana pembangunan proyek Pasar Phula Kerti melaui proses tender,
dan menyerahkan seluruh proses pekerjaan terkait dari proyek kontruksi didalamnya
berupa pekerjaan Struktur, MEP, hingga Arsitektur termasuk finishing interior dan
eksterior kepada PT. Adi Murti.

Dalam pelaksanaan proyek kontruksi PT. Adi Murti sebagai pemenang dalam tender
dengan nilai kontrak sebesar Rp. 13.736.971.000,- (Tiga Belas Miliar Tujuh Ratus Tiga
Puluh Enam Juta Sembilan Ratus Tujuh Puluh Satu Ribu Rupiah). Harga kontrak telah
memperhitungkan keuntungan, beban pajak, dan biaya overhead serta biaya asuransi yang
meliputi juga biaya keselamatan dan kesehatan kerja, dengan nomor perjanjian kontrak
09/BK-DAPS/XI/2016.

Surat perjanjian pekerjaan yang diterbitkan tanggal 19 April 2016 ini digunakan
sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan karena di dalamnya memuat tentang paket
pekerjaan yang harus dikerjakan oleh PT. Adi Murti, nominal nilai proyek, kualitas, dan
mutu pekerjaan yang disepakati, serta waktu pekerjaan proyek tersebut harus terselesaikan.
Oleh karena itu, surat perjanjian pekerjaan ini penting untuk digunakan sebagai pedoman
pelaksanaan perkerjaan dalam pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar -
Bali.
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 57
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
4.1.2 Gambar Kerja

Dalam pelaksanaan proyek kontruksi sangat bergantung pada perencanaan dari


gambar kerja sebagai tolak ukur di lapangan yang dapat sebagai acuan untuk menghitung
volume pekerjaan dan kesesuaian antara rencana dengan pelaksanaan apabila terjadinya
perubahan akan lebih mudah dari pekerjaan yang sudah direncanakan sehingga
mendapatkan hasil yang diinginkan. Pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
mengacu kepada gambar kerja yang dapat menentukan kordinat bangunan dan jenis
pekerjaan struktur yang akan digunakan . Dari bagian struktur sangat mempengaruhi
kepada setiap pekerjaan setelahnya seperti pekerjaan finishing, sehingga membutuhkan
gambar - gambar detail seperti detail balok, kolom serta berbagai bentuk penulangan
pembesian pada plat untuk memperoleh kesesuaian dan meminimalisir kesalahan dalam
pembangunan.

Gambar perencanaan atau gambar kerja pada proyek Pasar Phula Kerti
direncanakan oleh CV. Bali Chandra Lestari sebagai konsultan arsitektur, MEP serta
struktur pada proyek ini. Dalam pelaksanaannya PT. Adi Murti akan mendiskusikan
gambar kerja dengan pelaksana lapangan terkait perubahan yang terjadi di lapangan
apabila tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, bila terdapat perubahan gambar yang
signifikan dan mempengaruhi volume pekerjaan maka harus dikordinasikan dengan owner
dan konsultan arsitek melalui inspektur lapangan selaku perwakilan konsultan di lapangan
mengenai negosiasi baik penambahan nilai atau penurunan kualitas dari spesifikasi yang
sudah di tentukan sebelumnya dari kontrak.

4.1.3 Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)

Dalam proyek pembangunan Pasar Phula Kerti juga menggunakan RKS (Rencana
Kerja dan Syarat-Syarat) sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan, RKS ini
diguakan sebagai pedoman karena di dalamnya berisi beberapa poin, diantaranya adalah
mengatur tentang pihak-pihak yang terlibat dalam proyek beserta hak dan kewajibannya
masing-masing, juga dijelaskan tentang syarat teknis,kualitas material, metode pekerjaan
pada setiap bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan, mulai dari pekerjaan persiapan
sampai finishing.

4.2 Perencanaan Konstruksi

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 58


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana perencanaan konstruksi dari
Praktek Kerja Lapangan (PKL) pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah,
Denpasar - Bali yang akan membahas tentang time schedule, rencana anggaran, rencana
sumber daya, gambar kerja, sistematika pelaporan, serta prestasi kerja.

4.2.1 Time Schedule Pelaksanaan Pekerjaan

Gambar 4.1 Time Schedule Pembangunan Pasar Phula Kerti, Sanglah


Sumber : PT. Adi Murti, 2019

Pelaksanaan proyek Pasar Phula Kerti memiliki perencanaan target batas waktu
yang sudah ditentukan dalam kontrak kerja pada saat tender. Maka time schedule menjadi
patokan untuk memudahkan target dan mengatur waktu pelaksanaan, sehingga dapat
menyesuaikan dengan targer yang direncanakan dan disepakati. Pelaksanaan proyek
pembangunan Pasar Phula Kerti dimulai pada tanggal 10 November 2018 s/d 10 Juli 2019.

Berdasarkan paket pekerjaan yang di dapat PT. Adi Murti pada proyek ini meliputi
pekerjaan struktur, MEP, hingga arsitektur pekerjaan dilakukan secara bertahap dan saling
berkesinambungan, dimulai dari pekerjaan persiapan, struktur basement, struktur lantai
satu, kemudian pekerjaan struktur dan arsitektur serta MEP akan dikerjakan berbarengan,
misalnya ketika pekerjaan struktur di lantai basement sudah selesai, dan sedang di lakukan
pekerjaan struktur di lantai satu, maka di lantai basement akan langsung dilanjutkan
dengan pekerjaan arsitektur dan MEP, begitu selanjutnya hingga di lantai dua.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 59


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
4.2.2 Rencana Anggaran Pelaksanaan Pekerjaan

Gambar 4.2 Rekapitulasi RAB Pembangunan Pasar Phula Kerti


Sumber : PT. Adi Murti, 2019

Rencana anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan telah diatur dalam kontrak dimana
didalam pembayaran memiliki jumlah nomilal dalam besaran anggaran pada proyek yang
sudah tertulis pada besaran nilai kontrak sebesar Rp. 13.736.971.000,- (Tiga Belas Miliar
Tujuh Ratus Tiga Puluh Enam Juta Sembilan Ratus Tujuh Puluh Satu Ribu Rupiah) yang
telah memperhitungkan keuntungan, beban pajak, dan biaya overhead serta biaya asuransi
yang meliputi juga biaya keselamatan dan kesehatan kerja. Seiring dengan berjalannya
pengerjaan proyek, terjadi beberapa penyesuaian anggaran terhadap owner, melalui
kesepakatan negosiasi oleh pelaksana dengan owner.

4.2.3 Rencana Sumber Daya

Rencana sumber daya pada proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali
oleh PT. Adi Murti adalah sebagai berikut:

a. Bahan
Bahan atau material yang diperlukan pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti
di Sanglah, Denpasar - Bali disediakan oleh UD. Adi Sarana seperti besi, kayu,
multiplex, paku dan sebagainya sedangkan beton cor readymix yang di gunakan
PT. Adi Murti untuk pengecoran langsung dibeli di PT. Sari Sentana Arta karena
kedua belah pihak sudah melakukan kerja sama. Segala sesuatu yang berkaitan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 60


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
dengan bahan pada proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali ini
menjadi tanggung jawab dari Bapak I Made Santosa, S.T., yang merupakan logistic
dari PT. Adi Murti di proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar - Bali.
b. Tenaga
Berdasarkan hasil wawancara dengan Site Manager, I Wayan Sukadana, S.T.,
penyiapan tenaga kerja pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah ini
diberikan wewenang sepenuhnya kepada mandor, dimana PT. Adi Murti akan
memberikan target pekerjaan kepada mandor, setelah itu pihak mandor sekaligus
sub contractor pada proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah yang akan menyesuaikan
jumlah tenaga kerja yang akan digunakan untuk memenuhi target pekerjaan yang
diberikan oleh PT. Adi Murti. Begitu juga dengan penambahan dan pengurangan
tenaga kerja sepenuhnya menjadi wewenang dari mandor, mandor pada proyek
Pasar Phula Kerti di Sanglah ini berjumlah 2 orang yaitu Bapak I Wayan Windri
dan Bapak Selamet Widodo. Sedangkan jumlah tenaga kerja yang disiapkan
mandor sejauh ini berjumlah 30 s/d 50 orang pekerja.
c. Alat
Pengadaan alat pada proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah direncanakan dengan
adanya schedule dalam pengadaan alat yang disiapkan oleh PT. Adi Murti, yang
dimana hak merupakan hak milik dari PT. Adi Murti, dalam perencanaan ini
dimaksudkan untuk menyiapkan alat-alat yang akan diperlukan dan digunakan saat
pelaksanaan di lapangan. Untuk alat-alat yang digunakan para pekerja dominan
berskala kecil seperti palu, tang, meteran, gergaji dan lainnya disiapkan oleh pihak
pekerja itu sendiri. Berdasarkan wawancara dengan Site Manager I Wayan
Sukadana, S.T., pihak yang bertanggung jawab terhadap alat pada proyek Pasar
Phula Kerti di Sanglah ini adalah pelaksana lapangan.
d. Finansial
Dalam perencanaan finasial pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di
Sanglah, yaitu untuk rencana pembayaran para pekerja digunakan sistem borongan.
Dimana harga sudah disepakati sebelum pekerjaan dimulai antara sub contractor
dengan pihak PT. Adi Murti. Upah para pekerja ini dibayarkan setiap 2 minggu
sekali. Di mana pembayaran ini sesuai dengan laporan volume pekerjaan yang
sudah dikerjakan selama 2 minggu, volume pekerjaan ini dibuat oleh pihak QS
yang nanti akan diberikan kepada site manager. selanjutnya site manager akan
mencocokan dengan catatan pelaksana lapangan dari PT. Adi Murti. Setelah itu
I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 61
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Pihak PT. Adi Murti akan membayar kepada mandor sesuai dengan volume
pekerjaan tadi, selanjutnya pembayaran kepada tenaga kerja adalah kewenangan
mandor dan diluar tanggung jawab dari PT. Adi Murti.
4.2.4 Gambar Kerja

Gambar kerja yang direncanakan dan digunakan sebagai acuan pelaksanaan suatu
proyek konstruksi dibedakan menjadi dua, yaitu gambar kerja (konsultan), dan gambar
kerja (shopdrawing).

Gambar kerja (konsultan) pada proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah ini direncanakan
dan disiapkan oleh konsultan arsitek dari CV. Bali Chandra Lestari. Dalam gambar kerja
yang disiapkan oleh CV. Bali Chandra Lestari dipergunakan untuk pekerjaan lapangan,
beberapa gambar yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan proyek, diantaranya
gambar site plan, layout plan, tampak, potongan rencana, detail struktur, detail arsitektural,
mekanikal, elektrikal, dan plumbing, sampai dengan rencana kap.

Gambar kerja (Shopdrawing) dalam pelaksanaan proyek pembangunan Pasar Phula


Kerti di Sanglah ini merupakan hal yang sangat penting. Shop drawing adalah gambar
teknis lapangan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan. Gambar ini
biasanya dibuat jika gambar yang disediakan oleh pihak konsultan dalam hal ini CV. Bali
Chandra Lestari belum tersedia, atau terjadi perubahan gambar dari gambar yang diberikan
oleh konsultan arsitek yang tidak dapat di realisasikan dilapangan. Selain itu gambar yang
dibuat berupa gambar pendetailan dari konsultan arsitek. Mekanisme pembuatan shop
drawing ini sampai mendapatkan approve berdasarkan hasil wawancara dengan Pelaksana
lapangan, I Ketut Waca Kastawan, S.T. adalah sebagai berikut :

1. Pelaksana lapangan akan berkordinasi dengan site manager apabila terjadi masalah
teknis pekerjaan di lapangan dan membutuhkan gambar baru karena dengan
gambar yang ada pekerjaan tidak bisa dilaksanakan.
2. Pelaksana selanjutnya akan berkordinasi dengan drafter dalam hal ini adalah Bapak
I Wayan Yuliartha, S.T., setelah itu Bapak I Wayan Yuliartha, S.T. akan
mengerjakan gambar sesuai dengan petunjuk pelaksana, disini Bapak I Wayan
Yuliartha, S.T tidak lagi melakukan survey ke lapangan.
3. Setelah gambar selesai gambar akan diperiksa oleh site manager, untuk selanjutnya
diberikan kepada pimpinan proyek di lapangan sebagai manajemen konstruksi.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 62


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
4. Pimpinan proyek ini selanjutnya akan berkordinasi dengan pihak owner dan
konsultan arsitek bahwa akan dilakukan revisi atau perubahan gambar, setelah
disetujui barulah gambar akan di approve dan pihak dari manajemen konstruksi
mengeluarkan surat persetujuan, setelah surat tersebut keluar barulah pihak
pelaksana akan memulai pekerjaan.
4.2.5 Pelaporan

Pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti ini menggunakan sistem pelaporan
berupa laporan harian, yang dimana laporan harian tersebut akan masuk untuk didata oleh
site manager. Dimana site manager akan merekap dan membuatkannya di catatan proyek
untuk pekerjaan setiap harinya sebagai bahan untuk evaluasi kedepannya. Sifat laporan
harian untuk proyek pembangunan Pasar Phula Kerti ini adalah bersifat sangat intern dan
tidak dapat untuk di publikasikan terhadap pihak lain, baik untuk akademis maupun pihak
lainnya. Laporan ini hanya dapat di evaluasi atau dipublikasikan terhadap pihak owner dari
Pasar Phula Kerti. Pelaporan yang dibuat hanya dipublikasikan untuk pihak PT. Adi Murti
selaku pelaksana dan CV. Bali Chandra Lestari selaku konsultan. Laporan harian
kemudian direkap dalam 1 minggunya dan di susun dan didata untuk masuk ke
masterschedule.

4.2.6 Prestasi Kerja

Dalam pelaksanaan pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah ini mengalami


kemunduran setelah pekerjaan pondasi boredpile selesai dilaksanakan. Kemunduran
pelaksanaan proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah disebabkan karena
manajemen tenaga kerja yang kurang disiplin, terkait pembagian jumlah tenaga kerja pada
suatu pekerjaan. Pekerja dialihkan untuk mengerjakan pekerjaan yang diprioritaskan, tanpa
mempertimbangkan pekerjaan lain semestinya dapat dikerjakan bersamaan (overlapping).
Jumlah tenaga kerja dan kualitas tenaga kerja yang kurang professional juga menghambat
jalannya pekerjaan.

Selain manajemen tenaga kerja, ketersediaan alat dan bahan juga mempengaruhi
progress pekerjan. Pekerja yang menggunakan alat secara bergantian menyebabkan
efisiensi waktu menurun dan berpengaruh terhadap target pekerjaan. Pengadaan bahan
sering mengalami keterlambatan yang menyebabkan pekerja menganggur. Dari hasil
wawancara dengan Kepala Pelaksana, I Nyoman Wirajaya, S.T., karena keterlambatan

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 63


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
target pekerjaan dari time schedule semula, mengharuskan pekerja untuk melakukan
lembur pada beberapa bagian pekerjaan untuk mengejar ketertinggalan.

4.3 Pengelolaan Site

Pengelolaan site pada proyek Pasar Phula Kerti dilakukan sebagai pemanfaatan
lokasi proyek sebagai tempat berbagai fasilitas-fasilitas penunjang yang diperlukan untuk
pelaksanaan pembangunan. Dalam pengelolaan site di lapangan harus direncanakan
dengan sebaik mungkin untuk keamanan, kemudahan akses, kemudahan pengawasan, dan
tidak menggganggu jalannya are pekerja di lapangan, pertimbangan ini didasari dari awal
pembangunan proyek sampai dengan proyek selesai sehinggga perlu direncanakan dengan
baik. Adapun lingkup dari pengelolaan site pembangunan Pasar Phula Kerti antara lain
sebagai berikut :

4.3.1 Setting Plan

Pengelolaan are site merupakan keseluruhan site yang ditata dengan tujuan untuk
mengatur dan menempatkan area yang sesuai dengan fungsinya dalam proses pekerjaan di
lapangan, baik tempat staff dan pekerja sehingga tercipta kenyamanan sirkulasi satu sama
lain pada proyek.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 64


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Gambar 4.3 Setting Plan Kawasan Proyek Pasar Phula Kerti
Sumber : Hasil survei, 2019

4.3.2 Pembuatan Direksi Keet, Gudang, dan Peletakan Bahan

Direksi keet dalam proyek merupakan bangunan yang bersifat semi permanen dan
hanya dibangun dengan tujuan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan rapat intern/ekstern
yang terlibat dalam pelaksanaan proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah, administrasi, dan
kordinasi antar staff dengan pekerja selama proyek berjalan.

Gambar 4.4 Setting Plan Direksi Keet


Sumber : Hasil survei, 2019

4.3.3 Transportasi di Dalam Site

Pada pembangunan proyek Pasar Phula Kerti di Sanglah ini diperlukan sarana
transportasi untuk menunjang kelancaran berjalannya pekerjaan kontruksi dalam
bersirkulasi menuju lokasi site, dan untuk kelancaran sirkulasi pekerjaan dalam site maka
perlu diperhitungkan atau direncanakan sebelumnya. Mengingat site berada pada fungsi
pasar dimana sangat rawan terjadi benturan aktivitas antara pelaksanaan konstruksi dengan
kegiatan pedagang maupun pembeli yang berkunjung ke pasar.

Sirkulasi kendaraan di dalam site hanya dapat diakses pada bagian depan dekat
dengan entrance pasar karena tidak memungkinkan masuk lebih dalam. Hal ini disebabkan
oleh sempitnya akses kendaraan ke bagian timur site.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 65


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Gambar 4.5 Sirkulasi Kendaraan
Sumber : Hasil survei, 2019

Untuk sirkulasi vertikal pada pelaksanaan konstruksi menggunakan akses tangga dan
scaffolding untuk sirkulasi pekerja dan katrol dalam proses pensistribusian bahan
konstruksi.

4.4 Pengelolaan Bahan

Pada sub bab ini, memuat penjelasan tentang bagaimana pengelolaan bahan dari
Praktek Kerja Lapangan (PKL) pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah,
Denpasar - Bali yang akan membahas tentang pengadaan bahan, pemilihan jenis bahan,
penyimpanan bahan, pendistribusian bahan, serta pengujian bahan.

4.4.1 Pengadaan Bahan

Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaksana, I Ketut Waca Kastawan, S.T.,


sistem pengadaan bahan/material pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti ini adalah
untuk bahan-bahan atau material struktur seperti besi, semen, dan pasir sudah dibeli
sebelum proses konstruksi proyek Pasar Phula Kerti ini dimulai, jumlah pembelian yang
dilakukan sesuai dengan volume yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan proyek
Pasar Phula Kerti tersebut atau dengan kata lain, material-material tersebut sudah di boking
sejak awal.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 66


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Bahan atau material yang diperlukan pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di
Sanglah, Denpasar - Bali disediakan oleh UD. Adi Sarana seperti besi, kayu, multiplex,
paku dan sebagainya. Sedangkan beton cor readymix yang di gunakan PT. Adi Murti untuk
pengecoran langsung dibeli di PT. Sari Sentana Arta.

Namun karena tidak memungkinkan untuk menyimpan semua material/bahan itu di


lokasi proyek mengingat keterbatasan tempat, bahan/material itu didatangkan secara
bertahap sesuai dengan kebutuhan pada saat akan melakukan pekerjaan. Untuk pengadaan
bahan yang bertanggung jawab pada proyek Pasar Phula Kerti ini adalah bagian Logistik
Lapangan yaitu Bapak I Made Santosa, S.T.

4.4.2 Pemilihan Jenis Bahan

Pemilihan jenis bahan pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti ini, sesuai
dengan item pekerjaan yang akan dikerjakan dengan kesesuaian standard kualitas yang
hendak dicapai dan ditetapkan pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti ini. Adapun
bahan-bahan yang digunakan pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti ini adalah
sebagai berikut :

a. Besi
Bahan besi ini biasanya dipergunakan pada pekerjaan struktur kolom, balok, plat
lantai, dan sloof. Pemilihan bahan di sini disesuaikan dengan keterangan ataupun
disesuaikan dengan detail yang sudah tertera pada gambar kerja karena sudah
melalui proses perhitungan kekuatan struktur.

Gambar 4.6 Bahan Besi pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

Adapun ukuran besi yang dipergunakan pada saat pelaksanaan di lapangan pada
proyek Krisna Gallery and Restaurant adalah sebagai berikut :

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 67


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
1. Besi ulir Ø16 digunakan untuk tulangan utama kolom struktur (K1, K2, dan
K3), balok (B1, B2, dan B3)
2. Besi ulir Ø13 digunakan untuk tulangan utama balok dan sloof septictank,
ruang pompa, ruang genset, ground tank
3. Besi polos Ø10 digunakan untuk tulangan plat lantai dan plat atap
4. Besi polos Ø8 digunakan untuk begel kolom struktur (K1, K2, dan K3), balok
(B1, B2, dan B3)
5. Besi polos Ø5 digunakan untuk tulangan plat meja kios dagang.
b. Kayu dan Multiplek
Bahan kayu dan multiplek digunakan untuk pekerjaan bekisting, mulai dari
bekisting kolom, balok, plat lantai, dan tangga.

Gambar 4.7 Bahan Kayu dan Multiplek pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019
c. Batako
Bahan batako digunakan sebagai bahan dinding utama penyekat ruang dan
pembatas ruang selain dinding dengan beton bertulang pada bagian lantai

basement.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 68


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Gambar 4.8 Bahan Batako pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019
d. Semen
Bahan semen digunakan untuk bahan beton, plesteran, dan acian dinding batako
pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah, Denpasar – Bali.

Gambar 4.9 Bahan Semen pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

e. Pasir
Pasir disediakan khusus untuk pekerjaan plesteran dan acian dinding batako.

Gambar 4.10 Bahan Pasir pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

f. Beton Ready Mix K300


Campuran beton Ready Mix pada proyek Pasar Phula Kerti berasal dari PT. Sari
Sentana Arta dengan penggunaan campuran dengan mutu K-300 sebagai campuran
beton untuk kolom struktur, balok, dan plat lantai.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 69


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Gambar 4.11 Bahan Beton Ready Mix pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019
g. Pipa
Pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti, pipa yang digunakan adalah PVC
dan beberapa sambungan pipa yang digunakan untuk pemipaan MEP pada
bangunan.

Gambar 4.12 Pipa pada proyek Pembangunan Pasar Phula Kerti


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019
4.4.3 Penyimpanan Bahan

Penyimpanan bahan pada dasarnya merupakan usaha dalam melakukan tindakan


pencegahan terhadap penurunan mutu/kualitas bahan dan pencegahan terhadap pencurian.
Selain itu juga mempertimbangkan efektifitas dalam pemanfaatan space di lapangan.

Untuk bahan-bahan yang relatif kecil dan mudah dipindahkan disimpan dalam
gudang seperti kawat, tali, paku, dan sebagainya. Bahan-bahan yang tidak disimpan
digudang tetapi memerlukan perlindungan terhadap gangguan cuaca adalah balok kayu,
besi, scaffolding dan bekisting dilindungi dengan terpal dan sebagian bahan ada yang di
letakan pada bagian bangunan yang sudah selesai. Untuk bahan-bahan yang tahan terhadap
cuaca, ditempatkan pada areal terbuka dan cenderung dekat dengan lokasi tempat
pembangunan, seperti besi, pasir, scaffolding, dan batako.

4.4.4 Pendistribusian Bahan

Pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti, bahan bangunan dipesan sesuai
kebutuhan pekerjaan, dikirim dan didistribusikan ke dalam area proyek. Dalam prosesnya
bahan bangunan diterima oleh pelaksana proyek dan kemudian akan diletakan pada tempat
penyimpanan bahan untuk nanti didistribusikan ke area yang membutuhkan bahan.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 70


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Bahan yang diperlukan akan didistribusikan ke dalam site dari tempat pemesanan
kedalam site proyek dengan menggunakan kendaraan seperti truck dan pick up.

Gambar 4.13 Distribusi bahan dari luar ke dalam site


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

Untuk pendistribusian bahan di dalam site, bahan akan didistribusikan dari gudang
penyimpanan menuju area pembangunan yang membutuhkan bahan tersebut dengan
menggunakan tenaga pekerja. Sementara itu, untuk bahan dengan volume besar seperti
beton ready mix didistribusikan dengan bantuan concrete pump truck.

Gambar 4.14 Distribusi bahan di dalam site


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

4.4.5 Pengujian Bahan

Sistem pengujian bahan pada proyek pembangunan Pasar Phula Kerti di Sanglah
diterapkan untuk mempertahankan mutu dan kualitas dari bahan yang akan digunakan saat

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 71


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
proses konstruksi. Pengujian bahan dilakukan dengan mengambil contoh (sample) bahan.
Salah satu proses pengujian bahan yang dapat diterapkan pada proyek ini adalah teknik
slump untuk menguji kesesuaian mutu dan kualitas beton yang akan digunakan dalam
pekerjaan beton pada konstruksi bangunan Pasar Phula Kerti. Hasil dari slump test yang
dilakukan terhadap sample adonan beton didokumentasikan untuk mengetahui kekentalan
beton. Sample beton cor diambil dan diletakkan ke dalam silinder, selanjutnya akan
dibiarkan mengeras, setelah mengeraskan akan dikeluarkan dari dalam silinder untuk
selanjutnya direndam di proyek selama 28 hari.

Gambar 4.15 Hasil uji beton


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2019

4.5 Pengelolaan Alat


4.5.1 Pengadaan Alat
4.5.2 Pemilihan Alat
4.5.3 Penempatan Alat
4.5.4 Perawatan dan Pemeliharaan Alat
4.5.5 Pengamatan Alat

DAFTAR PUSTAKA

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 72


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali
Chiara, Joseph De., Julius Panero; Martin Zelnik. 1992. Time Saver Standards for Interior
Design and Space Planning. New York: Mc Graw Hill Book Company.

Ching, D.K. 2000. Arsitektur Bentuk, Ruang dan Tatanan. Jakarta: Erlangga.

Djojowirono, S., 2005. Manajemen Konstruksi I. Yogyakarta: Biro Penerbit KMTS FT


UGM.

Ervianto, 2003. Tahap Pelaksanaan Proyek Kontruksi. s.l.:Gramedia Pustaka Utama.

Abrar, Husen., 2009. Manajemen Proyek. Yogyakarta: s.n.

Idzurnida, Ismael. Januari 2013. Keterlambatan Proyek Konstruksi Gedung. Jurnal


Momentum. Hal 47. ISSN: 1693-752X.
Imam, Suharto. 1999. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Jakarta.
Penerbit Erlangga.

Indriati, D. SCP.., dan Arif Widyatmoko. 2008. Pasar Tradisional. Semarang: PT.
Bengawan Ilmu.

Irika Widiasanti, L., 2013. Manajemen Kontruksi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


519 tahun 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Jakarta:
Kementerian Kesehatan.

Marlina, Endy. 2008. Panduan Perancangan Bangunan Komersial. Yogyakarta: Andi

Rani, H. A., 2016. Manajemen Proyek Kontruksi. Yogyakarta: CV BUDI UTAMA.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2007. Peraturan Presiden. No. 112 Tahun 2007
tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko
Modern. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Triton, S., 2005. Pengertian Proyek. Yogyakarta: Andi Ofset.

Warda, M., 2004. Laporan Kerja Praktek I Bidang Pelaksanaan dan Pengawasan.
Makassar: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hassanuddin.
W.J.S, Poerdarminta. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.

I PUTU PRATAMA YUDHA DIPANGESTU (1662121015) 73


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Pembangunan Pasar Phula Kerti Grid 4 s/d 7 di Sanglah, Denpasar - Bali