Anda di halaman 1dari 55

APLIKASI HUKUM KESEHTAN DALAM PRAKTIK

KEPER AWATAN

Oleh : Dr. Ahsan, S.Kp, M.Kes


Permasalahan Yankes
1. Masyarakat sadar hukum
2. Ketidak puasan
3. Ekspose media masa
4. Komplin / somasi 

Macam hukum kesehatan


1. Hk Kedokteran 2. Hk Keperawatan
3. Hk.Kefarmasian4. Hk.Kebidanan
5. Hk. rumah sakit
Unsur Hukum
a. alat pengatur tata tertib hubungan masyarakat
b. sarana utk mewujudkan keadialan sosial lahir, batin
Sumber Hukum:
a. Undang-undang b. Kebiasaan (convention)
c. Putusan Hakim (Jurisprudensi) d. Traktat (Treaty)
e. Doktrin
Dasar Penggolongan Hukum:
1. Sumber : UU, Kebiasan , Traktat, Yurisprudensi, dokrin
2. Isi : Privat & Publik
3. Sifat : Memaksa & Mengatur
4. Bentuk : Tertulis & Tdk tertulis (Hukum adat & Kebiasaan)
5. Tempat : Nasional, Internasional, Asing
Hak Dalam Hukum

1. Hak Kebendaan (Hak Mutlak): Hak atas benda yg


dapat dipertahankan kpd setiap orang.
2. Hak Perorangan (Hak Relatif): Hak yg hanya
dapat dipertahankan kpd orang tertentu.
Subjek Hukum
Sesuatu yg menurut hukum berhak/ berwenang utk
melakukan perbuatan hukum (pemegang hak &
kewajiban)
Terdiri atas: Manusia dan Badan Hukum
a. Publik : Negara, Pemda, Desa
b. Perdata: Perseroan terbatas, koperasi
Hukum Keperawatan
Perawat
Perlindungan hukum
 Klien Kepastian hukum

Masalah hukum

Solusi dan pemecahan
Perawat Kesepakatan terapeutik  Klien

Perjanjian

Hak dan kewajiban

Terpenuhi Tidak terpenuhi
 
Tidak ada masalah Masalah hukum/Etika
Masalah hukum / etika

Malpraktek
 
Etika Hukum
 
Pelanggaran etika Pelanggaran HK
- Perdata
- Pidana
- Administrasi
Perawat ------ Klien

Masalah

Majelis kehormatan etika
 
Tidak bersalah Bersalah
  
Bebas Etika Yuridik
 
PPNI Cab PDT PDN ADM
Perkembangan jasa yankes

 Kasus dr. S. di Pati 1981, Sidoarjo, 1993


Sifat pelayanan :
 Th 1970 : Charity / amal, kebal HK, menolong
penderitaan, Tanpa imbalan, tidak ada tuntutan,
kegagalan takdir.
 Tahun 1980 : Sosial ekonomi, dermawan kurang, RS
tekor, jalan keluar VIP, subsidi silang.
 Tahun 1990 : PT/BHMN Profit dan non profit,
otonomi, kompetitor. RS.padat tenaga, tekonologi,
persoalan (Ekonomi, etik, HAM, Hukum, teknologi,
sosial, DLL.
di Indonesia
1. Pengertian Hukum :
 Kehidupan manusia (Imajiner)
 Kehendak hati (Hk. Rimba)
 Manusia mahluk unik (akal, budi, nafsu)
 Interaksi ( bertentangan kepentingan, pendapat, pertikaian,
ketidak serasian)
 Hidup bermasyarakat ( Norma, peraturan, kesusilaan, sopan
santun, adat, peraturan HK.
 Kontek Profesionalisme (Etika profesi)
Etika dan hukum
1. Etika :
Perbuatan keputusan baik & buruk
berdasarkan pilihan pribadi, tidak ada hukum yg
mengatur
2. Hukum :
Aturan perilaku yg dibuat penguasa masyarakat (
Negara) yg umumnya berupa serangkaian norma yg
mengatur hubungan kemasyarakatan.
Lanjutan

 Hukum : Suatu tindakan, karya nyata yg tidak ada


henti-hentinya yg selalu diperbaruhi yg bertujuan
tata keadilan, kesejahteraan pendukungnya,
mempunyai sifat kebudyaan
 Tujuan hukum : Melindungi, mengatur masyarakat
agar tertib, disiplin sehingga keamanan terjamin,
rakyat hidup sejahtera(tata keadilan &
kesejahteraan)
Sifat hukum
 Konservatif, kuno, tetap, tidak berubah, tegas
 Menciptakan keadilan, dinamik, keadilan
disesuaikan perkembangan masyarakat, keadaan,
situasi yg selalu berubah
Tata hukum di Indonesia
1. Rule of Low ( Dasar hukum)
2. Civil Low/ Common of low ( Hukum rakyat)

Ciri Hukum ( Prakoso)


a. Pengakuan hak asasi
b. Peradilan bebas, tidak memihak, tidak dipengaruhi
kekuasaan/ kekuatan apapun
c. Legalitas tindakan negara/ pemerintah, aparatur
dipertanggung jawabkan scr hukum.
Sumber hukum formal
1. UU. :
Peraturan kelengkapan negara, mengikat semua
warga yg ditetapkan penguasa
2. Yurisprudensi :
Pengetahuan, fatwa orang bijak dg tujuan tertentu.
yg menjadi keputusan hakim/ pengadilan thd suatu
masalah tertentu.
3. Tractat : Perjanjian / kesepakatan
4. Custom/ Common (Kebiasaan)
Peraturan yg menjadi tradisi masyarakat.
Pembagian Hukum
1. Hukum sipil :
Menitik beratkan hubungan perorangan
- Arti luas HK. dagang,
- Arti sempit Hk. perdata (perorangan, keluarga,
kekayaan, warisan)
2. Hukum publik :
Hubungan negara dg warga negara.
Meliputi Hukum tata negara, pidana, internasional.
Pengadilan
 MA - PT - PN ( umum)
 MA - PTA - PA (Agama)
 MA - Mahmilti - Mahmil (militer)
 MA - PTUN - P4D(adminstrasi)
KRISIS MALPRAKTEK

Fakta :
 Pasien diwakili pengacaranya

 Cepat menuduh

 Diramaikan media massa

 Ganti rugi milyaran rupiah

 Tidak dasar saling percaya, kekerabatan

 Saling curiga
Kondisi tenaga kesehatan

1. Defensif (mengamalkan ilmu demi hukum) bukan


kebutuhan pasien
2. Terpaksa mengasuransikan diri
3. Medical defence/ medical industri
4. Budaya mengingkar / cuci tangan
5. Menggeser tanggung jawab
Kriteria Malpraktek
Penyimpangan thd :
1. Kewajiban memberikan asuhan profesional (Duty of
care)
2. Lalai / tidak melakukan kewajiban sesuai standar
(Breach of duty)
3. Terjadi kerugian/ cedera (Harm, demage)
4. Ada hubungan sebab akibat (Breach of duty)
Penyebab tuntutan masyarakat

1. Kelalaian ( Negligance)
2. Sikap buruk dilakukan dg sengaja
3. Pelanggaran kontrak yg menjamin hasil pelayanan (
Breach of contract)
4. Percemaran nama baik (Deformation)
5. Membuka/ membocorkan rahasia
6. Melakukan tindakan tanpa persetujuan
7. Kegagalan dalam mencegah cedera
Penyebab musibah klinis
1. Kesalahan manusia (70%)
2. Kegagalan alat (20%)
3. Faktor Lain (10%)(Desain alat, tidak ada
kebijakan / prosedur yg baik, pelatihan tidak
memadai)
Penyebab utama faktor MANUSIA
Bagaimanapun mutakhirnya suatu alat, sarana,
teknologi, sistem yankes, hanyalah alat. ditangan
manusia, moralitas, peran manusia sangatlah
dominan, yg paling menetukan adalah etika, tgg.
jawab manusia thd manusia yg dilayani
Peran institusi yankes
1. Pemberi kerja ( Employer)
2. Penyedia fasilitas (fasilitator)
3. Pemberi layanan, asuhan kes. (Care provider)
4. Warga komunitas
Tanggung jawab institusi yankes

1. Merekrut, memilih memelihara, mengembangkan SDM


bermutu (etika pribadi, profesi, perilaku, kompetensi,
kinerja, profesional)
2. Memberi instruksi (Pedoman, standar,prosedur,
Supervisi kinerja)
3. Menyediakan, memelihara, mengembangkan sarana
yg aman, standar mutu, memuaskan
4. Mengembangkan sistem operasional dan lingkungan
aman
Komponen yankes dalam sistem
1. Manajemen : Mendukung(Good clinical care) SDM, sarana,
prasarana, anggaran, peralatan, perlengkapan, material/ obat,
logistik, sistem pendukung
2. Para profesional : Kompetensi, standar profesi, kinerja, asuhan,
Standar mutu
a. Technical, profesional quality
b. Effesiensi SDM
c. Menjaga keamanan (management risk)
d. Kepuasan jasa layanan
3. Sinergi pengamalan tgg. jawab, etika dan hukum
a. Amam b. Effektif
c. Costumer oriented d. Tepat waktu
e. Effisien f. Adil
Program utama Good Clinical Governance
1. Contoneous professional development
2. Quality assurance
3. Evidence based practice
4. Clinical effectiveness
5. Clinical risk management
6. Clinical audit
Hasilnya : profesionalisme, berstandar tinggi,
bermutu, memuaskan, akontabilitas.
Clinical risk managemen

1. Proses sistematis melakukan identifikasi, analisis,


pengendalian, penanganan resiko klinis yg potensial
atau aktual
a. Identifikasi & analisis resiko (monitor & evaluasi)
pelaporan, skrining, audit klinis, analisa
Keluhan utama Px.
b. Pengendalian resiko (pedoman protokoler,
pendidikan berkelanjutan, penyempurnaan
organisasi, menekan kesalahan, mencegah
keteledoran.
Lanjutan

c. Penanganan resiko : respon cepat, komunikasi wajar,


tepat waktu, dukungan staf, rekaman teliti & detail
d. Pembiayaan resiko :proteksi finansial, tuntutan
ganti rugi, asuransi cadangan

2. Tujuan MRK :
a. Mengurangi musibah klinis, menangkal malpraktek.
b. Mengurangi klaim pembiayaan beban institusi
c. Obyektivitas optimal
Upaya mencegah malpraktik bidang keperawatan /
kesehatan

 Berita tuntutan malpraktek jadi topik utama


 Berita tidak selalu benar, terbentuk publik opini,
Pelayanan asuhan /pengobatan tidak memuaskan,
cacat, mati karena malpraktek
 Masy. belum faham hasil asuhan pengobatan, resiko
penyakit, tindakan, perlu marketing, advokasi,
sistematik, terarah
 Erosi etika, kepercayaan, ketidak puasan, resiko
tuntutan
Analisa situasi
1. Pemberitaan media, pengaruh opini publik dan
bahaya timbulnya sikap permusuhan (Advensary
position) masy. thd petugas kes. dan RS
 Pola alamiah penyakit DHF (tahap awal, berikut,
lanjut)
Contoh :

Pasien meninggal :
a. Persepsi salah : kematian krn kesalahan petugas
b. Persepsi yg benar : Kematian dapat karena
1. Proses penyakit
2. Resiko tindakan ( Shock anaphylactik )
3. Kelalaian petugas
2. Belajar pengalaman negara lain
- Tuntutan malpraktek meningkat, petugas takut salah,
melakukan pemeriksaan, pemeriksaan mahal yg seharusnya
tidak perlu, biaya kes. meningkat sangat mahal.
Syarat malpraktek ( 4D)

1. Duty ( Kelalaian kewajiban)


2. Deviation from duty (standard performance)
3. Dermage (kerugian)
4. Direct causation (Hub.sebab akibat)
Akibat tuntutan malpraktek

Akibat negatif :
1. Asuransi menolak melindungi petugas kes, RS
2. Biaya asuransi naik 300-750%
3. Defensive medicine : pemeriksaan tambahan yg
tidak perlu
4. Akibat total biaya pengobatan meningkat,
meningkat tuntutan ( Lingkaran setan)
Akibat positif
1. American medical assosiation meneliti :
2. Closed case study sebab-sebab pencegahan
3. RS Membuat program QA, TQM, Risk management
4. Pemerintah : Pengendalian biaya
Sebab tuntutan di Amerika Serikat

a. Biaya pengobatan tinggi


b. Minset/ budaya litigativ (senang menuntut)
c. Posisi bermusuhan antara masy. dg petugas

Di Inggris, belanda :
a. Tuntutan malpraktek rendah
b. Ada pengendalian profesi ( Counsil)
c. Komunikasi masuk kurikulum pendidikan
Di Indonesia tuntutan malpraktek
1. Dari sudut pasien
a. Krisis multi dimensi menyebabkan masy stress &
menjadi litigativ/mudah menuntut
b. Kesadaran HAM
c. Kesalahan persepsi kematian selalu karena
malpratek padahal proses penyakit, resiko
tindakan.
d. Pemberitaan media cendrung negatif, timbul sikap
distrust thd petugas dan RS
2. Dari sudut petugas
 Nilai materialistik,. dan individulistis dg akibat honor
yg tinggi dan berkurangnya empati
 Penggunaan teknologi / obat canggih menjadikan
biaya mahal
 Masy makin maju & Informasi banyak, kemampuan
komunikasi petugas kurang, tidak dibekali dlm
pendidikan
 Perubahan sikap petugas
 Belum mantapnya penerapan prinsip etika dlm
landasan pelayanan
Tindakan pencegahan
1. Penerapan operasional prinsip etika& HK
 Tujuan etika : rasa aman, berinter aksi
 Tanpa etika yg kuat memakan yg lemah homo momini lupus , Dg etika yg
kuat mengendalikan diri sendiri sehingga yg lemah merasa aman homo
homini socius, manusia yg satu teman dari yg lain
2. Masalah resiko,prinsip dasar hak pasien,etika profesi. Kesadaran resiko
selalu ada (death, disability, desease, discomfort, disatisfaction)
3. Kesadaran bahwa pasien memiliki hak the right for safety, respect,
information, herard,choose
4. Kesadaran kita mempunyai kewajiban etik
(Do good, do no harm, veracity, autonomy, confidentiality, justice
5. Perubahan cara pandang paternalistik menjadi kesetaraan/Mitera
menuju sehat
REGISTRASI dan LISENSI PERAWAT

• Pasal 26
(1) Setiap perawat yg akan melakukan praktik keperawatan di Indonesia
harus memiliki STR Perawat yg diterbitkan Konsil melalui mekanisme uji
kompetensi oleh konsil.
(2) STR Perawat sebagaimana ayat (1) terdiri atas 2 (dua) kategori:
a. untuk perawat vokasional, STR Perawat disebut dg Lisenced Vocasional
Nurse (LVN)
b. untuk perawat profesional, STR Perawat disebut dg Registered Nurse
(RN)
(3) Untuk melakukan registrasi awal, perawat harus memenuhi persyaratan :
a. memiliki ijazah perawat Diploma atau SPK untuk Lisenced Vocasional
Nurse (LVN)
b. memiliki ijazah Ners, /Ners Spesialis untuk (RN)
c. lulus uji kompetensi yg diselenggarakan oleh konsil
d. Rekomendasi Organisasi Profesi
Pasal 27

1) Dalam menjalankan praktik keperawatan di Indonesia,


lisensi praktik perawat diberikan Dinkes Kab. /Kota yg
disebut dg Surat Ijin Perawat yg terdiri dari Surat Ijin
Perawat Vokasional (SIPV) (SIPP)
2) Perawat vokasional yg telah memenuhi persyaratan LVN
berhak memperoleh SIPV, dapat melakukan praktik
keperawatan di sarana yankes bersama.
3) Perawat profesional yg telah memenuhi persyaratan RN
berhak memperoleh SIPP, dapat melakukan praktik
keperawatan di sarana yankes,praktik mandiri.
4) Lisenced vocasional Nurse (LVN) dg latar belakang
Diploma III Keperawatan, pengalaman kerja sekurang-
kurangnya 5 (lima) tahun di sarana yankes dapat mengikuti
uji kompetensi Registered Nurse(RN).
Pasal 28
(1) Syarat untuk memperoleh SIPV :
a. Memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat yg disebut (LVN)
b. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan
c. Melampirkan surat keterangan dari pimpinan sarana yankes
(2) Syarat untuk memperoleh SIPP :
a. Memiliki STR Perawat yg disebut Registered Nurse(RN)
b. Tempat praktik memenuhi persayaratan untuk praktek mandiri
c. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan
d. Melampirkan surat keterangan dari pimpinan sarana yankes
(3) SIPV dan SIPP masih tetap berlaku sepanjang:
a. Surat tanda Regstrasi Perawat masih berlaku
b. Tempat praktik masih sesuai dg yg tercantum dalam SIPP
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tempat praktik
untuk memperoleh SIPP diatur dalam peraturan Menteri.
BAB VIII
PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN

• Pasal 36
• Praktik keperawatan dilakukankan berdasarkan pada kesepakatan
antara perawat dg klien dalam upaya untuk peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan, kuratif,
pemulihan kesehatan.
• Pasal 37
• Dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat yg telah
memililki SIPV atau SIPP berwenang untuk:
a. melaksanakan asuhan keperawatan yg meliputi pengkajian,
penetapan diagnosis, perencanaan, melaksanakan tindakan dan
evaluasi keperawatan;
b. tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada huruf a
meliputi: intervensi, observasi , pendidikan dan konseling kes.;
c. dalam melaksanakan askep sebagaimana dimaksud huruf a dan
huruf b harus sesuai dg standar askep yg ditetapkan oleh organisasi
profesi;
d. melaksanakan intervensi keperawatan seperti yg tercantum pasal
Pasal 42 Hak klien
• Klien dalam menerima pelayanan praktik keperawatan, mempunyai hak:
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap ttg tindakan keperawatan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 38;
b. meminta pendapat perawat lain;
c. mendapatkan yankep sesuai dg standar
d. menolak tindakan keperawatan;

Pasal 43 Kewajiban Klien


Klien dalam menerima pelayanan praktik keperawatan, mempunyai kewajiban:
a. memberikan informasi yg lengkap dan jujur tentang masalah kes.nya;
b. mematuhi nasihat dan petunjuk perawat;
c. mematuhi ketentuan yg berlaku di sarana yankes ; dan
d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yg diterima.
Pasal 44
Pengungkapan Rahasia Klien

• Pengungkapan rahasia klien hanya dapat dilakukan atas dasar:


a. Persetujuan klien
b. Perintah hakim pada sidang pengadilan
c. Ketentuan perundangan yg berlaku
• Pasal 45 Hak Perawat
• Dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat mempunyai hak
a. Memperoleh perlindungan hukum dan profesi sepanjang
melaksanakan tugas sesuai standar profesi & (SOP);
b. Memperoleh informasi yg lengkap, jujur dari klien dan /atau
keluarganya;
c. Melaksanakan tugas sesuai dg kompetensi dan otonomi profesi;
d. Memperoleh penghargaan sesuai dg prestasi dan dedikasi
e. Memperoleh jaminan perlindungan thd resiko kerja yg berkaitan
dengan tugasnya;
f. Menerima imbalan jasa profesi
Pasal 46
Kewajiban Perawat

a. Memberikan yankep sesuai dg standar profesi dan SOP


b. Merujuk klien, atau pasien ke fasilitas yankes yg mempunyai
keahlian atau kemampuan yg lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau tindakan;
c. Merahasiakan segala sesuatu yg diketahuinya ttg klien, atau
pasien kecuali untuk kepentingan hukum;
d. Menghormati hak-hak klien dan atau pasien, profesi lain sesuai dg
ketentuan/peraturan yg berlaku;
e. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan untuk
menyelamatkan jiwa
f. Menambah dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan keperawatan dalam upaya peningkatan
profesionalisme.
Pasal 47
Praktik Mandiri

(1) Praktik mandiri dapat dilakukan secara perorangan dan atau


berkelompok
(2) Perawat yg melakukan praktik mandiri mempunyai kewenangan sesuai
pasal 4 huruf a, b, c, d, e, dan f.
(3) Kegiatan praktik mandiri meliputi:
a. intervensi mandiri keperawatan, seperti terapi
modalitas/komplementer, konseling, perawatan kebugaran, perawatan
dirumah atau dalam bentuk lain sesuai dg peraturan yg berlaku
b. pengobatan dan tindakan medik dasar dg instruksi atau pengawasan
dokter dan protokol dari Ikatan Dokter Indonesia,
(4) Perawat dalam melakukan praktik mandiri sekurang2nya memenuhi
persyaratan:
a. Memiliki tempat praktik yg memenuhi persyaratan kesehatan;
b. Memiliki perlengkapan peralatan, administrasi untuk melakukan askep
(5) Persyaratan perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sesuai
dg standar perlengkapan askep yg ditetapkan oleh organisasi profesi.
(6) Perawat yg telah mempunyai SIPP, menyelenggarakan praktik mandiri
wajib memasang papan nama praktik keperawatan.
Cara pandang petugas pada klien

1. Posisi paternalistik 1. Kesetaraan (egaliter)


2. Sikap pendekatan 2. Mitera/ patner menuju
sehat
manusia sebagai
mahluk biologis 3. Manusia sbg mahluk
bio,psiko,sosio,kulturo,spiri
3. Fokus desease tual
4. Pendekatan 4. Fokus manusia seutuhnya
5. reduksional 5. Pendekatan holistik
Model pencegahan & penaggulangan
Menjamin mutu manajemen resiko

1. Primary prevention ( Menghilangkan resiko)


2. Secindary prevention (Diagnosa dini, terapi dini dan
spesial treatmen)
3. Tertiary prevention ( immidiate respone, limite the
demage, prevention agains recurrence)
Back to basic, bact to ethic, public relation, KIE internal
dan ekternal
Contoh model pendekatan terpadu

1. TQM : indikator SMART


(Spesific, measurable, achivable, relevan, time framed)
2. Kode Etik RS : Mengutamakan pelayanan yg baik,
bermutu, Berkwajiban melindungi px penyalagunaan
teknologi
3. Kode etik Profesi : Menjunjung tinggi, menghayati,
mengamalkan sumpah profesi, Senantiasa,
melaksanakan profesinya sesuai standar kompetensi yg
tertinggi
4. Hak pasien : Keselamatan, keadilan, tepat waktu,
pelayanan bermutu.
BAB IX
PEMBINAAN, PENGEMBANGAN DAN PENGAWASAN
Pasal 48
• Pemerintah, Konsil Keperawatan, dan Organisasi Profesi
Perawat membina, mengembangkan dan mengawasi praktik
keperawatan sesuai dg fungsi serta tugas masing-masing.
Pasal 49
(1) Pembinaan dan pengembangan perawat meliputi
pembinaan profesi dan karir
(2) Pembinaan dan pengembangan profesi perawat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi
kompetensi profesional dan kepribadian
(3) Pembinaan dan pengembangan profesi perawat dilakukan
melalui Jenjang Karir Perawat.
(4) Pembinaan dan pengembangan karir perawat
sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi penugasan,
kenaikan pangkat / Peringkat dan promosi.
REAL

Relation (Mempunyai hubungan)


Equipment (Saling menghargai)
Attitude (Perilaku / Sikap)
Leadership (Kepemimpinan)
7 Area Soft Skills : Winning Characteristics*
Silakan klik
di tulisan

* Menurut Patrick O’Brien


dalam bukunya “Making
College Count”
OPERASIONAL TQM

Tingkat nilai abstrak • Saya senatiasa mengu-


 tamakan kes. pasien
Penjabaran program • Program penggunaan
 Askep/ prosedur kepw
Penjabaran operansional • 4 Tepat 1 waspada (Tepat
indikasi,cara,px, waktu,
 waspada efek samping)
Petunjuk perasional • Pedoman askep/ intervensi
 • Hasil evaluasi intervensi
Penjabaran audit askep
(intervensi)
Perilaku Profesional
1. Altruisme : Mendahulukan kepentingan px dari pada
diri sendiri
2. Acontability : Bertanggung jawab atas yankes yg
diberikan
3. Excellen :Kwajiban meningkatkan kemampuan sepanjang
masa
4. Duty : Siap, responsif menjalani profesinya
5. Honor and integrity : Jujur, tulus, terusterang berinterkasi
profesi, pasien
6. Respect for other : hormat pd px, kluarganya, tim kerja
Terima kasih
sampai jumpa lagi