Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MENJAMIN MUTU MELALUI SUPERVISI PEMBELAJARAN


DAN MANAJEMEN SEKOLAH DALAM PERPEKTIF PROFESI
PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan


Dosen Pengampu : Ika Lusi Kristanti, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh:
Fatin Najkhi Himmati ( )
Husadha Aji ( )
Yanuar Adi Baskoro ( )

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


STKIP PGRI JOMBANG
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat jauh dari kata sempurna. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi
pendidikan dalam profesi keguruan.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan, saran dan kritik yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.

Jombang, 15 Maret 2017

2
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ....................................................................................................... 1

Kata Pengantar ........................................................................................................... 2

Daftar Isi .................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 4

A. Latar Belakang Masalah ................................................................................ 4


B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 4
C. Batasan Masalah ............................................................................................ 5
D. Tujuan ............................................................................................................ 5

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................... 6

A. Konsep Mutu Pendidikan ............................................................................... 6


B. Definisi Supervisi........................................................................................... 6
C. Tujuan Supervisi ............................................................................................ 8
D. Fungsi Supervisi............................................................................................. 9
E. Peranan Supervisor ........................................................................................ 11
F. Kelengkapan Administrasi ............................................................................. 12
G. Implementasi Teknik Supervisi ..................................................................... 14

BAB III PENUTUP ................................................................................................... 16

A. Simpulan ........................................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 17

LAMPIRAN ............................................................................................................... -

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui
proses pembelajaran di sekolah.

Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan


komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus.
Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan maupun
program dalam jabatan. Tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih
dengan baik dan kualified. Potensi sumber daya guru itu perlu terus bertumbuh dan
berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara potensial. Selain itu pengaruh perubahan
yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat.

Masyarakat mempercayai, mengakui dan menyerahkan kepada guru untuk mendidik


tunas tunas muda dan membantu mengembangkan potensinya secara professional.
Kepercayaan, keyakinan, dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan
masyarakat terhadap profesi guru. Implikasi dari pengakuan tersebut mensyaratkan guru
harus memiliki kualitas yang memadai. Tidak hanya pada tataran normatif saja namun
mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki, baik kompetensi personal, professional,
maupun kemasyarakatan dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan.

Hal tersebut lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui


kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu
pendidikan harus dimulai dari aspek “guru” dan tenaga kependidikan lainnya yang
menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen
pendidikan yang professional.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah konsep mutu pendidikan?


2. Apa definisi supervisi?
3. Apa tujuan dan fungsi supervisi?
4. Apa peranan supervisor dalam supervisi?
5. Kelengkapan administrasi apa saja yang harus disiapkan oleh supervisor?
6. Bagaimana implementasi teknik supervisi?

4
C. Batasan Masalah
Pada makalah ini, penyusun hanya membahas mengenai konsep mutu pendidikan,
definisi supervise, tujuan dan fungsi supervise, peranan supervisor, kelengkapan administrasi,
dan implementasi teknik supervise.

D. Tujuan

1. Mengetahui konsep mutu pendidikan


2. Memahami definisi supervise
3. Memahami tujuan dan fungsi supervise
4. Mengetahui peranan supervisor dalam supervise
5. Mengetahui kelengkapan administrasi yang wajib disiapkan oleh supervisor
6. Memahami implementasi teknik supervise

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Mutu Pendidikan


Proses pendidikan yang bermutu ditentukan oleh berbagai unsur dinamis yang akan
ada di dalam sekolah itu dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Menurut
Townsend dan Butterworth (1992:35) dalam bukunya Your Child’s Scholl, ada sepuluh
faktor penentu terwujudnya proses pendidikan yang bermutu, yakni:

1. Keefektifan kepemimpinan kepala sekolah


2. Partisipasi dan rasa tanggung jawab guru dan staf,
3. Proses belajar-mengajar yang efektif,
4. Pengembangan staf yang terpogram,
5. Kurikulum yang relevan,
6. Memiliki visi dan misi yang jelas,
7. Iklim sekolah yang kondusif,
8. Penilaian diri terhadap kekuatan dan kelemahan,
9. Komunikasi efektif baik internal maupun eksternal, dan
10. Keterlibatan orang tua dan masyarakat secara instrinsik.

Dalam konsep yang lebih luas, mutu pendidikan mempunyai makna sebagai suatu
kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan yang ditetapkan sesuai dengan
pendekatan dan kriteria tertentu (Surya, 2002:12). Dalam konteks pendidikan, pengertian
mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan (Depdiknas, 2001:5). Input pendidikan
adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses.
Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain dengan
mengintegrasikan input sekolah sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang
menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan
benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Output pendidikan adalah merupakan
kinerja sekolah yang dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya,
efisiensinya, inovasinya, dan moral kerjanya.

Berdasarkan konsep mutu pendidikan maka dapat dipahami bahwa pembangunan


pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus
lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak
harus ada dalam batas - batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis
meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition
to improve student achievement).

B. Devinisi Supervisi
Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut :
“Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”.

6
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik.
Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar
mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi
belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan
supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari
penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.

Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih menekankan
kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada
persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan kerjasama yang lebih baik
diantara guru-guru, karena bersifat demokratis. Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan
baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang
terkandung dalam perkataan itu (semantik).

1) Etimologi
Istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya
pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut
supervisor.
2) Morfologis
Supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Supervisi terdiri dari dua
kata.Super berarti atas, lebih. Visi berarti lihat, tilik, awasi. Seorang supervisor
memang mempunyai posisi diatas atau mempunyai kedudukan yang lebih dari orang
yang disupervisinya.
3) Semantik
Pada hakekatnya isi yang terandung dalam definisi yang rumusanya tentang sesuatu
tergantung dari orang yang mendefinisikan. Wiles secara singkat telah merumuskan
bahwa supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih
baik. Adam dan Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya
menyangkut perbaikan proses belajar mengajar. Sedangkan Depdiknas (1994)
merumuskan supervisi sebagai berikut : “ Pembinaan yang diberikan kepada seluruh
staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan
situasi belajar mengajar yang lebih baik,” dengan demikian, supervisi ditujukan
kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
Untuk itu ada dua hal (aspek) yang perlu diperhatikan :
a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
b. Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar

Karena aspek utama adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus
lebih diarahkan kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam
mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk itu Depdiknas (1982) menyatakan, guru harus
memiliki yakni :
1) kemampuan personal,
2) kemampuan profesional
3) kemampuan sosial
7
Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai
serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang
diberikan oleh supervisor ( pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna
meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Karena supervisi atau pembinaan guru
tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru tersebut pula “Pembinaan profesional guru“
yakni pembinaan yang lebih diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan
kemampuan profesional guru.

Supervisi dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan


tersebut bisa untuk kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran
supervisi diartikan pula sebagai pembinaan kepada guru.

C. Tujuan Supervisi

Tujuan utama supervise pembelajaran adalah meningkatkan mutu proses dan hasil
belajar siswa. Dilihat dari sisi prosesnya, tujuan umum supervise adalah memberikan bantuan
teknis dan bimbingan kepada guru agar mampu meningkatkan kualitas kerjanya dalam
melaksanakan tugas dan menjalankan proses belajar mengajar. Scara khusus tujuan supervise
pembelajaran disajikan berikut ini.
1. Meningkatkan mutu kinerja guru
a. Membantu guru membangkitkan intuisi dan seni dala proses pembelajaran
b. Membantu guru alam memahami tujuan pendidikan dan pembelajaran
c. Membantu guru memahami esensi layananan pembelajaran sejati bagi siswa
d. Membantu guru memahami peran dan fungsi sekolah dalam mencapai tujuan
tersebut.
e. Membentuk moral kelompok yag kuat dan mempersatukan gru dalam satu tim
yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai
satu dengan lainnya.
f. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi
belajar siswa.
g. Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik dari segi strategi, keahlian dan alat
pengajaran.
h. Menyediakan sebuah sistem yang berupa penggunaan teknologi yang dapat
membantu guru dalam pengajaran.
i. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi administrator sekolah untuk
reposisi guru.
2. Meningkatkan keefektifan implementasi kurikulum secara efektif dan efisien bagi
kemajuan siswa dan generasi mendatang.
3. Meningkatkan keefektifan dan keefisinan sarana dan prasarana yang ada untuk
dikeloa dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan
keberhasilan siswa
4. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya
suasana kerja yang optimal untuk kemudian siswa dapat mencapai prestasi belajar
sebagaimana yang diharapkan.

8
5. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang
dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang
menunjukkan keberhasilan lulusan.

D. Fungsi Supervisi
Seringkali orang sulit dalam membedakan antara fungsi dan tujuan, sebenarnya fungsi
bertalian erat dengan badan atau organisasi secara keseluruhan, sedangkan tujuan bertalian
dengan kegunaan. Diadakannya sebuah pengawasan (supervisi) oleh pimpinan sekolah atau
atasan adalah sebuah tindakan yang semestinya harus dilakukan untuk mengawasi timbulnya
situasi-situasi yang menghambat jalannya administrasi pendidikan di sekolah. Karena
hambatan itu semakin lama semakin banyak maka ada kemungkinan tujuan tidak tercapai
dalam waktu yang telah dierncanakan. Situasi yang menghambat itu dapat barasal dari
berbagai pihak.

Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu proses kerjasama hanyalah


merupakan cita-cita yang masih perlu diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang nyata.
Begitu juga seorang supervisor dalam merealisasikan program supervisinya memiliki
sejumlah tugas dan tanggungjawab yang harus dijalankan secara sistematis. Secara umum,
fungsi dari supervisi pendidikan adalah:
a. Penelitian

Proses dari penelitian ini meliputi beberapa tahapan, pertama adalah


perumusan masalah yang akan diteliti, kedua adalah pengumpulan data, ketiga
pengolahan data, dan yang terakhir adalah konklusi hasil penelitian.
b. Penilaian

Fungsi supervisi dalam hal ini adalah mengevaluasi aspek-aspek positif dan
negatif guna menemukan hambatan-hambatan dan mengembangkan kemajuan yang
telah ada.
c. Perbaikan
Supervisi dalam hal ini mengawasi keadaan umum dan situasi dalam
pendidikan, jika belum baik atau belum memuaskan maka akan segera diperbaiki.
d. Peningkatan

Peningkatan disini supervisor meningkatkan segala sesuatu yang telah baik


dan mengembangkan agar lebih maju lagi.

Jadi fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan
kualitas pengajaran. Briggs mengungkapkan bahwa fungsi utama supervisi bukan perbaikan
pembelajaran saja, tetapi untuk mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong ke arah
pertumbuhan profesi guru. Berikut ini adalah fungsi-fungsi supervisi pendidikan berdasakan
bidangnya:

9
1. Dalam bidang kepemimpinan
a. Menyusun rencana dan policy bersama.
b. Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan
memacahkan persoalan- persoalan.
c. Membangkitkan dan memupuk semangat kelompok, atau memupuk moral yang
tinggi kepada anggota kelompok.
d. Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
2. Dalam hubungan kemanusiaan
a. Memanfaatkan kekeliruan ataupun kesalahan-kesalahan yang ada untuk dijadikan
pelajaran demi perbaikan selanjutnya, bagi diri sendiri maupun bagi anggota
kelompoknya.
b. Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota
kelompok, seperti dalam hal kemalasan, merasa rendah diri, acuh tak
acuh, pesimistis.
c. Menghilangkan rasa saling mencurigai antara anggota kelompok.
3. Dalam pembinaan proses kelompok
a. Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun
kemampun masing-masing.
b. Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota.
4. Dalam bidang administrasi personel
a. Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan
untuk suatu pekerjan.
b. Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan
kemampuan masing-masing.

Adapun analisis yang lebih luas seperti yang dibahas oleh Swearingen, ia
mengemukakan delapan fungsi supervisi. Delapan fungsi tersebut adalah :

1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah


Perubahan dalam dunia pendidikan terjadi secara terus-menerus, maka
kegiatan sekolah juga semakin bertambah, usaha-usaha sekolah juga semakin
menyebar. Maka dari itu perlu adanya koordinasi yang baik terhadap semua usaha
sekolah.
2. Memperlengkap kepemimpinan sekolah
Dalam masyarakat demokratis kepemimpinan yang demokratis perlu
dikembangkan. Kepemimpinan merupakan suatu yang harus dipelajari. Jadi dalam hal
ini fungsi supervisi adalah melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka
memiliki ketrampilan dan kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru-guru
Fungsi supervisi pendidikan adalah memberi pengalaman-pengalaman baru
kepada para guru, anggota-anggota staff sekolah, sehingga mereka semakin
bertambah pengalaman dalam hal mengajar maupun dalam administrasi sekolah.
4. Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif
Supervisi bertugas menciptakan suasana yang meyakinkan guru-guru dapat
berusaha meningkatkan potensi-potensi kreativitas dalam dirinya. Selain itu juga

10
kemampuan untuk menstimulir segala daya kreasi baik bagi anak-anak, orang yang
dipimpinnya dan bagi dirinya sendiri.
5. Memberikan fasilitas dan penilaian secara terus-menerus
Untuk meningkatkan kualitas diperlukan penilaian secara kontinu. Melalui
penelitian dapat diketahui kelemahan dan kelebihan dari hasil dan proses belajar
mengajar. Penilaian ini harus bersifat menyeluruh dan kontinu. Menyeluruh berarti
penilaian itu menyangkut semua aspek kegiatan sekolah, misalnya memiliki bahan-
bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar guru, dan
kemajuan murid-muridnya. kontinu dalam arti penilaian berlangsung setiap saat, yaitu
pada awal, pertengahan, dan pada akhir.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar.
Agar usaha memperbaiki situasi belajar dapat tercapai, maka perlu dianalisis
hasil dan proses pembelajaran. Dalam situasi belajar-mengajar peranan guru dan
peserta didik sangatlah penting. Memperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta
didik akan memberikan pengalaman dan umpan balik terhadap perbaikan
pembelajaran. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perbaikan pembelajaran.
Fungsi supervisi adalah menganalisis faktor-faktor tersebut. Penganalisisan memberi
pengalaman baru dalam menyusun strategi dan usaha ke arah perbaikan.
7. Memperlengkap setiap para guru dengan pengetahuan yang baru dan keterampilan-
keterampilan baru.
Setiap guru memiliki potensi dan dorongan untuk berkembang. Sebagian besar
potensi-potensi tersebut tidak berkembang, maka dari itu supervisi berfungsi sebagai
pemberi dorongan dan membantu guru agar mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan dalam hal mengajar.
8. Memadukan dan menyelaraskan tujuan-tujuan pendidikan dan membentuk
kemampuan-kemampuan
Untuk mencapai suatu tujuan yang lebih tinggi harus berdasarkan tujuan-
tujuan yang sebelumnya, ada hierarki kebutuhan yang harus selaras. Fungsi supervisi
di sini adalah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar akan nilai-nilai
yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri sendiri.

E. Peranan Supervisor
Eksekuter supervisi di lapangan adalah kepala sekolah, penilik dan pengawas.
Mereka adalah supervisor yang bertanggung jawab terhadap eksistensi dan dinamika sekolah
sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan mampu membangkitkan potensi bangsa di
masa depan.
Kepala sekolah sebagai supervisor berfungsi sebagai pengawas, pengendali, pembina,
pengarah dan pemberi contoh bagi guru dan karyawannya di sekolah. Tugas atau peran dari
kepala sekolah sebagai supervisor merencanakan program tahunan sekolah, merencanakan
program akademik, merencanakan program yang kaitannya dengan kesiswaan,
Merencanakan bidang kepegawaian, dan lain sebagainya.

11
Tugas penilik adalah mengarahkan pencapaian tujuan supervisi yang tidak hanya
memperbaiaki mutu mengajar guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru,
menunjang kelancaran proses belajar mengajar, peningkatan mutu penegtahuan dan
keterampilan guru, pemberian bimbingan dan pembinaan dalam hal implementasi kurikulum,
pemilihan dan penggunaan metode mengajar, dan sebagainya.
Tugas seorang pengawas juga untuk memberikan arahan, bimbingan dan dorongan
secara terus menerus kepada sekolah. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) bahwa tugas/peran
dari seorang pengawas adalah melaksanakan pembinaan serta penilaian teknik dan
administrative pendidikan terhadap sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Tugas yang
dilakukan pengawas ini dilakukan melalui pemantauan supervise, evaluasi pelaporan dan
tindak lanjut hasil.

F. Kelengkapan administrasi
Kementrian npendidikan nasional melalui direktorat jenderal peningkatan mutu
pendidikan dan tenaga kependidikan (dikjen PMPTK) sejak agustus 2009, telah menetapkan
kewajiban administrasi pengawasan sekolah. Ini berarti bahwa secara relative telah tersedia
kepastian kriteria pemenuhan standart operasional dan administrasi pelaksanaan tugas
pengawas. Dalam menjalankan tugas profesinya, pengawas sekolah memiliki beberapa
kewajiban memenuhi perangkat administrasi. Kewajiban administrasi itu merupakan tindak
lanjut keluarnya permendikan no. 12 tahun 2007, berikut inipoin-poin yang menjadi
kewajiban administrasi pengawas.
Kelengkapan administrasi pengawas disajikan table 10 berikut ini.

no Indikator operasional Kelengkapan administrasi

1 Melaksanakan pengawasan terhadap 10- 1. Surat tugas dari dinas pendidikan


15 sekolah dan dan membina 40 guru yang dilampir dengan data sekolah
hingga palng banyak 60 guru. dan jumlah guru.
2. Data pendididk dan tenaga
kependidikan sekolah binaan
2 Menyusun program pengawasan 3. Program tahunan pengawasan,
akademik dan managerial meliuti pengawasan akademik dan
anagerial, mencakup prioritas
pemantauan, pembinaan, dan
penilaian (disusun oleh kelompok
pengawas sejenis tingkat
kabupaten/kota)
4. Program semester pengawasan,
berupa tehnik operasional kegiatan
individu; meliputi pengawasan
akademik dan managerial yang
memuat masalah prioritas
pembinaan, pemamtauan, dan

12
penelitian.
3 Melaksanakan supervise akademik dalam 5. Dokumen hasil pemantauan kinerja
menerapkan standart isi, proses, penilaian sekolah dalam menerapkan standart
dan SK. isi, proses, penialaian, dan standart
kopetensi lulusan (SKL) yang
meliputi kegiatan prencanaan,
pelaksanaa, dan penelitian.
6. Format isian rekaman kegiatan
supervise akademi yang
keabsahannya ditandai dengan tanda
tangann pendidik yang disupervisi
dan dikuatkan tanda tangan kepala
sekolah atau ketua penyelenggara
kegiatan.
7. Bukti fisik pengolahan data dan
laporan pemantauan, pembinaan,
dan penilaian kinerja dalam
penerapan standart isi, proses,
penilaian, dan SKL meliputi
perencanaan, pelaksanaan, dan
output.
8. Lembar hasil refleksi dan
rekomendasi tindak lanjut perbaikan
mutu berkelanjutan.
4 Melaksanakan supervise managerial 9. Dokimen hasil pemantauan kinerja
dalam menerapkan standart pengelolaan, sekolah dalam nenerapkan standart
pendidik dan tenaga kependidikan, sarana pengelolaan, pendidik dan tenaga
dan pasaran serta pembiyayaan. kependidikan, sarana dan prasarana.
Serta pembiyayaan yang meliputi
kegiatan perencanaan, pelaksanaan
dan penelitian.
10. Format isian rekam kegiatan
supervise akademik yang
keabsahannya ditandai dengan tanda
tangan personal yang disupervisi
dan dibuatkan tanda tangan kepala
sekolah.
11. Bukti fisik pengelolahan data dan
laporan supervise dalam penerapan
standart pengelolahan, pendidik dan
tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana,serta pembiyayaan
meliputi kegiatan perencanaan,

13
pelaksanaan, dan output.
12. Lembar hasil refleksi dan
rekomendasi tindak lanjut perbaikan
mutu berkelanjutan.
5 Melaksanakan penilaian kinerja kepala 13. Format isihanbukti pelaksanaan
sekolah dalam melaksanakan tugas penilaian.
managerial dan akademik 14. Instrimen penilaian.
15. Data hasil penilaian.
16. Lembar analisis dan rekomendasi
tindak lanjut perbaikan mutu yang
berkelanjutan.
6 Melaksanakan pembibingan dan pelatihan 17. Dokumen jadwal, tangggal, jam,
dalam rangka meningkatkan mutu profesi tema, dan kopetensi yang
kepala sekolah, tenaga pendidik, dan dikembangkan dalam bentuk
tenaga kependidikan paling sedikit workshop, seminar, observasi dan
melaksanakan tiga kali dalam satu grup konfrens, bimbingan teknis,
semester. serta kunjungan sekolah melalui
supervise managerial.
7 Menyusun laporan pelaksanaan program 18. Laporan tahunan pengawasan
pengawasan persekolah yang meliputi seluruh
sekolah binaan yang ditekankan
pada pemetaan pencapaian tujuan
pengawasan.
19. Laporan semesteran pengawasan
persekolah yang meliputi seluruh
sekolaj binaan yang ditekankan
pada pemetaan pencapaian tujuan
pengawasan.
8 Menyusun karya tulis laporan hasil 20. Laporan penelitian tindakan kelas
penelitian atau perbaikan pelaksanaan (PTK ) atau laporan penelitian
tugas. tindakan sekolah (PTS).

G. Implementasi teknik supervisi


Observasi kelas

Observasi kelas merupakan salah satu cara paling baik memeberikan supervise
pembelajaan. Dengan observasi kelas supervisor pembelajaran dapat melihat langsung
kegiatan guru, murid dan masalah yang timbul. Untuk keperluan ini supervisor harus
menyusun perenanaan yang baik. Dia merencanakan dalam menyusun program dalam satu
semester atau tahunan. Program tidak terlalu kaku, tergantung dari jumlah guru yang perlu

14
diobservasi. Ada tiga macam observasi yaitu dengan pemberitahuan, tanpa pemberitahuan,
dan atas undangan.
Saling mengunjungi

Kegiatan ini sangat bermanfaat, meski tidak terlalu mudah, terutana pada sekolah-
sekolah yang gurunya berbeban mengajar penuh. Bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar
sudah ada wadah untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan
pembelajaran antara lain:

1. Untuk tingkat SMP dan SMA adalah munsyawarah guru mata pelajaran (MGMP)
2. Untuk tingkat sekolah dasar adalah kelompok kegiatan guru (KKG)
Demonstrasi mengajar

Demonstrasi mengajar harus dilakukan oleh supervisor yang benar-benr ahli di


bidangnya dan berkinerja baik. Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana
yang benar dalam praktik mengajar karena mengajar itu untuk sebagian bersifat seni. Karena
itu, demonstrasi megajar hanya untuk bahan bandingan, bukan mutlak harus seperti itu.
Kaji Tindak

Istilah kaji tindak ini makin popular dengan sebutan peneitian tindakan kelas
(PTK). Focus utama kajian tindak adalah guru untuk meneliti dan terlibat dalam praktik
penelitiannya sendiri selama proses pembelajaran. Hasil PTK dipakai sendiri oleh guru dan
orang lain yang membutuhkan. Menurut Kemmi, (1995), kaji tindak dirumuskan dalam 4
tahap, yaitu perencanaan, aksi atau pelaksanaan tindakan, pengamatan, evaluasi, dan revleksi
atau umpan balik.

15
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kebijakan pendidikan harus ditopang oleh pelaku pendidikan yang berada di front
terdepan yakni guru melalui interaksinya dalam pendidikan. Upaya meningkatkan mutu
pendidikan perlu dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada rencana strategis.
Keterlibatan seluruh komponen pendidikan (guru, Kepala Sekolah, masyarakat, Komite
Sekolah, Dewan Pendidikan, dan isntitusi) dalam perencanaan dan realisasi program
pendidikan yang diluncurkan sangat dibutuhkan dalam rangka mengefektifkan pencapaian
tujuan.

Salah satu upaya peningkatan profesional guru adalah melalui supervisi pengajaran.
Pelaksanaan supervisi pengajaran perlu dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah dan
pengawas sekolah bertujuan memberikan pembinaan kepada guru-guru agar dapat
melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien.

Implementasi kemampuan professional guru mensyaratkan guru agar mampu


meningkatkan peran yang dimiliki, baik sebagai informatory(pemberi informasi), organisator,
motivator, director, inisiator (pemrakarsa inisiatif), transmitter (penerus), fasilitator, mediator,
dan evaluator sehingga diharapkan mampu mengembangkan kompetensinya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan & Khairil.2011.Profesi Kependidikan.Bandung: ALFABETA, cv.

M. Echols, John & Hassan Shadily.2005.Kamus Inggris-Indonesia.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.tt.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.
Usman, Uzer.2011.Menjadi Guru Profesional.Bandung: Rosdakarya.

17