Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

“DEFISIT PERAWATAN DIRI”

Dosen Pembimbing :, S.Kep. Ns. M. Kep

Disusun oleh : Kelompok 3

1. Rakhel Maharani PYB (170103071)

UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA


PURWOKERTO

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga

makalah “DEFISIT PERAWATAN DIRI” ini dapat tersusun hingga selesai. Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah yang kami tulis ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi
teman-teman mahasiswa keperawatan dan semoga bisa menjadi bahan referensi untuk
pembelajaran kita bersama.

Purwokerto, Juni 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. ................... 2


Daftar Isi .......................................................................................................... ................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... ................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................ ................... 4
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi defisit perawatan diri.................................................................................. 5


B. Penyebab defisit perawatan diri. ............................................................................. 5
C. Tanda dan gejala defisit perawatan diri. ................................................................. 7
D. Masalah Keperawatan Dan Data Yang Perlu Di Kaji ............................................. 8
E. Diagnosa Keperawatan ............................................................................................ 9
F. Rencana Keperawatan ............................................................................................. 9
G. Strategi Penatalaksanaan Tindakan Keperawatan .................................................. 13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .......................................................................................... .................. 15

B. Saran ..................................................................................................... .................. 15

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu,
keamanan, dan kesehatan. Seperti pada orang sehat dapat memenuhi kebutuhan personal
hygienenya sendiri. Cara perawatan diri menjadi rumit dikarenakan kondisi fisik atau
keadaan emosional klien. Selain itu,beragam faktor pribadi dan sosial budaya
mempengaruhi praktik hygiene klien.
Karena perawatan hygiene seringkali memerlukan kontak yang dekat dengan klien
maka perawat menggunakan ketrampilan komunikasi untuk meningkatkan hubungan
terapeutik dan belajar tentang kebutuhan emosional klien.
Oleh karena itu penulis membahas makalah ini untuk mempelajari tentang defisit
perawatan diri dan mengkaji pasien dengan gangguan perawatan diri.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu defisit perawatan diri?
2. Apa saja etiologi dari defisit perawatan diri?
3. Apa manifestasi klinis dari defisit perawatan diri?
4. Bagaimana mekanisme koping defisit perawatan diri?
5. Bagaimana intervensi dari defisit perawatan diri dan implementasinya?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Setelah membuat dan mempresentasikan makalah ini diharapkan mahasiswa mengerti
dan mengetahui tentang gangguan defisit perawatan diri
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui dan memahami defisit perawatan diri.
b. Mahasiswa mengetahui dan memahami etiologi defisit perawatan diri.
c. Mahasiswa mengetahui manifestasi klinis defisit perawatan diri.
d. Mahasiswa mengetahui mekanisme koping defisit perawatan diri.
e. Mahasiswa mengetahui dan memahami intervensi dari defisit perawatan diri dan
dapat mengimplementasikannya.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya
jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri
adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi,
berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis,
kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan
perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).

Jenis–Jenis Perawatan Diri


1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk
menunjukkan aktivitas makan.
4. Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004,
79 ).
B. PENYEBAB DEFISIT PERAWATAN DIRI
Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah
sebagai berikut :
1. Kelelahan fisik
2. Penurunan kesadaran

5
Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah :
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah
yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene
adalah:
1. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
dengan kebersihan dirinya.
2. Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
3. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat
gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.

6
4. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri
seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
7. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
perlu bantuan untuk melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.


1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya
kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah :
Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan
telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

C. TANDA DAN GEJALA DEFISIT PERAWATAN DIRI


Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah:
1. Fisik
a. Badan bau, pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor
d. Gigi kotor disertai mulut bau
e. Penampilan tidak rapi

7
2. Psikologis
a. Malas, tidak ada inisiatif.
b. Menarik diri, isolasi diri.
c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Sosial
a. Interaksi kurang.
b. Kegiatan kurang .
c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan
mandi tidak mampu mandiri.

Data yang biasa ditemukan dalam defisit perawatan diri adalah :


1. Data subyektif
a. Pasien merasa lemah
b. Malas untuk beraktivitas
c. Merasa tidak berdaya.
2. Data obyektif
a. Rambut kotor, acak – acakan
b. Badan dan pakaian kotor dan bau
c. Mulut dan gigi bau.
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku panjang dan tidak terawat

D. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DI KAJI


a. Masalah Keperawatan :
1) Perawatan diri kurang
2) Menurunnya motivasi diri
b. Data Yang Perlu Dikaji :
1) Perawatan diri kurang
Data Subjektif
a. Pasien merasa lemah
b. Malas untuk beraktivitas
c. Merasa tidak berdaya
Data Objektif

8
a. Rambut kotor, acak – acakan
b. Badan dan pakaian kotor dan bau
c. Mulut dan gigi bau.
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku panjang dan tidak terawat
2) Menurunnya motivasi diri
Data Subjektif
Mengatakan malas mandi, tak mau menyisir rambut, tak mau menggosok
gigi, tak mau memotong kuku, tak mau berhias, tak bisa menggunakan
alat mandi / kebersihan diri.
Data Objektif
Badan bau, pakaian kotor, rambut dan kulit kotor, kuku panjang dan kotor,
gigi kotor, mulut bau, penampilan tidak rapih, tak bisa menggunakan alat
mandi.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit
perawatan diri yaitu:
1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2. Defisit perawatan diri.
3. Isolasi Sosial.

F. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa 1 :
Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
TUM : Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk
memperhatikan kebersihan diri.
TUK :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Tindakan
a) Berikan salam setiap berinteraksi.
b) Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat
berkenalan.
c) Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.

9
d) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.
e) Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.
f) Buat kontrak interaksi yang jelas.
g) Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.
h) Penuhi kebutuhan dasar klien.
2. Klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.
Tindakan :
a) Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara
menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.
b) Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.
c) Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien
terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.
d) Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara
kebersihan diri.
e) Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti
kebersihan diri.
f) Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi
dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum
tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.
3. Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.
Tindakan
a) Motivasi klien untuk mandi.
b) Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan klien untuk
mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.
c) Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.
d) Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.
e) Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan
kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.
f) Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri
seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.
4. Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.
Tindakan :
a) Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan
untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.

10
5. Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.
Tindakan
a) Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.
6. Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.
Tindakan :
a) Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga
kebersihan diri.
b) Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien
selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami
di RS.
c) Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap
kemajuan yang telah dialami di RS.
d) Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam
menjaga kebersihan diri klien.
e) Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan
diri.
f) Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga
kebersihan diri.
g) Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya:
mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-
lain.

Diagnosa 2 :
Defisit perawatan diri.
TUM : klien mampu melakukan perawatan diri: higiene.
TUK :

1. Klien dapat menyebutkan pengertian dan tanda-tanda kebersihan diri


Tindakan :
1.1. Diskusikan bersama klien tentang pengertian bersih dan tanda-tanda bersih
1.2. Beri reinforcement positif bila klien mampu melakukan hal yang positif.

2. Klien dapat menyebutkan penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri


Tindakan :

11
2.1. Bicarakan dengan klien penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
2.2. Diskusikan akibat dari tidak mau menjaga kebersihan diri

3. Klien dapat menyebut higiene


Tindakan:
3.1. Diskusikan bersama klien tentang manfaat higiene
3.2. Bantu klien mengidentifikasikan kemampuan untuk menjaga kebersihan diri

4. Klien dapat menyebutkan cara menjaga kebersihan diri


Tindakan:
4.1. Diskusikan dengan klien cara menjaga kebersihan diri: andi 2x sehari (pagi
dan sore) dengan memakai sabun mandi, gosok gigi minimal 2x sehari
dengan pasta gigi, mencuci rambut minimal 2x seminggu dengan sampo,
memotong kuku minimal 1x seminggu, memotong rambut minimal 1 x
sebulan.
4.2. Beri reinforcement positif bila klien berhasil

5. Klien dapat melaksanakan perawatan diri higiene dengan bantuan minimal


Tindakan:
5.1. Bimbing klien melakukan demonstrasi tentang cara menjaga kebersihan diri
5.2. Dorong klien untuk melakukan kebersihan diri dengan bantuan minimal

6. Klien dapat melakukan perawatan diri higiene secara mandiri


Tindakan:
6.1. Beri kesempatan klien untuk membersihkan diri secara bertahap
6.2. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah membersihkan diri
6.3 Bersama klien membuat jadwal menjaga kebersihan diri
6.4. Bimbing klien untuk melakukan aktivitas higiene secara teratur

7. Klien mendapat dukungan keluarga


Tindakan:
7.1. Beri pendidikan kesehatan tentang merawat klien untuk kebersihan diri
melalui pertemuan keluarga
7.2. Beri reinforcement positif atas partisipasi aktif keluarga

12
G. STRATEGI PENATALAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
Strategi Pelaksanaan
Diagnosa
Pasien Keluarga
Defisit perawatan SP I p SP1k
diri 1. Menjelaskan pentingnya 1. Mendiskusikan masalah yang
kebersihan diri dirasakan keluarga dalam
2. Menjelaskan cara merawat pasien
menjaga kebersihan diri 2. Menjelaskan pengertian, tanda
3. Melatih pasien cara dan gejala defisit perawatan
menjaga kebersihan diri diri, dan jenis defisit
4. Membimbing pasien perawatan diri yang dialami
memasukkan dalam pasien beserta proses
jadwal kegiatan harian. terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara
merawat pasien defisit
perawatan diri
SP 2p SP 2 k
1. Memvalidasi masalah dan 1. Melatih keluarga
latihan sebelumnya. mempraktekkan cara merawat
2. Menjelaskan cara makan pasien dengan defisit
yang baik perawatan diri
3. Melatih pasien cara 2. Melatih keluarga melakukan
makan yang baik cara merawat langsung kepada
4. Membimbing pasien pasien defisit perawatan diri
memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.
SP 3p SP 3 k
1. Memvalidasi masalah dan 1. Membantu keluarga membuat
latihan sebelumnya. jadual aktivitas di rumah
2. Menjelaskan cara termasuk minum obat
eliminasi yang baik (discharge planning)
3. Melatih cara eliminasi 2. Menjelaskan follow up pasien
yang baik. setelah pulang

13
4. Membimbing pasien
memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.
SP 4p
1. Memvalidasi masalah dan
latihan sebelumnya.
2. Menjelaskan cara
berdandan
3. Melatih pasien cara
berdandan
4. Membimbing pasien
memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.

14
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai
dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak
dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan
kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting)
(Nurjannah, 2004).

Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis,
kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan
perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).

Jenis–Jenis Perawatan Diri

1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan


2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
3. Kurang perawatan diri : Makan
4. Kurang perawatan diri : Toileting

B. SARAN
Penulis membuat makalah ini, agar pembaca dapat mengetahui tentang
Laporan Pendahuluan dan Strategi Penatalaksanaan pada pasien dengan gangguan
jiwa defisit perawatan diri. Penulis masih menyadari kekurangan dari makalah ini.
Kritik dan saran sangat membangun bagi penulis.

15
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.

Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta :
Momedia

Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah
Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto

Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 – 2006. Jakarta : Prima
Medika.

Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.

16