Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sistem informasi kesehatan merupakan salah satu bagian penting yang


tidak dapat dipisahkan dari sitem kesehatan di suatu negara. Kemajuan atau
kemunduran sistem informasi kesehatan selalu berkolerasi dan mengikuti
perkembangan sistem kesehatan, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi
(TIK). Sistem informasi kesehatan ini, masayarakat juga tenaga kesehatan akan
mendapatkan informasi yang akurat dan tepat dan dapat dipertanggungjawabkan
sehingga bisa dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.
WHO mengklasifikasikan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) sebagai salah
satu dari 6 “building blocks” Sistem Kesehatan. Hal ini menunjukkan betapa
pentingnya peran SIK di dalam suatu sistem kesehatan. Namun untuk SIK di
Indonesia, sering terdengar masih belum memadai sehingga tidak bisa
memberikan data yang akurat. Akibatnya adalah pemangku kepentingan dan
pembuat kebijakan – para kepala Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan
petugas di Kementerian Kesehatan, menjadi sulit untuk mendapatkan data yang
akurat dalam waktu yang tepat untuk membantu dalam melakukan tugas harian.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana hambatan, tantangan, dan kondisi positif SIK?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hambatan, tantangan, dan kondisi positif SIK
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui apa hambatan Sitem Informasi Kesehatan (SIK)
2. Mengetahui apa tantangan Sitem Informasi Kesehatan (SIK)
3. Mengetahui apa kondisi positif Sitem Informasi Kesehatan (SIK)

BAB 2
PEMBAHASAN

1
2.1 Kelemahan Sistem Informasi kesehatan
Sistem Informasi istem informasi terdiri dari dua kata,
yaitu System dan Information. Sistem adalah kumpulan elemen yang berintegrasi
untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan informasi adalah data yang telah
diolah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam
mengambil keputusan saat ini atau mendatang.
Pengertian Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah gabungan perangkat
dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari
pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung
pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan
kinerja sistem kesehatan. (Hidayat wordpress, 2016)
Analisis situasi yang dilakukan salah satunya dapat menggunakan analisis
SWOT. Analisis SWOT yaitu analisis antarkomponen dengan memanfaatkan
deskripsi SWOT setiap komponen untuk merumuskan strategi pemecahan
masalah, serta pengembangan dan atau perbaikan mutu sistem informasi
kesehatan secara berkelanjutan. SWOT merupakan akronim dari
Strength (kekuatan/kondisi positif), Weakness (kelemahan internal
sistem), Opportunity (kesempatan/ peluang sistem), dan Threats (ancaman/
rintangan/ tantangan dari lingkungan eksternal sistem). (Bidanahwani wordpress,
2017)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber daya,
keterampilan dan kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan
kerja sistem informasi kesehatan.
Sistem informasi kesehatan memiliki banyak manfaat tapi juga punya
kelemahan. Beberapa kelemahan SIK

1. Bergantung pada sumber listrik. Karena menggunakan komputer, semua


hal yang berhubungan dengan teknologi informasi untuk kesehatan
bergantung pada sumber listrik. Apabila listrik padam, maka segala
pekerjaan yang berkaitan dengan penyimpanan dan pengolahan data akan
sulit untuk dilakukan menggunakan komputer. Hal ini tentu akan

2
mengganggu pelayanan yang akan diberikan kepada para pasien di rumah
sakit.
2. Bergantung pada aplikasi. Selain bergantung pada sumber listrik,
penggunaan teknologi informasi untuk kesehatan juga bergantung pada
aplikasi yang digunakan. Jika aplikasi yang digunakan sering bermasalah,
maka pelayanan kepada pasien juga akan buruk. Untuk itu, gunakan
aplikasi yang tepat agar pelayanan kepada pasien dapat dilakukan secara
maksimal.
3. Perlu pelatihan khusus. Tidak semua orang dapat bekerja dengan komputer
secara akrab, hal ini memberikan kesulitan tersendiri. Untuk dapat
menggunakan sistem komputerisasi tersebut maka petugas rumah sakit
harus melakukan pelatihan khusus. Terutama untuk menyesuaikan diri
dalam menggunakan aplikasi yang akan digunakan dalam pengolahan data
pasien tersebut.
4. Sumber daya manusia yang masih belum memadai, belum meratanya
SDM ke berbagai daerah terpencil, keterbatasan jumlah dan tingkat
kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
5. Modal awal yang cukup mahal.
6. Pemerintah/Governance; sejak desentralisasi tahun 2000, peran
Kementerian Kesehatan dalam mengelola SIK semakin penting. Tanpa
pengelolaan dan kebijakan yang kuat, setiap pemerintah daerah akan
mengadopsi sistem masing-masing yang berbeda dan tidak “interoperable”
yakni, tidak bisa saling komunikasi antara satu sistem dengan yang lain.
7. Fragmentasi & sistem paralel terlalu membebankan serta pengembangan
sistem informasi membutuhkan waktu yag lama; yang paling fundamental
adalah permasalahan fragmentasi. Hal ini disebabkan SIK Indonesia
mempunyai banyak “sub-sistem” yang berjalan secara paralel sesuai
kebutuhan pemangku kepentingan yang berbeda, yang akhirnya membuat
petugas di lapangan kewalahan dalam mengkompilasi dan melaporkan
data yang diperlukan. Dengan beban laporan yang begitu berat dalam
pelayanan kesehatan, menimbulkan resiko petugas fasilitas kesehatan

3
untuk membuat kesalahan dalam pencatatan/rekapitulasi menjadi sangat
tinggi dan juga laporan menjadi sering terlambat dikirim. Yang paling
buruk adalah data yang berbeda dilaporkan untuk variabel yang sama
dalam fasilitas yang sama.
8. Pemanfaatan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) masih kurang dan
keterbatasan jaringan informasi di daerah-daerah terpencil; dalam
laporan Health Systems Financing: The path to universal coverage(WHO,
2010), Dr. Margaret Chan, Director-General WHO menyatakan bahwa
hampir 20-40% dana Kesehatan menjadi sia-sia atau tidak terserap dengan
baik. Hal ini dikarenakan sistem tidak efisien. Antara lain diakibatkan
sistem manual yang masih terlalu lambat dan memerlukan banyak sumber
dan tidak adanya Informasi tepat.
9. Sistem Kesehatan Indonesia masih belum memanfaatkan TIK secara
menyeluruh dan jauh ketinggalan dengan sektor lainnya contohnya sektor
Bank yang telah memanfaatkan TIK secara maksimal.
10. Dapat memberikan dampak bagi lingkungan sosial seperti pengurangan
tenaga kerja. (Bidanahwani wordpress, 2017)

2.2 Tantangan Sistem Informasi


Dalam penerapan sistem informasi kesehatan di Indonesia tentu tidak
mudah. Ada beberapa tantangan dalam implementasinya sehingga memerlukan
kebijakan dan kerjasama yang terintegrasi di dalamnya. Diantaranya tantangan
yang ada yaitu;
Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia sudah menujukan
banyak sekali kemajuan, hal ini bisa dibuktikan dengan telah dilaksanakannya
Pengembangan jaringan komputer Sistem Informasi Kesehatan Nasional
(SIKNAS) online yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan
(KEPMENKES) No. 837 Tahun 2007. yang mana semua Provinsi, Kabupaten dan
Kota di Indonesia telah mendapat fasilitas tersebut. Selain itu pelatihan bagi
tenaga operator (user) juga telah dilaksanakan. Hal ini bertujuan untuk pencapaian
sasaran ke-14, dari 17 sasaran Departemen Kesehatan yang berbunyi

4
“Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan yang Evidence Based di Seluruh
Indonesia”. (Wordpress, 2017)
Akan tetapi pada penerapannya Sistem Informasi Kesehatan di Indoensia
tentunya tidak mudah. Beberapa tantangan dalam implementasinya masih
banyak ditemui sehingga memerlukan kebijakan dan kerjasama yang terintegrasi
didalamnya. (Wordpress, 2017)
Faktor ancaman merupakan faktor eksternal atau lingkungan dari sistem
informasi kesehatan nasional. Faktor ini akan menghambat implementasi sistem
jika tidak disikapi dengan baik. Dengan perspektif lain sebuah ancaman dapat
juga dipandang sebagai sebuah tantangan di masa depan yang harus bisa dihadapi.
Beberapa faktor eksternal yang menjadi ancaman atau tantangan yang mungkin
muncul dalam pengembangan sistem informasi kesehatan antara lain:
1. Tantangan Otonomi Daerah (OTODA). Otonomi daerah saat ini
menyebabkan masing-masing daerah sibuk mengerjakan urusannya
sendiri, termasuk dalam menyusun prioritas untuk pengembangan dan
pengelolaan sistem informasi kesehatannya. Hal ini tentu saja akan
berdampak pada kelancaran integrasi sistem informasi kesehatan yang
diharapkan salah satunya dibangun dengan penguatan SIKDA. Kondisi
tersebut akan menyulitkan Pemerintah (dhi. Kementerian Kesehatan)
dalam memfasilitasi pengembangan sistem informasi kesehatan di daerah,
implementasi standarisasi dan pembenahan tata kelola. Pembandingan
dengan daerah lain (benchmarking) pun akan mengalami kesulitan karena
tidak adanya standar.

2. Tantangan Globalisasi. Era globalisasi menyebabkan bebasnya pertukaran


berbagai hal antar negara seperti sumber daya manusia, IPTEK, dan lain-
lain. Di bidang kesehatan, hal ini akan dapat menimbulkan dampak negatif
apabila tidak dikelola dengan baik. Beberapa dampak negatif tersebut
antara lain
a. adanya penyakit-penyakit serta gangguan kesehatan baru, masuknya
investasi dan teknologi kesehatan yang dapat meningkatkan tingginya

5
biaya kesehatan, serta masuknya tenaga-tenaga kesehatan asing yang
menjadi kompetitor tenaga kesehatan dalam negeri. Untuk menghadapi
kemungkinan dampak negatif yang terjadi seiring era globalisasi maka
dukungan sistem informasi sangatlah diperlukan. Sistem kewaspadaan
dini untuk mengintervensi permasalahan kesehatan sangatlah
bergantung pada pasokan data dan informasi yang akurat, cepat, dan
tepat. Apabila era globalisasi datang pada saat sistem informasi
kesehatan nasional kita belum kuat, maka dikhawatirkan akan
membawa dampak-dampak negatif yang merugikan.
b. Banyak ragam perangkat lunak SIK sehingga membingunkan unit
operasional dalam menginputnya. Juga membingunkan pihak
pengambil kebijakan dalam menentukan model sistem yang nantinya
akan digunakan guna menghasilkan input, proses dan output yang
maksimal sesuai dengan kebutuhan yang ada.
c. Tantangan ekonomi global dan kemampuan keuangan pemerintah. Ini
berkaitan dengan ketersediaan kemampuan keuangan pemerintah
dalam menyediakan budgeting guna operasional dan penyiapan
perangkat lunak dan perangkat keras dalam implementasi Sistem
Informasi Kesehatan.
d. Ancaman keamanan informasi. Ancaman ini tentunya tidak dapat di
pandang sebelah mata karena faktor keamanan informasi menjadi
penting terkait dengan jenis data dan informasi yang menjadi input dan
output yang nanti dihasilkan. (Wordpress, 2017)

2.3 Kondisi Positif Sistem Informasi Kesehatan


Sistem Informasi merupakan – jiwa dari suatu institusi, demikian pula
Sistem Informasi Kesehatan merupakan – jiwa dari institusi kesehatan. Kondisi
Sistem Informasi Kesehatan yang kuat akan mampu mendukung upaya-upaya dari
Institusi Kesehatan. Penguatan Sistem Informasi Kesehatan secara tidak langsung
akan turut pula memperkuat Sistem Kesehatan Nasional. Agar Visi dan Misi
Sistem Informasi Kesehatan tercapai maka upaya penguatan harus terarah, saling
terkait dan dengan langkah-langkah dan strategi yang jelas dan komprehensif oleh

6
karena itu perlu disusun suatu Roadmap Rencana Aksi Penguatan Sistem
Informasi Kesehatan.
Dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 192/Menkes/Sk/VI/2012 tentang Roadmap Rencana Aksi Penguatan
Sistem Informasi Kesehatan Indonesia maka strategi pengembangan SIKNAS
mengacu pada Keputusan tersebut dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
511/Menkes/SK/ V/2002 tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem
Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Untuk itu Visi yang ditetapkan untuk pengembangan SIKNAS mengacu
pada Kepmenkes Nomor 192 Tahun 2012 dan mendukung visi Kementerian
Kesehatan yaitu: Terwujudnya Sistem Informasi Kesehatan terintegrasi pada
tahun 2014 yang mampu mendukung proses pembangunan kesehatan dalam
menuju masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan. (wordpress,2017)
Untuk dapat mencapai hal tersebut, maka diperlukan suatu analisis dari
sistem informasi kesehatan yang tepat guna, agar sistem informasi kesehatan yang
dikembangkan benar-benar dapat mendukung terwujudnya visi “Masyarakat Sehat
yang Mandiri dan Berkeadilan”. Analisis situasi yang dilakukan salah satunya
dapat menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT yaitu analisis antarkomponen
dengan memanfaatkan deskripsi SWOT setiap komponen untuk merumuskan
strategi pemecahan masalah, serta pengembangan dan atau perbaikan mutu sistem
informasi kesehatan secara berkelanjutan.
Analisis SWOT dapat merupakan alat yang ampuh dalam melakukan
analisis strategis. Keampuhan tersebut terletak pada kemampuan untuk
memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan memanfaatkan peluang serta
berperan untuk meminimalisasi kelemahan sistem dan menekan dampak ancaman
yang timbul dan harus dihadapi. Analisis SWOT dapat diterapkan dalam tiga
bentuk untuk membuat keputusan strategis, yaitu:
1. Analisis SWOT memungkinkan penggunaan kerangka berfikir yang logis
dan holistik yang menyangkut situasi dimana organisasi berada,
identifikasi dan analisis berbagi alternatif yang layak untuk

7
dipertimbangkan dan menentukan pilihan alternatif yang diperkirakan
paling ampuh.
2. Pembandingan secara sistematis antara peluang dan ancaman eksternal di
satu pihak, serta kekuatan dan kelemahan internal di pihak lain.
3. Analisis SWOT tidak hanya terletak pada penempatan organisasi pada
kuadran tertentu akan tetapi memungkinkan para penentu strategi
organisasi untuk melihat posisi organisasi yang sedang dianalisis tersebut
secara menyeluruh dari aspek produk/ jasa/ informasi yang dihasilkan dan
pasar yang dilayani. (wordpress,2017)

Strategi SO (Strength-Opportunity), yaitu strategi kekuatan-peluang,


menggunakan kekuatan internal sistem untuk memanfaatkan peluang eksternal
sistem.
Faktor kekuatan merupakan faktor internal sistem informasi kesehatan
nasional. Faktor ini diharapkan mampu mengambil keuntungan dari peluang yang
ada dalam pengembangan dan penguatan sistem informasi kesehatan nasional.
Sehingga faktor ini harus terus digali dan dikembangkan. Pemetaan faktor
kekuatan sistem informasi kesehatan nasional dalam perspektif pendanaan,
pengguna, proses bisnis, dan pembelajaran antara lain sebagai berikut:
1. Pendanaan untuk sistem informasi kesehatan nasional. Dalam rangka
penguatan sistem informasi kesehatan nasional setiap tahun telah
dialokasikan anggaran pengembangan sistem informasi kesehatan
nasional. Alokasi APBN untuk sistem informasi kesehatan dari tahun ke
tahun cenderung meningkat searah naiknya anggaran kesehatan secara ke
seluruhan. Alokasi anggaran tersebut untuk peningkatan dan perluasan
infrastruktur seperti untuk jaringan SIKNAS, data center, disaster recovery
center. Alokasi anggaran juga ditujukan untuk penguatan kebijakan dan
regulasi, penguatan tata kelola dan kepemimpinan, penataan standarisasi
dan interoperablitas, pengembangan aplikasi-aplikasi sistem informasi
baik untuk transaksi layanan maupun pelaporan, pengelolaan data dan
informasi serta diseminasi informasi dalam berbagai media, dan

8
peningkatan kemampuan pengelolaan data kesehatan bagi SDM. Alokasi
anggaran telah mencakup seluruh aspek penyelenggaraan sistem informasi
kesehatan nasional. Itu semua menjadi kekuatan dalam pengembangan
sistem informasi kesehatan nasional.
2. Advokasi dan pembinaan. Sebagaimana diketahui bahwa data dan
informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi suatu organisasi,
begitupun bagi sektor kesehatan. Saat ini, para pimpinan di jajaran
kesehatan baik di pusat maupun di daerah semakin memahami pentingnya
data dan informasi untuk manajemen kesehatan. Dalam konteks ini,
bagaimana meningkatkan kualitas dan ketersediaan di sisi produksi serta
mendorong pemanfaatan data dan informasi di sisi pengguna. Oleh karena
itu, peran advokasi dan pembinaan menjadi hal yang sangat penting.
Advokasi kepada para pimpinan kesehatan baik di pusat maupun di daerah
terutama untuk penguatan kepemimpinan dan tata kelola. Advokasi juga
dapat diarahkan untuk mendorong pemanfaatan data dan informasi
kesehatan secara luas untuk manajemen kesehatan dan untuk masyarakat.
Pembinaan kepada produsen data terutama di fasilitas pelayanan kesehatan
dan Dinas Kesehatan. Pembinaan antara lain terkait pengembangan dan
pengelolaan jaringan, manajemen data, dan penguatan SDM di daerah.
Oleh karena itu, advokasi dan pembinaan merupakan kekuatan dalam
pengembangan sistem informasi kesehatan nasional.
3. Besarnya infrastruktur kesehatan. Sesungguhnya, kesehatan memiliki
ekosistem yang kompleks dengan entitas yang besar. Besarnya
infrastruktur kesehatan dapat dilihat dari jumlah fasilitas dan tenaga
kesehatan. Saat ini terdapat lebih dari 2.400 rumah sakit dan 9.700
Puskesmas. Hampir seluruh kabupaten/kota terdapat rumah sakit dan
hampir seluruh kecamatan telah dibangun Puskesmas. Demikian pula
dengan fasilitas kesehatan lainnya yang jumlah tidak sedikit. Tenaga
kesehatan pun terutama bidan sudah sampai ke kecamatan bahkan di desa.
Dengan segala kompleksitasnya, mereka bersinergi menyelenggarakan
pembangunan kesehatan sesuai peran masing-masing yang tertata dengan

9
baik dalam sistem kesehatan. Ini semua merupakan potensi dan kekuatan
dalam pengembangan sistem informasi kesehatan nasional yang
memungkinkan koordinasi pengembangan sistem informasi kesehatan
nasional dapat dilakukan secara baik dan terstruktur.
4. Inisiatif penerapan sistem elektronik dalam penyelenggaraan transaksi
layanan kesehatan. Munculnya inisiatif penerapan sistem elektronik pada
penyelenggaraan sistem informasi kesehatan oleh beberapa pihak terutama
di fasilitas pelayanan kesehatan memberikan kekuatan bagi pengembangan
sistem informasi kesehatan nasional. Sejumlah rumah sakit berinisiatif
menerapkan sistem elektronik dalam menyelenggarakan SIMRSnya
terutama untuk administrasi keuangan dan penagihan pasien serta
pengolahan data rekam medis. Beberapa rumah sakit bahkan telah
membangun jejaring rumah sakit dalam satu grup kepemilikan, dengan
rumah sakit lain, laboratorium kesehatan, asuransi, perbankan, dan lain-
lain. Demikian pula dengan Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, dan Puskesmas berinisiatif menerapkan sistem elektronik
untuk menyelenggarakan sistem informasi Puskesmas.
5. Inisiatif penerapan sistem elektronik dalam penyelenggaraan sistem
pelaporan. Saat ini, orang semakin sadar bahwa pengelolaan organisasi
yang efisien tidak dapat terlepas dari peran teknologi informasi dan
komunikasi. Demikian pun dalam pengelolaan pembangunan kesehatan,
inisiatif penerapan sistem elektronik dalam pengelolaan program
kesehatan telah bermunculan. Berbagai sistem informasi kesehatan di
unit/program kesehatan telah dikembangkan untuk mendukung
pengelolaan program kesehatan terutama sistem monitoring dan evaluasi
program seperti sistem-sistem pelaporan program, sistem-sistem
surveilans penyakit dan masalah kesehatan, dan lain-lain. Hal ini tentunya
merupakan kekuatan bagi pengembangan sistem informasi kesehatan
nasional.

Deskripsi Strength (Kekuatan/Kondisi Positif)

10
1. Indonesia telah memiliki beberapa legislasi terkait SIK (UU Kesehatan,
SKN, Kebijakan dan strategi pengembangan SIKNAS dan SIKDA).
2. Tenaga pengelola SIK sudah mulai tersedia pada tingkat Pusat, Provinsi
dan Kabupaten/Kota.
3. Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi tersedia di semua
Provinsi dan hampir seluruh Kabupaten/kota
4. Indikator kesehatan telah tersedia.
5. Telah ada sistem penggumpulan data secara rutin yang bersumber dari
fasilitas kesehatan pemerintah dan masyarakat.
6. Telah ada inisiatif pengembangan SIK oleh beberapa fasilitas kesehatan
seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan Dinas Kesehatan, untuk memenuhi
kebutuhan mereka sendiri.
7. Diseminasi data dan informasi telah dilakukan, contohnya hampir semua
Provinsi dan Kabupaten/kota dan Pusat menerbitkan profil kesehatan.
(wordpress, 2017)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

11
Pengertian Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah gabungan perangkat
dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari
pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung
pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan
kinerja sistem kesehatan. (Hidayat wordpress, 2016).
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber daya,
keterampilan dan kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan
kerja sistem informasi kesehatan.
Tantangan dalam implementasinya masih banyak ditemui sehingga
memerlukan kebijakan dan kerjasama yang terintegrasi didalamnya. Tantangan
ISK terdiri dari tantangan Otonomi Daerah (OTODA), tantangan Globalisasi.
(Wordpress, 2017)
Strategi SO (Strength-Opportunity), yaitu strategi kekuatan-peluang,
menggunakan kekuatan internal sistem untuk memanfaatkan peluang eksternal
sistem. (Wordpress, 2017)
.
3.2 Saran
Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi
pembaca. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Untuk penyempurnaan kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Bidanahwani,2017.https://sisteminformasikesehatan15.wordpress.com.Kelemaha
n Sistem Informasi Kesehatan. Di unduh tanggal 11 januari 2020

12
Bidanahwani,2017.https://sisteminformasikesehatan15.wordpress.com.Kondisi
Positif Sistem Informasi Kesehatan. Di unduh tanggal 11 januari 2020

Hidayat,2016.https://sisteminformasikesehatan15.wordpress.com.Tantangan
Sistem Informasi Kesehatan. Di unduh tanggal 11 januari 2020

13