Anda di halaman 1dari 27

Makalah Medikal Bedah II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ILEUS

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 2 (KELAS C)

1. Mohamaad Yahya Ibrahim (841418076)


2. Rindi Harmain (841418052)
3. Zuriyati Nusi (841418091)
4. Siti Nurkhalisa (841418094)
5. Qurrota Aini Suheryanto (841418098)
6. Nurmagfirah Igirisa (8414118087)
7. Sendriyani Radjiku (841418090)
8. Fitriani Fikri (841418077)
9. Justina Bahamba (841418110)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU OLAHRAGA DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu dipanjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat dibuat. Makalah ini dibuat dengan
tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah. Tidak lupa
diucapkan rasa terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung
dalam menyelesaikan makalah.

Kami menyadari bahwa dalam proses pembuatan dan hasil dari makalah ini
terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Sehingga bagi siapapun yang ingin
memberikan kritik dan saran yang membangun. Kami berharap dengan selesainnya
makalah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ileus” dapat bermanfaat.

Gorontalo, 04 Maret 2020

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1

1.2 Tujuan......................................................................................................................2

1.2.1 Tujuan Umum...................................................................................................2

1.2.2 Tujuan Khusus..................................................................................................2

1.3 Manfaat....................................................................................................................3

BAB II KONSEP MEDIS.................................................................................................4

2.1 Definisi.....................................................................................................................4

2.2 Klasifikasi................................................................................................................4

2.3 Etiologi.....................................................................................................................5

2.4 Manifestasi Klinis....................................................................................................7

ii
2.5 Patofisiologi.............................................................................................................7

2.6 Komplikasi.............................................................................................................10

2.7 Pemeriksaan Diagnostik........................................................................................10

2.8 Penatalaksanaan.....................................................................................................11

2.9 Prognosis................................................................................................................12

BAB III KONSEP KEPERAWATAN............................................................................13

3.1 Pengkajian..............................................................................................................13

3.2 Diagnosa................................................................................................................15

3.3 Intervensi Keperawatan.........................................................................................16

BAB IV PENUTUP.........................................................................................................21

4.1 Kesimpulan............................................................................................................21

4.2 Saran......................................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah gawat abdomen atau gawat perut menggambarkan keadaan klinis akibat
kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai
keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering
berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan masif di
rongga perut maupun saluran cerna. Infeksi, obstruksi atau strangulasi saluran cerna
dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh
isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis.

Ileus paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom
mengalami paralysis dan peristaltic usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong
isi sepanjang usus. Contoh nya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin
seperti diabetes melitus atau gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson.
(Mansjoer, 2011). Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus
dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu
jalannya isi usus (Sylvia A, Price, 2012). Hal ini dapat terjadi dikarenakan kelainan
didalam lumen usus, dinding usus atau benda asing diluar usus yang menekan, serta
kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus yang dapat menyebabkan nekrosis
segmen usus (Indrayani, 2013).

Insiden dari ileus obstruksi pada tahun 2011 diketahui mencapai 16% dari
populasi dunia.Statistic dari databerbagai Negara melaporkan terdapat variasi angka
kejadian ileus obstruksi. Di amerika serikat, insiden kejadian ileus obstruksi adalah
sebesar 0,13%. Selain itu laporan data dari Nepal tahun 2007 menyebutkan jumlah
penderita ileus obstruksi dan paralitik dari tahun 2005-2006 adalah 1053 kasus
(5,32%). (Mukherjee, 2012 dalam Larayanthi, et al., 2012).Di Indonesia tercatat

1
7.059 kasus obstruksi ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap
dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 (Departemen Kesehatan RI, 2010).

Penyebab ileus obstruksi berkaitan pada kelompok usia yang terserang dan letak
obstruksi, 50% terjadi pada kelompok usia pertengahan dan tua akibat perlekatan
oleh pembedahan sebelumnya. Tumor ganas dan volvulus merupakan penyebab
tersering obstruksi usus besar pada usia pertengahan dan orang tua, kanker kolon
merupakan penyebab dari 90% ileus obstruksi yang terjadi (Kasminata, et.al, 2013).

Kejadian ileus obstruksi sering didahului dengan munculnya gejala klinis pada
system gastroinstestinal. Tanda dan gejala yang biasa terjadi serta penting untuk
dikenali pada pasien ileus obstruksi diantaranya adalah nyeri abdomen yang bersifat
kram, nausea, distensi abdomen, muntahempedu, konstipasi, singultus, kenaikan
suhu tubuh, tidak terdengarnya bising usus disebelah distal obstruksi serta
penurunan berat badan (Saputra, 2014). Pembedahan adalah suatu penanganan
medis secara invasive yang dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati penyakit,
injuri, atau deformitas tubuh (Nainggolan, 2013). Berdasarkan data yang diperoleh
dari World Health Organization (2011) tercatat di tahun 2011 terdapat 140
jutapasien di seluruh rumah sakit di dunia yang telah menjalankan operasi.
Tindakan operasi di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 1,2 juta jiwa.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan ileus


1.2.2 Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui definisi dari ileus


2) Untuk mengetahui Klasifikasi dari ileus
3) Untuk mengetahui etiologi dari ileus
4) Untuk mengetahui klasifikasi dari ileus

2
5) Untuk mengetahui manifestasi klinis dari ileus
6) Untuk mengetahui patofisiologi dari ileus
7) Untuk mengetahui penatalaksanaan dari ileus
8) Untuk mengetahui prognosis dari ileus
9) Untuk mengetahui pengkajian mengenai ileus
10) Untuk mengetahui diagnosa, rencana, dan intervensi keperawatan
mengenai ileus

1.3 Manfaat

1) Bagi Institusi Pendidikan


Untuk menambah literatur tentang infeksi saluran kemih dan dapat
memberikan bekal kompetensi bagi seluruh mahasiswa sehingga mampu
menerapkan ilmu yang didapat kepada masyarakat.
2) Bagi Mahasiswa
Untuk meningkatkan pengetahuan dalam bidang ilmu kesehatan khususnya
dalam bidang keperawatan, meningkatkan kewaspadaan mahasiswa dalam
mengantisipasi masalah kesehatan sistem pencernaan dan sebagai bahan
masukan untuk meningkatkan profesionalisme dalam memberikan pelayanan
kepada klien dan pengembangan ilmu keperawatan.
3) Bagi Pembaca
Untuk meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan pembaca
mengenai ileus.

3
BAB II
KONSEP MEDIS

2.1 Definisi

Ileus adalah suatu kondisi hipomotilitas (kelumpuhan) saluran gastrointestinal


tanpa disertai adanya obstruksi mekanik pada intestinal. Pada kondisi klinik sering
disebut dengan Ileus paralitik (Mansjoer, 2011). Ileus adalah gangguan/hambatan
pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera
membutuhkan pertolongan atau tindakan (Indrayani, 2013). Ileus atau obstruksi
usus adalah suatu gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang
saluran isi usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik, partial atau
total.Intestinal obstruction terjadi ketika isi usus tidak dapat melewati saluran
gastrointestinal (Nurarif & Kusuma, 2015).

2.2 Klasifikasi
Menurut Pasaribu (2012), berikut ini pembagian ileus antara lain.
1. Menurut sifat sumbatannya, ileus obstruktif dibagi atas 2 tingkatan:
a. Obstruksi biasa (simple obstruction) yaitu penyumbatan mekanis di dalam
lumen usus tanpa gangguan pembuluh darah, antara lain karena atresia usus
dan neoplasma
b. Obstruksi strangulasi yaitu penyumbatan di dalam lumen usus disertai
oklusi pembuluh darah seperti hernia strangulasi, intususepsi, adhesi, dan
volvulus
2. Menurut letak sumbatannya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 2:
a. Obstruksi tinggi, bila mengenai usus halus
b. Obstruksi rendah, bila mengenai usus besar
3. Menurut etiologinya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 3:
a. Lesi ekstrinsik (ekstraluminal) yaitu yang disebabkan oleh adhesi
(postoperative), hernia (inguinal, femoral, umbilical), neoplasma (karsinoma),
dan abses intraabdominal.

4
b. Lesi intrinsik yaitu di dalam dinding usus, biasanya terjadi karena kelainan
kongenital (malrotasi), inflamasi (Chron’s disease, diverticulitis), neoplasma,
traumatik, dan intususepsi.
c. Obstruksi menutup (intaluminal) yaitu penyebabnya dapat berada di dalam
usus, misalnya benda asing, batu empedu
4. Menurut stadiumnya, ileus obstruktif dapat dibedakan menjadi 3, antara lain:

a. Obstruksi sebagian (partial obstruction): obstruksi terjadi sebagian sehingga


makanan masih bisa sedikit lewat, dapat flatus dan defekasi sedikit.
b. Obstruksi sederhana (simple obstruction): obstruksi/sumbatan yang tidak
disertai terjepitnya pembuluh darah (tidak disertai gangguan aliran darah).
c. Obstruksi strangulasi (strangulated obstruction): obstruksi disertai dengan
terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir
dengan nekrosis atau gangren (Indrayani, 2013).

2.3 Etiologi

Menurut Indrayani (2013), penyebab terjadinya ileus obstruksi pada usus halus
antara lain:

1. Hernia Inkarserata
Hernia inkarserata timbul karena usus yang masuk ke dalam kantung
hernia terjepit oleh cincin hernia sehingga timbul gejala obstruksi
(penyempitan)dan strangulasi usus (sumbatan usus menyebabkan terhentinya
aliran darah ke usus). Pada anak dapatdikelola secara konservatif dengan posisi
tidur Trendelenburg. Namun, jikapercobaan reduksi gaya berat ini tidak berhasil
dalam waktu 8 jam, harus diadakanherniotomi segera.

2. Non Hernia Inkarserata, antara lain


a. Adhesi atau perlekatan usus

5
Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi intraabdominal sebelumnya
atau proses inflamasi intraabdominal. Dapat berupa perlengketanmungkin
dalam bentuk tunggal maupun multiple, bisa setempat atau luas. Umunya
berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau
umum.Ileus karena adhesi biasanya tidak disertai strangulasi. Obstruksi yang
disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami
operasi abdomen dalam hidupnya. Perlengketan kongenital juga dapat
menimbulkan ileus obstruktif di dalam masa anak-anak.
b. Invaginasi (intususepsi)
Disebut juga intususepsi, sering ditemukan pada anak dan agak jarang
pada orang muda dan dewasa. Invaginasi pada anak sering bersifat
idiopatikkarena tidak diketahui penyebabnya. Invaginasi umumnya berupa
intususepsi ileosekal yang masuk naik kekolon ascendens dan mungkin terus
sampai keluar dari rektum. Hal ini dapat mengakibatkan nekrosis iskemik
pada bagian usus yang masuk dengankomplikasi perforasi dan peritonitis.
Diagnosis invaginasi dapat diduga atas pemeriksaan fisik, dandipastikan
dengan pemeriksaan Rontgen dengan pemberian enema barium.
c. Askariasis
Cacing askaris hidup di usus halus bagian JeJunum, biasanya jumlahnya
puluhan hingga ratusan ekor. Obstruksi bisa terjadi di mana-mana di usus
halus, tetapi biasanya di ileum terminal yang merupakan tempat lumen
paling sempit. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat
terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang mati atau hampir
mati akibat pemberian obat cacing. Segmen usus yang penuh dengan cacing
berisiko tinggi untuk mengalami volvulus, strangulasi, dan perforasi.
d. Volvulus
Merupakan suatu keadaan di mana terjadi pemuntiran usus yang
abnormal dari segmen usus sepanjang aksis usus sendiri, maupun pemuntiran
terhadap aksis sehingga pasase (gangguan perjalanan makanan) terganggu.
Pada usus halus agak jarang ditemukan kasusnya. Kebanyakan volvulus
didapat di bagian ileum dan mudah mengalami strangulasi.

6
e. Tumor
Tumor usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi Usus, kecuali jika
ia menimbulkan invaginasi. Hal ini terutama disebabkan oleh kumpulan
metastasis (penyebaran kanker) di peritoneum atau di mesenterium yang
menekan usus.
f. Batu empedu yang masuk ke ileus
Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul (koneksi
abnormal antara pembuluh darah, usus, organ, atau struktur lainnya) dari
saluran empedu keduodenum atau usus halus yang menyebabkan batu
empedu masuk ke raktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat
terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup
ileocaecal yang menyebabkan obstruksi. Penyebab obstruksi kolon yang
paling sering ialah karsinoma (anker yang dimulai di kulit atau jaringan yang
melapisi atau menutupi organ-organ tubuh), terutama pada daerah
rektosigmoid dan kolon kiri distal.

2.4 Manifestasi Klinis

Menurut Indrayani (2013), manifestasi klinik ileus diantaranya:

1. Mekanik sederhana-usus halus atas


Kolik (kram) pada abdomen pertengahan samapi keatas, distensi,
muntah, peningkatan bisisng usus, nyeri tekan abdomen.
2. Mekanik sederhana- usus halus bawah
Kolik (kram) signifikan midabdomen, distensi berat, bising usus
meningkat, nyeri tekan abdomen.
3. Mekanik sederhana- kolon
Kram (abdomen tengah sampai bawah), distensi yang muncul terakhir,
kemudian terjadi muntah (fekulen), peningkatan bisisng usus, nyeri tekan
abdomen.
4. Obstruksi mekanik parsial

7
Gejala berkembang dengan cepat: nyeri hebat, terus menerus dan
terlokalisir, distensi sedang, muntah persisten, biasanya bising usus menurun
dan nyeri tekan terlokalisir hebat. Feses atau vomitus menjadi berwarna gelap
atau berdarah atau mengandung darah samar

2.5 Patofisiologi

Ileus merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya


daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga
menyebabkan penyumbatan/penyempitan lumen usus akibat hernia inkarserata,
adhesi, intususepsi, askariasis, tumor, batu empedu. Hal ini menyebabkan pasase
lumen terganggu. Akan terjadi pengumpulan isi lumen usus yang berupa gas dan
cairan pada bagian proximal tempat penyumbatan, yang menyebabkan
hipomotilitas intestinal. (Indrayani, 2013).
Akumulasi gas dan cairan intralumen dapat menyebabkan pelebran dinding
usus (distensi). Distensi abdomen ini dapat menyebabkan tekanan intralumen
meningkat dan menurunkan pengaliran air dan Na dari lumrn ke darah. Karena
sekitar 8 liter cairan dieksresikan kedalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya
absorbsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Tekanan
intralumen ini menyebabkan iskemia dinding usus dan mengakibatkan metabolism
anaerob sehingga terjadi peningkatan asam laktat yang mengaktifkan mediator
kimia (prostaglandin, histamine, bradikinin) kemudian di hantarkan ke hipotalamus
dan di persepsikan nyeri. (Indrayani, 2013).
Sumbatan yang terjadi menyebabkan gerakan usus terganggu. Hal ini
menyebabkan serangan kolik abdomen dan muntah- muntah. Muntah merupakan
sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah
penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok. Peregangan usus yang
terus-menerus mengakibatkan penurunan absorbsi cairan dan peningkatan sekresi
cairan kedalam usus. Efek local peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan
peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin bakteri

8
kedalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan
bakteriemia. (Indrayani, 2013).

9
Pathway Ileus
Kecelakaan/Trauma
Tekanan intralumen Tekanan balik usus

G3 kontraksi otot usus


Iskemia dinding usus Refluks isi duodenum
ke dalam lambung
ILEUS
Respon metabolisme anaerob
Distensi lambung
Distensi amdomen
Penumpukan asam laktak,
pengeluaran mediator kimia Memaksakan sfingter
Menghalangi pasokan darah untuk membuka
masuk ke dalam usus
Diteruskan nosiseptor dan Dorongan ekspulsi dari
dipersepsi nyeri Menghambat motilitas usus isi lambung ke mulut
(proses absorpsi di usus) untuk disemburkan
Kram perut keluar melalui mulut
Disfungsi motiitas
Dx Nyeri Akut gastrointestinal Mual muntah

Penurunan Dx Nausea
Air, Na, K dan lainnya yang
Dinding usus
disekresikan ke dalam usus, paristaltik usus
membengkak
tidak diabsorpsi kembali
Dx Konstipasi
Penumpukan cairan Dx Risiko
di dinding usus Ketidakseimbangan Cairan

10
2.6 Komplikasi
a) Peritonitis septicemia adalah suatu keadaan dimana terjadi peradangan pada
selaput rongga perut (peritonium) yang disebabkan oleh terdapatnya bakteri
dalam dalah (bakteremia)
b) Syok hypovolemia terjadi abikat terjadi dehidrasi dan kekurangan volume cairan
c) Perforasiusus adalah suatu kondisi yang ditandai dengan terbentuknya suatu
lubang usus yang menyebabkan kebocoran isi usus ke dalam rongga perut.
Kebocoran ini dapat menyebabkan peritonitis
d) Nekrosisusus adalah adanya kematian jaringan pada usus
e) Sepsis adalah infeksi berat di dalam darah karena adanya bakteri
f) Abses adalah kondisi medis dimana terkumpulnya nanah didaerah anus oleh
bakteri atau kelenjar yang tersumbat pada anus
g) Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi adalah suatu keadaan
dimana tubuh sudah tidak bisa mengabsorpsi nutrisi karena pembedahan
h) Gangguan elektrolit; terjadi karena hipovolemik

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


Menurut Pasaribu (2012), pemeriksaan diagnostic ileus antara lain:
1. HB (hemoglobin), PCV (volume sel yang ditempati sel darah merah) :
meningkat akibat dehidrasi
2. Leukosit : normal atau sedikit meningkat ureum + elektrolit, ureum meningkat,
Na+ dan Cl- rendah.
3. Rontgen toraks : diafragma meninggi akibat distensi abdomen
a. Usus halus (lengkung sentral, distribusi nonanatomis, bayangan valvula
connives melintasi seluruh lebar usus) atau obstruksi besar (distribusi
perifer/bayangan haustra tidak terlihat di seluruh lebar usus)
b. Mencari penyebab (pola khas dari volvulus, hernia, dll)
4. Enema kontras tunggal (pemeriksaan radiografi menggunakan suspensi barium
sulfat sebagai media kontras pada usus besar) : untuk melihat tempat dan
penyebab.

11
5. CT Scan pada usus halus : mencari tempat dan penyebab, sigmoidoskopi untuk
menunjukkan tempat obstruksi

2.8 Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami
obstruksiuntuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.
Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang
suatupenyumbatan sembuh dengansendirinya tanpa pengobatan, terutama jika
disebabkan oleh perlengketan. Penderita penyumbatan usus harus di rawat dirumah
sakit (Nurarif& Kusuma, 2015).
1. Persiapan
Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah
aspirasi danmengurangi distensi abdomen (dekompresi). Pasien dipuasakan,
kemudiandilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan
keadaan umum.Setelah keadaanoptimum tercapai barulah dilakukan
laparatomi. Pada obstruksiparsial atau karsinomatosis abdomen dengan
pemantauan dan konservatif.
2. Operasi
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-
organvital berfungsi secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan
adalahpembedahan sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila:
a. Strangulasi
b. Obstruksi lengkap
c. Hernia inkarserata
d. Tidak ada perbaikan dengan pengobatankonservatif (dengan pemasangan
NGT, infus,oksigen dan kateter).
3. Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan
danelektrolit.Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus
memberikankalori yang cukup.Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien
masih dalamkeadaan paralitik.

12
2.9 Prognosis
Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur,
etiologi,tempatdan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat muda ataupun tua
maka toleransinyaterhadap penyakit maupun tindakan operatif yang dilakukan
sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas. Pada obstruksi kolon
mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan obstruksi usus halus (Indrayani, 2013).

13
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
dan gaya hidup.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Biasanaya klien datang dengan keluhan sakit perut yang hebat, kembung,
mual, muntah, dan tidak ada BAB/defekasi yang lama.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
3. Pemeriksaan Fisik 
a. B1 (Breathing)
1) Pola nafas irama: Teratur
2) Suara nafas: Vesikuler
b. B2 (Blood)
1) Irama jantung: Reguler
2) S1/S2: Ada
3) Bunyi jantung: Normal
4) CRT < 3 detik 
5) Akral hangat
c. B3 (Brain)
GCS: Eye 4, Verbal 5, Motorik 6 GCS
Sclera/konjungtiva: Ananemis
d. B4 (Bladder)
1) Urin: - cc warna: Tidak terkaji
e. B5 (Bowel)
1) Porsi makan: Habis
2) Minum: - cc
3) Mulut: Bersih

14
4) Mukosa: Lembab
5) Konsistensi: Konstipasi warna : Darah dan lendir
6) Abdomen perut: Nyeri tekan
f. B6 (Bone)
1) Kemampuan pergerakan sendi: Bebas
4. Pemeriksaan Head to Toe
a. Inspeksi
1) Apakah klien tampak sakit, meringis
2) Biasanya muntah fekal
3) Distensi abdomen
4) Tonjolan seperti bengkak pada abdomen
b. Auskultasi: Pada awal, bising usus cepat meningkat di atas sisi obstruksi,
kemudian bising usus berhenti.
c. Perkusi: Timpani
d. Palpasi: Nyeri tekan
Pengkajian pola Gordon
a. Aktivitas atau istirahat
Gejala: Kelelahan dan ngantuk.
Tanda: Kesulitan ambulasi
b. Sirkulasi
Gejala: Takikardia, pucat, hipotensi (tanda syok)
c. Eliminasi
Gejala: Distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus
Tanda: Perubahan warna urine dan feces
d. Makanan atau cairan
Gejala: Anoreksia,mual atau muntah dan haus terus menerus.
Tanda: Muntah berwarna hitam dan fekal, membran mukosa pecah-pecah,
kulit buruk
e. Nyeri atau Kenyamanan
Gejala: Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik
Tanda: Distensi abdomen dan nyeri tekan

15
f. Pernapasan
Gejala: Peningkatan frekuensi pernafasan
Tanda: Napas pendek dan dangka

3.2 Diagnosa
1. Nyeri akut b.d iskemia dinding usus d.d kram perut
2. Nausea b.d Distensi Lambung d.d mual muntah
3. Konstipasi b.d disfungsi motilitas gastrointestinal d.d paristaltik usus menurun
4. Resiko ketidakseimbangan cairan d.d dinding usus membengkak

16
3.3 Intervensi Keperawatan
No SDKI SLKI SIKI Rasional
1. Nyeri Akut (D0077) Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri Manajemen Nyeri
Kategori: Psikologis Setelah dilakukan intervensi Observasi Observasi
Subkategori: Nyeri dan keperawatan selama 3x24 jam maka - Identifikasi lokasi, karakteristik, - Agar mengetahui nyeri
Kenyamanan ekspektasi menurun dengan kriteria durasi, frekuensi, kualitas, yang diderita pasien
Definisi: hasil: intensitas nyeri - Agar mengetahui skala
Pengalaman sensorikatau 1. Keluhan nyeri (2) - Identifikasi skala nyeri nyeri yang diderita
emosional yang berkaitan dengan 2. Meringis (2) - Identifikasi faktor yang - Agar mengetahui pencetus
kerusakan jaringan aktual atau 3. Gelisah (2) memperberat dan memperingan dari nyeri yang dirasakan
fungsional, dengan onset mendadak 4. Kesulitan tidur (2) nyeri Terapautik
atau lambat dan berintensitas ringan Ket: Terapeutik - Agar mengurangi rasa nyeri
hingga berat yang berlangsung 1. Menurun - Berikan teknik nonfarmakologis dengan melakukan tindakan
kurang dari 3 bulan. 2. Cukup menurun untuk mengurangi rasa nyeri nonfarkologis
Penyebab: 3. Sedang - Kontrol lingkungan yang - Agar mengontrol pencetus
a. Agen pencedera fisik 4. Cukup meningkat memperberat rasa nyeri nyeri
Gejala dan Tanda Mayor 5. Meningkat Edukasi Edukasi
Subjektif: - Anjurkan memonitor nyeri - Agar dapat memonitor
a. mengeluh nyeri secara mandiri nyeri secara mandiri oleh
Objektif: - Anjurkan menggunakan pasien

17
a. Tampak meringis analgetik secara tepat - Agar menganjurkan untuk
b. Gelisah - Anjurkan teknik nonfarmakologi penggunaan analgetik
c. Sulit tidur untuk mengurangi rasa nyeri - Agar menganjurkan untuk
Gejala dan Tanda Minor Kolaborasi terapi nonfarmakologi
Subjetif - Pemberian analgetik, jika perlu untuk mengurangi nyeri
(tidak tersedia) Kolaborasi
Objektif - Agar mengunrangi nyeri
a. Nafsu makan berubah dengan penggunaan
b. Proses befikir terganggu analgetik
c. Berfokus pada diri sendiri
Kondisi Klinis Terkait:
a. Cedera traumatis
2. Nausea (D0076) Tingkat Nausea Manajement Mual Manajement Mual
Kategori: Psikologi Setelah dilakukan intervensi Observasi Observasi
Subkategori: Nyeri dan keperawatan selama 3x24 jam maka - Identifikasi pengalaman mual - Agar mengeidentifikasi
Kenyamanan ekspektasi menurun dengan kriteria - Identifikasi faktor penyebab pengelaman mual
Definisi hasil: mual - Agar dapat mengetahui
Perasaan tidak nyaman pada bagian 1. Perasaan ingin muntah (3) - Monitor mual pencetus mual
belakang tenggorokan atau 2. Perasaan asam dimulut (3) Terapeutik - Agar menangani mual
lambung yang dapat 3. Sesansi panas (3) - Kendalikan faktor lingkungan Terapautik
mengakibatkan muntah. 4. Sensasi dingin (3) penyebab mual - Agar dapat mnegndalikan

18
Penyebab Ket: - Kurangi atau hilangkan keadaan pencetus mual
a. Distensi lambung 1. Meningkat penyebab mual Edukasi
Gejala dan Tanda Mayor 2. Cukup meningkat Edukasi - Agar menganjurkan
Sujektif 3. Sedang - Anjurkan istirahat dan tidur istirahat dalam mengurangi
a. Mengeluh mual 4. Cukup menurun yang cukup penyebab mual
b. Merasa ingin muntah 5. Menurun Kolaborasi Kolaborasi
c. Tidak berminat makan - Kolaborasi pemberian - Agar berkolaborasi dalam
antiemetik, jika perlu
Objektif pemberian analgetik dalam
(tidak tersedia) mengurangi respon mual
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
a. Merasa asam dimulut
Objektif
a. Saliva meningkat
b. Diaforesis
3. Konstipasi (D.0049) Eliminasi Fekal Manajemen Konstipasi Manajemen Konstipasi
Kategori: Fisiologis Setelah di lakukan tindakan Observasi Observasi
Subkategori: Eliminasi keperawatan selama 3x24 jam masalah - Periksa tanda dan gejala - Agar mengetahui tanda
Definisi eliminasi fekal dapat teratasi dengan konstipasi yang mengakibatkan
Penurunan defekasi normal yang indikator : - Periksa pergerakan usus, kosntipasi
disertai pengeluaran fases sulit dan 1. Konsistensi fese (5) karakteristik feses (konsistensi, - Agar paristaltik usus

19
tidaktuntas serta feses kering dan 2. Frekuensi defekasi (3) bentuk, volume, dan warna) bekerja dengan baik
banyak. 3. Peristaltik usus (3) Terapeutik Terapautik
Penyebab Keterangan: - Anjurkan diet tinggi serat - Agar mempercepat
Fisiologis 1. Memburuk - Lakukan masase abdomen, jika pengeluaran tinja karena
a. Penurunan mobilitas 2. Cukup memburuk perlu serat tidak dicerna maupun
gastrointestinal 3. Sedang Edukasi diserap.
b. Kelemahan otot abdomen 4. Cukup membaik - Ajarkan cara mengatasi - Untuk membantu
Gejala dan tanda mayor 5. Membaik konstipasi/impaksi merangsang paristaltik usus
Subjektif Kolaborasi dan memperkuat otot-otot
a. Defekasi kurang dari 2 kali - Konsultasi dengan tim medis abdomen
seminggu tentang penurunan/peningkatan Edukasi
b. Pengeluaran fases lama dan frekuensi suara usus - Agar mengtahui strategi
sulit yang tepat dalam mengatasi
Objektif konstipasi
a. Feses keras Kolaborasi
b. Peristaltik usus menurun - Agar mencapai hasil yang
Gejala dan tanda Minor maksimal dalam penurunan
Subjektif frekuensi suara usus
a. Mengejan saat defekasi
Objektif

20
a. Distensi abdomen
4. Resiko Ketidakseimbangan Keseimbangan cairan Manajemen Cairan Manajemen Cairan
Cairan (D.0036) Setelah dilakukan intervensi Observasi Observasi
Kategori: Fisiologis keperawatan selama 3x24 jam maka - Monitor hasil periksaan - Agar mengetathui kadar
Subkategori: Nutrisi dan Cairan ekspektasi membaik dengan kriteria laboratorium (mis. Hematokrit, elektrolit dalam tubuh
Definisi hasil: Na, K, Cl, berat jenis urine, BUN) Terapautik
Beresiko mengalami penurunan, 1. Edema (3) Terapeutik - Agar dapat memonitor
peningkatan atau percepatan 2. Dehidrasi (3) - Catat intake-output dan hitung cairan yang masuk dan
perpindahan cairan dari Keterangan: balans cairan 24 jam keluar dalam tubuh selama
intravaskuler, interstisial atau 1. Meningkat Edukasi: - 24 jam
intraseluler. 2. Cukup Menngkat
Faktor Resiko 3. Sedang
a. Disfungsi intestinal 4. Cukup Menurun
5. Menurun

21
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Ileus adalah Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi
oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau
kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intususepsi, tumor polipoid dan
neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses
maupun Trauma
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami
obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.
Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua.

4.2 Saran
Dengan adanya Laporan Problem Basic Learning ini diharapkan dapat
memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan praktik
keperawatan. Selain itu, dapat juga dijadikan sebagai acuan dalam melakukan
tindakan asuhan keperawatan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:


Departemen kesehatan Republik Indonesi
Indrayani, M Novi. 2013. Diagnosis Dan Tata Laksana Ileus Obstruktif. Denpasar:
Universitas Udayana (jurnal)
Kasminata,L., Dennison., Herman. H., 2013.Gambaran Karakteristik Penderita Ileus
Obstruksi Rawat Inap Di RSU draden Mahattaher Jambi. Jambi:
Universitas Jambi
Larayanthi, et. al. 2012. Ileus Obstruksi. Denpasar: Universitas Udayana Laporan
Kasus Ileus Obstruksi Oleh Larayanthi Dalam Rangka Menjalani
Kepanitraan Klinik Madya Dibagian SMF Ilmu Bedah RSUP Sanglah
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
http://www.academia.edu/5293855/
Mansjoer, Arif. 2011. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius
Nainggolan, Elfrida, Lamria Simanjuntak. 2013. Hubungan Mobilisasi Dini dengan
Lamanya Penyembuhan Luka Pasca Operasi Appendiktomi di ZAAL C
Rumah Sakit HKBP Balige Tahun 2013. Dalam Jurnal Keperawatan HKBP
Balige, Vo. 1, No. 2
Nurarif, Amin Huda dan Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnose Medis Dan Nanda Nic-Noc Edii Revisi Jilid 2.
Yogyakarta: Media Action
Pasaribu, Nelly. 2012. Karakteristik Penderita Ileus Obstruktif Yang Dirawat Inap Di
Rsud Dr. Pirngadi Medan Tahun 2007-2010. Universitas Sumatera Utara:
Sumatera Utara (jurnal) diakses Pada 3 Maret 2020
Saputra, L. 2014. Medikal Bedah Gastrointestinal. Tangerang: Binarupa Aksara
Sylvia A. Price, Wilson Lorraine M. 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 7 . Jakarta: EGC

23