Anda di halaman 1dari 18

BAB II

DASAR TEORI

2.1. Air Tanah

Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di

bawah permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air

Selain air sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang

sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan

bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk

kepentingan industri (Pengki Irawan, 2012). Air tanah sendiri bersifat dapat di

perbaharui (re-newablew) secara alami, karena air tanah merupakan bagian

yang tidak terpisahkan dalam siklus hidrogeologi di bumi (Gambar 2.1)

Menurut Tood (dalam Adji T. Nugroho, 2014), air tanah merupakan air

yang berada di bawah permukaan tanah, baik yang tersimpan maupun

mengalir, di antara ruang-ruang kosong antar butiran, rekahan dan lubang

bukaan.

Gambar 2.2 Siklus Hidrologi Yang Menunjukan Kedudukan Air Tanah Terdapat

System Hidrologi Di Alam (Sumber. Www.Google.Com)

4
Air tanah terbentuk dari air hujan. Pada saat turun hujan, sebagian

titik-titik air meresap kedalam tanah (infiltrasi), dan menjadi air tanah.

Volume air yang meresap kedalam tanah tergantung pada jenis lapisan

batuannya. Berdasarkan kenyataan tersebut terdapat pula dua jenis batuan

utama, yakni lapisan kedap (impermeable) dan lapisan tanah tidak kedap air

(permeable).

Kadar pori lapisan kedap atau tak tembus air sangat kecil, sehingga

kemampuan untuk meneruskan air juga kecil. Contoh lapisan kedap yaitu

galuh, napal dan lempung. Sedangkan kadar pori lapisan tak kedap air atau

tembus air cukup besar. Oleh karena itu, kemampuan untuk meneruskan air

juga besar. Contoh lapisan tembus air yaitu pasir, padas, krikil dan kapur.

Air tanah terbagi menjadi 4 wilayah, yakni:

1. Wilayah yang masih terpengaruh udara

Pada bagian teratas permukaan bumi terdapat lapisan tanah yang

mengandung air. Karena pengaruh gaya berat (gravitasi), air di

wilayah ini akan bebas bergerak kebawah. Tumbuh-tumbuhan

memanfaatkan air pada lapisan ini untuk menopang kelangsungan

hidupnya.

2. Wilayah jenuh air

Wilayah inilah yang disebut dengan wilayah kedalaman sumur.

Kedalaman wilayah ini tergantung pada topografi, jenis tanah dan

musim.

5
3. Wilayah kapiler udara

Wilayah ini merupakan peralihan antara wilayah terpengaruh udara

dengan wilayah jenuh air. Air tanah diperolah dari proses kapilerisasi

(perembesan naik) dan wilayah jenuh air.

4. Wilayah air dalam

Wilayah ini berisikan air yang terdapat dalam batuan yang tidak

tembus air.

2.1.1 Keterdapatan Air Tanah

Air tanah terdapat dalam beberapa tipe geologi, dan salah

satu yang terpenting adalah akuifer (aquifer), yaitu formasi batuan

atau lapisan bawah tanah yang mengandung air dan mengalirkan air

dalam jumlah yang cukup (Todd,1980 dalam Herlambang, 1996).

Hal ini disebabkan karena lapisan tersebut bersifat permeable yang

mampu mengalirkan air baik karena adanya pori-pori pada lapisan

tersebut atau sifat dari lapisan batuan tertentu. Contoh batuan pada

lapisan akuifer adalah Pasir, kerikil, batu pasir, batu gamping dan

dolomite berongga-rongga (porous), aliran basalt, batuan malihan,

dan plutonik dengan banyak retakan (Fetter, 1994). Sifat akuifer

untuk dapat menyimpan air tanah disebut dengan kesarangan atau

porositas (porosity), sedangkan sifat akuifer untuk melakukan atau

meloloskan air tanah disebut dengan permeabilitas (permeability)

(Herlambang, 1996). Kedua sifat akuifer inilah yang akan

berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah pada suatu lingkungan

6
geologi, karena air tanah berada di antara rongga-rongga dalam

lapisan batuan tersebut.

Akiklud (aquiclude) merupakan lapisan batuan yang hanya

dapat menyimpan tetapi tidak dapat meloloskan air dikarenakan

adanya faktor pembatas berupa formasi, bagian formasi atau batuan

kedap air (Impermeable). Lapisan ini mempunyai permeabilitas

rendah, biasanya terletak di atas atau di bawah lapisan dari sistem

aliran air tanah (Fetter,1994). Apabila suatu lapisan batuan tidak

dapat menyimpan dan meloloskan air atau bersifat kedap air mutlak

disebut Akuifug (aquifuge), sedangkan apabila suatu batuan dapat

menyimpan dan meloloskan air secara lambat dari satu akuifer ke

akuifer lain (dapat meloloskan air apabila diberikan tekanan) disebut

akuitard (aquitard).

Gambar 2.3 Keberadaan Aquifer dan aquiclude (Sumber. Www.Google.Com)

7
(Sumber. Www.Google.Com)
Gambar 2.4 ilustrasi keberadaan Aquifer, aquiclude

Berdasarkan kedudukannya dalam formasi geologi tersebut

di atas maka Akuifer dikelompokan ke dalam 3 jenis yaitu:

a. Akuifer Bebas (Unconfined Aquifer)

Akuifer bebas adalah lapisan lolos air yang hanya sebagian

terisi oleh air dan berada di atas lapisan kedap air. Lapisan

pembatasnya adalah aquitard dan mempunyai muka air tanah

(water table).

b. Akuifer Tertekan

Akuifer tertekan adalah akuifer yang jumlah air seluruhnya

berdada di antara dua lapisan yang kedap air. Baik yang di atas

maupun di bawah, serta mempunyai tekanan lebih besar dari

pada tekanan atmosfer.

c. Akuifer Semi Tertekan

Akuifer semi tertekan adalah akuifer jenuh air yang dibatasi

oleh lapisan atas berupa akuitard dan lapisan bawahnya

merupakan akuiklud. Akuifer semi tertekan atau aquifer bocor

8
adalah akuifer jenuh yang sempurna, pada bagian atas dibatasi

oleh lapisan agak kedap air (aquitard) dan bagian bawah

merupakan lapisan kedap air (aquiclude)

Gambar 2.5 Aquifer berdasarkan kedudukan formasi geologi (Sumber. Www.Google.Com)

9
2.1.2 Distribusi Vertikal Air Tanah

Air tanah secara vertical berdasarkan kedalaman yang

dimilikinya dibagi kedalam beberapa zona, yang masing-masing

zona memiliki karakteristik tertentu (Todd dalam Pengky Irawan,

2012) .

1. Zona Aerasi (Unstaturated Zone)

Zona aerasi merupakan zona yang tidak jenuh air, dimana

pada zona ini tanah tidak sepenuhnya berisi air, melainkan pada

pori-pori tanah masi terdapat rongga-rongga yang diisi oleh

udara. Zona ini juga dapat dikatakan sebagai zona tak jenuh air.

2. Zona Staturasi (Zona of Staturation)

Zona staturasi adalah zona dimana air mengisi seluruh

rongga yang ada di dalam batuan. Pada zona ini air telah jenuh,

dan tidak lagi mengalami proses penyerapan air.

Masing-masing zona pada distribusi vertical air tanah ini dibatasi oleh

lapisan yang dikenal dengan lapisan muka air tanah.

10
(Sumber. Www.Google.Com)
Gambar 2.6 Distribusi vertical air tanah

Pada gambar di atas pergerakan air tanah secara vertical ini

dimulai dari zona tidak jenuh yang terbagi atas zona dangkal, zona

antara dan zona kapiler. Di bawah zona kapiler terdapat water table

atau permukaan air tanah dimana zona ini termasuk dalam zona jenuh

(zona of staturation)

2.1.3 Klasifikasi Air Tanah

2.1.3.1 Klasifikasi Air Tanah berdasarkan Letaknya

Menurut letaknya, air tanah dapat dibedakan menjadi 2

(dua) yakni air tanah permukaan (air tanah dangkal/freatik) dan

air tanah dalam (Todd dalam Pengki Irawan,2012).

1. Air Tanah Dangkal (freatik)

Air tanah dangkal (freatik) adalah air tanah yang

terjadi dari air hujan yang meresap kedalam tanah dan

berkumpul di atas lapisan kedap air (impermeable). Air

tanah jenis ini terletak pada lapisan januh air (zona of

11
saturation) atau pada lajur freatik (phreatic zone) dan

akuifernya tidak tertekan ( unconfined aquifer) karena

berada diatas lapisan kedap air. Kedalaman air tanah

dangkal terdapat pada ke dalaman 15 m di bawah

permukaan tanah. Jumlah air yang terkandung pada

kedalaman ini hanya cukup untuk keperluan rumah tangga.

Penggunaan air tanah dangkal dapat di peroleh dengan cara

membuat sumur berdinding semen atau sumur bor. Secara

fisik, air tanah dangkal terlihat jerni dan tidak berwarna

(bening), karena telah mengalami proses flitrasi oleh lapisan

tanah. Kualitas air tanah dangkal cukup baik dan layak

digunakan sebagai air minum. Namun, kuantitas air tanah

dangkal ini dipengaruhi oleh musim. Pada musim hujan,

jumlah air tanah dangkal sangat melimpah. Pada musim

kemarau, jumlah air tanah dangkal sangat terbatas, bahkan

kering.

2. Air tanah dalam (artesis)

Air tanah dalam (artesis) adalah air tanah yang terdapat

dibawah lapisan tanah/batuan yang tidak tembus air

(impermeable) atau aquifer tertekan dengan kedalaman 100-

300 m di bawah permukaan tanah. Air tanah dalam sangat

jernih dan sangat baik digunakan sebagai air minum karena

telah mengalami proses penyaringan berulang-ulang oleh

lapisan tanah. Air tanah dalam memiliki kualitas yang lebih

12
baik dari pada air tanah dangkal. Hal ini disebabkan karena

proses filtrasi air tanah dalam lebih panjang, lama, dan lebih

sempurna dibandingkan dengan air tanah dangkal. Secara

kualitas, air tanah dalam cukup besar dan tidak terlalu

dipengaruhi oleh musim, sehingga air tanah dalam cocok

digunakan untuk kepentingan industry dan bias digunakan

dalam jangka waktu yang lama. Untuk memperoleh air

tanah jenis ini harus dilakukan pengeboran.

13
Gambar 2.7 Skema Lapisan Air Tanah Berdasarkan Letaknya (Sumber. Www.Google.Com)

14
3.4 Jenis Sumur Berdasarkan Metode Rancang Bangun

Sumur dapat dirancang dan dibangun dengan sejumlah cara tergantung

pada kondisi geologi, anggaran pembangunan, dan kapasitas yang

diinginkan. Berikut ini adalah pembuatan sumur berdasarkan jenis dan

metode konstruksi yang digunakan. (Sutrisno, 2018)

1. Sumur Gali

Sumur gali adalah lubang atau lubang yang digali secara manual ke

dalam tanah untuk memanfaatkan air tanah (water table). Sumur digali

hingga kedalaman kurang lebih 20 meter, dengan diameter mulai dari 1

meter sampai 1,5 meter. Dinding sumur biasanya dibuat/dilapisi dengan

batu beton, batu bata, batu kali, atau diperkuat beton untuk mencegah

dinding rusak atau berlubang. Sumur gali biasanya hanya menembus

lapisan atas akuifer, tingkat air atau jumlah air di sumur ini cenderung

berfluktasi berdasarkan musim. Pada kedalaman di lapisan akuifer,

dinding tertanam namun dengan celah, atau jika menggunakan cincin

beton buatan dipasang celah pada sambungan antar cincin agar dapat

dilewati air tanah masuk ke dalam sumur. Sumur gali biasanya berbentuk

lingkaran. Jenis sumur kadang-kadang mampu menghasilkan persediaan

air yang cukup dari sumber air dangkal tetapi mudah tercemar oleh air

permukaan.

Alat yang digunakan untuk menaikan air ke permukaan tanah,

biasanya dilakukan secara tradisional yaitu dengan menggunakan tali

yang ujungnya diikat dengan ember dan dikerek ke atas. Sumur gali

terdiri dari :

15
a. Bangunan bawah disebut sumur pengumpul, berfungsi untuk menyadap/

mengumpulkan air. Struktur bangunan bawah menggunakan dinding

dari cincin beton atau pasangan batu bata sebagai pengaman dindingnya

dan juga berfungsi sebagai penyaring.

b. Bangunan atas, terdiri dari bibir sumur, tiang penyangga , lantai sumur

dan saluran untuk mengalirkan air bekas mandi dan mencuci.

Gambar 2.8 Sumur Gali (Sumber. Www.Google.Com)

2. Sumur Bor

16
Sumur Bor dibangun menggunakan peralatan yang lebih canggih dan

dibor oleh ahli sumur bor professional yang mempunyai pengalaman dan

peralatan memadai agar mempeorleh air tanah dengan kedalaman lebih

daripada sumur lainnya. Berbagai metode pengeboran sumur telah

dikembangkan sesuai kondisi geologi mulai dari tanah keras (hard rock)

seperti granit dan dolomit hingga sedimen yang sepenuhnya terkonsolidasi

seperti pasir aluvial dan kerikil. Metode pengeboran tertentu bisa jadi lebih

dominan di daerah tertentu karena paling efektif dalam menembus akuifer

setempat, sehingga dapat menghemat biaya. Kedalaman sumur bor

bervariasi dari 30 sampai 100 meter dibawah permukaan tergantung atau

berdasarkan pada kondisi geologi tertentu.

Gambar 2.9 Sumur Bor (Sumber. Www.Google.Com)

3. Sumur Artesis

Sumur artesis adalah sumur moderen yang di buat dengan

menggunakan peralatan yang canggih dan moderen yang dapat menembus

17
berbagai lapisan yang ada di dalam tanah baik lapisan tanah liat yang

berlumpur hingga lapisan tanah yang berbatu. Cara pembuatan sumur

artesis hampir sama dengan pembuatan sumur bor yaitu dengan

menancapkan mata bor secara vertikal ke dalam tanah hingga mencapai

lapisan tanah aquifer dimana lapisan tanah aquifer ini merupakan lapisan

tanah yang mengandung sumber air yang sangat-sangat melimpah, air

yang terdapat di lapisan equifer memiliki tekanan yang cukup tinggi

bahkan ada sumur artesis yang tidak membutuhkan pompa untuk

menaikan air dalam tanah ke permukaan karena tekanan air alami yang

sangat tinggi. Pengerjaan sumur artesis hanya bisa di lakukan oleh tenaga-

tenaga ahli yang mengetahui dan memahami lapisan-lapisan. Kedalaman

sumur ini sangat dalam bahkan bisa mencapai kedalaman 250 meter dari

permukaan tanah dan melewati lapisan tanah yang padat dan keras,

biasanya sumur artesis di gunakan oleh perusahaan perusahaan yang

memerlukan sumber air yang banyak.

3.5 Geolistrik

Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari

sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di

18
permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial, arus dan

medan elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah ataupun akibat

injeksi arus ke dalam bumi (Damayanti Taufika, 2011).

3.5.1 Konfigurasi Tahanan Jenis Schlumberger

Konfigurasi metode geolistrik (resistivity) Schlumberger

bertujuan untuk mengidentifikasi diskontinuitas lateral (anomali

konduktif lokal). Arus diinjeksikan melalui elektroda AB, dan

pengukuran beda potensial dilakukan pada elektroda MN, dimana

jarak elektroda arus (AB) jauh lebih besar dari jarak elektroda

tegangan (MN) (Juandi M.2003).

Gambar 2.10 Konfigurasi schlumberger (Sumber. Www.Google.Com)

3.5.2 Konfigurasi Tahanan Jenis Wenner

Wenner memiliki konfigurasi elektroda potensial berada di

antara elektroda arus yang tersusun dari A-M-N-B. Jarak elektroda

19
satu dengan yang lainnya adalah a dengan faktor geometrinya yaitu

k=2πa. Keterbatasan dari metode Wenner (Kastono, Delfina

Martins.2015), adalah untuk jarak A-M yang makin besar, daya

tembus (penetrasi) makin kecil, dan karena pengukuran setiap

elektroda harus dipindahkan maka membutuhkan tenaga bantuan yang

lebih banyak, sehingga cukup menyulitkan ketika di lapangan (Juandi

M.2003)..

Gambar 2.11 Konfigurasi

Elektroda dengan Metode Wenner (Sumber. Www.Google.Com)

3.5.3 Konfigurasi Tahanan Jenis Dipole Sounding

Selain konfigurasi Wenner dan Wenner-Schlumberger,

konfigurasi yang dapat digunakan adalah Pole-pole, Pole-dipole dan

Dipole-dipole. Pada konfigurasi Pole-pole, hanya digunakan satu

elektrode untuk arus dan satu elektrode untuk potensial. Sedangkan

elektrode yang lain ditempatkan pada sekitar lokasi penelitian dengan

jarak minimum 20 kali spasi terpanjang C1-P1 terhadap lintasan

pengukuran. Sedangkan untuk konfigurasi Pole-dipole digunakan satu

electrode arus dan dua elektrode potensial. Untuk elektrode arus C2

ditempatkan pada sekitar lokasi penelitian dengan jarak minimum 5

20
kali spasi terpanjang C1-P1. Sehingga untuk penelitian skala

laboratorium yang mungkin digunakan adalah konfigurasi Dipole-

dipole.

Pada konfigurasi Dipole-dipole, dua elektrode arus dan dua

elektrode potensial ditempatkan terpisah dengan jarak na, sedangkan

spasi masing-masing elektroda. Pengukuran dilakukan dengan

memindahkan elektrode potensial pada suatu penampang dengan

elektrode arus tetap, kemudian pemindahan elektrode arus pada spasi n

berikutnya diikuti oleh pemindahan elektrode potensial sepanjang

lintasan seterusnya hingga pengukuran elektrode arus pada titik terakhir

dilintasan (Juandi M.2003)..

Gambar 2.12 Susunan Elektroda Konfigurasi Dipole Sounding (Sumber. Www.Google.Com)

21