Anda di halaman 1dari 5

TUGAS TEKNOLOGI PATI, GULA DAN SUKROKIMIA

(Ekstraksi Pati Batang Sagu)

AINUN FARIDAH 1710516320002


HENNY MAULIDA 1710516320007
RAIHAN SARI AFIFAH 1710516320017
SITI TURANA 1710516220019

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2020
Ekstraksi Pati Batang Sagu

Pati sagu dapat digunakan sebagai bahan dasar industri, antara lain industri alkohol,
industri tekstil, dan industri lem untuk plywood. Bahkan seluruh bagian tanaman sagu
sebenarnya dapat dimanfaatkan. Secara tradisional, pati sagu diperoleh dengan cara
membelah batang pohon sagu secara vertikal memanjang (setengah lingkaran batang)
kemudian pati sagu di ekstrasi dari bagian tengah batang (empulur) dengan air. Hasil
ekstraksi diendapkan, kemudian dijemur hingga diperoleh diperoleh pati sagu kering (Djaafar
et al., 2000).
Pati sagu diperoleh dari pohon sagu yang sudah tua (berumur 8 – 16 tahun), dengan ciri
– ciri daun pada bagian pucuk mulai mengecil, duri pada pelepah daun sudah hilang,
keluarnya serangkaian bunga pada bagian pucuknya, dan adanya buah seperti buah salak.
Proses pembuatan atau pengolahan pati sagu di beberapa daerah Indonesia pada prinsipnya
sama, yaitu melalui tahap – tahap sebagai berikut: penebangan pohon sagu, pengambilan
empulur, ekstraksi pati, pengendapatan pati, dan pengeringan pati (Ruddle et al., 1978).
Komponen karbohidrat terbesar yang terkandung dalam sagu adalah pati. Pati sagu
tersusun atas dua fraksi penting, yaitu amilosa yang merupakan fraksi linier dan amilopektin
yang merupakan fraksi cabang. Rasio kandungan amilosa dan amilopektin dalam pati sagu
adalah 27 : 73 (Cecil et al., 1982). Pati sagu terdapat dalam plastida yang berupa granula
berbentuk oval atau bulat telur dan beberapa granula pati sagu berkisar antara 15-50 μm.
Ukuran tersebut lebih besar dibanding pati beras (2-13 μm), pati jagung (5-25 μm), atau pati
terigu (3-34 μm). Besarnya ukuran granula pati membuat pati sagu relatif mudah diendapkan.

Ekstraksi Pati Batang Sagu Secara Tradisional


Ekstrasi pati sagu secara tradisional (skala kecil) adalah sebagai berikut: pohon sagu
yang tua ditebang sekitar 0,5 m dari permukaan tanah, kemudian dibersihkan dari pelepah
daun. Batang dibelah menjadi dua bagian memanjang. Bagian dalam batang (empulur)
dihancurkan atau dipukul dengan alat pemukul (di daerah Maluku alat ini disebut nani).
Hancurkan empulur dibungkus kain saring, kemudian dimasukan ke dalam bak yang terbuat
dari belahan batang sagu yang telah diisi air, sambil diperas. Air yang mengandung pati
mengendap, air yang ada dibuang secara perlahan – lahan. Pati sagu yang diperoleh
kemudian dikeringkan hingga kadar air 10% - 14%. Cara ekstraksi skala besar pada
prinsipnya sama dengan cara tradisional, namun menggunakan peralatan yang lebih modern
dan lebih memperhatikan kebersihan lingkungan. Diagram alir proses ekstraksi pati sagu
dapat dilihat pada diagram alir berikut.

Gambar 1. Diagram Alir Proses Ekstraksi Pati Sagu Secara Tradisional

Ekstraksi Batang Pati Sagu Secara Mekanis


Proses ekstraksi pati sagu dilakukan secara mekanis melalui suatu sistem yang kontinyu.
Proses ini memiliki kelebihan antara lain, pemrosesan dapat berjalan lebih cepat, dapat
menghasilkan produk dengan skala besar, dan kualitas produk yang lebih baik dan tahan lama.
Proses pembuatan tepung sagu terbagi atas 3 tahapan proses, yaitu :
1) Proses debarking and size reduction merupakan pretreatment untuk mempermudah proses
pengolahan dan ekstraksi pati sagu dari batang sagu yang berukuran besar. Dimulai dari
pengupasan kulit terluar batang sagu hingga pemarutan empulur sagu.
2) Proses sago extraction bertujuan untuk mengambil pati sagu dari serat-serat kasarnya.
3) Proses pemisahan air, anti browning, pengeringan merupakan proses akhir yang bertujuan
untuk mendapatkan tepung sagu kering yang telah diberi anti browning agents (sodium
sulfite).

Berikut ini penjelasan yang lebih rinci terkait proses ekstraksi batang sagu secara
mekanis :
A. Proses Debarking dan Size Reduction
Batang sagu yang berukuran ±1m diambil dari log pond, kemudian diletakkan pada
debarking machine. Batang sagu diambil kulitnya untuk mendapatkan empulur yang bebas
dari kulit kerasnya. Kemudian batang sagu dicacah menggunakan chipper, sagu keluaran dari
chipper ini memiliki ukuran ±1cm. Kemudian proses pemarutan sagu menjadi ukuran yang
lebih kecil lagi untuk mempermudah ekstraksi pati sagu. Pada rasper ini ditambahkan air
dengan jumlah tertentu supaya pemarutan berlangsung lebih mudah dan pati sagu dapat
terlarut pada air tersebut. Keluaran dari rasper ini ditampung pada sebuah collecting vessel
untuk mengantisipasi jika semua keluaran rasper tidak dapat dilanjutkan seluruhnya ke
centrifugal sieve, sehingga proses bisa terus berjalan. Keseluruhan proses ini merupakan
pretreatment untuk mempermudah proses pengolahan dan ekstraksi pati sagu dari batang
sagu yang berukuran besar
B. Proses Sago Extraction
Tujuan dari proses ini adalah untuk mengambil pati sagu dari serat-serat kasarnya.
Ekstraksi pati sagu dilakukan pada centrifugal extractor, masukan dari centrifugal extractor
ini berasal dari collecting vessel. Sagu yang akan di ekstrak pada collecting vessel ini sudah
berbentuk slurry. Pati sagu ini akan dipisahkan dari ampas nya menggunakan sieve yang
berukuran ±120 mesh. Keluaran dari centrifugal sieve ini berupa slurry pati yang bebas dari
ampas.
C. Proses Pemisahan
Proses ini terjadi di hydrocyclone adalah pemekatan larutan pati, kemudian pencucian
dengan fresh water dan dilanjutkan dengan pemberian anti browning agents (sodium sulfite).
Pemberian anti browning agents dengan tujuan untuk mencegah adanya perubahan warna
dari pati yang disebabkan oleh kontak enzymatic dengan udara. Tahapan selanjutnya adalah
pemekatan menggunakan rotary vacuum filter untuk proses pemekatan Kemudian jumlah air
yang hanya tersisa ± 40% dari slurry akan dikeringkan menggunakan flash dryer. Air akan
dikontakkan dengan hot air untuk mengurangi water content pada tepung hingga menjadi
±10% air di dalam pati. Pada proses ini udara akan mengambil sebagian air dengan konsep
humidity, humidity hot air yang rendah akan menyerap air hingga kondisi jenuhnya. Keluaran
dari flash dryer ini merupakan tepung sagu kering yang telah siap digunakan dan selanjutnya
masuk pada bagian bagging untuk proses pengepakan agar kualitas produk tepung sagu tetap
terjaga sesuai dengan standar nya.

DAFTAR PUSTAKA

Djaafar, T.F., S. Rahayu, dan R. Mudjisihono. 2000. Teknologi Pengolahan Sagu. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta. 35 hal.

Cecil, J.E., G. Lau, S.H. Heng dan C.K. Ku (1982). The Sago Starch Industry: A Technical
Profile Based on a Preliminary Study Made in Sarawak, Tropical Product Institute,
London.

Ruddle, K., Johnson, D., Townsend, P.K. dan Rees, J.D. 1978. Palm Sago A Tropical Starch
From Marginal Lands. The University Press of Hawai, Honolulu.