Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dengan ciri – ciri stroma villus langka
vaskularisasi, dan edematus, janin biasanya meninggal, akan tetapi villus – villus yang
membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan ialah sebagai
segugus buah anggur. (Winkjosastro, 2007).
Molahidatidosa adalah kehamilan yang secara genetik tidak normal, yang muncul
dalam bentuk kelainan perkembangan plasenta (Varney, 2006). Molahidatidosa merupakan
penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan yang tidak disertai janin dan
seluruh vili korealis mengalami perubahan hidropik. (Manuaba, 1998).
Angka insiden melahidatidosa secara keseluruhan mencapai kurang lebih 1,5 dalam
1000 kehamilan, angka insiden ini 10 kali lebih tinggi pada wanita hamil yang berusia lebih
dari 45 tahun. Prevalensi Molahidatidosa lebih tinggi di Asia, Afrika dan Amerika Latin, di
bandingkan dengan Negara – Negara Barat. di Negara – Negara dilaporkan 1 : 200 atau 200
kehamilan, di Negara – Negara berkembang 1 : 100 atau 600 kehamilan (varney, 2006).
Berdasarkan insiden di atas kelompok tertarik untuk mengangkat kasus
Molahidatidosa dan dapat melakukan asuhan keperawatan pada Molahidatidosa dengan
sebaik mungkin.

B. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum
Agar Mahasiswa (i) dapat mengerti dan memahami tentang Molahidatidosa dan asuhan
keperawatan Maternitas pada kasus Molahidatidosa.

2. Tujuan Khusus
Agar Mahasiswa (i) mampu memahami dan menjelaskan tentang :
─ Pengertian
─ Klasifikasi
─ Etiologi
─ Patofisiologi
─ Manifestasi Klinis
─ Komplikasi
─ Pemeriksaan diagnostik

1
─ Prognosis
─ Penatalaksanaan

C. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I PENDAHULUAN terdiri dari :


A. Latar belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEOROTIS terdiri dari :


A. Pengertian
B. Klasifikasi
C. Etiologi
D. Patifisiologi
E. Manifestasi Klinis
F. Kimplikasi
G. pemeriksaan diagnostik
H. Prognosis
I. Penatalaksanaan

BAB III RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN terdiri dari :


A. Pengkajian
B. Analisa Data
C. Diagnosa Keperawatan
D. Rencana Asuhan Keperawatan
BAB IV PENUTUP terdiri dari :
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. PENGERTIAN

Molahidatidosa merupakan kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vili


korialisnya mengalami perubahan hidrofik, (Mansjoer, 1999).
Molahidatidosa merupakan penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan
kehamilan yang tidak di sertai janin dan seluruh vili korialisnya mengalami perubahan
hidrofik. (Manuaba, 1998)
Molahidatidosa merupakan kehamilan yang secara genetic tidak normal yang muncul
dalam bentuk kelainan perkembangan plasma. (Varney, 2006).
Menurut Winkjosastro (2007), Molahidatidosa ialah kehamilan abnormal dengan ciri
– ciri stroma villus korialisnya langka vaskularisasi dan edematus janin biasanya meninggal,
akan tetapi villus – villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus,
gambaran yang di berikan ialah sebagai segugus buah anggur. Jonjot – jonjot khorion
(Choronic villi) tumbuh berganda merupakan gelombang – gelombang kecil mengandung
banyak cairan menyerupai buah anggur atau mata ikan, karena itu disebut juga hamil anggur
atau mata ikan atau Molahidatidosa, (Mochtar, 1989).

B. KLASIFIKASI

Menurut Sastrowinata (2004) klasifikasi Molahidatidosa adalah :


1. Molahidatidosa Komplet (MHK)
Merupakan kehamilan abnormal tanpa embrio yang seluruh villi korialisnya
mengalami degenerasi hidrofik yang menyerupai anggur. Mikroskopik tampak edema
stroma villi tanpa vaskularisasi disertai hyperplasia dari kedua lapisan trofoblas. Secara
sitogenetik umumnya bersifat diploid 46 x sebagai hasil pembuahan satu ovum, tidak
berinti atau intinya tidak aktif, di buahi oleh sperma yang mengandung 23 x kromosom,
yang kemudian menggandakan duplikasi menjadi 46 xx. Jadi umumnya Molahidatidosa
komplet bersifat homozigot, wanita berasal dari Bapak (androgenetik), kadang – kadang
pembuahan terjadi oleh dua buah sperma 23 xx dan 23 y (Dispermi) sehingga terjadi 46
xx dan 46 xy villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel – vesikel jernih ukuran
vesikel bervariasi dari sulit di lihat sampai yang berdiameter beberapa sentimeter dan
sering berkelompok – kelompok.

3
Menggantung pada tungkai kecil, temuan histologik yang di perlihatkan di tandai
oleh :
1. Degenerasi hidrofik dan pembangkitan stroma villus
2. Tidak adanya pembuluh darah di villus yang membengkok
3. Proliferasi epitel troboblas dengan derajat bervariasi.
4. Tidak adanya janin di amnion.

2. Molahidatidosa Parsial (MHP)


Seperti pada Molahidatidosa komplet, tetapi disini masih ditemukan embio yang
biasanya mati pada masa dini. Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang
berkembang dan mungkin tampak sebagian jaringan janin, biasanya paling tidak kantung
amnion, keadaan ini diklasifikasikan sebagai Molahidatidosa persial, terjadi
pembengkakan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya
avaskular, sementara villi – villi berpembuluh lainnya dengan dirkulasi janin – plasenta
yang masih berfungsi tidak terkena, hyperplasia trofoblastik lebih fokal dari pada
generalisata.

C. ETIOLOGI
Menurut Mansjoer (1999) etiologi dari Molahidatidosa adalah : Belum di ketahui pasti
ada yang mengatakan akibat infeksi defisiensi makanan dan genetic yang paling cocok ialah
teori acosta sison yaitu defidiensi protein, faktor resiko terdapat pada golongan sosioekonami
rendah usia di bawah 20 tahun.
Penyebab Molahidatidosa belum di ketahui pasti tapi faktor – faktor yang dapat
menyebabkannya adalah
1. Faktor ovum, ovum memang sudah patologik sehingga mati tetapi terlambat di
keluarkan.
2. Imunoselektif dari tropoblas.
3. Keadaan sosio – ekonomi yang rendah.
4. Paritas tinggi.
5. Kekurangan protein.
6. Infeksi virus dan faktor kromoson jelas, (Mochtar, 1989).

4
D. PATOFOSIOLOGI

Faktor genetik Defisiensi protein


Faktor ovum Keadaan sosioekonomi rendah

Jonjot – jonjot khorion tumbuh terganda dan mengandung cairan


merupakan kista – kista seperti anggur.

Adanya proliferasi dari trofoblas


Ekstraembrionik

Amenore dan perdarahan pervaginam yang berulang

Ansietas Pembuangan cairan berlebihan

Mual, muntah yang menetap, anoreksia


(Mochtar, 1998)

E. MANIFESTASI KLINIS

Menurut sastrawinata (2004) manifestasi klinis Molahidatidosa adalah dapat di bagi dalam 3
bagian yaitu :
1. Keluhan utama
Amenore dan perdarahan pervaginam.
2. Perubahan yang menyertai
a. Uterus lebih besar dati tuanya kehamilan.
b. Kadar HCG yang jauh lebih tinggi dari kehamilan biasa.
c. Adanya kista lutein, baik unilaterai maupun bilateral.
d. Pada kehamilan biasa, kadar HCG dalam darah paling tinggi 100.000 TU.I,
sedangkan pada Molahidatidosa bisa mencapai 5.000.000 TU/I.
3. Adanya penyulit
a. Pre eklamsia
b. Tirotoksikosis
c. Emboli paru (Jarang)

5
Permulaan degenerasi Molahidatidosa tidak banyak perbedaan gejala seperti hamil muda,
yaitu mual, muntah, pusing, hanya kadang berlangsung lebih hebat. Perkembangan hamil
selanjutnya menunjukkan pembesaran rahim yang pesat disertai pengeluaran hormon
semakin meningkat, infiltrasi sel trofoblas yang merusak pembuluh darah menimbulkan
gejala perdarahan sedikit demi sedikit sampai perdarahan banyak dan pengeluaran
gelembung mola.
Menurut varney (2006) manifestasi klinis Molahidatidosa adalah :
1. Mual muntah yang menetap, sering kali menjadi parah.
2. Perdarahan uterus yang terlihat pada minggu ke 12 bercak darah atau perdarahan
hebat mungkin terjadi, tetapi biasanya hanya berupa rabas bercampur darah, yang
terjadi secara intermiten atau terus menerus.
3. Sesak nafas.
4. Ovarium biasanya nyeri tekan dan membesar.
5. Tidak ada denyut jantung janin.
6. Tidak ada aktivitas janin.
7. Nyeri perut bagian bawah, pada rupture tuba nyeri terjadi tiba – tiba dan hebat,
menyebabkan penderita pingsan sampai syok.
8. Perdarahan pervaginam yang berwarna coklat.

F. KOMPLIKASI
Menurut Mansjoer (1999) komplikasi pada Molahidatidosa adalah :
1. Anemia
2. Syok.
3. Infeksi.
4. Eklamsia.
5. Tirotoksikosis

G. PROGNOSIS
Menurut sastrawinata (2004) prognosis Molahidatidosa adalah : Resiko kematian /
kesakitan pada Molahidatidosa meningkat karena perdarahan, perforasi uterus, preeklamsi
berat, tirotoksikosis atau infeksi akan tetapi sekarang kematian karena Molahidatidosa sudah
jarang sekali segera setelah jaringan mola di keluarkan, uterus akan mengecil kadar HCG
menurun dan akan mencapai kadar normal sekitar 10 – 12 minggu pascaevakuasi, kista lutein
juga akan mengecil lagi. Sebagian besar penderita Molahidatidosa dapat akan baik kembali
setelah kuretasi, bila hamil lagi umumnya berjalan normal, Molahidatidosa berulang dapat
terjadi tetapi jarang, walaupun demikian, 15 – 20 % dari penderita pasca Molahidatidosa
dapat mengalami degenerasi keganasan menjadi tumor trobles bestasional (TTG), baik berupa
mola invasiv koriokarsinoma, maupun Plasenta Site Trophoblastik Tumor (PSTT) Mortalitas

6
akibat mola saat ini praktis telah berkurang menjadi nol oleh diagnosis yang lebih dini dan
terapi yang tepat, pada kehamilan mola tahap lanjut wanita yang bersangkutan biasanya
anemik dan mengalami perdarahan akut.

H. PEMERIKSAN DIAGNOSTIK
Menurut Manuaba (1998), pemeriksaan diagnostik pada Molahidatidosa adalah :
─ Anamnesis, perdarahan pervaginam/gambaran mola, gejala
toksemia pada trimester I,II hiperemesis gravidarum, gejala tirotoksikosis dan gejala
emboli paru.
─ Pemeriksaan fisik, uterus lebih besar dari usia kehamilan, kista
lutein, balotemen negatife, denyut jantung janin negatif.
─ Pemeriksaan penunjang, pada tes Acosta sison dapat di keluarkan
jaringan mola, pada tes hanifa sonde, dapat masuk tanpa tahanan dan di putar 3600 dengan
deviasi sande kurang dari 100.

Sudah di kemukakan bahwa uterus pada Molahidatidosa tumbuh lebih cepat dan pada
kehamilan biasa, pada uterus yang besar ini tidak terdapat tanda – tanda adanya janin
didalamnya seperti balotemen pada palpasi, gerak janin pada auskultasi, adanya kerangka
janin pada pemeriksaan rontgen dan adanya denyut jantung pada ultrasonografi perdarahan
merupakan gejala yang sering ditemukan, kadar HCG pada mola jauh lebih tinggi dari pada
kehamilan biasa, ultrasonografi memberi gambaran yang khas pada Molahidatidosa.

I. PENATALAKSANAAN
Menurut Manuaba (1998), penatalaksanaan pada Molahidatidosa adalah :
Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Perbaikan keadaan umum
Pengeluaran gelembung mola yang disertai perdarahan memerlukan transfuse
sehingga penderita tidak jatuh dalam keadaan syok dan dapat menjadi penyebab
kematian, disamping itu setiap elakuasi jaringan mola dapat di ikuti perdarahan sehingga
persiapan darah menjadi program vital tetapi Molahidatidosa, pada waktu mengeluarkan
mola dengan kuretoge di dahului pemasangan infuse dan uterotonika sehingga pengecil
dapat mengurangi perdarahan.

2. Pengeluaran Jaringan Molahidatidosa


Pada Molahidatidosa dengan umur muda dan jumlah anak sedikit maka rahim
perlu di selamatkan dengan melakukan tindakan.
a. Evakuasi jaringan Molahidatidosa

7
Evakuasi jaringan Molahidatidosa dilakukan dengan kuretage atau dengan
jalan vakum kuretage, yaitu alat pengisap listrik yang kuat sehingga dapat mengisap
jaringan mola dengan cepat.
b. Histerektomi
Dengan pertimbangan umur relatif tua (Diatas 35 tahun) maka pada penderita
Molahidatidosa dilakukan tindakan radikal histerektomi.

3. Pengobatan profilaksis dengan sitostatika (Hemoterapi).


Molahidatidosa merupakan penyakit trofoblos yang dapat berkelanjutan menjadi
kario karsinoma (65 – 75%) untuk menghindari terjadinya degenerasi ganas, penderita
Molahidatidosa diberikan profilaksis dengan sitotatika (Kometerapi), Methotraxte (MTX)
atau altimomycin. D pengobatan profilatesis atau terapi sitostatika memerlukan perawatan
dan pengawasan di rumah sakit.

4. Pengawasan Lanjutan
Degerasi korio karsinoma memerlukan waktu sehingga kesembuhan penyakit
Molahidatidosa memerlukan pengawasan di samping itu rekuren Molahidatidosa
mempercepat kejadian korio karsinoma sehingga setelah penanganan Molahidatidosa
perlu menunda kehamilan paling sedikit satu tahun.

8
BAB III
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Hipertensi atau hipotensi mungkin ada
Pucat
Pusing
Gejala – gejala hipertensi atau dapat terjadi pada awal gestasi minggu ke – 20.
1. Integritas EGO
Cemas, Ketakutan, Gelisah.
2. Makanan / Cairan
Mual / Muntah berat (Hiperemesis)
3. Keamanan
Penyakit inflamasi pelvis
Kejadian gonore berulang.
4. Seksualitas
Multipara dan usia ibu telah manjut.
Seksio sesaria sebelumnya
Aborsi berulang pada trimester kedua dan ketiga.
Jaringan parut servikal karena laserasi aborsi elektif.
atau dilatasi dan kuretage.
pembesaran uterus di luar proporsi gestasi atau mungkin lebih kecu dan pada yang
antisipasi.
Denyut jantung janin (DJJ) tidak ada atau bagian – bagian janin tidak teraba, tidak ada
aktivitas janin.
Vesikal jernih seperti anggur melewati vagina.
Penurunan jaringan payudara.
5. Nyeri / Ketidaknyamanan
Dapat mengalami nyeri dengan hemoragi plasenta, nyeri telan nyata atau berat secara
umum atau nyeri lokal, nyeri punggung bawah.

9
B. ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. Data subjectif Faktor genetic Defisiensi protein Kekurangan
─ Faktor ovum Keadaan sosio volume vairan
Muntah Ekonomi rendah

Perdarahan
pervaginam
Data Objectif Jonjot – jonjot khorian yang tumbuh
─ berganda dan mengandung cairan
Tampak pucat

Tampak lemah Adanya proliferasi dari trofoblas

Turgor kulit jelek
─ Amenore dan pendarahan per vaginam
Membran mukosa yang berilang muntah
kering

Kekurangan volume cairan


2. Data subjectif Faktor genetic Defisiensi protein Ansietas
─ Faktor ovum Keadaan sosio
Takut penyakit Ekonomi rendah
nya tidak akan
sembuh

Tidak dapat Jonjot – jonjot khorian tumbuh
beristirahat berganda dan mengandung cairan
dengan tenang.
Data objektif :
─ Adanya proliferasi dari trofoblas
Tampak tegang

Tampak bingung Perdarahan pervaginam yang berutang,
─ tegang, bingung, pucat, gelisah
Tampak pucat

Gelisah Ansietas

3. Data subjectif Faktor genetic Defisiensi protein Perubahan nutrisi


─ Faktor ovum Keadaan sosio Kurang dari
Tidak ada nafsu Ekonomi rendah Kebutuhan tubuh
makan

Muntah
Data objectif Jonjot – jonjot khorian yang tumbuh
─ berganda dan mengandung cairan
BB menurun

Tampak pucat Adanya proliferasi dari trofobias

Tampak lemah

10
─ Muntah, BB menurun, pucat, lemah,
Konjungtiva anoreksia.
anemis

Peubahan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebihan,


muntah, perdarahan per vaginam, tampak pucat, tampak lemah, turgor kulit jelek,
membrane mukosa kering.
2. ansietas berhubungan dengan krisis situasi berhubungan dengan takut
penyakitnya, tidak akan sembuh, tidak dapat beristirahat dengan tenang, tampak tegang,
tampak bingung, tampak pucat, gelisah.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, tidak ada nafsu makan, muntah, BB menurun, tampak pucat, tampak lemah,
konjungtiva anemis.

11
12
D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN/KH INTERVENSI RASIONAl
1. Kekurangan volume cairan Tujuan : 1. Ukur dan catat pemasukan 1. Dokumentasi
berhubungan dengan output yang Intake cairan dapat terpenuhi dan pengeluaran (Termasuk pengeluaran yang akurat akan membantu
berlebihan d/d secara optimal gastro intestinal). dalam mengidentifikasi
DS : Kh : pengeluaran cairan/kebutuhan
─ Muntah ─ Tidak penggantian dan pilihan – pilihan
─ Perdarahan muntah yang mempengaruhi intervensi.
per vaginam ─ Perdar 2. Berikan bantuan pengukuran 2. Meningkatkan
DO : ahan dapat teratasi berkemih sesuai kebutuhan, misalnya relaksasi otot perineal dan
─ Tampak pucat ─ Tidak privasi, posisi duduk, air yang mengalir, memudahkan upaya
─ Tampak pucat mengalirkan air hangat di atas pengosongan.
lemah ─ Tidak pernemeum.
─ Turgor kulit lemah 3. Pantau tanda – tanda vital.
jelek ─ Turgo 3. Hipotensi,
─ Membran r kulit normal takikardi, peningkatan
mukosa kering ─ Memb pernapasan mengidentifikasikan
rane mukosa lembab 4. Pantau suhu kulit palpasi kekurangan cairan misalnya
denyut perifer. dehidrasi/hidovolemia.
4. Kulit yang
dingin/lembab denyut yang
lemah mengndifikasikan
penurunan sirkulasi perifer dan
5. Kolaborasi dalam dibutuhkan untuk menggantian
memberikan cairan parenteral, produksi cairan tambahan.
darah atau plasma ekspander sesuai 5. Gantikan
pentunjuk, tingkatkan kecepatan IV sika kehilangan cairan yang telah di
diperlukan. dokumentasikan catat waktu
penggantian volume sirkulasi
yang potensial bagi penurunan
komplikasi misalnya
ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit oleh idrasi.

13
2. Ansietas berhubungan dengan krisis Tujuan : 1. Kaji tingkat ansietas dan 1. Identifikasi masalah
situasi d/d. Masa takut dan cemas dapat diskusikan penyebabnya bila mungkin. spesifik akan meningkatkan
DS : berkurang ke tingkat yang kemampuan individu untuk
─ Takut dapat di toleransi. menghadapinya dengan lebih
penyakitnya tidak akan sembuh KH : 2. Berikan waktu untuk relistis.
─ Tidak ─ Dapat mendengarkan pasien mengenai masalah 2. Selalu berada dengan
dapat beristirahat dengan tenang beristirahat dengan tenang. dan dorong ekspresi perasaan yang cara ini akan membuat pasien
DO : ─ tampa bebas, misalnya rasa marah, ragu, tacit, merasa di terima, mulai
─ Tampak k tenang dan sendiri. mengakui dan berhadapan
tegang ─ Tidak dengan perasaan yang
─ Tampak gelisah berhubungan dengan keadaan
pucat. 3. Validasi sumber rasa tajut, penerimaa.
─ Gelisah sediakan informasi yang akurat dan 3. Mengidentifikasi rasa
actual. takut yang spesifik akan
membantu pasien untuk
menghadapinya secara realitas.
4. Berikan pentunjuk/penjelasan 4. Ketidakseimbangan
yang sederhana pada pasien yang dari proses pemikiran akan
tenang, tinjau ulang lingkungan sesuai membuat pasien menemui
kebutuhan. kesulitan untuk memahami
pentunjuk yang berbelit – belit.
5. Kontrol stimuli eksternal 5. suara, gaduhan,
keributan dapat meningkatkan
6. Kolaborasi dengan ansietas.
rohaniawan/spiritual, spesialis, klinis 6. Konseling
perawat psikiatri, konsling psikiatri jika professional mungkin
diperlukan. dibutuhkan pasien untuk
mengatasi rasa takut.
3. Perubahan nutrisi kurang dari Tujuan : 1. Kaji penyebab tidak adanya 1. Mengetahui faktor
kebutuhan tubuh berhubungan dengan Intake nutrisi dapat terpenuhi nafsu makan. penyebab tidak ada nafsu makan
anoreksia d/d. secara optimal dan dapat mencari solusinya.
DS : KH : 2. Masukan makanan kesukaan 2. Membantu dalam
─ Tidak ada nafsu makan ─ Kemb dan pertahankan sedekat mungkin mempertahankan pemasukan,

14
─ Muntah ali nafsu makan dengan konsistensi makanan yang alami terutama pada saat terjadi
DO : ─ Tidak lembut atau halus dengan tambahan masalah, mulut dan dental
─ BB menurun muntah kuah atau air, hindari makanan bayi jika makanan bayi sering kali tidak
─ Tampak pucat ─ Tidak memingkunkan. enak dan dapat menurunkan
─ Tampak lemah pucat nafsu makan dan merendahkan
─ Konjungtiva anemis. ─ Tidak harga diri.
lemah 3. Berikan makanan dalam 3. Makanan dalam porsi
─ BB porsi sedikit tapi sering. sedikit tapi sering akan toleransi
bertambah lebih untuk memenuhi
─ Konju 4. Timbang berat badan 1 x kebutuhan gizi.
ngtiva normal sehari. 4. Untuk
mengidentifikasi kemajuan dan
penurunan intake nutrisi yang
5. Kolaborasi dengan ahli diharapkan.
gizi/nutrisi pendukung tim untuk 5. Metode makan dan
memberikan makanan yang mudah di kebutuhan kalori di dasarkan
cerna secara nutrisi seimbang. pada situasi/kebutuhan individu
untuk memberikan nutrisi
maksimal dengan upaya minimal
pasien penggunaan energi.

15
16
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Pengertian
Molahidatidosa adalah penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan
yang tidak disertai janin dan seluruh villi koriasilnya mengalami perubahan hidrofik
(Manuaba, 1998)
2. Klasifikasi
Molahidatidosa komlet (MHK), Molahidatidosa parsial (MHP).
3. Etiologi
Faktor ovum, faktor genetic, keadaan sosio ekonomi yang rendah, defisiensi protein, dll
4. Manifestasi Klinis
Mula, dan muntah yang menetap, ovarium biasanya nyeri tekan dan membesar, amonere
dan perdarahan per vaginam, perdarahan per vaginam bewarna coklat.
5. Komplikasi
Perdarahan yang hebat sampai syok, perdarahan berulang – ulang dapat menyebabkan
anemia, infeksi sekunder, ektansia.
6. Prognosi
Resiko kematian/kesakitan pada penderitan Molahidatidosa, meningkat karena
perdarahan, perforasi uterus, pre eklamsia, berat, tirotoksikosis atau infeksi.
7. pemeriksaan diagnostic
Anamnesis, perdarahan per vaginam/gambaran mola, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang.
8. Penatalaksanaan
Perbaikan keadaan umum, pengeluaran jaringan Molahidatidosa pengobatan profilaksis
dengan sitostatika (Kemoterapi).
adapun diagnosis yang dapat muncul pada Molahidatidosa:
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang
berlebihan.
2. ansietas berhubungan dengan krisis situasi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.

B. SARAN
Diharapkan kepada pembaca semua agar dapat mengerti dan memahami tentang
Molahidatidosa secara keseluruhan dan cepat menerapkan asuhan keperawatan dengan sebaik
mungkin.

17
18