Anda di halaman 1dari 43

KUMPULAN KARYA ILMIAH

Kamis, 23 Maret 2017

PERIODE SKOLASTIK ISLAM

Kurang lebih dua abad setelah Augustinus meninggal, agama Islam diturunkan di jazirah Arab.[1] Kalau
dilacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya ilmu tumbuh bersamaan dengan
munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasululllah Saw. menerima wahyu yang pertama, yang mula-mula
diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan
menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dari kata Iqra inilah kemudian lahir aneka makna seperti
menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang
tertulis maupun tidak. Wahyu pertam ini menghendaki umat Islam untuk senantiasa “membaca” dengan
dilandasi bismi rabbik dalam arti hasil bacaan itu nantinya dapat bermafaat untuk kemanusiaan.[2]

Kendati Islam sudah dikenal oleh dunia sejak awal abad VII Masehi, namun filsafat di kalangan kaum
Muslim baru dimulai pada awal abad VIII. Ini disebabkan karena pada abad pertama perkembangan
Islam tidak terdapat isme-isme atau paham-paham selain wahyu. Di kalangan kaum Muslim Filsafat
dianggap berkembang dengan baik mulai abad IX Masehi hingga abad XII. Keberadaan filsafat pada
masa ini juga menandai masa kegemilangan dunia Islam, yaitu selama masa Daulah Abbasiyah di Bagdad
(750-1258) dan Daulah Amawiyah di Spanyol (755-7492).[3]

Sejarah telah mencatat kemajuan peradaban Islam dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Para
ilmuwan muslim pada saat itu menjadi pioner pengetahuan sekitar delapan abad sebelum masa Galileo
Galilie (1564-1642) dan Copernicus (1473-1543). Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa prinsip-prinsip
dasar ilmu pengetahuan telah disusun oleh ilmuwan muslim jauh sebelum filsafat ilmu (philosophy of
science) terformulasi sebagai sebuah disiplin ilmu.

Selanjutnya perkembangan ilmu pengetahuan abad pertengahan Skolastik Islam dalam bukunya,
Hasbullah Bakry menerangkan bahwa istilah skolastik Islam jarang dipakai di kalangan umat Islam. Istilah
yang biasa dipakai adalah ilmu kalam atau filsafat Islam. Dalam pembahasan antara ilmu kalam dan
filsafat Islam biasanya dipisahkan.[4]

Skolastik Islam diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah pada abad 8 s/d 12 M. Sejak
hadirnya agama Islam dan munculnya peradaban baru yang bercorak Islam, ada perhatian besar kepada
karya -karya filsuf Yunani. Itu bukan tanpa alasan. Pada awal abad 8 krisis kepemimpinan melanda Timur
Tengah, amanat Nabi seperti terancam untuk menjadi pudar dan dalam situasi tak menentu itu
dikalangan pada mukmin munculah deretan panjang ahli pikir yang ingin berbuat sesuatu, berpangkal
pada penggunaan akal dan asas-asas rasional, dan menyelamatkan Islam.
Ciri utama dari skolastik Islam adalah dikajinya kembali pemikiran para filosof klasik, seperti Socrates,
Plato, dan terutama Aristoteles. Telaah-telaah pemikiran mereka, kemudian dikembangkan dan
disesuaikan untuk menjawab tantangan pada masa itu.

Tokoh-tokoh yang termasuk para ahli pikir Islam (pemikir Arab atau Islam pada masa Skolastik), yaitu Al-
Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd. Peranan para ahli pikir tersebut besar sekali, yaitu sebagai berikut
:

a. Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum pernah mengenal filsafat Aristoteles
sehingga yang dikenal hanya buku Logika Aristoteles.

b. Orang-orang Barat itu mengenal Aristoteles berkat tulisan dari para ahli pikir Islam, terutama dari
Ibnu Rusyd sehingga Ibnu Rusyd dikatakan sebagai guru terbesarPara ahli pikir Skolastik Latin.

c. Skolastik Islamlah yang membawakan perkembangan Skolastik Latin.

Tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja, tetapi para ahli pikir Islam tersebut memberikan sumbangan
yang tidak kecil bagi Eropa, yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan. Para ahli pikir Islam sebagian
menganggap bahwa filsafat Aristoteles benar, Plato dan Al-Qur‟an benar, mereka mengadakan
perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian masuk
ke Eropa yang merupakan sumbangan Islam paling besar. Bahkan menurut kajian Arkoun pemikiran
teologi Islam klasik sangat diwarnsai oleh pola pemikiran Yunani. Klasifikasi moral Al-Ghazali dalam Ihya
’Ulum al-Din juga tidak meninggalkan pola berpikir Yunani.[5] Dengan demikian, dalam pembahasan
skolastik Islam terbagi menjadi dua periode, yaitu:

a. Periode Mutakallimin (700 - 900);

b. Periode Filsafat Islam (850 - 1200).

Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum pernah mengenal filsafat Aristoteles secara
keseluruhan. Scholastik Islamlah yang membawakan perkembangan filsafat ke Barat. Orang-orang barat
mengenal Aristoteles adalah berkat tulisan dari pikir islam terutama dari Ibnu Rusyd. Yang dimaksud
dengan para ahli pikir islam ( periode Skolastik Islam ) yaitu, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali,
Ibnu Rusyd dan lainnya. Peran mereka sangat besar sekali tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja, akan
tetapi para ahli pikir Islam tersebut memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi Eropa, yaitu dalam
bidang ilmu pengetahuan.[6]

1) Al-Kindi ( 801-865 M )

Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya‟qub Ibn Ishaq Al-Kindi. Lahir di Kuffah pada tahun 796 M,
bertempat tinggal di Kindah Yaman dan meninggal di Baghdad tahun 873 M. Pada zaman dialah terjadi
penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab dan diduga ia pun aktif menerjemahkan
tersebut.[7] Al Kindi (nama latinnya Alkindus) menulis buku berkisar 241 buah di bidang fisika tentang
optika geometris, cabang fisika yang mempelajari jalan sinar, gelombang bunyi dan musik. Selain itu ia
menulis bidang kimia, geografi, kedokteran dan matematika. Beberapa abad kemudian karya-karya Al-
Kindi memberikan inspirasi bagi ilmuan Eropa seperti Roger Bacon.[8] Ia adalah pertama yang
memasukkan filsafat sebagai salah satu ilmu ke Islaman, setelah ia menyesuaikannya dengan Islam.

Al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. Filsafat ia
artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). Agama dalam pada itu juga
menjelaskan yang benar. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Selanjutnya filsafat dalam
pembahasannya memakai akal dan agama, dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai
argumen-argumen rasional. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya, Al-Kindi, berusaha memurmikan
keesaan Tuhan dari arti banyak.[9]

2) Al-Farabi (870-950 M)

Nama lengkapnya Abu Nasr Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzlagh al Farabi, lahir di Farab, Transoxania
pada tahun 872 dan meninggal pada tahun 950 M di Damsyik. Al-Farabi banyak berbicara mengenai
pemumian tauhid.[10]

Adapun pokok-pokok filsafat Al-Farabi sebagai berikut:

a) Metafisika Al-Farabi

Al-Farabi sependapat dengan Plato, yang menyatakan bahwa alam ini baharu, terjadi dari tiada. Tuhan
sebagai akal murni adalah wujud pertama, berfikir tentang dirinya sendiri. Maka lahirlah wujud kedua
yang disebut akal pertama. Tingkat wujudnya adalah wujud yang terendah adalah materi abstrak, tingkat
yang lebih tinggi dari itu adalah ketika materi itu menerima bentuk. Pertama yang berupa unsur-unsur
seperti api, air, tanah, wujud mineral yaitu seperti emas perak, besi, tembaga, dll.

b) Filsafat kenegaraan

Al-Farabi dalam bukunya Ara’ al-madinatul al-fadilah, menjelaskan pendapat tentang Negara utama, ia
membagi masyarakat kedalam dua macam. Pertama, masyarakat sempurna yaitu masyarakat yang
mengandung keseimbangan antara unsur-unsurnya, seperti keseimbangan yang ada dalam tubuh
manusia. Kedua, masyarakat yang tidak sempurna adalah masyarakat yang bodoh dan fasik serta hanya
mencari kesenangan jasmaninya saja. Mengenai etika kenegaraan, Al-Farabi mengemukakan teori
bahwa setiap keadaan pasti ada pertentangan. Seperti dalam alam hewani, yang kuat menindas yang
lemah.

3) Ibnu Sina ( 980-1037 M )

Abu Ali Husein Ibn bdillah Ibn Sina pada tahun 980 M di Afshanah, dekat Bukhara dan meninggal di
Isfahan pada tahun 1037 M. Di dunia barat ia dikenal dengan nama Avicenna dan kemasyurannya di
dunia barat sebagai dokter melampaui kemasyurannya sebagai filosof.Kegiatan intelektualnya ditujukan
untuk menggabungkan ajaran Aristoteles dan Neo-Platonisme. Dia menganut ajara Plotinos dan
mengatakan Allah menyelenggarakan dunia secara tidak langsung melalui intelektual aktif yang berasal
dari intelektual pertama.
Di bidang kedokteran ia menulis bukunya Al-Qanun yang meliputi semua yang bertalian dengan ilmu
kedokteran, seperti fisiologi, anatomi dan pengobatan. Ia mengatakan bahwa Tuhan itu adalah Al’Aqlu
(akal).

Karya terpentingnya adalah Qanun Al-Tibb menjadi buku teks selama sekitar lima abad di berbagai
perguruan tinggi Eropa. Dia juga melakukan analisis berbagai bentuk energi: panas, gerak, cahaya serta
analisis konsep gaya dan vakum.[11]

4) Al-Ghazali ( 1058-1111 M )

Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali lahir di Ghazelah, Khurasan
(Persia) pada tahun 1059 M. Di dunia barat abad pertengahan, ia dikenal dengan nama Abu Hamed dan
Al-Ghazalel.

a) Epistemology Al-Ghazali

Awalnya ia berpendapat bahwa pengetahuan adalah hal-hal yang ditangkap oleh panca indra. Ternyata
menurutnya panca indra juga berdusta, kemudia ia meletakkan kepercayaan pada akal. Namun ia juga
tetap ragu pada akal. Tiga bulan kemudian Allah memerikan nur yang disebut juga sebagai kunci ma‟rifat
kedalam hatinya. Dengan demikian Al-Ghazali percaya bahwa intuisi lebih tinggi dan lebih dipercaya
daripada akal untuk menangkap pengetahuan yang betul-betul diyakini.

b) Metafisika Al-Ghazali

Menurut Al-Ghazali ilmu tuhan adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat,
kalau terjadi tambahan atau prtalian dengan zat, zat tuhan tetap dalam keadaannya. Al-Ghazali membagi
manusia kepada tiga golongan, yaitu kaum awam, cara berfikir mereka sangat sederhana. Kaum pilihan,
cara berfikir mereka mendalam dan akal mereka tajam. Dan kaum pengingkar Jiwa dalam pandangan Al-
Ghazali. Menurut Al-Ghazali, setiap perbuatan akan menimbulkanpengaruh pada jiwa, yakni membentuk
kualitas jiwa, asalkan perbuatan itu dilakukan dengan sadar.

c) Kritikannya terhadap filosof

Al-Ghazali menentang menentang argument filsafat para filosof Yunani dan filosof Islam dalam banyak
masalah. Ia menentang dalil filsafat Aristoteles tentang azalinya alam. Dengan tegas ia katakan bahwa
alam berasal dari tidak ada menjadi ada ( creotio ex nihilo), sebab diciptakan oleh tuhan.

5) Ibn Rusyd ( 1126-1198 M )

Ibn Al-Whalid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Rusyd lahir di cordova pada tahun 1126 M. ia di kenal
dengan sebutan averroes , di dunia islam ia di kenal dengan ahli hukum dan filosof. Aliran filsafat Ibn
Rusyd adalah rasional. Ia menjunjung tinggi akal pikiran daan menghargai peranan akal. Karya-karya
ilmiahnya banyak membicarakan masalah kedokteran, astronomi dan fisika. Banyak kalangan
mengatakan bahwa rasionalitas Ibnu Rusyd telah mewarnai pemikiran keilmuan barat.[12]

a) Metafisika Ibn Rusyd


Dalam masalah ketuhanan, ia berpendapat bahwa Allah penggerak pertama. Sifat positif kepada Allah
adalah akal dan ma‟qul. Wujud Allah adalah Esa-Nya. Wujud dan ke Esaan-Nya tidak berbeda dari zat-
Nya. Ia menafsirkan agamapun dengan penafsiran rasional. Namun, ia tetap berpegang pada sumber
agama, yakni Al-Quran.

b) Tingkat kemampuan manusia menurut Rusyd

Pembuktian sesuatu memang dipengaruhi oleh kapasitas individual. Diantaranya ada yang melakukan
pembutian dengan cara demonstrasi , ada juga lewat dialektik, dan ada lagi melalui dalil reterik.

c) Tentang qadimnya alam semesta

Ibn Rusyd berpendapat bahwa alam adalah azali. Jadi, ada dua yang azali yaitu Tuhan dan alam. Namun
keazalian Tuhan lebih lama dari keazalian alam.

DAFTAR PUSTAKAB

Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum, Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Gadjah Mada University,
Yogyakarta, 2006

Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernis, Ar-Ruzz Media, JogJakarta,

Amin Abdullah, Filsafat Kalam di Era Postmodernisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009

Arqom Kuswanjono, Integrasi Ilmu & Agama ; Perspektif Filsafat Mulla Sadra, Badan Penerbit Filsafat
UGM, Yogyakarta, 2010, Hlm. 39

Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsfat dan Etika, Kencana , Jakarta, 2010

[1] Budiono Kusumohamidjojo, Op. Cit., Hlm. 47

[2] Amsal Bakhtiar, Op.Cit., Hlm. 32-33

[3] Ali Maksum, Loc. Cit

[4] Ibid., Hlm. 101

[5] Amin abdullah, Filsafat Kalam di EraPpostmodernisme, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 2009, Hlm. 49

[6] Ali Maksum, Op, Cit., Hlm. 103

[7] Juhaya S. Praja, Aliran-Alira Filsafat dan Etika, Jakarta, 2010, Hlm. 196
[8] Arqom Kuswanjono, Integritas Ilmu dan Agama; Prespektif Filsafat Mula Sadra, Badan Penerbit
Filsafat UGM, Jogjakarta, 2010, Hlm. 39

[9] Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum, Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Gadjah Mada University,
Jogjakarta, 2006, Hlm. 14-15

[10] Ibid., Hlm.15

[11] Arqom Kuswanjono, Op, Cit., Hlm, 42

[12] Ibid., Hlm. 42

Diposting oleh Julrakatesya Paqies di 22.59

Kirimkan Ini lewat Email

BlogThis!

Berbagi ke Twitter

Berbagi ke Facebook

Bagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih BaruBeranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Julrakatesya Paqies

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

▼ 2017 (2)

► April (1)

▼ Maret (1)

PERIODE SKOLASTIK ISLAM


Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.

Afid Burhanuddin

Filsafat Masa Abad Pertengahan

Afid Burhanuddin Afid Burhanuddin

6 tahun lalu

Pemikiran filsafat banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Namun, pada dasarnya filsafatbbaik di Barat,
India, dan Cina muncul dari yang sifatnya religius. Di Yunani dengan mitosnya, di India dengan kitabnya
Weda (Agama Hindu), dan di Cina dengan Confusiusnya. Di Barat mitos dapat lenyap sama sekali dan
rasimyang menonjol, sedangkan di India filsafat tidak pernah bisa lepas dengan induknya dalam hal ini
agama Hindu. Pembagian filsafat Barat adalah zaman Kuno, zaman Abad Pertengahan, zaman Modern,
dan Masa kini. Aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme,
Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Pragmatisme, dan Neo-Kantianianisme dan Neo-tomisme.

Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainan
terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau
harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik.

Periode Filsafat yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani dan
menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat yunani telah menyebar dan mempengaruhi
di berbagai bangsa diantaranya adalah bangsa Romawi, karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di
daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa Romawi yang semula beragama kristen dan kemudian kemasukan
filsafat merupakan suatu formulasi baru yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga munculah
filsafat Eropa yang tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani.

Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) bisa dikatakan abad kegelapan, karena pihak gereja
membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa
berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan keyakinan. Secara
garis besar filsafat abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode yaitu: periode Scholastic Islam
dan periode Scholastik Kristen.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sejarah perkembangan ilmu khususnya pada abad
pertengahan.secara detail. Untuk memahami perbedaan dengan masa-masa perkembangan ilmu secara
periodik lainnya. Penjelasan lebih lanjut, dapat dilihat pada bab pembahasan.

Perkembangan Ilmu pada Zaman Abad Pertengahan

Zaman abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan pada masa itu hampir semua adalah teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan
aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah anchilla theologia atau abdi
agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada
masa ini.

Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan
itu terutama terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh Nabi Isa as.
Pada permulaan Abad Masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan.

Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang
merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan
bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.

Adapun pemikiran Yunani yaitu: golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran
Yunani merupakan pemikiran orang kafir, karena tidak mengikuti wahyu. Menerima filsafat Yunani yang
mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan, kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan
yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran yang sejati maka akal dapat
dibantu oleh wahyu.

Filasafat Yunani yang mengeluarkan banyak pemikir ulung, memiliki tempat yang cukup berpengaruh
pada perkembangan ilmu filsafat di abad pertengahan. Pada masa itu, perkembangan kehidupan di
dunia tidak bisa lepas dari dua agama besar yang saat itu saling mempengaruhi, Islam dan Nasrani.
Masyarakat tersebut memiliki kontribusi besar dalam perkembangan dunia selanjutnya.
Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) bisa dikatakan abad kegelapan, karena pihak gereja
membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa
berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila
terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut
dianggap murtad dan akan dihukum berat sampai pada hukuman mati.

Periode-Periode pada Zaman Abad Pertengahan

Filsafat pada zaman Abad Pertengahan mengalami dua periode berikut.

Periode Patristik

Petristik berasal dari kata Latin patres yang berarti bapa-bapa Gereja, ialah ahli-ahli agama Kristen pada
abad permulaan agama Kristen.

Periode ini mengalami dua tahap:

Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani,
maka agama kristen memantapkan diri. Keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan dogma-
dogma.

Filsafat Agustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik. Agustinus
melihat dogma-dogma sebagai suatu kesluruhan. (Endang Daruni Asdi, 1978, hlm 1-2) dikutip dari
Surajiyo (2010: 85)

Periode Skolastik

Pada periode ini dibagi menjadi dua periode yaitu periode skolastik Kristen dan periode skolastik Islam.

Periode Skolastik Kristen


Periode ini disebut juga periode skolastik Kristen. Periode skolastik berlangsung dari tahun 2008-1500 M.
Periode ini dibagi menjadi tiga tahap:

Periode skolastik awal (abad ke-9-12)

Ditandai oleh pembentukan metode-metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan
filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang Universalia. Masa ini merupakan
kebagkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi berfilsafat, karena berfilsafat
sangat membahayakan bagi agama Kristen khususnya pihak gerejawan dan yang ditonjolkan dalam masa
ini adalah hubungan antara agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan, dan dengan
keduanya manusia akan memporoleh pengetahuan yang lebih jelas. Tetapi masa ini filsafat masih
bertumpu pada alam pikiran dan karya-karya kristiani. Masa ini juga berdiri sekolah-sekolah yang
menerapkan studi duniawi meliputi: tata bahasa, retorika, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu
perbintangan dan musik. Sekolah yang mula-mula ada di biara Italia selatan ini akhirnya berpengaruh ke
daerah-daerah yang lain.

Periode puncak perkembangan skolastik ( abad ke-13)

Ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan Yunani,
puncak perkembangan pada Thomas Aquinas. Pada masa ini Scholastik mengalami kejayaan yang
berlangsung dari tahun 1200-1300 M, disebut juga dengan masa yang berbunga dan bertumbuh
kembang, karena muncul banyak Universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarkan pendidikan ilmu
pengetahuan.

Ada beberapa faktor kenapa pada masa ini Scholastic mencapai keemasan yaitu:

Pengaruh dari Aristoteles dan ahli fikir Islam sejak abad ke 12 sehingga pada abad ke 13 telah tumbuh
ilmu pengetahuan yang luas.

Berdirinya beberapa Universitas.

Munculnya ordo-ordo yang membawa dorongan kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada
abad ke-13.

Masa ini juga ada sorang filofos Agustinus yang menolak ajaran Aristoteles karena sudah dicemari oleh
ahli fikir Islam, dan hal ini sangat membahayakan ajaran Kristen, maka Abertus Magnus dan Thomas,
sengaja menghilangkan unsure-unsur atau selipan-selipan dari Ibnu Rusyd. Upaya Thomas Aquinas yang
berhasil ini sehingga menerbitkan buku yang berjudul Summa Theologie, yang merupakan bukti
kemenangan ajaran Aris Toteles deselaraskan dengan ajaran Kristen.

Periode skolstik akhir (abad ke-14-15)

Ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang ke arah nominalisme, ialah aliran yang
berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum
mengenai adanya sesuatu hal. Pengertian umum hanya momen yang tidak mempunyai nilai-nilai
kebenaran yang objektif. (Endang Daruni Asdi, 1987, hlm.3) dikutip dari Surajiyo (2010: 86). Masa ini
ditandai denga kemalasan berfikir filsafat, sehingga menjadi stagnasi pemikiran filsafat Scholasti Kristen,
Nicolous Cusanus (1401-1404 M) adalah tokoh yang terkenal pada masa ini, dan sebagai tokoh pemikir
yang terakhir pada masa Scholastik. Menurut pendaptnya terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat
indera, dan kedua lewat akal, dan ketiga lewat intuisi. Dengan indera manusia mendapatkan
pengetahuan tentang benda-benda yang berjasad (sifatnya tidak sempurna). Dengan akal manusia bisa
mendapatkan bentuk yang abstrak yang telah ditangkap oleh indera. Dan yang ketiga intuisi, dalam
intuisi manusia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi, karena dengan intuisi manusia dapat
mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Karena keterbatasan akal itu sendiri maka
dengan intuisiah diharapkan sampai pada kenyataan, yaitu Tuhan.

Periode skolastik Islam

Para Scholastic Islamlah yang pertama mengenalkan filsafatnya Aristoteles diantaranya adalah Ibnu
Rusyd, ia mengenalkan kepada orang-orang barat yang belum mengenal filsafat Aristoteles. Para ahli fikir
Islam (Scholastik Islam) yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Rusyd dll. Mereka itulah yang
memberi sumbagan sangat besar bagi para filosof eropa yang menganggap bahwa filsafat Aristoteles,
Plato, dan Al-Quran adalah benar. Namun dalam kenyataannya bangsa eropa tidak mengakui atas
peranan ahli fikir Islam yang menghantarkan kemoserenan bangsa barat.

Tokoh-Tokoh Filsafat pada Zaman Abad Pertengahan


Tokoh Filsafat Islam di Dunia Islam Barat

Ibnu Bajjah (1082-1138 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya Ibn Al-Sha’igh Al-Tujibi Al-Andalusi Al-
Samqusti Ibn Bajjah. Ibn bajjah dilahirkan di Saragossa, andalus pada tahun 475 H (1082 M).

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : metafisika, teori pengetahuan, filsafat akhlaq, dan
Tadbir al-mutawahhid.

Ibnu Tufail (1082-1138 M)

Nama lengkapnya adalah abu bakar Muhammad Ibn Abd Al-Malik Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn
Thufail Al-Kaisyi. Di barat dikenal dengan abu bacer.

Ibn Rusyd 520 H/1134 M (Teori Kebenaran Ganda)

Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, 1126 – Marrakesh, Maroko, 10 Desember 1198) dalam bahasa
Arab Ibnu Rasyid dan dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia). Salah
satu Pemikiran Ibn Rusyd adalah ia membela para filosof dan pemikiran mereka dan mendudukkan
masalah-masalah tersebut pada porsinya dari seranga al-Ghazali.Untuk itu ia menulis sanggahan
berjudul Tahafut al-Tahafut.

Filsafat Islam Di Dunia Islam Timur.

Al-Ghazali / 1050-1111 M (Tahafutut al-Falasifah)

Pokok pemikiran dari al-Ghozali adalah tentang Tahafutu al-falasifah (kerancuan berfilsafat) dimana al-
Ghazali menyerang para filosof-filosof Islam berkenaan dengan kerancuan berfikir mereka. Tiga
diantaranya, menutur al-Ghazali menyebabkan mereka telah kufur, yaitu tentang : Qadimnya Alam,
Pengetahuan Tuhan, dan Kebangkitan jasmani.
Suhrawardi / 1158-1191 M (Isyraqiyah / Illuminatif)

Pokok pemikiran Suhrawardi adalah tentang teori emanasi, ia berpendapat bahwa sumber dari segala
sesuatu adalah Nuur An-Nuur (Al-Haq) yaitu Tuhan itu sendiri. Yang kemudian memancar menjadi Nuur
al-Awwal, kemudian memancar lagi mejadi Nuur kedua, dan seterusnya hingga yang paling bawah (Nur
yang semakin tipis) memancar menjadi Alam (karena semakin gelap suatu benda maka ia semakin
padat).Pendapatnya yang kedua adalah bahwa sumber dari Ilmu dan atau kebenaran adalah Allah, alam
dan Wahyu bisa dijadikan sebagai perantara (ilmu) oleh manusia untuk mengetahui keberadaan Allah.

Ibnu Khaldun (1332 M-1406 M)

Khaldun membuat karya tentang pola sejarah dalam bukunya yang terkenal: Muqaddimah, yang
dilengkapi dengan kitab Al-I’bar yang berisi hasil penelitian mengenai sejarah bangsa Berber di Afrika
Utara. Dalam Muqaddimah itulah Ibnu Khaldun membahas tentang filsafat sejarah dan soal-soal prinsip
mengenai timbul dan runtuhnya negara Dalam pemikiran Ibnu Khaldun tentang filsafat, tampaknya ingin
mengatakan bahwa sejarah memberikan kekuatan intuisi dan inspirasi kepada filsafat, sedangkan filsafat
menawarkan kekuatan logika kepada sejarah. Dengan begitu, seorang sejarawan akan mampu
memperoleh hasil yang relatif valid dari proses penelitian sejarahnya denga. Dasar sejarah filsafatnya
adalah :

Hukum sebab akibat yang menyatakan bawa semua peristiwa, termasuk peristiwa sejarah, berkaitan satu
sama lain dalam suatu rangkaian hubungan sebab akibat.

Bahwa kebenaran bukti sejarah tidak hanya tergantung kepada kejujuran pembawa cerita saja akan
tetapi juga kepada tabiat zaman. Karena hal ini para cendekiawan memberinya gelar dan titel
berdasarkan tugas dan karyanya serta keaktifannya di bidang ilmiah

Al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash‘ats bin Qais al-Kindi.
Ia seorang filosof muslim yang pertama. Kindah adalah salah satu suku Arab yang besar pra-Islam.
Kakeknya Al-Ash’ats ibn Qais, memeluk Islam dan dianggap sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW.
Menurut al-Kindi filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam, oleh karena itu para
sejarawan Arab awal menyebutnya “filosof Arab”. Menurutnya batasan filsafat yang ia tuangkan dalam
risalahnya tentang filsafat awal adalah “filsafat” adalah pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu
dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai
kebenaran dan dalam prakteknya ialah menyesuaikan dengankebenaran. Pemikiran filsafatnya berikisar
tentang masalah : Relevansi agama dan filsafat, fisika dan metafisika (hakekat Tuhan bukti adanya Tuhan
dan sifat-sifatNya), Roh (Jiwa), dan Kenabian.
Abu Bakar Ar-Razi (865-925 M)

Nama lengkapnya adalah abu bakar muhammad ibn zakaria ibn yahya al-razi. Pemikiran filsafatnya
berikisar tentang masalah : Akal dan agama (penolakan terhadap kenabian dan wahyu), prinsip lima yang
abadi, dan hubungan jiwa dan materi.

Al-Farabi (870-950 M)

Al-Farabi Nama lengkapnya Abu Nash al-Farabi, lahir pada tahun 258 H / 870 M di Farab, meninggal pada
tahun 339 H / 950 M. Sejarah mencatatnya sebagai pembangun agung sistem filsafat, dimana ia telah
membaktikan diri untuk berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan
masyarakat. Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskosi,
keterangan dan penalarannya. Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : kesatuan filsafat,
metafisika (hakekat Tuhan), teori emanasi, teori edea, Utopia jiwa (akal), dan teori kenabian.

Ibnu Maskawih (932-1020 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawih. Ia lahir di kota Ray
(Iran) pada 320 H (932 M) dan wafat di Asfahan pada 9 safar 421 H (16 Februari 1030 M). Pemikiran
filsafatnya berikisar tentang masalah : filsafat akhlaq, dan jiwa.

Ibnu Sina (980-1037)

Ia dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran
Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin
‘Abdullāh bin Sīnā. Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah
Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Pemikiran
filsafatnya berikisar tentang masalah : fisika dan metafisika, filsafat emanasi, filsafat jiwa (akal), dan teori
kenabian.

Filsafat Islam Setelah Ibnu Rushdi


Nashirudin Thusi

Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad Ibn Muhammad Al-Hasan Nashir Al-Din Al-Thuai Al-
Muhaqqiq. Ia lahir pada 18 Februari 1201 M / 597 H di Thus, sebuah kota di Khurasan. Diantara
filsafatnya adalah tentang metafisika, jiwa, moral, politik, dan kenabian.

Shuhrawardi al-Maqtul

Nama lengkapnya adalah Syeikh Shihab Al-Din Abu Al-Futuh Yahya Ibn Habasy Ibn Amirak Al-Suhrawardi,
ia dilahirkan di suhraward, Iran barat laut, dekat zan-jan pada tahun 548 , Diantara filsafatnya adalah
tentang metafisika dan cahaya, epistimologi, kosmologi, dan psikologi.

Mulla shadra

Nama lengkapnya Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami Siyrazi, sering disebut shadr al-din al-sirazi
atau akhund mulla shadra. Dikalangan murid-muridnya diokenal dengan shadr al-mutti’allihin. Ia
dilahrikan di syiraz pada tahun 979 H/980 H atau 1571 /1572 M dari sebuah keluarga terkenal lagi
berpengaruh. Diantara filsafatnya adalah tentang metafisika, epistimologi, dan fisika

Muhammad Iqbal

Dr.Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot, Wilayah Punjab (pakistan barat) pada tahun 1877. Iqbal
berasal dari keluarga Brahma Kashmir, tetapi nenek moyang Muhammad Iqbal telah memeluk islam 200
tahun sebelum Ia dilahirkan. Ayah muhammad Iqbal, Nur Muhammad adalah penganut islam yang taat
dan cenderung ke pada ilmu tasawuf. Diantara filsafatnya adalah tentang ego dan khudi, ketuhanan,
materi dan kausalitas, moral, dan insan al-Kamil.

Adapun tokoh-tokoh filsafat pada abad pertengahan antara lain:

1. Plotinus ( 204-270 )

Plotinus adalah filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Ia mengajukan teori
emanasi yang terkenal itu. Teori ini diikuti oleh banyak filosof Islam. Teori itu merupakan jawaban
terhadap pertanyaan Thales kira-kira delapan bad sebelumnya: apa bahan alam semesta ini. Plotinus
menjawab: bahannya Tuhan. Filsafat Plotinus kebanyakan bernapas mistik, bahkan tujuan filsafat
menurut pendapatnya adalah mencapai pemahaman mistik. Permulaan abad pertengahan barangkali
dapat dikatakan dimulai sejak Plotinus. Karena pengaruh agama Kristen kelihatannya sangat besar;
filsafatnya berwatak spiritual. Secara umum ajaran plotinus di sebut Plotinisme atau neoplatonisme. Jadi,
ajaran plotinus tentulah berkaitan erat dengan ajaran Plato. Pengaruhya jelas sangat besar, pengaruh itu
ada pada teologi kristen, juga pada renaissance. Kosmologi Plotinus cukup tinggi, terutama dalam
kedalaman spekulasinya dan daya imajinasinya. Dan pandangan mistis merupakan ciri filsafatnya.

Metafisika Plotinus

Dalam berbagai hal Plotinus memang bersandar pada doktrin-doktrin Plato. Sama dengan Plato, ia
menganut realitas idea,. Pada Plato idea itu umum: artinya setiap jemis objek hanya ada satu idenya.
Pada Plotinus idea itu partikular, sama dengan dunia partikular. Perbedaan mereka yang pokok ialah
pada titik tekan ajaran mereka masing-masing.

Sistem metafisika Plotinus di tandai dengan konsep transendens. Menurut pendapatnya dalam pikiran
terdapat tiga realitas : The One, The Mind, The Soul.

The One ( Yang Esa ) adalah Tuhan dalam pandangan philo(Avey: 49), yaitu suatu realitas yang tidak
mungkin dapat di pahani melalui metode sains dan logika. ia berada di luar eksistensi, diluar segala nilai.
Yang Esa itu adalah puncak semua yang ada; Ia itu cahaya di atas cahaya. Kita tidak mungkin mengetahui
esensinya; kita hanya mengetahui bahwa ia itu pokok atau prinsip yang berada di belakang akal dan jiwa.
Ia adalah pencipta semua yang ada. Mereka merasa memiliki pengetahuan keilahian juga tidak akan
dapat merumuskan apa Ia itu sebenarnya (lihat Mayer: 323).

The Mind ( Nous ) (lihat Runes: 215) adalah gambaran tentang Yang Esa dan di dalamnya mengandung
idea-idea Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asli objek-objek. Kandungan Nouns adalah benar-benar
kesatuan. Untuk menghayatinya kita harus melaui perenungan.

The Soul ( psykhe ) merupakan arsitek dari semua fenomena yang ada di alam, soul itu mengandung
satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, ia adalah energi di
belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta. Jiwa manusia juga
mempunyai dua aspek: yang pertama intelek yang tunduk pada reinkarnasi, dan yang kedua adalah
irasional.

Tentang Ilmu

Idea keilmuan tidak begitu maju pada Plotinus; ia menganggap sains lebih rendah dari metafisika,
metafisika lebih rendah dari pada keimanan. Surga lebih berarti dari pada bumi, sebab syurga itu tempat
peristirahatan jiwa yang mulia. Bintang-bintang adalah tempat tinggal dewa-dewa. Ia juga mengakui
adanya hantu-hantu yang bertempat diantara bumi dan bintang-bintang. Semua ini memperlihatkan
rendahnya mutu sains Plotinus.

Tentang Jiwa

Menurut Plotinus jiwa adalah kekuatan Ilahiah, jiwa merupakan sumber kekuatan. Alam semesta berada
didalam jiwa dunia. Jiwa tidak dapat di bagi secara kuantitatif karena jiwa itu adalah sesuatu yang satu
tanpa dapat di bagi. Alam semesta ini merupakan unit-unit yang juga tidak dapat di bagi. Jiwa setiap
individu adalah satu, itu di ketahui dari kenyataan bahwa jiwa itu ada di setiap tempat di badan. Bukan
sebagian di sana dan sebagian disini pada badan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa jiwa anda sama
dengan jiwa saya, berarti jiwa hanya satu, jiwa itu individual.

Etika dan Estetika Plotinus

Etika Plotinus dimulai dengan pandangannya tentang politik. Ia mengatakan bahwa seseorang adalah
wajar memenuhi tugas-tugasnya sebagai warga negara sekalipun ia tidak tertarik pada masalah politik.

Keindahan bagi Plotinus adalah memiliki arti spritual, karena itu estetika dekat sekali dengan kehidupan
moral. Esensi keindahan tidak terletak pada harmoni dan simetri. Keindahan itu menyajikan keintiman
dengan Tuhan yang Maha Sempurna.

Bersatu Dengan Tuhan

Tujuan filsafat Plotinus ialah terciptanya kebersatuan dengan Tuhan. Caranya ialah pertama-tama dengan
mengenal alam melalui alat indra, dengan ini kita mengenal keagungan Tuhan, kemudian kita menuju
jiwa dunia, setelah itu menuju jiwa ilahi. Jadi perenuangan itu dimulai dari perenungan tentang alam
menuju jiwa ilahi, objeknya dari yang jamak kemudian kepada Yang Satu. Dalam perenungan terakhir itu
terjadi keintiman, tidak terpisah lagi antara yang merenung dengan yang direnungkan (Mayer: 332).

Kedudukan Plotinus

Sebelum filsafat kuno mengakhiri zamannya, seorang filosof membangun sebuah sistem yang disebut
neo-Plotonisme. Jelas ia adalah seorang metafisikawan yang besar. Orang itu adalah Plotinus. Nama ini
sering tertukar dengan nama Plato, yang ajarannya diperbaharuinnya dengan menggunakan nama neo-
Platonisme.
2. Augustinus ( 354 – 430 )

Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua pool, Tuhan dan manusia. Akan tetapi dapat
dikatakan bahwa seluruh ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan. Kesimpulan ini di ambil karena ia
mengatakan bahwa ia hanya ingin mengenal Tuhan dan Roh, tidak lebih dari itu (Encylopedia Americana:
2: 686).

Ia yakin benar bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, karena itu ia menolak skeptisisme. Ia
mengatakan bahwa setiap pengertian tentang kemungkinan pasti mengandung kesungguhan. Ia
sependapat dengan Plotinus yang mengatakn bahwa Tuhan itu diatas segala jenis (catagories). Sifat
Tuhan yang paling penting ialah kekal, bijaksana, maha kuasa, tidak terbatas, maha tahu, maha
sempurna dan tidak dapat diubah. Tuhan itu kuno tetapi selalu baru, Tuhan adalah suatu kebenaran yang
abadi.

Teori Pengetahuan

Agustinus menolak teori kemungkinan. Kita, katanya, tidak pernah dituntun oleh ukuran relatif. Tentang
penolakannya terhadap teori kemungkinan dari septisisme, inilah argumennya. Saya tahu bahwa saya
tahu dan mencinta. Bagaimana jika Anda bersalah? Saya bersalah, jadi saya ada. Kesalahan saya
membuktikan adanya saya. Jika saya tahu bahwa saya tidak bersalah, saya pun tahu bahwa saya ada.
Saya mencintai diri saya, baik tatkala saya bersalah maupun tatkala saya tidak bersalah, kedua-duanya
tidaklah palsu. Bila kedua-duanya palsu, berarti saya mencintai objek yang palsu, jadi saya mencintai
objek yang tidak ada. Akan tetapi, karena saya benar-benar ada, karena saya bersalah atau tidak
bersalah, maka saya mencintai objek yang benar-benar ada, yaitu saya. Tidak ada orang yang tidak ingin
bahagia; semua orang ingin bahagia, jadi tidak ada orang yang ingin tidak ada sebab bagaimana mungkin
seseorang memiliki kebahagiaan sementara ia tidak ada (lihat Mayer: 358).
Teori tentang Jiwa

Agustinus menentang ajaran yang mengatakan bahwa jiwa itu material. Menurut pendapatnya jiwa atau
roh itu material. Agustinus membuktikan imaterialnya jiwa dengan mengatakan bahwa jiwa itu di dalam
badan, ada di mana-mana dalam badan pada waktu yang sama. Bila jiwa itu material, ia akan terikat
pada tempat tertentu dalam badan. Hanya dengan mengatakan bahwa jiwa itu imaterial kita dapat
menjelaskan kegiatan jiwa di dalam badan (Mayer: 359). Menurut Agustinus, jiwa tidak mempunyai
bagian karena ia imaterial. Akan tetapi, jiwa mempunyai tiga kegiatan pokok: pertama; mengingat,
kedua; mengerti, ketiga; mau. Oleh karena itu, memiliki atau menggambarkan ketritunggalan alam (the
cosmic trinity).

Peran Penting Augustinus

Augustinus di anggap telah meletakan dasar-dasar pemikiran abad pertengahan, mengadaptasikan


platonisme ke dalam idea-idea kristen, memberikan formulasi sistematis tentang filsafat kristen. filsafat
Augustinus merupakan sumber atau asal usul reformasi yang dilakukan oleh protestan, khususnya pada
Luther, Zwingli dan Calvin. Kutukannya kepada seks, pujiannya kepada kehidupan petapa, pandangannya
tentang dosa asal, semuanya merupakan faktor yang memeberikan kondisi untuk wujud pandangan-
pandangan Abad pertengahan. Paham teosentris Augustinus menghasilkan suatu revolusi dalam
pemikiran orang barat. Anggapanya yang meremehkan pengetahuan duniawi, kebenciannya kepada
teori-teori kealaman dan imannya kepada Tuhan tetap merupakan bagian peradaban modern. Sejak
zaman Augustinuslah orang barat lebih memiliki sifat instropektif. Karena Augustinuslah diri dalam
hubungannya dengan Tuhan menjadi penting dalam filsafat.

3. Boethius

Boethius adalah philosof yang semasa dengan Augustinus dan memiliki gaya yang hampir serupa.
Bukunya yang berjudul The Consolation of Philosophy, merupakan buku filsafat yang klasik. Selain buku
itu ia juga menulis karya-karya yang berpengaruh pada abad pertengahan. Ia dikatakan sebagai penemu
quadrium yang merupakan bidang studi poko pada abad pertangahan. Ia dianggap sebagai filosof
skolastik yang pertama, karena ia berpandapat bahwa filsafat merupakan pendahulu kepada agama.
Sesudah boethius, eropa mulai mengalami depresi besar-besaran. Menurunnya kebudayaan latin,
tumbuhnya materialisme agama, munculnya feodalisme, invasi besar-besaran, munculnya
supranaturalisme baru, semuanya merupakan faktor yang dapat menghasilkan kekosongan intelektual.
Semua para ilmuwan pada waktu itu lebih tertarik pada teologi daripada filsafat, dan mereka
mempertahankan dogma-dogma kristen.
Asal istilah abad kegelapan adalah penggunaan untuk menunjukan periode pemikiran pada tahun 1000-
an, yaitu antara masa jatuhnya imperium Romawi dan Renaissance abad ke-15. Seorang tokoh yang
terkenal abad ini adalah St. Anselmus dialah yang mengeluarkan pernyataan credo ut intelligam yang
dapat dianggap sebagai ciri utama abad pertengahan. Sekalipun pada umumnya filosof abad
pertengahan berpendapat seperti itu (mengenai hubungan akal dan iman), Anselmulah yang diketahui
mengeluarkan pernyataan itu.

4. Anselmus ( 1033-1109 )

Anselmus, Uskup Agung Canterbury, lahir di Alpen, Italia, sekitar tahun 1033. Ia menolak keinginan
ayahnya agar ia meniti karier di bidang politik dan mengembara keliling Eropa untuk beberapa tahun
lamanya. Seperti anak-anak muda lainnya yang cerdas dan bergejolak, ia bergabung ke biara. Di biara
Bec, Normandia, di bawah asuhan seorang guru yang hebat, Lanfranc, Anselmus memulai karier yang
patut dicatat.

Di dalam filsafat Anselmus kelihatan iman merupakan tema sentral pemikirannya. Iman kepada Kristus
adalah yang paling penting sebelum yang lain. Dari sini dapatlah kita memahami pernyataannya, credo
ut intelligam (believe in order to understand/percayalah agar mengerti). Ungkapan itu menggambarkan
bahwa ia mendahulukan iman daripada akal. Iapun mengatakan wahyu harus diterima dulu sebelum kita
mulai berfikir. Kesimpulannya akal hanyalah pembantu wahyu.

Anselmus berpegang pada motto yang juga dipegang Agustinus, “Saya percaya agar dapat mengerti.”
Yang ia maksudkan dengan pernyataan itu adalah bahwa tanpa wahyu, tidak ada kebenaran karena itu
mereka yang mencari kebenaran harus beriman dahulu pada wahyu tersebut. Ia mengemukakan
argumentasi ontologi (informasi yang dapat mengarah ke penemuan sesuatu yang penting) untuk
percaya kepada Allah. Singkatnya, ia menyatakan bahwa rasio manusia membutuhkan ide mengenai
suatu Pribadi yang sempurna (Allah), oleh sebab itu Pribadi tersebut harus ada. Ide ini telah menawan
hati banyak filsuf dan teolog sepanjang masa.

Pembuktian Adanya Tuhan

Anselmus mencoba memberikan dua cara untuk membuktikan bahwa Allah/ Tuhan memang ada:
Melihat Adanya Hal-hal yang Terbatas, yang mengandaikan adanya hal-hal yang tidak terbatas. Demikian
juga halnya dengan yang besar secara relatif mengandaikan juga adanya hal-hal yang besar secara
mutlak. Beradanya “yang ada” secara relatif mengandaikan beradanya “ yang ada secara mutlak, yakni
Allah.

2. Penguraian. Menurut Anselmus, apa yang kita sebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih
besar dari segala sesuatu yang bisa kita pikirkan. Apabila kita berbicara tentang Allah, yang kita
maksudkan ialah suatu pengertian yang lebih besar dari pada apa saja yang dapat kita pikirkan. Dengan
begitu pengertian “Allah” yang ada di dalam rumusan pemikiran kita adalah lebih besar daripada apa
saja yang ada di dalam pikiran. Apa yang di dalam pikiran ada sebagai yang tertinggi atau yang lebih
besar, tentu juga berada di dalam kenyataan sebagai yang tertinggi dan yang terbesar

5. Thomas Aquinas (1225-1274)

Berdasarkan filsafatnya pada kepastian adanya Tuhan. Aquinas mengatahui banyak ahli teologi percaya
pada adanya Tuhan hanya berdasarkan pendapat umum. Menurut Aquinas, eksestensi Tuhan dapat
diketahui dengan akal. Untuk membuktikan. Ia mengajukan lima dalil (argumen) untuk membuktikan
bahwa eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal, seperti sebagai berikut ini :

Argumen Gerak

Diangkat dari sifat alam yang selalu bergerak. Setiap yang bergerak pasti di gerakan oleh yang lain, sebab
tidak mungkin suatu perubahan dari potensialitas ke aktualitas bergerak tanpa ada penyebabnya, dari
sini dapat dibuktikan bahwa Tuhan itu ada.

2. Sebab yang Mencukupi (efficient cause)

Sebab pasti menghasilkan musabab, tidak ada sesuatu yang mempunyai sebab pada dirinya sendiri
sebab. Itu berarti membuang sebab sama dengan membuang musabab, olehkarena itu dapat
disimpulkan bahwa Tuhanlah yang menjadi penyebab dari semua musabab.

3. Kemunginan dan Keharusan (possibility and necessity)

Kalau demikian, harus ada Sesuatu Yang ada sebab tidak mungkin muncul yang ada bila ada Pertama itu
tidak ada. Sebab, bila pada suatu waktu tidak ada sesuatu, maka tidak mungkin muncul sesuatu yang
lain. Jadi, Ada Pertama itu harus ada karena adanya alam dan isinya ini. Akan tetapi, Ada Pertama itu,
Ada yang harus ada itu, dari mana? Terjadi lagi rangkaian penyebab. Kita harus berhenti pada Penyebab
yang harus ada; itulah Tuhan.

4. Memperhatikan Tingkatan yang Terdapat pada Alam

Isi alam ini masing-masing berkelebihan dan berkekurangan, misalnya ada yang indah, lebih indah dan
terindah. Dengan demikian sebab tertinggi menjadi sebab tingkatan di bawahnya. Maha sempurna,
Maha Benar adalah Tuhan sebagai tingkatan tertinggi.

Pandangan Aquinas tentang jiwa amat sederhana. Katanya, jiwa dan raga mempunyai hubungan yang
pasti: raga menghadirkan matter dan jiwa menghadirkan form yaitu prinsip-prinsp hisup yang aktual.
Kesatuan antara jiwa dan raga bukanlah terjadi secara kebetulan. Kesatuan itu diperlukan untuk
terwujudnya kesempurnaan manusia. Yang dimaksud jia oleh Aquinas ialah kapasitas intelektual dan
kegiatan vital kejiwaan lainnya. Oleh karena itu Aquinas mengatakan bahwa manusia adalah makhluk
yang berakal.

Menurut Aquinas etika adalah:

 Dasar kebaikan adalah kemurahan hati (charty) yang menurut Aquinas lebih dari kedermawanan
atau belas kasihan.

 Kehidupan petapa (ascetic) memainkan peranan yang kuat didalam etikanya. Oleh karena itu ia
setuju dengan pendapat St. Augustinus yang mengajarkan bahwa kehidupan membujang (celebacy) lebih
baik dari pada kawin.

 Mengenai kebebasan kemauan (free will) ia menyatakan bahwa manusia berada dalam kedudukan
yang berbeda dari Tuhan. Tuhan selalu benar, sedangkan manusia kadang-kadang salah

Tentang gereja
Di dalam filsafat gereja, Aquinas mengatakan bahwa manusia tidak akan selamat tanpa pelantara gereja.
Sakramen-sakramen gereja itu perlu, sakramen itu mempunyai dua tujuan yaitu : Pertama,
menyempurnakan manusia dalam penyembahan kepada Tuhan. Kedua, menjaga manusia dari dosa.
Aquinas juga mengatakan bahwa Baptis mengatur permulaan hidup, penyesalan (confirmation) untuk
keperluan pertumbuhan manusia dan sakramen maha kudus (eucharist) untuk menguatkan jiwa.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpuln antara lain:

Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) bisa dikatakan abad kegelapan, karena pihak gereja
membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa
berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila
terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut
dianggap murtad dan akan dihukum berat sampai pada hukuman mati.

Periode-periode pada abad pertengahan terdiri dari:

Periode Patristik

Periode Skolastik yang terdiri dari skolastik kristen dan Islam.

Adapun tokoh-tokoh yang hidup pada zaman abad pertenghan antara lain:

Plotinus ( 204-270 )

Augustinus ( 354 – 430 )

Boethius
Anselmus ( 1033-1109 )

Thomas Aquinas (1225-1274)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Filsafat abad pertengahan (online), http://id.scribd.com/doc/12898373/Filsafat-Abad-


pertengahan, di akses pada 16 April 2013.

Nuryandi. 2010. Tokoh-Tokoh Filsafat pada Abad Pertengahan (online), http://nuryandi-


cakrawalailmupengetahuan.blogspot.com/2012/07/tokoh-tokoh-filsafat-abad-pertengahan.html, di
akses pada 16 April 2013.

Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

___________
Oleh: Anang Mujiono

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu dengan dosen Afid Burhanuddin, M.Pd.)

Bagikan ini:

Terkait

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FILSAFAT PADA MASA ABAD PERTENGAHAN

21/05/2013

dalam "Filsafat Ilmu"

Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Abad Pertengahan

06/05/2014

dalam "Filsafat Ilmu 2014"

PERKEMBANGAN ILMU PADA MASA MODERN

21/05/2013

dalam "Filsafat Ilmu"

Kategori: Filsafat Ilmu

Tinggalkan sebuah Komentar

Afid Burhanuddin

Kembali ke atas

Menu

Search

Hadapi Dengan Senyuman

Jangan Ragu dengan Apa yang Anda Miliki, Karena itu Adalah Anugrah Terindah dari Tuhanmu

Masa Skolastik

Thanks For…
JUAL KAOS DISTRO ARAB

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Filsafat pada abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan arah pemikiran
dunia kuno. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zamanyang baru sekali di tengah-tengah
suatu rumpun bangsa yang baru, yaitu bangsa Eropa barat. Filsafat yang baru ini disebut Skolastik.

Sebutan skolastik mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahandiusahakan boleh


sekolah-sekolah, dan bahwa ilmu itu terikat pada tuntutan pengajaran disekolah-sekolah itu. Semula
Skolastik timbul di biara-biara tertua di GalliaSelatan. Daribiara-biara di Gallia selatan itu pengaruh
Skolastik keluar sampai di Irlandia, di Nederlanddan di Jerman. Kemudian Skolastik timbul di sekolah-
sekolah kapittel, yaitu sekolah-sekolah yang dikaitkan dengan gereja. Setelah abad pertengahan berakhir
baru muncullah abad yang kemudian dinamakan abad peralihan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat menyusun beberapa rumusan masalah

sebagai berikut:

Apa yang dimaksud dengan masa/filsafat skolastik.

Bagaimanakah perkembangan masa/filsafat skolastik.


Cakupan masa peralihan.

C. Tujuan Pembahasan

Untuk mengetahui pengertian masa/filsafat skolastik.

Untuk mengetahui perkembangan masa/filsafat skolastik.

Untuk mengetahui perubahan-perubahan yang muncul.

BAB II

PEMBAHASAN

A. MASA SKOLASTIK

Filsafat barat abad petengahan (476-1492) dapat dikatakan sebagai “abad gelap”karena berdasarkan
pada pendekatan sejarah gereja, saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia,
sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untukmengembangkan potensi dirinya. Semua hasil-
hasil pemikiran manusia diawasi oleh kaum gereja dan apabila terdapat pemikiran yang bertentangan
dengan ajaran gereja, maka orangyang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman yang berat.1

Masa abad pertengahan dibagi menjadi 2 (dua) masa yaitu masa Patristik dan masa

Skolastik2. Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Atau dari
kata schuler yang mempunyai arti kurang lebih sama yaitu ajaran atau sekolahan. Yang demikian karena
sekolah yang diadakan oleh Karel Agung yangmengajarkan apa yang diistilahkan sebagai artes liberales
(seni bebas) meliputi mata pelajaran gramatika, geometria, arithmatika, astronomi, musika, dan
dialektika. Dialektika ini sekarang disebut logika dan kemudian meliputi seluruh filsafat.3 Jadi, skolastik
berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah.

Katas skolastik menjadi istilah bagi filsafat pada abad 9 s/d 15 yang mempunyai corak khusus yaitu
filsafat yang dipengaruhi agama.4 Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad
pertengahan. Filsafat skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional
memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk.

Sebutan skolastik mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan oleh sekolah-
sekolah, dan bahwa ilmu itu terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah-sekolah itu. Pada waktu itu
rencana pelajaran sekolah-sekolah meliputi suatu studi duniawi yang terdiri dari 7 kesenian bebas (artes
liberalis) yang dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : Trivium, 3 mata pelajaran bahasa, yang meliputi Tata
Bahasa, Retorika dan Dialektika (yaitu semacam tehnik

1. Ahmad Sadali dan Mudzakir, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. I, h. 80-81.

2. Asmoro Asmadi,Filsafat Umum, (Bandung: PT. Raja Grafindo Persada,2000), h.

3. Ahmad Sadali dan Mudzakir,Fil saf at …, h. 81.

4. Selanjutnya dilihat dari sudut pandang pengaruh agama, skolastik ini dibagi dua yaituScholastik
Islam dan Scholastik Kristen, namun dalam makalah ini penulis memfokuskan pembicaraan pada
Scholastik Kristen (Barat). Lebih jelas bisa dilihat; Ahmad Sadali dan Mudzakir, Filsafat…, h. 81-91.

berdiskusi), yang dimaksud sebagai Pendidikan Umum. dan Quadravium, 4 mata pelajaran matematika,
yang meliputi Ilmu Hitung, Ilmu Ukur, IlmuPerbintangan dan Musik, yang dimaksud bagi mereka yang
ingin belajar lebih tinggi(teologia) atau ingin menjadi sarjana. Dari sini jelas, bahwa dialektika termasuk
pendidikan yang lebih rendah (trivium), sebagai persiapan bagi quadrivium, yang dipandang lebih Tinggi
kedudukannya dari pada mata pelajaran bahasa. Akan tetapi di sepanjang perjalanan abad keabad
keadaanpun berubah. Buku-buku pegangan dialektika lama-kelamaan diganti dengankarangan-karangan
Aristoteles mengenai logika, sedang dalam perkembangannya yang lebih lanjut lagi pelajaran Artes
Liberales makin diubah menjadi studi filsafat, terutama filsafat Aristoteles. Demikianlah filsafat menjadi
penting.

Pada dasarnya sampai pertengahan abad ke 12 orang-orang Barat belum pernah mengenal filsafat
Aristoteles secara keseluruhan. Scholastik Islam-lah yang membawakan perkembangan filsafat di Barat,
terutama berkat tulisan dari para ahli pikir Islam seperti Ibnu Rusyd. Peran ahli pikir Islam ini besar sekali,
tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja, akan tetapi juga memberi sumbangan yang tidak kecil bagi
bangsa Eropa, yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan. Namun setelah pemikiran-pemikiran Islam ini
masuk ke Eropa, banyak buku filsafat dan peranan para ahli pikir Islam atas kemajuan dan peradaban
Barat sengaja disembunyikan karena mereka (Barat) tidak mengakui secara terus terang jasa para ahli
pikirIslam itu dalam mengantarkan kemoderatan Barat.
A. PERKEMBANGAN MASA/FILSAFAT SKOLASTIK ISLAM

Dikalangan masyarakat Islam istilah Skolastik Islam jarang dipakai, yang paling masyhur yaitu ilmu kalam
atau Filsafat Islam. antara kedua ilmu tersebut dalam pembahasannya dipisahkan.

Dala perkembangann filsafat Islam, dikenal dua periode yaitu ; periode mutakallim (700-900), dan
periode filsafat Islam (850-1200). Dimana para ahli pikir Islam (Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali,
Ibnu Rusyd) sangat berperan, bukan hanya dalam pemikiran filsafat saja, akan tetapi meraka
memberikan sumbangan yang besar bagi Eropa, yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan.

1. Al-Kindi (801-865)

Abu Yusuf Ya’kub Ibn Ishak Ibn Ahabah Ibn Umron Ibn Ismail Ibn Muhammad Ibn Al Ibn Qais Al-Kindi
atau lebih dikenal Al-Kindi. disamping sebagai ahli dalam ilmu Agama, juga ahli dalam ilmu kedokteran,
filsafat, matemtika, logika, pengubahan lagu, geometri, arithmatika, fisiologi dan astromomi. Ia adalah
orang pertama yang memasukkan filsafat sebagai salah satu ilmu ke Islaman, setelah ia menyesuaikan
dengan Islam.

Ajaran pokok filsafatnya

a. Tentang pengetahuan

Al-Kindi membagi pengetahuan menjadi :

1. Pengetahuan Ilahiyah sebagai tercantum dalam Al-Qur’an. Pengetahuan itu deterima Nabi dari
Tuhan. Dasar dari pengetahuan ini adalah keyakinan.

2. Pengetahuan Insaniyah. Dasarnya pikiran. Kebenyaran yang dibawah Al-Qur’an lebih menyakinkan
dari pada filsafat, tetapi Al-Qur’an dan filsafat tidak bertentangan.

b. Soal kenabian

Al-kindi berpendapat bahwa apa yang telah dicapai oleh para Nabi adalah derajat pengetahuan yang
tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Sedangkan Nabi dapat mencapai yang begitu tentang
pengetahuan alam gaib dan ke-Tuhanan melalui jalan intuisi (wahyu) diatas kesanggupan manusia biasa.
c. Tentang filsafat.

Agama dan filsafat masing-masing mencari kebenaran. Disitulah letak agama dan filsafat. Tujuan agama
adalah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, begitu pula dengan filsafat. Agama disamping
wahyu juga menggunakan akal, da filsafat menggunakan akal.

2. Al-Farabi (870-950)

Nama lengkapnya Abu Nasher Muhammad Ibn Muhammad Ibn Anzalq Ibn Turchan Al-Farabi. Dilahirkan
di Farab Turkistan. Ia digelari sebagai Al-Muallimuts tsani (guru kedua) dalam ilmu filsafat sesudah
Aristoteles, yang dianggap sebagai guru pertama.

B. PERKEMBANGAN MASA/FILSAFAT SKOLASTIK KRISTEN

a. Masa Awal Skolastik

Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad
ke-6 dan ke-7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi
sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah dibangun selama berabad-abad.

Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada di bawah Karel Agung (742 – 814) dapat memberikan
suasana ketenangan dalam bidang politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termsuk kehidupan
manusia serta pemikiran filsafat menampakkan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah yang
merupakan kecemerlangan abad pertengahan.Pada mulanya skolastik ini timbul pertama kalinya di biara
italia selatan dan pada akhirnya sampai berpengaruh kejerman dan belanda. Kurikulum pengajaranya
meliputi studi duniawi, tata bahasa, retorika, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu ukur, ilmu
perbintangan dan musik.

Sutardjo Wiramihardja mengatakan bahwa zaman ini berhubungan dengan terjadinya perpindahan
penduduk, yaitu perpindahan bangsa Hun dari Asia ke Eropa sehingga bangsaJerman pindah melewati
perbatasan kekaisaran Romawi yang secara politik sudah mengalami kemerosotan6. Walaupun demikian
masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan yang mana sebelumnya merosot karena
kuatnya dominasi golongan Gereja7.

Karena situasi yang ricuh, tidak banyak pemikiran filsafati yang patut ditampilkanpada masa ini. Namun,
ada beberapa tokoh dan situasi penting yang harus diperhatikan dalam memahami filsafat masa ini.
1. Augustinus (354-430)

Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti adayang mengendalikan, yaitu
Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama.Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala
sesuatu diciptakan oleh Allah dariyang tidak ada (creatio ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah
kehidupan bertapa,dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.

2. Boethius (480-524 M)

Dalam usianya yang ke 44 tahun, mendapat hukuman mati dengan tuduhan berkomplot. Ia dianggap
sebagai filosof akhir Romawi dan filosof pertama Skolastik. Jasanya adalah menterjemahkan logika
Aristoteles ke dalam bahasa latin dan menulis beberapa traktat logika Aristoteles. Ia adalah seorang guru
logika pada abad pertengahan dan mengarang beberapa traktat teologi yang dipelajari sepanjang abad
pertengahan.

3. Kaisar Karel Agung

Ia memerintah pada awal abad ke-9 yang telah berhasil mencapai stabilitas politik yang besar. Hal ini
menyebabkan perkembangan pemikiran kultural berjalan pesat. Pendidikan yang dibangunnya terdiri
dari tiga jenis yaitu pendidikan yang digabungkan dengan biara, pendidikan yang ditanggung keuskupan,
dan pendidikanyang dibangun raja atau kerabat kerajaan.

4. Santo Anselmus (1033-1109)

Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus yaitu credo ut intelligam
(saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih
mendahulukan pengertian dari pada iman.

5. Peter Abaelardus (1079-1142)11

Eropa membuka kembali kebebasan berpikir yang dipelopori oleh Peter Abelardus. Ia menginginkan
kebebasan berpikir dengan membalik diktum Augustinus-Anselmus credo ut
5. Ahmad Sadali dan Mudzakir,Fil saf at …, h. 82.

6. Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), Cet.I,
h. 73.9 Ahmad Sadali dan Mudzakir, Filsafat …, h. 91.

intelligam dan merumuskan pandangannya sendiri menjadi intelligo ut credom (saya paham supaya saya
percaya). Peter Abelardus memberikan status yang lebih tinggi kepada penalaran dari pada iman.

b. Masa Keemasan Skolastik

Pada masa Skolastik awal, filsafat bertumpu pada alam pikiran dan karya-karya Kristianai. Tetapi sejak
pertengahan abad ke-12 karya-karya non Kristiani mulai muncul dan filosuf Islam mulai berpengaruh.
Dan pada masa in merupakan kejayaan Skolastik yangberlangus dari abad 1200-1300 M, yang disebut
juga masa berbunga karena bersamaandengan munculnya beberapa universitas dan ordo-ordo yang
menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan. Abad ke-13 menjadi abad kejayaan skolastik. Ada
beberapa faktor yang memberi sumbangan yang berguna bagi kejayaan skolastik antara lain:

1. Mulai abad ke-12 ada hubungan-hubungan baru dengan dunia pemikiran Yunani dan dunia pemikiran
Arab, yaitu dengan peradaban Yunani dari Italia Selatan dan Silsilia dan dengan kerajaan Bizantium di
satu pihak, dan peradaban arab yang ada diSpanyol di lain pihak. Melalui karya orang-orang Arab dan
Yahudi Eropa Barat mulai lebih mengenal karya-karya Aristoteles, yang semula memang kurang dikenal.
Kecuali melalui karya orang-orang Arab tulisan-tulisan Aristoteles dikenal melalui karya para bapak
gereja Timur, yang sejak zaman itu dikenal juga.

2. Timbulnya universitas-universitas. Didirikannya Universitas Almamater di Paris yang

merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Dan universitas inilah yang menjadi awal (embrio)
berdirinya universitas di Paris, Oxford, Mont Pellier, Cambridge danlainnya. Pada abad pertengahan,
umumnya universitas terdiri atas empat fakultas,yaitu kedokteran, hukum, sastra (fakultas Atrium), dan
teologi.

3. Timbulnya ordo-ordo baru, yaitu ordo Fransiskan (didirikan 1209 M.) dan ordo Dominikan (didirikan
1215 M.)15. Ordo-ordo ini muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan,
sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untukmemberikan suasana yang semarak pada abad ke-13.
Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian dimana kebanyakan tokoh-tokohnya
memegang peranan di bidang filsafat dan teologi, seperti; Albertus de Grote, Thomas Aquines,
Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham8.

Tokoh-tokoh yang ada pada masa keemasan Skolastik ini diantaranya:

Albertus Magnus (1203-1280 M.)

Ia lahir dengan nama Albertus Von Bollstadt yang juga dikenal sebgai doktor universitas dan dokto
magnus, kemudian bernama Albertus Magnus (Albert the Great) Ia mempunyai

7. Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 71

kepandaian luar biasa. Di universitasPadua ia belajar artes liberales, belajar teologi di Bulogna, dan
masuk ordo Dominican tahun 1223 M, kemudian masuk ke Koln menjadi dosen filsafat dan kepandaian
luar biasa. Di universitasPadua ia belajar artes liberales, belajar teologi di Bulogna, dan masuk ordo
Dominican tahun 1223 M, kemudian masuk ke Koln menjadi dosen filsafat dan teologi. Terakhir dia
diangkat sebagai uskup agung. Pola pmikirannya meniru Ibnu Rusyd dalam menulis tentang Aristoteles.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan ilmu kimia9.

Thomas Aquinas (1225-1274 M.)

Puncak kejayaan masa skolastik dicapai melalui pemikiran Thomas Aquinas (1225-1274 M.). Lahir di
Roccasecca, Italia 1225 M dari kedua orang tua bangsawan10. Ia mendapat gelar “The Angelic Doctor”,
karena banyak pikirannya, terutama dalam “SummaTheologia” menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
gereja. Menurutnya, pengetahuan berbeda dengan kepercayaan. Pengetahuan didapat melalui indera
dan diolah akal. Namun, akal tidak mampu mencapai realitas tertinggi yang ada pada daerah adikodrati.
Ini merupakan masalah keagamaan yang harus diselesaikan dengan kepercayaan. Dalil-dalil akal
ataufilsafat harus dikembangkan dalam upaya memperkuat dalil-dalil agama dan mengabdi
kepadaTuhan. Aquinas merupakan theolog skolastik yang terbesar. Ia adalah muridAlbertus Magnus.
Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristoteles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu.
Pandangan-pandangan filsafat Aristoteles diselaraskannya dengan pandangan-pandangan Alkitab. Ialah
yang sangat berhasil menyelaraskan keduanya sehingga filsafat Aristoteles tidak menjadi unsur yang
berbahaya bagi iman Kristen. Pada tahun1879, ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam
Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII.
Thomas mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens).Allah adalah “dzat
yang tertinggi”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak
bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia
terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah
(kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia
bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan
ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas11.

9 Ahmad Sadali dan Mudzakir,Fil saf at …, h. 95.

10. Ahmad Sadali dan Mudzakir,Fil saf at …, h. 95.

11. Http://anungadhy-uin-bi-2b.blogspot.com/2008/07/filsafat-skolastik-dan-pendapat-dari.html. tgl 1


Maret 2010

C. Masa Skolastik Akhir (1300-1450 M.)

Masa Skolastik akhir ditandai dengan kemalasan berpikir filsafati sehingga menyebabkan stagnasi
(kemandegan) pemikiran filsafat Scholastik Kristen.Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Nicolous
Cusanus (1401-1404 M.). Dari filsafatnya ia beranggapan bahwa Allah adalah obyek sentral bagi intuisi
manusia. Karena menurutnya dengan intuisi manusia dapat mencapai yang terhingga, obyek tertinggi
filsafat, dimana tidak ada hal-hal yang berlawanan. Dalam diri Allah semua hal yang berlawanan
mencapai kesatuan. Semua makhluk berhingga berasal dari Allah pencipta, dan segalanyaakan kembali
pula pada pencipta-Nya12. Nicolous Cusanus sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa
Scholasti. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu : lewan indra, akal, dan
intuisi. Dengan indra kita akan mendapat pengetahuan tentang benda berjasad, yang sifatnya tak
sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasarkan
pada sajian atau tangkapan indera. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi
sebagaiamana dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Pada tahap akhir masa skolastik terdapat filosof yang berbeda pandangan dengan Thomas Aquinas, yaitu
William Occam (1285-1349). Tulisan-tulisannya menyerang kekuasaan gereja dan teologi Kristen.
Karenanya, ia tidak begitu disukai dan kemudian dipenjarakan oleh Paus. Namun, ia berhasil meloloskan
diri dan meminta suaka politik kepada Kaisar Louis IV, sehingga ia terlibat konflik berkepanjangan dengan
gereja dan negara. William Occam merasa membela agama dengan menceraikan ilmu dari teologi.Tuhan
harus diterima atas dasar keimanan, bukan dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak dapat
didemonstrasikan.

C. MASA PERALIHAN

setelah abad pertengahan berakhir sampilah pada masa peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian
yang bersifat pembaharuan. Zaman peralihan ini merupakan embrio masa modern. Masa peralihan ini
ditandai dengan munculnya renaissance, humanisme dan reformasi yang berlangsung antara abad ke-14
hingga ke-16.

1. Renaissance

Renaissance atau kelahiran kembali di Eropa ini merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran
yang dimulai di Italia, kemudian di Prancis, Spanyol, dan selanjutnya hingga menyebar keseluruh Eropa.
Diantara tokoh-tokohnya adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, Machiavelli, dan Giordano Bruno.

12. Ahmad Sadali dan Mudzakir,Fil saf at …, h. 99.

2. Humanisme

Humanisme pada mulanya dipakai sebagai suatu pendirian dikalangan ahli pikir Renaissance yang
mencurahkan perhatiannya terhadap pengejaran kesusastraan Yunani dan Romawi, serta
perikemanusiaan. Kemudian, humanisme berubah fungsinya menjadi gerakan untuk kembali melepaskan
ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastra Yunani dan Romawi. Diantara para tokohnya
adalah Boccaccio, Petrarcus, Lorenco Vallia, Erasmus, dan Thomas Morre.

3. Reformasi

Reformasi merupakan revolusi keagamaan di Eropa barat pada abad ke-16. Refolusi tersebut dimulai dari
gerakan terhadap perbaikan keadaan gereja Katolik. Kemudian berkembang menjadi asas-asas
Protestantisme. Para tokohnya antara lain Jean Calvin dan Martin Luther.

Abad pertengahan disebut masa kelam bagi pemikiran filsafat, kerena kebebasan berpikir manusia telah
dipangkas dan didominasi oleh dogma gereja. Tetapi, justru abad pertengahan menjadi titik balik bagi
munculnya cahaya baru pemikiran filsafat, yang ditandai dengan gerakan Renaisance yang kembali
melahirkan budaya berfikir ilmiah. Renaisance ini lah yang menjadi cikal-bakal bagi munculnya pemikiran
filsafat modern. Namun, pemikiran filsafat modern dengan budaya berpikir ilmiah yang berujung pada
lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, juga memberikan karakteristik negatif berupa
menurunya kepercayaan atas dogma gereja, dan mulai tumbuh masyarakat anti agama.

Simbol bagi perubahan zaman dari gelapnya abad pertengahan menuju abad modern adalah terbuktinya
teori Copernicus, yang juga diperkuat oleh Galileo dan Keppler. Hal ini semakin menyudutkan posisi
gereja yang telah salah memberikan doktrin mati, bahwa bumi itu pusat tata surya, sementara pada
masa modern dapat dibuktikan bahwa mataharilah yang merupakan pusat tata surya. Perubahan yang
sangat mendasar bagi corak pemikiran pada abad pertengahan dan modern adalah, para filsuf dan
ilmuan modern berpikir mengandalkan rasio, mereka bebas mengungkapkan argumen-argumen tanpa
adanya batasan dari otoritas gereja, sehingga filsafat dapat berkembang luas. Teori dan argumen yang
diungkapkan dimasa modern merupakan teori dan argumen terbuka yang bisa menerima kritik, efaluasi,
verifikasi, modifikasi ataupun falsifikasi, bukan berupa dogma-dogma yang kaku dan tidak dapat diubah
sebagaimana yang diajarkan pada abad pertengahan oleh gereja.

Era modern ditandai dengan munculnya ilmu – ilmu praktis, dengan ditemukannya alat-alat produksi
berbasis mesin, juga listrik dan mesin uap. Bahkan, ilmu teoritis-spekulatif hampir lumpuh dan
tergantikan oleh ilmu-ilmu praktis yang manfaatannya dapat dirasakan secara langsung oleh manusia.
Pentingnya ilmu praktis ini terkait dengan kebutuhan logistik akan perang yang berlangsung pada waktu
itu.

Sisi filosofis dan moralitas berubah drastis pada masa modern. Masyarakat dogmatis dengan ciri filsafat
skolastik telah berganti menjadi masyarakat yang indifidualis dan rasional, yang lebih menekankan pada
prinsip dan nilai-nilai kedisiplinan, intelektualitas, moral, dan politik konseptual. Akibatnya, karya-karya
manusia modern semakin menakjubkan, terutama dibidang seni, sastra dan teknologi. Lahirnya zaman
modern tidak bisa lepas dari kontribusi filsuf-filsuf seperti Descartes, Spinoza, Leibniz, John locke, David
Hume, Imanuel Kant, Berkeley, dan Hegel. Masing-masing filsuf tersebut mempunyai corak pemikiran
tersendiri dalam memandang realitas, yang dari pemikiran mereka-lah filsafat pemikiran modern muncul
dan berkembang pesat.

BAB II

PENUTUP
A. Kesimpulan

Filsafat barat abad petengahan (476-1492) dapat dikatakan sebagai “abad gelap”

karena berdasarkan pada pendekatan sejarah gereja, saat itu tindakan gereja sangat

membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk

mengembangkan potensi dirinya. Masa abad pertengahan dibagi menjadi 2 (dua) masa yaitu

masa Patristik dan masa Skolastik. Aliran skolastik berkaitan dengan sekolah dan merupakan

corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan. Filsafat skolastik adalah filsafat yang

mempunyai corak semata-mata agama, filsafat yang mengabdi kepada teologi, atau filsafat

yang rasional memecahkan persolan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian,

kerohanian, baik buruk, filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan kodrat, akan dimasukkan

ke dalam bentuk sintesa yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal, filsafat Nasrani,

karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja. Dengan demikian Sebutan skolastik

mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan oleh sekolah-

sekolah, dan bahwa ilmu itu terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah-sekolah itu. Ahli

pikir skolastik antara lain, Augustinus, Santo Anselmus, Peter Abaelardus, Thomas Aquinas,

William Ockham. Setelah masa skolastik berakhir maka muncullah masa peralihan, yang mana pada
masa ini diisi dengan gerakan kerohanian yang bersifat pembaharuan. Masa peralihan ini ditandai
dengan munculnya renaissance, humanisme dan reformasi yang berlangsung antara abad ke-14 hingga
ke-16.

B. Saran dan Kritik

Sebagai manusia, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata

sempurna, nampaknya masih banyak yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penulis berharap

adanya saran dan kritikan para pembaca makalah ini yang sifatnya membangun, demi

perbaikan dimasa yang akan datang. Walaupun demikian, penulis sudah berusaha untuk

mempersembahkan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Penulis mengucapkan terima kasih


banyak kepada pihak-pihak yang turut serta mendorong dan membantu penulis untuk

menyelesaikan makalah ini

Akhirnya, hanya kepada Allah jualah penulis berharap agar makalah ini benar-benar

bermanfa’at. Semoga amal ibadah dan kerja keras kita senantiasa mendapatkan ridha,

ampunan dan pahala dari Allah SWT. Amiin.

Share this:

TwitterFacebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment

Name*

Email*

Website

Notify me of new comments via email.

Notify me of new posts via email.


reza on October 8, 2016 at 2:37 am

thanks sharenya tambah ilmu.

Reply

freedom_fo on October 16, 2016 at 3:17 pm

sama-sama sadara

saling berbagi ilmu adalah yang utama untuk menjaga keilmuan kita masing-masing

terimakasih

Reply

Online Shop Muslim T-Shirt (Phone : 085216650910 – 085777570564)

DISTRO MUSLIM NOESANTARA

Noesantara Cloth

Kabinet Kerja Jokowi-JK

Pages

ARTICLE

Apa itu Karakter

Apa itu Kompetensi

Jakarta Kota Misteri

Jangan Pernah Mengeluh

Kaitan Antara Fiqh, Hisab, dan Rukyah

Kapabilitas
Kapasitas

Karakter. Urgen, tapi mulai dari mana

Lupa Adalah Penyakitnya Ilmu

Mahasiswa Sebagai Cendekiawan Muda

Manfaat Membaca Istighfar

Pemilik Hati

Ruh Keikhlasan

Say Hamdalah

DAKWAH

4 sifat yang dapat merusak amal

Hijab dalam Syariat Islam

Islam itu Indah

Janagan Sia-Siakan Waktumu

Manjada Wa Jada

Menjaga Hati dan Iman

KATA-KATA MUTIARA

kata-kata penggugah jiwa 1

kata-kata penggugah jiwa 2

kata-kata penggugah jiwa 3

Kata-kata Penggugah Jiwa 4

kata-kata penggugah jiwa 5

MAKALAH

Ayat- ayat Tentang Amanat

Ayat-ayat Tentang Kepemerintahan

Hukum Keluarga Muslim


Hukum Orang

Ijma’ dan Qiyas

Ilmu Pemerintahan

Kepemimpinan di Indonesia

Khitbah dan Kafaah

Mahkum ‘alaihi

Masa Skolastik

Menghitung Tinggi Bulan, Bintang, dan Matahari

Nikah

Nuzulul qur’an dan Sab’ah Ahruf

Pengelolaan SDM Berbasis Kompetensi untuk Mewujudkan Kinerja Prajurit TNI Angkatan Udara

pernikahan dalam Islam

Politik Islam Modern

Psikologi_pertumbuhan dan Perkembangan

Sistem Istinbath Hukum Empat Imam Mazhab

Tehnik Dasar Konseling

PROFIL

Donation

Mukaddimah

TOKOH

Indonesia

Abdul Rahman Wahid (Gus dur)

B. J Habibie

Bung Hatta

Bung Karno
Jusuf Kalla

Megawati Soekarnoputri

Muhammad Natsir

Soeharto

Susilo Bambang Yudoyono

Pahlawan Indonesia

Abdul Muis

Bung Tomo

Ki Hadjar Dewantara

Pahlawan Nasional

Pangeran Diponegoro

Surjopranoto

Yunani

Aristoteles

Plato

Socrates

Siswady Re

Buat Lencana Anda

Follow me on Twitter

My Tweets

MARCH 2020

M T W T F S S

1
2 3 4 5 6 7 8

9 10 11 12 13 14 15

16 17 18 19 20 21 22

23 24 25 26 27 28 29

30 31

Search

View Full Site

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.

To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy

:)

Anda mungkin juga menyukai