Anda di halaman 1dari 8

PATAFISIOLOGI

“HIPERPARATIROIDISME”

DISUSUN OLEH :
SITI SUCIATI NURKHASANAH 170103087
SURATIH NUSANTARA 170103088
KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmat dan karunia-
Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas “hiperparatiroidisme” ini dengan
baik. Dalam penyelesaian makalah ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan.
Semoga makalah ini mampu memenuhi tugas patofisiologi yang harus kami kerjakan.

Purwokerto, 30 Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI

COVER.....................................................................................................................1

KATA PENGANTAR......... ....................................................................................2

DAFTAR ISI.............................................................................................................3

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 latar belakang..................................................................................................4

1.2 tujuan...............................................................................................................4

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Pengertian........................................................................................................5

2.2 Klasifikasi...... .................................................................................................5

2.3 Etiologi............................................................................................................6

2.4 patofisiologi.....................................................................................................6

2.5 komplikasi.......................................................................................................7

2.6 penatalaksanaan...............................................................................................7

BAB II : PENUTUP

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................9

KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmat dan karunia-
Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas “paham obat” ini dengan baik.
Dalam penyelesaian makalah ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan.
Semoga makalah ini mampu memenuhi tugas farmakologi yang harus kami kerjakan.

Purwokerto, 30 Maret 2018

Penulis

Tujuan :

1. Untuk mengetahui macam obat


2. Mengetahui medikasi dari obat tersebut
3. Menhindari kesalahn dalam pemakaian obat
4. Lebih mengenal obat beserta medikasinya

KESIMPULAN

Dari materi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa obat berpengaruh dalam tubuh,
baik medikasi yang mempengaruhi sistem integumen, saraf, endokrin, sensori,
kardiovaskuler, respiratorius, gastrontestinal dan urinarius. Banyak obat yang tersedia
dalam lebih dari satu bentuk.bentuk dan macam obat berbeda tergantung dengan
penyakit yang diderita, begitupula cara pemberiannya.

 PENGENALAN KLASIFIKASI OBAT


Bab ini membahas setiap medikasi yang memengaruhi sistem tubuh.
Klasifikasi mayor obat-obatan pada bab ini meliputi agens anti-infeksi dan
medikasi yang memengaruhi sistem integumen, saraf, endokrin, sensori,
kardiovaskuler, respiratorius, gastrontestinal dan urinarius. Banyak obat
yang tersedia dalam lebih dari satu bentuk. Obat-obatan ini memunculkan
efek pada kecepatan yang berbeda-beda. Selain itu, beberapa sediaan obat
diarbsorpsi dalam waktu yang lebih lama.

 Agen Anti-Infeksi (Antibiotik)


Agen anti-infeksi adalah medikasi yang digunakan untuk mengatasi
infeksi. Antibiotik merupakan salah satu jenis anti-infektif, adalah senyawa
kimia yang digunakan khusus untuk mengatasi infeksi bakteri.

Contoh dari antibiotik adalah Penisilin dan Tetraksilin.


a. Penisilin yang didapatkan dari jamur spesifik, bekerja menghambat
pertumbuhan bakteri yang rentan.
b. Tetraksilin, tetraksilin adalah antibiotik spektrum luas yang efektif untuk
melawan berbagai jenis organisme, seperti ricketssia, chlamidya, dan
mycoplasma. Tetraksilin terkadang digunakan untuk klien yang menderita
alergi terhadap penisilin.

A. Medikasi yang mempengaruhi sistem integument


Kondisi kelenjar keringatan dan pori-pori yang menembus epidermis dari
jaringan subkutaneus yang lebih dalam, dan keadekuatan suplai darah pada
area mempengaruhi absorpsi medikasi melalui kulit.

Medikasi yang diaplikasikan pada kulit atau struktur tubuh eksternal, seperti
telinga atau mata, disebut agens Topikal. Agens topikal dirancang untuk
bekerja hanya pada jaringan lokal yang kontak dengan agens topikal tsb.

Agens dermatologi topikal adalah medikasi yang diaplikasikan pada kulit


untuk mengatasi kondisi kulit setempat.

Contohnya terdiri dari agens yang melembutkan, antiseptik, anestasi,


kortikosteroid, antifungal, dan pedikulisida (medikasi yang digunakan untuk
membunuh kutu).

Antiseptik yang kuat dapat menyebabkan iritasi kulit yang dapat menganggu
fungsi protektif kulit sebagai barier alam yang melawan invasi bakteri.

B. Medikasi yang mempengaruhi sistem saraf


Sistem saraf pusat mengatur pusat pengendali vital pada tubuh, selain
mengatur banyak proses tubuh lainnya.

Medikasi yang menekan aktivitas sistem saraf pusat adalah analgesik.

a. Analgesic
- Analgesik adalah medikasi yang meredakan nyeri.
- Analgesik dibagi menjadi dua kelompok: narkotik dan non-narkotik.

Contoh analgesik narkotik adalah morfin.

Contoh analgesik non-narkotika adalah aspirin (asam asetilsalisilat (ASA))


dan asetaminofen (APAP, dikenal dengan Tylenol).

C. Medikasi Yang Mempengaruhi Sistem Endokrin


Kelenjar sistem endokrin menyekresikan hormone yang di bawa oleh
aliran darah ke berbagai organ target, tempat hormone tersebut melaksanakan
kerja pengaturan yang spesifik.
a. Insulin
Berbagai jenis insulin memiliki panjang awitan dan durasi kerja yang
berbeda-beda. Hingga saat ini, semua insulin tersedia dalam bentuk injeksi.
Insulin injeksi harus diberikan secara subkutan, atau melalui pompa insulin (
asam hidoklorida di lambung akan menghancurkan kerja insulin ), kecuali
insulin regular, yang dapat diberikan secara IV. Insulin injeksi disediakan
dalam dosis U-100 (100 unit insulin per 1 ml).

D. Medikasi Yang Mempengaruhi Sistem Sensori

a. Medikasi yang Mempengaruhi Mata


Medikasi oftalmik meliputi agens yang mendilatasi atau mengonstriksi
pupil, antibiotic, dan agens yang mempengaruhi tekanan intraocular. Beberapa
medikasi oftalmik menghasilkan efeknya dengan membuat sistem saraf
otonom merelaksasi dan mengontraksasikan otot polos. Medikasi lain bekerja
secara langsung pada jaringan mata.
b. Medikasi yang mempengaruhi Telinga
Sebagian besar medikasi yang mempengaruhi telinga diberikan secara
langsung ke telinga utuk mengatasi gangguan local. Medikasi yang umum
digunakan adalah anti-Infektif (untuk mengatasi infeksi telinga), analgesic
(untuk mengatasi nyeri pada otitis media, khususnya pada anak-anak .

E. Medikasi Yang Mempengaruhi Darah


Medikasi dan produk lain juga mempengaruhi darah, membantu
pembekuan darah atau mencegah terbentuknya bekuan darah dan berperan
untuk menggantikan volume darah atau komponen darah yang hilang akibat
keadaan seperti pendarahan. Epoetin alfa (eritropoietin)
merupakanglikoprotein yang menstimulasi pembentukan sel darah merah.
Eritropoietin diindikasikan untuk terapi anemia pada pasien yang
menerimakemoterapidan pasien pada penderita gagal ginjal kronik.
a. Koagulan
Medikasi yang meningkatkan koagulasi darah disebut koagulan.
Vitamin K, suatu vitamin larut lemak, diperlukan untuk pembentukan
protrombin, yang penting untuk pembekuan darah normal. Defisiensi vitamin
K menyebabkan kecenderungan pendarahan. Tersedia beberapa preparat
vitamin K.

F. Medikasi yang mempengaruhi sistem pernapasan


Sistem pernapasan menghantarkan oksigen kedalam paru, yang pada
akhirnya membantu menghantarkan oksigen dan mengeluarkan produk sisa ke
dan dari sel tubuh. Agar sistem pernapasan bekerja dengan baik, jalan napas
harus bersih dan pusat pernapasan di medula otak berfungsi dengan tepat.

Sebagian besar medikasi yang berhubungan dengan sistem pernapasan


diberikan melaluhi inhalasi, untuk mengurangi efek sistemik.

G. Medikasi yang mempengaruhi sistem imun


Antibistamin merupakan medikasi yang paling efektif untuk mengatasi
gejala yang tidak nyaman pada rinitis alergik dan urtilkaria kronik (ruam yang
gatal). Medikasi tidak bersifat kuratif, tetapi meredakan sementara.

H. Medikasi yang mempengaruhi saluran kemih

a. Diuretik

Ketika aliran urine tidak adekuat, air dan garam teraumulasi di dalam
jaringan, yang menyebabkan edem. Diuretik membersihkan kelebihan cairan
tubuh dengan meningkatkan pembentukan urin. Penggunaan diuretik tertentu
misalnya (furosemid [ lasix ] dan hidroklorotiazid, HCTZ. Diuretik sering
diresepkan bersama agens antihipertensi untuk mengendalikan hipertensi.

I. Medikasi yang memengaruhi sistem reproduksi

a. Hormon Seksual Pria (Androgen)

Androgen sangat pentinguntuk perekembangan dan pemeliharaan


karakteristik seksual pria. Keduajenis kelamin memproduksi hormon pria dan
wanit, tetapi efeknya bersifat berlawanan anata satu dengan ang lainnya.

Terapi sulih androgen dapat diberikan kepada pria yang kadar hormon
sirkulasinya tidak memadai untuk mempertahankan karsakteristik seksual
pria.

Terapi sulih androgen dapat diberikan kepada wanita sebagai upaya untk
menghentikan pertumbuhan yang bergantung pada estrogen.