Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Genetika

ALEL GANDA DAN PENENTUAN FREKUENSI GEN

Jeanne Isbeanny*, D. Amalya, Nurfauziah, N. Sulistianingsih, R. Aprizal, D. Mutiea, C. Juhriyah.

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Sains dan Teknologi

Program Studi Biologi

20 November 2014

Abstrak
Golongan darah manusia menurut sistem ABO masuk dalam empat golongan yaitu A, B, AB dan O.
Penggolongan darah ini disebabkan oleh macam antigen yang dikandung oleh eritrosit (sel darah merah). Adanya antigen
di dalam eritrosit ditentukan oleh suatu seri alel ganda yaitu IA , IB, dan Io. secara genetik antigen ini muncul
dipermukaan membran sel darah merah. Antigen tipe A dan tipe B bereaksi dengan antibodi pasangannya karena reaksi
antigen-antibodi menyebabkan aglutinasi ( penggumpalan) sel darah merah, maka antigen disebut aglutinogen dan
antibodi pasangannya disebut agglutinin. Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui istilah dan arti alel
ganda dan menghitung frekuensi alel dan genotip berdasarkan frekuensi fenotip menggunakan kaidah hukum
kesetimbangan hardy weinberg. Untuk mengetahui golongan darah seseorang dapat dilakukan dengan pengujian dengan
kartu uji yang telah diberikan serum yang mengandung anti A dan anti B. frekuensi genotip golongan darah mahasiswa
biologi UIN Jakarta 2013, golongan darah A terdapat 33%, B 33%, AB 18% dan golongan darah O sebanyak 16%,
sedangkan frekuensi alel mahasiswa biologi UIN Jakarta 2013 IA sebesar 0,25, IB 0,3 dan Io 0,4 selain itu presentasi
golongan darah tertinggi pada mahasiswa Biologi UIN 2013 adalah golongan darah B. Berdasarkan hasil perhitungan
Chi-Square golongan darah menunjukkan bahwa hasil observasi yang diperoleh diterima dan sesuai dengan hukum
Mendel dan populasi alel dan genotip mahasiswa Biologi 2013 dalam keadaan seimbang.
Kata kunci: Alel ganda, Frekuensi alel , Frekuensi Genotip, Golongan Darah, Kesetimbangan Hardy Weinberg.
1.Pendahuluan eritrosit ditentukan oleh suatu seri alel ganda yaitu IA ,
Golongan darah diwariskan dari orang tua IB, dan Io.
kepada keturunannya, ini berarti golongan darah Golongan darah pada manusia bersifat herediter
seseorang itu ditentukan alel tertentu. Golongan darah yang ditentukan oleh alel ganda. Pada tahun 1990 dan
menurut sistem ABO dapat diwariskan dari orang tua 1901, Dr Landsteiner menemukan antigen (aglutinogen)
kepada anaknya. Land- Steiner dalam Suryo (1997) yang terdapat di dalam sel darah merah dan juga
membedakan darah manusia ke dalam empat golongan menemukan antibodi (aglutinin) yang terdapat di dalam
yaitu A, B, AB dan O. Penggolongan darah ini plasma darah. Atas dasar macam antigen yang
disebabkan oleh macam antigen yang dikandung oleh ditemukan tersebut (Prawirohartono, 1995). Untuk
eritrosit (sel darah merah). Adanya antigen di dalam mengetahui golongan darah seseorang dapat dilakukan
dengan pengujian yang menggunakan serum yang positif (rh positif) adalah seseorang yang mempunyai rh-
mengandung aglutinin. Dimana bila darah seseorang antigen pada eritrositnya sedang Rhesus negatif (rh
diberi serum aglutinin A mengalami aglutinasi atau negatif) adalah seseorang yang tidak mempunyai rh-
penggumpalan berarti darah orang tersebut mengandung antigen pada eritrositnya (Kimball, 1999). Data yang
aglutinogen A. Dimana kemungkinan orang tersebut menyeluruh mengenai penyebaran frekuensi alel-alel IA,
bergolongan darah A atau AB. Bila tidak mengalami I11. dan I" masing-masing suku bangsa belum ada,
aglutinasi, berarti tidak menngandung antigen A, meskipun barn beberapa suku bangsa Toraja dengan
kemungkinan darahnya adalah bergolongan darah B atau frekuensi alel lA (0,20), I1’ (0,14), dan I"(0,66)(Suryo,
O (Kimball, 1999). Bila darah seseorang diberi serum 1997).
aglutinin B mengalami aglutinasi, maka darah orang Perhitungan penyebaran frekuensi alel dilakukan
tersebut mengandung antigen B, berarti kemungkinan dengan menggunakan rumus chi-square (Suryo, 1997),
orang tersebut bergolongan darah B atau AB. Bila tidak yaitu Keterangan : d = Penyimpangan /deviasi yaitu
mengalami aglutinasi, kemungkinan darahnya adalah A selisih antara hasil yang diperoleh (O) dengan hasil yang
atau O. Bila diberi serum aglutinin A maupun B tidak diharapkan e = Hasil yang di harapkan. Adapun tujuan
mengalami aglutinasi, kemungkinan darahnya adalah O. dari praktikum ini yaitu untuk mengenal istilah dan
Sebelum lahir, molekul protein yang ditentukan mengetahui arti alel ganda serta mengetahui contohnya
secara genetik disebut antigen, antigen ini muncul dan menghitung frekuensi alel dan genotip berdasarkan
dipermukaan membran sel darah merah. Antigen ini, tipe frekuensi fenotip menggunakan kaidah hukum
A dan tipe B bereaksi dengan antibodi pasangannya, kesetimbangan hardy weinberg.
yang mulai terlihat sekitar 2 sampai 8 bulan setelah
lahir, karena reaksi antigen-antibodi menyebabkan 2. Metodelogi
aglutinasi ( penggumpalan) sel darah merah, maka Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 20
antigen disebut aglutinogen dan antibodi pasangannya November 2014 pukul 08.00-10.00 WIB dan bertempat
disebut agglutinin. Seseorang mungkin saja tidak di Pusat Laboratorium Terpadu lantai 4. Alat dan bahan
mewarisi tipe A dan tipe B atau hanya mewarisi salah yang digunakan yaitu kartu tes golongan darah, kapas,
satunya, atau bahkan keduanya sekaligus. Klasifikasi alcohol 70%, blood lancet (alat penusuk), tusuk gigi, dan
golongan darah ABO ditentukan berdasarkan ada satu set serum alfa (α) dan serum Beta (β).
tidaknya aglutinogen (antigen tipe A dan tipe B ) yang Prosedur Kerja dari percobaan ini adalah dengan
ditemukan pada permukaan eritrosit dan aglutinin menyiapkan kartu uji yang telah di beri nomor 1-4 (anti
(antibodi) anti-A dan anti-B, yang ditemukan dalam A,anti B, anti AB dan anti Rh) kemudian sterilkan salah
plasma darah golongan A mengandung aglutinogen tipe satu ujung jari dengan kapas yang telah dibasahi dengan
A dan aglutinin anti-B, darah golongan B mengandung alcohol 70%. Lalu ditusukkan lancet dengan hati-hati
aglutinogen tipe B dan aglutinin anti-A, darah golongan dan mantap ke ujung jari yang telah steril, lalu menekan
AB mengandung aglutinogen tipe A dan tipe B, tetapi ujung jari hingga darah keluar. Diteteskan darah pada
tidak mengandung aglutinin anti-A atau anti-B. 4. Darah kartu uji sebanyak 4 kali pada tempat yang berbeda
golongan O tidak mengandung aglutinogen, tetapi sesuai nomor setelah itu diteteskan serum alfa sebanyak
mengandung aglutini anti-A dan aglutini-B. 1 tetes pada sampel darah pertama, lalu mengaduk
Golongan darah Rhesus Sistem Rhesus dengan gerakan memutar menggunakan tusuk gigi.
merupakan suatu sistem yang sangat kompleks. Masih Dilakukan langkah sebelumnya untuk serum alfa, serum
banyak perdebatan baik mengenai aspek genetika, beta dan serum Rhesus diamati apakah aglutinasi
nomenklatur maupun interaksi antigeniknya. Rhesus
mengalami penggumpalan atau tidak. Kemudian Data 16% dengan jumlah mahasiswa yang mempuyai
dianalisis Hardy Weinberg dengan menggunakan hukum golongan darah A sebanyak 6 orang , golongan darah B
Hardy-Weinberg (Brewer, G.J. and F.S. Carles. 1983) 9 orang , golongan darah AB 4 dan golongan darah O
dengan rumus: sebanyak 5 orang. Pada pengujian golongan darah
mahasiswa biologi didapati bahwa jumlah golongan
(p+q+r) = p2 + q2+ r2 + 2pq + 2pr +2qr = 1
darah B lebih dominan 33% dibandingkan golongan
darah AB 18%. Menurut Suryo (1979), golongan darah
3. Hasil dan Pembahasan
orang Indonesia secara umum adalah B. Penggolongan
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh
darah pada praktikum ini dilakukan dengan cara melihat
presentasi frekuensi genotip golongan darah mahasiswa
apakah terjadi penggumpalan setelah mencampurkan
biologi UIN Jakarta 2013, golongan darah A terdapat
darah dengan masing-masing Antigen A dan B. Tabel
33%, B 33%, AB 18% dan golongan darah O sebanyak
hasil pengamatan sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Penggumpalan Darah dan Uji Rhesus
Serum Golongan
No Nama praktikan
Anti A Anti B darah
1 Andika Dwi Tidak menggumpal menggumpal A
2 Endah hary menggumpal Tidak menggumpal B
3 Meilani menggumpal Tidak menggumpal A
4 Maulana Tidak menggumpal Tidak menggumpal O
5 Jeanne Tidak menggumpal Tidak menggumpal O
6 Puri Dwi Tidak menggumpal menggumpal B
7 M.Amin Tidak menggumpal Tidak menggumpal O
8 Zikri Tidak menggumpal menggumpal A
9 Amelia Tidak menggumpal menggumpal B
10 Hushila menggumpal menggumpal AB
11 Roscha Tidak menggumpal menggumpal B
12 M.Risky Tidak menggumpal Tidak menggumpal O
13 Sukma menggumpal menggumpal AB
14 M. Azzam menggumpal Tidak menggumpal A
15 Nurfauziah Tidak menggumpal menggumpal B
16 Eka apriliyani Tidak menggumpal menggumpal B
17 Eka syafiqa Tidak menggumpal Tidak menggumpal O
18 Risky aprizal menggumpal menggumpal AB
19 Dea Amalya menggumpal Tidak menggumpal A
20 M. Ilham menggumpal menggumpal AB
21 Khurfatul Tidak menggumpal Tidak menggumpal O
22 Sarah Nuraini Tidak menggumpal menggumpal B
23 Aditya p menggumpal Tidak menggumpal A
24 Ana R. J Tidak menggumpal menggumpal B
Pada darah praktikan Dea Amalya, terjadi reaksi teramati mengalami penggumpalan. Rhesus positif (rh
penggumpalan setelah diberikan larutan serum Antk-A. positif) pada semua praktikan mempunyai rh-antigen
Hal ini karena darah Dea memiliki anti-B (antibodi B). pada eritrositnya sedangkan Rhesus negatif (rh negatif)
Maka golongan darah Dea Amalya adalah A karena adalah seseorang yang tidak mempunyai rh-antigen pada
golongan darah A memiliki anti-B , dan antigen A eritrositnya.
(aglutinogen A) pada darahnya sehingga Anti-B pada Penggolongan darah penting dilakukan sebelum
darah de dan berbeda pada praktikan Fauziah, terjadi transfusi darah karena pencampuran golongan darah
reaksi penggumpalan setelah diberikan Antigen B. Hal yang tidak cocok menyebabkan aglutinasi dan destruksi
ini karena darah Fauziah memiliki anti-A (antibodi A). sel darah merah (Samsuri, 2007).
Maka golongan darah Fauziah adalah B karena golongan Penggolongan darah penting dilakukan sebelum
darah B memiliki anti-A , plasma antibodi/ aglutinin A transfusi darah karena pencampuran golongan darah
dan antigen B (aglutinogen B) pada darahnya. Pada yang tidak cocok menyebabkan aglutinasi dan destruksi
darah praktikan Sukma, terjadi penggumpalan setelah sel darah merah (Samsuri, 2007). Untuk menentukan
diteteskan Antigen A dan juga terjadi pengumpalan golongan darah pedomannya sebagai berikut:
setelah ditetesi Antigen B. Hal ini berarti dalam darah 1. Jika aglutinin a (anti A) + aglutinogen A = terjadi
Sukma tidak terdapat aglutinin (antibodi A dan Antibodi aglutinasi (penggumpalan)
B), golongan darah AB disebut juga sebagai resipien 2. Jika aglutinin b (anti B) + aglutinogen B = terjadi
universal karena dapat menerima darah dari golongan aglutinasi (penggumpalan)
darah manapun seperti golongan darah A, B maupun O. 3. Jika anti Rhesus (antibodi Rhesus) + antigen Rhesus =
Sedangkan pada praktikan Jeanne tidak terjadi terjadi aglutinasi (penggumpalan) a. Darah + anti Rhesus
penggumpalan darah karena di dalam darah Jeanne = aglutinasi → terdapat antigen Rhesus → gol Rh+ b.
memiliki anti-A dan anti-B. Maka praktikan tersebut Darah + anti A= aglutinasi → terdapat aglutinogen A →
bergolongan darah O. hal ini sesuai dengan pendapat gol A c. Darah + anti B= aglutinasi → terdapat
Solomon, 1993 yang menyatakan bahwa diberi serum aglutinogen B → gol B Penggunaan anti AB hanya
aglutinin a maupun b tidak mengalami aglutinasi, untuk verifikasi (kepastian) saja. Tidak digunakan juga
kemungkinan darahnya adalah O (Solomon, 1993). tidak masalah.
Golongan darah O dapat disebut sebagai donor universal Berdasarkan pengamatan uji golongan darah
karena golongan O tidak memiliki aglutinogen untuk yang telah dilakukan, golongan darah B mahasiswa
diaglutinasi sehingga dapat diberikan pada resipien Biologi UIN Jakarta 2013 mempunyai frekuensi yang
manapun. paling besar diantara golongan darah yang lain. Tabel
Pengujian penentuan Rhesus, semua praktikan hasil pengamatan yang telah dilakukan sebagai berikut:
biologi 2013 memiliki Rh (+)/ positif, karena darah yang
Tabel 2. Tabel Hasil Pengamatan Presentase Golongan Darah

Presentase (%) Biologi


Golongan Darah Jumlah Mahasiswa Presentase (%) Biologi 2013
2002/2003

A 6 33% 24,1%
B 9 33% 28,9%
AB 4 18% 7,9%
O 5 16% 39,5%
Total 24 100% 100%
Analisis data: (p + r) = 0,7
p = 0,7 – 0,45
Frekuensi alel IA, IB, i berdasarkan rumus Hardy-
p = 0,25
Weinberg :
2
3. Frekuensi alel IB
(p+q+r) = 1
p+q+r=1
(P2+2pq+q2+2qr+2pr+r2)=1
q = 1 – (p + r)
Diketahui orang yang bergolongan darah O = 5
q = 1 0,25- 0,45
orang yang bergolongan darah A =6
q = 0,3
orang yang bergolongan darah B = 9
B. Persentasi genotipe darah
orang yang bergolongan darah AB = 4
Berdasarkan hukum Hardy-Weinberg :
ditanyakan a. Frekuensi alel IA, IB, i
p2 (IAIA)+ 2pr (IAi) + q2 (IBIB)+ 2qr (IBi)+ 2pq(IAIB)+ r2ii
b. Persentasi genotipe darah
Frekuensi golongan darah :
a. Frekuensi alel IA, IB, i
1. golongan darah A homozigot (p2 )/(IAIA) = 0,25 x 24 =
1. Frekuensi alel i
1 orang
r2 = frekuensi golongan darah O
2
2. golongan darah A heterozigot (2pr)/(IAi) = 2 x 0,25 x
r = 5/24
0,45 x 24 = 5 orang
r2 = 0,2
3. golongan darah B homozigot (q2) (IBIB) = 0,09 x 24 =
r = √0,2
2 orang
r = 0,45
A
4. golongan darah B heterozigot (2qr) (IBi) = 2 x 0,3 x
2. Frekuensi alel I
0,45 x 24 = 7 orang
(p+r)2 = p2 + 2pr + r2
5. golongan darah AB (2pq) (IAIB) = 2 x 0,25 x 0,3 x 24
(p + r)2 = 6 + 5/24
= 4 orang
(p + r)2 = 0,45
6. golongan darah O (r2) (ii) = 0,2 x 24 = 5 orang
(p + r) = √0,45

Tabel 3. Frekuensi alel lA, lB, dan IO pada mahasiswa biologi angkatan 2013
Frekuensi alel Nilai
IA 0,25
IB 0,3
0
I 0,4

Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas, bisa dilihat pada golongan darah O presentase mahasiswa Biologi
bahwa presentase golongan darah A pada mahasiswa 2002/2003 lebih tinggi dengan nilai 39,5% sedangkan
Biologi 2013 sebesar 33% (0,33), lebih banyak mahasiswa Biologi UIN sebesar 16% (0,16).
dibandingan dengan Mahasiswa Biologi 2002/2003 Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa presentasi
dengan frekuensi 24,1%, pada frekuensi golongan darah golongan darah tertinggi pada mahasiswa Biologi UIN
B juga demikian, frekuensi golongan darah B lebih 2013 adalah golongan darah B, sementara pada
banyak yakni 33% (0,33) pada mahasiswa Biologi UIN mahasiwa Biologi UIN terbesar ada pada golongan
2013 sedangkanMahasiswa Biologi UIN 2002/2003 28 darah O. Berbedanya presentase golongan darah ini
9%, begitupula pada golongan darah AB Biologi 2013 dipengaruhi oleh adanya perubahan frekuensi gen yang
sebesar 18% (0,18), biologi 2002/2003 7,9 %. Sementara mengatur golongan darah ini. Menurut Crow dan
Kimura (1970) perubah frekuensi gen dapat disebabkan suatu populasi dapat berubah. Adapun frekuensi alel
oleh bebera faktor antara lain seleksi alam, imitasi, gene mahasiswa Biologi UIN 2013 IA sebesar 0,25, IB 0,3 dan
drift, miotic drift, dan migrasi. Sedangkan menurut Io 0,4. Adapun pembuktian hasil uji frekuensi alel dan
Suryo (1997) bahwa bercampurnya alel-alel di dalam genotip golongan darah dengan tabel chi-square adalah
suatu populasi dapat menyebabkan frekuensi alel dalam sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Perhitungan Chi-Square Golongan Darah
Fenotipe O E O-E (O-E)2 (O-E)2/E
A (IAIA/IAi) 6 8 -2 4 0,5
B B B
B (I I /I i) 9 8 1 1 0,125
AB(IAIB) 4 4 0 0 0
O (ii) 5 4 1 1 0,25
Jumlah 24 24 X2 0,875
x2 hitung < x2 Tabel, sehingga H' diterima
db: 4-1= 3
X2 tabel 7,815 (dari taraf signifikansi 5%)

Berdasarkan hasil perhitungan Chi-Square diatas bahwa darah menunjukkan bahwa hasil observasi yang
nilai X2 hitung yang diperoleh lebih kacil dengan nilai diperoleh diterima dan sesuai dengan hukum Mendel
0,875 dibandingkan dengan nilai X2 tabel yakni 7,815. dan populasi alel dan genotip mahasiswa Biologi 2013
Hal ini menunjukkan bahwa hasil observasi yang dalam keadaan seimbang.
diperoleh diterima dan sesuai dengan hukum Mendel.
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa 4. DAFTAR PUSTAKA
frekuensi alel pada populasi alel dan genotip golongan Brewer, G.J. and F.S. Carles. 1983. Genetics. Addison
darah mahasiswa Biologi 2013 dalam keadaan Wesley Publishing Company Inc. New York
seimbang. Menurut Suryo (1997), populasi dikatakan Crow, J.F. and M. Kimura. 1970. An Introduction to
dalam keadaan seimbang (ekuilibrium) jika frekuensi Population Genetics Theory. Burgess Publishing
suatu gen tetap dari generasi ke generasi. Ini dijumpai Company Minnepolis. Minnesota.
pada populasi yang besar, perkawinan yang berlangsung Kimball, J. W. 1999. Biologi Umum. Erlangga, Jakarta
secara acak (random) dan tidak ada usaha untuk Prawirohartono, Slamet. 1995. Sains Biologi. Bumi
mengatur sifat. Aksara. Jakarta
Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah Solomon, et. al. 1993. Biology. Savders-Collage
frekuensi genotip golongan darah mahasiswa biologi Publishing: Fort wort
UIN Jakarta 2013, golongan darah A terdapat 33%, B Syamsuri I, Sulisetijono, Ibrohim & Rahayu
33%, AB 18% dan golongan darah O sebanyak 16%, SE.2007.Biologi jilid 2 . jakarta: Erlangga
sedangkan frekuensi alel mahasiswa biologi UIN Jakarta Solomon, et. al. 1993. Biology. Savders-Collage
2013 IA sebesar 0,25, IB 0,3 dan Io 0,4 selain itu Publishing: Fort wort
presentasi golongan darah tertinggi pada mahasiswa Suryo. 1997. Genetika. Departemen P dan K Direktorat
Biologi UIN 2013 adalah golongan darah B. Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta
Berdasarkan hasil perhitungan Chi-Square golongan