Anda di halaman 1dari 10

PROFIL KELARUTAN LIMBAH MINYAK BUMI

DALAM AIR AKIBAT PENGARUH SURFAKTAN NONIONIK


DAN LAJU PENGADUKAN
(Solubility Profile of Petroleum Waste In Water
as Effect of Nonionic Surfactant and Stirring Rate)

(Charlena*, Zainal Alim Mas’ud*, Ahmad Syahreza*, Asriqa Sary Purwadayu)


*Staf Pengajar Kimia Departemen Kimia FMIPA Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT

Petroleum waste is classified as a dangerous waste that cause pollution and


damage the environtment. The remediation of petroleum polluted soil could be
done by microorganism capability. Additional of nonionic surfactant and stirring
rate would make soil dispersed well in water, facilitating good contact between
microorganism and petroleum carbon as its feed. In this research, Tween 80 and
Brij 35 were used as surfactants. The observed parameters were concentrations
and stirring rates. Surfactant concentration was selected based on surface tension
value and emulsion stability. The highest emulsion stability for Tween 80 observed
was 0.24% at concentration 0.0175%, while for Brij 35 equal to 0.22% at
concentration 0.0150%. Stirring rates were applied 100, 120, and 140 rpm,
successively based on liquid Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) value. Liquid
TPH value at 100, 120, and 140 rpm for Tween 80 and Brij 35 were 0.25, 0.32,
0.40 and 0.36, 0.55, 0.74%, successively. Liquid TPH depicted amount of oil that
was dispersed into the water. The other parameters such as solid TPH and
Chemical Oxygen Demand (COD) obtained for 140 rpm were 15.56% and 41235
mg/L for Tween 80 while for Brij 35 equal to 16.55% and 41717 mg/L.

ABSTRAK
Limbah minyak bumi merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang
memiliki potensi menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pemulihan lahan
tercemar oleh minyak bumi dapat dilakukan dengan menggunakan kapasitas kemampuan
mikroorganisme. Penambahan surfaktan nonionik dan pengadukan akan meningkatkan
kelarutan minyak dalam air sehingga mempermudah kontak antara mikroorganisme dan
sumber karbon dari minyak bumi sebagai makanannya. Pada penelitian ini, surfaktan
yang digunakan adalah Tween 80 dan Brij 35. Parameter yang diamati adalah konsentrasi
surfaktan dan laju pengadukan. Konsentrasi surfaktan ditentukan dari nilai tegangan
permukaan dan stabilitas emulsi. Stabilitas emulsi tertinggi untuk Tween 80 sebesar
0.24% pada konsentrasi 0.0175%, sedangkan Brij 35 sebesar 0.22% pada konsentrasi
0.0150%. Laju pengadukan yang digunakan adalah 100, 120, dan 140 rpm. Laju
pengadukan optimum diperoleh pada nilai 140 rpm, hal ini didasarkan pada nilai TPH
(Total Petroleum Hydrocarbon) cair. Nilai TPH cair pada laju 100, 120, dan 140 rpm
untuk Twen 80 dan Brij 35 berturut-turut sebesar 0.25, 0.32, 0.40 dan 0.36, 0.55, 0.74%.
Nilai TPH cair menggambarkan banyaknya minyak yang terdispersi ke dalam air.
Parameter lain seperti TPH padat dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang diperoleh
pada laju 140 rpm sebesar 15.56% dan 41235 mg/L untuk Tween 80, sedangkan untuk
Brij 35 sebesar 16.55% dan 41717 mg/L.

1
PENDAHULUAN proses pengolahan biologis adalah tidak lebih
dari 15%. Sedangkan nilai akhir hasil akhir
Penanggulangan pencemaran akibat pengolahannya adalah TPH 1%.
limbah minyak bumi dapat dilakukan dengan Biodegradasi limbah minyak bumi di
beberapa cara, yaitu secara fisika, kimia, dan lingkungan air terjadi pada bagian antarmuka
biologi. Upaya pengolahan limbah minyak lapisan air dan minyak. Oleh karena itu,
bumi dan tanah terkontaminasi oleh minyak biodegradasi akan lebih cepat terjadi bila
bumi dapat dilakukan dengan pengolahan limbah minyak tersebut dalam bentuk
secara biologis sebagai alternatif teknologi terdispersi dalam air. Kondisi ini akan
pengolahan limbah minyak bumi. Hal ini memudahkan penyediaan oksigen dan unsur-
dilakukan untuk mencegah penyebaran dan unsur makanan yang diperlukan untuk
penyerapan minyak kedalam tanah. pertumbuhan mikroorganisme (Udiharto
Penanggulangan tumpahan minyak bumi 1996).
secara fisika biasanya digunakan pada awal Surfaktan memiliki gugus polar dan
penanganan. Pada penanganan ini, tumpahan nonpolar sekaligus dalam satu molekulnya.
minyak bumi diatasi secara cepat sebelum Salah satu sisinya akan mengikat minyak
menyebar kemana-mana. Minyak bumi yang (nonpolar), di sisi lain surfaktan akan
terkumpul di permukaan dapat diambil mengikat air (polar). Menurut Clark (2004),
kembali, misalnya dengan oil skimmer, surfaktan nonionik adalah bahan esensial yang
sedangkan yang mengendap sulit diambil tidak beracun dengan konsentrasi ambang
secara fisika. Pengambilan minyak di batas lebih dari 100g/kg. Selain itu, umumnya
permukaan tidak dapat dilakukan secara surfaktan nonionik bersifat biodegradabel.
tuntas. Apabila minyak sudah menyebar Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan
kemana-mana, cara ini sulit dilakukan (Prince penambahan surfaktan nonionik yang disertai
et al. 2003). Penanggulangan secara kimia pengadukan agar membantu kelarutan minyak
dilakukan dengan mencari bahan kimia yang sehingga mempercepat proses degradasi.
mempunyai kemampuan mendispersi minyak, Penelitian bertujuan menentukan
tetapi pemakaiannya dapat menimbulkan konsentrasi optimum surfaktan nonionik
masalah. sebagai pengemulsi limbah minyak bumi
Salah satu cara pengolahan limbah dalam air serta laju pengadukan optimum
minyak dan tanah terkontaminasi oleh minyak yang mendukung kelarutan limbah minyak
bumi adalah pengolahan secara biologis. bumi dalam air.
Pemulihan lahan tercemar oleh minyak bumi
dapat dilakukan dengan menggunakan
kapasitas kemampuan mikroorganisme. BAHAN DAN METODE
Fungsi dari mikroorganisme adalah
mendegradasi struktur hidrokarbon yang ada Bahan dan Alat
dalam tanah yang terkontaminasi minyak Bahan-bahan yang digunakan adalah jenis
bumi menjadi mineral-mineral yang lebih surfaktan nonionik (Tween 80 dan Brij 35),
sederhana serta tidak membahayakan terhadap dan limbah minyak bumi berasal dari Riau.
lingkungan. Teknik seperti ini disebut Alat-alat yang digunakan adalah
bioremediasi. Menurut Udiharto (1996), ultrasonic homogenizer, dan Surface
bioremediasi adalah teknologi ramah Tensiometer Model 20.
lingkungan yang cukup efektif, efisien, dan
ekonomis. Bioremediasi merupakan proses Lingkup Penelitian
detoksifikasi dan degradasi limbah minyak. Penelitian ini terbagi atas tiga tahap, yaitu
Seluruh prosedur kerja serta pelaksanaan menentuan tegangan permukaan surfaktan
bioremediasi mengacu pada Keputusan nonionik (Tween 80 dan Brij 35), menguji
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor pengaruh konsentrasi surfaktan terhadap
128 Tahun 2003 tentang tata cara dan stabilitas emulsi, memvariasikan laju
persyaratan teknik pengelolaan limbah pengadukan. Parameter yang ditentukan
minyak dan tanah terkontaminasi oleh minyak antara lain TPH padat, TPH cair, pH, dan
bumi secara biologis. Limbah yang akan COD (dari masing-masing pengadukan).
diolah dengan metode biologis harus
dianalisis terlebih dulu kandungan minyak Pengukuran Bobot Jenis Akuades dan
atau Total Petroleum Hydrocarbon (TPH). Surfaktan
Konsentrasi maksimum TPH awal sebelum

2
Piknometer kosong ditimbang, lalu diisi % Stabilitas emulsi = x 100%
dengan akuades sampai penuh dan ditimbang turbiditas akhir
kembali. Bobot akuades adalah selisih antara
bobot piknometer yang berisi akuades dan Pengaruh Konsentrasiturbiditas awal
Surfaktan Terhadap
bobot piknometer kosong. Pengukuran bobot Pembentukan Busa (ASTM 2002)
jenis surfaktan dilakukan dengan metode yang Sebanyak 200 mL surfaktan dimasukkan
sama. ke dalam botol khusus (volume 500 mL).
Botol tersebut ditempatkan dalam water bath
Pengukuran Tegangan Permukaan (25 ± 1ºC) selama 1 sampai 2 jam. Suhu
Surfaktan (ASTM 2001) dalam penangas diukur dan diatur menjadi (25
Masing-masing surfaktan (Tween 80 dan ± 1ºC). Botol dikeluarkan dari penangas dan
Brij 35) dilarutkan dalam akuades dengan ditandai tinggi cairan di atas permukaan
variasi konsentrasi 0.0000, 0.0025, 0.0050, cairan (I). Botol tersebut dikocok dengan kuat
0.0075, 0.0100, 0.0125, 0.0150, 0.0175, (minimal 40 kali) dalam waktu kurang dari 10
0.0200, 0.0225, 0.0250, 0.0275, 0.0300, detik. Tinggi total busa ditandai (di atas
0.0350, 0.0400% (v/v). Pengukuran dilakukan permukaan busa), tinggi ini disebut dengan
menggunakan Surface Tensiometer Model 20. tinggi total busa pada waktu nol (M). Pencatat
Cincin Pt-Ir yang bersih dicantelkan pada kail. waktu dinyalakan. Tinggi busa setelah 5 menit
Sebanyak 40 mL larutan surfaktan dicatat sebagai tinggi total busa setelah 5
dipindahkan ke dalam gelas kimia dan menit (R). Suhu pengukuran dicatat. Tinggi
ditempatkan pada meja sampel. Meja sampel busa maksimum (FM) dan tinggi busa setelah 5
digerakkan sampai cairan ada di bawah cincin menit (FR) dihitung dengan rumus sebagai
Pt-Ir. Cincin tercelup sekitar 1/8 inchi. Tangan berikut:
torsi dilepaskan dan alat diatur ke posisi nol, FM = M – I
posisi diatur dengan sekrup kanan sampai FR = R – I
garis dan jarum penunjuk berimpit. Sekrup di Keterangan:
bawah skala depan diputar sampai skala FM : Tinggi busa maksimum
vernier pada skala luar dimulai dari nol. Meja M : Tinggi total maksimum busa pada
sampel diturunkan sampai cincin ada di waktu nol
permukaan cairan. Permukaan cairan akan I : Tinggi awal cairan
menjadi gelembung, kemudian dilanjutkan FR : Tinggi busa tersisa setelah 5 menit
dengan dua pengaturan bersama sampai R : Tinggi total busa setelah 5 menit
lapisan gelembung pada permukaan cairan
pecah. Skala yang terbaca pada titik pecah Pengaruh Pengadukan Terhadap Analisis
lapisan gelembung adalah tegangan pH, TPH padat, TPH cair, dan COD
permukaan terukur. Konsentrasi surfaktan dengan stabilitas
tertinggi digunakan untuk mengetahui
Pengaruh Konsentrasi Surfaktan Terhadap pengaruh pengadukan terhadap stabilitas
Stabilitas Emulsi emulsinya. Sebanyak 300 mL larutan
Stok surfaktan (Tween 80 dan Brij 35) surfaktan ditambahkan 88.2353 gram limbah
dibuat pengenceran dengan lima konsentrasi minyak bumi. Pengadukan dengan laju 100,
yang memiliki nilai tegangan permukaan 120, dan 140 rpm selama 1 jam dilakukan
mendekati konsentrasi misel kritis (KMK), pada contoh tersebut untuk masing-masing
kemudian 50 mL surfaktan dengan masing- surfaktan. Masing-masing perlakuan diukur
masing konsentrasi tersebut dicampurkan pH, TPH padat, TPH cair, dan CODnya.
dengan 14.7059 gram limbah minyak. Lalu
larutan tersebut diemulsikan dengan memakai Penetapan pH
ultrasonic homogenizer masing-masing Sebanyak 10 mL larutan surfaktan yang
selama 5 menit pada frekuensi 25 kHz, telah dicampur dengan limbah minyak
kemudian diukur turbiditasnya dengan dimasukkan ke dalam gelas piala 100 mL
menggunakan turbidimeter. Setiap emulsi kemudian pengukuran pH dilakukan dengan
yang sudah dibuat dimasukkan ke dalam indikator pH universal.
tabung sentrifuse dan disentrifuse selama 45
menit pada laju 2000 rpm, kemudian diukur Pengukuran TPH padat (US EPA 1998)
kembali turbiditasnya dengan menggunakan Nilai TPH diukur menggunakan metode
turbidimeter. Stabilitas emulsi dihitung gravimetri. Sebanyak 5 gram limbah minyak
dengan rumus sebagai berikut: hasil pengadukan dibungkus dengan kertas
saring. Timbel yang telah dibuat tersebut

3
dimasukan dalam soxhlet dan diekstrak amonium sulfat 0,05 N yang telah
dengan pelarut heksana sebanyak 100 mL distandardisasi sampai terjadi perubahan
selama 4 jam. Ekstrak yang diperoleh warna dari hijau menjadi merah coklat lalu
dihilangkan airnya dengan Na2SO4 anhidrat dicatat volume pemakaian larutan baku
lalu disaring. Ekstrak yang diperoleh feroamonium sulfat. Pembuatan reagen dan
kemudian dipekatkan dengan radas uap putar perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17.
hingga kering. Labu yang telah kering
dipanaskan dalam oven pada suhu 70 ºC
selama 45 menit kemudian didinginkan dalam HASIL DAN PEMBAHASAN
desikator dan ditimbang. Bobot yang terukur
adalah bobot minyak dan lemak. Sampel hasil Tegangan Permukaan
pengeringan dilarutkan kembali dengan Pengukuran tegangan permukaan larutan
heksana dan ditambahkan silika gel untuk surfaktan Tween 80 dan Brij 35 menggunakan
menghilangkan senyawa-senyawa polar dan metode cincin Du Noűy. Metode ini
disaring. Pelarut diuapkan kembali dan didasarkan pada penentuan gaya yang
dipanaskan dalam oven, bobot yang terukur diperlukan untuk menarik cincin Pt-Ir dari
merupakan residu minyak (nilai TPH). permukaan cairan (Holmberg et al. 2003).
Gaya yang diperlukan untuk menarik cincin
Pengukuran TPH cair (US EPA 1999) sebanding dengan tegangan permukaan
Sebanyak 50 mL larutan surfaktan yang surfaktan.
telah dicampur dengan limbah minyak (hasil Gambar 1 dan 2 menunjukkan tegangan
pengadukan) diekstraksi dengan 25 mL permukaan tanpa penambahan surfaktan
heksana. Ekstraksi dilakukan dua kali. mempunyai nilai tertinggi, yaitu 71.71
Kandungan air pada contoh dihilangkan dyne/cm dibandingkan dengan penambahan
dengan menambahkan Na2SO4 anhidrat, surfaktan. Air mempunyai tegangan
kemudian disaring. Pelarut dihilangkan permukaan yang lebih besar di antara dispersi
menggunakan rotary evaporator, setelah itu dan kebanyakan cairan lain karena gaya
dioven selama 45 menit pada suhu 70ºC. kohesifnya lebih besar berdasarkan ikatan
Wadah dan sampel didinginkan dalam hidrogennya. Hasil pengukuran menunjukkan
desikator lalu ditimbang. Bobot yang terukur penurunan tegangan permukaan maksimum
bobot minyak dan lemak. Sampel hasil untuk Tween 80 dan Brij 35 diperoleh pada
pengeringan dilarutkan kembali dengan konsentrasi 0.0175% yang mendekati nilai
heksana dan ditambahkan silika gel untuk KMK.
menghilangkan senyawa-senyawa polar dan
disaring. Pelarut diuapkan kembali dan
dioven, bobot yang terukur merupakan residu
minyak (TPH).

Analisis COD (Clesceri et al. 2005)


Sebanyak 10 mL sampel dipipet dan
dimasukkan ke dalam tabung COD.
Kemudian 5 mL larutan campuran kalium
dikromat-merkuri sulfat dipipet ke dalam
sampel. Setelah itu, ditambahkan 10 mL
Gambar 1 Tegangan permukaan Tween 80.
larutan campuran asam sulfat-perak sulfat dan
campuran diaduk kemudian ditutup. Tahap
diatas diulangi pada 10 mL akuades sebagai
blanko. Setelah masing-masing unit pengaman
pada tutup dipasang, tabung dimasukkan ke
dalam oven pada suhu 150°C. Setelah 2 jam,
tabung COD dikeluarkan dari dalam oven dan
dibiarkan hingga dingin. Campuran dari
tabung COD dipindahkan ke dalam
Erlenmeyer 100 mL dan dibilas dengan 10 mL
akuades. Lalu, 2 mL asam sulfat pekat dan 3 Gambar 2 Tegangan permukaan Brij 35.
tetes larutan indikator feroin ditambahkan
Penurunan tegangan permukaan mula-
secara berturut-turut ke dalam campuran.
mula terjadi saat konsentrasi surfaktan sangat
Campuran dititrasi dengan larutan baku fero

4
rendah. Hal ini disebabkan molekul surfaktan Gambar 3 dan 4 menunjukkan kenaikan
teradsorpsi di permukaan. Jika konsentrasi stabilitas emulsi pada suatu titik kemudian
ditingkatkan lagi, sebagian molekul surfaktan stabilitas emulsi menurun dan cenderung
membentuk misel, yaitu gerombol kecil tetap. Stabilitas emulsi maksimum untuk
molekul yang gugus hidrokarbonnya (non Tween 80 sebesar 0.24% pada konsentrasi
polar) ada di bagian tengah dan gugus 0.0175%, sedangkan Brij 35 sebesar 0.22%
hidrofiliknya berada di bagian luar. Misel- pada konsentrasi 0.0150%. Pada pengukuran
misel tersebut tersolvasi oleh molekul air. tegangan permukaan sebelumnya diperoleh
Oleh karena itu, kenaikan konsentrasi akan nilai KMK sekitar 0.0175% untuk Tween 80
meningkatkan jumlah misel yang terbentuk. dan Brij 35. Jika dibandingkan dengan
Konsentrasi saat surfaktan mulai pengukuran tegangan permukaan tersebut,
membentuk misel dengan stabil disebut hasil pengukuran stabilitas emulsi sesuai
konsentrasi misel kritis (KMK). Pada KMK, dengan sifat surfaktan bahwa efektivitas
tegangan permukaan hampir mencapai jenuh. surfaktan dalam menurunkan tegangan
Pada konsentrasi yang lebih tinggi, hampir permukaan tercapai di sekitar titik KMKnya.
semua molekul surfaktan membentuk misel Kenaikan stabilitas emulsi disebabkan
dan sedikit molekul yang teradsorpsi di molekul-molekul surfaktan teradsorpsi pada
permukaan sehingga hanya sedikit terjadi antarmuka air dan minyak (Gambar 3 dan 4).
perubahan tegangan permukaan. Adsorpsi ini terjadi berdasarkan pergerakan
gugus hidrofobik untuk mencegah kontak
Pengaruh Konsentrasi Surfaktan pada dengan air dan mengarah ke minyak karena
Stabilitas Emulsi tarik-menarik antara minyak dan gugus
Konsentrasi surfaktan yang digunakan hidrofobik, sedangkan gugus hirofilik dari
untuk mengamati pengaruh konsentrasi molekul surfaktan tarik-menarik dengan air.
surfaktan terhadap stabilitas emulsi Adsorpsi yang terjadi ini menurunkan
didasarkan pada nilai tegangan permukaan tegangan antarmuka minyak-air sehingga
terkecil dari surfaktan, yaitu 49.58 dyne/cm meningkatkan stabilitas emulsi yang
untuk Tween 80 (0.0175%) dan 31.29 terbentuk. Tegangan antarmuka minyak-air
dyne/cm untuk Brij 35 (0.0175%). Hasil telah jenuh pada saat misel terbentuk sehingga
pengukuran stabilitas emulsi pada lima molekul surfaktan yang teradsorpsi pada
konsentrasi dengan membandingkan antarmuka minyak-air juga lebih sedikit.
kekeruhan emulsi sebelum dan sesudah Akibatnya, kemampuan dalam menurunkan
sentrifugasi hanya memberikan perubahan tegangan antarmuka lebih kecil atau tidak
stabilitas emulsi sedikit saja. mampu lagi menurunkan tegangan antarmuka
sehingga stabilitas emulsi cenderung tetap
setelah mencapai maksimum (Jaya 2005).

Tinggi Busa
Busa merupakan dispersi dari gas dalam
cairan atau padatan (Holmberg et al. 2003).
Metode pengocokan digunakan untuk
mengetahui tinggi busa yang dihasilkan oleh
surfaktan. Konsentrasi yang digunakan dalam
pengukuran ini sama dengan pengukuran
Gambar 3 Stabilitas emulsi Tween 80. stabilitas emulsi.
Gambar 5 dan 6 menunjukkan hasil
pengukuran tinggi busa Tween 80 dan Brij 35.
Kenaikan tinggi busa terjadi dengan
penambahan konsentrasi surfaktan. Pada
konsentrasi yang rendah, viskositas larutan
surfaktan kecil sehingga mempermudah
tumbukan antar lapisan tipis yang berdekatan.
Akibatnya, pembentukan busa semakin
sedikit dengan berkurangnya konsentrasi
surfaktan.
Gambar 4 Stabilitas emulsi Brij 35. Secara umum, kemampuan pembentukan
busa surfaktan meningkat dengan
meningkatnya panjang rantai alkil pada gugus

5
hidrofobik dan menurun dengan percabangan menunjukkan nilai pH sebelum dan sesudah
pada gugus hidrofobiknya. Pembentukan busa pengadukan yaitu sekitar 4. Nilai ini
juga menurun dengan meningkatnya jumlah disebabkan oleh kondisi limbah minyak bumi
unit oksietilen pada gugus hidrofilik yang yang digunakan sudah asam, sehingga setelah
dimiliki surfaktan nonionik (Schramm 2005). dicampurkan pada larutan surfaktan,
Secara keseluruhan, tinggi busa Tween 80 campurannya menjadi asam.
lebih besar dibandingkan dengan Brij 35. Hal
ini disebabkan oleh rantai hidrokarbon pada Tabel 1 Nilai pH sebelum dan sesudah
Tween 80 (18 atom karbon) lebih panjang pengadukan
daripada Brij 35 (12 atom karbon). Laju pH sebelum pH sesudah
Peningkatan jumlah atom karbon pengadukan pengadukan pengadukan
menyebabkan peningkatan jumlah lapisan (rpm)
tipis yang terbentuk sehingga semakin banyak B T80 B35 B T80 B35
jumlah gas atau udara yang terjerap dalam 100 4 4 4 4 3 3
lapisan tipis tersebut (busa semakin banyak). 120 4 4 4 4 4 4
Jumlah unit oksietilen pada gugus hidrofilik 140 4 4 4 4 4 4
yang dimiliki oleh Brij 35 sebanyak 23 buah, Keterangan:
sedangkan Tween 80 sebanyak 20 sehingga B : Blanko
jelas bahwa busa yang dihasilkan oleh Brij 35 T80 : Tween 80 (0.0175%)
lebih sedikit daripada Tween 80. B35 : Brij 35 (0.0150%)
Menurut Dragun (1998), mayoritas
mikrorganisme tanah akan tumbuh dengan
subur pada pH antara 6 sampai 8. Nilai pH
yang rendah pada campuran surfaktan dan
limbah minyak bumi ini dapat diatasi dengan
penambahan larutan basa sehingga
mikroorganisme tidak mati dan dapat
mendegradasi limbah dengan baik.

Pengaruh Pengadukan Terhadap Nilai


TPH
Gambar 5 Pembentukan busa Tween 80.
TPH menggambarkan jumlah
hidrokarbon dengan berbagai macam panjang
rantainya tanpa melihat jenisnya yaitu
alisiklik, aromatik atau alifatik. TPH
merupakan parameter yang paling tepat untuk
menggambarkan biodegradasi limbah minyak
bumi. TPH awal limbah minyak bumi yang
digunakan pada penelitian ini tergolong tinggi,
yaitu 17.22% sehingga membuat laju
degradasi tidak optimum (Lampiran 10).
Menurut Vidali (2001) kondisi optimum
Gambar 6 Pembentukan busa Brij 35. biodegradasi terjadi pada total kontaminan
(TPH) sebesar 5 – 10 %.
Busa yang dihasilkan oleh surfaktan
Salah satu cara untuk mengoptimumkan
nonionik lebih sedikit jika dibandingkan
biodegradasi limbah minyak bumi ini dengan
dengan surfaktan anionik. Sehingga, busa
penambahan surfaktan dan melakukan
yang dihasilkan oleh surfaktan nonionik tidak
pengadukan sebelum biodegradasi tersebut
akan mengganggu transfer oksigen yang
berlangsung. Hal ini akan meningkatkan
diperlukan oleh bakteri pada biodegradasi
jumlah minyak yang terdispersi dalam air
limbah minyak bumi.
karena biodegradasi terjadi pada bagian
antarmuka air dan minyak.
pH
Nilai TPH cair dari sampel pada beberapa
Biodegradasi minyak bumi dipengaruhi
laju pengadukan dengan atau tanpa
oleh nilai pH yang terjadi pada lingkungan
penambahan surfaktan ditunjukkan pada Tabel
tersebut (Zhu et al. 2001). Nilai pH
2. Penambahan Brij 35 (0.0150%)
berhubungan dengan jumlah asam yang
terkandung dalam tanah. Tabel 1

6
memberikan nilai TPH cair lebih tinggi yang terdispersi dalam air semakin meningkat
dibandingkan dengan Tween 80 dan blanko. sehingga menyebabkan nilai TPH padat
menurun.
Tabel 2 Nilai TPH cair sampel
Laju TPH TPH TPH Tabel 3 Nilai TPH padat sampel
pengadukan Blanko 0.0175% 0.0150% Laju TPH TPH TPH
Tween 80 Brij 35 pengadukan Blanko 0.0175% 0.0150%
(rpm) (%) (%) (%) Tween 80 Brij 35
100 0.10 0.25 0.36 (rpm) (%) (%) (%)
120 0.17 0.32 0.55 100 16.29 13.13 16.91
140 0.24 0.40 0.74 120 16.13 16.69 16.75
140 16.10 15.56 16.55
Gambar 7 menunjukkan dengan jelas
perbedaan nilai TPH cair sampel tanpa
penambahan surfaktan (blanko), dengan
penambahan Tween 80, dan Brij 35 pada laju
100, 120, dan 140 rpm. Pada blanko, nilai
TPH cair meningkat dengan bertambahnya
laju pengadukan, tetapi hanya memberikan
sedikit kenaikan nilai TPH cair. Sedangkan
dengan penambahan surfaktan, kenaikan nilai
TPH cair semakin besar seiring dengan
penambahan laju pengadukan (Lampiran 12). Gambar 8 Hasil pengukuran TPH padat.
Gambar 8 menunjukkan hasil pengukuran
TPH padat sampel setelah pengadukan.
Penurunan nilai TPH padat tidak terlihat jelas
pada Gambar 8. Akan tetapi, hal ini dapat
dilihat dengan menghitung persentase
hidrokarbon minyak bumi yang larut dalam
air dan yang masih tertinggal di padatan pada
masing-masing sampel (Tabel 4 dan 5).
Tabel 4 Persentase hidrokarbon minyak bumi
Gambar 7 Hasil pengukuran TPH cair. yang larut dalam air
Nilai TPH cair dengan penambahan Brij Laju Blanko Tween 80 Brij 35
35 (0.0150%) lebih tinggi dibandingkan pengadukan
Tween 80 (0.0175%). Hal ini berarti dispersi (rpm) (%) (%) (%)
minyak dalam air juga lebih tinggi. Laju 100 23.65 49.28 52.07
pengadukan meningkatkan nilai TPH cair, 120 34.63 49.52 62.42
dengan kata lain kelarutan limbah minyak 140 42.71 56.51 69.59
bumi juga meningkat dengan bertambahnya
laju pengadukan. Sehingga, nilai TPH cair Tabel 5 Persentase hidrokarbon minyak bumi
tertinggi dengan penambahan Brij 35 yang tertinggal di padatan
(0.0150%) pada laju 140 rpm, yaitu sebesar Laju Blanko Tween 80 Brij 35
0.70%. Penambahan Brij 35 dengan pengadukan
konsentrasi lebih rendah (0.0150%) daripada (rpm) (%) (%) (%)
Tween 80 (0.0175%) dianjurkan untuk 100 76.35 50.72 47.93
aplikasi di lapangan, selain lebih ekonomis 120 65.37 50.48 37.58
juga memberikan kelarutan limbah minyak
140 57.29 43.49 30.41
bumi yang lebih besar daripada Tween 80.
Tabel 3 menunjukkan nilai TPH padat Kelarutan limbah minyak bumi juga
hasil penelitian. Semakin meningkatnya nilai dapat dilihat pada Gambar 9 dan 10.
TPH cair, maka nilai TPH padatnya akan Persentase hidrokarbon minyak bumi yang
menurun. Hal ini hanya terlihat pada blanko larut dalam air meningkat dengan
dan penambahan Brij 35. Semakin bertambahnya laju pengadukan (Lampiran
bertambahnya laju pengadukan, maka minyak 15). Akibatnya, persentase hidrokarbon

7
minyak bumi yang masih tertinggal di padatan organik dari limbah minyak bumi yang masuk
akan menurun. Pada Penambahan Brij 35 dalam air. Hal ini sesuai dengan nilai TPH
memberikan persentase hidrokarbon dari cair sebelumnya karena semakin besar nilai
limbah minyak bumi yang larut dalam air TPH cair, maka semakin banyak senyawa
paling besar (69.59%) dan yang masih organik yang masuk dalam air sehingga nilai
tertinggal di padatan paling kecil (30.41%). CODnya akan meningkat pula. Penambahan
Nilai ini tercapai pada laju 140 rpm. Laju 140 Brij 35 pada 140 rpm memberikan nilai COD
rpm ini belum dapat dikatakan laju optimum terbesar (41717 mg/L) dibandingkan dengan
karena kelarutan limbah minyak bumi yang sampel lainnya. Nilai COD menunjukkan
lebih besar masih mungkin diperoleh pada limbah minyak bumi tersebut banyak
laju pengadukan yang lebih tinggi. Akan mengandung senyawa organik berupa
tetapi, laju pengadukan yang terlalu tinggi hidrokarbon, nitrogen, sulfur, dan oksigen.
akan menambah jumlah busa yang terbentuk Sehingga jumlah oksigen yang dibutuhkan
sehingga dapat mempengaruhi kinerja bakteri untuk mengoksidasi senyawa tersebut
pendegradasi limbah minyak bumi tersebut. menjadi senyawa yang lebih sederhana
semakin tinggi.

Tabel 6 Nilai COD sampel


Laju COD COD COD
pengadukan Blanko 0.0175% 0.0150%
Tween 80 Brij 35
(rpm) mg/L mg/L mg/L
100 16171 16774 17256
120 24245 28342 28462
Gambar 9 Hidrokarbon minyak bumi dalam 140 33041 41235 41717
air.

Gambar 11 Hasil pengukuran COD.


Gambar 10 Hidrokarbon minyak bumi dalam
padatan. Nilai COD blanko lebih rendah
dibandingkan penambahan Tween 80 dan Brij
Pengaruh Pengadukan Terhadap Nilai 35 (Gambar 11). Hal ini menunjukkan
COD penambahan surfaktan memberikan pengaruh
COD merupakan salah satu cara untuk yang besar terhadap kandungan senyawa
menghitung kandungan bahan organik total organik dari limbah minyak bumi yang
(APHA 1992). Pengukuran nilai COD dalam terdapat dalam air. Surfaktan sendiri
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui merupakan senyawa organik sehingga akan
pengaruh penambahan surfaktan dan laju menambah jumlah senyawa organik yang
pengadukan terhadap jumlah senyawa harus dioksidasi.
organik yang terkandung dalam limbah
minyak bumi. Tabel 6 menunjukkan nilai
COD sampel setelah pengadukan.
SIMPULAN
Laju pengadukan mempengaruhi nilai Penambahan surfaktan nonionik dan
COD sampel. Semakin tinggi laju pengaruh laju pengadukan meningkatkan
pengadukan, nilai CODnya akan semakin kelarutan limbah minyak bumi dalam air.
besar. Hal ini berarti semakin tinggi laju Nilai TPH cair pada penambahan Brij 35
pengadukan, semakin banyak senyawa sebesar 0.74% dan Tween 80 sebesar 0.40%

8
pada laju pengadukan 140 rpm membuktikan
bahwa semakin tinggi kecepatan pengadukan Holmberg K, Jönsson B, Kronberg B,
maka kelarutan limbah minyak bumi dalam Lindman B. 2003. Surfactants and
air semakin besar. Selain itu, nilai COD juga Polymers in Aqueous Solution. Ed ke-2.
semakin tinggi dengan bertambahnya England: John Wiley & Sons.
kecepatan pengadukan. Penggunaan Brij 35
0.0150% (stabilitas emulsi 0.22%) lebih baik Jaya HS. 2005. Profil stabilitas emulsi fraksi
dibandingkan dengan Tween 80 0.0175% ringan minyak bumi dalam air dengan
(stabilitas emulsi 0.24%) karena dengan penambahan surfaktan nonionik.
konsentrasi yang lebih rendah mampu [Skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika
memberikan kelarutan limbah minyak bumi dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
dalam air yang lebih besar walaupun stabilitas Pertanian Bogor.
emulsinya sedikit lebih rendah.
Prince RC, Lessard RR, Clark JR. 2003.
Bioremediation of marine oil spills. Oil &
DAFTAR PUSTAKA Gas Sci Technol 58:463-468

[APHA] American Public Health Association Schramm LL. 2000. Surfactants:


1992. Standard Methods for the Fundamentals and Applications in The
Examination of Water and Wastewater. Petroleum Industry. Cambridge:
18th edition. Washington DC: APHA, Cambridge University Press.
AWWA & WEF.
Schramm LL. 2005. Emulsions, Foams, and
[ASTM] American Society for Testing and Suspensions: Fundamentals and
Materials. 2001. D 1331-89. Standard Applications. Weinheim: WILEY-VCH
Test Methods for Surface and Interfacial Verlag GmbH & Co. KGaA.
Tension of Solutions of Surface Active
Agents. West Conshohocken, PA19428- Udiharto M. 1996. Bioremediasi minyak
2959, West Conshohocken: ASTM. bumi. Di dalam: Peranan Bioremediasi
Dalam Pengelolaan Lingkungan.
[ASTM] American Society for Testing and Prosiding Pelatihan dan Lokakarya.
Materials. 2002. D 3601-88. Standard Cibinong, 24-28 Juni 1996. Cibinong:
Test Methods for Foam In Aqueous Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Media. West Conshohocken, PA19428- hlm 24-39.
2959, West Conshohocken: ASTM.
US EPA. 1998. Method 9071B, Revision 2: N-
Clark J. 2004. Mechanism, chemistry, and Hexane Extractable Material (HEM) for
physics dispersants in oil spill response. Sludge, Sediment, and Solid Samples.
Presentation to NRC committee on Washington DC: United States
understanding oil spill dispersants: Environment Protection Agency.
efficacy and effects. Exxon Mobile
Research ang Engineering. US EPA. 1999. EPA-821-R-98-002. Method
1664, Revision A:N-Hexane Extractable
Clesceri LC, Greenberg AE, Eaton AD. 2005. Material (HEM; Oil and Grease) and
Standard Method for Examination of Silica Gel Treated N-Hexane Extractable
Water and Wastewater 21th .5220.C- Material (SGTHEM; Non-polar
Clossed Reflux, Titrimetri Method. Material) by Extraction and Gravimetry.
APHA, AWWA, WEF. Washington DC: United States
Environment Protection Agency.
Departemen Lingkungan Hidup Republik http://www.strataspe.com/speapps/enviro
Indonesia. 2003. Keputusan Menteri n/EPA%201664A.pdf [5 Sep 2008]
Negara Lingkungan Hidup Nomor 128
Tahun 2003 tentang Tatacara dan Zhu X, AD Venosa, MT Suidan and K Lee.
Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah 2001. Guidelines For The
Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi Bioremediation of Marine Shorelines
Limbah Minyak Bumi secara Biologis. and Freshwater Wetlands. United States
Jakarta: Departemen Lingkungan Hidup. Environment Protection Agency.
Cincinnati.

9
10