Anda di halaman 1dari 30

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS HARGA DIRI RENDAH

2.1 Tinjauan Teoritis Harga Diri Rendah


2.1.1 Proses Terjadinya Masalah
2.1.1.1 Pengertian
Menurut NANDA dikutip oleh Direja (2011:142) Harga diri
rendah adalah ”evaluasi diri/perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negatif dan dipertahankan dalam waktu
yang lama”. Sedangkan menurut Keliat, dalam Fajariyah
(2012) Harga diri rendah adalah “penilaian tentang
pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku
sesuai dengan ideal diri”.

Sementara menurut Stuart & Sundeen, dalam Wijayaningsih


(2015:49) Harga diri rendah adalah “penilaian pribadi
terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa
jauh perilaku memenuhi ideal diri”. Menurut Carpenito, L.J
dalam Wijayaningsih (2015:49) bahwa Harga diri rendah
merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri
yang negatif mengenai diri ataupun kemampuan diri.

Menurut Keliat, dalam Yosep (2011:255) Harga diri rendah


adalah ”perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap
diri sendiri atau kemampuan diri”.

Self esteem dipengaruhi oleh pengalaman individu dalam


perkembangan fungsi ego, dimana anak-anak yang dapat
beradaptasi terhadap lingkungan internal dan eksternal
biasanya memiliki perasaan aman terhadap lingkungan dan
menunjukkan self esteem yang positif. Sedangkan individu
yang memiliki harga diri rendah cenderung untuk
mempersepsikan lingkungannya negatif dan sangat
mengancam. Mungkin pernah mengalami depresi atau
gangguan dalam fungsi egonya.
“Self esteem is influenced by experiences that have helped
mold the ego. Children who can adapt to changes in their
internal and external environment usually fell secure and
demonstrate positive self esteem. In contrast, youngster with
low self esteem trend to perceive their environment as
negative and threatening. Client with low self esteem may
experience depression and faulty superego function”. (Antai
Otong, 1995 dalam Yosep, 2011:255).
2.1.1.2 Etiologi
Menurut Fitria (2014) faktor penyebab harga diri rendah
yaitu:
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah
penolakan orangtua yang tidak realistis, kegagalan
berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab
personal, ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang
tidak realistis.
b. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah yaitu
hilangnya sebagian anggota tubuh, perubahan
penampilan atau bentuk tubuh, mengalami kegagalan,
serta menurunnya produktivitas.
Gangguan konsep diri: harga diri rendah ini dapat terjadi
secara situasional maupun kronik:
1) Situasional : Gangguan konsep diri: harga diri rendah
kronis yang terjadi secara situasional bisa disebabkan
oleh trauma yang muncul secara tiba tiba misalnya
harus dioperasi, mengalami kecelakaan, menjadi
korban pemerkosaan, atau menjadi narapidana
sehingga haru masuk penjara. Selain itu, dirawat
dirumah sakit juga bisa menyebabkan rendahnya
harga diri seseorang dikarenakan penyakit fisik,
pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak
nyaman, harapan yang tidak tercapai akan struktur,
bentuk, dan fungsi tubuh, serta perlakuan petugas
kesehatan yang kurang menghargai klien dan
keluarga.
2) Kronik : Gangguan konsep diri: harga diri rendah
biasanya sudah berlangsung sejak lama yang
dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat.
Klien sudah memiliki pemikiran negatif sebelum
dirawat dan menjadi semakin meningkat saat dirawat.
Baik faktor predisposisi maupun presipitasi di atas bila
mempengaruhi seseorang dalam berpikir, bersikap
maupun bertindak maka akan dianggap mempengaruhi
terhadap koping individu tersebut sehingga menjadi tidak
efektif (mekanisme koping individu tidak efektif). Bila
kondisi pada klien tidak mau bergaul dengan orang lain
(isolasi sosial: menarik diri), yang menyebabkan klien asik
dengan dunia dan pikirannya sendiri sehingga dapat
muncul perilaku kekerasan.

Menurut Peplau dan Sulivan mengatakan bahwa harga diri


berkaitan dengan pengalaman interpersonal, dalam tahap
perkembangan dari bayi sampai lanjut usia seperti goog me,
bad me, not me, anak sering dipersalahkan, ditekan sehingga
perasaan amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak oleh
lingkungan dan apabila koping yang digunakan tidak efektif
akan menimbulkan harga diri rendah kronis.

Caplan melihat dari segi lingkungan sosial dan


mempengaruhi individu, pengalaman seseorang dan adanya
perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh
lingkungan sosial, tidak dihargai akan menyebabkan stress
dan menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri
rendah.

Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping


individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik
positif, kurangnya sistem pendukung kemunduran
perkembangan ego, pengulangan umpan balik yang negatif,
difungsi sistem keluarga serta terfiksasi pada tahap
perkembangan awal. Carpenito mengatakanbahwa koping
individu tidak efektif adalah keadaan dimana seseorang
individu mengalami atau beresiko mengalami suatu
ketidakmampuan dalam mengalami stressor internal atau
lingkungan dengan adekuat karena ketidakkuatan sumber-
sumbr (fisik, psikologi, perilaku, atau kognitif). Sedangkan
menurut Towsend, M.C bahwa koping individu tidak efektif
merupakan kelaianan perilaku adaptif dan kemampuan
memecahkan masalah seseorang dalam memenuhi tuntutan
kehidupan dan peran.

Dari pendapat-pendapat diatas dapat dibuat kesimpulan,


individu yang mempunyai koping individu tidak efektif akan
menunjukan ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri atau
tidak dapat memecahkan masalah tuntutan hidup serta peran
yang dihadapi.
Adanya koping individu tidak efektif sering ditunjukan
dengan perilaku sebagai berikut:
Koping individu tidak efektif yang sering ditunjukan menurut
Carpenito, L.J dalam Wijayaningsih (2015:50)
a. Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatasi
masalah atau menerima bantuan.
b. Mengungkapkan perasaan khawatir dan cemas yang
berkepanjangan.
c. Menungkapkan ketidakmampuan menjalankan peran.
Data Obyektif :
a. Perubahan partisipasi dalam masyarakat.
b. Peningkatan ketergantungan.
c. Memanipulasi orang lain disekitarnya untuk tujuan-
tujuan memenuhi keinginan sendiri.
d. Menolak mengikuti aturan-aturan yang berlaku.
e. Perilaku distruktif yang diarahkan pada diri sendiri dan
orang lain.
f. Memanipulasi verbal/perubahan dalam pola komunikasi.
g. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar.
h. Penyalahgunaan obat terlarang.

Sementara menurut Fajariyah (2012) salah satu penyebab dari


harga diri rendah yaitu berduka disfungsional. Berduka
disfungsional merupakan pemajangan atau tidak sukses
dalam menggunakan respon intelektual dan emosional
individu dalam melalui proses modifikasi konsep diri
berdasarkan persepsi kehilangan sebagai berikut:
a. Rasa bersalah
b. Adanya penolakan
c. Marah, sedih, dan menangis
d. Perubahan pola makan, tidur, mimpi, konsetrasi dan
aktivitas
e. Mengungkapkan tidak bedaya

2.1.1.3 Proses terjadinya Harga diri rendah

LOW
SELF ESTREEM

Reinforces

MEDIOCRF LOW
PERFORMANCE EXPECTATIONS

REDUCED LESS
EFFORT CHALENGING
GOALS

Gambar 2.1 Proses Terjadinya Harga Diri Rendah


Sumber: Yosep (2011)

Yosep (2011) mengutip Hasil riset Malhi (2008) dapat


menyimpulkan bahwa harga diri rendah diakibatkan oleh
rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan
yang rendah menyebabkan upaya yang rendah. Selanjutnya
hal ini menyebabkan penampilan seseorang yang tidak
optimal. Dalam tinjauan life span history klien, penyebab
terjadinya harga diri rendah adalah pada masa kecil sering
disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya. Saat
individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang
dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima.
Menjelang dewasa awal sering gagal di sekolah, pekerjaan,
atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat lingkungan
cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari
kemampuannya.

2.1.1.4 Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep Diri Harga Diri Keracunan


Depersonalisasi
Diri Positif Rendah Identitas

Gambar 2.2 Rentang Respon Harga Diri Rendah


Sumber: Keliat, 1999 dalam Direja, 2011:143

Harga diri rendah merupakan komponen Episode Depresi


Mayor, dimana aktifitas merupakan bentuk hukuman atau
punishment. Depresi adalah emosional normal manusia, tapi
secara klinis dapat bermakna patologik apabila mengganggu
perilaku sehari-hari menjadi pervasif dan muncul bersama
penyakit lain. Tanda dan gejala yang dimunculkan sebagai
perilaku telah dipertahankan dalam waktu yang lama atau
kronik menjadi mengatakan hal yang negatif tentang diri
sendiri dalam waktu yang lama dan terus menerus,
mengekspresikan sikap malu/minder/rasa bersalah, kontak
mata kurang atau tidak ada dan selalu mengatakan
ketidakmampuan/kesulitan untuk mencoba sesuatu hal,
bergantung kepada orang lain, tidak asertif, pasif dan
hipoaktif, bimbang dan ragu-ragu serta menolak umpan balik
positif dan membesarkan umpan balik negatif mengenai
dirinya.
2.1.1.5 Pohon Masalah

Resiko Tinggi (Resti) Perilaku Kekerasan

Effect Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi

Isolasi Sosial

Core Problem Harga Diri Rendah Kronis

Causa Koping Individu Tidak Efektif

Gambar 2.3 Pohon Masalah Harga Diri Rendah


(Fitria, 2014:10).

2.1.1.6 Komponen Konsep Diri

Citra tubuh

Ideal diri Konsep diri Harga diri

Peran Identitas diri


Gambar 2.4 Komponen konsep diri
Sumber: Yusuf,dkk (2015)
a. Citra tubuh
Citra tubuh adalah kumpulan sikap individu baik yang
disadari maupun tidak terhadap tubuhnya, termasuk persepsi
masa lalu atau sekarang mengenai ukuran, fungsi,
keterbatasan, makna, dan objek yang kontrak secara terus
menerus (anting, make up, pakaian, kursi roda, dan
sebagainya). Baiknya masa lalu maupun sekarang. Citra
tubuh merupakan hal pokok dalam knsep diri. Citra tubuh
harus realistis karena semakin seseorang dapat menerima dan
menyukai tubuhnya ia akan lebih bebas dan merasa aman dari
kecemasan sehingga harga dirinya akan meningkat. Sikap
individu terhadap tubuhnya mencerminkan aspek penting
dalam dirinya misalnya perasaan menarik atau tidak, gemuk
atau tidak, dan sebagainya.
b. Ideal Diri
Persepsi individu tentang seharusnya berprilaku berdasarkan
standar, aspirasi, tujuan, tau nilai yang diyakininya.
Penetapan ideal diri dipengaruhi oleh budaya, keluarga,
ambisi, keinginan, dan kemampuan individu dalam
menyesuaikan diri dengan norma serta prestasi masyarakat
setempat. Individu cenderung menyusun tujuan yang sesuai
dengan kemampuannya, kultur, realita, menghindari
kegagalan dan rasa cemas, serta infeiority.
c. Harga Diri
Penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dan
menganalisis seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri.
Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Individu
akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami
keberhasilan. Sebaliknya, individu akan merasa harga diri
nya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai,
atau tidak diterima lingkungan. Harga diri dibentuk sejak
kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga diri akan
meningkat sesuai meningkatnya usia dan sangat terancam
pada masa pubertas. Coopersmith dalam buku Stuart dan
Sudden (2002) mmenyatakan bahwa ada empat hal yang
dapat meningkatkan harga diri anak naik, yaitu:
1) Memberikan kesempatan untuk berhasil
2) Menanamkan idealisme
3) Mendukung aspirasi/ide
4) Membantu membentuk koping
d. Peran
Serangkaian pola sikap, perilaku, nilai, dan tujuan yang
diharapkan oleh masyarakat sesuai posisinya
dimasyarakat/kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana
untuk berperan serta dalamkehidupan sosial dan merupakan
cara untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang
yang berarti. Hal hal yang mempengaruhi penyesuaian
individu terhadap peran antara lain sebagai berikut.
1) Kejelasan perilaku yang sesuai dengan peran dan
pegetahuannya tentang peran yang diharapkan
2) Respons/tanggapan yang konsisten dari orang yang
berarti terhadap perannya
3) Kesesuaian norma budaya dan harapannya dengan
perannya
4) Perbedaan situasi yang dapt menimbulkan penampilan
peran yang tidak sesuai
e. Identitas diri
Identitas adalah kesadaran tentang “diri sendiri” yang dapat
diperbolehkan individu dari observasi dan penilaian terhadap
dirinya, serta menyadari individu bahwa dirinya
berbedadengan orang lain. Pengertian identitas adalah
organisasi, sintesis dari semua gambaran utuh dirinya, serta
tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan, atribut/jabatan, dan
peran. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan
percaya diri, hormat terhadap diri, mampu menguasai diri,
mengatur diri, dan menerima diri.
Ciri individu dengan identitas diri yang positif adalah sebagai
berikut:
1) Mengenal diri sebagai individu yang utuh terpisah dari
orang lain
2) Mengakui jenis kelamin sendiri
3) Memandang berbagai aspek diri sebagai suatu keselarasan
4) Menilai diri sendiri sesuai penilain masyarakat
5) Menyadari hubungan masa lalu, sekarang, dan yang akan
datang
6) Mempunyai tujuan dan nilai yang disadari

Ciri individu yang berkepribadian sehat antara lain sebagai


berikut:
1) Citra tubuh positif dan sesuai
2) Ideal diri realistis
3) Harga diri tinggi
4) Penampilan peran memuaskan
5) Identitas jelas

Adapun menurut Fajariyah (2012) konsep diri adalah semua


pikiran, kepercayaan, dan keyakinan yang diketahui tentang
dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan
dengan orang lain. Adapun komponen konsep diri :
a. Gambaran diri (body image) adalah pandangan seseorang
terhadap tubuhnya.
b. Ideal diri (self ideal) adalah persepsi individu tentang
perilaku yang harus dilakukan sesuai dengan standar,
aspirasi, tujuan atau nilai yang ditetapkan.
c. Harga diri (self esteem) adalah penilaian tentang nilai
individu dengan menganalisa kesesuaian perilaku dengan
ideal diri.
d. Peran (role performance) adalah seperangkat perilaku
yang diharapkan masyarakat sesuai dengan fungsi
individu didalam masyarakat tersebut.
e. Identitas (identity) adalah penilaian individu terhadap
dirinya sebagai satu kesatuan yang utuh, berlanjut,
konsisten, dan unik.
Ciri konsep diri :
1) Konsep diri yang positif
2) Gambaran diri yang tepat dan positif
3) Ideal diri yang realistis
4) Harga diri yang tinggi
5) Penampilan diri yang memuaskan
6) Identitas yang jelas

2.1.1.7 Tanda dan gejala


Menurut Fitria (2014) tanda dan gejala klien dengan
gangguan harga diri rendah adalah:
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimistis
d. Tidak menerima pujian
e. Penurunan produktivitas
f. Penolakan terhadap kemampuan diri
g. Kurang memprihatikan perawatan diri
h. Berpakaian tidak rapi
i. Selera makan kurang
j. Tidak berani menatap lawan bicara
k. Lebih banyak menunduk
l. Bicara lambat dengan nada suara lemah

Sementara menurut Fajariansyah (2012) tanda dan gejala


harga diri rendah adalah :
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan
tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
b. Rasa bersalah terhadap kepada dirinya sendiri
(mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
c. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
d. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
e. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah
disertai harapan yang suram, mungkin klien akan
mengakhiri kehidupannya.

2.1.1.8 Komplikasi
Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi
sosial:menarik diri, isolasi sosial menarik diri adalah
gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku
yang maladaptif, mengganggu fungsi seseorang dalam
hubungan sosial (DepKes RI, 1998, dalam Wijayaningsih,
2015:52). Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukan dengan
perilaku antara lain:
Data Subjektif
a. Mengungkapkan enggan untuk memulai hubungan
ataupun pembicaraan.
b. Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan
dengan orang lain.
c. Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh
orang lain.
Data Objektif:
a. Kurang spontan dalam diajak bicara.
b. Apatis.
c. Ekspresi wajah kosong.
d. Menurun/tidak adanya komunikasi verbal.
e. Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat
bicara.
2.1.1.9 Penatalaksanaan
Menurut Prabowo (2014) terapi pada gangguan jiwa
skizofrenia dewasa ini sudah dikembangkan sehingga
penderita tidak mengalami diskriminasi bahkan metodenya
lebih manusiawi dari pada masa sebelumnya. Terapi yang
dimaksud meliputi :
a. Psikofarmaka
Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran
yang hanya diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi
dalam 2 golongan yaitu golongan generasi pertama
(typical) dan golongan kedua (atypical). Obat yang
termasuk golongan generasi pertama misalnya :
1) Chlorpromazine HCL
Indikasi: Skizofrenia dan kondisi yang berhubungan
dengan psikosis, trankulisasi dan kontrol darurat untuk
gangguan perilaku. Terapi tambahan untuk gangguan
perilaku karena retardasi mental.
Kontraindikasi: Penekanan sumsung tulang, gangguan
hati atau ginjal berat, sindrom reye; koma karena
barbiturat atau alkohol, anak kurang 6 tahun.
Efek samping: Ikterus, hipotensi postural dan depresi
pernapasan, diskrasia darah, distonia akut, diskinesia
tardiv, gangguan penglihatan, reaksi ekstrapiramidal
(dosis tinggi).
2) Haloperidol
Indikasi: Skizofrenia akut dan kronik, status ansietas,
gelisah dan psikis labil disertai dengan mudah marah,
menyerang, astenia, delusi, halusinasi.
Kontraindikasi: Depresi endogen tanpa agitasi,
gangguan saraf dengan gejala piramidal atau
ekstrapiramidal, kondisi koma, depresi SSP berat.
Efek samping: Hipertonia dan gemetar pada otot,
gerakan mata yang tidak terkendali, hipotensi ortostatik,
galaktore.
Obat yang termasuk generasi kedua misalnya :
1) Risperidone
Indikasi: Terapi skizofrenia akut dan kronik dan
kondisi psikosi lain. Meringankan gejala afektif yang
berhubungan dengan skizofrenia.
Kontraindikasi: Pasien demensia dengan riwayat
serangan brovaskular atau serangan iskemik sepintas,
hipertensi, atau DM, intoleransi galaktosa, defisiensi
lapp laktase atau malabsorpsi glukosa-galaktosa,
laktasi.
Efek samping: Penurunan jumlah neutrofil dan
trombosit, hiperglikemia, eksaserbasi dari diabetes,
agitasi, gangguan cemas, gelisah, sakit kepala,
sedasi, mengantuk,elelahan yang menyeluruh,
pusing, kesulitan berkonsentrasi, gejala ekstrapirami-
dal,tremor,rigiditas, hipersalivasi, bradikinesia,
akatisia, distonia akut, penglihatan kabur, hipotensi,
hipertensi, rinitis, peningkatan BB, konstipasi,
dispepsia, mual/muntah, nyeri lambung, peningkatan
enzim hati, pembengkakan, pruritus, eksantema,
fotosentivitas, otot lemas, inkontinensia, priapismus,
gangguan orgasme.
2) Olanzapine
Indikasi: Terapi akut dan pemeliharaan untuk
skizofrenia dan psikosis lain dengan gejala-gejala
positif (seperti delusi, halusinasi, gangguan berpikir,
hostilitas/bermusuhan, curiga) dan gejala-gejala
negarif (seperti flattered effect, penarikan diri secara
emosional dan sosial, kesulitan berbicara) menonjol.
Mengurangi gejala-gejala afektif sekunder yang
umumnya berhubungan dengan skizofrenia dan
gangguan terkait. Terapi untuk episode manik sedang
hingga berat. Mencegah kekambuhan gangguan
bipolar.
Kontraindikasi: Hipersensitivitas, diketahui beresiko
mengalami glaukoma sudut sempit. Efek samping:
Somnolen, peningkatan BB, eosinofilia, peningkatan
kadar proklatin, kolesterol, glukosa dan trigliserida,
glukosuria, peningkatan nafsu makan, pusing,
akatisia, parkinsonisme, diskinesia, hipotensi
ortostatik, efek antikolinergik, peningkatan enzim
transaminase hati sepintas yang asimtomatik, ruam
kulit, astenia, kelelahan menyeluruh, edema.
3) Quentiapine
Indikasi: Terapi skizofrenia episode depresi dan
episode manik yang menyertai gangguan bipolar.
Kontraindikasi: Penggunaan bersama dengan seperti
penghambat HIV-protease, antijamurazol,
eritromisin, klaritromisin dan nefazodon.
Efek samping: Samnolen, pusing, konstipasi, mulut
kering, astenia ringan, rinitis, dispepsia,
periningkatan BB, hipotensial postural atau hipotensi
ortostatik, takikardi, sinkop, edema perifer,
peningkatan serum transaminase, penurunan jumlah
hitung neutrofil, hiperglikemia.
4) Aripiprazole
Indikasi: Terapi akut untuk skizofrenia pada dewasa
dan remaja. Terapi rumat pada dewasa dengan
skizofrenia dan gangguan bipolar. Terapi untuk
mania akut dan episode campuran dari gangguan
bipolar pada anak, remaja, dan dewasa. Terapi
tambahan untuk gangguan depresi mayor.
Efek samping: Sakit kepala, mual, muntah,
konstipasi, cemas, insomnia, kepala terasa ringan,
somnolen, akatisia, dispepsia, agitasi. (Hawari, 2001
di kutip oleh Prabowo, 2014)
b. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita
bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan
dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri lagi
karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk kebiasaan
yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan
permainan atau latihan bersama. (Maramis, 2005 dikutip
oleh Prabowo, 2014)
c. Terapi kejang listrik
Electro convulsive therapy adalah pengobatan untuk
menimbulkan kejang granmall secara artificial dengan
melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang
satu atau dua temples. Therapi kejang listrik diberikan pada
skizofrenia yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika
oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/detik.
(Maramis, 2005 dikutip oleh Prabowo, 2014)
d. Terapi Modalitas
Terapi modalitas atau perilaku merupakan pengobatan
untuk skizofrenia yang ditujukan pada kemampuan dan
kekurangan pasien. Teknik perilaku menggunakan latihan
keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan
sosial. Kemampuan memenuhi diri sendiri dan latihan
praktis dalam komunikasi interpersonal. Terapi kelompok
bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana dan
masalah dalam hubungan kehidupan yang nyata.
Sedangkan, terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu
terapi aktivias kelompok stimulus kognitif atau persepsi,
therapy aktivitas kelompok stimulus sensori, terapi
aktivitas kelompok stimulus realita dan therapy aktivitas
kelompok sosialisasi. Dari empat jenis terapi aktivitas
kelompok diatas yang paling relevan dilakukan pada
individu dengan gangguan konsep diri harga diri rendah
adalah therapy aktivitas kelompok stimulasi dan terkait
dengan pengalaman atau kehidupan untuk didiskusikan
dalam kelompok, hasil diskusi kelompok dapat berupa
kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.
(Keliat & Akemat, 2005 dikutip oleh Prabowo, 2014)

2.2 Tinjauan Teoritis Keperawatan


Proses keperawatan merupakan suatu metode pemberian asuhan
keperawatan pada pasien (individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat)
yang logis, sistematis, dinamis dan dan teratur. Proses ini bertujuan untuk
memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Pelaksanaan proses keperawatan jiwa bersifat unik, karena sering kali pasien
memperlihatkan gejala yang berbeda untuk kejadian yang sama, masalah
pasien tidak dapat dilihat secara langsung, dan penyebabnya bervariasi.
Pasien banyak yang mengalami kesulitan menceritakan permasalahan yang
dihadapi, sehingga tidak jarang pasien menceritakan hal yang sama sekali
berbedadengan keadaan yang dialaminya. Perawat jika dituntut memiliki
kejelian yang dalam saat melakukan asuhan keperawatan. Proses
keperawatan jiwa dimulai dari pengkajian (termasuk analisis data dan
pembuatan pohon masalah), perumusan diagnosis, pembuatan kriteria hasil,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Fortinash, dalam Yusuf (2015:40)
2.2.1 Pengkajian
Menurut keliat (2011:9) Pengkajian awal dilakukan dengan
menggunakan pengkajian dua menit berdasarkan keluhan pasien.
Setelah ditemukan tanda tanda menonjol yang mendukung adanya
gangguan jiwa, maka pengkajian dilanjutkan dengan menggunakan
format pengkajian kesehatan jiwa. Data yang dikumpulkan mencakup
keluhan utama, riwayat kesehatan jiwa, pengkajian psikososial, dan
pengkajian status mental. Teknik pengu,mpulan data yang dapat
dilakukan melalui wawancara dengan pasien dan keluarga,
pengamatan langsung terhadap kondisi pasien, serta melalui
pemeriksaan.

Sementara menurut Fitria (2014) data yang perlu dikaji bisa


dikelompokkan menjadi dua macam yaitu :
2.2.1.1 Data Subjektif
Merupakan data yang disampaikan secara lisan oleh klien
dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara oleh
perawat kepada klien dan keluarga. Data yang perlu dikaji
antara lain :
a. Mengungkapkan dirinya merasa tidak berguna.
b. Mengungkapkan dirinya merasa tidak mampu.
c. Mengungkapkan dirinya tidak semangat untuk
beraktivitas atau bekerja.
d. Mengungkapkan dirinya malas melakukan perawatan diri
(mandi, berhias, makan, atau toileting).
2.2.1.2 Data Objektif
Merupakan data yang ditemukan secara nyata. Data yang
didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh
perawat. Data yang perlu dikaji antara lain :
a. Mengkritik diri sendiri.
b. Perasaan tidak mampu.
c. Pandangan hidup yang pesimistis.
d. Tidak menerima pujian.
e. Penurunan produktivitas.
f. Penolakan terhadap kemampuan diri.
g. Kurang memperhatikan perawatan diri.
h. Berpakaian tidak rapi.
i. Berkurang selera makan.
j. Tidak berani menatap lawan bicara.
k. Lebih banyak menunduk.
l. Bicara lambat dengan nada suara lemah.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Menurut Fajariyah (2012) diagnosa yang ditemukan pada klien harga
diri rendah yaitu :
2.2.2.1 Harga diri rendah
2.2.2.2 Koping individu tidak efektif
2.2.2.3 Isolasi sosial
2.2.2.4 Perubahan persepsi sensori : halusinasi
2.2.2.5 Resiko tinggi prilaku kekerasan
2.2.3 Intervensi
Fokus perawat adalah untuk membantu klien memahami diri sendiri
secara lengkap dan akuratsehingga mereka dapat mengarahkan hidup
mereka sendiri dengan cara yang lebih memuaskan. Hal ini berarti
membantu klien berusaha menuju masa depan yang lebih jelas,
pengalaman perasaan yang lebih dalam, keinginan, dan keyakinan;
kemampuan yang lebih besar untuk memanfaatkan sumber daya
mereka dan menggunakannya untuk tujuan yang konstruktif; serta
persepsi yang lebih jelas tentang arah hidup mereka, dengan asumsi
tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, keputusan mereka, dan
tindakan mereka.

Kesadaran diri sangat penting untuk membawa perubahan dalam


konsep diri, dan kondisi tertentu atau peristiwa yang merasngsang
kesadaran diri. Hal ini mungkin terjadi ketika rangsangan dari tubuh
meningkat, seperti dikeadaan nyeri, kelemahan, atau kemarahan, atau
ketika rangsangan dari lingkungan yang menurun, seperti di penurunan
sensorik atau sosial. Stuart (2013:227)
2.2.3.1 Strategi Pelaksanaan 1 (SP 1) untuk klien.
a. Tujuan strategi pelaksanaan 1 (SP 1) menurut Fajariyah
(2012:16) antara lain :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan
perawat.
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki.
3) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
4) Klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai
kemampuan.
5) Klien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai
kemampuan.
6) Klien dapat menyusun jadwal untuk melakukan yang
sudah dilatih.
b. Kriteria Evaluasi menurut Wijayaningsih (2015:11)
1) Ekspresi wajah bersahabat menunjukan rasa senang,
ada kontak mata, atau berjabat tangan mau
menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau
duduk bersampingan dengan perawat, mau
mengeluarkan masalah yang dihadapi.
2) Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif
yang dimiliki: kemampuan yang dimiliki klien, aspek
positif keluarga, aspek positif lingkungan yang dimiliki
klien.
3) Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan.
4) Klien membuat rencana kegiatan harian.
5) Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan
kemampuannya.
6) Klien memanfaatkan sitem pendukung yang ada
dikeluarga.
c. Intervensi
1) Membina hubungan saling percaya.
Rasional:
Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk
kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.
Tindakan yang harus dilakukan dalam membina
hubungan saling percaya adalah :
a) Bina hubungan saling percaya seperti salam
terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik
pembicaraan).
b) Beri kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaannya.
c) Sediakan waktu untu mendengarkan klien.
d) Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah
seseorang yang berharga dan bertanggung jawab
serta mampu menolong firinya sendiri.
2) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki.
a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien.
Rasional:
Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti
menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego
diperlukan sebagai dasar asuhan keperawatan
nya.
b) Hindarkan memberi penilaian negatif setiap
bertemu klien, utamakan memberi pujian yang
realistis.
Rasional:
Reinforcement positif akan meningkatkan harga
diri.
c) Utamakan memberikan pujian yang realistis.
Rasional:
Pujian yang realistis tidak menyebabkan klien
melakukan kegiatan karena hanya ingin
mendapatkan pujian.
3) Menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan yang harus dilakukan adalah :
a) Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih
bisa digunakan selama sakit.
Rasional:
Keterbatasan dan pengertian tentang kemampuan
yang dimiliki adalah prasarat untuk berubah.
b) Diskusikan pada kemampuan yang dapat
dilanjutkan penggunaannya.
Rasional:
Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri
memotivasi untuk tetap mempertahankan
penggunaannya.
4) Memantu klien dapat memilih kegiatan yang akan
dilatih sesuai dengan kemampuan pasien.
Tindakan yang harus dilakukan adalah :
a) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
Rasional:
Klien adalah individu yang bertanggung jawab
terhadap dirinya sendiri.
b) Tingkatan kegiatan sesuai dengan toleransi
kondisi klien.
Rasional:
Klien perlu bertindak secara realisis dalam
kehidupannya.
c) Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh
klien lakukan.
Rasional:
Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi
klien untuk melaksanakan kegiatan.
5) Melatih pasien sesuai kemampuan yang dipilih.
Tindakan yang harus dilakukan adalah :
a) Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah
direncanakan.
Rasional:
Memberikan kesempatan kepada klien mandiri
dirumah.
b) Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional:
Reinforcement positif akan menigkatkan harga
diri.
c) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.
Rasional:
Memberikan kesempatan untuk tetap melakukan
kegiatan yang biasa dilakukan.
6) Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan
klien.
Rasional:
Reinforcement positif akan menigkatkan harga diri.
7) Membantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan
yang dilatih. Tindakan yang harus dilakukan adalah :
a) Beri kesempatan pada pasien untuk mencoba
kegiatan yang telah dilatih.
Rasional:
Memberikan kesempatan untuk tetap melakukan
kegiatan yang biasa dilakukan.
b) Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan
klien setiap hari.
Rasional:
Reinforcement positif akan menigkatkan harga
diri terhadap klien.
c) Tingkatan kegiatan sesuai dengan tingkat
toleransi dan perubahan setiap kegiatan.
d) Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang
telah dilatih.
Rasional:
Meningkatkan kedisiplinan klien dalam menjalan
kan kegiatan yang telah direncakan oleh klien.
e) Berikan kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan
kegiatan.
Rasional:
Menghargai pendapat orang lain, dan mening-
katkan harga diri klien supaya klien tidak menjadi
orang yang tergantung pada orang lain.
2.2.3.2 Strategi Pelaksanaan SP 2 klien
a. Tujuan :
1) Jadwal harian klien terevaluasi oleh perawat
2) Klien dapat melatih kemampuan kedua yang dapat
dilakukan.
3) Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian.
b. Kriteria evaluasi :
1) Klien dapat mengevaluasi kegiatan hariannya
2) Klien dapat melatih kemampuan kedua yang dapat
dilakukan
3) Klien dapat memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
c. Intervensi :
1) Evaluasi jadwal harian klien oleh perawat
2) Latih kemampuan kedua klien yang dapat dilakukan
3) Anjurkan klien untuk memasukkan kemampuan kedua
didalam jadwal kegiatan harian
2.2.3.3 Strategi Pelaksanaan SP Keluarga menurut Direja (2011)
a. Tujuan :
Keluarga mampu merawat klien dengan Harga Diri
Rendah dirumah dan menjadi sistem pendukung yang
efektif bagi klien.
b. Kriteria evaluasi :
1) Keluarga mampu mengidentifikasi kemampuan yang
dimiliki klien.
2) Keluarga mampu menyediakan fasilitas untuk klien
melakukan kegiatan.
3) Keluarga mampu mendorong klien melakukan kegiatan
4) Keluarga mampu memuji klien saat klien melakukan
kegiatan.
5) Keluarga mampu membantu melatih klien.
6) Keluarga mampu membantu menyusun jadwal kegiatan
klien.
7) Keluarga mampu membantu perkembangan pasien.
c. Intervensi :
Strategi pelaksanaan SP 1 keluarga
1) Identifikasi masalah yang dirasakan dalam merawat
klien
Rasional:
Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien
mandiri dirumah.
2) Jelaskan proses terjadinya harga diri rendah
3) Jelaskan tentang cara merawat klien harga diri rendah
Rasional:
Meningkatkan peran keluarga dalam merawat klien
dirumah.
4) Susun jadwal keluarga untuk merawat klien
Rasional:
Jadwal yang tepat membantu keluarga untuk
mensupport klien dalam mempercepat proses
penyembuhan.
Strategi pelaksanaan SP 2 keluarga
1) Evaluasi kemampuan SP 1
2) Latih keluarga langsung ke klien
3) Menyusun jadwal keluarga untuk merawat klien
Strategi pelaksanaan SP 3 keluarga
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Evaluasi kemampuan klien
3) Susun jadwal keluarga untuk follow up dan rujukan
2.2.4 Implementasi
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan yang telah dibuat. Tindakan keperawatan
dilakkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien saai ini.
Perawat bekerja sama dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan
lain dalam melakukan tindakan. Tujuannya adalah
memberdayakan pasien dan keluarga agar mampu mandiri
memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan keterampilan koping
dalam menyesuaikan masalah. Perawat bekerja dengan pasien dan
keluarga untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka dan
memfasilitasi pengobatan malalui kolaborasi dan rujukan (Keliat,
2011:10).
2.2.4.1 Strategi pelaksanaan SP 1 klien menurut Fajariyah (2012)
a. Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien
b. Membantu klien menilai kemampuan yang masih
dapat digunakan
c. Membantu klien memilih/menetapkan kemampuan
yang akan dilatih, melatih kemampuan yang sudah
dipilih
d. Menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah
dilatih dalam rencana harian
2.2.4.2 Strategi pelaksanaan SP 2 klien
a. Melatih klien melakukan kegiatan lain yang sesuai
dengan kemampuan klien
2.2.4.3 Strategi pelaksanaan SP 1 keluarga
a. Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam
merawat klien dirumah
b. Menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala
harga diri rendah
c. Menjelaskan cara merawat klien dengan harga diri
rendah
d. Mendemonstrasikan cara merawat klien dengan harga
diri rendah
e. Memberi kesempatan kepada keluarga untuk
mempraktikan cara merawat
2.2.4.4 Strategi pelaksanaan SP 2 keluarga
a. Melatih keluarga mempraktikan cara merawat klien
dengan masalah harga diri rendah langsung kepada
klien
2.2.4.5 Strategi pelaksanaan SP 3 keluarga
a. Membantu perencanaan pulang bersama keluarga

2.2.5 Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai perkembangan kemampuan pasien
dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan
masalah. Kemampuan yang diharapkan menurut Keliat (2011:11)
adalah :
2.2.5.1 Pada tingkat individu diharapkan pasien mampu :
a. Melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sesuai
kemampuannya.
b. Membina hubungan dengan orang lain di lingkungannya
secara bertahap.
c. Melakukan cara-cara menyelesaikan masalah yang
dialami.
2.2.5.2 Pada tingkat keluarga diharapkan keluarga mampu :
a. Membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien
hingga pasien mandiri.
b. Mengenal tanda dan gejala dini terjadinya gangguan
jiwa.
c. Melakukan perawatan pada anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa atau kekambuhan.
d. Mengidentifikasi perilaku pasien yang membutuhkan
konsultasi segera.
e. Menggunakan sumber-sumber yang tersedia
dimasyarakat seperti tetangga, teman dekat, dan
pelayanan kesehatan terdekat.