Anda di halaman 1dari 8

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN ORDE REAKSI DAN TETAPAN LAJU

OLEH

NI PUTU ASTINI 1713031004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2019
PERCOBAAN X
PENENTUAN ORDE REAKSI DAN TETAPAN LAJU

I. TUJUAN
1. Menentukan orde reaksi dan tetapan laju reaksi melalui cara titrasi dan konduktometri

II. DASAR TEORI


Reaksi kimia ada berlangsung dengan cepat dan pula yang berlangsung secara lambat.
Pada umumnya reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa anorganik biasanya berlangsung
secara cepat sehingga sulit dipelajari mekanisme reaksi yang terjadi. Berbeda halnya
dengan reaksi-reaksi pada senyawa organik berlangsung lambat. Cepat lambatnya reaksi
berlangsung dipelajari dalam kinetika reaksi yang didefinisikan laju berkurangnya
konsetrasi reaktan (mol/liter) persatuan waktu (detik). Laju reaksi adalah perbandingan
perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi terhadap perubahan waktu. Persamaan
laju reaksi dari suatu reaksi tidak dapat diramalkan dari persamaan stoikiometrinya,
melainkan harus ditentukan dengan eksperimen. Dari bentuk hukum ini seringkali dapat
diperoleh informasi tentang mekanisme reaksi.
Secara teori, bahwa reaksi sangat ditentukan oleh konsentrasi zat-zat yang bereaksi.
Makin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi, maka makin cepat pula reaksinya. Akan
tetapi, hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi zat dapat bermacam-macam. Ada
reaksi yang berlangsung dua kali lebih cepat jika konsentrasi pereaksi dinaikkan dua kali
dari konsentrasi sebelumnya. Adapula reaksi berlangsung empat kali lebih cepat jika
konsentrasi pereaksi dinaikkan dua kali. Untuk laju reaksi yang mengikuti persamaan :
aA + bB → C + D secara matematika laju reaksinya dapat dinyatakan dengan : V = k
[A]m [B]n. Dari rumus tersebut, Koefisien K disebut konstanta laju, yang tidak bergantung
pada konsentrasi tetapi bergantung pada temperatur. Persamaan sejenis ini ditentukan
secara eksperimen disebut hukum laju reaksi. Secara formal hukum laju adalah
persamaan yang menyatakan laju reaksi dan sebagai fungsi dari semua spesies yang ada
termasuk produknya. Dari rumus tersebut, yang mana pangkat-pangkat pada faktor
konsentrasi dalam persamaan laju disebut dengan orde reaksi. Jadi, m adalah orde reaksi
terhadap zat A dan n adalah orde reaksi terhadap zat B. Dalam percobaan penentuan orde
reaksi dan tetapan laju dari penyabunan etil asetat oleh ion hroksida dengan cara titrasi
dan konduktometri.
Cara Titrasi
Reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida dapat ditulis dengan persamaan
reaksi sebagai berikut : CH3COOC2H5 + OH- → CH3COO- + C2H5OH…………..(1)
Pada penentuan ini, jalannya reaksi diikuti dengan cara penentuan konsentrasi OH - pada
waktu tertentu yaitu dengan mengambil sejumlah tertentu larutan kemudian dimasukkan
ke dalam larutan yang mengandung asam berlebih. Penetralan dari basa dalam campuran
reaksi oleh asam akan menghentikan reaksi. Jumlah basa yang ada dalam campuran
reaksi pada saat reaksi dihentikan dapat diketahui dengan menitrasi sisa asam oleh larutan
standar basa.
Cara Konduktometri
Pada suhu tetap, hantaran suhu larutan bergantung pada konsentrasi ion dan mobilitas
ion dalam larutan. Umumnya sifat hantaran listrik suatu larutan elektrolit mengikuti
hukum Ohm yaitu V = I x R, dengan V adalah tegangan, I adalah arus dan R adalah
tahanan. Hantaran (L) larutan didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan, yang mana
rumusnya adalah L = I/R.
Hantaran molar suatu elektrolit didefinisikan sebagai hantaran yang diperoleh kalau
pada dua buah elektroda yang berjarak 1 meter ditempatkan sejumlah larutan yang
mengandung 1 mol elektrolit.

III. ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Daftar alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Erlenmeyer 100 mL 8 buah
2. Buret 50 mL 1 buah
3. Stopwatch - 1 buah
4. Konduktometer - 1 buah
5. Pipet tetes - 2 buah
6. Sel Hantaran - 1 buah
7. Botol Timbang - 1buah
8. Statif dan Klem - 1 set
9. Pipet Volumetri 10 mL 1 buah
10. Pipet Volumetri 20 mL 1 buah
11. Gelas kimia 250 mL 1 buah
12. Gelas ukur 100 mL 1 buah
13. Spatula - 1 buah
14. Botol Semprot - 1 buah

Tabel 2. Daftar bahan


No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Etil Asetat 0,02 M 250 mL
2. Larutan NaOH 0,02 M 200 mL
3. Larutan HCl 0,02 M 150 mL
4. Indikator Fenolttalein - Secukupnya
5. Larutan KCl 0,1 M Secukupnya

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM


A. Cara Titrasi

Timbang etil asetat dalam botol timbang

Larutkan dengan aquades

Diperoleh etil asetat 0,02 M 250 mL

50 mL etil asetat 0,02 M 50 mL NaOH 0,02M


(Labu A) (Labu B)

Masukkan ke labu
erlenmeyer tertutup

Letakkan labu A dan B dalam termostat, hhingga suhu keduanya sama

Masukkan masing-masing 20 mL HCl 0,02 M ke dalam 6 labu erlenmeyer

Ketika suhu labu A dan B sama

Campurkan NaOH (labu B) dengan etil asetat (labu A) dengan cepat


dan jalankan stopwatch ketika kedua larutan bercampur
Ketika stopwatch menunjukkan menit
ke 3; 8; 15; 25; 40 dan 65 menit

Titrasi 10 mL larutan menggunakan NaOH 0,02 M

Panaskan sisa campuran labu A dan B

Dinginkan

Titrasi 10 mL larutan menggunakan NaOH 0,02 M

B. Cara Konduktometri
1. Penentuan tetapan sel

Cuci sel dengan air dan tentukan hantarannya

Bilas sel dengan KCl 0,1 N dan tentukan hantarannya

Catat hantaran dan suhu KCl

2. Penentuan orde reaksi dan laju reaksi

Timbang etil asetat dalam botol timbang

Larutkan dengan aquades

Diperoleh etil asetat 0,02 M 250 mL

25 mL etil asetat 0,02 M 25 mL NaOH 0,02M


(Labu A) (Labu B)
Pipet 25 mL NaOH, encerkan dengan aquades
hingga 50 mL

Letakkan pada termostat, kemudian


tentukan hantaran atau tahanannya

Ketika suhu labu A dan B sama

Campurkan NaOH (labu B) dengan etil asetat (labu A) dengan cepat


dan jalankan stopwatch ketika kedua larutan bercampur

Ukur hantaran atau tahanan campuran, ketika stopwatch


menunjukkan menit ke 3; 8; 15; 25; 40 dan 65 menit

Panaskan campuran labu A dan B

Dinginkan

Ukur tahanan atau hantarannya

V. HASIL PENGAMATAN
Tabel 3. Hasil pengamatan cara titrasi
Waktu Volume Volume Volume [HCl] [OH-] [CH3COOC2H5]
(menit) NaOH + 0,02 M HCl NaOH sisa X X mol/L
CH3COOC2H5 yang dihabiskan mol/L
ditambahkan dalam
titrasi
3 10 20
8 10 20
15 10 20
25 10 20
40 10 20
65 10 20

Tabel 4. Hasil pengamatan cara konduktometri


Menit Tahanan Campuran NaOH dan etil asetat
3
8
15
25
40
65
Reaksi Selesai (Rc)

VI. ANALISIS DATA


A. Cara Titrasi

1. MenghitungVx (V NaOH yang bereaksi)


𝑉 𝐻𝐶𝑙 𝑥 𝑀 𝐻𝐶𝑙 𝑉 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛
Vx = V NaOH - ( − 𝑉 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖)
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑉 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙

Dalam rumus tersebut, dilakukan perhitungan pada menit ke 15, 25,35,45,55,65.

2. Menghitung nilai x (NaOH yang bereaksi) untuk tiap waktu reaksi.


𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑥
X= 𝑉 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛

3. Menghitung nilai a dan b


a = konsentrasiawal CH3COOCH2CH5
𝑀 CH3COOCH2CH5 𝑥 𝑉 𝐶𝐻3𝐶𝑂𝑂𝐶𝐻2𝐶𝐻5
a= 𝑉 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛

b = konsentrasiawalNaOH
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻
b= 𝑉 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛

4. Menentukan nilai k
y = mx + C
(𝑎 − 𝑥) 𝑎
𝑙𝑛 = 𝑘 (𝑎 − 𝑏)𝑡 + ln
(𝑏 − 𝑥) 𝑏
B. Cara Konduktometri
1. Menghitung nilai a dan b
a = konsentrasiawal CH3COOCH2CH5
𝑀 CH3COOCH2CH5 𝑥 𝑉 𝐶𝐻3𝐶𝑂𝑂𝐶𝐻2𝐶𝐻5
a= 𝑉 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛

b = konsentrasiawalNaOH
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻
b= 𝑉 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛

2. Menghitung nilai x (NaOH yang bereaksi)


(𝐿0 − 𝐿𝑡)
𝑥= 𝑏
(𝐿0 − 𝐿𝑐)
3. Menentukan nilai k
y = mx + C
(𝑎 − 𝑥) 𝑎
𝑙𝑛 = 𝑘 (𝑎 − 𝑏)𝑡 + ln
(𝑏 − 𝑥) 𝑏