Anda di halaman 1dari 2

ISRA’ MI’RAJ

Kontributor: M. Thoifur MC.

Ketika kita berbicara tentang Isra’ Mi’raj, kita akan berbicara tentang peristiwa spiritual yang dialami Rasulullah
Muhammad SAW berkenaan dengan perintah untuk mendirikan shalat lima waktu, serta berbicara bahwa Isra’ Mi’raj ini
sering dihubungkan dengan suasana tantangan yang dihadapi Rasulullah Muhammad SAW. Juga berbicara bahwa Allah
SWT ingin memperkuat batin dan memperkokoh keimanan Rasulullah SAW serta para umatnya.

Pengertian Isra’ Mi’raj


Kata Isra’ berasal dari bahasa arab, yang berarti “berjalan di waktu malam”. Adapun menurut istilah, Isra’ adalah
perjalanan Rasulullah Muhammad SAW pada suatu malam dari masjidil Haram di Makkah menuju ke Masjidil Aqsa atau
Baitul Maqdis di Palestina. Sedangkan Mi’raj asal kata dari bahasa arab yang artinya “naik ke atas”. Adapun menurut
istilah, mi’raj adalah naiknya Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap
Allah SWT.

Perjalanan Isra’ Mi’raj


Allah SWT menceritakan kisah ini pada Surat Bani Israil (Al Isra’) ayat 1, yaitu Firman Allah SWT yang artinya:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa
yang telah diberkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran Kami, sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Di diceritakan, bahwa Rasulullah SAW sebelum Isra’ Mi’raj, mengalami kedukaan yang amat mendalam,
disebabkan dua orang yang amat dicintai dan dihormati oleh Rasulullah SAW telah meninggal dunia, yaitu Pamannya
tersayang Abu Thalib dan Isterinya tercinta Sayyidah Khadijah RA. Sehingga Allah SWT ingin menghibur dan memuliakan
Rasulullah SAW. Allah SWT mengutus Malaikat Jibril AS agar menjemput Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya. Peristiwa
ini terjadi setelah dua belas tahun Beliau diangkat menjadi Rasul. (Tafsir Al-Wasith, Sayyid Thanthawi, Juz.8/Hal.286)
Setelah berjumpa dengan Rasulullah SAW, Malaikat Jibril AS membaringkan Rasulullah SAW. Dada Rasulullah
SAW dibelah, kemudian dikeluarkan semua sifat-sifat buruk dan menggantikannya dengan sifat-sifat baik ke dalam dada
Rasulullah SAW. Setelah itu Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril AS menaiki Buroq, yaitu binatang yang berasal dari surga.
Perjalanan mereka yang pertama yaitu di mulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju masjidil Aqsa di Palestina. (Tafsir
Al-Baghawi, Juz.5/Hal.60)
Selama perjalanan, Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril AS singgah di 5 (lima) tempat, yaitu:
1. Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah Al Munawwarah
2. Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa AS ketika dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya
3. Gunung Sinai, yaitu tempat Nabi Musa AS menerima kitab Taurat
4. Bethlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa AS
5. Masjidil Aqsa di Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut. Palestina merupakan
tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah.
Pada setiap persinggahan, Rasulullah SAW selalu melakukan shalat sebanyak dua rakaat. Sesampainya di masjidil Aqsa,
Rasulullah SAW disuguhi dua buah gelas yang satu berisi susu dan yang satunya berisi arak. Rasulullah SAW mengambil
sebuah gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril AS mengucapkan selamat kepada beliau, karena beliau telah
memilih yang baik bagi dirinya dan umatnya. (Al-Mu’jam Al-Kabir, Imam Ath-Thabari, Juz.8/Hal.286)
Kemudian setelah itu, Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Dalam
perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril AS singgah di tujuh lapis langit, yaitu:
1. Langit pertama bertemu dengan Nabi Adam AS
2. Langit kedua bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS
3. Langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf AS
4. Langit keempat bertemu dengan Nabi Idris AS
5. Langit kelima bertemu dengan Nabi Harun AS
6. Langit keenam bertemu dengan Nabi Musa AS
7. Langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim AS
Setelah melewati ketujuh lapis tersebut, Rasulullah SAW diajak ke Baitul Makmur, tempat dimana setiap harinya
tidak kurang dari 70 ribu Malaikat masuk kedalamnya dan melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Kemudian Rasulullah
SAW naik menuju Sidratul Muntaha dan dalam perjalanan ini Malaikat Jibril tidak ikut serta.
Kemudian pada akhirnya Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT. Dalam pertemuan itu, Allah SWT
memberikan wahyu kepada Rasulullah SAW berupa perintah melaksanakan shalat sebanyak 50 waktu dalm sehari. Ketika
hendak turun untuk kembali pulang, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS, dan beliau bercerita tentang
perintah shalat yang telah diterimanya dari Allah SWT. Mendengar cerita tersebut, Nabi Musa AS menyuruh Rasulullah
SAW untuk menghadap Allah SWT lagi guna meminta keringanan. Rasulullah SAW berulangkali menghadap Allah SWT
untuk meminta keringanan. Sehingga pada akhirnya Allah SWT memberikan keringanan perintah shalat kepada Rasulullah
SAW menjadi 5 waktu untuk setiap harinya. Akan tetapi Allah SWT menjanjikan pahala yang sama bagi umat Rasulullah
SAW seperti melaksanakan shalat sebanyak 50 waktu. (Tafsir Al-Jalalain, Hal.277-278)
Dalam Kitab Hasyiyah At-Turmusiy Karangan Asy-Syaikh Mahfudz Termas, diceritakan bahwa setelah Rasulullah
SAW sampai ke Sidratul Muntaha, beliau mengucapkan penghormatan kepada Allah SWT dengan mengatakan:
ََ
‫ََلل‬
‫َات‬
‫َب‬‫َي‬
‫ََالط‬
‫َات‬
‫َو‬‫َل‬
‫ََالص‬
‫َات‬
‫َك‬‫َار‬
‫َب‬‫َـم‬
‫ََال‬
‫َات‬
‫َي‬‫َح‬
‫َلت‬
‫ا‬
“Segala penghormatan, segala keberkahan, segenap kemuliaan dan semua keagungan adalah hanya milik Allah SWT”
Kemudian Allah SWT menjawab:
‫َه‬
َ ‫َات‬
‫َك‬‫َر‬
‫َب‬‫ََو‬
‫ََللا‬
‫َة‬‫َم‬
‫َح‬‫َر‬
‫ََو‬
‫َي‬‫َب‬
‫َاَالن‬
‫َه‬‫َي‬
‫ََأ‬
‫َك‬‫َي‬
‫َل‬‫ََ ع‬
‫َم‬‫َل‬
‫َلس‬
‫ا‬
“Keselamatan atasmu, duhai Nabi, juga rahmat Allah SWT dan berkah-Nya”
Mendapat salam dari Allah SWT betapa bahagianya Rasulullah SAW. Akan tetapi Rasulullah SAW memohonkan salam itu
bukan hanya untuk dirinya saja, tapi juga untuk hamba-hamba Allah SWT yang sholeh. Beliau lalu berkata:
ََ
‫َن‬‫َي‬
‫َ ـح‬
‫َال‬
‫ََالص‬
‫ََللا‬
‫َاد‬
‫َب‬‫َىَع‬
‫َل‬‫َع‬
‫َاَو‬
‫َن‬‫َي‬
‫َل‬‫ََع‬
‫َم‬‫َل‬
‫َلس‬
‫ا‬
“Keselamatan semoga terlimpah kepada kami dan hamba-hamba Allah SWT yang sholeh”
Dan ketika menyaksikan dialog yang mengagungkan antara seorang hamba dengan Tuhannya itu, maka para penduduk
langit serentak mengucapkan:
‫ََللا‬
َ ‫َل‬‫َو‬
‫َس‬‫َا َر‬
‫َد‬‫َم‬
‫َح‬‫ََم‬
‫ََوأشهدَأن‬
‫ََللا‬
‫َل‬‫ََإ‬
‫َله‬
‫ََإ‬
‫َدَأنَل‬
‫أشه‬
“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah”

Pelajaran Dari Isra’ Mi’raj


Dari peristiwa Isra’ Mi’raj, kita sebagai umat muslim dapat mengambil beberapa pelajaran, di antaranya:
- Kewajiban melaksanakan shalat 5 dalam sehari
- Dialog Rasulullah SAW dengan Allah SWT serta penduduk langit di Sidratul Muntaha merupakan sumber
ditetapkannya rukun shalat berupa Tasyahud Akhir.
- Shalat merupakan sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT
- Ketika kita shalat, kita mesti sadar bahwa kita sedang meninggalkan seluruh dunia ini, dan fokus menghadap
Allah SWT, Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian hendak meninggalkan dunia ini”.
(HR. Ahmad)

*) Penulis adalah Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) MWC NU Jatirogo.

Serambi Ngaji Gus Baha’


JANGAN SEPELEKAN RUMPUT

Manusia memiliki watak dan kecenderungan meremehkan sesuatu yang terlihat kecil
dan lemah di matanya. Padahal dunia ini penuh dengan rahasia yang yang tak mampu kita
ketahui hakikat aslinya. Kita sering tak menyadari bahwa pengetahuan kita begitu kecil
dibanding rahasia Allah yang teramat besar.
Pada sebuah kesempatan Gus Baha’ pernah ditanya seorang akademisi perihal ayat
kauniyyah, ayat yang membicarakan alam semesta.
“Gus, saya heran mengapa Al-Quran yang sebegitu hebatnya kok masih membahas
rerumputan segala? Itu kan benda remeh”.
Memang, dalam Al-Quran terdapat ayat yang membincangkan tumbuh-tumbuhan dan
secara spesifik menyebut rerumputan, yaitu pada surah ‘Abasa ayat ke-31, Wa fākihataw wa
abbā (dan buah-buahan serta rumput-rumputan). Ayat itu merupakan bagian dari rangkaian
ayat sebelumnya:
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya (24); Sesungguhnya kami
benar-benar telah mencurahkan air (dari langit) (25); Kemudian kami belah bumi dengan
sebaik-baiknya (26; Lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu (27); Anggur dan sayur-sayuran
(27); Zaitun dan kurma (29); Kebun-kebun (yang) lebat (30); dan buah-buahan serta rumput-
rumputan (31); Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (32).
Ditanya seperti itu, Gus Baha menjawab dengan bertanya balik: “harga rumput
dibanding sapi itu lebih mahal mana?.”
“Ya jelas lebih mahal sapi, Gus!” tukas sang akademisi.
Gus Baha melanjutkan: “kalau bagi saya, lebih mahal rumput atau setidaknya setara harganya
dengan sapi”.

Anda jangan guyon, Gus.

Lho tidak, saya ini ulama, mikir soal begini lebih lama dari pada Anda

Beberapa ayat tersebut memberikan isyarat bahwa interaksi tumbuhan dengan mahluk hidup
lain seperti hewan dan manusia sebagai kenikmatan, kesenangan dan juga manfaat pada
tumbuh-tumbuhan yang sudah diciptakan oleh Allah swt untuk manusia serta hewan
ternaknya.