Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH

EKOLOGI PERTANIAN
“ Sejarah Ekologi Pertanian“

Oleh:

NAMA : GUSRIANDA ADITYA. B


NIM : D1B1 16 202
KELAS : AGT-B

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2017
DAFTAR ISI

Halaman.
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 3


1.2 Permasalahan........................................................................................... 4
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Agroekologi (Ekologi Pertanian) ............................................... 5


2.2 Pengertian Ekologi .................................................................................. 7
2.3 Ekologi Pertanian .................................................................................... 8
2.4 Penerapan Ekologi dalam Bidang Pertanian ........................................... 9
2.5 Manfaat Ekologi Pertanian ...................................................................... 12

2.6 Keberlanjutan Ekologi ............................................................................ 12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 14

3.2 Saran ........................................................................................................ 14

Daftar Pustaka 16

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekologi sangat erat kaitannya dengan lingkungan, makhluk hidup, dan

hubungan di antara keduanya. Kelahiran, kematian yang silih berganti di suatu

kehidupan menandakan keberadaan ilmu ekologi. Dimulai dari pengabsorsian

tumbuhan (biotik) dari dalam tanah (abiotik) hingga berubah menjadi substansi

energi, diikuti dengan perpindahan yang terjadi hingga kembali lagi ke tanah.

Pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi, dulu, kini, dan hari esok

telah menuntut ditingkatkannya persediaan bahan pangan dan bahan baku energi.

Kenyataannya sekarang daya dukung sumber daya alam semakin labil akibat

pemanfaatan yang semakin eksplosit tanpa mengindahkan kaidah-kaidah ekologis.

Kegagalan pertanian akibat kekeringan dan kendala lingkungan lainnya serta

penerapa suatu system teknologi, sudah merupakan bayangan suram yang tak dapat

lagi dipungkiri. Kegagalan demi kegagalan pertanian telah mengajarkan pada kita,

bahwa alam merupakan sesuatu yang liar, yang perlu dijinakkan dengan suatu

teknologi tertentu dan profesionalisme.

Dalam ekologi pertanian, interaksi komponen biotik dan abiotik ini di-setting

sedemikian rupa melalui mekanisme kontrol agar mendukung keberlangsungan

sistem budi daya pertanian yang diusahakan. Kegiatan pengolahan tanah, pupuk, dan

pengendalian hama ditujukan agar interaksi antara komponen penyusun ekosistem

kebun/ladang mendukung pertumbuhan tanaman budi daya.

3
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Sejarah dan pengertian dari ekologi itu sendiri khususnya pada

bidang pertanian ?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk memberikan informasi

kepada pembaca mengenai sejarah dan pengertian ekologi khususnya pada bidang

pertanian.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Agroekologi (Ekologi Pertanian)

Ekologi merupakan awal dai adanya agroekologi, jadi agroekologi berarti

ilmu yang mempelajari tanaman dengan prinsip ekologi. Kemudia agroekologi

memiliki definisi lanjutan yaitu Ilmj yang mempelajari hubungan timbale balik antar

struktur dan fungsi. Kemudia memiliki definisi lanjutan kembali yaitu ilmu yang

mempelajari aplikasi teknologi mikroorganisme, kultur jaringan sel dan bagian-

bagiannya dengan ilmu biokimia, mikrobiologi dan rekayasa.

Sejarah ekologi dalam pandangan historis, ekologi tidak begitu jelas. Ini

disebabkan perkembanganya yang berangsur-angsur. Catatan Hipocratus, Aristoteles

dan filosof lainya, merupakan naskah kuno yang berisi rujukan tentang masalah-

masalahekologi, meskipun tidak menggunkan nama ekologi. Baru pada abad ke-16

dan 17 yang timbul dari natural history yang kemudian berkembang menjadi satu

ilmu sistematik, analitik dan obyektif mengenai hubungan organisme dan lingkungan

yaitu ekologi. Nama tersebut baru ditemukan oleh seorang ahli biologi Jerman yang

bernama Earns Heackel (1834 - 1919) pada tahun 1860.

Ekologi dikenal sebagai sebuah ilmu pengetahuan pada 1890-an dan awal

1900-an dikenal sebagai sebuah ilmu tentang campuran antara samudra dengan air

tawar (limnology) dan antara tumbuhan dengan hewan. Pada akhir tahun 1900-an

kemudian penekanan beralih kepenelitian laboratorium terutama dalam bidang ilmu

faal (fisiologi) dan genetika kemudian disarankan untuk kembali kebidang

kepenekanan bidang sejarah alam.ahli ekologi hewan Inggris Charles Elton

mendefinisikan ekologi sebagai sejarah alam yang ilmiah.

5
Clements dan Cowles, adalah dua orang yang melakukan penelitian lebih

maju dalam ekologi, mereka menguji perubahan populasi spesies produsen

(tanaman), komunitas dan kondisi lingkungannya dari waktu kewaktu, satu proses

yang mereka sebut sebagai rangkaian perubahan dan adanya konsep superorganisme.

Konsep rangkaian perubahan Clements ini mendominasi konsep ekologi sampai

1950-an. Ekologi menjadi melembaga di inggris dan masyarakat ekologi di Amerika

secara berturut-turut pada tahun 1913 dan 1915.

Ekologi mempunyai perkembangan yang berangsur-angsur, dari

perkembangan itu semakin terlihat bahwa ekologi mempunyai hubungan dengan

hampir semua ilmu-ilmu lainya. Guna memahami ruang lingkup dan sangkut pautnya

ekologi, persoalanya harus dipandang dalam hubungan antara organisme dan

lingkungan, semua ilmu yang dapat menerangkan tentang kompone-komponen

mahluk hidup dan lingkungan itu sangat diperlukan. Jika berbicara mengenai

pencemaran hutan, perkembangan penduduk, masalah makanan, penggunaan energy,

kenaikan suhu bumi karena efek rumah kaca atau pemanasan global, ozon berkurang

lainya, hal ini berarti juga harus berbicara mengenai ilmu kimia, fisika, pertanian,

kehutanan, ilmu gizi, klimatologi dan lainya. Disamping itu pemanfaatan sumber

daya alam yang berlebihan tanpa diikuti oleh usaha-usaha yang menganut prinsip-

prinsip ekologi akan menambah rumitnya masalah lingkunagn pertanian.

Kemelut dan kegagalan pertanian pada akhirnya adalah akibat keterbatasan

pengetahuan tentang lingkungan pertanian itu sendiri. Oleh karena itu, pengkajian

masalah lingkungan pertanian dan dampaknya terhadap aspek fisiologi tanaman,

untuk memperoleh hasil yang maksimum merupakan suatu hal yang tak dapat

dipisahkan dari ilmu tanaman. Analisa dampak lingkungan pertanian memberikan

6
gambaran bahwa, factor lingkungan mempengaruhi fungsi fisiologis yang pada

gilirinnya akan memepengaruhi produksi yang diperoleh.

2.2 Pengertian Ekologi

Ekologi dalam perkembangan menjadi semakin dibutuhkan kehadirannya

hamper disetiap pemecahan permasalahan lingkungan dan pembangunan. Kondisi ini

sangat memungkinkan karena ekologi menjadi dasar yang harus dimiliki dalam

menerapkan berbagai konsep, terutama penerapan konsep lingkungan, maupun

konsep-konsep tentang manusia dan mahkluk hidup lain dalam hubungannya dengan

lingkungan.

Batasan pengertian ekologi tanaman cukup luas, namun dari dasar katanya

mengandung pengertian eko dan logi, dimana ekologi dapat ditelusuri dari asal

katanya, yakni dari kata “Oikos” artinya “lingkungan” dan “logos” artinya “ilmu”.

Dengan demikian Ekologi Tanaman adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari

tanaman di rumahnya atau berkaitan dengan gejala hidup tumbuhan dalam

lingkungan dimana dia hidup termasuk di dalamnya interaksi antar tanaman dengan

lingkungannya, atau dapat didefinisikan pula bahwa ekologi tanaman adalah sebagai

ilmu (logos) yang mempelajari hubungan timbal balik antara tanaman dan

lingkungan (oikos) atau lebih tepatnya adalah ilmu yang mempelajari pengaruh

lingkungan terhadap tanaman yang telah dibudidayakan dalam segala aspeknya.

Ekologi tanaman adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara

tanaman dengan lingkungannya. Tanaman membutuhkan sumberdaya kehidupan dari

lingkungannya, dan mempengaruhi lingkungan begitu juga sebaliknya lingkungan

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ekologi dibagi atas dua

bagian yaitu Sinekologi dan Autekologi.

7
2.3 Ekologi Pertanian

Ekologi pertanian adalah studi proses ekologi yang mengendalikan sistem

produksi pertanian. Pada ekologi pertanian, prinsip ekologi dibawa ke ekosistem

pertanian. Istilah ini seringkali diartikan, meski tidaklah tepat, sebagai "sebuah sains,

gerakan, praktik." Bidang ilmu yang dipelajari dalam ekologi pertanian tidak terkait

pada salah satu metode pertanian melainkan terkait dengan ekosistem pertanian.

Pakar ekologi pertanian tidak sama sekali menentang

penggunaan teknologi dalam pertanian, melainkan menilai bagaimana, kapan, dan

jika teknolgi dapat digunakan seiring dengan kekayaan hayati, keberagaman sosial,

dan manusia. Ekologi pertanian menawarkan pola berdasarkan lokasi dalam

mempelajari ekosistem pertanian, sehingga ekologi pertanian memahami bahwa

tidak ada rumus universal yang dapat dijalankan di semua bentuk ekosistem. Ekologi

pertanian tidak diefinisikan berdasarkan praktik pertanian tertentu.

Ekologi pertanian mempelajari pertanyaan terkait dengan sifat dasar

ekosistem pertanian, yaitu produktivitas, stabilitas, keberlanjutan, dan kesetaraan.

Ekologi pertanian mempelajari keempat sifat dasar tersebut secara interdisipliner,

menggunakan ilmu alam untuk mempelajari elemen eksistem pertanian seperti sifat

tanah dan interaksi tanaman-hewan, juga ilmu sosial untuk memahami efek praktik

pertanian pada masyarakat, pergerakan ekonomi untuk membangun metode produksi

baru, atau faktor budaya yang menentukan praktik budi daya.

Ekologi pertanian didefinisikan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan

Pembangunan Ekonomi (OECD) sebagai "studi hubungan antara tanaman pertanian

dan lingkungan" Definisi lain adalah ekologi pertanian sebagai interaksi antara

tanaman, hewan, manusia, dan lingkungan di dalam sistem pertanian. Ekologi

8
pertanian juga didefinisikan berdasarkan lokasi geografis terkait. Pada belahan bumi

selatan misalnya, ekologi berperan secara politik yang bertujuan memenuhi

kesetaraan sosial dan ekonomi kepada pelaku pertanian tradisional dan masyarakat

pribumi. Amerika Utara dan Eropa menjauhkan aspek politik ini dan lebih mengarah

kepada pendekatan ilmiah dengan sedikit aspek sosial. Pada pendekatan

berbasis ekologi populasi, ekologi pertanian menganalisis ekosistem pertanian dari

sisi dinamika populasi spesies tertentu dan hubungannya dengan iklim dan

biogeokimia, dan genetika populasi.

Ekologi pertanian inklusif memandang ekologi pertanian sebagai bagian dari

pertanian, di mana ekologi alam dan ekologi pertanian merupakan bagian utama

dari ekologi. Ekologi alam mempelajari organisme dalam hal interaksinya dengan

lingkungan alam. Sehingga ekologi pertanian menjadi dasar utama dalam

ilmu pemanfaatan lahan di mana manusia mengelola kekuasaan terhadap organisme

dalam lingkungan yang terencana dengan baik.

2.4 Penerapan Ekologi dalam Bidang Pertanian

Pertanian organik yang semakin berkembang belakangan ini menunjukkan

adanya kesadaran petani dan berbagai pihak yang bergelut dalam sektor pertanian

akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Revolusi hijau dengan

input bahan kimia memberi bukti bahwa lingkungan pertanian menjadi hancur dan

tidak lestari. Pertanian organik kemudian dipercaya menjadi salah satu solusi

alternatifnya.

Pengembangan pertanian organik secara teknis harus disesuaikan dengan

prinsip dasar lokalitas. Artinya pengembangan pertanian organik harus disesuaikan

dengan daya adaptasi tumbuh tanaman/binatang terhadap kondisi lahan, pengetahuan

9
lokal teknis perawatannya, sumber daya pendukung, manfaat sosial tanaman/

binatang bagi komunitas.

Pertanian organik memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling

bergantung dan menghidupi, dan manusia adalah bagian di dalamnya. Prinsip

ekologi dalam pertanian organik didasarkan pada hubungan antara organisme dengan

alam sekitarnya dan antarorganisme itu sendiri secara seimbang. Pola hubungan

antara organisme dan alamnya dipandang sebagai satu – kesatuan yang tidak

terpisahkan, sekaligus sebagai pedoman atau hukum dasar dalam pengelolaan alam,

termasuk pertanian.

Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian organik sangat memperhatikan

kondisi lingkungan dengan mengembangkan metode budi daya dan pengolahan

berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sistem pertanian organik diterapkan

berdasarkan atas interaksi tanah, tanaman, hewan, manusia, mikroorganisme,

ekosistem, dan lingkungan dengan memperhatikan keseimbangan dan

keanekaragaman hayati. Sistem ini secara langsung diarahkan pada usaha

meningkatkan proses daur ulang alami daripada usaha merusak ekosistem pertanian

(agroekosistem).

Pertanian organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan

lingkungan dan masa depan kehidupan manusia. Pertanian organik juga menjamin

keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian.

Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsur hara, bimassa, dan

energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran.

Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal di sekitar lokasi pertanian seperti limbah

produk pertanian sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik seperti kompos

10
sangat efektif mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak

ramah lingkungan. Demikian juga dengan pemanfaatan bahan alami seperti tanaman

obat yang ada untuk dibuat racun hama akan mengurangi penggunaan bahan

pencemar bahaya yang diakibatkan pestisida, fungisida, dan insektisida kimia.

Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain

meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak

pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia

berlebihan. Di samping itu, banyak mikroorganisme di alam yang memiliki

kemampuan mereduksi dan mendegradasi bahan-bahan kimia berbahaya yang

diakibatkan pencemaran dari bahan racun yang digunakan dalam aktivitas pertanian

konvensional seperti racun serangga dan hama.

Dengan kemajuan teknologi, pertanian organik adalah pertanian ramah

lingkungan yang murah dan berteknologi sederhana (tepat guna) dan dapat dijangkau

semua petani di Indonesia. Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian

keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi

untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam. Keseimbangan alami

antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan penggunaan insektisida

kimia yang hanya satu macam.

Pertanian organik bukan hanya baik bagi kesehatan, tetapi juga bagi

lingkungan bumi. Beberapa ahli pertanian Amerika Serikat yakin pertanian organik

merupakan cara baru mengurangi gas-gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan

global. Laurie Drinkwater, ahli manajemen tanah dan ekologi Rodale Institute di

Kutztown, Pennsylvania, AS bersama koleganya membandingkan pertanian organik

dengan metode sebelumnya yang menggunakan pupuk kimia selama 15 tahun.

11
2.5 Manfaat Ekologi Pertanian

Desain lanskap dari budidaya tanaman juga sangat tergantung pada

lingkungan. Lingkungan akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk

dibudidayakan pada kawasan, penjadwalan dan teknik budidaya yang digunakan.

Oleh karenanya pengetahuan tentang lingkungan sangat penting artinya bagi sektor

pertanian.

Lingkungan akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan tanaman dan

organisme lain yang hidup di muka bumi. Oleh sebab itu pengetahuan tentang

lingkungan tumbuh tanaman sangat dibutuhkan agar budidaya tanaman yang

dilakukan dapat menghasilkan produksi yang optimum. Dalam agroekosistem

lingkungan tumbuh tanaman menjadi bahan pertimbangan dalam rancang bangun

aktivitas budidaya yang akan dilakukan.

2.6 Keberlanjutan Ekologi

Keberlanjutan ekologis adalah upaya mengembangkan agroekosistem agar

memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kurun waktu yang lama melalui

pengelolaan terpadu untuk memelihara dan mendorong peningkatan fungsi sumber

daya alam yang ada. Pengembangan sistem juga berorientasi pada keragaman hayati

(biodiversity).

Praktik-praktik budidaya tanaman yang menyebabkan dampak negatif pada

lingkungan harus di hindari. Penulis menjumpai di lapangan, bahwa petani sering

menyemprot pestisida pabrikan walaupun tidak ada hama. Seolah ada ketakutan yang

dalam jika tidak disemprot pastilah akan kena serangan hama.

Hal lain, kebiasaan menyemprot pestisida secara over-dosis ini dapat

menyebabkan tumbuhnya kekebalan pada hama yang selamat. Sehingga generasi

12
hama berikutnya tidak lagi mempan disemprot dengan dosis yang sama, atau

pestisida yang sama. Di lapangan dijumpai kebiasaan petani meng-oplos berbagai

merk pestisida untuk mendapatkan hasil yang lebih ampuh (dalam banyak kasus,

justeru penyuluh pertanianlah yang mengajarkan petani akan perihal berbahaya ini).

Selain berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan, syarat mutlak sistem

pertanian berkelanjutan adalah keadilan sosial, dan kesesuaian dengan budaya lokal.

Yakni penghargaan martabat dan hak asasi individu serta kelompok untuk mendapat

perlakuan adil. Misalnya adanya perlindungan yang lebih tegas atas hak petani dalam

penguasaan lahan, benih dan teknologi lokal yang sering “dibajak” oleh kaum

pemodal. Sistem yang harus dibangun juga menyediakan fasilitas untuk mengakses

informasi, pasar dan sumberdaya yang terkait pertanian.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Nama ekologi diusulkan pertama kali pada tahun 1866 oleh ahli biologi

jerman bernama Ernst Hackel, seorang pengikut terkemuka Darwinisme. Pada tahun

1870, Heackel menulis “ekologi adalah kajian interaksi yang kompleks yang disebut

oleh Darwin sebagai kajian tentang syarat-syarat dari perjuangan suatu makhluk

hidup untuk bertahan hidup”.

Pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi, dulu, kini, dan hari esok

telah menuntut ditingkatkannya persediaan bahan pangan dan bahan baku energi.

Kenyataannya sekarang daya dukung sumber daya alam semakin labil akibat

pemanfaatan yang semakin eksplosit tanpa mengindahkan kaidah-kaidah ekologis.

Pertanian organik menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan

petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa

sehingga unsur hara, bimassa, dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta

mampu mencegah pencemaran.

Ekologi tanaman adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara

tanaman dengan lingkungannya. Ekologi tanaman mempelajari bagaimana pengaruh

iklim, tanah dan faktor biotik termasuk interaksi antara faktor-faktor tersebut

mempengaruhi proses fisiologis tanaman, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan

dan produksi tanaman terganggu.

3.2 Saran

Saran penulis yaitu agar pembaca dapat mendapatkan seputar informasi

mengenai sejarah dan pengertian ekologi khususnya pada bidang pertanian.

14
DAFTAR PUSTAKA

Fitter AH dan Hay RKM. Fisiologi Lingkungan Tanaman.Gadjah Mada Universiy

Fukuoka, M. 1991. Revolusi Sebatang Jerami: Sebuah Pengantar Menuju Pertanian


Alami (Terjemahan S. Hardjosoediro), yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Press. Yogyakarta

Wurttemberg, HB. 1994. Biology I. Berlin : Cornelson Dpuck


Zamor,O.B. 1995. Contextualizing the Indicators of Sustainable
Agriculture. Working Paper on The Sustainable Agriculture Indicator
Workshop on May 30, 1995. SEAMO Regional Centre for Graduade Study
and Research in Agriculture

15