Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK MENINGITIS

DOSEN PEMBIMBING: SARI DESI ESTA ULINA SITEPU S.Kep, Ns, M.Kep

DISUSUN OLEH

KELOMPOK VII PSIK III- D

1. CHAIRUNNISAH HAFSARI SIREGAR (17.11.023)


2. DWIKA ASTRI ANGGRAINI (17.11042)
3. LENI AMBARITA (17.11.092)
4. PUTRI ANDRIYANI LIMBONG (17.11.143)
5. SOFIANI POHAN (17.11.179)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN FISIOTERAPI

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

T.A 2019/202
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita penjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan “MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK MENINGITIS” Oleh
DOSEN SARI DESI ESTA ULINA SITEPU S.Kep,Ns, M.Kep.
Penulisan pada makalah kami ini merasa masih banyak kekurangan-
kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingatakan
kemampuan yang dimiliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki
bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang


setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat
menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah Aamiin.

Lubuk Pakam, 10-September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Tujuan .............................................................................................. 1
1.3 Rumusan Masalah ............................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................... 3
2.1 Definisi ............................................................................................. 3
2.2 Etiologi ............................................................................................. 4
2.3 Klasifikasi ........................................................................................ 5
2.4 Manifestasi Klinis ............................................................................ 6
2.5 Tujuan paliatif care pada trauma capitis .......................................... 7
2.6 Tahapan tahapan paliatif care............................................................ 10
2.7 Pemeriksaan Penunjang ................................................................... 9
2.8 Pathways .......................................................................................... 11
BAB III ASUHANKEPERAWATAN .................................................. 14
BAB IV PENUTUP ................................................................................ 30
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 32

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Meningitis tergolong penyakit serius dan bisa mengakibatkan kematian. Penderita
meningitis yang bertahan hidup akan menderita kerusakan otak sehingga lumpuh, tuli, epilepsi,
retardasi mental.
Penyakit meningitis telah membunuh jutaan balita di seluruh dunia. Data WHO
menunjukkan bahwa dari sekitar 1,8 juta kematian anak balita di seluruh dunia setiap tahun,
lebih dari 700.000 kematian anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.
Ada tiga bakteri penyebab meningitis, yaitu Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae tipe b, dan Niesseria meningitides. Dari ketiga bakteri itu,
Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) adalah bakteri yang paling sering menyerang bayi
di bawah usia 2 tahun. Masa inkubasi (waktu yang diperlukan untuk menimbulkan gejala
penyakit) kuman tersebut sangat pendek yakni sekitar 24 jam.
Bakteri pneumokokus adalah salah satu penyebab meningitis terparah. Penelitian
yang diungkapkan konsultan penyakit menular dari Leicester Royal Infirmary, Inggris, Dr
Martin Wiselka, menunjukkan bahwa 20-30 persen pasien meninggal dunia akibat penyakit
tersebut, hanya dalam waktu 48 jam.
Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia. Pasien yang terlanjur
koma ketika dibawa ke rumah sakit, sulit untuk bisa bertahan hidup. Infeksi pneumokokus lebih
sering terjadi pada anak dibanding orang dewasa karena tubuh anak belum bisa memproduksi
antibodi yang dapat melawan bakteri tersebut.
Sebanyak 50 persen pasien meningitis yang berhasil sembuh biasanya menderita
kerusakan otak permanen yang berdampak pada kehilangan pendengaran, kelumpuhan, atau
keterbelakangan mental. Komplikasi penyakit tersebut akan timbul secara perlahan dan
semakin parah setelah beberapa bulan.

1.2 Rumusan Masalah


a. apa defenisi dari meningitis ?
b. apa saja etilogi meningitis pada anak?
c. apa saja factor-faktor predisposisi meningitis pada anak-anak?
d. apa saja macam-macam meningitis ?

3
e. apa saja manifestasi klinis meningitis pada anak?
f. apa prognosis meningitis pada anak?

g. bagimana pathofisiologi meningitis pada anak?


h. bagaimana pencegahan meningitis pada anak?
i. apa saja kompikasi menitis pada anak?
j. contoh kasus meningitis pada anak

1.3 Tujuan makalah


a.untuk mengetahui apa defenisi dari meningitis ?
b. untuk mengetahui apa saja etilogi meningitis pada anak?
c. untuk mengetahui apa saja factor-faktor predisposisi meningitis pada anak-anak?
d. untuk mengetahui apa saja macam-macam meningitis ?
e.untuk mengetahui apa saja manifestasi klinis meningitis pada anak?
f.untuk mengetahui apa prognosis meningitis pada anak?
g.untuk mengetahui bagimana pathofisiologi meningitis pada anak?
h. untuk mengetahui. bagaimana pencegahan meningitis pada anak?
i. untuk mengetahui apa saja kompikasi menitis pada anak?
j. contoh kasus meningitis pada anak

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Meningitis
Meninges adalah jaringan membrane penghubung yang melapisi otak dan medulla
spinalis. Ada 3 lapisan meninges yaitu: durameter, arachnoid, dan piameter.
Durameter adalah lapisan luar meninges merupakan lapisan yang liat, kasar dan
mempunyai dua lapisan membrane. Arachnoid adalah membrane bagian tengah, tipis dan
berbentuk seperti laba-laba. Sedangkan piameter adalah lapisan paling dalam,, tipis merupakan
membrane vaskuler yang membungkus seluruh permukaan otak.

Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen (membrane yang menyelimuti


otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus dan bakteri atau organ-organ jamur yang
dapat menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat dan dapat menyebabkan cacat
permanen. Biasanya penyakit ini sering terjadi pada bayi, anak –anak yang angka
kesembuhannya rendah akibat kekebalan tubuh yang menurun.

2.2 Etiologi Meningitis


1. Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam organisme seperti Haemophilus
influenza (Tipe B), strepthococus pneumoniae, Neisseria meningitides (meningococus),
staphilococus aureu, Escherichia coli, pseudomonas, dan diplococus pneumonia terdapat
di nasopharing.
2. factor predisposisi jenis kelamin : laki-laki lebih sering terkena meningitis dibandingkan
wanita
3. factor maternal: rupture membrane fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan.

5
4. Factor imunologi: defesiensi mekanisme imun, defesiensi immunoglobulin, anak yang
mendapat obat-obat imunosupresi.
5. Anak dengan kelainan simstem saraf pusat, pembedahan, atau injury yang berhubungan
dengan system persarafan
2.3 Penyebaran virus yang bisa menimbulkan meningitis
a. virus influenza: virus ini menyebar melalui batuk, bersin, dan kontak orang yang
terkena influenza
b. virus herpes simplex: seseorang dapat menyebabkan virus herpex ke bayi melalui
ciuman bahkan ketika orang yang belum terinfeksi belum memiliki gejala apapun.
Bayi baru lahir juga bisa mendapatkan virus dari ibunya saat proses kelahiran.
c. Virus varicella-zoster: virus sangat menular dan dapat menyebabkan cacar dan ruam.
Virus ini sering menyebar melalui pernapasan, berbicara atau adanya kontak dengan
luka seseoramg yang terinfeksi virus ini.
d. Campak dan gondong: virus dari penyakit ini sangan menular dan bisa menyebar
sewaktu berbicara, batuk dan bersin.
Penyebaran bakteri yang bisa menimbulkan meningitis
a. Streptocococus grup B: dapat ditularkan dari ibu ke bayi yang baru lahir
b. Escheria coli: bakteri ini menyebar dari ibu ke bayi selama persalinan jika ibunya
terkontaminasi bakteri ini dari makanan.
c. Sterptococus pneumoniae dan hemophilus influenza tipe B: bakteri ini umumnya
menyebar malalui batuk dan bersin.
d. Listeria monocytogenesis menyebar melalui makanan yang terkontaminasi. Janin
dapat terinfeksi ini selama ibu mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri
ini.
e. Neisseria menigitides: bekteri ini bisa menyebar melalui air liur orang deasa ke bayi.

2.3 Factor predisposisi


Yaitu faktor terjadinya meningitis seperti
 Luka/ fraktur terbuka pada kepala
 Infeksi pada telinga
 Radang paru
 Pembedahan otak dan spinal
 Sepsis

6
 Lumban pungsi dan anestesi lumbal

2.4 Macam-macam meningitis berdasarkan penyebabnya


a. Meningitis bakterialis
Yaitu meningitis yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza (pada anak-anak)
,strephtococus pneumoniae ( pada dewasa), neiserria meningitides dan staphylococcus
aureus. Bakteri bakteri ini akan masuk dari telinga, hidung dan tenggorokan kemudian
aliran darah akan membawa bakteri masuk ke otak.
Bentuk penularannya melalui kontak langsung yang mencakup droplet dan secret dari
hidung dan tengorokan yang membawa kuman (paling sering) atau infeksi dari orang lain.
Neutrophil, monosit, limfosit dan lainnya merupakan sel- sel sebagai respon peradangan.
Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan leukosit yang dibentuk di ruang subaraknoid.
Penumpukan didalam cairann serebrospinal akan menyebabkan cairan disekitar otak
dan medulla spinalis.Sebagian akan mengganggu asorbsi akibat granulasi araknoid dan
dapat menimbulkan hidrosefalus. Penambahan eksudat didalam subaraknoid dapat
menimbulkan peradangan lebih lanjut dan peningkatan tekanan intracranial.
Eksudat akan mengendap di otak dan saraf-saraf kranial dan spinal. Sel-sel meningeal
akan menjadi edema, membrane sel tidak dapat lebih panjang mengatur aliran cairan
menuju atau keluar dari sel.Vasodilatasi yang cepat dari pembuluh darah dapat
menimbulkan rupture atau thrombosis dinding pembuluh darah.
Jaringan otak dapat menjadi lebih infark, sehingga dapat menimbulkan infeksi sekunder
dari otak jika bakteri makin luas menuju jaringan otal sehingga menyebabkan encephalitis
dan gangguan neurologi lanjut.Manifestasi klinik pada meningitis: nyeri kepala, panas,
mual, muntah, nyeri bagian belakang, kejang umum, bahkan dapat mengakibatkan
penurunan kesadaran samapi menjadi koma.
b. Meningitis virus (meningitis aseptic)
Meningitis yang disebabkan oleh virus measles, mumps, herpes simplex dan
herpes zoster. Biasanya terjadi penyebarannya melalui system respirasi, mulut,
genetalia , dan gigitan hewan. Bias juga melalui batuk, bersin dan lingkungan yang
kotor.pembentukan eksudat pada umumnya terjadi diatas korteks serebral, substansi
putih, dan meningens.
Kerentanan jaringan otak terhadap berbagai macam virus tergantung pada tipe
sel yang dipengaruhi. Virus herpes simplex merubah metabolism sel, yang mana secara
cepat menyebabkan nekrosis sel-sel.
7
Virus yang lain menyebabkan perubahan produksi enzim atau neurotransmitter
yang menyebabkan disfungsi dari sel dan kemungkinan kelainan neurologi.
Manifestasi klinis meningitis virus yaitu: nyeri kepala, nyeri sekitar muka dan mata,
photofobia, dan adanya kaku duduk,

c. Meningitis jamur
Meningitis yang disebabkan oleh penyebaran jamur di sumsum tulang
belakang,melalui aliran darah, resiko meningitis ini meningkat akibat system kekebalan
tubuh menurun, seperti HIV dan Kanker.

d. Meningitis parasite
Meningitis ini disebabkan oleh parasite yang biasanya masuk kedalam tubuh
melalaui hidung. Amoeba yang menyebabkan meningitis ini umumnya ada naigleria
pouleri.
Amoeba ini biasnaya ditemukan pada danau, suangai air tawar, kolam renang
yang tidak dibersihkan, dan lain-lain.

e. Meningitis tuberkolosis
Meningitis yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkolosis.

2.5 Manifestasi klinis meningitis


a. Sakit kepala hebat dan demam tinggi:
Ad alah gejala awal yang sering. Sakit kepala dihubungkan dengan menginitis yang
selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi
selama perjalanan penyakit.
b. Mual dan, muntah.
c. Nyeri sendi dan kaku
d. Selalu memangis pada bayi
e. Kejang
f. Anoreksia
g. Timbul kemerahan pada kulit (ruam): salah satu ciri yang menyolok pada menginitis
meningococcal (neisseria meningitis) semua pasien dengan tipe meningitis

8
mengembangkan lesi-lesi pada kulit diantaranya ruam petekie dengan lesi purpura
samapi ekimosis pada daerah yang luas.
h. Kaku duduk (ketidakmampuan untuk menggerakkan leher ke depan karena terjadi
peningkatan tonus otot leher dan kekauan.
i. Photophobia (intoleransi terhadap cahaya terang) dan fonofobia (intoleransi terhadap
suara keras)
j. Penurunan kesadaran dihubuangkan dengan menginitis bakteri. Disorientasi dan
gangguan memori biasanya merupakan awal adanya penyakit.perubahan yang terjadi
bergantung pada beratnya penyakit. Demikian pula respon individu terhadap proses
fisiologisnya.
Manifestasi klinis
a. Neonatus: menolak untuk makan, reflex menghisap kurang, muntah, atau diare,
tonus otot kurang, kurang gerak dan menangis lemah.
b. Anak-anak dan remaja: demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti dengan
perubahan sensori, kejang, mudah testimulasi, dan stupor, koma, kaku duduk dan
opistotonus, tanda kerng dan bruzenski positif, reflex fisiologis hiperaktif, ptechiae
atau pruritus (menunjukkan adanya infeksi meningoccal)
c. Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan sampai 2 tahun) : demam, anoreksia, muntah,
kejang, menangis dengan merintih, ubun ubun menonjol, kaku duduk, tanda kerng
dan bruzenski.

2.6 Prognosis
Bila tidak diobati meningitis bakteri hampir selalu fatal. Meningitis virus
sebaliknya cenderung sembuh sendiri dan jarang fatal. Pada bayi baru lahir (20-30%)
mungkin meninggal karena meningitis bacterial. Resiko kematian diprediksi dengan
berbagai faktir selain usia, seperti pathogen, yang terlibat dan waktu yang dibutuhkan
untuk membersihkan pathogen dari likour serebrospinal.
Pada anak ada beberapa potensi cacat yang munkin disebabkan oleh kerusakan
dari system saraf, termasuk tuli sensorinureal,epilepsy, gangguan kognitif, sukar dalam
memahami pelajaran,kesulitan perilaku, dan menurunya kesadaran.

9
2.6 PATHOFISIOLOGI dan PATHWAY
Pathofisiologi

RADANG SELAPUT OTAK

VIRUS,BAKTERI,PARASIT,JAMUR

MENGINFEKSI LAPISAN OTAK


(Meningens)

MENINGITIS

Mikroorganisme Mengumpulkan toksik Peningkatan mediator


menghasilkan mikroorganisme jaringan kimiawi
&mengeluarkan meningen rusak dan cairan (prostaglandin,epinefrin,)
toksik yang dapat berkumpul
merusak maningen

Merangsang
Membentuk cairan yang
TOKSEMIA peningkatan
kental
metabolisme tubuh

Peningkatan volume
HIPOTALAMUS fustula Peningkatan respon
gastrointestinal
Peningkatan tekanan
PENINGKATAN pada menginen Rasa mual dan muntah
SUHU TUBUH

Sakit kepala Kekurangan


HIPERTERMIA
volume cairan
tubuh
Nyeri akut

Anoreksi
Gangguan rasa a
nyaman
Perubahan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

10
Infeksi mikroorganisme terutama bakteri dari golongan kokus seperti
streptokokus,stapilokokus, meningokokus, pnemokokus dan dari golongan lain seperti
tersebut di atas menginfeksi, bronkus saluran cerna . Mikrooganisme tersebut mencapai otak
mengikuti aliran darah.

Di otak mikroorganisme berkembangbiak membentuk koloni. Koloni mikroorganisme


menghasilkan toksin dan merusak meningen. Kumpulan toksin mikroorganisme, jaringan
yang rusak.cairan sel berkumpul menjadi satu membentuk cairan kental sehingga dapat
menjadi penyakit meningen.

2.7 Kompilkasi
a. Munculnya cairan pada lapisan subdural (efusi subdural). Cairan ini muncul karena
adanya desakan pada lapisan intracranial yang meningkat sehingga memungkinkan
lolosnya cairan dari lapisan otak kedaerah subdural.
b. Peradangan pada daerah ventricular otak( ventrikulitis). Abses pada meningen dapat
sampai ke jaringan kranial lain baik melalui perembetan langsung maupun
hematogen termasuk ke ventrikuler
c. Hidrosefalus peradangan pada meningen dapat merangsang kenaikan produksi
liquor cerebro spinal(LCS).Cairan LCS pada meningitis lebih kental sehingga
memungkinkan terjadinya sumbatan pada saluran LCS yang menuju medulla
spinalis.cairan tersebut akhirnya banyak tertahan di intracranial
d. Abses otak terjadi apabila infeksi sudah menyebar ke otak karena meningitis tidak
mendapat pengobatan dan penatalaksanaan yang tepat
e. Epilepsi kondisi ini terjadi karena perubahan keseimbangan cairan dari membrane sel
neuron kemudian difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membrane
f. Retardasi mental kemungkinan terjadi karena meningitis yang sudah menyebar ke
sererum sehingga mengganggu gyrus otak anak sebagai tempat menyimpan memori
g. Serangan meningitis berulang kondisi ini terjadi karena pengobatan yang tidak tuntas
atau mikroorganisme yang sudah resisten terhadap antibiotic yang di gunakan untuk
pengobatan

11
PENCEGAHAN

 Istirahat yang cukup


 Menghindari asap rokok
 Jaga jarak dengan orang yang terinfeksi
 Cuci tangan tiap kali beraktivitas
 Rutin berolahraga
 Jangan berbagi makanan atau barang pribadi
 Gunakan masker

Selain beberapa upaya di atas, pencegahan meningitis juga dapat dilakukan dengan menerima
vaksinasi atau imunisasi. Pemberian vaksin bertujuan agar melindungi pasien dari penyebab
seperti bakteri atau virus. Beberapa vaksin yang digunakan untuk mencegah meningitis
meliputi:

 Vaksin pneumococcal. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap bakteri


pneumococcal.
 Vaksin Hib. Vaksin ini melindungi pasien dari bakteri Haemophilus influenzae tipe B
penyebab meningitis.
 Vaksin MenC. Vaksin ini melindungi pasien dari bakteri meningococcal grup C.
 Vaksin MMR. Vaksin MMR berfungsi untuk melindungi pasien dari kondisi yang
memicu meningitis, seperti gondongan, campak, dan rubella.
 Vaksin ACWY. Vaksin ini memberikan perlindungan pada pasien terhadap bakteri
meningococcal grup A, C, W, dan Y.
 Vaksin meningitis B. vaksin meningitis B berfungsi untuk melindungi pasien dari
bakteri meningococcal tipe B.

PENGOBATAN

Pemeriksaan fisik, pemeriksaan labratorium yang meliputi test darah (elektrolite,


fungsi hati dan ginjal, serta darah lengkap), dan pemeriksaan X-ray (rontgen) paru
akan membantu tim dokter dalam mendiagnosa penyakit. Sedangkan pemeriksaan
yang sangat penting apabila penderita telah diduga meningitis adalah pemeriksaan
Lumbar puncture (pemeriksaan cairan selaput otak). Jika berdasarkan pemeriksaan
penderita didiagnosa sebagai meningitis, maka pemberian antibiotik secara Infus

12
(intravenous) adalah langkah yang baik untuk menjamin kesembuhan serta mengurang
atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada penderita
tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan. Adapun beberapa antibiotik yang sering
diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin
(ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri
Listeria monocytogenes akan diberikan Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem
(meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone. Treatment atau therapy lainnya
adalah yang mengarah kepada gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam
(paracetamol), shock dan kejang (diazepam) dan lain sebagainya.

BAB III
TINJAUAN KASUS

1.Pengkajian

Pengkajian di lakukan pada tanggal 14 april 2016 pukul 10.00 wib di ruang anak (NICU
neurologi/BII) RSUD Husada Surabaya.

A.biodata

Nama : By.L

Tempat tanggal Lahir : Jombang, 17 desember 2015

Usia : 4 bulan/ anak ke 3

Jenis Kelamin : perempuan

Nama Ayah/Ibu : Tn. S/ Ny.S

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia

Alamat : Mojowarno/ Jombang

No RM : 10.392.85

13
Sumber Informasi :Ibu

Diagnosa Medis :s. meningitis

b. keluhan utama

kejang

c. Riwayat penyakit sekarang

Sebelumnya dirumah klien sudah seminggu menderita demam, flu, dan batuk. Klien mulai
kejang pada tanggal 13 april 2016 jam 23.00 wib (pada saat kejang mata melirik keats, kejang
pada seluruh badan, setelah kejang klein sadar dan menangis pada saat kejang keluar buih
lewat mulut) dan langsung dibawa ke IGD rsud Husada Surabaya dan MRS di ruang anak
NICU neurologi II B.

d. Riwayat penyakit dahulu

Sebelumnya klien pernah MRS dengan diare pada saat berumur 2 bulan.

e. Riwayat penyakit keluarga

Ibu mengungkapkan bahwa saat klein menderita panas dan kejang didalam keluarga tidak
ada yang menderita sakit flu atau batuk.

F.Riwayat kehamilan dan persalinan

Ibu mengungkapkan bahwa Selama hamil ia rajin kontrol kebidan didekat rumahnya. Ia
mengatakan bahwa ia juga mengkonsumsi makanan sehat selalu. Air ketuban berwarna
kehitaman dan kental.

G.status imunisasi

Menurut ibu anaknya sudah mendapatkan imunisasi BCG, Polio I, DPT dan Hepatitis.

h.status nutrisi

ibu mengatakan By.L diberikan ASI mulai lahir sampai berumur 2 bulan, setelah dirawat di
ruang anak, ibu tidak memberi ASI dan diganti dengan fasilactogen.

14
i.Data psikososial

ibu mengungkapkan bahwa ia menerima keadaan anaknya, dan berharap agar abnaknya
bisa cepat sembuh dan pulang berkumpul bersama denga keluraga.

Ibu dan nenek klien selalu menuggu klien dan hanya pada hari minggu ayah dan kakak klien
datang mengunjungi klien.

j.pemeriksaan fisik

1.Keadaan umum

By tampak tidur dengan menggunakan IV cathpada tangan kanan,kesadaran composmentis

Nadi 140x/mnt,suhu38®C,pernafasan 40x/mnt

2.Kepala dan leher

Kepala berbentuk simetris rambut bersih hitam dan penyebarannya merata ubun-ubun
besar masih belum menutup teraba lunak dan cembung lingkar kepala 36cm mata Nampak
anemis icterus tidak ada telinga tidak ada serumen hidung tidak ada terdapat pernafasan
cuping hidung mulut bersih leher tidak terdapat pembesaran kelenjar

3.Dada dan Thoras

Pergerakan dada simetris,wheezing ,ronchi,tidak terdapat rettraksi otot bantu pernafasan


,pemeriksaan jantung,ictuscordis terletak di midclavicula sinistra di ICS 4-5 S1 S2 tidak ada
bising murmur

4.Abdomen

Bentuk supel hasil perkusi timpani tidak terdapat meteorismus bising usus normal 5x/mnt
hepar dan limpa tidak teraba kandung kemih terasa kosong

5.Ekstrimitas

Tidak terdapat spina bifida pada ruas tulang belakang tidak ada kelainan dalam segi
bentuk,uji kekuatan otot tidak dilakukan klien mampu menggerakkan ekstremitas sesuai

15
dengan arah gerak sendi.ekstremitas kanan sering terjadi spastik terjadi setiap 10x selama
1mnt.

6.Refleks

Pada saat dikaji reflex menghisap klien +,reflex babinsky +

NO DIAGNOSA INTERVENSI IMPLEMENTASI RASIONAL EVALUASI

1. Gangguan 1.pasien tidur 1.melakukan posisi 1.perubahan pada 1.S:Ibu klien


perfusi terlentang tampa telentang tidur pasien tekanan mengatakan bahwa
jaringan b/d bantal intracranial akan tanda-tanda kejang
2.memonitor tanda-
peningkatan dapat masi ada
2. monitor tanda- tanda status neurologis
tekanan intra menyebabkan
tanda status O:tangan dan kaki
cranial 3.memonitor intake resiko untuk
neurologis dengan klien masi terlihat
dan output terjadinya herniasi
GCS kaku dan tegang
otak
4.memonitor tanda-
3. monitor intake A:masalah belum
tanda vital 2.dapat
dan output teratasi
mengyrangi
TD: -
4. monitor tanda- kerusakan otak P:lanjutkan intervensi
tanda vital. HR:95x/i lebih lanjut
2.S:ibu klien
5.berikan terapi RR: 40x/i 3.hypertermi mengatakan keadaan
cairan infus sesuai dapat tubuh masih sering
T:38®c
intruksi dokter menyebabkan terjadi spastik
5.memonitor terapi peningkatan IWL
O:keadaan umum
cairan dan meningkatkan
masi lemah T:38,6®C
resiko dehidrasi

16
Kolaborasi :berikan terutama pada A;masalah belum
cairan perinfus pasien teratasi
denganperhatian ketat
4.untuk P:lanjutkan intervensi
2.monitorAGD mengetahui
tanda-tanda
Bila diperlukan
normal pada bayi
pemberian oksigen

3.berikan terapi sesuai


anjuran dokter
seperti:stereoid,aminof
el,antibiotika

2. Resiko trjadi 1.berikan kompres 1.memberikan 1.perpindhan 1.S:ibu klien


kejang b/d dingin kompres dingin panas secara mengatakan tanda-
hypertermi didaerah kepala leher konduksi tanda spastik masi
2.berikan ekstra
dan ketiak terjado
cairan susu 2.pemantauan
2.mengobserfasi yang teratur untuk O:tangan dan kaki
3.observasi kejang
kejang dan tanda vital menentukan masi terlihat kaku
dan tanda vital
per 4jam tindakan yang keadaan umum masi
setiap 4 jam
dilakukan lemah

17
4.berikan anti 3.memberikan ekstra 3.saat demam A:masalah belum
piuretika dan cairan susu kebutuhan cairan teratasi
pengobatan sesuai akan meningkat
4.memberikan anti P:lanjutkan intervensi
anjuran dokter
piuretika sesuan 4.menurunkan
2.S: ibu klien
anjuran okter panas pada pusat
mengatakan bahwa
hipotalamus
kejang masih ada

O:T: 38,4®c keadaan


umum masih lemah

A: masalah belum
teratasi

P: lanjutkan
intervening

3. Resiko 1.Monitor kejang 1.Memonitor kejang 1.untuk 1.S: ibu klien


terjadinya pada tangan, kaki, pada tangan, menggambarkan mengatakan tidak
injury b/d mulut, dan otot kaki,mulut otot dan iritabilitas system terjadi injury pada
kejang,perub muka lainnya muka lainnya saraf pusat untuk tubuh klien
ahan status sesuai intervensi
2.persiapkan 2.mempersiapkan O: klien masih terjadi
mental dan supaya mencegah
lingkungan yang lingkungan yang aman spastik lingkungan
penurunan komplikasi
aman seperti seperti batasan tempat tidurnya aman
kesadaran
batasan pengaman yang selalu 2. mengurangi
A:Masalah belum
pengaman,selalu dekat dengan pasien resiko jatuh atau
teratasi
berada di dekat terluka jika vertigo
3. memberikan terapi
pasien P: lanjutkan
sesuai anjuran dokter 3.untuk mencegah
intervening
3.Berikan terapi seperti diazepam dan dan mengurangi
sesuai dengan phenobarbital kejang
anjuran dokter
seperti

18
diazepam,phenob
arbital

4. Kurangnya 1.Kaji tingkat 1.Mengkaji tingkat 1.Mengkaji sejauh 1.S: Ibu mengatakan
pengetahuan pengetahuan pengetahuan keluarga mana bahwa tanda spastik
keluarga b/d keluarga pengetahuan yang tidak terjadis
2. memberi penjelasan
keterbatasan di miliki keluarga
2. beri penjelasan kepada keluarga sebab O: - Tangan dan kaki
informasi dan kebenaran
kepada keluarga dan akibat kejang klien sebelah kiri tidak
informasi yang di
sebab dan akibat terlihat kaku dan
3.Memberikan health dapat
kejang tegang
education agar selalu
2.penjelasan
3.berikan health sedia obat penurun -keadaan umum
tentang kondisi
education agar panas pasien masih lemah
yang di alami
selalu sedia obat
4.memberitahu dapat membantu A: Masalah teratasi
penurun panas
keluarga jika anak menambah
P: hentikan intervensi
4.beritahukan ibu mendapat imunisasi wawasan keluarga
jika anak akan agar di beritahukan
3.mencegah
mendapat pada petugas imunisasi
peningkatan suhu
imunisasi agar bahwa anak pernah
lebih tinggi dan
memberitahu menderita kejang
serangan kejang
kepada petugas demam
ulang
imunisasi bahwa
anaknya pernah 4. imunisasi
menderita kejang pertussis
demam memberikan
reaksi panas yang

19
dapat
menyebabkan
kejang demam

20
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen (membrane yang menyelimuti


otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus dan bakteri atau organ-organ jamur yang
dapat menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat dan dapat menyebabkan cacat
permanen. Biasanya penyakit ini sering terjadi pada bayi, anak –anak yang angka
kesembuhannya rendah akibat kekebalan tubuh yang menurun.
Ada tiga bakteri penyebab meningitis, yaitu Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae tipe b, dan Niesseria meningitides. Dari ketiga bakteri itu,
Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) adalah bakteri yang paling sering menyerang bayi
di bawah usia 2 tahun. Masa inkubasi (waktu yang diperlukan untuk menimbulkan gejala
penyakit) kuman tersebut sangat pendek yakni sekitar 24 jam.

4.2 SARAN
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca serta Dapat Diaplikasikan untuk
pendidikan kesehatan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Tarwoto,wartonah,eros sitisuryati,2014,Keperawatan Medikal Bedah gangguan system


persarafan,Jakarta:Sagung seto

Suriadi, rita yuliani,2011,Asuhan Keperawatan pada anak,Jakarta:PT.Fajar Interpratama

Perubahan fisiologi tekanan Spasme pada otot spasme


intrakranial

Kenaikan volume darah dan Penyempitan jalan nafas


meningkat viskositas darah

Terhambatnya absorbsi Penurunan O2 dalam


cairan serebro darah

Asupan O2 tidak
Penumpukan cairan serebro adekuat
di otak

hipoksia

Fase eksitasi neuron


Gangguan perfusi
kejang jaringan

Resiko injury takut Keterbatasan


mobilitas

Keterbatasan Kelumpuhan syaraf cemas


Tanda kerng
informasi
dan bruzenski
22
koma
Kurangnya
pengetahuan
kematian

23