Anda di halaman 1dari 98

CRITICAL BOOK REVIEW

1. PENGANTAR ILMU SASTRA (ANTILAN PURBA )


2. SASTRA DAN ILMU SASTRA ( A. TEEUW )

NAMA KELOMPOK :

1. DIAN LOLYNA ELISABETH SAGALA (2193111028)


2. HADIJAH BR. BAKO (2193111021)
3. NOFRI AGNESITA SITANGGANG (2193111024)
4. RUT OCTAVIANI SIANIPAR (2193111019)
5. ITIKA PURNAMA SARI (2193311012)
6. ANITA TAMBUNAN (2193111026)

KELAS : REGULER B

DOSEN PENGAMPU : PROF. DR. RORMAWATY HARAHAP, M.Pd

MATA KULIAH : TEORI DAN SEJARAH SASTRA

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puju syukur kami panjatkan keppada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami
kesempatan dalam menyelesaikan makalah ini, sehingga kritik buku (Critical Book Report)
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terimakasih kami ucapkan kepada Ibu
Rosmawaty Harahap selaku dosen pengampu mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra. Dalam
makalah ini kami membahas dan menjelaskan mengenai buku yang berjudul Pengantar Ilmu
Sastra karya Antilan Purba dan Sastra dan Ilmu Sastra karya A Teeuw bertujuan untuk
memberikan pengetahuan kepada para pembaca tentang teori dan sejarah sastra yang
berkembang di Indonesia.

Selaku manusia biasa, kami menyadari bahwa dalam hasil makalh ini masih terdapat
kekurangan dan kekeliruan yang tidak disengaja. Oleh karena itu kami sangat membutuhkan
kritik dan saran dari para pembaca.

Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya pada mata kuliah
Teori dan Sejarah Sastra di Universitas Negeri Medan.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengkritik buku salah satu cara yang dilakukan untuk menaikkan ketertarikan minat baca
seseorang terhadap suatu pokok bahasan. Mengkritik buku (Critical Book Report) ini adalah
suatu tulisan atau ulasan mengenai sebuah hasil karya atau buku, baik berupa buku fiksi
ataupun nonfiksi, juga dapat diartikan sebagai karya ilmiah yang melukiskan pemahaman
terhadap isi sebuah buku.

Mengkritik buku dilakukan bukan untuk menjatuhkan atau menaikkan nilai suatu buku
melainkan untuk menjelaskan apa adanya suatu buku yaitu kelebihan maupun kekurangan
buku tersebut. Yang lebih jelasnya dalam mengkritik buku, kita dapat menguraikan isi pokok
pemikiran pengarang dari buku yang bersangkutan diikuti dengan pendapat terhadap isi buku.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dipaparkan sebagi berikut.

1.Apa isi dari buku pengantar ilmu sastra karya Antilan Purba ?

2.Apa isi dari buku sastra dan ilmu sastra karya A. Teeuw ?

1.3 Tujuan Pembahasan

Adapun tujuan pembahasan adalah sebagai berikut.

1.Untuk mengetahui isi dari buku pengantar ilmu sastra karya Antila Purba.

2.Untuk mengetahui isi dari buku sastra dan ilmu sastra karya A.Teeuw.
BAB II

IDENTITAS BUKU

2.1 IDENTITAS BUKU

A. Identitas Buku 1

Judul Buku : Pengantar Ilmu Sastra

Penulis : Antilan Purba

Penerbit : USU Press

Kota Terbit : Medan

Tahun Terbit : 2010

Edisi : Pertama

ISBN : 979-458-446-0

B. Identitas Buku 2

Judul Buku : Sastra Dan Ilmu Sastra

Penulis : A. Teeuw

Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya

Kota Terbit : Bandung

Tahun Terbit : 2016

Edisi : Kelima

ISBN : 978-979-419-415-7
2.2 RINGKASAN ISI BAB
 Buku Utama

Buku 1 Pengantar Ilmu Sastra

Antilan Purba
Daftar Isi
Isi Bab Hal Ringkasan Bab
Bab 1. BAB I
ESENSI ESENSI ILMU SASTRA
ILMU 1. Pengertian Ilmu Sastra
SATRA Istilah ilmu sastra dalam bahasa Inggris general literature atau
1.Pengertian literary study. Di Indonesia ilmu sastra dipadankan dengan studi sastra,
Ilmu Sastra kajian sastra, pengkajian sastra, telaah sastra. (paragraf 2:1)
2.Sejarah Ilmu Menurut Badrun (dalam Pengantar Ilmu Sastra: Teori Sastra,
Sastra 1983:11) ilmu sastra ilmu yang menyelidiki sastra secara ilmiah.
3.Obyek Ilmu Menurut Eddy (dalam Kamus Istilah Sastra Indonesia, 1991:96) ilmu
Sastra sastra segala bentuk dan cara pendekatan terhadap karya sastra dan
4.Tujuan Ilmu gejala sastra. Dalam Kamus Sastra, Eneste (1994:47) ilmu sastra
Sastra adalah bidang keilmuan yang objek utamanya karya sastra. Dalam
5. Ruang Ensiklopedi Sastra Indonesia, Hasanuddin mengemukakan bahwa ilmu
Lingkup Ilmu sastra dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah general literature
Sastra meliputi semua pendekatann ilmiah terhadap gejala sastra. (peragraf
3:1)
Menurut Mahayana (dalam 9 Jawaban Sastra Indonesia,
2003:223) ilmu sastra ilmu yang menyelidiki kesusastraan dengan
berbagai masalahnya secara ilmiah. Ilmu sastra adalah ilmu yang
mempelajari karya sastra (2005:347). (paragraf 4:2)
Pengertian ilmu sastra secara sederhana yaitu ilmu yang
menyelidiki karya sastra secara ilmiah dengan berbagai gejala dan
masalah sastra. (paragraf 5:2)
Dalam Pemandu di Dunia Sastra, Hartoko dan Rahmanto ilmu
sastra meliputi semua pendekatan ilmiah terhadap gejala sastra. Objek
ilmu sastra adalah unsur kesusastraan yang menyebabkan sebuah
ungkapan bahasa termasuk sastra. Unsur-unsur bahasa yaitu struktur,
gaya, fungsi politik, faktor-faktor historiko pragmatik dan psikososial.
(paragraf 6:2)
Cabang-cabang ilmu sastra dibedakan menurut sifat dan
lingkup sebuah objek serta sifat metode (kognitif, cara pengetahuan)
yang digunakan. Mengenai cara pengetahuan terdapat ilmu sastra
teoritis dan terapan, yaitu teori sastra (ilmu sastra umum) dan
pengkajian teks. Mengenai sifat dan objek yang diteliti terdapat kritik
sastra dan sejarah sastra serta ilmu sastra perbandingan (1985:125).
(paragraf 7:2)
Dalam Pengantar Ilmu Sastra, Luxemburg dkk (1989:2) ilmu
sastra meneliti sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks sastra, lagi
bagaimana teks-teks tersebut berfungsi dalam masyarakat.(paragraf
8:2)
Rumusan ilmu sastra adalah sebagai berikut:
1. Ilmu sastra ilmu yang menyelidiki sastra secara ilmiah
2. Ilmu sastra ilmu yang menyelidiki karya sastra secara
ilmiah
3. Ilmu sastra segala bentuk dan cara pendekatan ilmiah
terhadap karya sastra dan gejala sastra
4. Ilmu sastra sebuah telaah sistematis mengenai sastra dan
komunikasi sastra yang pada prinsipnya tidak
menghiraukan batas-batas antarbangsa dan
antarkebudayaan. (paragraf 10:3)
2. Sejarah Ilmu Sastra
Penolakan terhadap keberatan menyatakan ilmu sastra tidak
haya menekuni kaidah-kaidah, sistem-sistem serta modul-modul.
Penolakan sastra sebagai ilmu juga diungkapkan oleh Wellek dan
Warre. Mereka berpendapat bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif,
sebuah karya seni. Sedangkan studi/ilmu sastra adalah cabang ilmu
pengetahuan. Akan tetapi sejumlah teoritisi menolak mentah-mentah
bahwa telaah sastra adalah ilmu (1989:3). (paragraf 2: 4)
Pakar ilmu sastra juga berpendapat bahwa ilmu sastra tidak
mampu mencapai taraf ilmiah karena dalam kenyataannya ilmu sastra
hanya mengimpor dasar-dasar ilmiah dari bidang lain seperti sosiologi,
psikologi tanpa memahami bahwa ilmu sastra dapat ditemukan dalam
sastra. (paragraf 4: 4)
Sastra dinyatakan tidak ilmiah karena kurang konsisten, kurang
percaya diri, sehingga tidak menghasilkan konsep yang jelas. Budi
Darma (1990:338, 343) berpendapat kelemahan sastra sebagai ilmu di
Indonesia disebabkan oleh dominasi studi kebahasaan. (paragraf 7: 5)
Sastra sebagai bidang kajian ilmiah baru dimulai pada abad 19.
“Objek ilmu sastra adalah kehidupan manusia yang sudah
terabstraksikan dalam karya sastra” (Budi Darma, 1990:338).
(paragraf 9,10: 5)
Keilmiahan ilmu sastra tidak eksplisit, tetapi implisit. Oleh
karena itu, ilmu sastra mampu membuktikan diri sebagai kajian ilmiah
yang terdapat unsur fakta/data, inferensi atau simpulan dan
pendapat/judgement. (paragraf 11: 6)
Langsung atau tidak ilmu sastra selalu mengedepankan inkuiri,
masalah serta pembuktian terhadap hipotesis terselubung (Darma,
1990:342). (paragraf 12: 6)
3. Objek Ilmu Sastra
Objek ilmu sastra adalah kehidupan manusia yang sudah
diabstraksikan dalam karya sastra (Budi Darma, 1990:338). (paragraf
1:6)
Karya sastra lahir karena dorongan manusia untuk mengungkap
diri tentang masalah manusia, kemanusiaan, dan semesta (Semi,
1993:1). Karya sastra adalah pengungkapan masalah hidup, filsafat dan
ilmu jiwa. (paragraf 2: 7)
Karya sastra adalah karya seni yang memiliki budi, imajinasi,
dan emosi. Karya sastra adalah hasil ekspresi individual penulisnya.
(paragraf 3,4: 7)
Karya sastra adalah hasil proses kreatif. Karya sastra
memerlukan perenungan, pengendapan ide, langkah tertentu yang
berbeda antara sastrawan yang satu dengan sastrawan yang lain.
(paragraf 5: 7)
Kekhasan karya sastra harus dibedakan atas genre karya sastra,
yaitu puisi, prosa, dan drama. (paragraf 6: 7)
Bahasa dalam karya sastra telah mengalami penyimpangan,
pemutarbalikan dari bahasa praktis sehari-hari. Oleh sebab itu, karya
sastra dipandang sebagai wujud referensi wacana. (paragraf 7: 7)
Karya sastra mempunyai logika tersendiri. Logika karya sastra
mencakup isi dan bentuk karya sastra. (paragraf 8: 8)
Dalam logika biasa tidak mungkin lembaran daun berbunyi
gemerincing seperti lonceng katedral. Tetapi dalam logika puisi
lembaran daun berbunyi gemerincing seperti lonceng katedral justru
logis. (paragraf 9: 8)
Logika dalam karya sastra dinilai dalam kaitannya dengan
penyajian karya sastra. Sebab itu logika dalam karya sastra disebut
logika internal. (paragraf 10: 8)
Karya sastra merupakan dunia rekaan (fiksi). Dalam
kenyataanya, karya sastra bukan hanya berdasarkan khayalan,
melainkan gabungan kenyataan dan khayalan. (paragraf 11: 8)
Sastrawan memperlakukan kenyataan dengan tiga cara yaitu,
manipulasi, artifisial, dan interpretatif. Karya sastra yang bersifat
biografis, otobiografis, historis, dan catatan perjalanan kadar
kenyataannya lebih dominan. (paragraf 12: 9)
Karya sastra mempunyai nilai keindahan tersendiri. Setiap
daerah, golongan, dan waktu menentukannilai keindahan yang
berbeda. (paragraf 13: 9)
Karya sastra adalah sebuah nama yang diberikan masyarakat
kepada hasil karya seni tertentu. Hal ini mengisyaratkan adanya
penerimaan secara mutlak oleh masyarakat sastra. (paragraf 14: 9)
4. Tujuan Ilmu Sastra
1.) Ilmu sastra sebagai sarana pengujian pemahaman ilmiah sastra
2.) Ilmu sastra merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik
asumsi dan metode keilmuan sastra
3.) Ilmu sastra memberikan pendasaran logis terhadap metode
keilmuan sastra
(paragraf 1: 10)
5. Ruang Lingkup Sastra
1.) Esensi ilmu sastra
2.) Teori sastra cabang ilmu sastra sejarah sastra cabang ilmu sastra
3.) Sejarah sastra cabang ilmu sastra
4.) Kritik sastra cabang ilmu sastra
5.) Sastra perbandingan cabang ilmu sastra
6.) Sosiologi sastra cabang ilmu sastra
7.) Psikologi sastra cabang ilmu sastra
8.) Antropologi sastra cabang ilmu sastra
(paragraf 1: 11)

KOMENTAR:
Di dalam buku ini banyak menggunakan istilah asing,sehingga tak jarang
pembaca masih sulit untuk mengerti dan memahami.

Bab 2. TEORI BAB 2


SASTRA TEORI SASTRA CABANG ILMU SASTRA
CABANG 1. Pengertian Teori Sastra
ILMU Dalam Kritik Sastra Sebuah Pengantar teori sastra merupakan suatu
SASTRA penyelidikan yang menghasilkan pengertian-pengertian sastra, prinsip-prinsip
1.Pengertian sastra, latar belakang sastra, jenis-jenis sastra, prinsip-prinsip penilaian sastra
Sastra (1981 : 36). Yudiono (1986 : 27) berpengertian bahwa teori sastra merupakan
2.Sejarah seperangkat pengetahuan atau prinsip-prinsip tentang sastra. Zulfahmar
Teori Sastra (1996/1997 : 5) beranggapan bahwa teori sastra adalah cabang ilmu yang
3.Kedudukan mempelajari asas-asas , hukum-hukum, dan prinsip-prinsip, seperti sifat sastra,
dan Fungsi struktur, dan jenis sastra.
Teori Sastra Pengertian teori sastra lebih luas dikemukakan oleh Pradopo dan Fananie.
4. Ruang Pradopo berpengertian bahwa teori sastra adalah suatu bagian atau cabang dari
Lingkup ilmu sastra. teori sastra bekerja dalam bidang teori misalnya penyelidikan hal
Kajian Teori yang berkembang tentang apa sastra itu.
Sastra Pradopo dalam Kritik Sastra Indonesia Modern pada tahun 2000
mengungkapkan bahwa teori sastra bidang studi sastra yang berhubungan
dengan teori kesusastraan.
Fananie (2000: 17) dalam Telaah Sastra berpengertian bahwa teori sastra
mempelajari aspek-aspek yang meliputi aspek instrinsik dan ekstrinsik sastra.
Teori dasar instrinsik berhubungan dengan bahasa sebagai sistem, konveksi
sastra, kompetensi sastra. Sedangkan teori dasar ekstrinsik berkaitan tentang
aspek-aspek yang melatarbelakangi penciptaan sastra meliputi unsur-unsur
budaya, filsafat, politik, agama, psikologi, dan sebagainya.

2. Sejarah Teori Sastra


Pada 1950-1970 teori sastra belum digunakan secara jelas dalam studi
sastra. slamet Mulyana dan Jassin yang merupakan mahasiswa di fakultas
sastra Universitas Indonesia (UI) membuat kritik sastra dalam skripsi sarjana
mereka dengan mempergunakan teori sastra secara perlahan-lahan. Namun
demikian teori sastra yang mereka gunakan bercampur dengan berbagai
macam teori sastra.
Sesudah pertengahan 1970-an di Indonesia mulai dikenal teori sastra
misalnya teori sastra strukturalisme dan sosiologi sastra.
Pada 1980-an teori sastra baru di Indonesia mulai masuk. Teori ini berasal
dari Barat sehingga pakar sastra Indonesia mulai menciptakan studi sastra.
Teori-teori sastra yang mereka ciptakan tidak mudah diterapkan sebab
metodenya sangat rumit bahkan tidak bersifat tunggal.
Perkembangan teori sastra berkembang sampai saat ini khususnya teori
wacana sastra.
3. Kedudukan dan Fungsi Teori Sastra
Teori sastra merupakan satu bidang studi sastra yang merupakan
penyelidikan tentang segala peristiwa dan seluk beluk kesenian yang berjudul
bahasa (Hardjana 1981: 26). Wallek dan Warren (1989: 5) mengungkapkan
bahwa studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Teori sastra beranjak dari
kehidupan suatu masyarakat sebagai pencerminan karya sastra. teori sastra
tidak lepas dari sejarah sastra suatu bangsa.
Fungsi-fungsi teori sastra adalah sebagai berikut:
1.) Sarana memahami karya sastra dan seluk beluknya
2.) Melakukan telaah sebagai suatu latihan intelektual
3.) Mempermudah telaah sastra secara sistematis sehingga dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah
4.) Menafsirkan dan menjelaskan karya sastra yang didasari pada teori sastra
tertentu
5.) Memberikan inspirasi kepada sastrawan khusus maupun teoritisi sastra

4. Ruang Lingkup Kajian Sastra


Ruang lingkup kajian teori sastra diuraikan agar diperoleh ruang lingkup
teori sastra yang jelas.
Dalam Pengantar Ilmu Sastra, Luxemburg, Mike Ball, William
mengungkapkan bahwa ruang lingkup teori sastra sebagai berikut:
1.) Sifat-sifat dalam teks sastra
2.) Bagaimana teks sastra berfungsi dalam masyarakat (dalam Hartoko,
1984: 2)
Dalam Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, Pradopo (1994: 8) menentukan ruang
lingkup teori sastra sebagai berikut:
1.) Apakah sastra itu
2.) Apakah hakikat sastra
3.) Dasar-dasar sastra
4.) Hal-hal yang berhubungan dengan teori dalam bidang sastra
5.) Jenis-jenis sastra atau genre
6.) Teori penilaian sastra
Dalam Kritik Sastra Indonesia Modern pada 2002, Pradopo juga
menentukan ruang lingkup teori sastra adalah sebagai berikut :
1.) Apakah kesusastraan itu
2.) Bagaimana unsur-unsur atau lapis-lapis normanya
3.) Studi tentang jenis-jenis sastra dan masalah umum yang
berhubungan dengan jenis sastra, kemungkinan dari kriteria untuk
membedakan jenis sastra dan sebagaintya (2002 :34)
Dalam Kritik Sastra Sebuah Pengfantar, Hardjana (1981:26) menentukan
bahwa ruang lingkup teorim sastra adalah sebagai berikut :
1.) Pengertian-pengertian sastra
2.) Hakikat sastra
3.) Prinsip-prinsip sastra
4.) Latar belakang sastra
5.) Jenis-jenis sastra
6.) Susunan dalam karya sastra
7.) Penilaian sastra
Dalam Telaah Sastra, Fananie menentukan bahwa ruang lingkup teori
sastra adalah aspek-aspek dasar teks sastra. Apek-aspek ini meliputi aspek
intrinsik dan aspek ekstrinsik.
Aspek intrinsik antara lain sebagai berikut :
1.) Bahasa sebagai sistem
2.) Konvensi Sastra
3.) Kompetensi Sastra
4.) Konvensi B
Aspek ekstrinsik antara lain sebagai berikut :
1.) Aliran sastra
2.) Unsur-unsur budaya
3.) Filsafat
4.) Politik
5.) Agama
Berdasarkan ruang lingkup teori sastra yang ditentukan di atas dan
sebelumnya bahwa pembagian yang satu dengan yang lainnnya memiliki
persamaan. Oleh karena itu, ruang lingkup kajian teori sastra digabungkan.
Adapun ruang lingkup teori sastra itu adalah sebagai berikut:
1.) Pegertian teori sastra
2.) Sejarah teori sastra
3.) Kedudukan dan fungsi teori sastra
4.) Pengertian sastra dan sastra Indonesia
5.) Hakikat sastra
6.) Bahasa media sastra
7.) Misi sastra
8.) Pembagian bentuk dan jenis sastra
9.) Sastra imajinatif
10.) Sastra nonimajinatif

KOMENTAR:
Materi yang dipaparkan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan
sangat membantu dalam pemahamannya. Khususnya, hal ini akan dirasakan
oleh para pembaca yang baru pertama kali mempelajari materi tersebut.
Bab 3. 20 Bab 3
SEJARAH SEJARAH SATRA CABANG ILMU SASTRA
SASTRA 1. Pengertian Sejarah Sastra
CABANG Sastrawan, kritikus dan akademis sastra telah merumuskan berbagai
ILMU pengertian sejarah sastra. (Paragraf 1 : 20)
SASTRA Faruk dalam Purba (2010 : 20) sejarah sastra adalah rangkaian sastra
1.Pengertian Indonesia modern yang sudah terbit di masa lalu. Zulfahmur Z dalam Purba
Sejarah Sastra (2010 :21 ) mengatakan bahwa sejarah sastra adalah ilmu yang
2.Pengertian memperlihatkan perkembangan karya satra dari waktu ke waktu , para penulis
Sejarah Sastra yang menonjol, karya-karya puncak dalam suatu kurun waktu, ciri-ciri dari
Indonesia setiap kurun waktu perkembangannya, peristiwa yang terjadi di seputar
3. Fungsi dan masalah sastra. ( Paragraf : 20-21)
Tujuan Sarwadi dalam Purba (2010 : 21 ) merumuskan sejarah sastra lebih
Mempelajari sederhana, ia menyatakan bahwa sejarah sastra adalah cabang ilmu sastra yang
Sejarah Sastra berusaha menyelidiki perkembangan sastra sejak dari mulai pertumbuhan
sampai pada perkembangan yang sekarang. (Paragraf 3 : 21 )
4. Ruang Dalam makalahnya yang berjudul “Penggolongan Angkatan dan Angkatan
Lingkup 66” Horison No.6 Tahun II Juni halaman 165-168, Pradopo dalam Purba
Kajian Sejarah (2010 : 21) merumuskan sejarah sastra adalah studi sastra yang membicarakan
Sastra perkembangan sastra sejak lahirnya sampai perkembangannya yang terakhir. (
Paragraf 4 : 21)
Sejarah sastra tak lain dari rangkaian atau gunjaran periode sastra.
(Paragraf 5 : 21)
Sejarah sastra juga membahas tentang angkatan sastra yang tak lain adalah
sekumpulan sastrawan yang hidup dalam kurun masa atau menempati suatu
periode tertentu. (Paragraf 6 : 21)

2. Pengertian Sejarah Sastra Indonesia


Sejarah sastra Indonesia adalah cabang ilmu sastra yang memperkaitkan
perkembangan sastra Indonesia sejak dari lahirnya atau mula pertumbuhannya
sampai sekarang yang didalamnya membahas mulai dari para penulis karya
sastra Indonesia, karya-karya sastra Indonesia, ciri-ciri karya sastra Indonesia,
sampai peristiwa-peristiwa yang terjadi seputar masalah karya satra dan studi
Indonesia dan rangkaian karya sastra modern Indonesia modern yang terbit
pada masa lalu. (Paragraf 1 : 22)

3. Fungsi dan Tujuan Mempelajari Sejarah Sastra


Pada tahun 1985, Todorov mengatakan fungsi sejarah sastra sebagai
berikut.
1. Meneliti keragaman setiap kategori sastra.
2. Meneliti jenis karya sastra baik secara diakronis maupun sinkronis.
3. Menentukan kaidah keragaman peralihan dari satu masa ke masa
berikutnya (Zilfahnur, dkk, 1997/1998: 16). (Paragraf 1 : 23)
Tujuan mempelajari sejarah karya sastra ialah untuk memperoleh
gambaran perkembangan sastra Indonesia dari waktu ke waktu dan
problematika yang muncul dalam perjalanan sastra Indonesia sebagai
bagian sejarah sastra Indonesia. (Paragraf 2 : 23)

4. Ruang Lingkup Kajian Sejarah Sastra


Terdapat beberapa ahli yang berpendapat mengenai ruang lingkup kajian
sejarah sastra, diantaranya adalah Iskandarwassid, ddk, Sarwadi, Zulfahnur,
dkk. Dari pendapat mereka dapat disimpulkan ruang lingkup sejarah sastra
Indonesia sebagai berikut. (Paragraf 1 : 23-25)
1. Pengertian sejarah sastra dan sejarah sastra Indonesia.
2. Fungsi dan tujuan sastra Indonesia.
3. Awal kelahiran sastra Indonesia.
4. Sejarah puisi Indonesia.
5. Sejarah cerita pendek Indonesia.
6. Sejarah novel Indonesia.

KOMENTAR:
Materi yang disajikan pengarang cukup jelas mulai dari memaparkan sejarah
sampai definisi dan bahasa yang dipakai sangat mudah dimengerti.

BAB IV 26 BAB 4
KRITIK KRITIK SASTRA CABANG ILMU SASTRA
SASTRA 1. Pengertian Kritik Sastra
CABANG Istilah “kritik” berasal dari bahasa Yunani “krites”(Wellek)berarti “seorang
ILMU hakim”,krinein berarti “menghakimi”,”kriterion”-“dasar penghakiman”,dan
SASTRA “kritikos”berarti “hakim kesusastraan”. (Paragraf 1:26)
1.Pengertian 26 Kritik sastra merupakan salah satu bidang studi sastra. Bidang studi sastra
Kritik Sastra meliputi tiga bidang studi,yakni teori sastra,sejarah sastra,dan kritik
2.Sejarah 31 sastra(Wellek).(Paragraf 2:26)
Kritik Sastra Teori sastra ialah bidang studi yang membicarakan pengertian-pengertian
3.Peran dan 50 sastra,hakekat sastra,prinsip-prinsip sastra,latar belakang sastra,jenis-jenis
Fungsi Kritik sastra,susunan karya sastra dan prinsip-prinsip penilaian sastra.( Paragraf
Sastra 3:27)
4.Esai dan 56 Sejarah sastra adalah bidang studi sastra yang membicarakan
Kritik Sastra perkembangan sastra sejak awal sampai masa sekarang. Dalam sejarah sastra
5.Ruang 58 orang dapat melihat timbulnya dan tenggelamnya suatu sastra
Lingkup (genre).(Paragraf 4:27)
Kajian Kritik Kritik sastra ialah bidang studi sastra yang membicarakan karya sastra
Sastra secara langsung: menganalisis,menginterpretasi,dan menilai karya sastra.
Sejarah sastra hanya dapat menjalankan tugasnya dengan baik apabila
memperoleh bantuan teori sastra sebab penggolongan-penggolongan kedalam
periode-periode dapat dilakukan pengetahuan tentang teori gaya,wujud,latar
belakang,aliran dan sebagainya.( Paragraf 5: 27)
Pengertian kritik sastra selalu berubah (Wellek). Jadi,di Inggris dan
Amerika “Criticism” (=kritik sastra)sama artinya dengan teori sastra seperti
dalam buku karangan Graham Houghdan buku Northrop Frye. Graham Hough
memasukkan semua bidang studi sastra yang membicarakan tentang
interpretasi,jenis sastra:prosa dan puisi,novel dan sejarah sastra,dan
sebagainya. Menurut Frye kritik sastra kesarjanaan yang berhubungan dengan
kesustraan yang merupakan bagian dari liberal, kebudayaan, atau studi
humanitis. Tetapi menurut Wellek “penggunaan istilah kritik sastra meliputi
teori sastra itu”.(Paragraf 6 :28)
Setelah menguraikan istilah kritik sastra yang artinya meluas maka Wellek
mengemukakan bahwa “teori sastra”tampaknya lebih baik daripada
“poetika”karena meliputi prosa dan puisi berbeda dengan kritik sastra sebagai
studi karya sastra yang konkret dengan tekanan pada penilaiannya.( Paragraf
7:28)
Dalam kesusastraan Indonesia modern ada istilah: ulasan, bahasan,
kupasan, telaah sastra, sorotan, analisis, digunakan kritik sastra. Pengertian
kritik sastra di Indonesia adalah studi sastra yang langsung berhubungan
dengan karya sastra yang konkret.( Paragraf 8 :29)
Jassin mendefinisikan kritik sastra adalah pertimbangan baik atau buruknya
karya sastra,penerangan dan penghakiman karya sastra dan diterapkan oleh
Jassin dalam bukunya ”analisis”dan Kesustraan Indonesia Modern dalam
kritik dan esai.(Paragraf 9:29)
Kritik sastra berarti penghakiman karya sastra yang berarti menetukan baik
atau buruknya karya sastra. Apa yang dikemukakan Jassin sejalan dengan apa
yang dikemukakan oleh Hudson. Istilah kritik adalah penghakiman yang
dilakukan oleh seorang kritikus. Kritikus dipandang sebagai seorang ahli yang
memiliki kepandaian khusus membedah karya sastra dan memeriksa karya
sastra mengenai kebaikan dan kelemahannya. (Paragraf 10:29)
Sastra adalah bidang studi sastra untuk “menghakimi’’karya
sastra,memberi “penilaian’’dan “keputusan’’ mengenai bermutu sastra atau
tidaknya suatu karya sastra diuraikan,diperiksa satu persatu.(Paragraf 11:29)
Menurut Abrams kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan
pendefinisan,penggolongan,penguraian,dan penilaian karya satra.(Paragraf
12:30)
Dalam melakukan kritik terhadap sebuah karya sastra,kritikus menetapkan
pengertian,menggolongkan,menguraikan sebuah karya kedalam unsur-unsur
pembentukannya disertai tafsiran-tafsiran dan menerangkan karya sastra yang
di kritik tersebut. (Paragraf 13:30)

2. Sejarah Kritik Sastra


2.1 Eropa
Kritik sastra memulai sejarahnya di Yunani,dan sudah mencapai puncak
perkembangannya dan mulai menurun.( Paragraf 1:31)
Kritikus sastra Yunani klasik yang mula-mula kita kenal adalah Plato.
Dalam karyanya yang sangan terkenal “republic”,Plato (ahli bahasa, filsafat,
musik, keolahragaan), mengemukakan pandangannya tentang puisi,kritik
sastra dan sistem yang baik untuk membina warga republik.(Paragraf 2:31)
Aeschylus Aristophanes mempertentangkan antara karya sastra yang
bernilai seni. Plato mengemukakan pendapatnya tentang karya sastra yang
baik sebagai berikut: (Paragraf 3:31)
”Setiap karya ssatra yang baik harus mengandung tiga unsur,yakni (1)
memberi ajaran moral yang lebih tinggi, (2) memberi kenikmatan, dan (3)
memberikan ketetapan dalam wujud pengungkapannya”.( Paragraf 4:32)
Kritik sastra di Yunani makin berkembang dengan tampilnya Aristoteles
murid Plato,pandangannya tentang kesusatraan sering bertentangan dengan
gurunya. Pendapat Aristoles dapat kita baca daalam “poetica”. Teori-teori
yang dikemukakan dalam poetica ini sangat berpengaruh sampai abad ke-
20.(Paragraf 5: 32)
Menurut Aristoteles,fungsi utama puisi ialah memberi kesenangan atau
kenikmatan. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat umum pada masa
itu.(Paragraf 6:32)
Setelah 600 tahun wafatnya Aristoteles,lahir kritikus terkenal yang
bernama Dionysius Cassius Longinus dengan karya kritik sastranya berjudul
“tentang keagungan”. Buku ini sangat terkenal dan berisi pedoman retorika.
Selanjutnya Longinus menjelaskan ke-sublim-an yang sejati sebagai berikut:
(Paragraf 7:32)
“Suatu karya sastra yangbenar-benar agung adalah karya sastra yang
memberikan santapan renungan,yang menarik tanpa kemauan kita,yang
meninggalkan kesan yang tak terhapuskan dari sanubari kita. Karya sastra
yang indah ialah karya yang menyenangkan manusia. Hal ini adalah jaminan
yang terbaik karya sastra”.(Paragraf 8:33)
D.C.Longinus adalah kritikus yang termasyur. Ia dianggap pelopor kritik
gaya dan perintis lahirnya suatu ilmu yang kemudian dengan nama “Estetika”.
(Paragraf 9:33)
Selanjutnya kritikus yang paling terkenal adalah Quintus Horatius Placus.
Menurut Horatius,penyair adalah pengajar. Oleh karena itu penyair harus
memberi pengajaran melalui puisinya. (Paragraf 10:33)
Pada abad pertengahan lahir sebuah epos termasyur “Divina
Commedia”,hasil karya Dante Alighieri yang terkenal sebagai pelopor
pengguna bahasa daerah menyerukan agar penyair menulis dalam bahasa
daerah. Kemudian lahirlah karangannya yang berjudul ”Tentang Bahasa
Daerah”. (Paragraf 11:34)
Pada zaman Renaissance para kritikus sastra memandang pusis dari segi
estetika,bukan dari segi moral. Meskipun pada zaman ini timbul beranek
aragam pendirian,tetapi memiliki satu kecenderungan yang sama,yakni
“berusaha menilai sastra dengan akal budi dan kecintaan akan keindahan”.
(Paragraf 12:34)
Pada sastra klasik,kritik sastra bersifat memberi penerangan dan
penghakiman,sedang zaman Renaissance kritik sastra bersifat memberi
pengajaran asas tertentu. (Paragraf 13:34)
Pada zaman ini terbit buku kritik yang lengkap berjudul “Criticus”hasil
karya Julius Caesar Scalinger. Dalam poetica, Scalinger meneliti dan
membandingkan antara pujangga-pujangga Yunani dan Latin dengan titik
berat pada usaha pertimbangan. Berkat usahanya Scalinger mendapat gelar
kritikus besar dikalangan para sastrawan Prancis. (Paragraf 14:34)
Penyair dan kritikus sastra yang terkenal pada abad ke-17 di Prancis adalah
Boileau. Bukunya yang berjudul L’Art Poetique menjadi sumber terbitnya
Karya Pope (Penyair Inggris)yang berjudul “Essay on Criticism”. (Paragraf
15:35)
Di Inggris pada abad -17 “Bapak prosa Inggris”dan “Bapak Kritik Sastra
Inggris”ialah dramawan,penyair,kritikus, sastra John Dryden. Karya Dryden
yang terkenal ialah (1)”Esai tentang Puisi Dramatik” berbentuk percakapan
antara 4 tokoh tentang puisi dramatic.(2)The Preface to the Fables memuat
pendapat-pendapat Dryden tentang tokoh-tokoh sastra dunia. (Paragraf
16:35)
Kritik sastra tumbuh dan berkembang menjadi satu tradisi yang kokoh.
Kritikus terkenal di Prancis pada masa ini Voltaire yang berpendapat “sajak
adalah musik jiwa penyairnya”dan “puisi harus mempunyai kejelasan dan
kemurnian seperti yang terdapat dalam prosa; sajak yang tak dapat
mengatakan sesuatu dengan lebih cepat dan baik dari prosa, adalah sajak yang
jelek” (Liaw Yock Fang). (Paragraf 17:35)
Pada abad 18 di Inggris kritik sastra berkembang pesat. Tokoh terpenting
adalah Samuel Johnson,ia berpendapat bahwa sastra harus memberi pelajaran
yang berfaedah bagi pembacanya. Ia mengatakan bila suatu karya sastra akan
diteliti,harus dibandingkan dengan keadaan zaman dan masyarakat tempat
pengarang itu hidup. (Paragraf 18:35)
Kritik sastra berkembang sejajar dengan tumbuhnya aliran Romantisme.
Penyair juga kritikus yang beraliran romantisme di Inggris yang terkenal
adalah (1)William words,(2)Samuel Tylor Colaridge. Wordswoth
mencetuskan gagasan yang revolusioner,yakni memilih tema bagi sajak-
sajaknya dan diungkapkan dalam bahasa sehari-hari. (Paragraf 19:36)
Karya sastra Wordswoth berwujud kumpulan sajak. Samuel Tylor
Coloridge menyokong gagasan-gagasan Wordswoth. Tetapi tidak semua
pandangan Wordswoth disetujui,melainkan Ia mendefinisikan sajak sebagai
berikut: (Paragraf 20:36)
“Sajak ialah sejenis karangan yang berlawanan dengan karya sains. Sajak
bertujuan memberi kesenangan secara langsung”. (Paragraf 21:36)
Geothe adalah orang pertama yang menggunakan istilah “Sastra dunia”. Ia
berpendapat bahwa sastra kebangsaan tidak ada artinya. Kata Gothe:
“Kesusastraan yang tidak diperkaya oles sastra asing adalah sastra yang mati”.
(Paragraf 22:37)
Pada abad ke-20 kritik sastravterus berkembang. Berbagai aliran
kesusastraan bermunculan dan jenis-jenis kritik sastra lahir. (Paragraf 23:37)
a. Kritik Sastra Ilmiah
Kritik Sastra Ilmiah ialah kritik sastra yang dilahirkan oleh para sarjana
atau guru besar di Universitas dan berkembang pesat pada abad 19 ini
terutama di Universitas-universitas Inggris. (Paragraf 1:37)

Kritik sastra karya Caroline Spurgeon,guru besar bahasa Inggris di London


university,membahas karya-karya Shakespeare berjudul “Image Shakespeare”.
Melalui karya-karyanya Caroline berusaha menerka pribadi Shakespeare lewat
image-image yang digunakannya. (Paragraf 2:37).

Johan Living Stone Lowes dari Harvard University menganalisis image


dalam karya-karya Coleridge. Judul kritiknya “Jalan ke Xanadu,Studi tentang
imajinasi”. (Paragraf 3:38)

b. Kritik Sastra dalam Tinjauan Psikologis

Kritik sastra yang berdasarkan tinjauan psikologis muncul,berkembang dan


berpengarus besar dalam abad ini. (Paragraf 1:38)
Kritikus-kritikus yang secara sadar atau tidak sadar menggunakan ilmu
psikologi ialah,Aristoteles,Longinus,Coloridge. (Paragraf 2:38)
Tokoh kritikus sastra yang terkenal dalam ilmu psikologi dalam ialah
Sigmund Freud, karyanya yang berjudul “Tafsir mimpi”membicarakan
tentang kritik sastra yang beraliran “psychoanalysis’’. (Paragraf 3:38)
Kritikus sastra yang beraliran psikologi dan sangat berpengaruh hingga
sekarang ialah:
1) Ernest Jone,seorang sarjana Amerika
2) Robert Graves,penyair Inggris
3) T.S.Eliot,penyair agung Inggris
4) I.A. Richard,seorang sarjana kritikus sastra Inggris.(Paragraf 4:39)
“Principles of Literary Criticism” menguraikan tentang sifat-sifat
puisi,tentang imajinasi dan tentang analisis puisi. Richard berpendapat:
(Paragraf 5:40)
“Sebuah puisi suatu berpengalaman yang terbatas,yang rapuh jika
dicampuri unsur lain dan bersifat komunikatif”.(Paragraf 6:40).
“Kritik sastra bertujuan membeda-bedakan pengalaman serta memberi
penilaian.(Paragraf 7:40)
“Pratical Criticism”bertujuan mempelajari bagaimana seorang pembaca
membaca puisi. Richard berkesimpulan bahwa “unsur-unsur puisi ialah (1)
arti, (2) perasaan, (3) nada dan (4) maksud. Richard menjelaskan bahwa dalam
membaca puisi,kita harus bertanya ‘’apa yang hendak dikemukakan penyair”
karena seorang penyair belum tentu berhasil mengemukakan apa yang
terkandung dalam hatinya. (Paragraf:41)
Perkembangan kritik sastra terlihat di Amerika yang menyebut dirinya
“kritik baru”. Tokoh-tokohnya antara lain David Daiches,Jozeph
T.Shipley,John Crowe Ransom. Mereka berpendapat bahwa untuk menikmati
karya,kita harus membaca karya sastra.

2.2 Di Indonesia

Kritik sastra di Indonesia dikenal setelah budayan dan sastrawan


mengenyam pendidikan Barat. Sebelumnya penilaian karya sastra dalam
hubungan kepercayaan,agama dan mistik. Pendidikan Barat membuka mata
para sastrawan dan budayawan umumnya,bahwa sastra tidak sepenuhnya
ditautkan dengan dunia keagamaan. Hal ini menimbulkan minat dalam
membaca dan mempelajari permasalahan esai dan kritik yang berkembang
pesat di negara-negara lain.(Paragraf 1:41)

Pada mulanya istilah kritik kurang disukai dan dihindari karena “tajam
sekali bunyi perkataan itu” dan dipandang selalu
“merusakkan”,”mematikan”.(Paragraf 2:42)

Meskipun sastrawan Indonesia belum menerima istilah kritik sastra,mereka


memiliki pengertian yang cukup mendalam tentang kritik sastra. Karangan-
karangan tentang persoalan-persoalan dimuat dalam Majalah Pujangga Baru
merupakan bukti mereka memang mengerti dan menyadari pentingnya kritik
sastra. Karangan-karangan Sultan Takbir Alisyahbana dan Armyn Pane
tentang sastra lama dan baru. (Paragraf 3:42)

Kedudukan istilah kritik sastra dan pengertiannya kokoh terutama setelah


Jassin menerbitkan karangan-karangannya (pidato radio) mengenai
kesusastraan yang diberi judul “Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik
dan Esai”, yang kemudian dikembangkan menjadi 4 jilid dengan judul
“Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai”. (Paragraf 4:43)

Buku kritik sastra yang lain yang patut disebut adalah Pokok dan Tokoh
karya Teeuw, yang banyak menaruh minat terhadap kesusastraan Indonesia.
Setelah itu muncullah kritik-kritik sastra yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh
lebih muda. Dari karangan sastrawan bermunculan karya-karya kritik sastra.
Sedangkan tulisan-tulisan tentang kritik sastra tidak terbatas pada beberapa
buku kritik dan esai, meluas pada pemanfaatan massa media. Majalah sastra
dan budaya yang memuat kritik sastra adalah Mimbar Indonesia, Siasat
Indonesia, Budaya, Horison sedangkan surat kabar, seperti Sinar Harapan,
Kompas, Indonesia Raya dan Merdeka. (Paragraf 5:43)

Dalam sejarah kritik sastra pernah tumbuh beberapa perbincangan tentang


berbagai masalah antara lain:

 Masalah seni untuk seni atau seni untuk masyarakat.


 Masalah orientasi kebarat atau ketimur, yang dimulai oleh kelompok
pujangga baru.
 Masalah keuniversalan atau kenasionalan pernah pula menjadi topik
perbincangan disekitar lima puluhan. (Paragraf 6:44)
1. Perbincangan antara satu generasi angkatan dengan angkatan sebelumnya,
misalnya, antra Chairil Anwar dengan Asrul Sani dengan tokoh-tokoh
Angkatan Pujangga Baru.
2. Perdebatan tentang ada atau tidaknya suatu angkatan setelah Angkatan 54,
terutama setelah Jassin memproklamasikan lahirnya “Angkatan 66”.
3. Perdebatan tentang ada atau tidaknya “Krisis dalam kesusastraan
Indonesia, yang pernah tejadi pada lima pulihan
4. Perdebatan mengenai metode kritik, khususnya tentang kritik Analitik
versus Ganzheit pada penghujung enam puluhan.
5. Tulisan-tulisan tentang kritik sastra dapat kita jumpai dalam berbagai susrat
kabar di dalam majalah sastra, seperti Horison. Kalaupun tampak sedikit
kelesuan tentang kelahiran buku-buku kritik sastra, harus diakui bahwa
kegiayan penciptaan sastra dan minat baca sastra di kalangan masyarakat
tampaknya menunjukkan tendensi meningkat tentang perdebatan sastra yang
berkembang sekarang kelihatannya tidak memiliki “api” sebagaimana yang
kita kenal dahulu, Muhammad (1980) dalam bukunya Seks, Sastra Kita,
mengajukan pertanyaan ini, kemudian dijawabnya sendiri. Mungkin saja
keadaan tersebut timbul karena para pengunjung tidak melihat gunanya untuk
berdebat tentang pendirian-pendirian yang sifatnya kritik, dan mereka
langsung terjun dalam praktik penciptaan. Pendeknya keadaan kesusastraan
Indonesia hari ini tampak sehat saja.
Sesuatu yang kita idamkan tentulah kemajuan pertumbuhan penciptaan
sastra selalu seiring sejalan dengan pertumbuhan dan kmajuan kriti sastra,
karena keduanya saling memerlukan.
Kekurangan pertumbuhan teori sastra dapat disebabkan karena daya beli
masyarakat terhapad karya sastra dan buku-buku kritik sastra yang sangat
rendah, biaya penerbitan yang terlalu tinggi atau mungkin wibawa kritikus
sastra yang hilangdirenggut olrh kekuatan-kekuatan politik atau organisasi
massa yang ingin menghukum suatu karya sastra dengan ukuran yang dicari
dan dibuat bedasarkan kemauan politik tertentu.
Salah seorang pengamat sastra Indonesia yang terkemuka, Teeeuw, dalam
kertas kerjanya pada penataran sastra tahap I, mengemukakan pendapatnya
tentang situasi dan masalah perkembangan teori dan kritik sastra Indonesia
yang kurang memuaskan yang disebabkan oleh faktor :
1. Kurangnya majalah sastra.
2. Kritik sastra sebagai kritik kewartawanan, yaitu kritik melalui surat kabar.
3. Kekurangan pendidikan sastra.
4. Anggapan yang tersebar luas seakan-akan sastra hanya permainan
5. Kekurangan kebiasaan membaca dan penilaian rendah terhadap buku dan
majalah sastra.
6. Kekuragan terjemahan karya sastra yang bermutu tinggi ke dalam bahasa
Indonesia
7. Kekurangan kemampuan bahasa asing (Ingris) dan kesukaran membeli
buku sastra yang penting dalam bahasa Inggris.
Ketidakpuasan terhadap kritik sastra memang sering di lontarkan banyak
orang, tetapii hal itu merupakan bagian dari suatu keinginan untuk melihat dan
mendapatkan masa depan sastra, teori, dan kritik yang lebih baik dari
sekarang. Rasa tidak puas dan perbedaan pendapat tentang kritik sastra
Indonesia dengan sendirinya bermanfaat besar dalam menciptakan momentum
kreatif yang diharapkan secara berangsur-angsur menumbuhkan minat banyak
orang yng untuk berbuat lebih banyak dan baik pada masa datang yang
singkat.
Bahwa kritik kewartawanan atau kritik jurnalistik menampakkan
perkembangannya yang menggembirakan. Sementara kritik akademik
menunjukkan kelesuan, yang bila akan dibenarkan atau dibantah, tentu
memerlukan penelaahan dan data yang memadai.
Kritik akademik dilakukan dengan mengikuti metode tertentu oleh para
akademis (sarjana atau calon sarjana) yang biasanya cenderung melakukan
kritik sastra dengan metode “closereading” dan pendekatan filologi. Kritik
jurnalistik adalah kritik yang dilakukan melaui mass media, yang memiliki
halaman yang terbatas. Oleh sebab itu cenderung disesuaikan dengan
masyarakat umum, sehingga pembicaraan selayang pandang tentang aspek
tertentu.
Kritik akademik kesusatraan Indonesia dilakukan secara serius dalam tahun
lima puluhan dengan terbitnya buku Teeuw: Pokok dan Tokoh, kemudian
karya Jassin: Kesusstraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai. Kedua
tokoh ini amat berjasadalam mengembangkan tradisi kritik akademik di
Indonesia. Pengembangan lebih lanjut terjadi dengan bantuan dan dorongan
Jassin, yang diterbitkannya beberapa skripsi yang ditulis oleh para calon
sarjana atau sarjana muda dari Universitas Indonesia.
Kecenderungan kalangan sarjana sastra untuk menggunakan pendekatan
struktural itu secara eksplisit terungkap dalam dalam suatu pertemuan atau
diskusi yang diselenggarakan di Gedung Balai Budaya, Jakarta, pada 31
Oktober 1968. Metode analitik ini kemudian lebih populer dengan nama
Aliran Rawamangun; tokoh-tokohnya antara lain M.Saleh Saad, Lukman Ali,
S. Effenfi, M.S. Hutagalung. Aliran ini mendapat tantangan dari Gunawan
Muhammad dan Arief Budiman, mereka beranggapan bahwa kritik sastra
analitik cenderung untuk “memperkosa” hakikat sastra, dan mereka
mengetenngahkan metode Ganzheit dalam kritik seni. Metode ini cenderung
menggunakan pendekatan reseptif yang lebih menekankan kesan pada yang
diterima secara totalitas.
Meskipun pengkajian akademik kesusastraan di Indonesia telah
memberikan sumbangan yang besar kepada berbagai masalah kesusastraan di
Indonesia, pada dasarnya pengkajian akademik yang ada itu masih berada
pada tahap awal, yang memerlukan pengembangan lebih lanjut. Tentang
metode sastra tidak perlu dipersoalkan apakah kritik Aliran Rawamanngun
atau kritik Ganzheit yang benar, yang penting mutu kritik sastra harus
ditingkatkan, sebagaimana juga pendekatannya.
3. Peran dan Fungsi Kritik Sastra
Tugas seorang kritikus juga menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan
sebuah karya sastra iu baik atau buruk.
Kehadiran sebuah karya sastra akan mengait beberapa pihak. Pencipta,
yang menghadirkan karya sastra, penikmat (pembaca) yang langsung
menggunakan karya sastra itu dan penelaah karya sastra (krtikus) yang
berusaha mengembangkan ilmu sastra saling berhubungan erat dan saling
memberi dorongan. Tetapi adakalanya terjadi jurang pemisah antara karya
sastra yang sudah diciptakan dengan pembacanya (penikmat).
Sebuah karya sastra yang telah diciptakan pengarang belum tentu langsung
dapat dnikmati oleh pembaca, dikarenakan bermacam-macam sebab, antara
lain:
1. Pembaca kurang siap membaca karya sastra, kurang pengetahuan dan
kurang peka akan estetika.
2. Karya sastra yang dibaca tidak memenuhi syarat sebagai karya sastra yang
baik .
3. Bahasa pengarang kadang menghambat pemahaman karya pembaca
Dalam keadaan seperti di atas ada jurang pemisah antara pencipta dan
penikmat (karya sastra yang tidak dapat dipahami atau dinikmati pembaca).
Kritikus bertindal sebagai guru atau juru penerang, agar pembaca memahami
maksud pengarang, dengan jalan menunjukkan kelebihan dan kekurangan
sebuah karya sastra.
Tugas utama para kritikus menjelaskan apa yang hendak diekspresikan
oleh pengarang. Memang kritik sastra berfungsi dan bertugas membimbing
serta mempertinggi dalam kritik masyarakat (penikmat) akan karya-karya
yang dibacanya.
Kritik sastra juga berperan sebagai peningkat apresiasi sastra di tengah
masyarakat. Dengan analisis dan tafsirannya terhadap sebuah karya sastra,
pembaca memperoleh petunjuk mencintai dan menghargai karya sastra
sebagaimana mestinya.
Tugas utama kritik sastra menentukan penilaian, dan menentukan karya
sastra yang bernilai dan yang tidak bernilai. Peran ini sekaligus menunjuk
fungsi kritik sastra, yakni sebagai pemberi bahan-bahan berharga bagi
penyusunan sejarah sastra dan teori sastra.
Fungsi kritik sastra sebagai alat penilai, mempunyai akibat-akibat lebih
jauh bagi perkembangan hidup seni sastra. Kritik sastra juga merupakan
petunjuk bagi pengarang muda yang ingin mengembangkan bakatnya.
Kritik sastra sangat penting bagi para pengarang. Dengan kritik sastra, para
pengarang menyadari kelebihan dan kekurangan karyanya. Pada umumnya
pengarang tidak dapat menilai karyanya secara objektif.
Kritik sastra yang baik dapat menunjukkan daerah-daerah baru yang belum
pernah dibicarakakn dalam seni sastra. Kritikus sastra bertindak sebagai
pelatih, sehingga nilai dan kualitas karya pengarang meningkat.
Ada dua hal yang dapat dilakukan oleh kritikus sastra yaitu, pertama
menjelaskan dan menafsirkan katya sastra, dan kedua memberikan penilaian
terhadap karya sastra tersebut. Seorang kritikus juga memerlukan kecakapan
atau keterampilan mengungkapkan kekmbali pengalaman estetik dari karya
sastra yang sedang dibicarakannya. Kritik meupakan pengungkapan kembali
hasil sebuah karya sastra. Dalam menjalan kan tugasnya, kritikus mengamati
dengan teliti, membandingkan dengan tepat, mempertimbangkan dengan adil
baik buruknya kualitas, nilai, dan kebenaran suatu karya sastra.
Nilai sebuah karya sastra juga sering menimbulkan pro dan kontra terhadap
pengarang. Kehadiran bentuk baru mengundang berbagai reaksi dan sering
menimbulkan polemik, contohnya Novel Belenggu pertama kali terbit
menimbulkan kecaman. Demikian juga dengan puisi-puisi Chairil Anwar,
walaupun akhir disanjung sebagai karya yang bermutu dan dianggap sebagai
pembawa pembaharuan. Kecaman ini juga dilontarkan kepada puisi-puisi
Sutardji, novel Iwan Simatupang, karya Rendra, Putu Wijaya, drama Arifin
C.Noor.
Dari uraian di atas ternyata sebuah karya sastra yang belum sepenuhnya
dimengerti atau sulit diapahami menimbulkan problem. Hal ini timbul karena
idiom yang digunakan berbeda dengan yang sudah ada, realitas yang
diungkapkan juga berbeda.
Seperti juga karya seni lainnya, karya sastra lahir bukan hanya dimengerti,
melainkan untuk dinikmati. Peminat sastra yang baik berusaha
mengungkapkan segala sesuatu yang terselubung dari karya sastra yang
dibacanya. Hasil pengungkapan itu berupa jawaban yang menyangkut makna,
nilai, hakikat dari karya sastra. Jawaban itu tidak hanya untuk dirinya, tetapi
juga untuk pembaca lainnya.
Seorang kritikus sastra yang baik tidak hanya terpukau terhadap apa yang
sedang dinikmati atau dihayatinya, tetapi dengan kemampuan rasional, berkat
pengalamannya ia mampu membuat penafsiran-penafsiran sehingga karya
sastra itu datang secara utuh.
Sumbangan pikiran dan analisis yang baik akan menumbuhkan minat
pembaca untuk menikmati karya sastra. Kritik sastra berperan sebagai
jembatan penghubung antara karya sastra dan penikmat sastra.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kritik sastra berfungsi
sebagai :
1. Membina dan mengembangkan sastra.
Melalui kritik sastra, kritikus berusaha menunjukkan struktur sebuah
karya sastra, memberikan penilaian, menunjukkan kekuatan dan
kelemahannya serta memberikan alternatif untuk pengembangan karya sastra
tersebut.
2. Membina apresiasi sastra
Para kritikus berusaha membantu para peminat karya sastra memahami
sebuah karya sastra. Analisis struktur sastra, komentar, dan interpretasi,
menjelaskan unsur-unsurnya , serta menunjukkan unsur-unsur yang tersirat
dan tersurat, akan meningkatkan apresiasi sastra.
3. Menjunjung ilmu sastra
Kritik sastra merupakan wadah analisis karya sastra., analisis struktur
cerita, gaya bahasa, dan teknik penceritaan. Para pengarang pun dapat belajar
melalui kritik sastra dalam memperluas pandangannya, sehingga ciptaannya
lebih berkembang.
Selain itu kritik sastra memberikan sumbangan kepada sejarah sastra.
Apabila tidak menunjukkan nilai sastra, maka karya tersebut tidak dapat
digolongkan ke dalam rangkaian perkembangan karya sastra.
Kritik sastra berfungsi apabila:
1.) Berupaya membangun dan meningkatkan sastra.
2.) Melakukan kritik secara objektif.
3.) Mampu memperbaiki cara berpikir, cara hidup, dan cara bekerja para
sastrawan.
4.) Dapat menyesuaikan diri dengan ruang lingkup kebudayaan dan tata
nilai yang berlaku.
5.) Dapat membimbing pembaca berpikir kritis dan dapat meningkatkan
apresiasi sastra masyarakat.
4. Esai dan Kritik Sastra
Pada umumnya orang beranggapan esai itu kritik sastra juga. Sehingga
mereka sulit untuk membedakan antara kritik dan esai. Dalam buku Tifa
Penyair dan Daerhanya, Jassin menyatakan esai bermula darioikiran yang
kritis dan sikap jiwa yang kritis. Esai membicarakan bemacam ragam, tidak
tersusun secara teratur tetapi seperti diperlihat keinginan, sikap terhadap soal
yang dibicarakan, kadang-kadang terhadap kehidupan seluruhnya (Jassin,
1983).
Arief Budiman berpendapat esai adalah karangan yang sedang penjangnya
yang membahas persoalan secara mudah dan sepintas lalu dalam bentuk prosa.
Dalam esai yang utama bukanlah pokok persoalan, tetapi cara pengarang
mengemukakan pokok persoalan. Esai tidak memecahkan persoalan tetapi
melukiskan persoalan.
Dalam buku Peristiwa Sastra Indonesia, Soetarno menyatakan, esai adalah
karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian
untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengekukakan pendiriannya, pikiran,
cita-cita atau sikap tehadap soal yang disajikan. Sedangkan Sujana
berpendapat bahwa esai merupakan kupasan tentang suatu ciptaan, tentang
sesatu soal, masalah, pendapat, ideologi dengan panjang lebar.
Setelah dipelajari secara mendalam tentang kritik dan esai, maka dapat
dilihat perbedaan antara esai dan kritik. Kritik merupakan penilaian terhadap
sebuah karya sastra melalui suatu proses dengan menggunakan kriteria
tertentu, sehingga dapat mengungkapkan kelemahan-kelemahan serta
kelebihan-kelebihan dari sebuah karya sastra dengan mengemukakan alasan-
alasannya dan mengusulkan pebaikan-perbaikannya. Sedangkan esai hanya
mengemukakan masalah atau persoalan kepada khayalak ramai, dan
bagaimana penyelesaian masalah tersebut terserah para pembaca.
5. Ruang Lingkup Kajian Kritik Sastra
1. Pengertian kritik sastra
2. Pengertian kritik sastra Indonesia
3. Sejarah kritik sastra Indonesia
4. Peran dan fungsi kritik sastra
5. Macam-macam kritik sastra
6. Metode kritik sastra
7. Penulisan kritik sastra
8. Penilaian kritik sastra

KOMENTAR:
Bahasa yang digunakan pengarang sangat mudah dimengerti pembaca.
Pengarang juga memberikan beberapa pengertian sastra secara lebih rinci dan
disertai dengan pendapat para ahli sehingga lebih terpercaya.
BAB V 59 BAB 5
SASTRA SASTRA PERBANDINGAN CABANG ILMU SASTRA
PERBANDIN 1. Pengertian Sastra Perbandingan
GAN Sastra Perbandingan telah didefinisikan oleh pakar sastra dalam kamus dan
CABANG buku.Diuraikan pengertian sastra perbandingan secara sederhana dan secara
ILMU luas.(paragraf 1:59)
SASTRA Sastra perbandingan bersinonim dengan comparative literature dalam
1.Pengertian 59 bahasa Inggris,literature comparative bahasa Perancis.Dalam Kamus Besar
Sastra Bahasa Indonesia,Depdikbud (1998:786),sastra perbandingan telaah dan
Perbandingan analisis terhadap kemiripan dan pertalian antara karya sastra berbagai
2.Sejarah 65 bangsa.Dalam Kamus Istilah Sastra,Sudjiman berpengertian sastra bandingan
Sastra membandingkan sastra sebuah Negara dengan sastra Negara lain
Perbandingan membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan
3.Tujuan 72 kehidupan.(paragraf 2:60)
Sastra Dalam Kamus Istilah Sastra,Zaidan,dkk berpengertian sastra bandingan
Perbandingan telaah atau analisis terhadap kesamaan dan pertalian karya sastra berbagai
4.Ruang 73 bahasa dan bangsa.Dalam Leksikon Sastra,Yusuf,penerbit Masdar Maju
Lingkup berpengertian bahwa sastra perbandingan studi terhadap berbagai karya sastra
Kajian Sastra dunia dengan cara membandingkannya sehingga diperoleh persamaan atau
Perbandingan perbedaan dalam penokohan alur cerita,isi pesannya.(paragraf 3 :60)
Dalam Kesustraan Malaysia Modern, Pustaka Jaya, Maman S. Mahayana
berpengertian bahwa membandingkan dua karya sastra atau lebih dari dua
negara yang berbeda dalam studi sastra termasuk wilayah sastra
perbandingan,syarat karya sastra yang akan dibandingkan setidaknya
mempunyai tiga perbedaan yang menyangkut perbedaan bahasa wilayah dan
politik.Dari perbedaan tersebut dapat perbedaan latar belakang social
budaya(lokasi,tradisi,dan pengarah) yang melingkari diri masing-masing
pengarang akan tercermin dalam karyanya.(paragraf 4:60)
Dalam Teori Kesustraan,Wellek dan Warren,Gramedia,berpengertian
bahwa sastra perbandingan sebagai berikut: Pertama,Sastra perbandingan
kegiatan mempelajari lisan terutama cerita rakyat dan penyebarannya
menelusuri waktu penulisan sastra lisan menjadi karya yang artistic.
Menyangkut wilayah folklore yaitu suatu cabang pengetahuan yang lebih
memperhatikan keseluruhan keduanya “folk” seperti kostum adat istiadat,
kepercayaan, kesenian dan peralatannya.(paragraf 5:61)
Kedua,sastra perbandingan kegiatan sastra yang menghubungkan dua
kesustraan atau lebih,dipelopori oleh sekelompok ilmuwan Prancis yang
disebut comparatistes.Kegiatan telaah sastra perbandingan mengangkat
pengaruh sumber ilham,reputasi,dan ketenaran pengarang tertentu di berbagai
wilayah kesustraan misalnya telaah sastra barat,dibandingkan ketenaran
Goethe dalam kesustraan Prancis dan Goethe dalam kesustraan
Inggris.Demikian juga ketenaran Shakespears dalam kesustraan di Prancis dan
Shakespears dalam kesustraan di inggris serta pengaruh mereka terhadap
pengarang lainnya.(paragraf 6:61)
Ketiga,sastra perbandingan kegiatan membicarakan sastra secara
menyeluruh dengan membicarakan sastra dunia,sastra universal atau umum
dan mempelajari sastra kelima benua dalam setiap Negara akan menampilkan
peranan yang sangat penting dalam pentas dunia. (paragraf 7:61)
Dalam Sastra Bandingan, Ruang Lingkup dan Metode, Kasim berpengertian
bahwa sastra bandingan sebagai suatu kajian yang mencakup perbandingan
karya sastra dari sastra nasional yang berbeda, hubungan antara karya-karya
sastra dengan ilmu pengetahuan, agama, kepercayaan dan karya-karya seni
serta pembicaraan mengenai teori, sejarah dan kritik sastra.(paragraf 8 :61)
Dalam Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia
Modern,Yayasan Obor Indonesia,Seri Antologi Sastra berpengertian bahwa
sastra perbandingan suatu kegiatan perbandingan dua karya atau lebih dari dua
Negara yang berbeda dan dilakukan secara sistematis.(paragraf 9:62)
Dalam sastra Perbandingan Kaidah dan Perspektif,Dewan Bahasa dan
Pustaka,Kuala Lumpur diedit oleh Newton dan Hars Frent memuat makalah
Henry H.H.Remak,Sastra Bandingan,Takrif dan Fungsi.Remak berpengertian
bahwa sastra perbandingan kajian sastra di luar batas sebuah Negara dan
kajian tentang hubungan sastra dengan bidang ilmu,kepecayaan lain,seni
falsafah,sejarah,sains,social (politik, ekonomi, sosiologi), agama.Sastra
perbandingan membandingkan dengan sastra negara lain dan bidang lain
sebagai keseluruhan ungkapan kehidupan. (paragraf 10:62)
Dalam Penghantar Ilmu Sastra,Gramedia,Luxemberg,Mieke,dan William
diterjemahkan oleh Hartoko berpengertian bahwa sastra perbandingan meneliti
sastra dalam kerangka supranasional,sastra perbandingan yang mempelajari
gejala-gejala sastra konkret yang berkaitan pada gejala-gejala atau
fenomena.(paragraf 11:62)
Helma berpengertian bahwa sastra bandingan,studi sastra yang memiliki
perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan mengetahui dan
menganalisis hubungan,pengaruh antara karya yang satu dengan karya yang
lain.(paragraf 12:62)
Dalam Kamus Websters,sastra bandingan telaah timbal balik karya sastra
dari dua benua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan
bahasanya,dan terutama berpengaruh pada karya sastra yang satu terhadap
karya sastra lain.(paragraf 13:63)
Berdasarkan kutipan pengertian sastra perbandingan dari beberapa kamus
dan buku dapat disimpulkan sebagai berikut :
1)Sastra Perbandingan kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih
dari dua,lebih suatu bangsa dan Negara.
2) Sastra Perbandingan kegiatan membandingkan sastra lisan dengan sastra
lisan atau sastra tulis dengan sastra tulis dari berbagai bangsa di lima benua.
3) Sastra Perbandingan kegiatan membandingkan sastra dunia.
4) Sastra Perbandingan kegiatan sastra yang menelaah hubungan sastra dengan
bidang ilmu lainnya.
5) Sastra Perbandingan kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih
dari dua Negara yang saling memengaruhi.(paragraf 14:63)
Terdapat dua istilah dari pengertian sastra perbandingan,yaitu sastra dunia,
sastra nasional. Sastra dunia adalah sastra yang menjadi milik berbagai bangsa
di dunia dank arena penyilangan gagasan yang timbal balik,memperkaya
kehidupan manusia.(paragraf 15:63)
Pengertian lain sastra dunia adalah world literature,karya yang mempunyai
sifat-sifat,pemikiran,gagasan dan pesan-pesan yang universal dan dapat
diterima oleh semua bangsa di dunia.Karya sastra yang telah menjadi milik
dunia dan memperkaya kehidupan bangsa-bangsa di dunia.(paragraf 16:64)
Pengertian sastra nasional secara umum hasil karya sastra suatu
bangsa.Sastra nasional ditulis dalam bahasa nasional dan bertema
universal,didasarkan politik.Batas politik dijadikan garis batas suatu
kesustraan,misalnya sastra Inggris dan sastra Amerika Serikat.Keduanya
dianggap sebagai dua kesatuan sastra yang terpisah sama seperti sastra
Indonesia dan sastra Malaysia.(paragraf 17 :64)
Peran sastra dunia dan sastra nasional tidak dapat diabaikan dalam sastra
perbandingan.Sastra nasional menimbulkan sastra dunia,sastra dunia
merupakan syarat kajian sastra perbandingan.(paragraf 18:64)
Penguasaan berbagai karya sastra nasional akan mempermudah kajian
sastra perbandingan.Sastra nasional yang komprehensif akan lebih mendalam
penelaahan sastra perbandingan.(paragraf 19:64)
Dalam Kajian sastra perbandingan,sastra dunia dan sastra nasional menjadi
obyeknya.Setiap karya sastra klasik,modern dan kontemporer menjadi
pengkajiannya.(paragraf 20:64)
Dalam sastra perbandingan kajian dilakukan dengan dua karya sastra,
misalnya dua puisi dan sastra nasional yang berbeda atau dapat menelaah
hanya dua karya sastra nasional.(paragraf 21:64)
2. Sejarah Sastra Perbandingan
Lahirnya sastra perbandingan sebagai satu disiplin ilmu pengetahuan yang
proses nya melalui beberapa tahap sejarah perkembangan pemikiran.Lahirnya
sastra perbandingan telah membuka ruang dan waktu kepada kajian sastra
perbandingan menjadi lebih menarik dan bersifat global.(paragraf 1:65)
Sastra perbandingan bermula sejak abad 19 di Eropa, khususnya Prancis
dan Inggris.Istilah sastra perbandingan dalam bahasa Prancis adalah histoire
comparative,di Jerman istilah yang digunakan vergleischen de literature
gesichte.(paragraf 2 :65)
Terjadi perubahan pandangan yang semula hanya berfokus pada sastra
nasional Eropa kemudian ke sastra yang lebih bersifat universal atau sastra
dunia,hal ini terjadi karena pengaruh revolusi Prancis.Para sejarahwan dan
kritikus sastra tidak lagi memusatkan perhatian pada kesustraan bangsanya
tetapi mengkaji kemungkinan adanya kaitan antara satu kesustraan dengan
kesustraan lainnya.(paragraf 3:65)
Bapak sastra perbandingan di Prancis Abel Francois Villemin dan
J.J.Ampere.Villemin memberikan makalahnya dan dilakukan pengamatan oleh
para penulis Abad 18 Prancis.Kemudian Ampere menggantikan Villemin di
Sorbonne.Walaupun demikian,sastra perbandingan belum merupakan suatu
disiplin ilmu.(paragraf 4:66)
Muncul mazhab Prancis.Karya sastra diteliti dengan karya sastra
lainnya.Mazhab mempertimbangkan aspek linguistic, pertukaran, gagasan,
feeling dan nasionalisme.Mazhab lebih menekankan aspek intrinsik karya
sastra.(paragraf 5 :66)
Kemudian,muncul sastra perbandingan sebagai suatu displin ilmu di
Prancis pada 1897.Pemimpinnya Joseph Texte di Universitas Sorborne lalu
Universitas Lyons.(paragraf 6 :66)
Di Jerman,sastra perbandingan sebagai suatu displin ilmu dimulai pada
1920-an di beberapa universitas.Di Negeri Belanda perintis sastra
perbandingan William de Clerq pada 1824.(paragraf 7:66)
Sastra perbandingan kemudian berkembang di Amerika,sejak abad
20.Menelaah beberapa tokoh sastra perbandingan antara lain Frank Wadleight
Chandler,George Woodberry,Rene Wellek dan Austin Warren,Harry H,dan
H.Remak.(paragraf 8 :66)
Sastra perbandingan di Amerika lebih bersifat terbuka,tidak hanya
mengkaji,persamaan perbedaan dan pengaruh seperti mazhab
Prancis.Pengkajian sastra perbandingan lebih memperdulikan unsur
filsafat,estetik,ilmu humanist.(paragraf 9:67)
Di Asia,Negara yang pertama mengkaji sastra perbandingan adalah Jepang
pada 1930-an.Kemudian di India pada 1956 dikaji sastra perbandingan.Di
cina sastra perbandingan juga dikaji. (paragraf 10:67)
Di Taiwan,sastra perbandingan telah menjadi satu disiplin ilmu yang
dimulai pada 1970-an.Komperensi perbandingan diadakan secara tetap setiap
empat tahun sekali (paragraf 11 :67)
Di Indonesia,sastra perbandingan telah muncul walaupun belum popular di
kalangan masyarakat sastra Indonesia(paragraf 12 :67)
Prinsip-prinsip pengkajian sastra telah dilakukan di Indonesia oleh insan
sastra Indonesia.Jassin menggunakan prinsip-prinsip sastra perbandingan
kritik membela Hamka dan Chairil Anwar dari hujatan sebagai plagiat.Chairil
Anwar dituduh menjiplak karya-karya sastrawan mancanegara.Menurut
Jassin,Chairil Anwar hanya menerjemahkan karya-karya sastrawan
mancanegara.(paragraf 13:68)
Pada prinsipnya tulisan-tulisan Jassin mengenai dua hal yang telah
menggunakan prinsip kerja sastra bandingan.Telaah yang sistematis dalam
membandingkan dua karya sastra atau lebih karya pengarang dari dua Negara
yang berbeda mendapat perhatian dari masyarakat sastra Indonesia.(paragraf
14:68)
Hutomo mencatat Iwan Fridollin dan Suryana Ridoen yang pernah
mengupas pokok-pokok pengertian dan aspek-aspek sastra
bandingan.(paragraf 15:68)
Hutomo juga menghimpun beberapa tulisannya yang menggunakan
perspektif sastra bandingan dalam Merambah Matahari,Surabaya Gaya Masa
pada 1993.(paragraf 16:68)
3. Tujuan Sastra Perbandingan
- Memahami proses penciptaan dan perkembangan sastra suatu negara
- Memahami karya sastra sebagai hasil pemikiran manusia
- Melihat persamaa yang menonjol dalam karya sastra yang sejenis
- Memahami pengaruh satu karya sastra terhadap lain karya sastra
- Menghapuskan pandangan sempit sastra nasional lebih baik dari sastra
nasional lainnya
- Menyadarkan bahwa karya-karya sastra pada dasarnya tidak memiliki
perbedaan baik dalam mutu maupun status
- Memperluas wawasan mengenai hasil budaya berbagai bangsa dan
menambah pemahaman nilai-nilai budaya yang terkadang dalam sastra.
4. Ruang Lingkup Kajian Sastra Perbandingan
Pembagian ruang lingkup kajian sastra perbandingan dari ahli
sastra.(paragraf 1:73)
Endrawarsa, membeberkan ruang lingkup sastra perbandingan. Secara garis
besar dibagi dua yaitu:
 Pertalian atau kesamaan (affinity) atau paraktisme satu varian teks satu
dengan yang lain.
 Pengaruh sastra yang satu kepada sastra yang lain atau pengaruh sastra
pada bilang lain (paragraf 2:74)
Berdasarkan ketentuan diatas masih dibagi menjadi ruang lingkup
1. Beberapa perbandingan karya pengarang yang satu dengan karya
pengarang yang lain,pegarang yang
sezaman,antarorganisasi,pengarang yang senada.
2. Membandingkan karya sastra berifat teoretik untuk melihat
sejarah,teori sastra,dan kritik sastra.(paragraf 3:74)

KOMENTAR:
Penjelasan dalam bab sudah baik dan bahasa yang digunakan mudah dipahami
oleh pembaca.
BAB VI 75 Bab 6
SOSIOLOGI SOSIOLOGI SASTRA CABANG ILMU SASTRA
SASTRA 1. Pengertian Sosiologi Sastra
CABANG Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal
ILMU dari akar kata sosio bahasa Yunani sociks berarti bersama-sama, bersatu,
SASTRA kawan teman. Logo berasal dari logos berarti sabda, perkataan, perimpunan.
1.Pengertian 75 Dengan semakin berkembangannya sosio mengalami perubahan makna,
Cabang socio/socins berarti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi)
Sosiologi 78 masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan
Sastra hubungan dalam masyarakat, sifatnya khusus dan empiris. (Paragraf 1 : 75-
2.Sejarah 82 76)
Sosiologi Sastra berasal dari akar kata sas (Sanskerta) berarti mengarahkan mengajar
Sastra 83 memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi sastra
3.Tujuan berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pelajaran yang
Sosiologi baik. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata
Sastra jadian, yaitu kesusastraan. Kesusastraan artinya kumpulan hasil kata yang baik
4. Ruang (Ratna, 2003:1-2). (Paragraf 2 : 76)
Lingkup Sosiologi sastra Indonesia mempelajari hubungan yang terjadi antara
Kajian masyarakat Indonesia dengan sastra di Indonesia, gejala-gejala yang timbul
Sosiologi sebagai akibat antara hubungan tersebut. (Ratna, 2003: 8). (Paragraf 4 : 77)
Sastra Sosiologi sastra dikembangkan di Indonesia jelas memberi perhatian
terhadap sastra untuk masyarakat, sastra terlibat, sastra tujuan, sastra
kontektual dan berbagai proposisi. (Paragraf 5 : 77)
2. Sejarah Sosiologi Sastra
Istilah sosiologi sastra pertama kali diperkenalkan oleh Swingewood pada
tahun 1972. Istilah sosiologi sastra diterjemahkan dari bahasa Inggris, yaitu
the sociology of literature. (Paragraf 1 : 78)
Sosiologi sastra sudah ada sejak zaman Plato dan Aristoteles, filosofi
Yunani pada abad 5 dalam buku Ion dan Republik. Plato menyebutkan bahwa
pada zaman itu semua bentuk sastra di tulis dalam bentuk genre puisi. Plato
berpendapat bahwa karya seni semata-mata merupakan tiruan (mimosis) yang
ada dalam dunia ide. (Paragraf 2: 78)
Aristoteles menolak pandangan Plato yang bersifat praktis. Aristoteles
berpendapat bahwa seni mengangkat jiwa manusia, yaitu melalui proses
penyucian (katarsis). Sebab, karya seni membebaskan manusia dari nafsu yang
rendah dan dalam memahami kenyataan, seni didominasi oleh penafsiran.
(Paragraf 3: 78)
Pada abad 18, dengan menggunakan teori dan metode ilmiah sosiologi
sastra mulai dijadikan sebagai ilmu. Pada tahun 1970, buku teks pertama
mengenai sosiologi sastra diterbitkan dengan judul The Sociology of Art and
Literature: a Reader, yang dihimpun oleh Milton C. Albreeht James H.Bernett,
dan Mason Griff. (Paragraf 4 : 78-79)
Sosiologi sastra di Indonesia diperkenalkan pertama kali pada tahun 1973
oleh Harsya W. Bachtiar dalam penataran “Filologi Untuk Penelitian Sejarah”
yang diselenggarakan oleh konsorsium sastra dan filsafat bekerjasama dengan
Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. (Paragraf 5 : 79)
Kajian sosiologi sastra sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para
tokoh.(Paragraf 6:79)
Teori sosiologi sastra lahir karena sosiologi sastra sebagai disiplin ilmu
yang otonom didasarkan timbulnya kesadaran bahwa analisis struktualisme
memiliki keterbatasan, sebagai metode yang mengalienasikan karya terhadap
struktur sosial yang menghasilkannya. (Paragraf 7 : 79)
Teori sosiologi sastra dari Barat diadaptasi kedalam sosiologi sastra
Indonesia dikelompokkan menjadi empat secara kronologis sebagai berikut.
1.Teori-teori positivistik
2.Teori-teori refleksi
3.Teori-teori dialektik
4.Teori-teori posstrukturalisme
Teori-teori yang dimaksud, antara lain:
1.Teori mimesis oleh Plato dan Aristoteles
2.Teori sosiogeografi oleh Johan Gottfriect van Heder dan Madame de Stael.
3.Teori genetis oleh Hippolyte Taine
4.Teori strukturkelas oleh kelompok Marxisss ortodoks maupun kelompok
para Marxis, sebagai Marxis Strukturalis
5.Teori-teori interdependensita oleh Louis de Bonald, Alan Swingewood, Alex
Keru, Arnold Hauser, A.F. Foelkes, Hugh Dalziel Duncan, A. Teeuw.
6.Teori resepsi oleh Leo Lowekthal
7.Teori hememori oleh Antoni Gramsci
8.Teori trilogi oleh Rene Wellek/Austin Warven, Watt
9.Teori refraksi oleh Harry Levim
10.Teori reaksi oleh Peter Zima
11.Teori pationase oleh Robert Escarpt
12.Teori retorika sejarah oleh Hayden White
13.Teori anonimitas oleh Roland Baithes
14.Teori dekontstruksi oleh Jacques Derride. (Ratna, 2005: 21-25)
3. Tujuan Sosiologi Sastra
 Memahami karya sastra Indonesia dengan mengembalikannya pada
latar belakang sosial.
 Memahami karya sastra yang dikaitkan dengan latar belakang proses
kreatif yang merespon interaksi pengarang sosial yang mengalami
perubahan pengaruh kebudayaan barat.
 Memahami kompleksitas sastra dalam kaitannya dengan struktur
sosial masyarakat yang berbeda-beda.
 Memahami sistem produksi karya sastra yang dihasilkan melalui antar
hubungan bermakna.
 Menigkatkan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya
dengan masyarakat.
 Memperhatikan fungsi-fungsi sastra, karya sastra sebagai produk
masyarakat.
 Membawa misi subjek pengarang salam inter subjektif.
4. Ruang Lingkup Kajian Sosiologi Sastra
Wolff mengemukakan bahwa sosiologi kesenian dan kesusastraan
merupakan disiplin ilmu yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik,
terdiri dari sejumlah studi empiris, dan berbagai percobaan pada teori yang
agak lebih general. (Paragraf 1 : 83)
Ruang lingkup kajian sosiologi sastra sebagai berikut.
1.) Esensi sosiologi sastra
2.) Sosiologi puisi Indonesia.
3.) Sosiologi cerita pendek Indonesia.
4.) Sosiologi novel Indonesia.
5.) Metode penelitian sosiologi sastra. (Paragraf 2: 83)

KOMENTAR:
Bahasa yang dipakai pengarang sangat mudah dipahami oleh pembaca,dan
alur cerita yang disampaikan juga tidak emmbuat pembaca bingung.
BAB VII 84 BAB 7
PSIKOLOGI PSIKOLOGI SASTRA CABANG ILMU SASTRA
SASTRA 1. Psikologi Dan Sastra
CABANG Psikologi adalah studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental.
ILMU Sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, esai, dan kritik yang
SASTRA didefinisikan ke dalam seni. Psikologi dan sastra memiliki kesamaan, yaitu
1.Psikologi 84 keduanya bersumber dari manusia sebagai dasar pengkajian.
dan Sastra Karya sastra mengandung peristiwa dan perilaku yang dialami dan
2.Pengeretian 87 diperbuat manusia. Terdapat realitas kehidupan dalam karya sastra seperti
Psikologi realitas sosial, realitas psikologi, dan realistas religius. Terkhusus realitas
Sastra psikologi, manusia merespon atau bereaksi terhadap diri dan lingkungan.
3.Sejarah 88 Dalam karya sastra realitas psikologi memiliki arti bahwa pembaca mampu
Psikologi memberikan interpretasi jika memiliki teori psikologi yang memadai.
Sastra Karya sastra merekam gejala kejiwaan yang terungkap melalui perilaku
4.Psikologi 92 tokoh. Perilaku itu menjadi data atau fakta empiris yang harus dimunculkan
Sastra sebagai oleh pembaca ataupun peneliti sastra yang memiliki teori-teori psikologi yang
Ilmu Sastra memadai.
5.Tujuan 96 Dunia sastra adalah dunia realita yang membedah kepribadian atau perilaku
Psikologi tokoh. Karena itu dunia sastra bersinggungan dengan teori psikologi.
Sastra Sastra mengandung fenomena-fenomena kejiwaan yang nampak lewat
6.Manfaat 96 perilaku tokoh-tokohnya. Karya sastra dapat didekati dengan menggunakan
Belajar pendekatan psikologi. Sastra dan psikologi memiliki hubungan yang berisfat
Psikologi tak langsung dan fungsional. Tak langsung artinya sastra dan psikologi
Sastra memiliki tempat berangkat yang sama yaitu kejiwaan manusia. Pengarang dan
7.Ruang 97 psikolog mampu menangkap keadaan kejiwaan manusia secara mendalam.
Lingkup Hasil penangkapan tersebut diungkapkan dalam bentuk karya. Hanya saja
Kajian bentuk ungkapan pengarang berupa karya sastra sedangkan psikolog berupa
Psikologi teori-teori psikologi.
Sastra Hubungan fungsional berguna untuk sarana mempelajari keadaan-keadaan
kejiwaan manusia. Perbedaannya kejiwaan dalam karya sastra berasal dari
manusia imajiner sedangkan dalam psikologi berasal dari manusia nyata.
Tetapi keduanya sama-sama memperoleh pendalaman akan kejiwaan manusia.
Psikolog dengan sastra memiliki hubungan kausalitas, yaitu karya sastra
merupakan hasil kreativitas pengarang yang tidak akan mungkin lahir tanpa
ada penulis sebagai penuturnya. Psikologi akan sangat bermanfaat bagi kajian
psikologi sastra, khususnya tentang aspek psikologi pengarang.
Hubungan psikolog dan sastra adalah untuk memahani unsur-unsur
kejiwaan pengarang sebagai penulis, memahami tokoh-tokoh fiksional dalam
karya sastra, dan memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca.
2. Pengertian Psikologi Sastra
Wellek dan Waren mengemukakan istilah psikologi mempunyai empat
kemungkinan pengertian yaitu studi psikologi sebagai tipe, studi proses
kreatif, studi tipe dan hukum-hukum psikologi, dan pembelajaraan terhadap
dampak sastra pada pembaca. Yang berkaitan dengan bidang sastra adalah
pengertian ketiga yaitu tipe dan hukum-hukum psikologi.
Endraswara berpengertian bahwa psikologi sastra kajian memandang karya
sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan
karsa dalam berkarya. Begitu pula pembaca dalam menanggapi karya tidak
akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Psikologi sastra mengenal sastra
sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian
diolah kedalam teks. Pengalaman hidup pengarang akan terproyeksi secara
imajiner kedalam teks sastra.
Psikologi sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan
media bahasa yang diabaikan untuk kepentingan estetis. Dengan kata lain,
karya sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan pengarang yang berarti
didalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang baik suasana piker
maupun suasana rasa/emosi.
Dalam Pengantar Ilmu Sastra psikologi sastra memandang aspek-aspek
kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya sastra.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa psikologi sastra
menelaah unsur-unsur kejiwaan yang terkandung dalam karya sastra.
Psikologi sastra tidak memecahkan masalah-masalah psikologi tetapi
memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam karya sastra.
Psikologi sastra Indonesia membahas tentang tokoh-tokoh yang terkandung
dalam sastra Indonesia. Psikologi sastra Indonesia menelaah kejiwaaan yang
terkandung dalam karya sastra Indonesia, baik dalam puisi, cerita pendek
maupun dalam novel dan drama.
3. Sejarah Psikologi Sastra
Dalam karya Poetic oleh Aristoteles (304-322 SM) dipakai istilah katharsis
untuk menggambarkan luapan emosi pengarang yang diungkapkan dalam
karyanya. Gejala psikis tersebut dipakai salah satu penyelidikan psikologi
sastra.
Dyonisius Cassius Longinus (210-273 M) pada abad ke-3 dalam On The
Sublim memuat konsep-konsep dasar psikologi pengarang. Menurutnya hasil
cipta pengarang mampu membangkitakna emosi-emosi pendengar dan
pembacanya.
Dua abad kemudiaan (1757) terbit karya David Hume yaitu Of Tragedy
diungkapkan berdasarkan penelitiannya tentang bagaimana perasaan manusia
yang senang mendengar atau membaca kisah-kisah atau tragedy. Ia juga
beranggapan bahwa kesadaran diri suatu kepercayaan dapat dijelaskan melalui
analisis perbuatan mental manusia.
Uraian tentang peranan imajinasi dalam proses kreatif, Samuel T Colridge
menekankan bahwa hal tersebut timbul dari renungan tindak hati nurani. Ia
menegaskan bahasa puisi harus sensitive dan dapat mengungkapkan
kebenaran.
William Wordswort (1770-1850) dianggap banyak menyinggung jiwa
dalam diri penyair yang dianggapnya sebagai sumber kebenaran dalam puisi.
Manusia yang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang kodrat
manusia dan memiliki jiwa yang lebih tajam daripada yang lainnya.
Psikonalisis sebagai dasar penyelidikannya, Freud menyatakan bahwa
seniman itu sesungguhnya manusia yang lari dari kenyataan.Seniman tak lebih
dari seorang pahlawan yang disahkan masyarakat. Seniman tidak berusaha
mengubah wataknya tetapi mewujudkan watak dan fantasinya.
Pendapat Freud banyak mendapat kecaman. Diantaranya adalah Wallek
dan Warren keduanya tidak setuju bahwa pengarangan dapat disamakan
dengan seseorang yang mengalami halusinasi. Hal terbut mengartikan bahwa
pengarang tidak bisa lagi membedakan kenyataan,khalayan, harapan, dan
kekhawatiran. Tetapi sesungguhnya pengarang mengungkapkan kemampuan
imajinasi bukan halusinasi.
Salah satu perintis psikologi sastra adalah I.A Richart yang amat
menekankan pentingnya hakikat pengalaman sastra terpadu seperti yang
dilakukan psikologi gestalt. I.A Richart menentang anggapan seni untuk seni.
Alasannya, seni hanya dapat bermakna jika mampu berkomunikasi dengan
pembacanya. Karya I.A Richart yang berjudul Principles of Literary Criticism
(1924) sering digunakan sebagai sumber rujukan tokoh angkatan sesudahnya.
Tokoh lain yang menonjol adalah Norman H. Holland. Sejumlah karyanya
dipengaruhi psikologi.
Karya kritikus asal Perancis, George Poulet banyak terpengeruhi aliran
fenomenologis eksistensial. Sedangkan tokoh lain yakni Kenneth Burke lebih
banyak dipengaruhi psikologi eklektika.
Istilah psikologi sastra di Indonesia pertama kali diperkenalkan dan
digunakan oleh Goenawan Mohammad dan Arief Budiman. Mereka
memperkenalkan psikologi gestalt dalam sastra.
4. Psikologi Sastra Sebagai Ilmu Sastra
Ilmu sastra mempunyai tiga cabang ilmu, yaitu teori sastra, sejarah sastra,
dan kritik sastra. Budi Darma menambahkan cabang ilmu sastra yaitu sastra
perbandingan. Sosiologi sastra, antorpologi sastra, dan psikologi sastra selama
ini hanya bagian dari kritik sastra. Oleh karena itu ketiganya tidak mengalami
perkembangan apalagi kemajuan.
Ketiga pendekatan dalam kritik sastra kini telah mandiri sebagai cabang
ilmu sastra. ketiganya sudah menjadi bagian dari cabang ilmu sastra.
Diantara sosiologi sastra, antorpologi sastra, dan psikologi sastra yang masih
terhambat perkembangannya adalah psikologi sastra.
Khususnya di Indonesia, psikologi sastra lambat perkembangannya
disebabkan oleh psikologi seolah-olah berkaitan dengan manusia sebagai
individu kurang memberikan peranan terhadap subjek transindividual
sehingga analisis dianggap sempit, psikologi juga dikaitkan dengan tradisi
intelektual teor-teori yang terbatas sehingga para sarjana sastra kurang
memiliki pemahaman terhadap psikologi sastra, dan yang terakhir analisis
psikologi kurang menarik minat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan
karya tulis yang menggunakan pendekatan psikologi sastra.
Ratna mengungkapkan berdasarkan masalah-masalah di atas, psikologi
sastra perlu dimodifikasi dan dikembangkan secara lebih serius.
Pemodifikasian dan pengembangan psikologi sastra yang diungkapkan Ratna
bermakna menjadikan psikologi sastra sebagai cabang ilmu sastra.
Psikologi dibangun di atas asumsi-asumsi genesis yang berkaitan dengan
objek kajiannya, yaitu karya sastra. psikologi sastra memberikan perhatian
pada masalah unsur-unsur kejiwaan para tokoh fiksional yang terandung
dalam karya sastra. sebagai dunia dalam kata-kata, sastra memasukkan
berbagai aspek kemanusiaan ke dalamnya. Aspek kemanusiaan inilah yang
merupakan aspek utama psikologi sastra.
Psikologi sastra sebagai ilmu dapat dilakukan dengan pemahaman teori
psikologi yang kemudian dilakukan analisis terhadap karya sastra. Atau dapat
dilakukan pengkajian terlebih dahulu lalu kemudian ditentukan teori-teori
psikologi yang relevan.
Dalam psikologi sastra kajian utamanya adalah karya sastra dimana kajian
sastra ditempatkan sebagai gejala yang dinamis dan karya sastralah yang
menentukan teori bukan psikologi.
Psikologi sastra sebuah ilmu interdisipliner dengan menempatkan teori
sastra di posisi dominan. Psikologi sastra mempertimbangkan relevansi dan
peranan studi psikologi. Dengan memusatkan perhatian pada para tokoh dalam
karya sastra maka dapat dianalisis konflik batin yang mungkin bertentangan
dengan teori pasikologi sastra. dengan kondisi seperti ini harus ditemukan
gejala-gejala yang tersembunyi dengan memanfaatkan teori-teori psikologi
yang relevan. Sehingga pengkaji dapat menguraikan kembali secara jelas dan
nyata akan apa yang terdapat dalam karya sastra tersebut.
Psikologi sastra sebagai ilmu harus menjadikan aspek psikologi dengan
aspek tokoh menjadi relevan. Artinya karya sastra harus berintensitas dan
bermuatan aspek psikologis.
5. Tujuan Psikologi Sastra
Mahayana dalam Pengantar Ilmu Sastra mengemukakan tujuan psikologi
sastra sebagai berikut:
1) Menelaah psikologi pengarang sebagai tipe dan individu.
2) Menelaah bagaimana proses penciptaan karya sastra.
3) Menelaah bagaimana penerapan psikologi dalam karya sastra.
4) Menelaah pengaruh karya sastra pada pembacanya
Sedangkan Ratna dalam Pengantar Ilmu Sastra mengemukakan tujuan
psikologi sastra sebagai berikut:
1) Memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis.
2) Memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra.
3) Memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca
6. Manfaat Belajar Psikologi Sastra
Adapun manfaat belajar psikologi sastra adalah sebagai berikut :
1) Memahami manusia yang meliputi perubahan, kontradiksi, penyimpangan-
penyimpangan dalam masyarakat khususnya dalam kaitan psikis atau
psikologi yang terkandung dalam karya sastra.
2) Memahami manusia yang kehilangan harga diri dan menemukan sebab-
sebab yang menjadi sumber penyimpangan psikologi dan terapinya.
3) Memahami manusia dengan unsur psikologi yang bermacam-macam sesuai
dengan kondisi multikultural bangsa.
4) Memahami dan menemukan dampak karya sastra terhadap pembacanya
ditintau dari unsur psikologi.
7. Ruang Lingkup Psikologi
Ruang lingkup kajian psikologi sastra adalah sebagai berikut :
1) Hubungan Psikologi dan sastra.
2) Pengertian psikologi sastra.
3) Psikologi sastra sebagai ilmu sastra
4) Sejarah psikologi sastra.
5) Tujuan psikologi sastra.
6) Manfaat psikologi sastra.
7) Ruang lingkup kajian psikologi sastra.
8) Psikologi puisi Indonesia.
9) Psikologi cerita pendek Indonesia.
10) Psikologi novel Indonesia.
11) Metode penelitian psikologi sastra Indonesia.

KOMENTAR:
Bab ini menjelaskan bagaimana psikologi sastra dalam cabang ilmu sastra
yang setiap penjelasannya menggunakan bahasa yang efektif sehingga mudah
dipahami. Penjelasannya yang ringkas juga memudahkan pembaca mengerti
arah dan inti dari materi yang dibicarakan.
BAB VIII 98 BAB VIII
ANTROPOL ANTROPOLOGI SASTRA CABANG ILMU SASTRA
OGI SASTRA 1. Pengertian Antropologi Sastra
CABANG Menurut Ratna (2004: 251, 2005:351) antropologi sastra atudi karya sastra
ILMU yang relevan dengan manusia. Menurut Endraswara (2003: 109) antropologi
SASTRA sastra kajian etnografi dalam karya sastra. (paragraf 1: 98)
1.Pengertian 98 Secara luas pengertian antropologi sastra kajian yang berkaitan dengan
Antropologi antropologi kultural dengan karya-karya yang dihasilkan oleh manusia seperti
Sastra 99 bahasa, religi, mitos, sejarah, hukum, adat istiadat, karya seni khususnya karya
2.Sejarah sastra. Karya sastra dengan masalah mitos, bahwa dengan kata-kata arkhais
Antropologi 101 menarik dianalisis dari segi antropologi sastra (Ratna, 2004: 353). (paragraf
Sastra 2: 99)
3.Antropologi 103 Antropologi sastra kajian karya sastra yang menekankan pada warisan
Sastra sebagai budaya masa lalu. Warisan budaya tersebut dapat terpantul dalam karya sastra
Ilmu Sastra 103 klasik dan modern (Endraswara, 2003: 109). (paragraf 3: 99)
4.Tujuan 2. Sejarah Antropologi Sastra
Antropologi 104 Antropologi sastra pertama kali muncul pada 1997 melalui Kongres
Sastra Folklore and Literary Antropology, yang berlangsung di Calcuta (Payatos,
5.Manfaat 1998 dalam Ratna, 2004: 352-353). Tiga sebab utama kemunculan antropologi
Belajar sastra yaitu:
Antropologi a. Baik sastra maupun antropologi menganggap bahasa sebagai objek
Sastra penting
6.Ruang b. Kedua disiplin mempermasalahkan relevansi menusia dengan
Lingkup budayaKedua disiplin juga mempermasalahkan tradisi lisan khususnya
Kajian cerita rakyat dan mitos (Ratna, 2004: 353). (paragraf 2: 99)
Antropologi Antropologi sastra mulai berkembang pada abad 20 pada saat negara-
Ssastra negara kolonial, khususnya Inggris menarik perhatian terhadap bangsa-bangsa
non-Eropa dalam mengetahui sifat bangsa-bangsa yang dijajah. (paragraf 3:
100)
Pemikiran tentang antropologi sastra telah muncul pada 1930-an ketika
terjadi polemik kebudayaan, yang dipicu oleh Sultan Takdir Alisyahbana.
Sastra Indonesia modern yang pada dasarnya merupakan kelanjutan sastra
Melayu, bersama-sama dengan sastra daerah lainnya diharapkan mampu
memberikan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan
perkembangan intelektual. Benar karya sastra adalah imajinasi, tetapi perlu
diketahui bahwa justru dalam daya imajinasi itulah nilai-nilai antropologi
sastra (Ratna, 2004: 352). (paragraf 4: 100)
Pada 2000-an, istilah antropologi sastra diperkenalkan oleh Heddy Shri
Ahimsa Putra, dalam makalahnya “Dari Antropologi Budaya ke Sastra dan
Sebaliknya”. Kemudian disusul Kris Budiman dalam “Bila(kah) Antropologi
dan Sastra Bertemu” dan dimuat dalam buku Sastra Interdisipliner,
Menyandingkan Sastra dan Disiplin Ilmu Sosial, penerbit Qalam dan Sanding,
Yogyakarta. (paragraf 5: 100-101)
Istilah antropologi lebih dipopulerkan oleh Nyoman Kutha Ratna dalam
dua bukunya Teori Metode dan Teknik Penelitian Sastra, dari Strukturalisme
hingga Postrukturalisme, Perspektif Wacana Naratif Penerbit Pustaka Pelajar,
Yogyakarta 2004. Sastra dan Cultural Studies Represintasi Fiksi dan Fakta,
penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005. (paragraf 6: 101)
3. Antropologi Sastra sebagai Ilmu Sastra
Antropologi sastra satu disiplin dari dua disiplin ilmu. Oleh karena itu,
antropologi sastra salah satu kajian interdisipliner, yaitu kajian hubungan
sastra dan kebudayaan. Objek kajian antropologi sastra manusia dalam
masyarakat, manusia sebagai makhluk kultural. (paragraf 1,2: 101)
Antropologi sebagai interdisipliner atau multidisipliner dibangun atas dasar
kompetensi sastra dan kompetensi budaya. Keduanya sebenarnya pada
dasarnya telah memiliki berbagai bidang kajian tertentu, dengan metode dan
teori tersendiri. (paragraf 3: 101-102)
Antropologi sastra sebagai ilmu memperoleh tempat khusus dengan
mempertimbangkan terjadinya hubungan yang erat antara sastra dan
kebudayaan. Keseluruhan masalah masyarakat yang dibicarakan dalam sastra
dan kebudayaan tidak bisa dilepaskan dengan kebudayaan yang
melatarbelakangi. (paragraf 4: 102)
Antropologi sastra menelaah sastra dengan kebudayaan yang bersifat
dialektika. Kebudayaan lebih banyak menentukan keberadaan sastra.
(paragraf 5: 102)
Antropologi sastra sebagai ilmu sastra humaniora mempermasalahkan
manusia dalam masyarakat. (paragraf 6: 102)
Antropologi sastra sebagai sebuah ilmu mempunyai relevansi dengan sastra
warna lokal, sastra multikulturalisme, sastra poskolonial dan sastra
posstrukturalisme sebagai bagan sastra kreatif. (paragraf 7: 102)
4. Tujuan Antropologi Sastra
1.) Mengungkap kebiasaan-kebiasaan masa lampau yang berulang-ulang
masih dilakukan dalam sebuah karya sastra
2.) Mengungkap akar tradisi atau subkultur serta kepercayaan seorang
sastrawan yang terpantul dalam karya sastranya
3.) Mengungkap sebab-sebab penikmat sastra menjalankan pesan-pesan
yang ada dalam karya sastra
4.) Mengungkap pewarisan sastra tradisional dari waktu ke waktu
5.) Mengungkap unsur-unsur antropologis atau budaya masyarakat yang
ada dalam karya sastra
6.) Mengungkapkan simbol-simbol mitologi dan pola pikir masyarakat
dalam karya sastra (paragraf 1: 103)
5. Manfaat Antropologi Sastra
1.) Mendorong kesungguhan kajian interdisipliner antropologi sastra
2.) Mengenal lebih luas dan dalam akan kekayaan atau khasanah kebudayaan
bangsa Indonesia sehingga masing-masing kebudayaan yang membangun
Indonesia menjadi milik bagi yang lain yang terpantul dalam karya sastra
Indonesia
3.) Memperkaya perbendaharaan kesusastraan Indonesia melalui sastra
Indonesia multikultural yang selama ini kurang atau tidak diminati
4.) Mengenal lebih luas dan dalam tentang khasanah sastra yang terpencil dan
terisolasi selama ini yang secara tidak langsung membantu pemahaman
“bhineka tunggal ika” (paragraf 1: 103-104)
6. Ruang Lingkup Kajian Antropologi Sastra
1.) Hubungan antropologi dengan sastra
2.) Pengertian antropologi sastra
3.) Antropologi sastra sebagai ilmu sastra
4.) Sejarah antropologi sastra
5.) Tujuan dan manfaat belajar antropologi sastra
6.) Antropologi puisi Indonesia
7.) Antropologi cerita pendek Indonesia
8.) Antropologi novel Indonesia
9.) Metode penelitian antropologi sastra Indonesia
(paragraf 1: 104)

KOMENTAR:
Pemaparan yang disajaikan pengarang membuat pembaca tidak bosan.

 Buku Pembanding

BUKU II
A TEEUW
DAFTAR ISI
ISI BAB HAL RINGKASAN BAB
Bab I APAKAH BAB I APAKAH SASTRA? BAHASA LISAN-BAHASA
SASTRA? BAHASA TULIS-SASTRA?
LISAN-BAHASA 1. Apakah Sastra? Beberapa Masalah Peristilahan
TULIS-SASTRA Ilmu sastra memiliki keistimewahan dan keanehan yang
1.Apakah sastra? 21 tidak dapat kita lihat pada banyak cabang ilmu pengetahuan
Beberapa Masalah yaitu bahwa obyek utama penelitiannya tidak tentu, malahan
Peristilahan tidak karuan. Belum ada seorang pun yang berhasil memberi
2.Bahasa Tulis: Tujuh 26 jawaban jelas atas pertanyaan yang harus diajukan oleh ilmu
Ciri sastra: apakah sastra? ( Paragraf 1 :19)
3.Sastra dan Tujuh 30 Sudah cukup banyak usaha yang dilakukan untuk
Ciri Bahasa Tulis memberi batasan yang tegas atas pertanyaan itu, tetapi
4. Sastra Tidak 38 batasan yang diberikan oleh ilmuwan diserang, ditentang,
Identik dengan disasingkan, atau terbukti tak kesampaian karena hanya
Bahasa Tuli menekankan satu atau beberapa aspek, atau hanya berlaku
untuk sastra tertentu. ( Paragraf 2 : 19)
Sebagai pengantar akan dibicarakan apa permasalahan-
permasalahan yang khususnya berdasarkan pendekatan, yaitu
pendekatan yang menyamakan sastra dengan bahan tulisan. (
Paragraf 3 : 19 )
Kata litteratura diciptakan sebagai terjemahan dari kata
Yunani grammatika, litteratura dan grammatika masing-
masing berdasarkan kata littera dan gramma yang berarti
huruf (tulisan, letter). Litteratura dipakai untuk tata bahasa
dan puisi. Seorang litteratus adalah orang yang tahu tata
bahasa dan puisi. Dalam bahasa-bahasa Barat gejala yang
ingin diberikan dan batasi disebut literature (Inggris),
Literatur (Jerman), litterature (Perancis), semuanya berasal
dari kata Latin litteratura. ( Paragraf 4 : 20 )
Sebagai perbandingan kata sastra dalam bahasa indonesia
berasal dari bahasa sanskerta. Akar kata sas, dalam kata
kerja turunan berarti " mengarahkan, mengajar, memberi
petunjuk atau instruksi akhiran tra biasanya menunjukan
alat, sarana. Maka dari itu sastra dapat berarti " alat untuk
mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. (
Paragraf 5 : 20 )
Kata lain diambil dari bahasa Sansekerta adalah kata
pustaka yang berarti buku. Dalam bahasa Jawa Kuno dan
Jawa Baru artinya juga sama, namun dalam Melayu Klasik
pustaka atau pestaka menjadi semacam buku pegangan, buku
atau naskah ilmu sihir atau mantra. ( Paragraf 6 : 20)
Dalam bahasa cina perkembangan semantik sangat
kompleks : kata yang terdekat dengan sastra, literature,
adalah kata wen, yang menurut asalnya berarti " ikatan,
tenunan,pola, susunan, struktur. ( Paragraf 7 : 21 )
Dalam bahasa arab kata yang paling dekat ialah adab,
dalam arti sempit adab berarti belles-letters atau susatra,
tetapi sekaligus berarti kebudayaan, sivilisasi, atau dalam
bahsa arab lainya tamaddu. Disamping itu ada beberapa
menujukan sastra seperti kasidah yang berisi syair dimana
itu juga sebutan dari puisi. ( Paragraf 8 : 21 )
Di Eropa, pemakaian kata litterature dalam bentuk tulisan
dapat bertahan lama karena pada abad ke-18 pembedaan
bahan tulisan yang bernilai estetik dari tulisan lain baru
dimulai menjadi umum. ( Paragraf 9 : 21 )
Pemakaian litterature dalam arti luas memiliki akibat untuk
penelitian sastra bangsa-bangsa Timur oleh sarjana Barat,
sebab literature untuk bahasa-bahasa Timut dipakai dalam
arti bahan tulisan, lepas dari pokok dan isi bahan. Buku
pegangan mengenai sastra Sanskrit karangan Winternitz,
Geschichte der Indischen Literatur, atau Brockelmann,
Geschichte der Arabischen Literatur, selain merupakan
sejarah sastra dalam arti yang terbatas, juga membicarakan
tulisan mengenai ilmu tata bahasa, kedokteran, ilmu falak,
ilmu pasti dan lain-lain. Karena kemampuan bahasa dan
filologi mereka menjadi jembatan pembuka jalan ke bidang-
bidang ilmu pengetahuan Timur secara umum dan luas. (
Paragraf 10 : 21- 22)
2. Bahasa Tulis: Tujuh Ciri
Pemakaian bahasa dalam bentuk tulisan menunjukkan
sejumlah keistimewaan yang cukup jelas membedakan dari
bahasa lisan.secara ringkas ciri-ciri itu akan di uraikan
sebagai berikut :
1) Dalam pemakaian bahasa secara tertulis baik pembicara
maupun pendengar, kehilanagan sarana komunikasai yang
dalam pemakaian bahasa lisan memberi sumbangan untuk
berhasilnya suatu komunikasai. Sarana itu di sebut
suprasegmental. Suprasegmental adalah gejala intonasi (
aksen, tekanan kata, tinggi rendahnya nada, keras lemanya
suara). Uhlenbeck (1979: 406) : Keberhasilan komunikasi
tidak tergantung pada efek sarana-sarana lingual saja;
pemahaman pemakaian bahasa lisan adalah hasil permaianan
bersamaa yang subtil dari data-data pengetahuan lingual dan
ekstra lingual, dari informasi auditif, visual, dan kognitif
(berdasarkan pengetahuan atau penafsiran).
2) Dalam bahasa tulis biasanya tidak ada kemungkinan
hubungan fisik antara penulis dan pembaca. Sedangkan
komunikasi lisan kita banyak tergantung pada kemungkinan
yang di adakan oleh hubungan fisik ; pendengar melihat
gerak-gerik si pembicara, yang seringkali penting untuk
menjelaskan apa yang di maksudkannya.selain itu pula dapat
memberi reaksi langsung yang penting bagi pembicara.
Dalam komunikasi dalam bahasa tulis, situasi itu sangat
berbeda. Penulis harus mengucapkan sesuatu lebih eksplisit,
harus sejelas mungkin, dan juga harus hatri-hati. Sedangkan
pembaca pun harus mengambil sikap yang lain, karena tidak
adanya interaksi yang spontan.
3) Dalam teks tertulis penulis tidah hadir sebagiannya atau
seluruhnya dalam situasi komunikasi. Contohnya adalah
karangan yang anonim, pembaca harus mencari informasi
yang relevan hanya dari data tertulis saja.
4) Teks tertulis juga sangat mungkin makin lepas dari
kerangka referensi aslinya. Penulis mengarang tulisannya
berdasarkan situasi tertentu, situasi pribadi, situasi sosial,
berdasarkan situasi dia sendiri sebagai pembaca.untuk
menghindari salah faham, pengarang terpaksa secara
eksplisit dan jelas menguraikan informasi kontekstual yang
dalam situasi percakapan biasanya tidak perlu di
eksplesitkan. Dalam komunikasi lewat tulisan sering terjadi
salah faham jauh lebih besar.
5) Pembaca mempunyai keuntungan lain, kalau di
bandingkan dengan pendengar dalam situasi
komunikasi.tulisannya dapat di baca beberapa kali apabila di
anggap penting. Tanggapannya pun dapat di tunda di
pikirkan kembali sebelum di tuliskan.
6) Teks tertulis dapat di reproduksikan dalam berbagai
bentuk. Yang berarti bahwa lingkungan orang yang terlibat
dalam dalam tindak komunikasi dengan bahasa tulisan pada
prinsipnya jauh lebih besar dan luas daripada yang biasanya
terdapat dalam situasi bahasa lisan.
7) Komunikasi antara penulis dan pembaca lewat tulisan
membuka kemungkinan adanya jarak jauh antara kedua
belah pihak, dalam hal ruang, waktu dan juga segi
kebudayaan. Kita dapat membaca hasil tulisan dari masa
yang lampau, dari negri lain, dengan latar belakang
kebudayaan yang lain sekali dari situasi kita sendiri. (
Paragraf 1 : 22-26 )
3. Sastra dan Tujuh ciri Bahasa Tulis
Kalau kita meneliti secara mendetail apakah konsekuensi
situasi tulisan untuk sastra yang belum sempat dibatasi
secara ketat, tetapi secara intuisi kita semua kenal, maka
dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
1) Karena kemungkinan untuk mengungkapkan sarana
suprasegmental dan paralingual dalam situasi tulisan sangat
terbatas, maka seorang penulis terpaksa mengusahakan
perumusan yang seteliti dan setepat mungkin, dalm
percakapan kalimat dapat di pakai secara tak karuan saja,
karena setengahnya seringkali sudah cukup untuk pendengar
yang cermat.
2) Karena Dalam situasi bahasa tulis si pembicara
bukanlah faktor yang tersedia dalam tindak komunikasi,
faktor ini pun dapat dipermainkan oleh pengarang karya
sastra. Tetapi dalam tulisan belum tentu kita tahu siapakah
si aku yang kita temui dan ambiguitas tentang diri penulis
yang tidak kita hadapi langsung.
3) Oleh karena hubungan antara karya sastra dengan
penulis tidak jelas, dengan sendirinya tulisan itu sendiri
makin penting, menjadi pusat perhatian pembaca. Lepasnya
karya sastra dari tujuan komunikasi biasa dan dari diri
penulis menimbulkan macam-macam konvensi yang harus di
kuasai seorang pembaca, agar dia dapat memahami karya
sastra.
4) Dalam situasi komunikasi tulisan referen dan acuan,
yaitu hal dalam kenyataan yang di tunjukkan dalam tindak
ujaran yang biasa, mungkin tidak jelas dan samar-samar saja.
Demikianlah perbedaan antara pembedaan antara ujaran dan
tulisan menjadi sumber paradoks sastra yang fundamental.
Kita tertarik pada sastra karena nyatalah itu sesuatu yang lain
dari komunikasi biasa.
5) Kemungkinan permainan konvensi yang makin ruwet,
makin menyesatkan pembaca karena kompleksitas makna
berhubungan juga dengan monumentalitas karya sastra.
Seakan-akan terjadi semacam permainan kejar-kejaran antara
penulis dan pembaca.
6) Kemungkinan reproduksi dalam berbagai bentuk sangat
penting untuk sastra sebagai faktor kebudayaan. Reproduksi
tulisan itu ada pula akibatnya. Tulisan memungkinkan
pemantapan dan kelestarian berita yang terkandung di
dalamnya.
7) Berkat menyimpan dan menyelamatkan sastra dalam
bentuk tulisan dan menyebarluaskannya melampaui batas
waktu dan ruang, juga melampaui batas bahasa dan
kebudayaan. Tetapi hal itu menimbulkan masalah, dalam arti
penafsiran dari karya sastra dari masa atau kebudayaan yang
lain ternyata sangat sulit dan mengakibatkan kemungkinan
perbedaan pemahamaan yang sangat menonjol. ( Paragraf 1
: 26-31)
4. Sastra Tidak Identik dengan Bahasa
Dari perbandingan antara bahasa lisan dan bahasa tulis dan
dari survei tentang konsekuensi ciri khas bahasa tulis, sudah
jelas bahwa ketertulisan sastra mempunyai bermacam akibat
untuk keadaan, potensi, dan interpretasi sastra.
Kemungkinan yang dimunculkan oleh bahasa tulis dalam
pertentangan dengan bahasa lisan sering kali digarap,
dimanfaatkan, dieksploitasi, dipermainkan, malahan
disalahgunakan secara halus ataupun dibuat-buat oleh
penulis sastra. ( Paragraf 1 : 32)
Secara intutif dan berdasarkan bahan kita tahu bahwa
sastra tidak terbatas pada bentuk bahasa tulis. Sastra lisan
dapat menciptakan komunikasi dan memanfaatkan kovensi
yang mirip. Dalam sastra lisan pemakaian bahasa jauh lebih
rumit dan terpelihara ataupun menyimpang dari bahasa
sehari-hari. ( Paragraf 2 : 32 )
Dalam hubungan ini ditambahkan bahwa ada bentuk
campuran antara sastra tulis dan sastra lisan terutama di
Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Culler dan Derrida
dan kawan-kawan tentang sastra Barat sebagai monument
yang lepas dari bahasa lisan tidak berlaku untuk sastra
Indonesia tradisional , misalnya bahasanya sering kali dari
segi sintaksis cukup sederhana. ( Paragraf 3 : 33)
Kesimpulan yang penting dalam hubungan ini tidak ada
kriteria yang jelas yang dapat kita ambil dari perbedaan
pemakaian bahasa lisan dan bahasa tulis untuk membatasi
sastra sebagai gejala yang khas. Ada pemakaian bahasa lisan
dan tulis yang sastra, ada pula yang bukan sastra, dan
sebaiknya ada sastra tulis dan ada pula sastra lisan. Tolok
ukur untuk membedakan sastra dengan bukan sastra harus di
cari di bidang lain. ( Paragraf 5 : 34)
KOMENTAR:
Pada bab ini penulis banyak menggunakan istilah-istilah
bahasa yang sulit dipahami. Alangkah baiknya jika penulis
menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga
pembaca lebih mudah mengerti atau memahami materi yang
disajikan dalam bab ini.
Bab II KARYA
SASTRA DALAM BAB II KARYA SASTRA DALAM MODEL SEMIOTIK
MODEL SEMIOTIK SASTRA
1.Sastra sebagai 42 1. Sastra sebagai Tanda Termasuk Bidang Semiotik :
Tanda Termasuk De Saussure
Bidang Semiotik: De Usaha yang pernah diadakan tetap belum berhasil untuk
Saussure memberi pencirian sastra yang universal dalam asti bahwa
2. Model Bahasa Karl 47 batasan semacam itu berlaku untuk segala karya sastra dalam
Buhler kebudayaan mana pun. ( Paragraf 1 : 35 ).
3. Model Sastra 49 Ferdinand de Saussure di akui sebagai tokoh yang
Abrams meletakkan dasar ilmu bahasa modern. Bahasa adalah sistem
4. Model Jakobson 53 tanda, dan tanda merupakan kesatuan antara dua aspek yang
dengan Fungsi Puitik tak terpisahkan satu sama lain : signifiant ( penanda ) dan
5. Model Morris, 54 signifie ( petanda ). Signifiant adalah aspek formal atau
Disesuaikan oleh bunyi pada tanda itu, sedangkan signifie adalah aspek
Klaus kemaknaan atau konseptual. ( Paragraf 3 : 36 )
6. Model Semiotik 56 De Saussure membicarakan beberapa aspek tanda yang
Morris, Disesuaikan khas : tanda adalah arbiter, konvensional dan sistematik.
oleh Foulkes Arbiter berarti bahwa dalam urutan bunyi itu sendiri tidak
7. Model yang 58 ada alasan atau motif untuk menghubungkannya. ( Paragraf
Diberikan Belum 4 : 36)
Lengkap De Saussure menjelaskan bahwa bahasa bukanlah satu-
8. Dua Faktor Lain 60 satunya sistem tanda yang di pakai dalam masyarakat, ada
yang Perlu Ada dalam berbagai sistem tanda lain. ( Paragraf 6 : 37)
Model Semiotik Semua sistem tanda, termasuk bahasa, yang merupakan
Sastra: Sistem Bahasa sistem tanda yang paling kompleks dan mendasar untuk
dan Konvensi Sastra komunikasi antar manusia. Ilmu pengetahuan yang bertugas
9. Pembaca sebagai 61 untuk meneliti berbagai sistem tanda oleh De Saussure di
Variabel Sosial dan sebut semiologi, atau ilmu tanda. Gagasan yang sama tlah
Diakronis lebih dahulu di kembangkan oleh Charles Sander Peirce,
10. Bentuk Karya 63 seorang filsuf Amerika, tetapi tulisannya baru kemudian di
Sastra sebagai terbitkan. ( Paragraf 7 : 38)
Variabel 2. Model Bahasa Karl Buhler
11. Masalah Nilai 64 Sastra merupakan sistem tanda yang bertugas sebagai alat
dalam Model komunikasi antar manusia makin meluas dalam kalangan
Semiotik Sastra peneliti sastra. Karl Buhler seorang ahli psikolog, tetapi yang
12. Beberapa Puitik 67 banyak mempunyai minat mengenai masalah bahasa dan
Alternatif; Abad yang malahan dalam tahun 1934 menulis sebuah buku.
Pertengahan Eropa, Buhler pertama kali dengan jelas menguraikan ciri khas
Cina, India, Arab tanda bahasa sebagai gejala sosial. Hal itu berdasarkanya
yang di sebut organonmodell der sprache, model bahasa
dengan memakai istilah yunani. ( Paragraf 1 : 39 )
Plato mengenai bahasa , organon berarti alat, sarana,
instrumen. Oleh Buhler hasil rangkap tiga yang di akibatkan
oleh bahasa : Ausdruck, Appell, Darstellung. Buhler
menjelaskan bahwa tiga fungsi tersebut tidak selalu sama
pentingnya dalam situasi komunikasi, yang dominan dalam
pemakaian bahasa yang biasa adalah fungsi Darstellung,
referensinya ; dominannya fungsi itu terungkap dalam apa
yang kita sebut arti unsur bahasa. Tetapi dalam situasi
tertentu mungkin ekspresilah yang dominan. (Paragraf 2 dan
3 : 39-40)
3. Model Sastra Abrams
Sastra adalah salah satu bentuk pemakaian bahasa. Pada
tahun 1953, M.H, Abrams menerbitkan buku yag berjudul
The Mirror and the lamp. Dalam buku tersebuat ia meneliti
teori-teori mengenai sastra yang berlaku dan diutamakan di
masa Romantik, khususnya dalam puisi dan ilmu sastra
Inggris dalam abad ke-19. ( Paragraf 1 : 40 )
Dalam buku tersebut Abrams juga membicarakan masalah
keaneka-ragaman, yang sering kali sangat mengacaukan
yang dapat kita perhatikan di bidang teori sastra. Abrams
memberikan sebuah keranga yang terkandung pendekatan
kritis yaitu :
a. Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang
menitikberatkan karya itu sendiri.
b. Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang
menitikberatkan penulis.
c. Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang
menitikberatkan semesta.
d. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang
menitikberatkan pembaca.( Paragraf 2 : 40-41)
Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani mimesis yang
dipakai sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara
karya seni dan kenyataan. (Paragraf 3 : 41 )
Istilah pragmatik menunjuk pada efek komunikasi yang
seringkali di rumuskan dalam istilah Horatius. Seni harus
menggabungkan sifat utile dan dulce, bermanfaat dan manis.
(Paragraf 4: 41)
Abrams memperlihatkan bahwa empat pendekatan itu
seringkali dominan. ( Paragraf 5 : 41)
Model Abrams sangat bermanfaat untuk memahami teori
sastra dalam keragamannya. Model ini dapat menjelaskan
aliran utama dalam aliran Pujangga Baru. ( Paragraf 6 : 42 )
Abrams sendiri dalam tulisannya belum memakai istilah
semiotik atau teori komunikasi. Modelnya sangat mirip
dengan organon Buhler. (Paragraf 7 : 42)
4. Model Roman Jakobson dengan Fungsi Puitik
Pada tahun 1960 Jakobson pada konferensi mengenai style
in language, di paparkan sebuah model dengan tujuan untuk
menjelaskan poetic function of language, fungsi puitik dalam
bahasa. (Paragraf 1 : 43)
Jakobson mnyejajarkan 6 faktor bahasa dan 6 fungsi
bahasa. Phatic function di maksudkan potensi bahasa sebagai
alat untuk mengadakan komunikasi ataupun kontak sesama
manusia. Phatic function yang dimaksudkan adalah potensi
bahasa sebagai alat untuk mengadakan komunikasi atau
kontak dengan sesama manusia. Metalingual adalah fungsi
khas untuk berbicara mengenai bahasa dalam bahasa itu
sendiri. ( Paragraf 2 dan 3 : 43-44 )
Antara bahasa sebagai system komunikasi memiliki
hubungan yang erat dan sastra merupakan system
komunikasi atas dasar system bahasa. (Paragraf 4 : 44)
5. Model Charles Morris, disesuaikan oleh Klaus.
Charless Morris seorang ahli semiotik awal yang terkenal,
yang kemudian di sesuaikan oleh Klauss. Model ini pada
prinsipnya sama dengan Buhler, tetepi lain istilahnya. Model
Morris-Klaus membedakan tiga dimensi dalam proses
semiosis pada tanda yang dilambangkan lagi segitiga.
Dimensi pertama adalah dimensi sintaktik, yaitu hubungan
antara tanda satu dengan tanda yang lain. Dimensi sintaktik
menekankan struktur instrinsik karya sastra sebagai sistem
tanda. Sedangkan dimensi pragmatik melingkupi baik
pengirim maupun penerima pesan. (Paragraf 1 : 44 )
Dimensi semantik dalam model Morris-Klauss bertepatan
dengan fungsi mimetik atau referensial dalam model lain.
Klauss memberikan pembedaan antara semantik dan
sigmatik. Semantik mengenai aspek arti secara konseptual
Saussure. Sedangkan sigmatik dalam Klauss mengacu pada
aspek acuan atau referensial. ( Paragraf 2 : 45 )
6. Model Semiotik Morris disesuaikan oleh Foulkes
Foulkes tertarik oleh peranan pembaca dalam proses
komunikasi lewat karya sastra. Yang di bedakannya adalah
pragmatik penulis dan pragmatik pembaca. Controlling
factors, yaitu keseluruhan faktor yang dalam proses
komunikasi dan pemahaman karya sastra mempengaruhi dan
ikut menentukan sikap pembaca terhadap karya yang di
hadapinya. Itulah memang fokus utama penelitian Foulkes,
yang memperlihatkan sikap dan peranan pembaca
masyarakat modern dipengaruhi oleh berbagai faktor artistik,
sosial, politik dan ekonomi. ( Paragraf 1: 46)
7. Model yang Diberikan Belum Lengkap
Penelitian yang menekankan aspek pragmatik, mimetik,
ekspresif atau obyektif sangat bermanfaat. Secara ideal
semua aspek karya sastra harus di ikut sertakan dalam
penelitian. Tetapi keempat aspek tidak selalu sama
pentingnya. ( Paragraf 1 : 47 )
Model yang di berikan Abrams menunjukkan kekurangan
dalam arti bahwa beberapa faktor yang penting dalam
penelitian belum terlingkupi sama sekali. (Paragraf 3 : 48)
8. Dua faktor Lain yang Perlu ada Dalam Model
Semiotik Sastra : Sistem Bahasa dan Konvensi Sastra
Faktor pertama dalam model semiotik sastra adalah bahasa
itu sendiri, sebagai sistem tanda yang kompleks dan
beragam. Model Abrams menyarankan penulis dan pembaca
dapat langsung berhadapan dengan karya sastra tanpa
halangan atau prasarana apapun juga. Ahli semiotik Jurij
Lotman mengatakan bahwa bahasa merupakan sistem
pembentuk model yang primer. Jadi yang mengikat baik
penulis maupun pembaca, tidak berarti bahwa keduanya
harus mengetahui bahasa yang di pakai dalam karya sastra,
tetapi juga dalam keistimewaan struktur bahasa itu sendiri. (
Paragraf 1 : 48)
Bahasa bukanlah satu-satunya kerangka acuan yang ada
antara karya pencipta dan pembaca. Sebab pemahaman karya
itu akan gagal apabila tidak akrab dengan konvensi
kesusastraan yang merupakan latar belakang karya itu.
(Paragraf 2 : 499 )
9. Pembaca sebagai Variabel Sosial dan Diakronis
Model Abrams penangkap atau penerima adalah abstraksi.
Fungsi sastra pembaca sebagai variabel. Setiap karya sastra
di baca, di nilai, di kecam oleh berbagai anggota masyarakat.
( Paragraf 1 : 49-50)
Dalam penelitian karya fungsi karya sastra ialah faktor
waktu. Faktor diakronis adalah sesuatu yang hakiki untuk
secara memahami dengan baik makna dan fungsi sebuah
karya sastra. Penelitian karya sastra tanpa memperhatikan
sejarah sastra dalam arti, tidak mungkin di lakukan secara
memuaskan. Karena sejarahlah yang memberikan dinamika
yang khas untuk karya sastra. (Paragraf 2 : 50 )
10. Bentuk Karya Sastra sebagai Variabel
Dalam sejarah sastra ternyata bahwa setiap karya sastra
berubah karena berbagai faktor. Variasi sebagai ciri khas
utama karya sastra. ( Paragraf 1 : 51 )
Variasi memainkan peranan yang penting dan khas dalam
hal sastra lisan, yang biasanya tidak di selamatkan dalam
bentuk tulisan. ( Paragraf 2 : 51)
11. Masalah Nilai dalam Model Semiotik Sastra
Penelitian nilai termasuk bidang estetika sebagai cabang
ilmu pengetahuan. Teori Mukarovsky yang dalam tahun
1934 telah membicarakan ‘art as a semiotic fact’ (
Mukarovsky 1978-88) akan dikembangkan berdasarkan
analisis situasi karya sastra dalam bab-bab sebelumnya. (
Paragraf 1 : 51-52)
Diharapkan model ini sedikit banyaknya sebagai
kesimpulan dari apa yang dikemukakan, khususnya
mengenai faktor-faktor yang ikut menentukan karya sastra
sebagai gejala semiotik. (Paragraf 2 : 52)
12. Beberapa Puitika Alternatif: Abad Pertengahan
Eropa, Cina, India, Arab
Beberapa puitika alternatif abad pertengahan Eropa, Cina,
India, Arab. Pertama-tama Eropa sendiri yang memberikan
pendekatan puitika abad pertengahan. Sastra Cina
mengemukakan bahwa pentingnya sastra sebagai kategori
naratif utama. Sementara India mengembangkan teori sastra
pada satu pihak yang menekankan pada bahasa puitik. Lain
lagi halnya dengan sastra Arab yang ditentukan oleh tiga
faktor: pertama, kedudukan Al-Qur’an; kedua, posisi bahasa
Arab dalam kebudayan Arab; ketiga, interaksi antara
pandangan orang Arab.
KOMENTAR:
Pada bab ini penulis banyak menggunakan istilah-istilah
bahasa yang sulit dipahami. Alangkah baiknya jika penulis
menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga
pembaca lebih mudah mengerti atau memahami materi yang
disajikan dalam bab ini.

BAB III KARYA 1 Bab III Bahasa Sastra sebagai bahasa khas : retorik, stilistika
SASTRA DAN Sarana bahasa yang dipakai dalam bahasa yang baik
BAHASANYA 70 termasuk penyimpanagan. Penyimpangan dari bahasa sehari-
1.Bahasa Sastra hari tidak dapat di cari dasar untuk membedakan sastra dari
sebagai Bahasa pemakaian bahasa yang lain. Namun keistimewaan bahasa
Khas:Retorik,Stilistik 73 sastra puisi tetap di teliti secara sistematik. Stilistik berusaha
2.Fungsi Bahasa yang menetapkan keistimewaan pemaakaian bahasa secara
Disebut Puitik dalam insidental, tetapi tidak berhasil.
Teori Jakobson 77
3.Penerapan dan 2) Fungsi bahasa yang disebut puitik dalam teori Jakobson
Penggarapan Teori Kaum Formalis tidak puas dengan penelitian sastra yang
Jakobson 79 bersifat sosiologik dan psikologik ataupun bersifat sejarah.
4.Kritik Riffaterre Para Formalis ingin kembali ke hakikat puisi yaitu
atas Pandangan pemakaian bahasa. Jakobson mengatakan puisi adalah
Jakobson 82 ungkapan yang terarah ke ragam melahirkannya. Sedangkan
5.Kritik Sosiologis fungsi puitik bahasa ialah pemusatan perhatian pada pesan
terhadap teori demi pesan itu sendiri, atau keterarahan ke pesan sendiri.
Jakobson:Mary Jakobson tentang pemakaian bahasa membedakan enam
Louise Pratt 84 fungsi bahasa, di antaranya fungsi puitik. Namun keenam
6.Teori Sastra Pratt 92 fungsi itu dominan. Jakobson membicarakan puisi sebagai
7.Beberapa bentuk sastrayang paling khas dan tipikal. Fungsi puitiklah
kesimpulan yang dominan. Jakobson juga menguraikan prinsip
konstitutif puisi ialah ekuivalensi. Dalam bahasa puitik
dipilih kemungkinan yang dari segi tertentu menonjolkan
ekuivalensi. Ekuivalensi itu dapat berwujud gejala yang
beranekaragam yaitu : bunyi, rima, aliterasi, asonansi dan
lain-lain.

3) Penerapan dan penggarapan teori Jakobson


Jakobson mengatakan prinsip ekuivalensi diangkat menjadi
sarana konstitutif urutan kata. Jakobson juga
mengembangkan teori kekhasan fungsi puitik dan prinsip
yang mendasari puisi,yang sekaligus menjadi kerangka
analisis struktural sebuah karya sastra seperti diterapkan oleh
kebanyakan peneliti. Fungsi puitik menjadi dominan dalam
sastra, namun tidak pernah berada dalam kedudukan
terisolasi.

4) Kritik Riffaterre atas pandangan Jakobson


Jakobson hanya memperhatikan aspek pragmatik dan
ekspresif. Sedangkan aspek referensial menurut beberapa
pengkritik di anggap enteng oleh Jakobson. Riffaterre
menentukan makna sebuah sajak ialah pembacanya,
berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca puisi. Sajak
adalah lebih dari struktur tata bahasa saja, tetapi sebagai
sarana komunikasi, yang berfungsi dalam konteks stilistik.
Riffaterre juga mengatakan kata-kata dalam konteks sajak
mendapat makna, jjustru dalam kontras dengan arti biasa.
Aspek puisi yang terpenting justru adalah ketegangan antara
mimetik unsur bahasa dan makna semiotiknya.

5) Kritik sosiologis terhadap teori Jakobson : Mary Louise


Prat
Pratt dalam judul bukunya sudah menjelaskan latar belakan
pendekatannya. Tuntunan dasar yang di ajukan adalah
wacana sastra harus dipandang sebagai pemakaian bahasa
tertentu, bukan sebagai ragam bahasa tertentu. Jadi tidak ada
bahasa puitik sebagai ragam bahasa khas, hanya ada
pemakaian bahasa yang khas, yang biasa kita sebut sastra.
Pandangan Pratt untuk penelitian sastra dan pemakaian
bahasa dalam sastra titik tolak penelitian ilmiah bergeser dari
pesan kepada pengirim, penerima dan konteks. Demikianlah
estetik bahasa dikembalikan ke tataran yang layak.
Dalam pendekatan ilmu bahasa yang terbaru ditentukan bahwa
konvensi pemakaian bahasa melingkupi jauh lebih banyak
dari hanya sistem tata bahasa dan makna leksikal saja.
Pemakaian bahsa dalam situasi tertentu sebagian besar
ditentukan oleh konvensi, kondisi dan aturan.
6) Teori sastra Pratt
Pratt meletakkan dasar untuk teori sastra yang tergantung
pada konteks . Beberapa konvensi yang penting, yang
berlaku dalam komunikasi kesusastraan yaitu :
a. Pembaca telah menerima peranan sebagai audience dalam
79 situasi menanggapi pesan sastra. Peran audience yang tidak
80 aktif ikut serta dalam komunikasi sudah tentu bukan peran
yang khas untuk komunikasi lewat sastra.
b. Pembaca yang mulai membaca karya sastra telah tahu
sebelumnya bahwa bacaan yang dihadapinya bukan
sembarang tulisan. Sebelum pembaca mulai membaca dia
sudah bersedia untuk menanggapi buku tersebut sebagai
roman modern.
c. Pratt membicarakan karya sastra yang di sebut tellability.
Tellability menjadi ciri khas sastra walaupun tidak secara
eksklusif. Dengan dua sifatnya yang khas, yang justru dalam
sastra sangat penting . Penyimpangan dalam roman modern
bukan hanya perkara permainan saja.
KOMENTAR:
Bahasa yang dipakai pengarang masih sulit dipahami karena
menggunakan bahasa yang terlalu baku sehingga pembaca
kesulitan dalam memahami isi materi.

BAB IV KARYA BAB IV Karya Sastra dan Sistem Sastra


SASTRA DAN Bahasa sebagai sistem semiotik primer
SISTEM SASTRA Menurut Pratt karya sastra adalah contextdependent
1.Bahasa sebagai 95 speech event, peristiwa ujaran yang tergantung pada konteks.
Sistem Semiotik Bahasa, sebelum dipakai penulis, sudah merupakan sistem
Primer tanda, sistem semiotik : setiap tanda, unsur bahasa itu
2.Karya Sastra dan 100 mempunyai arti tertentu, yang secara konvensi disetujui,
Konvensi budaya harus diterima oleh anggota masyarakat, dan yang mengikat
3.Konvensi Sastra 100 mereka, tidak hanya dalam artian bahwa tanda itu
4.Masalah 103 merupakan berian. Sutardji Calzoum Bachri memberontak
Kompetensi terhadap kungkungan perlengkapan konseptual yang terasa
Kesastraan dengan seakan-akan dipakasakan dan membebaskan kebebasan
contoh Konvensi penciptanya
Puisi Lirik(Culler) Kita semua mempunyai sistem bahasa, yang antara
5.Masalah Jenis 107 lain merupakan sistem kemaknaan yang berbeda-beda
Sastra:Teori menurut bahasa yang dipakai sebagai anggota sebuah
Aristoteles masyarakat. Sastra disebut Lotman sistem tanda sekunder
6.Strukturalisme dan 110 yang membentuk model, yaitu yang tergantung pada sistem
Masalah Jenis Sastra primer yang diadakan oleh bahasa, dan yang hanya dapat
7.Masalah Sistem 113 dipahami dalam hubungannya dan seringkali dalam
Sastra pertentangannya dengan sistem bahasa. Susunan bahasa
8.Masalah Sistem 116 menentukan segala sistem semiotik oleh karena seni adalah
Sastra Universal satu diantara sistem semiotik itu, kita tahu pasti bahwa kita
9.Kesimpulan 119 akan menemukannya di dalamnya cap dari bentuk-bentuk
abstrak bahasa itu. Latar belakang yang sama kita lihat pula
dalam pertentangan antara meaning dan significance yang
telah dikutip dari tulisan Riffaterre sebagai prinsip semiotik
sastra yang penting.

2) Karya sastra dan konvensi budaya


Cuhler membicarakan masalah kode kultural.
Masalahnya memang penting, khususnya pula untuk
penelitian sastra Indonesia tradisional, tetapi tidak mungkin
kita membicarakannya dengan panjang lebar dalam rangka
ini. Dikatakan bahwa pemisahan konvensi budaya dari
konvensi bahasa dan sastra ataupun sosiolinguistik seringkali
tidak mungkin atau tidak mudah dilaksanakan.

3) Konvensi sastra
Madame de Stael telah menjadi penindasan universal,
jadi konvensi dialami sebagai ikatan, kungkungan yang
daripadanya kita harus membebaskan diri. Tetapi ironisnya
pengakuan konvensi dalam sejarah bertepatan dengan
penolakannya. Tetapi betapa kuat kita menentang adanya
dan perlunya konvensi, sastra dan seni selalu berada dalam
ketegangan antara aturan dan kebebasan.

4) Konvensi itu sangat berbeda-beda sifatnya, ada yang


sangat umum, ada pula yang sangat khas dan spesifik.
Culler menyatakan bahwa karya sastra mempunyai
struktur dan makna dalam kaitannya dengan suatu perangkat
konvensi sastra, kompetensi kesastraan yang harus dikuasai
oleh pembaca. Culler menyatakan sajak adalah pengutaraan
yang mendapat arti hanya dalam kaitannya dengan sistem
konvensi yang diakrabkan oleh pembaca. Competence
adalah perangkat konvensi untuk membaca teks sastra. Dan
ilmu sastra,puitik justru harus meniliti sistem yang
mendasari karya,yang memungkinkan efek kesastraan.
Tradisi yang kuat dalam puisi dalam dunia barat
memakai kata-kata deiktik yang bersifat keruangan,
kewaktuan,dan keorangan untuk memaksa pembaca agar
membina persona yang meditatif, perenung. Kata deitik
adalah kata yang referenya berganti-ganti,tergantung siapa
yang menjadi pembicara dan tergantung pada saat dan
tempat di tuturkannya kata itu. Oleh Culler organic wholes,
keseluruhan yang organik: harapan koherensi dan kebulatan
makna menentukan kegiatan penafsiran pembaca. Konvensi
puisi lirik yang dibicarakan Culler disebut tema dan
perwujudan: yaitu konvensi signivicance, makna yang
relevan(yang sudah tentu erat hubungannya dengan konvensi
kedua).
Puisi lirik yang pada lahirnya dapat kita baca sebagai
peristiwa insidental atau pengalaman individual. Khasus
khas dari konvensi ini ialah bahwa puisi sering kali
mengambil relevansinya dari maknanya sebagai perenungan
atau pengamatan mengenai masalah itu sendiri. Justru ilmu
sastra bertugas untuk menentukan setepat mungkin
keseluruhan konvensi sastra yang merupakan sistem sastra
dalam sebuah bahasa.

5) Masalah jenis sastra : teori Aristoteles


Teori Aristoteles berdasarkan sastra Yunani
klasik,yaitu satu-satunya sastra yang dikenalnya. Sarana
perwujudannya ada dua prosa dan puisi. Sedangkan objek
perwujudannya ada tiga: manusia rekaan lebih agung dari
pada manusia nyata, manusia rekaan lebih hina dari pada
manusia nyata, manusia rekaan sama dengan manusia nyata.
Ragam perwujudannya ada tiga yaitu teks sebagian terdiri
dari cerita, yang berbicara si aku lirik penyair, dan yang
berbicara para tokoh saja.

6) Strukturalisme dan masalah jenis sastra


Formalis Rusia mengakui dinamika sistem jenis
sastra yang terus bergeser dan berubah. Pemikiran ini
dilanjutkan oleh golongan baik di Praha dan Prancis.
Menurut pendekatan ini karya sastra merupakan aktualisasi
sebuah perangkat konvensi, aktualisasi yang sekaligus
memenuhi harapan pembaca dan melangarnya karna inovasi.
Culler pada asasnya fungsi konvensi jenis sastra ialah
mengadakan perjanjian antara penulis dan pembaca, agar
terpenuhi harapan tertentu yang relevan,dan dengan
demikian dimunkinkan sekaligus panyesuaian dan
penyimpangan dari ragam keterpahaman yang telah diterima.
Todorov menyatakan setiap karya agung menetapkan
terwujudnya dua jenis, kenyataan dua norma: norma jenis
yang dilampoinya,yang menguasai sastra sebelumnya dan
norma jenis yang diciptakannya. Karya sastra yang agung
justru dengan melampoi batas yang berlaku membuka
kemungkinan baru untuk perkembangan jenis sastra.
Penelitian sistem jenis sastra tidak ada garis pemisah yang
jelas antara pendekatan diakronik dan sinkronik:karya sastra
selalu berada dalam ketegaan dengan karya-karya yang
diciptakan sebelumnya.

7) Masalah sistem sastra


Tentang sistem sastra dapat dikatakan sebagai
berikut:
a. Sistem itu tak dapat bersifat longgar, lincah. Oleh
karna karya sastra ditandai oleh penyimpangan dan
pelanggaran terhadap norma-norma. Ketegangan antara
norma sastra yang kolektif dan penyimpangan individual
adalah ciri khas sistem sastra demikian pula merupakan ciri
khas individual karya itu sendiri.
b. Perbedaan antara diakronik dan sinkronik yang cukup
mendasar untuk konsep sistem bahasa. Sistem sastra secara
prinsip mengabungkan unsur diakronik dan sinkronik.
Sebuah sastra dalam manifestasi kongkret dalam sebuah
bahasa pasti sedikit banyak menunjukkan unsur-unsur
sistematiknya.

8) Masalah sistem sastra universal


Pendekatan Aristoteles yang pembagian utamanya
epik lirik-drama sebagai bentuk sastra utama mengenai
sastra. Sastra bukanlah tumpukan karya,melainkan kata-
kata. Eliot mengatakan monumen sastra yang ada
mewujudkan tata susun yang ideal satu sama lain,jadi
bukanlah hanya merupakan kumpulan karya sejumlah
individu.
KOMENTAR:
Bahasa yang dipakai pengarang sangat sulit dipahami
sehingga pembaca merasa bosan.

BAB V KARYA V. KARYA SASTRA SEBAGAI STRUKTUR:


SASTRA SEBAGAI STRUKTURALISME
STRUKTUR:
STRUKTURALISME 1. Teori Aristoteles Mengenai Struktur Karya Sastra
1.Teori Aristoteles 120 Empat pendekatan terhadap karya sastra yang
Mengenai Struktur disarankan oleh model Abrams yang pada prinsipnya
Karya Sastra sesuai dengan model semiotik lain, yaitu pendekatan
2.Struktur Karya 123 obyektif, ekspresif, pragmatik, dan mimetik. Yang
Sastra dan Lingkaran akan diteliliti saat ini adalah pendekatan obyektif.
Hermeneutik Pendekatan obyektif yaitu pendekatan yang
3.Kekurangan Minat 125 menekankan karya sastra sebagai struktur yang
untuk Struktur Karya sedikit banyaknya bersifat otonom.
Sastra pada Abad Ke- Pendekatan obyektif sesungguhnya sama
19 tuanya di dunia Barat dengan puitik sebagai cabang
4.Munculnya Minat 127 ilmu pengetahuan. Aristoteles dalam bukunya yang
untuk Struktur Karya berjudul Poetica, meletakkan dasar yang kuat untuk
Sastra pandangan yang menganggap karya sastra sebagai
5.Aliran Formalis di 128 struktur yang otonom.
Rusia Masalah struktur karya sastra dibicarakan
6.Pendekatan 132 dalam rangka pembahasan tragedi, khususnya dalam
Struktural dan pasal-pasal mengenai plot. Menurut pandangan
Gerakan Otonomi Aristoteles dalam tragedi action, tindakan, bukan
7.Tentang Analisis 135 character, watak, yang terpenting. Efek tragedi
Struktur Karya Sastra dihasilkan oleh aksi plotnya, dan untuk menghasilkan
8.Empat Kelemahan 139 efek yang baik plot harus mempunyai keseluruhan,
Strukturalisme wholeness; untuk itu harus dipenuhi empat syarat
Khususnya New utama, yang dalam terjemahan Inggris disebut order,
Criticsm. Konsep amplitude, atau complexity, unity and connection atau
Struktur coherence.Order berarti urutan dan aturan: urutan
aksi harus teratur, harus menunjukkan konsekuensi
dan konsistensi yang masuk akal. Amplitude (atau
complexity) berarti bahwa luasnya ruang lingkup dan
kekelompokan karya harus cukup unttuk
memungkinkan perkembangan peristiwa yang masuk
akal ataupun yang harus ada untuk menghasilkan
peredaran dari nasib baik ke nasib buruk ataupun
sebaliknya. Unity berarti bahwa semua unsur dalam
plot harus ada, tak mungkin tiada, dan tak bisa
bertukar tempat. Connection atau coherence berarti
bahwa sastrawan tidak bertugas untuk menyebut hal-
hal yang sungguh terjadi, tetapi hal-hal yang
mungkin atau harus terjadi.
Jadi, keteraturan atau susunan plot yang
masuk akal, ruang lingkup yang cukup luas, kesatuan
dan keterkaitan plot disebut Aristoteles sebagai syarat
utama, khususnya untuk tragedi; tetapi syarat yang
sama pada prinsipnya berlaku pula untuk epik dan
untuk seni kata umumnya.
Konsepsi Aristoteles mengenai wholeness,
unity, complexity, coherence seluruh plot tidak
pernah menghilang lagi dalam dunia sastra Barat, dan
dipegang serta dipertahankan dengan cukup setia
baik oleh penulis maupun oleh pembaca Barat,
sebagai konvensi dasar seni sastra.

2. Struktur Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik


Hermeneutik adalah ilmu atau keahlian
menginterpretasi karya sastra dan ungkapan bahasa
dalam arti yang lebih luas menurut maksudnya.dalam
praktek interpretasi sastra lingkaran itu dipecahkan
secara dialektik, bertangga, dan lingkarannya
sebenarnya bersifat spiral: mulai dari interpretasi
menyeluruh yang bersifat sementara kita berusaha
untuk menafsirkan anasir-anasir sebaik mungkin;
penafsiran bagian-bagian pada gilirannya
menyanggupkan kita untuk memperbaiki pemahaman
keseluruhan karya, kemudian interpretasi itulah pula
yang memungkinkan kita untuk memahami secara
lebih tepat dan sempurna bagian-bagiannya, dan
seterusnya; sampai pada akhirnya kita mencapai taraf
penafsiran di mana diperoleh integrasi makna total
dan makna bagian yang optimal.
Kalau seorang pembaca tidak berhasil
mencapai interpretasi integral dan total, tinggal hanya
dua kemungkinan: karya itu gagal, atau pembaca
bukan pembaca yang baik.
3. Kekurangan Minat untuk Struktur Karya Sastra pada
Abad ke-19
Pendekatan yang diutamakan dalam ilmu
sastra abad ke-19 itu ialah sejarah sastra yang juga
sering mengabaikan karya sebagai keseluruhan
makna: pada abad itu pula segala bidang ilmu
kemanusiaan berorientasi sejarah: benntuk bahasa
purbalah yang dilacak, misalnya bahasa Indo-Eropa,
bahasa Austronesia purba dan lain-lain. Dengan
sendirinya ilmu bahasa menjadi cukup anomis, lebih
memperhatikan sejarah unsur-unsur bahasa (bunyi,
awalan atau akhiran, etimologi kata tertentu)
daripada bahasa sebagai totalitas.
Yang populer pada abad ke-19 ialah
pendekatan yang melihat sastra pertama-tama sebagai
sarana untuk memahami aspek-aspek kebudayaan
yang lebih luas, terutama agama, sejarah atau aspek
kemasyarakatan. Itupun dapat diperlihatkan di bidang
studi sastra Indonesia, mulai dalam abad ke-19
sampai jauh kedalam abad ini: hal itu diakibatkan
atau diperkuat lagi oleh karena peneliti sastra sering
kali bekerja selaku penyebar agama, penerjemah Al-
Kitab, arkeolog atau sejarawan ataupun pegawai
pamong praja.
4. Munculnya Minat untuk Struktur Karya Sastra
Di bidang ilmu bahasa telah disebut nama
Ferdinand de Saussure, yang membawa perputaran
perspektif yang cukup radikal dari pendekatan
diakronik ke pendekatan sinkronik; penelitian bahasa
menurut pendapat ini harus mendahulukan bahasa
sebagai sistem yang sinkronik; makna dan fungsi
unsur-unsurnya hanya dapat dipahami dalam
keterkaitannya dengan unsur-unsur lain; sifat utama
bahasa sebagai sistem tanda ialah sifat relasionalnya,
yang berarti bahwa keseluruhan relasi atau oposisi
antara unsur-unsur dan aspek-aspeknya harus diteliti
dan dipahami lebih dahulu; baru kemudian secra
efektif dapat ditelusuri perubahannya dalam sejarah.
Di bidang antropologi budaya pendekatan
struktural juga muncul pada awal abad ini, dengan
peneliti Prancis seperti Durkheim dan Mauss sebagai
pelopornya. Di bidang studi antropologi (pada waktu
itu disebut etnologi atau dalam bahasa Belanda
volkenkunde) mengenai Indonesia aliran strukturalis
secara cukup menonjol diwakili oleh J.P.B. de
Josselin de Jong dan W.H. Rassers, dengan murid-
muridnya yang merupakan mazhab Leiden, yang
hasil-hasilnya mencapai taraf internasional.

5. Aliran Formalis di Rusia


Di bidang ilmu sastra penelitian struktural
dirintis jalannya oleh kelompok peneliti Rusia antar
1915-1930. Mereka biasanya disebut kaum Formalis,
dengan tokoh utama Jakobson, Shklovsky,
Eichenbaum, Tynjanov, dan lain-lain.
Penting disadari bahwa formalis sebagai ahli
dan pengkritik sastra sangat erat hubungannya
dengan aliran puisi modern di Rusia, khususnya
dengan penyair Mayakowsky dan aliran Futurisme.
Menurut kata Eichenbaum : “Zwischen der formalen
Methode und dem Futurismus herrschte ein
wechselseitiges geschichtliches Einverstandnis”
(dalam Striedter 1971:XV : antara metode formalis
dan aliras futuris terdapat persesuaian paham timbal
balik yang bersejarah; lihat pula Erlich 1965:45 dan
seterusnya).
Pada awalnya para formalis pertama-tama
ingin membebaskan ilmu sastra dari kungkungan
ilmu-ilmu lain, misalnya psikologi, sejarah atau
penelitian kebudayaan. Mereka mencari ciri khas
yang membedakan sastra dari ungkapan bahasa lain.
Yang penting menurut kaum Formalis ialah dalam
bahasa Rusia priem, devices, prosede atau sarana-
sarana yang secara distinktif dimanfaatkan oleh
penyair: sarana di bidang bunyi (rimma, matra,
irama, aliterasi dan asonansi), tetapi pula dibidang
morfologi, sintaksis dan semantik.
Karya sastra seluruhnya dipandang sebagai
tanda, lepas dari fungsi referensial atau mimetiknya.
Maka itu peneliti sastra pertama-tama bertugas untuk
meneliti struktur karya sastra yang kompleks dan
multidimensional, dimana setiap aspek dan anasir
berkaitan dengan aspek dan anasir lain yang
semuanya mendapat makna penuhnya dari fungsinya
dalam totalitas karya itu. Konsep yang sangat penting
dalam pandangan para formalis adalah konsep
dominan,t ciri menonjol atau utama: menurut
pendapat dan pengalaman mereka dalam sebuah
karya sastra aspek bahasa tertentu secara dominan
menentukan ciri-ciri khas hasil sastra itu, misalnya
rima ataupun matra, atau aspek apapun juga,
sehingga dalam analisis dan interpretasi karya sastra
aspek dominan itulah yang harus ditekankan,
sedangkan aspek-aspek lain sering kali menyangka
hal yang dominan itu.
Demikianlah aliran formalis cepat
berkembang ke arah strukturalis. Karya sastra
sebagai struktur menjadi sasaran utama ilmu sastra.
Mereka tidak membatasi diri pada studi puisi yang
pada awalnya terutama menarik minatnya; misalnya
dalam penelitian struktur naratif dalam roman atau
cerita pendek Shklovsky mengembangkan oposisi
antara fabel (fabula) dan plot (sjuzet) sebagai sarana
penelitian yang sangat penting.
Penyimpangan karya sastra memiliki dua
aspek; secara sinkronik, karya sastra menyimpang
dari bahasa sehari-hari. Secara diakronik, karya sastra
tidak hanya menyimpang dari bahasa sehari-hari,
tetapi pula dari karya sastra sebelumnya.
6. Pendekatan struktural dan gerakan otonomi
Kritik sastra harus berpusat pada karya sastra
itu sendiri, tanpa memperhatikan penyair sebagai
pencipta atau pembaca sebagai penikmat. Lodge
yang pertama kali membantah salah paham seakan-
akan pengkritik sastra berurusan dangan niat
pembaca yang tersedia baginya hanya meaning,
makna karya itu dan hanya itulah yang dapat
dipahami ataupun dikuasainya. Warren dalam
pendekatan ekstrinsik terhadap karya sastra pada
prinsipnya ditolak karena dianggap kurang tepat,
yang perlu adalah pendekatan instinsik yang
menekankan struktur karya sastra itu sendiri.
7. Tentang analisis struktur karya sastra
Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan
memaparkan secermat, seteliti, semenditel dan
mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan
semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-
sama menghasilkan makna menyeluruh. Pada sebuah
sajak atau roman pun tidak cukup semacam
enumerasi gejala-gejala yang berhubungan dengan
aspek waktu, ruang, perwatakan, point of view dan
sorot balik. Setiap karya sastra memerlukan metode
analisis yang sesuai dengan sifat dan strukturnya.
Perbedaan analisis tidak hanya tergantung pada tebal
tipisnya sebuah karya sastra.
8. Empat kelemahan strukturalisme khususnya New
Criticism.
Konsep struktur Kelemahan pendekatan
struktural terutama berpangkal pada empat hal yaitu:
a. New criticism dan analisis struktur karya sastra
secara umum merupakan teori, bahkan ternyata
merupakan bahaya untuk mengembangkan teori
sastra yang sangat perlu.
b. Karya sastra tidak dapat diteliti secara terasing,
tetapi harus dipahami dalam rangka sistem sastra
dengan latar belakang sejarah.
c. Adanya struktur yang objektif pada karya sastra
makin disangsikan, peranan pembaca selaku
pemberi makna dalam interpretasi karya sastra
makin ditonjolkan dengan segala konsekuensi
untuk analisis struktural.
d. Analisis yang menekankan otonomi karya sastra
juga menghilangkan konteks dan fungsinya,
sehingga karya itu kehilangan relevansi sosialnya.
Culler sastra itu sendiri merupakan eksplorasi dan
perenungan yang terus menerus mengenai pemberian
makna dalam segala bentuknya, penafsiran
pengalaman, komentar mengenai keberlakuan
berbagai cara menafsirkan pengalaman.
9. Pasca-strukturalisme
Srukturalisme menitik beratkan struktur karya
individual mengabaikan hakikat ilmu sastra.
Pendekatan pasca-strukturalisme menunjukkan
perbedaan paham adalah keterpercayaan terhadap
bahasa: bahasa tidak mungkin mencerminkan
kenyataan, atau tidak mungkin dicek berdasarkan
kenyataan. Pemakaian bahasa dalam teks
menciptakan sebuah kenyataan yang hanya terdiri
dari dan dalam bentuk bahasa, sebagai dunia tanda.
10. Prinsip intertekstualitas atau hubungan antar teks
Prinsip utama karya sastra adalah
intelektualitas. Prinsip ini berarti bahwa setiap teks
sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang
teks-teks lain. Culler menyatakan setiap teks
terwujud sebagai mosaik kutipan-kutipan, setiap teks
merupakan peresapan dan transformasi teks-teks lain.
Konsep intertektualitas memainkan peranan yang
sangat penting dalam semiotik sastra, tidak hanya
dalam usaha untuk sekedar memberi interpretasi
tertentu terhadap karya sastra yang konkrit.
11. Kenisbian konsep struktur, peranan pembaca selaku
pemberi makna
Prinsip intertektualitas mempunyai
konsekuensi untuk pandangan ilmiah terhadap
struktur karya sastra. Antara analisis struktural yang
obyektif dengan interpretasi makna karya sastra yang
tergantung pada pembaca ternyata juga tidak tepat.
Antara analisis struktural dengan interpretasi ada
hubungan dialektik seperti antara bagian-bagian dan
keseluruhan sebuah teks dan pembaca. Praha diwakili
oleh aliran estetik resepsi, yang dipelopori oleh Hans
Robert Jausz. Aliran ini mempunyai latar belakang
ilmiah yang lain sekali, tetapi mereka mempunyai
latar belakang ilmiah yang lain sekali, tetapi
merekapun menekankan peranan pembaca selaku
pemberi makna, sehingga konsep struktur dinisbikan
artinya untuk ilmu sastra.
12. Analisis struktur dan fungsi kemasyarakatan karya
sastra
Foulkes dianggap pula eliter untuk karya
sastra dalam praktek berarti melepaskan karya dari
fungsi dan relevansi sosialnya. Foulkes menyatakan
aliran formalis dapat memberi sumbangan pada cara
memandang yang menghilangkan makna yang
sungguh-sungguh baik pada karya sastra, maupun
pada peristiwa yang nyata. Menurut Foulkes
pendekatan strukturalis malahan dimanfaatkan oleh
kekuasaan yang ada pada golongan elit untuk
menindas revolusi sosial, emansipasi wanita, orang
hitam dan lain-lain.
Bagi Foulkes tidak dapat disaksikan bahwa
pendekatan obyektif, dengan istilah Abrams, tidak
mungkin dan tidak boleh dilakukan. Oleh karena
pada prinsipnya interprestsi sebuah karya hanya
dapat diberikan dalm rangka model semiotik yang
total. Disamping faktor setruktur, khususnya faktor
mimetik dan pembaca harus diberi tempat yang
selayaknya dalam proses pemberian makna.
Keberatan kritik Foulkes terhadap setrukturalisme
menekankan aspek mimetik, yaitu keterkaitan antara
kenyataan dan karya seni. Penekanan aspek mimetik
tidak berarti bahwa analisis karya tidak dianggap
penting atau layak lagi.
13. Strukturalisme Genetik
Menurut Goldmann stuktur kemaknaan itu
mewakili pandangan dunia penulis, tidak sebagai
individu, tetapi sebagai wakil golongan
masyarakatnya . Maka itu varian stukturalis
Goldmann disebut strukturalis genetik yang
menerangkan karya dari homologi, persesuaiannya
dengan struktur sosial.
KOMENTAR:
Dalam bab ini pengarang memaparkan sastra lebih rinci
sehingga buku ini bagus digunakan oleh mahasiswa.

BAB VI PENULIS VI. PENULIS DALAM MODEL SEMIOTIK


DALAM MODEL 1. Longinus dan aspek ekspresif karya sastra
SEMIOTIK Puitik Aristoteles ditekankan terutama dua
1 Lingius dan Aspek 155 faktor model semiotik yaitu karya sastra sebagai
Ekspresif Karya stuktur yang menyeluruh dan karya sastra dalam
Sastra hubungannya dengan kenyataan. Ars poetica
2.Abad Pertengahan: 157 menekankan aspek pragmatik: sastra harus memberi
Manusia Selaku manfaat dan nikmat. Menurut Longinus yang
Pencipta meneladani merupakan syarat mutlak dan paling penting untuk
Ciptaan Tuhan penciptaankarya yang agung, tetapi gagasan itu
3.Pengakuan 160 seolah-olah tengelam berabad-abad lamanya. Abrams
Augustinus dan menyatakan tidak ada yang sama banyaknya
Rosseau menghasilkan keagungan seperti emosi mulia pada
4.Seniman selaku 163 tempat yang tepat, emosi mengilhami dan merasuki
Pencipta di Zaman kata-kata dengan semacam keedanan dan semangat
Roantik ilahi.
5.Puisi Lirik Jenis 165 2. Abad pertengahan: manusia selaku pencipta
Sastra Utama pada meneladan ciptaan Tuhan
Zaman Romantik Menurut Jausz karya seni diangap sebagai
6.Menghilangnya 169 tekhne, kepandaian atau kemahiran yang memang
Penulis dalam Sastra tinggi. Namun selalu harus ditempatkan alam
Naratif menjadi taladan, yang mau tak mau harus diikutu
7.Masalah 172 seniman. Menurut sejarahnya penciptaan puisi dan
Pemahaman Teks dan seni dapat diperikan sebagai perwujudan gagasan
Minat Penulis: manusia selaku pencipta, yang berkembang secara
Gadamer Lawan berangsur-angsur. Dalam rangka peneladanan alam,
Hirsch maupun dalam dunia masehi manusia hanya sebagai
8.Kritik Mutakhir 176 pembantu dan hamba tuhan. Jausz menyatakan
Terhdap Penghilang penyair menjadikan baik alam kedua, maupun juga
Penulis Juhl bermacam-macam peruntungan, serta akhirnya
menjadikan diri seperti tuhan kedua.
3. Pengakuan Augustinus dan pengakuan Rousseau
Jausz menyebut empat pokok perselisihan antara dua
pandangan tersebut yaitu:
a. Dalam confessiones Augustinus manusia
digambar sebagai hamba yang takluk pada tuhan.
Riwayat hidupnya hanya bertujuan untuk
menghilangkan dirinya. Dalam les confessions
Rousseau manusia adalah otonom, hanya takut
pada hukum sendiri. Tujuan riwayat hidup adalah
penemuan dan pengunkapan diri manusia yang
unik.
b. Augustinus mempertentangkan tuhan yang tak
berubah, tetapi yang mengubah segala sesuatu
dalam alam semesta dengan riwayat manusia
yang terpecah antara yang dahulu dan masa kini,
akibat dosanya manusia kehilangan keutuhannya.
Sedangkan Rousseau mengajukan keutuhan dan
keatuan riwayat hidup manusia, pada asalnya
manusia tidak berdosa, hanya masyarakatlah yang
merusak dunia manusia.
c. Augustinus mempertentangkan tuhan yang abadi,
yang tak terikat pada waktu dan tempat, dengan
manusia yang tak sempurna dan yang ingatannya
dan pengetahuannya fragmentaris saja. Bagi
Rousseau manusia sebagi individu mempunyai
pengalaman dan penghayatan menyeluruh,
melalui daya imajinasinya ia berhasil
membayangkan keunikannya yang menjadi
kebangaannya.
d. Kata Augustinus Tuhan Yang Maha Tahu,
sedangkan manusia tidak mengenal dirinya.
Tetapi bagi Rousseau manusia tahu beres, dialah
maha tahu, dia dapat membenarkan dirinya
sendiri.
Kesimpulan Jausz adalah makin banyak dan
jelas manusia mengarahkan diri ke tujuan
otonominya dan mulai mendasar kediriannya yang
sejati dalam keindividuannya, (jadi tidak lagi mencari
dirinya dalam ke-Kau-an Khaliknya yang asing),
makin banyak pula pengalaman estetik merebut
predikat-predikat identitas Ilahi, lantas
menciptakannya kembali menjadi tolak ukur
pengalaman dirinya sendiri, yang secara kesastraan
terjelma dalam bentuk dan tuntutan otobiografi
modern.
4. Seniman selaku pencipta di zaman romantik
Perkembangan puisi dan puitik dengan
sangat indah dipaparkan oleh Abrams untuk puisi
Inggris, dalam bukunya yang berjudul The Mirror
and the Lamp, dengan subjudul: Romantic theory and
the critical tradition (Teori romantik dan tradisi
kritik dan ilmu sastra). Abrams menekankan bahwa
di zaman manapun juga teori mengenai budi (mind)
dan teori seni cenderung untuk berkaitan padat, dan
keduanya memanfaatkan analogi yang serupa, baik
eksplisit ataupun secara tersembunyi: “for the
representative eighteenth-century critic the
perceiving mind was a reflector of the external
world; the inventive process consisted in a
reassembly of ‘ideas’ which were literally images, or
replices of sensation; and the resulting art work was
itself comparableto a mirror percenting a selected
and ordered image of life. By substitusing a
projective and creative mind and consonantly, an
expressive and creative theory of art, various
romantic critics reserved the basic orientation of all
aesthetic philosophy” (Abrams 69: bagi pengkritik
seni yang terkemuka dalam abad ke-18 budi
pengamat, mencerminkan dunia luar; proses inventif
terdiri atas perakitan kembali ide-ide yang secara
harfiah merupakan imaji atau bayangan pengalaman
indria; dan karya seni yang dihasilkan sendiri dapat
dibandingkan dengan cermin yang menyajikan imaji
kehidupan yang terpilih dan teratur. Dengan
menggantikan gagasan ini dengan budi yang
memproyeksikan dan menciptakan dan, sesuai
dengan itu, sebuah teori seni ekspresif dan kreatif,
berbagai pengkritik romantik memutarbalikkan
orientasi mendasar segala teori estetika).
Yang indah hanya yang baru dan yang baru
lebih baik daripada yang lama. Itulah semboyan seni
sejak awal abad ke-19, dan pandangan ini menjadi
stereotip dalam kebudayaan Barat modern, seperti
dalam dunia periklanan yang gaya dan citranya juga
telah merebut pasar di Indonesia; misalnya dengan
bir baru yang baru bir (yang baik). Individualisme,
orisinalitas, kreativitas, jenialitas, semuanya adalah
konsep dan istilah yang membayangkan visi manusia
modern terhadap seni.
5. Puisi Lirik Jenis Sastra Utama pada Zaman Romantik
Bagi Aristoteles, dalam penciptaan teori
sastra, tragedi menjadi model sastra utama, sebab
zaman keemasan kebudayaan Athena tragedilah yang
paling populer dan tinggi nilainya, dengan penulis
drama seperti Aechylus, Sophocles, dan Euripides.
Demikian Horatius menulis ars poeticanya yang
cenderung ke pendekatan pragmatik pada waktu
retorik menjadi maha penting dalam kebudayaan
Roma.
Beberapa definisi puisi atau tugas penyair dari
masa romantik Inggris yang diambil dari buku
Abrams dapat menjelaskan visi, baik pada para
penyair sendiri maupun pada pengkritiknya: ucapan
Wordsworth dari tahun 1800 malahan sering kali
dikutip sebagai awal mulanya puisi dan puitik
romantik Inggris: “Poetry is the spontaneous
overflow of powerful feelings” (puisi adalah peluapan
spontan dari perasaan yang kuat). Atau “Poetry is
feeling, confessing itself to itself in moments of
solitude... All poetry is of the nature of soliloquy”
(John Stuart Mill, dalam Abrams: 25: puisi adalah
perasaan, mengaku diri kepada dirimya pada saat-
saat kesunyian... Semua puisi bersifat cakap tunggal).
Penyair yang lahir sebagai penyair (poets
born), dinilai jauh lebih tinggi daripada penyair yang
dibuat (poets made). Yang tipikal pula bagi puisi dan
penyair romantik ialah kesunyiannya.
Diantara para Pujangga Baru terutama
Tatengkeng, Sanusi Pane dan Amir Hamzah
mewakili aliran yang menitikberatkan yang penyair
yang menjelmakan gerak jiwanya ke Indah kata,
dengan parafrase sebuah sajak Tatengkeng.
Dengan kata lain citra penyair di Indonesia
masihtetap bersifat romantik terutama dalam kritik
dan tulisan pupuler mengenai puisi. Identifikasi
penyair dengan tokoh ciptaannya adalah pendirian
atau anggapan yang khas romantik. Mengungkapkan
isi hati, perasaan dan keterharuan, rasa sunyi, dalam
bentuk puisi adalah kegiatan manusia muda yang
dianggap wajar dalam situasi sastra di Indonesia;
walau disini pun orang harus hati-hati, sebab sukarlah
dipastikan sejauh mana puisi pemuda itu memang
pelepasan jiwa yang spontan dan sejati, dan sejauh
mana puisi itu merupakan konfensiyang telah
menjadi adat kebiasaan.
6. Menghilangnya Penulis dalam Sastra Naratif
Di Rusia aliran puisi Futuris menekankan
bahasa sebagai alat, bukan penyair lagi, dan
dilahirkan pendekatan formalis; di Eropa Barat aliran
sastra lain menggantikan ekspresionis: para realis dan
naturalis menonjolkan kenyataan, yang memerlukan
pendekatan kritik sastra dan ilmiah yang bersifat
mimetik. Penulis tidak hanya cenderung untuk
menghlang dan menghilangkan diri dari teksnya;
ilmu sastra pun berusaha untuk meniadakan si
penulis sebagai faktor dalam proses semiotik.
Usaha lain kearah yang sama keliatan dalam
teori struktur dan teknik naratif; antara teori sastra
dan praktek sastra. Oleh karena pandangan modern
penulis harus menghilang dari karyanya, maka
hubungan antara penulis roman dan cerita
dipermasalahkan: diadakan jarak antara penulis dan
juru kisah dalam cerita. Henry James, penulis roman
Amerika Serikat, juga secara teori mendalami
masalah point of view yang mendasar bagi karya-
karyanya. Dan seorang ahli sastra yang sangat
mengagumi karya sastra James Percy Lubbock
menulis buku dengan judul Kepandaian Menulis
Fiksi yang memusatkan perhatiannya pada masalah
poin of view, dan membandingkan sejumlah roman
terkenal dan sastra dunia.
7. Masalah Pemahaman Teks dan Niat Penulis:
Gadamer Lawan Hirsch
Hans-Georg Gadamer adalah seorang ahli
pikir, ia mengatakan bahwa teks tertulis adalah
pemakaian bahasa dengan ciri khas, dimana teks
tertulis demi ketertulisannya mempunyai kehiduan
sendiri, lepas dari penulis maupun pembaca. Dan
interpretasi itu oleh seorang pembaca tak dapat
berarti pemberian makna sesuai situasi si pembaca.
8. Kritik Mutakhir terhadap Penghilangan Penulis: Juhl
Juhl mempertahankan tiga dalil atau tuntutan,
yang berkaitan satu sama lai, yaitu:
a. Ada perkaitan logis, dimana dalam
memahami karya sastra berarti
memahami pula apa yang diniatkan
penyampaiannya oleh penulis.
b. Penulis yang nyata bertanggung
jawab atas proposisi yang diajukan
dalam karyanya.
c. Karya sastra hanya mempunyai satu
arti.
Ambiguitas dalam karya sastra justru built-in
sebagai ciri khasnya, dan sudah tentu potensi itu
dimanfaatkan sepenuhnya oleh penulis dan pembaca.
9. Kesimpulan
Pembaca karya sastra, berdasarkan model
semiotik, berada dalam berbagai tegangan: pertama-
tama tegangan antar sistem bahasa penerapan sistem
itu secara individual, yang tidak seluruhnya
ditentukan oleh struktur bahasa; kedua tegangan antar
sistem sastra dan karya individual, yang pada satu
pihak merupakan perwujudan sistem sastra,
penerapan konvensi dan kompetensi yang
dikuasainya, tetapi sekaligus merupakan
penyimpangan dari dan pemberontakan terhadap
sistem itu, sehingga pembaca terus-menerus dikian-
kemarikan antara sistem dan karya individual,
dengan segala konsekuensinya.
Komentar: kelebihan dari buku ini adalah, penulis
menjelaskan sub-sub judul dari bab ini dengan cukup jelas.
Mulai dari sub judul awal, hingga sub judul terakhir, kecuali
pada sub judul “Resepsi Madame Bovary Sebagai Contoh
Penelitian Resepsi”. Hanya saja buku juga ini mempunyai
kelemahan, yaitu pada bab ini banyak menggunakan tanda
baca : (titik dua), dan ; (titik koma) yang membuat pembaca
pemula seperti Saya bingung, apa arti dari tanda-tanda
tersebut. Kemudian dalam buku ini terdapat tanda baca yang
salah. Misalnya pada kalimat: Bagi Ingarden, sebagai tesis
dasar, hanya ada satu konkretisasi ideal, lepas dari masa dan
situasi pembaca. Dan juga, jarak antar paragraf cukup dekat.

BAB VII. 1. Aspek Pragmatik dalam Retorika Barat dan Puitika


PEMBACA DALAM Melayu
MODEL SEMIOTIK Pada 14 tahun sebelum masehi sekitar 2000 tahun
1. Apek Pragmatik 183 yang lalu. Horatius dalam Arc Poetica-nya yang terkenal
dalam Retorika Barat menuliskan tentang tugas atau fungsi menyair sebagai
dan Puitika Melayu berikut :
2. Resepsi 185 aut prosdesse volunt aut delectare poetae
Strukturalisme aut simul et iucunda et idonea dicere vitae
Dinamik Mukarovsky (Tujuan penyair ialah berguna atau memberi nikmat, ataupun
3. Vodicka dengan 190 sekaligus mengatakan hal – hal yang enak dan berfaedah
Teori Konkretisasi untuk kehidupan). (Paragraf 1: 141)
Karya Seni Berdasarkan kutipan diatas sekaligus terungkap
4. Teori Estetika 192 pendekatan terhadap sastra yang disebut Pragmatik, dan
Resepsi Jausz sangat berpengaruh terhadap sejarah kritik sastra dan teori
5. Masalah Estetika 198 sastra Barat. Dalam pendekatan teori Barat sering kali ada
dalam Ilmu Sastra diskusi yang cukup sengit antara utile ataupun dulce harus
6. Wirkung dan 201 didahulukan. Jadi pertentangan antara pendekatan moralis
Resepsi dan estetik, atau disebut perbedaan tekanan. Estetik di dunia
7. Resepsi Madam 204 Barat baru mulai sungguh – sungguh lepas dan tersendiri
Bovary Sebagai sejak zaman romantik. (Paragraf 2: 141)
Contoh Penelitian Secara implisit dari berbagai karya sastra sendiri
Resepsi dapat dikatakan bahwa kedua aspek utile dan dulce bagi
8. Foulkes dan 206 sastra Indonesia cukup esensial, dengan kemungkinan aspek
Faktor-Faktor yang moralis yang biasanya didahulukan. (Paragraf 3: 142)
Mempengaruhi Sikap Di dunia Barat sastra berfungsi untuk mempengaruhi
Pembaca pembaca antara lain mengakibatkan perbauran antara teori
9. Penerapan Metode 208 sastra dan retorik yang berusaha untuk meneliti selengkap
Penelitian Resepsi dan secermat mungkin. Retorik berkembang menjadi
Sastra semacam taksonomi dan sistemasisasi menyeluruh tentang
10. Penelitian Resepsi 210 segala macam sarana bahasa sastra yang sampai sekarang
Lewat Kritik Sastra masih dipakai. Belakangan ini retorik muncul kembali dalam
11. Pendekatan Lain 213 bentuk modern disesuaikan dengan perkembangan ilmu
Terhadap Penelitian bahasa, tetapi pada hakikatnya masih sama dengan retorik
Resepsi: lama. (Paragraf 4: 142)
Intertekstualis, Dalam retorik terutama ditelusuri sarana – sarana
Penyadaran, mana mengakibatkan tanggapan tertentu pada pihak
Penerjemahan pembaca atau pendengar. Tetapi ilmu sastra modern lebih
berorientasi pada masalah apa yang dilakukan pada pembaca
dengan karya sastra dan apa yang dilakukan oleh karya
sastra dengan pembacanya. (Paragraf 5: 142)
2. Resepsi dalam Strukturalisme Dinamik Mukarovsky
Di sini pertama – tama dibahas dalam strukturalisme
Praha yang telah disinggung dalam Bab V, dengan nama
Mukarovsky dan Vodicka. Perkembangan ini sebenarnya
telah berlangsung dalam tiga puluhan abad, tetapi karena
kebanyakkan karya peneliti Praha ditulis dalam bahasa
Tsjeko hasil penelitiannya belum diketahui di Eropa Barat.
Mokarovsky baru mulai dikenal lewat terjemahan kedalam
bahasa Jerman pada tahun 60 an, dan dalam bahasa inggris
pada tahun 70 an oleh Steiner dan Burbank (1977 ; 1978)
dengan pendahuluan yang memberi pandangan yang baik
mengenai perkembangan fikiran Mukarovsky. (Paragraf 1:
143)
Teori Mokarovsky terhadap karya sastra bertangkal
pada aliran formalis sebagai usaha untuk memahami karya
sastra sebagai realisasi fungsi puitik bahasa. Penelitian
prosede atau sarana – sarana bahasa menghasilkan efek
estetik lewat deotomatisasi, penyimpangan dan
pembongkaran terhadap norma – norma yang berlaku. Tetapi
pada awal Mokarovsky telah menekankan fungsi karya seni
sebagai tanda, fakta sosial supra-individual yang
mengadakan komunikasi. Dalam gejala sosial biasanya
fungsi estetik terdapat dalam kaitan dengan fungsi – fungsi
lain. (Paragraf 2: 143)
Mukarovsky memperlihatkan hubungan antara fungsi
estetik dan fungsi lain berubah terus – menerus. Dalam hal
sastra telah disebut hal yang sama dalam pembahasan
definisi sastra seperti mantra Melayu klasik yang fungsi
keagamaannya dominan dalam masyarakat tradisional,
kemudian dinikmati oleh pembaca modern sebagai karya
estetik tanpa merasa terlibat dalam aspek dan fungsi
keagamaannya. Maka oleh Mukarovsky dipertahankan
pendirian, karya sastra dalam sejarahnya tidak dapat
dipisahkan dari konteks sosio-budaya serta kode atau norma
– norma yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
(Paragraf 3: 144)
Tetapi dalam perkembangan ide Mokarovsky terjadi
pergeseran terhadap fungsi tersebut, terdapat dalam buku
yang ditulisnya pada tahun 1936 yang berjudul Aesthetic,
Function, Norn, and Value as Social Facts terdapat definisi
sebagai berikut. “By function we understand an active
relation between an object and the goal for which this object
is used” (Mokarovsky 1978). Yang fungsinya dapat diartikan
sebagai hubungan yang aktif antara sebuah obyek dan tujuan
yang dilayani obyek tersebut. Dalam hal ini tujuan itu harus
bersifat supra - individual yaitu tidak terikat pada satu
individu saja. Mokarovsky selalu menempatkan seni sebagai
faktor semiotik yang komunikatif dalam kerangka sosial.
Tetapi beberapa tahun kemudian Mukarovsky memberi
definisi yang lain sekali ; the mode of subject’s self-
realization vis-à-vis the external world. Jadi fungsi kesenian
pembaca melaksanakan diri, dialah yang menjadi pusat
peristiwa semiotik. Dalam estetik fungsi semiotik
melatardepankan tindak penilaian. Sebab karya seni sendiri
tidak mempunyai realitas semiotik. (Paragraf 4: 144)
Pembaca sebagai subyek tak kurang pentingnya
dalam fungsi semiotik karya sastra daripada sturkturnya.
Dalam setiap karya seni terwujud yang disebut intentionality,
tetapi ini tidak identik dengan intention, niat penulis.
Intentionalitas dalam seni adalah “Semantic energy which
binds to-gether all the heterogeneous elements of the work
into a semantic unity, a sign.” Yang artinya energi semantik
yang mempertalikan semua anasir karya yang heterogen
menjadi kesatuan makna, sebuah tanda. Dalam pendekatan
mukarovsky ini karya sastra sebagai tanda dan subyektivitas
pembaca, yang bukan subyektivitas mutlak, tetapi yang
tergantung pada lingkungan sosial dan kedudukan sejarah
penanggap. (Paragraf 5: 145)
Demikianlah Mukarovsky meletakkan dasar untuk
estetik sastra dalam model semiotik dimana ada hubungan
dinamik dan tegangan yang terus menerus antara ke 4 faktor
: pencipta, karya, pembaca, dan kenyataan. (Paragraf 6: 146)
3. Vodicka dengan Teori Konkretisasi Karya Seni
Konsep yang sangat penting dalam teori Vodicka
ialah Konkretisasi. Konsep ini sesungguhnya berasal dari
seorang ahli sastra Polandia Roman Ingarden, dan
dipaparkan dalam sebuah buku Das literarische Kunstwerk
(1931). Dalam buku tersebut Ingarden mengemukakan
pendapat bahwa karya sastra mempuyai struktur yang
obyektif, yang tidak terikat pada tanggapan pembaca, dan
yang nilai estetiknya pun tidak tergantung pada norma –
norma estetik pembaca yang terikat pada masanya. Dalam
setiap karya sastra terdapat Unbestimmtheitsstellen, tempat –
tempat tak tertentu atau kosong yang pengisiannya terserah
kepada pembacanya, menurut kemampuan dan seleranya. Itu
yang disebut konkretisasi oleh Ingarden ; tetapi dalam sisi
Ingarden kebebasan pembaca dibatasi oleh struktur karya
seni yang mengikatnya. (Paragraf 1: 146)
Di sini Vodicka berselisih paham dengan Ingarden.
selaku murid mukarovsky yang setia, kebebasan pembca
jauh lebih besar, tidak hanya secara konkrit dan factual,
tetapi pula secara prinsip. Makna karya sastra adalah sebuah
proses konkretisasi yang diadakan terus menerus oleh
lingkungan pembaca yang susul menyusul dalam waktu
berbeda menurut situasinya. Bagi Vodicka sastra dan ilmu
sastra mempunyai relevansi langsung untuk meneliti konteks
sosio-budaya dan sebaliknya. Tetapi dia selalu menentang
pendapat Marxis bahwa pengaruh itu searah saja.
Demikianlah karya sastra menjadi fungsional, menjadi faktor
dan evolusi kesastraan dan kemasyarakatan. Tidak heranlah
Vodicka menitikberatkan sejarah sastra sebagai pendekatan
sastra yang tak terhindari. (Paragraf 2: 147)
4. Teori Estetik Resepsi Jausz
Pendekatan ini sangat mirip dengan teori
Mukarovsky dan Vodicka, tetapi rupa-rupanya tidak
dipengaruhi oleh aliran strukturalisme dari Praha, yang karya
– karyanya sebagian besar ditulis dalam bahasa Tsjeko.
(Paragraf 1: 149)
Tokoh utama dalam ilmu sastra yang menekankan
peranan pembaca adalah Hans Robert Jausz yang pada tahun
1967 menggegarkan dunia ilmu sastra tradisional di Jerman
Barat dengan sebuah makalah yang berjudul
Literaturgeschichte als Provokation (Sejarah Sastra sebagai
tantangan). Kemudian dijadikan buku dengan judul yang
sama dan pertama kali terbit pada tahun 1970. Jausz
mempunyai latar belakang sebagai medievis, yaitu peneliti
sastra dan sejarah sastra Abad pertengahan di Eropa Barat.
Menurut Jausz penelitian sejarah sastra di dunia Barat
menemui jalan buntu. Kemudian pada awal abad ke 19
sejarah di zaman romantik mulai berkembang sebagai
sejarah – sejarah nasional, demikian pula sejarah sastra.
Muncullah gagasan sejarah sebagai rangkaian periode yang
masing – masing mempunyai ciri khasnya. (Paragraf 2: 149)
Pada Abad ke 20 menurut Jausz ada 2 aliran yang
menentang “Blinde Empirie des Positivismus” (Empiri buta
aliran positivis), maupun “Asthetische Metaphysik der
Geistesgeschichte” (Metafisik estetik sejarah kebudian).
Aliran pertama yang dimaksud oleh Jausz adalah pendekatan
sastra oleh kaum Marxis. Mereka ingin mengembalikan
karya sastra dalam kaitan sejarah dan fungsi
kemasyarakatannya, tetapi menurut Jausz kelemahan utama
mereka ialah terbatasnya visi mereka terhadap fungsi seni,
khususnya sastra yang dianggapnya mencerminkan
perkembangan dan keadaan masyarakat. (Paragraf 3: 149)
Aliran kedua menurut pendapat Jausz adalah aliran
formalis Rusia yang telah dibicarakan terlebih dahulu dalam
Bab V. Jausz menekankan perkembangan dalam visi para
farmalis, yang cepat sekali berkembang dari pendekatan
atomistik yang hanya memperhatikan prosede –prosede
insidental ke arah struktural. Pada tahap ini mereka tidak
hanya melihat karya sastra sebagai keseluruhan dimana
semua anasir bersama – sama merupakan struktur yang
koheren. (Paragraf 4: 150)
Demikianlah ringkasan Jausz mengenai
perkembangan sejarah sastra sejak dahulu. Berdasarkan
survey mengenai berbagai pendekatan dalam penelitian
sastra dahulu dan sekarang, Jausz mengemukakan
gagasannya yang baru. Menurut Jausz para peneliti sastra
juga dalam aliran Marxis dan formalis, melupakan faktor
yang terpenting dalam proses semiotik yang disebut
kesusastraan. Kesejarahan sastra bersama dengan sifat
komunikasinya mengandaikan hubungan dialog dan
sekaligus hubungan proses antara karya, siding pembaca dan
karya baru. (Paragraf 5: 150)
BAB VIII. KARYA Peneliti sastra dan sejarah sastra menurut Jausz
SASTRA DAN bertugas untuk menelusuri karya sastra sepanjang zaman.
KENYATAAN Keindahan sebuah karya bukanlah sesuatu yang mutlak,
1. Teori Plato keindahan adalah pengertian yang nisbi, tergantung dari
Mengenai Mimesis situasi sosio-budaya. (Paragraf 6: 151)
2. Aristoteles Mengenai sejarah sastra sebenarnya dalam visi Jausz
Menyanggah Plato setiap penelitian sastra mau tak mau bersifat historik, dalam
3. Alam dan Seni artian bahwa resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan
dalam Berbagai penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya.
Kebudayaan Singkatnya kita sekarang memahami karya sastra sebagai
4. Kaitan Antara gejala semiotik dimana semua faktor model semiotik harus
Mimesis dan Creatio di ikut sertakan. Pembaca sampai sekarang sedikit terabai
dari Segi Bahasa berkat jasa Jausz, sama seperti Vodicka dan kawan – kawan,
5. Kenataan dari Segi pembaca sebagai faktor yang penting. (Paragraf 7: 152)
Sosiologi 5. Masalah Estetik dalam Ilmu Sastra
6. Sastra: Tidak kebetulan Jausz menyebut pendekatannya
Peneladanan dan terhadap sastra Rezeptionsathetik. Hal ini menyangkutpula
Sekaligus Model tempat peneliti sendiri dalam prosese resepsi karya sastra
Kenyataan dan penelitiannya dan suatu masalah yang dipertikaikan
7. Roman dalam dengan cukup sengit dalam rangka hubungan antara kritik
Ketegangan Antara sastra dan ilmu sastra. Sebagai contoh dapat disebut diskusi
Kenyataan dan antara dua tokoh terkemuka dalam ilmu sastra, Northtrop
Rekaan Fyre dan Rene Wellek. Fyre secara prinsip membela
8. Masalah Realisme pendirian bahwa ilmu sastra tidak berurusan dengan nilai
dalam Sejarah Sastra sastra. Walaupun Fyre setuju bahwa kebalikannya benar.
9. Roman Sebagai “value judgements are founded on the study of
Dokumen Sosial literature”(penilaian berdasarkan atas study sastra). Selaku
10. Kenyataan dalam ahli sastra pembaca tidak berurusan dengan nilai. (Paragraf
Puisi larik 1: 152)
11. Kenyataan dalam Wellek tidak setuju dengan pendirian yang mutlak ini
Babad dan Sejarah. “must…. be a critic in order to be a historian “harus menjadi
12. Sastra dan kritik sastra agar bias menjadi peneliti sejarah sastra)”.
Penulisan Sastra Obyeknya sendiri merupakan “a structure of values”(struktur
13. Hayden Whit nlai-nilai). Tidak ada kemungkinan untuk menghindari
mengenai Sejarah dan penlaian oleh kita, oleh saya. Satu – satunya hal yang benar
Sastra dan jujur dapat kita lakukan ialah membuat penilaian se-
obyektif mungkin, membuat apa yang dibuat okeh setiap ahli
dan sarjana dengan mengasingkan obyeknya, mengamati se-
insentif mungkin, mengupasnya, menafsirkannya dan
akhirnya menilainya dengan kriteria yang diambil, dicek
dengan diperkuat oleh pengetahuan yang luas, pengamatan
dekat , kepekaan yang tajam, pertimbangan yang sejujur
mungkin kita kuasai (Wellek 1973). (Paragraf 2: 153)

Tetapi Jausz bergeser lebih jauh lagi kea rah pembaca yang
peranannya berdifinisi menisbikan penlaian karya sastra.
Karya sastra mempuyai potensi makna yang dalam
perjalanan sejarah dapat berembang teru-menerus, makna
yang obyektif benar tidak mungkin dan tidak perlu ada.
Antar penilaian masa lampau dan masa kini “das Urteil der
Jahrhunderte” yaitu “die suksessive Entfaltung eines im
Werk angelegten Shinnpotentials, da sich dem
verstehendedn Urteil erschlieszt” (Jausz 1970). (Paraggraf
3: 153)

Tetapi Jausz tidak membatasi usaha peneliti pada


tugas memahami sebaik mungkin karya sastra dalam konteks
sejarahnya. Demikianlah latar belakang istilah
Rezeptionisasik yang dengan sadar dipilih oleh Jausz. Dalam
hal ini dia lebih radikal dari Vodicka, yang membedakan
dengan jelas peanan pengkritik sastra. (Paragraf 4: 154)

Demikianlah latar belakang istilah Rezeptionsasthetik


yang dengan sadar dipilih oleh Jausz. Dalam hal ini Jausz
lebih radikal dari Vodicka, yang membedakan dengan jelas
peranan peneliti ilmiah dengan peranan pengkritik sastra.
(Paragraf 5: 154)

6. Wirkung dan Resepsi


Tugas penelitian resepsi dalam rangka ilmu sastra
harus dibatasi dan di jalaskan ke berbagai arah. Dalam
kelompok ahli di Jerman, khususnya di Universitas
Konstanz, sudah ada dua pendekatan utama yang berkaitan
yang dalam bahasa Jerman dsebut Wirkungsgsgeschichte dan
Rezeptionsgechicte. Wirkungsgsgeschichte adalah sejarah
efek teks sastra yang dilihat dari segi karya itu sendiri.
Tokoh penting dalam mazhab ini adalah Wolfang Iser.
(Paragraf 1: 155)

Iser, sependapat dengan Ingarden yaitu, mencurahkan


perhatian pada potensi yang terkandung dalam karya seni
untuk mengadakan efek tertentu pada potensi yng
terkandung dalam karya seni unntuk mengadakan efek
tertentu pada pembaca. Dalam karya sastra terdapat
Unbestimmtheitsstellen, tempat kosong, yang pengisiannya
terserah kepada para pembaca. Iser menyumbangkan teori
yang disebut Lerstellen, tempat kosong yang berfungsi
dalam pemberian makna oleh pembaca. Tempat kosomg itu
berfungsi untuk mengaktifkan daya cipta pembaca dan
sekaligus menciptakan Innerperspektif, perspektif dalam
sebuah teks yang masing-masing memainkan peranan
sebagai plot, pelaku, jurukisah, struktur waktu,oleh pembaca
diintegrasikan menjadi perspektif total. Iser menyebutnya
sebagai pembaca implisit. Jadi, pendekatan ini memang
diteliti Wirkung dari segi teks, pengarahan pembaca oleh
teks, yang melaksanakan potensi makna sesuai dengan
kompetisi pembaca. (Paragraf 2: 155)

Jausz tidak mulai dari struktur teks dan dari potensi


karya sastra, melainkan konkretisasi yang nyata menjadi
fokus untuk penelitian Jausz. Dalam prinsipnya Jausz
membedakan tiga kemungkinan yaitu, sastra dapat berlaku
sebagai afirmatif-momformatif, yaitu membedakan dan
memperkuat struktur, mempertahankan norma-norma yang
dalam kenyataan kemasyarakatan telah meluntur atau hilang,
dan kemungkinan yang ketiga adalah, sastra bersifat inovatif
dan revolusioner, merobak nilai-nilai yang mapan
memberontak terhadap norma establishment
kemasyarakatan. (Paragraf 3: 156)

7. Resepsi Madame Bovary Sebagai Contoh Penelitian


Resepsi

Pada tahun 1857, terbit untuk pertamma kali roman


Gustave Flaubert yang berudul Madame Bovary. Roman
tersebut menimbulkan heboh sastra di Perancis, karena
kaum borjuis yang mapan pada waktu itu menganggap
roman tersebut berbahaya, melawan dan mengancam tata
susila. Karena Emma seorang wanita di Paris melakukan
zina, tanpa dihukum oleh penulis. Perkara itu diadukan di
depan hakim dan jaksamenuntut hukuman yang cukup berat.
Tetapi pembela Flaubert mengemukakan alasan yang sangat
menarik untuk membuktikan bahwa Flaubert tidak bersalah
yaitu, dalam roman ini Flaubert tidak mengeluarkan
pendapat tentang tingkah laku si Emma. Dan sebagai
komentar Flaubert terhadap peristiwa-peristiwa dalam roman
itu, khususnya kehidupan berzinah si Emma, sebenarnya
hanyalah pikiran-pikiran dan renungan Emma sendiri . dalam
buku tersebut, Flaubert memakai gaya sastra yan pada waktu
itu masih baru, tetapi kemudian diperiksa dan diidentifikasi
sebagai reported discourse atau erlebte Rede, vrije indirecte
rede, dalam bahasa Belanda, dimana penulis atau juru kisah
membayangkan khayalan dan renungan seorang tokoh roman
tanpa mengelsplisitkan bahwa ini bukan pikian si juru kisah
melainkan pikiran seorang tokoh. Menurut resepsi yang
seharusnya diterapkan pada roman Madame Bovary
bukanlah Flaubert mengungkapkan penilaian terhadap
tiingkah laku Emma yang berdosa. Dalam hukuman proses
rersebut Flaubert dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan
dari tuntutan. Tapi lewat gaya bahasa cerita baru ini,
menimbulkan perubahan literer yang sangat penting,
sekaligus dia memaksa pembaca untuk berpikir dan menilai
sendiri. Melalui renungan si Emma, Flaubert
mengkonfrontasikan orang Prancis pada masa itu dengan
pertentangan antara tata susila resmi dan praktek hidup.
(Paaragraf 1: 157)

8. Foulkes Mengenai Faktor yang Mepengaruhi Sikap


Pembaca
Pandangan Faulkes bukan tak berkaitan dengan aliran
estetik resepsi di negeri Jerman, khusunya pada universitas
Konstanz. Bagi Foulkes penelitian karya sastra dalam rangka
model semiotik mau tak mau harus mencurahkan perhatian
penuh pada situasi pembaca. Pembaca penting dari dua segi
yaitu, sebagai subjek dan sebagai obyek. Sebagai subyek
dialah yang membaca, menafsirkan, menilai karya sastra
dalam proses interpretasi dia selalu berada dalam tegangan
antara textual structure sebagai sesuatu yang diberikan
secara obdi diluar dirinya, dengan persediaannya yang
subyektif untuk memasuki hubungan estetik dengan teks,
yang sebagian ditentukan oleh konvensi-konvensi sastra.
Sebagian lagi oleh faktor lain di luar sastra, itulah yang
dimaksud Foulkes dengan situasi pembaca sebagai obyek.
Dalam bubungan ini Foulkes juga tidak setuju dengan
pendekatan historistis yang ingin menempatkan karya sastra
hanya dalam tempat dan ruang dimana karya itu permah
diciptakan, sehingga bagi pembaca modern kemungkinan
penghayatan eatetik karya dari awalnya ditiadakan. Foulkes,
sama dengan Jausz menuntut agar penitian dan pendidikan
sastra membuka atau membiarkan kemungkinan untuk
penilaian karya sastra klasik oleh pembaca modern.
(Paragraf 1: 158)

Bagi Foulkes pun kesimpulannya jelas, berdasarkan


model semiotik dan peranan pembaca yang penting dalam
model ini sebagai model komunikasi, maka ilmu sastra harus
mencurahkan minat yang luas pada pembaca. (Paragraf 2:
160)

9. Penerapan Metode Penelitian Resepsi Sastra


Dalam ilmu sastra telah dikembangkan berbagai
pendekatan untuk masalah ini. Satu diantaranya bersifat
eksperimental, yaitu teks tertentu disajikan kepada pembaca
tertentu, baik secara individual maupun secara berkelompok,
agar mereka memberi tanggapan yang kemudian dianalisis
dari segi tertentu. Penelitian semacam itu dapat dilakukan
dengan membuat daftar pertanyaan, kemudian jawaban para
responded dianalisis secara sistematik dan kuantitatif, dapat
pula dipancing analisis yang tak terarah dan bebas, yang
kemudian diberikan analisis kualitatif. (Paragraf 1: 160)

Tetapi di samping masalah metode, penelitian resepsi


sastra lewat eksperimen masih mempunyai kelemahan lain
yamg sangat mendasar, sebab penelitian resepsi
eksperimental hanya mungkin dilakukan untuk resepsi masa
kini, tetapi tidak menyanggupkan orang untuk meneliti
resepsi yang dahulu ada. (Paragraf 2: 161)

10. Penelitian Resepsi Lewat Kritik Sastra


Vodicka menekankan peranan pengkritik sastra selaku
penanggap yang utama dan khas, dialah yang mewujudkan
penempatan dan penilaian karya sastra itu dalam masanya.
Vodicka juga yang mengesksplisitkan konkretisasi, dan itu
merupakan syarat mutlak untuk pemutannya dalam
keseluruhan sejarah sastra. (Paragraf 1: 162)

Menurut Vodicka peneliti harus sadar bahwa yang


penting dalam kritik sastra bukanlah tanggapan seorang
individu tetapi, pengkritik sastra yang baik mau mewakili
norma sastra yang terikat pada masa tertentu atau pada
masyarakat tertentu. Secara rangka konkretisasi yang disebut
oleh Vodicka sebagai konteks, hampir sama dengan horison
menurut istilah Jausz. Justru penelitian konteks itu
memberikan kemungkinan untuk membedakan antara unsur
subyektif dan unsur-unsur yang ditentukan oleh situasi sosio-
budaya pada zaman tertentu. Vodicka lebih dahulu
membicarakan 3 penilaian karya Neruda yang ditulis pada
tahun 1895 yang konteksnya dikuasai oleh problematic yang
obyektif, mengenai seni nasional Tsjeko. Kemudian tiga
penilaian dari tahun 1901 yang konteksnya ditentukan oleh
minat untuk perkembangan psikologi kepribadia Neruda.
(Paragraf 2: 162)

Sebagai contoh dalam sastra modern Indonesia dapat


disebut penilaian puisi Chairil Anwar yang jauh berbeda
sepanjang zamab. Chairil Anwar sebagai penyair, yang
sekaligus universal humaris berdasarkan konteks terrtentu
dan penilaian dari kaum Marxis, khususnya lekra yang
mengatakan bahwa Chairil telah mampus dan tidak berarti
kecuali sebagai pembaharu bentuk, karena puisinya tidak
sesuai dengan ideology mereka. (Paragraf 3: 163)

Dalm hal ini analisis yang cermat mengenai kritik


puisi Chairil Anwar sepanjang masa adalah pentingnlah utuk
memahami horizon pembaca harapan pembaca Indonesia
atau konteks norma-norma sastra yang berkaitan juga dengan
norma-norma sosial-politik-budaya.(Paragraf 4: 163)
11. Pendekatan Lain Terhadap Penelitian Resepsi:
Intertekstualitas, Penyalinan, Penyanduran, Penterjemahan
Dari prinsip intertekstualitas dapat kita kaitkan
dengan reseosi karya satra dan sering sekali dalam teks
tertentu terungkap semacam kreasi yang sekaligus
merupakan resepsi. Sebagai contoh, yang pernah diberikan
penulis tentang sajak Senja di Pelabuhan Kecil, tulisan
Chairil dalam hubungan antarteksnya dengan sajak Berdiri
Aku tulisan Amir Hamzah. (Paragraf 1: 164)

Demikianlah sejarah sastra sebagian besar


berkembang atas dasar interaksi yang terus-menerus antara
kreasi dan resepsi, yang pada gilirannya menjelma kembali
dalam bentuk kreasi baru, yang kemudian ditanggap lagi,
menghasilkan kreasi yang baru, dan begitu seterusnya. Tiga
bentuk resepsi yang kas adalah penyalinan, penyanduran,
dan penterjemah. (Paragraf 2: 165)

Penyalinan yang dimaksud disini penyalinan


naskah, tulisan tangan, yang diteliti oleh fiologi, tepatnya
tekstologi. Seorang penyalin naskah sering sekali teledor dan
menyimpang dari teladannya. Keteledoran itu berbentuk
penyalin asli memberi tanggapan dalam salinanya, misalnya
dengan menyesuaikan aslinya dengan norma bahasa atau
sastra, budaya dan seterusnya yang terjadi pada saat dia
menyalin naskah aslinya. (Paragraf 3: 165)
Penyaduran adalah proses yang kita ketahui dalam
berbagai bentuk dalam sejarah sastra yaitu, sebuah teks
digarap oleh seorang penulis, yang kemudian menyesuaikan
dengan norma norma baru, dengan perubahan yang
membuktikan pergesrah horison harapan pembawa, dengan
tahap bahasa yang baru,dan lain lain. di Indonesia Wisran
Hadi dalam penyanduran mitos-mitos Minang Kabau
tertentu dalam drama Puti Bungsu memberi resepsi warisan
budya lama yang diciptakan kembali sesuai konteks masa
kini. (Paragraf 4: 165)

Di Indonesia Wisran Hadi dalam penyanduran mitos-


mitos Minangkabau tertentu dalam drama Puti Bungsu
memberi resepsi warisan budaya lama yang diciptakan
kembali sesuai dengan konteks masa kini. (Paragraf 5: 166)

Sebagai contoh disebut sanduran teks seperti


Ramayana, Arjunawiwaha, Arjunawijaya, Bharatayuddha
dari bahasa Jawa Kuno ke dalama bahasa Jawa Modern, oleh
Yasadipura I dan I, dan penulis lain. (Paragraf 6: 166)

Dalam sebuah studi lain Jausz memperlihatkan


bahwa pemuatan sebuah karya lama dalam bunga rampai
yang kemudian diterbitkan dan dapat dipakai pula sesbagai
sumber penelitian resepsi. (Paragraf 5:166)

Terjemahan-terjemahan karya sastra dalam


bahasa lain, sama dengan sandurannya, dapat dipandang
sebagai bentuk resepsi yang sekaligus dapat diartikan
sebagai kreasi, dan dalam sejarah sastra di mana-mana
terjemahan memainkan peranan yang sangat penting, misal
sebagai inovasi dan merupakan tahap esensial dalam
penerimaan norma-norma baru. Vodicka pernah menulis
studi yang merupakan teladan yang bagus tentang
terjemahan sekaligus menjadi dasar pembaharuan. Studi
semacam itu sangat diperlukan untuk sastra Indonesia, baik
klasik maupun modern sebagai bahan dasar untuk sejarah
modern, tetapi sekaligus sebagai jembatan bagi pembaca
modern untuk memahami dan menilai secara lebih adekuat
hasill terjemahan yang memainkan peranan yang demikian
penting daklam sastra Indonesia. (Paragraf 6: 166)

KOMENTAR:
BAB ini sangat membantu mahasiswa yang belajar sastra
Indonesia, sebab memberikan pengetahuan yang rinci karena
di dalam buku ini banyak melampirkan teori pendukung
pada setiap pembahasannya.Tetapi dalam penyampaiannya
sulit dimengerti, dikarenakan buku ini menggunakan kata-
kata yang baku. Dan pada buku ini, tidak dilengkapi dengan
biodata penulis, sehingga pembaca tidak mendapatkan
informasi tentang penulis, dan karya yang lainnya.

VIII. KARYA SASTRA DAN KENYATAAN.


BAB VIII. KARYA
1. Teori Plato Mengenai Mimesis.
SASTRA DAN
Dalam bab ini akan membahas hubungan antara
KENYATAAN
karya sastra dan kenyataan, universe dalam isilah Abrams
1. Teori Plato 219
dan reality dalam tulisan lain. masalah ini cukup rumit,
Mengenai Mimesis
sebab tidak hanya menyangkut masalsh ilmu sastra,
2. Aristoteles 221
melainkan pula masalah filsafat, psikologi, sosiologi, dan
Menyanggah Plato
lain-lain. (Paragraf 1: 168)
3. Alam dan Seni 222
Dalam ilmu sastra Barat, mau tak mau kita harus
dalam Berbagai
mulai dengan filsuf Plato dan muridnya, Aristoteles yang
Kebudayaan
sekaligus menjadi lawannya. Plato memaparkan peranan
4. Kaitan Antara 224
puisi, khususnya dalam hubungannya dengan kenyataan.
Mimesis dan Creatio
(Paragraf 2: 168)
dari Segi Bahasa
Pandangan Plato tak dapat dilepaskan dari
5. Kenataan dari Segi 226
keseluruhan pendirian filsafatnya mengenai kenyataan, yang
Sosiologi
bersifat hirarkik. Menurut Plato ada beberapa tataran tentang
6. Sastra: 228
(“different planes of being”) yang masing-masing mencoba
Peneladanan dan
melahirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Dunia
Sekaligus Model
empiri tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh,
Kenyataan hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, peneladanan,
7. Roman dalam 230 pembayangan atau peniruan misalnya, pikiran dan nalar kita
Ketegangan Antara meneladani kenyataan, meniru benda, meniru bunyi, meniru
Kenyataan dan keselarasan ilahi, waktu meniru keabadian, hokum-hukum
Rekaan meniru kebenaran, pemerintah manusia meniru pemerintah
8. Masalah Realisme 232 ideal, ,anusia yang meniru dewa-dewanya, dan seterusnya.
dalam Sejarah Sastra (Paragraf 3: 168)
9. Roman Sebagai 236 Jadi, bagi Plato mimesis terikat pada ide pendekatan
Dokumen Sosial yang hasilnya tidak sungguh-sungguh, lewat mimesis tataran
10. Kenyataan dalam 239 yang lebih tinggi hanya dapat disarankan. Dalam rangka ini
Puisi larik menurut Plato mimesis atau sarana artistic tidak mungkin
11. Kenyataan dalam 240 mengacu langsung pada nilai-nilai yang ideal, karena seni
Babad dan Sejarah. terpisah dari tataran yang sungguh-sungguh oleh derajat
12. Sastra dan 242 dunia kenyataan yang fenomenal. Seni hanya dapat meniru
Penulisan Sastra dan meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam
13. Hayden Whit 245 kenyataab yang tampak, maksudnya berdiri dibawah
mengenai Sejarah dan kenyataan itu sendiri dalam hirarki. Maka dari itu, seni
Sastra menurut Plato mmiliki dua segi sekaligus yaitu “Art,
therefore, has a double aspect: in is visible manifestation it is
a thing of the most interferior value, a shadow; yet ithas an
indirect relation to the esensial nature of things”(Verdenius
1949: 19) maka itu seni memiliki aspek ganda yaitu, dalam
perwujudan yang tampak, seni adalah benda yang sangat
rendah nlainya, bayangan, namun seni juga memiliki
hubungan tidak langsung dengan sifat hakiki benda-benda.
(Paragraf 4: 169)
Bagi Plato tidak ada pertentangan antara realism dan
idealism dalam seni. Maka itu, seni yang baik harus truthful,
benar dan seniman harus bersifat modest, rendah hati, dan
dia harus tahu bahwa lewat seni dia hanya dapat mendekati
yang ideal dari jauh dan serba salah. Lagipula seniman
cenderung menghimbau buan rasio, nalar manusia,
melainkan nafsu-nafsu dan emosinya yang menurut Plato
justru harus ditekan. Seni menimbulkan nafsu, sedangkan
manusia yang harus berasio justru harus meredakan
nafsunya. (Paragraf 5: 169)

2. Aristoteteles Menyanggah Plato


Anggapan terakhir oleh Aristoteles tentang
pandangan bahwa seni justru menyucikan jiwa manusia
lewat proses yang disebut khatarsis, penyucian. Karya seni
memungkinkan kita membebaskan diri dari nafsu yang
rendah, dan karya seni mempunyai dampak pada pemuasan
estetik keadaan jiwa dan budi manusia justru ditingkatkan.
(Paragraf 2: 170)
Tidak hanya dalam hal ini Aristoteles menolak
pendapat Plato. Aristoteles tidak menerima filsafat ide Plato
dan sistem nilainya yang hirarkik justru menonjolkan aspek
ppositif dari mimesis. Karya seni menurut Aristotles menjadi
sarana pengetahuan yang khas, cara unik untuk
membayangkan pemahaman tetang aspek atau tahap situasi
manusia yang tidak dapat diungkapkan dan dikomunikasikan
dengan jalan lain. (Paragraf 2: 170)
3. Alam dan Seni dalam Berbagai Kebudayaan
Visi Aristoteles pada dalam sejarah kebudayaan
Barat pada umunya diterima dan menjadi dasar etnik dan
filsafat seni. Tetapi ini tidak berarti bahwa pandangan
tentang seni sebagai mimesis dalam arti peniruan
menghilang. Dalam Abad Pertengahan ungkapan ut natura
poiesis, seni (puisi)harus seperti alam, menjadi pandangan
dasar tentang seni, dan pandangan ini berkaitan erat dengan
anggapan tentang hubungan mabusia dengan Tuhan dan
alam semesta sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dan
tidak cacat. Alam semesta sebagai ciptaan Tuhan menurut
pandangan manusia dalam Abad Pertengahan menyediakan
“The Great Model”(C.S. Lewis 1964). Dan anggapan ini
tidak hanya terdapat dalam teori seni Barat Abad
Pertengahan. Bagi orang Arab pun penyair bukan pencipta,
bagi mereka pun penyair terikat pada ciptaan Tuhan yang
merpakan model yang sempurna. (Paragraf 1: 170)
Sebagian penyair mencari ilham dalam keindahan
alam, dan biasa berkelana(lelangon), menelusuri keindahan.
Dalam puisi Jawa kuno puisi disamakan dengan nuto
mystica, persatuan antara manusia dengan Tuhan lewat
keindahan, manguggaling kawula gusti, dengan bahasa Jawa
modern. (Paragraf 2: 171)
4.Kaitan Antara Mimesis dan Creatio dari Segi Bahasa
Menurut penganut teori creatio, karya seni adalah
sesuatu yang pada hakekatnya baru, asli, ciptaan dalam arti
yang sungguh-sungguh. Sedangkan penganut teori mimesis
pada prinsipnya menganggap karya seni sebagai
pencerminan, peniruan ataupun pembayangan realitas.
(Paragraf 1: 171)

Dari segi bahasa, dahulu telah diuraikan bahwa harus


dibedakan antara bahasa sebagai sistem dengan tanda ciri
khasnya adalah dualitas antara signifiant dan signifie, yang
menandai dan ditandai dengan pemakaian bahasa (langue
dan parole). Pada tataran bahasa tanda itu mempunyai
makna, desigatum yang tidak langsung merujuk pada
kenyataan. Anggota masyarakat Indonesia dalam kata itu
mempunyai sarana yang berpotensi untuk merujuk pada
benda-benda tertentu dalam kenyataan, tetapi yang
sendirinya bermakna lepas dari situasi pemakaian konkrit.
Peralatan konseptual yang diberikan dalam sistem bahasa
tidak langsung terikat pada kenyataan mana pun juga dan
memberi kelonggaran pada pemakainya. Jadi, dari segi
bahasa sudah jelas ada ambiguitas terhadap
kenyataan.(Paragraf 2: 172)
Penulis di sini tidak hendak mendalami masalah
realitas sebagai konsep filsafat, karena sudah tentu ada
sistem filsafat dan agama yang menyangkal realitas
pengalaman manusia dan yang menganggap dunia tampak
sebagai ilusi atau Maya. (Paragraf 3: 173)

5. Kenyataan dari Segi Sosiologi

Manusia tidak langsung kenal kenyataan di sekitar


dan di dalam dirinya. Dalam sebuah buku yang terkenal,
dengan judul The Social Construction of Reality menjelaskan
bahwa kenyataan bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari
adalah kenyataan yang telah ditafsirkan sebelumnya, dan
dialaminya secara subyektif sebgai dunia yang bermkna dan
koheren. Kenyataan bukanlahsesuatu yang diberikan secara
obyektif, tapi kenyataan yang kita hadapi dan hayati adalah
kenyataan yang telah prefabrictated, penafsiran dan
pemahamannya adalah social constrction, sesama manusia
pun tidak mungkin didekati langsung dan terbuka.
Pandangan manusia terhadap kenyataan diarahkan oleh
seluruh sistem aturan, lembaga, tipologi, peranan ideologi,
dan mitologi yang sudah tentu berbeda menurut masyarakat
dan kebudayaan. (Paragraf 1: 173)

Jadi secara sedikit ekstrim dapat dikatakan, bukanlah


kenyataan yang menentukan penafsiran kita terhadap
kenyataan, tetapi rangka penafsiranlah yang menentukan
apakah dan bagaimanakah kenyataan yang dapat dilihat dan
dipahami serta cara kita melihatnya. (Paragraf 2: 174)

6. Sastra: Peneladanan dan Sekaligus Model Kenyataan

Dalam teks sastra perbandingan seorang tokoh atau


suatu gejala alam dengan lukisan atau gambar adalah
perbandingan yang sangat biasa di mana-mana. Norma
keindahan yang diakui oleh masyarakat tertentu terungkap
dalam karya seni, yang kemudian dipakai sebagai tolak-ukur
untuk kenyataan. Contohnya wayang Jawa, wayang Jawa
tidak dinilai tepat dan indahnya berdasarkan kemiripan
dengan kenytaan, tetapi manusia nyata diukur dengan norma
tokoh wayang. Dengan kutipan mengenai roman modern:
"the novel serves as the model by which society conceives of
itself, the discourse in and through which it articulates the
world... “ (Teeuw 1984: 175 : roman bertindak sebagai
model lewat mana masyarakat membayangkan diri sendiri,
penuntutan dalam dan lewat mana disediakannya dunia...)
(Paragraf 1: 174)

Berbicara mengenai seni sastra pertentangan antara


mimesis dan cratio adalah pertentangan nisbi ataupun
pertentangan semu. Hubungan antara seni dan kenyataan
bukanlah hubungan searah, sebelah ataupun sederhana.
Hubungan itu selalu merupakan interaksi yang kompleks dan
tak langsung dan ditentukan oleh tiga macam kelir, yaitu
kelir konvensi bahasa, kelir konvensi sosio-budaya dan kelir
konvensi sastra yang menyaring dan menentukan kesan dan
mengarahkan pengamatan dan penafsiran kita terhadap
kenyataan. Hubungan ini memang merupakan interaksi,
saling mempengaruhi, atau kaitan dwiarah(dua arah). Dan
dalam seni umumnya sastra khususnya, interaksi itu dapat
dijadikan prinsip semiotik utama, yaitu pembaca selalu harus
bolak-balik antara kenyataan dan rekaan, nyara mimesis dan
creatio. Tegangan yang ditimbulkan oleh hubungan dengan
kenyatan yang demikian ambivalen termasuk esensi sastra.
(Paragraf 2: 175)

7. Roman dalam Ketegangan Antara Kenyataan dan Rekaan

Benarlah menurut harapan pembaca roman harus


mendekati kenyatan, dunia roman yang disajikan dalam
roman harus kita kenal dan akrab dari segi kenyataan. Pada
halaman pertama Siti Nurbaya diberi lukisan dua anak muda
yang nampaknya yang sangat realistik, sesuai dnegan
kenyataan kota Padang pada waktu cerita itu berlangsung,
sampai ke lingkungan alam, pakaian Samsul Bahri dan Siti
Nurbaya. (Paragraf 1: 176)

Dia meneladani konvensi sastra Melayu tradisional,


kenyataan Siti Nurbaya sebagai tokoh rekaan disesuaikan
dengan model seorang gadis menurut konvensi sastra. Dunia
nyata dan dunia rekaan selalu saling berjalinan, yang satu
tidak bermakna tanpa yang lain. Dalam roman yang disebut
realis biasanya ditimbulkan kesan pada pembaca seakan-
akan kenyataan diberikan setepat dan secermat mungkin.
Satu sarana menurut konvensi pada waktu tertentu yang
berfungsi untuk meyakinkan pembaca tentang kebenaran dan
ketepatan isi cerita seluruhnya. Tapi disini, pemberian
makna memerlukan kita bolak-balik antara kenyataan dan
makna dunia di belakang kenyataan itu, demikian pula dalam
roman sejarah. Namun kenyataan itu diresapi oleh pemberian
makna yang diharapkan pembaca yang lebih daripada
kenyataan itu. (Paragraf 2: 176)

8. Masalah Realisme dalam Sejarah Sastra

Dalam sebuah buku kecil tetapi bermanfaat seorang


sarjana Belanda Mineke Schipper baru-baru iniemberi
survey tentang perkembangan dan teori realisme yang
sebagainya diikuti disini dengan mempergunakan bahan-
bahan yang dikemukakannya (1979).

Realisme sebagai istilah mulai dipakai dalam filsafat


dalam Abad Pertengahan, sebagai pertentangan dengan
nominalisme. Secara sangat singkat dapat dikatakan bahwa
menurut para nominalis merupakan nama yang dipakai
sebagai tanda untuk menyebut hal-hal tersebut. Menurut para
realis konsep meja, tanah air, rumah, sungguh-sungguh ada,
tidak hanya merupakan nama saja, tetapi dalam arti tertentu
mereka menganut pendirian Plato tentang realitas ide-ide di
belakang kenyataan yang tampak. Dalam hal itu ada dua
pemaksian istilah realisme dalam teori sastra, realisme
terkadang dipakai sebagai istilah umum, adakalanya sebagai
istilah yang khusus berlaku untuk periode tertentu dalam
sejarah sastra. Sebagai istiah gaya seni realisme dipakai
untuk seni terlihat secara lugu memperlihatkan aspek
kehidupan sehari-hari yang nyata dan sungguh-sungguh,
tanpa tambahan fantasi yang bukan-bukan. Misalnya, seni
lukis dan gambar Rembrandt disebut realis, mirip dengan
keyataan, dan dalam Sejarah Melayu ada juga banyak
adegan yang dapat disebut realis, membayangkan
kehidupansehari-hari di sekitar istana Malaka pada abad ke-
15. (Paragraf 2: 178)

Sejarah realisme cukup rumit, pada satu pihak realisme


adalah reaksi terhadap klasisisme yang masih kuat dalam
seni sastra Eropa Barat pada abad ke-18 dan yang
meneladani karya agung di zaman klasik. Realisme
sebaliknya ingin melukiskan alam, manusia dan dunia masa
itu sendiri. Pada pihak lain realisme merupakan satu aliran
atau aspek dalam gerakannya yang besar dan anekaragam
yang disebut dengan istilah romantik. Periode realisme yang
khas kemudian dimulai sekitar 1850, khususnya di Prancis.
Ahli teori sastra dan pengkritik sastra seperti Sainte Beuve
dan Traine menuntut agar sastra secara setia menyajikan
kenyataan, lagi pula tidak membataskan diri pada kenyataan
idyll atau lingkungan hidup elit saja. Tak kurang penting
untuk perkembangan realisme adalah perkembangan sosio-
politik pada pertengahan abad ke-19 di Eropa, yang makin
menonjolkan pentingnya rakyat dan keadaan soasialnya.
Realisme di Prancis secara khas diwakili ole Flaubert dan
oleh kakak beradik de Goncourt. (Paragraf 3: 178)

Di Inggris perkembangan realisme terlihat sedikit


terlihat lain, realisme di sana dari awal perkembangan roman
modern, dalam abad ke-18, sebagaiannya sudah bersifat
realis, dalam arti bahwa banyak roman mengambil bahan-
bahan dari kehidulan sehari-hari. Demikian pula di negeri-
negeri lain terdapat bermacam karya dan penulis yang
biasanya disebut realis. Dalam sastra Belanda realisme
sebagai aliran baru dipelopori oleh Maurits, nma samaran
P.A. Daumn WartamaWan Hindia Belanda yang terkenal.
(Paragraf 4: 179)

Dalam menggambarkan dunia roman, penulis mau tak


mau melakukan kegiatan kreatif. Pertama-tama terpaksa
mengadakan seleksi bahan-bahan dari keseluruhan
kenyataan yang tak terhingga, kemudian dia harus
menciptakan struktur naratif, dengan point of view tertetu
mengarahkan dan membatasi kebebasanmya selaku
penggambar kenyataan. Realisme sebagai gaya sastra
mungkin menjadi dominan pada masa tertentu, atau dalam
jenis sastra tertentu (roman, dan drama), tetapi realisme yang
paling realis pun bersifat konvensional. (Paragraf 5: 180)

9. Roman Sebagai Dokumen sosial?

Adakalanya roman disebut dokumen sosial, walaupun


sebutan ini dari segi tertentu ada benarnya, tapi hal itu tidak
berarti bahwa roman mana pun juga dapat dipergunakan
langsung sebagai dokumen seperti misalnya laporam
wartawan, kumpulan data statistik dan lain-lain. Oleh karena
itu, setiap dalam tiap karya sastra ada keterpaduan antara
mimesis dan creatio, antara mengambil data faktual dari
tulisan rekaan, walaupun tulisan itu nampaknya sangat
"realis". Sebagai penyedia fakta dan data roman biasanya
sangat tidak dapat dipercayai, sebab kita tidak pernah tahu
di mana fakta berakhir dan rekaan dimulai. Dalam arti ini
roman biasanya bukan dokumen sosial, hanya saja informasi
dari tulisan rekaan dapat dimanfaatkan sebagai bahan
tambahan pada data yang diperoleh dari sumber yang
bersifat dokumen sosial. (Paragraf 1: 181)

Sastra yang baik menciptakan kembali kemendesakan


hidup. Tetapi arti sastra seerti itu tidak bisa ditangkap
dengan metode dan teknik-teknik ilmu sosial, untuk menilai
karya sastra sesuai dengan ciri khasnya sebagai rekaan, yang
diciptakan oleh manusia dengan daya cipta yang peka.
(Paragraf 2: 181)

Manusia ada abad ke-19 masih beranggapan bahwa apa


yang dapat diamatinya dengan mata kepalanya nyata dan
jelas ada. Tetapi dalam abad ini manusia semakin ragu-ragu
tentang apakah kenyataan itu. Manusia sebagai Picasso bagi
pengamar modern yang mengerti tentang psikologi modern
tidk segila yang dipikirkan dulu, barangkali itu jjustru itulah
manusia yang normal. Dari segi itu pun realis adalah konsep
yang nisbi, yang isinya sebagian besar ditentukan oleh
norma-norma masyarakat setemlat dan sezaman. (Paragraf 3:
182)
10. Kenyataan dalam Puisi Lirik

Dalam lirik modern konvensi keterjalinan antara


kenyataan dan rekaan, lain lagi sifatnya. Menurut
perumusan penyair Belanda Kloos, tokoh terkemuka dari
kelompok Tachtigers, seni adalah ungkapan yang paling
individual dari emosi yang paling individual. Jadi, emosi
pribadi diungkapkan dalam bentuk aku, dalam rangka waktu
kini dan tempat sini, dan sekaligus secara konvensional
pembaca tahu, diandaikan tahu bahwa secara semiotik
penafsiran harus melampaui batas kekuatan, kekinian, dan
kesinian penulis. Puisi lirik baru dapat kita pahami dan nilai
seluruhnya dengan dalam kaitannnya yang kompleks antara
pengakuan yang paling individual si penyair lewat aku
liriknya, dengan pesan yang relevan untuk setiap mnanusia.
(Paragraf 1: 182)

11. kenyataan dalam Babad Sejarah

Lain lagi situasi teks-teks yang disebut historik,


khususnya dalam sastra Indonesia tradisional:babad,
sejarah, salsilah, dan lain-lain.dalam penelitian tersebut
dapat dilihat dua aliran yang , pada pihak pendekatan yang
diwakili oleh Brandes, Hoesein Djajadiningrat, De Graaf,
Krom, Ricklefs.Mereka selaku sejarawan terutama tertarik
oleh masalah kebenaran sejarah dan mereka berharap
mendapatkan dalam teks seperti Sejarah Melayu atau Babad
Tanah Jawi . (Paragraf 1: 183)

Pendekatan terhadap teks tradisional ini memang khas


bersifat mimetik, mengharapkan sejarah dari teks-teks
tertentu, yang nyatanya mengecewakan harapan peneliti
modern. Tetapi pendekatan mimetik ini tidak sesuak dengan
sifat teks yang bersifay kesastraan, dan interpretasi ilmiah
dan faktual modern. W.H. Rassers mendekati teks sejarah
ini dari segi antropologi. Demikian pula Piageaud dan Berg,
masing-masing dengan cara sendiri mencoba memahami teks
ini bukan sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai tulisn
yang memberi makna pada hal-hal yang hakiki. (Paragraf 2:
184)

12. sastra dan Penulisan Sejarah

Pemaparan ini menimbulkan masalah hubungan antara


penulisan sejarah dan sastra. Pembaca perlu diajak kembali
sebentar ke dunia Aristoteles. Karena pada waktu Aristoteles
penulisan sejarah sudah berkembang sebagai cabang ilmu
pengetahuan, dengan Thucydides sebagai sejarawan yang
terkenal. (Paragraf 1: 185)
Sparta dan Thucydides untuk pertama kali mencoba
secara ilmiah memberi laporan, dan analisis serta penafsiran
peristiwa-peristiwa, berdasarkan pengumpulan data yang
selengkap dan secermat mungkin. Dalam hal ini Thucydides
pendekatan Heridedotus. (Paragraf 2: 185)

Aristoteles berpendirian bahwa si penyair sebenarnya


lebih ulung pekerjaannya daripada si sejarawan. Sejarawan
mau tak mau terikat pada fakta-fakta yang "kebetulan"
pernah terjadi. Sedangkan, seorang penyair dapat menulis
ceritanya sendiri. (Paragraf 3: 185)

Hubungan antara sastra dan sejarah di dunia Barat sejak


abad klasik tetap cukup pelik, samapai sekarang. Dalam
Abad pertengahan sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan
yang bertentangan dengan sastra, tidak diketahui lagi.
Akibatnya di dunia Barat nampaknya sejarah dan cerita atau
sastra makin jelas berbeda, yang satu melaporkan hasil
penelitian fakta-fakta dan data-data secermat dan selengkap
mungkin. (Paragraf 4: 186)

Keobyektifan mutlak tidak pernah tercapai, karena


beberapa hal:

a. Fakta-fakta tidak pernah lengkap, selalu fragmentarik.

b. Penulis sejarah mau tak mau harus berlaku selektif.

c. Penulis itu sendiri adalah manusia yang latar belakang,


kecenderungan, pendiriannya bersifat subyektif. (Paragraf 5:
186)

13. Hayden White Mengenai Sejarah dan Sastra

Peneliti modern seperti Hayden White berpendapat


bahwa tulisan sejarah tidak hanya dari segi fakta yang diolah
dan situasi sejarawan harus bersifat subyektif atau relatif
nilainya. Cara berfikir dan menulis seorang ilmuwan di
tentukan oleh discourse, dengan istilah Michael Foulault,
semacam model yang laku dalam kebudayaannya, yang
harus diterapkannya. (Paragraf 1: 187)

Memberi makna dan arti pada data yang dikumpulkan


hanya mungkin berdasarkan tropos-tropos, model kiasan
yang disediakan oleh sejsrah kebudayaan dan sastra kita.
Sejarawan yang ingin menulis mengenai data-data dan fakta-
fakta yang digarapnya mau tak mau harus menyusunnya
sesuai dengan salah suatu plot, harus memplotkannya.
(Paragraf 2: 187)
Perbedaan interpretasi peristiwa tertentu atau riwayat
hidup tokoh adalah perbedaan emplotment, pemplotan, yang
mungkin berbeda menurut model yang dipilih oleh
penulisnya. Justru dengan menyusun sejumlah peristiwa
sedemikian rupa sehingga daripadanya terjadi cerita yang
masuk akal, sejarawan membendakan peristiwa itu dengan
arti simbolik sebuah struktur plot yang dapat dipahami.
(Paragraf 3: 187)

White berpendapat bahwa pandangannya tidak


merendahkan derajat atau gengsi ilmu sejarah. Dengan
menyadari bahwa dalam persepsi setiap sejarawan dan dalam
setiap "naratif sejarah" mau tak mau ada unsur rekaan, sesuai
dengan slah satu diantara model discourse yang berlaku
dalam kebudayaan itu sejarawan itu akan lebih baik
memahami apa yang sedang dilakukannya. (Paragraf 4: 187)

KOMENTAR:
Penulis banyak menggunakan bahas asing sehingga
eberapa pembaca kesulitan memahami isi teks.

BAB IX TEKS BAB IX


KARYA SASTRA 1.Kemantapan Sebuah Teks
SEBAGAI Teks karya sastra adalah sesuatu yang konstan,yang
VARIABEL DALAM mantap,tidak berubah sepanjang masa,sesuai dengan ciptaan
MODEL SEMIOTIK penulisnya yang bagian-bagian dan anasir-anasirnya ikut
1.Kemantapan Sebuah menentukan makna keseluruhannya dan sebaliknya.Dengan
Teks komsekuensi setiap perubahan teks mengakibatkan
2.Filologi atau perubahan arti dan makna. (Paragraf 1:191)
Tekstologi Sebagai Namun kenyataan sejarah teks sepanjang masa
Studi Sejarah Tek bertentangan dengan anggapan bahwa teks adalah sesuatu
3.Tekstologi Buku yang stabil mantap.Sangat sulit mempertahankan dengan
Cetakan utuh bentuk asli sebuah teks yang ingin disalin.Teks yang
4.Sebab-Musabab paling suci bagi manusia pun sering kali mengalami
Teks Cetakan Tidak perubahan dalam sejarah penurunannya.( Paragraf 2:191.)
Mantap Hal ini tidak hanya berlaku untuk teks yang diturunkan
5.Tekstologi secara lisan atau dalam bentuk naskah (manuskrip,tulisan
Naskah:Sedikit tangan).Adakalanya perubahan semacam itu terjadi secara
Sejarahnya kebetulan dan tidak sengaja,adakalanya pula diadakan
6.Filologi di perubahan yang sadar oleh yang berurusan dengan
Indonesia pencetakan kembali teks tersebut. (Paragraf 3:19)
7.Kritik Tentang Jadi pada satu pihak karya sastra sebagai struktur yang utuh
FilologiTradisional, bulat dan mantap;pada pihak lain kita menghadapi bahwa
Khususnya Metode teks cenderung berubah dan tidak stabil wujudnya sepanjang
Stemma masa. (Paragraf 4:19)
8.Variasi 2.Filologi atau Tekstologi sebagai Studi Sejarah Teks
Naskah:Kompsi atau Dalam bahasa inggris,khususnya di Inggris
Kreasi? sendiri,philologys sering dipakai dengan arti yang kemudian
9.Beberapa di Amerika tersebut linguistics,ilmu bahasa.Wellek
Kesimpulan berkeluh:”Since the term(philology)has so many and such
10.Sepuluh Dalil divergent meanings,it is best to abandon it”.Karena istilah
Lichacev untuk filologi mempunyai banyak arti dan istilah filologi
Tekstologi ditinggalkan. (Paragraf 1:193)
Khususnya untuk studi sejarah teks sebuah karya sekarang
dipakai istilah tekstologi,dan akan dipergunakan untuk
menunjukkan studi sejarah teks(sastra).Dalam hal
peristilahan baiklah diterangkan disini bahwa naskah akan
dipakai dalam arti manuskrip,tulisan tangan;versi adalah
wujud sebuah karya.Istilah tek dipakai secara umum untuk
wujud sebuah tulisan.(Paragraf 2:193)
Dalam hal tekstologi dibedakan tiga macam
tekstologi,menurut ragam penurunan teks;
a.Tekstologi yang meneliti sejarah teks lisan;
b.Tekstologi yang meneliti sejarah teks manuskrip;
c.Tekstologi yang meneliti sejarah buku cetakan. (Paragraf
3:194)
Dari segi metode dan teknik penelitian ada perbedaan dan
persamaan antara tiga macam tekstologi ini.Sebagai contoh
disebut penelitian teks Homeros yang diturunkan dalam
bentuk tulisan;dan peneliti berpendapat bahwa pada asalnya
puisi epik Homeros adalah teks lisan yang diciptakan dan
dan dibawakan oleh seorang tukang cerita yang baru
kemudian ditulis dan diturunkan dalam bentuk
naskah;sehingga seorang filolog yang mendalami karya
Homeros harus tahu mengenai masalah tradisi sastra oral.
(Paragraf 4:194)
Dapat dikatakan bahwa sastra tulis tradisional di Indonesia
berfungsi sebagai performing art,dibacakan bersama-
sama,dengan pembagian peranan yang berbeda-beda antara
yang membacakan dan yang mendengar. (Paragraf 5:194)
Namun demikian disini akan dibicarakan khususnya dua
ragam tekstologi,tekstologi cetakan dan tekstologi
naskah,tidak hanya karena dua ragam inilah yang terpenting
dalam sejarah ilmu sastra,tetapi juga oleh karena berdasarkan
dua ragam inilah masalah variasi teks dalam rangka teori
sastra,berdasarkan model semiotik karya sastra,dapat
dibicarakan dengan baik. (Paragraf 6:195)
3.Tekstologi Buku Cetakan
Gutenberg yang khas terdiri atas dua inovasi yang
penting:dia menemukan cara mencetak dengan huruf
lepas,satu demi satu;dan dia berhasil menciptakan tinta yang
baik dipakai untuk pencetakan.Dengan penemuan Gutenberg
mencetak buku dan lain lain secara efisien dan efektif
sehingga pertengahan abad ke-15 buku cetakan mulai
membudaya di Eropa Barat dan tersebar luas keseluruh dunia
dengan istilah Marshall Mcluhan kita masuk “era
Gutenberg”. (Paragraf 1:19)
Faktor-faktor yang mengakibatkan perubahan teks
cetakan:Pertama-tama harus disebut perubahan yang tak
disengajakarena salah cetak dalam edisi yang berturut-turut.
(Paragraf 2:196)
Fredson Bowers memberi cukup banyak contoh yang sangan
mengesankan tentang salah cetak yang melantarkan
pemandangan kritikal yang sangan mendalam,tetapi yang
sebenarnya tidak beralasan apa-apa.Bowers juga mencela
Professor Empson,pengarang buku seven Types of
Ambiguity yang sangat terkenal,karena cukup lalai
mempergunakan teks yang kurang kritis. (Paragraf 3:196)

4.Sebab-Musabab Teks Cetakan Tidak Mantap


1.Perubahan terjadi dalam hal tranliterasi dari satu tulisan ke
sistem,dengan berbagai konsekensi untuk sistem tanda
baca,pemisahan kata,pengelompokan kata dalam
kalimat,pemakaian huruf besar dan lain-lain.Untuk
interpretasi teks tersebut konsekuensi ini untuk bahasa yang
mempergunakan tulisan yang tidak membayangkan lafal teks
tersebut,sehingga mentransliterasikan teks semacam itu si
penyunting harus mengambil keputusan mengenai
interpretasi”.(Paragraf 1:197)
2.Penggarapan kembali sebuah teks yang sudah dicetak oleh
pengarang,misalnya tidak merasa puas dengan ciptaannya
dan ingin menyesuiakannya dengan perkembangan idenya.
Perubahan sangat menarik dari segi fungsi dan arti serta
makna sebuah teks sejarah sastra sebab terungkap pergeseran
nilai-nilai pada pihak penulis sendiri maupun nilai sosial dan
politik. (Paragraf 2:197)
3.Sebuah teks cetakan diubah atas anjuran atau petunjuk
penerbit atau penyunting dengan aspek resepsi:penerbit
mengharapkan minat pembaca (jadi keuntungan bagi dia
sendiri)yang lebih besar jika disesuaikan dengan yang
dianggap menjadi horison harapan pembaca. (Paragraf
3:198)
4.Tek cetak yang diubah oleh karena campur tangan sensor
atau pembesar dengan alasan politik,moralis,dan lain-
lain,misalnya dalam sejarah sastra Inggris adalah buku D.H
Lawrence,Lady chatterley’s Lover,yang bentuk aslinya
dianggap melanggar tata-susila sehingga buku itu harus
diubah supaya penulis luput dari hukuman penjara. Sejarah
resepsi roman Lawrence ini memperlihatkan pergeseran
norma sosial-budaya. (Paragraf 4:199)
5.Perubahan teks yang diadakan tujuan tertentu. Berarti
bahwa karya satra yang utuh bulat dan unik dengan potensi
variasi harus mendapat tempat yang selayaknya dalam model
semiotik sastra dan harus dipertanggungjawabkan dalam
penelitian sastra secara menyeluruh. (Paragraf 5:199)
5.Tekstologi Naskah;Sedikit Sejarahnya
Filologi dalam arti ini di Barat mulai berkembang di zaman
Humanisme. Para humanis berhasil menemukan kembali
tulisan asli para tokoh sesepuh kebudayaan klasik, lebih
dahulu Latin (Vergilius dan Cicero dan lain-lain).Para
humanis tertarik oleh naskah kitab injil yang membuktikan
bahwa teks kitab injil dimanfaatkan gereja menunjukkan
banyak kekeliruan. Sehingga berdasarkan jumlah naskah
yang cukup besar mereka menghadapi tugas menentukan dan
menetapkan teks yang dapat dianggap asli sesuai dengan
yang idiptakan oleh penulis Yunani.
Dapat dikatakan bahwa karya-karya penulis klasik tersedia
bagi studi dalam wujud yang cukup besar. Sejak jaman itu
studi kebudayaan klasik khususnya pendidikan klasik di
sekolah yang disebut gymnasium, berdasarkan pengetahuan
langsung mengenai tulisan asli, dapat dikembangkan terus
menerus. (Paragraf 2:201)
Dalam abad ke-19 para filolog mulai mengembangkan
metode filologi yang bersifat ilmiah; untuk fakta-fakta
pembuktian ilmiah. Metode yang dikembangkan dalam
filologi oleh Lachmann dan beberapa tokoh lain berpangkal
pada hipotesis lain bahwa sebuah teks pernah tercipta dalam
bentuk asli. Tujuan utama filologi menurut mereka ialah
memulihkan teks asli dan murni itu, lewat perbandingan
naskah yang cermat. Hyparchetypos yaitu sub-induk, sebab
ternyata seringkali tidak mungkin mengembangkan semua
naskah langsung kepada satu induk; naskah biasanya
termasuk dua atau lebih sub-keluarga. (Paragraf 3:202)
6. Filologi di Indonesia
Dalam filologi Jawa khususnya Gondaga mulai menerapkan
metode dengan edisi Brahmandapurana (1932) tetapi contoh
baik ini jarang dikutip peneliti lain; sedangkan di bidang
melayu klasik khususnya Ras edisi Hikayat Banjar dan
Kotawaringin (1998) dan disertai Brakel edisi Hikayat
Muhammad Hanafiyyah (1975) menetapkan metode stema
secara sistematis. (Paragraf 1:203)
Para filolog menerbitkan teks Indonesia masih memakai
metode filologi pra-ilmiah, dengan intuisi dan pengetahuan
bahasa yang sebaik mungkin. Ataupun dalam hal adanya
hanya satu naskah sebuah teks memakai prinsip diplomatik,
yaitu dengan setia menerbitkan naskah sebagaimana adanya
dengan mengadakan perubahan yang dianggap perlu dalam
komentar. (Paragraf 2:203)
7. Kritik Terhadap Filologi Tradisional, Khususnya Metode
Stemma
Menurut pendapat modern masalah filologi atau tekstologi
perkembangannya sebagai cabang ilmu sastra sangat
menarik, sebab memperlihatkan pandangan peneliti terhadap
teks sebagai variabel dalam model semiotik. Filologi
tradisional ilmiah dengan metode stemma, memperlihatkan
pendekatan teks yang menekankan aspek ekspresif. (Paragraf
1:204)
Pergeseran minat terhadap pembaca selaku pembeli makna,
menunjukkan beberapa kelemahan. Beberapa kritik dan
keberatan terhadap metode stemma dengan tujuan memberi
uraian yang lengkap mengenai filologi untuk melihat apakah
fungsi dan arti variasi teks dalam keseluruhan studi sastra.
(Paragraf 2:204)
Satu prinsip utama metode stemma ialah adanya satu teks
purba yang asli dan utuh. Prinsip ini mengetahui bagaimana
tulisan Aristoteles, Homeros, atau Vergilius yang asli, atau
bagaimana firman Tuhan yang diturunkan ke umat manusia
lewat nabinya. Keanekaragaman teks asli diakibatkan oleh
karena penulis asli mempunyai beberapa versi tulisannya.
(Paragraf 3:204)
Hipotesis kedua yang mendasari metode stemma
mengandaikan tidak ada kontaminasi, pembauran naskah;
hanya diturunkan vertikal dari naskah yang merupakan
induknya dan tanpa pembauran horizontal. (Paragraf 4:205)
Prinsip ketiga yang melandasi metode stemma tidak benar
mutlak. Dalam seleksi antara yang salah dan benar peneliti
seringkali mengambil keputusan yang subjektif khususnya
dalam pemilihan antara dua varian yang tersimpan dalam
dua hyparchetypos. (Paragraf 5:205)
8. Variasi Naskah; Korupsi atau Kreasi?
Dalam pendekatan segala sesuatu dalam sebuah naskah
menyimpang dari teks yang dianggap asli dipandang sebagai
korupsi oleh filolog harus disingkirkan.Dengan perkataan
lain dalam naskah sering tercermin resepsi teks dalam
lingkungan tertentu. (Paragraf 1:206)
Paragraf 2.Halaman 207. Penelitian yang cukup
cermat Ricklefs terpaksa mengatakan bahwa tidak ada satu
versi babad Jawa asli yang tinggal dari naskah-naskah yang
masih ada dan sudah dapat memilih antara berbagai varian
cerita.
Tetapi Anthony Day mendekati variasi teks babad dengan
optimis menekankan nilai positif variasi babad sebagai
kreasi dalam struktur yang bertingkat tiga. (Paragraf 3:207)
Disini bukanlah masalah siapa benar dan salah;Ricklefs atau
Day karena yang penting untuk pembicaraan dalam rangka
tentang variasi teks sebagai sesuatu yang ditemukan dalam
sejarah teks mana pun juga. (Paragraf 4:208)
9.Beberapa Kesimpulan
Pertama-tama harus diberi peringatan bahwa dengan
pendekatan modern ini jangan dianggap metode lama sama
sekali tidak bermanfaat lagi. (Paragraf 1:208)
Catatan kedua,yang masih berhubungan dengan yang
pertama tadi:menurut kesan sementara kesetian penyalin
pada naskah induknya tidak sama untuk berbagai jenis dan
ragam teks. (Paragraf 2:208)
Catatan ketiga yang perlu:tidak setiap naskah yang masih
ada manfaatnya sebagai sumber pengetahuan resepsi karya
sastra tertentu.Cukup banyak naskah kacau diakibatkan
karena ada penyalin yang malas,bodoh,tidak mahir.Dalam
hal semacam itu naskah yang dipakai jangan disanjung-
sanjung sebagai hasil resepsi yang kreatif. (Paragraf 3:209)
Kesimpulan umum;masih tetap sah dan relevan penelitian
tentang bentuk asli sebuah teks dengan niat penulis yang
menulisnya. (Paragraf 4:210)
Pemesan naskah,para penyalin,pembaca mempengaruhi
sebuah teks. Sejarah teks sebuah monumen sastra ditafsirkan
sebagai sejarah ide-ide manusia dengan selera masing-
masing dalam kaitan yang erat dengan sejarah seluruh
masyarakat. (Paragraf 5:210)
Catatan keempat: Masalah tekstologi untuk sastra tradisional
tidak dapat dipandang lepas dari masalah sastra lisan,karena
dalam sastra Indonesia lama ada interaksi yang sangat kuat
antara sastra lisan dan tulisan. (Paragraf 6:210)
Tekstologi adalah bidang penelitian yag cukup
luas;khususnya diperlukan perhatian yang lebih besar dan
penilaian yang lebih positif terhadap tokoh penyalin.
(Paragraf 7:210)
10.Sepuluh Dalil Lichacev untuk Tekstologi
Pentingnya tekstologi dalam rangka ilu dan teori
sastram,khususnya sebagai sumber pengetahuan untuk
sejarah sastraakan disajikan dalam sepuluh dalil yang
dirumuskan oleh Lichacev. (Paragraf 1:211)
KOMENTAR:
Materi yang dijelaskan pada bab ini memberikan semangat
kepada pembaca untuk dapat berkarya melalui sastra.buku
ini juga menyampaikan ide-ide yang kreatif bagi pembaca.

BAB X STUDI BAB X


SASTRA LISAN 1.Gayutan Sastra Lisan dalam Kerangka Teori Sastra Umum
DALAM RANGKA Memang harus diakui bahwa dalam model semiotik sastra
SEMIOTIK SASTRA yang dikembangkan dalam BAB II sastra lisan tidak
1.Gayutan Sastra diberikan tempat yang khas,dan memang secara teknis
Lisan dalam maupun prinsip hal semacam itu sukar dilaksanakan.
Kerangka Teori Sastra (Paragraf 1:213)
Umum Alasan mengapa dianggap penting meminta perhatian yang
2.Minat untuk Sastra khusus untuk bentuk sastra lisan.
Lisan di Eropa: a.Pebedaan yang cukup menonjol antara sastra lisan dan
Sedikit Sejarahnya sastra tulis;sastra tulis tidak memerlakukan komunikasi
3.Minat untuk Sastra langsung antara pencipta dan penikmat.
Lisan di Indonesia: b.Penelitian sastra lisan biasanya berlangsung dalam rangka
Sedikit Sejarahnya yang berbeda dengan ilmu sastra umumnya.
4.Perkembangan c.Ahli sastra di Indonesia berurusan dengan soal apakah
Penelitian Sastra kerangka teori sastra yang dipakai untuk sastra tulis
Rakyat sekaligus dapat dipakai untuk sastra lisan.
Kemudian:Mashab d.Sastra yang diturunkan dalam bentuk tulis dalam praktek
Finlandia biasanya berfungsi sebagai sastra yang dibawa dan
5.Penelitian Propp dibacakan bersama-sama. (Paragraf 2:213)
Mengenai Dongeng
Rusia 2.Minat untuk Sastra Lisan di Eropa:Sedikit Sejarahnya
6.Penelitian Puisi Dalam uraian sejarah dibawah ini sangat bermanfaat teks
Lisan Parry dan Lord serangkaian kuliah mengenai satra lisan yang diberikan oleh
7.Penelitian Modern G.L.Koster . (Paragraf 1:214)
Tentang Sastra Pada abad -18 muncul reaksi terhadap klasisme yang
Rakyat di menyanjung zaman klasik sebagai puncak kebudayaan
Indonesia:Fox manusia.Primitif ditemukan oleh manusia Eropa Barat
Sweeney sehingga pada masa itu para pencinta sastra mulai
8.Beberapa menemukan,mengumpulkan dan meneliti sastra lisan yang
Kesimpulan Umum dianggap primitif. (Paragraf 2:215)
9.Beberapa Filsuf Jerman yaitu Johann Gottfried Herder memberi
Kesimpulan Khusus gagasan mengenai Filsafat Sejarah Umat Manusia bahwa
Untuk Teori Sastra asal-usul bahasa:manusia primitif,purba mulai belajar
Indonesia berbahasa lewat kesan-kesan yang diterima dari luar dirinya
dalam bentuk bunyi. (Paragraf 3:215)

Berdasarkan gagasan yang dipaparkan oleh Herder muncul


Jakob dan Wilhelm Grimm menerbitkan dongeng-dongeng
dengan memelopori cabang ilmu yang disebut ilmu sastra
oral atau rakyatdengan mengumpulkan data yang berkaitan
dengan kehidupan rakyat pedesaan. (Paragraf 4:216)
3.Minat untuk Satra Lisan di Indonesia: Sedikit Sejarahnya
Para penerjemah kitab injil yang sejak awal abad -19 mulai
diutus ke Hindia Belanda oleh Lembaga Alkitab
Belandadengan tugas menerjemahkan Kitab Injil dalam
berbagai bahasa nusantara dan untuk secara ilmiah meneliti
bahasa dan kesusastraan suku bangsa tempat mereka bekerja.
(Paragraf 1:217)
Beberapa nama tokoh peneliti sastra rakyat yang perlu
dihormati sebagai peletak dasar studi sastra rakyat di
Indonesia.Yang pertama adalah Herman Neubronner Van
der Tuuk yang disekitar tahun 1850 ditugaskan
menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Batak.Hanya sebagian
kecil saja bahan ini diterbitkan dalam bentuk buku;tetapi
semuanya masih tersimpan dalam bentuk naskah. (Paragraf
2:217)
Tokoh kedua yaitu N.Adriani(1865-1926)yang seumur hidup
bekerja diantara orang Bare’e atau subsuku Toraja di
Sulawesi Tengah mengenai bahasa dan sastra Toraja Bare’e.
(Paragraf 3:217)
Rekan Adriani yang bekerja dalam lingkungan suku bangsa
Toraja Selatan bernama H.vander Veen yang menerbitkan
teks puisi-puisi nyanyian orang kematian,dengan terjemahan
Belanda dan Inggris. (Paragraf 4:218)
Di Kalimantan Selatan diadakan penelitian dan pengumpulan
bahan ssatra rakyat oleh seorang misionaris Swiss,H.Scharer
sebagai antropolog cukup tenar karena bukunya mengenai
agama orang Ngaju. (Paragraf 5:218)
Rokhaniawan berjasa mengumpulkan dan menerbitkan cerita
dan penyajian suku banga Dayak Mualang namanya
P.Donatus Dunselman. (Paragraf 6:218)
Seorang misionaris Kristen yang sangat aktif mengumpulkan
bahan puisi dan cerita rakyat bernama W.L.Steinhart;dia
bekerja di Pulau Nias . (Paragraf 7;218)
Tokoh terakhir yang bekerja di pulau Timor namanya
P.Middlekoop khusunya tertarik oleh sastra rakyat dari segi
keagamaan;menurut Middlekoop banyak persamaan dari
segi nilai agama dan nilai sastra antara puisi Rakyat Timor
dan nyanyian dalam Kitab Perjanjian Lama yang disebut
masmur. (Paragraf 8:218)
Kebanyakan peneliti Belanda dan asing lain yang disebut
tadi besar jasanya dari segi pengumpulan dan penerjemahan
bahan-bahan satra lisan;tetapi mereka tidak banyak berminat
untuk aspek-aspek teori sastra yang berkaitan dengan sastra
rakyat melainkan mereka lebih tertarik dari segi ilmu atau
deskripsi bahasa khususnya sebagai penerjemah Al-Kitab.
(Paragraf 9:219)
4.Perkembangan Penelitian Sastra rakyat kemudian:mazhab
Finlandia
Eropa pada abad yang lalu mulai berkembang minat yang
lebih berssifat kesastraan untuk sastra rakyat.Pada awalnya
minat ini,sesuai dengan perkembangan ilmu kemanusiaan
umumnya,ilmu bahasa dan ilmu sastra khususnya
berorientasi sejarah dan bandingan. (Paragraf 1:219)
Metode dan teori historik komparatif secara sistematik mulai
dikembangkan di Helsinki oleh orang Finlandia yang
merupakan ciptaan abad ke-19 berdasarkan berbagai macam
cerita epik rakyat yang tua.Krohn membuat kesimpulan
mengenai asal-usul dan migrasi,cerita rakyat diadakannya
satu usaha raksasa untk mengumpulkan dan membandingkan
carita rakyat selengkap mungkin. (Paragraf 2:220)
Masalah utama yang dihadapi peneliti ialah masalah
klasifikasi dan organ-organiassi bahan-bahannya.
Penggolongan cerita rakyat Mazhab memakai dua konsep
dasar ;type dan motif;jadi cerita digolongkan menurut
typenya;sedangkan motif didefinisikan sebagai anasir
terkecil dalam sebuah cerita yang mempunyai daya tahan
dalam tradisi. (Paragraf 3:220)
Untuk Indonesia metode ini diterapkan oleh Jan de
Vries,seorang sarjana sebagai ahli bahasa Jermanik,dalam
buku mengenai cerita rakyat Hindia Belanda dilengkapi
dengan index type yang disesuaikan untuk Indonesia dari
buku Aarne.P.Voorhoeve disertai cerita rakyat orang Batak.
(Paragraf 4:220).
Penelitian oleh mazhab Finlandia menghasilkan studi yang
sangat menarik mengenai cerita rakyat diseluruh
dunia,namun metode ini mempunyai kelemahan. Dalam
praktek ternyata bahwa pembagian dalam tipe dan motif
sangat sulit dan sering ternyata tidaj konsisten atau bersifat
subyektif. (Paragraf 5:221)
Pendekatan mazhab historik-geografik harus kita
tempatkandalam rangka model semiotik karya sastra jelaslah
minat utama terarah pada penciptaan. Asal-usul cerita
rakyat,sesuai dengan pendekatan sejarah yang umum berlaku
dalam ilmu sastra. (Paragraf 6:221)
5.Penelitian Propp Mengenai Dongeng Rusia
Pendekatan aliran strukturalis dalam ilmu bahasa dan
sastra pen-dekatan mazhab historik-geografik tidak luput
dari kritik. Kritik yang keras datang dari seorang peneliti
Rusia yang bernama Vladimir Propp,dengan sebuah studi
yang berjudul The Morpology of the Folk Tale. Propp
bukanlah seorang formalis,Namun Propp dengan keras
membantah kualifikasi Levi-Strauss seakan dia seorang
formalis. (Paragraf 1:222)
Buku Propp dapat disebut sebuah usaha untuk
menemukan aturan yang menguasai atau menentukan
susunan plot dalam sebuah jenis dongeng Rusia yang khas.
Kritik Propp terhadap mazhab Finlandia. Propp sebagai
dasar penelitian memerlukan membuat analisis struktur
folktale yang mencoba memastikan anasir hakiki setiap
dongeng. . (Paragraf 2:222).
Dalam fungsi dan teori Propp diberi definisi “fungsi
adalah tindak seorang tokoh yang dibatasi dari segi
maknanya untuk jalan lakonnya’’. Propp mengembangkan
semacam skema yang selalu sama dan umum berlaku untuk
jenis dongeng walaupun tidak setiap dongeng memiliki
fungsi yang sama. . (Paragraf 3:223)
Hasil analisis ini memang mengejutkan sebab jika
benar dan ahrus diterima berarti bahwa Propp berhasil
memberikan satu dasar penggolongan dongeng yang
sungguh-sungguh struktural dan berlaku umum. (Paragraf
4:223)
Analisis dan tipologi struktural Propp bukan tujuan
utama dan terakhir. Dalam bukunya morfologi sudah jelas
bahwa dia sebenarnya ingin memanfaatkan hasil tipologi
struktural unutk penelitian historik. Dia berharap dapat
menentukan bentuk purba dengan tokoh peristiwa yang
bermacam-macam. Jadi Propp ingin menggabungkan metode
struktural dengan penelitian genetik. . (Paragraf 5:223)
Tidak mengherankan bahwa sesudah karya Propp
diketahui di Eropa Barat peneliti strukturalis,khususnya di
Prancis sangan tertarik abhkan mencoba mengembangkan
prinsip dan hasil penelitian Proppmenjadi dasar sebuah
analisisnaratif yang universal. (Paragraf 6:224)
Tetapi berangsur-angsur makin lama makin banyak
kritik yang sangat tajam dilontarkan terhadap studi Propp.
Kritik utama terhadap Propp menyangkut pilihan dan
analisis fungsi. Demikianlah konsep fungsi menjadi
ruwet,tidak dapat dibuktikan benar tidaknya. (Paragraf
7:224)
Kesimpulan Guepin terhadap pendekatan dan hasil
penelitian Propp cukup negatif. Propp tidak berhasil tesisnya
yang terdiri atas empat dalil. Namun jasa Propp tetap
besar;sebab dialah yang pertama kali mengemukakan
pentingnya analisis struktural tentang naratif cerita rakyat.
(Paragraf 8:224)
6.Penelitian Puisi Lisan:Parry dan Lord
Sejak dahulu Homeros sebagai penyair
dipermasahkan dizaman klasisme,Homeros sering
dipisahkan dari pengarang klasik yang agung,dengan alasan
bahwa dia seorang buta huruf,urakan,yang gaya bahasa dan
gambarnya tentang dewa-dewa dan manusia bersifat
kerakyatan dan kasar;tetapi dipihak lain dia dikagumi
sebagai teladan penyair “primitif” dalam arti yang
positif.(Paragraf 1:225)
Seorang ahli bahasa Yunani Milman
Parry,membuktikan bahwa karya Homeros pada satu pihak
memang memanfaatkan dan menggali kekayaan tradisi oral
sezaman,namun demikian berdasarkan konvensi sastra lisan
dia menciptakan karya sastranya sebagai keseluruhan yang
utuh dan sempurna. (Paragraf 2:225)
Ide baru yang dilancarkan Parry adalah Homeros
penciptaan karyanya memanfaatkan persediaan for-mula
yang menjadi modalnya yang siap pakai sesuai dengan
persyaratan matra dimanfaatkan unutk eposnya. Contohnya
jumlah epithon. Epithon adalah semacam kata sifat atau
klausa yang berfungsi kata sifat,yang memberikan ciri khas
benda. (Paragraf 3:226)
Tetapi Parry tidak puas dengan hipotesis hanya
berdasarkan bahan-bahan dari tiga ribu tahun yang lalu dan
dia turun kelapangan untuk mencek proses penciptaan epos
rakyat yang diandaikan pernah ada dalam kenyataan ;mereka
pergi ke Yugoslavia dan hasil penelitian mereka kemudia
sesudah Parry meninggal,diterbitkan oleh Lord yang
sekarang dianggap sebuah karya kalsik imu sastra. (Paragraf
4:226)
Hipotesis Parry memang dapat dibuktikan
berdasarkan hasil penelitian Parry dan Lord Yugoslavis.
Mereka meneliti puluhan contoh epos rakyat seperti
dinyanyikan oleh tukang cerita;mereka meneliti penciptaan
epos rakyat dan cara tradisi diturunkan dari guru kemurid.
(Paragraf 5:226)
Beberapa kesimpulan penting yang dicapai oleh
Parry dan Lord sehubungan dengan epos Yugoslavia:
1. Epos rakyat Yugoslavia tidak dihafalkan secara turun
temurun,tetapi dibawakan teksnya diciptakan kembali secara
spontan dengan kecepatan yang sangat mengagumkan.
2. Skema matra yang harus dipakai cukup ketat,setiap
larik harus terdiri atas sepuluh suku kata dengan penggalan
sesudah suku kata yang keempat,yang harus bertepatan pula
dengan pemisahan kata.
3. Ciri khas puisi lisan;tidak ada wujud beku yang
mantap;sastra lisan adalah sastra yang hidup,lincah selalu
diciptakan dan dihayati kembali sesuai dengan daya cipta
pembawa dan penikmatnya. (Paragraf 6:227)

Teori Parry-Lord waupun umum diakui bahwa prinsip


formulaik sangat penting untuk puisi Homeros dan puisi
rakyat Yugo,kesimpulan Lord tidak hanya semua puisi lisan
harus bersifat formulaik,tetapi bahwa sebaliknya. (Paragraf
7:228)
Tetapi dorongan yang diberikan Lord tidak hanya
meneliti sastra lisan sebagai hasil sastra yang mempunyai
nilai dan hak tersendiri,tetapi untuk mengembangkan konsep
teori yang cocok untuk studi “puisi lisan dalam rangka ilmu
sastra umum,harus dipuji. (Paragraf 8:228)
7.Penelitian Modern tentang Sastra Rakyat di
Indonesia:Fox,Sweeney
Perang dunia kedua jelaslah kemajuan yang telah
dicapai; yang sudah dijelaskan oleh James Dananjaya.
Kemudian Yus Rusyana yang meneliti cerita rakyat dengan
memakai analisi motif dan struktur yang modern. Nigel
Philipps mengenai nyanyian Naratif Sumatra Barat yang
memberikan tentang latar belakang teknik dan metode para
penyanyi tentang masalah variasi,rumusan formulaik dan
peranannya.(Paragraf 1:229)
Dari segi teori sastra penting untuk membicarakan
karya dua penelitian yang memberi sumbangan yang sangat
berarti bagi penegtahuan mengenai Sastra Lisan
Indonesia,berdasarkan penelitian faktual di dua daerah
Indonesia: Amin Sweeney dan James Fox. (Pargaraf 2:229)
Amin Sweeney selama masa cukup mendalami sastra
oral melayu di Malaysia Barat. Dia melatih diri menjadi
seorang tukang cerita dan dalang gaya Melayu dan sangat
berhasil sehingg adia diterima oleh “Sastrawan”. (Paragraf
3:230)
Sweeney menegaskan bahwa tukang cerita Melayu sungguh-
sungguh seorang profesional yang membawakan ceritanya
dengan lagu yang biasanya milik ia sendiri. Ada sejumlah
persamaan dan perbedaan antara situasi guslar Yugo dengan
situasi tukang cerita puisi Melayu;persamaan utama adalah
daya cipta dalam ;tukang cerita yang baik dan
berpengalaman tidak menghafalkan teks yang mantap.
Sedangkan perbedaan penting adalah kaitan langsung dengan
lagu,sedangkan matra dalam arti teknis ala epos Yugo tidak
ada. (Paragraf 4:230)
Fox membicarakan jenis pusi yang disebut bini,puisi
keagamaan tertentu;ciri khas puisi ini adalah pemakaian
dyadic sets,pasangan kata yang menunjukkan kesejajaran
semantik tertentu;demikian juga kata kerja dan kata sifat
mempunyai pasangan;dalam puisi bini harus ada kesejajaran
antara dua baris dalam arti setiap kalimat yang mengandung
kata yang ada pasangannya diberi kalimat atau larik sejajar.
(Paragraf 5:230)
8.Beberapa kesimpulan umum
a. masalah struktur kesastraan berdasarkan sastra lisan,dari
bentuk yang paling sederhana sampai bentuk yang sangat
njilmet,dengan persyaratan puitik yang kompleks.
b. tak kurang pentinglah variasi sebagai aspek hakiki sastra
rakyat;dari segi korupsi dan kreasi,juga dari segi fungsi
variasi.
c. proses penciptaan sastra. Cara dia memanfaatkan
persediaan sarana bahasa dan konvensi sastra.
d. dalam sastra lisan resepsi masyarakat dan pengaruh timbal
balik antara penciptaan dan sambutan dapat diperhatikan
dengan intensif,sebab sastra oral masih berfungsi sebagai
sarana komunikasi langsung.
e. masalah hubungan antara fungsi estetik dan fungsi lain
dalam variasi dan keragamannya dapat diamati dari dekat
dengan dominan tidaknya fungsi estetik.
(paragraf 1:232)
9.Beberapa Kesimpulan Khusus untuk Teori Sastra
Indonesia
a.segi sejarah maupun dari segi tipologi sastra tidaklah baik
diadakan pemisahan antara sastra lisan dan sastra tulis. Fox
juga menunjukkan persamaan struktur antara cerita
genealogik lisan baik secara historik maupun tipologik.
b. prinsip variasi sebagai prinsip lisan. Dalam filologi
Indonesia tradisi penurunan naskah sering kali
memperlihatkan variasi yang besar. Seolah-olah ada
persamaan gaya antara tukang cerita yang pada setiap
pembawaan sebuah cerita menciptakannya kembali sesuai
dengan selera pendengarnya. Dengan perkataan
lain,tekstologi sastra Indonesia dapat mengambil manfaat
dari perbandingan dengan situasi sastra lisan,dan
mengaitkannya dengan sastra tulis.
c.sastra tulis berfungsi dalam situasi sosial yang disebut
ramai. Sastra yang ditulis pun dibaca secara bersaama
dengan segala konsekuensi untuk teknik,struktur dan
fungsinya
d.penggabungan sastra tulis dan sastra lisan dalam satu
kerangka teori tidak hanya penting bagi sastra tradisional
;sebab kita dapat menyaksikan bahwa dalam sastra Indonesia
modern sastra sebagai performing art memainkan peranan
penting. (Paragraf 1:234)
KOMENTAR:
Pada bab ini masih terdapat kata yang sulit dimengerti dan
tidak terindeks pada bagian indeks.
BAB XI TEORI BAB XI
SASTRA DAN TEORI SASTRA DAN SEJARAH SATRA
SEJARAH SASTRA 1. Pendekatan Sejarah Sastra Yang Tradisional
1.Pendekatan Sejarah Dalam abad ke-19 ilmu sastra terarah pada penelitian sejarah
Sastra yang sastra. Sejarah sastra memiliki berbagai bentuk pendekatan.
Tradisional Masing-masing pendekatan memiliki keunggulan dan
2.Prinsip Dasar kelemahan. Berikut empat pendekatan yang utama, yaitu :
Sejarah Sastra a. Pendekatan menggunakan kerangka universal sejarah
3.Beberapa Faktor kebudayaan yang membagi sastra dalam periode menurut
yang Relevan untuk gambaran sejarah kebudayaan. Pada abad ke-19 sejarah
Sejarah Sastra sastra menjadi bersifat nasional karena timbulnya
a.Dinamika Sistem nasionalisme sebagai ideologi dan menguasai pemikiran para
Sastra ilmuwan. Pendekatan sejarah sastra ini, menempatkan karya
b.Pengaruh Timbal sastra dalam kerangka yang jelas.
Balik Antara Jenis b. Pendekatan yang mengambil kerangka karya atau
Sastra tokoh agung atau juga gabugan keduanya. Pendekatan ini
c.Inter Tekstualitas mudah dan praktis yang dapat digunakan untuk pengajaran.
Karya Individual dan c. Pendekatan yang memusatkan perhatian pada motif
Sejarah Sastra atau tema yang terdapat dalam karya sastra. Dalam
d.Sejarah Sastra dan pendekatan ini banyak dicurahkan perhatian pada
Sejarah Umum pengembaraan motif atau tema. Tetapi apabila dari segi teori
e.Penelitian Resepsi sejarah sastra pendekatan ini, memperlihatkan kelemahan
Sastra dan Sejarah utamanya yaitu sejarah sastra yang bermakna bisa hilang di
Sastra belakang tema atau motif ini.
f.Sastra Lisan dan d. Pendekatan yang memperhatikan asal usul karya
Sejarah Sastra sastra daripada struktur dan fungsinya. Pada pendekatan ini
g.Sejarah Sastra sejarah sastra mengambil kriteria utama untuk penahapan
Indonesia dan Sejarah sejarah pengaruh asing yang berturut-turut dapat ditelusuri
Sastra dalam Bahasa pada perkembangan sastra tertentu.
Nusantara Sejarah sastra yang sungguh-sungguh tidak banyak
4.Beberapa Saran dan dijelaskan berdasar pendekatan di atas.
Contoh Tentang Dan pada penjelasan sebelumnya juga jelas disebut bahwa di
bidang sastra se-Indonesia belum ada bukunya.
Dari segi teori sastra, belum ada penulisan sejarah sastra
Indonesia yang memuaskan. Beberapa buku sekolah dengan
kata sejarah dalam judulnya masih sangat jauh dari ilmu
sejarah sastra sesungguhnya. Ada sejumlah tulisan yang
mendekati ideal untuk bagian sejarah sastra modern
walaupun demikian masih banyak memerlukan studi
pendahuluan dan studi bagian.
2. Prinsip Dasar Sejarah Sastra
Dalam Bab IV dikemukakan bahwa teori sastra harus
meneliti kompetensi sastra, yaitu keseluruhan konvensi yang
memungkinkan pembacaan dan pemahaman karya sastra.
Setiap karya adalah manifestasi yang harus dikuasai oleh
pembaca agar karya bacaan tersebut dapat diberi makna.
Pandangan mengenai sastra sebagai sistem ada benarnya
karena sastra memuat bahasa dan bahasa adalah sistem
semiotik, di dalamnya memuat bagian-bagian yang saling
berhubungan. Namun apabila terjadi perubahan dalam satu
bagian, akan mempengaruhi bagian lain yang berdampak
pada ruwetnya deskripsi pada sastra. Dari permasalahan di
atas disimpulkan bahwa sejarah sistem sastra menjadi tugas
yang tidak terlaksana dalam waktu yang lama dan mungkin
hanya mampu menjelaskan hal-hal mengenai sejarah sistem
bagian.

3. Beberapa Faktor Yang Relevan Untuk Sejarah Sastra


a. Dinamika sistem sastra
Masalah dalam sejarah sastra harus mengambil titik tolak
dari penelitian jenis sastra.
Jenis sastra modern bersifat dinamik yang berarti karya
sastra selalu berada dalam konvensi dan kreasi.
Tidak hanya pada sastra modern, dalam sastra tradisional
norma dan konvensi jenis sastra sering berubah.
b. Pengaruh timbal balik antara jenis sastra
sehubungan dengan dinamika jenis sastra, perlu diteliti
hubungan dan kaitan antara jenis sastra. dalam dinamika
sistem sastra, seluruh kaitannya merupakan faktor yang
hakiki.
Dalam sejarah sastra sering dilihat transformasi teks tertentu
dari satu jenis ke jenis lain. Transfromasi tersebut berarti
pemindahan tempat dalam sistem sastra. pemindahan itu
mungkin menujukkan pergeseran minat atau gaya sastra
pada masa tertentu.
c. Intertekstualitas karya individual dan sejarah sastra
kaitan antara jenis sastra dan karya individu
memperhadapkan peneliti dengan berbagai masalah yang
memperumit sejarah sastra. hal itu diakibatkan oleh
hubungan yang ambigu antara karya individual dan norma-
norma jenis sastra.
d. Sejarah sastra dan sejarah umum
penulisan sejarah sastra berada dalam tegangan antara
perkembangan intrinsic dan perkembangan sosio-budaya-
politik yang menghasilkan sastra tersebut. Sesuai peelitian
dan perkembangan teori sastra Jausz dan Mukarovsky-
Vodicka sejarah sastra tidak mungkin ditulis dalam isolasi
terhadap sejarah umum. Peneliti sastra tidak ahli dalam
bidang sejarah umum sehingga mereka terpaksa
mempercayakan diri pada sumber-sumber sekunder atau
hasil-hasil penelitian sejarahwan.
Masalah-masalah ini memiliki konsekuensi yang cukup jelas
bagi ahli sastra. ahli sastra memusatkan perhatian pada
perkembangan sejarah sastra yang intirnsik khususnya lewat
penelitian perkembangan jenis sastra dan karya sastra dalam
hubungan intertekstualnya. Baru kemudian atas dasar hasil
penelitian semenara dapat diusahakan pengaitan sejarah
sastra dengan sejarah kemasyarakatan dalam arti yang luas
berdasarkan hasil penelitian sejarah.
e. Penelitian resepsi sastra dan sejarah sastra
secara prinsip, sejarah sastra perlu diikutsertakan
berdasarkan model semiotik karya sastra. Resepsi sastra
tidak hanya oleh dilakukan para pembaca yang se-zamannya
dengan penulis tetapi juga resepi oleh angakatan pembaca
yang berturut-turut sesudah masa penciptaanyaan. Dinamika
perkembangan sastra terungkap lewat pergeseran nilai sastra,
termasuk perubahan dalam lingkungan pembaca yang
menikmati karya sastra tertentu. Resepsi karya sastra lama
dalam masyarakat dapat memperlihatkan pergeseran nilai
dan konvensi.
Anggapan tentang pentingnya resepsi karya sastra sebagai
faktor dalam sejarah sastra sudah cukup luas diterima,
namun harus dikatakan pula bahwa penelitian resepsi itu
menyediakan berbagai kesulitan metodis dan teknis yang
disebabkan data-data untuk penelitian resepsi karya sastra
tidak ada atau terbatas.
f. Sastra lisan dan sejarah sastra
sastra yang seluruhnya terdiri atas sastra oral sukar ditulis
sejarahnya. Di Indonesia pun sastra lisan dari masa
prasejarah sampai kini memainkan peran yang penting.
Sebagian besar sastra lisan hilang tak berbekas dan yang
masih ada sekarang diselematkan karena berkat usaha
berbagai peneliti. Sastra lisan di Indonesia tidak mengalami
perubahan besar. Apabila ada perubahan, hal tersebut
disebabkan oleh pengaruh sastra asing. Sastra lisan dalam
berbagai bentuk dan berbagai cara terus menerus
mempengaruhi sastra tulis.
g. Sejarah sastra Indonesia dan sejarah sastra dalam bahasa
nusantara
Kompilkasi hubungan antara sejarah sastra ekabahasa dan
sejarah sastra se-Indonesia menjadi masalah dalam sejarah
sastra Indonesia. Sastra berkembang di masyarakat atas dasar
pemahaman horison harapan dan nilai sastra yang terwujud,
ekspilist atau implisit, lewat karya yang sama bahasanya.
Sistem sastra tidak tumbuh dan berkembang dalam isolasi
mutlak tetapi dipengaruhi oleh sastra dalam bahasa lain.
Sastra Indonesia memiliki pengaruh timbal balik antara
bahasa-bahasa Indonesia tertentu. Pengaruh timbal balik
tersebut terjadi ketika pertukaran bahasa dalam sastra.
Sastra Indonesia kuat dipengaruhi oleh sastra dari luar
Indonesia. Karya sastra asing diciptakan kembali, dicerna,
dan disesuaikan dengan tuntutan bahasa, sastra, dan budaya
Indonesia.
Sejarah sastra Indonesia tidak mungkin ditulis dalam bahasa
demi bahasa tanpa membandingkan dengan sastra dari
bahasa lain. Dari hal tersebut dapat dibedakan jenis-jenis
sastra yang khas untuk suatu bahasa, misalnya karena ciri-
ciri kebahasaan yang istimewa. Penulisan sejarah Indonesia
seharusnya dilakukan dalam tataran ekabahasa dan tataran
se-Indoensia agar terjadi timbal-balik yang dapat diwujudkan
sebaik mungkin dan mampu dipertanggungjawabkan.

4. Beberapa saran dan contoh tentang penulisan sejarah


sastra : metode penampang sinkronik: Jausz 1857 dalam lirik
Perancis
Tidak ada satu pendekatan yang dapat dipakai untuk menulis
sejarah sastra. Kekomplekskan masalah sejarah sastra hanya
dabat diatasi dengan pendekatan yang keanekaragaman.
Satu pendekatan dari segi tekhnik penelitian memberi
harapan akan hasil yang memuaskan dalam sirtuasi sejarah.
Puisi Baudelaire yang mendobrak cita-cita keindahan itu dan
yang mencari yang indah dalam yang uruk dan jahat.
Baudelaire memecahkan norma puisi yang sekaligus
mewakili ideologi.
Jausz berusaha mengaitkan antara situasi sastra dengan
situasi kemasyarakatan. Jausz mendasarkan pandangannya
mengenai dunia sosial pada teori sosiologi kognitif.
Pendobrak horisan harapan pembaca menurut pandangan
Jausz terbukti berkaitan antara lansung dan tak langsung
dengan tegangan dalam sistem nilai sosial.

5. Kemungkinan penerapan metode penampang sinkronik di


Indonesia
Hubungan instrinsik antara karya-karya dapat ditelusuri
berdasarkan analisis instrinsik serta data ekstrinsik.
Penelitian resepsi sastra secara agak luas dan representatif
biasanya tidak mudah. Tetapi kaitan antara sastra dan
keadaan oleh penampang sinkronik dapat di teliti.
Pendekatan yang seragam dapat dibayangkan untuk sastra
Jawa baru, khususnya sastra yang tercipta dan dihayati pada
kraton di Jawa Tengah.

7. Sejarah Sastra se-Indonesia


Penelitian sastra lisan dapat diperhatikan minat yang makin
meningkat untuk masalah sejarah sastra. Baik dari segi teori
maupun praktis. Berdasrkan konsep-konsep teori sastra dan
pemahaman yang lebih tajam mengenai ciri khas karya sastra
dan konvensi sastra sebagai sistem sinkronik. Sejarah
sastrapun dapsat dikembangkan pada tataran yang lebih
tinggi dan dengan perlengkapan konseptual yang lebih maju
dan sempurna.
KOMENTAR:
Bahasa yang dipakai pengarang banyak menggunakan
bahasa istilah sehingga sulit dipahami.

BAB XII SASTRA BAB XII


SEBAGAI SASTRA SEBAGAI SENI : MASALAH ESTETIK
SENI:MASALAH 1. Ilmu sastra dan estetika
ESTETIK Karya sastra dapat didekati dari dua segi yang cukup
1.Ilmu Sastra dan berbeda. Terutama dibicarakan masalah satra sebagai seni
Estetik bahasa, dengan tekanan pada aspek kebahasaanya dalam
2.Sedikit Sejarah kaitan dan pertentangannya dengan bentuk dan pemakaian
Estetik Sastra Barat bahasa lain. Sastra juga merupakan bentuk seni, jadi dapat
3.Estetik Terlepas didekati dari aspek keseniannya. Seni bahasa menimbulkan
dari Norma, Agama, masalah yang khas, karena bahasa sebagai sarana seni bagi
dan Etik seniman. Bahasa sebelum dipakai oleh seniman untuk
4.Beberapa membentuk sistem tanda dengan sistem makna yang mau tak
Pendekatan Estetik mau mendasari ciptaan sastrawan.
Indonesia:Melayu dan
Jawa Kuno 2. Sistem sejarah estetik sastra Barat
5.Tegangan Sebagai Keindahan yang mutlak menurut Plato hanya terdapat pada
Dasar Penilaian tingkatdunia ide-ide, dan dunia ide yang mengatasi
Estetik kenyataan itulah dunia ilahi yang tidak langsung terjangkau
6.Tegangan oleh manusia. Para filsuf mendekati dunia ide lewat harmoni
Pertama:Fungsi Puitik yang ideal. Plato secara tak langsung seni berhubungan
Bahasa dengan hakikat benda-benda. Seni sejati berusaha mengatasi
7.Tegangan yang kenyataan, dalam bayang-bayang yang hina diusahakannya
Inheren Pada Struktur menyarankan sesuatu dari dunia yang lebih tinggi.
Karya Sastra Pemandangan mengenai seni dari segi estetik pada masa itu
8.Variasi Karya berdasarkan dua hal yang hakiki. Pertama persatuan mutlak
Sebagai Sumber dari yang baik, yang benar dan yang indah sangat lama
Tegangan menguasai estetik Barat.
9.Tegangan Antara
Konvensi Sastra dan 3. Estetik terlepas dari norma agama dan etik
Karya Individual Norma-norma untuk estetik pada satu pihak terdapat dalam
10.Tegangan Antara etik dan filsafat. Petratarca mengatakan memang secara
Mimesis dan Kreasi sadar mengalami dan menikmati keindahan alam sebagai
sesuatu yang baru bagi dia pribadi. Pengalaman estetik
secara mutlak kepada penikmat, jadi pembaca, penonton,
pendengar. Menurut pendapat ini keindahan nilai estetik
bukanlah sesuatu yang secara objektif terletak dalam karya
seni. Penikmat menjadi pencipta serta. Obyek bambigu Jausz
memperlihakan bagaimana kuno batas antara seni dan alam.
Bahkan batas antara seni dan kenyataan menghilang.

4. Beberapa pendekatan estetik Indonesia : Melayu dan Jawa


Kuno
Teori estetik yang eksplisit tidak diketahui dibidang sastra
Indonesia yang tradisional. Ada konsepsi estetik yang secara
implisit terkandung dalam sastra Melayu klasik dalam
puisi Jawa kuno. Teori ini digali oleh peneliti karya-karya
sastra yang bersangkutan dan yang kemudian dipaparkan
dalam setudi yang sangat menarik. Braginsky membedakan
tiga aspek pada konsep keindahan melayu. Aspek
ontologisnya yaitu keindahan puisi sebagai pembayangan
kekayaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Bentuk puisi epik
yang terkenal dalam sastra Jawa kuno mencapai kesimpulan
bahwa puisi bagi sang penyair adalah semacam yoga.
Puisilah yang menjadi sarana untuk mencapai seni dan
terahir.estetik tidak bersifat otonom, fungsi seni diabdikan
pada fungsi agama. Lewat seni manusia diperhadapkan
dengan keagungan ciptaan Tuhan dan dia akan
menghilangkan diri dalam keagungan pesona itu.

5. Tegangan sebagai dasar penilaian estetik


Penelitian estetik harus mendapat tempat yang layak dalam
rangka penelitian kebudayaan umum. Fungsi estetik adalah
cara subjek melaksanakan diri terhadap dunia lahir. Fungsi
estetik bukanah pertama-tama atau semata-mata kualitas
karya seni secara obyektif. Perbedaan antara unsur bahasa
sebagai tanda dan karya sastra sebagai tanda. Unsur bahasa
mempunyai makna yang tetap, yang terletak pada tanda itu
sendiri.
Estetik menilai seni ditentukan oleh tegangan antara karya
seni sebagai sesuatu yang tersedia secara tetap dan sikap dan
pengalaman seseorang penikmat atau pengamat yang tetap
berubah. Penikmat estetik tergantung pada tegangan antara
yang baru dan yang lama. Fungsi estetik tergantung pada dan
ditentukan oleh tegangan antara pemenuhan dan
pendobrakan harapan. Tegangan adalah syarat mutlak dasar
hakiki untuk penikmat estetik dan tegangan itu terjelma
antara karya seni sebagai berian, dan penikmat sebagai
variabel.

6. Tegangan pertama : fungsi puitik bahasa


Puisi lirik dan puisi epik berbeda konvensi bahasanya.
Konvensi pemakaian bahasa dalam sastra mau
mengharapkan sesuatu yang ekstra. Dalam sastra arti sehari-
hari ditingkatkan menjadi makna semiotik. Entah disebut
ambiguitas. Tegangan itu merupakan bagian yang hakiki dari
penikmat estetik dalam sastra.

7. Tegangan yang inheren pada struktur karya sastra


Struktur karya sastra bersifat multidimensional. Ingarden
membedakan lima lapis atau strata norma-norma. Bunyi,
dunia kata sebagai satuan arti. Segi pandangan karya yang
mungkin terungkap, lapis kualitas metafisik. Pembaca
sebuah karya terus berada dalam situasi tegangan antara
semua aspek yang ingin dibina menjadi keseluruhan yang
utuh. Tanpa tegangan semacam itu penilaian estetik pasti
lebih rendah.

8. Variasi karya sebagai sumber tegangan


Kenikmatan estetik dipertinggi oleh pelaksanaan tegangan
yang sangat fundamental. Pembaca biasa seringkali tidak
sadar akan variasi dalam bentuk sebuah teks, sehingga dia
menerima teks yang kemudian diperolehnya. Variasi sebuah
teks yang sama dapat menimbulkan kegairahan yang khas.
Variasi antara satu naskah dengan naskah lain mempunyai
fungsi semiotik secara intertekstual. Bagi para ahli nilai
estetik dapat dipertinggi oleh variasi yang pada penglihatan
pertama oleh orang awam.

9. Tegangan antara konvensi sastra dan karya individual


Pemahaman dan penilaian karya sastra pembaca tidak hanya
diarahkan dan dibimbing oleh kemampuannya sebagai
pemakai bahasa. Sistem konvensi itu sangat kompleks dan
seringkali bersifat hirarkis. Hubungan intertekstual sebuah
karya tidak sadari atau diketahui oleh setiap pembaca, dan
kenikmatan membaca tidak harus berdasarkan pengetahuan
atau penghayatan karya sastra yang merupakan
hipogramnya.

10. Tegangan antara mimesis dan kreasi, atau kenyataan dan


alternative
Ambivalensi karya sastra terhadap kenyataan merupakan
prinsip dasar kesusastraan. Dalam kontfrontasi antara norma
kenyataan dan norma alternatif mungkin timbul keterharuan,
pengalaman estetik pada pembaca oleh karena disadarinya
tegangan antara realitas dan impian hidupnya.

11. Situasi pembaca sebagai sumber tegangan


Pembaca setidak-tidaknya harus diperincikan dari dua segi
yaitu sosial dan waktu. Pembaca sebuah karya sastra dapat
berbeda mengenai latar belakang sosio-budaya. Penilaian
karya sastra sebagian besar tergantung dari kaitan antara
karya sastra pencipta dan pembacanya. Kaitan itu bersifat
sangat eksklusif. Tegangan sosial yang terungkap dalam
karya sastra mempertinggi penilaiannya pada golongan
tertentu. Dan sebaliknya menjadikan orang lain membenci
pada karya itu.

12. Pemikiran estetik dan jarak waktu


Jausz menyimpulkan bahwa si peneliti harus dan dapat
berusaha untuk memperoleh penikmatan baru. Tegangan
antara keasingan dan keakraban yang justru bagi teks ini
sangat besar karena jauhnya jarak itu, juga memperbesar
kemungkinan penikmat estetik. Tegangan itu malah
merupakan syarat mutlak sebab karya sastra selalu sekaligus
bersifat historik. Lewat usaha hermeneutik sastra lama tidak
mustahil dikejar lagi nilai estetiknya. Dimensi sejarah dapat
memperkuat penilaian estetik, karena waktu berfungsi
sebagai jaringan, sehingga seleksi karya-karya dari masa
lampau lebih udah dilakukan oleh waktu itu sendiri.

13. Tegangan antara penulis dan karyanya dalam


penghayatan pembaca
Proses semiotik yang menyangkut karya sastra kita
menghadapi sebuah komunikasi antar manusia di mana
penulis, antara makna karya sastra dan pesan yang dianggap
berasal dari tokoh penulis menunjukkan ambivalensi yang
dalam hal karya konkrit ikut menentukan nilai karya sastra.
KOMENTAR:
Bahasa yang digunakan masih sulit dipahami karena masih
banyak menggunakan bahasa istilah.
BAB III

PENILAIAN BUKU

4.1 Kelebihan Buku


A Kelebihan Antar BAB
Buku 1 Buku 2

Kelebihan antar bab dalam buku 1 Kelebihan antar bab dalam buku 2
Penjelasan setiap bab efektif sehingga memberikan penjelasan yang jelas
memudahkan pembaca mengerti isi tentang sastra dan teori.Antar bab juga
buku.Sampul buku menarik untuk dibaca membahas nilai-nilai kehidupan dan
dan isinya tidak tebal sehingga sebelum moralitas
membaca tidak membuat pembaca
malas.Bahasa dalam buku sederhana
sehingga memudahkan pembaca
memahami isi buku

4.2 Kelemahan Buku


B.Kelemahan Antar Bab
Buku 1 Buku 2
Kelemahan antar bab dalam buku 1 Kelemahan antar bab dalam buku 2
banyak teori yang dijelaskan oleh para banyak bahasa yang sulit digunakan
ahli sehingga membingungkan pembaca.Isi
setiap bab tebal sehingga membuat
pembaca bosan
BAB IV

KESIMPULAN

Pendekatan Sejarah Sastra yang Tradisional terbagi atas Karya sastra dan penulisnya
ditempatkan dalam rangka yang disediakan oleh ilmu sejarah umum Pendekatan yang
mengambil kerangka karya atau tokoh agung, atau gabungan dua kriteria ini, Pendekatan lain
yang pada abad ke-19 sangat populer dan membawa hasil yang gilang-gemilang adalah dalam
bahasa Jerman Stoffgeschichte yaitu penelitian sejarah bahan-bahan dengan penelusuran
sumber-sumber, Pendekatan keempat yang khas, yang lebih memperhatikan asal-usul karya
sastra yaitu sejarah sastra yang mengambil sebagai kriteria utama untuk penahapan sejarah
pengaruh asing yang berturut-turut dapat ditelusuri pada perkembangan sastra tertentu.

Faktor yang Relevan untuk Sejarah Sastra yaitu Dinamika Sistem Sastra, Pengaruh Timbal
Balik antar Jenis Sastra, Intertekstualitas Karya Individual dan Sejarah Sastra, Sejarah Sastra
dan Sejarah Umum, Penelitian Resepsi Sastra dan Sejarah Sastra, Sastra Lisan dan Sejarah
Sastra, Sejarah Sastra Indonesia dan Sejarah Sastra dalam Bahasa Nusantara,

Nilai karya sastra adalah sesuatu yang variabel, menurut peranan faktor-faktordari model
semiotik dalam situasi konkret tertentu. Itulah alasan terakhir dan paling mustahil mengapa
ahli sastra selalu harus sadar akan model semiotik karya sastra sebagai dasar penelitiannya.
Hal itu tidak berarti bahwa dalam sastra sebagai dasar penelitiannya. Hal itu tidak berarti
bahwa dalam setiap penelitian konkret selalu harus dieksplisitkan dan diikutsertakan hal itu
praktis juga tidak mungkin. Analisis struktur karya sastra adalah objek dan tujuan penelitian
yang sah, asal peneliti sadar bahwa hasilnya tidak mutlak benar dan hanya bernilai nisbi.
Demikianlah, penelitian resepsi karya sastra dalam masyarakat tertentu atau sepanjang masa
adalah objek penelitian yang halal dan penting, dan tidak perlulah sekaligus mengadakan
penelitian struktur dan seterusnya.