Anda di halaman 1dari 5

MASYARAKAT QURANI

Prof. Dr. Hamdani Anwar dalam www.wartatv.com menjelaskan bahwa masyarakat


qur’ani adalah masyarakat yang dalam kehidupannya mengutamakan sendi-sendi yang berasal
dari tuntutan al-Qur’an. Sebenarnya banyak tokoh Islam yang berbicara tentang cita-cita Islam,
tetapi sering terbawa oleh situasi masanya. Padahal, harus dibedakan antara doktrin Islam dan
konsepsi manusia. Pertama, doktrin Islam bersifat sakral dan pasti kebenarannya, karena datang
dari Sang Maha Kuasa, sedangkan konsep manusia tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat nisbi.
Kedua, antara konsep Islam ideal dan realitas kehidupan manusia harus diupayakan
sedemikian rupa untuk dapat diaplikasikan secara indah dan manusiawi demi mencapai keadilan
dan kesejahteraan. Kita melihat para tokoh politik Islam seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim,
Al-Mawardi, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun lebih realistis ketika mereka meninjau politik Islam
dari perspektif sosiologis yang bermuara kepada ajaran Islam. Hanya saja, pada masa modern ini
konsepsi politik Islam itu perlu dikemas lebih canggih dan menarik, tetapi tidak berkacamata dan
mengadopsi pemikiran politik Barat yang pada umumnya para pemikir politik Islam
kontemporer terlalu inferiority complex. Sehingga, muncullah istilah-istilah seperti "demokrasi"
dan konsep "civil society", kemudian dilegitimasi dengan dasar-dasar Islam.
Masyarakat Qur'ani itu akan tampak pada ketertundukan mereka terhadap supremasi
hukum Al-Qur'an. Dan, Al-Qur'an meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam mengatur dan
mengendalikan masyarakat muslim. Prinsip-prinsip tersebut adalah justice (keadilan),
deliberation (syura), equality (persamaan), danfreedom (kebebasan). Orientasi politik Islam
menurut Al-Qur'an menekankan pada tauhid, syariah, dan program ketakwaan.
Allah SWT tidak hanya menurunkan ajaran dan doktrin bagi umat manusia, tetapi juga
menurunkan nabi-Nya untuk memberi contoh dan memimbing umat manusia menuju kepada
keadilan Islam dunia. Kalau kita perhatikan, proses yang dilakukan Nabi saw. dalam membentuk
masyarakat Qur'ani, yang sebelumnya terkenal dengan masyarakat jahili, ada lima jalan yang
ditempuhnya.
Pertama, Nabi saw. membangun aqidah umat selama berada di Mekah untuk
mempersiapkan diri menerima tanggung jawab mengemban tugas risalah dan khalifah. Proses ini
dilakukan paling lama sekitar 13 tahun. Setelah matang, Nabi saw. mengutus mereka untuk
menyebarkan misi dakwah, seperti Mush'ab bin Umair dikirim ke Madinah dan sebagian dikirim
ke Ethiopia. Ketika dakwah sudah menampakkan hasilnya dan tidak ada satu rumah pun di
Madinah melainkan sudah ada orang yang masuk Islam, maka keadan ini sangat tepat bagi umat
Islam di Mekah (yang selalu ditindas kaum jahiliyah) untuk berhijrah meninggalkan tempat
asalnya.
Kedua, Nabi saw. memerintahkan kepada seluruh sahabat agar berhijrah ke Madinah.
Dan, yang menarik adalah bahwa sesampai di Madinah, pertama yang dilakukan Nabi saw. untuk
pembinaan umat adalah membangun masjid Nabawi sebagai sentral kegiatan dan aktivitas umat
Islam. Penempaan kaderisasi terus berlanjut di masjid tersebut.
Ketiga, Nabi saw. mempersaudarakan antarumat Islam. Mereka yang berasal dari Mekah
disebut Muhajirin, sementara yang berasal dari Madinah disebut Anshar. Hal itu dilakukan untuk
merekatkan umat Islam sehinga tidak mudah diadu domba.
Keempat, Nabi saw. membuat "Piagam Madinah" untuk mengatur hubungan dengan
masyarakat Etnis lain, yaitu ahlul kitab dari bangsa Yahudi, sekaligus upaya pembentengan bagi
masyarakat muslim.
Kelima, Nabi saw. melakukan ekspedisi perang bagi siapa saja yang ingin memaksakan
kehendaknya untuk merusak tatanan masyarakat muslim. Maka, beliau tampil sebagai penglima
perang. Dengan demikian, terbentuklah masyarkat muslim Madinah yang mengejawantahkan
Allah pada ayat di atas.

Ciri-Ciri Masyarakat Qur'ani


Ajaran Al-Qur'an selalu berpijak kepada umat manusia, artinya bahwa Al-Qur'an selalu
memperhatikan maslahat dan kepentingan umat manusia, karena itu para ulama sepakat bahwa
apabila konsep Al-Qur'an ditetapkan dalam suatu masyarakat tertentu akan mendapatkan paling
tidak lima hal pokok:
1. terjaga agamanaya;
2. terjaga jiwanya;
3. terjaga hartanya;
4. terjaga akalnya; dan
5. terjaga kehormatannya.
Sedangkan Ada beberapa karakteristik masyarakat Islam yang dijelaskan dalam surah al-
Hujurat, ayat 1-10, antara lain :
A. Berpedoman kepada al-Qur’an dan al-Sunah
Masyarakat Islam selalu berpedoman pada al-Qur’an dan al-Sunnah dalam segala aspek
kehidupannya secara totalitas, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, dan perbuatan
maupun perkataan. Mereka tidak berani mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam berpendapat,
memberi keputusan, melangkah sebelum mendapat izin dari padanya. Misalnya jika dilemparkan
suatu masalah di hadapan Rasul, mereka tidak mendahului menjawab, jika makan bersama
beliau, mereka tidak mendahului makan, dan jika pergi bersama mereka tidak berjalan dihadapan
beliau.
Ibnu Abbas berkata : “jangan engkau mendahului dengan perkataan, perbuatan
sehingga Rasul perintah dan melarang” (Firuzabadi, tt). Dari keterangan di atas kiranya dapat
dipahami bahwa mereka selalu patuh atas segala perintah Allah dan larangan-Nya dan tidak
segera berkata dan berbuat sebelum dikatakan dan diperbuat oleh Rasul.

B. Menghargai Sesamanya secara Profesional


Pada ayat 2 – 5 Q.S. al-Hujurat ini, Allah menekankan bahwa setiap orang hendaknya
didudukkan secara wajar. Nabi Muhammad saw dinyatakan sebagai manusia seperti manusia
yang lain, namun, dinyatakan pula bahwa beliau adalah seorang Rasul yang memperoleh wahyu
dan bimbingan dari Allah swt. Atas dasar ini, beliau berhak memperoleh penghormatan yang
melebihi manusia lain. Diantara penghormatan yang diajarkan Allah swt adalah sebagai berikut:
1. Tidak lebih tinggi bersuara
Di antara adab yang diajarkan Allah swt kepada orang-orang mukmin adalah
berkomunikasi dan berdialog dengan siapa saja yang berhak dihormati seperti Nabi saw
dengan cara yang sopan. Di antaranya, suara berbicara tidak lebih tinggi dari suara beliau,
karena suara yang lebih tinggi bisa berindikasi kurang sopan, kurang hormat dan
menyakiti beliau, bahkan berdosa besar jika mempunyai maksud merendahkan atau
meremehkan seseorang (Syaukani, tt).
2. Tidak berkata kasar atau keras
Suara kasar atau keras sebagaimana yang sudah mentradisi antar sesama kita juga tidak
layak diungkapkan dihadapan Nabi saw, akan tetapi hendaknya bicara dengan kata yang
sopan dan sikap yang sopan serta tenang. Demikian juga panggilan terhadap Nabi,
memanggil namanya tanpa dibarengi dengan gelar penghormatan, seperti :”Ya Ahmad”,
“Ya Muhammad” Panggillah dengan nama gelar yang baik.
3. Sabar Menunggu
Sabar, salah satu akhlak yang baik dan salah satu senjata untuk meraih kesuksesan, akan
tetapi ia berat dan pahit bagaikan jadam yang getir bagi setiap lidah yang menjilatnya. Di
samping karakteristik manusia yang diciptakan tergesa-tergesa. Orang muslim yang baik,
bersikap sabar terhadap segala sesuatu, terutama menyangkut haknya orang lain yang
harus dihormati, seperti bertemu kepada orang yang dihormati seperti Nabi saw.

C. Waspada Terhadap Issu


Masyarakat muslim akan selalu waspada dan berhati-hati dalam menerima issu yang
dimunculkan oleh provokator yang fasik, sebelum diadakan research dan pemeriksaan yang
lebih lanjut dan terpercaya. Karena menerima issu yang tidak jelas kebenarannya itu akan
menjerumuskan kepada kebodohan dan kesengsaraan. Provokator fasik memang tidak peduli
dengan dusta dan dosa, oleh karena itu sebagian ulama menolak hadits yang dibawa oleh orang
fasik, bahkan orang yang tidak jelas identitasnya selakipun karena ada kemungkinan fasiknya
(Ibn Katsir, tt) atau menerima berita dari seseorang (kabar wahid) yang adil.(al-Shamadi, tt)

D. Ishlah dengan adil


Langkah ishlah adalah solusi terbaik bagi dua kelompok masyarakat Islam yang bertikai
atau konflik senjata, agar kembali kepada hukum Allah, hukum yang seadil-adilnya, dan agar
rela keputusannya baik menang atau kalah. Jikalau salah satunya tidak mau diajak tahkim atau
ishlah bahkan tetap memberontak dan membangkang, maka perangilah pemberontak tersebut,
sehingga mereka kembali kepada hokum Allah. Kalau mereka mau kembali, maka ajaklah ishlah
dengan adil sehingga tidak terjadi konflik baru dikesempatan yang lain. Dalam ayat tersebut,
meskipun terjadi konflik senjata antara kedua belah pihak yang bertikai, tetapi mereka tetap
disebut sebagai mukminin.
SUMBER

http://www.wartatv.com/index.php?Itemid=105&id=7299:kuliah-
ramadhan&option=com_jomtube&view=video

http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10&Itemid=10

http://komunitas.wikispaces.com%2Ffile%2Fview%2Fetika%2520sosial%2520qurani.pdf
%2F50414025%2Fetika%2520sosial
%2520qurani.pdf&ei=hdUVUcTYI4rlrAf9uYGwCQ&usg=AFQjCNEY1NLV_IFYO-Qt2hkb0r-
bzrRchw&bvm=bv.42080656,d.bmk