Anda di halaman 1dari 29

A.

SISTEM EKONOMI INDONESIA

1. Pengertian Sistem

Sistem menurut Chester A. Bernard, adalah suatu kesatuan yang terpadu

secara holistik, yang di dalamnya terdiri atas bagian-bagian dan masing-masing

bagian memiliki ciri dan batas tersendiri. Suatu sistem pada dasarnya adalah

“organisasi besar” yang menjalin berbagai subjek (atau objek) serta perangkat

kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu. Subjek atau objek pembentuk sebuah

sistem dapat berupa orang-orang atau masyarakat, untuk suatu sistem sosial atau

sistem kemasyarakatan dapat berupa makhluk-makhluk hidup dan benda alam, untuk

suatu sistem kehidupan atau kumpulan fakta, dan untuk sistem informasi atau bahkan

kombinasi dari subjek-subjek tersebut.

Perangkat kelembagaan dimaksud meliputi lembaga atau wadah tempat subjek

(objek) itu berhubungan, cara kerja dan mekanisme yang menjalin hubungan subjek

(objek) tadi, serta kaidah atau norma yang mengatur hubungan subjek (objek)

tersebut agar serasi.

Kaidah atau norma yang dimaksud bisa berupa aturan atau peraturan, baik

yang tertulis maupun yang tidak tertulis, untuk suatu sistem yang menjalin hubungan

antar manusia. Contohnya aturan-aturan dalam suatu sistem kekerabatan. Secara

toritis pengertian sistem ekonomi dapat dikatakan sebagai keseluruhan lembaga-

lembaga ekonomi yang dilaksanakan atau dipergunakan oleh suatu bangsa atau

negara dalam mencapai cita-cita yang telah ditetapkan.


Pengertian lembaga atau institusi ekonomi adalah suatu pedoman atau, atauran

atau kaidah yang digunakan seseorang atau masyarakat dalam melakukan kegiatan-

kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan ekonomi adalah kegiatan

yang berkaitan dengn usaha(bisnis), dengan pasar, transaksi jual-beli, dan

pembayaran dengan uang. Pengertian ekonomi secara lembaga yaitu produk-produk

hokum tertulis, seperti Tap MPR, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan

Daerah, ARD/ART suatu organisasi dan lain-lain.

2. Sistem Ekonomi

Persoalan-persoalan ekonomi pada hakekatnya adalah masalah transformasi

atau pengolahan alat-alat/sumber pemenuh/pemuas kebutuhan, yang berupa faktor-

faktor produksi yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam dan keterampilan (skill)

menjadi barang dan jasa.

Sistem ekonomi merupakan cabang ilmu ekonomi yang membahas persoalan

pengambilan keputusan dalam tata susunan organisasi ekonomi untuk menjawab

persoalan-persoalanekonomi untuk mewujudkan tujuan nasional suatu negara.

Menurut Dumairy (1966), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta

menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam

suat tatanan kehidupan, selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem ekonomi

tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, padangan dan pola

hidup masyarakat tempatnya berpijak. Sistem ekonomi sesungguhnya merupakan

salah satu unsur saja dalam suatu supra sistem kehidupan masyarakat. Sistem
ekonomi merupakan bagian dari kesatuan ideologi kehidupan masyarakat di suatu

negara.

Pada negara-negara yang berideologi politik leiberalisme dengan rezim

pemerintahan yang demokratis, pada umumnya menganut ideologi ekonomi

kapitalisme dengan pengelolaan ekonomi yang berlandaskan pada mekanisme pasar.

Di negara-negara ini penyelenggara kenegaraannya cendrung bersifat etatis dengan

struktur birokrasi yang sentralistis. Sistem ekonomi suatu negara dikatakan bersifat

khas sehingga dibedakan dari sistem ekonomi yang berlaku atau diterapkan di negara

lain. Berdasarkan beberapa sudut tinjauan seperti :

1. Sistem pemilikan sumber daya atau faktor-faktor produksi

2. Keluwesan masyarakat untuk saling berkompentisi satu sama lain dan untuk

menerima imbalan atas prestasi kerjanya

3. Kadar peranan pemerintah dalam mengatur, mengarahkan dan merencanakan

kehidupan bisnis dan perekonomian pada umumnya.

3. Macam-Macam Sistem Ekonomi

a. Sistem Ekonomi Liberal-Kapetalis

Sistem ekonomi leiberal-kapitalis adalah suatu sistem yang memberikan

kebebasan yang besar bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan

yang terbaik bagi kepentingan individual atau sumber daya-sumber daya ekonomi

atau faktor produksi. Secara garis besar, ciri-ciri ekonomi liberal kapitalis adalah

sebagai berikut :
1) Adanya pengakuan yang luas terhadap hak pribadi

2) Praktek perekonomian di atus menurut mekanisme pasar

3) Praktek perekonomian digerakan oleh motif keuntungan (profile

motife)

b. Sistem Ekonomi Sosialis-Komunistik

Dalam sistem ekonomi sosialis-komunistis adalah kebalikannya, dimana

sumber daya ekonomi atau faktor produksi dikuasai sebagai milik negara. Suatu

negara yang menganut sistem ekonomi sosialis-komunis, menekankan pada

kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memajukan perekonomian.

Dalam sistem ini yang menonjol adalah kebersamaan, dimana semua alat

produksi adalah milik bersama (negara) dan didistribusikan untuk kepentingan

bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

c. Sistem Ekonomi Campuran (mixed ekonomi

Di samping kedua ekstrim sistem ekonomi tersebut, terdapat sebuah sistem

yang lain yang merupakan “atas campuran : antara keduanya, dengan berbagai

fariasi kadar donasinya, dengan berbagai fariasi nama dan oleh istilahnya. Sistem

ekonomi campuran pada umumnya diterapkan oleh negara-negara berkembang

atau negara-negara dunia ke tiga.

Beberapa negara di antaranya cukup konsisten dalam meramu sistem

ekonomi campuran, dalam arti kadar kapitalisnya selalu lebih tinggi (contoh

Filipina) atau bobot sosialismenya lebih besar (contoh India). Namun banyak pula
yang goyah dalam meramu campuran kedua sistem ini, kadang-kadang condong

kapitalistik.

Pada dasarnya sistem ekonomi campuran atau sistem ekonomi kerakyatan

dengan persaingan terkendali, agaknya merupakan sistem ekonomi yang paling

cocok untuk mengelola perekonomian di Indonesia, namun demikian akhir-akhir

ini sistem ekonomi Indonesia semakin condong ke ekonomi liberal dan kapitalis

hal ini ditandai dengan derasnya modal asing yang mauk ke Indonesia dan

banyaknya BUMN dan BUMD yang telah diprivatisasi. Kecenderungan tersebut

dipacu derasnya arus globalisasi dan bubarnya sejumlah negara komunis di Eropa

Timur yang bersistem ekonomi sosialisme-komunistik.

B. PERKEMBANGAN SISTEM EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Pemikiran Sistem Ekonomi Indonesia

Seperti yang kita ketahui bahwa yang menentukan bentuk suatu sistem

ekonomi kecuali dasar falsafah negara yang dijunjung tinggi, maka yang dijadikan

kriteria adalah lembaga-lembaga, khususnya lembaga ekonomi yang menjadi

perwujudan atau realisasi falsafah tersebut.

Pergulatan pemikiran tentang sistim ekonomi apa yang sebaiknya di

diterapkan Indonesia telah dimulai sejak Indonesia belum mencapai kemerdekaannya.

Sampai sekarang pergulatan pemikiran tersebut masih terus berlangsung, hal ini

tecermin dari perkembangan pemikiran tentang sistim ekonomi pancasila SEP.

Menurut Sri-Edi Suwasono (1985), pergulatan pemikiran tentang ESP pada


hakikatnya merupakan dinamika penafsiran tentang pasal-pasal ekonomi dalam UUD

1945.

2. Pasal Ekonomi Dalam UUD 1945

Pasal 33 UUD 1945, yang dimaksud dengan cabang-cabang produksi yang

menguasai hajat hidup orang banyak adalah barang dan jasa yang vital bagi

kehidupan manusia, dan tersedia dalam jumlah yang terbatas. Tinjauan terhadap vital

tidaknya suatu barang tertentu terus mengalami perubahan sesuai dengan dinamika

pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf hidup dan peningkatan permintaan.

Dengan demikian penafsiran pasal-pasal di ataslah yang banyak mendominasi

pemikiran SEP. Pemikiran tentang ESP, sudah banyak, namun ada beberapa yang

perlu dibahas secara rinci karena mereka merupakan faunding father dan juga tokoh-

tokoh ekonomi yang ikut mewarnai sistem ekonomi kita, diantaranya :

a. Pemikiran Mohammad Hatta (Bung Hatta)

Bung Hatta selain sebagai tokoh Proklamator bangsa Indonesia, juga dikenal

sebagai perumus pasal 33 UUD 1945. bung Hatta menyusun pasal 33 didasari pada

pengalaman pahit bangsa Indonesia yang selama berabad-abad dijajah oleh bangsa

asing yang menganut sitem ekonomi liberal-kapitalistik. Penerapan sistem ini di

Indonesia telah menimbulkan kesengsaraan dan kemelaratan, oleh karena itu menurut

Bung Hatta sistem ekonomi yang baik untuk diterapkan di Indonesia harus berasakan

kekeluargaan

b. Pemikiran Wipolo
Pemikiran Wipolo disampaikan pada perdebatan dengan Wijoyo Nitisastro

tentang pasal 38 UUDS (pasal ini identik dengan pasal 33 UUD 1945), 23 september

1955.menurut Wilopo, pasal 33 memiliki arti SEP sangat menolak sistem liberal,

karena itu SEP juga menolak sector swasta yang merupakan penggerak utama sistem

ekonomi liberal-kapitalistik

c. Pemikiran Wijoyo Nitisastro

Pemikiran Wijoyo Nitisastro ini merupakan tanggapan terhadap pemikiran

Wilopo. Menurut Wijoyo Nitisastro, pasal 33 UUD 1945 sangat ditafsirkan sebagai

penolakan terhadap sector swasta.

d. Pemikiran Mubyarto

Menurut Mubyarto, SEP adalah sistem ekonomi yang bukan kapitalis dan juga

sosialis. Salah satu perbedaan SEP dengan kapitalis atau sosialis adalah pandangan

tentang manusia. Dalam sistem kapitalis atau sosialis, manusia dipandang sebagai

mahluk rasional yang memiliki kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan akan

materi saja.

e. Pemikiran Emil Salim

Konsep Emil Salim tentang SEP sangat sederhana, yaitu sistem ekonomi pasar

dengan perencanaan. Menurut Emil Salim, di dalam sistem tersebutlah tercapai

keseimbangan antara sistem komando dengan sistem pasar. “lazimnya suatu sistem

ekonomi bergantung erat dengan paham-ideologi yang dianut suatu negara

Sumitro Djojohadikusumo dalam pidatonya di hadapan School of Advanced

International Studies di Wasington, AS Tanggal 22 Februari 1949, menegaskan


bahwa yang dicita-citakan bangsa Indonesia adalah suatu macam ekonomi campuran.

Lapangan-lapangan usaha tertentu akan dinasionalisasi dan dijalankan oleh

pemerintah, sedangkan yang lain-lain akan terus terletak dalam lingkungan usaha

swasta.

C. TAHAP-TAHAP PERTUMBUHAN EKONOMI

1. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Sebelum membahas tentang pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu kita akan

bahas beberapa teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan beberapa ahli. Pada

abad-19 banyak ahli ekonomi yang menganalisis dan membahas, serta

mengemukakan teori-teori tentang tingkat-tingkat pertumbuhan ekonomi. Antara lain

Retrich List, Brunohilder Brand, Karl Bucher dan Walt Whitman Rostow.

Retrich List adalah penganut paham laisser-vaire dan berpendapat bahwa

sistim ini dapat menjamin alokasi sumber-sumber secara optimal tetapi proteksi

terhadap industri-industri tetap diperlukan.

Brunohilder Brand adalah pengkritik Retrich List, mereka mengatakan bahwa

perkembangan masyarakat atau ekonomi bukan karena sifat-sifat produksi atau

konsumsinya, tetapi lebih ditekankan pada metode distribusi yang digunakan.

Brunohilder Brand mengemukakan 3 (tiga) sistim distribusi yaitu :

a. Natural atau perekonomian barter

b. Perekonomian uang

c. Perekonomian kredit
Sedangkan Karl Bucher mempunyai pendapat yang serupa walaupun tidak

sama. Karl Bucher mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah melalui 3 (tiga)

tingkatan yaitu :

a. Produksi untuk kebutuhan sendiri

b. Perekonomian kota, dimana pertukaran sudah meluas

c. Perekonomian nasional, dimana peranan pedagang-pedagan tampak makin

penting jadi barang-barang itu diproduksi untuk pasar. Ini merupakan gambaran

revolusi di Jerman.

Walt Whitman Rostow dalam bukunya : De Stages of Economic Growth

mengemukakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi dapat dibedakan dalam 5 tahap

dan setiap negara di dunia dapat digolongkan ke dalam salah satu tahap dari 5 tahap

pertumbuhan ekonomi tersebut. Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi Rostow adalah :

a. Tahap masyarakat tradisional

b. Tahap prasyarat lepas landas

c. Tahap lepas landas

d. Gerakan kea rah kedewasaan

e. Masa konsumsi tinggi

2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sejak kemerdekaan pada tahun 1945, masa orde lama, masa orde baru sampai

masa sekarang (masa reformasi) Indonesia telah memperoleh banyak pengalaman

politik dan ekonomi. Peralihan dari orde lama dan orde baru telah memberikan iklim
politik yang dinamis walaupun akhirnya mengarah ke otoriter namun pada kehidupan

ekonomi mengalami perubahan yang lebih baik.

1) Masa Orde Lama (1945-1966)

Pada masa ini perekonomian berkembang kurang menggembirakan, sebagai

dampak ketidakstabilan politik dan seringnya pergantian cabinet.

Kondisi politik: Kondisi ekonomi tidak menguntungkan:


Indonesia menghadapi 2 Selama dekade 1950an,
perang besar dengan Belanda pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%

Gejolak politik dalam negeri Periode 1960 – 1966, pertumbuhan


dan beberapa pemberontakan ekonomi 1,9% dan stagflasi (high rate
of unemployment and inflation)
Manajemen ekonomi makro
yang buruk Periode 1955 – 1965, rata-rata
pendapatan pemerintah Rp 151 juta
dan pengeluaran Rp 359 juta

Produksi sektor pertanian dan


perindustrian sangat rendah sebagai
akibat dari kurangnya kapasitas
produksi dan infrastruktur pendukung

Jumlah uang yang beredar


berlebihan, sehingga terjadi inflasi

Tabel 1. Saldo APBN


Tahun Pendapatan Pengeluaran Saldo
1955 14 16 -2
1956 18 21 -3
1957 21 26 -5
1958 23 35 -12
1959 30 44 -14
1960 50 58 -8
1961 62 88 -26
1962 75 122 -47
1963 162 330 -168
1964 283 681 -398
1965 923 2.526 -1603

Tabel 2. Perkembangan Inflasi dan Jumlah Uang Beredar.


Tahun Indeks Harga (1954=100) Pengeluaran

1955 135 12,20


1956 133 13,40
1957 206 18,90
1958 243 29,40
1959 275 34,90
1960 330 47,90
1961 644 67,60
1962 1.648 135,90
1963 3.770 263,40
1964 8.870 675,10
1965 61.400 2.582,0
1966 152.200 5.593,4

Dumairy (1996) menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia:


a) Periode 1945 – 1950.
b) Periode demokrasi parlementer/liberal (1950 – 1959)
Banyak partai politik
Sektor formal: pertambangan, pertanian, distribusi, bank, dan transportasi yang
padat modal dan dikuasai oleh asing serta berorientasi ekspor memberikan
kontribusi yang lebih besar terhadap PDB
8 kali perubahan kabinet:
 Kabinet Hatta dengan kebijakan Reformasi moneter via devaluasi mata uang
local (Gulden) dan pemotongan uang sebesar 50% atas uang kertas yang
beredar yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank dengan nilai nominal > 2,50
Gulden Indonesia.
 Kabinet Natsir dengan kebijakan perumusan perencanaan pembangunan
ekonomi yang disebut dengan Rencana Urgensi Perekonomian (RUP)
 Kabinet Sukiman dengan kebijakan nasionalisasi oleh De Javasche Bank
menjadi Bank Indonesia dan penghapusan system kurs berganda
 Kabinet Wilopo dengan kebijakan anggaran berimbang dalam APBN,
memperketat impor, merasionalisasi angkatan bersenjata dengan modernisasi
dan pengurangan jumlah personil, serta pengiritan pengeluaran pemerintah
 Kabinet Ali I dengan kebijakan pembatasan impor dan kebijakan uang ketat
 Kabinet Burhanudin dengan kebijakan liberalisasi impor, kebijakan uang ketat
untuk menekan jumlah uang yang beredar, dan penyempurnaan program
benteng (bagian dari program RUP yakni program diskriminasi rasial untuk
mengurangi dominasi ekonomi), memperkenankan investasi asing masuk ke
Indonesia, membantu pengusaha pribumi, serta menghapus persetujuan meja
bundar (menghilangkan dominasi belanda perekonomian nasional.
 Kabinet Ali II dengan kebijakan rencana pembangunan lima tahun 1956 -
1960
 Kebinet Djuanda dengan kebijakan stabilitas politik dan nasionalisasi
perusahaan belanda.
c) Periode demokrasi terpimpin (1959 – 1965)
Dilakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan belanda.
Lebih cenderung kepada pemikiran sosialis komunis
Politik tidak stabil sampai pada puncaknya pada September 1965

2) Masa Orde Baru (1966-1997)

Sejak Maret 1966.


Pemerintah mengarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui
pembangunan ekonomi dan sosial.
Pemerintah meninggalkan idiologi komunis dan menjalin hubungan dengan Negara
barat dan menjadi anggota PBB, IMF, dan Bank Dunia.
Kondisi perekonomian Indonesia:
a) ketidakmampuan membayar hutang LN US $32 Milyar
b) Penerimaan ekspor hanya setengah dari pengeluaran untuk impor
c) Pengendalian anggaran belanja dan pemungutan pajak yang tidak berdaya
d) Inflasi 30 – 50 persen per bulan
e) Kondisi prasarana perekonomian yang bururk
f) Kapasitas produktif sektor industri dan ekspor menurun
Prioritas kebijakan ekonomi:
a) Memerangi hiperinflasi
b) Mencukupkan persediaan pangan (beras)
c) Merehabilitasi prasaran perekonomian
d) Peningkatan ekspor
e) Penyediaan lapangan kerja
f) Mengundang investor asing
Program ekonomi orde baru mencakup:
a) Jangka pendek
Juli – Desember 1966 untuk program pemulihan
Januari – Juni 1967 untuk tahap rehabilitasi
Juli – Desember 1967 untuk tahap konsolidasi
Januari – Juni 1968 untuk tahap stabilisasi
Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek, pemerintah:
(a) Memperkenalkan kebijakan anggaran berimbang (balanced budget policy)
(b) Pembentukan IGGI (Inter-Governmental Group on-Indonesia)
(c) Melakukan reformasi terhadap sistem perbankan
 UU tahun 1967 tentang Perbankan
 UU tahun 1968 tentang Bank Sentral
 Uu tahun 1968 tentang Bank Asing
(d) Menjadi anggota kembali IMF
(e) Pemberian peran yang lebih besar kepada bank bank dan lembaga keuangan
lain sebagai ’”agen pembangunan”. Dengan memobilisasi tabungan
masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memainkan peranan
penting untuk pembangunan pasar uang dan pasar modal.

b) Jangka panjang yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA)


mulai April tahun 1969.
Mulai 1 April 1969, Program pembangunan jangka panjang terdiri dari tahapan-
tahapan REPELITA dengan sasaran:
(a) stabilitas perekonomian
(b) pertumbuhan ekonomi
(c) pemerataan hasil pembangunan
REPELITA I  1969 – 1974 dengan sasaran: (a) stabilitas perekonomian; (b)
pertumbuhan ekonomi; dan (c) pemerataan hasil pembangunan
REPELITA II  1974 – 1979 dengan sasaran: (a) pertumbuhan ekonomi; (b)
pemerataan hasil pembangunan; dan (c) stabilitas
perekonomian
REPELITA III  1979 – 1984
REPELITA IV  1984 – 1989
REPELITA V  1989 – 1994
REPELITA VI  1994 – 1999 dengan sasaran: (a) pemerataan hasil
pembangunan; (b) pertumbuhan ekonomi dan (c) stabilitas
perekonomian
Prestasi Ekonomi dan Kondisi Ekonomi Per REPELITA.
REPELITA I dan II
Prestasi:
 Pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun
 Investasi meningkat dari 11 persen menjadi 24 persen dari PDB selama 10
tahun
 Kontribusi tabungan meningkat dari 23 persen menjadi 55 persen
 Sumber penghasilan utama devisa adalah ekspor minyak bumi kurang lebih
2/3 dari total penerimaan
 Inflasi rata-rata 17 persen
 Porsi pelunasan hutang 9,3 persen dan 11,8 persen dari pengeluaran
Kondisi:
 Boom minyak tahun 1973 dan 1978
Kibijakan:
 Devaluasi rupiah dari Rp 415 menjadi Rp 625/$
REPELITA III
Prestasi:
 Ekspor neto migas turun 38 persen
 Ekspor nonmigas turun 30 persen
 Impor nonmigas meningkat
 Neraca berjalan (current account) dari suprlus US $2.7 milyar menjadi difisit
US $6.7 milyar
 PDB tumbuh hanya 2,24 persen
 Laju inflasi rata-rata 9 persen
 Porsi pelunasan hutang 17,3 persen dari pengeluaran
Kondisi:
 Boom minyak tahun 1982/1983
 Kemelut minyak dan resesi dinegara industri menyebabkan OPEC memotong
harga dan produksi minyak
 Devaluasi 28 persen tahun 1983
Kebijakan:
 Penghematan anggaran belanja
 Penambahan pinjaman luar negeri
 Penggalakan ekspor nonmigas
 Pembatasan impor barang mewah
 Pengurangan perjalanan ke luar negeri
 Penggalakan penggunaan barang dalam negeri
 Penjadualan ulang dan pembatalan 50 persen proyek sektor publik
 Gaji pegawai negeri tidak dinaikkan
 Penaikan harga bahan bakar minyak tahun 1984 dengan mengurangi subsidi
 Pengurangan subsidi atas pupuk, pesticida, dan pangan
 Pembaharuan UU perpajakan tahun 1984
 Deregulasi parcial sistem perbankan dengan menyerahkan penentuan tingkat
bunga kepada masing-masing bank peniadaan sistem pagu kredit
REPELITA IV
Prestasi:
 Pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,32 persen
 Beban hutang luar negeri menjadi membesar
 Penghematan anggaran dan pengawasan serta penertiban penggunaan
anggaran
 Perkembangan pasar modal dan sektor perbankan yang luar biasa
 Laju inflasi rata-rata 9 persen
 Porsi pelunasan hutang 41,2 persen dari pengeluaran
Kondisi:
 Harga minyak turun menjadi US $10
Kibijakan:
 Deregulasi dan debirokratisasi untuk mengurangi cambur tangan pemerintah
untuk memberikan kesempatan pihak swasta dan investor asing dalam
pembangunan
 Devaluasi untuk meningkatkan ekspor non migas
REPELITA V
Prestasi:
 Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,7 persen
 Ekspor komoditas non migas meningkat
 Porsi pelunasan hutang 44,6 persen dari pengeluaran
Kondisi:
 Harga minyak turun menjadi US $10
Kibijakan:
 Deregulasi dan debirokratisasi terus dilakukan untuk menekan ekonomi biaya
tinggi dan meningkatkan efisiensi nasional
REPELITA VI
Kibijakan:
 Pemberian paket-paket deregulasi dalam bentuk penyusunan dan perbaikan
undang-undang yakni UU No. 25 tahun 1990 tentang koperasi, UU No. 7
tahun 1992 tentang Perbankan, dan UU No. 9-12 tentang perpajakan
 Prinsip Anggaran Berimbang Dinamis.
Berimbang yakni pengeluaran rutin dan pembangunan selalu sama dengan
seluruh penerimaan negara
Dinamis yakni jika penerimaan > pengeluaran, maka pengeluaran dapat
ditingkatkan. Jika penerimaan < pengeluaran, maka harus dilakukan
penyesuaian pengeluaran.
 Era Pembangunan Jangka Panjang II dan Globalisasi dalam kurun waktu
1994 – 2019. Era globalisasi tahun 2020 Berdasarkan putaran Uruguay, segala
bentuk proteksi perdagangan baik barang maupun jasa harus dihapuskan
Target REPELITA VI tingkat rata-rata pertumbuhan per tahun:
 Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 6,2 persen
 Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan 3,5 persen
 Sektor industri 9 persen
 Sektor manufaktur diluar migas 10 persen
 Sektor jasa 6,5 persen
 Inflasi rata-rata 5 persen
 Ekspor nonmigas 16,5 persen
 Ekspor manufaktur 17,5 persen
 Debt Service Ratio 20 persen
 PDB Rp 2,150 trilliun
 Nilai Investasi Rp 660,1 trilliun atau 30,7 % dari PDB
 Dana dalam negeri :
Pemerintah (25,5 %) Rp 169,4 trilliun
Swasta (69 %) Rp 454,1 trilliun
Dana luar negeri (5,5 %) Rp 36,6 trilliun
Era PJPT II, BAPPENAS telah mensimulasikan 2 skenario terhadap pertumbuhan
ekonomi;
(a) Skenario pertama (Optimis) menyatakan REPELITA VI sampai X,
pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7,9 persen per tahun, penekanan
pertumbuhan penduduk dari 1,6 % akhir REPELITA VI menjadi 0,9 % akhir
REPELITA X, pengangguran REPELITA VI 2,2 % dan akhir REPELITA X
0,5 %, dan akhir REPELITA X pendapatan perkapita Indonesia US $3,000.
(b) Skenario kedua (Pesimis) menyatakan REPELITA VI sampai X,
pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 6,8 persen per tahun, penekanan
pertumbuhan penduduk dari 1,6 % akhir REPELITA VI menjadi 0,9 % akhir
REPELITA X, pengangguran REPELITA VI 2,6 % dan akhir REPELITA X 4
%, dan akhir REPELITA X pendapatan perkapita Indonesia US $2,330
3) Pemerintahan Transisi (Habibie)
a) Tanggal 14 dan 15 Mei 1997, kurs bath terhadap US$ mengalami penurunan
(depresiasi) sebagai akibat dari keputusan jual dari para investor yang tidak
percaya lagi thd prospek ekonomi Thailand dalam jk pdk.
Pemerintah Thailand mengintervensi dan didukung oleh bank sentral
singapora, tapi tidak mampu menstabilkan kurs Bath, sehingga bank sentral
Thailand mengumumkan kurs bath diserahkan pada mekanisme pasar.
2 Juli 1997, penurunan nilai kurs bath terhadap US$ antara 15% - 20%
b) Bulan Juli 1997, krisis melanda Indonesia (kurs dari Rp 2.500 menjadi Rp
2.650.) BI mengintervensi, namun tidak mampu sampai bulan maret 1998
kurs melemah sampai Rp 10.550 dan bahkan menembus angka Rp
11.000/US$.
Langkah konkrit untuk mengatasi krisis:
a) Penundaan proyek Rp 39 trilyun untuk mengimbangi keterbatasan anggaran
Negara
b) BI melakukan intervensi ke bursa valas
c) Meminta bantuan IMF dengan memperoleh paket bantuan keuangan US$ 23
Milyar pada bulan Nopember 1997.
d) Mencabut ijin usaha 16 bank swasta yang tidak sehat
Januari 1998 pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepakatan (LOI)
dengan IMF yang mencakup 50 butir kebijakan yang mencakup:
a) Kebijakan ekonomi makro (fiscal dan moneter) mencakup: penggunaan
prinsip anggaran berimbang; pengurangan pengeluaran pemerintah seperti
pengurangan subsidi BBM dan listrik; pembatalan proyek besar; dan
peningkatan pendapatan pemerintah dengan mencabut semua fasilitas
perpajakan, penangguhan PPN, pengenaan pajak tambahan terhadap bensin,
memperbaiki audit PPN, dan memperbanyak obyek pajak.
b) Restrukturisasi sektor keuangan
c) Reformasi struktural
Bantuan gagal diberikan, karena pemerintah Indonesia tidak melaksanakan
kesepakatan dengan IMF yang telah ditandatangani.
Indonesia tidak mempunyai pilihan kecuali harus bekerja sama dengan IMF.
Kesepakatan baru dicapai bulan April 1998 dengan nama “Memorandum
Tambahan mengenai Kebijaksanaan Ekonomi Keuangan” yang merupakan
kelanjutan, pelengkapan dan modifikasi 50 butir kesepakatan. Tambahan dalam
kesepakatan baru ini mencakup:
a) Program stabilisasi perbankan untuk stabilisasi pasar uang dan mencegah
hiperinflasi
b) Restrukturisasi perbankan untuk penyehatan system perbankan nasional
c) Reformasi structural
d) Penyelesaian utang luar negeri dari pihak swasta
e) Bantuan untuk masyarakat ekonomi lemah.
4) Pemerintahan Reformasi (Abdurrahman Wahid)
Mulai pertengahan tahun 1999.
Target:
a) Memulihkan perekonomian nasional sesuai dengan harapan masyarakat dan
investor
b) Menuntaskan masalah KKN
c) Menegakkan supremasi hukum
d) Penegakkan hak asasi manusia
e) Pengurangan peranan ABRI dalam politik
f) Memperkuat NKRI (Penyelesaian disintegrasi bangsa)
Kondisi:
a) Pada tahun 1999 pertumbuhan ekonomi positif (mendekati 0)
b) Tahun 2000 pertumbuhan ekonomi 5%
c) Kondisi moneter stabil ( inflasi dan suku bunga rendah)
d) Tahun 2001, pelaku bisnis dan masyarakat kurang percaya kepada pemerintahan
sebagai akibat dari pernyataan presiden yang controversial, KKN, dictator, dan
perseteruan dengan DPR
e) Bulan maret 2000, cadangan devisa menurun dari US$ 29 milyar menjadi US$
28,875 milyar
f) Hubungan dengan IMF menjadi tidak baik sebagai akibat dari: penundaan
pelaksanaan amandemen UU No. 23 tahun 1999 mengenai Bank Indonesia;
penerapan otonomi daerah (terutama kebebasan untuk hutang pemerintah daerah
dari LN); dan revisi APBN 2001.
g) Tahun 2001, pertumbuhan ekonomi cenderung negative, IHSG merosot lebih
dari 300 poin, dan nilai tukar rupiah melemah dari Rp 7000 menjadi Rp 10.000
per US$.
5) Pemerintahan Gotong Royong (Megawati S)
Mulai pertangahan 2001 dengan kondisi:
a) SBI 17%
b) Bunga deposito 18%
c) Inflasi periode Juli – Juli 2001 13,5% dengan asumsi inflasi 9,4% setelah
dilakukan revisi APBN
d) Pertumbuhan PDB 2002 sebesar 3,66% dibawah target 4% sebagai akibat dari
kurang berkembangnya investasi swasta (PMDN dan PMA)., ketidakstabilan
politik, dan belum ada kepastian hokum.

Data Ekonomi Makro.


No. Indikator 1998 1999 2000 2001 2002
1. Pertumbuhan PDB (%) -13,1 0,8 4,9 3,3 3,7
Ekspor (US$ Milyar): 48,8 48,7 62,1 56,3 42,5
 Migas 7,9 9,8 14,4 12,6 8,7
 Non migas 41 38,9 47,8 43,7 33,8
2. Impor (US$ Milyar): 27,3 24 33,5 31 22,3
 Migas 2,7 3,7 6 5,5 4,6
 Non migas 24,7 20,3 27,5 25,5 17,7
3. Neraca perdagangan (US$ milyar) 21,5 24,7 28,6 25,4 20,2
 Migas 5,2 6,1 8,3 5
 Non migas 16,3 18,6 20,3 20,2
4. Kurs tengah 8.025 7.100 9.595 10.400 9.223
5. Inflasi (%) 77,6 101,8 9,35 12,55 6,74
6. Uang beredar (Rp trilyun):
 Uang primer 751 101,8 125,6 127,8 118,9
 M1 101,2 124,6 162,2 177,7 176

 M2 577,4 646,2 747 844,1 856,8

 Dana perbankan 573,5 625,6 720,4 809,1 815,4


7. Kredit perbankan (US$ trilyun) 487,4 225,1 269 307,6 331,4
8. Suku bunga SBI 1 bulan (%) 35,52 11,93 14,53 17,62 13,10
9. IHSG Bursa Efek Jakarta 398,04 676,92 416,3 392 369

PDB Per sector atas harga konstan (Milyar)


Sektor 2001 2002
Tw1 Tw2 Tw3
Pertambangan dan penggalian 38.483,3 9.715,1 9.460,4 Na
Pertanian 66.503,8 17.437,9 17.721,0 4,01%
Industri pengolahan 109.641,3 27.603,7 27.730,1 3,22%
Perdagangan, hotel dan restoran 66.691,8 16.992,1 17.124,7 2,93%
Jasa 38.749,9 9.685,4 9.708,4 0,51%
Pengankutan dan komunikasi 31.483,0 8.260,2 8.330,5 7,83%
Keuangan, penyewaan dan jasa 28.201,1 7.175,7 7.217,9 5,55%
perusahaan
Bangunan 24.168,0 6.086,8 6.146,3 2,98%
Listrik, gas dan air bersih 7.210,0 1.827,1 1.886,5 6,17%
411.132,1 104.783,8 105.325,8 3,92%
Tw1 ke Tw2, sector pertambangan dan penggalian tumbuh negative.

Realisasi Pertumbuhan PDB Rii Tahun 2001 dan Perkiraan Tahun 2002 dan 2003
Negara Pertumbuhan (%)
2001 2002 2003
China 7,3 7,5 7,2
Hongkong 0,2 1,5 3,4
Korea Selattan 3 6,3 5,9
Taiwan -1,9 3,3 4
Singapura -2 3,6 4,2
Indonesia 3,3 3,7 4,5
Filipina 3,2 4 3,8
Thailand 1,8 3,5 3,5
Malaysia 0,5 3,5 5,3
Vietnam 5 5,3 6,5

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonom Indonesia, secara

umum adalah :

1. Faktor produksi

2. Faktor investasi

3. Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran

4. Faktor kebijakan moneter dan inflasi

5. Faktor keuangan negara

D. PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI INDONESIA

1. Perubahan Struktur Ekonomi

Chenery mengatakan bahwa perubahan struktur ekonomi disebut sebagai

transformasi struktur yang diartikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling

terkait satu sama lain dalam komposisi agregat demand (AD), ekspor-impor (X-M).

Agregat supplay (AS) yang merupakan produksi dan penggunaan faktor-faktor


produksi seperti tenaga kerja dan modal guna mendukung proses pembangunan dan

pertumbuhan ekonomi yang berlanjut (Tambunan, 2003).

Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam menganalisis perubahan

struktur ekonomi, yakni dari Arthur Lewis tentang teori migrasi dan hoilis chenery

tentang teori transportasi struktural. Teori Lewis pada dasarnya membahas proses

pembangunan ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan dan daerah perkotaan.

Dalamnya Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya

terbagi menjadi dua yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi

sector pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai

sector utama. Karana perekonomiannya masih bersifat tradisional dan sub sistem, dan

pertumbuhan penduduk yang tinggi maka terjadi kelebihan supplay tenaga kerja.

2. Struktur Perekonomian Indonesia

Berdasarkan tinjauan makro-sektoral perekonomian suatu negara dapat

berstruktur agraris (agricultural), industri (industrial), niaga (commercial) hal ini

tergantung pada sector apa/mana yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian

negara yang bersangkuatan.

Pergeseran struktur ekonomi secara makro-sektoral senada dengan

pergeserannya secara keuangan (spasial). Ditinjau dari sudut pandang keuangan

(spasial), struktur perekonomian telah bergeser dari struktur pedesaan menjadi

struktur perkotaan modern.

Struktur perekonomian indoensia sejak awal orde baru hingga pertengahan

dasa warsa 1980-an berstruktur etatis dimana pemerintah atau negara dengan BUMN
dan BUMD sebagai perpanjangan tangannya merupakan pelaku utama perekonomian

Indonesia. Baru mulai pertengahan dasa warsa 1990-an peran pemerintah dalam

perekonomian berangsur-angsur dikurangi, yaitu sesudah secara eksplisit dituangkan

melalui GBHN 1988/1989 mengundang kalangan swasta untuk berperan lebih besar

dalam perekonomian nasional.

Struktur ekonomi dapat pula dilihat berdasarkan tinjauan birokrasi

pengambilan keputusan. Berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusannya

dapat dikatakan bahwa struktur perekonomian selama era pembangunan jangka

panjang tahap pertama adalah sentralistis. Dalam struktur ekonomi yang sentralistik,

pembuatan keputusan (decision-making) lebih banyak ditetapkan pemerintah pusat

atau kalangan atas pemerintah (bottom-up).

E. PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI

1. Pendahuluan

Pengertian perencanaan bermakna sangat kompleks apa lagi disertai dengan

istilah pembangunan. Sampai sekarang belum ada defenisi perencanaan yang

memuasakan semua semua pihak, karena masing-masing ahli tentang perencanaan

mendefenisikan menurut pengertiannya masing-masing.

Y. Dior dalam bukunya “The Planing Process” mengatakan bahwa perecanaan

adalah suatu proses penyiapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu

yang akan datang yang diarahkan pada pencapaian sasaran tertentu. Dengan defenisi

tersebut bahwa perencanaan mempunyai unsure-unsur sebagai berikut :

1. Berhubungan dengan hari depan


2. Menyusun seperangkat kegiatan secara sistematis

3. Dirancang untuk mencapai tujuan tertentu

2. Perencanaan Pembangunan di Indonesia

Sejarah perencanaan pembangunan di Indonesia sejak tahun 1945 hingga kini

mengalami berbagai perkembangan sejalan dengan tingkat stabilitas politik dan

keamanan. Artinya faktor-faktor sosial politik ekonomi, perhitungan akurat yang

tidak ambisius, pengawasan yang kontinyu, pelaksanaan koordinasi dan singkronisasi

yang baik, serta pembiayaan yang memada, merupakan hal yang sangat

mempengaruhi keberhasilan pembangunan suatu negara.

Salah satu kendala pada awal kemerdekaan adalah keterbatasan datal,

sehingga pemerintah belum menyusun perencanaan yang baik. Namun pemerntah

Indonesia terus berupaya memperbaiki perekonomian yang berantakan akibat

peperangan, pemberontakan dan reformasi perpolitikan di Indonesia. Usaha-usaha

tersebut mulai tercermin mulai dari pembentukan Panitia Pemikiran Siasat Ekonomi

sampai disusunnya Program Pembangunan Nasional (Propenas).

3. Plan Mengatur Ekonomi Indonesia

Program yang direncanakan dalam Plan Mengatur Ekonomi Indonesia

bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat merata melalui :

1. Mengintensifkan usaha produksi

2. Memajukan perdagangan internasional

3. Meningkatkan standar hidup masyarakat

4. Meningkatkan kecerdasan bangsa


Perogram-program yang telah direncanakan tersebut akan dicapai melalui

kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Meningkatkan impor barang-barang sandang, alat-alat transportasi dan

perhubungan, barang-barang modal, barang-barang keperluan lainnya

2. Meningkatkan ekspor yang diprioritaskan pada hasil perkebunan, kehutanan,

minyak dan logam

3. Memperbaiki organisasi ke dalam melalui

a. Penetapan upah minimum

b. Perbaikan perumahan rakyat

c. Transmigrasi

d. Peningkatan pembangunan jalan kereta api baru, bendungan, tenaga listrik dan

pelabuhan

e. Industrilisasi

f. Tambang dan minyak tanah

g. Industri pertanian

h. Pertanian dan perikanan

i. Penanaman hutan

j. Pelayaran dan perhubungan antar pulau

4. Rencana Kasimo

Masalah yang sangat mendesak dan perlu ditanggulangi adalah penyediaan

pangan. Karena itu rencana kasimo ditujukan untuk memecahkan bagaiaman

Indonesia dapat mencapai swasembada pangan.


5. Rencana Urgensi Perkembangan Industri

“Rencana Urgensi perkembangan industri dan industri kecil” dicanangkan

oleh Sumitno Djojohadikusumo antara tahun 1951 sampai dengan tahun 1952.

rencana ini didasarkan atas pemikiran bahwa industrialisasi dipandang sebagai bagian

integral dari kebijakan umum untuk menambah kekuatan ekonomi nasional yang

sehat.

Konsep dasar rencana ini meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Memperbaiki dan memperkuat balai-balai penelitian dan pendidikan untuk

mempercepat perkembangan industri

2. Menambah pinjaman kepada perusahaan kerajinan rumah tangga dan industri

kecil untuk memperkuat kedudukan ekonomi mereka dan memungkinkan

meningkatkan mekanisme perusahaan

3. Mendirikan induk-induk perusahaan dengan bantuan langsung dari pemerintah

pada pusat-pusat industri di daerah agrarian. Tujuannya untuk membimbing

perusahaan-perusahaan kecil, perseorangan baik dalam proses produksi maupun

pembelian bahan mentah dan penjualan barang jadi

4. Mendirikan perusahaan-perusahaan industri besar pada sector-sektor yang

dipandang penting dengan biaya pemerintah dan swasta.

F. MASALAH PERTANIAN DAN PANGAN

1. Kebijakan Pangan
Kebijakan di bidang pangan pada awal masa orde baru seperti diungkapkan

pada PELITA I memberikan tekanan pada bidang produksi dan konsumsi beras. Pada

waktu itu kebijakan beras identik dengan kebijakan pangan.

2. Swasembada Pangan dalam Pembangunan

Pada PJP I sektor pertanian merupakan prioritas pembangunan ekonomi,

pertumbuhannya mencapai 3,6% pertahun. Kemajuan paling menonjol pada PJP I

adalah swasembada beras pada tahun 1984.

3. Panca Usaha Tani

Pada tahun 1964 program Bimas diperluas dan menjadi terkenal dengan

sembonyang Panca Usaha Tani, yaitu lima cara kea rah usaha tani yang baik

diantaranya :

1. Penggunaan dan pengendalian air yang lebih baik

2. Penggunaan bibit pilihan (bibit unggul)

3. Penggunaan pupuk dan pestisida yang seimbang

4. Cara bercocok tanam yang baik

5. Koperasi yang kuat